Sisem pemerintahan Orde Baru (1)

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Pemberontakan G-30-S/PKI merupakan titik kulminasi dari pertarungan atau tarik tambang politik antara Soekarno, Angkatan Darat, dan Partai Komunis Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, akibat dari usaha kudeta yang gagal PKI membawa akibat fatal bagi partai itu sendiri, yakni dengan tersisihnya partai ini dari arena perpolitikan Indonesia. Demikian juga soekarno yang begitu besar kekuasaannya pada masa Demokrasi terpimpin (1959-1965), sedikit demi sedikit kekuasaannya dikurangi. Bahkan Soekarno tersingkir dari politik nasional, sampai meninggal tahun 1971. Akhirnya Angkatan Darat muncul sebagai kekuatan politik yang sangat menentukan dalam proses politik yang dikenal dengan sebutan dwifungsi ABRI.

Selain itu, Surat Perintah Sebelas maret 1966 atau Supersemar juga merupakan titik awal lahirnya Orde Baru. Sebab dengan Supersemar itulah soeharto dapat membubarkan PKI dan dapat mengambil kebijakan-kebijakan politik dan stabilisasi politik. Dan dengan Supersemar itulah kekuasaan soekarno dengan Demokrasi Terpimpinnya lenyap. Lenyapnya kekuasaan soekarno diperkuat dengan ketetapan MPRS yang melalui sidang istemewa pada tahun 1967 mengangkat Letjen Soeharto sebagai Pejabat Presiden, sehingga sebagai simbol pun soekarno tidak diakui sebagai pemegang kekuasaan. Kemudian pada bulan Maret 1968 MPRS mengangkat dan melantik Letjen soeharto sebagai Presiden. (Marwati Djoenet Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 1984: 415).

(2)

semacam asosiasi. Istilah politik dalam ketatanegaraan berkaitan dengan cara pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan, ataupun dalam hal kekuasaan negara. Politik pada dasarnya menyangkut tujuan-tujuan masyarakat bukan tujuan pribadi. Dapat disimpulkan bahwa politik adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan kebijakan dan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.

Pengertian Sistem Politik adalah berbagai macam kegiatan dan proses dari struktur dan fungsi yang bekerja dalam suatu unit atau kesatuan (masyarakat/negara). Menurut Drs. Sukarno, sistem politik adalah sekumpulan pendapat, prinsip yang membentuk satu kesatuan yang berhubungan satu sama lain untuk mengatur pemerintahan serta melaksanakan dan mempertahankan kekuasasan dengan cara mengatur individu atau kelompok individu satu sama lain. Sedangkan menurut Almond, sistem politik adalah interaksi yang terjadi dalam masyarakat yang merdeka yang menjalankan fungsi integrasi dan adaptasi. Selain itu Rober A Dahl, berpendapat bahwa sistem politik adalah pola yang tetap dari hubungan-hubungan antara manusia yang melibatkan sampai dengan tingkat tertentu, kontrol, pengaruh, kekuasaan, ataupun wewenang.

(3)

BAB II PEMBAHASAN A. Demokrasi Pancasila

Demokrasi Pancasila pada awal masa Orde Baru belumlah menjadi suatu sistem Demokrasi yang baku, Demokrasi Pancasila sejatinya masih dalam pencarian bentuk disamping demokrasi itu masih berjalan dan berproses. Terbukti pada tahun 1968, Herbert Feith menulis sebuah artikel yang berjudul Soehharto’s search for a political format pada saat awal Demokrasi Pancasila di perkenalkan. Praktek-praktek dan system-sistem Demokrasi Pancasila masih dapat berubah dan berkembang pada masa itu, karena memang belum merupakan suatu bentuk yang optimal.

Namun batu pertama prestasi pertama sistem ini menurut Dr. Rusadi Kontaprawira dalam bukunya (Sistem Politik Indonesia, 2006, 200), membagi batu prestasi itu kedalam tiga buah hasil yaitu, pertama, penyaluran tuntutan dalam system Demokrasi Pancasila sudah berlangsung tiga kali Pemilihan Umum, yaitu pada tahun 1971, 1977, dan 1982. Dengan demikian penyaluran tuntutan secara formal konstitusian telah (terpenuhi). Kedua, Pemeliharaan dalam mobilisasi HAM untuk mengatasi segala macam kejahatan-kejahatan HAM dengan gaya pragmatik, dan Kontiunitas lebih ditunjukan untuk memperkokoh Struktur Pemerintahan UUD 1945, sesuai dengan jargon Orde Baru, yaitu: melaksanakan UUD 1945 dan Pancasila. Ketiga, Kapabilitas dalam bidang ekstraktif dan distributif komoditi pokok disesuaikan dengan hukum ekonomi universal atau bisa disebut ekonomi liberal, yang sangat berbalik dalam kebijakan ekonomi demokrasi sebelumnya. Sebagai bukti hasil dari ekonomi liberal, kenaikan ekspor Indonesi pada tahun 1972 terdapat kenaikan ekspor yang signifikan.

B. Kabinet Orde Baru

Kabinet pertama kali yang dibentuk pada masa orde baru adalah Kabinet Ampera. Kabinet ini diumumkan pada tanggal 25 Juli 1966 jam 19.00 bertempat di Istana Merdeka Jakarta. Dalam kabinet Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) menurut Prof. Dr. Miftah Thoha, MPA dalam bukunya (Birokrasi dan Politik di Indonesia, 2012, 132) menjelaskan terdapat 3 unsur dalam Kabinet Ampera, yakni: Unsur pimpinan dijabat oleh presiden. Unsur pembantu pimpinan dijabat oleh presidium, dan unsur anggota-anggota kabinet dijabat oleh para menteri.

(4)

Pada tanggal 11 Oktober 1967 berdasarkan Surat Keputusan Presiden no. 171 tahun 1967 Kabinet Ampera disempurnakan. Pada Kabient Ampera Pertama pimpinan kabinet masih dijabat oleh Presiden Soekarno, sedangkan pada Kabinet Ampera yang disempurnakan, langsung dijabat oleh Jenderal TNI Soeharto. Kabinet Soeharto ini terdiri dari 23 departemen dan para menterinya banyak yang dijabat oleh jenderal-jenderal TNI. Kabinet ini berakhir pada 6 Juli 1968, dan diteruskan dengan Kabinet Pembangunan I dengan Soeharto sebagai Presidennya.

Pada Kabinet Pembanungan , pemilihan umum presiden diselenggarakan selama 5 tahun sekali, uniknya, Soeharto selalu dikukuhkan sebagai presiden dan yang memimpin Kabinet. Menurut (Thoha, 2012) Sebenarnya Kabinet ini juga dikenal dengan Kabinet Pemerintahan Golkar, bagaimana tidak, Golkar selalu memenangkan setiap Pemilu dengan mayoritas tunggal.

Hal unik mewarnai birokrasi pemerintahan rezim orde baru, khususnya dalam pengangkatan jabatan menteri Negara. Yang sebelumnya jabatan ini dijalankan oleh kalangan partai politik dan berilmu luas. Namun, pada masa ini jabatan menteri dikuasai oleh kalangan teknorat bukan politisi. Dengan beralasan kekaryaan, partai ini mengangkat menterinya dari orang-orang professional dari kalangan teknorat. Otomatis, peranan partai politik masa itu sudah tidak ada nyawanya lagi. Mereka sama sekali tidak bisa meyentuh kursi kepemerintahan. Maka dua partai PDI dan PPP hanya bisa duduk manis menyaksikan pemerintahan berbasiskan kalangan teknorat, konglomerat, dan yang dekat istana. Mengapa dua partai politik? Karena saat itu meskipun ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum, Golkar. Partai ini tidak menamakan dirinya sebagai partai politik, melainkan hanya sebagai peserta kontestan peimilu, dan lagi-lagi selalu berhasil memenangkan pemilu dengan suara terbanyak tunggal. Rekayasa demokrasi ini berjalan terus hingga akhir masa reformasi muncul menggantikan rezim orde baru yang sudah kehilangan taringnya.

C. KEKUASAAN DIANTARA LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF PADA ZAMAN ORDE BARU

Pada periode keempat antara tahun 1966 – pertengahan tahun 1999 lembaga pemerintah lebih memihak kepada kekuatan politik yang dominan. Menurut (Thoha, 2012:38) salah satu faktor yang menentukan kemenangan Golkar dalam beberapa kali pemilu selama pemerintahan Orde Baru adalah karena peranan lembaga pemerintah ini ditambah kekuatan ABRI yang sangat solid mendukung Golkar sebagai tulang punggung pemerintahan.

Sejak masa ini supremasi kekuatan sipil tidak bisa berbicara banyak tentang dunia kepemerintahan Indonesia. Sistem pemerintahan bukan lagi dihiasai dari kalangan politik melainkan telah didominasi oleh militer.

(5)

kekuasaan yang mengikuti sistem hirarki birokrasi pemerintahan. sebagaimana di tuliskan (Thoha, 2012:39) bahwa, Di tingkat Nasional ada Panglima ABRI sebagai pembantu Presiden dan diberi jabatan setingkat dengan Menteri. Seterusnya di Provinsi ada Panglima Kodam (Komando Daerah Militer). Di Kecamatan ada Koramil (Komando Rayon Militer), dan di Desa ada Babinsa (Bintara Bina Desa).

Dengan demikian sudah jelas bahwa peranan partai politik sebagai simbol dari lembaga supremasi sipil, yang seharusnya bisa mewakili rakyat sipil dalam percaturan politik pemerintahan ternyata banyak tergusur oleh peranan angkatan bersenjata yang mewakili aspirasi kekuasaan yang memerintah (Golkar).

Sistem Demokrasi Pancasila yang diterapkan pada masa ini tidak seperti tujuan utama sebuah kosnep demokrasi, yakni: kekuasaan ditangan rakyat. Buktinya kedaulatan rakyat tidak banyak dipraktekan dalam system demokrasi ini. Sementara itu demokrasi menurut perspektif kekuasaan yang bernuansa rekasa untuk kepentingan penguasa amat jelas dilakukan selama pemerintahan orde baru. Orang-orang militer banyak menguasai lembaga sipil (penduduk atau rakyat), sehingga selama periode ini lebih banyak dikenal sebagai pemerintahan sipil yang dikuasai oleh militer.

D. Menteri Zaman Orde Baru

Jaman orde baru ini jaman malaise bagi partai politik. Pada jaman ini kemarin, jabatan menteri dicapai salah banyaknya melalui tentara, dan melalui golongan politik yang tidak mau disebut partai politik akan tetapi bermain politik, Golkar. Adapun cara lain untuk menduduki jabatan menteri menurut (Thoha, 2012) bisa saja menjadi konglomerat, dan orang-orang dekat istana atau cendana. Tamatlah riwayat dua gelintir partai politik PDI dan PPP saat itu.

Seperti dikatakan didepan, jaman pemerintahan orde baru ini reputasi partai politik dibuat amat tercela. Dengan partai politik dianggap rakyat terpecah belah menjadi keeping-keping anak bangsa yang mebahayakan persatuan, sebagaimana jalannya demokrasi dan system politik sebelum masa orde baru. Dengan partai politik kesejahteraan rakyat tidak sempat diratakan dan keadilan tidak pernah diwujudkan. Pendeknya partai politik tidak ada jasanya bagi bangsa ini. Maka sekianlah riwayat partai politik pada masa itu. Sehingga banyak anak bangsa yang dulu, cita-citanya ingin menjadi tentara, supaya bisa memasuki lapangan kerja dipemerintahan, dan syukur-syukur menjadi menteri atau presiden.

(6)

Teknorat yang diejelaskan oleh Prof. Dr. Miftah Thoha, MPA dalam bukunya adalah orang-orang yang professional, berilmu luas, ahli, zaken, dan mengetahui seluk-beluk pekerjaan kementriannya (Thoha, 2012). Maka para menteri Pembantu Presiden ini tidak lagi berasal dari kalangan partai politik, melainkan dari para teknorat, militer, dan pengusaha konglomerat. Jabatan menteri pada saat itu pun tidak lagi disebut sebagai jabatan politik, melainkan jabatan Negara atau pejabat Negara.

Syarat menjadi menteri pada jaman Bung Karno dan Bung Hatta, yaitu: dari partai politik dan berilmu luas, hanya dipakai yang berilmu saja. Mulailah kedudukan partai politik sebagai pengisi jabatan penting pada zaman Bung Karno dan Bung Hatta, tinggal menjadi auman macan ompong pada rezim orde baru. Maka eksistensi partai politik akar dasar masyaratkat sipil dan pemerintahan yang demokratis pudar tidak ada tempatnya lagi.

E. Birokrasi Masa Orde Baru

Pada masa Orde Baru Terjadi suatu kejadian yang cukup menarik, yaitu proses pemerintahan yang ditopang oleh ABRI. Proses Pemerintahan yang dilakukan secara de-aliranisasi tersebut dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu cara adalah dengan depolitisasi secara sistematik, melalui beberapa kebijakan. Dengan demikian, rakyat tidak terkotak-kotak kedalam aliran ideologi yang mengikuti aliran ideologi

Kedua, dengan melakukan floatin mass atau masa mengambang. Artinya,individu memiliki ikatan tertentu dengan partai politik. Namun kebijakan ini hanya diberlakukan bagi partai-partai politik bukan partai pemerintah, sedangkan partai Golkar dapat melakukan rekruitment hingga tingkatan yang paling bawah, melalui jaringan pemerintahan desa. Hal ini merupakan mesin politik yang sangat efisiendan efektif dalam memobilisasi dukungan buat Golkar dalam setiap pemilihan Orde Baru.(Affan Gaffar, Politik Indonesia, 2005)

Didalam buku yang sama milik Affan Gaffar juga mengatakan bahwa dalam format politik pada masa Orde Baru, yaitu pada masa pemerintahan Presiden Suharto, sangatlah baik dalam memelihara hubungan dengan kaum kristen/katolik ataupun kaum Abangan, sedangkan kaum muslim berada dalam oposisi pinggiran diluar kekuatan sistem, dan hanya dijadikan sebagai alat untuk menetralisir munculnya kekuatan Islam yang pemerintah secara kritis.

(7)

pemerintahan Orde Baru juga menguasai banyak lembaga sipil. Hingga pada masa Orde Baru juga disebut dengan masa Orde Golkar ataupun Orde ABRI.

Sebagaimana yang telah diuraikan pada tulisan sebelumnya bahwa pada pemerintahan Orde Baru sangatlah didominasi oleh ABRI dan anggota partai Golkar, dan menjadi malaise bagi selain golongan ABRI ataupun partai Golkar. Apabila orang dari partai lain, selain partai Golkar atau golongan ABRI, sangatlah susah untuk menjadi pejabat pemerintahan, dan apabila menjadi pejabat pemerintahan hanyalah menjadi kroco. Walaupun pada saat itu masih banyak dari golongan profesional yang mengisi kabinet, namun semua itu tak lepas dari kendali Orde Baru. Maka tidak heran pada saat itu banyak orangtua yang menginginkan anaknya menjadi ABRI agar kedepannya bisa menjadi menteri ataupun orang yang dekat dengan pemerintahan.

Demikianlah perkembangan kelembagaan birokrasi pemerintahan yang lebih cenderung menjadi sasaran kekuasaan, yang pada akhirnya di masa menjelang akhir periode mulai dirasakan kebutuhan akan reformasi. Upaya melakukan reformasi melahirkan paradigma masyarakat madani dan pemerintahan yang baik.

F. Akhir Massa Orde Baru

Krisis moneter yang melanda seluruh negara Asia, menyebabkan nilai mata uang menjadi merosot drastis. Salah satunya mata uang rupiah juga mengalami dampak penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Namun pemerintah menyatakan masih sanggup untuk mengatasi krisis moneter tersebut.

Presiden Suharto melakukan penyelamatan dengan meminta bantuan pinjaman pada IMF (International Monetary Fund), yang menyebabkan Indonesia harus meminjam dana sebesar US $43miliar, sehingga pemerintah harus melakukan banyak kebijakan salah satunya penghentian subsidi. Namun hal ini tak bisa menjadi solusi untuk pemecahan masalah.

Pada saat krisis yang bertepatan pada bulan Mei 1998, rakyat Indonesia mengalami kerusuhan yang luar biasa. Demi terwujudnya suatu reformasi bagi negara Indonesia seluruh rakyat dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan rakyat kecil hingga kalangan pejabat menteri pun menuntut adanya suatu reformasi.

(8)

Pada pagi hari tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB, presiden membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai Presiden RI di Istana Merdeka. Presiden Suharto mengumumkan, sesuai Pasal 8 UUD 1945, yang selanjutnya Wapres B.J Habibie akan meneruskan sisa masa jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003.

Setelah peristiwa Reformasi yang menyebabkan Presiden Suharto turun meninggalkan jabatannya. Pemerintahan Republik Indonesia mulai melakukan banyak pembenahan, mengambil evaluasi dari pemerintahan yang sebelumnya yang penuh dengan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) dan segala kegiatan yang banyak mengakibatkan kezhaliman bagi rakyat mulai segera di canangkan. Salah satunya Undang-Undang yang mengatur lama masa jabatan Presiden, yang mana seorang Presiden tidak boleh memimpin lebih dari dua periode kepemimpinan, dan masih banyak Undang-Undang lainnya yang dibuat agar bisa mengembalikan hakikat Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia.

G. Indonesia Pasca Orde Baru

Pada tahun 1998, Indonesia terjerumus kedalam sebuah krisis yang tidak dapat dipahami dengan alat-alat yang simplitis. Demonstrasi besar-besaran, ditengah krisis ekonomi yang dipicu oleh nilai tukar rupiah anjlok, memaksa Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri. Setelah 32 tahun stabilitas yang dipaksakan, Orde Baru akhirnya berakhir. Berbagai hal akhirnnya mulai terjadi, terutama desentralisasi besar-besaran yang terjadi menyeluruh di daerah Indonesia pasca pengunduran diri Presiden Sohearto.

H. Peninggalan Dari Massa Orde Baru

(9)

BAB III PENUTUP

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem politik orde baru merupakan mekanisme seperangkat fungsi atau peranan dalam struktur politik dalam hubungan satu sama lain yang menunjukkan suatu proses yang langsung dengan tatanan kenegaraan dalam kekuasaan soeharto. Orde baru merupakan suatu tatanan kehidupan rakyat, bangsa dan suatu struktur yang mempunyai landasan-landasan pancasila dan Landasan konstitusional UUD 1945.

Orde baru lahir karena buruknya kondisi politik dan perekonomian pada massa orde lama, juga adanaya PKI yang mengganggu aspek kehidupan di Indonesia sehingga banyak memuai protes dan kritik dikalangan masyarakat, sehingga masyarakat menuntut agar PKI dibubarkan dan menilai soekarno gagal menyelesaikan masalah PKI.

Kabinet pertama kali yang dibentuk pada masa orde baru adalah kabinet AMPERA ( Amanat Penderitaan Rakyat ) yang memiliki 3 unsur: Unsur pimpinan dijabat oleh presiden. Unsur pembantu pimpinan dijabat oleh presidium, dan unsur anggota-anggota kabinet dijabat oleh para menteri. Lembaga pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif dikuasai oleh militer. Dimasa orde baru pula birokrasi dijadikan sebagai instrumen kekuasaan terhadap lembaga sipil atau Orde baru sering disebut Orde Golkar ataupun Orde ABRI. Dikeluarkannya

SUPERSEMAR maka dimulainya Orde Baru yang membentuk ciri-ciri pokok baik dalam bidang politik maupun ekonomi. Dalam bidang politik diantaranya: Lembaga presiden terlalu dominan, Rendahnya kesetaraan diantara lembaga tinggi negara, Rekrutmen politik yang tertutup,

Briokrasi seabagai instrumen kekuasaan, Sentralisasi kekuasaan, Kebijakan publik yang tidak transparan, dan Implementasi hak asasi yang masih rendah. Sedangkan dalam bidang ekonomi: Kebijakan mengutamakan pertumbuhan ekonomi, Pinjaman luar negri, Konglomerat dwifungsi ABRI, dan politik luar negri bebas aktif.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...