Konstruksi Gender Dalam Masyarakat
Sebagai Suatu Bentuk Politik Seksual Sepihak
Oleh: Pandhu Wismono, Mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang.
Sejak dahulu keberadaan perempuan dianggap sebagai sebuah keberadaan yang hanya sebagai pelengkap bagi keberadaan kaum laki-laki. Fakta tersebut sudah sejak lama terjadi di seluruh bagian dunia. Misalnya saja di dunia pertama subordinasi perempuan sudah terjadi sejak jaman imperial, bahkan jauh sebelumnya. Selain terjadi di berbagai belahan dunia, fenomena subordinasi kaum lelaki terhadap perempuan juga terjadi di berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga hingga lingkungan terbesar yaitu lingkungan internasional.
Subordinasi kaum laki laki terhadap eksistensi perempuan pada dasarnya tidak terjadi begitu saja, melainkan disebabkan oleh hegemoni masyarakat yang menjunjung tinggi garis keturunan ayah atau disebut sebagai patriarkhat. Kaum patriarkhat menanamkan hegemoni tentang definisi-definisi sosok ideal perempuan melalui ajaran-ajaran yang diberikan kepada anak sejak masih kecil. Dari definisi tentang perempuan yang bersifat hegemonic, kaum patriarkhat kemudian menciptakan kekuasaan untuk mengendalikan lingkungan social. Kathe Millet (dalam sugihastuti-suharto, 2002:12) mengemukakan bahwa apa yang dilakukan kaum patriarkhat terhadap perempuan tersebut adalah merupakan sebuah sexual politic yang memungkinkan kaum laki-laki untuk menjadi lebih berkuasa dalam lingkungan social, bahkan mampu menguasai eksistensi perempuan.
atas kekuasaan laki-laki namun juga mampu membuat perempuan merasa bangga atas keberadaannya yang hanya dianggap sebagai pelengkap eksistensi laki-laki. Hal ini seperti yang telah disetujui oleh masyarakat jawa bahwa perempuan ideal adalah seperti yang digambarkan dalam dunia pewayangan sebagai istri-istri arjuna yang memiliki sifat sebagai berikut: memperhatikan kesehatan dan keindahan badan agar senantiasa enak dipandang, memperhatikan busana agar sesuai dengan situasi dan kondisi, mudah memaafkan, supel dalam pergaulan, bersahaja, tidak cemburu terhadap madu nya, mempunyai keterampilan, tanggap akan kehendak suami, dan abdinya, …setia, memperlihatkan baktinya terhadap suami dengan cara menuruti kehendaknya….. (wahyono, 1998 dalam yan mujianto dkk, 2010). Dalam anggapan masyarakat jawa tentang sosok perempuan yang ideal tersebut terlihat jelas bahwa subordinasi terhadap perempuan adalah suatu hal yang mutlak harus terjadi dan perempuan harus menyetujui akan hal tersebut.
Fenomena tentang mengakarnya definisi perempuan yang inferior tidak hanya terjadi di dunia ketiga namun juga dunia pertama, hanya saja di dunia pertama subordinasi tidak begitu ekstrim seperti yang terjadi di dunia ketiga dikarenakan para perempuan di dunia pertama sudah lebih dulu menyadari tentang emansipasi gender yang harus ditegakkan. Namun proses hegemoni patriarkhat atas keberadaan perempuan yang hanya sebagai pelengkap keberadaan laki-laki terus berlanjut bahkan hingga disisipkan dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan umberto eco, seorang ahli semiotika, dalam bukunya a theory of semiotics memberikan sebuah contoh penandaan bahwa perempuan berfungsi sebagai tanda yang mengontrol keberadan laki-laki di masyarakat sebagai laki-laki yang memiliki pasangan (Eco, 1979). Dalam bukunya tersebut ia mengatakan:
moment she becomes “wife”, is no longer merely a physical body: she is a sign which connotes a system of social obligation (levi-Strauss, 1947) ” (Eco, 1979: 26).
Dalam pendapatnya tersebut terdapat sebuah pernyataan ekstrim tentang keberadaan perempuan, yaitu bahwa keberadaan perempuan adalan sebagai “benda” konsumsi seperti makanan dan barang-barang konsumsi lainnya. Pernyataan nya pada dasarnya juga didasari atas postulate tentang perempuan yang sudah menjadi mindset di dalam masyarakat barat bahwa keberadaan perempuan adalah inferior dan hanya sebagai pelengkap keberadaan kaum lelaki.
Pada dasarnya dikotomi dalam masyarakat adalah sebuah hasil konstruksi gender yang menciptakan pengelompokan-pengelompokan berkelas di dalam suatu masyarakat. Widjajanti M. Santoso (2011) mengemukakan “pengelompokan masyarakat….mengacu pada cetak biru tertentu yang memperlihatkan relation of rulling…”, ia kemudian menambahkan bahwa “relation of rulling memiliki apa yang oleh Smith disebut sebagai Rulling apparatus, yaitu mekanisme pelaksanaannya. Rulling apparatus memiliki dua bentuk, yaitu diskursus ilmiah dan diskursus teks public (public textual discourse). Melalui pembagian ini, smith memperlihatkan bahwa konstruksi social mengatur kehidupan individu dan masyarakat di segala aspek kehidupan. Diskursus ilmiah mengacu pada penjabaran yang berhubungan dengan keilmuan” (santoso, 2011:46). Melalui konstruksi social dan diskursus keilmuan tersebut kaum patriarkhat kemudian mencoba menciptakan suatu bentuk anihilasi terhadap eksistensi perempuan dengan cara menciptakan suatu kebudayaan yang di dalamnya diselipkan doktrin-doktrin yang berupa definisi-definisi tentang sosok perempuan ideal dalam masyarakat melalui media massa maupun kesusastraan. Sehingga kebudayaan tersebut kemudian mengkonstruksi “bentuk” perempuan dan menihilkan eksistensi perempuan yang seharusnya merupakan suatu eksistensi yang bebas dan setara dengan kaum laki-laki. Anihilasi terhadap perempuan ini sudah mulai terjadi sejak dulu, dan bahkan hingga sekarang anihilasi terhadap perempuan masih terjadi dan terus berkembang. Melalui proses konstruksi dalam masyarakat tercipta suatu dikotomi gender yang kemudian melahirkan konsep-konsep maskulinitas dan feminitas. Dalam dikotomi gender disebutkan bahwa secara social laki-laki dan perempuan memiliki perannya masing masing, dan peran dari keduanya adalah berbeda (fakih, 1996).
laki-laki dan perempuan. Istilah gender sendiri adalah sebuah istilah konsep yang tidak sama dengan seks atau jenis kelamin. Gender adalah seperangkat peran yang diperuntukkan untuk laki-laki dan perempuan yang disosialisasikan melalui proses social budaya (mujianto,dkk, 2010). Dalam konstruksi social, laki-laki yang ber-gender masculine dikonstruksi secara budaya sebagai sosok yang kasar, kuat, perkasa, dan jantan (fakih, 1996). Sedangkan perempuan yang ber-gender feminime dikonstruksi secara social dan budaya sebagai sosok yang lemah lembut, cantik, emosional, keibuan, irasional,dll (sugihastuti-suharto, 2002). Berawal dari sebuah konstruksi social yang digunakan kalangan patriarkhat untuk menguasai lingkungan sosial, kini gender bahkan telah menjadi sebuah senjata bagi kaum laki-laki yang digunakan tidak hanya untuk untuk menguasai lingkungan dan struktur sosial namn bahkan untuk menguasai dan mematikan eksistensi perempuan.
gerak kaum perempuan, bahkan membunuh segala kesempatan yang dimiliki oleh kaum perempuan untuk memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan gender.
Konstruksi Gender Melalui Disiplin Keilmuan
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa kalangan patriarkhat menciptakan sebuah konstruksi gender dalam dikotomi maskulin dan feminism melalui berbagai macam cara, salah satunya ialah dengan menyisipkan hegemoni-hegemoni tentang definisi laki-laki dan perempuan ke dalam disiplin-disiplin keilmuan yang ada. Konstruksi gender yang dilakukan secara hegemonic dalam disiplin-disiplin ilmu sudah dilakukan sejak lama bahkan semenjak jaman yunani kuno. Melalui filosofi filosofi nya, bahkan ada diantara para filsuf yunani kuno yang mengemukakan bahwa perempuan diciptakan oleh tuhan hanya untuk menyertai laki-laki (sugihastuti-suharto, 2002: 32). Hal tersebut bahkan di-afirmasi oleh aristoteles (selden 1991:135 dalam sugihastuti Suharto, 2002:32) yang menyatakan bahwa perempuan adalah jenis kelamin yang ditentukan berdasarkan kekurangan mereka terhadap kualitas kualitas tertentu.
Tidak berhenti sampai disitu, Kathe Millet ( Widjajanti M. Santoso, 2011) bahkan menyatakan bahwa sebab kaum perempuan merasa memiliki posisi yang lebih rendah dari lelaki adalah dikarenakan oleh factor psikologis. Dalam hal ini adalah sebuah kastrasi dari Elektra kompleks yang dijalani oleh perempuan. Millet mengafirmasi pernyataan Jung bahwa castration atas Elektra kompleks yang terjadi disebabkan oleh kekurangan perempuan atas phallus atau penis yang merupakan lambing kekuasaan. Pernyataan millet yang mengafirmasi teori Jung tersebut pada dasarnya adalah sebuah afirmasi atas teori electra complex yang dipaparkan oleh Sigmund Freud, bapak psikologi, yang dalam teorinya menyatakan:
mother. After the seduction of her father fails, she turns back toward the mother and identifies with her. Her transition into womanhood being complete, the girl realizes that one day she, like her mother, will possess a man. Through her relationship with a man, her unfulfilled desire for a penis (penis envy) will be mitigated, and her sense of lacking will be somewhat appeased” (Bressler, 1999:152)
Dalam paparannya tersebut dijelaskan bahwa seorang anak perempuan merasa memiliki kekurangan dikarenakan tidak memiliki penis, sehingga timbul sebuah “penis envy” atau rasa iri atas kepemilikan penis sehingga untuk menutupinya dan untuk memenuhi hasratnya akan kepemilikan penis, seorang perempuan akan berusaha untuk memiliki laki-laki. Usaha perempuan untuk memiliki laki-laki sebagai imbas dari Elektra kompleks tersebut pada akhirnya memaksa wanita untuk menuruti tipe wanita ideal yang digambarkan oleh kaum lelaki. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu proses politik seksual yang dilakukan kalangan patriarkhat dalam melakukan konstruksi gender di masyarakat.
terjadi ketika suatu tanda memiliki fungsi sebagai pelengkap atas tanda yang lainnya sehingga dalam hubungan ini terjadi sebuah fungsi bertingkat atas tanda tanda yang berbeda. Kemunculan fungsi paradigmatic dan sintagmatik ini juga secara langsung maupun tidak langsung memberikan suatu hubungan antara laki-laki perempuan yang bersifat sintagmatic. Disebutkan demikian karena doktrin yang ada dalam masyarakat atas definisi perempuan adalah bahwa perempuan berkedudukan lebih rendah daripada lelaki dan keberadaannya berfungsi sebagai pelengkap eksistensi laki-laki.[]
Konstruksi gender yang berpihak pada laki-laki ini tidak hanya berhenti pada ranah-ranah ilmu humaniora melainkan juga pada ranah ranah ilmu scientifik, misalnya saja pada ranah ilmu fisiologi. Disebutkan bahwa secara fisik wanita memiliki kekuatan tubuh yang jauh di bawah laki-laki, kecepatan, kekuatan, dan ketahanan tubuh wanita tidak akan mampu menyamai laki laki. Oleh karena itu, segala aktifitas wanita harus dibatasi dan tidak semua bidang dapat dikuasai oleh perempuan. Pustulat seperti ini kemudian memupuskan harapan perempuan untuk menegakkan emansipasi perempuan, karena anggapan yang sudah lama tertanam pada masyarakat tersebut kemudian membuat batasan-batasan semu yang menciptakan garis yang tabu bila dilalui oleh perempuan. Misalnya saja dalam dunia olahraga, sepakbola yang popular adalah sepakbola yang dimainkan oleh kaum lelaki, sehingga dalam bidang ini dominasi profesionalitasnya dimiliki oleh lelaki. Bahkan ketika muncul pertandingan sepakbola perempuan, pertandingan tersebut tidak banyak diminati oleh masyarakat secara luas. Hal tersebut kurang lebih juga banyak terjadi di dalam dunia professional lainnya yang memang sudah dikonstruksi secara hegemonic oleh kalangan patriarkhat melalui ranah disiplin keilmuan.
Konstruksi Gender Melalui Kesusastraan
sistematika politik seksual: pertama, para penulis laki-laki membangun karakter laki-laki dan perempuan; kedua, para penulis tidak menggambarkan seksualitas dengan gabungan penyimpangan feminitas; dan ketiga, struktur fiksi merupakan lukisan dari budaya laki-laki (sugihastuti-suharto, 2002:14).
Melalui media kesusastraan, kaum patriarkhat menciptakan gambaran gambaran tentang berbagai macam sosok perempuan secara sepihak. Terlebih lagi, semua gambaran tentang sosok perempuan tersebut tidak diciptakan secara objektif melainkan secara subjektif pengarang. Melalui karya karya yang ada, mereka memaksa semua pembaca, baik pembaca laki-laki maupun pembaca perempuan, untuk melihat dan menggambarkan perempuan melalui perspektif laki-laki. Pada akhirnya, melalui cara tersebut para pengarang laki-laki menanamkan hegemoni-hegemoni sebagai material penyusun konstruksi gender dalam pemikiran pembaca tentang bagaimana sosok perempuan yang umum dan ideal, maupun bagaimana sosok-sosok perempuan jahat. Mengenai hal ini, simone de beavoir, seorang tokoh feminis sesudah perang, melalui bukunya yang diterbitkan pada tahun 1949 dengan judul the second sex (sugihastuti-suharto, 2002:12) mengemukakan secara implisit bahwa penggambaran kaum perempuan yang dilakukan oleh kaum patriarkhat melalui mitos mitos dan sejarah sejarah yang dimanifestasikan dalam kesusastraan khususnya, tidak pernah tepat dan sesuai dengan fakta yang ada mengenai kaum perempuan. Mereka melalui karya-karya nya menciptakan penggambaran yang mengkonstruksi sosok perempuan yang pada dasarnya hanya sesuai dengan perspektif laki-laki saja tanpa sedikitpun memperhitungkan objektifitas fakta tentang sosoknyata perempuan (sugihastuti-suharto, 2002:12).
kesatria pada akhirnya menemukan jawaban bahwa hal yang paling diinginkan oleh seorang perempuan dari suami nya adalah kekuasaan penuh atas sang suami. Penggambaran yang sedemikian tentang konsepsi perempuan menciptakan sebuah konstruksi social dan pola pikir kaum perempuan tentang apa yang harus dilakukannya, maupun tentang seperti apa seharusnya perempuan itu, menurut sudut pandang laki laki. Jawaban yang ditemukan oleh sang kesatria bahwa seorang perempuan menginginkan kekuasaan penuh atas suaminya juga pada dasarnya adalah sebuah doktrin yang ditujukan bagi para pembaca, baik itu pembaca laki-laki maupun pembaca perempuan. Dalam jawaban tersebut, ada sebuah implikasi bahwa untuk mampu memiliki kekuasaan terhadap suami, sorang istri harus menjadi sesosok istri yang ideal bagi laki-laki (suami) sehingga secara hegemonic, pernyataan tersebut juga adalah sebuah pertanyaan retoris yang ditujukan pada para pembaca, khususnya pembaca perempuan tentang apakah sebagai seorang wanita ia mampu menjadi sesosok wanita ideal yang diinginkan oleh lelaki sehingga kelak mampu memiliki kuasa penuh atas suaminya atau tidak. []
Contoh lain mengenai konstruksi gender yang disisipkan dalan karya sastra adalah konstruksi gender yang ada dalam karya legendaris yunani kuno, illiad and odyssey yang ditulis oleh homer. Dalam penceritaannya sosok para wanita digambarkan sebagai ibu rumah tangga, pemuas hasrat seksual lelaki, dan bahkan diposisikan pada tingkatan social kelas bawah yang lemah dan harus dilindungi. Pola konstruksi yang memaksa pembaca untuk melihat dunia dengan sudut pandang laki-laki dalam karya sastra tidak hanya terdapat dalam kanon-kanon dunia pertama, bahkan di dalam cerita-cerita kanon Indonesia pun banyak terdapat pola penceritaan yang mengandung konstruksi gender yan sedemikian rupa; seperti contohnya pada kanon sitti nurbaya karangan marah rusli (sugihastuti sugiharto, 2002). Meskipun dalam cerita juga terdapat pesan pesan tentang emansipasi wanita yang menunjukkan perjuangan sitti nurbaya untuk lepas dari tradisi kolot di daerahnya yang menjadikan wanita sebagai subordinasi, namun pesan pesan tersebut disampaikan dengan sudut pandang penceritaan laki-laki sehingga terkesan bahwa cerita tersebut lebih mengajak pembaca untuk “mengasihani” kaum perempuan daripada “menyadarkan" pembaca akan pentingnya kesetaraan gender.
dalam cerita Cinderella, putri salju, dll. Cerita-cerita dongeng, fable, dan kisah anak-anak lainnya secara general memiliki pola dan struktur yang hampir sama bahkan sangat mirip. Pola dan struktur yang mirip tersebut tidak hanya terdapat dalam dongeng-dongeng dan cerita anak-anak dari dunia pertama yang menjadi kanon, namun juga terdapat pada dongeng dan cerita anak-anak dari dunia kedua maupun ketiga. Misalnya saja pada pola cerita cinderela dan bawang merah dan bawang putih. Dalam kedua cerita yang berasal dari dua belahan dunia yang berbeda tersebut terdapat suatu pesan (baca: doktrin) tentang bagaimana seorang gadis harus berperilaku dan berfikir. Tidak hanya itu, bahkan di dalam kedua cerita yang mirip tersebut juga terdapat sebuah konstruksi terhadap penggambaran wanita yang ideal. Namun kontruksi tentang wanita yang ideal tidak hanya berhenti pada wanita baik yang ideal melainkan juga pada wanita jahat yang ideal.
Konstruksi Gender Melalui Industri Media Massa.
Media massa adalah salah satu medium yang digunakan dalam pembentukan kebudayaan. Melalui media massa berbagai macam kebudayaan baru telah tercipta, dan seiring berbagai macam terciptanya kebudayaan-kebudayaan baru tersebut muncul pula arus dinamika budaya yang kemudian membentuk berbagai macam konstruksi dalam system kemasyarakatan, salah satu nya adalah dikotomi gender. Dikotomi gender, yang menghasilkan maskulinitas dan feminitas, lahir dari Konstruksi gender dalam masyarakat yang merupakan salah satu hasil konstruksi kebudayaan yang diciptakan melalui media massa. media massa tumbuh dan berkembang pesat khusus nya pada era revolusi industry dimana pada masa revolusi industry tersebut perusahaan-perusahaan besar saling berlomba untuk menghasilkan profit terbesar. Dalam usahanya untuk meningkatkan profit dan menciptakan kebutuhan-kebutuhan serta kebudayaan-kebudayaan baru bagi masyarakat melalui media massa, perusahaan-perusahaan besar tersebut kemudian menggunakan jasa public relation . Public relation, pada masa itu merupakan suatu ranah jasa yang baru dalam dunia professional. Di dalam public relation, segala teori ilmu dicoba untuk diaplikasikan dalam usahanya untuk menciptakan suatu kebutuhan baru bagi public demi kepentingan perusahaan. Dalam konstruksi kebudayaan yang dilakukan oleh para pelaku public relation berbagai macam disiplin ilmu, khususnya ilmu social dan humaniora dipergunakan guna mensukseskan usaha-usaha nya demi perkembangan industry (peningkatan profit perusahaan).
menciptakan penekanan-penekanan atas berbagai keinginan yang bersifat “perempuan”. Sekarang semakin banyak perempuan yang menggeluti profesi laki-laki….tembakau, yang disamakan sebagai symbol kelelakian, bagi wanita telah menjadi sebuah symbol sebagai obor kebebasan (Wikipedia.com). dengan berdasarkan atas analisis psikologi Brill tersebut bernays kemudian menyerukan rokok sebagai sebuah symbol kebebasan bagi perempuan. Seruan bernays akan kebebasan perempuan yang disimbolkan dengan keberanian perempuan untuk menghisap tembakau tersebut kemudian mendorong para perempuan untuk mulai mengkonsumsi tembakau. Hal tersebut membuat penjualan tembakau pada waktu itu meningkat secara signifikan karena disamping para lelaki yang mengkonsumsi tembakau, perempuan pun mulai berani untuk mengkonsumsi tembakau, bahkan merasa bangga karena dengan menghisap tembakau mereka menjadi merasa setara dengan kaum lelaki. Dalam hal ini, psychoanalisis kemudian dijadikan sebagai senjata bagi kaum patriarkhat untuk memaksa kaum perempuan mengikuti pola konstruksi yang diciptakan oleh mereka (patriarkhat). Mengenai kasus sedemikian rupa yang juga muncul dalam industry perfilm-an, Laura Mulvey dalam karya nya yang berjudul visual pleasure and narrative cinema yang terbit pada tahun 1975, menyatakan bahwa teori psychoanalisis dijadikan sebagai senjata yang menunjukkan tentang bagaimana masyarakat patriarkhat melalui alam nirsadar nya membuat struktur atas bentuk film (Psychoanalytic theory is thus appropriated here as a political weapon, demonstrating the way the unconscious of patriarchal society has structured film form) (mulvey, 1975).
Fenomena tentang aplikasi psychoanalysis dalam praktek public relation yang menciptakan kesuksesan besar industry rokok merupakan sebuah contoh besar tentang bagaimana kaum patriarkhat membentuk perempuan melalui media massa dan memanfaatkannya untuk meningkatkan profit dalam dunia industry. Dalam kasus ini, wanita tidak hanya dikonstruksi secara budaya namun juga dibuat bingung atas makna eksistensinya sendiri. Perempuan kemudian tidak diberi pilihan lain kecuali menjadi subordinasi atau dimanfaatkan eksistensi serta pemikiran-pemikirannya. Bahkan usaha perempuan untuk mendapatkan posisi yang sejajar dengan kaum laki-laki pada waktu itu justru dimanfaatkan oleh kaum patriarkhat dalam dunia industry untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
perempuan dalam industry bahkan hingga pada tahapan pemanfaatan perempuan sebagai tenaga kerja yang murah. Dalam hal ini, bahkan pekerjaan perempuan dikategorikan sebagai unpaid labour (santoso, 2011:49). Dikatakan demikian karena perempuan dipekerjakan secara murah dan pekerjaannya dianggap memiliki kualitas yang berada di bawah pekerjaan para pekerja laki-laki, padahal anggapan tersebut bukanlah sebuah fakta melainkan hanya sebuah hegemoni agar perempuan mau bekerja dengan upah yang lebih murah. Subordinasi perempuan dalam dunia industry bahkan masih berlangsung hingga sekarang. Terbukti bahwa di sebagian besar pabrik-pabrik yang memfokuskan pada produksi, jumlah pekerja perempuan lebih banyak daripada jumlah pekerja laki-laki.
Pada era masa kini, perempuan bukan hanya dikonstruksi sebagai gender yang diposisikan dalam kelas yang berada di bawah laki-laki, namun perempuan bahkan dikonstruksi sebagai objek bagi pelaku-pelaku dunia industry. Konstruksi yang dilakukan tidak cukup hanya pada ranah kebudayaan masyarakat, bahkan lebih spesifik, yaitu pada pola pikir dan perilaku konsumsi kaum perempuan. Jadi dalam konstruksi gender masa kini, khususnya terhadap perempuan, hegemoni-hegemoni lebih difokuskan terhadap perempuan secara langsung. Hal ini dikarenakan perempuan adalah titik tolak dimana kebudayaan mulai ditanamkan sejak masa anak-anak, sebab perempuan berperan sebagai lingkungan awal dimana anak mulai belajar bermasyarakat dan berkebudayaan.
keutamaan perempuan. Bila konstruksi patriarkhat masa lampau mengutamakan akan sosok perempuan yang sopan santun, cerdas, berintelegensi tinggi, konstruksi perempuan dalam budaya popular masa kini mengutamakan sosok perempuan yang seksi, cantik, dan mampu memancing gairah seksual laki-laki tanpa mementingkan unsur intelegensi, sopan santun, dsb.
Konstruksi terhadap perempuan yang sedemikian rupa sangat menguntungkan kaum lelaki, dan sebaliknya sangat merugikan kaum perempuan; karena dengan anggapan-anggapan tentang sosok perempuan yang seperti itu (yang mampu menuruti male gaze), eksistensi perempuan sedikit demi sedikit mulai jatuh pada nihilisme yang membuat kaum perempuan menjadi tidak memiliki tujuan yang pasti dalam menjalani kehidupan sehingga kaum patriarkhat dapat leluasa menjadikan perempuan sebagai budak-budak yang akan menuruti apapun kehendak laki-laki.
Konstruksi gender yang menempatkan perempuan pada posisi inferior merupakan sebuah politik seksual sepihak yang berakibat fatal bagi eksistensi perempuan. Konstruksi dalam masyarakat yang telah dibentuk sedemikian rupa, yang menjadikan laki-laki memiliki posisi superior menciptakan keleluasaan bagi kaum patriarkhat untuk menduduki kursi kekuasaan di dalam masyarakat, bahkan di dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Jika konstruksi yang sedemikian tidak didekonstruksi dan dibiarkan terus berkembang maka eksistensi perempuan akan jatuh pada lubang gelap nihilisme yang mampu mengaburkan arah tujuan perempuan dalam menjalani kehidupan. Untuk menanggulangi hancurnya eksistensi perempuan dan untuk menegakkan serta memperkuat pilar-pilar emansipasi perempuan guna mencapai equality di dalam masyarakat maka diperlukan suatu usaha konkrit yang sekiranya akan mampu mendekonstruksi pola kebudayaan yang telah dikonstruksi oleh kalangan patriarkhat demi kepentingan pribadi mereka. Usaha dekonstruksi atas pola kebudayaan yang berpihak terhadap laki-laki tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satu nya dengan meningkatkan kesadaran perempuan dan menumbuhkan ketertarikan generasi muda, khususnya perempuan, untuk mempelajari ilmu-ilmu social dan humaniora serta ilmu filsafat karena kebudayaan dikonstruksi oleh kaum patriarkhat melalui disiplin-disiplin ilmu tersebut.
Referensi
Fakih, Mansour, Analisis Gender danTransformasi Sosial, 1996, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugihastuti; Suharto, Kritik Sastra Feminis Teori dan Aplikasinya, 2002, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Santoso, Widjajanti M., Sosiologi Feminisme Konstruksi Perempuan dalam Industri Media, 2011, Yogyakarta: Lkis.
Eco, Umberto, A Theory of Semiotics, 1979, Bloomington: Indiana University Press.
Bressler, Charles E., Literary Criticism an Introduction to Theory and Practice, 1999, New Jersey: Prentice Hall.
Mujianto Dkk., Yan, Pengantar Ilmu budaya, 2010, Yogyakarta: PelangiPublishing.
Mujianto, Yan, An Introduction to Culture Studies, 2008, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.
Audifax, -Semiotika- Tuhan Tafsir atas Pembacaan Manusia Terhadap Tuhan, 2007, Yogyakarta: PINUS BOOK PUBLISHER
Nӧth, Winfried, Handbook of Semiotic, 1990, USA: Indiana University Press.
Dalby, Andrew, Rediscovering Homer, 2006, New York, London: Norton
http:// The Canterbury Tales - Wikipedia free encyclopedia .htm