UJIAN TENGAH SEMESTER
MATA KULIAH PENELITIAN KUALITATIF PEP 8202 PRODI PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
Nama
: Eli Meivawati
NIM
: 16701251017
Hari, Tanggal
: Rabu, 2 November 2016
SOAL Bagian A
1. Jelaskan konsep dan prinsip-prinsip penelitian kualitatif berdasarkan referensi buku Robert K. Yin (Qualitative Research from Start to Finish), Sarah J. Tracy (Qualitative Research Methods), Creswell (Educational Research, Qualitative Research Design), dan artikel lain yang diunduh di internet ! 2. Komparasikan perbedaan paradigma penelitian kualitatif dan kuantitatif
berdasarkan referensi dari buku maupun artikel (On research methods and their philosophical assumption dan Fundamental of qualitative research) dari Creswell, Robert K. Yin, Sarah J. Tracy dan lain sebagainya. Komparasikan dari beberapa aspek secara lengkap agar arti penelitian kualitatif semakin jelas!
Bagian B
2. Dimana letak ciri atau karakteristik masalah penelitan kualitatif yang anda identifikasi? Bagaimana rumusannya? (identifying and formulating research problem)
Bagian C
1. Berdasarkan pada referensi buku-buku Creswell terdapat sejumlah desain penelitian kualitatif, desain kualitatif mana yang dapat dan tepat untuk dipergunakan dalam penelitian pendidikan? Berikan alasan rasional dan argumentasinya !
2. Berdasarkan klasifikasi tersebut, desain mana yang anda pilih? Jelaskan mengapa anda memilihnya! Uraikan dan deskripsikan bagaimana perencanaan dari desain yang anda pilih!
Bagian D
1. Berdasarkan pada desain yang anda pilih, susunlah langkah-langkah penelitian yang anda rencanakan ! (referensi bisa dari Creswell, Robert K. Yin, Sarah, Bogdan & Bliken atau lainnya)
JAWABAN
Konsep Penelitian Kualitatif
Berbicara mengenai konsep maka akan erat kaitannya dengan bahasan mengenai rancangan yang berisi ide-ide dasar. Konsep dalam sebuah penelitian memiliki peranan yang cukup penting dalam memberikan gambaran mengenai penelitian itu sendiri. Tanpa adanya konsep, seseorang tidak akan tahu apa yang menjadi ciri khas, ide, atau gagasan dari sebuah penelitian. Peran konsep dalam penelitian layaknya jembatan antara dunia teori dengan dunia observasi atau antara hal yang abstrak dengan hal yang konkret. Konsep sangat erat kaitannya dengan definisi atau pengertian yang dipakai untuk menggambarkan secara abstrak suatu objek masalah. Sebelum membahas mengenai konsep penelitian kualitatif maka kita harus memahami definisi dari penelitian kualitatif. Menurut Moleong (2013: 6) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi , tindakan, dan lain-lain. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Pendapat dari Moleong ini sudah memberikan sedikit pencerahan mengenai konsep penelitian kualitatif itu sendiri yang pada dasarnya menekankan pada pembahasan yang gamblang namun tanpa menghiraukan kadar keilmiahannya. Pendapat lain mengenai makna dijelaskan oleh
kajiannya yaitu yang erat kaitannya dengan masalah sosial kemanusiaan. Lebih luas lagi Denzin dan Lincoln (2009) menyatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan bidang penyelidikan yang berdiri sendiri. Penelitian ini menyinggung aneka disiplin ilmu, bidang, dan tema. Pada pelaksanaannya menggunakan metode dalam fokus yang melibatkan interpretif, pendekatan naturalistik untuk materi pokoknya.
Merunut kepada beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif merupakan serangkaian kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan untuk mendeskripsikan fenomena atau gejala yang terjadi dalam kehidupan secara holistik sehingga lebih menekankan kepada proses dan makna. Pengertian tentang penelitian kualitatif setidaknya memberikan gambaran seperti apa konsep penelitian kualitatif itu sendiri. Tracy (2013, hlm. 2) dalam bukunya menyebutkan terdapat tiga konsep penelitian kualitatif yaitu self-reflexivity, context, and thick description. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.
Context atau yang berarti konteks memiliki maksud situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Penelitian kualitatif memiliki fokus pada suatu kejadian atau bahkan hanya pada satu situasi. Adapun yang menjadikan penelitian kualitatif ini bersifat kontekstual dapat dilihat dari tujuannya yang mengutamakan kepada kebermaknaan, sehingga yang menjadi point of view dari penelitian ini adalah isi dan proses penelitian itu sendiri. Konsep konteks ini berarti peneliti harus memandang penelitian sebagai sebuah hal yang sangat dekat dengan lingkungan sekitarnya, lingkungan dalam hal ini berarti masyarakat dan kehidupannya, oleh karena itu penelitian kualitatif adalah bagian dari kehidupan, lika-liku prosesnya dituangkan dalam kata-kata yang detail, jelas, dan penuh makna. Sukardi (2006) dalam bukunya menyinggung sedikit tentang konstekstual dimana peneliti melakukan tindakan yang paling tepat apabila ia memahami gejala sosial sehingga mampu memperoleh fakta pendukung yang sumbernya berasal dari persepsi dan ungkapan dari para pelaku itu sendiri.
Dari penjelasan diatas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa penelitian kualitatif tidak akan terlepas dari apa yang menjadi ciri dan konsepnya. Konsep diatas berhubungan satu sama lain yang membangun sebuah penelitian kualitatif.
Prinsip Penelitian Kualitatif
Prinsip secara harfiah diartikan sebagai hal yang fundamental (mendasar) yang dianggap sebagai kebenaran umum maupun kebenaran individual sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak bagi seseorang atau suatu kelompok tertentu. Yvonna Lincoln and Egon Guba (dalam Denzin & Lincoln, 2009) menjelaskan prinsip-prinsip dasar dari lima paradigma penelitian ilmu sosial: positivisme/post-positivisme, teori kritis, konstruktivisme, dan partisipatoris. Pada penelitian kualitatif yang menjadi prinsipnya adalah pandangan filsafat post-positivisme bisa juga disebut post-modernisme atau naturalistik. Menurut Sukardi (2006) pada prinsipnya penelitian kualitatif ini berasal dari pendekatan phenomenologis, dimana para ahli yang termasuk pendukung dari pendekatan tersebut adalah Denzin (2003), Berger dan Lukman (1967), dan Bogdan (1984). Sukardi (2006, hlm. 6) lebih lanjut menyebutkan terdapat beberapa teori dasar yang mewarnai penelitian kualitatif diantaranya adalah phenomenologis, undulasi, interaksi simbolis, budaya, dan antropologi. Kelima teori tersebut tentunya menjadi prinsip yang dipegang oleh peneliti karena bagaimanapun teori tersebut menjadi pijakan awal bagi seorang peneliti ketika melakukan penelitian kualitatif. Berikut penjelasan mengenai teori yang melandasi penelitian kualitatif.
Gejala-gejala yang muncul ini erat hubunganya dengan kehidupan dan manusia, sehingga diperjelas dalam teori interaksi simbolis yang memiliki tiga pandangan yaitu tindakan manusia, proses, dan manusia sebagai aktor. Teori lain yang erat hubunganya dengan penelitian kualitatif adalah budaya dan antropologi yang muncul dari fenomena kehidupan manusia.
Denzin dan Lincoln (2009, hlm. 3) menyebutkan pada dasarnya penelitian kualitatif menempatkan peneliti sebagai seorang bricoleur yang mahir dalam melaksanakan sejumlah besar pekerjaan, seperti wawancara, observasi, penafsiran dokumen dan historis, refleksi dan intropeksi diri yang mendalam. Hasil kerja dari bricoleur adalah berupa brikolase, sebuah ciptaan yang padat, refleksif, mewakili citra, pemahaman, dan interpretasi peneliti mengenai fenomena yang sedang dianalisis. Lebih jelasnya Tracy (2013, hlm.34) menyebutkan terdapat beberapa prinsip dasar dalam penelitian kualitatif yaitu induktif dan emic. Pada pelaksanaannya penelitian kualitatif berfokus pada kasus, tidak terlalu mempersoalkan keluasan daerah penelitian, berusaha memecahkan permasalahan penelitian dengan dasar gejala yang terjadi di lapangan, dan menggunakan persepektif emik. Peneliti dalam hal ini mengumpulkan data berupa cerita rinci dari para informan dan diungkapkan apa adanya sesuai dengan bahasa dan pandangan informan.
Merujuk dari beberapa penjelasan dari para ahli mengenai prinsip penelitian kualitatif maka dapat diperoleh beberapa poin penting mengenai prinsip penelitian kualitatif diantaranya adalah sebagai berikut.
Penelitian kualitatif dilandasi oleh filsafat post-positivisme.
Penelitian kualitatif diwarnai oleh berbagai teori seperti phenomenologis, undulasi, interaksi simbolis, budaya, dan antropologi. Begitu banyak teori yang mewarnainya sehingga penelitian kualitatif menjadi penelitan yang multi paradigma.
Penelitian kualitatif bersifat induktif dan emik.
Sifat subjektif dari penelitian kualitatif berjarak antara peneliti dan objek penelitian.
Penelitian kualitatif memandang fenomena dan manusia secara utuh atau holistik, sehingga terdapat hubungan yang erat antara teori Gestalt dengan penelitian kualitatif
Penelitian kualitatif menjadi penelitian yang humanis dengan setting penelitian yang natural.
Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti memperoleh informasi dari orang pertama mengenai fenomena atau masalah yang terjadi.
Adapun paradigma penelitian kualitatif adalah sebagai berikut.
dikutip dari Professor Lisa High, (Power Point) Qualitative Research Design. University of Windsor
Naturalistic paradigm : Mengetahui akivitas, realitas sosial, dan persepsi manusia yang tidak dapat diungkap melalui pengukuran.
Soft science : Ilmu yang menempatkan fokusnya pada gejala sosial dan manusia sebagai subjek sekaligus objek.
Focus: usually broad
Holistic : Memandang suatu fenomena sebagai suatu yang utuh dan tidak terpisah-pisah sehingga menjadi suatu kebermaknaan.
Subjective : Penelitian kualitatif bersifat subjektif, data yang diperoleh dari manusia yang mempunyai pikiran, kepercayaan, dan pandangan yang berbeda-beda. Fenomena yang terjadi direkam dan diterjemahkan oleh peneliti itu sendiri.
Basis of knowing (meaning, discovery) : Dasar pengetahuan dari penelitian kualitatif adalah kebermaknaan dan menemukan sesuatu yang baru.
Shared interpretation : Berbagi interpretasi, memungkinkan peneliti untuk mengembangkan apa yang telah diketahuinya dari responden. Berbagi pendapat, pandangan, kesan, bahkan pemikiran satu sama lain.
Communication and observation : Pada penelitian kualitatif komunikasi antar personal sangat diperlukan, namun peneliti tetap harus mengobservasi apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan.
Basic element of analysis is words : Data yang diperoleh dari berbagai sumber dijelaskan dalam bentuk kata-kata atau deskriptif.
Individual interpretations : Interpretasi bersifat individual karena penelitian kualitatif memiliki kadar subjektivitas.
Uniqueness : Penelitian kualitatif ini bersifat unik, masalah yang diteliti dalam penelitian kualitatif tidak bisa dipecahkan dalam penelitian kuantitatif.
Paradigma Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Paradigma secara harfiah berarti kerangka berpikir. Menurut Guba, E.G., and Lincoln (1988) Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir atau cara pandang seorang peneliti terhadap realitas yang terjadi dalam kehidupan dan perlakuan peneliti terhadap ilmu dan teori. Secara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Adapun perbedaan antara paradigma penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut.
Perbedaan Penelitian Kualitatif Penelitian Kuantitatif
Asumsi Kenyataan terbentuk
dari proses sosial
Objektif
Subjek penelitian
untuk memahami
dikutip dan diterjemahkan dari Marshall, C., & Rossman, G. (1980). Designing Qualitative Research. Newbury Park., CA : Sage
- menggambarkan realitas yang kompleks
- observasi, partisipan observasi, wawancara terbuka
Teknik penelitian
- eksperimen, survei, observasi terstruktur, wawancara terstruktur
Instrumen penelitian
- peneliti sebagai instumen - buku catatan dan tape recorder
Instrumen penelitian lapangan, ucapan responden, dokumen, dsb
Data
- kuantitatif
Sampel
- kecil, tidak representatif, purposif
Sampel
- besar, representatif, sedapat mungkin random
Analisis
- terus-menerus sejak awal sampai dengan akhir penelitian
- induktif
- mencari pola, model, atau tema
Analisis
- hipotesis dirumuskan dengan jelas ditulis terinci dan lengkap sebelum terjun ke lapangan dikutip dari Nasution (1988, p. 12-13) dalam Fx Sudarsono. (2016). Handbook Kumpulan Materi Kuliah Metodologi Penelitian Kualitatif. Pascasarjana UNY
Dari kedua tabel diatas dapat dikembangkan menjadi beberapa poin kesimpulan mengenai perbedaan paradigma penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif diantaranya adalah sebagai berikut.
Penelitian kuantitatif lebih bersifat formal dari pada penelitian kualitatif karena lebih terstruktur.
Penelitian kuantitatif tidak lebih bias dari penelitian kuantitatif karena terdapat perbedaan dalam teknik mengambil serta mengolah data.
Pada penelitian kuantitatif peneliti independen dari yang diteliti sedangkan pada penelitian kualitatif peneliti berinteraksi dengan yang diteliti.
Penelitian kuantitatif bebas konteks sedangkan penelitian kualitatif terikat pada konteks.
Akurasi dan reliabilitas pada penelitian kuantitatif melalui validitas dan reliabilitas sedangkan pada penelitian kualitatif dibentuk melalui verifikasi.
Perbedaan Identifikasi dan Rumusan Masalah
Terdapat beberapa perbedaan mengenai identifikasi dan rumusan masalah dari penelitian kualitatif dan kuantitatif. Adapun perbedaannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Research with subjects (Quantitative) Research with informan (Qualitative) Apa yang saya tahu tentang masalah
yang akan memungkinkan saya untuk merumuskan dan menguji hipotesis?
Apa informan saya tahu tentang budaya mereka yang saya cari tahu?
Konsep apa yang bisa saya gunakan untuk menguji hipotesis ini?
dikutip dan diterjemahkan dari Spradley, J.P. (1979). The etnographic interview. Fort Worth, TX: Harcout Brace Jovanovich College Publishers
Dari tabel diatas maka dapat dikembangkan menjadi beberapa poin kesimpulan mengenai perbedaan identifikasi dan rumusan masalah pada penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif.
Masalah pada penelitian kuantitaif sudah jelas dan menjadi titik tolak penelitian.
Masalah pada penelitian kualitatif belum jelas sehingga masih bisa dikembangkan.
Rumusan pertanyaan pada penelitian kuantitatif lebih mengarah pada hubungan, sebab-akibat, korelasi, pengaruh, dsb.
Rumusan pertanyaan pada penelitian kualitatif mengarah pada satu fokus utama yang nantinya bisa dikembangkan menjadi sub-masalah.
Identifikasi masalah pada penelitian kuantitatif beranjak dari kesenjangan teori dengan realita di lapangan.
Identifikasi masalah pada penelitian kualitatif beranjak dari fenomena atau gejala yang timbul dari masyarakat namun belum bisa dijelaskan sehingga menimbulkan suatu pertanyaan.
Jawaban dari rumusan masalah pada penelitian kuantitatif adalah data interval dan rasio.
Jawaban dari rumusan masalah pada penelitian kualitatif adalah data nominal dan ordinal yang kemudian dijelaskan dengan kata-kata sehingga muncul kebermaknaan.
Pertanyaan pada penelitian kualitatif diawali dengan apa, mengapa, dan bagaimana, sehingga memunculkan jawaban yang memerlukan penjelasan panjang.
Karakteristik Masalah Penelitan Kualitatif dan Perumusannya
Pada penelitian kualitatif seorang peneliti membuat rumusan masalah dalam bentuk penyataan maupun pertanyaan. Rumusan masalah ini bukan sebagai sasaran penelitian ataupun hipotesis-hipotesis. Rumusan masalah mengikat peneliti agar tetap berada dalam fokus penelitian. Menurut Creswell (2009) Pertanyaan inti (Rumusan masalah) dalam penelitian kualitatif adalah pertanyaan besar yang dimiliki peneliti dan mengharuskan adanya sebuah penjelasan berupa fenomena sentral atau konsep sebuah penelitian. Para peneliti kualitatif seyogianya mengajukan sedikitnya satu rumusan masalah utama dan beberapa sub-rumusan masalah. Mereka harus mengawali rumusan masalahnya dengan kata-kala seperti bagaimana atau apakah dan menggunakan verba-verba eksploratoris, seperti mengeksplorasi atau mendeskripsikan. Selain itu, mereka harus menyajikan rumusan masalah yang umum dan luas yang memungkinkan mereka mengeksplorasi gagasan-gagasan partisipan. Mereka juga harus fokus pada satu fenomena utama yang diteliti. Rumusan masalah dalam penelitian kualitatif juga harus menyebutkan partisipan dan lokasi penelitian.
Secara lebih jelas karakteristik pertanyaan penelitian kualitatif adalah sebagai berikut.
Adanya rumusan masalah utama dan sub-rumusan masalah yang lebih spesifik. Rumusan masalah utama merupakan pertanyaan umum tentang konsep atau fenomena yang diteliti. Peneliti mengajukan pertanyaan ini sebagai masalah umum yang tidak dimaksudkan untuk membatasi penelitian.
Adanya keterkaitan pertanyaan utama dengan metode penelitian kualitatif tertentu.
Rumusan masalah diawali dengan kata apa, bagaimana, mengapa.
Rumusan masalah fokus pada satu fenomena atau konsep utama.
Rumusan masalah menggunakan kata-kata yang bersifat eksploratoris berupa kata-kata tidak langsung (nondirectional words) ketimbang kata-kata langsung
(directional words), seperti "berdampak pada”, "memengaruhi," "merientukan," "menyebabkan," dan "menghubungkan."
Rumusan masalah akan terus berkembang dan berubah selama penelitian, namun tetap konsisten dengan asumsi dasar pada rancangan penelitian.
Rumusan masalah open-ended (terbuka), tanpa perlu merujuk pada literatur atau teori tertentu, kecuali jika ada strategi penelitian kualitatif yang menganjurkan hal tersebut.
Desain Penelitian Kualitatif yang Dapat Digunakan dalam Penelitian Pendidikan
Terdapat lima desain penelitian kualitatif menurut Denzin & Lincoln (2009) yaitu studi kasus, etnografi, fenomenologi, grounded theory, historis, penelitian tindakan partisipatoris, riset klinis dan biografi. Jonhson dan Wichern (2005: 8) menambahkan desain action research, dan design and development research. Berikut adalah penjelasan mengenai desain penelitian kualitatif yang dapat digunakan dalam penelitian pendidikan.
organisasional dan manajerial, perubahan lingkungan sosial, hubungan-hubungan internasional, dan kematangan industri-industri.
Penelitian studi kasus dalam dunia pendidikan dapat digunakan oleh guru bimbingan konseling dalam memahami kasus yang terjadi di sekolah.
Penelitian fenomenologi bersifat induktif . pendekatan yang dipakai adalah deskriptif yang dikembangkan dari filsafat fenomenologi. Fokus filsafat fenomenologi adalah pemahaman tentang respon atas kehadiran atau kebaradaan manusia, bukan sekedar pemahaman atas bagian-bagian yang spesifik atau prilaku khusus. Tujuan penelitian fenomenologikal adalah menjelaskan pengalaman-pengalaman apa yang dialami seseorang dalam kehidupan ini, termasuk interaksinya dengan orang lain.
Penelitian fenomenologi dalam dunia pendidikan dapat digunakan untuk melihat fenomena pergaulan yang terjadi pada siswa ditiap tingkatan sekolah.
Penelitian grounded theory adalah teknik penelitian induktif. Pendekatan penelitian ini bermaslahat dalam menemukan problem-problem yang muncul dan aplikasi proses-proses pribadi untuk menanganinya. Metodologi teori ini menekankan observasi dan mengembangkan basis praktik hubungan ”intuitif” antara variabel. Proses penelitian ini melibatkan formulasi, pengujian, dan pengembangan ulang proposisi selama penyusunan teori.
Penelitian grounded theory dalam dunia pendidikan dapat digunakan untuk membangun sebuah model pembelajaran yang efektif.
dibandingkan untuk menambah pemahaman atas dampak budaya pada perilaku atau
kesehatan manusia.
pula.
Penelitian etnografi dalam dunia pendidikan dapat digunakan untuk kajian kebudayaan mengenai manusia.
Biografi (biography) merupakan studi terhadap seseorang atau individu yang dituliskan oleh peneliti atas permintaan individu tersebut atau atas keinginan peneliti yang bersangkutan. Denzin dan Lincoln (2009) mendefinisikan biografi sebagai suatu studi yang berdasarkan kepada kumpulan dokumen-dokumen tentang kehidupan seseorang yang melukiskan momen penting yang terjadi dalam kehidupannya tersebut. Sehingga dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai subyek dalam penelitian dapat berupa orang yang masih hidup ataupun orang yang sudah meninggal dunia, sepanjang data yang relevan dapat diperoleh peneliti dari dokumen yang tersedia.
Penelitian biografi dalam dunia pendidikan dapat digunakan untuk merunut tokoh-tokoh pendidikan yang menghasilkan teori-teori dalam dunia pendidikan.
Penelitian historis (historical research) adalah penelitian yang dimaksudkan untuk merekonstruksi kondisi masa lampau secara objektif, sistematik, dan akurat. Melalui penelitian ini, bukti-bukti dikumpulkan, dievaluasi, dianalisis, dan disintesiskan. Selanjutnya, dirumuskan kesimpulan berdasarkan bukti-bukti itu. Adakalanya penelitian historis digunakan untuk menguji hipotesis tertentu.
Penelitian historis dalam dunia pendidikan tentunya membantu para peneliti untuk mengembangkan pembelajaran sejarah.
kepada kepedulian praktis dari orang dalam situasi problematis secara langsung dan untuk tujuan lebih lanjut dari ilmu sosial secara serempak. (Sugiyono, 2012: 235)
Penelitian tindakan dalam dunia pendidikan sudah seharusnya dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan. Penelitian tindakan bisa menyelesaikan berbagai masalah kekinia yang sedang dialami oleh dunia pendidikan. Penelitian tindakan dalam dunia pendidikan bisa dilakukan di kelas, sekolah, ataupun lingkungan keluarga yang diteliti.
Studi Kasus
Studi kasus adalah stategi kualitatif di mana peneliti mengkaji se-buah program, kejadian, aktivitas, proses, atau satu atau lebih indi-vidu dengan lebih mendalam. Kasus-kasus tersebut dibatasi oleh waktu dan aktivitas, sehingga peneliti harus mengumpulkan infor-masi yang detail dengan menggunakan beragam prosedur pengum-pulan data selama periode waktu tertentu. Menurut Yin (2003) studi kasus adalah suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tidak tampak secara tegas atau jelas dan menggunakan berbagai sumber atau multisumber bukti. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan bermakna dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata seperti silklus kehidupan seseorang, proses-proses organisasional dan manajerial, perubahan lingkungan sosial, hubungan-hubungan internasional, dan kematangan industri-industri.
kasus adalah kemampuannya untuk berhubungan sepenuhnya dengan berbagai jenis bukti, selebihnya dalam beberapa situasi seperti observasi partisipan, manipulasi informasi juga dapat terjadi.
Komponen-komponen desain penelitian studi kasus ada lima, yaitu:
1. Pertanyaan penelitian
Pertanyaan penelitian berkenan dengan “W-H question” yaitu what, who, where, why dan how yang akan member rambu-rambu terhadap strategi penelitian yang digunakan. Dari bentuk pertanyaan diatas, studi kasus paling cocok menggunakan pertanyaan How danwhy.
2. Proposisi
Proposisi mengarahkan perhatian peneliti kepada sesuatu yang harus diselidiki dalam ruang lingkup studinya. Contoh: peneliti mungkin berpikir bahwa organisasi bekerja sama untuk sebuah keuntungan timbal balik yang besar. Proposisi ini mencerminkan isu teoritis penting dan juga menyatakan kepada peneliti dimana ia harus mencari bukti yang relevan.
3. Unit-unit analisis
Unit analisis berkaitan dengan masalah penentuan apa yang dimaksud dengan “kasus” dalam penelitian. Contoh studi kasus tentang pasien histeria atau pemimpin yang otoriter. Pada situasi seperti ini, perorangan merupakan kasus yang akan dikaji, dan individu tersebut merupakan unit analisis. Sehingga informasi mengenai setiap individu yang relevan dikumpulkan.
4. Logika yang mengaitkan data dengan proposisi
5. Kriteria untuk menginterpretasi temuan
Setelah pola-pola dijodohkan atau dikategorikan maka diharapkan agar pola-pola tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas tentang perbedaan gambaran sehingga temuan-temuan dapat diinterpretasikan dengan baik.
Langkah-langkah Penelitian Kualitatif (Studi Kasus)
Langkah-langkah penelitian studi kasus menurut Yin (2003) ada lima diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masyarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumber-sumber yang tersedia.
2. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrumen penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak.
3. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan.
mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada.
5. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok.
Contoh Penelitian Studi Kasus
Tipe studi kasus Deskriptif
Model analisis data Deskriptif kualitatif atau interaksional Isu utama (Kasus) Perilaku Klepto pada Siswa Laki-laki di
SMPN 38 Bandung
Masalah yang mengikuti Banyak siswa yang kehilangan benda berharganya secara tiba-tiba, menimbulkan popularitas sekolah menjadi turun, dan banyak siswa yang merasa ketakutan
Isu yang berkembang Perilaku klepto bisa menular dan merupakan penyakit psikologis
Rumusan masalah Bagaimana perilaku klepto pada siswa laki-laki di SMPN 38 Bandung?
Mengapa siswa yang bersangkutan memiliki perilaku klepto?
Dimana dan kapan siswa yang bersangkutan mencuri barang-barang berharga milik siswa lain?
bersangkutan mencuri barang milik siswa lain?
Pengumpulan data Melakukan wawancara terhadap siswa yang diduga klepto dan siswa yang menjadi korban (rekan sebaya), serta observasi dengan melakukan home visit.
Kedudukan dan Fungsi Teori dalam Penelitian Kualitatif
Kedudukan teori dalam penelitian kualitatif tidak begitu penting, peneliti bisa saja melakukan penelitian terhadap suatu fenomena tanpa dasar teori karena sifat dari penelitian kualitatif itu sendiri adalah induktif atau membangun teori. Hal-hal yang ditemukan peneliti di lapangan dapat menuntun peneliti terhadap teori. Jika peneliti menemukan adanya kesamaan antara teori dengan realitas di lapangan maka hal tersebut dapat dianggap sesuai, namun jika peneliti menemukan perbedaan antara teori dengan apa yang terjadi di lapangan maka penelitian kualitatif menonjolkan salah satu cirinya yaitu unik.
Berikut adalah penjelasan mengenai kedudukan fungsi teori. (Creswell, 2012)
Pertama, dalam penelitian kualitatif, teori sering kali digunakan sebagai penjelasan atas perilaku dan sikap-sikap tertentu. Teori ini bisa jadi sempurna dengan adanya variabel-variabel, konstruk-konstruk, dan hipotesis-hipotesis penelitian. Kedudukan teori hanya sebagai pendukung.
Kedua, para peneliti kualitatif sering kali mengunakan perspektif teoritis sebagai panduan umum untuk meneliti gender, kelas, dan ras (atau isu-isu lain mengenai kelompok-kelompok marginal). Kedudukan teori hanya sebagai panduan dan tidak dicampur-adukan dengan data dari lapangan.
menerapkan proses penelitianya secara induktif yang berlangsung mulai dari data, lalu ke tema-tema umum, kemudian menuju teori atau model tertentu. Kedudukan teori sebagai tujuan dari penelitian kualitatif sehingga diletakan diakhir penelitian.
Keempat, beberapa penelitian kualitatif tidak mengunakan teori yang terlalu eksplisit.
Kasus ini bisa saja terjadi disebabkan dua hal: (1) karena tidak ada satupun penelitian kualitatif dilakukan dengan observasi yang ―benar-benar murni dan (2) karena struktur konseptual sebelumnya yang disusun dari teori dan metode tertentu telah memberikan
starting point bagi keseluruhan observasi (Schwandt dalam Creswell, 2012s). Bahkan, tidak sedikit orang memandang penelitian kualitatif sebagai penelitian yang tidak memiliki orientasi teori yang eksplisit, seperti dalam penelitian fenomenologi, yang didalamnya peneliti berusaha untuk membangun esensi pengalaman dari para partisipasi.
DAFTAR PUSTAKA
Creswell, J.W. (2012). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches. 2th edition. America: SAGE Publication
Denzin & Lincoln. (2009). Handbook Of Qualitative Research. America : SAGE Publication
Fx Sudarsono. (2016). Handbook Kumpulan Materi Kuliah, Metode Penelitian Kualitatif. Pascasarjana UNY
Guba, E.G., and Lincoln, Y.S. 1988. Do inquiry paradigms imply inquiry methodologies? In: Fetterman, D.M., ed. Qualitative Approaches toEvaluation in Education. The Silent Scientific Revolution. New York: Praeger 80-115pp
Lisa High, (Power Point) Qualitative Research Design. University of Win [Online]
RA., Johnson and Wichern DW. (2005). Applied Multivariate Statistical Analysis. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Chiffs
Spradley, J.P. (1979). The etnographic interview. Fort Worth, TX: Harcout Brace Jovanovich College Publishers [Online]
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Sukardi. (2006). Penelitian Kualitatif – Naturalistik dalam Pendidikan. Yogyakarta : Usaha Keluarga