PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki potensi wilayah yang luas dengan daya tarik wisata yang cukup besar, banyaknya keindahan alam merupakan suatu keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Sektor pariwisata sebagai kegiatan perekonomian telah menjadi andalan potensial dan prioritas pengembangan bagi Indonesia. Untuk meningkatkan peran kepariwisataan, sangat terkait antara barang berupa obyek wisata sendiri yang dapat dijual dengan sarana dan prasarana yang mendukungnya yang terkait. Tetapi, hingga sekarang belum memperlihatkan peranan yang sesuai dengan harapan dalam proses pengembangan pariwisata di Indonesia.
Kepariwisataan alam kemudian berkembang dan bergeser menjadi pola wisata minat khusus dan wisata ekologis. Kedua pola wisata ini pada umumnya sangat mengandalkan kualitas alam, sehingga akan menjamin tetap terpeliharanya keberadaan dan kelestarian alam yang merupakan obyek dan daya Tarik wisata. ( Fandeli, 2002).
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 2 Salah satu destinasi wisata potensial yang menyediakan keindahan alam yaitu Wisata Gunung Panten yang terletak di Kelurahan Munjul Kecamatan Majalengka Kabupaten Majalengka. Wisata Gunung Panten merupakan destinasi alam yang paling dekat jangkauannya dari Kabupaten Majalengka. Diantara potensi wisata tersebut adalah hutan alam, situs peninggalan Prabu Siliwangi, Kebun Manga, Curug Sempong, Sirkuit Martaguna. Pada tahun 2010 Pemerintah Kabupaten Majalengka resmi membuka Wisata Gunung Panten dengan mengandalkan penjualan kondisi alam.
1.2. Permasalahan
Karena masih banyak potensi alam yang belum dikembangkan dan dikelola dengan optimal oleh pemerintah kabupaten, olehh karena itu diperlukan upaya – upaya pemerintah dan masyarakat setempat untuk mengembangkan Wisata Gunung Panten, dan permasalahan yang timbul berasal dari kondisi extistingnya sendiri seperti :
- Akses jalan yang masih sempit. - Jaringan listrik masih belum merata.
- Lahan parkir belum memenuhi kebutuhan untuk wisata. - Tidak dilewati kendaraan umum.
- Saluran air belum baik.
- Sarana dan prasarana lainnya belum cukup memenuhi kebutuhan wisat
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 3 1.3. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari penulisan ini dapat mengembangkan kawasan wisata yang berada di Kabupaten Majalengka dengan mengembangkan potensi alam yang sudah ada.
Tujuan penulisan ini adalah agar Kawasan Gunung Panten menjadi Kawasan
Wisata Terpadu yang bisa menjadi ikon wisata Kota Majalengka. Dengan menganalisa potensi alam yang terdapat di Kawasan Gunung Panten dan memberikan rekomendasi desain pengembangan Wisata Gunung Panten dan menonjolkan potensi yang dimiliki sebagai daya tarik wisata.
1.4. BATASAN STUDI
1.4.1. Lokasi
Gunung panten berada di antara desa Munjul dan desa Sidamukti Kecamatan Majalengka Kabupaten Majalengka.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 4 Kabupaten Majalengka secara geografis terletak di bagian Timur Propinsi Jawa
Barat yaitu Sebelah Barat antara 1080 03’ – 1080 19’ Bujur Timur, Sebelah Timur 1080 12’ – 1080 25’ Bujur Timur, Sebelah Utara antara 60 36’ –60 58’ Lintang Selatan dan
Sebelah Selatan 60 43’ –70 03’ Lintang Selatan. - Batas Utara : Kelurahan Munjul
- Batas Timur : Kelurahan Babakan Jawa - Batas Selatan : Desa Kadu Kab. Sumedang - Batas Barat : Desa Leubaksiuh Kab. Sumedang
1.4.2. Materi
Materi pengembangan kawasan terbatas pada sisi arsitektur, seperti :
- Struktur Peruntukan Lahan - Itensitas Pemanfaatan Lahan - Ruang Terbuka dan Tata Hijau - Tata Bangunan
- Tata Kualitas Lingkungan
- Sirkulasi dan Jalur Penghubung - Utilitas dan Prasarana
1.5. METODE
Metode penyelesaian penulisan terdiri dari beberapa tahap, yaitu :
- Mengumpulkan dan mengolah data mengenaik potensi dan permasalah yang terdapat di Kawasan Gunung Panten.
- Mengidentifikasi Permasalahan yang terdapat di Kawasan Gunung Panten. - Mempelajari studi literature yang berkaitan dengan obyek wisata Gunung Panten. - Mengalisa data, permasalahan, potensi program wisata yang sesuai untuk
dikembangkan di Kawasan Gunung Panten.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 5 Diagram1. DiagramTahapan MetodePenulisan
Identifikasi Masalah
Studi Literature Pengolahan Data
Pengumpulan Data
Konsep Analisis
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 6 1.6. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan penelitian ini terbagi menjadi lima bab yang tersusun sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan dikemukakan mengenai latar belakang, rumusan masalah yang menjadi dasar penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian, serta sistematika penulisan laporan penelitian.
Bab II Tinjauan Pustaka dan Studi Banding
Dalam bagian ini akan diuraikan mengenai judul, tema, teori pengembangan, pengertian pariwisata. Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai studi banding proyek sejenis.
Bab III Gambaran Lokasi Studi
Pada bagian ini dipaparkan mengenai tinjauan regional, focus perancangan kawasan, potensi serta permasalahan pada lokasi secara rinci.
Bab IV Analisis
Analisis Kedudukan Regional, Analisis Struktur Peruntukan Lahan, Analisis Intensitas Pemanfaatan Lahan, Analisis Tata Bangunan, Analisis Sirkulasi dan Jalur Penghubung, Analisis Ruang Terbuka dan Jalur Penghubung, Analisis Tata Kualitas Lingkungan, Analisis Prasarana dan Utilitas Lingkungan.
BAB V Konsep
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN STUDI BANDING
2.1. DEFINISI DAN PENGERTIAN
Suatu informasi ilmiah yang diguunakan untuk mengukur suatu variable yang merupakan hasil penjabaran dari sebuah konsep. Adapun definisi yang relevan dengan penulisan dan dijabarkan secara singkat seperti berikut :
2.1.1. JUDUL
Pengembangan Menurut Munaef (1996 : 24, dalam Damayanti 2010) yang dimaksud dengan pengembangan dalam kegiatan wisata adalah kegiatan usaha yang terkoordinasi untuk menarik wisatawan, menyediakan semua sarana dan prasarana, barang dan jasa, fasilitas yang diperlukan, guna melayani kebutuhan wisatawan. Segala kegiatan dan pengembangan pariwisata mencakup segi – segi yang sangat luas dan menyangkut segi kehidupan dalam masyarakat mulai dari kegiatan pengangkutan, akomodasi, atraksi wisata, makanan dan minuman, cinderamata, pelayanan, program wisata, serta suasana dan kenyamanan.
Kawasan adalah daerah tertentu yang mempunyai ciri tertentu, seperti tempat tinggal, pertokoan, industry, wisata, dan sebagainya. (KBBI)
Wisata Alam adalah obyek wisata alam yang berlokasi di dalam kawasan hutan produksi yang daya tariknya didasarkan pada potensi alamnya. Kawasan ini dibangun dan dikembangkan guna memnuhi kebutuhan wisata alam di alam terbuka (Anonim, 1998). Landasan filosofi wisata adalah menyediakan tempat rekreasi dalam kawasan hutan produksi dengan membiarkan hutan sebagaimana adanya dan nilai – nilai perlindungan dari hutan tetap lestari.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 8 2.1.2. TEMA
Tema yang di gunakan untuk perancangan adalah Adventure tour yang melibatkan eksplorasi atau perjalanan dengan risiko yang dirasakan (dan mungkin aktual), dan berpotensi membutuhkan keterampilan khusus dan aktivitas fisik. Wisata petualangan telah berkembang dalam beberapa dekade terakhir, karena wisatawan mencari jenis liburan yang tidak biasa atau "jalan yang jarang dikunjungi", namun pengukuran ukuran dan pertumbuhan pasar terhambat oleh kurangnya definisi operasional yang jelas. Menurut Asosiasi Perjalanan Travel Travel yang berbasis di AS, perjalanan petualangan dapat berupa kegiatan wisata yang mencakup tiga komponen berikut: aktivitas fisik, pertukaran budaya dan hubungan dengan alam. Wisatawan petualangan mungkin termotivasi untuk mencapai keadaan mental yang ditandai sebagai rush atau flow dihasilkan dari melangkah keluar dari zona nyaman mereka. Ini mungkin karena mengalami kejutan budaya atau melalui kinerja tindakan, yang memerlukan usaha yang signifikan dan melibatkan beberapa tingkat risiko (nyata atau yang dirasakan) dan / atau bahaya fisik (lihatolah raga ekstrim ).Ini mungkin termasuk kegiatan seperti pendakian gunung, trekking, bungee-jumping, bersepeda-gunung,kano, arung-jeram , kayak ,
zip-lining, paralayang, hiking, penjelajahan, sandboarding, caving dan panjat tebing. Beberapa bentuk perjalanan petualangan yang tidak jelas meliputi wisata bencana dan ghetto . Bentuk perjalanan petualangan lainnya yang meningkat termasuk wisata sosial dan hutan .
Akses ke teknologi konsumen murah, sehubungan dengan Global Positioning Systems , flashpacking , jejaring sosial dan fotografi , telah meningkatkan minat dunia dalam melakukan perjalanan petualangan. Minat terhadap perjalanan petualangan independen juga meningkat seiring semakin banyak situs perjalanan spesialis yang menawarkan lokasi niche dan olahraga sebelumnya. Jenis perjalanan petualangan diantaranya :
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 9 wisata petualangan menawarkan beragam program dan kesempatan kerja yang dikembangkan khusus untuk penyandang cacat .
Wisata budaya adalah tindakan bepergian ke suatu tempat untuk melihat budaya lokasi itu, termasuk gaya hidup masyarakat di daerah itu, sejarah orang-orang, seni, arsitektur , agama , dan faktor-faktor lain yang membentuk jalan hidup mereka.
Ekowisata sekarang didefinisikan sebagai "perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah-daerah alami yang melestarikan lingkungan, menopang kesejahteraan masyarakat setempat, dan melibatkan interpretasi dan pendidikan" (TIES, 2015). Tujuan ekowisata adalah untuk melindungi lingkungan dari dampak yang merugikan seperti lalu lintas manusia, dan untuk memberikan informasi pendidikan dengan mempromosikan kualitas unik lingkungan. Selain itu, ekowisata, "harus berusaha untuk memindahkan wisatawan Eco dari peran pasif, di mana rekreasi mereka hanya didasarkan pada lingkungan alam, ke peran yang lebih aktif di mana aktivitas mereka benar-benar berkontribusi terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup lingkungan tersebut." ( Orams pg 5).
Ethno pariwisata Wisata etno mengacu pada kunjungan ke lokasi asing demi mengamati anggota masyarakat adat demi keuntungan non-ilmiah. Beberapa bentuk ekstrem ini termasuk mencoba untuk melakukan kontak pertama dengan suku-suku yang terlindungi dari pengunjung dari luar. Dua isu kontroversial yang terkait dengan wisata etno termasuk membawa penduduk asli ke dalam kontak dengan penyakit yang tidak mereka miliki kekebalannya, dan kemungkinan degradasi atau penghancuran budaya dan / atau bahasa yang unik.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 10 Pariwisata Ghetto mencakup semua bentuk hiburan - "rap gangsta," permainan video, film, TV, dan bentuk lain yang memungkinkan konsumen untuk lalu lintas di kota dalam tanpa meninggalkan rumah.
Wisata hutan adalah meningkatnya subkategori perjalanan petualangan yang didefinisikan oleh sarana fisik multifaset yang aktif dalam perjalanan di daerah hutan di bumi. Meskipun serupa dalam banyak hal untuk perjalanan petualangan, wisata hutan berkaitan secara khusus dengan konteks kawasan, budaya dan aktivitas. Menurut Glosarium Persyaratan Pariwisata, tur hutan telah menjadi komponen utama wisata hijau di daerah tropis dan merupakan fenomena pariwisata internasional Barat yang relatif baru.
Perjalanan darat atau overlanding mengacu pada "perjalanan darat" - mungkin berasal dari ekspedisi darat pertama Marco Polo di abad ke-13 dari Venesia ke istana Mongolia Kubilai Khan. Hari ini overlanding adalah bentuk liburan petualangan yang panjang, memulai perjalanan panjang, sering dalam kelompok. Perusahaan-perusahaan di darat menyediakan truk atau bus yang telah dikonversi dan pemimpin tur, dan kelompok tersebut melakukan perjalanan darat selama beberapa minggu atau bulan.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 11 Eksplorasi perkotaan (sering disingkat sebagai urbex atau UE) adalah pemeriksaan dari area perkotaan atau fasilitas industri yang biasanya tidak terlihat atau tidak terjangkau. Eksplorasi perkotaan juga sering disebut infiltrasi, walaupun beberapa orang menganggap infiltrasi lebih dekat terkait dengan eksplorasi situs yang aktif atau yang dihuni. Ini mungkin juga disebut sebagai "pengeringan" (saat menjelajahi saluran pembuangan) "spelunking perkotaan", "urban caving", atau "building hacking". Sifat kegiatan ini menghadirkan berbagai risiko, termasuk bahaya fisik dan kemungkinan penangkapan dan hukuman. Banyak, tapi tidak semua, aktivitas yang terkait dengan eksplorasi kota dapat dianggap melanggar atau pelanggaran lainnya terhadap undang-undang lokal atau regional.
Tema yang digunakan untuk tata bangunan adalah tema Arsitektur Organik yang merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang memiliki sejarah panjang dengan beragam pemaknaan konsep – konsep alam. Dengan tema arsitektur organic pada prancangan, obyek wisata Gunung Panten diharapkan mampu membentuk kawasan yang lebih terpadu, tertata dengan mengembangkan fungsi dari kawasan wisata Gunung Panten dengan menyesuaikan antara pikiran dan alam. Alasan pemilihan tema arsitektur organic adalah karena arsitektur organic merupakan arsitektur humanis, memperhatikan manusia didalamnya dan merupakan suatu shelter yang melingkupi dan melindungi manusia dan aktivitasnya. Maka akan menghasilkan bangunan yang memounyai hubungan dengan alam dan manusia.
2.2. TINJAUAN KEBIJAKAN
Visi dan Misi Pariwisata Jawa Barat Tahun 2013 – 2018.
2.2.1. VISI
" MEWUJUDKAN JAWA BARAT SEBAGAI PUSAT BUDAYA DAN DESTINASI WISATA BERKELAS DUNIA "
2.2.2. MISI
1. Meningkatkan Pembangunan Perekonomian berbasis Potensi Lokal;
2. Melestarikan Aset Budaya Lokal;
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 12 4. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Bidang Kebudayaan dan Kepariwisataan.
2. UU. No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menjelaskan bahwa pariwisata adalah adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
3. Di Indonesia, pengertian wisatawan tercantum dalam Instruksi Presiden RI No. 9 tahun 1969, yaitu setiap orang yang berpergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dan kunjungan itu.
2.3. TINJAUAN TEORI
Potensi wisata adalah perwujudan dari ciptaan manusia (tata kehidupan, seni budaya, serta sejarah) dan keadaan alam yang dimungkinkan untuk dipasarkan dan dikelola serta dikembangkan guna menjadi tempat yang dimanfaatkan untuk bersenang-senang atau mengagumi alam dalam sementara waktu. Potensi objek wisata tersebut dapat berupa fisik, produk-produk wisata maupun atraksi-atraksi yang menjadi modal utama bagi perkembangan pariwisata. Adapun identifikasi potensi wisata dapat di lihat dari jenis daya tarik yang dimiliki (Inskeep, 1991:27).
Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Daya tarik wisata dapat menimbulkan wisatawan untuk datang mengunjunginya. Para wisatawan datang untuk mendapatkan kepuasan batin (something to see, something to buy, something to do) (Yoeti, 1983:160). Daya tarik wisata adal segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayanaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan yang kemudian disebut dengan daerah tujuan wisata (Undang-undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan).
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 13 b. Wisata Cagar alam (dunia flora dan fauna yang dilindungi, perilkau kehidupan satwa dan sebagainya).
c. Wisata hutan (hutan lindung, taman nasional (Bromo Tengger Semeru, Ujung Kulon, Gede Pangrango, Gunung Merapi, Gunung Leuseur, dan sebagainya) ).
d. Wisata gua.
e. Wisata tirta antara lain: (menyelam, memancing, berselancar, dayung, renang, dan arum jelarm.
Menurut Burkat dan Medlik (1982:46) daerah tujuan wisata memiliki potensi yang meliputi atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Atraksi merupakan tempat menarik yang meliputi iklim, pemandangan, dan sejarah atau kegiatan-kegiatan menarik seperti kongres, pameran, festival kebudayaan dan kegiatan olahraga. Aksesibiltas berfungsi untuk menghubungkan suatu destinasi tersebut dapat didatangi atau diakses oleh wisatawan. Amenitas pada destinasi yang meliputi akomodasi, tempat makan, atau tempat hiburan yang dapat di nikmati wisatawan ketika menetap di suatu daerah tujan wisata. Namun untuk memaksimalkan pariwisata pada suatu destinasi maka perlu adanya sebuah organisasi pariwisata yang dapat memanajemen destinasi tersebut. Menurut Hadinoto (1996:21) komponen-komponen dari objek wisata terdiri dari 3, yaitu komponen atraksi, komponen fasilitas yang tersedia di objek wisata, dan komponen aksesibilitas untuk menjangkau objek wisata tersebut. Berikut ini penjelasan 3 komponen tersebut:
1. Atraksi
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 14 2. Fasilitas
Fasilitas adalah elemen dalam objek wisata sebagai pendukung aktivitas wisatawan saat berada di objek wisata yang memungkinkan wisatawan untuk tinggal di objek wisata, unuk menikmati atau berpartisipasi dalam atraksi yang ditawarkan oleh objek wisata yang menjadi tujuannya. Fasilitas tersebut antara lain toilet umum, area parkir, mushola, serta fasilitas akomodasi, restoran, café, dan bar (Pitana dan Diarta, 2009:130).
3. Aksesibilitas
Aksesibilitas berkaitan dengan keterjangkauan suatu objek wisata, seperti sistem transportasi, rute, atau jalur yang dilewati, serta moda tarnsportasi yang tersedia (Sunaryo, 2013:159).
2.4. STUDI BANDING
Wisata Alam Gunung Budheg Tulungagung Jawa Timur
Gunung Budheg atau yang memiliki nama lain Gunung Cikrak, terletak di sisi selatan Kota Tulungagung, tepatnya di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung. Memiliki ketinggian 585 mdpl jika di lihat dari tingginya tidak seberapa dibandingkan gunung gunung lain di jawa timur.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 15 Kota tulungagung juga terkenal akan keindahan obyek wisatanya , salah satu contohnya adalah Wisata Gunung Budheg di Tulungagung ini. Wisata Gunung Budheg di Tulungagung adalah Gunung Budheg atau biasa dikenal dengan nama Gunung Cikrak ini adalah salah satu gunung atau bukit yang mempunyai ketinggian sekitar 585 mdpl dan terletak di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.
Gunung Budheg bisa menjadi lokasi atau tempat untuk latihan bagi para pendaki pemula untuk melakukan pemanasan. Jalur yang harus dilalui untuk sampai ke puncak Gunung Budheg adalah jalanan yang menanjak melewati semak berduri diselingi dengan merayap dipinggiran tebing yang cukup curam.
Fasilitas :
- Area Parkir kendaraan
- Mushola
- Kamar mandi / MCK
- rumah makan
- dan masih banyak lainnya
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 16 Gambar 3. Area budaya Gunung Budheg
Sumber : www.wisatagunung.com
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 17 Kawasan Pariwisata Gunung Galunggung Tasikmalaya Jawa Barat
Wisata Gunung Galunggung merupakan salah satu kawasan pariwisata andalan, terlihat dari pemasukannya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Tasikmalaya dan jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung ke wisata Gunung Galunggung, tidak hanya wisatawan lokal saja tetapi juga wisatawan asing. Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektar di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas.
Gambar 5. Potensi Wisata Gunung Galunggung Sumber: photo google
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 18
Pengembangan dampak wisata Gunung Galunggung ini akan berdampak sangat luas dan signifikan dalam pengembangan ekonomi upaya-upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan serta akan berdampak terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat terutama masyarakat lokal.
The Peak Hongkong
The Peak sebagai titik tertinggi di Pulau Hong Kong, lokasi ini adalah lingkungan elit sejak zaman kolonial - zaman saat udara sejuk menarik si kaya dan si terkenal. Dizaman AC, pemandangan cakrawala kota yang menawan merupakan daya tarik bagi mereka. Pemandangan tersebut juga alasan kepopularan The Peak dikalangan wisatawan Hong Kong. Disiang hari, pemandangan Anda tertuju pada kilauan gedung pencakar langit dan Pelabuhan Victoria yang berlatar hijaunya New Territories. Dimalam hari, panorama ini meleleh menjadi pink dan oranye hingga akhirnya berubah menjadi deretan lampu gemerlap. Dengarkan dengan seksama senandung kota dunia Asia. Titik-titk Pemandangan
Bentuk paron Peak Tower memiliki dek observasi bernama Sky Terrace 148, disamping restoran dan pertokoan. Lokasi cuci mata lain adalah Lugard Road Lookout, Lions View Point Pavilion, dan dek observasi di Peak Galleria. Untuk panorama sambil jalan santai, Peak Circle Walk sepanjang 3.5 kilometer.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 19 Gambar 8. Wisata peak hongkong
Sumber : www.discoverhongkong.com
Gambar 9. Area wisata peak hongkong Sumber : www.discoverhongkong.com
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 20 BAB III
GAMBARAN LOKASI STUDI
3.1. TINJAUAN REGIONAL
Secara geografis pronvinsi Jawa Barat terletak di antra 5050’-7050’ LS dan
104048’-104048’BT, dengan batas-batas wilayah: Sebelah Utara, dengan Laut Jawa dan DKI Jakarta ;
Sebelah Timur, dengan Provinsi Jawa Tengah ;
Sebelah Selatan, dengan Samudra Indonesia ;
Sebelah Barat, dengan Provinsi Banten.
Provinsi Jawa Barat memiliki kondisi alam dengan struktur geologi yang kompleks dengan wilayah pegunungan berada di bagian tengah dan selatan serta dataran rendah di wilayah utara. Memiliki kawasan hutan dengan fungsi hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi yang proporsinya mencapai 22,10% dari luas Jawa Barat; curah hujan berkisar antara 2000-4000 mm/th dengan tingkat intensitas hujan tinggi; memiliki 40 Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan debit air permukaan 81 milyar m3/tahun dan air tanah 150 juta m3/th.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 21 Gambar : Peta Lokasi Kab. Majalengka di Jawa Barat.
Sumber : Peta Google
Secara geografis Kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Propinsi Jawa Barat. Kabupaten Majalengka terletak pada titik koordinat yaitu Sebelah Barat 108° 03' - 108° 19 Bujur Timur, Sebelah Timur 108° 12' - 108° 25 Bujur Timur, Sebelah Utara 6° 36' - 5°58 Lintang Selatan dan Sebelah Selatan 6° 43' - 7°44.
Bagian Utara wilayah kabupaten ini merupakan dataran rendah, sementara wilayah tengah berbukit-bukit dan wilayah selatan merupakan wilayah pegunungan dengan puncaknya Gunung Ceremai yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan serta Gunung Cakrabuana yang berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Sumedang. Secara administratif berbatasan dengan: Sebelah Utara : Kabupaten Indramayu.
Sebelah Selatan : Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis.
Sebaleh Barat : Kabupaten Sumedang.
Sebelah Timur : Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 22 3.2. FOKUS PERANCANGAN
Lokasi perancangan berada di antara Desa Sidamukti dan Desa Munjul Kabupaten Majalengka.
Batas Utara : Kelurahan Munjul
Batas Timur : Kelurahan Babakan Jawa
Batas Selatan : Desa Kadu Kab. Sumedang
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 23 3.3. POTENSI DAN PERMASALAHAN
POTENSI
Lokasi perencanaan berada di dekat pusat perkotaan sehingga memudahkan untuk dikunjungi, kawasan ini berpotensi untuk di kembangkan menjadi kawasan wisata berbasis alam karena potensi alam yang dimilikinya sangat mendukung. Lokasi berdekatan dengan jalur provinsi. Di kawasan terdapat situs peninggalan bersejarah, Curug, Kebun Mangga, dan sirkut mini untuk perlombaabn dan kegiatan tertentu.
PERMASALAHAN
Permasalahan lokasi diantaranya :
- Akses jalan yang masih sempit. - Jaringan listrik masih belum merata.
- Lahan parkir belum memenuhi kebutuhan untuk wisata. - Tidak dilewati kendaraan umum.
- Saluran air belum baik.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 24 BAB IV
ANALISIS
4.1. ANALISIS KEDUDUKAN REGIONAL
Gambar 4.1. Kedudukan lokasi Regional Sumber : peta google
Kabupaten Majalengka secara administratif berbatasan dengan wilayah :
Sebelah Utara : Kabupaten Indramayu
Sebelah Selatan : Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya
Sebelah Timur : Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 25 Luas Wilayah Kabupaten Majalengka adalah 1.204,24 Km2, atau hanya sekitar 2,71 % dari luas Wilayah Provinsi Jawa Barat (yaitu kurang lebih 44.357,00 Km2) yang terdiri dari 26 kecamatan. Dilihat dari topografinya Kabupaten Majalengka dapat dibagi dalam tiga zona daerah, yaitu :
Daerah pegunungan dengan ketinggian 500-857 m di atas permukaan laut dengan luas 482,02 Km2 atau 40,03 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.
Daerah bergelombang/berbukit dengan ketinggian 50-500 m di atas permukaan laut dengan luas 376,53 Km2 atau 31,27 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.
Daerah dataran rendah dengan ketinggian 19-50 m di atas permukaan laut dengan luas 345,69 Km2 atau 28,70 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.
Tabel 4.1 Perhitungan Jarak dan Waktu Tempuh
KOTA JARAK (KM) WAKTU TEMPUH
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 26 4.2. ANALISIS STRUKTUR PERUNTUKAN LAHAN
Struktur peruntukan lahan merupakan komponen rancang kawasan yang berperan penting dalam penggunaan dan penguasaan lahan atau tata guna lahan yang telah ditetapkan dalam suatu kawasan perencanaan tertentu berdasarkan ketentuan dalam rencana tata ruang wilayah. Seperti yang telah disebutkan dalam peraturan daerah Kabupaten Majalengka nomor 11 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Majalengka tahun 2011 – 2031. Gunung Panten terletak di Kecamatan Majalengka.
Gambar 4.2 Letak Gunung Panten
Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Majalengka tahun 2011 - 2031
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 27 Gambar 4.2 Struktur Peruntukan Lahan
Sumber : dokumen pribadi
4.3. ANALISIS INTENSITAS PEMANFAATAN LAHAN
Pengembangan wilayah kawasan wisata Gunung Panten, pemanfaatan lahan untuk kawasan terbangun, berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayahh Kabupaten Majaleng tahun 2011 – 2031 peraturan pembangunan yang berada di kawasan Gunung Panten, yaitu :
KDB (Koefisien Dasar Bangunan) : maksimum 20 %
KLB (Koefisien Luas Bangunan) : maksimum 40 %
GSS (Garis Sempadan Sungai) : 15 meter
KDH (Koefisien Dasar Hijau) : 30 %
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 28 4.4. ANALISIS TATA BANGUNAN
Tata bangunan adalah hasil dari penyelenggara gedung beserta lingkungannya sebagai wujud pemanfaatan ruang. Meliputi berbagai aspek termasuk pembentukan citra/ karakter fisik lingkungan, besaran, dan konfigurasi dari elemen – elemen blok, kaveling/petak lahan, bangunan, serta ketinggian dan elevasi lantai bangunan yang dapat menciptakan dan mendefinisikan berbagai kualitas ruang kota yang akomodatif terhadap kegiatan yang ada, terutama bagi ruang – ruang publik. Tata bangunan juga merupakan system perencanaan sebagai bagaian dari penyelenggaraan bangunana gedung beserta lingkungannya, termasuk sarana dan prasarana pada suatu lingkungan binaan, baik perkotaan ataupun pedesaan sesuai dengan peruntukan lokasi yang berlaku dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Majalengka sendiri.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 29 Sumber : dokumen pribadi
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 30 4.5. ANALISIS JALUR PENGHUBUNG
Pada kawasan Gunung Panten hanya terdapat satu jalur penghunung dari kota menuju
lokasi, yaitu memalui jalan local selebar 5 meter dan hanya bisa di lalui oleh satu kendaraan
beroda empat yang kecil dan kendaraan roda dua. Kondisi jalan tidak terlalu baik karena
dibeberapa titik banyak terdapat lubang dan berpasir sehingga membahayakan pengunjung.
Gambar 4.8 Jalur Penghubung Sumber : dokumen pribadi
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 31 Tabel 4.5a kondisi jalan eksisting
Sumber : dokumen pribadi
4.6. ANALISIS RUANG TERBUKA DAN HIJAU
Kawasan ini masih memiliki ruang terbuka hijau yang luas seperti area hutan, persawahan, kebun, dan bukit yang belum terlalu banyak di manfaatkan.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 32 Sistem ruang terbuka hijau merupakan komponen rancangan kawasan yang tidak sekedar terbentuk sebagai elemen tambahan ataupun elemen sisa setelah proses rancangan arsitek diselesaikan, melainkan menciptakan juga bagian integral dari suatu lingkungan yang lebih luas. Penataan system ruang terbuka hijau diatur melalui pendekatan desain tata hijau yang membentuk karakter lingkungan serta memiliki peran penting baik secara ekologis, rekreatif, dan estetis bagi lingkungan sekitarnya, dan memiliki karakter terbuka sehingga memudahkan diakses oleh berbagai kalangan. 4.7. ANALISIS TATA KUALITAS LINGKUNGAN
Tata lingkungn merupakan upaya rekayasa elemen-elemen kawasan yang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu kawasan atau subarea dengan sistem kualitas lingkungan yang informative, berkarakter khas, dan memiliki orientasi tertentu. Tata kualitas lingkungan terdiri dari : Konsep Identitas Lingkungan, konsep orientasi lingkungan, dan wajah jalan.
Penataan kualitas lingkungan merujuk pada upaya rekayasa elemen – elemen kawasan yang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu kawasan dengan system yang informative, berkarakter khas dan memiliki orientasi tertentu.
4.8. ANALISIS PRASARANA DAN UTILITAS LINGKUNGAN
Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Ruang untuk Ketahanan Pangan adalah lahan yang dialokasikan untuk kegiatan budidaya pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan serta pengembangan sarana dan prasarana yang terkait dengan ketersediaan dan penganekaragaman, distribusi, serta cadangan pangan untuk mendukung ketahanan pangan kabupaten dan provinsi.
Kecamatan Majalengka harus mempunyai system pengendali banjir berupa pengembangan prasarana pengendali banjir, seperti :
- Penyediaan waduk
- Tersedianya sumur resapan - Pengadaan bio pori.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 33 - Normalisasi sungai
- Pengerukan sungai secara rutin.
Selain sistem pengendali banjir sistem jaringan jalan merupakan hal penting lainnya. System jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarkis.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 34 4.9. ANALISIS BENCANA ALAM
Kecamatan Majalengka merupakan salah satu kawasan yang rawan terhadap tanah longsor dan banjir karrena kawasan berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau material campuran. Sementara itu kriteria kawasan rawan banjir adalah daeraah yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana banjir. Maka dari itu diperlukannya perlindungan terhadap kawasan rawan banjir untuk menghindari terjadinya bencana akibat perbuatan manusia.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 35 Gambar 4.10 Peta Rencana Jalur Evakuasi Bencana Alam Kabupaten Majalengka
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 36 BAB V
KONSEP
5.1. TEMA KAWASAN
Tema yang di terapkan di kawasan adalah ADVENTUR TOURISM yang melibatkan
eksplorasi atau perjalanan dengan risiko yang dirasakan (dan mungkin aktual), dan berpotensi
membutuhkan keterampilan khusus dan aktivitas fisik. Wisata petualangan telah berkembang
dalam beberapa dekade terakhir, karena wisatawan mencari jenis liburan yang tidak biasa atau
"jalan yang jarang dikunjungi", namun pengukuran ukuran dan pertumbuhan pasar terhambat
oleh kurangnya definisi operasional yang jelas. Menurut Asosiasi Perjalanan Travel Travel yang
berbasis di AS, perjalanan petualangan dapat berupa kegiatan wisata yang mencakup tiga
komponen berikut: aktivitas fisik, pertukaran budaya dan hubungan dengan alam.
5.2. Delineasi
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 37 Lokasi pengembangan kawasan Gunung Panten berada di Kecamatan Majalengka,
dengan total luas lahan 65 , 71 Ha dengan tiga titik atau tiga zona berbeda. Pada zona pertama
luas lahan sebesar 24,44 Ha berada di bawah Gunung Panten, zona kedua berada di puncak
guunung dengan luas 15,16 Ha yang merpakan area paralayang sendiri, dan pada zona ke 3
berada di dekat sungai yang berada di bawah kaki gunung dengan luas 26,11 Ha.
5.3. KONSEP PERUNTUKAN LAHAN
Konsep peruntukan lahan menyesuaikan dengan kondisi dan potensi sesuai dengan
kebutuhan kawasan, sebagaian peruntukan lahan di pertahankan dari RTRW Kab Majalengka,
sebagaian ditambahkan fungsinya lainnya sesuai dengan kebutuhan. Seperti pada gambar :
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 38 Gambar 5.3b. peruntukan lahan yang direncanakan
Sumber : dokumen pribadi
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 39 Gambar 5.3d . peruntukan lahan zona 3
Sumber : dokumen pribadi
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 40 5.4. INTENSITAS PEMANFAATAN LAHAN
Intensitas pemanfaatan lahan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Majalengka. pemanfaatan lahan untuk kawasan terbangun, berdasarkan Rencana Tata Ruang
Wilayahh Kabupaten Majaleng tahun 2011 – 2031 peraturan pembangunan yang berada di
kawasan Gunung Panten, yaitu :
KDB (Koefisien Dasar Bangunan) : maksimum 20 %
KLB (Koefisien Luas Bangunan) : maksimum 40 %
GSS (Garis Sempadan Sungai) : 15 meter
KDH (Koefisien Dasar Hijau) : 30 %
Ketinggian Maksimum Bnagunan : 2 lantai
5.5. KONSEP TATA BANGUNAN
Tema yang digunakan untuk tata bangunan adalah tema Arsitektur Organk. Dengan tema
arsitektur organik pada prancangan, obyek wisata Gunung Panten diharapkan mampu
membentuk kawasan yang lebih terpadu, tertata dengan mengembangkan fungsi dari kawasan
wisata Gunung Panten dengan menyesuaikan antara pikiran dan alam. Alasan pemilihan tema
arsitektur organic adalah karena arsitektur organik merupakan arsitektur humanis,
memperhatikan manusia didalamnya dan merupakan suatu shelter yang melingkupi dan
melindungi manusia dan aktivitasnya. Maka akan menghasilkan bangunan yang memounyai
hubungan dengan alam dan manusia.
konsep dasar dari arsitektur organik menggunakan prinsip arsitektur organik yang terdiri
dari :
- Form Follows Flow, Bangunan pada arsitektur organic mengikuti aliran energy alam.
Arstektur organic pada penerapannya menyesuaikan dengan alam sekitar secara dinamis
dan bukan melawan alam.
- Building As Nature, bangunan bersifat alami, dan menjadi pokok dan inspiratif dalam
penerapan arsitektur organik.
- Of The People, desain ini menekankan hubungan yang kratif dengan pengguna
bangunan. Perancangan bentuk dan struktur bangunan didesain berdasarkan kebutuhan
pemakai bangunan.
- Of The Material, bentuknya terpacarkan dari kualitas bahan bangunan yang dipilih yaitu
material yang dapat digunakan dengan baik dimana tidak merusak ekologi dan
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 41 - Of The Hill, bangunan terlihat tumbuh dan menyesuaikan diri pada suatu tempat tertentu
sehingga dapat mengurangi dampak negative pada lingkungan.
5.6. KONSEP SIRKULASI DAN JALUR PENGHUBUNG
Konsep sirkulasi terdiri dari pelebaran dan penambahan ruas jalan kolektor kawasan,
penambahan ruang berhubungan dengan luasnya kawasana Gunung Panten. Disepanjang jalan
terdapat jembatan dan titik tempat parkir yang berdekatan dengan titik lokasi yang memiliki
intensitas kegiatan yang cukup padat seperti pada area pemukiman warga.
Gambar 5.6a contoh potongan jalan pada area pemukiman Sumber : dokumen pribadi
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 42 5.7. KONSEP RUANG TERBUKA HIJAU
Konsep ruang terbuka hijau di beberapa titik di kembangkan, salah satunya yang
berdekatan dengan area sirkuit dikembangkan menjadi area terbuka hijau yang bisa
menyeimbangi kegiatan yang terjadi pada area sirkuit. Konsep yang digunakan adalah plaza
dengan fungsi sebagai tempat berolahraga, menyalurkan hobi bagi warga, bisa juga berupa
teater terbuka untuk pagelaran budaya. Sehingga diharapkan mampu mengembangkan wisata
di lokasi.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 43 Gambar 5.7b contoh lain dari amphitheater
Sumber : photo google
5.8. KONSEP TATA KUALITAS LINGKUNGAN
Konsep tata kualitas lingkungan di desain untuk mencerminkan bangaimana kawasan
tersebut bisa di nikmati dari dekat maupun dari kejauhan. Pembuatan patung – patung yang
sesuai dengan kebutuhan dan fungsi kawasan.
Gambar 5.8 contoh pintu pada arena sirkuit di zona 1
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG PANTEN MAJALENGKA 44
DAFTAR ISI
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1. PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined. 1.2. Permasalahan... 2
1.3. MAKSUD DAN TUJUAN ... 3
1.4. BATASAN STUDI ... 3
1.5. METODE ... 4
1.1. Co Jenis perjalanan petualangan ... 5
2.1. Pariwisata yang dapat diakses ... 5
1.6. SISTEMATIKA PENULISAN ... 6
BAB II ... 7
TINJAUAN PUSTAKA DAN STUDI BANDING ... 7
2.1. DEFINISI DAN PENGERTIAN ... 7