• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Pertumbuhan Hadis Pada Masa Wahy

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Pertumbuhan Hadis Pada Masa Wahy"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH PERTUMBUHAN HADIS

PADA MASA WAHYU DAN PEMBENTUKAN

(

As}r al-Wahyi wa al-Takwi>n

)

Makalah

Diajukan Untuk Seminar Kelas Mata Kuliah Sejarah Perkembangan Hadis

Dosen Pengampu DR. H. Idri, M.Ag

Oleh M. Syukrillah NIM. F08213256

PROGRAM STUDI ILMU HADIS

PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN AMPEL SURABAYA

(2)

ABSTRAK

M. Syukrillah, 2013. Sejarah Pertumbuhan Hadis Pada Masa Wahyu Dan Pembentukan (as}r al-wahyi wa al-takwi>n). Makalah, Konsentrasi Ilmu Hadis, Program Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dosen Pengampu : Dr. H. Idri, M.Ag

Pembentukan hadis (takwi>n) merujuk kepada aktivitas dinamis antara produksi hadis oleh Rasulullah SAW di masa pewahyuan dan proses dokumentasinya (al-hifz}) oleh para sahabat segala hal berupa perkataan Nabi SAW—selain Al-Quran—, perbuatan, persetujuan Nabi atas sesuatu hal (taqrir), sifat fisik (khalqiyah) dan akhlak (khuluqiyah) serta seluruh informasi yang terkait dengan Nabi SAW baik sebelum diutus sebagai Nabi (qabla al-bi’thah) atau sesudahnya (ba’da al-bi’thah), termasuk pula biografi (sirah) dan peperangan (ghazawa>t) yang terkait kehidupan dan dakwahnya.

Dalam makalah ini akan dibahas secara ringkas namun padat tentang sejarah pertumbuhan hadis pada masa wahyu dan pembentukan (As}r al-Wahy wa al-Takwi>n) tersebut. Ada sejumlah persoalan menggelitik dan tidak jarang menjadi wacana yang kontroversial yang dikaji melalui kajian kepustakaan (library research) dalam makalah ini. Persoalan tersebut antara lain berkaitan dengan bentuk perhatian Nabi SAW terhadap sahabat dalam proses periwayatan hadis, pola dan motivasi interaksi para sahabat dengan Nabi SAW dalam melakukan periwayatan hadis, kuantitas periwayatan dan faktor yang mempengaruhinya, diskursus tentang hukum mencatat hadis serta pembuktian adanya pencatatan hadis di masa tersebut.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peradaban bangsa arab adalah peradaban bayani. Kesustraaan adalah bidang keilmuan utama yang paling diminati dan dihargai. Keindahan dan ketelitian dalam bidang bala>ghah, fas}a>hah, i’ja>z dan tas}wi>r lafdhi> menjadi keistimewaan bangsa Arab. Perkembangan pesat di bidang funun adabiyahditunjang oleh penyelenggaraan perlombaan seni sastra dan orasi dalam forum festival sastra tahunan di pusat keramaian kota seperti Pasar Ukaz dan Dzul Majaz. Karya-karya sastra unggulan yang menjadi pemenang dalam festifal tersebut didokumentasikan dan dipublikasikan dalam bentuk muallaqat di

Ka’bah dan juga diriwayatkan dalam tradisi oral.1Dalam realitas tradisi tersebut,

bangsa Arab lebih siap berinteraksi dengan bayan al-Qur’an dan Sunnah baik dalam penerimaan teks (tala>qiy), pemahaman maupun periwayatannya.

Metode periwayatan informasi teks secara oral dan tulisan bukanlah kreasi dan inovasi yang muncul begitu saja di masa sahabat. Akan tetapi telah menjadi tradisi Bangsa Arab sejak era jahiliyyah. Setiap sastrawan Arab terkemuka memiliki riwayat dipelajari dan dihafalkan serta ditampilkan dalam momen tertentu.2 Bangsa Arab secara tradisi mengandalkan kekuatan memori hafalan dalam periwayatan sejarah dan sastranya. Puluhan bahkan ratusan bait sastra dihafalkan secara cermat. Demikian pula kisah sejarah dan nasab diri, keluarga dan kabilah serta leluhurnya.3 Kekuatan hafalan ini ditunjang dengan tradisi sikap menghargai kejujuran dan amanah serta menepati janji.4

Walaupun bangsa Arab secara umum adalah bangsa yang ummy yang menjadikan tradisi oral dan hafalan menjadi mainstream. Namun, bukan berarti

1 Hakim Ubaisan al-Mutairy. Tarikh Tadwin al-Sunnah wa Syubhah al-Mustasyriqin(Kuwait:

Ja>mi’ah al-Kuwait, cet. 1, 2002 M),10-12, ‘Itr, Nuruddin. Manh}aj al-Naqd fi ‘Ulu>m al-h}adith

(Damaskus : Dar al-Fikr, Cet. 3, 1418 H/1997 M), 37

2Al-Mutairy.Tarikh Tadwin Sunnah, 12

3A’zamy. Dirasatfi al-Hadith al-Nabawy wa Tarikh Tadwi>nih (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1400

H/1980M) , 44

4 Hal ini tergambar dari Abu Sufyan bin Harb yang sangat membenci Nabi dan dakwahnya

(4)

bahwa bangsa Arab sama sekali tidak mengenal baca dan tulis.5 Kota Makkah sebagai pusat pertemuan bangsa-bangsa dalam ibadah dan perdagangan (ummul qura) memiliki sejumlah penduduk yang memiliki kemampuan tersebut.6 Mereka cukup menghargai keahlian menulis sebagai bentuk kesempurnaan pribadi seseorang.7 Bahkan bangsa Arab telah mengenal tulisan sebagai media mencatat hutang-piutang, perjanjian, teks-teks keagamaan, catatan nasab dan surat-surat pribadi.8

Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi peradaban ilmu dengan menjadikan tradisi membaca sebagai tonggak pertama wahyu al-Qur’an. Nabi SAW memberi perhatian penuh dalam pengembangan kemampuan baca-tulis tersebut. Terutama ketika stabilitas masyarakat Islam terbentuk pascahijrah ke Madinah. Nabi menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas pengajaran dan keilmuan dan menugaskan beberapa sahabat yang memiliki keahlian membaca dan menulis untuk mengajarkannya.9 Kemudian tempat-tempat pengajaran menyebar ke lokasi lain. Bahkan dalam bentuk utusan untuk tugas belajar.10 Di antara bukti cukup banyaknya para sahabat yang memiliki keahlian menulis adalah para sahabat yang terpilih menjadi ka>tib (sekretaris dan penulis Rasulullah) yang jumlahnya mencapai 50 orang.11Berarti sahabat yang bisa menulis lebih dari jumlah itu.12

Dalam konteks realitas iklim intelektual Bangsa Arab semacam inilah sejarah pertumbuhan hadis dan pembentukannya berlangsung seiring dengan proses pewahyuan al-Qur’an. Sejarah pertumbuhan hadis dan pembentukannya tidak lepas dari interaksi simbiosis mutualism antara al-Quran dan hadis yang

5Menurut penelitian pakar sejarah, Bangsa Arab telah mengenal tulisan sejak tiga abad sebelum

kedatangan Islam atau sekitar tahun 200 M. lihat Muhammad Ajaj al-Khatib. Al-Sunnah Qabla al-Tadwin, 295 dan Rishwan Abu Zaid Mahmud. Kitabah al-Hadith al-Sharif fi Ahdy al-Nabi SAW (Kairo: Dar al-Bas}air, cet. 1, 2008M), 9

6 Subhi al-S{a>lih.Ulum al-Hadith wa Must}alahuhu; ‘Ard{un wa Dirasatun(Libanon: Matba’ah al

-‘Ulum, ttt), 14-16

7Lihat A’zamy. Dirasat fi al-Hadith al-Nabawy wa tarikh wadwinihi, 42

8Ibid., 44-45

9A’zamy. Dirasat, 50-51, Rishwan. Kitabah al-Hadith, 11

10Ibid., 51-54. Seperti Zaid bin Thabit yang diperintahkan oleh Nabi SAW untuk mempelajari

Bahasa Persia dan Ibrani sampai mahir dalam membaca dan menulisnya. Lihat Rishwan. Kitabah,

12

11Ibid., 54

(5)

tercermin dalam pribadi seorang Nabi dan kehidupannya bersama para sahabat. Hal ini secara normatif dan eksplisit ditegaskan oleh Nabi SAW :

ُهَعَم ُهَلْ ثِمَو َباَتِكْلا ُتيِتوُأ يِنِإ َََأ

13.

Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan al-Kitab dan sesuutu yang setara dengannya (yaitu al-hikmah berupa al-sunnah)

Hadis bukan hanya berfungsi repetisi sebagai penguat dan penegas ulang keterangan Al-Quran. Namun, hadis juga berfungsi sebagai penjelasan (mubayyin) bagi al-Quran baik dalam bentuk perincian atas petunjuknya yang bersifat global (mujma>l), atau mengkhususkan (lex specialis) petunjuk yang bersifat umum (‘a>m) serta sebagai muqayyid (membatasi dengan persyaratan) sesuatu yang bersifat mutlak. Bahkan hadis juga secara independen memiliki kekuatan otoritas sebagai penetap hukum baru yang tidak disinggung oleh

al-Qur’an (sunnah istiqla>liyyah). 14

Dengan demikian, pembentukan hadis (takwi>n) merujuk kepada dokumentasi perkataan Nabi SAW—selain Al-Quran—, perbuatan, persetujuan Nabi atas sesuatu hal (taqrir), sifat fisik (khalqiyah) dan akhlak (khuluqiyah) serta seluruh informasi yang terkait dengan Nabi SAW baik sebelum diutus sebagai Nabi (qabla al-bi’thah) atau sesudahnya (ba’da al-bi’thah), termasuk pula biografi (sirah) dan peperangan (ghazawa>t) yang terkait kehidupan dan dakwahnya.15 Adapun secara kandungan (content), hadis berkaitan petunjuk Nabi tentang segala aspek kehidupan kaum muslimin baik akidah, ibadah, jual-beli dan

mu’amalah, ahwal shakhsiyah dan adab dalam kehidupan yang dipraktekan baik

dalam keadaan damai dan perang, keadaan lapang ataupun darurat.16 Hal inilah yang memotivasi kaum muslimin, khususnya para sahabat untuk memberi perhatian kepada periwayatan hadis.

13Hadis nomor 4604, lihat Abu Dawud, Sulaiman bin al-Ash’ath bin Isha>q al-Azdy al-Sijasta>ny.

Sunan Abu Da>wud.Vol. 4. Ed. Muhammad Muhy al-Di>n ‘Abd al-H{ami>d (Beirut: Maktabah

al-‘As{riyah, ttp), 200.

14 Mustafa al-Siba’I. Al-Sunnah wa Makanatuha fi tashri’ al-Islamy (Beirut: al-Maktab al-Islamy,

cet.3, 1402 H/1982 M), 382

15Nuruddin ‘itr, Manh}aj al-Naqd, 26. Abu Syuhbah, Muhammad bin Muhammad. Al-Wasi>t} fi

‘Ulu>m wa Must}ola>h al-H{adi>th(Jeddah : ‘Alam al-Ma’rifah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 1, 1403

H/1983 M), 15-16

16Muhammad Aja>j al-Khatib.As-Sunnah Qabla al-Tadwi>n(Kairo: Maktabah Wahbah, cet. 2, 1408

(6)

Dalam makalah ini akan dibahas secara ringkas tentang perkembangan dan pertumbuhan hadis di masa Rasulullah SAW. Pembahasan ini mencoba mengungkap kondisi hadis di masa Nabi dan informasi pencatatan hadis di masa tersebut yang sering menjadi wacana yang kontroversial.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana bentuk perhatian Nabi SAW terhadap sahabat dalam proses periwayatan hadis?

2. Bagaimana interaksi para sahabat dengan Nabi SAW dalam melakukan periwayatan hadis dan faktor yang memotivasinya?

3. Bagaimana keadaan kuantitas periwayatan para sahabat Nabi SAW dan faktor yang mempengaruhi perbedaannya?

4. Apa diskursus yang muncul tentang hukum mencatat hadis di era Nabi SAW?

(7)

BAB II PEMBAHASAN

A. Perhatian Nabi Terhadap Sahabat Dalam Periwayatan Hadis

Nabi Muhammad SAW menyadari bahwa para sahabatnyalah yang akan menegakkan panji-panji Islam sepeninggalnya. Termasuk dalam hal ini sebagai pewaris sunnah dan pengemban amanah periwayatan hadis-hadisnya.17 Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim;

َعوُت اَم َءاَمسلا ىَتَأ ُموُج لا ْتَبَهَذ اَذِإَف ِءاَمسلِل ٌةََمَأ ُموُج لا

ُتْبَهَذ اَذِإَف يِباَحْصَِِ ٌةََمَأ اَنَأَو ُد

.َنوُدَعوُي اَم يِتمُأ ىَتَأ يِباَحْصَأ َبَهَذ اَذِإَف يِتمُِِ ٌةََمَأ يِباَحْصَأَو َنوُدَعوُي اَم يِباَحْصَأ ىَتَأ

Gugusan bintang adalah perisai penjaga langit, apabila bintang-bintang itu lenyap maka langitpun tertimpa apa yang telah ditakdirkan atasnya. Aku adalah penjaga atas sahabat-sahabatku, apabila aku wafat, maka hilangkah sahabatku akan tertimpa apa yang telah ditakdirkan atas mereka. Sahabatku adalah penjaga atas umatku. Apabila mereka meninggal, maka umatku akan tertimpa apa yang telah dijanjikan dalam takdir mereka. 18

Oleh karena itu, Nabi SAW bukan hanya memotivasi para sahabat untuk mencermati hadis-hadisnya. Namun juga, Nabi turut serta membantu para sahabat dalam mentranfer (talaqi) hadis dari beliau dan menghafalkannya.

Di antara metode Nabi dalam penyampaian hadisnya yaitu:

1. Penyampaikan hadis dalam berbagai kesempatan dan tempat, bukan hanya di tempat dan waktu yang tertentu. Nabi SAW menyampaikan hadis di masjid, di medan perang, di pasar, di jalan, dll. 19

2. Penyampaikan hadis dengan redaksi (lafal) yang fasih. Kemudahan para sahabat dalam menghafal teks hadis ditunjang oleh kemampuan Nabi Muhammad SAW dalam berkomunikasi lisan. Rasulullah berasal dari Qurays yang merupakan kabilah yang paling fasih dalam kemampuan

17 Itr. Manhaj al-naqd, 38, Muhammad Muhammad Abu Zahwu, Al-H{adi>th wa al-Muh{addithu>n

(Riyadh: Al-Ri’asah al-‘Ammah li Idarat al-Buhuts al-‘Ilmiyah wal Ifta’ wa al-Da’wah wa al -Iryad, 1404 H/1984 M), 52

18Muslim bin al-Haja>j Abu al-Hasan al-Qushairi al-Naisa>bu>ry. Al-Musnad al-Sah}i>h al-Mukhtas}ar

bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl ila> Rasul Allah S{alla> Allah ‘alaih wa Sallam.Vol. 4.Ed. Muhammad

Fu’ad ‘Abd al-Ba>qy.(Beirut: Dar Ihya>’ al-Turath al-‘Araby, ttp), 1961. Hadis nomor 2531

(8)

berbahasa. Sementara, Rasul merupakan orang yang paling fasih lisan dan paling jelas bayannya di tengah kaumnya.20 Bahkan bahasa (dialek) Nabi menyesuaikan kemampuan intelektual dan latar belakang orang yang mendengar. Contoh: ketika Ashim al- Asy’ari ( suku Asy’ari bertanya kepada nabi tentang hukum orang yang berpuasa dalam perjalanan, Nabi menjawab dengan dalam dialek mereka:

ِرَفَس ْما يِف ،ُماَيِص ْما ،ِرِب ْما َنِم َسْيَل

21

“Bukankah suatu kebajikan, orang berpuasa dalam perjalanan”

Dalam riwayat lain Nabi menyampaikan sabda yang sama dengan dialek yang baku ( fushhah):

ِرَفسلا ْيِف ُمْوصلا ِرِبْلا َنَم َسْيَل

22

“Bukankah suatu kebajikan, orang berpuasa dalam perjalanan”

3. Uslu>b hadis sering disampaikan dalam bentuk jawami’ al-kalim (redaksi yang ringkas, padat dan berbobot)23 dan sering diulang-ulang agar dipahami. Anas bin Malik RA—pembantu dekat Nabi dan menemani Nabi selama 10 tahun—berkata: ”Adalah Nabi SAW bila berkata atau menyampaikan suatu pernyataan, beliau mengulanginya tiga kali sampai

bisa dipahami”.(

َمَهْفُ ت ىتَح اًث َََث اَهَداَعَأ ٍةَمِلَكِب َملَكَت اَذِإ َناَك ُهنَأ

) 24 Di antara

contoh hadis Nabi SAW dalam ungkapan jawami’ al-kalim adalah:

ٌةَعْدَخ ُبْرَحلا

(“Perang adalah siasat”).25

4. Penyampaikan redaksi hadis secara berangsur-angsur, perlahan-lahan dalam ritme dan tempo yang teratur, tidak terus-menerus memproduksi kalimat, sehingga mudah menancap dalam hafalan orang yang

20Itr, Manhaj, 39

21 Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Vol. 39. Ed. Shu’aib al-Arnaut}, et.al

(Beirut:Muassasah al-Risalah, Cet. 1, 1421 H/2001 M), 84. Hadis nomor 23679

22Al- Bukhari. Al-Jami’ al-Sahi>h. Vol. 2, 44. Hadis nomor 1946 23Al-Mutairy.Tarikh Tadwin, 13

24Al-Bukhari.Al-Jami’ al-Sahih. Vol 1,50-51. Hadis no. 95. Lihat pula hadis nomor. 93, 94 dan

96

25 Al- Bukhari. Al-Jami’ al-S{ahi>h. Vol. 2, 366. Hadis nomor 3030. Muslim bin Hajja>j

al-Qushairy al-Naisa>bu>ry, al-Musnad al-S{ahi>h al-Mukhtas}ar atau Sahih Muslim. Vol. 3.

(9)

mendengarnya. Demikian pula, penyampaian dalam kalimat yang ringkas dan jelas sesuai maksud serta tidak bertele-tele.26 Hal ini ditegaskan oleh Aisyah RA: “Sesungguhnya Nabi SAW jika berkata dan ada yang

mengitung perkataannya maka dia bisa mengitungnya” (

ُهللا ىلَص يِب لا نَأ

َملَسَو ِهْيَلَع

ُاَصْحََِ داَعْلا ُدَع ْوَل اًثيِدَح ُثِدَحُي َناَك

).27 Hal ini tidak sebagaimana cara berbicara kebanyakan orang (

َثيِدَحْلا ُدُرْسَي ْنُكَي ْمَل

ْمُكِدْرَسَك

).28

5. Sebagian teks hadis diajarkan oleh Rasulullah kepada sahabat sebagaimana pengajaran teks surat al-Qur’an.29 Didiktekan (imla’) secara teliti dan cermat. Di antara contoh Nabi mengoreksi secara cermat hafalan para sahabat adalah ketika mengajarkan doa sebelum tidur sebagaimana riwayat al-Bara>’ bin ‘A<zib yang merubah lafal “Dan Nabi

yang telah Engkau utus” (

َتْلَسْرَأ يِذلا َكِيِبَنَو

) kemudian dikoreksi oleh

Nabi menjadi “Dan Rasul yang telah Engkau utus” (

يِذلا َكِلوُسَرَو

َتْلَسْرَأ

).30 Padahal secara makna tidaklah terlalu jauh.

6. Peragaan suatu cara ibadah dengan mempraktekkan dihadapan para sahabat. Rasulullah SAW pernah mencontohkan cara sholat di hadapan para sahabat dengan melakukannya di atas mimbar. Setelah peragaan itu, Rasulullah SAW bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya saya melakukan hal demikian kalian memperhatikan dan mempelajari cara

26Itr, Manhaj al-Naqd, 39

27 Al- Bukhari. Al-Jami’ Vol. 2, 519. Hadis nomor 3567 28Ibid., Hadis nomor 3568

29Ibid., Vol. 1, 361. Bab (28) Ma’a Jaa fi al-Tatawwu’ mathna mathna. Hadis nomor 1166. Jabir

bin ‘Abdillah RA melaporkan bahwa Nabi mengajarkan para sahabat istikharah dalam segala

(10)

sholatku (

يِت َََص اوُملَعَ تِلَو اومَتْأَتِل اَذَه ُتْعَ َص اَمنِإ ُسا لا اَه يَأ

).31 Hal ini selaras

dengan petuah Nabi kepada Sahabat:

ىِلَصُأ ْيِنْوُم

ُتْ يَأَر اَمَك اْولَص

“Shalatlah

sebagaimana kamu melihat aku shalat”32

7. Pemberian kesempatan bertanya kepada para sahabat. Seperti yang dilakukan oleh al-Harith bin Hisham yang bertanya tentang mekanisme turunya wahyu kepada Nabi SAW.33

8. Penjelasan dengan metode tanya-jawab, seperti yang dilakukan dengan

sahabat Mu’adz: Ya Mu’adz bin Jabal, ma> haqq Allah ‘ala> al-‘ibad?

Qa>la; Allah wa Rasu>luhu a’lam. Qala; An ya’buduhu wala yushrikuhu

bihi shai’an....34 Bahkan metode ini pernah dilakukan dalam bentuk

peragaan antara Nabi dan Malaikat Jibril yang datang dalam wujud pria asing yang bertanya tentang islam, iman, ihsan dan kiamat.35

9. Nabi SAW mengajarkan hadis kepada utusan dari kabilah-kabilah yang datang kepadanya dan mengingatkan mereka untuk mengajarkan dan

menyebarkannya. Sebagaimana Kabilah ‘Abd al-Qais yang diajarkan

Rasulullah tentang syari’at Islam kemudian bersabda:

ْنَم ُوُرِبْخَأَو ُوُظَفْحا

ْمُكَءاَرَو

(“Hafalkanlah dan sampaikan kepada keluarga dan masyarakat

kalian”).36 Demikian pula yang Nabi lakukan ketika Malik bin

al-Huwairith bersama rekan-rekannya datang menghadap Nabi dan belajar selama 20 hari, Nabi meminta mereka pulang untuk mengajarkan

kembali apa yang telah mereka pelajari dari Rasulullah SAW:

ىَلِإ اوُعِجْرا

31Ibid., Vol. 1, 290. Hadis nomor 917, juga nomor 377, 447, 2093. 32Al-Bukhari. al-Jami’ Vol. 1, 212. Hadis nomor 631

33Ibid.Vol. 1,13. Hadis nomor 2 34Ibid.Vol. 4, 378. Hadis nomor 7373

(11)

ْمُهوُمِلَعَ ف ْمُكيِلْهَأ

(“Kembalilah kepada keluarga kalian dan ajarkanlah

mereka”).37

10.Penanaman motivasi. Rasulullah mengingatkan para sahabat bahwa kedudukan sunnah setara dengan al-Quran yang bersumber dari wahyu Allah.38 Al-Quran dan Sunnah sebagai warisan pusakan Nabi yang wajib dipegang teguh.

ِهِيِبَن َة ُسَو ِهللا َباَتِك اَمِهِب ْمُتْكسَمَت اَم اولِضَت ْنَل ِنْيَرْمَأ ْمُكيِف ُتْكَرَ ت

Aku telah tinggalkan (warisan) di tengah-tengah kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat. Keduanya adalah Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya. 39

Rasulullah SAW memotivasi untuk memperhatikan periwayatan hadis-hadis yang disampaikannya baik perhatian berbentuk riwa>yah maupun dira>yah.40

َبِئاَغْلا ْمُكِْم ُدِهاشلا غِلَ بُيِل َََأ

Hendaknya orang-orang di antara kalian yang hadir dan menyaksikan, menyampaikannya kepada yang tidak hadir.41

11. Peringatan keras (tarh}i>b) Rasulullah terhadap kedustaan dalam periwayatan hadis. Nabi SAW bersabda:

ِرا لا ْنِم َُدَعْقَم ْأوَ بَتَيْلَ ف اًدِمَعَ تُم يَلَع َبَذَك ْنَم ٍدَحَأ ىَلَع ٍبِذَكَك َسْيَل يَلَع اًبِذَك نِإ

37Hadis dalam Tarjim al-Bab yaitu Bab (25) Tah}rid} al-Naby S}alallahu ‘alaihi wa Sallam wafd

‘Abd al-Qais ‘ala an yahfaz}uw al-iman wa al-‘ilm wa yukhbiruw man wara>’ahum. Wa qa>la Malik

bin al-Huwairith: Qala al-Naby S}alallahu ‘alaihi wa Sallam “Irji’uw ila> ahli>kum wa ‘allimu>whum,

al-Jami’ al-Sahih. Vol 1, 48. Juga hadis nomor 685. Al-Jami’ Vol. 1, 227

38(

ُهَعَم ُهَلْ ثِمَو َباَتِكْلا ُتيِتوُأ يِِإ َََأ) Abu ‘Abd Allah Ibn Yazid Ibn Majah, nomor. 4604

39HR. Malik dalam al-Muwatha (2/899) secara mursal, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/93)

secara mutashil marfu’ dan disahihkan al-Albani dalam Sahih al-Jami’ no. 2937. Merujuk takhrij

Rabi’ bin Hady al-Madkhaly dalam Hujjiyah Khabar al-Ahad fi al-Aqaid wa al-Ahkam (Kairo:

Dar al-Minhaj, cet. 1, 2005 M) h. 15

40Ilmu riwa>yah al-hadith adalah ilmu hadis yang berkaitan proses dan mekanisme transmisi

(periwayatan) hadis. Sedangkan Ilmu dira>yah hadith adalah ilmu hadis yang berkaitan dengan cara mengetahui kondisi dan kualitas sanad (perawi) hadis dan matan (yang diriwayatkan)nya. Lihat Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, Al-Wasi>t} fi ‘Ulu>m wa Must}ola>h al-H{adi>th

(Jeddah : ‘Alam al-Ma’rifah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 1, 1403 H/1983 M), hlm. 24-25.

Nuruddin ‘itr, Manh}aj. 30-32

(12)

“Sesungguhnya berdusta atas nama diriku tidak sama seperti kedustaan atas nama salah seorang di antara kalian. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat

duduknya di neraka.”42

B. Interaksi Para Sahabat dalam melakukan talaqqy hadis

Interaksi para sahabat dengan Nabi cukup intens selama berlangsungnya as}r al-wahy wa al-takwi>n (masa turunnya wahyu dan pembentukan sunnah).

Peran Rasul SAW sebagai pembawa risalah dan “contoh hidup” (living guide)43

menjadi “magnet”, episentrum dan “inti” yang menjadi poros kehidupan sahabat di sekitarnya. Hal ini melahirkan sikap al-ittiba’ wa al-iqtida’ yang kuat.

Metode talaqqy hadis para sahabat dari Nabi SAW, paling tidak ada tiga macam yaitu;

1- Metode al-musha>fahah wa al-sima’ (mendengar langsung apa yang disampaikan oleh Nabi SAW). Dalam periwayatannya, para sahabat menggunakan ungkapan (sighat), seperti: sami’tu Rasulullah SAW yaqu>lu, atau qa>la Rasulullah SAW atau Haddathana Rasulullah SAW. 2- Metode al-Mushahadah (melihat dan mengamati langsung) terhadap

perbuatan (af’al), keadaan (ahwal) dan kesepakatan (taqrir) Nabi

SAW. Dalam periwayatannya, para sahabat menggunakan ungkapan (sighat), seperti: ka>na Rasulullah SAW yaf’alu kadha…, atau Ra’aitu

Rasulullah SAW kadha….atau ka>na Rasulullah SAW….

Untuk dua metode di atas, ada beberapa sahabat yang secara khusus selalu menyertai Nabi SAW untuk mendapatkan hadis-hadisnya seperti yang dilakukan Abu Hurairah.44 Ada pula diantara sahabat berinisiatif untuk menanyakan suatu masalah kepada Nabi. Bahkan bagi orang yang tinggalnya jauh di luar kota Madinah melakukan rihlah menghadap Nabi untuk mendapatkan hadis sebagai solusi

masalah mereka. Seperti yang dilakukan oleh ‘Uqbah bin al-Harith.45

42Ibid., Vol 1, 397-398. Hadis nomor 1291

43sebagaimana Aisyah menyebutnya “kana khuluquhu al-Qur’an”.

(13)

Para sahabat juga mengajarkan hadis langsung kepada anak-anaknya sebagaimana mereka mengajar ilmu menulis.46

3- Metode al-tahamul bi al-wa>sitah (mendapatkan hadis Nabi melalui perantaraan para sahabat lain). Ketidakhadiran sebagian sahabat saat hadis disampaikan bisa disebabkan beberapa faktor, misalnya karena keterlambatan masuk Islam atau usia muda sehingga ada beberapa peristiwa yang tidak dialami bersama Rasulullah. Contohnya Abu Hurairah masuk Islam pada peristiwa Khaibar yaitu tahun ke-7 H.47 Abu Hurairah RA selain langsung mendapatkan hadis dari Rasulullah SAW, juga mendapatkan sebagian hadis Nabi dari para sahabat senior seperti Abubakar, Umar, Abdullah bin Sala>m, ‘Aisyah, dll.48 Demikian juga, ada sahabat lain yang meriwayatkan hadis melalui perantaraan Abu Hurairah RA seperti Ibn Abbas, Anas bin Malik,

Jabir bin ‘Abdillah.49 Ada juga di antara para sahabat yang karena

kesibukannya tidak bisa selalu menghadiri majlis ilmu Rasulullah SAW. Namun, mereka berusaha untuk tidak ketinggalan informasi hadis, sebagaimana Umar bin al-Khattab dengan tetangganya dari kalangan Ansar saling bergantian jadwal hadir dalam majelis Nabi kemudian saling menginformasikan hasilnya.50

Dalam periwayatannya, para sahabat yang mendapatkan hadis Nabi SAW dengan cara ini terkadang melakukan irsal (meng-isnad-kan hadis langsung kepada Rasulullah SAW tanpa menyebutkan nama sahabat sebagai perantara) dengan menggunakan ungkapan (sighat), seperti: ka>na Rasulullah SAW...., atau qa>la Rasulullah SAW. Dalam

46Sebagaimana Sa’ad bin Abi Waqqas mengajarkan hadis seperti mengajarkan menulis kepada

anak-anaknya Lihat hadis al-Bukhai 2/312 nomor 2822

ْلا ِء ََُؤَه ِهيِنَب ُميلَعُ يٌدْعَس َناَك َةَباَتِكْلا َناَمْلِغْلا ُميلَعُمْلا ُميلَعُ ي اَمَك ِتاَمِلَك

47

Muhammad bin Hiban bin Ahmad,Abu Hatim al-Bustiy (w. 354 H). Masha>hir ‘Ulama>’ al

-Ams}a>r wa A’la>m Fuqaha>’ al-Aqt}a>r. Ed. Marzuq ‘Ali Ibra>hi>m (al-Mans}urah: Darl-Wafa’, Cet.1,

1411 H/1991 M), 35. Berbagai versi nama Abu Hurairah dapat dilihat dalam kitab ini.

48

Abu al-Qa>sim ‘Ali bin al-Hasan Ibn ‘Asa>kir (w. 571). Ta>rikh Dimasq. Vol. 67, Ed.Amr bin Gharamah al-Ma’ruf (Beirut : Dar al-Fikr, 1415 H/1995 M), 295

49Yusuf bin ‘Abd al-Rahman bin Yusuf al-Mizzy (w. 742 H). Tahdhi>b al-Kama>l fi Asma>’ al

-Rija>l. Vol. 34. Ed. Basha>r’Awwa>d <a’ru>f (Beirut: Muassasah al-Risalah, Cet.1, 1400 H/1980 M), 371. Biografi Abu Hurairah dalam Kitab ini dapat dibaca sejak halaman 366

(14)

ilmu hadis, hal ini diperbolehkan khusus untuk para sahabat sebagaimana pendapat para imam ahli hadis51 merujuk kaidah

“sahabat seluruhnya ‘adil” (

ٌلْوُدُع ْمُهلُك ُةَباَحصلا

) 52

Yang menarik adalah adanya beberapa Sahabat Nabi SAW yang berstatus kafir ketika tahammul dan telah berstatus muslim ketika al-ada. Contohnya: Jubair bin Muth’im53 dan Abu Sufyan54. Mereka mengingat dan menyampaikan peristiwa terkait Rasulullah SAW yang mereka alami saat belum masuk Islam dan menyampaikannya kepada perawi berikutnya saat berstatus muslim sebagai sahabat Rasulullah SAW.

Semangat para sahabat dalam melakukan talaqqy hadis dari Nabi disebabkan beberapa faktor antara lain:

1. Kekuatan motivasi religius dalam diri para sahabat.55 Keyakinan para sahabat terhadap kedudukan Rasul dan hadis-hadisnya dalam Islam. Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad sebagai utusan (Rasul) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa dan perilaku mereka serta mengajarkan ilmu al-kitab dan al-hikmah setelah sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.56 Allah SWT telah menetapkan bahwa Rasululah sebagai pribadi agung57 dan menjadi teladan (uswah h}asanah) yang harus dicontoh dan diikuti

51 Ibn Hajar al-Asqala>ny, al-Nukat ‘ala Kitab Ibn al-S{alah.. Vol. 2. Ed. Rabi>’ bin Ha>dy al

-Madkhaly (Madinah: ‘Imadah al-Bahth al-‘Ilmy bi al-Ja>mi’ah al-Islamiyah, Cet. 1, 1404 H/1984

M), 548

52Ibrahim bin Musa bin Ayyu>b al-Abna>sy. Al-Shadh al-Fiya>h min ‘Ulum Ibn S{alah.Vol. 2. Ed.

S{ala>h Fathy Halal. (Beirut: Maktabah al-Rushd, Cet. 1, 1418 H), 294

53Hadis Nomor 1664 Shohih al-Bukhari, ed. Muhibuddin al-Khatib, 1/510. Dalam hadis ini, Jubair

bin Muth’im menceritakan tentang dirinya—saat masih jahiliyah—yang kehilangan ontanya dan

mencarinya hingga melihat Nabi yang saat itu wuquf di hari Arofah. Juga hadis no. 4023 Shohih al-Bukhari, ed. Muhibuddin al-Khatib, 3/95. Dalam hadis ini Jubair bin Muth’im—saat masih kafir—mendengar Rasulullah membaca Surat ath-Thuur pada saat sholat Maghrib dan saat itulah bibit iman mulai tumbuh dalam hatinya.

54Hadis panjang dari Abu Sufyan yang menceritakan kisahnya menghadap Heraklius dan

menceritakan tentang Nabi Muhammad yang baru diutus. Hadis nomor 6 juz 1/hlm. 16-17

55Itr, 37

56Al-Qur’an, 3: 164, 62: 2

(15)

perikehidupannya oleh orang-orang yang beriman.58 Mengikutinya merupakan manifestasi cinta kepada Allah .59 Allah SWT menetapkan pelimpahan otoritas kepada Rasulullah SAW untuk menjelaskan (tabyi>n) al-Quran.60 Demikian pula, penetapan otoritas penetapan hukum (tashri’) kepada Rasulullah.61 Perintah untuk berhukum kepada keputusannya ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan.62 Penetapan hak ketaatan kepada Rasulullah SAW. Kewajiban taat tersebut sebagaimana

kewajiban mereka untuk ta’at kepada Allah SWT.63 Penegasan otoritas

hukum dan hak ketaatan ini disertai ancaman penegasian iman64, penetapan sifat hipokrit dalam keimanan (nifa>q) bagi mereka tidak mengakuinya.65 Tentu saja, ayat-ayat tersebut melahirkan perubahan worldview baru dari jahily menjadi islamy, memotivasi interaksi yang intens para sahabat dengan sunnah Rasulullah dalam semua segi kehidupannya dan mengamalkannya sebagai way of life dan tradisi baru dalam peradaban mereka. Selanjutnya, mereka menjaga otentitas sunnah tersebut sebagai panduan dan hikmah kehidupan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

2. Kekuatan motivasi (targhib) Rasulullah SAW untuk mengikuti sunnahnya, menghafal dan meriwayatkannya. Rasulullah SAW bersabda:

«

ٍعِماَس ْنِم ىَعْوَأ ٍغلَ بُم بُرَ ف َعِمَس اَمَك ُهَغلَ بَ ف اًئْيَش ا ِم َعِمَس ًأَرْما ُهللا َرضَن

»

“Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengarkan sesuatu dari kami kemudian menyampaikannya seperti apa yang didengarnya. Boleh jadi orang yang disampaikan kepadanya sesuatu lebih paham dari orang yang mendengarnya (langsung dari sumber).”66

(16)

Motivasi juga berbentuk informasi tentang kedudukan yang mulia bagi para ahli hadis yang mengemban misi sebagai penjaga eksistensi sumber

syariat dalam “matan-matan riwayat”. Rasulullah SAW bersabda:

َلاَحِتْناَو ، َنيِلاَغْلا َفيِرْحَت ُهَْع َنوُفْ َ ي ، ُهُلوُدُع ٍفْلَخ ِلُك ْنِم َمْلِعْلا اَذَه ُلِمْحَي

ِهاَجْلا َليِوْأَتَو ، َنيِلِطْبُمْلا

َنيِل

“Ilmu ini akan diemban oleh orang-orang yang adil di setiap

generasi. Mereka menolak penyimpangan yang dilakukakan orang-orang yang ekstrim, pemalsuan yang disisipkan (intih{a>l) dari para pendusta (al-mubt{ilu>n)dari sekte-sekte yang bid’ah dan interpretasi (ta’wi>l) dari orang-orang bodoh”.67

Kesadaran dan tanggung jawab untuk berpegang teguh kepada sunnahnya dan menjaga dan mendakwahkan selalu diingatkan oleh Rasulullah kepada para sahabat.

C. Kuantitas Periwayatan Sahabat

Masing-masing sahabat berbeda-beda kuantitas periwayatan hadisnya dari Rasulullah kepada generasi berikutnya (tabi’in). Berikut daftar nama para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Rasulullah SAW: 68

A. Sahabat yang menghafalkan hadits lebih dari 1000 hadis;

1) Abū Hurayrah (‘Abdurrahman) Rad}iyallahu ‘anhu, beliau wafat tahun 59

H pada usia 78 tahun. Beliau meriwayatkan 5374 hadis. Murid beliau berjumlah hampir 800 orang. Al-Bukhari mencantumkan sekitar 1115 hadisnya dalam al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}.

2) ‘Abdullah bin ‘Abbas Rad}iyallahu ‘anhu, beliau wafat tahun 68 pada usia

71 tahun. Beliau meriwayatkan 2660 hadis. Al-Bukhari mencantumkan sekitar 780 hadisnya dalam al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}.

67 Sulaiman bin Ahmad al-Thobary. Musnad Al-Samiyin. Juz 1, ed. Hamdy bin Abdul Majid

as-Salafy (Beirut: Muassasah ar-Risalah, Cet. 1, 1405 H/1984 M), 344. Hadis Hasan ghorib, lihat

catatan Abu Mu’adz dalam Jalaluddin As-Suyuthi. Tadri>b al-Ro>wy fi Syarh taqri>b al-Nawawi>,

Juz 1, (al-Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 1423 H), 511

68Abdul Ghoffar al-Rehmani.Pengantar Sejarah Tadwin (Pengumpulan) Hadis.“The Compilation

(17)

3) ‘A`isyah ash-Shiddiqah Rad}iyallahu ‘anha, beliau wafat tahun 58 pada usia 67 tahun. Beliau meriwayatkan 2210 hadis. Al-Bukhari mencantumkan sekitar 970 hadisnya dalam al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}.

4) ‘Abdullah bin ‘Umar Rad}iyallahu ‘anhu, beliau wafat tahun 73 pada usia

84 tahun. Beliau meriwayatkan 1630 hadits. Al-Bukhari mencantumkan sekitar 570 hadisnya dalam al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}.

5) Jabir bin ‘Abdullah Rad}iyallahu ‘anhu, wafat tahun 78 pada usia 94

tahun. Beliau meriwayatkan 1560 hadits. Al-Bukhari mencantumkan sekitar 340 hadisnya dalam al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}.

6) Anas bin Malik Rad}iyallahu ‘anhu, wafat tahun 93 pada usia 103 tahun. Beliau meriwayatkan 1286 hadis.Al-Bukhari mencantumkan sekitar 800 hadisnya dalam al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}.

7) Abū Sa’id al-Khudri Rad}iyallahu ‘anhu, wafat tahun 74 pada usia 84

tahun. Beliau meriwayatkan 1170 hadis. Al-Bukhari mencantumkan sekitar 152 hadisnya dalam al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}.

B. Sahabat yang menghafalkan hadits antara 500 sampai 1000 hadits.

1) ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Rad}iyallahu ‘anhu (w. 63H)

2) ‘Ali bin Abi Thalib Rad}iyallahu ‘anhu (w. 40H), dan

3) ‘Umar ibn al-Khaththab Rad}iyallahu ‘anhu (w. 33H).

C. Sahabat yang meriwayatkan lebih dari 100 hadits namun kurang dari 500. 1) Abū Bakr ash-Shiddiq Rad}iyallahu ‘anhu (w. 13H)

2) ‘Utsman bin ‘Affan Dzūn Nūr’ayni Rad}iyallahu ‘anhu (w. 36H)

3) Ummu Salamah Rad}iyallahu ‘anha (w. 59H) 4) Abū Mūsa al-Asy’ari Rad}iyallahu ‘anhu (w. 52H) 5) Abū Dzarr al-Ghifari Rad}iyallahu ‘anhu (w. 32H)

6) Abū‘Ayyūb al-Anshari Rad}iyallahu ‘anhu (w. 51H)

7) ‘Ubay bin Ka’ab Rad}iyallahu ‘anhu (w. 19H), dan

(18)

Faktor yang mempengaruhi banyaknya periwayatan hadis dari masing-masing sahabat, minimal dipengaruhi oleh dua hal yaitu: (a) faktor ketika tahammul, dan (b) faktor ketika ada>. Faktor yang mempengaruhi ketika al-tahammul misalnya lamanya menyertai kehidupan Nabi SAW (lama masuk Islam), kemampuan menghafal, keahlian menulis/mencatat hadis, kesempatan waktu untuk menyertai Nabi, konsentrasi untuk menuntut ilmu, dan doa khusus oleh Nabi SAW. Sementara faktor ketika al-ada> antara lain kesempatan untuk membuka majlis ilmu, umur (lama hidup di tengah masa tabi’in), sikap pribadi terkait pembatasan periwayatan (taqli>l al-riwa>yah), kesibukan, kualitas dan kuantitas catatan dan hafalan, serta kuantitas dan kualitas para murid.

D. Diskursus tentang hukum mencatat hadis di era Rasulullah SAW

Polemik yang muncul berkaitan dengan hukum mencata hadis di masa Nabi SAW didasari adanya beberapa hadis yang kontradiktif antara melarang dan

membolehkan.Di antara hadis yang melarang adalah hadis dari Abu Sa’id al

-Khudry RA bahwa Nabi SAW bersabda:

َع اوُثِدَحَو ُهُحْمَيْلَ ف ِنآْرُقْلا َرْ يَغ يَِع َبَتَك ْنَمَو يَِع اوُبُتْكَت ََ

َلاَق يَلَع َبَذَك ْنَمَو َجَرَح َََو يِ

ِرا لا ْنِم َُدَعْقَم ْأوَ بَتَيْلَ ف اًدِمَعَ تُم َلاَق ُهُبِسْحَأ ٌمامَه

.

Janganlah kalian menulis dariku (selain al-Qur’an). Barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain al-Qur’an, hendaklah menghapusnya. Sampaikan hadis dariku dan tidak apa-apa. Barangsiapa yang berdusta atas namaku—Himam berkata, aku menyangka beliau bersabda—maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka. 69

Sementara hadis yang menunjukkan kebolehan adalah hadis dari Abu Hurairah RA:

ْنِم َناَك اَم َِإ يِِم ُهَْع اًثيِدَح َرَ ثْكَأ ٌدَحَأ َملَسَو ِهْيَلَع ُهللا ىلَص ِيِب لا ِباَحْصَأ ْنِم اَم

ِهللا ِدْبَع

ُبُتْكَأ َََو ُبُتْكَي َناَك ُهنِإَف وٍرْمَع ِنْب

70

Tidak ada seorang sahabat Nabi SAW pun yang lebih banyak hadisnya dari padaku selain Abdullah bin ‘Amr, karena dia menulis (hadis) sementara saya tidak menulis.

69 HR. Muslim Kitab al-Zuhd 3/ 2298

(19)

Juga hadis dari Abdullah bin Amr bin al-Ash RA: kemudian melarang saya melakukannya dan berkata: “Apakah kamu hendak menulis semua yang kamu dengar dari Rasulullah SAW padahal beliau (juga) seorang manusia yang bisa saja bersabda dalam keadaan marah atau senang. Maka akupun menahan diri (untuk tidak menulis) hingga aku menceritakan hal itu kepada Rasulullah SAW, kemudian sambil berisyarat menunjuk bibirnya, Beliau bersabda: “Tulislah, maka demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah keluar darinya

Tulislah untuk Abu Fulan (yaitu Abu Syah) 72

Sejalan dengan pendapat ‘Itr, bahwa keberadaan hadis-hadis baik yang menetapkan larangan mencatat hadis ataupun sebaliknya yang memberikan ijin, sama-sama valid, sehingga dari aspek thubu>t keduanya tidak diragukan kesahihannya.73 Yang menjadi masalah adalah bagaimana solusi dari ta’a>rud} z}ahi>ry dalam dua versi hadis tersebut.74

71 HR. Abu Dawud dalam Sunannya Kitab al-‘Ilm bab Kitabah al-‘Ilm no. 3629. 72Al-Bukhari.Al-Jami al-Sahih.Vol. 1, 56. Hadis nomor 112

73 Itr. Manhaj al-Naqd, 41. Muhammad Ajaj al-Khatib.menyebut 3 hadis tentang larangan

menulis hadis dan 8 hadis tentang ijin dan kebolehan menulis. Lihat Al-Sunnah Qabla al-Tadwin,

303-305

74Ta’a>rud} ada dua macam yaitu al-ta’a>rud}} al-h}aqi>qi>y (kontradiksi substansial) dan al-ta’a>

(20)

Di antara dalil yang dikemukakan oleh ulama yang menolak adanya

ta’a>rud haqiqy adalah:

1- Hadis Nabi juga wahyu (QS.35: 3-4). Sementara wahyu dari Allah telah dinegasikan dengan tegas adanya saling berkontradiksi dalam Surat al-Nisa’ ayat 82.

2- Adanya perintah mengembalikan urusan kepada Allah (al-Qur’an) dan kepada Rasul (sunnah) dalam menyelesaikan perselisihan masalah (QS,4: 59) akan percuma jika secara hakiki kedua sumber tersebut kontradiktif. 3- Jika terjadi ta’a>rud haqiqy antar sumber tashri’ maka implementasi dari

pembebanan syari’at menjadi di luar kemampuan manusia.

4- Ulama us}ul menetapkan metode tarjih dan nashk dalam masalah ta’a>rud} adillah. Jika benar ta’a>rud terjadi secara hakiki, maka metode tersebut tidak valid dan tidak perlu ada.

Idri mengkompilasikan beragam pendapat ulama untuk menjelaskan dua versi hadis yang tampak bertentangan tersebut, sebagai berikut:

a) Larangan menulis hadis terjadi pada periode permulaan, sedangkan izin penulisannya diberikan pada periode akhir kerasulan;

b) Larangan penulisan hadis itu ditujukan bagi orang yang kuat hafalannya dan tidak dapat menulis dengan baik, serta dikhawatirkan salah dan bercampur dengan al-Qur’an. Izin menulis hadis diberikan kepada orang yang pandai menulis dan tidak dikhawatirkan salah serta bercampur dengan al-Qur’an;

ta’a>rud} h}aqi>qy antara nash-nash yang sahih. Ta’a>rud} yang mungkin terjadi adalah pada dhohir masalah dalam teks dan pada pandangan (perspektif) mujtahid. Imam Syafi’i yang menolak

adanya pertentangan antara hukum-hukum Allah dan hukum-hukum Rasul-Nya beralasan bahwa semua hukum tersebut berjalan di atas satu konsep yang sama (mithal wahid). Ash-Shatiby yang juga menolak hal tersebut merujuk kepada keadaan masing-masing mujtahid yang tidak ma’sum

(terjaga) dari kesalahan dalam berpendapat sehingga muncul kemungkinan klaim ta’a>rud}

antardalil itu dalam perspektif mereka. Demikian pula penolakan Imam syafi’i, Ibnu Khuzaimah,

al-Qadi Abubakar al-Baqilany, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, dll. Lihat Ash-Shafi’i, Al-Risalah,

ed. Ahmad Shakir (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, ttp), 173, Sulaiman bin Muhammad al-Dabikhy. Ahadith al-Aqidah Allati Yuwham Z}ahiruha al-Ta’a>rud} fi> Sah{ih}ain; Dirasatun wa Tarjih (T{a>if: Maktabah Dar al-Bayan al-Hadithiyah, cet.1, 1422 H/2001 M ), 35-36, Nafiz Husain Hammad, Mukhtalaf al-Hadith baina al-Fuqaha wa al-Muhaddithin (al-Mashurah: Dar al-Wafa’,

cet. 1, 1414 H/1993 M), 26, Abdul Majid Muhammad Isma’il, Al-Suwsuh, Abdul Majid

Muhammad Isma’il. Manhaj al-Taufiq wa al-Tarjih Baina al-Mukhtalaf al-Hadith wa Atharuhu fi

(21)

c) Larangan itu ditujukan bagi orang yang kurang pandai menulis dikhawatirkan tulisannya keliru, sementara orang yang pandai menulis tidak dilarang menulis hadis;

d) Larangan menulis hadis dicabut (di-mansukh) oleh izin menulis hadis, karena tidak dikhawatirkan tercampurnya catatan hadis dengan al-Qur’an e) Larangan itu bersifat umum, sedangkan izin menulis hadis bersifat khusus

kepada para sahabat yang dijamin tidak akan mencampurkan catatan hadis dan catatan al-Qur’an.

f) Larangan ditujukan untuk kodifikasi formal sedangkan izin ditujukan untuk sekedar dalam bentuk catatan yang dipakai sendiri;

g) Larangan berlaku ketika wahyu masih turun, belum dihafal dan dicatat, Adapun ketika wahyu yang turun sudah hafal dan dicatat maka penulisan hadis diizinkan.75

Demikianlah, secara umum pendekatan yang ditawarkan oleh sejumlah ulama hadis adalah metode al-jam’u wa al-tawfiq (kompromi) dan metode na>sikh wa al-mansu>kh (abrogasi).76 Metode al-jam’u wa al-tawfiq dapat menggunakan perspektif ‘a>>m-khas}. Larangan penulisan bersifat umum kepada para sahabat yang mayoritas masih ummy, sementara ijin diberikan secara khusus kepada beberapa sahabat yang memiliki keahlian menulis dengan catatan yang cermat

dan teliti, seperti Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash.77 Interpretasi dengan perspektif

‘a>>m-khas} juga menjelaskan bahwa larangan ditujukan bila penulisan dilakukan

dalam catatan (sahifah) yang sama dengan al-Qur’an sementara kebolehan diberikan bila catatan dilakukan secara tersendiri. Hal ini untuk menghindari campur-baur (ikhtila>t}) dan kesamaran (shubhah) bagi yang membaca.

Adapun dengan metode naskh (abrogasi) sunnah dengan sunnah dimakna bahwa larangan sebagai ketentuan awal kemudian dibolehkan seiring dengan semakin besarnya kuantitas hadis sehingga semakin sulit terjaga jika mengandalkan hafalan saja.78 Al-Ramahurmudzi—mengutip ‘Itr—bahwa naskh

75 Idri, Studi Hadis (Jakarta: KencanaPrenada, 2010), 37-38

76Metode tarjih tidak ditempuh oleh para ulama hadis karena dari aspek thubut setara

validitasnya.

77Ibid. Manhaj, 41

(22)

terjadi karena masalah kesibukan dan fokus perhatian dalam penjagaan al-Qur’an diawal hijrah, kemudian diperbolehkan setelah bebas dari kekhawatiran tersebut.79

Walaupun demikian, pendekatan na>sikh-mansu>kh masih menyisakan persoalan karena kontroversi tersebut masih berlangsung di antara para sahabat

dan tabi’in setelah Nabi SAW wafat.80 Demikian pula sulit untuk memastikan

kronologis waktu sejarah penetapan larangan dan kebolehan dalam hadis yang kontradiktif tersebut.81

Oleh karena itu pendekatan yang paling tepat dalam masalah ini adalah

al-jam’u wa al-tawfiq (mengkompromikan).82 Dengan melihat bahwa masalah ini

bukan terkait dengan ubudiyah dan larangan penulisan itu bukanlah keharaman pada substansi perbuatannya. Jika larangan menulis bersifat substansial, maka tidak akan ada ijin dipihak lain untuk menulisnya. Oleh karena itu, larangan dan ijin bersifat kondisional berkaitan dengan faktor sebab (illat) tertentu. Sementara hukum itu yadu>ru ma’a illatihi wujudan wa ‘adaman. Menurut pendapat yang dipilih oleh ‘Itr sebabnya adalah kekhawatiran terhadap melemahnya perhatian dan konsentrasi kepada penjagaan dan periwayatan al-Qur’an.83A’zamy juga menguatkan sebab larangan pendapat ini dengan menyebut bahwa illat-nya adalah masalah iltibas catatan selain al-Qur’an dengan al-Qur’an. Agumennya adalah; (a) Adanya penulisan al-Qur’an dan hadis yang berlangsung dengan imla’ (dikte) dari Nabi. Aktivitas penulisan hadis berlangsung secara mutawa>tir di kalangan sahabat, seperti ketika Nabi meng-imla’-kan surat-surat dan dokumen administrasi kenegaraan. Ini menunjukkan bahwa larangan tidak bersifat umum untuk seluruh penulisan hadis, tetapi hanya bentuk peringatan untuk tidak menulis sesuatu bercampur dengan penulisan al-Quran seperti catatan berkaitan

79‘Itr, 42

80Menurut data yang disampaikan oleh A’zamy dari al-Khatib al-Baghdady, terdapat beberapa

sahabat yang tidak setuju dengan penulisan hadis, di antaranya; Abu Sa’id al-Khudry, Abdullah

bin Mas’ud, Abu Musa al-Ash’ary, Abu hurairah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin ‘Umar.

Sementara dari kalangan tabi’in tersebut nama; Abu al-‘Aliyah, Ibrahim al-Nakha’y, al-A’mashy,

Ibn Sirin. Lihat A’zamy. Dirasat, 74-75

81Penetapan waktu mana yang terlebih dahulu antara ketetapan larangan atau pembolehan masih

bersifat asumtif dan interpretatif dari kalangan ulama yang setuju dengan solusi nasikh-mansukh. Lihat Rishwan. Kitabah, 144

82Lihat ‘Itr, 43, A’zamy, 79

(23)

dengan tafsirnya agar tidak terjadi iltibas.(b) Adanya pembolehan pencatatan hadis oleh Nabi dalam sejumlah hadis sahih.84

Pendapat kedua pakar tersebut dapat dibenarkan melihat perbedaan ijtihad para sahabat dan ulama berikutnya dalam menetapkan adanya illat ini pada realitas (wa>qi’) setelah Rasul wafat. Para ulama yang tidak setuju penulisan apa saja selain al-Qur’an agar berkosentrasi sepenuhnya difokuskan kepada penulisan dan penjagaan Quran dan agar tidak terjadi percampuran teks

al-Qur’an dengan teks lainnya dalam catatan naskah yang sama.85Sementara bagi

ulama yang membolehkan juga tidak menolak alasan ini, namun mereka menempatkannya kekhawatiran ini secara proporsional dengan bersikap cermat, teliti dan hati-hati dalam pencatatan. A’zamy merujuk pendapat Khatib al -Baghdady bahwa alasan ketidaksetujuan penulisan hadis berdasarkan pandangan pribadi dan kondisi spesifik yang melatarbelakangi. Pada umumnya karena penjagaan orisinalitas catatan al-Quran.86

Pada masa Nabi, para sahabat mencatat untuk keperluan pribadi dan diwariskan kepada keluarganya serta tidak dipublikasikan secara umum. Setelah, masa kodifikasi al-Qur’an sukses dan telah menyebar secara massif, mulailah sahabat yang mencatat hadis mempublikasikan dan meriwayatkan hadis untuk umum.87

E. Bentuk dan Bukti Pencatatan hadis di Masa Nabi SAW

Pada masa Nabi SAW, metode pemeliharan atau penjagaan hadis (al-hifz}) yang dilakukan oleh sahabat dilakukan dengan tiga cara yaitu penjagaan secara hafalan (hifz} fi al-sudu>r) dan penjagaan secara tertulis (hifz} fi al-sutu>r) serta penjagaan secara praktik (hifz} fi al-tat}bi>q al-‘amaly).

Ketiga metode diatas saling menunjang dan saling menyempurnakan. Namun demikian, metode umum yang dipakai oleh mayoritas sahabat adalah dengan metode hafalan dan praktek. Namun demikian, para sahabat yang

84A’zamy, 79

85Rishwan.Kitabah, 146-147

86A’zamy. Dirasat., 83

(24)

menggunakan metode tulisan/catatan tidaklah sedikit.Menurut ‘Itr, jumlah para sahabat yang mencatat hadis jumlahnya mencapai status mutawatir.88 Namun, ‘Itr tidak merinci jumlahnya. Dalam penelitiannya, A’zamy menyampaikan data sebanyak 99 orang sahabat yang menulis hadis serta catatan hadis yang diriwayatkan dari mereka.89

Pencatatan hadis di masa Nabi SAW secara umum ada dua macam, yaitu: Pertama, pencatatan dibawah perintah Nabi yaitu berupa dokumen resmi dan formal kenegaraan seperti kontrak sosial wathi>qah), surat perjanjian

(al-mu’a>hadah), surat kenegaraan yang dikirim kepada raja-raja (al-risa>lah).90

Diantara contohnya adalah piagam Madinah (Wathi>qah al-Madi>nah) yang merupakan dokumen kenegaraan yang memuat aturan hubungan antarwarga negara di atas prinsip toleransi beragama dan kerjasama sosial. Piagam perjanjian dengan kaum Nasrani Najran Demikian pula tata aturan hukum pidana, keuangan negara, dll.91 Demikian pula catatan tentang khutbah Nabi saat Fath al-Makkah untuk salah seorang penduduk Yaman yang hadir yang bernama Abu Shah.92

Kedua, pencatatan berdasarkan ijin Nabi SAW. Diantara mereka yang mendapatkan ijin adalah;

(a) Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash (w. 63 H). Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash

adalah sahabat yang biasa menemani Rasulullah SAW karena beliau juga termasuk salah seorang pencatat wahyu (al-Qur’an). Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash meminta ijin kepada Rasulullah untuk menulis hadis dan Nabi

mengijinkannya. Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash menulis langsung

dihadapan Nabi setiap hadis yang didengarnya sehingga ditegur salah seorang tokoh tetapi setelah dikonfirmasi kepada Rasulullah, sikap

Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dibenarkan oleh beliau.93 Bahkan

88‘Itr.Manhaj al-Naqd, 40

89Lihat A’zamy. Dirasat, 92-142

90 Sebagaimana yang diteliti oleh Muhammad Hamidullah dalam Majmu’ah al-Watha’iq al

-Siyasiyah li al-‘Ahd al-Nabawy (Beirut: Dar Nafais, cet. 6, 1987), 57. Tarikh Tadwin al-Sunnah, 35. Itr.Manhaj al-Naqd, 47-48

91HR. Bukhari 1/449. Hadis no. 1454 mengenai aturan zakat di zaman Abubakar yang merujuk

ketentuan Rasulullah SAW. Demikian pula sahifah Amr bin Hazm yang memuat tentang aturan zakat yang dicatat saat beliau diutus Rasulullah SAW ke Yaman. Tarikh Tadwin, 37

92 HR. Al-Bukhari 1/56. Hadis nomor 112

93 Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash berkata: Kuntu aktubu kulla shai’in asma’uhu min Rasulillah

(25)

banyaknya catatan Ibn Amr bin al-Ash diakui oleh Abu Hurairah.94 Catatan hadis yang dikumpulkan oleh Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dikenal dengan nama al-Sahi>fah al-Sa>diqah.95

(b) ‘Ali bin Abi T{alib RA yang mendokumentasikan hadis dalam sah}i>fah

kecil yang berkaitan dengan masalah diyat dan tawanan perang.

(c) Sah}i>fah Sa’ad bin ‘Ubadah yang berisi tentang keputusan hukum yang ditetapkan saat bertugas di Yaman. Sebagaimana hal ini tersebut oleh al-Tirmidzi dalam sunannya.96

Adanya pemeliharaan hadis khususnya pencatatannya di masa Nabi SAW tersebut dapat dibuktikan dengan adanya riwayat-riwayat yang sahih dan penemuan manuskrip sahifah beberapa sahabat Nabi SAW. Beberapa argumen ilmiah dan bukti empiris eksistensi hadis di era wahyu dan pembentukan hadis (As}r al-Wahy wa al-Takwi>n) ini ditampilkan oleh para peneliti hadis kontemporer seperti A’zhamy, Mustafa al-Siba’I, Muhammad Hamidullah, dll untuk menjawab skeptisme para orientalis khususnya dan kelompok inkar al-sunnah pada umumnya.

kharaja minny illa> h}aqq”. HR.Abu Dawud hadis nomor 3646, Ahmad (2/162, 192, 207 dan 210), al-Darimy nomor 490, dll. Lihat takrij-nya dalam Tarikh Tadwin, 42

94HR. Bukhari 1/57. Hadis nomor 113. Abu Hurairah berkata: Ma min Ash}a>b al-Naby SAW

ah}adun akthar h}adi>than ‘anhu minny illa> ma> ka>na min ‘Abdillah bin ‘Amr, Fainnahu ka>na

yaktubu wa la aktubu.

95‘Itr. Manhaj, 45-46

(26)

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

1. Penerimaan, pemahaman, pengamalan dan periwayatan hadis oleh para sahabat sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW. Dalam konteks ini, Rasulullah memperhatikan banyak aspek dalam penyampaian hadis-hadisnya.

2. Interaksi para sahabat dengan Nabi SAW dalam melakukan talaqy hadis melalui beberapa macam cara antara lain al-musha>fahah wa al-sima’, al-Mushahadah dan al-tahamul bi al-wasitah. Ada banyak faktor yang memotivasi para sahabat untuk aktif dalam periwayatan hadis, di samping karena faktor kesadaran secara pribadi atas dasar motivasi religius, juga karena kekuatan targhib khusus dari Rasulullah SAW.

3. Kontradiksi tekstual hadis-hadis antara versi yang melarang penulisan hadis dengan yang mengijinkan dapat diselesaikan dengan metode al-nasikh wa al-mansukh dan al-jam’u wa al-tawfiq yang melahirkan beragam pendapat ulama.

4. Tidak sedikit para sahabat yang mencatat hadis pada masa Nabi SAW. Kuantitas periwayatan hadis oleh masing-masing sahabat berbeda-beda karena banyak factor yang mempengaruhi ketika proses al-tahammul wa al-ada’.

(27)

DAFTAR PUSTAKA

A’zamy. Dirasat fi al-Hadith al-Nabawy wa Tarikh Tadwi>nih (Beirut: al-Maktab

al-Islamy, 1400 H/1980M)

Abdul Ghoffar al-Rehmani.Pengantar Sejarah Tadwin (Pengumpulan) Hadis.“The Compilation of Hadeeth.Alih bahasa; Abu Salma bin Burhan

Yusuf al-Atsary (Malang: Maktabah Abu Salma) dalam

http://dear.to//abusalma.

Abdul Majid Muhammad Isma’il, Al-Suwsuh, Abdul Majid Muhammad Isma’il.

Manhaj al-Taufiq wa al-Tarjih Baina al-Mukhtalaf al-Hadith wa Atharuhu fi al-Fiqh al-Islamy (ttp: Dar al-Nafais, ttt)

Abu al-Qa>sim ‘Ali bin al-Hasan Ibn ‘Asa>kir (w. 571). Ta>rikh Dimasq. Vol. 67, Ed.Amr bin Gharamah al-Ma’ruf (Beirut : Dar al-Fikr, 1415 H/1995 M) Abu Dawud, Sulaiman bin al-Ash’ath bin Isha>q al-Azdy al-Sijasta>ny. Sunan Abu

Da>wud.Vol. 4. Ed. Muhammad Muhy al-Di>n ‘Abd al-H{ami>d (Beirut: al-Maktabah al-‘As{riyah, ttp)

Abu Syuhbah, Muhammad bin Muhammad. Al-Wasi>t} fi ‘Ulu>m wa Must}ola>h al -H{adi>th (Jeddah : ‘Alam al-Ma’rifah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 1, 1403 H/1983 M)

Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Vol. 39. Ed. Shu’aib al-Arnaut}, et.al (Beirut:Muassasah al-Risalah, Cet. 1, 1421 H/2001 M) al-Bukhari. Al-Jami’ As-Sahi>h.Vol. 1.ed. Muhibuddin al-Khatib (Kairo:

Al-Maktabah as-Salafiyah,Cet. 1, 1400 H)

Ash-Shafi’i, Al-Risalah, ed. Ahmad Shakir (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah,

ttp)

Hakim Ubaisan al-Mutairy. Tarikh Tadwin Sunnah wa Syubhah al-Mustasyriqin(Kuwait: Ja>mi’ah al-Kuwait, cet. 1, 2002 M),

Ibn Hajar al-Asqala>ny, al-Nukat ‘ala Kitab Ibn al-S{alah.. Vol. 2. Ed. Rabi>’ bin Ha>dy al-Madkhaly (Madinah: ‘Imadah al-Bahth al-‘Ilmy bi al-Ja>mi’ah al -Islamiyah, Cet. 1, 1404 H/1984 M)

Ibrahim bin Musa bin Ayyu>b al-Abna>sy. Al-Shadh al-Fiya>h min ‘Ulum Ibn S{alah.Vol. 2. Ed. S{ala>h Fathy Halal. (Beirut: Maktabah al-Rushd, Cet. 1, 1418 H)

Idri, Studi Hadis (Jakarta: Kencana Prenada, 2010)

Jalaluddin As-Suyuthi. Tadri>b al-Ro>wy fi Syarh taqri>b al-Nawawi>, Juz 1, (al-Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 1423 H)

(28)

Muhammad Ajaj al-Khatib. Al-Sunnah Qabla al-Tadwin, 295 dan Rishwan Abu Zaid Mahmud. Kitabah al-Hadith al-Sharif fi Ahdy al-Nabi SAW (Kairo: Dar al-Bas}air, cet. 1, 2008M)

Muhammad bin Hiban bin Ahmad,Abu Hatim al-Bustiy (w. 354 H). Masha>hir ‘Ulama>’ al-Ams}a>r wa A’la>m Fuqaha>’ al-Aqt}a>r. Ed. Marzuq ‘Ali Ibra>hi>m (al-Mans}urah: Darl-Wafa’, Cet.1, 1411 H/1991 M)

Muhammad bin Isa At-Tirmidzi. Sunan Al-Tirmi>dzi>, Juz 5, ed. Ahmad

Muhammad Syakir, dkk. (Beirut: Dar Ihya’ Al-Turats al-‘Araby, tanpa

tahun)

Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, Al-Wasi>t} fi ‘Ulu>m wa Must}ola>h al -H{adi>th (Jeddah : ‘Alam al-Ma’rifah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 1, 1403 H/1983 M)

Muhammad Hamidullah dalam Majmu’ah al-Watha’iq al-Siyasiyah li al-‘Ahd al -Nabawy (Beirut: Dar al-Nafais, cet. 6, 1987)

Muhammad Muhammad Abu Zahwu, Al-H{adi>th wa al-Muh{addithu>n (Riyadh:

Al-Ri’asah al-‘Ammah li Idarat al-Buhuts al-‘Ilmiyah wal Ifta’ wa al

-Da’wah wa al-Iryad, 1404 H/1984 M)

Muslim bin al-Haja>j Abu al-Hasan al-Qushairi al-Naisa>bu>ry. Al-Musnad al-Sah}i>h al-Mukhtas}ar bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl ila> Rasul Allah S{alla> Allah ‘alaih wa Sallam.Vol. 4.Ed. Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Ba>qy.(Beirut: Dar Ihya>’ al-Turath al-‘Araby, ttp)

Muslim bin al-Hajja>j al-Qushairy al-Naisa>bu>ry, al-Musnad al-S{ahi>h al-Mukhtas}ar atau Sahih Muslim. Vol. 3. Ed.Muhammad Fu’ad Abd al-Ba>qy (Beirut:

Dar Ihya>’ al-Turath al-‘Araby, tth)

Mustafa al-Siba’I. Al-Sunnah wa Makanatuha fi tashri’ al-Islamy (Beirut: al-Maktab al-Islamy, cet.3, 1402 H/1982 M)

Nafiz Husain Hammad, Mukhtalaf al-Hadith baina al-Fuqaha wa al-Muhaddithin (al-Mashurah: Dar al-Wafa’, cet. 1, 1414 H/1993 M)

Nuruddin ‘Itr, Manh}aj al-Naqd fi ‘Ulu>m al-h}adith (Damaskus : Dar al-Fikr, Cet.

3, 1418 H/1997 M)

Rabi’ bin Hady al-Madkhaly, Hujjiyah Khabar al-Ahad fi al-Aqaid wa al-Ahkam

(Kairo: Dar al-Minhaj, cet. 1, 2005 M)

Subhi al-S{a>lih.Ulum al-Hadith wa Must}alahuhu; ‘Ard{un wa Dirasatun (Libanon:

Matba’ah al-‘Ulum, ttt)

Sulaiman bin Ahmad al-Thobary. Musnad Al-Samiyin. Juz 1, ed. Hamdy bin Abdul Majid as-Salafy (Beirut: Muassasah ar-Risalah, Cet. 1, 1405 H/1984 M)

(29)

Referensi

Dokumen terkait

Kenyataan tersebut tidaksepenuhnya menjustis bahwa pada masa Rasulullah tidak ada satupun hadis yang didokumentasikan oleh para sahabat.Meskipun beberapa sahabat memilih

Menurut al-Turmizi bahwa hadis bukan hanya yang disandarkan kepada Nabi (marfu’), melainkan bisa juga yang disandarkan kepada para sahabat (mauquf) dan yang

Jadi, kodifikasi hadis adalah penulisan, peng- himpunan, dan pembukuan hadis Nabi Mu- hammad SAW yang dilakukan atas perintah resmi dari khalifah Umar ibn Abd al-Aziz,

Jadi, hadis-hadis dari para imam tetap bersambung kepada Nabi Saw. Jalan hidup yang ditempuh oleh para imam telah menjadi mata-rantai penghubung

Bab ini menjelaskan tentang keadaan Hadis sebelum Khalifah Umar Bin Abdul Aziz berkuasa, yaitu keadaan hadis pada masa Rasulullah SAW, pada masa para sahabat

Jadi, hadis-hadis dari para imam tetap bersambung kepada Nabi Saw. Jalan hidup yang ditempuh oleh para imam telah menjadi mata-rantai penghubung yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Kualitas hadis tentang pola menurut hadis Nabi saw. adalah s}ah}i@ h}, 2) Pemahaman hadis tentang pola makan adalah makanan yang

Hal ini bukan berarti mereka melanggar akan larangan Rasul tentang penulisan hadis, namun karena memang ada riwayat lain yang menyatakan bahwa Rasul mengizinkan para sahabat untuk