POSMODERNISME DAN MASA DEPAN HUMANIORA
Manneke Budiman Universitas Indonesia [email protected]
Tulisan pendek ini adalah refleksi intelektual saya atas posmodernisme sebagai teori dan metodologi yang berdampak sangat besar dalam ilmu-ilmu humaniora dewasa ini. Gagasan-gagasan yang ditelurkan dalam lingkup posmodernisme mencengangkan dan telah menggoyahkan pondasi banyak disiplin keilmuan, khususnya di bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, tetapi posmodernisme juga menyisakan banyak kegelisahan terkait apa kemudian terjadi dengan nasib ‘ilmu-ilmu’ dan ‘pengetahuan’ sebagai sarana-sarana untuk memahami realitas. Terlebih lagi, apakah merasuknya posmodernisme di mana-mana itu juga menjadi isyarat bagi akhir kehidupan humaniora sebagai ilmu yang mencoba menjelaskan manusia sebagai makhluk sosial dengan segala tindak serta perilakunya.
Dalam kerja akademik saya, saya dapati posmodernisme telah membukakan banyak pintu kemungkinan untuk mengerti dengan cara-cara berbeda yang segar dan tak terbayangkan sebelumnya. Dunia semenjak posmodernisme tidak lagi diimajinasikan dengan cara yang sama dalam benak kita. Kita ibarat memandang realitas dengan cara melampaui materialitasnya, seperti memandang suatu objek secara tembus pandang, hingga ke apa yang ada di balik objek itu untuk menemukan sesuatu yang berbeda. Ini hanya dapat terjadi apabila kacamata yang dipakai betul-betul menyajikan sesuatu yang baru dan radikal. Oleh sebab itu, pada awal pertumbuhannya, posmodernisme memang menjanjikan suatu perubahan cara pandang yang bisa dikatakan ‘revolusioner’.1
Kendati demikian, sulit dibantah bahwa kegamangan kita dalam berinteraksi dengan realitas sebagai akibat kehadiran posmodernisme menjadi suatu kegamangan berkepanjangan dan tak diketahui obatnya. Materialitas dari realitas hidup kita adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari pengalaman inderawi serta biologis kita, tetapi posmodernisme melakukan tekstualisasi atas materialitas itu, atau menjadikannya sebagai diskursus, dan keduanya ini dibangun pertama-tama di atas basis bahasa, yang memediasi kita dengan realitas. Secara gagasan, hal ini tentu saja mungkin untuk dibayangkan, tetapi pada tataran guna, manfaat apa
yang dapat diambil dari pemikiran yang mengandung potensi radikal namun dadam prosesnya berujung pada jalan buntu ini?
Seperti telah ditunjukkan oleh banyak orang, istilah posmodernisme kini sudah merambah banyak aspek dan maknanya pun bisa bermacam-macam seturut konteks kemunculannya. Apa sebab? Sebelum pemikiran posmodernis lahir, paradigma modernis telah berurat akar secara mendalam dalam dunia pemikiran serta praktik-praktik sosial. Modernisme didirikan di atas tiang-tiang utama yang solid: rasionalisme (yang meliputi objektivisme dan positivisme), linearitas (kemajuan), dan universalisme (dalil-dalil umum tentang fenomena). Manusia modern memiliki kepercayaan diri amat kuat pada kemampuannya sendiri untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan akibat berpegang pada prinsip-prinsip dasar ini. Mereka percaya bahwa objektivitas dapat dicapai karena selalu ada totalitas makna (dan mungkin juga semacam ‘tujuan’) di balik segala sesuatu; bahwa sejarah selalu bergerak ke depan, selaras dengan ‘kodrat’ manusia untuk menemukan hakikat dan rahasia hidupnya sendiri; dan bahwa ada prinsip-prinsip alami yang dimiliki bersama oleh semua orang, meskipun etnisitas, ras, kebangsaan, dan geografi membuat mereka berbeda-beda dalam banyak hal.
Memang, tiang-tiang utama penyangga hidup manusia modern ini terbukti telah turut mengubah wajah dunia: dari penjelajahan samudra, penemuan-penemuan iptek, humanisme dan pencerahan, sampai kebangkitan sentimen nasional, anti-kolonialisme, dan semangat untuk mengubah serta membangun di semua bidang. Modernisme percaya pada totalitas dalam segala yang dikerjakan, dan bahwa setiap produk pikiran serta tangan manusia pada hakikatnya membuat martabat manusia menjadi lebih mulia. Namun, modernisme juga menolak hal-hal yang dipandangnya mengancam peradaban manusia atau bisa menjatuhkan martabat manusia dan hilangnya kemanusiaan. Sikap tanpa kompromi dan hitam-putih dalam menyikapi berbagai ihwal kehidupan ini mau tidak mau membuat modernism harus mempercayai adanya pengetahuan yang absah dan kebenaran yang ultimat. Tanpa itu, modernisme mustahil bisa mengambil posisi tegas.
sebagai sekumpulan besar manusia yang tidak memiliki cukup daya kritis untuk dapat menyepakati apa yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Salah satu kritik posmodernis terhadap kesenian dan kesusastraan modernis adalah bahwa, dengan bersikap demikian, seni dan sastra hasil karya mereka akan selalu bersifat marjinal dan tidak pernah bisa efektif dalam mengubah atau membentuk masyarakatnya. Sementara itu, terjangan arus kebudayaan massa yang dinilai rendahan terus terjadi tanpa bendungan yang cukup kuat untuk menahannya. Dengan kata lain, modernisme dinilai telah gagal dalam mewujudkan impian perubahan sosial.
Selain itu, modernisme juga dituduh tidak menyadari kontradiksi-kontradiksi internalnya sendiri sehingga mudah menjelma menjadi suatu kekuatan destruktif. Imperialisme, kolonialisme, dominasi, ketimpangan sosial yang menyebabkan lahirnya jurang antara kaya dan miskin, adalah sebagian hal negatif yang ditudingkan orang kepada modernisme. Prinsip bahwa untuk membangun sesuatu yang sungguh-sungguh baru haruslah melalui penghancuran atas segala sesuatu yang lama, yang dalam praktiknya kerap dimanifestasikan dalam program-program developmentalisme, telah menimbulkan kehancuran sosial di banyak tempat dengan kerugian jiwa manusia yang tidak sedikit.
Bahkan, kritikus marxis Terry Eagleton tanpa sungkan menuduh posmodernisme sebagai strategi baru kaum liberal untuk membungkam daya kritis.2 Dengan tidak memberikan jalan
keluar bagi kebuntuan relasi antara pengetahuan/kebenaran dan realitas, posmodernisme secara diam-diam berniat mematikan semangat perlawanan dengan dalih bahwa sistem yang hendak dilawan sesungguhnya hanya seolah-olah sebuah sistem namun tak sungguh-sungguh ada. Eagleton secara tak langsung menyerang Derrida, yang menjelaskan sebab-musabab kekalahan gerakan perlawanan mahasiswa Prancis pada 1968 dengan dalih itu.
Secara umum, ada dua arus dominan dalam posmodernisme, khususnya di bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora: yang pertama adalah kelompok yang dianggap cukup ekstrem dari segi curah pemikirannya, yaitu pertama, kelompok yang berpatokan pada bahasa dan menganggap tidak ada hal apapun di luar teks. Karena bahasa adalah satu-satunya akses kita ke realitas, maka segala sesuatunya adalah teks atau terstruktur seperti teks. Dua sosok terkemuka yang dapat dikategorikan dalam kelompok ini adalah Jacques Derrida, penelur teori dekonstruksi, dan Jacques Lacan, yang menerapkan pascastrukturalisme dalam psikoanalisis.
Sementara itu, kelompok yang lebih luwes dalam memahami posmodernisme dan mencoba menggunakannya dalam kajian atas berbagai fenomena sosial, yang khususnya diwakili oleh Michel Foucault dan Jean-François Lyotard, yang tetap menempatkan bahasa pada posisi
tak kalah penting, namun juga tertarik untuk menggali hubungan-hubungan yang mungkin terbentuk antara bahasa di satu pihak dan praktik sosial di lain pihak sebagai unsur-unsur pembentuk diskursus. Bagaimana realitas dikonstruksi, dan bagaimana konstruksi realitas tersebut dikukuhkan serta diterima sebagai ‘kebenaran’. Sebaliknya, Derrida dan Lacan sama sekali tidak menganggap realitas sebagai sesuatu yang relevan untuk dipertimbangkan, serta menolak sepenuhnya untuk membicrakannya dalam teori-teori mereka.
Dalam peta teoritis imu-ilmu sosial dan humaniora, posmodernisme ditempatkan secara berseberangan dari teori-teori kritis, khususnya yang dikembangkan oleh kelompok Frankfurt sebelum Perang Dunia II, yang mencoba menerapkan teori ekonomi marxis dalam kajian-kajian kritis atas kebudayaan. Bila teori-teori kritis sangat berhasrat untuk mencari terobosan bagi dualisme antara teori dan praksis dalam kajian-kajian kebudayaan, posmodernisme dengan sengaja justru hendak memutuskan sama sekali hubungan antara keduanya.
Bila teori-teori kritis berpendapat bahwa kebudayan telah gagal menjadikan kehidupan menjadi indah, posmodernisme mempertanyakan konsep keindahan, yang sepertinya dipakai begitu saja tanpa sikap kritis oleh para pemikir Frankfurt sebagai sesuatu yang identik dengan estetika. Padahal, estetika itu sendiri sebagai sebuah bangunan atau sistem pengetahuan harus digugat kerangka logikanya. Pemahaman salah kaprah kelompok Frankfurt atas apa yang sedang terjadi dengan kebudayaan menjelang berkuasanya fasisme di Eropa membuat mereka terjebak tanpa jalan keluar di antara dua setan yang sama-sama jahat, yaitu fasisme dan komunisme.3
Jika kecurigaan Eagleton terhadap posmodernisme dianggap masuk akal, mungkinkah posmodernisme memang adalah perwujudan ideal dari liberalisme, yang mengail keuntungan dari tindak saling menghancurkan antara fasisme dan komunisme? Seperti apa yang dituduhkan pada posmodernisme, yakni ekspresi kekritisan yang di bawah permukaannya menyembunyikan ketidaksukaan terhadap sikap kritis serta berkehendak mengekalkan status quo, liberalisme memberikan kebebasan dan kepercayaan kepada manusia untuk melakukan segala sesuatu, sehingga kebebasan itu pada akhirnya mati dengan sendirinya karena tidak lagi relevan untuk disikapi secara serius, apalagi diperjuangkan mati-matian. Manusia seakan-akan memiliki pilihan tanpa batas, tetapi sesungguhnya pilihan-pilihan itu didiktekan atas dirinya, dan ia sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk memilih dalam arti yang sejati. Itu adalah sebentuk kebebasan
yang digunakan sebagai kedok bagi represi. Pemikir marxis Fredric Jameson menyebut gejala ini sebagai bagian dari “logika budaya kapitalisme mutakhir”.4
Yang dijadikan sasaran kegusaran Eagleton, Jameson, dan kritikus marxis lain dalam hal ini adalah posmodernisme ekstrem yang diwujudkan oleh postrukturalisme. Tokoh posmodernis lain, seperti Foucault, misalnya, sebetulnya memiliki beberapa kemiripan ide dasar dengan para teoritikus marxis. Konsep diskursus atau wacana yang ditelurkan Foucault, dalam banyak aspek pentingnya, masih dapat ditelusuri jejak-jejaknya dalam gagasan marxis tentang ideologi (sebagai “kesadaran palsu”), dan ide Foucault tentang wacana dominan yang berhasil menciptakan ‘efek kebenaran’ menyisakan gaung ide marxis tentang hegemoni yang pernah dicetuskan Gramsci. Tentu saja, kita bisa berdebat dan menemukan banyak perbedaan, tetapi paralelisme pemikiran dan kemungkinan konvergensi antara kedua kutub yang tampaknya bersebererangan itu terlalu nyata untuk dipungkiri.
Foucault tidak sedeterministik kaum marxis dalam menyikapi relasi antara ideologi dan subjeknya karena, bagi Foucault, subjek terletak di dalam wacana, bukan di luarnya. Sementara itu, bagi teoritikus marxis seperti Althusser, subjek senantiasa dicoba untuk ditarik ke dalam medan pengaruh ideologi. Ironisnya, pemikir seperti Althusser tidak percaya bahwa manusia bisa sepenuhnya terlepas dari kendali ideologi, sedangkan Foucault justru berbicara tentang bagaimana suatu wacana terbentuk dan berubah dalam kerangka historis. Subjek dalam wacana tidak dinafikan peranannya dalam perubahan wacana, walaupun hal ini tidak banyak dikupas oleh Foucault.
Bagi postrukturalis seperti Lacan, subjek adalah apa yang terperangkap di dalam ranah simbolik dan tak dapat mundur dari situ ataupun keluar dari situ tanpa berisiko mengalami neurosis atau psikosis. Subjek menjadi petanda yang terus menggelincir di atas rantai pemaknaan, mengira pada suatu titik di masa depan ia akan dapat bersatu dengan petandanya. Selama subjek masih memiliki ilusi semacam ini, justru ia masih masuk dalam kategori waras. Para teoritikus marxis akan segera menangkap ini sebagai apa yang dalam skema pemikiran mereka disebut dengan subjek yang terinterpelasi atau terhegemoni oleh ideologi. Dengan cara agak longgar, kita pun dapat menemukan kemiripannya dengan konsepsi subjek-dalam-wacana yang digagas Foucault. Namun, seperti saya sebutkan di atas, postrukturalis seperti Lacan tidak akan peduli dengan relasi antara subjek dan hal apapun di luar dirinya sebab bahkan psike si
subjek pun sudah terstruktur dan beroperasi seperti teks atau, dengan kata lain, telah dibentuk oleh ranah simbolik yang tidak dapat dihindarinya kecuali jika ia bersiap menerima kegilaan.
Berbagai pernyataan dan argumentasi postmodern ini, selain menjadi sumber perseteruan dengan kubu marxisme, juga kerap dinilai sebagai penyebab merebaknya konstruktivisme sosial, yang kini telah menemukan pijakan cukup ajeg dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Konstruktivisme sosial membawa perubahan besar-besaran dalam cara ilmu pengetahuan memahami realitas sosial. Kebudayaan tidak lagi diartikan sebagai pola-pola makna yang diwariskan secara historis lewat berbagai ekspresi simbolik dan digunakan manusia untuk melestarikan dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang kehidupan, sebagaimana pernah dirumuskan oleh Clifford Geertz,5 melainkan sebagai ajang konstruksi dan kontestasi
makna-makna yang tidak pernah berhenti ataupun selesai.
Realitas sosial kita, dengan demikian adalah sebuah bangunan kenyataan yang ada bukan karena sebab-sebab alami tetapi sebagai hasil rekayasa suatu kekuasaan, yang kemudian kita alami dan jalani sebagai ‘kenyataan hidup’. Pengertian baru atas karakteristik realitas ini terutama tumbuh pesat pada 1970an dan 1980an. Sejak itu, subur bermunculan kajian-kajian baru yang sebelumnya tidak berkembang atau tidak dipandang penting, seperti seksualitas manusia, identitas gender, kritik atas imperialisme kultural, serta kajian atas pengalaman sehari-hari yang tampak banal.
Secara keseluruhan, konstruktivisme sosial ini menolak keyakinan bahwa kita mampu memahami sesuatu tentang kehidupan tanpa dipengaruhi oleh opini dan prasangka sosial. Akibatnya, mustahil bagi kita untuk dapat membuat klaim-klaim atas kebenaran. Di mata mereka yang khawatir akan ancaman posmodernisme, gejala ini dilihat sebagai kian melebarnya jurang antara teori dan praksis, yang dulu dengan sekuat tenaga hendak dipersempit, atau bahkan jika bisa dijembatani, oleh para pemikir Frankfurt. Para praktisi humaniora pun kian mengalami kesulitan untuk dapat menjelaskan apa yang sedang mereka tekuni kepada orang luar atau orang awam. Sebagian kritikus bahkan mengaitkan perkembangan ini dengan makin surutnya minat orang untuk belajar humaniora serta makin kecilnya anggaran yang dialokasikan untuk bidang-bidang humaniora di perguruan tinggi. Pada tataran kebijakan, masukan-masukan para praktisi humaniora tidak lagi diperhitungkan secara serius karena dinilai terlalu terperangkap dalam hutan rimba intelektual yang terlalu rumit untuk dapat dengan segera diterjemahkan ke tataran aksi.
Di dalam wujudnya yang paling ekstrem, pernyataan-pernyataan yang dirumuskan oleh para praktisi humaniora tidak lagi dikenali sebagai berbasis ilmiah tetapi lebih sarat dengan nuansa etis dan politis yang dikemas seolah-olah ilmiah. Pernyataan-pernyataan itu tak jarang mengandung kontradiksi yang cukup kentara, tetapi yang dalam skema konstruktivisme sosial malah dipahami sebagai bersifat emansipatoris. Edward Slingerland, seorang kritikus posmodernisme lain, mengambil sebuah contoh pernyataan yang dibuat oleh Roland Barthes tentang menulis, yakni: “Menulis sama sekali bukanlah sarana untuk berkomunikasi.” Slingerland beranggapan pernyataan ini berkontradiksi dengan dirinya sendiri, dan menjadi sulit untuk membedakan apa yang disebut dengan permainan diskursif dari masturbasi intelektual.6
Pernyataan-pernyataan yang tidak koheren seperti inilah yang sering kali disajikan sebagai suatu ‘praktik pembebasan’ (dari relasi kuasa yang membelenggu struktur suatu wacana). Namun, menurut Slingerland, persoalannya adalah bagaimana tujuan pembebasan itu bisa dipertahankan jikalau pada saat bersamaan dilakukan penyangkalan terhadap kemungkinan untuk memahami apapun? Siapa yang akan meladeni kita secara serius? Humaniora, tanpa disadari, makin tenggelam dalam keasyikan mengutak-atik bentuk secara pedantik serta kecanduan permainan imajinasi dan bahasa yang tak berbatas.
Pada kesempatan lain, saya pernah mengemukakan bahwa, bagaimanapun juga, ilmu sosial dan humaniora adalah kajian tentang manusia, dan tantangan yang dihadapi ilmu-ilmu ini adalah bagaimana pengetahuan yang dihasilkannya mampu turut mengubah realitas sosial yang timpang dan tak berkeadilan menjadi realitas yang lebih memasukkan kelompok-kelompok marjinal di dalamnya. Posmodernisme dalam wujudnya yang esktrem mereduksi manusia menjadi teks, dan ini adalah persoalan sangat serius. Bukan hanya humaniora yang terancam kehilangan hakikatnya sebagai ilmu tentang kehidupan, tetapi para praktisi dan ilmuwannya pun terancam menjadi “anti-humanis”, kehilangan empatinya pada manusia dalam materialitas kehidupan sehari-hari yang konkret.7 Namun, tantangan terhadap ilmu-ilmu sosial
dan humaniora yang terlalu kental dipengaruhi oleh posmodernisme juga datang dari bidang-bidang ilmu lain dalam teritori ilmu dasar. Temuan-temuan empirik dan berbasis eksperimentasi laboratorium atas tubuh manusia dalam neurosains, psikologi kognitif, dan biologi evolusioner
6 Lihat Edward Slingerland, What Science Offers the Humanities: Integrating Body and Culture (New York: Cambridge University Press, 2008).
secara langsung menghadirkan gugatan terhadap premis-premis tentang tubuh, seksualitas, kesadaran, dan jiwa yang dibuat dalam ranah ilmu-ilmu sosial dan humaniora berbasis posmodernisme.
Ini semua membuat keabsahan dalil-dalil tentang manusia dan perilakunya dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora kian tajam dipertanyakan. Walaupun kita tidak ingin kembali ke masa ketika positivisme mendominasi ilmu-ilmu sosial dan humaniora, yang berbasis pada asumsi umum bahwa kita selalu dapat menemukan pola-pola umum yang secara berulang muncul dan menjadi prinsip dasar bagi pemahaman kita akan subjek kajian kita, kita juga tidak ingin ilmu-ilmu sosial dan humaniora tergiring hingga sebegitu jauh dari hubungannya dengan ilmu-ilmu-ilmu-ilmu dasar. Temuan-temuan ilmu-ilmu dasar tidak dapat diabaikan begitu saja seolah-olah tak ada atau tak penting.
Apakah seksualitas adalah suatu pilihan, dan apakah pilihan itu bersifat politis, seperti kerap didengungkan oleh studi-studi gender berbasis konstruktivisme sosial, suka tidak suka harus dapat diuji dengan merujuk pada apa yang ditemukan oleh ilmu-ilmu dasar seperti neurosains tentang otak manusia dan cara kerjanya. Atau, apakah betul tidak ada perbedaan genetik di antara ras-ras manusia dan bahwa ras adalah pertama-tama persoalan konstruksi lebih daripada biologi. Diperlukan semacam “integrasi vertikal” antara ilmu-ilmu sosial dan humaniora dengan ilmu-ilmu dasar.8 Tujuannya bukan untuk mengembalikan positivism, tetapi
agar ilmu-ilmu sosial dan humaniora tidak tercerabut dari realitas tentang manusia yang semestinya menjadi subjek utama kajiannya—sesuatu yang oleh posmodernisme disisihkan dan dipandang tidak relevan untuk dibahas.
Dalil bahwa realitas adalah konstruksi sosial, dan segala sesuatu bisa direduksi menjadi teks, telah memberikan keleluasaan dan kebebasan berimajinasi kepada ilmu-ilmu sosial dan humaniora, tetapi ketika hal itu menjadi absolut dan mendikte keseluruhan kerangka pikir ilmu-ilmu tersebut, maka harga yang harus dibayar sangat tinggi, yaitu ilmu-ilmu-ilmu-ilmu sosial dan humaniora kehilangan relevansinya di dunia nyata, tenggelam di dalam keasyikan permainan bahasa dan wacana. Kemunculan cultural studies dalam kancah ilmu-ilmu sosial dan humaniora sempat mencoba mengembalikan ilmu-ilmu itu pada ‘khitah’-nya, yakni perubahan sosial, dengan cara mengawin-paksakan teori-teori marxis dan posmodern.
Lewat posmodernisme kemapanan dan status quo digoyahkan, dan lewat marxisme jembatan antara teori dan praksis coba dibangun kembali. Dalam proses pertumbuhannya, cultural studies memperlihatkan kecenderungan berbeda-beda di berbagai tempat, dan ada kalanya unsur posmodernis menjadi terlalu kuat pengaruhnya, sehingga kajian-kajiannya khas diwarnai oleh kepadatan berlebihan, ketidakmampuan untuk dipahami, serta kegenitan berteori. Ini semua seakan untuk mengompensasikan absennya dimensi historis dalam kajian-kajian tersebut. Cultural studies yang berfokus pada kontemporaritas secara berlebihan sehingga menjadi ahistoris sebagai akibat bingkai pemikiran posmodernis yang diterapkan di dalamnya akhirnya mengalami problem relevansi yang sama dan tercerabut dari kondisi nyata kehidupan.