PEREMPUAN & ANAK
Kelompok 7 :
1.Eric Nathanael (1406577966) 2.Haryogi M. Bangkit
3.Isnah Ayu Annisa
4.M. Dhimas Judanto (1406579044) 5.Nabila Ayu Larasati (1406609091) 6.Nilna Fakhri
7.Nurlaeliyah (1406608901)
8.Putri Rachelia Azzura (1406608984) 9.Settyas Tedy A. (1406609066)
Kedudukan Perempuan pada
Masa Kolonial
Pada masa ini perempuan tidak mendapat
pendidikan yang layak karena pendidikan hanya untuk kalangan elit dan dikhususkan untuk laki-laki
Perempuan hanya boleh melakukan kegiatan
rumah tangga
Pergerakan emansipasi wanita dipelopori oleh R.A.
Kartini dan Dewi Sartika yang bertujuan adanya persamaan derajat antara pria dan wanita melalui pendidikan
Pada tahun 1912 di bentuk organisasi Putri
Kedudukan Anak pada Masa
Kolonial
Pendidikan
Untuk mengatur pendidikan keluarlah
indisch staatsblad nomor 125 yang
membagi sekolah bumi putra menjadi dua
Sekolah kelas 1 untuk anak priyayi dan
kaum terkemuka, bahasa pengantar belanda
Sekolah kelas 2 untuk rakyat jelata, bahasa
Kedudukan Perempuan pada
Masa Jepang
Fujinkai
Didirikan oleh Pemerintah Kolonial Jepang
pada 3 November 1943 di pimpin oleh Ny.Abdurrahman.
Fujinkai tidak menjangkau perempuan dari
golongan rendah baik di desa maupun di kota.
Sehingga keanggotaanya hanya para istri
Tugas Pokok Fujinkai
Tugas Pokok Fujinkai
Membantu kegiatan garis depan dan
memperkuat garis belakang
Palang Merah
Latihan penggunaan senjata
Jugun Ianfu
Jugun Ianfu
Kebijakan ini diberlakukan oleh
pemerintah Jepang karena kebutuhan
akan “hiburan”
Sebelumnya hal ini telah dilakukan
secara paksa terhadap perempuan Cina
dan Korea, juga perempuan jepang
Kedudukan Anak pada Masa
Jepang
Kedudukan Anak pada Masa
Jepang
Pendidikan
Dimana anak-anak disekolahkan namun hanya
untuk keperluan perang
Latihan perang
Kedudukan Perempuan
pada Masa Sekarang
Kedudukan Perempuan
pada Masa Sekarang
Pada masa sekarang kedudukan perempuan
sederajat dengan laki-laki, dimana sekarang
perempuan berhak atas pendidikan dan berkarya
sebagaimana laki-laki
Perempuan juga berhak memilih dan dipilih
dalam pemilu
Perempuan
dalam Hukum
Wanita sebagaiwarga negara maupun sumber daya insani
mempunyai
kedudukan hak dan kewajiban serta
kesempatan yang sama dengan pria untuk berperan dalam
Perkembangan Wanita dalam
Hukum
Pada abad petengahan
sampai dengan permulaan abad ke – 9, kaum wanita di dunia tidak mendapat
kedudukan, hak yang layak yang dilindungi oleh undang-undang dan hukum. Dimana kaum wanita disamakan
dengan barang-barang yang hanya milik kaum lelaki.
Nyatalah bahwa wanita sebagai warga negara, sebagai ibu atau sebagai istri pada hakikatnya
mempunyai peranan penting yang saling
Ketimpangan dalam Hukum
Relasi sejajar antara perempuan dan
laki-laki atau perempuan dengan negara
masih lekat dengan ketimpangan.
Tiga kebijakan atau perundang-undangan
yang menjadi bukti nyata krontrol negara
atas tubuh perempuan, di antaranya
Undang-undang Perkawinan, RUU
Perempuan dalam Hukum
Islam
Keseimbangan
kedudukan suami istri itu tidak terbatas
dalam rumah tangga saja, akan tetapi dalam hubungan masyarakat
Pasal 31 ayat 1 UU
No.1/1974
Suami istri memikul
kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang
sakinah, mawadah, dan rahmah yang menjadi sendi dasardari
susunan masyarakat
(Pasal 77 ayat 1 Buku 1 Hukum Perkawinan
Perempuan dalam hukum
Adat
“Sesudah 2010 wanita Bali berhak atas warisan berdasarkan Keputusan Pesamuan Agung III
MUDP Bali No. 01/Kep/PSM-3MDP Bali/X/2010, 15 Oktober 2010. Di SK ini, wanita Bali
menerima setengah dari hak waris purusa setelah dipotong 1/3 untuk harta pusaka dan kepentingan pelestarian. Hanya jika kaum wanita Bali yang pindah ke agama lain, mereka tak berhak atas hak waris. Jika
Pasal 1(butir 1)
ANAK
adalah
SESEORANG YANG BELUM BERUSIA
18(DELAPAN BE-LAS) TAHUN,
TERMASUK ANAK YANG MASIH DALAM
KANDUNGAN
Pasal 1 (butir 2)
PERLINDUNGAN ANAK adalah
SEGALA KEGIATAN UNTUK MENJAMIN
DAN MELINDUNGI ANAK DAN
HAK-HAKNYA AGAR DAPAT HIDUP, TUMBUH,
BERKEMBANG,
DAN
BERPARTISIPASI,
SECARA
OPTIMAL
SESUAI
DENGAN
HARKAT DAN MARTABAT KEMANUSIAAN,
SERTA MENDAPAT PERLINDUNGAN DARI
KEKERASAN DAN DISKRIMINASI
• Penyelenggaraan Perlindungaan Anak Berasaskan
PANCASILA dan berlandaskan UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 serta Prinsip-prinsip Dasar KONVENSI HAK-HAK ANAK
meliputi
:•
Non Diskriminasi
•
Kepentingan yang terbaik bagi anak
•
Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan
perkembangan dan
•
Penghargaan terhadap pendapat anak
PERLINDUNGAN ANAK BERTUJUAN :
Untuk MENJAMIN TERPENUHINYA HAK-HAK ANAK
AGAR DAPAT HIDUP, TUMBUH, BERKEMBANG, DAN
BERPARTISIPASI SECARA OPTIMAL SESUAI DENGAN
HARKAT DAN MARTABAT KEMANUSIAAN, SERTA
MENDAPAT PERLINDUNGAN DARI KEKERASAN DAN
DISKRIMINASI, DEMI TERWUJUDNYA ANAK
INDO-NESIA YANG BERKUALITAS, BERAKHLAK MULIA, DAN
SEJAHTERA (Psl 3)
HAK – HAK ANAK
:
Setiap Anak Berhak :
-Dpt hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara
wajar sesuai dg harkat & martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi -Atas suatu nama sbg identitas diri & status
kewarganegaraan
-Untuk beribadah menurut agamanya , berpikir & berekspresi
sesuai dg tingkat kecerdasan & usianya dlm bimbingan ortu
-Untuk mengetahui orangtuanya, dibesarkan & diasuh oleh
orangtua sendiri
-
Memperoleh pelayanan kesehatan & jaminan sosial
sesuaikebutuhan fisik, mental, spriritual dan sosial
- Memperoleh pendidikan & pengajaran dlm rangka pengemb
pribadinya dan tingkat kecerdasan sesuai minat & bakatnya
- Menyatakan pendapat & didengar pendapatnya, menerima, men-
cari & memberikan informasi sesuai dg tingkat kecerdasan & usia-
nya demi pengemb. diri sesuai dg nilai kesusilaan & kepatutan
- Utk beristirahat & memanfaatkan waktu luang, bergaul dg anak
yg sebaya, bermain, berkreasi sesuai minat bakat, tingkat
kecerdasannya
- Anak sbg korban /pelaku berhak mendapat bantuan hukum atau
bantuan lainnya
Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak :
Negara & Pemerintah :
•Menghormati hak asasi anak tanpa membedakan suku,
agama,ras, golongan, jenis kelamin,etnik,budaya, dan bahasa, status hukum anak, dan kondisi fisik, dan/atau mental
•Memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam
penyelenggaraan perlindungan anak
•Menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak •Mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak
•Menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam
menyampaikan pendapat sesuai dg usia dan tingkat kecerdasan anak
Dilakukan
LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK
LEMBAGA SOSIAL KEMASYARAKATAN
LEMBAGA SWADAYA MASY / LSM
LEMBAGA PENDIDIKAN LEMBAGA KEAGAMAAN
BADAN USAHA MEDIA MASSA
Mengasuh, memelihara, mendidik & melindungi anak
Menumbuh kembangkan Anak sesui dengan kemampuan, bakat &
minatnya
Mencegah terjadinya
perkawinan pd usia anak-anak
KEWAJIBAN & TANGGUNGJAWAB
Keluarga
&
BENTUK-BENTUK KEKERASAN TERHADAP ANAK
BENTUK-BENTUK KEKERASAN TERHADAP ANAK
KEKERAS AN FISIK
EKSPLOITASI SEKSUAL
EKSPLOITAS I
EKONOMI
PENELANTARAN
PENCABULAN THDP ANAK (KEKERASAN SEKSUAL)
Ps. 81,82 UU RI no.23/2002
Min 3 th max 15 th + denda plg sedikit Rp 60 jt, denda plg bnyk Rp.300 jt
KEKERASAN FISIK
Ps. 80 UU RI no.23/2002 + 3 th – 6bln,denda Rp 72 jt
Hak Anak
Apabila kita perhatikan maka undang-undang ini secara garis besar memuat 20 hak anak. Hal ini meliputi: Setiap anak berhak:
Untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi
secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan dislaiminasi (pasal4)
Atas suatu nama sebagai identitas diri dan status
kewarganegaraan (pasal 5)
Untuk beribadah menurut agamanya, berpikir dan berekspresi
sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya dalam bimbingan orang tua (pasal 6)
Untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan dan diasuh oleh
orang tuanya sendiri (pasal 7 (l))
Memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai
Lembaga yang Mengatur
Perlindungan Anak
Nama Lembaga Bidang
Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) Pengawasan dan Perlindungan Anak
Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa)
Kebijakan dan Penanganan
Masalah Perempuan dan Anak di Indonesia
Kepolisian Republik Indonesia
(Polri) Perlindungan, Pengayoman, dan Pelayanan Keamanan Masyarakat
Komite Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA)
Advokasi dan Perlindungan Anak
United Nations Children’s Fund (UNICEF)
Diambil dari -> http://www.kpai.go.id/lembaga-mitra-kpai/
Dasar Hukum Pemberdayaan
dan Perlindungan Perempuan
Konon
- Undang-Undang Dasar
- Undang-Undang
- Peraturan Presiden
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi Terhadap Wanita
(Convention on the Elimination of All
Forms of Discrimination Against Women)
CEDAW atau ICEDAW (International Convention on Elimination of All Forms of Discrimation Againts Women) adalah sebuah Konvensi Internasional tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang ditangani langsung oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
Undang-Undang
UUD 1945 , Pasal 27, 28, 29, dan 31
Undang Undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia
Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan dalam Rumah Tangga
Undang-Undang No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi
Undang-Undang No 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
Undang-Undang No 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Perdagangan Orang
- Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003
tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD.
-
Peraturan Presiden No. 18 tahun 2014
Hak-hak Perempuan
1. Hak-hak perempuan di bidang politik dan pemerintahan
2. Hak-hak perempuan di bidang kewarganegaraan
3. Hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan
pengajaran
4. Hak-hak perempuan di bidang ketenagakerjaan
5. Hak-hak perempuan di bidang kesehatan
6. Hak-hak perempuan untuk melakukan perbuatan
hukum
7. Hak-hak perempuan dalam ikatan/ putusnya
Hak-hak Perempuan di
Bidang Politik dan
Pemerintahan
• Jaminan dalam instrumen-instrumen
internasional
• Pasal 21 DUHAM butir 1 dan 2
• ICCPR Pasal 25
• CEDAW Pasal 7 dan Pasal 8
• Pasal 7 Undang-undang No. 2 Tahun 2008
tentang Partai Politik
Hak-hak Perempuan di Bidang
Kewarganegaraan
• Undang-undang Kewarganegaraan RI menyatakan
bahwa kewarganegaraan seorang anak didasarkan hanya pada kewarganegaraan ayahnya ( asas ius sanguinis)
• DUHAM Pasal 15
• CEDAW Pasal 9
• Konvensi tentang Kewarganegaraan Wanita Kawin,
Pasal 1, 2 dan 3
• Konvensi tentang Kewarganegaraan Wanita, Pasal 1
• Amandemen II Undang-Undang Dasar 1945
mengatur tentang hak kewarganegaraan yang terdapat di dalam Pasal 28 D (4),
Hak-hak Wanita di bidang
Pendidikan dan Pengajaran
• DUHAM Pasal 26 ayat (1), • CEDAW Pasal 10,
• Kovenan tentang hak-hak Ekonomi Sosial
dan Budaya Pasal 13 ayat (2),
• Konvensi melawan diskriminasi dalam
Pendidikan, Pasal 4 (d)
• Amandemen II Undang-Undang Dasar 1945
Pasal 28 C ayat (1)
Hak-hak Wanita di Bidang
Ketenagakerjaan
• DUHAM Pasal 23
• Kovenan Internasional tentang hak-hak Ekonomi Sosial
dan Budaya, Pasal 6 ayat (1), Pasal 7 dan Pasal 8 ayat 1 butir (a) dan (b),
• Konvensi ILO No.111, Pasal 2
• Konvensi tentang Hak-hak Politik Wanita, di dalam Pasal 3 • Amandemen II Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 D
ayat (2), Pasal 28 E ayat (1), Pasal 49 ayat (1)
• Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan paragraph 3 tentang perempuan, yaitu pada Pasal 76
Hak-hak Wanita di Bidang
Kesehatan
Pasal 25 Universal Declaration of Human
Rights
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 H
Pasal 12 ayat (1) Konvensi Internasional
tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
Pasal 49 ayat (2) Undang-Undang HAM
Hak-hak Wanita untuk
Melakukan Perbuatan Hukum
• Pasal 50 Undang-Undang HAM RI
• Menurut Hukum Islam, seorang wanita
dianggap dewasa jika telah akil baliq, yaitu setelah ia mendapat menstruase (pada usia antara 13 – 15 tahun )
• hukum adat, seorang wanita telah dianggap
dewasa jika sudah berusia 15 tahun
• Perdata Barat, seorang wanita telah
Hak-hak Wanita dalam
Ikatan /Putusnya Perkawinan
• Hak-hak wanita dalam ikatan /putusnya
perkawinan
• Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan, mengenai ikatan dan putusnya perkawinan diatur di dalam Pasal 30, 34, 35-37, dan Pasal 38-41
• Undang-Undang HAM, hak-hak wanita
sebagai seorang istri diatur di dalam Pasal 51
•
Sebagai generasi penerus
bangsa,
•
Bersosialisasi dan
berkontribusi kepada
masyarakat,
•
Sebagai agen perubahan.
Sebagai pelanjut keturunan,
Sebagai penyeimbang dalam
kehidupan sehari-hari,
Sebagai pengasuh dan pendidik
anak-anaknya
.
->
Menurut kelompok kami dilihat dari
dua perspektif
1. Perbuatan di mata hukum ->
kedudukan
anak dan perempuan sama
dimata hukum menurut pasal 27 UUD 1945
2. Secara Kodrati -> kewajiban
anak dan
perempuan berbeda
Apakah di Indonesia perempuan
dan anak diperlakukan tidak setara
hanya karena mereka perempuan
dan anak?
Apakah di Indonesia perempuan
dan anak diperlakukan tidak setara
hanya karena mereka perempuan
-> Selain perempuan berperan dalam
keluarga peran Perempuan yang
dapat
dimainkan
dalam
bidang
ekonomi, pendidikan, dan politik
-> Peran yang dapat dimainkan anak
untuk keberlangsungan hidup bangsa
Indonesia untuk dapat menuntut
ilmu, mengikuti pelatihan sesuai
bidang yang diminati
Peran
apa yang dapat dimainkan
oleh perempuan dan anak untuk
memastikan keberlangsungan
a. peningkatan partisipasi dan peran perempuan dalam proses politik dan jabatan publik;
b. peningkatan akses perempuan dan anak terhadap layanan pendidikan, kesehatan, hukum, dan bidang pembangunan lainnya
c. peningkatan kampanye anti kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi terhadap perempuan dan anak
d. peningkatan partisipasi masyarakat, dunia usaha, dan media massa dalam pencapaian kesetaraan dan keadilan gender serta pemenuhan hak-hak anak
e. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak, termasuk pengembangan anak usia dini