• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI KEJADIAN TSUNAMI DI PERAIRAN TIMUR INDONESIA. Darius Arkwright

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POTENSI KEJADIAN TSUNAMI DI PERAIRAN TIMUR INDONESIA. Darius Arkwright"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI KEJADIAN TSUNAMI DI PERAIRAN TIMUR INDONESIA Darius Arkwright

Abstract

The eastern part of the Indonesian archipelago was located in the area with high tectonic activities the meeting point of three actively crustal plates, which are the Eurasian, the Indian-Australian and the Pacific. Therefore, the characteristics of tectonic pattern in this region were more complex than others in the west part of Indonesia. Tectonic activities also varied and occurred almost in all regions. In this paper, the position of eastern Indonesia defined between 115 to 139E. This paper also examining the distribution pattern of tsunami events on the position of latitude and longitude and to the tectonic characteristics of the region. Analysis result 109 of tsunamis events occurred in the period of 1600 to 2004, at least 65.14% of tsunami events were concentrated in several locations spread over three blocks; such as the Moluccas Sea, Banda Sea and Nusa Tenggara. Approximately 23.85% of tsunami potentially occurred in the Moluccas Sea, Banda Sea for 22.94% and Nusa Tenggara for 18.35%. Potential tsunami in each block identified by the characteristics of a tsunami based on historical data of tsunami. Results of this preliminary study will be the basis of further research regarding tsunamis parameter analysis such as intensity, magnitude, and the run-up and also its factors affecting that parameters, such as morphology and topographical conditions of the scene area, so it can support the efforts of the characteristics of tsunami mitigation in accordance to each location.

Keywords: tsunami potency, tsunami history, eastern Indonesia, potential blocks A. Pendahuluan

Peningkatan frekuensi kejadian tsunami yang terjadi di Indonesia timur sejak tahun 1975 semakin menegaskan bahwa kompleksnya tatanan tektonik di kawasan ini menyimpan potensi tsunami yang sangat besar. Kata tsunami dalam bahasa jepang berarti gelombang pelabuhan, tapi kata ini telah digeneralisasi untuk menyatakan serangkaian gelombang laut yang sangat besar yang disebabkan oleh gangguan bawah air, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor atau jatuhnya meteor. Gempa bumi atau gangguan bawah air secara tiba-tiba ini menyebabkan perubahan vertical di dasar laut, yang pada gilirannya menyebabkan volume air yang besar akan dipindahkan dari posisi kesetimbangan ke posisi baru, naik secara vertical ke permukaan atau mengalami depresi. Perubahan dalam kesetimbangan kemudian bergerak ke luar dari sumber asal dalam bentuk gelombang tsunami. Studi Lateif et al.(2000) menyatakan bahwa 90% tsunami yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh aktivitas gempa. Sementara

itu, kajian Puspito (2007) tentang karakteristik gempa pembangkit tsunami di Indonesia menunjukkan bahwa 67% tsunami di Indonesia terjadi di Indonesia bagian timur – dalam makalah ini didefenisikan berada pada posisi 115BT sampai 139BT – yang tersebar merata dari Sulawesi sampai papua dan dari timor sampai kepulauan sangihe talaud (Gambar 1). Selama periode waktu antara tahun 1600 sampai 2004 telah terjadi kurang lebih 109 tsunami di Indonesia bagian timur(tabel 1). Data historis terjadinya tsunami penting untuk memahami fenomena tsunami dan efek yang ditimbulkan. Data tersebut secara luas digunakan untuk mengevaluasi potensi tsunami wilayah pesisir dan untuk penetapan tingkat risiko bahaya tsunami dan untuk digunakan di pengelolaan pesisir dan mitigasi bencana. Selain itu, data historis yang sangat penting untuk evaluasi dalam pembentukan batas untuk mengeluarkan peringatan tsunami dan untuk kriteria desain untuk setiap rekayasa konstruksi pelindung tsunami (Gusiakov, 2008).

(2)

Gambar 1. Sebaran kejadian tsunami di Indonesia bagian timur(diolah dengan google earth) Makalah ini mencoba mengkaji potensi

tsunami berdasarkan data historis tsunami yang terjadi di Indonesia timur pada periode 1600 sampai 2004. Kajian tersebut meliputi studi pola sebaran kejadian tsunami. Dengan mengetahui pola sebaran tersebut, diharapkan studi tentang tsunami risk management di

kawasan ini dapat difokuskan pada lokasi dengan potensi tsunami besar. Data yang digunakan diolah dari katalog database tsunami online yang dipubliikasikan oleh Gusiakov (2005) dan hasil kompilasi dari Puspito (2007).

Tabel 1. Data kejadian tsunami di Indonesia bagian timur

Tahun Bulan Tanggal Lintang Bujur Dt Ms I M Hmax F V Sumber

1629 8 1 -4.3 129.6 * 7 3 4 15 * 3 Laut Banda 1673 8 12 0.8 127.3 * * 1 1 * * 3 Pulau Ternate 1674 2 17 -3.7 127.7 * 8 4 0 80 2970 4 Laut Banda 1674 5 6 -3.4 128 * 6 * * * * 3 Laut Banda 1708 11 28 -3 128 * * 2 2 * * 3 Laut Banda 1710 3 6 -4.3 129.6 * * 1.5 1 * * 3 Laut Banda 1711 9 5 -4 129 * 7 1.5 1 * * 4 Laut Banda 1754 8 18 -3.5 128.5 * 6.5 * * * * 3 Laut Banda 1754 9 7 -3.5 128.5 * * * 1 * * 2 Laut Banda 1763 9 12 -6.7 130 * * 2.5 * * * 3 Laut Banda 1775 4 18 -4 127 * * * * * * 3 Laut Banda 1802 8 0 -3.7 128.2 * * 1.5 1 * * 3 Laut Banda 1814 0 0 -10.1 123.5 * * * 1 * * 2 Pulau Timor 1820 12 29 -7 119 80 7.5 3.5 4 24 400 4 Sumbawa 1841 11 26 -5 130 * * 1.5 1.5 3 * 3 Laut Maluku 1841 12 16 -5 130 * 6 * 1 1.5 * 3 Laut Banda 1845 2 8 -1.3 124.5 * 7 * * * * 3 Laut Maluku

Gambar 1. Sebaran kejadian tsunami di Indonesia bagian timur(diolah dengan google earth) Makalah ini mencoba mengkaji potensi

tsunami berdasarkan data historis tsunami yang terjadi di Indonesia timur pada periode 1600 sampai 2004. Kajian tersebut meliputi studi pola sebaran kejadian tsunami. Dengan mengetahui pola sebaran tersebut, diharapkan studi tentang tsunami risk management di

kawasan ini dapat difokuskan pada lokasi dengan potensi tsunami besar. Data yang digunakan diolah dari katalog database tsunami online yang dipubliikasikan oleh Gusiakov (2005) dan hasil kompilasi dari Puspito (2007).

Tabel 1. Data kejadian tsunami di Indonesia bagian timur

Tahun Bulan Tanggal Lintang Bujur Dt Ms I M Hmax F V Sumber

1629 8 1 -4.3 129.6 * 7 3 4 15 * 3 Laut Banda 1673 8 12 0.8 127.3 * * 1 1 * * 3 Pulau Ternate 1674 2 17 -3.7 127.7 * 8 4 0 80 2970 4 Laut Banda 1674 5 6 -3.4 128 * 6 * * * * 3 Laut Banda 1708 11 28 -3 128 * * 2 2 * * 3 Laut Banda 1710 3 6 -4.3 129.6 * * 1.5 1 * * 3 Laut Banda 1711 9 5 -4 129 * 7 1.5 1 * * 4 Laut Banda 1754 8 18 -3.5 128.5 * 6.5 * * * * 3 Laut Banda 1754 9 7 -3.5 128.5 * * * 1 * * 2 Laut Banda 1763 9 12 -6.7 130 * * 2.5 * * * 3 Laut Banda 1775 4 18 -4 127 * * * * * * 3 Laut Banda 1802 8 0 -3.7 128.2 * * 1.5 1 * * 3 Laut Banda 1814 0 0 -10.1 123.5 * * * 1 * * 2 Pulau Timor 1820 12 29 -7 119 80 7.5 3.5 4 24 400 4 Sumbawa 1841 11 26 -5 130 * * 1.5 1.5 3 * 3 Laut Maluku 1841 12 16 -5 130 * 6 * 1 1.5 * 3 Laut Banda 1845 2 8 -1.3 124.5 * 7 * * * * 3 Laut Maluku

Gambar 1. Sebaran kejadian tsunami di Indonesia bagian timur(diolah dengan google earth) Makalah ini mencoba mengkaji potensi

tsunami berdasarkan data historis tsunami yang terjadi di Indonesia timur pada periode 1600 sampai 2004. Kajian tersebut meliputi studi pola sebaran kejadian tsunami. Dengan mengetahui pola sebaran tersebut, diharapkan studi tentang tsunami risk management di

kawasan ini dapat difokuskan pada lokasi dengan potensi tsunami besar. Data yang digunakan diolah dari katalog database tsunami online yang dipubliikasikan oleh Gusiakov (2005) dan hasil kompilasi dari Puspito (2007).

Tabel 1. Data kejadian tsunami di Indonesia bagian timur

Tahun Bulan Tanggal Lintang Bujur Dt Ms I M Hmax F V Sumber

1629 8 1 -4.3 129.6 * 7 3 4 15 * 3 Laut Banda 1673 8 12 0.8 127.3 * * 1 1 * * 3 Pulau Ternate 1674 2 17 -3.7 127.7 * 8 4 0 80 2970 4 Laut Banda 1674 5 6 -3.4 128 * 6 * * * * 3 Laut Banda 1708 11 28 -3 128 * * 2 2 * * 3 Laut Banda 1710 3 6 -4.3 129.6 * * 1.5 1 * * 3 Laut Banda 1711 9 5 -4 129 * 7 1.5 1 * * 4 Laut Banda 1754 8 18 -3.5 128.5 * 6.5 * * * * 3 Laut Banda 1754 9 7 -3.5 128.5 * * * 1 * * 2 Laut Banda 1763 9 12 -6.7 130 * * 2.5 * * * 3 Laut Banda 1775 4 18 -4 127 * * * * * * 3 Laut Banda 1802 8 0 -3.7 128.2 * * 1.5 1 * * 3 Laut Banda 1814 0 0 -10.1 123.5 * * * 1 * * 2 Pulau Timor 1820 12 29 -7 119 80 7.5 3.5 4 24 400 4 Sumbawa 1841 11 26 -5 130 * * 1.5 1.5 3 * 3 Laut Maluku 1841 12 16 -5 130 * 6 * 1 1.5 * 3 Laut Banda 1845 2 8 -1.3 124.5 * 7 * * * * 3 Laut Maluku

(3)

Tahun Bulan Tanggal Lintang Bujur Dt Ms I M Hmax F V Sumber 1846 1 25 2 126.5 * 7.2 0.5 * * * 4 Laut Maluku 1852 11 26 -4.3 129.5 100 8.2 2.5 2 8 * 4 Laut Maluku 1854 1 4 -3.5 128.6 * 6 * * * * 2 Laut Banda 1854 9 27 -0.78 127.4 * * 0.5 * * * 3 Laut Maluku 1856 7 25 -8.5 116 * * * * * * 2 Laut Flores 1857 5 13 -8 115.5 50 7 2 1.5 3 * 4 Laut Flores 1857 11 17 1 125 * * 1.5 * * * 3 Laut Maluku 1858 12 13 1 126 * 7.4 1.5 2 * * 2 Laut Maluku 1859 6 28 1 126.5 * 7 3 3 9 * 4 Laut Maluku 1859 7 20 -4.5 130 * * 1 * * * 3 Laut Banda 1859 7 29 0 125.5 * 7.2 1.5 1 * * 4 Laut Maluku 1859 9 25 -5.5 130 * 6.7 0.5 1 * * 2 Laut Banda 1859 12 17 1 125 * * * * * * 2 Laut Maluku 1860 10 6 -1.4 128.5 * * * * * * 3 Seram 1864 5 23 -1 135 70 7.8 1.5 1.5 12 250 3 Papua 1876 5 28 -3 127.2 50 6.8 -1 * * * 3 Seram 1882 10 10 -4.5 129.9 * 7.5 0.5 * * * 3 Laut Banda 1885 4 30 -2.5 127.5 * 7.2 0.5 * * * 3 Seram 1889 9 6 1 125.6 60 8 2.5 1 1.5 * 4 Laut Maluku 1891 10 5 -9 124 80 7 0.5 * * * 3 Laut Timor 1892 11 18 -3 127.8 70 7 -0.5 * * * 3 Seram 1897 3 15 -6.8 120.8 15 5.8 1 * * * 3 Laut Flores 1897 9 21 6 122 60 8.5 2.5 1 6 100 4 Mindanao, Philippines 1900 10 8 -3.5 136 33 7.8 1.5 * * 5 3 Papua 1903 3 30 -3 127.5 33 6.5 * * * * 2 Laut Banda 1908 3 24 -8.7 124.7 33 6.6 * 1 25 * 3 Pulau Timor 1910 12 18 4 127 33 6.7 -1 * * * 2 Laut Maluku 1914 5 26 -2 137 60 7.9 2 1 0.1 * 4 Papua 1915 11 6 -1 136 * 6 * * * * 2 Papua 1917 1 31 5.6 124.8 33 6.4 * * * 7 3 Sulawesi 1918 8 15 5.77 123.64 57 8.3 2.5 2.5 12 102 4 Sulawesi 1921 9 29 8 127 10 7.5 0.5 * 1.9 * 4 Mindanao Philippines 1921 11 11 8.26 127.28 1 7.5 1 * * 600 3 Mindanao Philippines 1922 3 1 9 123.2 33 6 * * * * 2 Laut Sulawesi 1923 3 2 7.63 124.85 94 7.2 0.5 * * * 3 Mindanao Philippines 1924 4 14 6.79 126.08 14 8.3 0.5 * * * 2 Mindanao Philippines 1924 8 30 9.04 126.18 100 7.2 0.5 * * * 2 Mindanao Philippines 1925 5 5 9.72 123.02 16 6.8 0.5 * * * 2 Luzon Philippines 1927 12 1 -0.5 119.5 33 7 3 4 15 50 2 Sulawesi 1928 8 4 -8.3 121.5 * * 3 3 10 * 4 Sumbawa 1928 12 19 6.87 124.84 12 7.3 * * * * 4 Mindanao Philippines 1929 6 13 7.95 126.76 51 7.2 * * * * 4 Mindanao Philippines 1932 9 9 -3.6 128.3 33 6.2 * * * * 2 Laut Banda 1934 7 19 -0.73 133.36 15 7 * * * * 4 Laut Banda 1936 4 1 4.18 126.55 54 7.7 1.5 * 3 * 4 Laut Maluku 1938 2 1 -5.1 131.53 30 8.2 1.5 2 * * 4 Laut Banda 1938 5 19 -1 120 60 7.6 * 1.5 3 * 3 Sulawesi Tengah 1938 10 10 2.41 126.67 70 7.3 * * 0.1 * 4 Laut Maluku 1939 12 21 0.01 122.68 100 8.6 * * * * 3 Laut Maluku 1950 10 8 -3.8 128.3 60 7.6 1.5 * * * 2 Laut Banda 1952 3 19 9.5 127.2 25 7.9 * * 0.3 * 4 Mindanao Philippines

(4)

Tahun Bulan Tanggal Lintang Bujur Dt Ms I M Hmax F V Sumber 1957 6 22 -1.94 136.62 35 7.3 * 0 1.8 * 3 Papua 1957 10 26 -2 116 33 6 * * * * 2 Selat Makassar 1961 3 16 -8.2 122 75 6.3 * * * 6 3 Flores 1965 1 24 -2.46 125.96 30 7.6 1.5 4 * 71 4 Seram 1967 4 11 3.47 119.07 19 5.9 1.5 * * 13 3 Selat Makassar 1968 8 10 1.42 126.26 19 7.6 * -1 0.4 * 4 Laut Maluku 1968 8 14 0.06 119.7 17 7.7 3 3 10 392 4 Sulawesi 1969 2 23 -3.18 118.8 60 6.9 1.5 0 4 * 4 Selat Makassar 1970 1 10 6.79 126.68 60 7.3 * * 0.1 * 4 Mindanao Philippines 1972 12 2 6.47 126.65 80 7.4 -0.5 * 0.5 * 4 Mindanao Philippines

1975 3 5 -2.4 126.1 33 6.5 * 1 2 * 3 Sanana, Pulau Sula

1975 10 31 12.53 126 53 7.6 -0.5 -1 0.6 1 4 Luzon Philippines 1976 8 16 6.28 124 58 8 2.5 -1 5 4000 2 Mindanao Philippines 1977 8 19 -11.13 118.38 21 8 3.5 3 15 189 4 Sumba 1977 8 27 -8 125.3 25 6.8 * * * 2 3 Flores 1978 6 14 8.28 122.4 36 6.9 * 0 * * 2 Mindanao Philippines 1979 4 15 3.11 128.15 100 6 * 0 * * 4 Mindanao Philippines 1979 9 12 -1.69 135.97 21 8.1 1 * 2 15 2 Laut Banda 1979 12 17 -8.4 115.9 33 6.6 * * * 27 3 Sumbawa, Lombok 1982 12 25 -8.4 123 33 5.9 * 1 * 13 3 Larantuka 1983 3 12 -4.09 127.85 30 6 1.5 * 3 * 4 Laut Banda

1987 11 26 -8.4 124.3 33 6.5 * 1 * 83 3 Flores, Pantar Island

1989 7 14 -8.1 125.1 52 6.2 * 0 * 7 3 Pulau Alor 1989 7 31 -8.1 121.4 13 6.3 * 0 * 3 3 Flores 1990 4 18 1.2 122.82 36 7.4 * * * * 3 Sulawesi 1991 7 4 -8.1 124.7 29 6.2 * * * 13 3 Pulau Alor 1992 5 17 7.23 126.75 63 7.5 * * * * 3 Mindanao Philippines 1992 12 12 -8.5 121.84 33 7.5 2.7 * 26.18 2200 4 Flores 1994 1 21 1.04 127.77 19 7.3 1.5 * 2 * 4 Halmahera 1994 10 8 -1.21 127.98 13 6.8 1.5 * 6 1 4 Halmahera 1995 1 27 -4.46 134.45 26 6.8 * * * * 2 Papua 1995 2 13 -1.13 127.48 19 6.8 * * * * 2 Halmahera 1995 3 19 -4.14 135.11 28 7.1 * * * * 2 Papua 1995 5 14 -8.47 125.04 20 7 1.5 * 4 11 4 Timor 1996 1 1 0.7 119.9 25 7.7 1.5 * 3.43 24 4 Sulawesi 1996 2 17 -0.92 136.98 35 8.1 2 * 7.68 108 4 Biak Papua 1998 11 29 -1.97 124.88 22 7.6 1.5 * 2.7 * 4 Sulawesi 2000 5 4 -1.11 123.57 33 7.5 1.5 * 5 * 3 Sulawesi 2002 3 5 6.03 124.25 31 7.2 1 * 3 * 4 Mindanao Philippines 2002 10 10 -1.76 134.3 10 7.7 1 * 3 * 3 Papua 2004 11 11 -8.17 124.68 10 7.5 1 * 2 * 4 Timor Keterangan :

- Lintang minus adalah selatan dan positif adalah utara - Dt adalah kedalaman pusat gempa

- Ms adalah magnitudo gempa (magnitudo gelombang permukaan) - I adalah intensitas tsunami dalam skala Soloviev – Imamura - m adalah magnitudo tsunami

- Hmax adalah run-up maksimum - F adalah jumlah korban meninggal

- V adalah validitas data (2 = 50%; 3 = 75%; 4 = 100%) - Tanda bintang (*) adalah data yang tidak tersedia

(5)

B. Kegempaan dan Tsunami di Perairan Timur Indonesia

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa interaksi dan konvergensi dari tiga pelat kerak bumi atau lempeng, yaitu lempeng Indo-Australian, Eurasia dan Pasifik yang berpusat di bagian timur Indonesia menghasilkan zona-zona tektonik aktif seperti zona subduksi, zona tumbukan dan zona sesar, seperti zona tumbukan laut Banda, zona subduksi Carolina, zona subduksi Filipina, zona subduksi Timor, dan zona tumbukan Laut Maluku, seperti tampak padaGambar 2.

Zona-zona tersebut memiliki aktifitas kegempaan yang sangat tinggi. Frekuensi terjadinya gempa berbanding lurus dengan frekuensi kejadian tsunami, dimana 92% tsunami di Indonesia dibangkitkan oleh gempa dengan magnitudo (Ms) lebih besar dari 6,0 dan 86% terjadi oleh gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 km serta 80% gempa yang terjadi dengan mekanisme sesar naik (Puspito, 2007).

Gambar 2. Peta tektonik kepulauan Indonesia Intensitas riset tsunami di Indonesia,

khususnya di Indonesia bagian timur, dapat dikatakan baru dimulai sejak peristiwa tsunami Flores 1992, kemudian Palu 1996 dan Biak 1996 yang memiliki dampak kerusakan yang sangat besar. Riset-riset tersebut sedikitnya telah memberikan gambaran tentang karakteristik tsunami di Indonesia timur, walaupun tidak sepenuhnya dapat mewakili seluruh wilayah, karena sebagian besar tsunami di Indonesia bagian timur merupakan tsunami lokal. Hanya tsunami Biak 1996 yang melintasi samudera pasifik dan mencapai jepang setelah 6 jam dengan tinggi

gelombang mencapai satu meter (Subandono dan Budiman, 2006). Namun demikian fenomena tsunami memang sulit untuk dipredikasi. Imamura et al. (1997) menyatakan bahwa dalam kasus tsunami Biak terjadi fenomena menarik dimana gelombang kedua yang terjadi dua sampai tiga kali lebih tinggi dari gelombang pertama, dimana gelombang pertama kemungkinan tidak dibangkitkan langsung oleh gempa tetapi akibat adanya fenomena geofisik lainnya, seperti longsoran bawah air (land slide). Fenomena serupa juga terjadi di pulau Babi ketika terjadinya tsunami Flores (Yehet al., 1993). Tsunami B. Kegempaan dan Tsunami di Perairan Timur Indonesia

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa interaksi dan konvergensi dari tiga pelat kerak bumi atau lempeng, yaitu lempeng Indo-Australian, Eurasia dan Pasifik yang berpusat di bagian timur Indonesia menghasilkan zona-zona tektonik aktif seperti zona subduksi, zona tumbukan dan zona sesar, seperti zona tumbukan laut Banda, zona subduksi Carolina, zona subduksi Filipina, zona subduksi Timor, dan zona tumbukan Laut Maluku, seperti tampak padaGambar 2.

Zona-zona tersebut memiliki aktifitas kegempaan yang sangat tinggi. Frekuensi terjadinya gempa berbanding lurus dengan frekuensi kejadian tsunami, dimana 92% tsunami di Indonesia dibangkitkan oleh gempa dengan magnitudo (Ms) lebih besar dari 6,0 dan 86% terjadi oleh gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 km serta 80% gempa yang terjadi dengan mekanisme sesar naik (Puspito, 2007).

Gambar 2. Peta tektonik kepulauan Indonesia Intensitas riset tsunami di Indonesia,

khususnya di Indonesia bagian timur, dapat dikatakan baru dimulai sejak peristiwa tsunami Flores 1992, kemudian Palu 1996 dan Biak 1996 yang memiliki dampak kerusakan yang sangat besar. Riset-riset tersebut sedikitnya telah memberikan gambaran tentang karakteristik tsunami di Indonesia timur, walaupun tidak sepenuhnya dapat mewakili seluruh wilayah, karena sebagian besar tsunami di Indonesia bagian timur merupakan tsunami lokal. Hanya tsunami Biak 1996 yang melintasi samudera pasifik dan mencapai jepang setelah 6 jam dengan tinggi

gelombang mencapai satu meter (Subandono dan Budiman, 2006). Namun demikian fenomena tsunami memang sulit untuk dipredikasi. Imamura et al. (1997) menyatakan bahwa dalam kasus tsunami Biak terjadi fenomena menarik dimana gelombang kedua yang terjadi dua sampai tiga kali lebih tinggi dari gelombang pertama, dimana gelombang pertama kemungkinan tidak dibangkitkan langsung oleh gempa tetapi akibat adanya fenomena geofisik lainnya, seperti longsoran bawah air (land slide). Fenomena serupa juga terjadi di pulau Babi ketika terjadinya tsunami Flores (Yeh et al., 1993). Tsunami B. Kegempaan dan Tsunami di Perairan Timur Indonesia

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa interaksi dan konvergensi dari tiga pelat kerak bumi atau lempeng, yaitu lempeng Indo-Australian, Eurasia dan Pasifik yang berpusat di bagian timur Indonesia menghasilkan zona-zona tektonik aktif seperti zona subduksi, zona tumbukan dan zona sesar, seperti zona tumbukan laut Banda, zona subduksi Carolina, zona subduksi Filipina, zona subduksi Timor, dan zona tumbukan Laut Maluku, seperti tampak padaGambar 2.

Zona-zona tersebut memiliki aktifitas kegempaan yang sangat tinggi. Frekuensi terjadinya gempa berbanding lurus dengan frekuensi kejadian tsunami, dimana 92% tsunami di Indonesia dibangkitkan oleh gempa dengan magnitudo (Ms) lebih besar dari 6,0 dan 86% terjadi oleh gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 km serta 80% gempa yang terjadi dengan mekanisme sesar naik (Puspito, 2007).

Gambar 2. Peta tektonik kepulauan Indonesia Intensitas riset tsunami di Indonesia,

khususnya di Indonesia bagian timur, dapat dikatakan baru dimulai sejak peristiwa tsunami Flores 1992, kemudian Palu 1996 dan Biak 1996 yang memiliki dampak kerusakan yang sangat besar. Riset-riset tersebut sedikitnya telah memberikan gambaran tentang karakteristik tsunami di Indonesia timur, walaupun tidak sepenuhnya dapat mewakili seluruh wilayah, karena sebagian besar tsunami di Indonesia bagian timur merupakan tsunami lokal. Hanya tsunami Biak 1996 yang melintasi samudera pasifik dan mencapai jepang setelah 6 jam dengan tinggi

gelombang mencapai satu meter (Subandono dan Budiman, 2006). Namun demikian fenomena tsunami memang sulit untuk dipredikasi. Imamura et al. (1997) menyatakan bahwa dalam kasus tsunami Biak terjadi fenomena menarik dimana gelombang kedua yang terjadi dua sampai tiga kali lebih tinggi dari gelombang pertama, dimana gelombang pertama kemungkinan tidak dibangkitkan langsung oleh gempa tetapi akibat adanya fenomena geofisik lainnya, seperti longsoran bawah air (land slide). Fenomena serupa juga terjadi di pulau Babi ketika terjadinya tsunami Flores (Yeh et al., 1993). Tsunami

(6)

Flores 1992 misalnya, dengan magnitudo 7,5 SR, secara teoritis akan menghasilkan gelombang tsunami setinggi satu sampai dua meter di episenter gempa, namun ketika mencapai pantai flores ketinggian gelombang maksimum mencapai 21 meter. Para ilmuwan memperkirakan bahwa gelombang tsunami yang menghantam Flores bagian timur tidak hanya berasal dari tsunami tektonik utama, tetapi dari tsunami sekunder yang dihasilkan oleh longsoran (land slide) di bawah laut akibat gempa bumi. Tsunami Flores juga merayap hingga ke pulau Muna dan Buton, Sulawesi tenggara dengan ketinggian gelombang maksimum mencapai 10,2 meter (Subandono dan Budiman, 2006).

C. Pola Sebaran Kejadian Tsunami di Indonesia Timur

Pola umum sebaran kejadian tsunami di Indonesia bagian timur, seperti yang telah

ditampilkan sebelumnya pada Gambar 1 dan Gambar 2, menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara zona tektonik dengan kejadian tsunami, dimana sumber tsunami tersebar pada tepian lempeng zona-zona tektonik aktif seperti zona-zona tumbukan laut Banda, zona tumbukan laut Maluku, zona subduksi Filipina, selat Makassar, zona sesar utara pulau Flores dan zona subduksi Carolina di utara pulau Papua. Dalam Gambar 3 dapat dilihat bahwa frekuensi kejadian tsunami mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada periode 1600 sampai 1830 tsunami yang terjadi hanya 14 kejadian, atau rata-rata 0,061 kejadian setiap satu tahun. Periode tahun 1830 sampai 1912 terjadi 30 kejadian tsunami, atau rata-rata 3,66 kejadian per tahun. Sedangkan pada periode tahun 1912 sampai 2004 terjadi 65 kali tsunami atau rata-rata 6,84 tsunami per tahun.

Gambar 3. Histogram kejadian tsunami di Indonesia bagian timur berdasarkan database sejarah tsunami 1600 – 2007

Untuk mengetahui sebaran sumber tsunami terhadap garis bujur, data tsunami ditampilkan dalam histogram frekuensi tsunami pada ordinat 115BT sampai 139BT (Gambar 4). Dari gambar 4 terlihat bahwa sekitar 83% tsunami terjadi di antara 119BT sampai 130BT.

(7)

1 3 6 1 3 2 1 2 8 1 2 4 1 2 0 1 1 6 2 5 2 0 1 5 1 0 5 0 B u j u r ( B T ) Fr ek ue ns i

Gambar 4. Histogram kejadian tsunami berdasarkan posisi sumber tsunami terhadap garis bujur timur

Dari data sebaran tersebut kemudian dilakukan pemetaan blok-blok yang dianggap memiliki potensi dimana dari hasil analisis yang ditampilkan dalam Tabel 2, tiga blok yang memiliki sejarah tsunami tertinggi adalah pada blok laut Maluku sebesar 23,85%, laut Banda 22,94% dan Nusa Tenggara 18,35%. Pembagian blok tersebut selain dilakukan berdasarkan posisinya terhadap garis lintang dan bujur, juga dengan memperhatikan karakteristik dan keterkaitan aktivitas tektonik masing-masing lokasi, dimana menurut Latief et al. (2000), terdapat korelasi antara aktivitas tsunami dengan karakteristik tektonik di suatu lokasi.

Gambar 5 menunjukkan posisi tiga blok potensi tsunami dan sebaran kejadian tsunami pada masing-masing blok, sedangkanGambar 6 menunjukkan histogram kejadian tsunami pada ketiga blok.

Blok laut Maluku berada pada zona tumbukan laut Maluku dengan busur Sangihe dan Halmahera (Sangihe and Halmahera arc), dimana pelat laut Maluku secara bersamaan mengalami subduksi terhadap busur Sangihe dan busur Halmahera (Latief et al., 2000). Hal ini menyebabkan tingginya aktivitas seismik yang berpotensi mengakibatkan terjadinya tsunami. Aktivitas tsunami mengalami peningkatan secara signifikan sejak tahun 1840, dimana hampir 95% tsunami di blok ini terjadi pada periode tahun 1840 sampai 2000. Tabel 2. Data koordinat dan prosentasi tsunami yang terjadi pada setiap blok

No. Nama Blok Lintang Ordinat Bujur TsunamiJumlah Persentase(%) 1 Laut Maluku 4,952,5LSLU – 122,5128,8BT –BT 26 23.85 2 Laut Banda 2,5LS – 8,0LS 126,8132,0BT –BT 25 22.94 3 Nusa Tenggara 6,2511,25LS –LS 115BT – 128,8BT 20 18.35 4 Selat Makassar 1,353,5LSLU – 116BT - 120BT 5 4.59 5 PapuaBarat daya 4,70,13LSLU – 133,2137,2BT –BT 10 9.17 6 Mindanao 5,0LU – 8,6LU 123BT – 127,5BT 11 10.09

(8)

7 Lainnya - - 12 11.01

Total 109 100

Gambar 5. Pemetaan blok potensi tsunami di Indonesia bagian timur Blok laut Banda berada pada Banda collision

zone dari Timor menerus dan melengkung berlawanan arah jarum jam melingkari laut Banda. Daerah-daerah pada blok ini meliputi kepulauan Maluku tenggara, laut Banda, Seram dan pulau Buru. Pada jalur batas lempeng ini sudah terjadi sekitar sepuluh kali tsunami dalam seratus tahun terakhir dengan magnitudo di atas 7,5 Ms. Empat diantaranya bermagnitudo lebih dari 8,0 Ms. Lebih jauh lagi, catatan sejarah menyebutkan bahwa pada

tahun 1674 di wilayah antara pulau Buru dan Seram pernah terjadi tsunami yang sangat dahsyat dengan yang mengakibatkan sekitar 2.970 orang meninggal dunia(tabel 1).

Blok Nusa Tenggara berada pada peralihan dari zona subduksi Sumatera-Jawa dengan zona tumbukan Banda. Jalur zona subduksi lempeng Sumatra-Jawa ini menerus ke wilayah Nusa Tenggara.

7 Lainnya - - 12 11.01

Total 109 100

Gambar 5. Pemetaan blok potensi tsunami di Indonesia bagian timur Blok laut Banda berada pada Banda collision

zone dari Timor menerus dan melengkung berlawanan arah jarum jam melingkari laut Banda. Daerah-daerah pada blok ini meliputi kepulauan Maluku tenggara, laut Banda, Seram dan pulau Buru. Pada jalur batas lempeng ini sudah terjadi sekitar sepuluh kali tsunami dalam seratus tahun terakhir dengan magnitudo di atas 7,5 Ms. Empat diantaranya bermagnitudo lebih dari 8,0 Ms. Lebih jauh lagi, catatan sejarah menyebutkan bahwa pada

tahun 1674 di wilayah antara pulau Buru dan Seram pernah terjadi tsunami yang sangat dahsyat dengan yang mengakibatkan sekitar 2.970 orang meninggal dunia(tabel 1).

Blok Nusa Tenggara berada pada peralihan dari zona subduksi Sumatera-Jawa dengan zona tumbukan Banda. Jalur zona subduksi lempeng Sumatra-Jawa ini menerus ke wilayah Nusa Tenggara.

7 Lainnya - - 12 11.01

Total 109 100

Gambar 5. Pemetaan blok potensi tsunami di Indonesia bagian timur Blok laut Banda berada pada Banda collision

zone dari Timor menerus dan melengkung berlawanan arah jarum jam melingkari laut Banda. Daerah-daerah pada blok ini meliputi kepulauan Maluku tenggara, laut Banda, Seram dan pulau Buru. Pada jalur batas lempeng ini sudah terjadi sekitar sepuluh kali tsunami dalam seratus tahun terakhir dengan magnitudo di atas 7,5 Ms. Empat diantaranya bermagnitudo lebih dari 8,0 Ms. Lebih jauh lagi, catatan sejarah menyebutkan bahwa pada

tahun 1674 di wilayah antara pulau Buru dan Seram pernah terjadi tsunami yang sangat dahsyat dengan yang mengakibatkan sekitar 2.970 orang meninggal dunia(tabel 1).

Blok Nusa Tenggara berada pada peralihan dari zona subduksi Sumatera-Jawa dengan zona tumbukan Banda. Jalur zona subduksi lempeng Sumatra-Jawa ini menerus ke wilayah Nusa Tenggara.

(9)

Gambar 6. Histogram kejadian tsunami pada setiap blok Di wilayah Timor, batas lempeng tektonik ini

berubah sifatnya dari jalur zona subduksi/ subduction zone menjadi zona tumbukan lempeng benua/collision zone (Latief et al., 2000; Natawidjaja, 2007). Pada wilayah busur belakang pulau (back-arc) di bagian ujung barat collision zone ini pernah terjadi gempa-tsunami Flores pada tahun 1992, yang

mengakibatkan jatuhnya korban 2200 jiwa (tabel 1). Gempa tahun 1992 ini terjadi pada segmen Sula back-thrust. Pada segmen mega-thrust di selatan Sumba, gempa-tsunami terakhir terjadi tahun 1977 dengan magnitude sebesar 8.0 Ms (Natawidjaja, 2007) yang mengakibatkan sekitar 189 orang meninggal dunia(tabel 1).

(10)

Pada bagian lain, wilayah barat daya Papua didominasi oleh tiga jalur besar gempa bumi, yakni zona konvergensi lempeng Pasifik dan Pulau Papua (New Guinea) yang kompleks, jalur sesar Sorong, dan Jalur sesar Aiduna-Tarairua (Natawidjaja, 2007). Salah satu gempa-tsunami yang terjadi pada wilayah ini adalah tsunami Biak tahun 1996 yang mengakibatkan setidaknya 110 orang meninggal dunia, 51 orang hilang, sekitas 100 orang mengalami luka serius, dan sekitar 10.000 orang kehilangan tempat tinggal (Imamuraet al., 1997).

D. Kesimpulan

Dari uraian tentang potensi tsunami di Indonesia bagian timur berdasarkan sebaran sumber kejadian tsunami, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1) Sebagian besar sumber tsunami berada pada zona-zona tektonik aktif seperti zona subduksi, tumbukan, pensesaran, dimana 83% tsunami terjadi pada daerah dengan koordinat antara 119BT sampai 130BT. 2) Terdapat tiga blok yang memiliki potensi

terjadinya tsunami berdasarkan sejarah tsunami dan karakteristik tektoniknya masing-masing yaitu blok laut Maluku sebesar 23,85%, laut Banda 22,94% dan Nusa Tenggara 18,35%

3) Aktivitas gempa-tsunami pada blok laut Maluku mengalami peningkatan secara signifikan sejak tahun 1840, dimana hampir 95% tsunami di blok ini terjadi pada periode tahun 1840 sampai 2000.

4) Blok laut Banda memiliki sejarah tsunami yang sangat panjang dan memiliki kontinuitas kejadian dalam periode tahun 1629 sampai 1988. Dalam seratus tahun terakhir pada batas lempeng ini sudah terjadi sekitar sepuluh kali tsunami dengan magnitudo di atas 7,5 Ms, empat diantaranya bermagnitudo lebih dari 8,0 Ms.

5) Blok Nusa Tenggara berada pada peralihan dari zona subduksi Sumatera-Jawa dan zona tumbukan lempeng benua di laut Banda, dimana terjadi peningkatan

peristiwa tsunami secara signifikan sejak tahun 1970, diantaranya tsunami Sumba tahun 1977 dan tsunami Flores tahun 1992.

Daftar Pustaka

Gusiakov, V. K.,Historical Tsunami Database For the Pacific, version 2.4 of February 21, 2005, Tsunami Laboratory Novosibirsk – Siberian Division Russian Academy of Sciences Institute of Computational Mathematics and Mathematical Geophysics, www.tsun.sscc.ru/htdbpac, (diakses 20 Nopember 2009).

Gusiakov, V. K.,Tsunami History – Recorded, Tsunami Laboratory Institute of Computational Mathematics and

Mathematical Geophysics,

www.tsun.sscc.ru/hiwg/PABL/

Gusiakov_2008.pdf, 2008. (diakses 20 Nopember 2009).

Imamura, F., Subandono, D., Watson, G., Moore, A., Takahashi, T., Matsutomi, H., dan Hidayat, R., Irian Jaya Earthquake and Tsunami Cause Serious Damage, American Geophysical Union, 78(19), pp. 197-201, 1997.

Latief, H., Puspito, N. T., dan Imamura, F., Tsunami Catalog and Zones in Indonesia, Journal of Natural Disaster Science,22(1), pp. 25-43, 2000.

Natawidjaja, D. H.,Tectonic Setting Indonesia dan Pemodelan Sumber Gempa dan Tsunami, Materi Pelatihan Pemodelan Run-Up Tsunami, Ristek, 20-24 Agustus 2007.

Puspito, N. T., Karakteristik Gempa Pembangkit Tsunami di Kepulauan Indonesia dan sekitarnya, Jurnal Segara, 3(2), pp. 49-65. 2007.

Subandono, D. dan Budiman, Tsunami, edisi kedua, PT. Sarana Komunikasi Utama, pp.47-53;234-241, 2006.

(11)

Yeh, H., Imamura, F., Synolakis, C., Tsuji, Y., Liu, P. dan Shi, S., The Flores Island Tsunamis, American Geophysical Union,74(33), pp. 369, 371-373, 1993.

Gambar

Tabel 1. Data kejadian tsunami di Indonesia bagian timur
Gambar 2. Peta tektonik kepulauan Indonesia Intensitas  riset  tsunami  di  Indonesia,
Gambar  3.  Histogram  kejadian  tsunami  di  Indonesia  bagian timur  berdasarkan  database sejarah tsunami 1600 – 2007
Gambar 4. Histogram kejadian tsunami berdasarkan posisi sumber tsunami terhadap garis bujur timur
+3

Referensi

Dokumen terkait

Kawasan ini berada pada kawasan landaan tsunami sangat merusak dan di sepanjang zona sesar sangat merusak, serta pada daerah dekat dengan episentrum dimana intensitas gempa

Indonesia merupakan negara yang secara geologis memiliki posisi yang unik karena berada pada pusat tumbukan Lempeng Tektonik Hindia Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia

Pada peta hasil analisis terlihat tidak begitu banyak perbedaan dengan risiko tsunami eksisting bahwa daerah yang memiliki risiko tsunami tinggi berada pada pinggir pantai

Kawasan ini berada pada kawasan landaan tsunami sangat merusak dan di sepanjang zona sesar sangat merusak, serta pada daerah dekat dengan episentrum dimana intensitas gempa

 Tahun ke-3 penelitian akan diperinci pada area sekitar Sumatera, dengan menambahkan data struktur zona subduksi dan pergeseran lempeng dari data GPS, untuk

Indonesia merupakan negara yang secara geologis memiliki posisi yang unik karena berada pada pusat tumbukan Lempeng Tektonik Hindia Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia

Berdasarkan karakteristik pantainya, kawasan pantai Yogyakarta dapat dibagi menjadi 2 zona resiko tsunami, yaitu: (1) Zona Resiko Tinggi terdapat pada lokasi dengan bentuk

Berdasarkan potensi tinggi dan estimasi waktu tiba tsunami dalam kaitannya dengan profil batimetri Lombok Utara, daerah terdampak yang cukup signifikan adalah kecamatan