• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN BEDAH KASUS. NOMOR REGISTER PERKARA: 21/Pid.Sus/ 2012/PN-PBR ATAS NAMA TERDAKWA DRS. H. BURHANUDDIN HUSIN, MM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN BEDAH KASUS. NOMOR REGISTER PERKARA: 21/Pid.Sus/ 2012/PN-PBR ATAS NAMA TERDAKWA DRS. H. BURHANUDDIN HUSIN, MM"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN BEDAH KASUS

Tindak Pidana Korupsi Perizinan Bidang Kehutanan

Penilaian dan Pengesahan Rencana

Kerja Tahunan IUPHHK HT 12

Perusahaan Tanaman Industri tahun

2005-2006 di Provinsi Riau

NOMOR REGISTER PERKARA: 21/Pid.Sus/ 2012/PN-PBR ATAS NAMA TERDAKWA DRS. H. BURHANUDDIN HUSIN, MM

(2)

Page

1

of

61

BAGIAN I

PENDAHULUAN

A. RESUME KASUS POSISI

Drs. H Burhanuddin Husin MM divonis 2 tahun 6 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Pekanbaru karena terbukti bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi kehutanan berupa pengesahan Rencana Kerja Tahunan (RKT) untuk 12 perusahaan di bidang usaha hutan tanaman industri di Propinsi Riau, saat terpidana menjabat sebagai Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau periode 2005-2006. Vonis majelis hakim berbeda jauh dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa 6 tahun penjara.

Sidang perdana pada 11 Juni 2012. Sidang telah ditaja 20 kali: tiga kali bulan Juni (11-19- 20), tujuh kali di bulan Juli (11-17-18-23-24-30-31), empat kali di bulan September (05-12-17,24), empat kali dibulan Oktober (01-24). Total 45 saksi telah diperiksa majelis hakim: 11 saksi korporasi, 29 orang saksi pejabat pemerintahan, 4 ahli dari Penuntut Umum, dan 1 ahli dari terdakwa.1

Jaksa Penuntut Umum mendakwa Burhanuddin Husin dengan dakwaan subsidiaritas. Dakwaan primer melanggar pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUH Pidana jo. Pasal 65 ayat (1) KUH Pidana.

Dakwaan subsider melanggar Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 65 ayat (1) KUH Pidana.

Meski mengajukan dua dakwaan, JPU menuntut terdakwa dengan dakwaan primer. Intinya Burhanuddin Husin telah melakukan serangkaian perbuatan melawan hukum, memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi dan merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara saat mensahkan RKT Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (UPHHKHT) untuk korporasi pemegang IUPHHK-HT di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak. RKT syarat utama perusahaan dapat menebang hutan.

Korporasi-korporasi yang memiliki IUPHHKHT di Kabuten Pelalawan dan Kabupaten Siak mengajukan surat permohonan penilaian dan pengesahan Usulan Rencana Kerja Tahunan (URKT) UPHHKHT kepada terdakwa sebagai dasar melakukan penebangan kayu hutan alam di areal IUPHHKHT dengan alasan guna penyiapan lahan atau land clearing yang isinya antara lain memuat rencana penebangan dan target produksi penebangan hutan alam. Tembusan juga diberikan pada Drs Edi Suriandi, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan dan Amin Budiadi, Kepala Dinas Kehutanan Siak.

(3)

Page

2

of

61

Edi Suriandi di Pelalawan dan Amin Budiadi di Siak lantas melakukan survei untuk mengetahui potensi tegakan kayu hutan alam di areal IUPHHKHT yang dimohonkan penilaian dan pengesahan RKT. Hasil survei berisi hutan alam di atas 5m3/ha lantas disampaikan pada terdakwa.

Terdakwa menerima hasil survei itu memerintahkan Fadrizal Labay, Kasubdin Pengembangan Kehutanan Dinas Kehutanan Propinsi Riau, lantas Fadrizal Labay memerintahkan Frederik Suli untuk koordinasi dengan Purna Irwansyah MM.

Purnama Irwansyah membuat nota dinas tentang penghitungan potensi tegakan kayu hutan alam pada areal yang dimohonkan penilaian dan pengesahan URKT UPHHKHT oleh korporasi. Isi Nota dinas menyimpulkan dalam blok RKT yang diusulkan terdapat potensi kayu hutan alam Terdakwa mengetahui IUPHHKHT yang diterbitkan Bupati Pelalawan H Tengku Azmun Jaafar dan Bupati Siak Arwin As bertentangan dengan Kepmenhut.

Terdakwa mengetahui URKT yang dimohonkan penilaian dan pengesahan tersebut berisi rencana penebangan kayu hutan alam yang memiliki potensi tegakan lebih dari 5m3/ha, yang seharusnya menurut Kepmenhut tidak boleh ditebang, tetap mengesahkah URKT-UPHHKHT yang diajukan oleh korporasi

Setelah RKT terbit PT Mitra Tani Nusa Sejati, PT Selaras Abadi Utama, CV Alam Lestari, PT Merbau Pelalawan Lestari, PT Uniseraya, PT Rimba Mutiara Permai, PT Trio Mas FDI, PT Madukoro (Pelalawan), dan PT Seraya Sumber Lestari, PT Rimba Mandau Lestari, PT Bina Daya Bintara, PT National Timber and Forest Product (Siak)melakukan penebangan kayu hutan alam melebihi tegakan kayu lebih dari 5m3/ha.

Penebangan hutan alam bertentangan dengan Keputusan Menteri Kehutanan;

1. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 10.1/Kpts-II/2000 tanggal 6 November 2000 tentang Pedoman Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman;

2. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 21/Kpts-II/2001 tanggal 31 Januari 2001 tentang Kriteria dan Standar Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman pada Hutan Produksi; 3. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 151/Kpts-II/2003 tanggal 2 Mei 2003 tentang Rencana

Kerja, Rencana Lima Tahun, Rencana Kerja Tahunan dan Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman;

4. Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2002 tanggal 8 Juni 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan.

5. Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan; dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 32/Kpts-II/2003 tanggal 5 Februari 2003 tentang Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam atau Hutan Tanaman melalui Penawaran dalam Pelelangan. Akibat perbuatan perbuatan terdakwa mengesahkan rkt hutan alam tersebut telah memperkaya atau menguntungkan delapan korporasi di Pelalawan senilai total Rp 410 .703.937.368, dan korporasi di Siak total Rp 193.324.468.492. Perbuatan terdakwa juga merugikan keuangan negara atau perekonomian negara total Rp 519.580.718.790

(4)

Page

3

of

61

B. LATAR BELAKANG BEDAH KASUS KORUPSI PERIZINAN KEHUTANAN

a. Tujuan Bedah Kasus

Pelaksanaan kegiatan bedah kasus tindak pidana korupsi ini merupakan bagian pengawasan publik terhadap kinerja hakim dan penegak hukum dalam menangani perkara tindak pidana korupsi. Disadari bahwa analisis dan evaluasi terhadap proses dan materi persidangan pada perkara tindak pidana korupsi dapat memberikan masukan yang bermanfaat dalam meningkatkan kinerja pengadilan.

Namun, dalam kenyataannya, kesadaran untuk melakukan analisis dan mengevaluasi tersebut, khususnya di komunitas hukum, masih sangat rendah, yang salah satu penyebabnya adalah belum terbukanya akses secara luas terhadap materi persidangan. Oleh karena itu, untuk mendorong hakim dan penegak hukum agar dapat bekerja secara independen dan profesional, dibutuhkan keterlibatan aktif dari pemangku kepentingan seperti akademisi, praktisi hukum, lembaga swadaya masyarakat (yang memfokuskan diri di isu anti korupsi), dan lain-lain, untuk melakukan pengawasan terhadap penanganan perkara tindak pidana korupsi, salah satunya adalah melakukan bedah kasus tindak pidana korupsi secara berkelanjutan.

Melalui program pendanaan yang disalurkan oleh USAID/MSI, Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melaksanakan program pengawasan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan melakukan bedah kasus terhadap perkara tindak pidana korupsi dengan komposisi:

1. Ada 3 (tiga) perkara tindak pidana korupsi pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Jakarta;

2. Ada 1 (satu) perkara tindak pidana korupsi pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Pekanbaru; dan

3. Ada 1 (satu) perkara tindak pidana korupsi pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Surabaya.

Tujuan pelaksanaan bedah kasus ini adalah untuk meningkatkan kinerja Pengadilan Tindak Pidana Korupsi melalui penguatan pengawasan publik, pelibatan pemangku kepentingan secara luas, penyusunan analisis dan evaluasi terhadap materi dan proses persidangan tindak pidana korupsi, dan penyusunan rekomendasi kepada pihak yang berkepentingan seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung (MA), dan Komisi Yudisial (KY).

b. Justifikasi Pemilihan Kasus

Justifikasi bisa juga titik perhatian kasus. Putusan majelis hakim yang memvonis terdakwa 2,6 dinilai jauh dari semangat dan upaya hakim memberantas korupsi. Putusan majelis hakim tidak memberi keadilan pada hutan yang telah dirusak perusahaan akibat izin yang diterbitkan terdakwa.

(5)

Page

4

of

61

Dalam perkara tersebut tiga majelis hakim berbeda pendapat terkait apakah terdakwa melanggar dakwaan primer atau dakwaan subsider?

Ketua majelis Hakim Isnurul Syamsul Arif dan hakim anggota Krosbin (keduanya hakim karir) memvonis terdakwa dengan dakwaan subsider. Hakim ad hoc Rakhman Silaen yang melakukan dissenting opinion sebaliknya, terdakwa terbukti dalam dakwaan primer dan sejalan dengan tuntutan Jaksa Penuntu Umum.

Pilihan hakim pada dakwaan subsider dalam pertimbangannya terlihat membingungkan, inkonsiten dan tidak mengikuti yurisprudensi dalam perkara korupsi kehutanan di Riau, padahal yurisprudensi salah satu sumber hukum Indonesia.

Yang terlihat, hakim hanya berpikiran terdakwa harus dihukum, meskipun hukumannya ringan. Namun, pilihan majelis hakim tidak luput dari dasar dakwaan jaksa penuntut umum dengan bentuk dakwaan subsider. Selanjutnya, ada persoalan mendasar beschiking yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan.

C. METODOLOGI EKSAMINASI

a. Fokus Eksaminasi

Bedah kasus ini titik fokus pada 3 (tiga) aspek, modus tindak pidana korupsi, analisis hukum terhadap berkas perkara, dan analisis hukum terhadap rekaman persidangan.

 Modus Tindak Pidana Korupsi Perizinan Kehutanan

Modus utama terlihat dari peran terdakwa dan perusahaan. Sejak awal perusahaan menyadari bahwa izin yang mereka ajukan berupa URKT berada di areal hutan alam, bukan di atas areal hutan tanaman. Setelah URKT masuk ke Dinas Kehutanan, terdakwa meminta staf melakukan telaah dan survey. Hasil temuan staf menemukan URKT berada di hutan alam yang bertentangan dengan beschiking Menteri Kehutanan. Meski mengetahui URKT di atas hutan alam, terdakwa dengan sengaja tetap memberikan pengesahan berupa tandatangan RKT. Selanjutnya perusahaan menebang kayu dari hutan alam. Dari modus tersebut, peran aktor memperlihatkan ada unsur kesengajaan berupa tidak mematuhi beschiking Kementerian Kehutanan.

 Analisa Hukum atas Berkas Perkara

Berkas perkara berupa putusan, dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum menjadi kajian utama dalam melakukan analisi dan eksaminer. Analisis mendalam dibedah oleh Examiner. Eksaminer sesuai dengan keahlian di bidangnya masing-masing membedah lebih dalam dengan menggunakan pendekatan teoretis dan praktis atau istilah lainnya menggunakan pendekatan filosopis, yuridis, sosilogis dan responsive. Intinya analisis berkars perkara, akan menemukan serangkain kejanggalan dalam putusan majelis hakim.

(6)

Page

5

of

61

Rekaman Video sidang menjadi bahan berikutnya untuk menilai dan menelaah lebih dalam proses selama persidangan berlangsung. Terdakwa, Jaksa Penuntut Umum, Majelis Hakim dan Pengunjung menjadi bahan analisa termasuk pertanyaan yang diajukan majelis hakim terhadap terdakwa. Sisi ini hendak melihat kejanggalan selama proses persidanangan berlangsung.

b. Pendekatan Analisa

Untuk melakukan analisis terhadap hal-hal yang dijelaskan dalam focus pelaksanaan bedah kasus di atas, MaPPI menggunakan 3 (tiga) pendekatan sebagai pisau analisis dalam kegiatan bedah kasus ini, yaitu pendekatan hukum pidana materiil, pendekatan hukum pidana formil (hukum acara pidana), dan pendekatan teknis dan perilaku.

1) Penerapan Hukum Pidana Formil

Hukum Pidana Materiil digunakan untuk melakukan analisis terhadap materi persidangan yaitu untuk melihat bagaimana asas-asas hukum pidana diterapkan oleh penegak hukum dalam perkara tindak pidana korupsi. Adapun yang dijadikan acuan adalah teori-teori yang berkembang dalam hukum pidana maupun pengaturan hal tersebut dalam peraturan perundang-undangan seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK), Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan sebagainya.

2) Penerapan Hukum Pidana Materil

Hukum Pidana Formil digunakan untuk melakukan analisis terhadap penerapan hukum pidana materiil oleh penegak hukum. Dalam istilah yang lebih sederhana, hukum pidana formil mengatur bagaimana proses acara pidana dijalankan oleh penegak hukum, yang dalam hal ini coba dibatasi pada tahap penyidikan, penuntutan, dan persidangan. Yang dijadikan acuan dalam menggunakan pendekatan ini adalah teori-teori yang berkembang dalam hukum acara pidana dan memadukannya dengan berbagai pengaturan hukum acara pidana di peraturan perundang undangan seperti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK), dan UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.

3) Perilaku Jaksa, Hakim, Advokat, Terdakwa dan Para Pihak dalam Persidangan, dst Pendekatan Teknis akan difokuskan pada bagaimana seharusnya Penuntut Umum, Majelis Hakim, dan Advokat/Penasehat Hukum bertindak dalam hubungannya dengan pencarian kebenaran materiil dalam persidangan tindak pidana korupsi, misalnya pengajuan pertanyaan kepada Terdakwa/ Saksi/Ahli, pengajuan alat bukti dan barang bukti dalam persidangan, dan sebagainya.

Mengenai pendekatan perilaku, analisis akan difokuskan bagaimana Penuntut Umum, Majelis Hakim, dan Advokat menjalankan kode etik di masing-masing institusi ketika menjalankan perannya dalam suatu persidangan tindak pidana korupsi. Pendekatan perilaku ini tentu tidak dapat dilepaskan dengan kedua pendekatan di atas (hukum pidana materiil dan hukum pidana formil/hukum acara pidana) mengingat ketiga pendekatan ini bersinggungan satu sama lain. Melalui analisis dengan menggunakan

(7)

Page

6

of

61

pendekatan perilaku ini, akan diperoleh suatu rekomendasi terhadap pelaksanaan kode etik dan pedoman perilaku sehingga Penuntut Umum, Majelis Hakim, dan Advokat dapat meningkatkan kualitas ketika menangani perkara tindak pidana korupsi.

c. Pembentukan Panel Bedah Kasus

Analis mengajukan nama-nama menjadi examiner yang telah disetujui oleh MaPPI, USAID/MSI, dan KPK untuk melakukan pembahasan terhadap 3 (tiga) isu di atas, yang terdiri dari:

1. Dr Saifuddin Syukur, SH, MCL

Dr Saifuddin Syukur, SH, MCL, dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Islam Riau juga Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Produk Hukum Daerah Universitas Islam Riau. Doktor (Ph.D) yang beliau raih di Fakulty of Law, University of New Delhi tahun 2005 pada bedah kasus ini membedah dari sisi beschiking Kemenhut yang saling berbenturan untuk pemanfaatan hutan alam, satu sisi hutan alam dilarang untuk untuk izin hutan tanaman, sisi lain hutan tanaman berada di atas hutan alam. secara normative dan praktek mengkaji beschiking kemenhut dari aspek hukum administrasi Negara.

2. Suryadi, SH

Suryadi SH, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru, pada bedah kasus ini membedah terkait kelemahan dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum serta putusan majelis hakim yang ditelisik dari sisi aturan normative dan hukum progresif yang melihat sisi Filosofis, yuridis dan sosiologis

3. Muslim, SP

Muslim, Koordinator Jikalahari. Dalam bedah kasus ini Muslim menelisik fakta lapangan perusakan hutan serta penghitungan kerugian Negara dengan pendekatan ekologis-ekonomis.

d. Diskusi Panel Eksaminasi dan Focus Group Discussion

Pembahasan terhadap materi kasus dilakukan antara Analis, Senior Analis, Examiner, dan Narasumber dalam 3 (tiga) diskusi terarah/Focus Group Discussion (FGD), yang terbagi atas:

1. FGD I

Ditaja pada 12 April 2013 di Hotel Amaris. Dalam FGD I, examiner menyampaikan pandangan dan analisis awal terhadap materi persidangan yang telah disampaikan dalam bentuk berkas perkara dan rekaman persidangan. Examiner mempresentasikan analisis mereka untuk selanjutnya didiskusikan dengan peserta FGD. Terakhir, Analis memfasilitasi examiner untuk membagi tugas di antara mereka, menentukan jadwal pelaksanaan FGD II, dan mengingatkan output yang harus dihasilkan di akhir FGD III yaitu berupa anotasi hukum dan analisis rekaman persidangan bagi masing-masing examiner dan laporan bedah kasus dan matriks bedah kasus yang harus dihasilkan sebagai satu tim.

2. FGD II

Ditaja pada 29 April 2013 di Hotel Amaris Pekanbaru. Pada FGD II, Examiner kembali mempresentasikan pandangan dan analisis mereka terhadap kasus yang sedang dibedah. Selanjutnya, analisis examiner ditanggapi oleh beberapa narasumber yang

(8)

Page

7

of

61

dihadirkan dalam FGD untuk memberikan masukan terhadap analisis tersebut. Adapun yang dihadirkan sebagai narasumber pada FGD II adalah:

a. Prof Bambang Hero Saharjo, M.Agr, Dekan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB). Beliau dihadirkan sebagai ahli untuk menghitung kerugian Negara dari sektor Ekologis-Ekonomis. Ini penting lantaran, selama ini Jaksa Penuntut Umum hanya menggunakan pendekatatan penghitungan PSDH DR untuk kasus korupsi perizinanan sector kehutanan. Sebaiknya Jaksa KPK menggunakan penghitungan Ekologis-Ekonomis, sebab RKT perusahaan illegal atau bertentangan dengan beschiking Kemenhut.

b. DR Saifuddin Syukur, SH. MCL, dosen tetap Universitas Islam Riau (UIR). Beliau ahli hukum tata Negara dan hukum administrasi Negara. Beliau hadir sebagai ahli untuk menilai beschiking kemenhut yang saling berbenturan.

Selanjutnya, Analis memfasilitasi examiner untuk membahas masukan yang diberikan oleh narasumber, membagi tugas di antara examiner, menentukan pelaksanaan FGD III, dan mengingatkan kembali mengenai output yang harus dihasilkan di akhir FGD III.

3. FGD III

Ditaja pada 15 Juni 2013 di Hotel Amaris. Sebelum pelaksanaan FGD III, ketiga examiner telah menyampaikan anotasi hukum dan laporan analisis rekaman persidangan kepada Analis. Selanjutnya, Analis menggabungkan output yang dihasilkan oleh examiner menjadi sebuah draft Laporan Bedah Kasus dan draft Matriks Bedah Kasus atas perkara yang sedang dibedah. Setelah itu, Analis mengirimkan output tersebut kepada examiner dan Senior Analis untuk mendapatkan masukan sebelum dibahas pada FGD III.

Pada FGD III, Analis, Senior Analis, dan Examiner membahas draft Laporan Bedah Kasus dan Matriks Bedah Kasus yang telah disusun oleh Analis berdasarkan analisis examiner untuk difinalisasi menjadi analisa akhir.

Analisis Akhir dari tim yang membahas perkara a quo. Selanjutnya, Analis akan memfasilitasi examiner untuk memeriksa dan menyepakati draft presentasi (berbentuk power point presentation) untuk disampaikan pada Media Briefing dan Workshop Nasional dan menunjuk seorang examiner untuk mewakili tim dalam presentasi di kedua kegiatan tersebut.

D. Diseminasi Hasil Eksaminasi

Terhadap hasil analisis yang dilakukan oleh examiner, MaPPI akan menyebarluaskan dokumen tersebut dalam berbagai kegiatan diseminasi, di antaranya:

1. Media Briefing

Media Briefing diselenggarakan oleh MaPPI dengan bantuan Analis untuk memastikan keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan secara luas. Media Briefing bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada jurnalis dan menyebarluaskan Analisis Akhir

(9)

Page

8

of

61

Bedah Kasus yang telah dibedah sebelumnya. Selanjutnya, MaPPI dan perwakilan dari examiner akan mempresentasikan Analisis Akhir tersebut kepada para peserta dan menerbitkan press release.

2. Workshop Nasional

Workshop Nasional diselenggarakan dengan tujuan untuk menyebarluaskan Analisis Akhir dari kelima kasus yang dibedah dalam kegiatan Bedah Kasus ini secara langsung kepada pemangku kepentingan utama seperti KPK, Kejaksaan Agung/Kejaksaan Tinggi/Kejaksaan Negeri, Mahkamah Agung/Pengadilan Tinggi/Pengadilan Negeri, dan masyarakat.

(10)

Page

9

of

61

BAGIAN II

ANALISA KASUS / ANOTASI PERKARA

A.TEMUAN DAN ANALISA MODUS TINDAK PIDANA KORUPSI PERIZINAN KEHUTANAN

1.Tinjauan Modus Tindak Pidana Korupsi Sektor Kehutanan

Indonesian Corruption Watch (ICW), Transparency International Indonesia, kerap mempublikasi hasil kajian terkait modus, pola dan praktek tindak pidana korupsi perizinanan kehutanan, salah satunya di Propinsi Riau.

Tabel: Praktek atau Pola Korupsi Sektor Kehutanan

Meski ICW dan TII memakai istilah Praktek dan Pola, hasil temuan mereka sama-sama mengkonfirmasi bahwa praktek dan pola korupsi di sektor kehutanan di Riau dimulai dari tahap atau rantai perizinan. TII bahkan menyebut bermula dari rantai peraturan. Praktek dan pola korupsinya berlangsung di semua tahapan yang dimulai suap oleh pengusaha. Pengusaha dalam praktek dan pola terlihat aktif melakukan suap kepada pejabat publik.

Tabel: modus korupsi perizinan kehutanan versi KPK. Garis merah menunjukkan modus perbuatan melawan hukum

(11)

Page

10

of

61

Temuan ICW dan TII tak jauh berbeda dengan modus yang ditemukan KPK dalam korupsi sektor kehutanan. Temuan KPK dalam Kasus korupsi perizinan IUPHHK HT terpidana Azmun Jaafar (Bupati Pelalawan) dan Arwin As Bupati Siak) KPK menemukan modus korupsi terlihat sebelum IUPHHK HT diterbitkan oleh Bupati.

Pelanggaran terhadap Peraturan Pemerintah dan Kepmenhut dimulai sejak perusahaan memasukkan permohonan IUPHHKHT. Areal atau lokasi yang dimohonkan oleh perusahaan memang berada di atas hutan alam. Artinya perusahaan sengaja mengajukan IUPHHKHT yang bertentangan dengan Kepmenhut. Kemudian Bupati setelah menerima permohonan izin memerintahkan Dinas Kehutanan Kabupaten melakukan survei lapangan untuk melihat apakah areal perusahaan di atas hutan alam. Dishut melaporkan kepada Bupati hasil survei benar di atas hutan alam dan IUPHHK HT berada di atas hutan alam, bukan padang alang-alang, semak belukar atau hutan tidak produktif.

Bupati meski mengetahui permohanan IUPHHKHT bertentangan dengan PP dan Kepmenhut tetap memberikan izin UPHHK HT di atas hutan alam, bukan di atas hutan tanaman. Berdasarkan Putusan Pengadilan, motif utama Bupati mengeluarkan IUPHHKHT karena perusahaan memberi sejumlah uang kepada Bupati.

Setelah perusahaan memperoleh IUPHHK HT dari Bupati, selanjutnya untuk melakukan penebangan, perusahaan wajib mengajukan RKT kepada Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau.

Setelah memperoleh IUPHHKHT dari Bupati, perusahaan harus memperoleh RKT dari Dinas Kehutanan Propinsi Riau untuk melakukan penebangan. Meski IUPHHKHT bertentangan dengan hukum atau illegal, atas dasar IUPHHKHT illegal tersebut Kepala Dinas Kehutanan menerbitkan RKT. Motif menerbitkan RKT yang illegal bermacam-macam. Kasus terpidana Asral Rachman (Kadishut Riau periode 2003-2004) menerima sejumlah uang dari perusahaan saat sebelum RKT terbit. Kasus terpidana Syuhada Tasman (Kadishut Riau periode 2004-2005) juga menerima sejumlah uang dari perusahaan sebelum menerbitkan RKT. Dua kepala dinas kehutanan tersebut menerbitkan RKT dengan modus utama sengaja menerbitkan KRT yang bertentangan dengan beschiking Kemenhut karena perusahaan memberi sejumlah uang kepada dua terpidana tersebut.

2. Modus Tindak Pidana Korupsi dalam Perkara Burhanuddin Husin a. Pelanggaran sistematis Perizinan sektor kehutanan

Dari total 45 saksi yang telah diperiksa majelis hakim: 11 saksi korporasi, 29 orang saksi pejabat pemerintahan, 4 ahli dari Penuntut Umum, dan 1 ahli dari terdakwa. Para saksi fakta—11 saksi korporasi, 29 saksi pejabat pemerintah, 4 ahli—mengakui URKT dan RKT memang berada di atas hutan alam. Sebelum URKT diajukan ke Dinas Kehutanan, korporasi sadar areal berada di atas hutan alam. Berikut gambaran modus pelanggaran sistematis perizinan URKT dan RKT sektor kehutanan:

(12)

Page

11

of

61

Modus ini penting untuk melihat bagaimana kejahatan berlangsung yang dilakukan oleh korporasi melalui direktur-direkturnya. Berikut ringkasan table kesaksian direktur perusahaan :

Dalam catatan riau corruption trial terlihat jelas bahwa delapan orang direktur perusahaan yang diajukan Penuntut Umum sebagai saksi membenarkan areal perusahaan mereka berupa hutan alam, sedangkan izinnya untuk hutan tanaman. Hutan alam tersebut di land clearing untuk ditanami hutan tanaman. Hasil kayu alam dijual dan mereka mendapat sejumlah keuntungan dari penjualan tersebut.

Mereka adalah Soe Erwin Direktur PT Mitra Tani Nusa Sejati dan PT Rimba Mutiara Permai berlokasi di Pelalawan. Supendi Direktur PT Uniseraya dan PT Triomas FDI di Pelalawan serta PT Bina Daya Bintara dan PT Seraya Sumber Lestari di Siak. Guno Widagdo Direktur PT Merbau Pelalawan Lestari di Pelalawan. Ficky ZZ Direktur PT Bina Daya Bintara di Siak. Samuel Soengjadi Direktur PT Seraya Sumber Lestari dan PT Bina Daya Bintara di Siak. Heriyanto Direktur PT National Timber and Forest Product di Siak. Soenarijo Direktur PT National Timber and Forest Product di Siak.

Said Edi Direksi CV Alam Lestari pun mengakui areal perusahaannya berupa hutan alam. Said Edi juga Direktur PT Persada Karya Sejati (PKS). Ia katakan di depan persidangan bahwa PT PKS melakukan kegiatan operasional di lapangan menebang kayu alam di areal beberapa perusahaan di Pelalawan. Perusahaan tersebut: PT Madukoro, CV Alam Lestari, dan PT Selaras Abadi Utama. Ketiga perusahaan ini merupakan mitra kerja PT PKS.

Saksi fakta di persidangan mengungkapkan kayu alam yang ditebang dijual ke RAPP untuk keperluan bubur kertas. Said Edi Direktur PT Persada Karya Sejati (PKS) yang melakukan kegiatan operasional di areal milik PT Madukoro, CV Alam Lestari dan PT

(13)

Page

12

of

61

Selaras Abadi Utama mengatakan bahwa hasil kayu alam perusahaan-perusahaan tersebut dijual ke PT RAPP. PT PKS sendiri saat awal pendiriannya tahun 2003 dipegang oleh Rosman selaku direktur. Rosman adalah Manager Forestry PT RAPP. Rosman digantikan oleh Said Edi pada tahun 2006.

Menurut keterangan Budi Surlani staf dinas kehutanan Pelalawan, PT Madukoro didirikan atas permintaan Tengku Azmun Jaafar, Bupati Pelalawan saat itu. PT Putri Lindung Bulan, CV Tuah Negeri, PT Bhakti Praja Mulia, PT Mutiara Lestari, CV Alam Lestari milik keluarga Azmun Jaafar. Perusahaan-perusahaan tersebut didirikan untuk mengurus izin hutan tanaman. Pada akhirnya perusahaan-perusahaan ini berkasus karena menebang hutan alam.

Setelah izin prinsip hutan tanaman terbit, perusahaan-perusahaan tersebut, kecuali PT Madukoro, langsung di take over oleh PT PKS. Perusahaan yang ditake over PT PKS, kata Budi Surlani, mendapat fee hingga Rp 3 miliar. Pemilik PT PKS saat itu adalah Rosman Manager Forestry PT RAPP. Budi Surlani di depan persidangan mengaku mengenal Rosman. Saat perusahaan-perusahaan tersebut hendak di take over, Budi bilang Azmun minta ia untuk menghubungi Rosman.

Lim Wi Lin Direktur Keuangan PT RAPP turut memberikan keterangan di persidangan Burhanuddin Husin. Sebagai orang dalam di PT RAPP, ia mengakui PT RAPP melakukan kerjasama dengan PT PKS untuk menjalankan perusahaannya. PT RAPP juga pernah melakukan land clearing di lahan milik PT Selaras Abadi Utama, CV Alam Lestari, CV Tuah Negeri, PT Mutiara Lestari, dan PT Putri Lindung Bulan. Perusahaan-perusahaan tersebut melakukan hubungan mitra kerjasama dengan PT PKS. PT RAPP bahkan pernah membayarkan PSDH dan DR untuk perusahaan-perusahaan tersebut dan hasil kayunya dibawa oleh PT RAPP. Perusahaan-perusahaan pun mendapat fee dari PT RAPP.

“Alasan utama RAPP melakukan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan pemegang izin tersebut, karena kekurangan pasokan kayu untuk bubur kertas. Ditebang kayu alam untuk ditanam kayu akasia. Hasilnya dijual ke RAPP untuk diolah menjadi kertas,” kata Lim Wi Lin, Direktur Keuangan PT RAPP.

Keterlibatan PT RAPP diungkapkan pula oleh Soenarijo Direktur PT National Timber and Forest Product di depan persidangan. Ia katakan perusahaannya dikerjakan oleh PT Cahaya Mas Lestari Jaya anak perusahaan PT RAPP. Direktur PT Cahaya Mas Lestari Jaya adalah Rosman, Manager Forestry PT RAPP.

Baik Lim Wi Lin maupun Soenarijo sama-sama mengungkapkan bahwa PT RAPP membayar sejumlah fee ke perusahaan atas kayu alam yang dibeli. Misal PT Mitra Tani Nusa Sejati, kata Lim Wi Lin, mendapat fee sebesar Rp 21 miiar dari land clearing hutan alam tersebut. Soenarijo Direktur PT National Timber and Forest Product juga mendapat fee Rp 700-800 juta dari PT Cahaya Mas Lestari Jaya, anak perusahaan PT RAPP.

(14)

Page

13

of

61

2. Kesaksian Pegawai Dinas Kehutanan

Berikut table ringkasan kesaksian pegawai dinas kehutanan yang melakukan survey terhadap kebenaran kayu alam ditebang perusahaan.

Saksi fakta di persidangan mengungkapkan mereka mendapat sejumlah bayaran atas kerja melakukan survey di areal perusahaan. Surakhmat tim survei PT Merbau

Pelalawan Lestari, PT Mitra Tani Nusa Sejati, PT Madukoro, PT Uniseraya, PT Selaras Abadi Utama mengatakan mendapat honor dari perusahaan tersebut sebesar Rp 400 ribu per hari. Wahyu Idris tim survei PT Rimba Mutiara Permai mendapat honor dari perusahaan senilai Rp 2,5-3,5 juta per orang. Sandra Wibawa tim survei PT Seraya Sumber Lestari katakan dapat honor dari perusahaan senilai Rp 15-20 juta untuk semua anggota tim survei.

Amin Budiadi Kadishut Siak mengakui terima Rp 85 juta dari perusahaan yang pernah dibuat pertimbangan teknisnya. Edi Suriandi Kadishut Pelalawan juga mengatakan ada terima dana dari perusahaan pada proses pengesahan RKT.

Para petugas P2LHP pun mendapat honor dari perusahaan atas kerja mereka di lapangan. Hal ini diakui oleh Fachrudin P2LHP PT Mitra Tani Nusa Sejati dan Selaras Abadi Utama, Tri Rahayu Widodo P2LHP PT Merbau Pelalawan Lestari, Amrizal P2LHP PT Triomas FDI, Djamalis P2LHP PT Uniseraya, Irianto P2LHP CV Alam Lestari, Andi Stevanus Aritonang P2LHP PT National Timber and Forest Product, Kusriantono P2LHP PT Rimba Mandau Lestari, Winarto P2LHP PT Seraya Sumber Lestari, Ajis P2LHP PT Bina Daya Bintara dan Balai Kayang Mandiri.

(15)

Page

14

of

61

Uang yang diterima dari keterangan mereka tidak sama jumlahnya. Amrizal bersaksi mendapat uang transport Rp 1 juta per bulan selama 3 tahun dari PT Triomas FDI. Djamalis mendapat honor Rp 500 ribu sekali turun ke lapangan dari PT Uniseraya. Irianto mendapat honor Rp 500 ribu sekali turun ke lapangan dari CV Alam Lestari. Abdul Haris KCDK Siak mengaku terima uang dari Agus Syamsir, staf Dishut Siak senilai Ro 250-300 ribu per bulan. Uang tersebut diterimanya selama 2 tahun. Sebagai KCDK, Abdul Haris bertugas mengesahkan PSDH dan DR yang dibayarkan perusahaan. Menurut dakwaan Jaksa Penuntut umum modusnya sebagai berikut:

Korporasi-korporasi yang memiliki IUPHHKHT di Kabuten Pelalawan dan Kabupaten Siak— IUPHHKHT bertentangan dengan hukum--mengajukan surat permohonan penilaian dan pengesahan Usulan Rencana Kerja Tahunan (URKT) UPHHKHT kepada terdakwa sebagai dasar melakukan penebangan kayu hutan alam di areal IUPHHKHT dengan alasan guna penyiapan lahan atau land clearing yang isinya antara lain memuat rencana penebangan dan target produksi penebangan hutan alam. Tembusan juga diberikan pada Drs Edi Suriandi, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan dan Amin Budiadi, Kepala Dinas Kehutanan Siak.

Edi Suriandi di Pelalawan dan Amin Budiadi di Siak lantas melakukan survei untuk mengetahui potensi tegakan kayu hutan alam di areal IUPHHKHT yang dimohonkan penilaian dan pengesahan RKT. Hasil survei berisi hutan alam di atas 5m3/ha lantas disampaikan pada terdakwa.

Terdakwa menerima hasil survei itu memerintahkan Fadrizal Labay, Kasubdin Pengembangan Kehutanan Dinas Kehutanan Propinsi Riau, lantas Fadrizal Labay memerintahkan Frederik Suli untuk koordinasi dengan Purnama Irwansyah MM.

Purnama Irwansyah membuat nota dinas tentang penghitungan potensi tegakan kayu hutan alam pada areal yang dimohonkan penilaian dan pengesahan URKT UPHHKHT oleh korporasi. Isi Nota dinas menyimpulkan dalam blok RKT yang diusulkan terdapat potensi kayu hutan alam.

Terdakwa mengetahui IUPHHKHT yang diterbitkan Bupati Pelalawan H Tengku Azmun Jaafar dan Bupati Siak Arwin As bertentangan dengan Kepmenhut. Terdakwa juga mengetahui URKT yang dimohonkan penilaian dan pengesahan tersebut berisi rencana penebangan kayu hutan alam yang memiliki potensi tegakan lebih dari 5m3/ha, yang seharusnya menurut Kepmenhut tidak boleh ditebang, tetap mengesahkah URKT-UPHHKHT yang diajukan oleh korporasi. Menurut Ahli Suhariyanto, seharusnya Kepala Dinas Kehutanan menghentikan URKT tersebut.

Setelah RKT terbit PT Mitra Tani Nusa Sejati, PT Selaras Abadi Utama, CV Alam Lestari, PT Merbau Pelalawan Lestari, PT Uniseraya, PT Rimba Mutiara Permai, PT Trio Mas FDI, PT Madukoro (Pelalawan), dan PT Seraya Sumber Lestari, PT Rimba Mandau Lestari, PT Bina Daya Bintara, PT National Timber and Forest Product (Siak)melakukan penebangan kayu hutan alam melebihi tegakan kayu lebih dari 5m3/ha.

(16)

Page

15

of

61

Pemebangan hutan alam bertentangan dengan Keputusan Menteri Kehutanan;

1. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 10.1/Kpts-II/2000 tanggal 6 November 2000 tentang Pedoman Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman;

2. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 21/Kpts-II/2001 tanggal 31 Januari 2001 tentang Kriteria dan Standar Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman pada Hutan Produksi;

3. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 151/Kpts-II/2003 tanggal 2 Mei 2003 tentang Rencana Kerja, Rencana Lima Tahun, Rencana Kerja Tahunan dan Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman;

4. Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2002 tanggal 8 Juni 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan.

5. Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan; dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 32/Kpts-II/2003 tanggal 5 Februari 2003 tentang Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam atau Hutan Tanaman melalui Penawaran dalam Pelelangan.

Akibat perbuatan perbuatan terdakwa mengesahkan rkt hutan alam tersebut telah memperkaya atau menguntungkan delapan korporasi di Pelalawan senilai total Rp 410 .703.937.368, dan korporasi di Siak total Rp 193.324.468.492. Perbuatan terdakwa juga merugikan keuangan negara atau perekonomian negara total Rp 519.580.718.790.

Tabel: Setelah IUPHHKHT terbit korporasi harus mendapatkan RKT. Garis merah menunjukkan RKT yang bertentangan dengan aturan kepmenhut

Berdasarkan kesaksian direktur perusahaan, pegawai dinas kehutanan terlihat dengan jelas bahwa motif utama perusahaan mengajukan IUPHHKHT dan RKT di atas hutan alam meski dengan cara melanggar aturan karena keuntungan ekonomi yang besar. Lihat keuntungan besar perusahaan dalam table berikut ini:

(17)

Page

16

of

61

b. Beschiking Kemenhut saling berbenturan

Beschiking Kemenhut selain mengatur perizinan hutan alam, juga mengatur perizinan hutan tanaman untuk industry kayu dan pulp and paper. Pengaturan tersebut diatur dalam bentuk Kepmenhut sebagai berikut:

1. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 10.1/Kpts-II/2000 tanggal 6 November 2000 tentang Pedoman Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman;

2. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 21/Kpts-II/2001 tanggal 31 Januari 2001 tentang Kriteria dan Standar Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman pada Hutan Produksi;

3. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 151/Kpts-II/2003 tanggal 2 Mei 2003 tentang Rencana Kerja, Rencana Lima Tahun, Rencana Kerja Tahunan dan Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman;

4. Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2002 tanggal 8 Juni 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan.

5. Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan; dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 32/Kpts-II/2003 tanggal 5 Februari 2003 tentang Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam atau Hutan Tanaman melalui Penawaran dalam Pelelangan.

Intinya IUPHHK HT tidak boleh di atas lahan hutan alam. Untuk penebangan hutan alam ada izin tersendiri namanya IUPHHK HA. Untuk memperoleh IUPHHK HA kriterianya

(18)

Page

17

of

61

sangat ketat. Namun, untuk IUPHHK HT cukup di padang alang-alang atau bukan di atas hutan alam.

Namun, dalam perjalanan Kepmenhut sering berubah-ubah terkait pemanfaatan hutan alam. Hal tersebut bisa dilihat dari keterangan terdakwa dan pertimbangan majelis hakim terkait Kepmenhut yang saling berbenturan, yaitu;

1. URKT IUPHHKHT yang IUPHHKHT diterbitkan Bupati Pelalawan dan Siak secara substansial tidak sesuai dengan Kepmenhut No.10.1/Kpts-II/2000 jo Kepmenhut No 21/Kpts-II/2001 tentang pedoman pemberian izin UPHHKHT yaitu areal yang diberikan masih berupa hutan alam yang potensi tegakan kayunya melebihi 5 m3/ ha.

2. Keputusan IUPHHK HT Pelalawan dan Kabupaten Siak mengandung cacat yuridis subtantif, namun IUPHHK HT tersebut masih berlaku atau belum dibatalkan pihak yang memiliki wewenang dalam hal ini Menteri Kehutanan.

3. Majelis hakim tidak sependapat dengan Ahli Ir Sugeng Widodo yang menerangkan IUPHHK HT harus dicabut Bupati jika lahan potensi tegakannya melebihi 5m3/ha atau berada di hutan alam atau melanggar Kepmenhut No 10.1/kPTS-II/2000. Karena menurut majelis hakim izin tersebut masih berlaku, terbukti sebelum pengesahan RKT oleh terdakwa izin IUPHHKHT masih berlaku.

4. Menteri telah menerbitkan Permenhut No P.03/Menhut-II/2005 tentang pedoman verifikasi izin pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam dan atau pada hutan tanaman yang diterbitkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota. Dalam pelaksanaanya telah diverifikasi terhadap IUPHHKHT.

5. Dalam nota pembelaan terdakwa terungkap tahun 2003 Kemenhut telah mengeluarkan kebijakan tentang percepatan pembangunan Hutan Tanaman untuk pemenuhan Bahan Baku Industri Pulp dan Kertas dengan dikeluarkannya Kepmenhut No: SK.101/Menhut-II/2004.

6. Telah terjadi perubahan kebijakan dengan terbitnya Kepmenhut No. SK 101/Menhut-II/ 2004 tanggal 24 Maret 2004, walau tidak langsung menghapus ketentuan Kepmenhut No SK 10.1/Menhut-II/2000. Namun, Kemenhut telah membenarkan proses penyiapan lahan (land clearing) dengan melakukan penebangan huta alam.

7. IUPHHKHT belum dicabut, bahkan sebagian telah diverifikasi dan terbit pembaharuan izin oleh Menhut dan ada program jangka pendek berupa percepatan pembangunan HTI sampai 2009 membenarkan kayu hasil land clearing pada hutan alam. Maka pengesahan RKT terdakwa meski secara hukum bertentangan dengan Kepmenhut No SK 10.1/Menhut-II/2000, namun sesuai Kepmenhut No sk.101/Menhut-II/2004, perbuatan terdakwa dapat dibenarkan.

8. Walau secara normatif perbuatan terdakwa dibenarkan, pengakuan tedakwa RKT sepenuhnya dilimpahkan pada pejabat tekhnis. Terdakwa tinggal teken. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan pembiaran dilakukan terdakwa tidak mampu kontrol penebangan hutan alam. Perbuatan terdakwa dapat dikualifikasikan penyalahgunaan wewenang yang juga merupakan bagian dari perbuatan melawan hukum.

Perbuatan terdakwa cacat yuridis secara substantif melanggar Kepmenhut No 10.1/Menhut-II/2000. Namun majelis hakim membenarkan perbuatan terdakwa sesuai Kepmenhut No sk.101/Menhut-II/2004, dan IUPHHKHT belum dicabut Menhut malah ada pembaharuan izin Menhut. Artinya perubahan Beschiking Kepmenhut yang saling

(19)

Page

18

of

61

berbenturan terkait pemanfaatan hutan alam untuk industry pulp and paper menunjukkan areal berbahaya dalam proses perizinan sektor kehutanan.

c. Modus titik lemah Pasal 2 dan Pasal 3

KPK membuat alur korupsi dalam proes usaha kehutanan. Tindak Pidana Korupsi sektor kehutanan masuk dalam wilayah KPK jika dalam proses tahapan dan rantai perizinan ada unsur melawan hukum, penyalahgunaan wewenang, suap dan kerugian keuangan Negara bila dilakukan oleh pejabat Negara yang memang punya fungsi supervise, regulasi dan perizinan. Dalam kasus ini Jaksa KPK menggunakan dakwaan subsidiaritas, primer menggunakan Pasal 2 dan subsiber menggunakan pasal 3. Ini menunjukkan KPK ragu apakah terdakwa melakukan perbuatan melawan hukum atau penyalahgunaan wewenang? Modus utama yang terlihat adalah ada celah membebaskan atau meringankan terdakwa terkait pilihan “perbuatan melawan hukum” atau “penyalahgunaan wewenang”. Titik lemah UU Tipikor ada pada hukuman minimal berbeda pasal 2 dan pasal 3. Kelemahan ini ada cela bagi majelis hakim untuk meringakan atau membebaskan terdakwa dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum.

1) TEMUAN DAN ANALISIS DAKWAAN DAN TUNTUTAN

a. TERKAIT DAKWAAN BENTUK SUBSIDAIR

Berdasarkan Pasal 143 KUHAP mengenai syarat surat dakwaan, ditentukan dua syarat harus dipenuhi dalam surat dakwaan.

a. Harus memenuhin syarat formal berupa; (i) surat dakwaan diberi tanggal dan ditandatangani oleh penuntut umum/jaksa, dan (ii) Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan tersangka

b. Harus memenuhi syarat materil berupa; (i) uraian cermat, jelas, dan lengkap mengenai tinda pidana yang didakwakan, (ii) menyebut waktu dan tempat tindak pidana dilakukan (tempus delicti dan locus delicti)

Dalam surat dakwaan setebal 48 halaman, Jaksa Penuntut Umum telah memenuhi syarat formal dan syarat materil, hal tersebut tergambar dan terlihat jelas dalam surat dakwaan. Atas perbuatan terdakwa, Jaksa Penuntut Umum mendakwa dengan dakwaan Subsidair, sebagai berikut;

Dakwaan Primer:

Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUH Pidana jo. Pasal 65 ayat (1) KUH Pidana

Dakwaan Subsidiair:

Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor

(20)

Page

19

of

61

20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 65 ayat (1) KUH Pidana.

Bentuk dakwaan Subsidair terdiri dari dua atau beberapa dakwaan yang disusun dan dijejerkan secara berurutan (berturut-turut), mulai dari dakwaan tindak pidana “yang terberat” sampai kepada dakwaan tindak pidana “yang ringan”. Artinya hanya satu dakwaan yang akan dibuktikan. Inti dari dakwaan Subsidair adalah hanya satu saja hukuman yang dijatuhkan kepada terdakwa dan memberi kebebasan hakim untuk memilih dakwaan mana yang diangga terbukti.

Pidana penjara dakwaan Primer Pasal 2 ayat paling singkat 4 (empat) tahun, paling lama 20 tahun, denda paling sedikit Rp 200 juta, paling banyak Rp 1 Milyar. Pidana penjara dakwaan Subsider Pasal 3 paling singkat 1 (satu) tahun, paling lama 20 tahun, denda paling sedikit Rp 50 juta, paling banyak Rp 1 Miliar.

Lazimnya, bentuk dakwaan subsidair diajukan apabila peristiwa pidana yang terjadi karena menimbulkan suatu akibat dan akibat yang ditimbulkan meliputi atau bertitik singgung dengan beberapa ketentuan pasal pidana yang hampir saling berdekatan cara melakukan tindak pidana tersebut.

Menurut M Yahya Harahap, S.H. dalam bukunya berjudul Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP edisi kedua, menyebutkan dalam menyusun dakwaan subsidair fakta bahwa tindak pidana dilakukan terdakwa telah menyentuh beberapa ketentuan pidana asal akan tetapi jaksa penuntut umum ragu, dan tidak berani menentukan secara pasti bahwa akibat itu telah mengena terhadap satu pasal pidana tertentu. Akibatnya Jaksa tak mau mengambil resiko yang memungkinkan terdakwa tidak terbukti kesalahannya jika hanya bertumpu atas satu dakwaan saja. Intinya jaksa memasang jerat, dengan perhitungan salah satu jerat yang dipasang akan mengena terdakwa.

Keraguan Jaksa Penuntut Umum terlihat pada unsur dalam dakwaan primer dan subsidair terkait “perbuatan melawan hukum” dengan “penyalahgunaan wewenang”.

Meski dalam persidangan pembacaan Tuntutan Jaksa Penuntut Umum setebal 431 halaman terhadap terdakwa dengan percaya diri Jaksa penuntut umum menyatakan terdakwa Burhanuddin Husin terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana diancan pidana dalam dakwaan Primer, menjatuhkan pidana penjara 6 (enam) tahun , dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan, dan pidana denda sebesar Rp 250 juta, subsidiair 5 (lima) bulan kurungan, dengan perintah supaya terdakwa tetap dalam tahanan, dengan barang bukti sebanyak 640 berkas surat.

Namun, pada akhirnya majelis hakim ternyata membebaskan terdakwa dari dakwaan primair, karena berdasarkan pemeriksaan majelis hakim, terdakwa tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan oleh JPU.

Dalam Hukum Pidana unsure Delik adalah unsure yang terpenting dalam pengungkapan sebuah kasus dalam pidana, yang menurut Moelyatno suatu Delik memiliki unsure-unsur : 1. Perbuatan (manusia),

(21)

Page

20

of

61

2. Memenuhi rumusan dalam undang-undang (syarat formal), 3. Bersifat melawan hukum (syarat formil).

Bahwa selain itu yang terpenting dalam hukum pidana adalah pertanggung jawaban pidana yang memuat tiga hal :

1. Sifat melawan hukum ,

2. Adanya kemampuan bertanggung jawab bagi pelaku delik, dan 3. Tidak adanya alasan penghapus pidana.

Jika memperhatikan ketentuan Pasal 6 ayat (2) Undang-undang No.14 tahun1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi ”Tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana kecuali apabila Pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang mendapat keyakinan bahwa seseorang dianggap bertanggung jawab bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya”

Maka hal tersebut adalah sejalan dengan ketentuan pasal 1 Butir 7 dan pasal 137 serta pasal 140 ayat (1) KUHAP yang pada pokoknya mengandung pengertian antara lain:

 Pembuatan surat dakwaan harus secara sempurna;  Surat dakwaan adalah dasar dari pemeriksaan hakim.

Hal ini merupakan asas dari hukum acara pidana bahwa surat dakwaan memegang peranan penting sekali dalam proses perkara pidana. Bahwa ruang lingkup pemeriksaan dipersidangan dibatasi oleh fakta yang didakwakan, sehingga hakim dalam menjatuhkan putusannya hanya semata-mata berdasarkan hasil pemeriksaan dan penilaian terhadap fakta yang diuraikan dalam surat dakwaan yang dianggap terbukti.

Dengan demikian, surat dakwaan menjadi sangat penting bagi Penuntut Umum sendiri, karena ia merupakan dasar untuk melakukan penuntutan, pembuktian, pembahasan yuridis dalam tuntutan pidana (requisitoir) dan selanjutnya dasar untuk melakukan upaya hukum.

Juga penting bagi Terdakwa, karena surat dakwaan merupakan dasar dalam pembelaan dan menyiapkan bukti-bukti tandingan terhadap apa yang telah didakwakan terhadapnya dan demikian pula penting bagi hakim, karena surat dakwaan merupakan dasar untuk pemeriksaan disidang pengadilan dan merupakan dasar putusan yang akan dijatuhkan tentang terbukti tidaknya kesalahan Terdakwa sebagaimana dimuat dalam surat dakwaan. Oleh karena itu pada umumnya surat dakwaan diartikan oleh para ahli hukum, dengan pengertian:

 Surat Akte

 Yang memuat perumusan tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa,

 Perumusan mana yang ditarik dan disimpulkan dari hasil pemeriksaan penyidikan dihubungkan dengan rumusan pasal tindak pidana yang dilanggar dan didakwakan pada Terdakwa,

(22)

Page

21

of

61

 Dan surat dakwaan tersebutlah yang menjadi dasar pemeriksaan bagi hakim dalam sidang Pengadilan (lihat M.Yahya Harahap,SH,Penerapan KUHAP,Jilid 1,halaman 414). Jika kita memperhatikan hukum positif yang berlaku sekarang ini, masih terdapat ketidak seragaman mengenai penyebutan surat dakwaan, seperti misalnya dalam Pasal 12 ayat (1) Undang-undang Pokok Kejaksaan (UU No.5/1961) pada itu menyebutkan “Surat Tuduhan”. Tetapi yang jelas, baik surat dakwaan maupun surat tuduhan, makna dan maksudnya adalah sama, yang berbeda adalah landasan berpijak Undang-undangnya.

Dengan diberlakukannya KUHAP maka secara resmi dipergunakan istilah “Surat Dakwaan” dan ini berarti surat dakwaan yang tidak mematuhi ketentuan pasal 143 ayat (2) huruf b batal demi hukum sedangkan surat dakwaan yang tidak memenuhi ketentuan pasal 143 ayat (2) huruf a dapat dibatalkan.

Jika kita memperhatikan surat dakwaan saudara Penuntut Umum sebagaimana yang telah dibacakan dalam persidangan tanggal 11 Juni 2013 dan dihubungkan dengan persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam pasal 143 ayat (2) terlihat jelas bahwa pada dakwaan tersebut maka dakwaan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi secara formil telah benar dan tidak mengandung cacat yuridis.

Bahwa menurut Arres Hoge Raad mengenai syarat yang harus dipenuhi oleh surat dakwaan antara lain :

 Dalam putusannya 9 Nopember 1948,NJ 1949 nomor 37,dengan catatan dari WP, menentukan bahwa semua unsur dari tindak pidana yang didakwakan Terdakwa itu harus dicantumkan dalam surat dakwaan;

 Dalam putusannya tanggal 27 juni 1854,W.1667 berpendapat bahwa suatu surat dakwaan yang tidak memuat unsur-unsur dari tindak pidana yang didakwakan terhadap Terdakwa itu harus dinyatakan batal dan pengadilan tidak boleh memutus pelepasan dari segala tuntutan hukum.

Dengan mendasarkan pada pendapat Arres Hoge Raad tersebut, maka dengan demikian jelas bahwa surat dakwaan saudara Penuntut Umum tersebut2 memenuhi pasal 143 ayat (2) KUHAP, sehingga mengakibatkan dakwaan tersebut jelas ,oleh karena itu dakwaan saudara Penuntut Umum harus dinyatakan telah memenuhi ketentuan formil dalam hukum pidana.

Dalam konteks penegakan hukum pidana yang berkembang saat ini menurut semestinya Jaksa Penuntut Umum tidak lagi memakai model pendekatan doktrin pidana yang hanya memasang jaring-jaring sebanyak-banyak nya.Karena dari salah satu jaring yang terpasang tersebut pasti akan ada yang dikenakan karena hal ini seiring perkembangan hukum pidana yang terjadi.

22 Baca Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada

(23)

Page

22

of

61

Dapat terlihat seolah-olah dakwaan Jaksa ini konsisten dan terkesan mencari-cari kesalahan terdakwa yang hal itu akan berdampak fatal bagi putusan yang akan diambil oleh majelis hakim apalagi jika dicermati dalam dualisme pasal terkait pasal 2 dan 3 Undang-undang Nomor : 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor : 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi yang membawa dampak implikasi pada putusan yang meringankan Terdakwa.

Hal tersebut dapat kita bandingkan dari segi ancaman Pidana yang tertera dalam pasal 2 ayat (1) dalam Undang-undang tersebut mempunyai ancaman minimal 4 tahun sedangkan pasal 3 mempunyai ancaman minimal satu tahun, hal ini jika dihubungkan dengan dakwaan Jaksa Penuntut umum diatas maka dakwaan subsidiaritas mempunyai konsekwensi pada pilihan hakim akan menggunakan dakwaan yang akan meringankan terdakwa sebagaimana dalam doktrin pidana jika didakwakan dakwaan terhadap terdakwa pada beberapa pasal maka hakim memilih dakwaan yang paling meringankan terdakwa Undang-undang yang diajukan oleh JPU pada perkara aquo juga memungkinkan untuk itu.

Semestinya, jika sedari sejak semula Jaksa Penuntut umum yakin menerapkan pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor : 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor : 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi maka harus dengan keyakinan dengan bukti-bukti yang ada untuk memastikan dakwaan tersebut dapat dibuktikan dipersidangan.

d. TERKAIT TUNTUTAN

Bahwa terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah dituntut berdasarkan surat tuntutan NO.TUT-27/24/10/2012. Supaya Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Pekanbaru yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan :

1. Menyatakan Terdakwa Drs Burhanuddin Husin,MM terbukti bersalah melakukan tindak pidana Korupsi secara bersama-sama sebagaimana diancam pidana dalam pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor : 20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana Jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana dalam dakwaan Primair

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Terdakwa Drs Burhanuddin Husin,MM berupa pidana penjara selama 6 (enam) tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dan pidana denda sebesar Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah) subsidair 5 (lima) bulan kurungan,dengan perintah supaya teerdakwa tetap dalam tahanan.

3. Menyatakan barang bukti berupa :

1) Uang Tunai Rp.300.000.000,- yang disita dari SUPENDI Direktur PT. BINA DAYA BINTARA dan PT.SERAYA SUMBER LESTARI (AA1)

2) Uang Tunai Rp.300.000.000,- yang disita dari SUPENDI Direktur PT. BINA DAYA BINTARA dan PT.SERAYA SUMBER LESTARI (AA2)

3) Uang Tunai Rp.300.000.000,- yang disita dari SUPENDI Direktur PT. BINA DAYA BINTARA dan PT.SERAYA SUMBER LESTARI (AA3)

(24)

Page

23

of

61

4) Uang Tunai Rp.200.000.000,- yang disita dari SUNARIYO Direktur PT. NATIONAL TIMBER AND FOREST PRODUCT. (AA4)

5) Uang Tunai Rp.100.000.000,- yang disita dari FICKY ZZ Direktur PT. BINA DAYA BINTARA (AA5)

Dirampas untuk negara Barang bukti berupa :

1. Petikan Keputusan Gubernur Riau Nomor : Kpts.383/VII/2005 Tanggal 9 Agustus 2005 tentang pengangkatan Pejabat Struktural Eselon II dilingkungan Pemerintah Provinsi Riau atas nama Drs. Burhanuddin Husin,MM selaku Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau (L.13a).

Dikembalikan pada Terdakwa.

4. Menetapkan agar terdakwa Drs. Burhanuddin Husin,MM dibebani biaya perkara sebesar Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah)

Jika kita mencermati Tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam perkara ini maka Jaksa Penuntut Umum dalam membuat Tuntutan kepada terdakwa tampak ragu-ragu dalam menerapkan pasal karena menggunakan bentuk surat Dakwaan Subsidairitas sementara dalam Tuntutan dakwaan primer saja yang diajukan dalam penuntutan hal ini menurut hemat penulis sangat berbahaya karena Jaksa Penuntut umum ragu-ragu dalam membuat tuntutan hal mana dalam dakwaan JPU menerapkan dakwaan primer dan subsider sedangkan dalam tuntutan JPU menuntut sesuai dakwaan primer yaitu pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor : 20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana Jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana dalam dakwaan Primair.

Hal ini menunjukkan adanya keraguan Saudara Jaksa Penuntut Umum dan mengindikasikan hanya untuk menjerat Terdakwa. sehingga jika dihubungkan dengan fakta persidangan jelas bahwa saksi-saksi yang dihadirkan dapat memastikan dengan jelas terdakwa benar-benar melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan dan dituntut oleh saudara Jaksa Penuntut Umum.

Maka sangat jelaslah bahwa terdakwa merupakan Pelaku dapat dibuktikan secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana.dan jika Majelis hakim berpendapat bahwa dakwaan primer yang diajukan JPU tidak dapat diterapkan ataupun tidak terbukti maka konsekwensi dari penerapan hukum pidana Terdakwa harus dilepaskan dan atau dibebaskan.

Bila ditarik kesimpulan terkait dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum terlihat: 1. Bahwa telah terjadi ketidak cermatan JPU dalam membuat Tuntutan

2. Bahwa Tuntutan JPU terlihat ragu-ragu dan tidak konsisten hal mana jika dihubungkan dalil teori koherensi sebagaimana dalam kebenaran filsafat yang ditulis jean Paul Sartre

(25)

Page

24

of

61

dalam Psikologi Imajiner dihubungkan dengan Tuntutan JPU maka hal ini dapat dikatakan tidak mempunyai nilai kebenaran

3. Bahwa berdasarkan fakta persidangan yang ada dalam persidangan maka terbukti sah dan meyakinkan berdasarkan hukum untuk dapat menyatakan terdakwa bersalah. 4. Bahwa berdasarkan azas kepastian Hukum terhadap perkara ini tidak terdapat

kepastian hukum yang jelas karena Dakwaan dan tuntutan dibuat secara subsidiaritas oleh Saudara Jaksa Penuntut Umum dan terlihat hanya berkeinginan menjerat saja padahal telah sama-sama kita ketahui surat dakwaan berfungsi sangat penting dalam pemeriksaan perkara pidana, karena surat dakwaan menjadi dasar dan menentukan batas-batas pemeriksaan bagi hakim.

e. MENGHITUNG KERUGIAN NEGARA DARI SEKTOR PSDH DR DAN

EKOLOGIS-EKONOMIS

Dalam dakwaan dan tuntutan untuk menghitung kerugian keuangan Negara atau perekonomian Negara Jaksa Penuntut Umum menghadirkan ahli dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Melalui Keterangan Ahli Nasrul Wathon yang menghitung kerugian keuangan negara berdasarkan PSDH-DR dengan metode penghitungan kerugian Negara dihitung dari kubikasi kayu tebangan, lantas ditentukan nilai kayu hasil tebangan. Keterangan Ahli Nasrul Wathon dari BPKP berpendapat bahwa ahli tidak menghitung adanya dampak yang ditimbulkan atas adanya penebangan-penebangan karena di luar kompetensi ahli seperti perubahan alam cuaca dan lain-lain. Ahli hanya menghitung kerugian riil saja.

Artinya, JPU KPK hanya menghitung kerugian Negara hanya bersifat riil saja. Padahal Penghitungan Kerugian Negara bukan saja bisa dihitung bersifat riil, tapi juga bersifat potensial. Kerugian dalam praktik Undang-undang Pemberantasan tindak pidana korupsi dapat dilihat dalam petunjuk BPKP. 3

Menurut Petunjuk (PSP) terbitan BPKP menjelaskan :

1) Pengertian Pemeriksaan khusus yang dimaksud dalam buku petunjuk ini, adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap kasus penyimpangan yang menimbulkan kerugian keuangan Negara/kekayaan Negara dan/atau perekonomian Negara, sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan mengenai ada tidaknya indikasi TPK ataupun perdata pada kasus yang bersangkutan.

2) Sedangkan pengertian kerugian keuangan adalah Negara/kekayaan Negara adalah suatu kerugian Negara yang tidak hanya bersifat riil yaitu benar-benar telah terjadi, namun juga yang bersifat potensial yaitu yang belum terjadi seperti adanya pendapatan Negara yang akan diterima dan lain sebagainya.

Karena BPKP memberi petunjuk penghitungan bersifat potensial, seharusnya Jaksa KPK juga bisa meminta BPKP untuk melakukan penghitungan yang bersifat potensial.

Harusnya kerugian Negara tidak hanya dihitung dari PSDH DR saja, sebab berdasarkan RKT yang diterbitkan terdakwa bertentangan dengan Keputusan Menhut. Itu berarti RKTnya illegal,

(26)

Page

25

of

61

sebab di hutan alam, bukan di hutan tanaman. Areal yang illegal itu bisa dihitung kerugian ekologisnya. Menurut Prof Bambang Hero Saharjo, dekan Fakultas Kehutanan IPB, kerugian ekologis ekonomis masuk dalam penghitungan ril, dan ini sesuai dengan petunjuk BPKP. Salah satu model penghitungan kerugian Negara lainnya (bersifat ril) yang bisa dipakai adalah versi Kementerian Lingkungan Hidup. Pada tahun 2006, Kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan panduan perhitungan ganti kerugian. Dalam penghitungan itu Komponen yang dihitung: Kerugian Ekologis dan Kerugian Ekonomis meliputi: Nilai Kayu alam yang hilang dan nilai pakai lahan yang hilang selama 100 tahun.

Perhitungan model Kementerian Lingkungan Hidup ini pernah dipakai oleh Satgas PMH pada tahun 2011 saat menghitung kerugian keuangan Negara untuk kasus dugaan illegal logging 14 perusahaan HTI di Riau. Satgas PMH menghitung kerugian keuangan Negara 14 HTI di Riau mendekati Rp 2.000 Triliun. Tiga dari 14 perusahaan dalam illegal logging Riau yaitu PT Madukoro, PT Merbau Pelalawan Lestari dan PT Rimba Mandau Lestari juga terlibat dalam kasus terdakwa Burhanuddin Husin.

Berdasarkan hasil investigasi langsung di lapangan dan berdasarkan analisa laboratorium yang dilakukan Prof Bambang Hero Saharjo, perhitungan beban biaya pemulihan kerusakan lingkungan hidup akibat kerusakan hutan alam salah satunya di IUPHHK-HT PT Merbau Pelalawan Lestari dan penghitungan total yang dilakukan Muslim Rasyid dari Jikalahari di areal RKT adalah sebagai berikut :

Estimasi Kerugian Lingkungan Akibat Rencana Kerja Tahunan (RKT) Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (UPHHKHT) yang dikeluarkan Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau periode 2005‐2006.

1. Kerusakan Ekologis

Akibat kegiatan konversi hutan alam menjadi hutan tanaman dan tanah rusak, maka sebagai pengganti fungsi tanah pada hutan alam menjadi tanah rusak dan hutan tanaman di IUPHHK-HT PT Mitra Tani Nusa Sejati, PT Selaras Abadi Utama, CV Alam Lestari, PT Merbau Pelalawan Lestari, PT Uniseraya, PT Rimba Mutiara Permai, PT Trio Mas FDI, PT Madukoro, PT Seraya Sumber Lestari, PT Rimba Mandau Lestari, PT Bina Daya Bintara, PT National Timber and Forest Product.

Sebagai penyimpan air yang rusak maka perlu dibangun tempat penyimpan air buatan dengan membuat reservoir buatan. Reservoir tersebut harus mempunyai kemampuan menyimpan air sebanyak 401 m3/ha.

a. Biaya Pembuatan Reservoir :

Untuk menampung air hujan sebanyak 401 m3/ha diperlukan reservoir berukuran lebar 15 m x panjang 20 m x tinggi 1,5 m. Biaya pembangunan diasumsikan per m2 = Rp 100.000,-

Per hektar tanah yang rusak diperlukan biaya :

= [ (2 x 1,5 m x 15 m) + (2 x 1,5 m x 20 m) + (15 m x 20 m)] x Rp 100.000/m2 = 405 m2 x Rp 100.000/ha

(27)

Page

26

of

61

= Rp 40.500.000,-/ha

Rincian dan total kerugian yang terjadi pada hutan alam menjadi tanah rusak dan hutan tanaman di IUPHHK-HT berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (UPHHKHT) yang dikeluarkan Burhanudin sebagai Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau periode 2005‐2006.

Perusahaan Luas RKT

(Ha)

Biaya pembuatan reservoir (Luas RKT x Rp 40.500.000,-/ha/th x 100 tahun)

1 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 2,250 Rp.9,112,500,000,000 2 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 3,000 Rp.12,150,000,000,000 3 PT. MERBAU PELALAWAN LESTARI 2,624 Rp.10,627,200,000,000 4 PT. RIMABA MUTIARA PERMAI 5,771 Rp.23,372,550,000,000 5 PT. SELARAS ABADI UTAMA 4,032 Rp.16,329,600,000,000

6 PT. UNISERAYA 7,291 Rp.29,528,550,000,000

7 PT. TRIOMAS FDI 2,902 Rp.11,753,100,000,000

8 CV. ALAM LESTARI 635 Rp.2,571,750,000,000

9 PT. MADUKORO 5,942 Rp.24,065,100,000,000

10 PT. BINA DAYA BINTARA 4,872 Rp.19,731,600,000,000 11 PT. SERAYA SUMBER LESTARI 4,150 Rp.16,807,500,000,000 12 PT. RIMBA MANDAU LESTARI 3,363 Rp.13,620,150,000,000 13

PT. NATIONAL TIMBER & FOREST

PRODUCT 1,920 Rp.7,776,000,000,000

Total Biaya Pembuatan Reservoir Rp.197,445,600,000,000

b. Pengaturan Tata Air

Biaya pengaturan tata air didasarkan kepada manfaat air dari daerah aliran sungai (DAS) menurut Manan, Wasis, Rusdiana, Arifjaya dan Purwowidodo (1999) adalah sebesar Rp 22.810.000,-/ha.

Rincian dan total kerugian yang terjadi pada hutan alam menjadi tanah rusak dan hutan tanaman di IUPHHK-HT berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (UPHHKHT) yang dikeluarkan Burhanudin sebagai Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau periode 2005‐2006:

Perusahaan Luas RKT

(Ha)

Biaya Pengaturan Tata Air (Luas RKT x Rp 22.810.000,-/ha/th x 100 tahun)

1 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 2,250 Rp.5,132,250,000,000 2 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 3,000 Rp.6,843,000,000,000 3 PT. MERBAU PELALAWAN LESTARI 2,624 Rp.5,985,344,000,000 4 PT. RIMABA MUTIARA PERMAI 5,771 Rp.13,163,651,000,000 5 PT. SELARAS ABADI UTAMA 4,032 Rp.9,196,992,000,000

(28)

Page

27

of

61

6 PT. UNISERAYA 7,291 Rp.16,630,771,000,000

7 PT. TRIOMAS FDI 2,902 Rp.6,619,462,000,000

8 CV. ALAM LESTARI 635 Rp.1,448,435,000,000

9 PT. MADUKORO 5,942 Rp.13,553,702,000,000

10 PT. BINA DAYA BINTARA 4,872 Rp.11,113,032,000,000 11 PT. SERAYA SUMBER LESTARI 4,150 Rp.9,466,150,000,000 12 PT. RIMBA MANDAU LESTARI 3,363 Rp.7,671,003,000,000 13

PT. NATIONAL TIMBER & FOREST

PRODUCT 1,920 Rp.4,379,520,000,000

Total Biaya Pengaturan Tata Air Rp.111,203,312,000,000

c. Pengendalian Erosi dan Limpasan

Biaya pengendalian erosi dan limpasan akibat konversi hutan alam menjadi hutan tanaman dan tanah rusak dengan pembuatan teras dan rorak didasarkan perhitungan Manan et al (1998) yaitu sebesar Rp 6.000.000 per ha.

Rincian dan total kerugian yang terjadi pada hutan alam menjadi tanah rusak dan hutan tanaman di IUPHHK-HT berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (UPHHKHT) yang dikeluarkan Burhanudin sebagai Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau periode 2005‐2006:

Perusahaan Luas RKT

(Ha)

Biaya Pengendali Erosi & Limpasan

(Luas RKT x Rp.6.000.000,-/ha)

1 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 2,250 Rp13,500,000,000 2 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 3,000 Rp18,000,000,000 3 PT. MERBAU PELALAWAN LESTARI 2,624 Rp15,744,000,000 4 PT. RIMABA MUTIARA PERMAI 5,771 Rp34,626,000,000 5 PT. SELARAS ABADI UTAMA 4,032 Rp24,192,000,000

6 PT. UNISERAYA 7,291 Rp43,746,000,000

7 PT. TRIOMAS FDI 2,902 Rp17,412,000,000

8 CV. ALAM LESTARI 635 Rp3,810,000,000

9 PT. MADUKORO 5,942 Rp35,652,000,000

10 PT. BINA DAYA BINTARA 4,872 Rp29,232,000,000 11 PT. SERAYA SUMBER LESTARI 4,150 Rp24,900,000,000 12 PT. RIMBA MANDAU LESTARI 3,363 Rp20,178,000,000 13

PT. NATIONAL TIMBER & FOREST

PRODUCT 1,920 Rp11,520,000,000

Total Biaya Pengendali Erosi dan

Limpasan Rp.292,512,000,000

(29)

Page

28

of

61

Biaya pembentukan tanah akibat rusak karena perusakan didasarkan kepada perhitungan Pangestu dan Ahmad (1998) yaitu sebesar Rp 500.000,-/ha.

Rincian dan total kerugian yang terjadi pada hutan alam menjadi tanah rusak dan hutan tanaman di IUPHHK-HT berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (UPHHKHT) yang dikeluarkan Burhanudin sebagai Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau periode 2005‐2006:

Perusahaan Luas RKT

(Ha)

Biaya Pembentukan Tanah (Luas RKT x Rp.500.000,-/ha)

1 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 2,250 Rp1,125,000,000 2 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 3,000 Rp1,500,000,000 3 PT. MERBAU PELALAWAN LESTARI 2,624 Rp1,312,000,000 4 PT. RIMABA MUTIARA PERMAI 5,771 Rp2,885,500,000 5 PT. SELARAS ABADI UTAMA 4,032 Rp2,016,000,000

6 PT. UNISERAYA 7,291 Rp3,645,500,000

7 PT. TRIOMAS FDI 2,902 Rp1,451,000,000

8 CV. ALAM LESTARI 635 Rp317,500,000

9 PT. MADUKORO 5,942 Rp2,971,000,000

10 PT. BINA DAYA BINTARA 4,872 Rp2,436,000,000 11 PT. SERAYA SUMBER LESTARI 4,150 Rp2,075,000,000 12 PT. RIMBA MANDAU LESTARI 3,363 Rp1,681,500,000 13

PT. NATIONAL TIMBER & FOREST

PRODUCT 1,920 Rp960,000,000

Total Biaya Pembentukan Tanah Rp.24,376,000,000

e. Pendaur Ulang Unsur Hara

Biaya pendaur ulang unsur hara yang hilang akibat perusakan tanah didasarkan kepada perhitungan Pangestu dan Ahmad (1998) yaitu sebesar Rp 4.610.000 per ha. Rincian dan total kerugian yang terjadi pada hutan alam menjadi tanah rusak dan hutan tanaman di IUPHHK-HT berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (UPHHKHT) yang dikeluarkan Burhanudin sebagai Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Riau periode 2005‐2006:

Perusahaan Luas RKT

(Ha)

Biaya Daur Ulang Unsur Hara

(Luas RKT x Rp.4.610.000,-/ha)

1 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 2,250 Rp10,350,000,000 2 PT. MITRA TANI NUSA SEJATI 3,000 Rp13,800,000,000 3 PT. MERBAU PELALAWAN LESTARI 2,624 Rp12,070,400,000 4 PT. RIMABA MUTIARA PERMAI 5,771 Rp26,546,600,000

Referensi

Dokumen terkait