• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN SINTESIS SENYAWA KHALKON MELALUI PENDEKATAN GREEN CHEMISTRY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN SINTESIS SENYAWA KHALKON MELALUI PENDEKATAN GREEN CHEMISTRY"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN SINTESIS SENYAWA KHALKON MELALUI

PENDEKATAN GREEN CHEMISTRY

Elfi Susanti VH

1*

1 Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas

Maret, Surakarta, Indonesia

*Keperluan korespondensi, e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Green chemistry merupakan suatu pendekatan dalam mengembangkan dan merancang proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan penggunaan dan pembentukan zat yang berbahaya terhadap lingkungan. Prinsip green chemistry dalamproses sintesis adalah mengurangi penggunaan bahan yang tidak bisa terbarukan, menghilangkan limbah, mengurangi emisi dan meminimalkan penggunaan pelarut. Pelarut yang digunakan dalam sintesis sering beracun, mahal dan menimbulkan masalah lingkungan, oleh karena itu sintesis bebas pelarut sangat penting dilakukan. Sintesis senyawa khalkon tanpa pelarut dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya teknik grinding. Proses grinding membuat molekul reaktan bertubrukan dan akan membentuk produk. Waktu reaksi pada teknik grinding

ini lebih pendek karena terjadi banyak tubrukan dengan kecepatan yang lebih cepat antara molekul reaktan dan adanya sejumlah panas yang dihasilkan akibat pergesekan molekul reaktan.

Kata kunci : green chemistry, sintesis,khalkon, grinding

PENDAHULUAN

Khalkon (1,3-difenil-2-propena-1-on) termasuk senyawa golongan flavonoid dengan rangka C6-C3-C6, di mana C6 adalah cincin aromatik yang dihubungkan oleh C3 yang merupakan sistem karbonil α,β-tak jenuh. Struktur umum khalkon disajikan pada Gambar 1. Nama khalkon diberikan oleh Kostanecki dan Tambor (Dhani et al., 2012). Khalkon memiliki ikatan rangkap terkonjugasi dan sistem elektron π terdelokalisasi pada kedua sistem cincin benzena. Molekul yang

memiliki sistem tersebut memiliki kebolehjadian yang lebih besar mengalami reaksi transfer elektron (Patil et al., 2009).

Gambar 1. Struktur umum khalkon Khalkon (1,3-difenil propenon) memiliki berbagai aktivitas farmakologi dan

SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA VIII

Peningkatan Profesionalisme Pendidik dan Periset Sains Kimia di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Program Studi Pendidikan FKIP UNS

Surakarta, 14 Mei 2016

MAKALAH UTAMA

UTAMA

ISBN : 978-602-73159-1-4

O 1 2 3 4 5 6 1' 2' 3' 4' 5' 6' A B

(2)

merupakan prekursor utama dalam sintesis bermacam-macam senyawa flavonoid, dapat dilihat pada biosintesis flavonoid yang disajikan di Gambar 2. Aktivitas farmakologi senyawa khalkon diantaranya sebagai antikanker (Xia et al., 2000), antiproliferatif (Patil et al., 2009), antimikroba (Mandge et al., 2007 dan Prasad et al., 2008), insektisida (Nalwar et al., 2009) dan antioksidan (Belsare et al., 2011). Khalkon yang stabil dari tanaman tidak dapat dipisahkan karena adanya enzim chalcone sintetase (CSH) yang segera mengubah khalkon menjadi flavanon (Mandge et al., 2007), sehingga sintesis merupakan alternatif utama untuk mendapatkan khalkon.

Sintesis merupakan suatu cara dalam menghasilkan suatu senyawa baru.

Peluang sangat besar sekali untuk mendapatkan senyawa dengan berbagai variasi gugus melalui proses sintesis. Faktor penting dalam merancang rute sintesis adalah menentukan bahan dasar dan reagen serta pemilihan metode sintesis yang akan digunakan.

Khalkon dapat disintesis dengan cara kondensasi Claisen-Schmidt, yaitu reaksi kondensasi antara aldehida aromatik dengan keton aromatik untuk membentuk keton α,β-tak jenuh. Penggunaan pelarut dalam reaksi kondensasi pada sintesis turunan khalkon berbahaya bagi kesehatan dan tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu pengembangan strategi sintesis senyawa khalkon dan turunannya melalui pendekatan green chemistry sangat penting dilakukan

(3)

Green chemistry (kimia hijau) merupakan suatu pendekatan dalam mengembangkan dan merancang proses kimia yang mengurangi atau meng-hilangkan penggunaan dan pembentukan zat yang berbahaya terhadap lingkungan. Paul Anastas dan John Warner menge-mukakan 12 prinsip kimia hijau, yaitu 1) Pencegahan. Pencegahan penghasilan limbah kimia lebih baik daripada mengatasi limbah yang telah dihasilkan. Prinsip ini terkait dengan kemampuan kimiawan untuk merancang ulang transformasi kimia yang meminimalkan produksi limbah. 2) Atom ekonomi. Metode sintesis harus didesain dengan memaksimalkan penggu-naan seluruh bahan dalam prosesnya sampai kepada produk akhir. Atom ekonomi adalah suatu konsep yang dikembangkan untuk mengevaluasi efisiensi transformasi kimia. Mirip dengan perhitungan hasil, atom ekonomi meru-pakan rasio dari total massa atom dalam produk yang diinginkan dengan massa total atom pada reaktan. 3) Sintesis bahan kimia yang lebih tidak berbahaya. Metode sintesis harus menggunakan dan menghasilkan bahan kimia yang tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Metode sintesis didesain menggunakan dan menghasilkan zat yang memiliki kadar sekecil mungkin atau bahkan tidak beracun terhadap kesehatan manusia dan ling-kungan. Semaksimal mungkin diupa-yakan pula untuk tidak menggunakan zat tambahan (misalnya, pelarut dan agen pemisah). Penggunaan pelarut biasanya mengarah ke produksi limbah, oleh karena itu penurunan volume pelarut atau penghapusan pelarut secara

menyeluruh akan lebih baik. 4) Desain bahan kimia yang aman. Produk kimia harus didesain sesuai dengan fungsi yang dinginkan dan mengurangi tingkat racun bahan kimia tersebut. Jika memungkinkan, metode sintesis dan pemurnian harus dirancang pada suhu dan tekanan ruang sehingga biaya energi yang berkaitan dengan suhu dan tekanan yang ekstrem dapat ditekan. 5) Penggunaan pelarut dan kondisi reaksi yang aman. Reagen seperti pelarut digunakan seperlunya. 6) Desain terhadap efisiensi energi. Proses reaksi disarankan menggunakan tekanan dan suhu yang standar dengan lingkungan. 7) Penggunaan bahan yang dapat diperbaharui. Penggunaan bahan mentah disarankan menggunakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui daripada bahan-bahan yang sekali pakai. 8) Pengurangan terhadap senyawa derivatif. Sintesis produk akhir menghindari derivatisasi senyawa seminimal mungkin. 9) Katalis.

Penggunaan reagen katalis yang memiliki tingkat selektifitas tinggi daripada penggunaan bahan prekusor untuk reaksi stoikiometrinya. Katalis dengan selektivitas tinggi akan lebih unggul dalam reaksi. Katalis dapat memainkan beberapa peran dalam proses transformasi, antara lain dapat meningkatkan selektivitas reaksi, mengurangi suhu transformasi, mening-katkan tingkat konversi produk, dan mengurangi limbah. 10) Desain untuk penguraian. Produk bahan kimia didesain strukturnya yang dapat terurai secara alami dan tidak mencemari lingkungan. 11) Analisis secara langsung untuk pence-gahan polusi. Metode analisis bahan secara kualitatif dan kuantitatif

(4)

dikembangkan untuk analisis dan pemantauan dilakukan secara langsung untuk mengetahui kapan reaksi selesai atau mendeteksi munculnya produk samping yang tidak diinginkan dan untuk mencegah pembentukan bahan-bahan yang beracun. 12) Pembuatan bahan yang lebih aman dan mampu menimimalisirkan kecelakaan. Senyawa yang dipakai dalam proses reaksi kimia sebaiknya memilih bahan-bahan yang mengurangi faktor kecelakaan, misalnya: ledakan, kebakaran, pelepasan senyawa yang berbahaya (Anastas and Warner, 1998).

Prinsip kimia hijau dalam proses sintesis adalah mengurangi penggunaan bahan yang tidak bisa terbarukan, menghilangkan limbah, mengurangi emisi dan meminimalkan penggunaan pelarut. Pelarut yang digunakan dalam reaksi organik sering beracun, mahal dan menimbulkan masalah lingkungan (Rateb and Zohdi, 2009). Oleh karena itu sintesis organik bebas pelarut menarik perhatian dan banyak dikembangkan akhir-akhir ini.

Dalam reaksi organik konven-sional, umumnya pelarut organik digunakan sebagai media reaksi dan agen transfer panas. Pelarut organik tetap digunakan selama proses ekstraksi dan pemurnian senyawa. Pelarut organik sangat berbahaya karena beracun, mudah menguap, dan sering menimbulkan masalah dalam penggunaan dan peng-hilangannya setelah reaksi. Disamping itu juga dapat mencemari udara, tanah dan air. Oleh karena itu penting sekali menemukan pelarut dan reagen yang ramah lingkungan, atau dapat mengeluarkan pelarut organik dari proses

sintesis. Sintesis ramah lingkungan dapat dicapai dengan cara menggunakan media yang aman, misalnya air, CO2 cair dan polietilen glikol. Beberapa pendekatan yang digunakan banyak ahli kimia hijau adalah menggunakan pelarut yang aman, sedikit pelarut organik atau atau tanpa pelarut sama sekali (Rateb and Zohdi, 2009).

Beberapa keuntungan reaksi tanpa pelarut antara lain penggunaan energi rendah, tidak ada media reaksi yang harus dikumpulkan, dimurnikan dan kemudian digunakan kembali, rendemen tinggi dan waktu reaksi lebih pendek, lebih sederhana dan tidak membutuhkan peralatan yang khusus, kemurnian produk tinggi, tidak memerlukan gugus pelindung dan pelepasan gugus pelindung. Sintesis tanpa pelarut dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan teknik grinding,

microwave dan ultra sonic (Rateb and Zohdi, 2009).

SINTESIS KHALKON DENGAN TEKNIK

GRINDING

Teknik grinding dalam sintesis khalkon merupakan suatu terobosan yang sangat strategis sekali karena mem-pertimbangkan prinsip green chemistry,

yaitu mengurangi penggunaan pelarut dalam proses sintesis. Pelarut dalam sintesis senyawa banyak bersifat racun dan menimbulkan masalah lingkungan. Oleh karena itu pengembangan metode sintesis senyawa tanpa pelarut sangat penting dilakukan, salah satunya dengan teknik grinding. Semua reaktan dalam proses grinding digerus dalam suatu lumpang sehingga tumbukan antara reaktan terjadi dan menimbulkan energi

(5)

friksi dari panas lokal yang akan mempercepat reaksi terbentuknya khalkon. Susanti et al. (2014) telah mensintesis 4 turunan senyawa khalkon melalui reaksi kondensasi Claisen-Schmidt antara veratraldehida dan 4 turunan senyawa asetofenon (Gambar 3). Turunan asetofenon yang digunakan adalah

2-hidroksiasetofenon, 2,4-dihidroksiasetofe-non, 2,5-dihidroksiasetofenon dan 2,6-dihidroksiasetofenon. Sintesis khalkon dilakukan dengan dua cara yaitu metode konvensional memakai pelarut etanol dan metoda green tanpa pelarut dengan teknik

grinding.

Gambar 3. Sintesis 4 turunan khalkon Khalkon 1 tidak dapat disintesis

dengan teknik grinding karena bahan dasarnya yaitu 2-hidroksiasetofenon ber-wujud cair sehingga tidak dapat digerus dengan veratraldehida. Sintesis khalkon 2 dengan teknik grinding dilakukan dengan cara menghaluskan 2,4-dihidroksi-asetofenon, veratraldehida dan NaOH padat dalam lumpang. Proses grinding ini dilakukan pada suhu kamar selama 15 menit. Pada proses ini dihasilkan energi friksi dari panas lokal akibat tumbukan antara reaktan yang mempercepat reaksi terbentuknya produk. Hasil sintesis berupa padatan kuning oranye setelah dipisahkan dengan kromatografi kolom sebanyak 1,27 g (rendemen 84%) dengan titik leleh 114-115 °C.

Khalkon 3 dan 4 disintesis dengan cara yang sama seperti pada sintesis khalkon 2 teknik grinding, tetapi dari bahan

dasar asetofenon yang berbeda. Khalkon 3 menggunakan 2,5-dihidroksiasetofenon, sedangkan khalkon 4 dari bahan dasar 2,6-dihidroksiasetofenon. Produk sintesis khalkon 3 berupa padatan kuning kecoklat-an sebkecoklat-anyak 1,10 g (rendemen 73%) dengan titik leleh 160-161 °C, sedangkan khalkon 4 berupa padatan kuning oranye sebanyak 1,05 g dengan rendemen 70% dan titik leleh 155-156 °C (Susanti et al.,

2014)

Ada beberapa perbedaan penting antara sintesis khalkon konvensional menggunakan pelarut dibandingkan dengan sintesis khalkon tanpa pelaruut menggunakan teknik grinding. Sintesis khalkon konvensional membutuhkan waktu reaksi selama 24 jam, sedangkan sintesis teknik grinding membutuhkan waktu reaksi yang lebih singkat yaitu selama 15 menit. Proses grinding membuat molekul reaktan

O R1 OH R2 R3 OCH3 OCH3 O + Veratraldehida Khalkon Khalkon 1 ; R1=R2=R3=H Khalkon 2 ; R1=OH, R2=R3=H Khalkon 3 ; R1=R3=H, R2=OH Khalkon 4 ; R1=R2=H, R3=OH Hidroksi asetofenon NaOH O OCH3 OCH3 R1 R3 H OH R2

(6)

bertubrukan dan akan membentuk produk. Waktu reaksi pada teknik grinding ini lebih pendek karena terjadi banyak tubrukan dengan kecepatan yang lebih cepat antara molekul reaktan dan adanya sejumlah panas yang dihasilkan akibat pergesekan molekul reaktan selama proses grinding. Kelebihan lain adalah reaksi terjadi pada suhu kamar (Zangade et al., 2011).

Rendemen produk sintesis khalkon memberikan hasil yang berbeda, dimana sintesis dengan teknik grinding

memberikan rendemen hasil lebih besar (70-84%) dibandingkan dengan sintesis khalkon konvensional (45-75%) (Tabel 1) (Susanti et al., 2014).

Sintesis khalkon dengan teknik

grinding ini memiliki beberapa persyaratan, antara lain reaktan yang digunakan berwujud padat, proses grinding dilakukan berkesinambungan tanpa henti sampai diperoleh produk yang diinginkan, dan proses reaksi dimonitor dengan KLT.

Tabel 1. Rendemen hasil sintesis khalkon

Senyawa

Metode

Konvensional,

rendemen (%)

Grinding,

rendemen

(%)

Khalkon

1

75

-

Khalkon

2

70

84

Khalkon

3

45

73

Khalkon

4

65

70

Hasil penelitian ini sesuai dengan yang telah didapatkan Kumar et al. (2008), Rateb and Zohdi (2009) dan Zangade et al. (2011). Kumar et al. (2008) mensintesis beberapa senyawa khalkon dengan beberapa metode, yaitu sintesis dengan refluks, irradiasi ultrasonik dan teknik

grinding. Reaksi sintesis disajikan pada Gambar 4. intesis dengan teknik grinding

memberikan hasil yang lebih baik daripada menggunakan irradiasi ultrasonik dan

refluks, masing-masing dengan rendemen 83-92%, 5-80% dan 24-89% (Tabel 2). [9] mensintesis beberapa turunan khalkon dengan teknik grinding menggunakan katalis NaOH, dengan hasil baik (rendemen 71-95%). [16]juga telah mensintesis turunan 2-hidroksi khalkon dengan teknik grinding menggunakan katalis KOH, dengan rendemen yang cukup tinggi yaitu sebesar 85-94%.

Tabel 2. Perbandingan hasil sintesis dengan beberapa teknik sintesis

No Katalis

Waktu reaksi

Suhu reaksi

Rendemen (%)

1 Ba(OH)

2

/etanol

4 jam

Refluks

24-89

2 Ba(OH)

2

/etanol

24 jam

Irradiasi ultrasonik

5-80

(7)

R R1 R2 R3 R4 R5 R6 1 H H H H H H H 2 H H H H H H CH3 3 H H Br H H H OCH3 4 H NO2 Br H H H OCH3 5 H H Br H H H NO2 6 H H H H H H OCH3 7 H H H H H H Cl 8 OH H H H H H H 9 OH H H H H H Cl 10 OH H H H H H OCH3 11 OH H H H H H CH3 12 OH H H H H H NO2 13 OH H H H OCH3 H OCH3 14 OH H OCH3 H H H OCH3

15 OH H OCH3 H OCH3 H OCH3

Gambar 4. Sintesis khalkon dengan teknik grinding (Kumar et al., 2008)

SINTESIS DENGAN IRRADIASI

MICROWAVE

Penggunaan microwave (MW) dalam proses sintesis senyawa mulai banyak dikembangkan, sebagai alternatif

prosedur sintesis yang ramah lingkungan. Sarda et al. (2009) telah mensintesis beberapa khalkon menggunakan MW dengan katalis alumina (Gambar 5).

Gambar 5. Sintesis khalkon menggunakan MW (Sarda et al., 2009)

Edmont V dalam Patil et al. (2009) telah

mensintesis 4 senyawa turunan 2-hidroksi

khalkon dengan bantuan MW (Gambar 6).

Gambar 6. Sintesis khalkon menggunakan MW (Patil et al., 2009)

CH3 O R2 R R1 R3 + Ba(OH)2 O t kamar, 2-5 menit H O R2 R R1 R3 R5 R6 R4 R6 R5 R4 CH3 O O H + Al2O3, NaOH O OH R OH R MW A. R = Cl B. R = OCH3 C. R = CH3 D. R = H E. R = NO2 CH3 O OH + KOH, etanol O MW, 1320C H O OH R3 R 3 R2 R1 R 1 R2

(8)

PENUTUP

Pengembangan strategi sintesis senyawa khalkon melalui pendekatan green

sangat penting dilakukan sebagai upaya mengurangi atau menghilangkan penggunaan dan pembentukan zat yang berbahaya terhadap lingkungan. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa sintesis senyawa khalkon dan turunannya dengan teknik grinding memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan metode lain yang memakai pelarut.

REFERENSI

[1] Anatas, P.T., dan Warner, J. C., 1998, Green Chemistry: Theory and Practice, Oxford University Press, New York

[2] Belsare, D.P., Pal, S.C., Kazi, A.A., Kankate, R.S., and Vanjari, S.S., 2010, Evaluation of Antioxidant Activity of Chalcones and Flavonoids, Int. J. Chem. Tech. Res., 2(2), 1080-1089. [3] Dhani R., Kumar, P.S., Abhilash, C.A.,

and Jahnavi, C.H., 2012, Synthesis and Characterization of Some Novel Substituted Chalcone Derivatives,

Inter. J. Applied Bio and Pharm. Tech., 3(4), 394-398

[4] Kumar, S., Lamba, M.S., and Makrandi, J.K., 2008, An Efficient Green Procedure for the Synthesis of Chalcones Using C-200 as Solid Support Under Grinding Conditions,

Green Chem. Lett. and Rev., 1(2), 123-125

[5] Mandge, S., Singh, H.P., Gupta D., and Moorthy H.R., 2007, Synthesis and Characterization of Some Chalcone

Derivatives, Trend Applied Sci. Res., 2, 52-56

[6] Nalwar, Y.S., Sayyed, M. A., Mokle, S.S., Zanwar, P.R., and Vibhute, Y. B., 2009, Synthesis and Insect Antifeedan Activity of Some New Chalcones Against Phenacocus solanopsis, World J. Chem., 4(2), 123-126

[7] Patil, C.B., Mahajan S.K., and Katti, S.A., 2009, Chalcone: A Versatile Molecule, J. Pharm. Sci. & Res., 1(3), 11-22

[8] Prasad, Y. R., Lakshmana, A. R., and Rambabu, R., 2008, Synthesis and Antimicrobial Activity of Some Chalcone Derivatives, E-J. Chem.,

5(3), 461-466

[9] Rateb, N.M. and Zohdi, H.F., 2009, Atom-Effecient, Solvent Free, Green Syntesis of Chalcone by grinding,

Synthesic Communications, 39, 2789-2794

[10] Sarda, S.R., Jadhav, W.N., and Pawar, R.P., 2009, I2-Al2O3: A Suitable Heterogeneous Catalyst for the Synthesis of Flavones Under Microwave Irradiation, Int. J. Chem. Tech. Res., 1(3), 539-543

[11] Susanti, E.V.H., Matsjeh, S., Wahyuningsih, T.D., Mustofa, and Redjeki, T., 2014, Improved Synthesis Of 2',6'-Dihydroxy-3,4-Dimethoxy Chalcone By Grinding Technique To Synthesize 5-Hydroxy-3',4'-Dimethoxy Flavone, Indo. J. Chem., 4 (2), 174 –

178

[12] Susanti, E.V.H., Matsjeh, S., Wahyuningsih, T.D., Mustofa, and Redjeki, T., 2014, Syntheses And Antioxidant Activities Of Some Hydroxy

(9)

Dimethoxy Chalcone Derivatives, Indonesian J. Pharm. 25 17–24

[13] Xia, Y., Yang, Z.Y., Xia, P., Bastow, K. F., Nakanishi, Y., and Lee, K.H., 2000, Antitumor Agents. Part 202: Novel 2’-Amino Khalkons: Design, Synthesis and Biological Evaluation, Bioorg. and Med. Chem. Lett., 10, 699-701

[14] Zangade, S., Mokle, S., Vibhute, A., and Vibhute, Y., 2011, an Efficient and Operationally Simple Synthesis of Some New Chalcones by Using Grinding Technique, Chem. Sci. J., 13, 1-6

Gambar

Gambar 2. Biosintesis flavonoid
Gambar 3. Sintesis 4 turunan khalkon  Khalkon  1  tidak  dapat  disintesis
Gambar  4.  intesis  dengan  teknik  grinding  memberikan hasil yang lebih baik daripada  menggunakan  irradiasi  ultrasonik  dan
Gambar 4.  Sintesis khalkon dengan teknik grinding (Kumar et al., 2008)  SINTESIS DENGAN IRRADIASI

Referensi

Dokumen terkait

Faktor yang mempengaruhi belum berhasilnya pelayanan di Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur adalah masih rendahnya populasi ternak, kurangnya bibit ternak yang

Menurut Ahmad Mahdzan Ayob (2007), analisis bererti melakukan prosedur statistik terhadap data dan menjalankan ujian hipotesis yang telah diusulkan dalam

Dengan mengambil langkah-langkah yang sesuai, masing-masing Pihak tidak memperbolehkan penggunaan merkuri atau senyawa merkuri dalam proses produksi yang tercantum

Penelitian ini menyimpulkan terdapat pengaruh penggunaan formalin peroral terhadap kenaikan kadar ureum dan kreatinin plasma tikus Wistar, sedangkan penelitian yang akan

Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training sesudah diberikan pendidikan kesehatan dari masing-masing karakteristik usia, yang

Belanja konsultasi pengawasan pembangunan Puskesmas Pamarayan Belanja konsultasi pengawasan pembangunan Puskesmas Ciruas Rp Rp 124.575.000 100.000.000 Kab.Serang Dinkes

Respon temulawak terhadap pupuk bio di kedua lokasi memperlihatkan kecenderungan yang sama, dimana penambahan pupuk bio secara nyata meningkatkan tinggi tanaman

Pada saat jam dinas kantor yang bertindak sebagai pimpinan disaster adalah Wadir Umum rumah sakit, dan di luar jam kantor yang bertindak sebagai pimpinan disaster adalah Kepala