Pertemuan Ilmiah Bersama (PIB) 12 Juni 2021
Penyakit Infeksi dan Peradangan di
Bidang Otorinolaringologi
I. Penyakit Infeksi dan Peradangan pada Telinga
1. Serumen Prop
2. Otitis Eksterna
3. Otitis Media Akut
4. BPPV
•
Serumen merupakan hasil produksi kelenjarsebasea, kelenjar seruminosa, epitel kulit yang terlepas dan partikel debu. Dalam keadaan
normal serumen terdapat di sepertiga luar liang telinga karena kelenjar tersebut hanya di
temukan di daerah tersebut.
•
Serumen biasanya ditemukan di kanalis akustikus eksternus yang merupakanpertahanan penting dalam upaya mencegah terjadinya infeksi dan masuknya benda asing seperti serangga
•
Clearance Mechanism•
Pembersihan kanalis akustikus eksternus terjadi sebagai hasil dari migrasi sel epitel•
Gerakan rahang (jaw movement) —> mengunyah, berbicara, menguap, menyusu•
Lubrikasi —> Lubrikasi mencegah terjadinya desikasi, gatal, dan terbakarnya kulit kanalis akustikus eksternus yang disebut asteatosis. Zat lubrikasi di peroleh dari kandungan lipid yang tinggi dari produksi sebum oleh kelenjar sebaseaSerumen Prop
•
Gumpalan serumen yang menumpuk di liang telinga akan menimbulkan
gangguan pendengaran berupa tuli konduktif. Pada sebagian orang dapat
mengeras dan membentuk sumbatan, sehingga merasakan telinganya tersumbat
atau tertekan.
•
Serumen bersifat hidrofilik —> dapat mengembang terutama bila telinga masuk
air (sewaktu mandi, berenang) sehingga menimbulkan rasa tertekan dan
Faktor yang Menyebabkan Penumpukan Serumen
•
Dermatitis kronik liang telinga luar•
Liang telinga sempit•
Produksi serumen banyak dan kental•
Adanya benda asing di liang telinga•
Adanya eksostosis liang telinga•
Serumen terdorong oleh jari tangan atau ujung handuk setelah mandi atau kebiasaan mengorek telinga dengan cotton budsPenanganan
•
Serumen dapat dibersihkan sesuai dengan konsistensinya. Dapat menggunakan irigasi.Serumen yang lembek dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada pelilit kapas. Serumen yang keras di keluarkan dengan pengait atau kuret.
Irigasi
Persiapan Alat :
1. Alat Spooling atau Spuit 20 cc.
2. Kom berisi air hangat kuku secukupnya.
3. Nerbeken untuk menampung kotoran telinga. 4. Handuk sebagai alas pelindung .
5. Sarung tangan disposable. 6. Otoscope dan lampu kapala 7. Cotton bud secukupnya.
B. Persiapan pasien :
1. Jelaskan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan (inform consent), dan minta kepada pasien agar bersikap kooperatif.
2. Posisikan pasien dengan posisi duduk dan kepala miring ke sisi berlawanan dengan telinga yang akan dibersihkan
3. Tindakan
a. Tempatkan bak bengkok dibawah telinga yang
dibersihkan, dan beri alas handuk untuk mencegah tetesan air mengenai pasien.
b. Semprot telinga pasien dengan air/Cairan NaCl hangat secara perlahan sampai telinga bersih.
c. Eksplorasi dengan otoscope dan evaluasi adanya efek samping (vagal refleks, vertigo)
Otitis Eksterna
KLASIFIKASI
Mawson (1967), membagi atas 2 bagian:
1.1. Infektif
1.1.1. Bacterial
1.1.2. Fungal
1.1.3. Viral
1.2. Reaktif
1.2.1. Eksema
1.2.2. Dermatitis seboroika
Otitis Eksterna
Melihat bentuk infeksi di liang telinga, penyakit
dibagi atas:
1. Ot.Ekst. Sirkumskripta (Furunkulosis)
2. Ot.Ekst. Difusa
Otitis Eksterna Sirkumskripta/Furunkulosis
•
Furunkulosis adalah infeksi gram positif dari folikel rambut di liang telinga disebabkan oleh stafilokokus aureus•
Bisul terasa sangat sakit, berbatas tegas, pustula,eritematous mengelilingi rambut di liang telinga bagian luar
•
Rasa tidak enak bertambah dengan pergerakan rahangTATALAKSANA
•
Manajemen dari furunkulosis memerlukan kehati-hatian dan aural toilet yang
lembut (gentle cleaning)
•
Tampon (pack/wick) kasa diolesi / direndam dalam krem steroid / antibiotik
atau gliserin (tradisionil dengan ikhtamol / ichtamol) dimasukkan ke liang
telinga akan mengurangi rasa sakit dan mengurangi bengkak
•
Oral diberikan anti stafilokokus antibiotik terutama jika disertai selulitis
•
Obat terpilih flukloksasilin atau sefradin, 500 mg setiap 6 jam atau eritromisin
jika penisilin alergi, polymixin B, bacitracin…
•
Di samping itu diberikan juga analgetika sebagai antinyeri dan antiinflamasi
Otitis Eksterna Difusa
•
Otitis Eksterna Difusa sering timbul pada udara panas &
lembab dan disebut “Tropical ear“ atau “Singapore ear“
•
Panas, kelembaban dan berenang mungkin faktor yang
memperberat pada beberapa kasus, tapi faktor utama /
paling penting adalah trauma lokal
•
Mikroorganisme pada Otitis Eksterna Difusa adalah
Pseudomonas aeruginosa, Basilus piosianius, E.coli,
Staph. albus dan Staph. aureus
Terapi
:1. Kultur → test sensitivitets
2. Liang telinga dibersihkan dengan hati- hati
3. Dipasang tampon / pack yang telah direndam dengan neomisin atau gentamisin dan diganti setiap 24 jam
4. Antibiotika topikal ini harus dipakai hati-hati karena dapat alergi atau mungkin dapat menyebabkan tumbuhnya jamur yang berlebihan
Wilkinson dan Beek, 1993, mengatakan reaksi hipersensitiviti lambat (delayed
hypersensitivity) terhadap pemakaian kortikosteroid topikal dan obat lain, bagi
penderita dengan Ot. Ekst yang gagal terhadap terapi
5. Referal ke spesialis kulit pada stadium ini, mungkin akan dapat merencanakan terapi penderita hipersensitiviti kontak
Otomycosis
•
Jamur yang sering diisolasi pada otomikosis Aspergilus niger, kandida albikan, dermatofit dan Aktinomises•
Jamur ini tertanam terutama pada stratum korneum dan berproliferasi setelah fase istirahat (dormant phase )Gejala:
•
Rasa gatal keluhan yang sangat menonjol bersama-samadengan rasa penuh di telinga atau rasa pekak dengan penumpukan debris basah di dalam liang telinga
•
Pada pemeriksaan liang telinga, tampak massa putihkeabu-abuan, menyempit, lapisan seperti kertas basah berbintik- bintik mengisi liang telinga
•
Konidiofor dari infeksi aspergilus niger akan tampak sebagaibintik-bintik hitam pada debris atau sebagai filamen- filamen yang menonjol dari dinding liang telinga
•
Terapi infeksi jamur saprofit dengan jalan membersihkan semua penumpukan
debris di liang telinga —> paling baik dilakukan dengan alat pengisap (suction)
atau diirigasi jika membran timpani tidak perforasi
•
Obat antifungal spesifik dapat dioleskan seperti nistatin yang terutama efektif
terhadap spesies kandida tapi kurang aktif melawan Aspergilus
•
Klotrimazol sangat efektif sebagai antifungal apabila dipakai sebagai krem 1% di
liang telinga
•
Asam asetat 2% dapat diberikan agar memberikan keadaan pH asam pada liang
telinga
•
Edukasi : menjaga telinga tetap kering (tidak berkeringat atau masuk air)
Otitis Media Supuratif Akut
Stadium supuratif
Otitis Media Supuratif Akut
Otitis media akut berulang
•
Anak dengan otitis media akut berulang, dimana episode sebelumnya mengalami
kesembuhan, dapat diterapi sama dengan terapi yang diberikan sebelumnya.
•
Jika terdapat intensitas serangan berulang yang sering dengan jangka waktu antar serangan
yang dekat —> dilakukan evaluasi ulang —>antibiotik profilaksis dapat diberi selama beberapa
bulan misalnya musim dingin.
•
Pilihan terapi : amoksisilin 20 mg/kgbb/24 jam atau sulfonamid 50 mg/24 jam.
•
Miringotomi dan pipa ventilasi —> juga data dipertimbangkan
•
Adenoidektomi tidak efektif mencegah otitis media akut berulang pada anak.
Vaksin untuk mencegah OMA
Vaksin dapat digunakan untuk mencegah anak menderita OMA. Secara teori, vaksin
terbaik adalah yang menawarkan imunitas terhadap semua patogen berbeda yang
menyebabkan OMA.
Rekomendasi imunisasi universal pada anak dibawah umur 2 tahun adalah 4 dosis vaksin intramuskular yang diberikan pada usia 2, 4, 6, dan terakhir pada usia 12-15 bulan. Vaksin dini dapat diberikan bersamaan dengan imunisasi rutin.
BPPV
Gangguan keseimbangan yang ditandai
dengan adanya sensasi berputar dari dunia
sekelilingnya, bersifat episodik yang
diprovokasi oleh gerakan kepala. Kondisi ini
terjadi ketika Kristal kalsium karbonat di
utrikulus t
erlepas dan masuk ke dalam
salah satu atau lebih
kanalis semi
sirkularis
vestibuler sehingga terjadi
rangsangan gangguan keseimbangan.
BPPV
Benign Paroxysmal Positional Vertigo
Etiologi
Idiopatik (50%)
Post trauma kepala atau leher
BPPV
BPPV
Benign Paroxysmal Positional Vertigo
Anamnesis
1. Vertigo atau sensasi ruang berputar bila kepala digerakan
2. Awitan (onset) tiba-tiba/mendadak
3. Episodik
4. Dapat disertai gejala otonom; mual, muntah, keringat dingin
5. Tidak didapatkan gangguan pendengaran
6. Tidak ada gejala fokal otak (deficit neurologis)
BPPV
Benign Paroxysmal Positional Vertigo
Pemeriksaan Fisik
1. Nistagmus fase cepat rotatoar searah jarum jam (pada
sisi lesi) saat dilakukan pemeriksaan Dix-Hallpike
2. Nistagmus yang timbul setelah ± 40 detik, kemudian
nistagmus menghilang kurang dari 1 menit jika
penyebabnya kanalitiasis, pada kupololitiasis nistagmus
dapat terjadi lebih dari 1 menit
3. Timbulnya gejala otonom saat diprovokasi
BPPV
Benign Paroxysmal Positional Vertigo
•
Canalith Repotitional Therapy/CRT (Epley maneuver)•
Latihan Brandt-Daroff•
Medikamentosa : Betahistin 48 mg/hari dibagi 2atau 3 dosisBPPV
Benign Paroxysmal Positional Vertigo
Edukasi pasien :
Setelah tindakan reposisi pasien disarankan agar tetap
mempertahankan kepalanya pada posisi tegak selama 24 jam,
tidur dengan 2 bantal (posisi 45 derajat), sehingga kanalit tidak
akan mengikuti gravitasi kembali ke krus dan masuk kembali ke
kanalis semisirkularis posterior. Jika nistagmus tipikal masih ada
maka manuver ini diulang tiap minggu.
▪
Kelainan rongga hidung yang paling sering ditemukan adalah akibat dari infeksi▪
Common cold merupakan salah satu jenis dari rinitis akut▪
Rinitis simpleks, Pilek, selesma, coryza merupakan beberapa nama lain dari common cold▪
Common cold diakibatkan oleh berbagai macam organisme, 90 % oleh virus.▪
Tersering karena rhinovirus, pada orang dewasa sekitar 20-40% kasus, Coronavirus10-15%▪
Pada bayi dan anak-anak, virus parainfluenza,Respiratory syncytial viruses (RSV), influenza, adenovirus, enterovirus tertentu
PATOFISIOLOGI
▪
Virus menginfeksi manusia apabila sistem imun dalam
keadaan lemah.
▪
Virus ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui droplet,
udara, berjabat tangan, barang – barang yang terkontaminasi
oleh kotoran hidung dan mulut dari orang yang terinfeksi.
▪
Periode inkubasi untuk rhinovirus adalah 8 – 10 jam dengan
gejala awal terjadi pada hari ke 1 – 3. Sedangkan Periode
inkubasi untuk coronavirus adalah 3 hari. Kemudian pada
hari ke 2 -3, terjadi prosee inflamasi
PATOFISIOLOGI
•
Fungsi silia terganggu, menyebabkan banyak sekret terkumpul dan timbul keluhan hidung tersumbat•
Pada proses inflamasi, terjadi edema danpembengkakan mukosa hidung serta peningkatan volume sekret cairan hidung
•
Edema mukosa hidung mengakibatkan cavum nasi menjadi sempit, khususnya meatus nasi. Hal inimembuat ostium sinus tersumbat sehingga drainase sinus terganggu
GEJALA KLINIS
•
Terdapat 3 gejala tersering dari common cold,yaitu :-
Hidung berlendir / basah
-
Bersin
-
Hidung tersumbat
•
stadium prodormal,berlangsung bbrp jam, rasa panas, kering dan gatal didlm hidung. Kmd timbul bersin berulang-ulang, hidung tersumbat dan ingus encer,biasanya disertai demam dan nyeri kepalaGEJALA KLINIS
•
bila terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, sekret akan menjadi kental dan sumbatan di hidung menjadi bertambah•
Tgt dari jenis virus yang menyebabkannya,dapat juga terjadi :-
Nyeri tenggorokan
-
Batuk
-
Nyeri otot
-
Sakit kepala
-
Postnasal drip
Rinitis Akut
DIAGNOSIS
▪
Pada anamnesis,bersin – bersin yang berulang, demam, sakit kepala, rasa panas serta kering pada rongga hidung dan gatal dalam hidung.▪
Pada rhinoskopi anterior,mukosa hidung hiperemis dan edema, konka inferior hidung kadang tampak sedikit hipertrofi, terdapat banyak sekret hidung yang bersifat serousRinitis Akut
▪
Pada rhinoskopi posterior, ditemukan post nasal drip, ujung posterior darikonka media dan terdapat konka inferior yang edema disertai hiperemis
PENATALAKSANAAN
▪
Terapi terbaik untuk common cold tanpa komplikasi adalah istirahat tirah baring dan isolasi sekitar 2 hari, hidrasi yang memadai dan pemberian tetes hidung salin steril.▪
Minum air yang cukup sangat dianjurkan▪
Hindari mengkonsumsi kopi, teh atau minuman soda, serta minuman beralkohol▪
Hentikan merokok ataupun hindari asap rokok▪
terapi medikamentosa dapat diberikan obat tetes hidung▪
Antibiotik hanya bermanfaat bila sudah terjadi infeksi sekunder.▪
Dekongestan oral dapat mengurangi sekret hidung yang banyak, tetapi tidak menyembuhkan▪
vasokonstriktor topikal seperti fenilefin atau oksimetazolin akan melegakan sekret hidungyang encer
▪
Gejala batuk dan pilek dapat diobati dengan dekongestan, antihistamin ataupun kombinasikeduanya
▪
Bila diperlukan antipiretik, maka dapat dipilih asetaminofen atau ibuprofenPENATALAKSANAAN
KOMPLIKASI
▪
Bbrp komplikasi yang sering terjadi:
•
Sinusitis
•
Tubar katar
•
Otitis Media
•
Faringitis,Bronkitis,Pneumonia
PROGNOSIS
▪
Bila tidak terdapat komplikasi, gejala kemudian akan
berkurang dan pasien akan sembuh sesudah 5-10
hari
Rinitis Alergi
Rinitis alergi adalah penyakit simtomatis pada hidung yang terinduksi oleh proses inflamasi yang diperantara IgE pada mukosa hidung setelah pajanan alergen.
Karakteristik gejala rinitis alergi adalah bersin berulang, hidung tersumbat, hidung berair dan hidung gatal.
Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas atas yang sangat sering dijumpai, dilaporkan prevalensi mencapai 40% dari populasi umum.
Gejala-gejala rinitis alergi memberikan dampak buruk terhadap kualitas hidup penderita, baik berupa gangguan aktivitas sehari-hari ditempat kerja, belajar maupun gangguan tidur.
Anamnesis:
Gejala hidung : hidung berair, hidung tersumbat, hidung gatal dan bersin berulang. Gejala pada umumnya muncul di pagi hari atau malam hari•
Gejala mata seperti mata merah, gatal dan berair.•
Gejala lain : batuk, tenggorok gatal, gangguan konsentrasi, dan gangguan tidur. Penderita yang disertai asma dapat ditemukan keluhan sesak napas dan mengiPemeriksaan fisik
•
Pada anak sering ditemukan tanda khas : bayangan gelap di daerah bawah mata (allergic shiner), sering menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan (allergic salute), dan gambaran garis melintang dibagian dorsum hidung (allergic crease)
•
Gambaran khas pada rongga hidung : mukosahidung edema, berwarna pucat atau livid, disertai sekret encer banyak. Dapat ditemukan juga konka inferior yang hipertrofi
1. Pemeriksaan laboratorium
•
Pemeriksaan kadar IgE spesifik dengan cara ELISA (enzyme linked immuno sorbent assaytest) atau RAST (radio immuno sorbent test) sangat bermakna untuk diagnosis, namun
harus berkorelasi dengan gejala klinis
•
Pemeriksaan jumlah eosinofil sekret hidung hanya sebagai pelengkap2. Pemeriksaan nasoendoskopi
Dilakukan untuk evaluasi keterlibatan kompleks osteomeatal dalam menilai adanya rinosinusitis,
polip hidung atau septum deviasi sebagai ko-morbid.
3. Tes kulit alergi
•
Dengan menggunakan ekstrak alergen dan alat yang terstandarisasi, tes cukit/tusuk kulit
merupakan baku emas diagnosis rinitis alergi di klinik dan skrining.
•
Apabila menggunakan ekstrak alergen yang tidak terstandarisasi, dapat diteruskan dengan tes
intradermal bila tes cukit/tusuk kulit negatif.
Tatalaksana rinitis alergi merupakan kombinasi dari 4 modalitas :
1. Farmakoterapi
Obat diberikan berdasarkan dari klasifikasi diagnosis rinitis alergi (sesuai algoritma WHO-ARIA 2019).. Obat yang direkomendasikan sbb:
-Antihistamin oral generasi kedua atau terbaru. Pada kondisi tertentu dapat diberikan antihistamin yang dikombinasi dekongestan, antikolinergik intranasal atau kortikosteroid sistemik.
-Steroid intranasal
2. Penghindaran alergen dan kontrol lingkungan
Bersamaan dengan pemberian obat, pasien diedukasi untuk menghindari atau mengurangi jumlah alergen pemicu di lingkungan
sekitar. Membuat kondisi lingkungan senyaman mungkin dengan menghindari stimulus non spesifik (asap rokok, udara dingin dan kering)
3. Imunoterapi
Apabila tidak terdapat perbaikan setelah farmakoterapi optimal dan penghindaran alergen yang optimal, maka dipertimbangkan untuk pemberian imunoterapi secara subkutan atau sublingual (dengan berbagai pertimbangan khusus). Imunoterapi ini diberikan selama 3-5 tahun untuk mempertahankan efektifitas terapi jangka panjang.
4. Edukasi
Kombinasi modalitas di atas hanya dapat terlaksana dengan baik apabila dilakukan edukasi yang baik dan cermat kepada pasien
ataupun keluarga. Menerangkan juga kemungkinan adanya ko-morbid dan tindakan bedah pada kasus yang memerlukan (hipertrofi konka, septum deviasi atau rinosinusitis kronis).
Alergi
BERDASARKAN LETAKNYA FARING DIBAGI
:
1.
NASOFARING
BATAS BGN ATAS ADALAH DASAR
TENGKORAK, BGN BAWAH PALATUM MOLE,
DEPAN RONGGA HIDUNG SEDANG
BELAKANG VERTEBRA SERVIKAL.
2. OROFARING
DISEBUT JUGA MESOFARING, DGN BATAS
ATASNYA PALATUM MOLE, BATAS BAWAH
ADALAH TEPI ATAS EPIGLOTIS, KEDEPAN
RONGGA MULUT SEDANG KE BELAKANG
VERTEBRA SERVIKAL
3. LARINGOFARING
DISEBUT JUGA HIPOFARING, DGN BATAS
SUPERIOR ADALAH TEPI ATAS EPIGLOTIS,
BATAS ANTERIOR LARING, BATAS INFERIOR
IALAH ESOFAGUS SERTA BATAS POSTERIOR
ADALAH VERTEBRA SERVIKAL
•
Etiologi: virus (60%), bakteri (5-4%), alergi, trauma, toksin
dll
Epidemiologi: sering pd anak usia sekolah
dan dewasa,
jarang usia < 3 tahun
Penularan: droplet infection
Klasifikasi:
1. Faringitis akut
2. Faringitis kronis
3. Faringitis spesifik
1. Faringitis akut:
Faringitis akut viral
Etio: Rinovirus (plg sering), Influenza virus, Coxsachievirus,
Citomegalo virus, Adenovirus, EBV, HIV-1
Gejala dan tanda: demam disertai rinorea, mual, odnifagi, disfagia.
Pada pemeriksaan: faring hiperemis, lesi vesikuler di orofaring dan
makulo papular rash di kulit (Coxachievirus),konjungtivitis
(Adenovirus), eksudat pada faring, limpadenopati retroservikal dan
hepatomegali (EBVdan HIV-1)
1. Faringitis akut:
Faringitis viral
Terapi —> self limited deseases
º istirahat yg cukup, banyak minum, kumur2 air hangat
º terapi simptomatis
º dalam keadaan berat anti virus (isoprenosine)
Faringitis akut bakterial
•
Etiologi: group A Streptokokkus β hemolitikus
•
Epidemiologi: anak-anak (30%), dewasa (15%)
•
Gejala dan tanda; sefalgia, emesis, demam
•
Pemeriksaan: hiperemis dan eksudat pada faring dan
tonsil, petechie pada faring dan
palatum,
pembesaran KGB servikal disertai nyeri tekan.
•
Terapi:
° simptomatis: analgetik antipiretik,
antiinflamasi
° antibiotik: turunan PNC dan makrolid
° antiseptik gargel
•
Komplikasi: demam rematik, GNA dan kerusakan
katup jantung
Faringitis akut gonorhea
ö Etiologi: N. gonorhea
ö Epidemiologi: wanita, PSK (orogenital)
ö Gejala dan tanda: nyeri dan susah menelan
Pemeriksaan: hipereimi dan oedem di
faring
2. Faringitis Kronik
¤ Faktor predisposisi:
° rinitis kronik, sinusitis, perokok, alkoholic, debu
° bernafas melalui mulut krn kongesti hidung
¤ Terdapat 2 jenis:
ã. Faringitis kronik hiperplastik
ъ. Faringitis kronik atrofi
A. Faringitis kronik hiperplastik
• Gejala dan tanda: tenggorokkan kering dan gatal,
batuk berdahak
Pemeriksaan mukosa tdk rata dan bergranul —>
hiperplasia kel. limp di bawah mukosa faring dan
B. Faringitis kronik atrofi
Faktor predisposisi: bersamaan dengan rinitis
kronis atropikan
Gejala dan tanda: tenggorokan kering dan rasa
tebal disertai halositosis
Pemeriksaan: mukosa faring ditutupi oleh lendir
yg kental
Terapi:
º terapi rinitis kronis atropikan
º antiseptik gargel
3. Faringitis spesifik
Faringitis sifilis
° Etiologi: Treponema palidum
° Gejala dan tanda:
º Stadium primer:
° bercak keputihan pd lidah, paltum mole,
tonsil dan dinding posterior faring.
° ulkus pd faring, nyeri (-)
° pembesaran KGB mandibula, nyeri (-)
º Stadium sekunder:
° pembengkakkan pd palatum, pembesaran tonsil
° terdapat ulkus berwarna abu kebiruan, berbentuk
oval disekitardaerah pembengkakkan
Stadium tersier:
•Guma pada tonsil dan palatum
• Guma pd dinding posterior faring
vertebra servikal —> pecah —> kematian
• Guma di palatum mole —> sembuh —> parut
° Diagnosis: biopsi ulserasi dan test serologik
° Terapi:
▪ Anti septik gargel
▪ PNC dosis tinggi
▪ Jaga oral hygene
Faringitis tuberkulosa
º Sekunder dari Tb paru
º Pd M. bovinum Tb faring primer
º Etiologi: M. tuberculosa
º Penyebaran: ° Eksogen: droplet
° Endogen:
▪ Hematogen
▪ Limfogen
▪ Perkontuitatum
º Gejala dan tanda: anoreksia, odinofagi, nyeri
tenggorok, otalgia dan pembesaran KGB servikal
º Diagnosis: sputum BTA, foto toraks, biopsi jaringan,
Tonsilitis Akut
•
Tonsilitis: peradangan pada
tonsila palatina yang biasanya
disebabkan oleh infeksi bakteri,
virus & beberapa
faktor predisposisi lain
•
Tonsilitis:
•
Tonsilitis akut
•
Tonsilitis membranosa
•
Tonsilitis kronik
Tonsilitis akut
Virus
•Etiologi: Rinovirus (plg
sering), Influenza virus, Coxsachievirus,
Citomegalo virus,
Adenovirus, EBV, HIV-1 •Gejala: mirip common
cold disertai dengan nyeri tenggorok
•Terapi: bad rest, minum,
analgetik dan antivirus jika gejala berat
Bacterial
•Etiologi: streptokokus betahemolitikus
grup A, pneumokokus viridan, streptokokus piogen
•gejala dan tanda:
1. Nyeri tenggorok 2. Nyeri menelan 3. Febris
4. Nyeri alih di telinga
5. Tonsil membesar & hiperemis, detritus (+)
6. KGB submandibula besar & nyeri tekan
• Terapi: antibiotik spektrum luas,
antipiretik
• Komplikasi: OMA, sinusitis, abses
peritonsil, miokarditis, GNA,
Obstructive Sleep Apnoe Syndrome (OSAS)
Tonsilitis membranosa
Tonsilitis difteri
•
Etiologi: Coryne bacterium diphteriae
•
Biasanya menginfeksi sal.napas atas, dan
tergantung dari titer antitoksin
•
Terapi:
•
Isolasi pasien
•
Anti Difteri Serum
•
Antibiotik : penisilin atau eritromisin
•
Kortikosteroid
•
antipiretik
Umum Lokal eksotoksin
Subfebris Tonsil membesar Miokarditis Nyeri kepala Ditutupi bercak putih kotor membentuk
membran semu yang semakin meluas
Kelumpuhan otot
palatum & pernapasan Lemah letih lesu Mudah berdarah
Tonsilitis septik
•
Etiologi: Streptokokus hemolitikus pada susu sapiAngina Plaut Vincent
•
Etiologi: bakteri spirochaeta/triponema pada orang yg hygine mulut buruk dan defisiensi Vit.C•
Gejala & tanda:•
Demam tinggi•
Nyeri mulut•
Gang.pencernaan•
Hipersalivasi•
Gigi & gusi mudah berdarah•
Mukosa mulut & faring hiperemis•
Membran putih di uvula, dinding faring•
Foeter ex ore•
KGB submandibula membesar•
Terapi : antibiotik spektrum kuas, perbaiki hygine mulut, Vit.C & Vit. B kompleksPenyakit kelainan darah
Leukimia akut
•Epistaksis
•Perdarahan di
mukosa mulut, gusi dan bawah kulit
•Tonsil bengkak tertutup membran semu •Nyeri hebat di tenggorok Angina agranulositosis •Akibat keracunan obat amidopirin, sulfa, arsen •Ulkus di mukosa mulut & faring
•Gejala radang di sekitar ulkus Mononukleosis •Tonsilo faringitis ulsero membranosa bilateral •Membran mudah diangkat •Pembesaran KGB •Leukosit mononukleus jumlah besar
Tonsilitis kronik
•
Rangsangan menahun dari rokok, makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.•
Gejala:•
Tonsil membesar•
Permukaan tidak rata•
Kripti melebar terisi detritus•
Rasa mengganjal ditenggorok•
Rasa kering di tenggorok•
Napas berbauKomplikasi tonsilitis kronis
•
Rhinitis kronik•
Sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum•
Hematogen & limfogen :•
Endokarditis, artritis, miositis, nefritis, uveitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosisIndikasi tonsilektomi pada tonsilitis kronis
•
Serangan tonsilitis lebih dari 3x dalam setahun walaupun telah dapat terapi adekuat
•
Hipertrofi tonsil menimbulkan maloklusi gigi dan gang.pertumbuhan orofasial
•
Sumbatan jalan napas, gang.menelan, gang.bicara, sleep apnea, cor pulmonal
•
Napas bau
- U
mumnya merupakan lanjutan dr rhinofaringitis (common cold)
- Etiologi :
Virus ( virus influenza, adenovirus)
Bakteri ( Corynebacterium diphtheri, Streptococcus dll)
- Diphtheri selalu dicurigai pada laringitis terutama bila dijumpai
pseudomembran.
- Gejala dan tanda :
- demam , malaise
- suara serak sampai aphonia
- nyeri ketika menelan dan bicara
- batuk kering, bisa berdahak kental
Pemeriksaan :
• Mukosa laring hiperemis,oedem supraglotis dan subglotis • Dapat dilakukan kultur dari throat swab
Terapi :
- Istirahat suara (voice rest)
- Hindari iritasi asap, makanan pedas, minum es - Menghirup udara lembab
- Obat batuk - Antibiotika
- Adalah suatu penyakit infeksi akut yg dpt mengenai sebagian atau seluruh bagian saluran nafas atas.
- biasa terjadi pd anak anak usia >6thn tetapi dpt juga pd dewasa. - Etiologi : - disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae
- ditularkan melalui droplet
- dapat terjadi bentuk ringan pd anak anak yg telah mendapat immunisasi.
- Patologi :- infeksi dapat terjadi pd hidung, faring, laring -→ menyebabkan epitel nekrose.
- didapati pseudomembran mulai dari hidung sp trachea
- membran ini mengandung fibrin, epitel nekrose, bakteri & fagosit - exotoksin dari bakteri dapat menyerang otot jantung dan syaraf
perifer.
- dapat terjadi sumbatan jalan nafas dan gagal jantung → fatal
- Gambaran klinik :
- masa inkubasi : 1-7 hari
- rasa sakit ditenggorokan yang ringan, malaise, demam ringan dan tachicardia ringan. - membran putih kotor pd tonsil, dinding faring, laring
- bila kena laring → suara serak, batuk, stridor → tanda2 sumbatan jalan nafas
- membran keabu2an, melekat, kalau dilepas → berdarah
- servical lymphe node teraba → bull necked
- Diagnosis :
- membran → mikroskopis → organisme (+) - kultur
Therapy :
-
Paling baik diberi Profilaksis
-
Semua anak diberi immunisasi, booster sp usia
10 tahun.
-
Antitoxin 20.000 – 100.000 unit
-
Penicillin selama 10 hari
-
Kalau ada tanda tanda sumbatan jalan nafas →
tracheostomy
-Etiologi : - Sinusitis kronis —> united airway disease - Refluks cairan lambung
- bronkitis kronis —> batuk kronis
- asap, debu, pemakaian suara yg berlebihan (vocal abuse) - rokok
-Gejala : - suara serak menetap (disfonia),
- perubahan frequensi dasar suara
- laringitis akut yang serangannya berulang.
- rasa tersangkut ditenggorokan (globus faringeus) - sering bendeham —> dahak kental
- pd pemeriksaan : mukosa hiperemis dan menebal tdk rata.
-Therapy : -istirahat suara (vocal rest)
- pengobatan thdp yg menjadi penyebab - antibiotik, steroid short -term