• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit Infeksi dan Peradangan di Bidang Otorinolaringologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penyakit Infeksi dan Peradangan di Bidang Otorinolaringologi"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

Pertemuan Ilmiah Bersama (PIB) 12 Juni 2021

Penyakit Infeksi dan Peradangan di

Bidang Otorinolaringologi

(2)

I. Penyakit Infeksi dan Peradangan pada Telinga

1. Serumen Prop

2. Otitis Eksterna

3. Otitis Media Akut

4. BPPV

(3)
(4)

Serumen merupakan hasil produksi kelenjar

sebasea, kelenjar seruminosa, epitel kulit yang terlepas dan partikel debu. Dalam keadaan

normal serumen terdapat di sepertiga luar liang telinga karena kelenjar tersebut hanya di

temukan di daerah tersebut.

Serumen biasanya ditemukan di kanalis akustikus eksternus yang merupakan

pertahanan penting dalam upaya mencegah terjadinya infeksi dan masuknya benda asing seperti serangga

(5)

Clearance Mechanism

Pembersihan kanalis akustikus eksternus terjadi sebagai hasil dari migrasi sel epitel

Gerakan rahang (jaw movement) —> mengunyah, berbicara, menguap, menyusu

Lubrikasi —> Lubrikasi mencegah terjadinya desikasi, gatal, dan terbakarnya kulit kanalis akustikus eksternus yang disebut asteatosis. Zat lubrikasi di peroleh dari kandungan lipid yang tinggi dari produksi sebum oleh kelenjar sebasea

(6)

Serumen Prop

Gumpalan serumen yang menumpuk di liang telinga akan menimbulkan

gangguan pendengaran berupa tuli konduktif. Pada sebagian orang dapat

mengeras dan membentuk sumbatan, sehingga merasakan telinganya tersumbat

atau tertekan.

Serumen bersifat hidrofilik —> dapat mengembang terutama bila telinga masuk

air (sewaktu mandi, berenang) sehingga menimbulkan rasa tertekan dan

(7)

Faktor yang Menyebabkan Penumpukan Serumen

Dermatitis kronik liang telinga luar

Liang telinga sempit

Produksi serumen banyak dan kental

Adanya benda asing di liang telinga

Adanya eksostosis liang telinga

Serumen terdorong oleh jari tangan atau ujung handuk setelah mandi atau kebiasaan mengorek telinga dengan cotton buds

(8)

Penanganan

Serumen dapat dibersihkan sesuai dengan konsistensinya. Dapat menggunakan irigasi.

Serumen yang lembek dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada pelilit kapas. Serumen yang keras di keluarkan dengan pengait atau kuret.

(9)

Irigasi

Persiapan Alat :

1. Alat Spooling atau Spuit 20 cc.

2. Kom berisi air hangat kuku secukupnya.

3. Nerbeken untuk menampung kotoran telinga. 4. Handuk sebagai alas pelindung .

5. Sarung tangan disposable. 6. Otoscope dan lampu kapala 7. Cotton bud secukupnya.

(10)

B. Persiapan pasien :

1. Jelaskan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan (inform consent), dan minta kepada pasien agar bersikap kooperatif.

2. Posisikan pasien dengan posisi duduk dan kepala miring ke sisi berlawanan dengan telinga yang akan dibersihkan

3. Tindakan

a. Tempatkan bak bengkok dibawah telinga yang

dibersihkan, dan beri alas handuk untuk mencegah tetesan air mengenai pasien.

b. Semprot telinga pasien dengan air/Cairan NaCl hangat secara perlahan sampai telinga bersih.

c. Eksplorasi dengan otoscope dan evaluasi adanya efek samping (vagal refleks, vertigo)

(11)
(12)
(13)

Otitis Eksterna

KLASIFIKASI

Mawson (1967), membagi atas 2 bagian:

1.1. Infektif

1.1.1. Bacterial

1.1.2. Fungal

1.1.3. Viral

1.2. Reaktif

1.2.1. Eksema

1.2.2. Dermatitis seboroika

(14)

Otitis Eksterna

Melihat bentuk infeksi di liang telinga, penyakit

dibagi atas:

1. Ot.Ekst. Sirkumskripta (Furunkulosis)

2. Ot.Ekst. Difusa

(15)

Otitis Eksterna Sirkumskripta/Furunkulosis

Furunkulosis adalah infeksi gram positif dari folikel rambut di liang telinga disebabkan oleh stafilokokus aureus

Bisul terasa sangat sakit, berbatas tegas, pustula,

eritematous mengelilingi rambut di liang telinga bagian luar

Rasa tidak enak bertambah dengan pergerakan rahang

(16)

TATALAKSANA

Manajemen dari furunkulosis memerlukan kehati-hatian dan aural toilet yang

lembut (gentle cleaning)

Tampon (pack/wick) kasa diolesi / direndam dalam krem steroid / antibiotik

atau gliserin (tradisionil dengan ikhtamol / ichtamol) dimasukkan ke liang

telinga akan mengurangi rasa sakit dan mengurangi bengkak

Oral diberikan anti stafilokokus antibiotik terutama jika disertai selulitis

Obat terpilih flukloksasilin atau sefradin, 500 mg setiap 6 jam atau eritromisin

jika penisilin alergi, polymixin B, bacitracin…

Di samping itu diberikan juga analgetika sebagai antinyeri dan antiinflamasi

(17)

Otitis Eksterna Difusa

Otitis Eksterna Difusa sering timbul pada udara panas &

lembab dan disebut “Tropical ear“ atau “Singapore ear“

Panas, kelembaban dan berenang mungkin faktor yang

memperberat pada beberapa kasus, tapi faktor utama /

paling penting adalah trauma lokal

Mikroorganisme pada Otitis Eksterna Difusa adalah

Pseudomonas aeruginosa, Basilus piosianius, E.coli,

Staph. albus dan Staph. aureus

(18)

Terapi

:

1. Kultur → test sensitivitets

2. Liang telinga dibersihkan dengan hati- hati

3. Dipasang tampon / pack yang telah direndam dengan neomisin atau gentamisin dan diganti setiap 24 jam

4. Antibiotika topikal ini harus dipakai hati-hati karena dapat alergi atau mungkin dapat menyebabkan tumbuhnya jamur yang berlebihan

Wilkinson dan Beek, 1993, mengatakan reaksi hipersensitiviti lambat (delayed

hypersensitivity) terhadap pemakaian kortikosteroid topikal dan obat lain, bagi

penderita dengan Ot. Ekst yang gagal terhadap terapi

5. Referal ke spesialis kulit pada stadium ini, mungkin akan dapat merencanakan terapi penderita hipersensitiviti kontak

(19)

Otomycosis

Jamur yang sering diisolasi pada otomikosis Aspergilus niger, kandida albikan, dermatofit dan Aktinomises

Jamur ini tertanam terutama pada stratum korneum dan berproliferasi setelah fase istirahat (dormant phase )

Gejala:

Rasa gatal keluhan yang sangat menonjol bersama-sama

dengan rasa penuh di telinga atau rasa pekak dengan penumpukan debris basah di dalam liang telinga

Pada pemeriksaan liang telinga, tampak massa putih

keabu-abuan, menyempit, lapisan seperti kertas basah berbintik- bintik mengisi liang telinga

Konidiofor dari infeksi aspergilus niger akan tampak sebagai

bintik-bintik hitam pada debris atau sebagai filamen- filamen yang menonjol dari dinding liang telinga

(20)

Terapi infeksi jamur saprofit dengan jalan membersihkan semua penumpukan

debris di liang telinga —> paling baik dilakukan dengan alat pengisap (suction)

atau diirigasi jika membran timpani tidak perforasi

Obat antifungal spesifik dapat dioleskan seperti nistatin yang terutama efektif

terhadap spesies kandida tapi kurang aktif melawan Aspergilus

Klotrimazol sangat efektif sebagai antifungal apabila dipakai sebagai krem 1% di

liang telinga

Asam asetat 2% dapat diberikan agar memberikan keadaan pH asam pada liang

telinga

Edukasi : menjaga telinga tetap kering (tidak berkeringat atau masuk air)

(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)

Otitis Media Supuratif Akut

(29)

Stadium supuratif

(30)

Otitis Media Supuratif Akut

(31)
(32)
(33)

Otitis media akut berulang

Anak dengan otitis media akut berulang, dimana episode sebelumnya mengalami

kesembuhan, dapat diterapi sama dengan terapi yang diberikan sebelumnya.

Jika terdapat intensitas serangan berulang yang sering dengan jangka waktu antar serangan

yang dekat —> dilakukan evaluasi ulang —>antibiotik profilaksis dapat diberi selama beberapa

bulan misalnya musim dingin.

Pilihan terapi : amoksisilin 20 mg/kgbb/24 jam atau sulfonamid 50 mg/24 jam.

Miringotomi dan pipa ventilasi —> juga data dipertimbangkan

Adenoidektomi tidak efektif mencegah otitis media akut berulang pada anak.

(34)

Vaksin untuk mencegah OMA

Vaksin dapat digunakan untuk mencegah anak menderita OMA. Secara teori, vaksin

terbaik adalah yang menawarkan imunitas terhadap semua patogen berbeda yang

menyebabkan OMA.

Rekomendasi imunisasi universal pada anak dibawah umur 2 tahun adalah 4 dosis vaksin intramuskular yang diberikan pada usia 2, 4, 6, dan terakhir pada usia 12-15 bulan. Vaksin dini dapat diberikan bersamaan dengan imunisasi rutin.

(35)

BPPV

Gangguan keseimbangan yang ditandai

dengan adanya sensasi berputar dari dunia

sekelilingnya, bersifat episodik yang

diprovokasi oleh gerakan kepala. Kondisi ini

terjadi ketika Kristal kalsium karbonat di

utrikulus t

erlepas dan masuk ke dalam

salah satu atau lebih

kanalis semi

sirkularis

vestibuler sehingga terjadi

rangsangan gangguan keseimbangan.

(36)

BPPV

Benign Paroxysmal Positional Vertigo

Etiologi

Idiopatik (50%)

Post trauma kepala atau leher

(37)

BPPV

(38)

BPPV

Benign Paroxysmal Positional Vertigo

Anamnesis

1. Vertigo atau sensasi ruang berputar bila kepala digerakan

2. Awitan (onset) tiba-tiba/mendadak

3. Episodik

4. Dapat disertai gejala otonom; mual, muntah, keringat dingin

5. Tidak didapatkan gangguan pendengaran

6. Tidak ada gejala fokal otak (deficit neurologis)

(39)

BPPV

Benign Paroxysmal Positional Vertigo

Pemeriksaan Fisik

1. Nistagmus fase cepat rotatoar searah jarum jam (pada

sisi lesi) saat dilakukan pemeriksaan Dix-Hallpike

2. Nistagmus yang timbul setelah ± 40 detik, kemudian

nistagmus menghilang kurang dari 1 menit jika

penyebabnya kanalitiasis, pada kupololitiasis nistagmus

dapat terjadi lebih dari 1 menit

3. Timbulnya gejala otonom saat diprovokasi

(40)

BPPV

Benign Paroxysmal Positional Vertigo

Canalith Repotitional Therapy/CRT (Epley maneuver)

Latihan Brandt-Daroff

Medikamentosa : Betahistin 48 mg/hari dibagi 2atau 3 dosis

(41)

BPPV

Benign Paroxysmal Positional Vertigo

Edukasi pasien :

Setelah tindakan reposisi pasien disarankan agar tetap

mempertahankan kepalanya pada posisi tegak selama 24 jam,

tidur dengan 2 bantal (posisi 45 derajat), sehingga kanalit tidak

akan mengikuti gravitasi kembali ke krus dan masuk kembali ke

kanalis semisirkularis posterior. Jika nistagmus tipikal masih ada

maka manuver ini diulang tiap minggu.

(42)

Kelainan rongga hidung yang paling sering ditemukan adalah akibat dari infeksi

Common cold merupakan salah satu jenis dari rinitis akut

Rinitis simpleks, Pilek, selesma, coryza merupakan beberapa nama lain dari common cold

(43)

Common cold diakibatkan oleh berbagai macam organisme, 90 % oleh virus.

Tersering karena rhinovirus, pada orang dewasa sekitar 20-40% kasus, Coronavirus10-15%

Pada bayi dan anak-anak, virus parainfluenza,

Respiratory syncytial viruses (RSV), influenza, adenovirus, enterovirus tertentu

(44)

PATOFISIOLOGI

Virus menginfeksi manusia apabila sistem imun dalam

keadaan lemah.

Virus ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui droplet,

udara, berjabat tangan, barang – barang yang terkontaminasi

oleh kotoran hidung dan mulut dari orang yang terinfeksi.

Periode inkubasi untuk rhinovirus adalah 8 – 10 jam dengan

gejala awal terjadi pada hari ke 1 – 3. Sedangkan Periode

inkubasi untuk coronavirus adalah 3 hari. Kemudian pada

hari ke 2 -3, terjadi prosee inflamasi

(45)

PATOFISIOLOGI

Fungsi silia terganggu, menyebabkan banyak sekret terkumpul dan timbul keluhan hidung tersumbat

Pada proses inflamasi, terjadi edema dan

pembengkakan mukosa hidung serta peningkatan volume sekret cairan hidung

Edema mukosa hidung mengakibatkan cavum nasi menjadi sempit, khususnya meatus nasi. Hal ini

membuat ostium sinus tersumbat sehingga drainase sinus terganggu

(46)

GEJALA KLINIS

Terdapat 3 gejala tersering dari common cold,yaitu :

-

Hidung berlendir / basah

-

Bersin

-

Hidung tersumbat

stadium prodormal,berlangsung bbrp jam, rasa panas, kering dan gatal didlm hidung. Kmd timbul bersin berulang-ulang, hidung tersumbat dan ingus encer,biasanya disertai demam dan nyeri kepala

(47)

GEJALA KLINIS

bila terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, sekret akan menjadi kental dan sumbatan di hidung menjadi bertambah

Tgt dari jenis virus yang menyebabkannya,dapat juga terjadi :

-

Nyeri tenggorokan

-

Batuk

-

Nyeri otot

-

Sakit kepala

-

Postnasal drip

Rinitis Akut

(48)

DIAGNOSIS

Pada anamnesis,bersin – bersin yang berulang, demam, sakit kepala, rasa panas serta kering pada rongga hidung dan gatal dalam hidung.

Pada rhinoskopi anterior,mukosa hidung hiperemis dan edema, konka inferior hidung kadang tampak sedikit hipertrofi, terdapat banyak sekret hidung yang bersifat serous

Rinitis Akut

Pada rhinoskopi posterior, ditemukan post nasal drip, ujung posterior dari

konka media dan terdapat konka inferior yang edema disertai hiperemis

(49)

PENATALAKSANAAN

Terapi terbaik untuk common cold tanpa komplikasi adalah istirahat tirah baring dan isolasi sekitar 2 hari, hidrasi yang memadai dan pemberian tetes hidung salin steril.

Minum air yang cukup sangat dianjurkan

Hindari mengkonsumsi kopi, teh atau minuman soda, serta minuman beralkohol

Hentikan merokok ataupun hindari asap rokok

(50)

terapi medikamentosa dapat diberikan obat tetes hidung

Antibiotik hanya bermanfaat bila sudah terjadi infeksi sekunder.

Dekongestan oral dapat mengurangi sekret hidung yang banyak, tetapi tidak menyembuhkan

vasokonstriktor topikal seperti fenilefin atau oksimetazolin akan melegakan sekret hidung

yang encer

Gejala batuk dan pilek dapat diobati dengan dekongestan, antihistamin ataupun kombinasi

keduanya

Bila diperlukan antipiretik, maka dapat dipilih asetaminofen atau ibuprofen

PENATALAKSANAAN

(51)

KOMPLIKASI

Bbrp komplikasi yang sering terjadi:

Sinusitis

Tubar katar

Otitis Media

Faringitis,Bronkitis,Pneumonia

(52)

PROGNOSIS

Bila tidak terdapat komplikasi, gejala kemudian akan

berkurang dan pasien akan sembuh sesudah 5-10

hari

(53)

Rinitis Alergi

Rinitis alergi adalah penyakit simtomatis pada hidung yang terinduksi oleh proses inflamasi yang diperantara IgE pada mukosa hidung setelah pajanan alergen.

Karakteristik gejala rinitis alergi adalah bersin berulang, hidung tersumbat, hidung berair dan hidung gatal.

Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas atas yang sangat sering dijumpai, dilaporkan prevalensi mencapai 40% dari populasi umum.

Gejala-gejala rinitis alergi memberikan dampak buruk terhadap kualitas hidup penderita, baik berupa gangguan aktivitas sehari-hari ditempat kerja, belajar maupun gangguan tidur.

(54)
(55)

Anamnesis:

Gejala hidung : hidung berair, hidung tersumbat, hidung gatal dan bersin berulang. Gejala pada umumnya muncul di pagi hari atau malam hari

Gejala mata seperti mata merah, gatal dan berair.

Gejala lain : batuk, tenggorok gatal, gangguan konsentrasi, dan gangguan tidur. Penderita yang disertai asma dapat ditemukan keluhan sesak napas dan mengi

(56)

Pemeriksaan fisik

Pada anak sering ditemukan tanda khas : bayangan gelap di daerah bawah mata (allergic shiner), sering menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan (allergic salute), dan gambaran garis melintang di

bagian dorsum hidung (allergic crease)

Gambaran khas pada rongga hidung : mukosa

hidung edema, berwarna pucat atau livid, disertai sekret encer banyak. Dapat ditemukan juga konka inferior yang hipertrofi

(57)

1. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan kadar IgE spesifik dengan cara ELISA (enzyme linked immuno sorbent assay

test) atau RAST (radio immuno sorbent test) sangat bermakna untuk diagnosis, namun

harus berkorelasi dengan gejala klinis

Pemeriksaan jumlah eosinofil sekret hidung hanya sebagai pelengkap

2. Pemeriksaan nasoendoskopi

Dilakukan untuk evaluasi keterlibatan kompleks osteomeatal dalam menilai adanya rinosinusitis,

polip hidung atau septum deviasi sebagai ko-morbid.

3. Tes kulit alergi

Dengan menggunakan ekstrak alergen dan alat yang terstandarisasi, tes cukit/tusuk kulit

merupakan baku emas diagnosis rinitis alergi di klinik dan skrining.

Apabila menggunakan ekstrak alergen yang tidak terstandarisasi, dapat diteruskan dengan tes

intradermal bila tes cukit/tusuk kulit negatif.

(58)
(59)

Tatalaksana rinitis alergi merupakan kombinasi dari 4 modalitas :

1. Farmakoterapi

Obat diberikan berdasarkan dari klasifikasi diagnosis rinitis alergi (sesuai algoritma WHO-ARIA 2019).. Obat yang direkomendasikan sbb:

-Antihistamin oral generasi kedua atau terbaru. Pada kondisi tertentu dapat diberikan antihistamin yang dikombinasi dekongestan, antikolinergik intranasal atau kortikosteroid sistemik.

-Steroid intranasal

2. Penghindaran alergen dan kontrol lingkungan

Bersamaan dengan pemberian obat, pasien diedukasi untuk menghindari atau mengurangi jumlah alergen pemicu di lingkungan

sekitar. Membuat kondisi lingkungan senyaman mungkin dengan menghindari stimulus non spesifik (asap rokok, udara dingin dan kering)

3. Imunoterapi

Apabila tidak terdapat perbaikan setelah farmakoterapi optimal dan penghindaran alergen yang optimal, maka dipertimbangkan untuk pemberian imunoterapi secara subkutan atau sublingual (dengan berbagai pertimbangan khusus). Imunoterapi ini diberikan selama 3-5 tahun untuk mempertahankan efektifitas terapi jangka panjang.

4. Edukasi

Kombinasi modalitas di atas hanya dapat terlaksana dengan baik apabila dilakukan edukasi yang baik dan cermat kepada pasien

ataupun keluarga. Menerangkan juga kemungkinan adanya ko-morbid dan tindakan bedah pada kasus yang memerlukan (hipertrofi konka, septum deviasi atau rinosinusitis kronis).

(60)
(61)

Alergi

(62)

BERDASARKAN LETAKNYA FARING DIBAGI

:

1.

NASOFARING

BATAS BGN ATAS ADALAH DASAR

TENGKORAK, BGN BAWAH PALATUM MOLE,

DEPAN RONGGA HIDUNG SEDANG

BELAKANG VERTEBRA SERVIKAL.

2. OROFARING

DISEBUT JUGA MESOFARING, DGN BATAS

ATASNYA PALATUM MOLE, BATAS BAWAH

ADALAH TEPI ATAS EPIGLOTIS, KEDEPAN

RONGGA MULUT SEDANG KE BELAKANG

VERTEBRA SERVIKAL

3. LARINGOFARING

DISEBUT JUGA HIPOFARING, DGN BATAS

SUPERIOR ADALAH TEPI ATAS EPIGLOTIS,

BATAS ANTERIOR LARING, BATAS INFERIOR

IALAH ESOFAGUS SERTA BATAS POSTERIOR

ADALAH VERTEBRA SERVIKAL

(63)

Etiologi: virus (60%), bakteri (5-4%), alergi, trauma, toksin

dll

Epidemiologi: sering pd anak usia sekolah

dan dewasa,

jarang usia < 3 tahun

Penularan: droplet infection

Klasifikasi:

1. Faringitis akut

2. Faringitis kronis

3. Faringitis spesifik

(64)

1. Faringitis akut:

Faringitis akut viral

Etio: Rinovirus (plg sering), Influenza virus, Coxsachievirus,

Citomegalo virus, Adenovirus, EBV, HIV-1

Gejala dan tanda: demam disertai rinorea, mual, odnifagi, disfagia.

Pada pemeriksaan: faring hiperemis, lesi vesikuler di orofaring dan

makulo papular rash di kulit (Coxachievirus),konjungtivitis

(Adenovirus), eksudat pada faring, limpadenopati retroservikal dan

hepatomegali (EBVdan HIV-1)

(65)

1. Faringitis akut:

Faringitis viral

Terapi —> self limited deseases

º istirahat yg cukup, banyak minum, kumur2 air hangat

º terapi simptomatis

º dalam keadaan berat anti virus (isoprenosine)

(66)

Faringitis akut bakterial

Etiologi: group A Streptokokkus β hemolitikus

Epidemiologi: anak-anak (30%), dewasa (15%)

Gejala dan tanda; sefalgia, emesis, demam

Pemeriksaan: hiperemis dan eksudat pada faring dan

tonsil, petechie pada faring dan

palatum,

pembesaran KGB servikal disertai nyeri tekan.

Terapi:

° simptomatis: analgetik antipiretik,

antiinflamasi

° antibiotik: turunan PNC dan makrolid

° antiseptik gargel

Komplikasi: demam rematik, GNA dan kerusakan

katup jantung

(67)
(68)
(69)

Faringitis akut gonorhea

ö Etiologi: N. gonorhea

ö Epidemiologi: wanita, PSK (orogenital)

ö Gejala dan tanda: nyeri dan susah menelan

Pemeriksaan: hipereimi dan oedem di

faring

(70)

2. Faringitis Kronik

¤ Faktor predisposisi:

° rinitis kronik, sinusitis, perokok, alkoholic, debu

° bernafas melalui mulut krn kongesti hidung

¤ Terdapat 2 jenis:

ã. Faringitis kronik hiperplastik

ъ. Faringitis kronik atrofi

A. Faringitis kronik hiperplastik

• Gejala dan tanda: tenggorokkan kering dan gatal,

batuk berdahak

Pemeriksaan mukosa tdk rata dan bergranul —>

hiperplasia kel. limp di bawah mukosa faring dan

(71)

B. Faringitis kronik atrofi

Faktor predisposisi: bersamaan dengan rinitis

kronis atropikan

Gejala dan tanda: tenggorokan kering dan rasa

tebal disertai halositosis

Pemeriksaan: mukosa faring ditutupi oleh lendir

yg kental

Terapi:

º terapi rinitis kronis atropikan

º antiseptik gargel

(72)

3. Faringitis spesifik

Faringitis sifilis

° Etiologi: Treponema palidum

° Gejala dan tanda:

º Stadium primer:

° bercak keputihan pd lidah, paltum mole,

tonsil dan dinding posterior faring.

° ulkus pd faring, nyeri (-)

° pembesaran KGB mandibula, nyeri (-)

º Stadium sekunder:

° pembengkakkan pd palatum, pembesaran tonsil

° terdapat ulkus berwarna abu kebiruan, berbentuk

oval disekitardaerah pembengkakkan

(73)

Stadium tersier:

•Guma pada tonsil dan palatum

• Guma pd dinding posterior faring

vertebra servikal —> pecah —> kematian

• Guma di palatum mole —> sembuh —> parut

° Diagnosis: biopsi ulserasi dan test serologik

° Terapi:

▪ Anti septik gargel

▪ PNC dosis tinggi

▪ Jaga oral hygene

(74)

Faringitis tuberkulosa

º Sekunder dari Tb paru

º Pd M. bovinum Tb faring primer

º Etiologi: M. tuberculosa

º Penyebaran: ° Eksogen: droplet

° Endogen:

▪ Hematogen

▪ Limfogen

▪ Perkontuitatum

º Gejala dan tanda: anoreksia, odinofagi, nyeri

tenggorok, otalgia dan pembesaran KGB servikal

º Diagnosis: sputum BTA, foto toraks, biopsi jaringan,

(75)

Tonsilitis Akut

Tonsilitis: peradangan pada

tonsila palatina yang biasanya

disebabkan oleh infeksi bakteri,

virus & beberapa

faktor predisposisi lain

Tonsilitis:

Tonsilitis akut

Tonsilitis membranosa

Tonsilitis kronik

(76)

Tonsilitis akut

Virus

Etiologi: Rinovirus (plg

sering), Influenza virus, Coxsachievirus,

Citomegalo virus,

Adenovirus, EBV, HIV-1 •Gejala: mirip common

cold disertai dengan nyeri tenggorok

Terapi: bad rest, minum,

analgetik dan antivirus jika gejala berat

Bacterial

Etiologi: streptokokus betahemolitikus

grup A, pneumokokus viridan, streptokokus piogen

gejala dan tanda:

1. Nyeri tenggorok 2. Nyeri menelan 3. Febris

4. Nyeri alih di telinga

5. Tonsil membesar & hiperemis, detritus (+)

6. KGB submandibula besar & nyeri tekan

Terapi: antibiotik spektrum luas,

antipiretik

Komplikasi: OMA, sinusitis, abses

peritonsil, miokarditis, GNA,

Obstructive Sleep Apnoe Syndrome (OSAS)

(77)
(78)

Tonsilitis membranosa

Tonsilitis difteri

Etiologi: Coryne bacterium diphteriae

Biasanya menginfeksi sal.napas atas, dan

tergantung dari titer antitoksin

Terapi:

Isolasi pasien

Anti Difteri Serum

Antibiotik : penisilin atau eritromisin

Kortikosteroid

antipiretik

Umum Lokal eksotoksin

Subfebris Tonsil membesar Miokarditis Nyeri kepala Ditutupi bercak putih kotor membentuk

membran semu yang semakin meluas

Kelumpuhan otot

palatum & pernapasan Lemah letih lesu Mudah berdarah

(79)

Tonsilitis septik

Etiologi: Streptokokus hemolitikus pada susu sapi

Angina Plaut Vincent

Etiologi: bakteri spirochaeta/triponema pada orang yg hygine mulut buruk dan defisiensi Vit.C

Gejala & tanda:

Demam tinggi

Nyeri mulut

Gang.pencernaan

Hipersalivasi

Gigi & gusi mudah berdarah

Mukosa mulut & faring hiperemis

Membran putih di uvula, dinding faring

Foeter ex ore

KGB submandibula membesar

Terapi : antibiotik spektrum kuas, perbaiki hygine mulut, Vit.C & Vit. B kompleks

(80)

Penyakit kelainan darah

Leukimia akut

•Epistaksis

•Perdarahan di

mukosa mulut, gusi dan bawah kulit

•Tonsil bengkak tertutup membran semu •Nyeri hebat di tenggorok Angina agranulositosis •Akibat keracunan obat amidopirin, sulfa, arsen •Ulkus di mukosa mulut & faring

•Gejala radang di sekitar ulkus Mononukleosis •Tonsilo faringitis ulsero membranosa bilateral •Membran mudah diangkat •Pembesaran KGB •Leukosit mononukleus jumlah besar

(81)

Tonsilitis kronik

Rangsangan menahun dari rokok, makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.

Gejala:

Tonsil membesar

Permukaan tidak rata

Kripti melebar terisi detritus

Rasa mengganjal ditenggorok

Rasa kering di tenggorok

Napas berbau

(82)

Komplikasi tonsilitis kronis

Rhinitis kronik

Sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum

Hematogen & limfogen :

Endokarditis, artritis, miositis, nefritis, uveitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis

(83)
(84)

Indikasi tonsilektomi pada tonsilitis kronis

Serangan tonsilitis lebih dari 3x dalam setahun walaupun telah dapat terapi adekuat

Hipertrofi tonsil menimbulkan maloklusi gigi dan gang.pertumbuhan orofasial

Sumbatan jalan napas, gang.menelan, gang.bicara, sleep apnea, cor pulmonal

Napas bau

(85)
(86)

- U

mumnya merupakan lanjutan dr rhinofaringitis (common cold)

- Etiologi :

Virus ( virus influenza, adenovirus)

Bakteri ( Corynebacterium diphtheri, Streptococcus dll)

- Diphtheri selalu dicurigai pada laringitis terutama bila dijumpai

pseudomembran.

- Gejala dan tanda :

- demam , malaise

- suara serak sampai aphonia

- nyeri ketika menelan dan bicara

- batuk kering, bisa berdahak kental

(87)

Pemeriksaan :

• Mukosa laring hiperemis,oedem supraglotis dan subglotis • Dapat dilakukan kultur dari throat swab

Terapi :

- Istirahat suara (voice rest)

- Hindari iritasi asap, makanan pedas, minum es - Menghirup udara lembab

- Obat batuk - Antibiotika

(88)

- Adalah suatu penyakit infeksi akut yg dpt mengenai sebagian atau seluruh bagian saluran nafas atas.

- biasa terjadi pd anak anak usia >6thn tetapi dpt juga pd dewasa. - Etiologi : - disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae

- ditularkan melalui droplet

- dapat terjadi bentuk ringan pd anak anak yg telah mendapat immunisasi.

- Patologi :- infeksi dapat terjadi pd hidung, faring, laring -→ menyebabkan epitel nekrose.

- didapati pseudomembran mulai dari hidung sp trachea

- membran ini mengandung fibrin, epitel nekrose, bakteri & fagosit - exotoksin dari bakteri dapat menyerang otot jantung dan syaraf

perifer.

- dapat terjadi sumbatan jalan nafas dan gagal jantung → fatal

(89)

- Gambaran klinik :

- masa inkubasi : 1-7 hari

- rasa sakit ditenggorokan yang ringan, malaise, demam ringan dan tachicardia ringan. - membran putih kotor pd tonsil, dinding faring, laring

- bila kena laring → suara serak, batuk, stridor → tanda2 sumbatan jalan nafas

- membran keabu2an, melekat, kalau dilepas → berdarah

- servical lymphe node teraba → bull necked

- Diagnosis :

- membran → mikroskopis → organisme (+) - kultur

(90)

Therapy :

-

Paling baik diberi Profilaksis

-

Semua anak diberi immunisasi, booster sp usia

10 tahun.

-

Antitoxin 20.000 – 100.000 unit

-

Penicillin selama 10 hari

-

Kalau ada tanda tanda sumbatan jalan nafas →

tracheostomy

(91)

-Etiologi : - Sinusitis kronis —> united airway disease - Refluks cairan lambung

- bronkitis kronis —> batuk kronis

- asap, debu, pemakaian suara yg berlebihan (vocal abuse) - rokok

-Gejala : - suara serak menetap (disfonia),

- perubahan frequensi dasar suara

- laringitis akut yang serangannya berulang.

- rasa tersangkut ditenggorokan (globus faringeus) - sering bendeham —> dahak kental

- pd pemeriksaan : mukosa hiperemis dan menebal tdk rata.

-Therapy : -istirahat suara (vocal rest)

- pengobatan thdp yg menjadi penyebab - antibiotik, steroid short -term

(92)

Vocal hygiene

1. Internal hydration dengan sering minum air putih

2. Eksternal hydration —> air humidifier, jaga

kelembaban ruangan, kurangi penggunaan AC

3. HIndari vocal abuse —> berdeham, batuk,

berbisik, berteriak

4. HIndari Banyak berbicara di lingkungan

ramai/bising

5. Cegah reflux cairan lambung —> PPI, diet LPR

6. Stop merokok dan alkohol

(93)

Referensi

Dokumen terkait

ATA Carnet adalah dokumen yang digunakan diperingkat antarabangsa kepada Negara yang layak (ahli Konvensyen Istanbul) mengikut syarat-syarat dan prosidur yang ditentukan bagi memberi

Hal ini menghasilkan sebuah persyaratan kemetrologian pelanggan bahwa peralatan dapat digunakan untuk mengukur rentang ukur tekanan dari 150 kPa sampai 300 kPa, dengan

Jadi, berdasarkan eksplorasi peserta didik mengetahui bahwa untuk membentuk keseluruhan yang terdiri dari 5 bagian yang sama dapat digunakan trapesium yang terdiri dari 5 bagian

HARGA SATUAN STANDAR BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2014I. HARGA SATUAN STANDAR (HSS) BATAN TAHUN

© 2010 Program Studi Ilmu Lingkungan PPS Universitas Riau 34 Berdasarkan garis pantai, pesisir pantai wilayah pesisir Pulau Rupat Barat dan Selatan dan Kecamatan Sungai

Dengan menemukan prasyarat keberhasilan/keberlanjutan dari kelompok-kelompok ini, maka dapat diketahui substansi persoalan dari tantangan keberlanjutan pengelolaan sumber

Penulisan instrumen penilaian memuat kisi-kisi, master soal, dan kunci jawaban menggunakan format yang dikeluarkan oleh Pengurus KKG dan/atau Tim Editor.. Penulisan

Produktivitas, berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan penulis, dapat diketahui bahwa Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah telah melaksanakan