• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Perguruan Tinggi

Sesuai dengan Undang-undang No.22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi, Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No. 30 tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi [Barthos 92] yaitu Perguruan Tinggi adalah lembaga pendidikan tinggi yang dikelola oleh pemerintah dan masyarakat. Pendidikan tinggi yang dikelola oleh pemerintah disebut perguruan tinggi negri dan yang dikelola oleh masyarakat disebut perguruan tinggi swasta. Sebagai wadah formal pendidikan tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara, perguruan tinggi memiliki tugas pokok, yaitu:

a) Menyelenggarakan pengembangan pendidikan dan pengajaran.

b) Menyelenggarakan penelitian dalam rangka pengembangan kebudayaan khususnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.

c) Menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat.

d) Menyelenggarakan pembinaan sivitas akademika dan hubungan dengan lingkungannya.

(2)

Tugas pokok perguruan tinggi ini secara singkatnya adalah pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat yang dikenal dengan Tridarma Perguruan Tinggi. Menyelenggarakan pengembangan pendidikan dan pengajaran merupakan tugas perguruan tinggi yang pertama dan paling nampak dalam masyarakat. Tanpa mengecilkan peran penelitian dan pengabdian masyarakat, pendidikan lebih nampak dan terasa bagi masyarakat ketimbang dua darma lainnya. Pendidikan membangun manusia melalui pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, mental, prinsip-prinsip etika dan disiplin.

Pendidikan tinggi terdiri atas pendidikan akademik dan pendidikan profesional. Pendidikan akademik yang menintikberatkan pada peningkatan mutu dan memperluas wawasan ilmu pengetahuan diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi, Institut, dan Universitas. Pendidikan professional mengutamakan peningkatan kemampuan penerapan ilmu pengetahuan. Pendidikan seperti ini diselenggarakan oleh Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut, dan Universitas.

Darma kedua dari Tridarma Perguruan Tinggi adalah penelitian dalam rangka pengembagnan kebudayaan khususnya ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Penjabaran lebih lanjut dari darma ini adalah melakukan penelitian untuk menghasilkan pengetahuan empirik, teori konsep, metodologi, model atau informasi baru demi memperkaya ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. Penelitian dilakukan secara terus menerus agar ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dapat berkembang sesuai dengan tuntutan zaman.

Pengabdian kepada masyarakat merupakan darma ketiga. Pengabdian masyarakat umumnya adalah kegiatan perguruan tinggi dalam berinteraksi dengan

(3)

masyarakat. Kegiatan ini memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam upaya memberikan sumbangan baik pemikiran, ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan dalam masyarakat maupun bantuan pekerjaan secara fisik demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Bentuk dan wujud pengabdian masyarakat dapat berbeda-beda antara suatu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lainnya.

2.2 Akreditasi Perguruan Tinggi

Akreditasi dipahami sebagai penentuan standar mutu serta penilaiannya terhadap suatu lembaga pendidikan (tinggi) oleh pihak luar lembaga pendidikan itu sendiri. Mengingat adanya berbagai pengertian tentang hakikat perguruan tinggi [Barnett, 1992] maka criteria akreditasi pun dapat berbeda-beda pula. Barnett menunjukan, bahwa setidak-tidaknya ada 4 (empat) pengertian atau konsep tentang hakikat perguruan tinggi:

A. Perguruan Tinggi sebagai penghasil tenaga kerja yang bermutu (qualified manpower).

Dalam pengertian ini pendidikan tinggi merupakan suatu proses dan mahasiswa dianggap sebagai keluaran (output) yang mempunyai nilai atau harga (value) dalam pasaran kerja. Dalam kaitan ini, mutu pendidikan diidentifikasikan sebagai fungsi kemampuan mahasiswa untuk berhasil dalam dunia kerja, dan keberhasilan itu diukur dengan tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan tersebut

(4)

dalam masyarakat (employment rate) dan kadang-kadang diukur juga dengan tingkat penghasilan yang mereka peroleh dalam karir.

B. Perguruan tinggi sebagai lembaga pelatihan bagi karir peneliti.

Definisi ini sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh masyarakat akademik yang mereka sendiri aktif dalam kegiatan penelitian. Mutu perguruan tinggi tidak diukur dengan penampilan / kinerja mahasiswa, tetapi lebih berat ditentukan oleh penampilan / prestasi penelitian anggota staf. Ukuran masukan dan keluaran dihitung dengan jumlah staf yang mendapat hadiah / penghargaan dari hasil penelitiannya (baik tingkat nasional maupun ditingkat internasional, misalnya hadiah Nobel), atau jumlah dana yang diterima baik oleh staf dan / atau oleh lembaganya untuk kegiatan penelitian, ataupun jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan dalam majalah ilmiah yang diakui oleh pakar sejawat (peer group).

Dampak mutu terhadap mahasiswa dalam konsep ini adalah bahwa para mahasiswa diberi kesempatan untuk berada dalam lingkungan masyarakat ilmiah yang serius dan bermutu, sehingga mahasiswa yang berhasil akan “kejangkitan” budaya akademik yang bermutu tinggi sebagai peneliti ataupun sebagai pakar professional.

Dalam kaitan ini rasio mahasiswa – dosen yang rendah dianggap baik karena memungkinkan adanya interaksi antara mahasiswa dan dosen yang intensif, dan rasio yang rendah ini juga menjadi peringakt mutu lembaganya. Tuntutan ilmiah yang tinggi menuntut juga mutu yang tinggi bagi mahasiswa yang baru akan diterima, sehingga indeks prestasi yang tinggi bagi mahasiswa baru ikut pula diperhitungkan sebagai indicator mutu lembaganya. Kualifikasi

(5)

yang tinggi bagi mahasiswa yang diterima dianggap sebagai syarat untuk mampu terjun dalam budaya akademik (academic culture) yang berdisiplin ketat.

C. Perguruan tinggi sebagai organisasi pengelola pendidikan yang efisien.

Pada dasawarsa 1970’an dan 1980’an banyak negara (termasuk Indonesia) mengalami perluasan pendidikan-pendidikan tinggi dengan sangat pesat, sehingga rasio mahasiswa – doesn menjadi semakin besar. Dengan anggaran belanja yang sama, ini berarti bahwa biaya pendidikan untuk setiap mahasiswa yang semakin besar, lembaga pendidikan dituntut untuk bekerja lebih efisien.

Dalam pengertian ini perguruan tinggi dianggap baik bila dengan sumber daya dan dana yang tersedia, jumlah mahasiswa yang lewat (throughput) semakin besar. Ukuran efisiensi dalam hal ini tidak saja diukur dengan jumlah mahasiswa yang ditampung, tetapi juga dengan kecepatan waktu bagi mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan mereka, dan kemudian masuk dalam pasaran kerja. Indikator sukses lembaga pendidikan tinggi disini antara lain diukur dengan tingkat kegagalan mahasiswa yang rendah, dan persentase mahasiswa yang lulus dengan indeks prestasi tinggi, dan satuan biaya pendidikan bagi setiap mahasiswa yang rendah.

D. Perguruan Tinggi sebagai upaya memperluas dan mempertinggi pengkayaan kehidupan.

Disini perguruan tinggi diharapkan dapat memenuhi segala permintaan masyarakat yang berminat, apapun juga permintaan itu. Perguruan tinggi demikian diharapkan memiliki sistem penerimaan mahasiswa yang “fleksibel”, dan bahkan diharapkan menjadi sistem yang terbuka. Indikator sukses

(6)

kelembagaannya terletak pada cepatnya pertumbuhan jumlah mahasiswa dan variasi jenis program yang ditawarkan. Rasio mahasiswa – dosen yang besar dan satuan biaya pendidikan setiap mahasiswa yang rendah juga dipandang sebagai ukuran keberhasilan perguruan tinggi seperti ini.

Perguruan tinggi di Indonesia tidak mengikuti salah satu pola dari ke empat tipe diatas, tetapi merupakan campuran yang mengandung unsure-unsur dari ke empat-empatnya. Mengingat masih rendahnya tingkat partisipasi (participation rate) penduduk dalam kelompok umur 18 - 23 tahun dalam pendidikan tinggi di Indonesia (tahun 1994 diperkirakan 10,3 persen; dan ini merupakan angka yang terendah diantara negara-negara anggota ASEAN), serta tuntutan yang semakin mendesak bagi tersedianya sumber daya manusia yang bermutu bagi pembangunan nasional, serta kebijakan untuk pemerataan pendidikan sebagai salah satu arahan Undang-Undang Dasar 1945 (setiap warga negara berhak atas pengajaran), maka perguruan tinggi di Indonesia cenderung untuk lebih mendekati konsep yang pertama dan ke tiga, yaitu menghasilkan sumber daya yang bermutu secara efisiensi, disamping perannya sebagai lembaga pengembangan ilmu (konsep kedua).

Ada beberapa standar dan criteria akreditasi yang dijabarkan dalam lima tema pokok: Relevansi, yang dirinci dalam konsep Keterkaitan (link) dan Kesepadanan (match), mutu, dan efesiensi.

• Relevansi dijabarkan dari rumusan GBHN 1993 mengenai pendidikan tinggi: 1. Pendidikan tinggi terus dibina dan dikembangkan untuk menyiapkan peserta

didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan / atau profesional, serta kemampuan kepemimpinan yang tanggap terhadap

(7)

kebutuhan pembangunan serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berjiwa penuh pengabdian, dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara.

Sejalan dengan itu pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di lingkungan perguruan tinggi ditingkatkan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan masa sekarang dan masa depan. Kehidupan kampus dikembangkan sebagai lingkungan ilmiah yang dinamis, berwawasan budaya bangsa, bermoral Pancasila dan berkepribadian Indonesia.

2. Pendidikan tinggi diusahakan agar mampu menyelenggarakan pendidikan, melakukan penelitian dan pengkajian dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memberikan pengabdian kepada masyarakat yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan sesuai dengan kebutuha pembangunan. Kegiatan mahasiswa dan ilmuwan dikembangkan sesuai dengan disiplin ilmu dan profesinya, antara lain dengan jalan mendorong pengembangan wadah disiplin keilmuan, sehingga para mahasiswa dan ilmuwan dapat meningkatkan dan mengembangkan prestasinya untuk berperan serta dalam pembangunan.

Sejalan dengan itu terus dikembangkan iklim yang demokratis yang mendukung kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi perguruan tinggi sebagai lembaga keilmuan agar sivitas akademik secara bertanggung jawab dapat mengembangkan pemikiran yang konstruktif dan kreatif baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan maupun pembangunan nasional.

(8)

3. Perguruan swasta sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional terus ditingkatkan pembinaannya agar lebih berperan dan lebih bertanggung jawab dalam upaya peningkatan kualitas serta perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dengan tetap mengindahkan cirri khasnya, serta memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dengan demikian secara teknis pengertian relevansi dapat dirumuskan sebagai keadaan / kondisi dimana kurikulum dan jenis pendidikan memenuhi syarat bagi tuntutan keilmuan dan / atau profesi yang sesuai dengan tujuan pendidikannya, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap para lulusan, sehingga mampu memenuhi tuntutan pembangunan, khususnya dalam dunia dan industri.

• Keterkaitan

Dirumuskan sebagai keadaan / kondisi bahwa pengetahuan, keterampilan, serta sikap para lulusan pendidikan sesuai / cocok dengan tuntutan lapangan kerja / pasaran kerja yang berkembang secara akademis, sehingga perlu ada tinjauan ulang secara periodik.

• Mutu

Dirumuskan sebagai tingkat kedalaman atau sophistikasi program studi sesuai dengan tujuan jenis pendidikannya, yang meliputi kurikulum, silabus, satuan acara pengajaran (SAP), dosen, mahasiswa, dan prasarana penunjangnya.

• Kesepadanan (match)

Dirumuskan sebagai keadaan / kondisi dimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap para lulusan pendidikan tinggi mampu mengisi kekosongan serta memenuhi

(9)

lapangan kerja yang nyata pada berbagai tahap pembangunan nasional menuju ke struktur masyarakat dan ekonomi yang modern.

Lima criteria diatas dikelompokan menjadi dua bagian:

1. Relevansi, Keterkaitan, dan Mutu merupakan komponen akreditasi program studi;

2. Kesepadanan dan Efisiensi sebagai komponen akreditasi kelembagaan. Tinjauan tentang mutu dilihat dari kaitan antara;

Masukan (input) ! proses ! keluaran (output)

Masukan: Masukan ini dibedakan dantara masukan instrumental dan

kelembagaan (managerial), termasuk mahasiswa dan mutu mahasiswa yang diterima ; kedua macam masukan tersebut dirinci, ada yang masuk dalam komponen program studi (akademik) dan ada yang masuk dalam komponen kelembagaan.

Proses: Proses belajar mengajar dalam pendidikan termasuk intensitas pemanfaatan semua sarana pendukungnya : perpustakaan, laboratorium, pusat komputer, kebun percobaan, dan sebagainya. Dalam proses belajar mengajar ini diperhatikan pula hubungan (interrelasi) antara dosen dan mahasiswa dalam kehadiran mereka dalam kuliah, penyajian SAP, pelaksanaan praktika, dan sebagainya. Komponen mengenai penelitan dan pengabdian masyarakat diperhitungkan dalam standar dan criteria tentang mutu. Effisiensi dimasukan sebagai salah satu komponen akreditasi atas dasar pemikiran, bahwa pengelolaan pendidikan yang

(10)

efisien memberikan petunjuk mengenai mutu pendidikan yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan itu.

Dari kelima tema tersebut diatas, maka kemudian disederhanakan menjadi tiga komponen penting, yaitu mutu, relevansi, dan efisiensi.

2.3 BiNus

Maya

BiNus maya adalah suatu sistem pembelajaran di universitas Bina Nusantara yang mengkombinasikan pertemuan di kelas (sesi tatap muka) dengan pertemuan di dunia maya (sesi tidak tatap muka / online).

Fasilitas yang dapat di-akses adalah:

1. Rencana belajar siswa yang disusun berdasarkan tahapan pembelajaran 2. Referensi materi yang ada di internet maupun di buku

3. Aktifitas diskusi antara siswa dan dosen.

Pada umumnya terdapat 2 metode penyampaian pembelajaran yaitu “self paced learning” dan “synchronous learning”. Metode Self-paced learning ini, pengguna meng-akses dan memproses pembelajaran secara individual. Metode synchronous learning ini lebih dikenal dengan nama “distance learning”, dimana pengajar masih aktif dalam proses pembelajaran ini.

Penambahan banyak media untuk menyampaikan informasi akan meningkatkan kualitas dari komunikasi tersebut. Pendapat ini didasarkan pada 2 teori

(11)

yang mendukung penggunaan banyak media dalam berkomunikasi, yaitu cuesummation theory dan dual-code theory.

1. The cue-summation theory (Severin, 1967)

Teori ini menyatakan bahwa proses pembelajaran akan lebih efektif sebagaimana adanya pertambahan dari jumlah petunjuk (cues). Penelitian lebih lanjut mendukung keefektifan dari pembelajaran melalui berbagai kanal (Multi-Chanel Learning) untuk mengatasi informasi yang bersilangan melalui 2 kanal dan menguatkan satu sama lain sehingga akan meningkatkan ingatan dan pemahaman (Levied an Lenzt, 1982). Nugent (1982) menemukan peningkatan prestasi untuk kombinasi antara suara dan gamber (video).

2. The dual-code theory (Paivio, 1991)

Teori ini juga mendukung ke-efektifan dari pembelajaran melalui berbagai kanal. Pavio berpendapat bahwa informasi yang didukung oleh petunjuk (cue) suara dan gambar seharusnya akan meningkatkan ingatan dalam memori. Penelitian dari Mayer dan Anderson (1991)juga menggambarkan bahwa infromasi visual akan membantu untuk memproses dan mengingat informasi lisan (verbal) dan sebaliknya. Goia dan Bass (1986) mengamati bahwa pelajar-pelajar tumbuh secara intensif di lingkungan pertelevisian, perfilman dan video games, telah mengembangkan gaya pembelajaran dimana pemahaman terjadi melalui gambar-gambar.

Menurut De Porter dan Hernacki (Deporter, 2000, p112) ada tiga cara gaya belajar dari setiap orang yaitu:

(12)

1. Visual. Belajar dengan cara melihat sesuatu baik itu tulisan, gambar, diagram, gerakan dan peragaan dengan menggunakan indera mata.

2. Auditorial. Belajar dengan cara mendengar. Cara belajar ini dilakukan sejak seorang anak masih kecil ketika mendengar ibunya bercerita. Seseorang dapat memahami sesuatu masalah dengan hanya mendengar menggunakan indera telinga, seperti kaset audio, ceamah kuliah, diskusi dan instruksi verbal.

3. Kinestetik. Belajar melakui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung, seperti bergerak, menyentuh dan merasakan / mengalami sendiri.

Menurut Once Kurniawan (Kumpulan Makalah Seminar Nasional, 2000, p.71) ada 7 hal yang mempengaruhi kemauan belajar seseorang:

6 Budaya Belajar 4 Alat Belajar 7 Teknologi Informasi 5 Sistem Pendidikan Belajar 3 Sumber Belajar 1 Drive of learning 2 Necessity

Gambar 2.1 Model Sistem Pembelajaran Berbantu TI Dalam model ini, kemauan belajar seseorang dipengaruhi oleh:

(13)

1. Drive of learning yang menyangkut curiosity, rasa ingin tahu sehingga selalu melakukan eksplorasi terhadap ilmu pengetahuan.

2. Necessity atau kebutuhan dan keterpaksaan (sense of crisis). Seseorang belajar didorong oleh keadaan yang mengharuskannya untuk belajar.

3. Sumber Belajar. Sumber belajar mempunyai peran yang sangat penting dalam mempengaruhi seseorang dalam proses belajar. Pelaku belajar akan begitu menikmati proses belajar bila dapat memperoleh bahan ajar dengan mudah dan lengkap.

4. Alat Belajar. Pemahaman dan pengertian terhadap ilmu pengetahuan akan lebih cepat dan sempurna bila diperagakan atau dibantu oleh alat belajar. Memahami dan mengerti sesuatu akan sangat mudah bila dapat dilakukan dengan membaca, melihat, meraba, mendengar, berdiskusi bahkan melakukan sendiri dengan menggunakan alat belajar.

5. Sistem Pendidikan. Sistem pendidikan di sekolah berupa peraturan, metode dan disiplin sangat berpengaruh terhadap pelaku belajar. Peraturan, metode dan disiplin yang mengatur sistem pendidikan dalam suatu sekolah merupakan sesuat koridor bagi pelaku belajar untuk melakukan proses belajar. Koridor ini turut mengatur kebiasaan belajar dari pelaku yang akan membentuk budaya belajar. 6. Budaya Belajar. Budaya belajar dapat dilihat dari dua sisi yaitu dipengaruhi dan

mempengaruhi proses belajar. Ketiga aspek (sumber belajar, alat belajar, dan sistem pendidikan) dapat mempengaruhi seseorang dalam belajar. Keterkaitan antara tiga aspek ini akan menciptakan suatu budaya belajar yang akan mempengaruhi proses belajar.

(14)

7. Teknologi Informasi. TI dapat menjadi dan menyediakan sumber belajar. TI dapat memperagakan dan menjadi alat belajar serta TI dapat mengatur dan memproses sistem pendidikan. Terlihat jelas bahwa TI sangat berpengaruh terhadap proses belajar yang mana dapat menciptakan budaya belajar. Penggunaan TI dalam belajar cenderung mandiri tanpa dibantu oleh pihak lain sehingga akan terbentuk suatu kebiasaan belajar secara mandiri.

2.4 Fungsi / Kegunaan Internet sebagai Media Pendidikan

Pemanfaatan teknologi internet untuk pendidikan dipelopori oleh sekolah militer di Amerika Serikat (1983). Sejak itu trend teknologi internet untuk pendidikan berkembang pesat dan lebih dari 100 perguruan tinggi di Amerika Serikat telah memanfaatkannya. Begitu pula teknologi ini berkembang pesat di negara-negara lain. Hasil survai yang dilakukan James W. Michaels dan Dirk Smilie (dalam Andito M. Kodijat, 2002) saat ini provider di dunia ada sekitar 25% pendidikan tinggi yang menawarkan programnya melalui internet. Visi dari sekolah (universitas) ini adalah untuk mencapai dan memberikan layanan pada pasar tanpa dibatasi atau perlu memperluas fasilitas fisiknya.

Internet memiliki banyak fasilitas yang telah digunakan dalam berbagai bidang, seperti militer, media massa, bisnis, dan juga untuk pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List

(15)

(Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW). Di antara banyak fasilitas tersebut menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu:

1. Electronic mail (e-mail)

Mulai diperkenalkan tahun 1971 (http://www.livinginternet.com). Fasilitas ini sering disebut sebagai surat elektronik, merupakan fasilitas yang paling sederhana dan mudah digunakan. Dalam survei yang dilakukan sebuah lembaga riset Amerika Serikat (Graphics, Visualization and Usability Center) diketahui bahwa 84% responden memilih e-mail sebagai aplikasi terpenting internet, lebih penting ketimbang web (http://www.gvu.gatech..edu/user_surveis/).

2. Mailing List

Mulai diperkenalkan setelah e-mail yaitu sejak tahun 1972 (http://www.livinginternet.com). Ini merupakan salah satu fasilitas yang dapat digunakan untuk membuat kelompok diskusi atau penyebaran informasi. Cara kerja mailing list adalah pemilik e-mail dapat bergabung dalam sebuah kelompok diskusi, atau bertukar informasi yang tidak dapat diintervensi oleh orang di luar kelompoknya. Komunikasi melalui fasilitas ini sama seperti e-mail bersifat tidak langsung (asynchronous).

(16)

Adalah fasilitas internet yang dapat dilakukan untuk komunikasi antar dua orang atau lebih secara serentak (waktu bersamaan) atau bersifat langsung (synchronous). Bentuk pertemuan ini sering disebut sebagai konferensi, dengan fasilitas video conferencing, atau text saja, atau bisa audio dengan menggunakan fasilitas chat (IRC).

4. File Transfer Protocol (FTC)

Melalui fasilitas ini orang dapat menstransfer data / file dari satu komputer ke internet (up-load) sehingga bisa di-akses oleh pengguna internet di seluruh pelosok dunia. Di samping itu fasilitas ini dapat mengambil arsip / file dari situs internet ke dalam komputer pengguna (down-load).

5. World Wide Web

Mulai diperkenalkan tahun 1990-an (http://www.livinginternet.com). Fasilitas ini merupakan kumpulan dokumentasi terbesar yang tersimpan dalam berbagai server yang terhubung menjadi suatu jaringan (internet). Dokumen ini dikembangkan dalam format hypertext 2). dengan menggunakan Hypertext Markup Language (HTML). Melalui format ini dimungkinkan terjadinya link dari satu dokumen ke dokumen / bagian lain. Selain itu fasilitas ini bersifat multimedia, yang terdiri dari kombinasi unsur teks, foto, grafika, audio, animasi, dan juga video.

Dengan fasilitas yang dimilikinya, internet menurut Onno W. Purbo (1998) paling tidak ada tiga hal dampak positif penggunaan internet dalam pendidikan yaitu:

(17)

a. Peserta didik dapat dengan mudah mengambil mata kuliah dimanapun di seluruh dunia tanpa batas institusi atau batas negara.

b. Peserta didik dapat dengan mudah berguru pada para ahli di bidang yang diminatinya.

c. Kuliah/belajar dapat dengan mudah diambil di berbagai penjuru dunia tanpa bergantung pada universitas / sekolah tempat si mahasiswa belajar. Di samping itu kini hadir perpustakan internet yang lebih dinamis dan bisa digunakan di seluruh jagat raya.

Internet sebagai media pendidikan memiliki banyak keunggulan,. Namun tentu saja memiliki kelemahan; seperti yang disampaikan oleh Budi Rahardjo (2002) adalah infrastruktur internet masih terbatas dan mahal, keterbatasan dana, dan budaya baca kita masih lemah. Di sinilah tantangan bagaimana mengembangkan model pembelajaran melalui internet. Karena penggunaan e-learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet. Menurut Williams (1999). Internet adalah ‘a large collection of computers in networks that are tied together so that many users can share their vast resources’.

Jadi internet pada dasarnya adalah kumpulan informasi yang tersedia di komputer yang bisa di-akses karena adanya jaringan yang tersedia di komputer tersebut. Oleh karena itu bisa dimengerti kalau e-learning bisa dilaksanakan karena jasa internet ini. e-learning sering disebut pula dengan nama on-line course karena aplikasinya memanfaatkan jasa internet.

(18)

2.5 E-learning

2.5.1. Pengertian e-learning

E-learning is a generic term for all technologically supported learning using an array of teaching and learning tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided instruction also commonly referred to as online courses (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).

Dengan kata lain, e-learning adalah pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, vidiotape, transmisi satellite atau komputer.

" Karakteristik e-learning

1 Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.

2 Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks). 3 Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di

komputer sehingga dapat di-akses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.

(19)

4 Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

Joliffe, Ritter, Stevens (2001, p4) menjelaskan bahwa dengan adanya world wide web (www) memberikan cara penyajian bahan pengajaran kepada para pengguna yang beragam, dan mempunyai potensi yang sangat besar. Dengan memanfaatkan www materi pengajaran dapat disimpan dalam server, dan dapat di-akses oleh pengguna dengan menggunakan web browser. Penyajian informasi bahan pengajaran yang memanfaatkan internet disebut dengan E-learning dimana pelajar menjadi pusat pembelajaran. “E-learning adalah jaringan yang mempunyai kemampuan melakukan perubahan dengan cepat, penyimpanan dan pengambilan kembali, pendistribusian dan membagi informasi atau instruksi” (Rosenberg, 2000, p28).

Jolliffe, Ritter, Stevens (2001, p4) menjelaskan bahwa pembelajaran berbasiskan web mengacu kepada pembelajaran online karena web itu sendiri adalah lingkungan yang kaya dalam membangun dan menyampaikan perangkat pengajaran secara online. Beberapa fitur seperti e-mail, discussion forums, video conferencing dan live lectures dapat dilakukan melalui web. Pada web dapat pula dilakukan fungsi lainnya yang termasuk dalam proses belajar mengajar, seperti komunikasi, penilaian dan pengelolaan sebuah kelas.

Jolliffe, Ritter, Stevens (2001, pp 12-13) menjabarkan beberapa keunggulan internet dalam menyampaikan materi pembelajaran, seperti:

(20)

1. Increased client base

Dengan menempatkan materi pembelajaran pada web berpotensi untuk meningkatkan jumlah pengguna.

2. Increased learner accessability

Bahan ajar, tugas, tanggapan terhadap pertanyaan pada sebuah diskusi yang diberikan pengajar atau fasilitator dapat disimpan dalam sebuah server, sehingga para pelajar dapat meng-akses secara langsung ke server untuk mendapatkan bahan ajar terbaru, mengumpulkan tugas, bertanya atau berdiskusi. Dengan demikian peng-akses-an terhadap situs lebih sering dilakukan oleh para pelajar.

3. Ease of updating the learning materials

Dengan pemanfaatan sebuah perangkat lunak yang mendukung E-learning memungkinkan para pengajar memberikan bahan ajar, tugas dan diskusi dengan mudah dan cepat.

4. Platform independence

Seluruh materi pembelajaran yang disimpan dalam server dapat di-akses oleh pengajar maupun pelajar dengan menggunakan web browser yang berbeda-beda (Internet Explorer, Netscape Navigator, Opera) dan menggunakan sistem operasi yang berbeda pula (Microsoft, Linux, Macintosh).

(21)

5. Increased learner effectiveness

Perubahan paradigma dari Teacher Centered Teaching menjadi Student Centered Learning. Pembelajaran tradisional menempatkan seorang pengajar menjadi sumber informasi yang memberikan informasi kepada seluruh pelajar yang datang untuk mendengarkan. Pada pembelajaran baru (E-learning), seorang pelajar akan menjadi pusat pembelajaran, dimana pelajar lebih banyak aktif dalam mencari informasi yang berkaitan dengan bahan ajar yang diambilnya.

6. Administrative support

Web juga dapat digunakan untuk mendukung electronic bulletin boards dan fasilitas diskusi lainnya yang memungkinkan pengguna mengikuti perubahan materi dengan cepat. Selain itu web dapat juga digunakan untuk mendistribusikan hasil ujian, nilai akhir, waktu pelaksanaan serta informasi lainnya.

7. Resource and reference

Semua materi yang ada dapat ditempatkan secara online dan dapat di-akses. Pencarian informasi dapat dilakukan dengan menggunakan program index dan utility, memungkinkan semua pengguna mempunyai hak akses yang sama.

8. Increased learner expectations

Pemanfaatan TI dalam setiap kegiatan sehari-hari memberikan nilai tambah bagi orang yang menggunakan. Demikian pula yang terjadi pada dunia

(22)

pendidikan, dimana pemanfaatan TI dalam proses belajar mengajar akan dapat memberikan nilai tambah bagi pelajar maupun pengajar.

9. Changing nature of knowledge

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat sekali, sehingga apa yang diajarkan saat ini dapat tidak terpakai lima tahun kemudian. Ini berarti dibutuhkannya pembelajaran yang berkelanjutan, dengan adanya E-learning hal tersebut mudah untuk dilakukan.

10. Increased competition

Dengan memanfaatkan teknologi internet untuk melakukan pembelajaran, lokasi dan institusi pendidikan tidak lagi menjadi hal yang penting.

2.5.2 Integrasi Media dan Teknologi yang Mendukung E-learning

Teknologi yang mendukung e-learning secara berkesinambungan meningkat baik secara jumlah, kompleksitas dan kekuatannya. Oleh karena itu pemilihan teknologi yang tepat untuk mendukung sistem e-learning sangatlah penting dilakukan. Karena dengan pemilihan teknologi yang tepat, diharapkan proses learning dapat berlangsung secara efektif dan menarik. Oleh karena itu pada sub bab ini akan dibahas satu per satu teknologi yang mendukung e-learning.

(23)

Audio adalah salah satu elemen penting dalam applikasi e-learning. Integrasi audio pada applikasi e-learning dapat memberikan informasi yang tidak mungkin didapat oleh siswa melalui metode komunikasi yang lain. Penelitian menunjukan bahwa audio adalah salah satu bentuk media komunikasi yang paling efektif untuk membawakan berbagai macam edukasi (Chute 1998, hal 26). Audio yang dapat dimainkan didalam komputer terduru dari beberapa format yang berbeda, yaitu:

1. ReadBook Audio

Merupakan spesifikasi standar suara dalam compact disc. 2. Wave

Merupakan format file suara yang disediakan oleh sistem operasi windows dan suara disimpan dalam bentuk digital. Format file ini mampu menyimpan suara dengan baik, namun kelemahannya adalah format file wave memiliki ukuran yang sangat besar. Ukuran file wave sangat tergantung kepada kwantisasi (quantization) dan pencuplikan (sampling). Semakin tinggi kualitas suara yang dihasilkan oleh file ini, maka ukuran file wave ini akan semakin besar. Contohnya suara yang disimpan dengan format kuantisasi 16 bit dan frekuensi 44 KHz tentu memiliki kapasitas penyimpanan yang lebih besar dibandingkan dengan kuantisasi 8 bit dari frekuensi 11 KHz.

3. MIDI

Merupakan spesifikasi yang hanya ditulis dalam bentuk format alat-alat musik secara digital. Kelebihan file ini adalah ukurannya yang kecil. Namun kelemahannya adalah tidak semua suara bisa disimpan dalam format ini. Hanya

(24)

suara dari alat-alat musik tertentu saja yang dapat dimainkan (tergantung perangkat keras yang disediakan).

4. MP3

Merupakan format file suara yang telah ter-kompres. Format file MP3 diciptakan untuk mengatasi format file suara wave. Format file MP3 mampu menyimpan audio dalam kapasitas yang jauh lebih kecil dibandingkan file wave, tanpa mengurangi kualitas suara. Oleh sebab itu file ini menjadi salah satu standar file audio yang paling banyak digunakan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam masalah audio yang berkaitan dengan keberhasilan belajar lewat e-learning adalah kualitas suara. Kualitas suara yang tidak jelas dan buruk akan memberikan dampak negatif terhadap proses belajar melalui e-learning.

" Teknologi Video

Video adalah salah satu media komunikasi yang baik dan efektif karena video dapat memberikan visualisasi kepada audience-nya selain suara yang diperdengarkan. Oleh sebab itu pada era sekarang ini, e-learning telah menggunakan komunikasi video sebagai rangkaian kesatuan sumber daya teknologi kedalam learning solution. Video yang dapat dimainkan didalam komputer disimpan dalam banyak format, namun dari semua format video yang ada, hanya ada dua yang umum paling banyak dipakai yaitu:

1. AVI

AVI singkatan dari Audio Video Interleave. Pada awalnya file AVI diciptakan oleh Microsoft untuk menyimpan video dalam bentuk digital yang

(25)

dapat dimainkan oleh komputer. File AVI mampu menyimpan video yang berkualitas tinggi. Namun satu-satunya kelemahan dari format file AVI ini adalah ukuran file nya yang besar.

2. MPEG

MPEG adalah sebuah nama grup kerja yang berdiri dibawah naungan International Standart Organisation / International Electrotechnical Commision (ISO/IEC), yang bertujuan untuk menciptakan standart untuk digital video dan audiophonic compression. Format file MPEG menjawab kelemahan format file AVI yang selama ini ukurannya relatif jauh lebih besar tanpa mengurangi kualitasnya.

" Animasi

Animasi merupakan gambar grafik yang bergerak. Animasi berfungsi untuk menerangkan fungsi suatu proses yang sulit diterangkan dengan teks, suara, maupun gambar.

" Gambar

Gambar adalah suatu elemen penting yang patut ada pada aplikasi e-learning. Mengapa? Karena pada prinsipnya manusia berorientasi visual. Terkadang hal yang sulit diterangkan dengan kata-kata dapat dengan mudah dipahami oleh manusia dengan gambar.

" Computer Base Training (CBT)

Computer base training adalah modus penghantar training, dimana komputer digunakan sebagai alat untuk menghantarkan dan / atau mengelola

(26)

learning experience (Chute 1998, hal 37). Menurut Chute (1998) ada dua buah bentuk CBT yaitu:

1. Computer Assist Instruction (CAI)

CAI berfokus kepada penghantar instruksi dengan menggunakan komputer sebagai mekanisme penghantarnya. CAI sangat cocok untuk diterapkan pada proses pembelajaran yang memerlukan praktek, tutorial, dan simulasi. Siswa membaca informasi yang dipresentasikan pada layar dan berinteraksi dengan menggunakan mouse dan keyboard.

2. Computer Manage Instruction (CMI)

Dalam CMI komputer mengotomasi rutin data-tracking dan tugas information processing yang dilakukan instruktur yaitu: registrasi, testing, dan mentoring siswa. CMI juga digunakan untuk mendiagnosa keinginan belajar untuk setiap siswa dan menentukan rangkaian instruksi yang optimal.

Menurut Kearsley (1983, hal 2), ada beberapa tujuan yang dihasilkan dengan penggunaan CBT, diantaranya:

1. Kontrol Individu

Kontrol individu membuat setiap siswa dapat belajar sesuai dengan tingkat kecepatan dan cara belajar yang paling disukai nya dan hal ini adalah tujuan utama dari CBT. Dengan membiarkan siswa untuk belajar pada tingkat kecepatan sendiri akan lebih menghemat waktu dari pada jika menggunakan sistem pengajaran konvensional diruang kelas. Karena pengajar biasanya akan menyesuaikan dengan siswa yang paling lambat dalam menangkap materi pelajaran. Selain itu CBT juga dapat membuat

(27)

siswa dapat mengatur sendiri urutan-urutan topik yang ingin dipelajarinya dan siswa juga dapat berlatih pada pokok bahasan yang sulit sesering yang diinginkannya serta dapat melewati pokok bahasan yang telah dipahaminya.

2. Waktu belajar yang tidak terbatas

Dengan CBT siswa dapat belajar tanpa dibatasi batas waktu. Hal ini akan menguntungkan jika misalnya diluar jam-jam belajar siswa mungkin merasa perlu untuk menambah pengetahuannya atau mengulang pengetahuan yang baru dipelajarinya. CBT juga memberikan keuntungan lain yaitu selalu tersedia kapanpun dibutuhkan.

3. Peningkatan kontrol

CBT dapat membantu dalam peningkatan pengawasan dengan meningkatkan penggunaan atau penyelesaian materi pelajaran, meningkatkan keseragaman pelajaran dan mengawasi tingkat kemajuan siswa. Penggunaan komputer untuk memberikan test dan menilai hasil tes yang menunjukan tingkat kemajuan siswa dapat menghasilkan suatu tingkatan pengawasan pengajaran yang diperlukan. CBT juga memungkinkan penyampaian materi yang sama walaupun penyampaiannya pada tempat dan waktu yang berbeda.

4. Pengurangan kebutuhan sumber daya

CBT dapat membantu mengurangi kebutuhan sumber daya, misalnya dengan menggunakan CBT maka diharapkan kebutuhan akan fasilitas pusat pelatihan dapat dikurangi.

(28)

5. Pengurangan waktu pelatihan

Dengan menggunakan CBT maka waktu pelatihan dapat dikurangi sebanyak 30 persen dari pelatihan konvensional. Hal ini terutama berkaitan dengan efek individualisme yang dihasilkan oleh CBT.

6. Peningkatan hasil kerja

CBT memiliki kemampuan untuk menyajikan cara pengajaran individual secara interaktif sehingga berpotensi untuk meningkatkan kualitas pelatihan.

7. Peningkatan kepuasan dalam belajar

Dengan sifat interaktifnya, CBT akan lebih memotivasi siswa karena adanya umpan balik respon dari siswa dan kemampuan untuk menunjukan tingkat kemajuan siswa sehingga siswa merasa puas dengan apa yang telah dicapainya.

" Konferensi Komputer melalui Network

Computer Conferencing adalah istilah umum yang meliputi beberapa aktivitas yang berbeda namun saling berhubungan yang dimana didalamnya komputer mendukung dan menfasilitasi komunikasi antara orang-orang yang terkait didalamnya (Chute 1998, hal 39). Menurut Chute (1998) ada 3 buah bentuk computer base conferencing yang umum yaitu:

1. E-mail

Didalam edukasi dan pelatihan, e-mail memungkinkan siswa untuk meninggalkan pertanyaan kepada instruktur yang dimana akan dijawab pada waktu mendatang. Achive e-mail tentang Tanya jawab antara instruktur dan

(29)

siswa dapat dilihat oleh siswa lain dan sehingga pertanyaan yang sama dari siswa lain tidak lagi perlu ditanyakan kepada instruktur.

2. Group Conferencing System

Ada dua buah jenis group conferencing system yaitu: $ Buletin Board System (BBS)

BBS adalah sebuah tempat untuk menempatkan message of interest dari suatu komunitas yang menjadi sponsor dan pemelihara sistem tersebut. User dapat mengirimkan pesan kedalam area yang sesuai dengannya dalam BBS dan kemudian user lain dapat meresponnya.

$ Conference Management System (CMS)

CMS menyediakan pendekatan struktur untuk konferensi group. CMS menggunakan fitur database management yang memungkinkan pembuatan forum diskusi asynchronous melalui “threaded discussion”.

3. Interactive Messaging System

Walaupun kebanyakan dari konferensi komputer adalah asynchronous atau penundaan waktu, beberapa sistem konferensi mendukung synchronous atau komunikasi real time. Dalam interactive messaging, siswa mengetik kan pesan pada komputernya dan pesan tampil dilayar secara simultan. Contoh dari messaging sistem adalah IRC sistem.

(30)

2.6 Perkembangan e-learning di Indonesia dan dunia

Pemanfatan teknologi internet untuk pendidikan di Indonesia secara resmi dimulai sejak dibentuknya telematika tahun 1996. Masih ditahun yang sama dibentuk Asian Internet Interconnections Initiatives (www.ai3.itb.ac.id/indonesia). Jaringan yang dikoordinir oleh ITB ini bertujuan untuk pengenalan dan pengembangan teknologi internet untuk pendidikan dan riset, pengembangan backbone internet pendidikan dan riset di kawasan Asia Pasific bersama-sama perguruan tinggi di kawasan ASEAN dan Jepang, serta pengembangan informasi internet yang meliputi aspek ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, sosial, dan ekonomi. Hingga kini sudah ada 21 lembaga pendidikan tinggi (negeri dan swasta), lembaga riset nasional, serta intnasi terkait yang telah bergabung.

Seiring perkembangan zaman, pemanfaatan internet untuk pendidikan di Indonesia khususnya di perguruan tinggi terus berkembang. Misalnya tahun 2001 didirikan universitas maya Indonesia Bangkit University Teledukasi (IBUTeledukasi) bekerjasama dengan Universitas Tun Abdul Razak Malaysia, beberapa PT juga menawarkan program on-line course misalnya (www.petra.ac.id). Universitas Terbuka mengembangkan on-line tutorial (www.ut.ac.id/indonesia/tutorial.htm), Indonesia Digital Library Network mengembangkan perpustakaan elektronik (www.idln.itb.ac.id), dan lain-lain.

Namun harus diakui bahwa pemanfaatan e-learning di Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia,

(31)

Thailand, Philippines dan Singapore atau bila dibandingkan dengan di negara-negara maju. Hal ini bisa dilihat dari data pengguna internet di mana pengguna internet terbesar adalah berada di negara-negara maju. Di Indonesia, pengguna internet diperkirakan sebesar 7 juta atau sekitar 3 % dari jumlah penduduk. Sementara itu pengguna internet di Eropa sebera 113 juta atau 14 % dari total penduduk. Pengguna internet dunia diperkirakan sudah mencapai angka 407 juta atau sebesar 7 % dari total jumlah penduduk (Ishaq, 2002).

Karena penggunaan e-learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet, maka perkembangan internet akan sangat mempengaruhi e-learning. Perkembangan pengguna internet di dunia ini berkembang sangat cepat karena beberapa hal, antara lain:

(a). Menggunakan internet adalah suatu kebutuhan untuk mendukung pekerjaan atau tugas sehari-hari,

(b). Tersedianya fasilitas jaringan (Internet infrastructure) and koneksi internet (Internet Connections),

(c). Semakin tersedianya piranti lunak pembelajaran (management course tools),

(d). Keterampilan jumlah orang yang mengoperasikan atau menggunakan internet, dan

(32)

(e). Kebijakan yang mendukung pelaksanaan program yang menggunakan internet tersebut (Soekartawi, 2002a, b).

Beberapa Perguruan Tinggi yang menggunakan e-learning di Asia Pasifik:

1. Filipina:

University of the Philippines Open

University De La Sale

University Asian Institute Management

2. Indonesia:

Universitas Terbuka Universitas Petra

Universitas Bina Nusantara

3. Malaysia:

Universitas Tun Abdul Rajak

Universitas Terbuka Malaysia Universiti Sains Malaysia

(33)

Kassesart University

STOU

Asian Institute of Technology

5. Australia:

Curtin University of Technology

Deakin University

University of New England

6. New University of Wellington:

Zealand Massaey University University of the South Pacific

7. China Hongkong Open University:

Shanghai TV University Tsinghua University

Catatan: Tidak semua Perguruan Tinggi menggunakan e-learning 100%. Yang sering dijumpai adalah sebagian e-learning dan sebagian masih dilaksanakan dengan tatap muka.

(34)

2.7 Konfigurasi

Pendukung

E-Learning di Universitas Bina

Nusantara

Gambar 2.2 Konfigurasi BiNus Maya

Sumber: Data Operasional / Database Universitas Bina Nusantara

Proses pembelajaran e-learning didukung oleh fasilitas dari Universitas Bina Nusantara, salah satunya yaitu dengan tersedianya 3 server yang berguna untuk menyimpan data mahasiswa dari berbagai jurusan; server pertama untuk data mahasiswa jurusan Sistem Informasi (SI) dan Komputerisasi Akuntansi (KA), server

2mbps

International

IIX

Indosat

Server SI dan KA Server Jurusan Lainnya Server TI dan SK

BiNus

ISP CBN Telkom 4mbps 2mbps 10/100mbps Warnet-warnet BiNus Access

(35)

kedua untuk data mahasiswa jurusan Teknik Informatika (TI) dan Sistem Komputer (SK), server ketiga untuk data mahasiswa jurusan lain seperti manajemen, akuntansi, sastra, dan lainnya.

Ketiga server ini dapat di-akses secara online oleh mahasiswa yang datanya terdapat dalam server tersebut untuk mengikuti perkuliahan dan mendapatkan course outline melalui internet. Dimana kecepatan akses yang diperoleh mahasiswa tersebut tergantung dari tempat akses-nya, kecepatan dari Indosat ke BiNus adalah 4mbps. Dan apabila mahasiswa pengguna BiNus Maya tersebut meng-akses melalui warnet, rumah, atau kantor yang menggunakan BiNus access, maka kecepatan akses-nya adalah 10/100mbps. Sedangkan apabila mahasiswa pengguna BiNus Maya meng-akses melalui provider lain (ISP, CBN, Telkom) ataupun dari luar negri, maka kecepatan akses-nya adalah 2mbps.

Gambar

Gambar 2.1 Model Sistem Pembelajaran Berbantu TI  Dalam model ini, kemauan belajar seseorang dipengaruhi oleh:
Gambar 2.2 Konfigurasi BiNus Maya

Referensi

Dokumen terkait

Lembar jawaban SR01 pada soal nomor 3 diketahui bahwa subjek kurang memahami soal dengan baik, pemahaman soal dan pemikiran suatu rencana siswa belum memahaminya.

Kegiatan membangun desa merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa dengan cara memberikan pengalaman belajar kepada

1 Mampu melakukan persiapan preoperatif termasuk kunjugan preanestesia, memilih pasien yang sesuai untuk anestesia blok pleksus brakialis dan pleksus lumbosakral , dan

Simulasi kasus bertujuan untuk melakukan pengujian terhadap snort dalam mendeteksi penyusup atau serangan yang melakukan tindak kejahatan pada web server target

Penelitian dengan judul “Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian Obat Generik di Apotek SAIYO FARMA Jombang” ini dilakukan untuk mengetahui

Media seni batik diharapkan dapat menjadi inspirasi oleh guru-guru di Indonesia sebagai inovasi pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik.. Kata Kunci

Penelitian yang disebut dengan e-TA (elektronik Tugas Akhir) merupakan salah satu mata kuliah pada Program PJJ S-1 PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Malang.. Penyusunan e-TA ini

Dengan terbatasnya alat produksi proses pembuatan Bakso Aci juga berdampak pada tidak terpenuhinya target produksi Bakso Aci (Nursalim et al., 2019). Dari uraian diatas maka