BAB I PENDAHULUAN. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan

Teks penuh

(1)

14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Lebih lanjut, mengenai fungsi pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Dharma, 2008).

Agar tujuan-tujuan yang disebut di atas tercapai, perlu dilakukan peningkatan kualitas pendidikan di indonesia yaitu dengan cara membuka sekolah-sekolah unggulan mulai dari sekolah dasar SD sampai SMA seperti sekolah Taruna Nusantara, SMA Plus Matauli dan lain-lain (Dharma, 2008).

Departeman pendidikan dan kebudayaan mendefenisikan sekolah unggul sebagai sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran

(2)

15

(output) pendidikannya, sehingga untuk mencapai keunggulan (high achievement) tersebut maka masukan (input atau intake) misalnya guru dan tenaga pendidikan, layanan pendidikan, sarana penunjang serta program pendidikan diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut. Di samping itu sekolah juga memberikan perlakuan kepada siswa berkemampuan biasa agar dapat mencapai prestasi maksimal. Dimensi keunggulan sekolah unggul mengandung dua unsur utama yaitu : (1) keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang lebih fungsional dalam kehidupan peserta didik, (2) penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berkaitan dengan daya nalar, kemampuan meningkatkan kualitas kepribadiannya, kemampuan mengembangkan potensi dan prestasi diri (Rianti, 2000).

Di negara maju seperti Amerika Serikat sekolah unggul didefenisikan sebagai sekolah yang mampu memproses siswa bermutu rendah waktu masuk sekolah tersebut (input rendah), menjadi lulusan yang bermutu tinggi (Moedjiarto, 2001). Tim peneliti dari Seattle Public School, Washington mendefinisikan sekolah unggul sebagai sekolah seluruh siswanya memenuhi persyaratan berikut : (1) Menguasai (mastery) keterampilan-keterampilan dasar, (2) berusaha meraih prestasi akademik semaksimal mungkin (academic excellence) pada semua mata pelajaran, (3) menunjukan kberhasilan melalui evaluasi yang sistematis yang diartikan sebagai mengetahui apakah tujuan instruksional telah tercapai, dengan eveluasi belajar terhadap nasional untuk mengukurperolehan belajar siswa dibandingkan rerata perolehan siswa tingkat nasional (dalam Moedjiarto, 2001).

(3)

16

Berdasarkan amanah UUD 1945 bahwa salah satu tujuan pemerintah adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan sesuai dengan minat dan bakat yang dimilkinya. Fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan serta membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan khusus. Pendidikan yang bermutu antara lain dikembangkan melalui pengembangan mutu dan keunggulan sekolah menengah yang diarahkan untuk mendorong sekolah potensial menuju kategori di atas standar nasional dan internasional sehingga menjadi sekolah yang bertaraf nasional dan internasional (Dokumentasi dari Sekolah).

Dalam rangka mengembangkan amanat undang-undang serta meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah kabupaten Aceh Timur pada tahun 2004 mendirikan SMA Negeri Unggul sebagai salah Satu SMA unggulan di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam untuk menampung dan mendidik generasi penerus bangsa yang memiliki kemampuan dan bakat istimewa (Dokumentasi dari Sekolah).

Sekolah unggulan memberikan program khusus untuk mengelompokkan siswa berdasar prestasi yang tinggi, dimana siswa dituntut agar dapat mencapai prestasi lebih baik dari siswa kelas biasa. Hal ini membuat siswa berusaha mencapai prestasi tinggi di sekolah tetapi di sisi lain siswa merasa harus memenuhinya sehingga tidak jarang siswa mengalami kecemasan dalam hal akademik (Fiyanti, 2003).

(4)

17

Hal ini didukung oleh hasil komunikasi personal dengan siswa sebagaimana diungkapkan oleh Ayu (bukan nama sebenarnya) salah seorang siswa di sekolah unggul yang berada di Langsa , mengatakan bahwa :

”Saya merasa cemas masuk disekolah unggul, karena setiap semester bakalan ada yang di drop out atau remedial. Saya takut tidak bisa memenuhi standar yang telah ditetapkan disekolah ini”. (Komunikasi Personal, 16 April 2010).

Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa siswa atau siswi mengalami kecemasan terutama dalam hal akademik dan ini disebabkan oleh adanya sistem atau standar yang telah ditetapkan oleh sekolah negeri unggul yang berada diaceh timur itu sendiri.

Kecemasan merupakan fenomena umum dalam kehidupan sehari-hari. Ini memainkan peran penting dalam kehidupan karena kita semua adalah korban kecemasan dengan cara yang berbeda (Cornell University 2007). Kecemasan adalah perasaan gelisah atau tekanan dalam reaksi terhadap situasi yang dianggap negatif. Menurut Cornell University (2007), kecemasan sama juga seperti dengan pesan karena tubuh akan memberikan tanda ketika ada sesuatu yang salah. Nevid (2003) menjelaskan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Banyak hal yang dicemaskan, misalnya : kesehatan, kondisi lingkungan sekolah dan ujian sekolah.

Kecemasan terhadap lingkungan sekolah dan ujian sekolah sering dialami oleh siswa yang ada di sekolah unggul dan kecemasan yang di rasakan oleh siswa sering disebut dengan kecemasan akademik (Fiyanti, 2003). Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Montana State University (2007) bahwa semua tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang akademisi akan menimbulkan

(5)

18

kecemasan akademis. Hal ini dapat dihubungkan dengan hampir semua tugas yang berhubungan dengan akademik yaitu mulai dari belajar di kelas dapat menimbulkan kecemasan akademik yang tinggi. Kecemasan akademik juga muncul akibat dari teguran dari guru, orang tua dan rekan-rekan tentang kegagalan melaksanakan tanggung jawab seorang akademis dengan benar.

Menurut Otten (1991) kecemasan akademik adalah masalah yang penting yang akan mempengaruhi sejumlah besar siswa. Ketika kecemasan yang dirasakan oleh siswa berlebihan maka akan berpengaruh secara negatif karena siswa mengalami tekanan psikologis sehingga siswa tersebut mendapatkan hasil belajar yang kurang baik dan lebih banyak menghindari tugas, hal ini disebabkan oleh penurunan rentang perhatian, konsentrsi dan memori pada siswa tersebut. Namun disisi lain kecemasan memiliki pengaruh yang positif terhadap siswa karena dapat memotivasi siswa untuk menyelesaikan tugas. Hal ini didukung oleh Fiyanti (2003) yang mengatakan bahwa beberapa dari siswa berfikir bagaimana cara untuk menghilangkan kecemasan yang mereka rasakan dengan cara bersaing. Bersaing disini adalah melakukan perbuatan untuk menjadi menang atau mengungguli yang lain dan merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Dalam bersaing, membutuhkan motivasi yang akan mendorong siswa untuk menjadi yang terbaik dari siswa-siswa yang lain.

Hal ini didukung oleh komunikasi personal pada salah satu siswa sebagaimana yang diungkapkan oleh Iwan (bukan nama sebenarnya) salah seorang siswa di sekolah unggul yang berada di Langsa, mengatakan bahwa : ” Siapa yang tidak mengalami kecemasan terutama dalam hal akademik, udah masuknya susah ke sekolah ini, di dalam nya pun kita harus berusaha lebih untuk

(6)

19

bisa memenuhi standar dari sekolah ini. Bagi saya ini adalah tantangan yang harus saya hadapi dan harus saya capai agar saya tidak di drop out ataupun remedial.” (Komunikasi Personal, 16 April 2010).

Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa ada juga siswa yang tidak mengalami kecemasan ini disebabkan oleh motivasi yang dimilki siswa. Siswa menganggap bahwa sistem atau standar yang ditetapkan oleh sekolah negeri unggul itu adalah tantangan atau pencapaian yang harus berhasil siswa lakukan dan siswa lebih menanggapi kecemasan lebih kepada hal yang positif karena dapat memotivasi siswa untuk mencapai hasil prestasi yang baik.

SMA Negeri Unggul sebagai salah satu SMA unggulan di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang senantiasa berusaha meningkatkan dan mempertahankan prestasi. Pengembangan kurikulum dengan penambahan jam pelajaran setiap minggunya dan pelajaran iman dan taqwa pada malam hari tentunya mendatangkan konsekuensi bagi siswanya. Padatnya kegiatan yang harus diikuti siswa dan terbatasnya waktu yang dimilki untuk belajar dan seringkali menimbulkan ketegangan dan akhirnya menimbulkan kecemasan terutama dalam hal kecemasan akademik (Komunikasi Personal, 06 Mei 2010). Seperti yang diungkapkan oleh A salah satu siswa yang pernah diremedial di SMA Negeri Unggul. Masalah yang sering A hadapi selama bersekolah di SMA Negeri Unggul adalah kesulitan untuk memusatkan perhatian dan adanya perilaku fisik dan emosi yang sering terjadi pada A yaitu dengan adanya perilaku panik dan perilaku menghindar dari belajar. Setiap tahunnya ada siswa yang diremedial bahkan ada yang di dropout (DO) ini disebabkan oleh siswa yang sulit untuk memusatkan perhatian, kehilangan fokus, adanya aspek fisik dan emosi dengan situasi dan

(7)

20

kondisi belajar di SMA Negeri Unggul, seperti yang terjadi pada tahun ajaran 2007/2008 ada 5 orang siswa yang diremedi, 2 orang siswa yang di DO dan 2 orang siswa pindah ke sekolah lain (Komunikasi Personal, 06 Mei 2010). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Montana State University (2007), mengatakan bahwa individu yang sering terkena masalah seperti masalah dalam pendidikan, keluarga atau sejarah genetik, Ini akan sangat memungkinkan siswa mengalami kecemasan dalam hal akademik. Bagi banyak siswa, belajar untuk mengatasi kecemasan akademik menjadi penting bagi keberhasilan akademik. Banyak hal-hal yang menyebabkan terjadinya Kecemasan akademik ini diantaranya sulit memusatkan perhatian (melihat jam, kehilangan fokus), terganggu pikiran, percakapan-diri, atau kegiatan yang menyebabkan kecemasan (aku tidak akan pernah lulus ujian ini.), adanya aspek fisik dan emosi (seperti mual, berkeringat), munculnya perilaku yang tidak pantas (panik, menghindar dari belajar).

Kecemasan akademik merupakan masalah umum yang tidak bisa siswa abaikan jika mereka ingin berhasil di sekolah. Hal ini sering menyebabkan masalah berkonsentrasi selama belajar dan mengingat informasi sambil menyelesaikan tes, yang membuat siswa merasa tidak berdaya seperti kegagalan (center for learning & teaching, 2005). Reddy (1989) melakukan penelitian untuk mengetahui penyesuaian dan masalah remaja di berbagai sekolah di daerah yang berbeda dan hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar masalah berkonsentrasi pada kecemasan akademik diikuti oleh kecemasan tentang masa depan mereka.

(8)

21

Sharma (1994) juga telah mengamati perempuan lebih menunjukkan mengalami kecemasan akademik dibandingkan laki-laki. Sejak masa kecil lingkungan yang berbeda disediakan untuk perempuan dan laki-laki yang mencerminkan kepibadian mereka. Laki-laki pada umumnya sudah mempunyai harga diri yang lebih baik dan tekanan bagi mereka terbatas dalam hal akademik dan masa depan, seperti anak laki-laki yang diharapkan untuk menjadi pencari nafkah. Sumber tekanan lebih rentan untuk perempuan dibandingkan laki-laki. perempuan lebih rentan untuk depresi, baik itu dari segi penampilan, perkawinan atau harga diri. Tetapi saat ini perempuan semakin terlibat dalam kompetisi yang kuat dan mengalami kecemasan dalam hal berkarier. Sumber depresi perempuan biasanya terlihat pada karier, pemilihan pasangan dan pernikahan. Semua ini membuat perempuan lebih rentan mengalami tekanan emosional dan masalah lain yang ditemukan adalah kecemasan akademik yang tinggi.

Jika dilihat dari hasil penelitian diatsa sangat bertolak belakang dengan hasil penelitian Pramod (1996) yang mengatakan bahwa pada budaya india, laki-laki lebih berorientasi pada masa depan dibandingkan anak perempuan dan oleh karena itu anak laki-laki memiliki kecemasan akademik yang lebih dibandingkan anak perempuan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Ojha (2005) menyatakan bahwa 25% anak laki-laki memiliki kecemasan akademik yang sangat tinggi sedangkan hanya 6,7% perempuan memiliki kecemasan akademik yang tinggi.

Selanjutnya, Trivedi & Ojha (2005), Juga menemukan bahwa anak laki-laki memiliki kecemasan akademik yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan.

(9)

22

Berdasarkan uraian diatas, kecemasan akademik terjadi pada siswa di SMA unggul dan kecemasan tersebut berbeda antara laki-laki dan perempuan. Maka dari itu peneliti ingin mengadakan penelitian tentang gambaran kecemasan akademik ditinjau dari jenis kelamin pada siswa di SMA unggul.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kecemasan akademik siswa di SMA Negeri Unggul Aceh Timur.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kecemasan akademik siswa di SMA Negeri Unggul Aceh Timur

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari hasil penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis

a. Menambah referensi pengetahuan dalam ruang lingkup psikologi, terutama psikologi pendidikan tentang gambaran kecemasan akademik siswa di SMA Negeri Unggul Aceh Timur.

b. Menambah informasi mengenai gambaran kecemasan akademik siswa di SMA Negeri Unggul Aceh Timur.

(10)

23

a. Untuk Siswa yang mengalami kecemasan akademik agar mampu mengatasi kecemasan yang dirasakannya dan untuk siswa yang belum mengalami kecemasan akademik agar mampu untuk mencegahnya.

b. Untuk Sekolah agar mengetahui sumber dan dampak dari kecemasan akademik yang dialami siswa sehingga dapat mencegah hal itu terjadi. c. Untuk orang-orang yang berkaitan dengan siswa seperti orang tua dan

guru agar lebih mengerti cara untuk mengatasi kecemasan akademik tersebut dan lebih bisa memahami kecemasan akademik yang dialami oleh siswa.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Bab I : Bab ini terdiri dari latar belakang masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari masalah yang menjadi objek penelitian.

Bab III : Bab ini menguraikan identifikasi variabel, defenisi operasional variabel, metode pengambilan sampel, alat ukur yang digunakan, uji daya beda item dan reliabilitas alat ukur, serta metode analisa data yang digunakan untuk mengolah hasil data penelitian.

(11)

24

Bab IV : Analisa dan Interpretasi Data Hasil Penelitian

Bab ini membahas tentang interpretasi hasil dan analisis data-data sebagai hasil penelitian sesuai dengan tinjauan teoritis yang digunakan.

Bab V : Kesimpulan, Diskusi dan Saran

Bab ini terdiri dari kesimpulan dari pembahasan terhadap hasil penelitian dan syarat-syarat untuk perbaikan penelitian selanjutnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :