• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci : Keterpaparan pestisida,petani,cholinestrase darah.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata kunci : Keterpaparan pestisida,petani,cholinestrase darah."

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETERPAPARAN PESTISIDA BERDASARKAN KADAR CHOLINESTRASE DARAH PADA PETANI BAWANG MERAH

DI DESA PARINDING KECAMATAN BARAKA KABUPATEN ENREKANG Oleh:

Adiyatma, Anwar Mallongi, Muh. Ikhtiar Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) ABSTRAK:

Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat atau mengganggu organisme pengganggu.Keterpaparan pestisida dapat dilihat dari kadar cholinestrase darah dan faktor yang mempengaruhi keterpaparan pestisida adalah faktor dalam dan diluar tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keterpaparan pestisida berdasarkan kadar cholinestrase darah.

Jenis penelitian yaitu observasional analitik dengan desain cross sectional.Besar sampel sebanyak 20 responden denganteknik purposive sampling. Analisis data secara univariat, bivariat dengan uji korelasi spearman dan analisis multivariat dengan regresi logistik berganda.

Hasil pemeriksaan kadar cholinestrase darah menunjukkan 16 petani yang kadar cholinestrase darahnya normal dan 4 petani yang kadar cholinestrase darahnya tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan keterpaparan pestisida berdasarkan kadar cholinestrase darah yaitu pengetahuan (p=0,000 dan r=0,840), waktu (p=0,000 dan r=0,840) dan penanganan pestisida (p=o,02 dan r=0,492),berdasarkan analisis multivariat waktu penyemprotan (p=0,000 dan t=4,721) merupakan variabel yang paling berpengaruh dari ketiga variabel yang berhubungan.Variabelpenggunaan APD (p=0,288 dan r=0,25) dan frekuensi penyemprotan (p=1,000 dan r=0,000) tidak memiliki hubungan.

Disimpulkan bahwa perlu peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang penggunaan pestisida bagipetani bawang merah penanganan dan waktu yang tepat untuk menyemprot.Diharapkan agar bagi masyarakat petani bawang merah harus memperhatikan aturan yang menyangkut penggunaan pestisida yang aman dengan memperhatiakn penggunaan APD, frekuensi,waktu dan penanganan pasca penyemprotan yang tepat.

Kata kunci : Keterpaparan pestisida,petani,cholinestrase darah.

Analysis of Factors Associated with Exposure of Pesticides Based on Blood Cholinestrase Levels in Shallot Farmers in Parinding Village, Baraka District,

Enrekang Regency. ABSTRACT:

Pesticides are materials used to control, reject, lure or disturb disturbing organisms.Exposure to pesticides can be seen from blood cholinestrase levels and factors that influence exposure to pesticides are factors in and outside the body. This study aims to determine the factors associated with exposure to pesticides based on blood cholinestrase levels.

This type of research is observational analytic with cross sectional design. Large sample of 20 respondents with purposive sampling technique. Data analysis was

(2)

univariate, bivariate with spearman correlation test and multivariate analysis with multiple logistic regression.

The results of examination of blood cholinestrase levels showed 16 farmers whose blood cholinestrase levels were normal and 4 farmers whose blood cholinestrase levels were abnormal. The results showed that the variables related to pesticide exposure based on blood cholinestrase levels were knowledge (p = 0,000 and r = 0,840), time (p = 0,000 and r = 0,840) and pesticide handling (p = o, 02 and r = 0,492) based on multivariate analysis of spraying time (p = 0,000 and t = 4,721) is the most influential variable of the three related variables. The variable use of APD (p = 0.288 and r = 0.25) and the frequency of spraying (p = 1,000 and r = 0,000) had no relationship.

It was concluded that the need to increase knowledge and understanding of the use of pesticides for shallot farmers was handled and the right time to spray. It is expected that the shallot farming community must pay attention to the rules regarding the use of safe pesticides by paying attention to the use of APD, frequency, timing and proper post-spray handling

Keywords : Pesticide exposure, farmers, blood cholinestrase. PENDAHULUAN

Penggunaan pestisida yang tidak terkendali memberikan dampak gangguan kesehatan kepada manusia yang terpapar pestisida. Organisasi kesehatan dunia pestisida pada pekerja pertanian dengan tingkat kematian mencapai 220.000 korban jiwa. Sekitar 80% keracunan dilaporkan terjadi di negara-negara berkembang (Suparti dkk,2016)

Negara-negara berkembang hanya menggunakan 25% dari total penggunaan pestisida di seluruh dunia. Yang mengejutkan adalah, walaupun negara-negara berkembang ini hanya menggunakan 25% saja dari pestisida di seluruh dunia tetapi dalam hal kematian akibat pestisida, 99% dialami oleh negara-negara di wilayah tersebut. Menurut WHO, hal ini disebabkan rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan petani sehingga cara penggunaannya sangat tidak aman dan cenderung berlebih, pola penyemprotan pestisida pada tanaman yang rentan hama (Suparti dkk,2016)

Angka kejadian keracunan pestisida di beberapa daerah di Indonesia sangat tinggi. Berdasarkan hasil pemantauan cholinesterase darah terhadap 347 pekerja di bidang pertanian di Jawa

Tengah di temukan 23,64% pekerja keracunan sedang dan 35,73 keracunan berat. Hampir semua penyakit kronis yang diderita oleh petani di akibatkan oleh keterpaparan pestisida yang dilakukan dengan semprotan yang dilepas ke udara, yang apabila dihirup melalui hidung dan masuk melalui mulut maka zat-zat beracun tersebut dapat masuk ke paru-paru dan merusaknya, dan dengan cepat pestisida masuk ke dalam darah dan menyebar racun ke seluruh tubuh (Kemenkes RI, 2014).

Beberapa data juga menunjukan bahwa keracunan pestisida pada petani dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilaksanakan oleh dinas kesehatan Data I provinsi sulawesi selatan yaitu dari 1.010 petani yang diperiksa aktivitas cholinesterase darah ternyata mengalami keracunan 225 petani (22,7%) dengan tingkat keracunan ringan 201 petani (89,33 %), keracunan sedang 22 petani (9,78%) dan keracunan berat 2 petani (0,89%) 5 ( Syamsir S. 2010).Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 48 orang sampel petani Jambu di desa Pesaren Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal ditemukan sebanyak 38 orang (79%) petani yang memiliki kadar aktivitas

(3)

Kolinesterase dalam darah yang tidak normal dan hanya 10 orang (21%) dengan kadar Kolinesterase dalam darah yang tergolong normal. (Hermawan, 2018).

Penyemprotan pestisida yang tidak memenuhi aturan akan menyebabkan banyak dampak, diantaranya dampak kesehatan bagi manusia yaitu timbulnya keracunan pada petani yang dapat dilakukan dengan jalan memeriksa kholinetrase darah. Faktor yang mempengaruhi dengan terjadinya keracunan pestisida adalah faktor dari dalam tubuh (internal) dan luar tubuh (eksternal). Faktor dari dalam tubuh antara lain umur, jenis kelamin,genetik, status gizi, kadar hemoglobin, tingkat pengetahuan dan status kesehatan. Sedangkan faktor dari luar tubuh mempunyai peranan yang sangat besar, antara lain banyaknya pestisida yang digunakan, jenis pestisida, dosis pestisida, frekuensi penyemprotan, masa kerja menjadi penyemprot, lama menyemprot, pemakaian alat pelindung diri,, cara penanganan pestisida, kontak terakhir dengan pestisida, ketinggian tanaman, suhu lingkungan, waktu penyemprotan, dan tindakan terhadap arah angin (WHO,1991)

Di wilayah kabupaten Enrekang ditemukan 35 penderita diabetes meletus dan 20 penderita kanker merupakan salah satu variabel penyebabnya ialah keterpaparan pestisida (Profil DINKES Kab. Enrekang 2016). Data luas areal perkebunan di Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang adalah 5.384,56 ha yang merupakan perkebunan tadah hujan (RPJMD Kabupaten Enrekang Tahun 2014-2018).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian Obsevasional analitik dengan Pendekatan Cross Sectional study.Penelitian yang di maksud untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan keterpaparan pestisida berdasarkan cholinetrase darah.

A. Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini berlokasi di desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang, akan dilaksanakan pada bulan Oktober Tahun 2018.

B. Jenis dan Sumber Data 1. Data primer .

Data primer yaitu data yang di peroleh dari pengukuran kholinesterase darah petani dan wawancara dengan menggunakan kuesioner.

2. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang di peroleh dari profil DINKES Kabupaten Enrekang.

C. Populasi dan Sample 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah 3 kelompok tani bawang merah sebanyak 60 petani di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang 2018

2. Sampel

a. Besar Sampel

Sampel adalah petani yang mewakili masing-masing kelompok taninya dan memenuhi kriteria penarikan sampel nonprobability dengan teknik Purposive Sampling, yaitu 30 petani.

b. Teknik Penarikan sampel

Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling (judgmental sampling), yaitu pengambilan sampel berdasarkan “penilaian” (judgment) peneliti mengenai siapa saja yang pantas memenuhi persyaratan untuk di jadikan sampel.

HASIL

Penelitian ini di laksanakan pada bulan november 2018 di Desa Parinding Kec. Baraka Kab. Enrekang, jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 20 responden.

(4)

a. Umur

Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa umur yang terbanyak pada responden dengan umur 33 tahun, umur 43 dan umur 50 tahun yaitu masing-masing sebanyak 2 orang dengan masing-masing 10 % dan umur yang paling sedikit yaitu

dengan umur 30,34,36,37,39,40,41,45,46,47,56,58,59

dan 62 tahun yaitu masing-masing sebanyak 1 orang dengan masing-masing 5%.

b. Tingkat Pendidikan

Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan presentase tertinggi pada responden dengan tingkat pendidikan SMA yaitu sebanyak 8 orang (40%) sedangkan presentase terendah dengan tingkat PT yaitu 1 orang (5 %).

c. Gejala Keracunan Yang Pernah Dirasakan

Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki/pernah merasakan gejala keracunan yaitu sakit kepala sebanyak 10 responden sedangkan gejala yang paling sedikit dirasakan berupa kulit terbakar,sering keluar air liur, keluar air ingus, dan kejang otot sebanyak 1 responden.

2. Analisis Faktor Resiko

Diskripsi variabel penelitian ditunjukkan dari hasil distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian. Pengelompokan ini bertujuan untukmengetahui hubungan dari

masing-masing variabel yang diteliti dengan keterpaparan pestisida pada petani bawang merah yang dianalisis dengan menggunakan 2 tahap yaitu tahap pertama menggunakan analisis univariat dan kemudian tahap kedua dicari hubungannya dengan keterpaparan pestisida berdasarkan kadar cholinestrase darah dengan menggunakan anlisis bivariat. a) Analisis Univariat

1) Kadar Cholinestrase Darah

Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa responden yang tidak normal kadar cholinestrase darahnya yaitu sebanyak 4 orang (20%), sedangkan yang responden yang normal kadar cholinestrase darahnya yaitu sebanyak 16 orang (80%).

2) Pengetahuan

Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa responden yang pengetahuannya kurangyaitu sebanyak 3 orang (15%),

sedangkan responden yang pengetahuannya cukup yaitu sebanyak 17

orang (85%).

3) Penggunaan APD

Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan bahwa responden yang penggunaan APD tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 16 orang (80%), sedangkan responden yang penggunaan APD memenuhi syarat yaitu sebanyak 4 orang (20 %).

4) Frekuensi Penyemprotan

Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan bahwa responden yang frekuensi penyemprotan buruk yaitu sebanyak 15 orang (75%), sedangkan responden yang frekuensi penyemprotannya baik yaitu sebanyak 5 orang (25%)

5) Waktu Penyemprotan

Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa responden yang waktu penyemprotannya tidak baik yaitu sebanyak 3 orang (15%), sedangkan yang responden yang waktu penyemprotannya baik yaitu sebanyak 17 orang (85%).

6) Penanganan Pestisida

Berdasarkan Tabel 9 menunjukkan bahwa responden yang melakukan penanganan pestisidasecara buruk yaitu sebanyak 6 orang (30 %), sedangkan yang responden yang melakukan penanganan pestisida secara baik yaitu sebanyak 14 orang (80%).

b) Analisis Bivariat

1) Hubungan Pengetahuan Dengan Keterpaparan Pestisida Berdasarkan Kadar Cholinestrase Darah.

Berdasarkan hasil uji korelasi spearman pada Tabel 10 menunjukkan ada

(5)

hubungan pengetahuan dengan kadar cholinestrase darah karena nilai signifikan (p) lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) dan nilai rs hitung (0,84) lebih besar dari rs tabel (0,450). Kekuatan hubungan pengetahuan dengan kadar cholinestrase darah adalah sangat kuat karena nilai koefisien korelasi rs (0,84) berada pada nilai interval koefisien antara 0,80-0,1000.

2) Hubungan Penggunaan APD dengan Keterpaparan Pestisida Berdasarkan Kadar Cholinestrase Darah.

Berdasarkan hasil uji korelasi spearman pada Tabel 11 menunjukkan tidak ada hubungan penggunaan APD dengan kadar cholinestrase darah. Hal ini dilihat dari nilai rs hitung lebih kecil dari rs tabel (0,250<0,450) dan nilai signifikan lebih besarl dari 0,05 (0,288 > 0,05).

3) Hubungan Frekuensi Penyemprotan dengan Keterpaparan Pestisida Berdasarkan Kadar Cholinestrase Darah

Berdasarkan hasil uji korelasi spearman pada Tabel 12 menunjukkan tidak ada hubungan frekuensi penyemprotan dengan kadar cholinestrase darah. Hal ini dilihat dari nilai r hitung lebih kecil dari r tabel (0,000<0,450) dan nilai signifikan lebih besar dari 0,05 (1,000 > 0,05)

4) Hubungan Waktu Penyemprotan dengan Keterpaparan Pestisida Berdasarkan Kadar Cholinestrase Darah

Berdasarkan hasil uji korelasi spearman pada Tabel 13 menunjukkan ada hubungan waktu penyemprotan dengan kadar cholinestrase darah karena nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) dan r hitung (0,84) > r tabel (0,450). Kekuatan hubungan waktu penyemprotan dengan kadar cholinestrase darah adalah sangat kuat karena nilai koefisien korelasi rs (0,84) berada pada nilai interval koefisen antara 0,80-1,000.

5) Hubungan Penanganan Pestisida dengan Keterpaparan Pestisida

Berdasarkan Kadar Cholinestrase Darah.

Berdasarkan hasil uji korelasi spearman pada Tabel 14 menunjukkan ada hubungan penanganan pestisida dengan kadar cholinestrase darah karena nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 (0,028 < 0,05) dan r hitung (0,491 > r tabel (0,450) . Kekuatan hubungan penanganan pestisida dengan kadar cholinestrase darah adalah hubungan sedang karena nilai koefisien korelasi rs (0,491) berada pada nilai 0,40-0,599 berdasarkan interval koefisen. c) Analisis Multivariat

Dapat dilihat dari tiga variabel independen yang berhubungan dengan CHE dari hasil uji bivariat dan kemudian ketiga variabel tersebut di analisis multivariat dengan uji regresi berganda menunjukkan variabel yang paling/erat hubungannya dengan kadar cholinestrase darah adalah waktu penyemprotan karena nilai t hitung 4,721 > t tabel 2,120 dan nilai signifikan (p) 0,000 < 0,05.

PEMBAHASAN

a. Tingkat keterpaparan pestisida berdasarkan kadar cholinestrase darah petani bawang merah

Hasil dalam penelitian menunjukkan bahwa petani bawang merah yang terpapar pestisida berdasarkan kadar cholinestrase darah sebanyak 4 orang dengan nilai CHE sebesar 62,5 dan petani bawang merah yang kadar cholinestrase darahnya normal atau tidak terpapar pestisida sebanyak 16 orang dengan nilai CHE sebesar 75-82,5.

b. Gejala keracunan yang pernah dirasakan petani bawang merah

Hasil wawancara pada petani bawang merah berdasarkan gejala keracunan yang pernah dirasakan oleh petani bawang merah menunjukkan sakit kepala merupakan gejala yang paling banyak dirasakan petani bawang merah sebanyak 13 orang dan gejala yang paling sedikit dirasakan yaitu sering keluar air liur,

(6)

sering keluar ingus, kejang otot, dan kulit terbakar sebanyak 1 orang. Khusus untuk 4 petani bawang merah yang kadar cholinestrasenya rendah atau terpapar pestisida berdasarkan kadar cholinestrase darah dengan nilai CHE sebesar 62,5 menunjukkan gejala yang sering dirasakan yaitu sakit kepala,kulit gatal, mual, muntah, batuk, sering keluar ingus, mata gatal dan sakit, kaki dan tangan terasa sakit, dan kulit terbakar.

c. Hubungan Pengetahuan dengan Keterpaparan Pestisida

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petani bawang merah yang pengetahuannya kurang yaitu sebanyak 3 orang (15%), sedangkan petani bawang merah yang pengetahuannya cukup yaitu sebanyak 17 orang (85%).Berdasarkan hasil uji korelasi spearman pada Tabel 10 menunjukkan ada hubungan pengetahuan dengan kadar cholinestrase darah karena nilai signifikan (p) lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) dan nilai rs hitung (0,84) lebih besar dari rs tabel (0,450). Kekuatan hubungan pengetahuan dengan kadar cholinestrase darah adalah sangat kuat karena nilai koefisien korelasi rs (0,84) berada pada nilai interval koefisien antara 0,80-0,1000.

Hasil analisis bivariat menunjukkan petani bawang merah yang pengetahuannya cukup lebih besar dari pada yang pengetahuannya kurang dan uji korelasi spearman menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan keterpaparan pestisida dilihat dari nilai r hitung lebih besar dari pada nilai r tabel sesuai yang dinyatakan sugiyono (2017) bahwa apabila r hitung lebih besar dari pada r tabel maka dapat disimpulkan kedua variabel tersebut memiliki hubungan. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ayu Susilowati Devi dkk/2017 yang menunjukkan adanya hubungan pengetahuan dengan kadar serum cholinestrase darah dengan nilai OR=12,369. Hasil penelitian ini juga sesuai

dengan penelitian yang dilakukan Santoso.E dkk/2016 yang menunjukkan hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan paparan pestisida (p=0,036) pada pekerja di PT.RKK Desa Mekar Sari Kec. Kumpeh Kab. Muaro Jambi tahun 2016.

d. Hubungan Penggunaan APD dengan Keterpaparan Pestisida.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petani bawang merah yang penggunaan APD tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 16 orang (80%), sedangkan responden yang penggunaan APD memenuhi syarat yaitu sebanyak 4 orang (20 %).Berdasarkan hasil uji korelasi spearman pada Tabel 14 menunjukkan tidak ada hubungan penggunaan APD dengan kadar cholinestrase darah. Hal ini dilihat dari nilai rs hitung lebih kecil dari rs tabel (0,250<0,450) dan nilai signifikan lebih besarl dari 0,05 (0,288 > 0,05).

Hasil uji univariat menunjukkanpetani bawang merah yang

penggunaan APDnya tidak memenuhi syarat lebih banyak dari pada yang memenuhi syarat dan hasil uji bivariat dengan uji korelasi spearman menunjukkan tidak ada hubungan karena r hitung lebih kecil dari pada r tabel. Sesuai yang dinyatakan sugiyono (2017) kedua variabel dikatakan berhubungan apabila r hitungnya lebih besar dari pada r tabelnya maka hasil penelitian ini pada variabel penggunaan APD dengan keterpaparan pestisida berdasarkan kadar CHE tidak menunjukkan hubungan. Hasil penelitian ini tidak sesuai

dengan hasil penelitian Santoso.E,dkk/2016 yang menunjukkan

adanya hubungan antara penggunaan APD dengan paparan pestisida pada pekerja chemis (penyemprotan) si PT. RKK Desa Mekar Sari Kecamatan Kumpeh Kab. Muaro Jambi tahun 2016.

Secara uji statistik dengan menggunakan uji korelasi rank spearmant menunjukkan tidak ada hubungan antara penggunaan APD dengan keterpaparan

(7)

pestisida tetapi berdasar wawancara menunjukkan jumlah penggunaan APD yang tidak memenuhi syarat lebih banyak dari pada yang memenuhi syarat. Hal ini dikarenakan masih banyak petani bawang merah tidak lengkap dalam penggunaan APD terutama sepatu bot, menurut salah satu responden mengatakan bahwa penggunaan sepatu bot bisa mengganggu pertumbuhan bawang merah maka dari itu kebanyakan petani bawang merah tidak sama sekali menggunakan APD terhadap kaki mereka. Hal lain yang menunjukkan petani bawang merah tidak memakai APD secara lengkap yaitu adalanya petani yang mengaku pernah mengalami luka bakar pada tubuhnya.

e. Hubungan Frekuensi Penyemprotan dengan Keterpaparan Pestisida.

Berdasarkan analisis univariat menunjukkan petani bawang merah yang frekuensi penyemprotannya buruk lebih banyak dari pada yang baik dan analisis bivariat menunjukkan tidak adanya hubungan antara frekuensi penyemprotan dengan keterpaparan pestisida berdasarkan kadar CHE karena r hitung lebih kecil dari pada r tabel. Sesuai yang dinyatakan oleh sugiyono (2017) bahwa apabila r hitung lebih kecil dari pada r tabel maka variabel bebas dan variabel terikat tidak memiliki hubungan.Hasil penelitian tidak sejalan dengan hasil penelitian Yusniar.H.D,dkk/ 2016 yang menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi penyemprotan dengan keracunan pestisida (PR=13,791) pada petani di Desa Jati Kec. Sawangan Kab. Magelang Jawa Tengah.

Secara uji statistik dengan menggunakan analisis korelasi spearmant rant menunjukkan tidak ada hubungan antara frekuensi penyemprotan dengan keterpaparan pestisida tetapi berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap petani bawang merah menunjukkan ada hubungan antara frekuensi penyemprotan dengan keterpaparan pestisida dilihat darai jumlah petani bawang merah yang

melakukan penyemprota lebih dari 2 kali dalam seminggu lebih banyak dari pada yang 2 kali atau kurang dari 2 kali dalam seminggu. Hal ini dikarenakan banyaknya hama yang menyerang bawang merah sehingga intesitas penyemprotan tidak dibatasi.

Frekuensi menyemprot harus diperhatikan oleh para petani bawang merah karena frekuensi menyemprot jika dilakukansemakin sering maka semakin tinggirisiko keracunan. Frekuensi menyemprot tanaman yang dilakukanpetani sebaiknya tidak lebih dari 2 kali dalam seminggu. Dilapangan yangterjadi petani bawang merah menyemprot tanamantidak sesuai kebutuhan, disaat tanamandiserang hama atau penyakit petanimelakukan penyemprotan seseringmungkin tanpa memperhatikanfrekuensi menyemprot dengan tujuanmenyelamatkan tanaman supaya hasil panen tidak diserang hama ataupenyakit maka petani bawang merah melakukan penyemprotan pestisida pada tanamandengan harapan hasil panen baik

danmeningkat petani tidak mengalamikerugian. Petani bawang merah

dalam rangka menyelamatkan tanaman sampai-sampai kurang atau bahkan mengabaikan kesehatan dirinya dari bahaya pestisidayang digunakan.

f. Hubungan Waktu Penyemprotan dengan Keterpaparan Pestisida

Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa petani bawang merah yang waktu penyemprotannya tidak baik yaitu sebanyak 3 orang (15%), sedangkan yang petani bawang merah yang waktu penyemprotannya baik yaitu sebanyak 17 orang (85%). Berdasarkan hasil uji korelasi spearman pada Tabel 16 menunjukkan ada hubungan waktu penyemprotan dengan kadar cholinestrase darah karena nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) dan r hitung (0,84) > r tabel (0,450). Kekuatan hubungan waktu penyemprotan dengan kadar cholinestrase darah adalah sangat kuat karena nilai koefisien korelasi

(8)

rs (0,84) berada pada nilai interval koefisen antara 0,80-1,000.

Hasil analisis univariat menerangkan bahwa petani bawang merah yang waktu penyemprotannya baik lebih banyak dari pada yang buruk dan. analisis bivariat dengan uji korelasi spearman menunjukkan adanya hubungan antara waktu penyemprotan dengan keterpaparan pestisida berdasarkan kadar CHE karena nilai r hitung lebih besar dari pada r tabel. Sesuai yang dinyatakan oleh sugiyono (2017) bahwa apabila r hitung lebih besar dari pada r tabel maka variabel bebas dan terikat memiliki hubungan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Suparti.S,dkk/2016 yang menunjukkan waktu penyemprotan memiliki hubungan dengan keracunan pestisida (p=0,036,OR=3,53).

Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan uji korelasi spearmant menunjukkan ada hubungan antara waktu penyemprotan dengan keterpaparan pestisida, tetapi tidak ada hubungan antara waktu penyemprotan dengan keterpaparan pestisida berdasarkan hasil wawancara dan jumlah petani bawang merah yang waktu penyemprotannya terlalu pagi, siang dan malam atau tidak memenuhi syarat lebih kecil dari pada yang memenuhi syarat. Hal ini dikarenakan banyaknya petani bawang merah yang melakukan penyemprotan pada pukul 08.00-11.00 dan 15.00-18.00. g. Hubungan Penanganan Pestisida

dengan Keterpaparan Pestisida. Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa petani bawang merah yang melakukan penanganan pestisida secara buruk yaitu sebanyak 4 orang (30 %), sedangkan yang petani bawang merah yang melakukan penanganan pestisida secara baik yaitu sebanyak 16 orang (80%). Berdasarkan hasil uji korelasi spearman pada Tabel 14 menunjukkan ada hubungan penanganan pestisida dengan kadar cholinestrase darah karena nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 (0,028 <

0,05) dan r hitung (0,491 > r tabel (0,450) . Kekuatan hubungan penanganan pestisida dengan kadar cholinestrase darah adalah hubungan sedang karena nilai koefisien korelasi rs (0,491) berada pada nilai 0,40-0,599 berdasarkan interval koefisen.

Secara uji statistik dengan menggunakan uji korelasi rank spearmant menunjukkan penanganan pestisida berhubungan dengan keterpaparan pestisida berdasarkan kadar cholinestrase darah namun berdasarkan wawancara yang dilakukan di lapangan atau lokasi , penangan pestisida tidak berhubungan dengan keterpaparan pestisida dilihat dari jumlah petani bawang merah yang melakukan penangan pestisida dengan tepat lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak tepat.Sepeti halnya penangan pestisida yang dilakukan oleh sebagian besar responden yaitu setelah menuang pestisida ke dalam alat penyemprot, petani bawang merah menngubur dan membakar wadah pestisida yang kosong tersebut, setelah melakuakn penyemprotan responden mencuci alat penyemprot dengan air bersih dan air yang digunakan untuk mencuci dibuang jauh dari sumber air, wadah atau ember yang digunakan sebagai tempat mencampur pestisida tidak digunakan oleh petani bawang merah untuk keperluan sehari-hari, petani bawang merah langsung mandi setelah melakukan penyemprotan pestisida dan pakaian yang dipakai menyemprot pestisida langsung dicuci dan dipisahkan dengan pakaian lainnya.

h. Hubungan dari Pengetahuan, Waktu penyemprotan, dan Penanganan Pestisida dengan Keterpaparan Pestisida Berdasarkan Kadar CHE

Untuk melihat hubungan yang paling dominan dari ketiga variabel yang memiliki hubungan dengan kadar CHE dari hasil uji bivariat maka dilakukan uji regresi berganda. Berdasarkan Tabel 18 dapat dilihat hasil dari analisis multivariat dengan uji regresi berganda menunjukkan variabel

(9)

yang paling/erat hubungannya dengan kadar cholinestrase darah adalah waktu penyemprotan karena nilai t hitung 4,721 > t tabel 2,120 dan nilai signifikan (p) 0,000 < 0,05..

Sesuai uji statistik dengan menggunakan uji korelasi spearmant dan regresi berganda menerangkan bahwa pengetahuan, waktu penyemprotan dan penanganan pestisida memiliki hubungan dengan keterpaparan pestisida, tetapi berdasarkan hasil wawancara menunjukkan tidak adak hubungan pengetahuan, waktu penyemprotan dan penanganan pestisida dengan keterpaparan pestisida.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Mahrus, Januari, 2018. Teknik Budidaya Tanaman Sawi Hijau (brassica juncea l), Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi (Universitas Merdeka Surabaya). Arifin Kartohardjono, 'Penggunaan Musuh

Alami Sebagai Komponen Pengendalian Hama Padi Berbasis Ekologi', Pengembangan Inovasi Pertanian, 4 (2011), 36.

Anonim. 2011. Kesehatan LIngkungan. (Online), http://kesling-dinkes.blogspot.com/2011/03/sekil as-info-tentang-kegiatan.html

Baharuddin, P.D.S, Reza, A.A.D. 2017. Metodelogi Penelitian Kuantitatif. Makassar : Arus Timur.

Data Sekunder. 2014-2018. RJMD Kabupaten Enrekang, Provisi Sul-Sel.

Data Sekunder.2018. Kantor Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang, Provisi Sul-Sel.

Data sekunder 2016 .Profil DINKES Kab. Enrekang .

Depkes RI. 1992. Pengenalan dan Penatalaksanaan Keracunan Pestisida, SubditPengamanan Pestisida, Jakarta

Djojosumarto, Panut. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida

Pertanian.Yogyakarta:Kanisius Hermawan,I. 2018. Faktor-Faktor Yang

Berhubungan Dengan Aktivitas Kolinesterase Darah Pada Petani Jambu Di Desa Pesaren Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal.JKM,Volume 6, Nomor 4, (ISSN: 2356-3346)

Imam Mualim, 'Analisis Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Keracunan Pestisida Organofosfat Pada Petani Penyemprot Hama Tanaman Di Kecamatan Bulu Icabupaten Temanggung Tahun 2002' (Program Pascasarjana Universitas Diponegoro ).

Insani, A.Y. 2018.Perbedaan Efek Paparan Pestisida Kimia dan Organik terhadap Kadar Glutation (GSH) Plasma pada Petani Padi di Kabupaten Bondowoso. (Online) Jurnal Kesehatan LIngkungan Indonesia, (e-ISSN ; 2502-7085). diaskes 03-09-2018,https://doi.org/10.14710/mkmi .%25v.%25i.1-14

Istina, N.I, 2016. Peningkatan Produksi Bawang Merah Melalui Teknik Pemupukan MPK .Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Riau. Jurnal Agro Vol. III, No 1. https://journal.uinsgd.ac.id/index.ph p/ja/article/download

Juan Antonio Legaspi, Carl enz. 1994. Occupational Health Aspect of Pesticides. The United States of America

Lestari, Ayu., Selemo, Makmur, La Anne, Ruslan. 2016. Identifikasi Risidu Pestisida Organofosfat Dalam Sayuran Kol dan Sawi di Desa Baroko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang, (Online),http://repository.unhas.ac.i d/handle/123456789/19043, diakses 10 Juni 2016.

(10)

Marisa.,Arrasyid, A.S. 2017. Pemeriksaan Kadar Pestisida dalam Darah Petani Bawang Merah di Nagari Alahan Panjang.Journal of Sainstek9(1): 14-18

Notoatmodjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta. Jakarta

Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta Ngatimin, 2005. Ilmu Perilaku Kesehatan

(IPK). Yayasan “PK-3”. Makassar. Putra,W.PI., Harsoyuwono, B.A., Triani

Lani, I.G.A. 2018. Hubungan Waktu Penyemprotan Pestisida Sebelum Paen Terhadap Residu Profenofos dan Karakteristik Mutu Sawa Pakcoy (Barssica Rapa L) di Bali, (Online), Vol.6, No. 2, (158-168). Program Pascasarjana Universitas Muslim

Indonesia. 2014. Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi Makassar.

Riani, 2014.Toksikologi Pestisida dan Penanganan Akibat Keracunan, Media Litbang,Jakarta.

Rizqyana, F.I, Setiani, O.dr, Lanang, H.D. 2017. Hubungan Riwayat Paparan Pestisida Dengan JumlahEritrosit, Mcv, Mch, Dan Mchc Pada Petani Sayuran DiDesa Sumberejo

Kecamatan Ngablak KabupatenMagelang, Vol 5, No.3,

(Jurnal Kesehatan Masyarakat). Saam, Z, Prawitno,W., Nurhidayah,T. 2014.

Hubungan Pengetahuan, Persepsi Dan Perilaku Petani Dalam Penggunaan Pestisida Pada Lingkungan Di Kelurahan Maharatu Kota Pekanbaru , Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Riau.

Susy Purnawati, 'Pendekatan Ergonomi Total Untuk Mengantisipasi Risiko Keracunan Pestisida Pada Petani-Petani Bali', Bumi Lestari, 8 (2008).

Suma’mur, P.K. 2013. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja(HIPERKES). Jakarta: CV. Sagung Seto

Sugiyono, 2017. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung.

Stang, 2018. Cara Praktis Penentuan Uji Statistik dalam Penelitian Kesehatan dan Kedokteran. Jakarta : Mitra Wacana Media.

Sugiyono, 2018. Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung.

Sugiyono, 2018. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Alfabeta. Bandung.

Teguh Budi Prijanto, 'Analisis Faktor Risiko Keracunan Pestisida Organofosfat Pada Keluarga Petani Hortikultura Di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang' (Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, 2009). Tuhumury, GNC., J.A. Leatemia, R.Y.

Rumthe, J.V. Hasinu. 2012. Residu Pestisida Produk Sayuran Segar dikota Ambon, (Online), Vol 1, No.22,

http://dx.doi.org/10.30598/a.v1i2.28 4, di akses Agrologia 1.2 (2018) Tahlim Sudaryanto, and I Wayan Rusastra,

'Kebijakan Strategis Usaha Pertanian Dalam Rangka Peningkatan Produksi Dan Pengentasan Kemiskinan', Jurnal Litbang Pertanian, 25 (2006), 115-22.

Wahyuni, S. 2010. Perilaku Petani Bawang Merah Dalam Penggunaan Dan Penanganan Pestisida Serta Dampaknya Terhadap Lingkungan (Studi Kasus di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes), Semarang, (Online).

(11)

Lampiran :

Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur Responden di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

No Umur (thn) n % 1. 30 1 5 2. 34 1 5 3. 35 2 10 4. 36 1 5 5. 37 1 5 6. 39 1 5 7. 40 1 5 8. 41 1 5 9. 43 2 10 10. 45 1 5 11. 46 1 5 12. 47 1 5 13. 50 2 10 14. 56 1 5 15. 58 1 5 16. 59 1 5 17. 62 1 5 Total 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 2 Distribusi Responden BerdasarkanTingkat Pendidikan di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

No Pendidikan n %

1. Tidak tamat/tidak sekolah 0 0

2. SD 4 20

3. SMP 7 35

4. SMA 8 40

5. PT 1 5

Total 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 3 Distribusi Responden BerdasarkanGejala Keracunan diDesa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

No Gejala Keracunan N

1. Sakit kepala 13

2. Mual 10

3. Muntah 5

4. Penglihatan kabur 5

5 Mata gatal dan sakit 4

6 Batuk 4

7 Kulit gatal 4

8 Kaki dan tangan terasa sakit 2

(12)

10 Sering keluar air mata 2 11 Sering keluar air liur 1

12 Sering keluar ingus 1

13 Kejang otot 1

14 Kulit terbakar 1

Sumber : Data Primer

Tabel 4 Distribusi Responden Berdasarkan Kadar Cholinestase darah di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

No CHE n %

1. Tidak Normal 4 20

2. Normal 16 80

Total 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 5 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

No Pengetahuan n %

1. Kurang 3 15

2. Cukup 17 85

Total 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 6 Distribusi Responden BerdasarkanPenggunaan APD di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

No Penggunaan APD n %

1. Tidak memenuhi syarat 16 80

2. Memenuhi syarat 4 20

Total 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 7 Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Penyemprotan di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

No Frekuensi penyemprotan n %

1. Buruk 15 75

2. Baik 5 25

Total 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 8 Distribusi Responden Berdasarkan Waktu Penyemprotan di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

No Waktu penyemprotan N %

1. Tidak Baik 3 15

2. Baik 17 85

Total 20 100

(13)

Tabel 9 Distribusi Responden Berdasarkan Penanganan Pestisida di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

No Penanganan pestisida N %

1. Buruk 6 30

2. Baik 14 70

Total 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 10 Analisis Pengetahuan Dengan Kadar Cholinestrase Darah di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

Pengetahuan Kadar Cholinestrase Total % (0,05) p rs Tidak Normal Normal Kurang 3 0 3 15 0,00 0,84 Cukup 1 16 17 85 Total 4 16 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 11 Analisis Penggunaan APD Dengan Kadar Cholinestrase Darah di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

Penggunaan APD Kadar Cholinestrase Total % p (0,05) rs Tidak Normal Normal Tidak Memenuhi Syarat 4 12 16 80 0,288 0,25 Memenuhi Syarat 0 4 4 20 Total 4 16 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 12 Analisis Frekuensi Penyemprotan Dengan Kadar Cholinestrase Darah di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

Frekuensi Penyemprotan Kadar Cholinestrase Total % p(0,05) r s Tidak Normal Normal Buruk 3 12 15 75 1,00 0,00 Baik 1 4 5 25 Total 4 16 20 100

(14)

Tabel 13 AnalisisWaktu Penyemprotan Dengan Kadar Cholinestrase Darah di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

Waktu Penyemprotan Kadar Cholinestrase Total % p(0,05) r s Tidak Normal Normal Tidak Baik 3 0 3 15 0,00 0,84 Baik 1 16 17 85 Total 4 16 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 14 Analisis Penanganan Pestisida Dengan Kadar Cholinestrase Darahdi Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

Penanganan Pestisida Kadar Cholinetrasi Total % p(0,05) rs Tidak Normal Normal Buruk 3 3 6 30 0,028 0,491 Baik 1 13 14 70 Total 4 16 20 100

Sumber : Data Primer

Tabel 15 Analisis Pengetahuan,waktu Penyemprotan dan Penanganan Pestisida Dengan Kadar Cholinestrase Darah di Desa Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018 Independen Dependen CHE t Sig Pengetahuan 4,041 0,001 Waktu Penyemprotan 4,721 0,000 Penanganan Pestisida -0,3 0,767 Sumber : Data Primer

Gambar

Tabel 4 Distribusi Responden Berdasarkan Kadar Cholinestase darah di Desa Parinding  Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018
Tabel 9 Distribusi Responden Berdasarkan Penanganan Pestisida  di  Desa Parinding  Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018
Tabel 13  AnalisisWaktu Penyemprotan Dengan Kadar Cholinestrase Darah  di  Desa  Parinding Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Tahun 2018

Referensi

Dokumen terkait

(5) Penyelenggaraan administrasi kegiatan dekonsentrasi bidang LH dan tata cara penetapan, persyaratan, dan tugas tim pelaksana kegiatan dekonsentrasi bidang LH

Dakle, igra s 5 igraˇca, od kojih svaki ima dvije ˇciste strategije moˇze imati najviˇse 44 mjeˇsovite Nashove ravnoteˇze.. Radiˇsi´c, Nashova ravnoteˇza, Osjeˇcki

Dari hasil pembacaan penulis, materi pembahasan dalam buku Tasawuf Kontekstual Solusi Problem Manusia Modern dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu: pertama,

Atas dasar sertifikat atas nama Ibu Ayu yang terlebih dahulu dikeluarkan oleh kepala BPN Kota Batu, dan dari pihak ketiga tidak dapat menunjukkan surat terjadinya jual beli, maka

Didapat representasi hasil maturity level seluruh klausul pada Gambar 2 dan terlihat bahwa Manajemen Aset dan Kejadian Keamanan Informasi memiliki nilai yang belum baik,

Metode wawancara atau interview merupakan suatu teknik pengumpulan data yang menjalankan tanya-jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan

Berdasarkan hasil uji F diperoleh bahwa aplikasi bahan organik atau manajemen jerami pada berbagai perlakuan berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada 3-8 MST

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh penulis pada bulan Januari - Februari 2013, terhadap beberapa guru IPA-Biologi di SMP Negeri I Siantar menyatakan faktor yang