• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

I

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

Desa Kubu, Kecamatan Kubu

Kabupaten Kubu Raya

Tahun Anggaran

2020

(2)

I. COVER ... i

II. DAFTAR ISI ... ii

III. DAFTAR GAMBAR ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 LATAR BELAKANG ... 1

1.2 TUJUAN ... 4

1.3 METODE PERENCANAAN ... 5

1.3.1 Penentuan Lokasi Perencanaan ... 5

1.3.2 Kegiatan Persiapan ... 5

1.3.3 Pengumpulan Data ... 6

1.3.4 Pengolahan Data / Analisis ... 6

1.4 PRODUK (OUTPUT) ... 7

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN ... 8

BAB II STUDI LITERATUR ... 9

2.1 TINJAUAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN ... 9

2.1.1 Kebijakan RTRW Kabupaten Kubu Raya ... 9

2.1.2 DEFINISI CAGAR BUDAYA ... 14

2.2. STUDI TEORI CITRA KAWASAN ... 18

2.2.1. Citra Kota; Kevin Lynch, 1960 ... 18

2.2.2. Elemen Path (Jalan/Jalur) ... 22

2.2.3. Elemen Edges (Tepian) ... 23

2.2.4. Elemen District (Distrik) ... 24

2.2.5. Elemen Nodes (Simpul) ... 25

2.2.6. Elemen Landmark (Penanda) ... 26

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH ... 29

3.1 Kondisi Wilayah Kecamatan Kubu ... 29

3.2 Kondisi Kependudukan Kecamatan Kubu ... 31

(3)

III

3.3.1 Sejarah Pemerintahan Kerajaan Kubu ... 32

3.3.2 Sejarah Sosial Budaya Kerajaan Kubu ... 33

3.3.3 Sejarah Sosial Ekonomi Kerajaan Kubu ... 36

3.4 Kondisi Eksisting Kawasan Perencanaan ... 38

BAB IV ANALISA KONSEP ... 42

4.1 Analisa Aktivitas ... 42

4.2 Analisis Fungsi ... 46

4.3 Analisis Tapak ... 47

4.3.1 Analisis iklim (Lintasan Matahari dan Arah angin) ... 48

4.3.2 Analisis Aksesibilitas dan pencapaian ... 49

4.3.3 Analisis Sirkulasi ... 50

4.3.4 Analisis view ... 51

4.3.5 Analisis Vegetasi ... 52

4.3.6 Analisa Utilitas Kawasan ... 53

4.4 Analisa Tahapan Pembangunan ... 54

BAB V KONSEP PERANCANGAN ... 56

5.1 Ide dan Konsep Umum ... 56

5.2 Konsep Aktivitas ... 56

5.3 Konsep Fungsi ... 57

5.4 Konsep Tapak ... 57

5.5 Konsep Utilitas ... 58

5.6 Konsep Street Furniture ... 58

5.7 Konsep Perekeresan... 58

(4)

Gambar 1. 1 Tampak Depan Gedung Replika Keraton (Rumah Besar) Kubu ... 2

Gambar 1. 2 Masjid Besar Khairusa’adah ... 2

Gambar 1. 3 Situasi Jalur Menuju Makam Sultan Syarif Idrus Bin Abdurrahman Al-Idrus ... 3

Gambar 1. 4 Suasana Warung Makan Sebagai Persinggahan Penumpang Speed Boad ... 3

Gambar 1. 5 Suasana Mangrove Desa Dabong ... 4

Gambar 1. 6 Zona Batas Deliniasi... 5

Gambar 2. 1 Skema Pendaftaran dan Penetapan Cagar Budaya ... 16

Gambar 2. 2 Tipologi Elemen Solid Void suatu Koridor Jalan ... 19

Gambar 2. 3 Urutam/Squence Townscape Berdasarkan Prespektif Fordon Cullen ... 20

Gambar 2. 4 Gambaran Ilustrasi Path ... 22

Gambar 2. 5 Gambaran Waterfront City Lake Michigan (Desain Tepian/Edges) ... 23

Gambar 2. 6 Distrik Kota ... 25

Gambar 2. 7 Kota Boston Sudut Jordan-Filene dan Loisburg Square ... 26

Gambar 2. 8 Pizza San Marcodi Venesia sebagai Landmark ditengah Kota ... 27

Gambar 3. 1 Lokasi Kecamatan Kubu ... 29

Gambar 3. 2 Struktur Awal Kawasan Keraton ... 38

Gambar 3. 3 Aksesibilitas Menuju Kawsan Penataan Melalui Jalur Air ... 39

Gambar 3. 4 Gambaran Lokasi Penataan Kawasan Kerajaan (Pertuanan) Kubu Komplek Secara Makro ... 39

Gambar 3. 5 Kondisi Eksisting Keraton dan Lingkungan Kawasan Keraton ... 40

Gambar 3. 6 Kondisi Replika Keraton Kerajaan (Pertuanan) Kubu ... 41

Gambar 3. 7 Kondisi Eksisting Keraton dan Lingkungan Kawasan Keraton ... 41

Gambar 4. 1 Analisis Iklim pada Lokasi Perencanaan ... 48

Gambar 4. 2 Analisis Aksesibilitas dan Pencapaian pada Lokasi Perencanaan ... 49

Gambar 4. 3 Analisis Sirkulasi di dalam Lokasi Perencanaan ... 50

Gambar 4. 4 Analisis View (tampak) Lokasi Perencanaan ... 51

Gambar 4. 5 Analisis Vegetasi (Tanaman) pada Lokasi Perencanaan ... 52

(5)

V

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 6 Rencana Pengembangan Koridor Jalan dan Ruas Jalan Kabupaten Kubu Raya 10

Tabel 3. 7 Jarak Desa Ke Ibu Kota Kecamatan (Desa Kubu) Tahun 2018 ... 30

Tabel 3. 2 Jumlah Desa Ke Ibu Kota Kecamatan (Desa Kubu) Tahun 2013 ... 31

Tabel 3. 3 Kepadatan Penduduk di Kecamatan Kubu Tahun 2018 ... 31

Tabel 4. 1 Aktivitas Utama (Primer) Kawasan Kerajaan Kubu Komplek ... 42

Tabel 4. 2 Aktivitas Penunjang Kawasan Kerajaan Kubu Komplek ... 44

Tabel 4. 3 Aktivitas Pelayanan Kawasan Kerajaan Kubu Komplek ... 45

Tabel 4. 4 Analisa Fungsi Kawasan ... 46

Tabel 4. 5 Tabel Fase Pembangunan ... 54

(6)

Lampiran 1. (Analisa) ... vii Lampiran 2. (Konsep) ... viii

(7)

VII

LAMPIRAN 1

(8)
(9)

IX

DAFTAR PUSTAKA

Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. (2016). Rencana Tata Ruang dan Wilayah 2016-2036 Kabupaten Kubu Raya, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Kubu Raya. (2019). Kecamatan Kubu Dalam Angka. Lynch, Kevin. (1960). The Image Of The City. Cambridge : The MIT Press.

Trancik. (1986). Finding Lost Space; Theories of Urban Design. New York : Van Nostrand Reinhold Company.

White, Edward T. (1985). Analisa Tapak : Pembuatan Diagram Informasi Perancangan Arsitek

Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan kebersihan Kabupaten Kubu Raya. (2016). Pembangunan

(10)

1.1 LATAR BELAKANG

Peradaban awal pada Kecamatan Kubu dibangun oleh Sayyid Syarif Indrus Bin Abdurrahman Al-Idrus pada tahun 1188 H atau 1768 M. dengan tujuan untuk

menyebarkan ajaran agama islam. Pada awal berdirinya, Kubu hanya merupakan sebuah

perkampungan kecil yang terletak di persimpangan tiga sungai. Akan tetapi, lama-kelamaan permukiman yang terletak di muara sungai tersebut semakin lama semakin banyak didatangi orang, bahkan kemudian menjadi bandar dagang yang ramai. Perkampungan baru ini kemudian dinamakan “Kubu”. Tercatat didalam naskah bahwa pada tahun 1775 M perkampungan baru ini mulai dibuka kemudian secara resmi pada tahun 1780 M atau 1199 H, setelah itu Sayyid Syarif Idrus yang bergelar Tuan Besar

Kubu membangun istana yang terletak dekat Masjid Besar/Jamik Kubu. Namun seiring

berjalannya waktu, era Kesultanan (Pertuanan) Kubu pun berakhir pada tahun 1958, daerah kekuasan Persultanan dijadikan dalam satu wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Kubu. Tahun 2007, Kecamatan Kubu beserta kecamatan sekitarnya seperti Kecamatan Batu Ampar, Teluk Pakedai, Rasau Raya dan sekitarnya secara resmi berubah menjadi wilayah administrasi Kabupaten Kubu Raya.

Berkembangnya zaman dan pergeseran arah perkembangan wilayah, menjadi tantangan tersendiri untuk terus merawat situs, tradisi, sejarah dan kebudayaan Kerajaan Kubu. Sehingga eksistensi Kerajaan Kubu masih terus menerus lestari dan menjadi sebuah simbol peradaban tersendiri dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Kubu Raya. Namun, dapat dilihat kondisi replika Keraton (Rumah Besar) Tuan Besar Kubu saat ini yang kurang terawat dan kondisi material bangunan maupun stuktur yang rusak parah karena termakan waktu, yang mungkin disebabkan dari kondisi replika Rumah Besar yang kosong dan tidak berpenghuni, selain itu kurangnya acara/perayaan kebudaya di daerah kerajaan juga menjadi alasan mengapa kawasan Pertuanan ini tidak berfungsi dengan baik. Gambaran kondisi replika Keraton (Rumah Besar) Kubu dapat dilihat pada gambar 1.1. di bawah ini.

PENDAHULUAN

01

(11)

2 | 1 Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

Gambar 1. 1 Tampak Depan Gedung Replika Keraton (Rumah Besar) Kubu Sumber : Dokumentasi Pribadi

Terlihat pada gambar di atas kondisi konstruksi yang sudah rapuh dan hancur, tidak ada lagi pintu dan jendela, serta atap yang sudah tidak memperlihatkan kepantasan menjadi sebuah penutup bagi bangunan.

Sementara itu kegiatan budaya yang masih terus dirawat sampai saat ini adalah kegiatan haul raja yang bertujuan untuk memperingati wafatnya Sayyid Idrus bin

Abdurrahman Alaydrus sebagai Sultan Pertama di Kerajaan Kubu dan ritual robo-robo

yang dilakukan warga pada setiap hari rabu di pekan terakhir pada bulan safar. Untuk kegiatan Haul dilakukan di area masjid besar Desa Kubu dan area makam dan festival Robo-Robo juga diadakan di area halaman Masjid Besar Khairusa’adah Kecamatan Kubu, dapat dilihat pada gambar 1.2 dan gambar 1.3 mengenai kondisi halaman Masjid Khairusa’adah dan kondisi Pemakaman Sayid Idrus bin Abdurrahman Alaydrus.

Gambar 1. 2 Masjid Besar Khairusa’adah Sumber : Dokumentasi Pribadi

(12)

Gambar 1. 3 Situasi Jalur Menuju Makam Sultan Syarif Idrus Bin Abdurrahman Al-Idrus Sumber : Dokumentasi Pribadi

Kedua gambar di atas menunjukkan kondisi saat ini dimana belum adanya penataan yang baik terhadap area bersejarah Desa Kubu yang menjadi destinasi tahunan kegiatan adat dan budaya serta keagamaan. Selain menjadi destinasi wisata sejarah, Desa Kubu juga menjadi tempat persinggahan/transit untuk transportasi air (speed boat dan

kapal klotok) antar Kabupaten dan antar Kecamatan di Provinsi Kalimantan Barat seperti

wilayah Kota Pontianak-Kabupaten Ketapang, Kota Pontianak-Kabupaten Kayong dan Kota Pontianak-Kecamatan Batu Ampar dan sekitarnya. Hal ini menjadikan sungai di Desa Kubu menjadi jalur transportasi air dan setiap harinya dilewati oleh speed boat atau kapal klotok. Oleh karena kondisi ini, warga pada Desa Kubu melihat potensi ekonomi sehingga membuka warung makan pada sepanjang sungai dekat dengan lokasi rencana penataan Kawasan Kubu.

Gambar 1. 4 Suasana Warung Makan Sebagai Persinggahan Penumpang Speed Boad Sumber : Dokumentasi Pribadi

Warung makan milik warga tersebut juga memiliki dermaga sederhana serta fasilitas umum lainnya sebagai tempat persinggahan seperti toilet dan mushollah. Selain potensi tempat persinggahan, Desa Kubu juga dekat dengan Desa Dabong yang

(13)

4 | 1 Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

menawarkan keindahan alam hutan mangrove dan wilayah restorasi hutan gambut. Jarak tempuh antar kawasan rencana penataan Kawasan Kubu dengan hutan mangrove di Desa Dabung adalah sekitar ±30 km atau sekitar 40 menit hingga 1 jam melalui jalur transportasi air.

Gambar 1. 5 Suasana Mangrove Desa Dabong

Sumber : https://travel.trubus.id/baca/28749/desa-dabong-dikembangkan-sebagai-daerah-wisata-mangrove

Melihat pontensi wisata sejarah, potensi sebagai area transit dan kondisi bentang alam dapat menjadi latar belakang untuk dilakukan “Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek”. Dalam hal ini perlu dilakukan peninjauan khusus terkait lokasi wilayah tersebut agar penataannya tepat sasaran dan tidak menimbulkan permasalahan baru terkait sosial, budaya, maupun perekonomian. Survei yang dilakukan tim perencana beserta pemerintah pada hari Kamis tanggal 6 Agustus 2020 lalu, menuangkan beberapa landasan berpikir (hipotesa) terhadap kawasan ini, seperti:

 Perlu digali kembali potensi yang ada baik dari segi geografis wilayah, sejarah maupun sosial dan ekonomi masyarakat

 Perlu adanya perencanaan secara menyeluruh yang melibatkan seluruh elemen kawasan sehingga dapat mengakomodasi aktivitas publik dalam kawasan

 Perlu adanya peningkatan kualitas fisik dan pengoptimalan fungsi kawasan sehingga mampu menghidupkan citra kawasan sebagai kawasan bersejarah.

1.2 TUJUAN

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek merupakan bagian dari upaya

perbaikan kualitas suatu daerah yang tujuannya adalah :

 Menata Kawasan Kerajaan Kubu agar dapat mengakomodasi kegiatan budaya yang sudah ada sepeti Robo-Robo’ dan Haul Raja maupun aktifitas lainnya.

(14)

 Menambah ruang publik untuk masyarakat, sebagai wadah aktifitas budaya dan kegiatan sosial masyarakat

 Meningkatkan aktifitas perekonomian masyarakat dan pengembangan pariwisata Kabupaten Kubu Raya khususnya wilayah Kecamatan Kubu.

1.3 METODE PERENCANAAN

Metode perencanaan merupakan proses atau tahapan yang akan dilakukan dalam melakukan penyusunan Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek. Metode perencanaan meliputi tahapan pengumpulan data, analisis, dan konsep. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :

1.3.1 Penentuan Lokasi Perencanaan

Lokasi kegiatan perencanaan telah di tetapkan dalam dokumen kegiatan Jasa Konsultansi Studi Kelayakan Penataan Kawasan Keraton Kubu yaitu di Desa Kubu Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya dengan luas lahan 6, 8 Ha (arsiran biru).

Gambar 1. 6 Zona Batas Deliniasi

Sumber : Dokumen Penelitian Penataan Kawasan Keraton Kubu 1.3.2 Kegiatan Persiapan

Kegiatan yang dilakukan meliputi :

 Memahami maksud dan tujuan, lingkup pekerjaan, lokasi perencanaan dan keluaran (output) yang diharapkan

(15)

6 | 1 Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

 Mempersiapkan dan mengumpulkan data-data awal

1.3.3 Pengumpulan Data

Dalam proses perencaan ini hanya akan menggunakan tiga cara untuk mendapatkan data, seperti:

 wawancara, yaitu melakukan observasi data secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara) berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok masyarakat;

 dokumentasi, yaitu observasi terhadap suatu benda (fisik) berupa data fotograpi dan atau videograpi terkait kondisi fisik, dan situs-situs (objek) yang ada pada lokasi; dan

 studi literatur yaitu buku dan situs internet terkait kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian (studi kelayakan) berupa peraturan tentang perencanaan wilayak kerajaan, peraturan Undang-Undang yang berlaku terhadap perencanaan lokasi yang ditentukan.

Metode yang digunakan untuk mendapatkan data seperti :  metode survei, yaitu untuk mendapatkan data primer.

Dalam pelaksanaan perencanaan data primer diperoleh dari survei lokasi tapak dan audiensi / wawancara kepada kerabat, sejarawan, tokoh setempat, dan instansi terkait.

 metode observasi, yaitu untuk mendapatkan data sekunder.

Data sekunder merupakan data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh atau dicatat oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip baik data yang dipublikasikan atau yang tidak dipublikasikan. Data sekunder dari perencanaan ini diperoleh dari RTRW Kab. Kubu Raya, Dokumen Penelitian Penataan Kawasan Keraton Kubu, UU Cagar Budaya dan studi literatur perencanaan kawasan dan data dari dinas terkait.

1.3.4 Pengolahan Data / Analisis

Pekerjaan analisis adalah melakukan analisis terhadap data-data yang telah didapat dan dikompilasi sebelumnya. Proses analisis ini dilakukan untuk memahami karakteristik spesifik wilayah pada masa lalu, masa sekarang maupun pekembangan dan

(16)

tantangan kedepan. Hal ini membantu perencana untuk menentukan konsep perencanaan, yang selanjutnya akan menghasilkan produk perencanaan yang tepat sasaran. Adapun tahap dalam melakukan analisis meliputi :

 Analisis tapak

Analisa tapak berisi tentang masalah yang berada dalam tapak, kemudian dipecahkan untuk menghasilkan alternatif-alternatif desain. Analisa tapak meliputi :

 Analisa orientas;

 Analisa sirkulasi;

 Analisa zoning (tata letak) kawasan; dan

 Analisa vegetasi.

 Analisis pengguna

Analisa pengguna meliputi analisis pemakai atau pengguna kawasan. Mulai dari pengunjung sampai kepada pengelola kawasan. Selain itu pada analisis ini akan dijelaskan aktivitas yang dilakukan oleh pengguna

 Analisis fungsi bangunan

Pada analisa ini akan membahas tentang fungsi-fungsi bangunan apa saja yang akan ada dalam kawasan. Baik fungsi utama maupun fungsi pendukung.

 Analisis stuktur

Pada analisis ini akan dibahas mengenai alternatif-alternatif stuktur yang sesuai dengan kondisi lahan perencanaan

 Analisis utilitas

Analisis utilitas akan memuat kebutuhan sarana dan prasarana kawasan terkait air bersih, saluran drainase, serta listrik.

1.4 PRODUK (OUTPUT)

Hasil yang diharapkan dari Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek adalah berupa gambaran yang lengkap mengenai Rencana Induk berupa Dokumen Masterplan

Rencana Penataan Kawasan Kerajaan Kubu Komplek. Masterplan ini meliputi arahan

rekonstruksi replika keraton, ruang terbuka publik (RTH, taman dan lapangan olahraga) bagi masyarakat, fasilitas sarana dan prasarana kawasan serta tahapan pembangunan disertai dengan perkiraan biaya pembangunan kawasan.

(17)

8 | 1 Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika pembahasan laporan untuk Kegiatan Rencana Penataan Kerajaan

Kubu Komplek ini adalah sebagai berikut:

 Bab 1 Pendahuluan

Pada bab ini menyajikan latar belakang, tujuan kegiatan, metode perencanaan, output serta sistematika penyajian.

 Bab 2 Studi Literatur

Studi literatur berisi tentang referensi teori atau dokumen yang relefan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Referensi tersebut berisikan tentang Tinjauan Kebijakan dan Studi Teori Citra Kawasan.

 Bab 3 Gambaran Umum Wilayah

Pada bab ini akan dibagi menjadi dua bagian yaitu tinjauan mengenai Kondisi Wilayah Kecamatan Kubu, Kondisi Kependudukan Kecamatan Kubu, Sejarah Kerajaan Kubu, dan Kondisi Eksisting Kawasan Perencanaan.

 Bab 4 Analisis Konsep

Analisa konsep memuat metodologi dalam proses perencanaan yaitu analisis aktivitas, analisis fungsi, analisis tapak, analisis tahapan pembangunan.

 Bab 5 Konsep Penataan

Pada bab ini akan dibahas mengenai ide dan konsep umum, konsep aktivitas, konsep fungsi, konsep tapak, konsep utilitas, konsep street furniture, konsep perkerasan, dan konsep tahapan pembangunan.

 Album Gambar Hasil Desain Masterplan

Hasil desain masterplan akan disajikan dalam bentuk gambar yang dicetak dalam ukuran A4 sebagai laporan perencanaan serta dalam ukuran kertas A3 sebagai dokumen gambar dan konsep desain.

(18)

Studi literatur berfungsi untuk mencari referensi teori yang relefan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Pada BAB ini studi literaturnya akan dibagi menjadi dua bagian yaitu tinjauan kebijakan dan studi teori.

2.1 TINJAUAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

Kajian terhadap kebijakan pengembangan wilayah Kabupaten Kubu Raya mencakup kjaian terhadap visi dan misi pembangunan, prioritas pembangunan, dan arahan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Kubu Raya terkait dengan Kecamatan Kubu sebagai wilayah perencanaan.

2.1.1 Kebijakan RTRW Kabupaten Kubu Raya

Kabupaten Kubu Raya merupakan kabupaten hasil dari pemekaran Kabupaten Pontianak yang merupakan kabupaten induk. Kabupaten Kubu Raya sebagai salah satu kabupaten baru hasil pemekaran tersebut, saat ini sudah memiliki RTRWK sebagai alat pengembangan dan pembangunan wilayahnya.

A. Rencana Stuktur Ruang

Dalam rencana stuktur ruang telah di sebutkan bahwa Kecamatan Kubu masuk dalam

sistem pusat kegiatan PKL, yaitu kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai

pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan, kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala kabupaten atau beberapa kecamatan dan kawasan perkotaan yang berada di pesisir yang berfungsi atau berpotensi mendukung ekonomi kelautan lokal.

a) Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Sistem Jaringan Jalan

Sistem jaringan jalan di Kecamatan Kubu masuk kedalam kelas jaringan jalan lokal primer (kabupaten). Koridor jalan yang akan dikembangkan sehingga bisa saling terhubung dengan kecamatan lain dapat dilihat pada tabel 1.1 berikut:

STUDI LITERATUR

02

(19)

10 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

Table 2.1 Rencana Pengembangan Koridor Jalan dan Ruas Jalan Kabupaten Kubu Raya

No Nama Koridor Pengembangan Ruas Jalan

1 Koridor Kecamatan

Rasau Jaya – Kecamatan Kubu

 Ruas Jalan Rasau Jaya – Sungai Bulan –

Jangkang Satu – Jangkang - Dua - Teluk Nangka -Kubu.

2 Koridor Kecamatan

Kubu

 Ruas Lingkar Kota Kubu

 Ruas Olak-Olak Kubu – Pelita Jaya –

Dabong

 Ruang Seruat Tiga – Seruat Dua –

Mengkalang - Dabong

3 Koridor Kecamatan

Kubu – Kecamatan Terentang

 Ruas Jalan Teluk Nangka – Sungai

Dungun – Teluk Bayur – Teluk Empening – Permata – Terentang Hilir

 Ruas Terentang Hilir – Terentang

Hulu-Sungai – Dungun – Teluk Nagka

 Ruas Radak Dua – Radak Baru –

Terentang Hulu – Sungai Terus

4 Koridor Kecamatan

Kubu – Kecamatan Teluk Pakedai

 Ruas Air Putih – Ambawang – Sungai

Bemban – Sungai Selamat – Seruat Tiga – Sepakat Baru – Teluk Gelam

 Ruas Sungai Nipah – Sungai Deras –

Pinang Luar – Kampung Baru – Air Putih

 Ruas Serut Tiga – Seruat Satu – Tanjung

Bunga

Sumber : RTRW Kabupaten Kubu Raya 2016-2036

Jaringan Prasarana Lalu Lintas di Kabupaten Kubu Raya

Simpul jaringan jalan transportasi kabupaten untuk Kecamatan Kubu masuk kedalam kelas terminal tipe C. Untuk Kecamatan Kubu daerah yang akan dikembangkan adalah Desa Air Putih.

(20)

b) Sistem Jaringan Sungai Dan Penyebrangan

Jaringan Penyebrangan di Kabupaten Kubu Raya

Untuk wilayah Kecamatan Kubu sistem jaringan transportasi penyebrangan terletak pada jalan kabupaten dan mengakomodir penyebrangan lintas dalam kabupaten. Daerah yang akan dikembangkan adalah :

- Dabung (Kubu) – Padang Tikar (Batu Ampar) - Kubu – Olak-Olak Kubu

- Air Putih – Olak-Olak Kubu

c) Rencana sistem prasarana lainnya

Sistem Jaringan Sumber Daya Air

Sistem Jaringan Sumber Daya Air adalah penatagunaan, penyediaan, penggunaan, dan pengembangan Sumber Daya Air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. Pada Kecamatan Kubu sumber daya airnya akan dikebangkan di wilayah Bemban Barat seluas 200 hektar dan Bemban timur 450 hektar.

B. Rencana Pola Ruang

Rencana pola ruang berisi rencana distribusi subzona peruntukan yang antara lain meliputi zona lindung, zona yang memberikan perlindungan terhadap zona di bawahnya, zona perlindungan setempat, dan zona budidaya seperti zona perumahan, perdagangan dan jasa, perkantoran, industri, dan RTH, ke dalam blok-blok.

a) Pemantapan Kawasan Lindung

Kawasan Hutan Lindung

Kawasan hutan lindung di wilayah Kecamatan Kubu sebagaimana dimaksud dalam Pasal22 huruf a, terdiri atas:

- Kawasan hutan lindung gambut Sungai Pinang Baru seluas lebih kurang 2.300 (dua ribu tiga ratus) hektar di Kecamatan Sungai Raya, Teluk Pakedai dan Kubu; - Kawasan hutan lindung gambut Sungai Ambawang Kecil seluas lebih kurang

1.370 (seribu tiga ratus tujuh puluh) hektar di Kecamatan Kubu;

- Kawasan hutan lindung gambut Gunung Ambawang – Pemancing seluas lebih kurang 3.370 (tiga ribu tiga ratus tujuh puluh) hektar di Kecamatan Kubu;

(21)

12 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

- Kawasan hutan lindung bakau Sungai Seruat - Pulau Tiga seluas lebih kurang 14.363 (empat belas ribu tiga ratus enam puluh tiga) hektar di Kecamatan Teluk Pakedai dan Kubu;

- Kawasan hutan lindung bakau Sungai Kubu – Sungai Radak seluas lebih kurang 1.700 (seribu tujuh ratus) hektar di Kecamatan Kubu;

- Kawasan hutan lindung bakau Gunung Terjun – Gunung Radak seluas lebih kurang 550 (lima ratus lima puluh) hektar di Kecamatan Kubu;

- Kawasan hutan lindung bakau Simpang Cabai seluas lebih kurang 2.035 (dua ribu tiga puluh lima) hektar di Kecamatan Kubu;

- Kawasan hutan lindung bakau Pulau Perling seluas lebih kurang 1.400 (seribu empat ratus) hektar di Kecamatan Kubu;

- Kawasan hutan lindung bakau Pulau Berembang seluas lebih kurang 850 (delapan ratus lima puluh) hektar di Kecamatan Kubu;

Kawasan Rawan Bencana Alam

- Kawasan rawan abrasi terdiri atas:

Kawasan rawan abrasi pantai terdapat di Kecamatan Teluk Pakedai, Kubu,

Batu Ampar, dan Sungai Kakap; dan

Kawasan rawan abrasi tebing sungai terdapat di Kecamatan Kubu, Sungai

Kakap, Sungai Raya, dan Rasau Jaya.

- Kawasan rawan banjir terdapat di Kecamatan Kuala Mandor B, Sungai Kakap, Sungai Raya, Terentang, Kubu, Teluk Pakedai, Rasau Jaya, dan Sungai Ambawang.

b) Pengembangan Kawasan Budidaya

Kawasan Peruntukan Hutan Produksi;

Kawasan peruntukan hutan produksi terbatas terdiri atas Kawasan hutan produksi terbatas Sungai Kubu – Munggulinang (Kecamatan Kubu dan Batu Ampar).

Kawasan peruntukan hutan rakyat;

Kawasan peruntukan hutan rakyat, terdapat di Kecamatan Sungai Raya, Sungai Ambawang, Kubu, Terentang, Batu Ampar, dan Teluk Pakedai.

(22)

Kawasan peruntukan pertanian;

- Kawasan pertanian tanaman pangan, terdiri dari:

 Kawasan pertanian tanaman pangan, yang tersebar di seluruh kecamatan, dengan penghasil utama meliputi Kecamatan Sungai Kakap, Sungai Raya,

Kubu dan Batu Ampar;

 Kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) akan dikembangkan di seluruh kecamatan, diantaranya meliputi kawasan food estate yang terdiri atas: Kawasan Ambawang Kompleks Kecamatan Kubu dengan luas lebih kurang 3.150 (tiga ribu seratus lima puluh) hektar. Kemudian kawasan pertanian hortikultura, tersebar di seluruh kecamatan, dengan penghasil utama meliputi Kecamatan Sungai Raya, Sungai Kakap, Kubu, Sungai Ambawang, dan Rasau Jaya, serta Desa Sungai Ambangah dan Tebang Kacang Kecamatan Sungai Raya sebagai kawasan hortikultura (horticulture park) seluas lebih kurang 2.300 (dua ribu tiga ratus) hektar.

- Kawasan peternakan, tersebar di seluruh kecamatan, dengan penghasil utama meliputi Kecamatan Sungai Ambawang, Rasau Jaya, Sungai Raya, Kubu, dan Sungai Kakap.

Kawasan peruntukan perikanan;

- Kawasan peruntukan perikanan tangkap, terdapat di Kecamatan Teluk Pakedai, Sungai Raya, Sungai Ambawang, Sungai Kakap, Kubu, Rasau Jaya, dan Batu Ampar.

- Kawasan pengolahan ikan, meliputi kawasan minapolitan Kubu, kawasan pengolahan terdapat di Desa Dabong; dan

- Unit Pangkalan Pendaratan Ikan (UPPI) terdapat di Kecamatan Batu Ampar,

Kubu, Teluk Pakedai, dan Sungai Kakap.

- Kawasan pelabuhan perikanan, meliputi Sungai Rengas (Kecamatan Sungai Kakap) dan Muara Kubu (Kecamatan Kubu).

- Kawasan peruntukan permukiman;

 Kawasan peruntukan permukiman perkotaan meliputi kawasan permukiman perkotaan yang diutamakan pengembangannya meliputi kawasan permukiman

(23)

14 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

perkotaan Sungai Raya, Sungai Kakap, Sungai Ambawang, Rasau Jaya, Kubu, dan Batu Ampar;dan

 Kawasan peruntukan transmigrasi diarahkan di wilayah kabupaten yang ditetapkan sebagai kawasan perdesaan, terutama kawasan perdesaan di wilayah

Kecamatan Kubu, Terentang, Teluk Pakedai, dan Batu Ampar.

- Kawasan peruntukan industri;

Kawasan peruntukan industri, terdiri atas kawasan peruntukan industri sedang meliputi Kecamatan Sungai Raya, Sungai Ambawang, Terentang, Kubu, dan Teluk Pakedai; dan

- Kawasan peruntukan pariwisata;

Kawasan Pengembangan Pariwisata(KPP-2), berfungsi sebagai kawasan pendorong pengembangan wisata, dengan kegiatan wisata dominan adalah wisata budaya dan wisata alam, yang terdiri atas: Pusat pengembangan prioritas KPP-2

yaitu Ibukota Kecamatan Kubu. c) Penetapan Kawasan Strategis

Penetapan kawasan strategis nasional dilakukan berdasarkan kepentingan: pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi; dan/atau fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. Untuk wilayah Kecamatan Kubu yang telah tertera pada RTRW adalah :

 Kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi, meliputi:

- KTM Rasau Raya di Kecamatan Rasau Jaya, Kubu, Sungai Raya, dan Teluk Pakedai; dan

- Kawasan minapolitan dengan sektor unggulan perikanan, terdiri dari Minapolitan Kubu meliputi Desa Air Putih, Kubu, dan Dabong.

 Kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup

meliputi kawasan perlindungan bakau (mangrove) di Kecamatan Kubu, Teluk Pakedai dan Batu Ampar.

2.1.2 DEFINISI CAGAR BUDAYA

Cagar Budaya merupakan warisan leluhur yang secara tidak langsung menjadi ciri khas dari suatu daerah. Pengertian Cagar Budaya tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang

(24)

Cagar Budaya pasal 1 ayat 1, bunyinya:“...Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat

kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.”

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Cagar Budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan yang berupa :

a) Benda

Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.

b) Struktur

Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.

c) Bangunan

Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.

d) Situs

Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.

e) Kawasan

Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.

(25)

16 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

Gambar 2. 1 Skema Pendaftaran dan Penetapan Cagar Budaya Sumber : kebudayaan.kemendikbud.go.id

Setiap orang wajib menjaga, memelihara, dan melestarikan Cagar Budaya, hal ini secara tersirat tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya pada Bab VII yang membahas tentang pelestarian. Negara sudah menyadari betapa pentingnya warisan budaya ini, UU Nomor 11 Tahun 2010 merupakan bukti bahwa Negara juga peduli dengan warisan budaya tersebut. Konstitusinya sudah ada, tinggal kontribusi pemerintah dan masyarakat dalam melaksanakan undang-undang tersebut. Setiap Cagar Budaya memiliki peringkat berdasarkan letak administratif dan syarat-syarat lainnya, sebagai berikut :

(26)

a) Cagar Budaya Nasional Cagar Budaya tingkat nasional, secara administratif terletak diantara dua provinsi. Cagar Budaya dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya peringkat nasional apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

 Wujud kesatuan dan persatuan bangsa;

 Karya adiluhung yang mencerminkan kekhasan kebudayaan bangsa Indonesia;

 Cagar Budaya yang sangat langka jenisnya, unik rancangannya, dan

sedikit jumlahnya di Indonesia;

 Bukti evolusi peradaban bangsa serta pertukaran budaya lintas negara dan lintas

daerah, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat; dan/atau

 Contoh penting kawasan permukiman tradisional, lanskap budaya, dan/atau

pemanfaatan ruang bersifat khas yang terancam punah

b) Cagar Budaya Provinsi Cagar Budaya dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya peringkat provinsi apabila memenuhi syarat:

 Mewakili kepentingan pelestarian Kawasan Cagar Budaya lintas kabupaten/kota;

 Mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi;

 Langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di provinsi;

 Sebagai bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya lintas wilayah

kabupaten/kota, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat; dan/atau

 Berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung

c) Cagar Budaya Kabupaten/Kota

Cagar Budaya dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya peringkat kabupaten/kota apabila memenuhi syarat:

 Sebagai Cagar Budaya yang diutamakan untuk dilestarikan dalam wilayah

kabupaten/kota;

 Mewakili masa gaya yang khas;

 Tingkat keterancamannya tinggi;

 Jenisnya sedikit; dan/atau

(27)

18 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

2.2. STUDI TEORI CITRA KAWASAN

Lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan manusia, dan secara implisit, bentuk-struktur-tatanan arsitektural terbentuk melalui perpaduan antara linkungan dan perilaku pengguna lingkungan itu sendiri yang membentuk sebuah “Citra Kawasan” pada suatu kawasan atau wilayah. Untuk mengetahui bagaimana citra kawasan dari suatu kawasan yang telah terbangun maka sebenarnya kita harus terlebih dahulu mengetahui kekuatan makna apa saja yang dimiliki oleh suatu kawasan tersebut. Dalam mencari suatu kekuatan makna yang dimiliki oleh suatu kawasan maka secara umum lingkup yang dapat memecahkan hal tersebut dapat dilakukan melalui pemahaman yang dapat dikaji melalui teori Kevin Lynch (1960) tentang node, jalur (path), dan distrik mengartikan struktur spasial dasar berupa objek yang menjadi orientasi manusia.

2.2.1. Citra Kota; Kevin Lynch, 1960

Dalam bukunya “Image of the City” (1960), Kevin Lynch di dalam risetnya meminta para penduduk untuk menjelaskan kepadanya suatu gambaran mental terhadap kota mereka. Apa yang diingat? Di mana letaknya di dalam kawasan? Bagaimana rupanya? Ke mana saya harus pergi dari tempat ini ke tempat yang lain? Kevin Lynch telah menelusuri peta kognitif pengamat dengan hasil bahwa pemetaan kognitif terjadi karena adanya prespektif terhadap atribut-atribut kota yang langsung ‘terbaca’ oleh pengamat. Berdasarkan analisis dalam Lynch (1960: 8) menemukan bahwa citra kawasan yang tergambar dari peta mental seseorang berkaitan dengan tiga komponen, yaitu:

A. Legibility (mudah dibaca)

Legibility of Identity; artinya, orang dapat memahami gambaran mental perkotaan

(identifikasi obyek-obyek, perbedaan antara obyek, perihal yang dapat diketahui), atau dengan pengertian lain identitas dari beberapa obyek/elemen dalam suatu kawasan yang berkarakter dan khas sebagai jati diri yang dapat membedakan dengan kawasan lainnya. Legibility sangat penting dalam dua hal, yaitu bentuk fisik dan pola aktivitas (kegunaan). Apabila kedua hal tersebut saling mendukung satu sama lainnya, maka seseorang dapat dengan cepat memahami tempat tersebut. Legibility pada skala yang lebih sempit dari kota yaitu kawasan, dapat dilihat dari berbagai elemen seperti jalur-jalur kecil, node, edge dan landmark. Hal ini dapat digambarkan melalui peta mental dari pengamat baik bentuk

(28)

maupun penyusunan pada ruang perkotaan. Menurut Bentley, terdapat 2 hal yang dapat diperoleh dengan adanya legibility jalan yang kuat, yaitu:

a. Untuk memberikan karakter jalan yang kuat, sehingga dapat dibedakan oleh pengamat dengan jalan-jalan lainnya.

b. Untuk menunjukkan berbagai bagian yang penting pada jalan.

B. Struktur

Struktur; artinya orang dapat melihat pola perkotaan (hubungan obyek- obyek, hubungan subyek-obyek, pola yang dapat dilihat), atau dengan kata lain yaitu mencakup pola hubungan antara obyek/elemen dengan obyek/elemen lain dalam ruang kawasan yang dapat dipahami dan dikenali oleh pengamat, struktur berkaitan dengan fungsi kawasan tempat obyek/elemen tersebut berada. Menurut Roger Trancik (1986), struktur dan identitas merupakan pola blok-blok perkotaan, bangunan, dan ruang yang jelas dan mudah untuk dikenali. Struktur dapat menggambarkan susunan, hubungan, maupun pola pada ruang perkotaan yang dapat dilihat melalui gambar figure ground (gambar 2.1). Figure ground merupakan hubungan pola solid (massa bangunan) dan void (ruang terbuka).

Gambar 2. 2 Tipologi Elemen Solid Void suatu Koridor Jalan

Sumber : Trancik (1986:101)

Elemen solid merupakan elemen bangunan yang berfungsi sebagai wadah kegiatan manusia. Terdapat beberapa tipe pada elemen solid, yaitu sebagai monument/lembaga publik, blok yang mendominasi, susunan bangunan yang tidak berulang dan memiliki bentuk khusus. Elemen void mempunyai lima tipe yang berfungsi sebagai eksterior perkotaan, yaitu sebagai ruang masuk, internal void, jaringan utama jalan dan lapangan, taman publik dan kebun, serta sistem ruang terbuka linear yang biasanya dihubungkan

(29)

20 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

desain dari elemen di sekitar koridor (seperti dinding), dan jalur pergerakan yang menghasilkan suatu tipologi figure-ground yang dapat dilihat pada gambar 2.1.

C. Imagibility

Imagibility adalah orang dapat mengalami dan merasakan ruang perkotaan (arti obyek-obyek, arti subyek-obyek-obyek, rasa yang dapat dialami), atau merupakan pemahaman arti oleh pengamat terhadap dua komponen (identitas dan struktur). Sebagai tambahan terhadap persepsi suatu tempat dan citra ruang, beliau secara tidak langsung menunjukkan kondisi fisik dari eksterior kota, hubungan antara objek dan pergerakan, juga dengan pengalaman ketika sampai atau meninggalkan ruang kota (gambar 2.2)

Gambar 2. 3 Urutam/Squence Townscape Berdasarkan Prespektif Fordon Cullen Sumber: Trancik (1986:122)

Dapat dilihat pada gambar 2.2, hasil karya beliau merupakan demonstrasi yang sangat kuat terhadap kebutuhan untuk memahami dan secara grafis menganalisa karakteristik individual dan urutan dari ruang publik pada lingkungan yang terbangun

Penelitian Lynch mengarah kepada mengidentifikasi elemen-elemen struktur fisik yang membuat kota dapat memberikan kesan. Dia menyimpulkan bahwa terdapat lima kategori elemen yang digunakan orang untuk menyusun kesadaran atas image kawasan. Elemen-elemen tersebut

(30)

adalah: paths, edges, districts, nodes, dan landmarks. Lima elemen citra tersebut hanya merupakan unsur dasar sebuah citra kawasan secara keseluruhan. Pada kenyataannya, kelima elemen ini di dalam kota tidak dapat terlihat secara terpisah, karena keberadaannya satu dengan yang lain. Jika hanya dengan cara tersebut gambaran citra terhadap kawasan menjadi kenyataan dan benar, maka perlu diperhatikan interaksi antara kelima elemen citra tersebut. Kelima elemen akan berfungsi dan berarti secara bersamaan dalam satu jaringan (interaksi) besar.

Citra kota secara keseluruhan dapat berbeda pula tergantung luas daerahnya, posisi subyek dalam daerah, waktu (siang/malam), dan musim. Dengan memiliki lima elemen dan campurannya, tidak bararti bahwa sebuah kota langsung mempunyai citra yang baik. Oleh karena itu, perlu diperhatikan kualitas formulasi kelima elemen tersebut dengan yang lain. Dalam analisis dan perancangan kota, kualitas bentuk lima elemen tersebut harus dicari dan ditingkatkan. Sepuluh pola karakteristik yang mempengaruhi kualitas citra kawasan adalah: (Lynch, 1960: 85).

a) Ketajaman batas elemen.

b) Kesederhanaan bentuk elemen secara geometris. c) Kontinuitas elemen.

d) Pengaruh yang terbesar antara elemen. e) Tempat hubungan antara elemen. f) Perbedaan antara elemen.

g) Artikulasi antara elemen. h) Orientasi antara elemen. i) Pergerakkan antara elemen. j) Nama dan arti elemen.

Teori citra kota yang diformulasikan Kevin Lynch ini memperhatikan skala makro di dalam kota. Namun demikian, sesuai dengan pandangan Van Eyck (1985) bahwa kota adalah ‘rumah yang besar’ dan rumah adalah ‘kota yang kecil’, maka prinsip-prinsip yang diungkapkan teori ini juga berlaku sampai ke skala mikro, yaitu gedung. Passini (1984: 112) mengilustrasikan dengan baik bagaimana lima elemen tersebut dapat berlaku di dalam sebuah gedung besar, misalnya sebuah gedung pusat perbelanjaan. Teori Kevin Lynch ini akan digunakan sebagai alat untuk mengkaji elemen-elemen pembentuk citra kawasan melalui temuan karakter fisik kawasan.

(31)

22 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

2.2.2. Elemen Path (Jalan/Jalur)

Path adalah jalur-jalur dimana pengamat biasanya bergerak dan melaluinya. Path dapat

berupa jalan raya, trotoar, jalur transit, canal, jalur kereta api. Bagi banyak orang, ini adalah elemen dominan dalam gambaran mereka. Orang mengamati kota sambil bergerak melaluinya, dan sepanjang path elemen-elemen lingkungan lain diatur dan berhubungan. Path (jalan) secara mudah dapat dikenali karena merupakan koridor linier yang dapat dirasakan oleh manusia pada saat berjalan mengamati kota. Struktur ini bisa berupa gang-gang utama, jalan transit, jalan mobil/ kendaraan, pedestrian, sungai, atau rel kereta api. Untuk kebanyakan orang, jalan adalah elemen kota yang paling mudah dikenali, karena semua manusia menikmati kota pada saat dia berjalan. Jadi didalam elemen ini mengandung pengertian jalur transportasi linier yang dapat dirasakan manusia.

Path merupakan elemen yang paling penting dalam citra kota. Kevin Lynch menemukan

dalam risetnya bahwa jika identitas elemen ini tidak jelas, maka kebanyakan orang meragukan citra kota secara keseluruhan. Path merupakan rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan secara umum. Path mempunyai identitas yang lebih baik kalau memiliki tujuan besar (misalnya ke stasiun, tugu, alun-alun, dan lain-lain), serta ada penampakan yang kuat (misalnya fasad, pohon, dan lain-lain), atau ada belokan yang jelas.

Gambar 2. 4 Gambaran Ilustrasi Path

Sumber : Lynch, Kevin. 1960, The Image Of The City, The MIT Press, Cambridge

Orang yang mengetahui kota dengan lebih baik, biasanya telah menguasai bagian dari struktur jalan; orang-orang ini berpikir jauh dalam kaitannya dengan jalan-jalan tertentu dan saling berhubungan. Mereka mengetahui kota dengan paling baik dengan mengandalkan pada landmark kecil dan kurang tergantung pada wilayah atau pith (pusat).

(32)

Kualitas ruang mampu menguatkan citra jalan-jalan khusus, dengan cara yang sangat sederhana yang dapat menarik perhatian, dengan pengaturan kelebaran atau kesempitan jalan-jalan. Kualitas ruang kelebaran dan kesempitan mengambil bagian kepentingan mereka dari kaitan umum jalan-jalan utama dengan kelebaran dan jalan-jalan-jalan-jalan pinggir dengan kesempitan. Selain itu karakteristik facade khusus juga penting untuk identitas path, dengan menonjolkan sebagian karena facade-facade bangunan yang membatasinya. Juga dengan pengaturan tekstur trotoar dan pengaturan tanaman dapat menguatkan gambaran path dengan sangat efektif.

2.2.3. Elemen Edges (Tepian)

Edges adalah elemen linear yang tidak digunakan atau dipertimbangkan sebagai path oleh pengamat. Edges adalah batas-batas antara dua wilayah, sela-sela linier dalam kontinuitas: pantai, potongan jalur kereta api, tepian bangunan, dinding. Edges juga merupakan elemen linier yang dikenali manusia pada saat dia berjalan, tapi bukan merupakan jalur/paths. Batas bisa berupa pantai, dinding, deretan bangunan, atau jajaran pohon/ lansekap. Batas juga bisa berupa barrier antara dua kawasan yang berbeda, seperti pagar, tembok, atau sungai. Fungsi dari elemen ini adalah untuk memberikan batasan terhadap suatu area kota dalam menjaga privasi dan identitas kawasan, meskipun pemahaman elemen ini tidak semudah memahami paths.

Gambar 2. 5 Gambaran Waterfront City Lake Michigan (Desain Tepian/Edges) Sumber : Lynch, Kevin. 1960, The Image Of The City, The MIT Press, Cambridge Lake Michigan.

Contoh edge yang dapat dilihat pada skala besar yang mengeskpos Metropolis untuk dilihat. Bangunan-bangunan besar, taman, dan pantai-pantai privat kecil semua mengarah pada edge air, yang dapat diakses dan dilihat bagi semua. Edges berada pada batas antara dua

(33)

24 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

kadang-kadang ada tempat untuk masuk. Juga merupakan pengakhiran dari sebuah district yang lebih baik jika kontinuitas tampak jelas batasnya. Demikian pula fungsi batasnya harus jelas; membagi atau menyatukan. Edges sering merupakan path juga. Jika pengamat tidak berhenti bergerak pada path, maka image sirkulasi nampak merupakan gambaran yang dominan. Unsur ini biasanya digambarkan sebagai path, yang dikuatkan oleh karakteristik-karakteristik perbatasan. 2.2.4. Elemen District (Distrik)

Distrik (district) adalah kawasan kota yang bersifat dua dimensi dengan skala kota menengah sampai luas, dimana manusia merasakan ’masuk’ dan ’keluar’ dari kawasan yang berkarakter beda secara umum. Karakter ini dapat dirasakan dari dalam kawasan tersebut dan dapat dirasakan juga dari luar kawasan jika dibandingkan dengan kawasan dimana si pengamat berada. Elemen ini adalah elemen kota yang paling mudah dikenali

setelah jalur/paths, meskipun dalam pemahaman tiap individu bisa

berbeda. Districts merupakan wilayah yang memiliki kesamaan (homogen). Kesamaan tadi bisa berupa kesamaan karakter/ciri bangunan secara fisik, fungsi wilayah, latar belakang sejarah dan sebagainya.

Sebuah kawasan district memiliki ciri khas yang mirip (bentuk, pola, wujudnya) dan khas pula dalam batasnya, dimana orang merasa harus mengakhiri atau memulainya. District dalam kota dapat dilihat sebagai referensi interior maupun eksterior. Distrik mempunyai identitas yang lebih baik jika batasnya dibentuk dengan jelas tampilannya dan dapat dilihat homogen, serta fungsi dan posisinya jelas (introvert/ekstrovert atau berdiri sendiri atau dikaitkan dengan yang lain). Karakteristik-karakteristik fisik yang menentukan district adalah kontinuitas tematik yang terdiri dari berbagai komponen yang tidak ada ujungnya: yaitu tekstur, ruang, bentuk, detail, simbol, jenis bangunan, penggunaan, aktivitas, penghuni, tingkat pemeliharaan, topografi. Di sebuah kota yang dibangun dengan padat, homogenitas facade merupakan petunjuk dasar dalam mengidentifikasi district besar. Petunjuk tersebut tidak hanya petunjuk visual: kebisingan dan ketidakteraturan bisa dijadikan sebagai petunjuk. Nama-nama district juga membantu memberikan identitas, juga distrik-distrik etnik dari kota tersebut.

(34)

Gambar 2. 6 Distrik Kota

Sumber : Lynch, Kevin. 1960, The Image Of The City, The MIT Press, Cambridge

2.2.5. Elemen Nodes (Simpul)

Nodes adalah titik-titik, spot-spot strategis dalam sebuah kota dimana pengamat bisa masuk, dan yang merupakan fokus untuk ke dan dari mana dia berjalan. Nodes bisa merupakan persimpangan jalan, tempat break (berhenti sejenak) dari jalur, persilangan atau pertemuan path, ruang terbuka atau titik perbedaan dari suatu bangunan ke bangunan lain. Elemen ini juga berhubungan erat dengan elemen district, karena simpul-simpul kota yang kuat akan menandai karakter suatu district. Untuk beberapa kasus, nodes bisa juga ditandai dengan adanya elemen fisik yang kuat. Nodes menjadi suatu tempat yang cukup strategis, karena bersifat sebagai tempat bertemunya beberapa kegiatan/aktifitas yang membentuk suatu ruang dalam kota. Setiap nodes dapat memiliki bentuk yang berbeda-beda, tergantung dengan pola aktifitas yang terjadi didalamnya. Nodes merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis dimana arah atau aktivitasnya saling bertemu dan dapat diubah ke arah atau aktivitasnya lain, misalnya persimpangan lalu lintas, stasiun, lapangan terbang, jembatan, kota secara keseluruhan dalam skala makro besar, pasar, taman, square, dan sebagainya. Tidak setiap persimpangan jalan adalah sebuah nodes, yang menentukan adalah citra place terhadapnya. Nodes adalah satu tempat dimana orang mempunyai perasaan ‘masuk’ dan ’keluar’ dalam tempat yang sama. Nodes mempunyai identitas yang lebih baik jika tempatnya memiliki bentuk yang jelas (karena lebih mudah diingat), serta tampilan berbeda dari lingkungannya (fungsi, bentuk).

Persimpangan jalan atau tempat berhenti sejenak dalam perjalanan sangat penting bagi pengamat kota. Karena keputusan harus dibuat dipersimpangan jalan-persimpangan jalan, masyarakat meningkatkan perhatian mereka ditempat-tempat tersebut dan melihat unsur-unsur terdekat dengan lebih jelas. Kecenderungan ini dikonfirmasi dengan begitu berulang kali sehingga

(35)

26 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

khusus dari lokasinya. Pentingnya persepsi lokasi tersebut menunjukkan cara lain juga, ketika masyarakat ditanya dimana kebiasaan mereka pertama kali di kota, banyak yang memilih titik perhentian transportasi sebagai tempat kunci. Stasiun-stasiun kereta utama adalah hampir selalu menjadi node-node kota penting, sama halnya bandara udara. Dalam teori, persimpangan jalan biasa adalah node-node, tetapi umumnya mereka tidak mempunyai cukup keunggulan untuk dibayangkan lebih dari sekedar simpang empat, karena tidak dapat memuat banyak pusat nodes.

Gambar 2. 7 Kota Boston Sudut Jordan-Filene dan Loisburg Square Sumber : Lynch, Kevin. 1960, The Image Of The City, The MIT Press, Cambridge

Boston mempunyai sangat banyak contoh, diantaranya adalah sudut Jordan-Filene dan Louisburg Square. Sudut Jordan-Filene berfungsi sebagai persimpangan antara Washington Street dan Summer Street, dan berkaitan dengan perhentian kereta api di bawah tanah tetapi ia dikenal sebagai pusat dari pusat kota. Itulah sudut komersial “100%”, yang dilambangkan sampai tingkat yang jarang terlihat di kota Amerika, tetapi sangat akrab dengan orang-orang Amerika. Ini merupakan inti: fokus dan simbol wilayah yang penting.

2.2.6. Elemen Landmark (Penanda)

Landmark adalah titik-acuan dimana si pengamat tidak memasukinya, mereka adalah di luar. Landmark biasanya merupakan benda fisik yang didefinisikan dengan sederhana seperti: bangunan, tanda, toko, atau pegunungan. Beberapa landmark adalah landmark-landmark jauh, dapat terlihat dari banyak sudut dan jarak, atas puncak-puncak dari elemen yang lebih kecil, dan digunakan sebagai acuan orintasi. Landmark-landmark lain adalah yang bersifat lokal, hanya bisa dilihat di tempat-tempat yang terbatas dan dari jarak tertentu. ini adalah tanda-tanda yang tak terhitung, depan-depan toko, pohon-pohon, gagang pintu, dan detail perkotaan lain, yang mengisi

(36)

citra dari sebagian besar pengamat. Mereka sering digunakan sebagai petunjuk identitas dan bahkan struktur, dan diandalkan karena perjalanan menjadi semakin familiar.

Landmark adalah elemen fisik suatu kota sebagai referensi kota dimana pengamat tidak dapat masuk kedalamnya, tetapi penanda bersifat eksternal terhadap pengamat. Biasanya dikenali melalui bentuk fisik dominan dalam suatu kawasan kota seperti bangunan, monumen, toko, atau gunung. Landmark sudah dikenali dalam jarak tertentu secara radial dalam kawasan kota dan dapat dilihat dari berbagai sudut kota; tetapi ada beberapa landmark yang hanya dikenali oleh kawasan tertentu pada jarak yang relatif dekat. Landmark bisa terletak di dalam kota atau diluar kawasan kota (bedakan antara gunung dan monumen). Elemen fisik yang bersifat bergerak/mobile juga dapat dijadikan penanda, seperti matahari dan bulan. Pada skala yang lebih kecil, penanda yang lebih detail, seperti facade sebuah toko, lampu jalanan, reklame juga bisa dijadikan penanda. Secara umum, landmark merupakan suatu tanda dalam mengenali suatu kawasan.

Landmark merupakan titik referensi seperti elemen node, tetapi orang tidak masuk didalamnya karena bisa dilihat dari luar letaknya. Landmark adalah elemen eksternal dan merupakan bentuk visual yang menonjol dari kota. Beberapa landmark letaknya dekat, sedangkan yang lainnya jauh sampai di luar kota. Beberapa landmark hanya mempunyai arti di daerah kecil dan dapat dilihat hanya di daerah itu, sedangkan landmark lain mempunyai arti untuk keseluruhan kota dan bisa dilihat dari mana-mana. Landmark adalah elemen penting dari bentuk kota karena membantu orang untuk mengorientasikan diri di dalam kota dan membantu orang mengenali suatu daerah. Landmark mempunyai identitas yang lebih baik jika bentuknya jelas dan unik dalam lingkungannya, dan ada sekuens dari beberapa landmark (merasa nyaman dalam orientasi), serta ada perbedaan skala masing-masing.

(37)

28 | 2

Rencana Penataan Kerajaan Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

Piazza San Marcodi Venesia. berdiri kontras dengan karakter umum kota yang sempit, mengelilingi ruang yang berdekatan. Namun memiliki ikatan kuat dengan fitur utama kota, dan memiliki bentuk untuk berorientasi yang menjelaskan arah dan dari mana seseorang memasukinya. Hal ini sangat terstruktur dan berbeda. Ruang ini begitu khas, sehingga orang yang belum pernah ke Venesia pun akan segera mengenalinya dari foto.

(38)

3.1 Kondisi Wilayah Kecamatan Kubu

Letak lokasi wilayah perancangan terletak di Kecamatan Kubu yang merupakan salah satu

Kecamatan di Kabupaten Kubu raya dengan luas 1.211,60 km2. Luas Wilyah ini hampir 17,35

persen dari total luas kabupaten Kubu Raya dan merupakan Kecamatan terluas kedua setelah Batu Ampar. Adapun batas wilayah administrasi kabupaten ini adalah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : berbatasan dengan Kecamatan Rasau Jaya

 Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kecamatan Batu Ampar

 Sebelah Barat : berbatasan dengan Kecamatan Teluk Pakedai dan

 Sebelah Timur : berbatasan dengan Kecamatan Terentang

Gambar 3. 1 Lokasi Kecamatan Kubu

Sumber : Editing Penulis

GAMBARAN UMUM WILAYAH

03

(39)

30 | 3 Rencana Penataan Kerajaan (Pertuanan) Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

Kecamatan Kubu memiliki desa berjumlah 20 desa. Dari 20 desa yang ada, desa dengan

luas wilayah terluas adalah Desa kubu yang memiliki luas wilayah 235,08 km2 atau hampir

seperlima wilayah Kecamatan Kubu atau tepatnya 19,40 persen. Desa dengan wilayah terkecil

yang ada di Kecamatan Kubu adalah Desa Sungai Selamat dengan luas wilayah sebesar 10,00 km2

atau setara dengan 0,83 persen dari luas Kecamatan Kubu.

Ibu Kota Kecamatan Kubu adalah Desa Kubu. Jarak tempuh dan transportasi Menuju Ibu Kota Kecamatan dapat ditempuh melalui jalur darat dan jalur air. Adapun jarak tempuh menuju Ibu Kota Kecamatan adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1 Jarak Desa Ke Ibu Kota Kecamatan (Desa Kubu) Tahun 2018

No Desa Jalan Darat Jalan Air

(Km) (Km) 1 Dabung 20 25 2 Kubu - - 3 Sungai Terus 5 - 4 Teluk Nangka 3 - 5 Jangkang I 19 - 6 Jangkang II 7 - 7 Pinang Dalam 25 20 8 Kampung Baru 18 18 9 Olak-Olak Kubu 5 4 10 Pelita Jaya 8 9 11 Seruat III 33 47 12 Seruat II 40 45 13 Sungai Selamat 29 30 14 Ambawang 22 26 15 Air Putih 15 12 16 Pinang Luar 40 40 17 Bemban 22 24 18 Sepakat Baru 48 42 19 Mengkalang 52 42 20 Mengkalang Jambu 62 48

(40)

Sedangkan untuk nama desa serta satuan lingkungan dusun, RW dan RT yang berada pada Kecamatan Kubu adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2 Jumlah Desa Ke Ibu Kota Kecamatan (Desa Kubu) Tahun 2013

No Desa Dusun RW RT 1 Dabung 3 6 14 2 Kubu 8 16 36 3 Sungai Terus 3 5 11 4 Teluk Nangka 5 9 21 5 Jangkang I 3 6 13 6 Jangkang II 4 8 20 7 Pinang Dalam 3 5 10 8 Kampung Baru 5 10 20 9 Olak-Olak Kubu 5 10 32 10 Pelita Jaya 2 4 9 11 Seruat III 4 4 10 12 Seruat II 4 4 11 13 Sungai Selamat 1 2 6 14 Ambawang 4 9 14 15 Air Putih 4 5 19 16 Pinang Luar 4 8 19 17 Bemban 4 6 14 18 Sepakat Baru 1 2 4 19 Mengkalang 2 4 9 20 Mengkalang Jambu 2 2 4 Kecamatan Kubu 71 125 296

Sumber : Kecamatan Kubu Dalam Angka 2019

3.2 Kondisi Kependudukan Kecamatan Kubu

Perkembangan penduduk di Kecamatan Kubu pada tahun 2018 adalah 38.904 jiwa. Jika

dibagi dengan luas wilayah Kecamatan Kubu 1.211,60 km2, maka didapatkan angka kepadatan

penduduk sebesar 32 jiwa per km2. Adapun tabel kepadatan penduduk perdesa di kecamatan ini

adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3 Kepadatan Penduduk di Kecamatan Kubu Tahun 2018

No Desa Jumlah Penduduk Luas Desa (Km2) Kepadatan Per Km2 1 Dabung 2.419 166 15 2 Kubu 5.389 234,08 23 3 Sungai Terus 1.010 17,5 58

(41)

32 | 3 Rencana Penataan Kerajaan (Pertuanan) Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR No Desa Jumlah Penduduk Luas Desa (Km2) Kepadatan Per Km2 4 Teluk Nangka 3.079 23,5 131 5 Jangkang I 1.216 19,06 64 6 Jangkang II 1.361 12,5 109 7 Pinang Dalam 1.365 17,71 77 8 Kampung Baru 2.077 26,5 78 9 Olak-Olak Kubu 3.748 159,89 23 10 Pelita Jaya 754 13,7 55 11 Seruat III 1.582 93 17 12 Seruat II 1.749 77,5 23 13 Sungai Selamat 617 10 62 14 Ambawang 2.394 55 44 15 Air Putih 2.861 22,91 125 16 Pinang Luar 2.055 22,24 92 17 Bemban 2.944 160 18 18 Sepakat Baru 565 15 38 19 Mengkalang 1.245 32,5 38 20 Mengkalang Jambu 474 33 14 2018 38.904 1.211,60 32 2017 38.839 1.211,60 32 2016 38.757 1.211,60 32 2015 38.573 1.211,60 32 2014 38.106 1.211,60 31

Sumber : Kecamatan Kubu Dalam Angka 2019

Kenaikan kepadatan penduduk pada kecamatan penduduk dilihat dari tahun 2014-2015 tidak terlalu signifikan dan penyebaran penduduk di Kecamatan Kubu terlihat belum merata. Dari data statistik dapat dilihat kepadatan tertinggi adalah Desa Teluk Nangka sebesar 131

jiwa/km2 dan yang kedua Desa Air Putih 125 jiwa/km2. Sedangkan untuk kepadatan terendah

adalah Desa Mengkalang Jambu sebesar 14 jiwa/km2

3.3 Sejarah Kerajaan (Pertuanan) Kubu

3.3.1 Sejarah Pemerintahan Kerajaan (Pertuanan) Kubu

Sejarah berdirinya Kerajaan (Pertuanan) Kubu didirikan oleh Tuan Besar Syayid Syarif Idrus Bin Abdurrahman Al-Idrus (1780-1789). Pada awalnya Tuan Besar Sy. Idrus Bin Abdurrahman Al-Idurs membangun perkampungan di dekat muara sungai Terentang, barat-daya pulau Kalimantan sebagai benteng dengan dimaksudkan agar terhindar dari serangan lanun dan lain sebagainya.

(42)

Kedatangan Tuan Besar Sy, Idrus Bin Abdurrahman Al-idrus ini untuk menyebarkan ajaran agama Islam diikuti oleh kerabat-kerabatnya hingga akhirnya di angkat oleh penduduk sekitas sebagai Tuan Besar Kubu. Adapun nama raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan (Pertuanan) Kubu adalah sebagai berikut :

1. Raja Kubu pertama syayid Syarif Idrus Bin Abdurrahman Al-Idrus (1780-1789). 2. Raja Kubu ke dua syarif Muhammad (1789-1829).

3. Raja Kubu Ke tiga Syarif Abdurrahman (1829-1841). 4. Raja Kubu ke empat Syarif Ismail (1741-1764). 5. Raja Kubu ke lima Syarif Hasan (1764-1900); 6. Raja Kubu ke enam Syarif Abbas (1900-1911); 7. Raja Kubu ke tujuh Syarif Zein (1911-1919); 8. Raja Kubu ke delapan Syarif Saleh (1919-1944);

3.3.2 Sejarah Sosial Budaya Kerajaan (Pertuanan) Kubu

Kerajaan (Pertuanan) Kubu terdiri dari berbagai suku, diantarannya suku Melayu, Dayak, Bugis, dan Tiong Hoa tentu memiliki budaya yang beragam. Suku Melayu yang identik dengan islam adalah sebagai tonggak keberadaan Kerajaan (Pertuanan) Kubu, kehidupan sosial budaya Kerajaan (Pertuanan) Kubu banyak diserap dari kebudayaan dan kebiasaan Suku Melayu yang jumlahnya lebih mayoritas dari suku lain. Oleh karena Suku Melayu identik dengan islam, dan Kerajaan (Pertuanan) Kubu adalah Kerajaan Islam, maka banyak sekali kebudayaan-kebudayaan Melayu yang menjadi tradisi dari Kerajaan Islam di Kubu.

Pada awalnya adat atau kebudayaan ini berasal dari budaya Hindu, setelah islam masuk ke Kubu terjadilah percampuran antara budaya Hindu yang dimuati dengan sendi ajaran islam. Sampai saat ini masih belum diketahui kapan asal mula timbulnya suatu adat atau tradisi masayarakat Kubu. Umat islam merasa tradisi yang ada adalah sudah ada sejak zaman dahulu, sehingga tidak dapat dihilangkan begitu saja, apalahi garis keturunannya masih terkait dengan kerajaan atau dikenal dengan darah biru. Adat budaya yang menjadi tradisi pada masayarakat Kerajaan (Pertuanan) Kubu hingga sekarang tidak dapat dihilangkan karena sudah menjadi budaya serta ketentuan. Masyarakat muslim sangat kental dengan adat istiadat mereka yang harus diikuti, dilestarikan dan junjung tinggi.

(43)

34 | 3 Rencana Penataan Kerajaan (Pertuanan) Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR

Era globalisasi masa sekarang yang sudah menyebar ke plosok dunia hingga sampai pada masayarakat Kubu, ternyata tidak menjadikan masyarakat lupa atau sengaja menghilangkan tradisi peninggalan kerajaan. Akan tetapi, dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi bahkan tadisi atau budaya semakin dikembangkan, seperti adanya tarian-tarian menggunakan music modern. Hal ini tidak berarti era globalisasi atau moderenisasi menjadi penghapus tradisi budaya masyarakat terdahulu, namun tergantung kepada masyarakat itu sendiri yang menyakini dan masih peduli akan pentingnya mempertahankan tradisi atau kebudayaan daerah. Disamping itu juga, tidak terlepas dari peran pemerintah untuk melestarikan serta mengembangkan budaya yang ada agar tetap berlangsung.

Dilihat secara fakta, acara-acara adat Kubu terjadi perpaduan budaya lokal yang telah ada sebelum masuknya islam atau sebelum berdirinya Kerjaan Kubu dengan tata cara islam setelah masuknya islam. Sampai sekarang, acara-acara adat tersebut tidaklah terlepas daripada ajaran islam. Dapat dilihat dari upacara adat yang sengaja diadakan dalam acara-acara islam seperti Khataman Qur’an, Perkawinan, Khitan, Tepung Tawar dan sebagainnya. Inilah sebenarnya yang ingin dikenalkan kepada masayakarakat luas, bahwa Kubu adalah Kerajaan Islam yang masih tetap mempertahankan budaya lokal. Dasar ini juga yang membentuk karakter budaya masyarakat Kubu cenderung agamis dan mistis. Kemudian yang tak kalah penting bahwa adat budaya yang menjadi tradisi juga merupakan symbol dari kerajaan. Symbol ini meenunjukkan cirri khas kerajaan yang dapat membedakannya dengan kerajaan lain. Berikut ini adalah jenis-jenis seni budaya dan hiburan rakyat di Kubu :

A. Seni budaya dan hiburan Rakyat  Tanjidor

 Seni Hadrah

 Tarian Sultan Syarif Idrus Abdurrahman Al-Idrus  Tari Jepin

 Tari Ular (sulap)  Olahraga

 Silat Topeng

B. Ornamen dan Motif Kerajaan

Corak ornament dan motif yang ada pada Kerajaan (Pertuanan) Kubu yang dimaksud adalah berupa seni ukir dan lukisan yang terdapat pada kain, kayu, tembaga, dan kaca.

(44)

C. Tradisi Keagaamaan  Adat Perkawinan  Meminang  Mandi berias/bertangas  Pelangkah  Buang-Buang  Jamuan Makan  Seserahan  Nikah/Bersanding  Tepung Tawar  Walimah  Mandi-Mandi  Kelahiran  Kematian  Khitanan  Khataman Al-Qur’an

 Haul Raja Besar (Raja Pertama Kubu)  Peringatan Hari Besar Islam

 Tahyul/Kepercayaan

D. Situs Sejarah dan Peninggalan Kerajaan  Makam Raja Pertama

 Makam Syarif Zen

 Duplikasi Istana Kerajaan Di Kubu

 Puing Istana Kerta Mulya di Tanjung Bunga  Rumah Tua

 Makam Guru Besar H. Ism’ail Mundu (Mufti Kubu)  Masjid Batu

 Makam Tua Teluk Pakedai  Meriam

(45)

36 | 3 Rencana Penataan Kerajaan (Pertuanan) Kubu Komplek

LAPORAN AKHIR  Tempat Ludah  Gantang  Tangkai Tombak  Ceper Seprahan  Bukor

 Benda Pecah Belah

3.3.3 Sejarah Sosial Ekonomi Kerajaan (Pertuanan) Kubu

Perdagangan hasil hutan sudah mulai banyak terjadi seperti buah tengkawang, rotan hutan, damar termasuk kayu untuk dijadikan bahan pembuatan rumah tempat tinggal mereka. Makin banyak transaksi perdagangan maka daerah tersebut menjadi perhatian para perompak (lanum) dan bajak laut, sehingga mereka akan melakukan operasinya. Dengan demikian, mereka merencanakan akan memindahkan pusat kegiatannya ke tempat yang baru yang dianggapnya lebih aman, di kampong agak ke dalam di tepi sebatang sungai yang melintangi Sungai Kapuas Besar. Di tempat yang baru mereka membuat benteng pertahanan jika terjadi serangan perompak, benteng pertahanan yang kokoh perkasa tersebut di sebut “Kubu” sehingga lokasi kerajaan yang baru tersebut dengan nama Kerajaan (Pertuanan) Kubu.

A. Mata Pencaharian

Kehidupan masyarakat dengan mata pencahariannya tidak terlepas dari sesuatu yang dapat mendorong keseharian dalam kehidupannya, apakah itu merupakan hasil keterampilan jari dan tangan mereka ataupun sesuatu yang dihasilkan dari sumberdaya alam atau hasil hutan yang merupakan sebagai sumber pencaharian yang mendukung sosial ekonominya. Didukung dengan lahan yang terbentang luas yang dilandasi dengan azas keperluan dan kepentingan kehidupan keseharian yang dijadikan sebagai makanan pokok, maka padi merupakan perhatian utama bagi masyarakat, sehingga setiap masyarakat tidak terlepas dari upaya keluarganya menanam padi yang kemudian hasilnya dijadikan beras dan seterusnya menjadi nasi dan inilah menjadi makanan pokoknya.

B. Sumber Pendapatan dan Keuangan Kerajaan

Sumber pendapatan yang terdapat dari berbagai hasil hutan yang ada di wilayah Kerajaan (Pertuanan) Kubu antara lain tunjangan/tanggungan dari Pemerintah Belanda dalam bentuk

(46)

gaji bulanan kepada Raja dan Hasil Hutan tersebut adalah : daun nipah, rotan segak, getah jelotong (dammar), buah keranji, dan tengkawang.

a) Daun Nipah

Daun nipah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut dekat tepi laut. Daun nipah yang sudah tua banyak dimanfaatkan secara tradisional, untuk membuat atap rumah dan daya tahannya mencapai 1-3 tahun, Daun Nipah yang masih muda mirip janur kelapa, dapat dianyam untuk membuat dinding rumah yang biasa disebut kajang, juga bisa dibuat tikar, topi, dan keranjang anyaman serta banyak kerajinan lainnya. Selain itu, umbut nipah dan buah yang muda dapat dimakan. Biji buah nipah yang muda disebut tembatuk, mirip dengan kloning-kloning (buah atep), sedangkan buah yang sudah tua bisa ditumbuk untuk dijadikan tepung.

b) Rotan Segak

Rotan Segak adalah jenis tanaman yang banyak di temukan di dalam hutan atau daerah yang banyak ditumbuhi pepohonan yang ada di sekitar wilayah Kerajaan (Pertuanan) Kubu. Rotan Segak banyak dimanfaatkan untuk berbagai macam kerajinan dan alat perabotan rumah tangga, antara lain : kursi, meja, hiasan dinding, rak pakaian, dan ayunan. Tetapi sekarang tumbuhan Rotan Segak sudah sulit untuk ditemukan itu karena sudah tidak ada yang melestarikan dan mengembang biakkannya.

c) Tengkawang

Tengkawang adalah jenis tanaman yang telah lama dikenal di Indonesia. Tumbuhan baik pada daerah beriklim tropika basah serta lokasi bertanah liat, berpasir, maupun berbatu yang digenangi atau tidak digenangi air. Biji tengkawang dapat digunakan sebagai bahan baku industry demikian pula kayunya yang dikenal dengan nama kayu meranti.

Bijinya yang mengandung lemak dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan coklat, margarine, malam, sabun dan bahan kosmetik. Kayu umumnya termasuk meranti merah banyak dipergunakan untuk kayu pertukangan dan plywood. d) Damar

Gambar

Gambar 1. 1 Tampak Depan Gedung Replika Keraton (Rumah Besar) Kubu  Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gambar 1. 3 Situasi Jalur Menuju Makam Sultan Syarif Idrus Bin Abdurrahman Al-Idrus  Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gambar 1. 6  Zona Batas Deliniasi
Table 2.1 Rencana Pengembangan Koridor Jalan dan Ruas Jalan Kabupaten Kubu Raya
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait