• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian

Metode penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja), yaitu di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Yang menjadi pertimbangan di dalam penentuan wilayah adalah Kota Medan bukan merupakan sentra produksi komoditi beras dan non beras (dapat di lihat pada Lampiran 1-5), sehingga pemenuhannya sangat bergantung pada impor dari daerah penyuplai komoditi beras dan non beras. Dibutuhkan analisis ketersediaan untuk mengatur persediaan pangan untuk di konsumsi dalam daerah.

3.2 Metode Pengambilan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang berasal dari Badan Pusat Statistik Kota Medan, Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan (meliputi data: Neraca Bahan Makanan Kota Medan Tahun 2017 dan Pola Pangan Harapan Kota Medan 2016), dari berbagai buku, jurnal serta internet yang mendukung penelitian ini. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data cross section dengan tahun 2017.

3.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data

3.3.1 Untuk Membuktikan Hipotesis 1. Terdapat Tingkat Ketersediaan Beras dan Non Beras di Kota Medan Sesuai Standart

Dianalisis secara deskripif dengan pendekatan Tabel Neraca Bahan Makan (NBM) yang diperoleh dari Dinas Ketahanan Pangan untuk melihat bagaimana ketersediaan beras dan non beras di Kota Medan tergolong tinggi, sedang atau rendah.

(2)

Pada penulisan angka pada Tabel NBM mulai kolom (2) sampai dengan kolom (14), dan kolom (17) adalah dalam bilangan bulat, sedangkan untuk kolom (15), kolom (16), kolom (18) dan kolom (19) dalam bilangan pecahan dua desimal.

Menurut Utama (2015), neraca bahan makanan (NBM) merupakan Tabel yang memberikan gambaran tentang situasi ketersediaan pangan untuk di konsumsi penduduk suatu wilayah (negara/provinsi/kabupaten) dalam kurun waktu tertentu. NBM memberikan informasi tentang situasi pengadaan/penyediaan pangan, baik yang berasal dari produksi dalam negeri, impor  ekspor dan stok, serta penggunaan pangan untuk kebutuhan pakan, bibit, penggunaan untuk industri, serta informasi ketersediaan pangan untuk di konsumsi.

Ketersediaan pangan wilayah untuk suatu komoditas tertentu dapat diformulasikan sebagai berikut:

KTSP = PROD + (IP-XP) + SP

Keterangan:

KTSP = Ketersediaan pangan untuk di konsumsi manusia (ton/tahun) PROD = Produksi pangan domestik (ton/tahun)

IP = Impor (ton/tahun) XP = Ekpor (ton/tahun)

SP = Stok pangan yang dikeluarkan (ton/tahun)

Setelah ketersediaan pangan untuk di konsumsi manusia diketahui dilakukan konversi angka untuk di konsumsi manusia dari ton per tahun ke dalam kilo kalori per kapita per hari dengan cara membagi nilai ketersediaan pangan untuk di

(3)

28

konsumsi manusia dalam ton per tahun dengan hasil perkalian jumlah penduduk di Kota Medan selama satu tahun (365 hari) lalu dikalikan dengan kandungan energi pada komoditi tersebut, demikian juga pada protein, sehingga diperoleh angka ketersediaan aktual. Kemudian angka kecukupan aktual dibandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG) untuk mengetahui tingkat ketersediaan beras dan non beras di Kota Medan.

Menurut Bimtek (2016), Widiya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) X tahun 2015 telah memberi pedoman akan kebutuhan gizi yaitu :

1. Angka Kecukupan Energi (AKE) rata-rata untuk penduduk Indonesia pada tingkat konsumsi sebesar 2.150 kalori dan pada tingkat persediaan sebesar 2.400 kalori per kapita per hari.

2. Angka Kecukupan Protein (AKP) rata-rata untuk penduduk Indonesia pada tingkat konsumsi sebesar 57 gram pada tingkat ketersediaan 63 gram per kapita per hari, dengan protein hewani sebesar 15 gram yang terdiri atas 9 gram berasal dari ternak dan 6 gram berasal dari ikan.

Adapun kelompok pangan ideal untuk ketersediaan energi, yaitu: padi-padian sebesar 50% dan umbi-umbian sebesar 6% dari nilai AKG. Dan untuk ketersediaan protein, yaitu: padi-padian sebesar 30% dan umbi-umbian 4% dari dari nilai AKG protein.

(4)

3.3.2. Untuk Membuktikan Hipotesis 2. Ada Besar Rasio Ketersediaan Beras dan Non Beras Dengan Konsumsi dan Tingkat Ketahanan Komoditi Beras dan Non Beras di Kota Medan adalah Tahan Pangan.

Dianalisis secara deskripif dengan pendekatan rasio antara ketersediaan dan konsumsi beras dan non beras di Kota Medan, terlebih dahulu harus diketahui total konsumsi pangannya yang dapat diperoleh dari Dinas Ketahanan Pangan. Rasio pangan merupakan hasil perbandingan antara ketersediaan dan konsumsi pangan tersebut dengan rumus:

Rpi =

Keterangan:

Rpi = Rasio pangan diwilayah-i

KTSp = Ketersediaan pangan untuk di konsumsi manusia (ton/tahun) KBM = Konsumsi untuk bahan makanan (ton/tahun)

Menurut Winarti (2015) dikatakan ketahanan pangan bila jumlah ketersediaan pangan lebih besar 1,2 kali dibandingkan dengan jumlah konsumsi pangan:

1. Tidak tahan pangan (rawan pangan) jika rasio pangan/RP < 0,8. 2. Tahan pangan tetapi kurang terjamin jika 0,8 < RP < 1,2. 3. Tahan pangan terjamin jika RP > 1,2.

3.4 Defenisi Dan Batasan Operasional

Defenisi dan batasan operasional dalam penelitian ini di buat dengan tujuan untuk menghindari kekeliruan dan kesalahpahaman atas penafsiran dan pengertian maka digunakan defenisi dan batasan operasional sebagai berikut:

(5)

30

3.4.1 Defenisi

1. Ketersediaan pangan adalah jumlah pangan keseluruhan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

2. Ketersediaan beras adalah jumlah beras yang tersedia untuk dapat di konsumsi di Kota Medan.

3. Ketersediaan non beras adalah jumlah non beras yang tersedia untuk dapat di konsumsi di Kota Medan

4. Produksi domestik adalah jumlah tanaman pangan yang dihasilkan di Kota Medan pada periode waktu yang telah ditetapkan dengan satuan ton.

5. Stok adalah jumlah bahan pangan beras dan non beras yang tersedia di kota Medan dari tahun yang sebelumnya dengan satuan ton.

6. Impor adalah jumlah barang yang di kirim dari luar untuk memenuhi ketersediaan di Kota Medan dengan satuan ton.

7. Ekspor adalah jumlah barang yang di kirim dari Kota Medan dengan tujuan untuk meningkatkan devisa kota.

8. Ketersediaan per kapita adalah sejumlah bahan makanan yang tersedia untuk di konsumsi dalam bentuk natural ataupun unsur gizinya oleh tiap masyarakat Kota Medan dalam kurun waktu satu tahun.

9. Total konsumsi adalah jumlah keseluruhan pangan beras dan non beras yang di konsumsi dalam kurun waktu tertentu.

10. Rasio pangan diperoleh dari perbandingan antara ketersediaan beras dan non beras dengan total konsumsi di Kota Medan.

(6)

3.4.2 Batasan Operasional

1. Data yang digunakan dalam penelitian berupa data sekunder.

2. Sumber data berasal dari Badan Pusat Statistik Kota Medan dan Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan.

3. Penelitian dilakukan di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara pada tahun Agustus 2016  Maret 2017.

(7)

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.1 Sejarah Singkat Kota Medan

Kota Medan adalah salah satu wilayah yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara, merupakan kota terbesar di pulau Sumatera Utara dan selaku Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata orangutan di Bukit Lawang dan Danau Toba.

Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John

Anderson, orang Eropa yang pertama mengunjungi Deli pada tahun 1833

menemukan sebuh kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 20 orang dan seorang pemimpin bernama Tuanku Pulau Berayan sudah sejak beberapa tahun bermukim disana untuk menarik pajak dari sampan-sampan pengangkut lada yang menuruni sungai. Pada tahun 1886, Medan secara resmi memperoleh status sebagai kota, dan tahun berikutnya residen Pesisir Timur serta Sultan Deli pindah ke Medan tahun 1909, Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran. Dewan kota yang pertama terdiri dari dua belas anggota orang Eropa, dua orang Bumiputra dan seorang Tionghoa.

Menurut legendanya, dalam abad ke-15, terjadi peperangan Aru Deli Tua/Puteri Hijau dengan Aceh (Sultan Ali Muvhajatsjah) 1522 M. Dimulai di Kampung Medan, lalu terus ke Deli Tua. Peperangan itu terjadi sebanyak dua kali yang padi

(8)

akhirnya Deli Tua dan Medan tunduk ke Aceh. Kalau menurut legenda, Medan sudah berumur kurang lebih 500 tahun.

Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi besar ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Tetapi setelah tahun 1880 perusahaan perkebunan berhenti mendatangkan orang Tionghoa, karena sebahagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan kerusuhan. Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawasebagai kuli perkebunan. orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian didorong untuk mengembangan sektor perdagangan. Gelombang kedua ialah kedatangan orang Minangkabau, Mandailing dan Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang menjadi guru dan ulama.

Ada perbedaan pendapat mengenai hari jadinya Kota Medan, ini terbukti dengan terjadinya pergantian hari jadi Kota Medan yang pada awalnya bertanggal 1 April 1909 menjadi 1 Juli 1590. Sebelumnya untuk itu dibentuklah panitia khusus hari jadi Kota Medan untuk meneliti hal tersebut, sehingga nantinya diketahui kapan sebenarnya Kota Medan terbentuk. Hasil dari seminar hari jadi Kota Medan tersebut menetapkan hari jadi Kota Medan jatuh pada tanggal 1 Juli 1590. DPRD Medan juga memberikan saran supaya sidang dewan mencabut dan membatalkan hari ulang tahun Kota Medan yang selama ini sudah dirayakan pada tiap tanggal 1 April. Untuk masa mendatang perayaan hari ulang tahun Kota Medan supaya

(9)

34

dilakukan pada tiap tanggal 1 Juli dengan catatan perayaan besar-besaran dilakukan sekali dalam 5 tahun.

4.2 Letak Geografis Kota Medan

Kota Medan terletak antara 2°,27’ 2°,47’ Lintang Utara dan 98°,35’ 98°,44’ Bujur Timur dengan ketinggian 2,5  37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan terletak di posis pantai Timur Sumatera Utara yang bagian utara merupakan daerah pesisir. Kota Medan beriklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 2000  2500 mm per tahun. Kota Medan merupakan salah satu dari 33 Daerah Tingkat II di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km2. Kota ini merupakan pusat pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Kemiringan lahan kota ini sebagian besar di dominasi datar yang berda di bagian utara kota dan sebagian landai atau agak miring yang berada di bagian selatan kota dengan ketinggian dan kemiringan rendah menyebabkan pada beberapa daerah sulit untuk membuang air limpasan hujan dengan cepat, sehingga sering berlangganan genangan air hujan. Kota Medan merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli.

Untuk topografinya, cenderung miring ke utara keadaan cuaca cukup baik terutamapada bulan Mei yang cerah, suhu mendekat angka 26° Celcius, sedangkan pada bulan September karena curah hujan di hulu Sungai Deli sering mengakibatkan genangan air. Secara Administratif, batas wilayah Kota Medan sebagai berikut.

• Sebelah Utara = Berbatasan dengan Kabupaten Selat Malaka. • Sebelah Selatan = Berbatasan dengan Kec. Deli Tua dan Pancur Batu.

(10)

• Sebelah Barat = Berbatasan dengan Kec. Sunggal, Kab. Deli Serdang. • Sebelah Timur = Berbatasan dengan Kecamatan Percut, Kab. Deli serdang.

Gambar 2. Peta Kota Medan

Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km2) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara dan juga memiliki 21 kecamatan dengan 158 kelurahan. Penggunaan lahan di Kota Medan jika dipersentasekan sebagai berikut: pemukiman 36,3%; perkebunan 3,1%; lahan jasa 1,9%; sawah 6,1%; perusahaan 4,2%; kebun campuran 45,4% ndustri 1,5% dan hutan rawa 1,8%.

4.3 Hidrologi dan Klimatologi

Wilayah Kota Medan dilewati oleh sembilan sungai yaitu Sungai Belawan, Sungai Badera, Sungai Siskambing, Sungai Putih, Sungai Babura, Sunga Deli, Sungai Sulang-Saling, Sungai Kera dan Sungai Tuntungan.

(11)

36

Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum menurut Stasiun Polonia dan Stasiun Sampali berkisar antara 23,2°C  24,3°C dan suhu maksimumberkisar antara 30,8°C  33,2°C. Kelembaban udara di wilayah Kota Medan rata-rata berkisar antar 81 82%. Kecepatan angin rata-rata sebesar 2,3 m/sec, sedangkan rata-ratatotal laju penguapan tiap bulannya 108,2 mm. Hari hujan di Kota Medan rata-rata per bulan 14 hari dengan rata-rata curah hujan per bulannya 141 mm.

4.4 Komposisi Penduduk Kota Medan

Penduduk Kota Medan terdiri dari berbagai macam suku atau etnis. Sebelum kedatangan bangsa asing ke wilayah Medan yang merupakan bagian dari wilayah Sumatera Timur pada saat itu, penduduk Medan masih dihuni oleh suku-suku asli, seperti: Melayu, Simalungun, dan Karo. Namun seiring dengan hadir dan berkembangnya perkebunan tembakau di Sumatera Timur maka demografi penduduk Medan berubah dengan hadirnya suku-suku pendatang, seperti Jawa, Batak Toba, Cina dan India. Suku-suku yang ada di Kota Medan ini hidup secara harmonis dan toleran antara satu suku dengan yang lain.

Komposisi penduduk Kota Medan dapat di lihat berdasarkan suku, jenis kelamin, agama, mata pencaharian dan pendidikan. Adapun penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin, dapat di lihat pada Tabel 4.1.

(12)

Tabel 4.1 Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2015

Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4) 1 Medan Tuntungan 42.288 43.325 85.613 2 Medan Johor 65.207 66.805 132.012 3 Medan Amplas 61.176 62.674 123.850 4 Medan Denai 72.147 73.914 146.061 5 Medan Area 48.897 50.095 98.992 6 Medan Kota 36.769 37.670 74.439 7 Medan Maimun 20.086 20.577 40.663 8 Medan Polonia 27.636 28.313 55.949 9 Medan Baru 20.025 20.515 40.540 10 Medan Selayang 52.433 53.717 106.150 11 Medan Sunggal 57.192 58.593 115.785 12 Medan Helvetia 74.448 76.273 150.721 13 Medan Petisah 31.303 32.071 63.374 14 Medan Barat 35.902 36.781 72.683 15 Medan Timur 55.036 56.384 111.420 16 Medan Perjuangan 47.361 48.521 95.882 17 Medan Tembung 67.759 69.419 137.178 18 Medan Deli 89.632 91.828 181.460 19 Medan Labuhan 58.025 59.447 117.472 20 Medan Marelan 80.152 82.115 162.267 21 Medan Belawan 48.468 49.650 98 .113 JUMLAH 1.091.973 1.118.687 2.210.624

Sumber: BPS Kota Medan dalam Angka 2016

Pada Tabel 4.1 jumlah penduduk yang paling tinggi terdapat di Kecamatan Medan Deli dengan laki-laki sebesar 89.632 orang, perempuan sebesar 91.828 orang dan total jumlah penduduknya sebesar 178.147 jiwa. Dari Tahun 2012  2015 jumlah penduduk selalu mengalami peningkatan.

4.5 Gambaran Umum Kota Medan

Administrasi pemerintah Kota Medan yang dipimpin oleh seorang walikota. Pada saat ini terdiri atas 21 kecamatan dengan 151 kelurahan yang terbagi dalam 2.001 lingkungan (dapat di lihat pada Tabel 4.2). Penataan ruang yang sesuai harus mengemukakan pengaruh lingkungan alam dengan tata letak kota.

(13)

38

Tahun 4.2 Luas Wilayah Kota Medan Menurut Kecamatan dan Banyaknya Kelurahan dan Lingkungan Kecamatan di Kota Medan Tahun 2015

Sumber: BPS Kota Medan dalam Angka 2016

Pada Tabel 4.2 wilayah yang paling luas adalah kecamatan Medan Labuhan dengan luas area sebesar 36,67 km2 dan enam kelurahan, kelurahan yang paling banyak terdapat di kecamatan Medan Area dan Medan Kota dengan dua belas kelurahan.

Pembangunan kependudukan dilakukan dengan melestarikan SDA dan fungsi lingkungan hidup sehingga mobilitas dan persebaran penduduk optimal. Mobilitas dan persebaran penduduk optimal, berdasarkan pada keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Kecamatan Luas Area

(Km2) Kelurahan Lingkungan (1) (2) (3) (4) 1 Medan Tuntungan 20,68 9 75 2 Medan Johor 14,58 6 81 3 Medan Amplas 11,19 7 77 4 Medan Denai 9,05 6 82 5 Medan Area 5,52 12 172 6 Medan Kota 5,27 12 146 7 Medan Maimun 2,98 6 66 8 Medan Polonia 9,01 5 46 9 Medan Baru 5,84 6 64 10 Medan Selayang 12,81 6 63 11 Medan Sunggal 15,44 6 88 12 Medan Helvetia 13,16 7 88 13 Medan Petisah 6,82 7 69 14 Medan Barat 5,33 6 98 15 Medan Timur 7,76 11 128 16 Medan Perjuangan 4,09 9 128 17 Medan Tembung 7,99 7 95 18 Medan Deli 20,84 6 105 19 Medan Labuhan 36,67 6 99 20 Medan Marelan 23,82 5 88 21 Medan Belawan 26,25 6 143 JUMLAH 265,10 151 2.001

(14)

Tabel 4.3 Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2015 Kecamatan Penduduk (Jiwa) Rumah Tangga Kepadatan Penduduk Per Km2 (1) (3) (4) 1 Medan Tuntungan 84.613 19.848 4.140 2 Medan Johor 132.012 29.951 9.054 3 Medan Amplas 123.850 27.742 11.068 4 Medan Denai 146.061 32.506 16.139 5 Medan Area 98.992 22.373 17.933 6 Medan Kota 74.439 17.679 14.125 7 Medan Maimun 40.663 9.479 13.645 8 Medan Polonia 55.949 12.586 6.210 9 Medan Baru 40.540 11.066 6.942 10 Medan Selayang 106.150 27.684 8.286 11 Medan Sunggal 115.785 27.136 7.499 12 Medan Helvetia 150.721 33.245 11.453 13 Medan Petisah 63.374 15.700 9.292 14 Medan Barat 72.683 17.014 13.637 15 Medan Timur 111.420 26.100 14.358 16 Medan Perjuangan 95.882 23.176 23.443 17 Medan Tembung 137.178 31.033 17.169 18 Medan Deli 181.460 40.410 8.707 19 Medan Labuhan 117.472 25.862 3.203 20 Medan Marelan 162.267 34.730 6.812 21 Medan Belawan 98.113 21.885 3.738 JUMLAH 2.210.624 507.205 8.339,00

Sumber: BPS Kota Medan dalam Angka 2016

Pada Tabel 4.3 jumlah penduduk yang paling tinggi terdapat di Kecamatan Medan Deli sebesar 181.460 jiwa, dengan kepadatan penduduk per km2 sebanyak 8.707. Dapat di lihat pertambahan penduduk dari tahun 2014 ke 2015 sebesar 19.484 jiwa dengan kepadatan penduduk per km2 meningkat sebesar 73,67. Pada tahun 2015 penduduk Kota Medan mencapai 2.210.624 jiwa. Dibandingkan hasil proyeksi penduduk 2014, terjadi pertambahan penduduk sebesar 19.484 jiwa (0,89%).

(15)

40

4.6 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Medan

Selama sepuluh tahun terakhir, banyak perubahan yang terjadi pada tatanan global dan lokal yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian nasional yang berefek pada mekanisme pencatatan statistik nasional.

Melalui penghitungan PDRB dengan tahun dasar 2010, diketahui laju pertumbuhan ekonomi Kota Medan pada tahun 2015 mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (dapat di lihat pada Tabel 4.4). Pada tahun ini pertumbuhan ekonomi Kota Medan sebesar 5,74%; sedangkan tahun 2014 mencapai 6,05%. Hal ini disebabkan mayoritas lapangan usaha mengalami perlambatan pertumbuhan, yakni sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan melambat 5,01; sektor pertambangan dan penggalian menurun sebesar 4,40; sektor industri pengolahan melambat 1,37; sektor pengadaan listrik dan gas menurun sebesar 7,13; konstruksi melambat 8,09; perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor melambat 5,53; penyediaan akomodasi dan makan dan minum melambat 8,36; real estate melambat 7,51; jasa perusahaan melambat 4,94; administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib melambat 2,83; jasa kesehatan dan kegiatan sosial melambat 9,95; jasa lainnya melambat 6,97.

Sektor yang mengalami peningkatan adalah sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang sebesar 8,01; sektor transportasi dan pergudangan sebesar 2,68; sektor informasi dan komunikasi sebesar 9,51; sektor jasa keuangan dan asuransi sebesar 5,57; jasa pendidikan sebesar 8,54. Jika di lihat kontribusi masing-masing lapangan usaha pada tahun 2015 masih sangat dominan berasal

(16)

dari jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 9,95 diikuti sektor informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, penyediaan akomodasi, makan minum dan konstruksi.

Tabel 4.4 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Medan Tahun 2012  2015 No. Sektor/Lapangan Usaha Tahun 2012 2013 2014 2015 1 PDRB (ADHB) (Miliyar, Rp) 117.487,21 131.604,64 147.683,86 164.628,27 2 PDRB (ADHK) (Miliyar, Rp) 105.162,00 110.795,42 117.528,08 124.277,48 3 Laju Pertumbuhan PDRB (ADHB) (Miliyar, Rp) 7,66 5,36 6,08 5,74 4 Indeks Harga Explisit PDRB (%) 111,72 118,78 125,66 132,47 5 Laju Implisit PDRB (%) 4,87 6,32 5,79 5,43 6 Indeks Perkembangan PDRB (ADHK) (%) 133,73 140,89 149,37 157,93 7 PDRB per Kapita (ADHB) (Jutaan, Rp) 55,23 61,24 67,40 74,47 8 PDRB per Kapita (ADHK) (Jutaan, Rp) 49,43 51,55 53,64 56,22 9 Laju Pertumbuhan PDRB per Kapita (ADHB) (%) 11,65 10,88 10,07 10,49 10 Laju Pertumbuhan PDRB per Kapita (ADHK) (%) 6,47 4,29 4,04 4,81

(17)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Uji Hipotesis 1. Terdapat Tingkat Ketersediaan Beras dan Non Beras di Kota Medan Sesuai Standart

Ketersediaan pangan bertujuan untuk mengetahui pengadaan pangan dalam suatu wilayah yang diperoleh dari hasil penjumlahan antara produksi sendiri, sisa pangan tahun lalu (cadangan/stok), impor dan ekpor, dalam menjamin kebutuhan masyarakat. Di mana data tersebut dapat diperoleh dari Neraca bahan Makanan (NBM). Adapun produksi, cadangan impor dan total ketersediaan beras dan non beras di Kota Medan dapat di lihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Produksi, Cadangan, Impor dan Total Ketersediaan Beras dan Non Beras Kota Medan Tahun 2016

Jenis Bahan Makanan Produksi (ton) Cadangan (ton) Impor (ton) Total Ketersediaan (ton) (1) (2) (3) (4) (5) BERAS 11.553 11.338 573.264 596.155 NON BERAS: 101.289 22.878 193.155 317.322 Jagung 2.693 760 - 3.453 Gandum 0 21.844 101.433 123.277 Tepung Gandum 88.579 209 49.657 138.445 Ubi Jalar 793 29 22.333 23.155 Ubi Kayu 2.121 0 2.231 4.352

Ubi Kayu Gaplek 162 1 0 163

Tapioka 6.510 13 1.662 8.185

Sagu 431 22 8 461

Kentang 0 0 15.831 15.831

JUMLAH 112.842 34.216 766.419 913.477

(18)

Tingginya ketersediaan suatu komoditi di suatu wilayah dipengaruhi oleh tingkat konsumsinya. Seperti ketersediaan beras dan gandum dengan produk turunannya (tepung terigu) tergolong tinggi dikarenakan masyarakat Kota Medan paling banyak mengonsumsi keduanya dibandingkan komoditi non beras lainnya. Beras merupakan komoditi utama karbohidrat yang banyak di konsumsi dan paling di kenal masyarakat Kota Medan. Adanya anggapan bahwa belum makan jika tidak makan nasi merupakan salah satu penyebab tinggi konsumsi beras. Dan juga pola pikir masyarakat mengenai tingginya derajat sosial seseorang di masyarakat jika mengonsumsi beras dan roti di banding keluarga yang mengonsumsi umbi-umbian sebagai konsumsi sehari-hari.

Ketersediaan beras dan non beras di Kota Medan dari tertinggi ke terendah, antara lain: beras sebesar 596.155 ton, tepung terigu sebesar 138.445 ton, gandum sebesar 123.277 ton, ubi jalar sebesar 23.155 ton, kentang sebesar 15.831 ton, tapioka sebesar 8.185 ton, ubi kayu sebesar 4.352 ton, jagung sebesar 3.453 ton, sagu sebesar 461 ton dan ubi kayu gaplek sebesar 163 ton (di lihat Tabel 5.1).

Standart kecukupan gizi di Indonesia pada umumnya masih menggunakan standart makro, yaitu kecukupan kalori (energi) dan kecukupan protein. Sedangkan standart kecukupan gizi secara mikro seperti kecukupan vitamin dan mineral belum banyak diterapkan di Indonesia. Kecukupan energi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, status fisiologis, kegiatan efek termik, iklim dan apatasi. Untuk kecucukpan protein dipengaruhi oleh faktor-faktor : umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, status fisiologis, kualitas protein, tingkat konsumsi energi dan adaptasi (Muchtadi,1989).

(19)

44

Tabel 5.2 Ketersediaan Per Kapita Beras dan Non Beras Kota Medan Tahun 2016

Jenis Bahan Makanan

Ketersediaan Per Kapita

kg/thn gr/hari Kalori/hari Protein/hari

(1) (2) (3) (4) (5) BERAS 140,43 384,73 1.397 34,24 NON BERAS : 40,63 61,8 131 3,11 Jagung 1,89 4,63 8 0,19 Gandum - - - - Tepung Gandum 28,17 28,17 94 2,54 Ubi Jalar 5,32 14,59 18 0,17 Ubi Kayu 1,35 3,70 5 0,03

Ubi Kayu Gaplek 0,05 0,14 0 0,00

Tapioka 0,07 0,20 1 0,00

Sagu 0,04 0,11 0 0,00

Kentang 3,74 10,26 5 0,18

JUMLAH 181,06 446,53 1.528 37,35

Sumber: Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan, 2017

Pada Tabel 5.2 ketersediaan kalori beras dan non beras di Kota Medan tahun 2016 jika diurutkan dari yang tertinggi ke terendah, maka beras menempati posisi pertama sebesar 1.397 kkal/kap/hari; tepung gandum sebesar 94 kkal/kap/hari; ubi jalar sebesar 18 kkal/kap/hari; jagung sebesar 8 kkal/kap/hari; kentang dan ubi kayu masing-masing sebesar 5 kkal/kap/hari; tapioka sebesar 1 kkal/kap/hari; gandum, ubi kayu gaplek dan sagu masing-masing sebesar 0 kkal/kap/hari.

Sedangkan ketersediaan protein beras dan non beras dengan urutan pertama ditempati oleh beras sebesar 5,39 gr/kap/hari; tepung gandum sebesar 0,28 gr/kap/hari; jagung sbesar 0,08 gr/kap/hari; ubi jalar sebesar 0,05 gr/kap/hari; kentang sebesar 0,02 gr/kap/hari; ubi kayu sebesar 0,01 gr/kap/hari;gandum, ubi kayu gaplek, tapioka dan sagu masing-masing sebesar 0 gr/kap/hari.

(20)

Untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan meningkatkan kuantitas serta kualitas konsumsi pangan, diperlukan target pencapaian angka ketersediaaan per kapita per tahun sesuai dengan angka kecukupan gizinya. Berdasarkan Widiya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) X tahun 2015, rata-rata angka kecukupan gizi (AKG) di tingkat ketersediaan adalah sebesar 2.400 kkal/kap/hari untuk energi dan 63 gram/kap/hari untuk protein. Dimana persentase per kelompok pangan idealnya untuk ketersediaan energi, yaitu: padi-padian sebesar 50% dan umbi-umbian sebesar 6% dari nilai AKG energi. Dan untuk ketersediaan protein, yaitu: padi-padian sebesar 30% dan umbi-umbian 4% dari nilai AKG protein (Bimtek, 2016).

Nilai AKG untuk semua zat gizi kecuali energi ditetapkan selalu lebih tinggi daripada kecukupan rata-rata sehingga dapat di jamin, bahwa kecukupan hampir seluruh penduduk terpenuhi. Oleh karena itu asupan dibawah nilai AKG tidak selalu berarti tidak cukup, tetapi makin jauh di bawah nilai tersebut risiko untuk memperoleh asupan tidak cukup meningkat. Khusus untuk energi, nilai kecukupannya ditaksir setara dengan nilai pakainya sebab asupan energi yang kurang maupun lebih dari nilai pakainya akan memberikan dampak pada terganggunya kesehatan.

Tabel 5.3 Rasio Ketersediaan Aktual Beras dengan Ketersediaan AKG Kota Medan Tahun 2016

No. Kecukupan Angka

Ketersediaan Aktual Angka Ketersediaan AKG Rasio Ket

1 Energi (kkal/kap/hari) 1.397 1.128 269 Surplus 2 Protein (gr/kap/hari) 34,24 17,01 17 Surplus

(21)

46

Pada Tabel 5.3 angka ketersediaan energi aktual beras Kota Medan tahun 2016 sebesar 1.397 kkal/kap/hari. Angka ini sebesar 123,84% dari angka ketersediaan energi yang sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan oleh pemerintah. Kondisi ini disebut sebagai surplus ketersediaan energi. Dapat diketahui pula angka ketersediaan protein aktual beras sebesar 34,24 gr/kap/hari. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan protein aktual beras di Kota Medan sebesar 201,293% dari nilai standart seharusnya. Kondisi ini disebut sebagai surplus ketersediaan protein.

Kondisi surplus energi dapat terjadi pada komoditi beras dikarenakan ketersediaan beras di masyarakat yang lebih dari dibutuhkan. Dan surplus protein terjadi karena masyarakat dalam pemenuhan proteinnya belum mampu memenuhi lewat pangan hewani (yang merupakan salah satu sumber protein) sehingga masyarakat dengan pendapatan yang rendah memenuhi konsumsi protein lewat beras.

Tabel 5.4 Rasio Ketersediaan Aktual Non Beras dengan Ketersediaan AKG Kota Medan Tahun 2016

No. Kecukupan Angka

Ketersediaan Aktual Angka Ketersediaan AKG Rasio Ket

1 Energi (kkal/kap/hari) 131 216 85 Minus 2 Protein (gr/kap/hari) 3,11 4,41 1,3 Minus

Sumber: Data sekuder di olah

Pada Tabel 5.4 angka ketersediaan energi aktual non beras Kota Medan tahun 2016 sebesar 131 kkal/kap/hari. Angka ini sebesar 60,65% dari angka ketersediaan energi yang sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan oleh pemerintah. Kondisi ini disebut sebagai minus ketersediaan energi. Dapat diketahui pula angka ketersediaan protein aktual beras sebesar 3,11 gram/kap/hari. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan protein aktual

(22)

beras di Kota medan sebesar 70,52% dari nilai standart seharusnya. Kondisi ini disebut sebagai minus ketersediaan protein.

Angka ketersediaan energi aktualnya non beras rendah dikarenakan ketersediaan komoditi penghasil energi di Kota Medan tidak sama rata dibandingkan dengan komoditi beras yang tinggi. Sedangkan angka ketersediaan protein aktual komoditi non beras di Kota Medan dinyatakan dalam keadaan minus dikarenakan rendahnya jumlah ketersediaan dari komoditas pangan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. Pangan dengan sumber protein tinggi terbagi menjadi dua, yaitu: pangan nabati (meliputi: kelompok kacang-kacangan) dan pangan hewani (meliputi: telur, susu, ikan, daging, dll).

Ketersediaan non beras dinyatakaan rendah karena konsumsi yang monoton mengakibatkan jumlah produksi yang tidak merata antara beras dengan non beras di Kota Medan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Hipotesis 1 terdapat tingkat ketersediaan beras dan non beras di Kota Medan sesuai standart tidak dapat di terima.

Yang sesuai dengan penelitian Diah Winiarti (2015) dengan judul penelitian Analisis Rasio Ketersediaan dan Konsumsi Pangan strategis di Kota Medan, dimana ketersediaan beras sesuai standart. Didapat bahwa pada tahun 2009 ketersediaan beras sebesar 306.587 ton/tahun, dengan ketersediaan per kapita 0,396 Kg/hari atau 396,013 gram/hari. Untuk tahun 2011 dengan ketersediaan beras 321.870 ton/tahun, dengan ketersediaan beras per kapita 0,416 Kg/hari atau 416,506 gram/harinya. Dan untuk tahun 2013 dengan ketersediaan beras yaitu

(23)

48

sebesar 257.235 ton/tahun, dengan ketersediaan per kapita yaitu 0,330 Kg/hari atau 330,015 Gram/hari.

5.2 Hasil Uji Hipotesis 2. Ada Besar Rasio Ketersediaan Beras dan Non Beras Dengan Konsumsi dan Tingkat Ketahanan Komoditi Beras dan Non Beras di Kota Medan adalah Tahan Pangan.

Rasio antara ketersediaan dengan konsumsi perlu diketahui untuk menyusun kebijakan-kebijakan dalam menjaga ketahanan pangan. Hasil yang diperoleh dapat mengetahui bagaimana tingkat ketahanan pangan Kota Medan tahun 2016. Ada dua aspek penting dalam rasio pangan yaitu ketersediaan dan konsumsi.

Menurut Husodo (dalam Adelina, 2012) total konsumsi penduduk Kota Medan dapat diketahui dengan mengalikan konsumsi pangan per orang dengan jumlah penduduk.

Manusia mempunyai keinginan yang kuat dalam memenuhi setiap kebutuhannya, terutama dalam mengonsumsi makanan untuk memenuhi nutrisi dalam tubuh dan sebaiknya ketersediaan beras dan non beras harus melebihi konsumsinya untuk mencukupi kebutuhan dan menghindari resiko rentan atau rawan pangan.

Konsumsi beras dan non beras di Kota Medan tahun 2016 dapat diurutkan dari yang terbesar, yaitu: beras sebesar 224.702,78 ton; tepung gandum sebesar 22.698,26; kentang sebesar 10.146,57 ton; jagung sebesar 7.641,25 ton; dan ubi kayu sebesar 5.386,45 ton; ubi jalar sebesar 3.256,93 ton; sagu sebesar 1.252,66 ton; tapioka 729,98 ton; ubi kayu gaplek sebesar 171,94 ton; gandum 0 ton (lihat pada Tabel 5.5).

Kondisi ini menjelaskan bahwa masyarakat masih sangat bergantung pada beras dalam konsumsi sehari-hari, walaupun begitu banyak alternatif pangan

(24)

karbohidrat selain beras. Penyebab beras masih mendominasi konsumsi utama, antara lain: paling banyak diproduksi, dukungan pemerintah dalam pemenuhan konsumsi beras seperti pengadaan program RASKIN, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pangan alternatif selain beras dan kurangnya keragaman olahan suatu pangan alternatif.

Tabel 5.5 Total Konsumsi dan Konsumsi Per Kapita Beras dan Non Beras Kota Medan Tahun 2016

Jenis Bahan Makanan

Total Konsumsi

(ton)

Kosumsi Per Kapita kg/thn gr/hari Kalori/h ari Protein/ hari (1) (2) (3) (4) (5) (6) BERAS 224.702,78 89,69 245,74 2.187,09 958,39 NON BERAS : 51.284,04 414,92 20,47 540,31 165,90 Jagung 7.641,25 3,05 8,35 34,24 10,86 Gandum 0 0 - 0,00 0,00 Tepung Gandum 22.698,26 9,06 24,82 223,38 24,82 Ubi Jalar 3.256,93 1,3 3,45 4,49 1,38 Ubi Kayu 5.386,45 2,15 5,89 5,89 1,77 Ubi Kayu Gaplek 171,94 0,07 68,63 102,95 48,04 Tapioka 729,98 0,29 291,37 145,69 87,41

Sagu 1.252,66 0,5 1,32 0,40 0,26

Kentang 10.146,57 4,05 11,09 23,29 2,22 JUMLAH 275.986,82 110,16 660,66 2.729,39 1.124,29

Sumber: Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan, 2017

Adapun total Keseluruhan konsumsi beras dan non beras di Kota Medan sebesar 275.986,82 ton dengan jumlah konsumsi per kapita sebesar 110,16 kg/kap/tahun dan 660,66 gr/kap/hari.

(25)

50

Konsumsi pangan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu pendapatan dan kebiasaan. Jika pendapatan masyarakat meningkat maka konsumsi pangannya akan lebih baik seperti peralihan konsumsi beras biasa ke konsumsi beras organik yang harganya lebih tinggi, ataupun beralih ke konsumsi aneka ragam olahan tepung terigu, seperti roti, mie, kue, dan lain-lain. Dan kebiasaan terjadi karena faktor turun-temurun.

Tingkat ketahanan pangan terbagi menjadi tiga, yaitu: rawan pangan, tahan pangan namun rentan dan tahan pangan. Pertama, tahan pangan kondisi di mana ketersediaan > 120% dari jumlah konsumsi pangan. Kondisi ini digambarkan dengan keamanan pangan yang tidak terguncang walau sedang kritis, seperti gagal panen. Kedua, tahan pangan namun rentan di mana ketersediaan 80  120% dari jumlah konsumsi pangan. Keadaan ini kurang aman di mana jika terjadi pengurangan stok dan juga gagal panen terjadi dapat mengguncang ketahanan pangan. Ketiga, rawan pangan di mana ketersediaan < 80% dari jumlah konsumsi pangan. Di mana kondisi ini sangat berbahaya jika terjadinya gagal panen maka daerah akan mengalami dampak yang buruk seperti: kekurangan jumlah pangan yang beredar di pasar, harga yang melonjak tinggi, kekurangan gizi, dan lain-lain.

(26)

Tabel 5.6 Rasio Antara Ketersediaan dengan Konsumsi Beras dan Non Beras Kota Medan Tahun 2016

Jenis Komoditas Total Ketersediaan (ton) Total Konsumsi (ton) Rasio Tingkat Ketahanan

BERAS 596.155 224.702,78 2,65 Tahan Pangan

NON BERAS : 317.322 51.284,04 25,47 Tahan Pangan Jagung 3.453 7.641,25 0,45 Rawan Pangan

Gandum 123.277 0 0,00 Rawan Pangan

Tepung Gandum 138.445 22.698,26 6,10 Tahan Pangan Ubi Jalar 23.155 3.256,93 7,11 Tahan Pangan Ubi Kayu 4.352 5.386,45 0,81 Tahan Pangan

(Rentan) Ubi Kayu Gaplek 163 0 0,00 Rawan Pangan

Tapioka 8.185 901,92 9,08 Tahan Pangan

Sagu 461 1.252,66 0,37 Rawan Pangan

Kentang 15.831 10.146,57 1,56 Tahan Pangan

Sumber: Data Sekunder di Olah

Pada Tabel 5.6 komoditi beras dan non beras di Kota Medan tahun 2016 termasuk dalam kategori tahan pangan, dimana beras dengan rasio sebesar 2,65 dan tingkat ketahanan adalah tahan pangan dan komoditi non beras dengan rasio sebesar 25,47 dan tingkat ketahanan adalah tahan pangan.

Gandum yang merupakan salah satu komoditi non beras tergolongan rentan pangan dikarenakan ketersediaan gandum yang diperoleh dari impor. Tidak seperti padi yang di konsumsi menjadi beras, gandum di olah terlebih dahulu menjadi tepung gandum (terigu). Dapat disimpulkan bahwa tepung gandum lebih banyak di konsumsi dibandingkan gandum di Kota Medan.

(27)

52

Jumlah produksi berbanding lurus dengan konsumsi untuk menghindari kelangkaan/kelebihan produksi. Kelangkaan terjadi karena kelebihan produksi yang dapat di lihat pada komoditi ubi jalar, ubi kayu gaplek dan tapioka. Sedangkan kelangkaan terjadi dikarenakan kelebihan konsumsi, kondisi ini sangat jarang terjadi seperti yang dapat di lihat pada komoditi jagung, ubi kayu dan sagu (lihat Tabel 5.6).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Hipotesis 2 Ada besar rasio ketersediaan beras dan non beras dengan konsumsi dan tingkat ketahanan komoditi beras dan non beras di Kota Medan adalah tahan pangan dapat di terima.

Kota Medan dalam mengurangi ketergantungan konsumsi beras dapat melalui peningkatan konsumsi tapioka dan ubi jalar serta produk turunannya, dikarenakan rasio pangannya lebih tinggi dibandingkan komoditas padi (beras). Upaya yang perlu dilakukan adalah peranan aktif pemerintah dan masyarakat dalam mencapai ketahanan pangan, seperti: penyuluhan yang aktif baik melalui media atau non-media dalam pengenalan diversifikasi pangan, membuat aneka ragam olahan pangan non beras yang paling banyak diproduksi daerah setempat, seperti produk olahan yang berbahan dasar jagung muda yang dapat di konsumsi dan terakhir bukti nyata dari masyarakat dalam mengonsumsi pangan non beras serta olahannya.

(28)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Tingkat ketersediaan beras sudah sesuai standart sedangkan non beras di Kota Medan tahun 2016 belum sesuai standart, dimana angka ketersediaan energi aktual untuk beras sebesar 1.397 kkal/kap/hari dan non beras sebesar 131 kkal/kap/hari. Sedangkan angka ketersediaan protein aktual untuk beras sebesar 34,24 gr/kap/hari dan non beras sebesar 3,11 gr/kap/hari.

2. Ada besar rasio ketersediaaan beras dengan konsumsi sebesar 2,65 dan tingkat ketahanan adalah tahan pangan komoditi beras sedangkan besar rasio ketersediaaan non beras dengan konsumsi sebesar 25,47 dan tingkat ketahanan adalah tahan pangan.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, maka disampaikan saran-saran sebagai berikut:

6.2.1 Bagi Pemerintah

Dalam peningkatan ketersediaan dan konsumsi non beras di Kota Medan pemerintah perlu menerapkan teknologi terpadu untuk menciptakan keragaman olahan produk pangan terutama komoditi ubi jalar yang merupakan komoditi dengan rasio terbesar dibandingkan beras. Dalam meningkatkan ketersediaan non beras dan mengurangi ketergantungan beras di Kota Medan, pemerintah juga

(29)

54

mulut ke mulut agar terjadinya keseimbangan ketersediaan pangan beras dan non beras di Kota Medan dapat meningkat.

6.2.2 Bagi Masyarakat

Masyarakat dapat mulai mencoba atau berperan aktif dalam meningkatkan ketersediaan non beras dan mengurangi ketergantungan beras.

6.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Peneliti selanjutnya dapat menkaji dari berbagai sudut pandang yang terlewatkan oleh peneliti sebelumnya dan lebih mendalam lagi sehingga analisis ketersediaan beras dan non beras untuk Kota Medan dapat lebih spesifik dan lebih detail.

Gambar

Gambar 2. Peta Kota Medan

Referensi

Dokumen terkait

Penentuan kadar agregat pada campuran Laston untuk tiap kadar aspal didapatkan dari persen agregat tertahan masing-masing saringan dikalikan dengan berat total yang sudah

Masing-masing distribusi medan listrik dari tiap-tiap sensor dikalikan dengan sensor pasangannya untuk mendapatkan sensitivitas suatu sensor pasangan misalnya sensor nomor satu

Peubah yang diukur dengan menggunakan model ini adalah perubahan luas situ, perubahan penggunaan lahan dan pertumbuhan penduduk tahun 1991..

PDRB riil per kapita kedua propinsi tersebut tidak lebih dari Rp 5,000,000 pada tahun 2008, dan kedua propinsi tersebut memiliki persentase penduduk miskin

Konsumsi energi saat audit energi di Perkebunan Cisaruni Garut terbesar pada proses pengolahan pucuk teh menjadi teh hitam orthodox yaitu berasal dari penggunaan energi bahan

Dalam proses produksi minyak nyamplung metode industri, energi yang digunakan antara lain tenaga manusia, bahan bakar (solar dan cangkang), dan matahari.. Bagan alir dan

Data jumlah pelanggan PDAM aktif 10 tahun terakhir Data kapasitas debit PDAM Delta Tirta dalam IPAM Tawangsari Analisa jumlah penduduk kecamatan sedati Analisa jumlah

Adapun hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut : H0 = Tidak terdapat hubungan body image dengan tingkat konsumsi energi dan status gizi remaja di SMP Negeri 3 Kota Malang H1 =