BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian
Metode penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja), yaitu di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Yang menjadi pertimbangan di dalam penentuan wilayah adalah Kota Medan bukan merupakan sentra produksi komoditi beras dan non beras (dapat di lihat pada Lampiran 1-5), sehingga pemenuhannya sangat bergantung pada impor dari daerah penyuplai komoditi beras dan non beras. Dibutuhkan analisis ketersediaan untuk mengatur persediaan pangan untuk di konsumsi dalam daerah.
3.2 Metode Pengambilan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang berasal dari Badan Pusat Statistik Kota Medan, Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan (meliputi data: Neraca Bahan Makanan Kota Medan Tahun 2017 dan Pola Pangan Harapan Kota Medan 2016), dari berbagai buku, jurnal serta internet yang mendukung penelitian ini. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data cross section dengan tahun 2017.
3.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data
3.3.1 Untuk Membuktikan Hipotesis 1. Terdapat Tingkat Ketersediaan Beras dan Non Beras di Kota Medan Sesuai Standart
Pada penulisan angka pada Tabel NBM mulai kolom (2) sampai dengan kolom (14), dan kolom (17) adalah dalam bilangan bulat, sedangkan untuk kolom (15), kolom (16), kolom (18) dan kolom (19) dalam bilangan pecahan dua desimal.
Menurut Utama (2015), neraca bahan makanan (NBM) merupakan Tabel yang memberikan gambaran tentang situasi ketersediaan pangan untuk di konsumsi penduduk suatu wilayah (negara/provinsi/kabupaten) dalam kurun waktu tertentu. NBM memberikan informasi tentang situasi pengadaan/penyediaan pangan, baik yang berasal dari produksi dalam negeri, impor ekspor dan stok, serta penggunaan pangan untuk kebutuhan pakan, bibit, penggunaan untuk industri, serta informasi ketersediaan pangan untuk di konsumsi.
Ketersediaan pangan wilayah untuk suatu komoditas tertentu dapat diformulasikan sebagai berikut:
KTSP = PROD + (IP-XP) + SP
Keterangan:
KTSP = Ketersediaan pangan untuk di konsumsi manusia (ton/tahun) PROD = Produksi pangan domestik (ton/tahun)
IP = Impor (ton/tahun) XP = Ekpor (ton/tahun)
SP = Stok pangan yang dikeluarkan (ton/tahun)
28
konsumsi manusia dalam ton per tahun dengan hasil perkalian jumlah penduduk di Kota Medan selama satu tahun (365 hari) lalu dikalikan dengan kandungan energi pada komoditi tersebut, demikian juga pada protein, sehingga diperoleh angka ketersediaan aktual. Kemudian angka kecukupan aktual dibandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG) untuk mengetahui tingkat ketersediaan beras dan non beras di Kota Medan.
Menurut Bimtek (2016), Widiya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) X tahun 2015 telah memberi pedoman akan kebutuhan gizi yaitu :
1. Angka Kecukupan Energi (AKE) rata-rata untuk penduduk Indonesia pada tingkat konsumsi sebesar 2.150 kalori dan pada tingkat persediaan sebesar 2.400 kalori per kapita per hari.
2. Angka Kecukupan Protein (AKP) rata-rata untuk penduduk Indonesia pada tingkat konsumsi sebesar 57 gram pada tingkat ketersediaan 63 gram per kapita per hari, dengan protein hewani sebesar 15 gram yang terdiri atas 9 gram berasal dari ternak dan 6 gram berasal dari ikan.
3.3.2.Untuk Membuktikan Hipotesis 2. Ada Besar Rasio Ketersediaan Beras dan Non Beras Dengan Konsumsi dan Tingkat Ketahanan Komoditi Beras dan Non Beras di Kota Medan adalah Tahan Pangan.
Dianalisis secara deskripif dengan pendekatan rasio antara ketersediaan dan konsumsi beras dan non beras di Kota Medan, terlebih dahulu harus diketahui total konsumsi pangannya yang dapat diperoleh dari Dinas Ketahanan Pangan. Rasio pangan merupakan hasil perbandingan antara ketersediaan dan konsumsi pangan tersebut dengan rumus:
Rpi =
Keterangan:
Rpi = Rasio pangan diwilayah-i
KTSp = Ketersediaan pangan untuk di konsumsi manusia (ton/tahun) KBM = Konsumsi untuk bahan makanan (ton/tahun)
Menurut Winarti (2015) dikatakan ketahanan pangan bila jumlah ketersediaan pangan lebih besar 1,2 kali dibandingkan dengan jumlah konsumsi pangan:
1. Tidak tahan pangan (rawan pangan) jika rasio pangan/RP < 0,8. 2. Tahan pangan tetapi kurang terjamin jika 0,8 < RP < 1,2. 3. Tahan pangan terjamin jika RP > 1,2.
3.4 Defenisi Dan Batasan Operasional
30
3.4.1 Defenisi
1. Ketersediaan pangan adalah jumlah pangan keseluruhan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.
2. Ketersediaan beras adalah jumlah beras yang tersedia untuk dapat di konsumsi di Kota Medan.
3. Ketersediaan non beras adalah jumlah non beras yang tersedia untuk dapat di konsumsi di Kota Medan
4. Produksi domestik adalah jumlah tanaman pangan yang dihasilkan di Kota Medan pada periode waktu yang telah ditetapkan dengan satuan ton.
5. Stok adalah jumlah bahan pangan beras dan non beras yang tersedia di kota Medan dari tahun yang sebelumnya dengan satuan ton.
6. Impor adalah jumlah barang yang di kirim dari luar untuk memenuhi ketersediaan di Kota Medan dengan satuan ton.
7. Ekspor adalah jumlah barang yang di kirim dari Kota Medan dengan tujuan untuk meningkatkan devisa kota.
8. Ketersediaan per kapita adalah sejumlah bahan makanan yang tersedia untuk di konsumsi dalam bentuk natural ataupun unsur gizinya oleh tiap masyarakat Kota Medan dalam kurun waktu satu tahun.
9. Total konsumsi adalah jumlah keseluruhan pangan beras dan non beras yang di konsumsi dalam kurun waktu tertentu.
3.4.2 Batasan Operasional
1. Data yang digunakan dalam penelitian berupa data sekunder.
2. Sumber data berasal dari Badan Pusat Statistik Kota Medan dan Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan.
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1 Sejarah Singkat Kota Medan
Kota Medan adalah salah satu wilayah yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara, merupakan kota terbesar di pulau Sumatera Utara dan selaku Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata orangutan di Bukit Lawang dan Danau Toba.
Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John Anderson, orang Eropa yang pertama mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuh kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 20 orang dan seorang pemimpin bernama Tuanku Pulau Berayan sudah sejak beberapa tahun bermukim disana untuk menarik pajak dari sampan-sampan pengangkut lada yang menuruni sungai. Pada tahun 1886, Medan secara resmi memperoleh status sebagai kota, dan tahun berikutnya residen Pesisir Timur serta Sultan Deli pindah ke Medan tahun 1909, Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran. Dewan kota yang pertama terdiri dari dua belas anggota orang Eropa, dua orang Bumiputra dan seorang Tionghoa.
akhirnya Deli Tua dan Medan tunduk ke Aceh. Kalau menurut legenda, Medan sudah berumur kurang lebih 500 tahun.
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi besar ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Tetapi setelah tahun 1880 perusahaan perkebunan berhenti mendatangkan orang Tionghoa, karena sebahagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan kerusuhan. Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawasebagai kuli perkebunan. orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian didorong untuk mengembangan sektor perdagangan. Gelombang kedua ialah kedatangan orang Minangkabau, Mandailing dan Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang menjadi guru dan ulama.
34
dilakukan pada tiap tanggal 1 Juli dengan catatan perayaan besar-besaran dilakukan sekali dalam 5 tahun.
4.2 Letak Geografis Kota Medan
Kota Medan terletak antara 2°,27’ 2°,47’ Lintang Utara dan 98°,35’ 98°,44’ Bujur Timur dengan ketinggian 2,5 37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan terletak di posis pantai Timur Sumatera Utara yang bagian utara merupakan daerah pesisir. Kota Medan beriklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 2000 2500 mm per tahun. Kota Medan merupakan salah satu dari 33 Daerah Tingkat II di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km2. Kota ini merupakan pusat pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Kemiringan lahan kota ini sebagian besar di dominasi datar yang berda di bagian utara kota dan sebagian landai atau agak miring yang berada di bagian selatan kota dengan ketinggian dan kemiringan rendah menyebabkan pada beberapa daerah sulit untuk membuang air limpasan hujan dengan cepat, sehingga sering berlangganan genangan air hujan. Kota Medan merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli.
Untuk topografinya, cenderung miring ke utara keadaan cuaca cukup baik terutamapada bulan Mei yang cerah, suhu mendekat angka 26° Celcius, sedangkan pada bulan September karena curah hujan di hulu Sungai Deli sering mengakibatkan genangan air. Secara Administratif, batas wilayah Kota Medan sebagai berikut.
• Sebelah Barat = Berbatasan dengan Kec. Sunggal, Kab. Deli Serdang. • Sebelah Timur = Berbatasan dengan Kecamatan Percut, Kab. Deli serdang.
Gambar 2. Peta Kota Medan
Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km2) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara dan juga memiliki 21 kecamatan dengan 158 kelurahan. Penggunaan lahan di Kota Medan jika dipersentasekan sebagai berikut: pemukiman 36,3%; perkebunan 3,1%; lahan jasa 1,9%; sawah 6,1%; perusahaan 4,2%; kebun campuran 45,4% ndustri 1,5% dan hutan rawa 1,8%.
4.3 Hidrologi dan Klimatologi
36
Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum menurut Stasiun Polonia dan Stasiun Sampali berkisar antara 23,2°C 24,3°C dan suhu maksimumberkisar antara 30,8°C 33,2°C. Kelembaban udara di wilayah Kota Medan rata-rata berkisar antar 81 82%. Kecepatan angin rata-rata sebesar 2,3 m/sec, sedangkan rata-ratatotal laju penguapan tiap bulannya 108,2 mm. Hari hujan di Kota Medan rata-rata per bulan 14 hari dengan rata-rata curah hujan per bulannya 141 mm.
4.4 Komposisi Penduduk Kota Medan
Penduduk Kota Medan terdiri dari berbagai macam suku atau etnis. Sebelum kedatangan bangsa asing ke wilayah Medan yang merupakan bagian dari wilayah Sumatera Timur pada saat itu, penduduk Medan masih dihuni oleh suku-suku asli, seperti: Melayu, Simalungun, dan Karo. Namun seiring dengan hadir dan berkembangnya perkebunan tembakau di Sumatera Timur maka demografi penduduk Medan berubah dengan hadirnya suku-suku pendatang, seperti Jawa, Batak Toba, Cina dan India. Suku-suku yang ada di Kota Medan ini hidup secara harmonis dan toleran antara satu suku dengan yang lain.
Tabel 4.1 Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2015
Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4)
JUMLAH 1.091.973 1.118.687 2.210.624
Sumber: BPS Kota Medan dalam Angka 2016
Pada Tabel 4.1 jumlah penduduk yang paling tinggi terdapat di Kecamatan Medan Deli dengan laki-laki sebesar 89.632 orang, perempuan sebesar 91.828 orang dan total jumlah penduduknya sebesar 178.147 jiwa. Dari Tahun 2012 2015 jumlah penduduk selalu mengalami peningkatan.
4.5 Gambaran Umum Kota Medan
38
Tahun 4.2 Luas Wilayah Kota Medan Menurut Kecamatan dan Banyaknya Kelurahan dan Lingkungan Kecamatan di Kota Medan Tahun 2015
Sumber: BPS Kota Medan dalam Angka 2016
Pada Tabel 4.2 wilayah yang paling luas adalah kecamatan Medan Labuhan dengan luas area sebesar 36,67 km2 dan enam kelurahan, kelurahan yang paling banyak terdapat di kecamatan Medan Area dan Medan Kota dengan dua belas kelurahan.
Pembangunan kependudukan dilakukan dengan melestarikan SDA dan fungsi lingkungan hidup sehingga mobilitas dan persebaran penduduk optimal. Mobilitas dan persebaran penduduk optimal, berdasarkan pada keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Kecamatan Luas Area
Tabel 4.3 Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2015
JUMLAH 2.210.624 507.205 8.339,00
Sumber: BPS Kota Medan dalam Angka 2016
40
4.6 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Medan
Selama sepuluh tahun terakhir, banyak perubahan yang terjadi pada tatanan global dan lokal yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian nasional yang berefek pada mekanisme pencatatan statistik nasional.
Melalui penghitungan PDRB dengan tahun dasar 2010, diketahui laju pertumbuhan ekonomi Kota Medan pada tahun 2015 mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (dapat di lihat pada Tabel 4.4). Pada tahun ini pertumbuhan ekonomi Kota Medan sebesar 5,74%; sedangkan tahun 2014 mencapai 6,05%. Hal ini disebabkan mayoritas lapangan usaha mengalami perlambatan pertumbuhan, yakni sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan melambat 5,01; sektor pertambangan dan penggalian menurun sebesar 4,40; sektor industri pengolahan melambat 1,37; sektor pengadaan listrik dan gas menurun sebesar 7,13; konstruksi melambat 8,09; perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor melambat 5,53; penyediaan akomodasi dan makan dan minum melambat 8,36; real estate melambat 7,51; jasa perusahaan melambat 4,94; administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib melambat 2,83; jasa kesehatan dan kegiatan sosial melambat 9,95; jasa lainnya melambat 6,97.
dari jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 9,95 diikuti sektor informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, penyediaan akomodasi, makan minum dan konstruksi.
Tabel 4.4 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Medan Tahun 2012 2015
(Miliyar, Rp) 117.487,21 131.604,64 147.683,86 164.628,27
2 PDRB (ADHK)
(Miliyar, Rp) 105.162,00 110.795,42 117.528,08 124.277,48
3 Laju Pertumbuhan
PDRB (ADHB)
9 Laju Pertumbuhan
PDRB per Kapita
(ADHB) (%)
11,65 10,88 10,07 10,49
10 Laju Pertumbuhan
PDRB per Kapita
(ADHK) (%)
6,47 4,29 4,04 4,81
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Uji Hipotesis 1. Terdapat Tingkat Ketersediaan Beras dan Non Beras di Kota Medan Sesuai Standart
Ketersediaan pangan bertujuan untuk mengetahui pengadaan pangan dalam suatu wilayah yang diperoleh dari hasil penjumlahan antara produksi sendiri, sisa pangan tahun lalu (cadangan/stok), impor dan ekpor, dalam menjamin kebutuhan masyarakat. Di mana data tersebut dapat diperoleh dari Neraca bahan Makanan (NBM). Adapun produksi, cadangan impor dan total ketersediaan beras dan non beras di Kota Medan dapat di lihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Produksi, Cadangan, Impor dan Total Ketersediaan Beras dan Non Beras Kota Medan Tahun 2016
Jenis Bahan
Tingginya ketersediaan suatu komoditi di suatu wilayah dipengaruhi oleh tingkat konsumsinya. Seperti ketersediaan beras dan gandum dengan produk turunannya (tepung terigu) tergolong tinggi dikarenakan masyarakat Kota Medan paling banyak mengonsumsi keduanya dibandingkan komoditi non beras lainnya. Beras merupakan komoditi utama karbohidrat yang banyak di konsumsi dan paling di kenal masyarakat Kota Medan. Adanya anggapan bahwa belum makan jika tidak makan nasi merupakan salah satu penyebab tinggi konsumsi beras. Dan juga pola pikir masyarakat mengenai tingginya derajat sosial seseorang di masyarakat jika mengonsumsi beras dan roti di banding keluarga yang mengonsumsi umbi-umbian sebagai konsumsi sehari-hari.
Ketersediaan beras dan non beras di Kota Medan dari tertinggi ke terendah, antara lain: beras sebesar 596.155 ton, tepung terigu sebesar 138.445 ton, gandum sebesar 123.277 ton, ubi jalar sebesar 23.155 ton, kentang sebesar 15.831 ton, tapioka sebesar 8.185 ton, ubi kayu sebesar 4.352 ton, jagung sebesar 3.453 ton, sagu sebesar 461 ton dan ubi kayu gaplek sebesar 163 ton (di lihat Tabel 5.1).
44
Tabel 5.2 Ketersediaan Per Kapita Beras dan Non Beras Kota Medan Tahun
2016
Jenis Bahan Makanan
Ketersediaan Per Kapita
kg/thn gr/hari Kalori/hari Protein/hari
(1) (2) (3) (4) (5)
Sumber: Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan, 2017
Pada Tabel 5.2 ketersediaan kalori beras dan non beras di Kota Medan tahun 2016 jika diurutkan dari yang tertinggi ke terendah, maka beras menempati posisi pertama sebesar 1.397 kkal/kap/hari; tepung gandum sebesar 94 kkal/kap/hari; ubi jalar sebesar 18 kkal/kap/hari; jagung sebesar 8 kkal/kap/hari; kentang dan ubi kayu masing-masing sebesar 5 kkal/kap/hari; tapioka sebesar 1 kkal/kap/hari; gandum, ubi kayu gaplek dan sagu masing-masing sebesar 0 kkal/kap/hari.
Untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan meningkatkan kuantitas serta kualitas konsumsi pangan, diperlukan target pencapaian angka ketersediaaan per kapita per tahun sesuai dengan angka kecukupan gizinya. Berdasarkan Widiya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) X tahun 2015, rata-rata angka kecukupan gizi (AKG) di tingkat ketersediaan adalah sebesar 2.400 kkal/kap/hari untuk energi dan 63 gram/kap/hari untuk protein. Dimana persentase per kelompok pangan idealnya untuk ketersediaan energi, yaitu: padi-padian sebesar 50% dan umbi-umbian sebesar 6% dari nilai AKG energi. Dan untuk ketersediaan protein, yaitu: padi-padian sebesar 30% dan umbi-umbian 4% dari nilai AKG protein (Bimtek, 2016).
Nilai AKG untuk semua zat gizi kecuali energi ditetapkan selalu lebih tinggi daripada kecukupan rata-rata sehingga dapat di jamin, bahwa kecukupan hampir seluruh penduduk terpenuhi. Oleh karena itu asupan dibawah nilai AKG tidak selalu berarti tidak cukup, tetapi makin jauh di bawah nilai tersebut risiko untuk memperoleh asupan tidak cukup meningkat. Khusus untuk energi, nilai kecukupannya ditaksir setara dengan nilai pakainya sebab asupan energi yang kurang maupun lebih dari nilai pakainya akan memberikan dampak pada terganggunya kesehatan.
Tabel 5.3 Rasio Ketersediaan Aktual Beras dengan Ketersediaan AKG Kota Medan Tahun 2016
46
Pada Tabel 5.3 angka ketersediaan energi aktual beras Kota Medan tahun 2016 sebesar 1.397 kkal/kap/hari. Angka ini sebesar 123,84% dari angka ketersediaan energi yang sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan oleh pemerintah. Kondisi ini disebut sebagai surplus ketersediaan energi. Dapat diketahui pula angka ketersediaan protein aktual beras sebesar 34,24 gr/kap/hari. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan protein aktual beras di Kota Medan sebesar 201,293% dari nilai standart seharusnya. Kondisi ini disebut sebagai surplus ketersediaan protein.
Kondisi surplus energi dapat terjadi pada komoditi beras dikarenakan ketersediaan beras di masyarakat yang lebih dari dibutuhkan. Dan surplus protein terjadi karena masyarakat dalam pemenuhan proteinnya belum mampu memenuhi lewat pangan hewani (yang merupakan salah satu sumber protein) sehingga masyarakat dengan pendapatan yang rendah memenuhi konsumsi protein lewat beras.
Tabel 5.4 Rasio Ketersediaan Aktual Non Beras dengan Ketersediaan AKG Kota Medan Tahun 2016
No. Kecukupan Angka
Sumber: Data sekuder di olah
beras di Kota medan sebesar 70,52% dari nilai standart seharusnya. Kondisi ini disebut sebagai minus ketersediaan protein.
Angka ketersediaan energi aktualnya non beras rendah dikarenakan ketersediaan komoditi penghasil energi di Kota Medan tidak sama rata dibandingkan dengan komoditi beras yang tinggi. Sedangkan angka ketersediaan protein aktual komoditi non beras di Kota Medan dinyatakan dalam keadaan minus dikarenakan rendahnya jumlah ketersediaan dari komoditas pangan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. Pangan dengan sumber protein tinggi terbagi menjadi dua, yaitu: pangan nabati (meliputi: kelompok kacang-kacangan) dan pangan hewani (meliputi: telur, susu, ikan, daging, dll).
Ketersediaan non beras dinyatakaan rendah karena konsumsi yang monoton mengakibatkan jumlah produksi yang tidak merata antara beras dengan non beras di Kota Medan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Hipotesis 1 terdapat tingkat ketersediaan beras dan non beras di Kota Medan sesuai standart tidak dapat di terima.
48
sebesar 257.235 ton/tahun, dengan ketersediaan per kapita yaitu 0,330 Kg/hari atau 330,015 Gram/hari.
5.2 Hasil Uji Hipotesis 2. Ada Besar Rasio Ketersediaan Beras dan Non Beras Dengan Konsumsi dan Tingkat Ketahanan Komoditi Beras dan Non Beras di Kota Medan adalah Tahan Pangan.
Rasio antara ketersediaan dengan konsumsi perlu diketahui untuk menyusun kebijakan-kebijakan dalam menjaga ketahanan pangan. Hasil yang diperoleh dapat mengetahui bagaimana tingkat ketahanan pangan Kota Medan tahun 2016. Ada dua aspek penting dalam rasio pangan yaitu ketersediaan dan konsumsi.
Menurut Husodo (dalam Adelina, 2012) total konsumsi penduduk Kota Medan dapat diketahui dengan mengalikan konsumsi pangan per orang dengan jumlah penduduk.
Manusia mempunyai keinginan yang kuat dalam memenuhi setiap kebutuhannya, terutama dalam mengonsumsi makanan untuk memenuhi nutrisi dalam tubuh dan sebaiknya ketersediaan beras dan non beras harus melebihi konsumsinya untuk mencukupi kebutuhan dan menghindari resiko rentan atau rawan pangan.
Konsumsi beras dan non beras di Kota Medan tahun 2016 dapat diurutkan dari yang terbesar, yaitu: beras sebesar 224.702,78 ton; tepung gandum sebesar 22.698,26; kentang sebesar 10.146,57 ton; jagung sebesar 7.641,25 ton; dan ubi kayu sebesar 5.386,45 ton; ubi jalar sebesar 3.256,93 ton; sagu sebesar 1.252,66 ton; tapioka 729,98 ton; ubi kayu gaplek sebesar 171,94 ton; gandum 0 ton (lihat pada Tabel 5.5).
karbohidrat selain beras. Penyebab beras masih mendominasi konsumsi utama, antara lain: paling banyak diproduksi, dukungan pemerintah dalam pemenuhan konsumsi beras seperti pengadaan program RASKIN, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pangan alternatif selain beras dan kurangnya keragaman olahan suatu pangan alternatif.
Tabel 5.5 Total Konsumsi dan Konsumsi Per Kapita Beras dan Non Beras Kota Medan Tahun 2016
Jenis Bahan Makanan
Total Konsumsi
(ton)
Kosumsi Per Kapita kg/thn gr/hari Kalori/h
ari JUMLAH 275.986,82 110,16 660,66 2.729,39 1.124,29
Sumber: Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan, 2017
Adapun total Keseluruhan konsumsi beras dan non beras di Kota Medan sebesar
50
Konsumsi pangan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu pendapatan dan kebiasaan. Jika pendapatan masyarakat meningkat maka konsumsi pangannya akan lebih baik seperti peralihan konsumsi beras biasa ke konsumsi beras organik yang harganya lebih tinggi, ataupun beralih ke konsumsi aneka ragam olahan tepung terigu, seperti roti, mie, kue, dan lain-lain. Dan kebiasaan terjadi karena faktor turun-temurun.
Tabel 5.6 Rasio Antara Ketersediaan dengan Konsumsi Beras dan Non Beras Kota Medan Tahun 2016
Jenis Komoditas Total Ketersediaan
Tepung Gandum 138.445 22.698,26 6,10 Tahan Pangan Ubi Jalar 23.155 3.256,93 7,11 Tahan Pangan
Kentang 15.831 10.146,57 1,56 Tahan Pangan
Sumber: Data Sekunder di Olah
Pada Tabel 5.6 komoditi beras dan non beras di Kota Medan tahun 2016 termasuk dalam kategori tahan pangan, dimana beras dengan rasio sebesar 2,65 dan tingkat ketahanan adalah tahan pangan dan komoditi non beras dengan rasio sebesar 25,47 dan tingkat ketahanan adalah tahan pangan.
52
Jumlah produksi berbanding lurus dengan konsumsi untuk menghindari kelangkaan/kelebihan produksi. Kelangkaan terjadi karena kelebihan produksi yang dapat di lihat pada komoditi ubi jalar, ubi kayu gaplek dan tapioka. Sedangkan kelangkaan terjadi dikarenakan kelebihan konsumsi, kondisi ini sangat jarang terjadi seperti yang dapat di lihat pada komoditi jagung, ubi kayu dan sagu (lihat Tabel 5.6).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Hipotesis 2 Ada besar rasio ketersediaan beras dan non beras dengan konsumsi dan tingkat ketahanan komoditi beras dan non beras di Kota Medan adalah tahan pangan dapat di terima.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat ketersediaan beras sudah sesuai standart sedangkan non beras di Kota Medan tahun 2016 belum sesuai standart, dimana angka ketersediaan energi aktual untuk beras sebesar 1.397 kkal/kap/hari dan non beras sebesar 131 kkal/kap/hari. Sedangkan angka ketersediaan protein aktual untuk beras sebesar 34,24 gr/kap/hari dan non beras sebesar 3,11 gr/kap/hari.
2. Ada besar rasio ketersediaaan beras dengan konsumsi sebesar 2,65 dan tingkat ketahanan adalah tahan pangan komoditi beras sedangkan besar rasio ketersediaaan non beras dengan konsumsi sebesar 25,47 dan tingkat ketahanan adalah tahan pangan.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, maka disampaikan saran-saran sebagai berikut:
6.2.1 Bagi Pemerintah
54
mulut ke mulut agar terjadinya keseimbangan ketersediaan pangan beras dan non beras di Kota Medan dapat meningkat.
6.2.2 Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat mulai mencoba atau berperan aktif dalam meningkatkan ketersediaan non beras dan mengurangi ketergantungan beras.
6.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya