• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Metode Ekstraksi terhadap Kadar Albumin Ekstrak Ikan Gabus (Channastriata)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Metode Ekstraksi terhadap Kadar Albumin Ekstrak Ikan Gabus (Channastriata)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Metode Ekstraksi terhadap Kadar Albumin Ekstrak

Ikan Gabus (Channastriata)

Uswatun Chasanah1, Raditya Weka Nugraheni1

1) Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang Coresponding author: [email protected] +6285755911904

ABSTRAK

Ikan Gabus (Channa striata) merupakan sumber protein yang sangat baik. Di masyarakat ikan gabus ini sering dimanfaatkan untuk mempercepat penyembuhan pascaoperasi dan untuk memperbaiki kondisi orang yang sakit dalam bentuk ekstrak. Secara tradisional ada beberapa cara untuk memperoleh sari ikan gabus, adalah diperoleh dengan cara pengukusan atau dengan cara perebusan dalam air.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan kadar albumin yang diperoleh dari kedua metode tersebut, yakni dari hasil pengukusan dan perebusan. Pada metode perebusan diperoleh kadar albumin 3,53g setiap 100 gram fillet ikan gabus. Jumlah ini lebih dari dua kali kadar albumin yang berhasil diekstraksi dari metode pengukusan yaitu 1,42g setiap 100 gram fillet ikan gabus. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa cara perebusan lebih efektif untuk ekstraksi albumin dari ikan gabus.

Kata kunci: Ikan gabus (Channa striata), albumin, ekstraksi, pengukusan, perebusan

LATAR BELAKANG

Ikan gabus (Channa striata) merupakan jenis ikan air tawar yang bersifat liar.Ikan gabus (Channa

striata) diketahui mengandung senyawa-senyawa penting yang berguna bagi tubuh, adalah asam amino

(glisin, asam glutamat, arginin, asam aspartat) dan asam lemak (asam eicosapentanoat (EPA), asam docosahexaenoat (DHA), asam oleat, asam stearat, asam arachidonat), asam hexadekanoat, asam linoleat)[1]. Ikan gabus yang mengandung protein sampai 70%[2] tersebut banyak dikonsumsi secara

langsung sebagai lauk makanan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dilaporkan bahwa ekstrak ikan gabus terbukti dapat mempercepat penyembuhan luka, anti nyeri, anti fungi & anti bakteri, anti oksidan, anti inflamasi & antipiretik, meningkatkan kemampuan kognitif, dan dapat memberikan efek positif pada kelainan jantung dan kanker[3,4,5,6]. Sampai saat ini pemanfaatan ikan gabus dalam pengobatan

tradisional masih ada yang merupakan hasil olahan sendiri. Cara yang paling umum digunakan adalah dengan mengukus atau merebus daging ikan gabus dan kemudian air hasil pengukusan atau perebusan tersebut diminum atau langsung disiramkan pada luka. Dari berbagai cara tersebut sudah dapat dipastikan akan diperoleh kadar protein albumin yang berbeda. Oleh sebab itu maka akan dilakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan kadar albumin yang diperoleh dari hasil pengukusan dan perebusan secara tradisional tersebut. Dari hasil penelitian ini selanjutnya diharapkan dapat memberikan informasi metode sederhana pengolahan ikan gabus yang menghasilkan kadar protein albumin dengan kadar tinggi.

(2)

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental membandingkan kadar protein abumin dari hasil ekstraksi cara pengukusan dan perebusan menggunakan panci tekanan tinggi. Hasil dari kedua cara ekstraksi tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan uji T pada α=0.05.

Bahan

Ikan gabus segar diperoleh dari sungai Brantas di daerah Kepanjen, Malang Tahapan/Jalannya Pengabdian

Pembuatan ekstrak ikan gabus (Channa striata).

Ikan gabus dengan berat 400-700 gram dibersihkan dengan air. Ikan dapat dikukus segar atau disimpan dalam freezer sebelum dikukus. Pada kondisi suhu rendah, lendir ikan gabus akan dikeluarkan. Ikan dikeluarkan dari freezer dan kemudian ikan yang beku tersebut ditiriskan. Selanjutnya ikan gabus ditiriskan dan setelah itu daging ikan gabus difillet secara seksama sehingga diperoleh daging ikan gabus tanpa tulang dan kulit. Daging yang diperoleh tersebut tersebut kemudian ditimbang dan selanjutnya dilakukan proses ekstraksi.

Cara pengukusan. Daging ikan gabus yang sudah dibersihkan dipotong dengan ukuran ±1cm. Setelah itu dilakukan proses ekstraksi selama 4 jam dengan cara mengukus daging ikan gabus pada suhu 70±2,50C. Ekstrak ikan gabus yang diperoleh ini kemudian disaring dengan menggunakan

kain 4 lapis dan selanjutnya ekstrak ikan gabus tersebut dipasteurisasi dengan pemanasan 500C

selama 15 menit[7].Terakhir ekstrak ikan gabus tersebut disimpan pada suhu 40C (disimpan dalam

lemari es) sampai saat akan digunakan.

Cara perebusan. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan alat pressure cooker stainless

steel pada suhu ±1000C selama 2 jam. Daging ikan gabus dibersihkan dengan air dan kemudian

dimasukkan dalam pressure cooker stainless steel dengan ditambahkan air (ikan gabus: air = 1:4), dimasak selama30 menit. Setiap 30 menit pada pressure cooker ini ditambahkan air sehingga diperoleh volume air yang tetap seperti semula dan kemudian baru dilanjutkan dengan pemasakan selama 30 menit selanjutnya. Proses ini diulang dengan cara yang sama sampai diperoleh lama pemasakan selama 2 jam[5]. Selanjutnya daging dan ekstrak dipisahkan dan hasil ekstraksi disaring

dan selanjutnya disimpan pada suhu 40C sampai untuk digunakan.

Uji Kuantitatif Kadar Albumin Dalam Ekstrak Ikan Gabus.

Penetapan kadar albumin dalam ekstrak ikan gabus dilakukan dengan instrumen Automated

Analyzer Hitachi 902. Pengerjaan penetapan kadar albumin dilakukan oleh Laboratorium Klinik

Pattimura, Malang. HASIL PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan berdasarkan prosedur ekstraksi dengan metode pengukusan dan dengan metode perebusan menggunakan panci masak bertekanan tinggi. Penimbangan sampel dilakukan dengan timbangan gram dan pengerjaan tiap metode dilaksanakan dengan tiga kali replikasi. Pada

(3)

setiap replikasi, dilakukan pengukuran volume cairan hasil ekstraksi dan hasilnya dicatat. Dari 400gram ikan gabus (fillet, tanpa kepala dan tulang) yang diekstraksi diukur volume ekstrak yang diperoleh. selanjutnya dilakukan pengukuran kadar albumin yang terkandung dalam cairan hasil ekstraksi dengan menggunakan Automatic Analyzer Hitachi 902. Hasil sebagaimana tertera pada Tabel I.

Tabel 1. Volume dan Hasil Pengukuran Kadar Albumin

Tabel 1. Albumin yang berinteraksi dari setiap 100 gram ikan gabus

Perhitungan Persentase Albumin yang Terekstrasi dari setiap 100 gram Ikan Gabus

Berdasarkan data di atas, dilakukan perhitungan untuk mengetahui jumlah albumin yang dapat terekstraksi setiap 100 gram ikan gabus (fillet, tanpa kepala dan tulang) dengan rumus sebagai berikut:

Kadar albumin / 100g ikan gabus = volume ekstrak x kadar albumin/100mL berat fillet ikan gabus

Selanjutnya hasil dari perhitungan menggunakan rumus di atas didapatkan kadar albumin dalam setiap 100g ikan gabus sebagaimana tertera pada Tabel 2 dan Gambar 1.

(4)

Sesuai dengan hasil perhitungan di atas, maka diketahui bahwa hasil ekstraksi dengan metode perebusan memiliki kadar albumin yang lebih tinggi dibandingkan hasil ekstraksi metode pengukusan. Pada metode perebusan diperoleh kadar albumin 3,53+0,13g setiap 100 gram fillet ikan gabus. Jumlah ini lebih dari dua kali kadar albumin yang berhasil diekstraksi dari metode pengukusan yaitu 1,42+0,4 g setiap 100 gram fillet ikan gabus.

PEMBAHASAN

Berdasarkan data hasil penelitian, diketahui bahwa dari metode pengukusan berhasil didapatkan 1,42gram albumin untuk setiap 100gram ikan gabus. Sementara itu, dari metode perebusan dengan menggunakan panci masak bertekanan tinggi, berhasil diperoleh jumlah albumin yang lebih banyak yaitu 3,53gram. Karena ikan gabus yang digunakan diperoleh dari sumber yang sama, maka perbedaan hasil ini lebih disebabkan oleh adanya perbedaan metode ekstraksi yang digunakan. Pengaruh Proses Ekstraksi terhadap Kadar Albumin yang Dihasilkan

Sebagaimana protein ikan pada umumnya, kandungan protein ikan gabus dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis antara lain protein larut yang mudah diambil melalui ekstraksi, protein stromal dari jaringan ikat, dan protein kontraktil sarkoplasmik yang berupa cairan diantara myofibril. Protein sarkoplasmik yang juga dikenal dengan myogin termasuk albumin, myoalbumin, myoprotein, globulin-X, dan myostromin. Albumin, myoprotein, dan myoalbumin merupakan protein yang sangat mudah larut air. Kandungan protein sarkoplasmik berbeda-beda tergantung spesies ikan. Umumnya, ikan yang memiliki daging berwarna putih lebih banyak mengandung protein sarkoplasmik dibandingkan yang berwarna merah (Mustafa, 2012).

Berdasarkan penjelasan di atas, albumin merupakan jenis protein yang sangat mudah larut air sehingga dengan proses pemasakan metode pengukusan dan perebusan yang sama-sama melibatkan uap air, albumin yang terkandung dalam daging ikan akan diekstraksi oleh uap air dan mengembun.

Proses pemanasan pada daging ikan akan menyebabkan perubahan tekstur ikan. Hal ini terjadi akibat berbagai fenomena seperti degradasi protein myofibrilar atau kolagen, pembentukan agregat protein, serta perubahan ultrastruktur. Selama pemanasan, protein yang terkandung dalam otot ikan akan mengalami denaturasi besar-besaran sehingga menyebabkan penurunan Water Holding

Capacity (WHC) atau kemampuan menahan air, akibatnya volume daging ikan akan menyusut.

Selain itu akan terjadi perubahan struktur myofibril dan jaringan ikat, serta denaturasi dan agregasi protein sarkoplasmik (Kong, 2007). Diduga, berbagai kejadian inilah yang memungkinkan lepasnya albumin dalam daging ikan sehingga dapat larut dalam air yang tersedia selama proses ektraksi.

Pada proses pengukusan, air yang tersedia hanya berasal dari uap air sehingga volume akhir ekstraksi yang didapat tidak terlalu besar. Berbeda dengan proses perebusan yang melibatkan air dalam jumlah lebih besar, sehingga volume akhir ekstraksinya juga lebih besar. Karena albumin mudah larut dalam air, ketersediaan air sepanjang proses juga akan mempengaruhi hasil akhir jumlah albumin yang berhasil diekstraksi. Selain itu, proses perebusan dikerjakan dengan panci masak bertekanan tinggi sehingga akan memperbesar dan mempercepat proses perubahan struktur pada daging ikan, akibatnya albumin yang terkandung di dalamnya akan lebih mudah diekstraksi. Hal ini pula yang diduga mempengaruhi perbedaan kadar albumin yang didapat pada masing-masing

(5)

metode ekstraksi. Namun perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam terkait efek perebusan pada tekanan tinggi terhadap jumlah albumin yang terlarut dalam ekstrak.

KESIMPULAN

Pada metode perebusan diperoleh kadar albumin yang terekstraksi sebanyak 3,53±0,13g setiap 100 gram fillet ikan gabus dan dari metode pengukusan didapat kadar albumin terekstraksi 1,42±0,4g setiap 100g fillet ikan gabus. Berdasar hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa cara perebusan lebih efektif untuk mengekstraksi albumin ikan gabus.

DAFTAR PUSTAKA

Mocd Affendi MS & Abdul Manan MJ. Therapeutic Potential of the Haruan (Channa striatus): Form Food to Medicinal Uses. Mal L Nutr ,2012; 18(1):125-136.

Suprayitno, Eddy. Potensi Serum Albumin dari Ikan Gabus (Ophiocephalus streatus), Laporan Penelitian, 2003. Fakultas Perikanan, Universitas Brawijaya, Malang.

Zakaria, Z.A., Kumar, G.H., Mat Jais, A.M., Sulaiman, M.R. and Somchit, M.N. Antinociceptive, antiinflammatory, and Antipyretic properties of Channastriatus fillet aqueous and lipid-based extracts in rats. Methods find. Exp. Clin. Pharmacol., 2008; 30(5): 355-362.

Mat Jais, A.M., Zakaria, Z.A., Luo, A. and Song, Y.X. Antifungal activity of Channa striatus (haruan) crude extracts. International Journal of Tropical Medicine, 2008; 3(3): 43-48.

Saleem, A.M. TaufikHidayat, M., Mat Jais, A.M., Fakurazi, S., Mohamad Moklas, M.A., Sulaiman, M.R. and Amom, Z. Antidepressant-like effect of aqueous extract of Channa striatus fillet in mice models of depression. Eur. Rev. Med. Pharmacol. Sci., 2011; 15: 795-802.

Mat Jais, A.M., Dambisya, Y.M. and Lee, T.L. Antinociceptive Activity of Channaa striatus (haruan) Extracts in Mice. J. Ethnopharmacol., 1997; 57(2): 125-130.

Santosa A.H. Uji Potensi Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) sebagai Hepatoprotector pada Tikus yang Diinduksi dengan Paracetamol. Thesis. 2009. Institut Pertanian Bogor.

Gustafsson, J.E.C. 1976. Improved specificity of serum albumin determination and estimation of acute phase reactants by use of the BCG reaction. Clinical Chemistry, 22:616-662

Mustafa, A., Widodo,A.M., Kristianto, Y.,2012. Albumin and Zinc Content of Snakehead Fish (Channa striata) Extract and Its Role in Health. IEESE International Journal of Science and

Technology (IJSTE), Vol. 1 No. 2, June 2012, 1-8

Kong, F., 2007. Kinetics of Salmon (Oncorhynchus gorbuscha) Quality Changes During Thermal Proceeding. Dissertation. Washington State University.

Gambar

Gambar 1. Kadar Albumin yang diperoleh dari hasil ekstraksi metode pengukusan dan perebusan

Referensi

Dokumen terkait

Petani yang mempunyai pengetahuan limbah organik yang rendah dan dilatih dengan metode demonstrasi ternyata memiliki keterampilan dalam membuat pupuk organik yang lebih

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan pola khas pola sidik jari dan telapak tangan penderita tunanetra adalah pola-pola sulur permukaan

HIMAPOLITIK FISIP UB beralamatkan di Sekretariat Gedung Lembaga Kedaulatan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Jalan Veteran 06

Berdasarkan tabel 2 diatas diketahui bahwa mayoritas Tingkat Stres pada Mahasiswi Tingkat Akhir Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta sebanyak 13 orang

Namun orang-orang yang beriman tersebut sebelum menjadi orang yang berani dan berharap, mereka telah berkarya besar sembari menyandarkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala

Karena L/C ( Letter of Credit ) dianggap lebih mudah, aman serta terjamin kelengkapan dokumen-dokumen pengapalannya dan kemungkinan-kemungkinan atas resiko

Hasil penentuan kadar lemak kasar tepung cacing sutra (Tubifex sp.) dan tepung ikan Dari grafik hubungan kadar lemak kasar tepung cacing sutra (Tubifex sp.) dan tepung

Kualiti staf akademik merupakan salah satu komponen terpenting dalam memastikan kualiti pendidikan tinggi. Oleh itu, segala usaha perlu diambil bagi memastikan dasar berhubung