Perkembangan Pergerakan
Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
www.ajiajaya.wordpress.com
Rizki Aji, S.Sos.I
SMA Future Gate Bekasi
www.smafuturegate.com
Asal Usul Nama ‘Indonesia’
Berasal dari bahasa Latin ‘Indus’ (Hindia/India) dan dalam bahasa
Yunani ‘Nesos’ (Pulau-pulau). Kepulauan yang berada di Hindia.
Nama lain Indonesia sebelumnya ialah, Eastern Seas (Lautan Timur),
The Eastern Island (Kepulauan Timur), Indian Archipelago (Kepulauan Hindia, dan Insulinde (Pulau-pulau India).
Ketika dikuasai Belanda namanya berubah menjadi Nederlands-Indie
(Hindia-Belanda).
Nama Indonesia menjadi sebuah identitas politik untuk membedakan
diri dari kolonial Belanda sebagai sebuah bentuk perlawanan.
Ide penamaan Indonesia juga dilakukan para mahasiswa Indonesia di
Negeri Belanda yang menggalinya dari sumber etno dan geografi.
Mahasiswa Belanda tersebut mendirikan Indische Vereniging yang
kemudia berganti menjadi Indonesische Vereneging.
Di Mesir, Abdul Kahar Muzakkar bersama dengan kawan lainnya
membentuk Jama’ah Chairiah Al-Talabijja Al Azhariah Al Djawiah (Jamaah Kesejahteraan Mahasiswa ‘Jawa’ Al Azhar).
Teori Faktor Pemersatu Bangsa
Terdapat beberapa teori yang dilakukan oleh sejarawan terkait
asal-usul persatuan bangsa Indonesia.
1. Teori Sriwijaya dan Majapahit, keduanya merupakan kerajaan
nasional di Indonesia yang pernah mempersatukan Nusantara. Majapahit melalui Sumpah Palapa, Sriwijaya karena penyatuan Sumatera dan Semenanjung Malaka. Pendapat ini didukung oleh Muhammad Yamin,W.F. Stutterheim dan Bernard H.M Vlekke.
2. Teori Kolonial, berpendapat bahwa Indonesia ada karena jasa
kolonialisme Belanda. Argumen yang dibangun ialah; ide kemerdekaan muncul dari kalangan terdidik yang dibentuk oleh pendidikan gaya Eropa, sentimen anti kolonial merupakan perekat efektif, wilayah yang sekarang menjadi Indonesia adalah wilayah yang dikuasai Belanda, sistem jaringan kolonial telah terbentang dari Sumatera hingga Papua.
Gerakan Transisi Kolonialisme
Berkembangnya berbagai ajaran baru setelah kolonialisme
diantaranya sisa budaya primitif yang terpengaruh ajaran Hindu-Budha.
Masih banyaknya penganut Aliran Kebatinan seperti Kejawen maupun
Sunda Wiwitan.
Munculnya westernisasi yang membawa gerakan Theosofi yang
dipengaruhi oleh Yahudi-Kristen dengan gaya Barat.
Kolonialisme membawa agama Kristen melalui berbagai akses
pendidikan, kesehatan, dan liberalisme-sekularisme.
Islam masih bersifat massif sebelum abad ke-20 , proses dakwah dan
purifikasi ajaran tetap dilaksanakan di berbagai tempat secara perlahan.
Ide pergerakan Islam di berbagai tempat di inspirasi oleh Jamalludin
Al Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha dalam sebuah bingkai Pan-Islamisme di abad ke 19.
Faktor Pendorong Lahirnya Nasionalisme
Indonesia
Faktor Intern
1.
Kejayaan bangsa Indonesia sebelum kedatangan bangsa Barat
2.Penderitaan rakyat akibat politik drainage (pengerukan
kekayaan)
3.
Adanya diskriminasi rasial
4.
Munculnya golongan terpelajar
Faktor Ekstern
1.
Kemenangan Jepang terhadap Rusia (1904-1905)
2.Kebangkitan nasionalisme negara-negara Asia-Afrika
3.Masuknya paham-paham baru
“Pergerakan Islamlah yang lebih dulu membuka jalan medan
politik kemerdekaan di tanah ini, yang mula-mula menanam
bibit persatuan Indonesia, yang menyingkirkan sifat kepulauan
dan kepropinsian, yang mula-mula menanam persaudaraan
dengan kaum yang senasib di luar batas Indonesia dengan tali
keislaman.”
(Mohammad Natsir)
“Jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para ulama,
sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami
kepunahan”
Spirit Pergerakan Islam
Terdapat beberapa faktor landasan perjuangan umat Islam
dalam menghadapi penjajah:
1.
Perang melawan penjajah diserukan oleh Allah Ta’ala
2.
Adanya keyakinan bahwa perang mengusir penjajah adalah
Jihad fii Sabilillah, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran,
menyingkirkan penjajah dzhalim yang ingin merampas
kedaulatan suatu negara
3.
Adanya doktrin bahwa membela tanah air adalah Jihad fii
Sabilillah sehingga meniupkan jiwa patriotisme dan spirit
untuk meraih mati syahid
4.
Adanya slogan yang menggentarkan yang tercermin dalam
semangat untuk berkorban seperti pekik Bung Tomo dalam
berucap “Allahu Akbar”
Siasat Jahat Belanda Terhadap Islam
Kebencian Belanda terhadap Islam sudah ada sejak kedatangan bangsa
Belanda menginjakkan kaki pertama kali di Banten.
Siasat misi kristenisasi Belanda sudah ada melalui berbagai akses. Dengan
3G –Gold (emas/kekayaan), Glory (kejayaan), Gospel (penyebaran
agama)- Belanda melakukan Politik Belah Bambu di beberapa tempat seperti Kaum
Padri VS Kaum Adat di Minangkabau.
Belanda mengkhawatirkan dan mewaspadai ide persatuan Islam dalam dua
keadaan:
1. Dalam pelaksanaan ritual ibadah haji dimana hal tersebut merupakan
puncak berkumpulnya umat Islam dari berbagai negara.
2. Ide-ide khilafah Islamiyah (satu kepemerintahan Islam, seperti di masa
daulah Utsmaniyah yang hancur pada 1924) dimana ide tersebut selalu digagas dalam ritual ibadah haji.
Dengan demikian Belanda sangat ketat dan membatasi pelaksanaan ibadah
haji bagi yang ingin melakukannya melalui tarif yang dikenakan lebih tinggi.
Mereka yang pulang dari ibadah haji pun diawasi Belanda secara ketat baik
Sarekat Islam
Diawali oleh berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) 16 Oktober 1905 di
Surakarta, dengan pendiri H. Samanhudi seorang pengusaha batik.
Pada saat bersamaan di Batavia berdiri sekolah modern bernama Jami’at
Khair didirikan oleh pribumi keturunan Arab.
SDI dan Jami’at Khair lebih dulu ada dibandingkan dengan Budi Utomo,
sebab keduanya berdiri pada rentang waktu 1904-1905. Sedangkan Budi Utomo pada 1908.
Dua tiang utama Sarekat Islam adalah semangat dagang dalam melawan
hegemoni kapitalis asing dan semangat keislaman.
Sarekat Islam melakukan kongres pada 1912 dan kepemimpinan diampu
oleh HOS Tjokroaminoto.
HOS Tjokroaminoto, memiliki dua macam kemerdekaan yang harus dimiliki
umat Islam yakni kemerdekaan politik dengan terlepasnya umat Islam dari penjajahan dan dari kemerdekaan politik akan hasilkan kemerdekaan sejati dengan terwujudnya kemakmuran dan keadilan.
SI memiliki 5 paradigma perjuangan yakni kemauan, kekuatan, kemenangan,
kekuasaan, dan kemerdekaan.
Dalam kongres tahun 1917, SI mempertegas komitmen untuk menghalau kapitalisme
jahat (zondig kapitalisme) dengan 8 program kerja:
1. Bidang politik, SI menuntut berdirinya dewan daerah dan perluasan hak-hak
volksraad (dewan rakyat).
2. Bidang pendidikan, SI menuntut penghapusan peraturan yang bermuatan
diskriminatif di sekolah-sekolah, pelaksanaan wajib belajar 15 tahun, perbaikan lembaga pendidikan, penambahan jumlah sekolah, pemberian beasiswa, dan perluasan jenjang sekolah.
3. Bidang agama, SI menuntut dihapuskannya segala macam UU dan peraturan yang
menghambat tersebarnya Islam, pemberian gaji pada tokoh agama, penghormatan atas hari besar Islam, dan pembentukan lembaga pendidikan Islam.
4. Bidang hukum, menegakkan keadilan dan pemisahan eksekutif-yudikatif, hak yang
sama dalam hukum, dan kesetaraan di muka hukum.
5. Bidang pertanian, SI menuntut penghapusan particulere landerijen (milik tuan
tanah) dan dengan mengadakan ekspansi serta perbaikan irigasi.
6. Bidang industri, SI menuntut nasionalisasi industri.
7. Bidang keuangan, SI menuntut pemberlakuan pajak secara proporsional dan
bantuan pemerintah dalam koperasi.
8. Menuntut adanya pelarangan yang tegas bagi narkoba, judi, prostitusi, penggunaan
Muhammadiyah
Berdiri pada 18 November 1912 oleh Muhammad Darwis atau yang
dikenal dengan nama Ahmad Dahlan.
Berdiri karena keprihatinan atas kondisi kaum muslimin khususnya di
wilayah Jogjakarta.
Keprihatinan tersebut antara lain; banyaknya praktik ajaran Islam
yang tak sesuai syariat Islam (TBC), dan munculnya kristenisasi yang dilakukan pemerintah kolonial karena Belanda sukses mendesak keraton untuk mencabut larangan penginjilan.
Maka tak heran, sejak itu misionaris gencar melakukan pemurtadan
dari tahun 1850-an dan menuai hasil di awal 1900-an dengan munculnya kamp kristen di Yogyakarta dan Jateng.
Ahmad Dahlan melawan kristenisasi dengan mendirikan sekolah,
poliklinik, rumah yatim, dan pemberian santunan kepada fakir miskin.
Pendirian tersebut karena melihat pemerintah kolonial melakukan
Muhammadiyah dalam perkembangannya memiliki beberapa
tujuan, antara lain:
1.
Melindungi umat dari jeratan misionaris yang mendapat
dukungan dari Belanda.
2.
Membimbing umat untuk berakidah dan beribadah sesuai
dengan ajaran Rasulullah.
3.
Mendirikan lembaga pendidikan bagi kaum muslimin yang bisa
menyelamatkan mereka dari ancaman kesesatan akidah kaum
misionaris.
4.
Mendakwahkan Islam dengan cara santun dan berbudi namun
tetap tegas membela akidah umat.
5.
Melakukan pembaharuan (tajdid) di tengah umat.
6.Mencerdaskan kaum muslimin, dan
7.
Berkontribusi aktif dalam mempersiapkan perjuangan
KH. Ahmad Dahlan melakukan perjalanan ibadah haji
sebanyak dua kali.
Di Mekkah pemikirannya banyak dipengaruhi oleh gelora
Pan-Islamisme yang digagas oleh Muhammad Abduh dan
Jamalludin Al Afghani. Ia pun belajar dari Syaikh Ahmad
Khathib saat bermukim di sana selama 1 tahun.
Muhammadiyah memiliki sayap organisasi semisal PKU
(Penolong Kesengsaraan Umum), dan untuk wanita
memiliki organisasi Aisiyah yang sebelumnya merupakan
perubahan dari pengajian ibu-ibu Sopotrisno.
Muhammadiyah pada 1927 telah membentuk Majelis Tarjih
dan Majelis Tabligh.
Muhammadiyah tumbuh besar dan tersebar di seluruh
wilayah Indonesia dengan aset organisasi yang cukup
banyak hingga saat ini.
Al Irsyad
Didirikan di Jakarta oleh masyarakat Arab yang telah menetap sejak 1913.
Tujuan organisasi ditujukan untuk masyarakat Arab yag eksistensinya diakui
pemerintah sejak tahun 1915.
Embrio pergerakan ini berawal dari Jamiat Khair yang sudah ada sejak 1901 dan
diakui pada 1905. Tujuan awal Jamiat Khair adalah pendirian sekolah dan pengiriman pelajar ke Turki.
Jamiat Khair merupakan jawaban atas diskriminasi belanda terhadap etnis Arab di
Indonesia. Lain halnya perlakuan Belanda terhadap etnis Cina yang diberikan hak istimewa, salah satunya adalah didirikan sekolah Tiong Hoa Hwen Koan dan Hollandse Chinese School.
Berdiri sekolah Jamiat Khair untuk umum dengan bahasa pengantar
Melayu-Indonesia yang merupakan lingua franca dan memberikan pelajaran agama Islam secara memadai.
Guru didatangkan dari dalam dan luar negeri seperti H. Muhammad Mansur, Ahmad
Surkati, Muhammad Thaib, dan Muhammad Abdul Hamid.
Perpecahan di tubuh Jamiat Khair terjadi karena adanya pengkotakan antara klan
sayyid dan non-sayyid.
Hingga akhirnya pecah dan kelompok yang berseberangan membentuk Jam’iyyat Al
Islam wal Irsyad Al Arabiyya. Didirikan oleh Syaikh Umar Manqus dan didukung oleh Ahmad Surkati.
Kegiatan yang dilakukan oleh Al Irsyad tidak jauh berbeda
dengan
Jamiat
Khair, seperti
melakukan
aktivitas
pendidikan tingkat dasar (HIS/MULO) dan sekolah guru
(kweekschool)
dan
juga
program
takhasus
agama/pendidikan/bahasa selama 2 tahun.
Al Irsyad juga bekerjasama dengan Muhammadiyah dan
Persis. Al Irsyad juga melebarkan sayap di berbagai wilayah
seperti Cirebon, Bumiayu, Tegal, Pekalongan, Surabaya, dan
Lawang.
Al Irsyad juga bergabung dalam Majelis Islam A’la Indonesia
pada saat organisasi tersebut berdiri pada 1937.
Melalui AL Irsyad ini, masyarakat Arab di Indonesia
Persatuan Islam (Persis)
Persis didirikan oleh beberapa pedagang di Bandung dari
sebuah diskusi intensif sekitar tahun 1920-an. Dikukuhkan
secara resmi pada 12 September 1923.
Diskusi dilakukan oleh 3 keluarga besar, yang paling
menonjol adalah Haji Zamzam, A. Hassan, dan Haji M.
Yunus.
Persis berdiri dengan maksud memperluas diskusi
keagamaan yang selama ini diselenggarakan oleh pendiri.
Persis berbeda dengan organisasi modern Islam lainnya.
Persis hadir sebagai sebuah klub studi di tengah maraknya
organisasi nasional lain semisal PNI dan Jong Islamiten
Bond di tahun 1920-1930an.
Persis memiliki karakter khas dibanding organisasi Islam lainnya,
karakter tersebut:
1. Konsistensi dalam pengembangan wacana pemikiran keagamaan 2. Menghendaki adanya purifikasi ajaran Islam
3. Mempublikasikan hasil diskusi di tengah masyarakat Islam
4. Keberanian melakukan diskusi atau debat terhadap pihak yang
berseberangan pemikiran
5. Menggagas persatuan dan kesatuan umat dilandasi dengan akidah
yang shahihah dan ibadah sunnah
Tokoh Persis yang populer antara lain A. Hassan, Isa Anshary, dan M.
Natsir.
Persis pun tak pernah ragu untuk menantang diskusi dan berdebat
tokoh nasionalis, sehingga muncul serial Soekarno-A. Hassan atau Soekarno-M. Natsir tentang politik Islam.
Penetrasi Persis lebih banyak terjadi di wilayah Jawa Barat.
Persis pun diawal pernah pecah, sebab terjadi pergulatan sengit
antara pihak purifier dan tradisonal. Sehingga pihak tradisional dari kalangan Persis memisahkan diri menjadi Pemoefakatan Islam.
Nahdlatul Ulama
Organisasi bercorak tradisional yang berdiri di Surabaya 31 Januari
1926 oleh KH. Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng, Jombang), KH. Mas Alwi Abdul Aziz (yang menggagas nama NU), dan KH. Bisyri (Denanyar, Jombang). Dengan motor penggerak KH. Abdul Wahab Hasbullah (Tambak Beras, Jombang).
NU berdiri karena muncul ketidakpuasan kaum tradisionalis atas
kongres Al-Islam di Bandung 6 Februari 1926 yang memutuskan Tjokroaminoto (SI) dan KH. Mas Mansyur (Muhammadiyah) yang diutus menjadi perwakilan Kongres Khilafah di Mekkah.
Kekecewaan itu muncul karena NU menginginkan agar kebiasaan
agama seperti membangun kuburan, membaca do’a seperti dalaailul khairat, dan ajaran mazhab agar kesemuanya dihormati oleh penguasa Arab yang baru (Ibnu Saud). Akan tetapi usul ini tak mendapat respon dari peserta Kongres yang di dominasi kalangan modernis dan pembaharu.
Akhirnya NU mundur dari Kongres Khilafah yang sudah ada sejak
1924 dan membentuk Komite Hijaz (31 Januari 1926) bersama dengan para tokoh Pesantren Jawa Timur lainnya yang namanya berubah menjadi Nahdlatul Ulama.
Komite Hijaz mengusulkan kepada Raja Saudi terkait
dengan keinginannya yang tidak diakomodir pada Kongres
Khilafah. Akan tetapi usulan tersebut dibalas oleh Raja
Saudi dengan tidak memuaskan Komite Hijaz.
Raja Saudi berpendapat bahwa “Melakukan perbaikan di
Hijaz merupakan tanggung jawab siapa saja yang
memerintah negeri itu. Ia juga berjanji akan memperbaiki
keadaan perjalanan haji sejauh perbaikan tidak melanggar
ketentuan Islam. Ia juga sependapat bahwa pada umumnya
kaum muslimin bebas dalam menjalankan praktik agama
dan keyakinan mereka kecuali urusan yang diharamkan
Allah dan urusan yang tidak ada dalilnya, baik dalam Al
Qur’an, Sunnah Nabi, pendapat Salafush Shalih, dan
madzhab Imam yang 4.
Kegiatan utama yang dilakukan NU pada awalnya ialah:
1.
Pada tahun awal lebih concern terhadap urusan Komite
Hijaz.
2.
Kegiatan
lain adalah terkait masalah keagamaan
terutama mengeluarkan fatwa sesuai dengan Mazhab
Imam Syafii. Pembahasan agama ini dilakukan oleh
Bahtsul Masaail yang sama dengan Majelis Tarjih
Muhammadiyah.
3.
Masalah lain ialah masalah ekonomi terkait dengan
kepengurusan wakaf kaum muslimin.
4.
Dalam masalah politik, NU selalu terlibat di dalamnya.
NU menyebar ke seluruh P. Jawa melalui jaringan
Organisasi Berhalauan Sekuler
Terdapat beberapa organisasi non-Islam atau sekuler yang
mengatasnamakan nasionalisme, mereka berdiri karena satu
faktor dan lain hal. Organisasi tersebut antara lain:
1.
Budi Utomo
2.
Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging)
3.Indische Partij
4.
Partai Komunis Indonesia
5.Partai Nasionalis Indonesia
6.Parindra
7.
Gerindo
8.
Organisasi Kewanitaan
9.Organisasi Kepemudaan
Budi Utomo
Berdiri di Batavia tepatnya di STOVIA (School Tot Opleiding Voor
Inlandsche Artsen) atau sekolah kedokteran pribumi pada 20 Mei 1908. nama lengkap dari organisasi ini adalah het Jong Javaansch Verbond.
Nama Budi diambil dari kata Buddhi (keterbukaan jiwa, pikiran,
kesadaran, akal, pengadilan) dan kata Uttama yang berarti tingkat pertama. Sehingga bisa diartikan sebagai kesadaran atau kebajikan atau keutamaan.
Pencetusnya adalah dr. Wahidin Sudiro Husodo. Dengan tokohnya
antara lain R. Soetomo, Tjipto Mangunkoesoemo, Oewarno, R. Angka, M. Soewarno, M. Soeradji, M. Gembroek, M. Soeleman, Moehammad Saleh.Yang mereka semua adalah murid-murid dari STOVIA.
Tujuan Budi Utomo adalah memperluas dan meningkatkan
pendidikan bagi bangsa Indonesia melalui Studiefonds (Dana Pelajar). Selain itu bertujuan untuk meningkatkan derajat bangsa Indonesia.
Budi Utomo ialah organisasi bercorak Jawa sebab para
pendirinya adalah keturunan bangsawan Jawa. Organisasi
ini juga sangat kental menampakkan wajah Barat dari sifat
maupun tujuan.
Budi Utomo memiliki kedekatan dengan Theosofi dan
Freemasonry dimana keduanya digerakkan oleh aktivis
Zionis-Yahudi.
Budi Utomo yang bercorak jawa megedepankan asas
universalitas seperti Theosofi dan Freemasonry. Sehingga
Budi Utomo dianggap tidak berpihak pada Islam.
Budi Utomo juga ditunggangi oleh Belanda karena
organisasi tersebut dipelopori oleh para priyai yang
menjabat sebagai bupati kolonial Belanda.
Perhimpunan Indonesia
Didirikan oleh Mahasiswa Indonesia di Belanda pada 1908.
Tujuan awal adalah menghilangkan pengaruh kolonial di
Indonesia.
Ide-ide mereka ditumpahkan dalam majalah Indonesia Merdeka
yang juga terbit di Indonesia selain di Belanda.
Tokohnya antara lain ialah Mohammad Hatta.
PI dianggap radikal oleh Belanda sebab acapkali bicara pada
forum internasional semisal di Prancis dan Belgia soal
penjajahan Belanda yang tak manusiawi.
PI tamat riwayatnya setelah Belanda melakukan penangkapan
kepada para aktivis PI seperti M. Hatta dan Ali Sastroamijoyo.
Akhirnya sisa perjuangan PI melebur ke organisasi lain semiisal
Indische Partij
Didirikan pada 25 Desember 1912 di Bandung oleh E.F.E
Douwes Dekker.
Para aktivisnya ialah Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo,
dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).
Organisasi ini memiliki keberanian untuk menyatakan sebagai
sebuah partai yang bergerak di bidang politik praktis.
Tujuan pendirian partai tersebut adalah agar dapat berusaha
menentukan kebijakan bersama pemerintah.
Organisasi ini bersifat kejawaan dan elitis sehingga hanya di
akses oleh kalangan masyarakat tertentu saja.
Peminat pergerakan ini hanya berasal dari kalangan Indo
keturunan Belanda sebab memang itu target awalnya sebagai
kendaraan untuk mendapatkan kesetaraan dengan bangsa
Belanda asli. Serta kalangan pribumi yang menjadi barisan sakit
hati karena kecewa terhadap Budi Utomo,
Partai Komunis Indonesia
Menganut paham komunisme yang menolak agama dalam kehidupan publik.
Sehingga tidak boleh ada kaitan antara agama dengan politik pada suatu kepemerintahan/kepemimpinan.
Pembawa ajaran komunisme di Indonesia ialah H.J.F.M Sneevlit dari Partai
Buruh Sosial Demokrat Belanda pada 1913 yang awalnya bekerja pada surat kabar Soerabajaasch Handelsblad. Yang akhirnya berkerja sebagai pegawai Vereniging Van Spoor en Traaveg Personeel yaitu perusahaan kereta api pada 1908.
Mei 1914 ia membentuk ISDV (De Indische Sociaal Demokratische Vereniging)
yang menyebarkan paham Marxisme hasil pemikiran Karl Marx.
ISDV berhasil menunggangi Sarekat Islam yang menjadi gerakan Islam terbesar.
SI Semarang menjadi tujuan yang dipimpin oleh Semaun dan Darsono.
Lambat laun SI Semarang berhalauan Marxis-Komunis yang menyebabkan
pemisahan diri SI di Semarang menjadi SI-Merah atau Si Afdeling B. Adapun SI yang masih mempertahankan ideologi Islam menjadi SI Putih.
Akhirnya SI Merah dikeluarkan dari organ SI secara umum dan mengubah nama
menjadi Persarekatan Islam lalu kemudian berubah lagi menjadi Sarekat Rakyat.
Tokoh Sarekat Rakyat banyak memelintir Al Quran sebagai propaganda seperti
yang dilakukan oleh Haji Misbach dan Kyai Samin.
1924 di deklarasikan PKI namun 1926-1927 PKI goyah karena
mencoba melakukan pemberontakan terhadap Belanda akan
tetapi mengalami kekalahan sebab tak mendapat dukungan
rakyat.
Pemberontakan tersebut diimpin oleh Alimin dan Darsono.
Tokoh PKI banyak yang dibuang ke Boven Digul.
Rentang waktu 10 tahun PKI vakum, dan hidup kembali oleh
Muso pada 1935.
Muso adalah tokoh yang diselamatkan saat pemberontakan PKI
terhadap Belanda.
Muso diselamatakan oleh Komintern (Komunis Internasional)
Rusia.
Aktivitas tokoh PKI sejak dibubarkan kedua kalinya banyak
yang bergabung ke Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang
digawangi oleh Amir Syarifudin yang hendak dihukum mati oleh
Jepang karena bekerjasama dengan Belanda membentuk
jaringan intelejen,tapi dilindungi oleh Soekarno Hatta.
Partai Nasional Indonesia
Berdiri pada 4 Juli 1927 dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia dan
berubah pada Mei 1928 dengan nama Partai.
PNI dapat dikatakan sebagai kepanjangan tangan dari PI sebab tokoh-tokohnya
diantaranya ialah tokoh PI. Tokoh paling karismatik di PNI ialah pendirinya yakni Soekarno.
Soekarno menawarkan ideologi baru yakni nasionalisme (terkonsentrasi pada
negeri sendiri) sebagai jalan tengah antara Islamisme dan komunisme.
Bagi Soekarno agama adalah baik bila terkonsentrasikan pada kepentingan
duniawi yakni kemerdekaan dan kesejahteraan, padahal prinsip beragama ialah bersifat menyeluruh menyentuk aspek ruhiyah dan jasmaniyah.
PNI melakukan aksi dengan menyelenggarakan rapat-rapat umum
(demonstrasi) dan menerbitkan surat kabar.
PNI acapkali melakukan pemberontakan dan Belanda sangat menyoroti kiprah
PNI dengan mengawasi tindak-tanduknya.
Puncaknya, 29 Desember 1926 para aktivis PNI diberbagai kota ditangkap
secara serempak.
PNI dibubarkan pada 25 April 1931 secara terpaksa.
Keadaan tersebut menjadikan adanya perpecahan di PNI dengan adanya
Parindra (Partai Indonesia Raya)
Merupakan hasil fusi antara Budi Utomo dengan
Persatuan Bangsa Indonesia yang sama-sama dipimpin oleh
dr. Sutomo.
Parindra berhasil mendudukkan wakilnya di Volksraad
Parindra bersifat kooperatif dengan Belanda dan berlaku
moderat.
Parindra bergerak pada bidang pemberantasan buta huruf
dan perbaikan pelajaran.
Parindra membentuk organisasi Rukun Tani, membentuk
serikat pekerja, menganjurkan kemandirian ekonomi, dan
mendirikan BNI (Bank Nasional Indonesia).
Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia)
Partindo pecah dan kadernya mendirikan Gerindo pada
24 Mei 1937. Tokoh yang terkenal adalah M. Yamin dan
Amir Syarifudin.
Gerindo kooperatif terhadap kolonial dan mendudukkan
wakilnya di Volksraad.
Tujuan Gerindo adalah mencapai pemerintahan negara
yang berdasarkan kemerdekaan politik, ekonomi, politik,
dan sosial.
Gerindo bersifat terbuka untuk semua ras dan golongan.
Gerindo pun pecah, karena M. Yamin dipecat dan
Pergerakan Kaum Wanita
Terdapat beberapa gerakan kaum wanita antara lain:
1.Organisasi wanita Indonesia Putri Mardiko di Jakarta
2.Kartini Fonds (Dana Kartini)
3.
Keutamaan Istri di Tasikmalaya
4.
Kerajinan Aman Setia di Sumatra Barat
5.Serikat Kaum Ibu Sumatra di Bukittinggi
6.Perkumpulan Ina Tani di Ambon
Di Indonesia pernah juga dilaksanakan Kongres Perempuan
Indonesia sebanyak 3 kali di Bandung dan Jakarta.
Sebagian besar pergerakan kaum wanita tersebut terilhami
oleh R.A Kartini dan Dewi Sartika serta Rohana Kudus.
Gerakan Pemuda
Organisasi besar yang ada di Indonesia juga memicu kaum muda untuk
mendirikan organisasi kepemudaan. Beberapa organisasi kepemudaan yang ada antara lain:
1. Tri Koro Darmo yang berdiri pada 7 Mei 1915 di Jakarta. Merupakan
sebuah wadah persatuan pemuda-pemudi Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok.
2. Jong Sumatranen Bond berdiri pada 9 Desember 1917 di Jakarta dan
Bukit Tinggi, Sesuai dengan namanya ialah mendorong pemuda Sumatera dalam satu wadah.Tokohnya antara lain Moh. Hatta dan M.Yamin.
3. Jong Islamiten Bond berdiri pada 1 Januari 1925, dengan tujuan
mempererat persatuan di kalangan pemuda Islam berumur 14-30 tahun. Bukan sebuah organisasi politik.
4. Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, berdiri pada September 1926 di
Jakarta dengan tujuan memperjuangkan Indonesia mereka melalui pendidikan dan menghilangkan sekat fanatisme apapun.
5. Pemuda Indonesia, berdiri di Bandung pada 20 Februari 1927 dengan
Daftar Pustaka
Herimanto, Sejarah Untuk Kelas XI SMA dan MA,
Platinum Grup Tiga Serangkai, Surakarta : 2012.
I Wayan Badrika, Sejarah Untuk SMA Kelas XI, Penerbit
Erlangga. Jakarta : 2006.
M. Habib Mustopo, Sejarah 2 Untuk SMA dan MA Kelas
XI, Penerbit Yudhistira, Jakarta : 2011.