Melupakan
yang Harus Dilupakan
@Malaikat_TL
Melupakan yang Harus Dilupakan Copyright © by @Malaikat_TL Co-Writer: Fitrawan Umar Cetakan Pertama, Maret 2015 Penata Letak: Wawan
Proof Reader: Wawan
Sampul cover: katianalune (paigeeworld.com)
Diterbitkan Oleh
Salo Saddang Publishing House Jl. Baronang Lr.2 No.22 Pinrang 91212 No.HP 081568253305
Email: [email protected] FB: Majalah Sastra Salo Saddang
Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com
Pengantar
Ada saat ketika kamu sulit mendefinisikan perasaanmu sendiri. Kamu percaya dengan kata orang, “Dengarkan hatimu.” Namun, kamu tidak tahu apa sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh hati. Antara kamu mendengar banyak suara yang berbeda satu sama lain yang dibisikkan oleh hati, atau kamu tidak mendengar suara sama sekali, kamu tidak tahu.
Ada saat ketika kamu akhirnya memiliki kehilangan. Mungkin kamu akan menyesal dengan suara hati yang dulu, yang kamu sulit untuk mengerti itu. Kamu mulai bertanya, apakah aku salah mendengar, atau kata hati bisa salah?
Namun, pada saatnya kamu mengerti, kehilangan adalah kehilangan. Perubahan adalah perubahan. Yang bisa kamu lakukan hanya berdamai dengan segalanya. Mulai mencintai apa yang pantas dicintai. Melupakan yang harus dilupakan.
Kepada yang Tak Selesai-Selesainya Kau Mengerti
Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata Ketika kita berdua
Hanya aku yang bisa bertanya Mungkinkah kau tahu jawabnya
(Berdua Saja ~ Payung Teduh) **
Kau menemukan dirinya di antara baris kata yang ia susun sendiri. Juga di sela kesibukan-kesibukannya sendiri. Ia mungkin akan bertanya, apa kau juga masih sendiri?
Atau mungkin ia tak perlu bertanya lagi.
Kau hanya masih sempat mencari, adakah namamu di ruang ingatannya?
Kau sering bertanya apa kabar, dan barangkali ia tak sadar kalau yang kau ucapkan adalah aku rindu. Ia tak selesai-selesainya kau mengerti.
Ketika seseorang yang lain datang ingin bertamu ke rumah bernama hati, kau masih menyimpan cemas di bibir pintu. Tak letihnya kau meneleng, memandang jalan menuju rumahmu yang masih sunyi, atau tepatnya masih sepi dari ia yang kau nanti. Kini, kau bertanya, kita perlu mengorbankan yang mana: sedikit waktu ataukah sedikit perasaan?
Gugur Satu, Apa yang Tumbuh Seribu?
“How would I know who’s made for me? You have so much faith in this theory. I’m sure you know how I’m going to meet this girl. I mean, will she be holding a placard with my name on it? Or, when I see her would there be a clap of thunder, and a bolt of lightning? Would music start playing? What would happen?”
Tanya Rahul dari kursi pengemudi ketika baru saja sampai di halaman rumah Pooja.
Segaris senyum tersungging dari bibir perempuan bernama Pooja itu. Jari telunjuknya menuding langit, dan berkata, “He (God) will tell you. He will give just
one sign, and your heart would recognize the girl.” —
(salah satu scene Film “Dil To Pagal Hai”) **
Orang banyak berkata, gugur satu, tumbuh seribu. Tapi seorang perempuan tidak ingin percaya. Ia membatalkan keyakinan terhadap pepatah yang sering didengarnya sejak lama itu.
Ia memang sering memperhatikan daun gugur di hadapan jendelanya. Ia selalu suka adegan ketika matahari masih menyimpan malu, dan embun tidak kalah malu hingga ingin lesap, lalu daun merelakan dirinya terjatuh, memasrahkan diri pada pelukan angin yang hangat, kemudian perlahan-lahan rebah di tanah.
Ia memaklumi sendiri, setelah satu per satu daun gugur, daun-daun muda yang lain akan tetap tumbuh. Ataupun bila pohon itu meranggaskan seluruh
daunnya, maka unsur hara pada daun yang terbaring di tanah akan menumbuhkan banyak tanaman yang lain. Selalu begitu.
Tapi perempuan itu merasakan hal berbeda ketika menyadari satu cinta telah gugur dari kehidupannya. Bila yang dimaksud bukan cinta, barangkali angka satu itu tidak seberapa artinya. Semisal kau kehilangan satu pulpen, maka barang tentu kau tidak perlu menerbitkan kesedihan. Dan lain-lain.
Angka satu pada cinta, kadang-kadang seperti angka satu pada Matahari. Lenyap satu, hilang segala kehidupan.
Perempuan itu tidak ingin percaya jika masih ada seribu laki-laki di luar sana di mana cintanya masih bisa tumbuh. Baginya, ini bukan soal “masih ada” atau “tidak ada”. Ini soal…, ah, mungkin ia percaya jika cintanya serupa flora atau fauna endemik. Hanya bisa hidup pada dataran, iklim, atau geografi tertentu. Dan, hanya laki-laki cintanya itu yang ia maksud.
Sayang telah gugur.
Ia hanya merasakan, gugur satu cinta, tumbuh seribu luka.
**
Nisha tercenung memandang danau dan langit biru yang menyatu. Ketika seorang lelaki mengambil duduk tepat di sampingnya, Ia bersuara serak, “I’m
not a nice girl, Rahul. I’m bad. I’m really bad.”
Rahul menatap mata perempuan itu. Mata yang dikenalnya sejak lama. “No Nisha, you’re my friend.
And no friend of mine is bad.”
“No, Rahul, you don’t know…that I’m not a nice girl. Now you see…I love a boy and have always loved him,
and today I realized that he doesn’t love me. He loves someone else. I feel bad. I’m hurt..I’m upset. I feel jealous. Rahul, I shouldn’t feel like this. I’m bad. I’m very bad.”
“No, Nisha.”
“No, Rahul,” Nisha bertahan. “Actually, that boy isn’t just the one I love, but he’s also my best friend. Today, for the first time, I saw love in his eyes. I couldn’t bring that love in all these years but that other girl has. Perhaps they are made for each other. Perhaps I was never meant for him. Perhaps her love for him is true. So you see, I should be happy for my friend. I should revel in his happiness. But I’m not happy. I’m not! I’m very bad. Really very bad.”
Rahul tercekat, “Nisha, you’re not bad. You’re really
nice. You know who is bad? He is bad.”
Rahul menunjuk langit. Menuding Yang Di Sana.
“The One who plays around with us mortals….making A love B….while B loves C….and C loves D…I don’t know why He does this. When He makes one person love another….He ought to make sure that the other one also loves her in return. Right? But that’s not what He does. He’s really bad. He’s really bad. You’re not bad. He’s bad,” lanjutnya lagi.
Air mata Nisha berjatuhan. — (salah satu scene Film “Dil To Pagal Hai”)
Dear, Rinai
Jarak dan waktu adalah sekutu yang paling mencekam. Pembunuh misterius dengan pelbagai rahasia. Barangkali kita akan saling menyalahkan, tetapi jarak dan waktu akan bebas dari rasa bersalah.
Sebetulnya, aku sudah sampai pada satu kesimpulan bahwa dengan atau tanpa aku, kau tetap bisa menjalin bahagia. Dan karenanya, aku sebaiknya tetap hadir di sisimu. Agar kau bahagia. Sementara aku juga tidak terlalu bersedih. Aku sudah mengatakannya, bukan? Sayang, gerimis rilis tanpa kita sadari, dan remah cahaya di permulaan petang memindai perpisahan kita.
Setelah hari-hari berlalu, bicaralah, bicaralah walau sekadar melarangku tidur pagi. Kau tak perlu terus-menerus mengingatkanku untuk makan, semisal bertanya, sudah makan siangkah, itu tak perlu. Kecuali barangkali kalau kau sudah lupa bahwa timbanganku mengalami tren peningkatan dalam grafik. Sama trennya dengan pertumbuhan rindu dan sunyi di dadaku. Sudah umur berapa ponakanmu itu? Tentu kau sudah bisa tebak usia rindu dan sunyi ini.
Demi tanah yang basah, derau air, atau apa saja, bisakah janji biru bergerak begitu cepat kepada yang hitam?
Sepasang Manusia
dia mungkin perempuan yang baik
tetapi belum tentu bisa jadi istri yang baik
dia mungkin laki-laki yang baik
tetapi belum tentu bisa jadi suami yang baik
kita mungkin tidak sebaik orang lain tetapi bisa jadi kita
adalah takdir terbaik
dalam pengertian, dengan bersama,
kita bisa menjadi lebih baik, saling belajar, saling mengerti tanpa ada yang merasa lebih baik atau lebih buruk antara satu dan lainnya