LAPORAN PENELITIAN DOSEN YAYASAN
PENGARUH MOBILISASI DINI TERHADAP PENURUNAN TINGGI FUNDUS UTERI PADA IBU NIFAS DI BPM ERLINA DARWIS
KOTA BUKITTINGGI TAHUN 2015
Peneliti:
Hj. Evi Susanti, S.ST, M.Biomed
Dana bersumber dari Institusi STIKes Prima Nusantara 2015
PROGRAM STUDI D-IV BIDAN PENDIDIK STIKES PRIMA NUSANTARA
BUKITTINGGI 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahNya kepada peneliti, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Penelitian yang berjudul Pengaruh Mobilisasi Dini terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri Pada Ibu Nifas di BPM Erlina Darwis Kota Bukittinggi Tahun 2015. Dalam penyelesaian Laporan penelitian ini penulis banyak menerima bimbingan, arahan, masukan, dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil, untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan Dosen STIKes Prima Nusantara Bukittinggi yang telah menyarankan dan memberikan masukan sehingga penulis dapat membuat laporan
penelitian ini
Penulis menyadari bahwa laporan penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, disebabkan karena keterbatasan penulis. Untuk itu penulis mengharapkan tanggapan, kritikan, dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan laporan penelitian ini.
Bukittinggi, 2015
Nama : Hj. Evi Suanti, S.ST, M.Biomed Program Studi : D-IV Bidan Pendidik
Judul : Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri Pada Ibu Nifas di BPM Erlina
Darwis Bukittinggi 2015
xv + 49 halaman + 6 tabel + 2 Skema + 7 lampiran
ABSTRAK
Mobilisasi dini adalah pergerakan yang dilakukan sedini mungkin dengan melatih bagian - bagian tubuh untuk melakukan peregangan atau belajar berjalan. Dari studi pendahuluan yang penulis lakukan diperoleh 2 dari 4 orang ibu bersalin yang melakukan mobilisasi dini berupa miring kiri kanan tinggi fundusnya lebih rendah dari 2 orang ibu yang tidak melakukan mobilisasi dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas di BPM Erlina Darwis tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental design dengan rancangan One Group Pretest-Posttest design. Penelitian dilakukan pada bulan September-Oktober di BPM Erlina Darwis Bukittinggi dengan sampel sebanyak 10 responden diambil secara consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi dan lembar pencatatan. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi. Data dianalisis dengan uji statistik Wilcoxon Match Repairs test dengan derajat kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 responden yang melakukan mobilisasi dini 9 mengalami penurunan TFU yang signifikan dan 1 responden tidak mengalami penurunan TFU. Dari uji statistik didapatkan p value = 0,011 < 0,05. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang bermakna antara mobilisasi dini dengan penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas di BPM Erlina Darwis Bukittinggi. Diharapkan pada instansi pelayanan kesehatan khususnya bidan, agar dapat menerapkan mobilisasi dini pada ibu nifas karena sangat baik untuk menekan kejadian perdarahan.
Referensi : 22 (2000-2014)
Name : Hj. Evi Susanti, S.ST, M.Biomed The program of Study : D-IV Midwifery Educator
Title : The influence of early ambulation against TFU of puerperium mothers on puerperium mothers at BPM Erlina Darwis Cities in 2015
xv + 49 Pages + 6 Tables + 2 Scheme + 7 Attachment
ABSTRACT
Early ambulation is a set of light activity such as walking or strecthing that carried out as soon as possible to train parts of body. From first study shows two other the five maternal that are doing early ambulation such sleep sideways have lower TFU than the other three. The research aims is to observe the effect of early ambulation on reduction of TFU in puerperium mothers at Erlina Darwis BPM. The methodology of the research is using a pre-experimental design with One group pretest-posttest design. The observation and data gathering is done to 10 puerperium mothers since september to oktober in Erlina Darwis BPM using observation sheet and re cording sheet. Data processing is computerized and analyzed using wilcoxon matched pairs test with degree of confidences of 95%. The result show out from 10 respondents which doing early ambulation, 1 of them are having their TFU lowered, while the other three are not. The statistic test give p-value is 0.011 that lower than 0.05. The observation and analysis before, early ambulation have big influence to the reduction of TFU of puerperium mothers at Erlina Darwis BPM. It is better if the health agencies especially the midwifes to apply early ambulation on puerperium mothers because it reduces the bleeding accidents.
Reference : 22 (2000-2014)
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN ... i KATA PENGANTAR ... ii ABSTRAK... iii ABSTRACK ... iv DAFTAR ISI ... v DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR SKEMA ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Identifikasi Masalah………. 6 C. Batasan Masalah………... 7 D. Rumusan Masalah...7 E. Tujuan Penelitian...7 F. Manfaat Penelitian... 7
BAB II LANDASAN TEORI A. Mobilisasi Dini……….. 9
B. Penurunan Tinggi Fundus Uteri……… 17
C. Kerangka Teori……….. 28
D. Kerangka Konsep……….. 29
E. Hipotesa Penelitian……… 29
F. Defenisi Operasional………..30
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian... 31
B. Tempat dan Waktu Penelitian………32
C. Populasi dan Sampel...32
D. Etika Penelitian...34
E. Prosedur Pelaksanaan Penelitian...35
F. Prosedur Pengolahan dan Analisa Data……….36
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian...39
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan... 48 B. Saran... 48
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Involusi Uteri ... 24
Tabel 2.2 Defenisi Operasional ... 30
Tabel 3.3 Rancangan Penelitian ... 30
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Paritas ... 40
Tabel 4.3 TFU Sebelum dan Sesudah Mobilisasi Dini ... 40
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR SKEMA
Skema 2.1 Kerangka Teori ... 28
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Ganchart
Lampiran 2 Permohonan Jadi Responden
Lampiran 3 Format Persetujuan
Lampiran 4 Lembar Observasi Mobilisasi Dini
Lampiran 5 Lembar Pencatatan Penurunan Tinggi Fundus Uteri
Lampiran 6 Master Tabel
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu Tujuan Pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) 2015 adalah perbaikan kesehatan maternal.Yang mana diharapkan pada tahun 2015 AKI turun menjadi 108 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI,2012).
Pada dua dekade ini Indonesia mendapat pujian dari WHO karena sukses dalam program kesehatan ibu dan anak (KIA), buktinya dari survey SDKI, AKI dapat turun secara bertahap yakni tahun 1997, pemerintah mampu menurunkan AKI mencapai 334 per 100.000 kelahiran hidup dari 390 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1994. Dan terakhir dalam SDKI 2007, AKI Indonesia sudah mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup, namun pada tahun 2012 dunia kembali melirik Indonesia karena AKI melonjak drastis yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup. Keadaan ini membuat Indonesia kehilangan harapan untuk mencapai MDGs 2015, dan tentunya Indonesia harus bekerja keras mengatasi penyebab AKI (SDKI, 2012).
Berdasarkan survey penyebab AKI di Indonesia ada dua yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung diantaranya perdarahan (42%), eklampsia/preeklamsi (13%), abortus (11%), infeksi (10%), partus lama (9%),dan lain-lain (15%). Sementara penyebab tidak langsung kematian ibu antara lain kurang energi kronis pada kehamilan,
anemia pada kehamilan dan pendidikan ibu yang masih rendah (widojudarwanto, 2013).
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwasanya perdarahan masih menjadi penyebab utama kematian ibu.Salah satu untuk mencegah terjadinya perdarahan ini yaitu dengan melakukan asuhan pada masa nifas.Masa nifas (puerperium) adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Saleha, 2009).Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil.masa nifas berlangsung kurang lebih 6 minggu (Prawirohardjo, 2008)
Pada masa nifas (puerperium) ini terdiri dari tiga tahapan yaitupuerperium dini, puerperium intermedial, dan remote puerperium. Pada puerperium dini, kepulihannyayaitu ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan, sedangkan puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu, dan romate puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi (Saleha, 2009). Dari ketiga tahapan puerperiumtersebut pada tahapan pertamalah dilakukannya mobilisasi dini.Mobilisasi dini ini sangat penting bagi ibu karena pada masa ini ibu akan belajar kembali untuk bergerak ringan seperti miring kanan, miring kiri, duduk dan lain-lain seusai bersalin.
Dilakukannya mobilisasi dini pada ibu nifas bertujuan agar ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation, yaitu melakukan pergerakan
yang mana otot-otot perut dan panggul akan kembali normal dan otot perut ibu menjadi kuat kembali, dan dapat mengurangi rasa sakit pada ibu, sehingga faal usus dan kandung kemih lebih baik. Bergerak juga akan merangsang gerak peristaltic usus kembali normal, aktivitas ini membantu mempercepat organ-organ tubuh bekerja seperti semula (Fefendi, 2008).
Menurut soelaiman mobilisasi dini adalah pergerakan yang dilakukan sedini mungkin di tempat tidur dengan melatih bagian–bagian tubuh untuk melakukan peregangan atau belajar berjalan.Mobilisasi dini atau Ambulasi dini (Early ambulation) ialah kebijakan agar secepat mungkin bidan membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan (Saleha, 2009).Sedangkan Kasdu (2003) berpendapat tidak melakukan mobilisasi dini dapat mengakibatkan peningkatan suhu tubuh karena adanya involusi uterus yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi.Salah satu tanda infeksi adalah peningkatan suhu tubuh.
Dengan mobilisasi dini kontraksi uterus akan baik sehingga fundus uteri akan keras, dan tinggi fundus akan normal. Jika keadaan ibu sudah seperti itu maka resiko perdarahan abnormal dapat dihindarkan, karena kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka.Tidak hanya itu mobilisasi dini juga bermanfaat untuk memulihkan kondisi tubuh ibu jika dilakukan dengan benar dan tepat.(Jurnal Newborn Nursing, 2010)
Selain itu mobilisasi dini dapat mengurangi bendungan lochia dalam rahim, meningkatkan peredaran darah sekitar alat kelamin, mempercepat normalisasi alat kelamin dalam ke keadaan semula (Manuaba, 2004).
Mobilisasi dini penting ketika terjadinya penurunan TFU dan mempercepat proses penyembuhan pada ibu nifas sehingga mobilisasi dini sangat tepat untuk dijadikan terapi yang menjadikan tindakan nonfarmakologios yang harus diintervensikan pada ibu nifas.
Namun mobilisasi ini belum efektif dilakukan, karena kebanyakan ibu mengatakan ia takut untuk bergerak karena menurutnya akan membuat luka lama sembuh, kemudian sebagiannya lagi mengatakan ia malas dan merasa capek setelah proses bersalin. Asumsi seperti ini tidaklah benar sama sekali, sebab mobilisasi dini dapat membantu pemulihan tinggi fundus uteri secara bertahap. Dengan bergerak, hal ini akan mencegah kekakuan otot dan sendi sehingga juga mengurangi nyeri, selain itu mobilisasi dini juga bermanfaat dalam kelancaran peredaran darah, memperbaiki pengaturan metabolisme tubuh, serta mengembalikan kinerja fisiologis organ-organ vital dan dapat mempercepat terjadinya involusi uteri.Involusi uteri dipengaruhi oleh tiga hal yaitu autolysis, aktifitas otot dan iskemik. Autolysis adalah penghancuran jaringan otot-otot uterus yang tumbuh karena adanya hyperplasi, dan jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang 10 kali dan menjadi 5 kali lebih tebal dari sewaktu masa hamil, akan susut kembali mencapai keadaan semula. Aktifitas otot adalah adanya retraksi dan kontrksi dari otot-otot setelah anak lahir, yang diperlukan untuk menjepit pembulu darah yang pecah karena adanya kontraksi dan retraksi yang terus-menerus ini menyebabkan terganggunya peredaran darah di dalam uterus yang mengakibatkan jaringan-jaringan otot-otot tersebut menjadi lebih kecil. Iskemik adalah kekurangan darah pada uterus. Kekurangan darah ini bukan hanya karena kontraksi dan
retraksi yang cukup lama seperti tersebut diatas tetapi disebabkan oleh pengurangan aliran darah yang pergi ke uterus di dalam masa hamil, karena uterus harus membesar menyesuaikan diri dengan pertumbuhan janin. Seperti dijelaskan di atas bahwa mobilisasi dini dapat meningkatkan tonus otot yang sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses involusi uteri dan pada akhirnya dapat mengurangi insiden perdarahan post partum. Seperti yang kita ketahui bahwasanya perdarahan masih menempati posisi pertama yang memicu kematian ibu di Indonesia bahkan di dunia(USU Repository, 2009).
Jadi pelaksanaan mobilisasi dini bagi ibu post partum sangat bagus sekali. Mobilisasi dini yang dilakukan secara teratur, dapat mempercepat involusi uteri. Bila involusi uteri berjalan lancar maka tinggi fundus uteri dengan sendirinya akan turun. Dengan demikian perdarahan post partum dapat dicegah sebab otot-otot uterus berkontraksi sehingga pembuluh-pembuluh darah yang terbuka akibat perlekatan placenta akan terjepit, dan secara tidak langsung angka kematian ibu (AKI) dapat ditekan.
Penelitian ini pernah dilakukan oleh Indah mahasiswa UPN yang dilakukan di Paviliun Melati RSUD Jombang dengan judul hubungan mobilisasi dini dengan penurunan TFU dan hasilnya terdapat hubungan antara mobilisasi dini dengan penurunan tinggi fundus ibu nifas.
Dari studi pendahuluan yang penulis lakukan di BPM Erlina Darwis pada tanggal 12 September sampai 15 oktober 2015, didapatkan bahwa 2 dari 4 orang ibu bersalin yang melakukan mobilisasi dini berupa miring kiri dan miring kanan pada ibu nifas tinggi fundusnya lebih rendah dari pada 2 orang ibu yang tidak melakukan mobilisasi dini, alasan ibu tidak melakukan
mobilisasi dini diantaranya karena takut, malas dan juga capek karena habis bersalin.
Di BPM Erlina Darwis Bukittinggi pasien bersalin dalam sebulan kurang lebih 5-10 orang, dan di BPM ini bidan sering menerapkan konsep mobilisasi dini kepada pasiennya. Dengan begitu sampel yang dibutuhkan dalam penelitian dapat terpenuhi, dan dengan konsep mobilisasi dini yang diterapkan di BPM ini maka dapat mempermudah serta menunjang penelitian penulis.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian ini, yaitu tentang ”Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Nifas di BPM Erlina Darwis Bukittinggi tahun 2015”.
B. Indentifikasi Masalah
1. Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia sangat tinggi yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012
2. Perdarahan menyumbang persentase tertinggi pada angka kematian ibu yaitu sebanyak 42 %, yang disebabkan oleh tidak dilakukannya mobilisasi dini.
3. Kurangnya peranan bidan dalam melakukan mobilisasi dini pada ibu nifas.
C. Batasan Masalah
Penelitian ini akan mengkaji pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas. Dimana hanya mobilisasi dini pada ibu nifas 24 jam post partum.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapatkan rumusan masalah : “Apakah ada Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Tinggi Fundus Pada Ibu Nifas?”.
E. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh mobilisasi dini terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri Pada Ibu Nifas di BPM Erlina Darwis tahun 2015.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tinggi fundus uteri sebelum diberi perlakuan Mobilisasi Dini Pada Ibu Nifas.
b. Mengidentifikasi tinggi fundus uteri setelah diberi perlakuan Mobilisasi Dini Pada Ibu Nifas.
c. Menganalisa tentang pengaruh mobilisasi dini terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Nifas.
F. Manfaat
1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai media pembelajaran dan masukan tambahan materi dalam institusi pendidikan kesehatan, serta menjadi tambahan sumber kepustakaan di bidang kesehatan.
2. Bagi Tenaga Kesehatan (Bidan Pelaksana Pelayanan Kesehatan)
Diharapkan penelitian ini dapat menambah wacana Bidan dalam memberikan konseling tentang pentingnya mobilisasi dini dalam penurunan tinggi fundus ibu agar proses involusi uteri berjalan lancar dan perdarahan post partum dapat dicegah.
3. Bagi Responden
Dapat memberikan informasi untuk ibu agar mengetahui tentang Mobilisasi Dini dan Pengaruhnya Terhadap Ibu Nifas.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Mobilisasi Dini 1. Definisi
Mobilisasi dini adalah pergerakan yang dilakukan sedini mungkin di tempat tidur dengan melatih bagian - bagian tubuh untuk melakukan peregangan atau belajar berjalan (Soelaiman, 2000).Menurut Ambarwati (2010) masa nifas adalah masa setelah keluarnya placenta sampai alat-alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari.Ambulasi dini (Early ambulation) ialah kebijakan agar secepat mungkin bidan membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan (Saleha, 2009).
2. Rentang Gerak Dalam Mobilisasi
Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu : a. Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dam persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien (Saleha, 2009).
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya (Saleha, 2009).
c. Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan (Saleha, 2009).
3. Waktu Dalam Mobilisasi Dini
Persalinan merupakan proses yang sangat melelahkan oleh karena itu ibu tidak dianjurkan langsung turun dari ranjang karena dapat menyebabkan pingsan akibat sirkulasi yang belum berjalan baik. Sehabis melahirkan ibu merasa lelah, dan harus beristirahat. Pergerakan dilakukan dengan miring kanan atau kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli ( USU Repository, 2009).
Efektifitas melakukan mobilisasi dini dilakukan pada 2-4 jam post partum,ibu sudah bisa turun dari tempat tidur dan melakukan aktifitas seperti biasa. Mobilisasi dilakukan secara bertahap mulai dari gerakan miring kekanan dan kekiri, lalu menggerakakan kaki.dan Cobalah untuk duduk di tepi tempat tidur, setelah itu ibu bisa turun dari ranjang atau tempat tidur, kemudian mencoba berjalan ke kamar mandi ( USU Repository, 2009).
Mobilisasi berpengaruhi dalam perbaikan sirkulasi, penurunan tinggi fundus, proses involusi, membuat napas dalam dan menstimulasi
kembali fungsi gastrointestinal normal. Ini biasanya dalam waktu 12 – 24 jam(Saleha, 2009).
4. Manfaat Mobilisasi Dini Pada Ibu Nifas
Mobilisasi dilakukan segera setelah beristirahat beberapa jam dengan beranjak dari tempat tidur ibu (pada persalinan normal). Mobilisasi dini dapat mengurangi bendungan lokia dalam rahim, meningkatkan peredaran darah sekitar alat kelamin, mempercepat normalisasi alat kelamin dalam ke keadaan semula (Saleha, 2009).
a. Penderita merasa lebih sehat dan kuat dengan mobilisasi dini
Dengan bergerak, otot-otot perut dan panggul akan kembali normal sehingga otot perutnya menjadi kuat kembali dan dapat mengurangi rasa sakit dengan demikian ibu merasa sehat dan membantu memperoleh kekuatan, mempercepat kesembuhan. Faal usus dan kandung kencing lebih baik. Dengan bergerak akan merangsang peristaltic usus kembali normal. Aktivitas ini juga membantu mempercepat organ-organ tubuh bekerja seperti semula. b. Mobilisasi dini memungkinkan kita mengajarkan segera untuk ibu
merawat anaknya.
Perubahan yang terjadi pada ibu nifas akan cepat pulih misalnya kontraksi uterus, dengan demikian ibu akan cepat merasa sehat dan bisa merawat anaknya dengan cepat.
c. Mencegah terjadinya thrombosis dan tromboemboli
Dengan mobilisasi sirkulasi darah normal / lancar sehingga resiko terjadinya thrombosis dan tromboemboli dapat dihindarkan (Saleha, 2009).
5. Kerugian Bila Tidak Melakukan Mobilisasi
a. Peningkatan suhu
Karena adanya penurunan TFU yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah satu dari tanda infeksi adalah peningkatan suhu tubuh.
b. Perdarahan yang abnormal
Dengan mobilisasi dini kontraksi uterus akan baik sehingga fundus uteri keras, maka resiko perdarahan yang abnormal dapat dihindarkan, karena kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka.
c. Penurunan TFU yang tidak baik
Tidak dilakukan mobilisasi dini akan menghambat pengeluaran darah sisa plasenta sehingga menyebabkan terganggunya kontraksi uterus.(Saleha, 2009)
6. Tahap-Tahap Mobilisasi Dini
a. Miring ke kanan – kiri
Memiringkan badan ke kiri – ke kanan merupakan mobilisasi paling ringan yang paling baik dilakukan pertama kali. Di samping
mempercepat proses penyembuhan, gerakan ini juga mempercepat kembalinya fungsi usus dan kandung kemih secara normal.
b. Menggerakkan kaki
Setelah membalikkan badan ke kanan dan kiri, mulai gerakkan kedua kaki. Ada mitos yang mengatakan hal ini tidak boleh dilakukan karena bisa menyebabkan varises. ”Itu tidak benar!Justru bila kaki tidak digerakkan dan ibu berbaring terlalu lama, akan terjadi pembekuan pembuluh darah balik yang bisa menyebabkan varises maupun infeksi”.
c. Duduk
Setelah agak ringan, cobalah duduk di tempat tidur. Bila merasa tidak nyaman, jangan paksakan diri. Lakukan pelan-pelan sampai terasa nyaman.
d. Berdiri dan turun dari tempat tidur
Kalau duduk tidak manyebabkan rasa pusing, teruskan dengan mencoba turun dari tempat tidur dan berdiri. Jalan sedikit. Bila terasa sakit atau ada keluhan, sebaiknya hentikan dulu dan di coba lagibegitu kondisi tubuh sudah terasa lebih nyaman.
e. Ke kamar mandi
Bila sudah tidak ada keluhan, bisa di coba untuk berjalan ke kamar mandi dan buang air kecil. Ini pun harus dilatih, karena biasanya banyak ibu yang merasa takut.
7. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Mobilisasi Dini
Menurut Chapman (2006), adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan mobilisasi pasca persalinan adalah sebagai berikut:
a. Rendahnya pengetahuan
Tingkat pengetahuan merupakan faktor yang berperan penting dalam mewujudkan pelaksanaan mobilisasi dini pasca persalinan. Jika tingkat pengetahuan seseorang rendah terhadap manfaat dari mobilisasi maka hal itu akan sangat mempengaruhi pada tingkat pelaksanaannya. Pengetahuan yang dimiliki ibu hamil tentang manfaat mobilisasi dini adalah dasar bagaimana ibu postpartum tersebut akan mengambil sikap dalam pelaksanaan mobilisasi.
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003), bahwa ada kecenderungan apabila pengetahuan seseorang baik terhadap masalah yang dihadapinya maka seseorang itu akan mempunyai sikap positif terhadap masalah yang dihadapinya, dan sebaliknya apabila pengetahuan seseorang itu kurang terhadap masalah yang dihadapinya maka seseorang itu akan mempunyai sikap negatif.
Tingginya pengetahuan seseorang akan berpengaruh terhadap respon dan tanggapan terhadap suatu obyek atau situasi baru. Tanggapan tersebut akan menimbulkan gambaran dari seseorang untuk menerima atau menolak hal baru yang diterimanya. Pengetahuan yang dimiliki ibu hamil tentang manfaat mobilisasi dini tentu saja akan
mempengaruhi sikap dalam pelaksanaan mobilisasi dini post partum. (Chapman, 2006)
b. Ketidakmampuan atau kelemahan fisik dan mental
Persalinan merupakan proses yang melelahkan, saat persalinan ibu mengerahkan seluruh tenaganya untuk melewati proses yang persalinan yang panjang. Tidak jarang setelah melahirkan ibu lebih sering memilih tidur dari pada melakukan pergerakan secara bertahap (Chapman, 2006).
c. Depresi
Besar kemungkinan setelah melahirkan ibu akan mengalami depresi. Biasanya depresi berlangsung sekitar satu sampai dua hari, hal ini dapat terjadi karena perubahan mendadak dari hormon. Gejalanya berupa mudah tersinggung , menangis, tanpa sebab, gelisah, takut pada hal yang sepele (Chapman, 2006).
d. Nyeri atau rasa tidak nyaman
Rasa nyeri setelah melahirkan membuat ibu enggan untuk mulai belajar mclakukan pergerakan, dimana seluruh alat reproduksi mengalami perubahan, rasa nyeri saat buang air kecil, buang air besar. Hal ini membuat ibu menjadi lebih takut dan tidak nyaman, besar kemungkinan ibu akan lebih memilih berbaring terus, diatas tempat tidur, dan pelaksanaan mobilisasi tentu saja akan terhambat (Chapman, 2006).
e. Kecemasan
Kecemasan ibu terhadap ketidakmampuan dalam melakukan mobilisasi sangat berpengaruh pada tingkat keberhasilan saat melakukan pergerakan, ibu harus mempunyai keyakinan untuk dapat melakukan mobilisasi dengan cepat dan tepat. Mobilisasi yang dilakukan sesegera mungkin dengan cara yang benar dan bertahap dapat mempercepat proses pemulihan kondisi tubuh secara umum (Chapman, 2006).
8. Enam Hal Penting Tentang Mobilisasi
Menurut Siregar (2009), ada enam hal penting yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan mobilisasi dini, diantaranya :
a. Rasa kepercayaan diri untuk dapat melakukan mobilisasi dengan cepat adalah salah satu cara untuk melatih mental
b. Mobilisasi yang dilakukan segera mungkin dengan cara yang benar dapat mempercepat proses pemulihan kondisi tubuh
c. Gerakan tubuh saja tidak menyebabkan jahitan lepas atau rusak, buang air kecil harus dilatih karena biasanya setelah proses persalinan normal timbul rasa takut untuk buang air kecil, dan akhirnya kesulitan untuk buang air kecil
d. Mobilisasi harus dilakukan secara bertahap agar sernua sistem sirkulasi dalam tubuh bisa menyesuaikan diri untuk dapat berfungsi dengan normal kembali
e. Jantung perlu menyesuaikan diri, karena pembuluh darah harus bekerja keras selama masa pemulihan. Mobilisasi yang berlebihan bisa membebani kerja jantung.
f. Tetap memperhatikan pola nutrisi. Sebaiknya mengkonsumsi yang berserat, supaya proses pencemaan lancar dan tidak perlu terlalu mengedan saat buang air besar.
B. Penurunan Tinggi Fundus Uteri 1. Uterus
a. Defenisi
Rahim atau uterus adalah organ reproduksi betina yang utama pada kebanyakan mamalia, termasuk manusia.Salah satu ujungnya adalah serviks, membuka ke dalam vagina, dan ujung satunya yang lebih luas, yang dianggap badan rahim, disambung di kedua pihak dengan tabung Fallopian.Rahim terdapat dalam berbagai bentuk dan ukuran di organisme yang berbeda.Pada manusia adalah berbentuk buah pir.Beberapa organisme seperti kelinci, kambing dan kuda mempunyai rahim bipartite atau "bertanduk".Campbell (2004:158) dalam bukunya “Biologi” Jilid ke tiga menyatakan, Uterus adalah organ tebal dan berotot yang dapat mengembang selama kehamilan untuk menampung fetus dengan bobot 4 kg.
Dari setiap pengertian di atas masing-masing mempunyai pengertian yang hampir sama. Masing-masing pengertian bisa saling melengkapi. Jadi bisa diartikan bahwa rahim atau uterus adalah salah
satu organ reproduksi dari betina yang dimiliki oleh mamalia terutama manusia sebagai tempat fetus atau janin saat berkembang yang bentuknya menyerupai buah pir, yang di dalamnya terdapat rongga dan berotot dan terhubung oleh saluran rahim atau serviks menuju vagina.
b. Anatomi dan Uterus
Besarnya Rahim berbeda-beda, bergantung pada usia dan pernah melahirkan anak atau beluum. ukurannya kira-kira sebesar telur ayam kampung. pada nulipara ukurannya 5,5-8 cm x 3,5-4 cm x 2-2,5 cm ; pada multipara 9-9,5 cm x 5,5-6 cm x 3-3,5 cm. beratnya 40-50 gram pada nulipara dan 60-70 gram pada multipara. korpus uteri yaitu bagian utama rahim, merupakan 2/3 dari rahim. pada kehamilan bagian ini berfungsi sebagai tempat utama bagi janin untuk hidup dan berkembang.
Rahim terletak di dalam panggul segera dorsal (dan biasanya agak rostral) ke kandung kemih dan ventral ke rektum.Di luar kehamilan, ukuran dalam manusia adalah beberapa sentimeter dengan diameter. Rahim adalah organ berbentuk buah pir otot yang dapat dibagi menjadi empat segmen anatomis: The fundus, corpus, leher rahim dan os internal. Sikap dan letak rahim dalam rongga panggul terfiksasi dengan baik karena disokong dan dipertahankan oleh : 1) tonus rahim sendiri
2) tekanan intra abdominal 3) otot-otot dasar panggul 4) ligament-ligament:
a) lig. kardinal kanan dan kiri (mackenrodt) b) lig. sakro uterine
c) lig. Rotundum d) lig. Latum
e) lig. infundibulopelvikum
Rahim ditempatkan di pelvis dan dorsal (dan biasanya agak kranial) ke kandung kemih dan ventral ke rektum.Rahim ditahan pada tempatnya oleh beberapa ligamen.Di luar kehamilan, ukuran garis tengahnya adalah beberapa sentimeter.Rahim kebanyakan terdiri dari otot.Lapisan permanen jaringan itu yang paling dalam disebut endometrium.Pada kebanyakan mamalia, termasuk manusia, endometrium membuat lapisan pada waktu-waktu tertentu yang, jika tak ada kehamilan terjadi, dilepaskan atau menyerap kembali.(wikipedia.org, 2009)
c. Letak Uterus
Dari luar ke dalam, jalan menuju rahim adalah sebagai berikut: 1) Kemaluan wanita
2) Vagina
3) Serviks uteri - "leher rahim" a) Eksternal lubang rahim b) Kanal serviks
c) Internal lubang rahim d) corpus uteri - "Badan rahim"
e) Rongga tubuh rahim f) Fundus
Letak rahim dalam keadaan fisiologis adalah anterofleksi. letak-letak lainnya adalah antefleksi (tengadah kedepan), retrofleksi (tengadah ke belakang), anteversi (terdorong kedepan), retroversi (terdorong kebelakang). suplai darah rahim dialiri oleh a. uterina yang berasal dari a iliaka interna (a.hipogastrika) dan a. ovarika.
d. Lapisan Uterus
Lapisan, dari terdalam hingga terluar, pada dinding rahim adalah sebagai berikut:
1) Endometrium: Lapisan rongga rahim disebut "endometrium". Lapisan dalam rahim tempat menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. lapisan ini terdiri dari lapisan kelenjar yang berisi pembuluh darah. Setelah menstruasi, permukaan dalam uterus menjadi lebih tebal karena hormone estrogen.Merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan keluarnya cairan karena pengaruh hormone progesteron. Bila tidak terjadi pembuahan maka lapisan tadi bersama sel telur akan terlepas (meluruh) dan keluar melalui vagina dan biasa disebut dengan menstruasi. Ini terdiri dari endometrium fungsional dan endometrium basal dari yang terdahulu lahir.Kerusakan hasil endometrium basal dalam pembentukan adhesi dan / atau fibrosis (sindrom Asherman).Pada
kebanyakan mamalia, termasuk manusia, endometrium membangun lapisan berkala yang ditumpahkan atau diserap kembali jika kehamilan tidak terjadi.Penumpahan lapisan endometrium fungsional pada manusia bertanggung jawab untuk perdarahan haid (bahasa sehari-hari dikenal sebagai "periode" seorang wanita) sepanjang tahun subur seorang perempuan dan untuk beberapa waktu di luar. Pada mamalia lain mungkin ada siklus ditetapkan sebagai luas terpisah seperti enam bulan atau sesering beberapa hari.
2) Miometrium: Rahim kebanyakan terdiri dari otot polos, yang dikenal sebagai "miometrium." Lapisan paling dalam miometrium dikenal sebagai zona junctional, yang menjadi tebal dalam adenomiosis. Lapisan myometrium merupakan lapisan yang berfungsi mendorong bayi keluar pada proses persalinan (kontraksi).
3) Perimetrium yaitu lapisanyang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus. Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap bulannya.
2. Involusi Masa Nifas a. Definisi
Masa nifas (postpartum / puerperium) berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata “puer” yang artinya bayi dan “parious” yang berarti melahirkan. Masa nifas merupakan masa dimulai setelah plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali seperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 – 8 minggu atau dalam agama islam disebut 40 hari (Mochtar R, 1998).Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003)
Pada masa nifas ini terjadi proses involusi yaitu Involusi uteri adalah mengecilnya kembali rahim setelah persalinan kembali ke bentuk asal (Ramali, 2003). Involusi uteri adalah perubahan retrogreaf pada uterus yang menyebabkan berkurangnya ukuran uterus, involusi puerperium dibatasi pada uterus dan apa yang terjadi pada organ dan struktur lain hanya dianggap sebagai perubahan puerperium.
b. Periode Masa Nifas
1) Periode Immediate Postpartum : Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah seperti perdarahan.
2) Periode Early Postpartum (24 jam – 1 minggu) : Masa dimana involsi uterus harus dipastikan dalam keadaan normal, tidak ada pendarahan, lokea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup
mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
3) Periode Latei Postpartum (1 – 5 minggu) : Masa dimana perawatan dan pemeriksaan kondisi sehari-hari, serta konseling KB.
c. Jenis-Jenis Masa Nifas
1) Peurperium Dini : kepulihan dimana ibu telaah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan
2) Peurperium Intermedial : kepulihan menyeluruh alat-alat genitalis yang lamanya 6-8 minggu
3) Remote Peurperium : waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
d. InvolusiUterus
Involusiuterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil. Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
1) Iskemia Miometrium – Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan
retraksi yang terus menerus dari uterus setelah pengeluaranplasenta sehingga membuat uterus menjadi relatif anemi dan menyebabkan serat ototatrofi.
2) Atrofi jaringan – Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian
3) Autolysis – Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang
terjadi di dalam ototuterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormonestrogen dan progesteron.
4) Efek Oksitosin – Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan
retraksiototuterus sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasiplasenta serta mengurangi perdarahan.
Tabel 2.1 Involusi Uterus
Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus
Bayi lahir 1 minggu 2 minggu 6 minggu 8 minggu
Setinggi pusat / 1-2 jari bawah pusat Pertengahan pusat-simfisis
Tidak teraba diatas simpisis Normal
Normal tapi sebelum hamil
1.000 gram 750 gram 500 gram 50 gram 30 gram
Sumber :Sitti Saleha, 2009
Tinggi Fundus Uteri Pada Masa Nifas
e. Involusi Plasenta
Uterus pada bekas implantasiplasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, dengan cepat luka mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus.Luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut.Hal ini disebabkan karena diikuti pertumbuhanendometrium baru di bawah permukaan luka.Regenerasi endometrium terjadi di tempat implantasiplasenta selama sekitar 6 minggu.Pertumbuhan kelenjar endometrium ini berlangsung di dalam decidua basalis.Pertumbuhan kelenjar ini mengikis pembuluh darah yang membeku pada tempat implantasiplasenta hingga terkelupas dan tak dipakai lagi pada pembuangan lokia.
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa nifas.
Adapun jenis-jenis lochea yaitu, sbb : 1) Lochia rubra
Berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dam mekonium, selama 2 hari post partum.
2) Lochia Sanguilenta
Berwarna kuning berisi darah dan lendir, hari 3 – 7 post partum. 3) Lochia serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7 – 14 post partum.
4) Lochia alba
Cairan putih, yang muncul setelah 2 minggu masa nifas. 5) Lochia purulenta
Telah terjadi infeksi, yang mana keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
6) Lochiastasis
Yaitu lochea yang keluarnya tidak lancar.
3. Penurunan Tinggi Fundus a. Definisi
Uterus mulai mengecil segera setelah plasenta lahir. Uterus biasanya berada pada 1-2 jari di bawah pusat. Pada 24 jam pertama,
uterus mungkin membesar sampai mencapai pusat. Setelah itu, uterus akan mengecil dan mengencang. Pada akhir minggu kedua setelah persalinan ukurannya telah kembali ke keadaan sebelum hamil. Ibu yang telah mempunyai anak biasanya uterusnya sedikit lebih besar dari pada ibu yang belum mempunyai anak (Depkes, 2000).
Penurunan tinggi fundus uteri (TFU) (Involution) adalah degenerasi progresif yang terjadi secara alamiah sesuai usia, berakibat pada penciutan organ atau jaringan (Kumala, 2003).Alat-alat genetalia interna dan eksterna akan berangsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang disebut penurunan tinggi fundus uteri (TFU)(Kapita Selekta, 2000).
b. Beberapa Faktor Kondisi Yang Menghambat Penurunan Tinggi Fundus Uteri (TFU)
a. Kehamilan multiple
b. Hidramnion
c. Kelelahan akibat persalinan yang panjang dan kesulitan melahirkan
d. Multipara atau efek fisiologis akibat kelebihan analgesic
e. Ada bagian plasenta atau membran yang tertahan
C. Kerangka Teori
Skema 2. 1. Kerangka Teori Chapman (2006)
Mobilisasi Dini
Tinggi Fundus Uteri - Rentang gerak aktif
- Rentang gerak pasif - Rentang gerak fungsional
- Rendahnya pengetahuan
- Ketidakmampuan ataukelemahan fisik dan mental
- Depresi
- Nyeri atau rasa tidak nyaman - Kecemasan - Kehamilan multiple - Hidramnion - Kelelahan - Multipara - Ada penyulit
D. Kerangka Konsep
Variabel dependen Treatment Variabel dependen
Skema 2.2 Kerangka Konsep
E. Hipotesa
Hipotesa adalah pernyataan tentang suatu dalil atau kaidah tetapi kebenarannya belum terujikan secara emperic, dengan demikian hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan, yang kebenaran jawaban ini dibuktikan secara emperik dengan penelitian yang dilakukan (Praktiknya, 2009). Hipotesis yang diterima dalam penelitian ini adalah Terdapat pengaruh yang signifikan antara mobilisasi dini dengan penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas di BPM Erlina Darwis Kota Bukittinggi tahun 2015.
Mobilisasi Dini
Tinggi Fundus Uteri (TFU) Post Mobilisasi dini Tinggi Fundus Uteri
(TFU) Pre Mobilisasi dini
F. Defenisi Operasional
Defenisi operasional adalah unsur penelitian yang mengungkapkan bagaimana mengukur suatu variabel. Defenisi operasional adalah batasan pada variabel-variabel-variabel yang diamati, diteliti, mengarah pada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen/alat ukur (Roesli, 2008). Adapun defenisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel. 2.2 Defenisi Operasional
Variabel
Definisi operasional
Cara Ukur Alat ukur Skala Hasil ukur
Tinggi Fundus Uteri pre mobilisasi dini dan post mobilisasi dini TinggiFundu s Uteri mulai dari setinggi pusat hingga tidak teraba diatas simfisis (setelah 14hari) Mengobservasi Tinggi Fundus Uteri pasien dengan cara mengukur dan palpasi abdomen dan Pencatatan Observasi dalam bentuk tabel perbandingan pre-post treatment dan pita cm
Ordinal Tabel perbandingan TFU pre-post treatment yaitu dengan menjadikannya ke sentimeter, sbb : - Setinggi pusat = >10cm - 1-3 jari dibawah pusat = 8-10 cm - Pertengahan pusat-simpisis = <8 cm
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode pra eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui segala gejala atau pengaruh yang timbul, sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu.Pendekatan yang digunakan pada pra eksperimen ini adalah “one group pretest posttest”. Dalam one group pretest posttest ini peneliti membandingkan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan (intervensi) (Notoatmodjo, 2010).
Rancangan penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Rancangan Penelitian one group pretest posttest Keterangan :
O1 = hasil observasi sebelum diberi perlakuan X = perlakuan mobilisasi dini
O2 = hasil observasi setelah diberi perlakuan
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Maret 2015, yang bertempat di BPM Erlina Darwis Bukittinggi.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Hidayat, 2007). Populasi pada penelitian ini adalah semua Ibu Nifas 24 jam post partum di BPM Erlina Darwis Bukittinggi 2015.
2. Sampel
Sampel adalah bagian populasi yang di teliti atau sebagian jumlah dari karateristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2007).Sampel pada eksperimental yaitu 10 per group, sedangkan pada penelitian eksperimental sederhana (pre eksperimental) relative sedikit yaitu 5 hingga 10 sampel (Gay dan Diehl Roscoe, 1975). Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah ibu nifas 24 jam post partum, dengan jumlah sampel 10 responden ibu nifas. Pengambilan sampel dilakukan dengan tekhnik consecutive sampling yaitu pemilihan sampel dengan menetapkan subyek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu yaitu yang telah dilakukan pada bulan Februari sampai Maret, dan jumlah responden telah terpenuhi.
Adapun kriteria sampel yang akan di ambil yaitu sebagai berikut : a. KriteriaInklusi
Kriterian inklusi adalah karakteristik umum yang memenuhi kriteria subyek penelitian yang akan diteliti dari suatu populasi. Kriterianya sebagai berikut :
1) Bersedia menjadi sampel 2) Ada di tempat penelitian 3) Ibu nifas normal
4) Dalam rentang masa nifas 24 jam post partum
b. Kriteria Eklusi
Kriteria eklusi adalah menghilangkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari penelitian karena suatu sebab. Adapun kriteria eklusi pada penelitian ini yaitu
1) ibu yang memiliki komplikasi persalinan
2) ibu yang memiliki komplikasi dalam masa nifas
3) Ibu yang sudah tidak berada dalam rentang masa nifas 4 jam post partum.
D. Etika Penelitian
Penelitian ini menngunakan manusia sebagai subyek tidak boleh bertentangan dengan etik.Tujuan penelitian ini harus etis dalam arti hak responden harus terlindungi.
Dengan menekankan masalah etik sebagai berikut : 1. Informed concent(Lembar persetujuan penelitian)
Lembar persetujuan diberikan kepada subyek yang diteliti, kemudian dijelaskan maksud dan tujuan risert yang akan dilakukan. Bila subyek menyetujuinya maka ia harus menandatangani lembar persetujuan penelitian, namun bila subyek menolak maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.
2. Anonimity (Tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas, peneliti tidak akan mencantumkan nama subyek yang akan diteliti pada lembar pengumpulan data (lembar observasi) yang diisi oleh subyek, lembar tersebut diberi kode tertentu.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang telah diberikan dan dikumpulkan oleh subyek dijamin kerahasiaannya, hanya sekelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan pada hasil risert.
E. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
1. Mengambil surat pengantar penelitian dari STIKes Prima Nusantara bagian LPPM untuk melakukan survey awal di BPM Erlina Darwis Bukittinggi 2015 Adapun cara peneliti dalam mengumpulkan data. 2. Mengantarkan surat pengantar ke BPM bersangkutan
3. Melakukan survey awal, dan didapatkan hasil 2 dari 5 ibu nifas yang melakukan mobilisasi dini penurunan TFU nya lebih cepat.
4. Mengajukan proposal penelitian
5. Melakukan penelitian dengan sampel 5 responden ibu nifas, dan memberikan treatment berupa mobilisasi dini.
6. Setelah data terkumpul, mengelompokkan data pre treatment dan post treatment secara manual
7. Kemudian data tersebut dijadikan kedalam sentimeter untuk di olah secara komputerisasi.
Adapun cara pengumpulan data yang dilakukan meliputi 2 bagian yaitu data primer dan sekunder, sbb :
a. Data primer
Data Primer dalah data atau sumber informasi yang langsung berasal atau langsung diperoleh dari seseorang yang mempunyai wewenang dan bertanggung jawab terhadap data tersebut (Notoadmodjo, 2005).
Dilakukan dengan instrument tertutup yaitu melihat perlakuan bidan dalam menanggapi nyeri pasien dan kemudian mengisi lembar observasi berupa checklist.
Instrument terbagi atas dua bagian :
1. Bagian pertama menanyakan data demografi yaitu nama, umur, dan nomor telpon. Data demografi tersebut digunakan untuk mengetahui identitas responden yang akan di teliti.
2. Bagian kedua adalah berisi pernyataan-pernyataan yang akan peneliti isi dalam bentuk checklistsesuai dengan perlakuan bidan dalam menanggapi nyeri.
b. Data sekunder
Adalah data atau sumber informasi yang bukan dari tangan pertama (Notoadmodjo, 2005).Data sekunder diperoeh selain dari responden yaitu berupa informasi ataupun data yang didapat dari bidan atau Klinik Bersalin bersangkutan.
F. Prosedur Pengolahan Data Penelitian 1. Pengolahan Data
a. Editing
Lembar observasi dan pencatatan yang telah di isi akan diperiksa kembali, apakah sesuai dengan ketetapan yang telah dibuat.
b. Coding
Memberi kode checklist( √ ) pada lembar observasi sesuai dengan sifat variabel. Dimana pada lembar observasi yang akan diisi berbentuk pernyataan-pernyataan sehubungan dengan masalah yang ada.
c. Entry
Mengisi kolom-kolom atau kotak-kotak kode sesuai dengan pernyataan yang ada.
d. Tabulating
Mentabulasi data sesuai dengan kelompok-kelompok data yang telah ditentukan.
e. Cleaning
Merupakan pengecekan kembali data yang sudah di tabulasikan dan dilakukan pembersihan data kembali dari kesalahan saat mentabulasikan data.
2. Analisa Data
A. Analisa Univariat
Analisa univariat adalah suatu analisa terhadap setiap variabel dari peneliti yang bertujuan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi dan proporsi dari berbagai variabel yang diteliti. Dengan demikian variabel-variabel yang ada dapat dengan mudah dilakukan analisa selanjutnya. Data yang merupakan karakteristik sampai ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi
pada tiap variabel, dengnan menggunakan cara perhitungan manual (Notoatmodjo, 2005)
Pada penelitian ini peneliti telah mengobservasi tinggi fundus uteri sebelum diberikan perlakuan, diberi perlakuan, kemudian tahap selanjutnya adalah mengobservasi tinggi fundus uteri setelah perlakuan, kemudian disimpulkan adakah penurunan tinggi fundus uteri sebelum dan sesudah diberi perlakuan.
B. Analisa Bivariat
Untuk menguji data yang telah didapatkan peneliti menggunakan uji Wilcoxon Match Pairs. Teknik ini merupakan penyempurnaan dari uji tanda. Setelah data terkumpul kemudian dilakukan uji statistik Wilcoxon Match Repairs test dengan menggunakan tingkat kemaknaan α< 0,05 menggunakan bantuan SPSS. Bila α< 0,05 berarti Hapenelitian diterima yaitu ada pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada BAB ini akan di paparkan hasil penelitian tentang Pengaruh Mobilisasi Dini terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Nifas di BPM Erlina Darwis Bukittinggi tahun 2015, yang datanya telah dikumpulkan pada bulan Februari sampai Maret dengan jumlah responden sebanyak 10 responden yang memenuhi kriteria sampel dan telah bersedia menjadi responden. Jumlah tersebut telah memenuhi sampel penelitian, sesuai dengan yang telah direncanakan.
Pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi dan lembar pencatatan yang mana lembar observasi digunakan untuk melihat treatment mobilisasi dini yang diberlakukan kepada semua responden. Sedangkan lembar pencatatan digunakan untuk mencatat Penurunan Tinggi Fundus Uteri sebelum dan sesudah diberikan treatment. Kedua lembaran tersebut telah diperiksa kelengkapannya hingga seluruh instrument yang diobservasi telah memenuhi syarat untuk dianalisa. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan tekstural.
1. Analisa Univariat a. Umur
Data ini menggambarkan karakteristik responden meliputi umur dan jumlah persalinan responden.
Tabel 4.1
Karakteristik Responden Berdasarkan Umur di BPM Erlina Darwis Bukittinggi Tahun 2015
No Kelompok Umur Jumlah
1. ≤ 35 tahun 9 Responden
2. > 35 tahun 1 Responden
Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan bahwa ibu nifas yang berumur ≤ 35 tahun yaitu sebanyak 9 responden. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu nifas tidak mengalami resiko tinggi.
b. Paritas
Tabel 4.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Paritas di BPM Erlina Darwis Bukittinggi Tahun 2015
No Paritas Jumlah
1. Primigravida 1 Responden
Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan bahwa responden multipara lebih banyak dari pada primigravida yaitu 9 responden. Hal ini menunjukkan bahwa responden lebih didominasi oleh ibu multipara.
c. Tinggi Fundus Uteri
Data dibawah ini menggambarkan pencatatan penurunan tinggi fundus uteri sebelum dan sesudah mobilisasi dini.
Tabel 4.3
Tinggi Fundus Uteri Sebelum dan Sesudah Mobilisasi Dini Di BPM Erlina Darwis Bukittinggi Tahun 2015
Tinggi Fundus Uteri (TFU)
Mean N Std.Deviation Std. Eror
Mean Pre-Mobilisasi Dini 11.8000 10 1.61933 .51208 Post-Mobilisasi Dini 8.6000 10 1.71270 .54160
Berdasarkan tabel 4.3 terlihat bahwa adanya penurunan tinggi fundus uteri responden setelah melakukan mobilisasi dini, yaitu pada nilai rerata tinggi fundus uteri ibu turun sebesar 3 cm.
2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dalam penelitian ini menggambarkan pengaruh antara variabel dependen dengan treatment yang diberikan, yaitu
mobilisasi dini dan variabel dependen yaitu Tinggi fundus uteri, seperti diuraikan di bawah ini
Tabel 4.4
Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan TFU Ibu Nifas di BPM Erlina Darwis Bukittinggi 2015
Tinggi Fundus Uteri (TFU) Mean Standar Deviation Standar Eror P Value N Pre-Mobilisasi Dini 11,80 1,61 0,51 0,001 10 Post-Mobilisasi Dini 8,60 1,71 0,54 10
Pada tabel 4.4 dapat dilihat perubahan tinggi fundus uteri setelah dan sebelum responden diberikan treatment. Disana terlihat jelas bahwasanya penurunan tinggi fundus unteri ibu setelah melakukan mobilisasi dini menurun 3 cm yaitu dari 11.80 cm menjadi 8.60 cm, sedangkan standar deviasi 1,61 cm menjadi 1,71 dan standar error 0,51 cm menjadi 0,54.
Dari hasil uji statistik α ≤ 0,05. Pada bab ini dengan membandingkan nilai pre test dan post test didapatkan tingkat signifikansi nilai P-Value = 0.001 yang artinya lebih kecil dari α ≤ 0.05 berarti Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh mobilisasi dini
terhadap penurunan TFU pada ibu nifas di BPM Erlina Darwis Bukittinggi Tahun 2015.
B. Pembahasan
Pada bab pembahasan ini akan di paparkan hasil penelian sesuai dengan lembar observasi dan lembar pencataan.
1. Analisa Univariat
a. TFU Pada Ibu Nifas Sebelum Melakukan Mobilisasi Dini
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap ibu nifas sebanyak 10 responden. Didapatkan rerata sebelum melakukan mobilisasi dini sebesar 11.80 cm.
Sebelum melakukan mobilisasi dini rata-rata tinggi fundus uteri ibu setelah 24 jam post partum adalah setinggi pusat, hal ini termasuk dalam kategori normal namun perlu pengawasan yang ketat agar tidak terjadi perdarahan pada ibu. (Fefendi, 2008)
Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di tengah, kira-kira 2 jari di bawah pusat. Pada saat ini besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu beratnya kira-kira 1000 gr. Dalam waktu 12 jam, TFU mencapai kurang lebih 1 jari di atas pusat. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 jari setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara pusat dan simfisis. Uterus tidak bisa di palpasi pada hari ke-9 masa nifas. (Bobak dkk, 2004)
Adapun hal-hal yang mempengaruhi penurunan tinggi fundus uteri pada ibu yaitu kehamilan multiple, hidramnion, kelelahan akibat persalinan yang panjang dan kesulitan melahirkan, multipara atau efek fisiologis akibat kelebihan analgesic, ada bagian plasenta atau membran yang tertahan, kandung kemih penuh. (Saleha, 2009)
Berdasarkan tinggi fundus uteri sebelum mobilisasi dini yang didapatkan pada penelitian ini, maka terlihat bahwa sebagian besar responden memiliki tinggi fundus normal dan hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Indah mahasiswa UPN yang meneliti tentang Hubungan mobilisasi Dini dengan penurunan Tinggi Fundus Uteri Ibu dengan hasil 15 dari 20 responden memiliki tinggi fundus uteri normal sebesar 12-13 cm.
Menurut asumsi peneliti penurunan tinggi fundus uteri ibu nifas sebelum mobilisasi dini sangat berpengaruh terhadap karakteristik yang ada, yaitu berdasarkan umur ibu dan juga paritas atau jumlah persalinan yang dilalui ibu. Ini sesuai dengan teori yang mana menyatakan umur dan paritas mempengaruhi penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas.
b. TFU Pada Ibu Nifas Setelah Melakukan Mobilisasi Dini
Dari hasil penelitian, pada tabel 4.3 dengan memberlakukan mobilisasi dini pada semua responden secara bertahap untuk menurunkan tinggi fundus uteri maka didapatkan rerata sebesar 8.60 cm, sehingga ini menurun dari hasil sebelum melakukan mobilisasi dini sebesar 3 cm.
Jika dilihat dari data tersebut maka responden mengalami penurunan tinggi fundus uteri setelah melakukan mobilisasi dini. Hal ini karena mobilisasi dapat memperlancar darah ke dalam uterus sehingga kontraksi uterus akan baik dan fundus uteri akan menjadi keras. Kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka dan perdarahan tidak terjadi sehingga penurunan TFU berlangsung dengan cepat.
Mobilisasi dini merupakan aktivitas segera yang dilakukan secepat mungkin setelah beristirahat beberapa jam dengan beranjak dari tempat tidur ibu pada persalinan normal. Mobilisasi dapat mengurangi bendungan lochia dalam rahim, meningkatkan peredaran darah sekitar alat kelamin, mempercepat normalisasi alat kelamin dalam ke keadaan semula. (Bobak dkk, 2004)
Berdasarkan hasil tinggi fundus uteri setelah mobilisasi dini yang didapatkan pada penelitian ini, maka terlihat bahwa sebagian besar responden mengalami penurunan tinggi fundus uteri dan hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh martini mahasiswa pasca sarjana UI yang meneliti tentang Efektivitas Mobilisasi Dini Terhadap Percepatan Penurunan Tinggi Fundus Uteri dengan hasil 25 dari 30 responden mengalami penurunan tinggi fundus uteri.
Menurut asumsi peneliti mobilisasi dini sangat penting dilakukan, sebab mempercepat penurunan tingi fundus, sehingga proses involusi pada ibu nifas berjalan lancar. Dengan begitu
mobilisasi dini sangat tepat untuk dijadikan terapi yang menjadikan tindakan nonfarmakologios yang harus diintervensikan pada ibu nifas. Ini terbukti pada hasil penelitian dimana sebagian besar ibu mengalami penurunan tinggi fundus uteri namun masih terdapat 3 responden yang tidak mengalami penurunan tinggi fundus uteri, yangmana sebagian besar ibu tersebut adalah primigravida. Dari observasi peneliti penurunan tinggi fundus uteri ini tidak terjadi karena ibu tidak maksimal dalam melakukan mobilisasi dini, dimana ibu takut untuk bergerak sebab ibu primigravida kebanyakan mengalami robekan pada jalan lahir sehingga ia diheating untuk memberhentikan perdarahan. Maka disini dibutuhkan peran bidan untuk menjelaskan kepada ibu betapa pentingnya mobilisasi dini dan hal tersebut tidak akan berdampak buruk pada jahitan ibu.
2. Analisa Bivariat
a. Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan TFU Pada Ibu Nifas
Berdasarkan data hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengaruh mobilisasi dini terhadap penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas adalah sengat besar dimana terjadinya penurunan sebesar 3 cm yaitu dari 11.80 cm menjadi 8.60 cm.
Dari data hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa setelah melakukan mobilisasi dini ibu nifas mengalami penurunan tinggi fundus uteri. Ini menunjukkan mobilisasi dapat mempengaruhi penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas setelah 24 jam post partum.
Mobilisasi dini dapat langsung dilakukan setelah melahirkan, asalkan rasa nyeri dapat ditahan dan keseimbangan tubuh tidak lagi menjadi gangguan, dengan bergerak masa pemulihan untuk mencapai keadaan seperti sebelum melahirkan dapat dipersingkat. Hal ini akan mencegah kekakuan otot dan sendi sehingga juga mengurangi nyeri, menjamin kelancaran peredaran darah, memperbaiki pengaturan metabolisme tubuh, mengembalikan kerja fisiologis organ-organ vital yang pada akhirnya justru akan mempercepat penurunan tinggi fundus uteri. (Bobak dkk, 2004)
Dari hasil penelitian ini, tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Indah mahasiswa UPN yang meneliti tentang hubungan mobilisasi dini dengan penurunan tinggi fundus uteri ibu yang mendapatkan hasil yang signifikan dengan p-Value 0.00. Selain itu juga pernah diteliti oleh martini mahasiswa pasca sarjana UI yang meneliti tentang efektivitas mobilisasi dini terhadap percepatan penurunan tinggi fundus uteri, didapatkan p-Value sebesar 0.013. Menurut asumsi peneliti, jika dilihat dari hasil observasi dan juga penelitian sebelumnya mobilisasi dini sangat bermanfaat bagi ibu nifas. Dengan melakukan mobilisasi dini secara bertahap proses
penurunan tinggi fundus uteri lebih cepat sehingga pengeluaran lochea dan sisa plasenta menjadi lancar serta kontraksi uteruspun menjadi lebih bagus, ini akan memperkecil terjadinya resiko perdarahan post partum pada ibu dan komplikasi masa nifas lainnya.
C. Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menemukan keterbatasan dalam melakukan penelitian, yaitu sampel yang sedikit dan tidak adanya kelompok control sebagai perbandingan dalam penelitian, sehingga hasil penelitian mengandung nilai bias dan perlu penelitian lebih lanjut lagi.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di BPM Erlina Darwis pada bulan Februari sampai Maret 2015, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Sebagian besar responden memiliki tinggi fundus uteri normal sebelum melakukan mobilisasi dini yaitu dengan rerata sebesar 11.80 cm.
2. Sebagian besar responden mengalami penurunan tinggi fundus uteri setelah melakukan mobilisasi dini yaitu dengan rerata sebesar 8.60 cm.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara mobilisasi dini dengan penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas. Setelah dilakukan analisis statistik dengan Uji T didapatkan nilai p-Value = 0,001.
B. Saran
1. Bagi Tenaga Kesehatan
Kepada tenaga kesehatan setelah membaca hasil penelitian ini hendaknya dapat dijadikan bahan masukan dan informasi bagi bidan bahwasanya mobilisasi dini sangat penting diterapkan kepada pasien setelah persalinan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Kepada institusi pendidikan agar dapat memperbanyak sumber buku seperti buku-buku tentang Mobilisasi Dini dan penatalaksanaannya yang terbaru untuk mempermudah mencari bahan bacaan untuk penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Kepada peneliti selanjutnya diharapkan untuk melakukan penelitian ini dengan jumlah sampel yang lebih banyak lagi dan sedapat mungkin menambahkan variabel paritas serta mengadakan kelompok control sehingga nilai biasa dari penelian ini dapat diminimalisir.
4. Bagi Responden
Agar dapat meningkatkan pengetahuan dan merubah pola pikir serta sikapnya mengenai pentingnya mobilisasi dini terhadap ibu nifas.
PERMOHONAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth. Ibu Calon Responden di
T e m p a t
Dengan hormat,
Saya adalah dosen STIKes PRIMA NUSANTARA Bukittinggi yang sedang melakukan penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
“Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Tinggi Fundus Uteri Pada Ibu Nifas Di BPM Erlina Darwis Bukittinggi 2015”.
Proses pengambilan data ini melalui pernyataan dengan bantuan lembar observasi yang langsung diisi peneliti. Data yang diperoleh hanya digunakan untuk keperluan penelitian. Kerahasiaan Identitas ibu akan terjaga dengan baik, untuk itu hanya akan dicantumkan inisial nama ibu.
Saya sangat menghargai kesediaan ibu untuk menyediakan waktu menandatangani lembaran persetujuan (informed consent) yang disediakan. Atas kesediaan dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih, semoga ibu dapat memberi dukungan pengembangan ilmu kebidanan di masa yang akan datang.
Bukittinggi , Februari 2015 Peneliti
FORMAT PERSETUJUAN ( Informed Consent )
Setelah dijelaskan maksud dan tujuan penelitian, maka saya bersedia menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan oleh Ibu Hj. Evi Susanti, S.ST, M.Biomed, Dosen STIKes PRIMA NUSANTARA Bukittinggi yang berjudul “Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Tinggi Fundus Uteri Pada Ibu
Nifas Di BPM Erlina Darwis Bukittinggi 2015”.
Demikianlah persetujuan ini saya tandatangani dengan sukarela tanpa paksaan siapapun.
Bukittinggi , Februari 2015
LEMBAR OBSERVASI
MOBILISASI DINI
Nama Responden Treatmen Yang Diberikan Kepada Semua Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Menggerakkan lengan, tangan, menggerakkan ujung jari
kaki dan memutar pergelangan kaki, menekuk dan
menggeser kaki
Miring ke kanan dan ke kiri
Ibu diajari duduk secara perlahan-lahan