• Tidak ada hasil yang ditemukan

Abstrak. Kata kunci : Perencanaan, terpadu, perumahan, permukiman, banjir. Abstract

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Abstrak. Kata kunci : Perencanaan, terpadu, perumahan, permukiman, banjir. Abstract"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Potensi bencana yang ada di Indonesia dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok utama, yaitu potensi bahaya utama (main hazard) dan potensi bahaya ikutan (collateral hazard). Potensi bahaya utama dapat dilihat dari peta bencana gempa yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah wilayah zona rawan gempa. Potensi bahaya ikutan seperti tanah longsor, letusan gunung berapi, lahar dingin, tsunami, banjir, umumnya menimbulkan kerugian bagi pemerintah dan masyarakat, seperti: korban jiwa, kerugian harta benda, kerusakan sarana-prasarana lingkungan, dan musnahnya hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, misalnya likuifaksi, kepadatan bangunan dan industri berbahaya, terutama di perkotaan padat huni dan bangunan (terutama pemukiman kumuh), sehingga kota-kota besar dan metropolitan di Indonesia merupakan wilayah/daerah dengan

potensi bencana yang sangat tinggi.

Dari berbagai kajian yang telah dilakukan pada daerah/kawasan rawan banjir, pada dasarnya disebabkan oleh tiga hal, yaitu:

1. Kegiatan manusia menyebabkan terjadinya

perubahan tata ruang dan berdampak pada perubahan alam;

2. Peristiwa alam seperti curah hujan yang tinggi,

kenaikan muka air laut, badai;

3. Degradasi lingkungan seperti hilangnya tumbuhan

penutup tanah pada catchment area, pendangkalan sungai (sedimentasi), penyempitan alur sungai; Dari hasil Lokakarya tentang Banjir dan Longsor di Jakarta, 8 Januari 2008, banjir dan longsor merupakan bencana yang predictable. Hal ini disebabkan oleh kombinasi faktor-faktor alam dan kegiatan manusia terkait dengan pemanfaatan sumber daya alam berakibat menurunnya fungsi hidrologis ekosistem

MODEL PENGGUNAAN STANDAR/PEDOMAN DALAM PENANGANAN PERUMAHAN

DAN PERMUKIMAN DI KAWASAN RAWAN BANJIR/PASANG SURUT

Standard/Guideline Usage Model In Handling Housings And Settlement In Flood-Prone Areas/Tidal Budiono Sundaru

Pusat Litbang Permukiman, Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393

E-mail: [email protected]

Abstrak

Perencanaan lingkungan perumahan dan permukiman pada kawasan rawan banjir dapat dilakukan secara terpadu, yaitu dengan sinkronisasi peraturan perundangan (Peraturan Daerah setempat) dengan standar/pedoman yang terkait di bidang perumahan dan prasarana-sarana permukiman, serta teknologi bahan, struktur dan konstruksi bangunan gedung, jalan dan jembatan, termasuk pengelolaan sumber daya air. Berdasarkan rekayasa teknologi dengan menerapkan SPM (Standar Pedoman Manual) tersebut di atas, maka diharapkan lingkungan perumahan dan permukiman yang akan dibangun dapat beradaptasi dengan komponen-komponen eco-system.

Kata kunci : Perencanaan, terpadu, perumahan, permukiman, banjir Abstract

Integrated plan of overcoming housing and settlement environment issue in flood-prone areas should be arranged by synchronizing the regional regulation (Perda) and standards/guidelines consisting housing and settlement infrastructures, building materials, structures and construction technologies, roads and bridges, and water resources management. By applying SPM, it is expected that the future housing and settlement environment could be adapted into eco-system components.

(2)

daerah aliran sungai (DAS). Beberapa butir catatan hasil lokakarya tersebut, antara lain :

• Dalam kejadian banjir, hujan bukan satu-satunya penyebab banjir, namun juga tergantung pada daya dukung lingkungan. Sedangkan tanah longsor sangat terkait dengan kerentanan gerakan tanah (faktor geologi) dan curah hujan;

• Pemerintah telah berupaya melakukan perbaikan kondisi DAS melalui berbagai program dan kegiatan baik menyangkut kegiatan fisik di lapangan (rehabilitasi hutan dan lahan, bangunan struktural) maupun non fisik seperti penguatan kapasitas kelembagaan diberbagai tingkat dan pemberdayaan masyarakat, akan tetapi hasilnya masih belum memadai.

Konversi dari lahan pertanian ke non pertanian mencapai 35.000 Ha setiap tahunnya. Dampak lingkungan yang ditimbulkan antara lain : menurunnya kualitas dan kuantitas air di 62 DAS, tidak berfungsinya jaringan irigasi teknis yang melayani areal pertanian seluas 6,77 juta Ha dan irigasi daerah rawa seluas 1,8 Ha (Rencana Strategi Departemen Pekerjaan Umum Tahun 2005-2009, hal.3).

Dengan memperhatikan masalah di atas, maka pembangunan permukiman diarahkan pada kawasan yang tidak produktif, seperti lahan tandus dan rawa. Pemanfaatan rawa untuk permukiman selama ini sudah dilakukan, tetapi dilakukan dengan cara rekayasa konvensional, yakni mengatuskan rawa dan mengurug lahan tersebut dengan tanah urugan. Cara tersebut terjadi perubahan ekosistem yang berdampak luas, antara lain terjadinya banjir di daerah sekitarnya, flora dan fauna asli di ekosistem rawa punah. Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, maka dapat dilakukan rekayasa teknologi perumahan dan permukiman yang adaptif dengan kondisi rawa.

Rumusan Permasalahan

Rekayasa dan penerapan teknologi perumahan dan permukiman dapat dilakukan melalui keterpaduan antara kebijakan pembangunan dan peraturan perundangan daerah (Perda) setempat dengan standar, pedoman, manual (SPM) yang terkait di bidang perumahan dan sarana-prasarana permukiman, serta teknologi bahan, struktur dan konstruksi bangunan yang mendukung komponen ekosistem kawasan dan mendorong partisipasi aktif masyarakat.

METODOLOGI

Untuk mewujudkan teknik perencanaan ini perlu dilakukan pendekatan, yaitu :

• Merumuskan indikator-indikator, variabel-variabel, parameter, instrumen pendataan dan teknik analisis, dengan memperhatikan teori yang terkait dengan penyelenggaraan pembangunan, pengembangan perumahan dan permukiman berbasis lingkungan (mis.: Environmental Management

System, Environmentally Sustainable Development, One River-One Plan-One Management-One Overview Comprehensive, Eco Housing);

• Memperhatikan standar, pedoman, manual (SPM) dan peraturan perundangan yang terkait, serta teknologi hasil litbang di bidang perumahan dan permukiman;

• Menelaah kebijakan, strategi dan program, serta kegiatan penanganan pasca bencana banjir yang dilakukan berbagai institusi/lembaga/badan (internasional, pusat dan daerah), asosiasi profesi, serta pelibatan dan keswadayaan atas inisiatif masyarakat individu maupun kooperatif.

Pendekatan ini digunakan metode diakronik, sinkronik, dan super-impose (thematic maps), yaitu dengan cara menggabungkan berbagai teori, peraturan perundangan dan SPM, serta teknologi hasil litbang permukiman.

HASIL

Teknik perencanaan terpadu suatu lingkungan perumahan dan permukiman dengan cara memadu-serasikan kebijakan dan peraturan perundangan daerah (Perda) setempat dengan standar, pedoman, manual (SPM) yang terkait di bidang perumahan dan sarana-prasarana permukiman, teknologi bahan, struktur dan konstruksi bangunan. Perencanaan terpadu yang menghasilkan pola/model perencanaan suatu lokasi/kawasan dengan menerapkan SPM dan teknologi yang adaptif dan ramah lingkungan.

TINJAUAN PERATURAN

Berdasarkan UU RI No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Bab II Konservasi Sumber Daya Air, pada Pasal 20 disebutkan bahwa konservasi sumber

(3)

daya air ditujukan untuk menjaga kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air. Konservasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air, pengawetan air, serta pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Pada pasal 20 disebutkan bahwa perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam, kekeringan dan disebabkan oleh tindakan manusia. Perlindungan dan pelestarian sumber air dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui :

a. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan dan daerah tangkapan air;

b. pengendalian pemanfaatan sumber air; c. pengisian air pada sumber air;

d. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi;

e. perlindungan sumber air hubungan nya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air;

f. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu; g. pengaturan daerah sempadan sumber air; h. rehabilitasi hutan dan lahan; dan/atau

i. pelestarian hutan lindung, kawasan suaka dan kawasan pelestarian alam.

Bab V Pengendalian Daya Rusak Air, pasal 51 disebutkan bahwa pengendalian daya rusak air dila-kukan secara menyeluruh meliputi upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan. Pengendalian daya rusak air dimaksud ayat (1) diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dalam pola pengelolaan sumber daya air. Pengendalian daya rusak air dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat, dan menjadi tanggung jawab pemerintah (pusat/daerah), pengelola sumber daya air wilayah sungai dan masyarakat.

Pasal 54 disebutkan bahwa penanggulangan daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam pasal 51 ayat 1 dilakukan dengan mitigasi bencana. Penanggulangan yang dimaksud pada ayat 1 dilakukan secara terpadu

oleh instansi terkait dan masyarakat melalui suatu badan koordinasi penanggulangan bencana di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Berdasarkan UU RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pasal 17 disebutkan bahwa pada butir 5 dalam rangka pelestarian lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat 4, dalam rencana tata ruang wilayah ditetapkan kawasan hutan minimum 30 (tiga puluh) persen dari luas daerah aliran sungai; dan butir 6 dalam penyusunan rencana tata ruang harus memperhatikan keterkaitan antar wilayah, antar fungsi kawasan, dan antar kegiatan kawasan.

Pasal 20 disebutkan dalam butir 5 bahwa dalam kondisi lingkungan strategis tertentu berkaitan bencana alam skala besar ditetapkan dengan peraturan perundangan dan/atau perubahan batas teritorial negara ditetapkan dengan Undang-Undang. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional ditinjau kembali lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Pasal 28 butir c. disebutkan bahwa rencana penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki, angkutan umum, kegiatan sektor informal, dan ruang evakuasi bencana, yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi kota sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah. Dalam pasal 34 butir 4 disebutkan bahwa pemanfaatan ruang dimaksud pada ayat 1 dilaksanakan sesuai (a) standar pelayanan minimal bidang penataan ruang; (b) standar kualitas lingkungan; dan (c) daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Berdasarkan UU RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, pasal 26 butir 2 disebutkan bahwa setiap orang yang terkena bencana berhak mendapat bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, dan butir 3 setiap orang berhak untuk memperoleh ganti kerugian karena terkena bencana yang disebabkan oleh kegagalan konstruksi.

Pasal 31 disebukan bahwa penyelenggaraan penang-gulangan bencana berdasarkan atas 4 (empat) aspek yaitu: (a) sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat; (b) kelestarian lingkungan hidup; (c) kemanfaatan dan efektivitas; dan (d) lingkup luas wilayah.

(4)

penyeleng-garaan penanggulangan bencana, Pemerintah dapat (a) menetapkan daerah rawan bencana menjadi daerah terlarang untuk pemukiman; dan/atau (b) mencabut atau mengurangi sebagian atau seluruh hak kepemilikan setiap orang atas suatu benda sesuai peraturan perundangan.

Pasal 35 disebutkan bahwa penyelenggaraan penang-gulangan bencana dalam situasi tidak terjadi bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 huruf a meliputi :

a. perencanaan penanggulangan bencana; b. pengurangan risiko bencana;

c. pencegahan;

d. pemaduserasian dalam suatu perencanaan pembangunan;

e. persyaratan analisis risiko bencana; f. pelaksanaan rencana tata ruang; g. pendidikan dan pelatihan; dan

h. ketentuan/persyaratan teknis yang sesuai dengan SPM yang terkait penyelenggaraan penanggulangan bencana.

Pasal 49 disebutkan bahwa pengkajian secara cepat dan tepat dimaksud pasal 48 butir a dilakukan identifikasi cakupan lokasi bencana, jumlah korban, kerusakan prasarana-sarana, gangguan terhadap fungsi pelayanan umum dan pemerintahan, serta kemampuan sumber daya alam dan buatan.

Dalam pasal 53 disebutkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar dimaksud pasal 48 butir d yaitu bantuan penyediaan air minum/bersih dan sanitasi, pangan dan sandang, pelayanan kesehatan, pelayanan psikososial; tempat hunian dan penampungan. Pasal 54 disebutkan bahwa penanganan masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana dilakukan dengan kegiatan meliputi pendataan, penempatan

lokasi yang aman, dan pemenuhan kebutuhan dasar. Pada pasal 58 butir 1 disebutkan bahwa rehabilitasi dilakukan melalui kegiatan :

a. perbaikan lingkungan daerah bencana; b. perbaikan prasarana dan sarana umum; c. bantuan perbaikan rumah masyarakat; d. pemulihan sosial psikologis;

e. pelayanan kesehatan;

f. rekonsiliasi dan resolusi konflik; g. pemulihan sosial ekonomi budaya; h. pemulihan keamanan dan ketertiban; i. pemulihan fungsi pemerintahan; dan j. pemulihan fungsi pelayanan publik.

PROSES PERENCANAAN

Perencanaan terpadu lingkungan perumahan dan permukiman di kawasan rawan banjir, yaitu dengan cara mengisi produk-produk SPM ke dalam matrik substitusi antara karakteristik dan kondisi kawasan dengan produk-produk bidang teknologi permukiman. a. Karakteristik dan kondisi kawasan meliputi :

1)Pasang surut 2)Pesisir/tepi pantai 3)Bantaran sungai 4)Genangan

5)Bebas banjir/genangan (polder) b. Produk teknologi permukiman meliputi :

1) Penataan bangunan dan lingkungan 2) Struktur dan konstruksi

3) Bahan bangunan

4) Penyehatan bangunan dan lingkungan 5) Kenyamanan bangunan dan lingkungan Proses perencanaan terpadu dilakukan dalam model substitusi antara butir a karakteristik dan kondisi kawasan dengan butir b produk-produk teknologi dan SPM bidang permukiman (lihat Tabel 1). Tabel 1. Perencanaan Terpadu

ASPEK LOKASI (KARAKTERISTIK) PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BAHAN BANGUNAN PENYEHATAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN KENYAMANAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN PASANG SURUT 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 PESISIR / TEPI PANTAI 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 BANTARAN SUNGAI 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 GENANGAN 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 BEBAS BANJIR DAN GENANGAN (POLDER) 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5

(5)

Tabel 2. Penataan Bangunan dan Lingkungan pada Kawasan Pasang Surut

1.1.1 Persyaratan Umum a. b.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Izin Mendirikan Bangunan 1.1.2 Persyaratan Bangunan a.

b.

Kepadatan Bangunan (Building Coverage) Ketinggian Bangunan (Floor Area Ratio) 1.1.3 Persyaratan lingkungan a.

b.

Kepadatan Lingkungan (Land Coverage) RuangTerbuka Hijau (RTH) 1.1.4 Prasarana dan Sarana Dasar

Pendukung Lokasi/Kawasan a. b. c. d. e. f.

Sistem dan Jaringan Transportasi Sistem dan Jaringan Air Minum Sistem dan Jaringan Listrik Sistem dan Jaringan Drainase Sistem dan Jaringan Air Kotor

Sistem dan Jaringan Infomasi-Komunikasi

Di dalam Tabel 2 adalah substitusi aspek-aspek penataan bangunan dan lingkungan dengan karakteristik dan kondisi kawasan pasang surut. Pada Tabel-2 diuraikan aspek-aspek penataan bangunan, meliputi:

a) Persyaratan umum yang terkait dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB);

b) Persyaratan bangunan yang terkait dengan kepadatan bangunan (KDB) dan ketinggian bangunan (KLB);

c) Persyaratan lingkungan yang terkait dengan kepadatan lingkungan dan ruang terbuka hijau (RTH);

d) Prasarana dan sarana dasar pendukung suatu kawasan yang terkait dengan sistem dan jaringan transportasi, sistem dan jaringan air minum, sistem dan jaringan air limbah/kotor, sistem dan jaringan drainasi, sistem dan jaringan listrik dan komunikasi.

Tabel 3. Struktur dan Konstruksi Bangunan pada Kawasan Pasang Surut

1.2.1 Persyaratan Umum a. b. c. Topografi Geologi Klimatologi 1.2.2 Struktur /Konstruksi Bagian

Bawah (Sub Structures)

a. b.

Pondasi Balok (Sloof) 1.2.3 Struktur/Konstruksi Bagian

Tengah (Upper Structures) a. b. c. d. e. f. g. Lantai Kolom Dinding Balok (Ring) Langit-langit Rangka Atap Penutup Atap

Di dalam Tabel 3 adalah substitusi aspek-aspek struktur dan konstruksi bangunan yang terkait dengan karakteristik dan kondisi pada kawasan pasang surut. Aspek struktur dan konstruksi bangunan sesuai Tabel 3 :

a) Persyaratan umum yang terkait dengan topografi, geografi, dan klimatologi;

b) Persyaratan struktur dan konstruksi bagian bawah bangunan (sub structures) yang terkait dengan pondasi dan balok/sloof bangunan;

c) Persyaratan struktur dan konstruksi bagian atas bangunan (upper structures) yang terkait dengan lantai, dinding, kolom, balok atas dinding

(ring-balk), penutup langit-langit, rangka atap dan

penutup atap.

Tabel 4. Bahan Bangunan pada Kawasan Pasang Surut 1.3.1 Persyaratan Umum a.

b. c.

Jenis Bahan Bangunan Lokal Potensi Bahan Bangunan Lokal Izin Pengelolaan

1.3.2 Struktur /Konstruksi Bagian Bawah (Sub Structures)

a. b.

Pondasi Balok (Sloof) 1.3.3 Struktur/Konstruksi Bagian

Tengah (Upper Structures) a. b. c. d. e. f. g. Lantai Kolom Dinding Balok (Ring) Langit-langit Rangka Atap Penutup Atap

Di dalam Tabel 4 adalah substitusi aspek-aspek penggunaan bahan bangunan yang terkait dengan karakteristik dan kondisi pada kawasan pasang surut. Aspek-aspek penggunaan bahan-bahan bangunan sesuai Tabel 4 :

a) Persyaratan umum yang terkait dengan jenis bahan bangunan lokal, potensi bahan bangunan lokal, dan izin pengelolaan bahan bangunan lokal; b) Persyaratan struktur dan konstruksi bagian bawah (sub structures) yang terkait dengan pondasi dan balok/sloof bangunan;

c) Persyaratan struktur dan konstruksi bagian atas (upper structures) yang terkait dengan lantai, dinding, kolom, balok atas dinding (ring-balk), penutup langit-langit, rangka atap dan penutup atap.

(6)

Tabel 5. Penyehatan Bangunan dan Lingkungan pada Kawasan Pasang Surut

1.4.1 Air Minum a. b.

Sumber Air

Sistem Penyediaan Air Bersih 1.4.2 Limbah Rumah Tangga a.

b.

Sistem dan Jaringan Limbah Pengolahan Limbah Rumah Tangga 1.4.3 Air Kotor a.

b.

Sistem dan Jaringan Air Kotor Pengolahan Air Kotor 1.4.4 Air Hujan a.

b.

Sistem dan Jaringan Air Hujan Pengolahan Air Hujan

1.4.5 Sampah a.

b.

Sistem dan Jaringan Pembuangan Sampah Pengolahan Sampah

Di dalam Tabel 5 adalah substitusi aspek-aspek penyehatan bangunan dan lingkungan terkait dengan karakteristik dan kondisi kawasan pasang surut. Aspek- aspek penyehatan bangunan dan lingkungan yaitu (lihat Tabel 5) :

a) Air minum terkait sumber air dan sistem penyediaan air bersih;

b) Air limbah rumah tangga terkait sistem dan jaringan air limbah, serta pengolahan air limbah rumah tangga;

c) Air kotor terkait sistem dan jaringan air kotor, serta pengolahan air kotor;

d) Air hujan terkait sistem dan jaringan air hujan, serta pengolahan air hujan;

e) Sampah terkait sistem dan jaringan pembuangan sampah, serta pengolahan sampah.

Tabel 6. Kenyamanan Bangunan dan Lingkungan pada Kawasan Pasang Surut

1.5.1 Penerangan Alami a.

b.Dalam Bangunan Luar Bangunan

1.5.2 Sirkulasi Udara a. b. Dalam Bangunan Luar Bangunan 1.5.3 Kemudahan Pencapaian a. b. Dalam Bangunan Luar Bangunan 1.5.4 Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Lainnya a. b. c. d. Gempa Longsor Kebakaran Rawan Sosial Di dalam Tabel 6 adalah substitusi aspek-aspek kenyamanan bangunan dan lingkungan yang terkait dengan karakteristik dan kondisi kawasan pasang surut. Aspek- aspek kenyamanan bangunan dan lingkungan yaitu (lihat Tabel-6):

a) Penerangan alami terkait penerangan di dalam dan di luar bangunan;

b) Sirkulasi udara terkait sirkulasi di dalam dan di luar bangunan;

c) Kemudahan pencapaian terkait pencapaian di dalam dan di luar bangunan;

d) Pencegahan dan penanggulangan bencana lainnya terkait gempa, longsor, kebakaran dan kerawanan sosial.

Cara pengisian matriks substitusi terkait antara aspek-aspek permukiman dengan indikator-indikator yang sama dapat dilakukan sesuai dengan yang tercantum di dalam Tabel 1 pada butir 2.1., 2.2., 2.3., 2.4., 2.5. yang terkait dengan lokasi/kawasan pada pesisir/tepi pantai; butir 3.1., 3.2., 3.3., 3.4., 3.5. yang terkait dengan lokasi/kawasan pada bantaran sungai; butir 4.1., 4.2., 4.3., 4.4., 4.5. yang terkait dengan lokasi/kawasan genangan; butir 5.1., 5.2., 5.3., 5.4., 5.5. yang terkait dengan lokasi/kawasan yang dikategorikan sebagai bebas banjir dan bebas genangan (polder).

Pengisian butir-butir dalam matriks substitusi antara produk alternatif teknologi dan SPM bidang permukiman secara terintegrasi di kawasan permukiman rawan banjir dapat disusun sebagai berikut :

Persyaratan Umum

1) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW); 2) Izin Mendirikan Bangunan (IMB);

Persyaratan Bangunan

1) Kepadatan bangunan (KDB); 2) Ketinggian bangunan (KLB);

Persyaratan Lingkungan

1) Topografi, geografi, dan klimatologi; 2) Ruang Terbuka Hijau (RTH); 3) Sistem dan jaringan transportasi; 4) Sistem dan jaringan air minum; 5) Sistem dan jaringan air limbah/kotor; 6) Sistem dan jaringan drainase;

7) Sistem dan jaringan listrik;

8) Sistem dan jaringan informasi/komunikasi;

Persyaratan Struktur dan Konstruksi

1) Bagian bawah (sub structures); pondasi; balok/sloof bangunan;

2) Bagian atas (upper structures); lantai, dinding, kolom, balok atas dinding (ring-balk), penutup langit-langit, rangka atap dan penutup atap;

(7)

Persyaratan Bahan Bangunan

1) Jenis bahan bangunan lokal; 2) Potensi bahan bangunan lokal; 3) Izin pengelolaan lokal;

4) Pondasi; 5) Balok/sloof bangunan; 6) Lantai; 7) Penutup lantai 8) Dinding; 9) Kolom;

10) Balok atas dinding (ring-balk); 11) Penutup langit-langit; 12) Rangka atap;

13) Penutup atap;

Persyaratan Air Minum

1) Sumber air;

2) Sistem penyediaan air bersih;

Air Limbah Rumah Tangga

1) Sistem air limbah; 2) Jaringan air limbah; 3) Pengolahan air limbah;

Air Kotor

1) Sistem air kotor; 2) Jaringan air kotor; 3) Pengolahan air kotor;

Air Hujan

1) Sistem pembuangan air hujan; 2) Jaringan air hujan;

3) Pengolahan air hujan;

Sampah

1) Sistem pembuangan sampah; 2) Jaringan pembuangan sampah; 3) Pengolahan sampah; Penerangan Alami 1) Dalam bangunan; 2) Luar bangunan; Sirkulasi Udara 1) Dalam bangunan; 2) Luar bangunan; Kemudahan Pencapaian 1) Dalam bangunan; 2) Luar bangunan; Pencegahan/Penanggulangan Bencana 1) Gempa bumi; 2) Longsor; 3) Kebakaran; 4) Kerawanan sosial.

KESIMPULAN DAN SARAN

Penanganan banjir meliputi : pencegahan dan penanggulangan, kesiapsiagaan, mitigasi dan tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi. Pencegahan dan penanggulangan bencana banjir bersifat multisektor dengan melibatkan para pemangku kepentingan, serta terkait beberapa wilayah administrasi pemerintahan (kota/kabupaten).

Diperlukan koordinasi, integrasi, sinergi dan sinkronisasi (KISS) pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan dan program, rencana, strategi, penerapan, penganggaran, dan optimalisasi partisipasi aktif masyarakat bersama pemerintah setempat.

Upaya pencegahan, penanggulangan dan

kesiapsiagaan dengan cara mengurangi risiko bencana berupa integrasi penanggulangan bencana dalam pembangunan nasional, serta risk assessment dan sistem peringatan dini.

Dalam upaya penyelenggaraan perumahan dan permukiman, khususnya di lokasi atau kawasan yang ditetapkan sebagai fungsi dan kegiatan perumahan, sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota/Kabupaten yang bersangkutan.

Pendekatan penanganannya diperlukan suatu konsep perencanaan terpadu antara lokasi atau kawasan, bangunan rumah dan gedung, lingkungan perumahan, prasarana dan sarana permukiman. Konsep perencanaan terpadu yang dimaksud yaitu :

• Konsep perencanaan tapak;

• Konsep perencanaan bangunan gedung dan perumahan;

• Konsep perencanaan prasarana dan sarana

permukiman;

Konsep perencanaan yang bersifat holistik dengan memperhatikan aspek-aspek teknis- teknologis (hasil litbang dan rumusan SPM bidng permukiman),

(8)

sosial, budaya, dan ekonomi, serta kebijakan pemerintah daerah (propinsi/kota/kabupaten) yang terkait dengan peraturan perundangan (UU/PP/ Perda) dan standar, pedoman, manual (SPM) dalam upaya penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman yang ramah lingkungan (eco-housing dan eco-settlements).

Konsep perencanaan tersebut di atas tidak terlepas dari peruntukan lokasi/kawasan dan masyarakat

kelompok sasaran, khususnya masyarakat

berpenghasilan rendah, sangat rendah dan informal. Sehingga upaya penyediaan perumahan dan prasarana-sarana permukimannya dapat diperoleh melalui subsidi (KPR-RSH) dari Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) dan formal, sehingga pembangunan perumahan dapat terselenggara sesuai kemampuan masyarakat, rumah murah yang layak dan terjangkau, serta memenuhi persyaratan keandalan bangunan.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, 2007, Mendorong Keberdayaan

Mengatasi Kekumuhan Perkotaan, Penerbit Neighborhood Upgrading and Shelter Sector (NUSSP),

Direktorat Pengembangan Permukiman,

Direktorat Jenderal Cipta Karya, Jakarta.

Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, 2007, Rencana Program Investasi

Jangka Menengah Bidang PU, Cipta Karya, Penerbit

Sub Direktorat Kebijakan dan Strategi, Direktorat Bina Program, Jakarta.

Direktorat Permukiman dan Perumahan,

Kementerian Perencanaan Pembangunan

Nasional/Bappenas, 2009, Kajian Hasil Focused

Group Discussion: Menanggulangi Kemiskinan Melalui Pembangunan Perumahan dan Permukiman,

Jakarta.

Kementerian Perumahan Rakyat, 2009, Buku

Panduan Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan (PLP2K-BK) Tahun Anggaran 2010, Penerbit Direktorat

Bina Program, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Jakarta.

Gambar

Tabel 1. Perencanaan Terpadu
Tabel 2. Penataan Bangunan dan Lingkungan pada  Kawasan Pasang Surut
Tabel 5. Penyehatan Bangunan dan Lingkungan  pada Kawasan Pasang Surut

Referensi

Dokumen terkait

Sekolah Tinggi Teknologi Jawa Barat Yayasan Pendidikan Al-Aitaam Bandung.. No Perguruan

Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Kecurangan para wajib pajak bisa dilakukan dengan berbagai hal, salah satunya dengan cara tidak melakukan transaksi dengan sistem (manual) serta tanpa mencetak nota

Berkaitan dengan latarbelakang di atas, penelitian dilakukan di MI Darul Ulum Wates Ngaliyan Semarang, karena Madrasah tersebut merupakan salah satu MI Swasta di

OOP memberikan kemudahan dalam pembuatan sebuah program, keuntungan yang didapat apabila membuat Program berorientasi objek atau object oriented programming (OOP)

Fungsi hati yang lain diantaranya hati merupakan tempat penyimpanan vitamin, hati sebagai tempat menyimpan besi dalam bentuk feritin, hati membentuk zat-zat yang

Kedua, sumber-sumber yang termasuk ke dalam tradisi tertulis (written tradition) baik yang sudah klasik seperti yang berupa naskah atau manuskrip Sunda Kuna maupun

Latar belakang, sekolah memiliki tanggung jawab yang besar untuk membantu siswa agar berhasil dalam belajar, untuk itu sekolah hendaknya memberikan bantuan kepada siswa