• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRACT. Keywords: shifting cultivation system, social economic, Dayak Meratus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRACT. Keywords: shifting cultivation system, social economic, Dayak Meratus"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 98 KARAKTERISTIK SISTEM PERLADANGAN SUKU DAYAK MERATUS

KECAMATAN LOKSADO KALIMANTAN SELATAN Oleh/By

ASYSYIFA

Program Studi Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat

ABSTRACT

The shiftingcultivation system is a traditional use of land that is inherited in generations. The pattern is done by people of Dayak Meratus tribe in Loksado District, South Kalimantan. People of Dayak Meratus call the system as gilir balik cultivation. Steps in cultivation activities consist of cutting down, felling, burning, dibbling, weeding and harvesting. Each step related closely to custom ritual of Kaharingan done by local society. Dayak society has custom laws and rules related to the cultivation that is forbidden to break.

The research was done in three locations of different villages with similar cultivation pattern but due to distance and introduction of outside religion and culture the custom ritual is left slowly. Cultivation in the three villages indicated change in land preparation system, where more population resulted in narrower land and shorter fallow period. People began to use fertilizer and pesticide in cultivation. People also do a simple agroforestry system to add field yield to meet their needs. In non agricultural sectors, people add their income by trading and service (driver, labor, craftsman) or they leave their villages to look for jobs. In general, people who work in field live with traditional live pattern with low welfare and education level.

Keywords: shifting cultivation system, social economic, Dayak Meratus

Penulis untuk korespondensi : Tel. +6281380389700, E-mail: [email protected]

PENDAHULUAN

Di Indonesia, bercocok tanam dengan cara berladang merupakan salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya hutan yang bersifat tradisional. Kegiatan perladangan sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat khususnya di luar Pulau Jawa. Masyarakat Suku Dayak Meratus di Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang masih melakukan kegiatan perladangan. Bahkan dapat dikatakan hasil usaha tani berladang merupakan sumber utama pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat khususnya bahan pangan.

Sistem perladangan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak Meratus akan mengalami berbagai perubahan yang disebabkan oleh menyempitnya lahan untuk berladang akibat pertambahan penduduk. Keterbatasan lahan tersebut juga dapat disebabkan oleh tata guna hutan yang menghendaki tidak semua areal hutan dapat dibuka untuk kegiatan berladang masyarakat. Lahan berladang yang semakin sempit tersebut dapat mengakibatkan penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat, apabila sistem perladangan masih mengandalkan kesuburan alami saja tanpa ada perbaikan sistem

(2)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 99 perladangan sendiri maupun komoditas

yang dibudidayakan.

Informasi karakteristik sistem perladangan sangat penting dikaji, untuk memperoleh gambaran secara utuh mengenai kehidupan sosial ekonomi masyarakat Suku Dayak Meratus dengan segala permasalahan yang dihadapinya. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan pemecahan masalah

perladangan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat peladang dan perbaikan sistem pemanfaatan sumber daya lahan yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menemukenali karakteristik sistem perladangan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak Meratus Loksado dan perkembangan yang memengaruhinya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lumpangi, Desa Loksado dan Desa Haratai yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Pemilihan desa-desa tersebut sebagai lokasi penelitian didasarkan pertimbangan antara lain masyarakat di desa-desa tersebut umumnya didominasi oleh suku Dayak Meratus yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani ladang berpindah. Masing-masing desa sistem perladangannya mengalami perkembangan yang berbeda satu

dengan yang lainnya. Perbedaan perkembangan tersebut menyebabkan kondisi sosial ekonomi peladang dan karakteristik sistem perladangan yang berbeda pula.

Letak desa-desa tersebut mempunyai jarak yang berbeda dengan pusat administrasi pemerintahan atau kegiatan ekonomi dan kawasan hutan lindung Pegunungan Meratus. Pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi sebagai sumber informasi teknologi dan transaksi pasar bagi masyarakat peladang, sangat berpengaruh terhadap perkembangan pengetahuan

dan kondisi sosial ekonomi peladang. Demikian juga jarak lokasi desa dengan kawasan hutan lindung Pegunungan Meratus juga akan menyebabkan perbedaan ketergantungan terhadap hasil hutan, yang berpengaruh terhadap perbedaan sumber pendapatan dari non ladang.

Pengambilan sampel peladang sebagai responden (untuk mendapatkan gambaran kondisi sosial ekonomi dan sistem perladangannya) menggunakan metode purpossive sampling dengan jumlah sampel masing-masing 20 kepala keluarga (KK) peladang yang ada di setiap desa lokasi penelitian. Jumlah KK dan responden masing-masing desa lokasi penelitian tersaji dalam Tabel 1. Data mengenai kegiatan perladangan gilir balik yang dilakukan masyarakat dianalisis secara deskriptif sehingga dapat memberikan gambaran mengenai sistem perladangan, ritual adat yang menyertai setiap tahapan kegiatan perladangan, aturan-aturan adat yang berkaitan dengan kegiatan perladangan dan perkembangan yang terjadi di dalam kegiatan perladangan gilir balik tersebut.

(3)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 100 Tabel 1. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Peladang dan Responden Masing- masing

Desa Lokasi Penelitian

Nama Desa Jumlah KK Peladang Jumlah Responden

Lumpangi 245 20

Loksado 265 20

Haratai 135 20

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Perladangan

Masyarakat suku Dayak Meratus yang hidup di dalam dan sekitar hutan menggantungkan kehidupan dan penghidupannya dari sumberdaya hutan, mengingat lebih dari 60% dari luas daratannya berupa hutan. Ketergantungan yang dimaksud tidak sebatas pada aspek produksi hutan dan lahan hutan, tetapi juga fungsi perlindungan dan fungsi tata klimat yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal secara langsung maupun tidak langsung dalam mempertahankan hidup (existence) dan peningkatan kesejahteraan (welfare). Demikian tingginya tingkat ketergantungan masyarakat lokal terhadap hutan (berarti juga rasa memiliki dan upaya pelestarian yang dilakukan), integrasi budaya yang dimiliki dengan hutan (yang keberadaannya bisa signifikan dengan kelestarian hutan), serta pengetahuan tradisional yang sangat bernilai dalam mengelola hutan. Berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa hubungan antara masyarakat lokal dengan sumberdaya hutan merupakan pengetahuan tradisional yang sering disebut sebagai kearifan lokal (Zakaria 1994 dalam Sardjono, 2004). Pemanfaatan lahan dengan pola tradisional dikenal dengan istilah perladangan dimana bagi masyarakat suku Dayak Meratus kegiatan perladangan merupakan sumber utama pemenuhan kebutuhan akan pangan keluarga. Kenyataan ini diungkapkan pula oleh semua suku Dayak yang berada di belahan Kalimantan/Borneo (Dove, 1988).

Perladangan yang dilakukan oleh masyarakat suku Dayak Meratus di Kecamatan Loksado dalam hal ini yang dilakukan oleh masyarakat di tiga desa sebagai lokasi penelitian yaitu Desa Lumpangi, Desa Loksado dan Desa Haratai dikenal dengan sebutan perladangan Gilir Balik. Kegiatan perladangan gilir balik oleh masyarakat suku Dayak Meratus Loksado pada dasarnya merupakan kearifan lokal yang lahir dari pengalaman dan tradisi kehidupan antar generasi, dimana di dalam kegiatan perladangan gilir balik terdapat unsur yang bersifat religi, magis dan memandang manusia adalah merupakan bagian dari alam lingkungan itu sendiri, dimana terdapat roh-roh yang bertugas menjaga keseimbangannya. Masyarakat suku Dayak Meratus Loksado memiliki kepercayaan bahwa untuk terhindar dari bencana dan malapetaka dalam kehidupannya, mereka wajib untuk menjaga hubungannya dengan alam/hutan, sehingga pemanfaatannya harus bijaksana dan bertanggung jawab, dimana pada akhirnya melahirkan suatu bentuk kearifan lokal yang terdiri dari kepercayaan dan pantangan, etika dan aturan, serta teknik dan teknologi.

Kegiatan perladangan yang dilakukan oleh masyarakat di ketiga desa pada umumnya memiliki pola dan pemilihan jenis yang sama. Pola penanaman dilakukan dengan cara sederhana yang dikenal dengan istilah agroforestri. Dalam agroforestri ini tanaman padi gunung sebagai tanaman pokok, sedangkan tanaman semusim berupa kacang tanah, sayur mayur

(4)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 101 seperti bayam, cabe, jagung, ketela

pohon dan pisang, dan tanaman keras atau tanaman tahunan berupa karet, kayu manis dan kemiri.

Kegiatan perladangan yang dilakukan disertai dengan berbagai ritual adat yang disebut Aruh atau selamatan yang bertujuan untuk memohon kepada Sang Pencipta supaya tanaman padi yang mereka tanam dapat tumbuh subur sampai tiba waktunya panen. Adapun tahapan kegiatan perladangan beserta ritual adat yang mengiringinya sebagai berikut :

Penetapan Lokasi (Bamimpi/ Batanung)

Bagi masyarakat suku Dayak Meratus Loksado penetapan lahan untuk digunakan sebagai ladang tidak ditentukan begitu saja, namun mereka meyakini bahwa lokasi yang kemudian menjadi lahan bagi ladang mereka telah ditentukan oleh yang Maha Kuasa, dimana petunjuk itu diperoleh melalui mimpi yang datang kepada Tetuha/Balian dimana sebelumnya telah dilakukan penandaan pada lahan yang mereka inginkan. Penandaan dilakukan dengan menancapkan kayu mahang (Macaranga sp) atau memberikan ciri yang lain, apabila Tetuha/Balian memperoleh mimpi yang bagus, maka itu berarti lahan tersebut baik dan cocok untuk dijadikan ladang. Dalam memilih lokasi ladang, masyarakat juga memiliki kriteria yaitu tanaman bawah bukan berupa alang-alang, tanah berwarna hitam dan ditumbuhi rotan, hal ini menandakan kesuburan tanah.

Pembersihan Lahan dari Semak Belukar (Manabas)

Setelah ditetapkan sebagai lokasi untuk berladang, lahan yang terpilih tadi dibersihkan dari semak belukar, proses pembersihan ini dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana yaitu parang. Kemudian dilakukan pemotongan pohon bambu yang ada atau disebut

Batilah. Pemotongan pohon bambu menyisakan anakan karena akar bambu bermanfaat untuk kesuburan tanah dan mampu mengikat tanah sehingga tidak terkikis oleh air hujan.

Penebangan Pohon-pohon (Batabang)

Penebangan pohon-pohon besar dilakukan dengan menggunakan kapak dan parang. Penebangan biasanya menyisakan pohon Enau dan pohon Birik. Kedua pohon ini memiliki manfaat bagi masyarakat dan bagi kesuburan tanah.

Pembakaran (Manyalukut)

Setelah dilakukan membersihan dan penebangan, lahan ditinggalkan selama 7 – 10 hari. Hal ini untuk mengeringkan ranting dan sisa pembersihan untuk kemudian dilakukan pembakaran. Cara pembakaran yang dilakukan oleh Masyarakat Dayak Meratus adalah membuat batasan yang bersih dari daun dan ranting selebar 3 – 4 m, memperhatikan arah anginnya, dimana waktu pembakaran dilakukan berlawanan dengan arah anginnya. Hal ini untuk menghindari api menjalar ke daerah lain. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk merubah sisa pembersihan/tumbuhan menjadi abu sehingga mudah diserap oleh tanah, dan membantu meningkatkan kesuburan tanah karena abu memiliki kandungan unsur hara yang bermanfaat. Kegiatan Manyalukut ini dilakukan secara bergotong-royong. Penanaman Benih Padi (Manugal)

Sebelum dilakukan penanaman, terlebih dahulu dilakukan pembersihan sisa-sisa pembakaran. Kemudian dilakukan ritual doa yang disebut Pamataan/Aruh Mahanyari yang dipimpin oleh seorang Balian (tetuha/kepala adat) di lokasi penanaman padi/Banih. Ritual Pamataan/Mahanyari dimaksudkan agar padi yang ditanam tumbuh subur dan terhindar dari serangan hama penyakit. Kegiatan Manugal dilakukan

(5)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 102 kurang lebih 2 minggu setelah

pembakaran dan dilakukan pada awal musim hujan.

Pemeliharaan Tanaman dari Rumput (Marumput)

Kegiatan Marumput ini dilakukan untuk membersihkan tanaman dari rumput pengganggu yang akan menghambat pertumbuhan tanaman padi, kegiatan ini biasanya dilakukan oleh kaum ibu. Kegiatan marumput biasanya dilakukan pada saat padi berumur sekitar 2 bulan.

Basambu

Pada saat padi berumur sekitar 4 bulan, atau saat padi mulai mengeluarkan buah, dilakukan upacara adat yang disebut Aruh Basambu. Acara ini dimaksudkan supaya padi yang ditanam subur dan masyarakat di desa diberi kesehatan untuk melakukan tahapan berladang selanjutnya. Acara ini dilakukan di dalam balai oleh beberapa orang Balian dan dilaksanakan selama 3 hari 3 malam. Pada acara ini apabila ada yang barjanji (nazar) maka harus dibayar pada saat panen.

Panen (Mangatam)

Kegiatan mangatam disambut dengan sukaria dan dilakukan secara bergotong royong dan hanya dilakukan oleh kaum ibu.

Setelah tiba waktu panen, dilakukan ritual Aruh Bawanang Nih Mudah, acara ini merupakan perwujudan rasa syukur dan terima kasih kepada ‘Nining Bhatara Sang Hyang Wanang’ atas panen yang diberikan. Ritual ini dilaksanakan di dalam Balai selama 5 hari 5 malam. Selama masa panen masyarakat memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar, yaitu : 1) Sebelum dilaksanakan Aruh, padi yang dipanen tidak boleh (pamali) untuk dimakan; 2) Pamali menanam padi sebelum Aruh Bawanang Nih Halin (selamatan pada saat membersihkan ladang setelah panen); 3) Selama 6 hari biasanya

masyarakat berkumpul di dalam balai dan tidak boleh menerima tamu untuk masuk ke dalam balai; 4) Apabila ada yang barjanji (nazar) pada saat Aruh Basambu, maka dia harus menyembelih babi pada acara Bawanang.

Setelah ritual Bawanang Nih Mudah dilaksanakan lagi Aruh Bawanang Nih Halin atau ritual terakhir sebelum dilakukan penanaman padi selanjutnya. Acara ini dilakukan di dalam balai selama 7 hari 7 malam. Hasil padi yang mereka peroleh digunakan untuk dimakan, dan sisanya disimpan saja di dalam lumbung padi sebagai persediaan.

Pola kepemilikan lahan oleh masyarakat pada setiap desa ataupun balai diatur dengan ketentuan adat dan biasanya diturunkan terus menerus kepada anak dan cucu turunannya, sehingga antar keluarga terdapat kepahaman turun temurun mengenai batas wilayah yang dimiliki. Ladang yang sedang dibuka biasanya merupakan milik pribadi, namun apabila sudah ditinggalkan maka menjadi milik adat dan boleh digunakan oleh orang lain. Namun apabila bekas ladang ditanami tanaman keras seperti karet, kayu manis dan kemiri maka menjadi milik pribadi. Biasanya tanaman keras tersebut menjadi patokan batas lahan antar masyarakat.

Dalam melakukan aktivitas perladangan masyarakat suku Dayak Meratus Loksado menggunakan peralatan yang sederhana, dan memiliki aturan-aturan adat yang melarang masyarakat untuk membuka hutan lindung dan hutan keramat untuk dijadikan ladang karena bagi mereka hutan keramat merupakan sarana mereka untuk berkomunikasi dengan sang Pencipta, dan apabila ada yang melanggar mereka berkeyakinan akan kedatangan bala dan bencana bagi mereka kelak, melarang penggunaan pupuk dan pembasmi hama karena menurut mereka, bahan-bahan tersebut memiliki bahan yang nantinya bisa menimbulkan pengaruh negatif bagi

(6)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 103 kesuburan dan kesehatan, dan

melarang (pamali) bagi masyarakat untuk menjual padi hasil ladang, padi ladang hanya untuk dikonsumsi sendiri dan disimpan sebagai persediaan.

Proses perladangan mengikuti proses alamiah kesuburan tanah dan bagi masyarakat suku Dayak Meratus pola perladangan Gilir Balik ini dapat menggambarkan tingkat suksesi seperti pada Gambar 1.

(I)

(IV) (II)

(III)

Gambar 1. Pola Perladangan Masyarakat Suku Dayak Meratus Loksado Keterangan:

a. Balukar Anum (Belukar Muda)

Merupakan daerah bekas perladangan masyarakat yang telah mereka tinggalkan dan masih berupa semak belukar (umurnya berkisar 1-7 tahun). Daerah ini pada umumnya belum bisa digunakan untuk bahuma (berladang). Kalaupun dipaksakan maka hasilnya akan kurang bagus, sebab tingkat kesuburan tanah di daerah tersebut masih rendah.

b. Jurungan (Hutan Muda)

Adalah kawasan bekas peladangan yang mulai menjadi hutan kembali (hutan muda), di dalamnya telah tumbuh berbagai jenis pohon dengan diameter batang kurang lebih 20 cm. Umur hutan tersebut berkisar antara 7 –12 tahun. Kawasan hutan inilah yang nantinya dibuka/ditebang untuk dijadikan pahumaan.

c. Pahumaan (Areal Perladangan) Merupakan sebuah masyarakat setempat yang artinya adalah suatu daerah atau kawasan yang telah dibuka untuk dijadikan tempat peladangan, di kawasan tersebut nantinya mereka tanami banih tugal (bibit padi) yang ditumpangsarikan dengan tanaman hortikultura.

Setelah banih tugal, lahan dibiarkan hingga menjadi hutan kembali. d. Kebun/Perkebunan

Daerah yang telah dihumai, selain dihutankan kembali ada juga yang dimanfaatkan untuk ditanami jenis tanaman perkebunan seperti karet, kayu manis, kemiri/keminting dan lain-lain. Apabila tanah tersebut ditanami tanaman perkebunan maka otomatis akan mengurangi jumlah lahan keturunan yang dimiliki, jadi semakin banyak lahan yang ditanami tanaman perkebunan maka akan semakin sedikit luas hutan yang bisa dibuka untuk dijadikan daerah pahumaan. Hal ini bahkan dapat menyebabkan suatu keluarga menyewa lahan keluarga lain untuk bahuma,karena tanahnya banyak ditanami tanaman perkebunan, sedangkan tanah yang tersisa masih berupa balukar anum. e. Daerah Keramat

Hampir semua perkampungan masyarakat Dayak terdapat suatu daerah yang dikeramatkan. Daerah-daerah ini biasanya merupakan tempat pemakaman para leluhur atau merupakan tempat yang dipercaya didiami oleh urang halus (makhluk gaib). f. Kayuan Pahumaan 1-2 Tahun Hutan > 12 tahun Jurungan 7-12 Tahun Balukar Anum > 7 tahun

(7)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 104 Hutan-hutan yang tidak pernah

dihumai oleh masyarakat biasa disebut dengan kayuan dan kadang disebut juga hutan lindung. Kayuan ini dapat ditemui di puncak-puncak gunung di wilayah Pegunungan Meratus.

Daerah peruntukan tersebut bukanlah merupakan suatu ketetapan. Daerah-daerah tersebut dapat saling bertukar fungsi, artinya bisa saja daerah yang dulunya adalah perkebunan atau pahumaan kemudian dialihfungsikan menjadi pemukiman, kecuali untuk daerah hutan keramat dan kayuan yang tidak boleh dialih fungsikan menjadi daerah lainnya.

Sekarang masyarakat

melakukan pembukaan lahan untuk ladang pada lahan jurungan yang merupakan lahan bekas ladang yang sudah ditinggalkan selama kurang lebih 7 tahun hal disebabkan oleh semakin sempitnya lahan dan meningkatnya kebutuhan mereka. Yang menjadi masalah adalah kondisi menyempitnya ruang hidup dan ruang agraris akibat pertambahan penduduk, bertambahnya tuntutan masyarakat akan sumberdaya alam dalam memenuhi kebutuhan pangan, dan permasalahan tersebut merupakan permasalahan masyarakat peladang pada umumnya.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang terjadi pada pola perladangan Gilir Balik yang dilakukan masyarakat suku Dayak Meratus yang tinggal di kecamatan Loksado, desa yang dipilih adalah desa Lumpangi, desa Loksado dan desa Haratai. Pemilihan desa ini berdasarkan pada perbedaan jarak antara desa dengan ibukota kecamatan dan ibukota kabupaten yang menjadi pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi serta pusat perkembangan informasi, dimana desa yang terdekat dengan ibukota kabupaten adalah desa Lumpangi dan yang terjauh adalah desa Haratai, dimana nantinya akan terlihat pengaruh jarak dengan perkembangan pola perladangan yang

dilakukan. Pada desa Haratai yang seluruh warganya adalah suku Dayak Meratus yang beragama Kaharingan (Aliran Animisme), pola perladangan berikut rangkaian ritual adat masih dilakukan, dan tata cara penanaman masih mengikuti pola yang sudah diturunkan secara turun temurun dengan menggunakan peralatan yang sederhana. Masyarakat desa Haratai masih sangat memegang teguh norma-norma adat yang berlaku. Mereka memiliki keyakinan bahwa selama mereka masih menghormati dan menjaga kelestarian alam dengan tidak merusaknya, maka alam akan memberikan manfaat yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sedangkan pada desa Loksado, pola perladangan yang dilakukan juga masih sama, namun karena masyarakat Loksado merupakan masyarakat campuran antara masyarakat lokal dan pendatang, maka pengaruh masuknya ajaran agama yaitu Islam, Kristen dan Katolik mengakibatkan sebagian masyarakat Loksado tidak lagi melakukan ritual adat dalam berladang, namun mereka masih mengikuti ritual Bawanang yang diadakan setiap panen dengan pergi menuju balai yang melaksanakan ritual Bawanang tersebut untuk menjadi partisipan.

Sebagian masyarakat sudah menggunakan pupuk dan pembasmi hama dalam kegiatan berladang, dari responden penelitian diperoleh informasi bahwa penggunaan pupuk buatan dan pembasmi hama mereka nilai sudah perlu dilakukan membantu dalam mempercepat kesuburan tanah, memperpendek masa bera dengan membuka lagi lahan kritis.

Desa Lumpangi yang merupakan desa dengan jarak terdekat dengan ibukota kabupaten, merupakan desa yang seluruh penduduknya beragama Islam dan merupakan warga pendatang dengan mayoritas suku Banjar. Berdasarkan informasi dari responden, walaupun sekarang sudah tidak ada lagi penduduk desa Lumpangi yang menganut agama Kaharingan,

(8)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 105 namun mereka masih melakukan pola

perladangan yang sama seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, namun sudah tidak ada lagi dilakukan ritual adat.

Seiring dengan masuknya informasi dan teknologi, sebagian penduduk desa Lumpangi sudah mulai mengusahakan lahan mereka dengan pola sawah pengairan sederhana dan penanaman padi jenis baru yang bukan benih padi lokal. Penggunaan pupuk, pembasmi hama dan sejenisnya juga telah diterapkan.

Sistem perladangan di ketiga desa memiliki karakteristik yang sama, namun pada perkembangannya terjadi beberapa perubahan, perubahan tersebut disebabkan oleh semakin terbukanya wilayah, yang memudahkan

terjadi perpindahan penduduk (urbanisasi) yang menyebabkan semakin heterogennya masyarakat dalam suatu desa sehingga ikatan adat perlahan-lahan menjadi longgar dan nilai-nilai adat semakin ditinggalkan. Pola Perkembangan Fisik Daerah

Penjalaran fisik daerah ada yang mengikuti pola jaringan jalan dan menunjukan penjalaran yang tidak sama pada setiap bagian perkembangan daerah disebut dengan perkembangan fisik memanjang/linier (ribbon/linier/axial development).

Gambar 2. Model Penjalaran Fisik Daerah Secara Memanjang/Linier (Sumber : Northam dalam Yunus, 1994)

Gambar 3. Model Penjalaran Fisik Daerah Secara Meloncat (Sumber : Northam dalam Yunus, 1994).

(9)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 106 Pola perkembangan fisik secara

memanjang ini terjadi pada desa Loksado dan Lumpangi, pembangunan infrastruktur jalan cukup berkembang, sehingga perkembangan daerah mengikuti jalur jalan utama yang dilalui oleh kendaraan umum. Akibat dari kepadatan penduduk menyebabkan jarak antara pemukiman dengan lahan perladangan mereka menjadi relatif jauh, karena lahan sudah di alihfungsikan sebagai areal pemukiman.

Bertolak belakang dengan itu, pola perkembangan fisik desa Haratai mengikuti pola perkembangan yang meloncat (leapfrog/checher board development) dikarenakan tidak adanya sarana dan prasarana transportasi yang memadai serta pemukiman yang ada lebih cenderung mencari tempat-tempat yang secara geografis luas dan datar dan relatif lebih dekat dengan areal perladangan.

Kenyataan yang terjadi adalah populasi penduduk di ketiga desa semakin berkembang. Bagi masyarakat pendatang yang hidupnya kurang berkaitan dengan hutan hal tersebut tidaklah menjadi masalah, namun bagi masyarakat adat terutama di desa Haratai yang mewariskan daerah kepemilikan hutan secara turun-temurun jelas akan menjadi masalah tersendiri. Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan beberapa responden, diketahui bahwa mereka mulai merambah ke daerah-daerah yang makin jauh dari pemukiman bahkan sampai dengan radius 2,5 – 3 km. Walaupun demikian mereka masih memiliki keyakinan yang kuat untuk tidak menambah ke daerah hutan lindung yang merupakan hutan keramat.

Perumusan Pemecahan Permasalahan Perladangan

Perladangan merupakan suatu pola pemanfaatan lahan yang memiliki karakteristik seperti rotasi, membersihkan lahan dengan

melakukan pembakaran, tidak digunakan binatang-binatang penarik dan pupuk, satu-satunya tenaga adalah manusia, alat-alat pengolahan sederhana, periode-periode pendek dalam pemakaian tanah dan harus segera mungkin dipulihkan dengan masa bera yang panjang (Chin, 1987). Dengan demikian, petani ladang merupakan petani yang rasional dan pemakai lahan yang piawai terhadap lingkungan alam mereka sendiri (Paddoch, 1982 dalam Dove, 1985).

Perladangan merupakan cara pertanian tertua dan banyak dijumpai di daerah tropika. Sistem perladangan gilir balik yang dilakukan masyarakat suku Dayak Meratus Loksado dikenal dengan 6 M, yaitu Menebas, Menebang, Membakar, Menugal, Merumput dan Menuai. Lahan ladang yang sudah tidak subur setelah ditanami selama 1 – 2 tahun akan diistirahatkan. Sambil menunggu suksesi alami dengan terbentuknya hutan sekunder berupa padang rumput dan pohon liar, maka peladang akan membuka lahan baru. Mereka akan kembali ke lahan awal jika lahan yang ditinggalkan sudah cukup mengalami masa bera 5-10 tahun.

Masyarakat peladang dapat dikatakan sebagai masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan hutan, pada awalnya lahan yang digunakan untuk berladang adalah merupakan lahan hutan. Dalam masyarakat tradisional, hubungan manusia dengan hutan masih menjadi satu dan biasanya masyarakat tradisional tidak begitu peduli dengan campur tangan masyarakat kota.

Secara turun temurun sistem perladangan tradisional ini dianggap mampu memecahkan permasalahan sosial ekonomi masyarakat tradisional, namun seiring dengan perubahan tekanan penduduk dan berkurangnya kesuburan tanah maka terjadi perubahan pula dalam sistem perladangan yang dilakukan.

Dalam penelitian ini terlihat bahwa sudah terjadi perubahan dalam

(10)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 107 sistem perladangan yang dilakukan

masyarakat, perubahan-perubahan tersebut terjadi karena munculnya tuntutan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, perubahan tersebut terlihat dalam upaya masyarakat untuk mempercepat kembalinya kesuburan tanah dengan memperpendek masa bera dan penggunaan pupuk, di samping itu masyarakat juga menanami lahan yang mereka tinggalkan dengan tanaman-tanaman yang bernilai ekonomis, di samping itu dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat yang tinggal di desa Loksado dan Lumpangi mulai beralih ke sektor non pertanian. Perubahan pola hidup tradisional pun perlahan-lahan mulai bergeser, walaupun masih jauh dari pola hidup modern.

Masyarakat ketiga desa penelitian merupakan masyarakat suku Dayak yang hidup di wilayah pegunungan Meratus yang kaya akan hasil hutan yang potensial. Sebagai masyarakat peladang yang identik dengan perladangan berpindah, bukan tidak mungkin kegiatan perladangan yang dilakukan masyarakat akan merambah ke daerah-daerah yang lebih jauh dan membuka hutan, yang akan mengancam kelestarian hutan. Namun sejauh ini, masyarakat suku Dayak yang hidup di ketiga desa masih memegang teguh hukum adat yang secara turun temurun telah mereka anut.

Namun dengan bertambahnya jumlah penduduk yang menyebabkan menurunnya pemilikan lahan akan menimbulkan bertambahnya tenaga kerja yang dapat menyebabkan perubahan dari sektor pertanian ke sektor kehutanan. Bukan tidak mungkin nantinya akan terjadi perambahan hutan untuk dijadikan areal perladangan bahkan pencurian kayu untuk memenuhi tuntutan hidup masyarakat. Keadaan ini perlu menjadi perhatian bagi pihak-pihak yang terkait dalam hal ini pemerintah daerah. Perlu adanya suatu pola perencanaan

pengelolaan hutan yang bersifat holistik yang memperhatikan keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat dalam hal ini masyarakat peladang yang hidup di dalam dan sekitar hutan. Kenyataan bahwa faktor terdegradasinya suatu kawasan hutan dapat disebabkan oleh semakin bertambahnya penduduk yang ada di sekitar hutan tidak dapat dipungkiri, pada penelitian juga terlihat bahwa lokasi ladang yang dikerjakan oleh masyarakat sudah mulai merambah sejauh 2,5 km bahkan lebih dari pemukiman mereka. Walaupun pegunungan Meratus ditetapkan sebagai kawasan lindung, namun bukan berarti tidak ada perencanaan yang tepat seperti pengaturan batas-batas dalam berladang yang mendukung aturan adat, apalagi sekitar hutan lindung tersebut didiami oleh masyarakat yang secara turun temurun melakukan aktivitas perladangan. Sehingga perlu adanya pengelolaan hutan yang menitik beratkan pada pengelolaan sumber daya alam bagi masyarakat peladang yang hidup di sekitar hutan tersebut.

Salah satu bentuk alternatif pengelolaan hutan yang bersifat holistik dan tidak melupakan faktor sosial budaya masyarakat adalah pola pengelolaan dengan paradigma kehutanan sosial dimana paradigma kehutanan sosial ini bertujuan untuk memaksimumkan fungsi hutan untuk kesejahteraan masyarakat karena pada dasarnya pemanfaatan hutan adalah pengelolaan suatu ekosistem. Lebih jauh dikatakan Simon (1999), paradigma kehutanan sosial dibedakan antara Forest resources Management (FRM) dan Forest ecosystem Management (FEM), disebutkan bahwa secara garis besar FRM akan lebih banyak berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan sebaliknya FEM lebih banyak ditetapkan untuk memenuhi fungsi perlindungan. Dalam hal perladangan yang dilakukan oleh masyarakat suku Dayak yang tinggal di kawasan pegunungan Meratus, pola perladangan yang mereka lakukan

(11)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 108 masih tradisional dan apa adanya, dan

dipengaruhi oleh budaya Dayak yang masih melekat, sehingga perlu adanya pola pengelolaan kawasan hutan yang memperhatikan perladangan yang dilakukan masyarakat. Pada ketiga desa penelitian, pola perladangan yang dilakukan dan jenis yang ditanam relatif sama, dan perubahan yang terjadi pada pola perladangan hanya meliputi pemakaian pupuk dan penggunaan bahan-bahan pembasmi hama, namun secara keseluruhan tidak ada perubahan yang signifikan pada sistem, teknologi maupun pemilihan jenis yang dilakukan pada ketiga desa tersebut.

Perlu diperkenalkan dan dikembangkan jenis-jenis tanaman yang potensial dan bernilai ekonomis selain cabe, seperti jahe, kunyit, lada, kopi, pisang dan jeruk, untuk tanaman keras misalnya sungkai. Sistem pemasaran juga perlu mendapat

perhatian, terutama bagi masyarakat di desa Haratai, perlu pengelolaan koperasi yang lebih baik sehingga tidak merugikan masyarakat peladang.

Di samping itu kecamatan Loksado juga memiliki potensi alam yang bagus untuk pariwisata, terutama di desa Haratai yang terdapat wisata alam air terjun, yang berpotensi untuk menarik wisatawan dan memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat setempat. Namun sayang keadaan obyek wisata alam tersebut tidak terpelihara dengan baik.

Diharapkan dengan

pengelolaan yang bersifat menyeluruh dan memperhatikan aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat dapat mengurangi kemungkinan terancamnya kelestarian hutan pegunungan meratus oleh kegiatan perladangan yang dilakukan masyarakat.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan. Karakteristik sistem perladangan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak Meratus Loksado pada dasarnya mengikuti siklus alamiah di mana kawasan hutan yang dibuka merupakan bekas ladang/pahumaan yang telah ditinggalkan selama beberapa tahun. Pola perladangan yang dilakukan oleh masyarakat suku Dayak Meratus Loksado disebut dengan perladangan “Gilir Balik”. Perladangan gilir balik yang dilakukan masyarakat berkaitan erat dengan kearifan tradisional masyarakat dalam memanfaatkan lahan yang berhubungan erat dengan ritual adat yang menyertai setiap tahapan kegiatan yang dilakukan. Kegiatan perladangan melalui beberapa tahapan yaitu pemilihan lahan, penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan panen, dalam tahapan kegiatan tersebut disertai dengan ritual adat, seperti, bamimpi,

batanung, aruh mahanyari, aruh basambu dan aruh bawanang. Aruh atau selamatan yang dilakukan bertujuan untuk permohonan atau doa bagi Nining Bhatara Sang Hyang Wanang supaya tanaman padi yang mereka tanam dapat tumbuh dengan subur dan ucapan syukur akan panen yang mereka peroleh. Dengan bertambahnya populasi penduduk di ketiga desa mengakibatkan menyempitnya lahan dan menurunnya kesuburan tanah, sehingga pola pengelolaan lahan perladangan yang dilakukan masyarakat mengalami perubahan, dalam hal ini masyarakat mulai menggunakan pupuk dan pembasmi hama, di samping itu masyarakat menanami lahan yang baru ditinggalkan dengan tanaman seperti karet, kemiri, kayu manis, cabe, dan pisang.

(12)

Jurnal Hutan Tropis Borneo No. 25, Maret 2009 109 Saran. Perlu adanya perhatian

pemerintah dengan kondisi pegunungan Meratus yang didiami oleh masyarakat peladang dengan membuat suatu pola pengelolaan yang bersifat holistik yang memperhatikan faktor-faktor lingkungan, sosial, ekonomi dan

budaya masyarakat setempat sehingga pemenuhan kebutuhan masyarakat yang semakin bertambah dapat terpenuhi dan kelestarian alam tetap terjaga, terutama dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Dove, M. 1988. Sistem Perladangan di Indonesia. Suatu Studi Kasus dari Kalimantan Barat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Nugraha, A. 2005. Rindu Ladang;

Perspektif Perubahan Masyarakat Hutan. Wana

Aksara. Jakarta.

Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, 2004. Profil Desa Lumpangi, Kecamatan Loksado. Provinsi Kalimantan Selatan. Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai

Selatan, 2004. Profil Desa Loksado, Kecamatan Loksado. Provinsi Kalimantan Selatan. Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai

Selatan, 2004. Profil Desa Haratai, Kecamatan Loksado. Provinsi Kalimantan Selatan. Radam, N, H. 2001. Religi

Masyarakat Bukit. Penerbit Yayasan Semesta. Yogyakarta.

Rezekiah, A, A. 2006. Perladangan Masyarakat Dayak Bukit Meratus di Kecamatan Loksado Hulu Sungai Selatan. Tesis Program PascaSarjana UGM. Yogyakarta.

Sardjono, M, S. 2004. Mosaik

Sosiologis Kehutanan; Masyarakat Lokal, Politik dan

Kelestarian Sumberdaya. Debut Press. Yogyakarta.

Simon, H. 1999. Merencanakan Pembangunan Hutan untuk Strategi Kehutanan Sosial. Yayasan Pusat Studi Sumber Daya Hutan. Yogyakarta

Thenu, F. 2006. Strategi Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan di Pulau Mangole Kabupaten Kepulauan Sula. Tesis Program

PascaSarjana UGM. Yogyakarta.

YCHI, 2005. Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia. Banjarbaru.

(13)

Gambar

Gambar 1.  Pola Perladangan Masyarakat Suku Dayak Meratus Loksado
Gambar 2.  Model Penjalaran Fisik Daerah Secara Memanjang/Linier         (Sumber : Northam dalam Yunus, 1994)

Referensi

Dokumen terkait

The question will be processed by using natural language processing technique to get the key word for searching set of answer candidates.. The correctness of answer is used

Dari hasil peninjauan literatur pada tabel 1, dapat disimpulkan bahwa kriteria subject menekankan kepada seberapa paham pengguna atas informasi yang disajikan oleh

Aliran Sistem Informasi Baru Dalam aliran sistem informasi pendataan tenaga kerja baru ini akan melibatkan enam bagian yang antara lain pihak perusahaan, pencari kerja

SMPI Al Azhar 10 Kembangan ini merupakan sekolah berbasis Islam yang minim jumlahnya di daerah kembangan ini, yang mana disekelilingnya banyak terdapat sekolah

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa besar kecilnya pendapatan usahatani padi beras merah yang diterima oleh petani dipengaruhi oleh penerimaan dan

Salah satu isu utama terkait dengan perempuan adalah permasalahan aborsi. Aborsi didefinisikan sebagai pengguguran kandungan secara sengaja baik oleh sang calon ibu

Dari permasalahan itulah berdasakan pendekatan empiris campuran ekstrak biji mimba dan ekstrak gadung dari kedua senyawa ini akan sangat

Penilaian prestasi kerja yang dilakukan dengan baik serta pemberian reward yang sesuai dengan kinerja karyawan dapat membantu meningkatkan motivasi serta loyalitas