Analisis Ekonomi Dan Kelembagaan Usaha Ternak Ayam Kampung (Kub) Di Kecamatan Jambi Selatan Kabupaten Muaro Jambi
Suharyon, Zubir dan Endang Susilawati Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi
Jln.Samarinda Paal Lima, Kota Baru Jambi Alamat Email : [email protected]
ABSTRAK
Tema yang dimuat di dalam pengkajian ini adalah analisis ekonomi dan kelembagaan usahaternak ayam KUB di Kecamatan Jambi Selatan Kabupaten Muaro Jambi. Pengkajian ini dilakukan pada bulan Nopember 2019. Tujuan pengkajian ini adalah untuk menganalsis kelayakan finansial usahaternak ayam kampung KUB di salah satu peternak ayam KUB Kecamatan Jambi Selatan, dan keragaan kelembagaannya. Metode pengkajian yang digunakan adalah survei. Data yang dikumpulkan dalam pengkajian ini meliputi data primer berupa informasi dari petani ternak ayam KUB serta data sekunder, serta kondisi wilayah pengkajian, demografi penduduk, potensi sosial dan ekonominya. Data primer diambil menggunakan teknik survei yakni mewancara langsung dengan petani ternak ayam kampung KUB dan informasi kunci menggunakan daftar pertanyaan. Setelah dilakukan diskusi dengan koordinator, dan beberapa petugas lapang (PPL) di BPP Jambi Selatan, pengambilan sampel ditentukan secara acak pada populasi petani ternak ayam kampong KUB di lokasi pengkajian. Teknik analisis data meliputi analisis tabulasi digunakan untuk pemahaman kondisi usahatani ekonomi petani, analisis kelayakan ekonomi menggunakan R/C ratio. Hasil pengkajian ini menunjukkan bahwa nilai R/C ratio dari usahatani ternak ayam KUB adalah 1.17 yang berarti usahatani ternak ayam kampung KUB ini layak untuk dilaksanakan. Namun demikian perlu adanya insentif usahatani bagi petani ternak ayam sehingga petani lebih semangat untuk melaksanakan beternak ayam KUB. Selain itu, aspek ketersediaan dan akses terhadap sumberdaya pakan dan aspek pemasaran telah teridentifikasi sebagai simpul kritis di dalam koridor pengembangan usahaternak ayam KUB di masa depan.
Kata kunci: Analisis,ekonomi,terna ayam kampung KUB dan kelembagaan
1. PENDAHULUAN
Peternakan sebagai salah satu subsektor di dalam sektor pertanian, merupakan suatu subsektor yang menyimpan potensi bisnis dan prospek yang menjanjikan di masa mendatang. Fakta menunjukkan bahwa bisnis berbasis peternakan merupakan salah satu fenomena yang tumbuh pesat ketika basis lahan menjadi terbatas. Demikian pula, ketika subsektor pertanian tanaman pangan tumbuh di bawah 2 persen pada periode 1986-1997, subsektor peternakan justru mencapai hampir 6 persen pada periode yang sama (Loing dan Makalew, 2016)). Salah satu jenis usaha pada subsektor peternakan yang telah menjadi perhatian para pengambil kebijakan adalah usahaternak ayam KUB atau ayam kampung. Hal ini karena usahaternak ayam KUB atau ayam kampung mampu menyediakan lapangan kerja tidak hanya terbatas di perdesaan tetapi juga di perkotaan.
Selain itu, usahaternak ini mempunyai posisi strategis dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui penyediaan protein hewani. Salah satu kabupaten di Propinsi Jambi yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi usahaternak ayam KUB atau ayam kampong adalah kabupaten Muaro Jambi. Berdasarkan catatatan dari BPS dan Dinas Peternakan Provinsi Jambi, pada tahun 2018 populasi ayam kampung sebanyak 2.686 209 ekor (BPS, dan Dinas Peternakan Provinsi Jambi, 2018). Ini menunjukkan pesatnya pertumbuhan usahaternak ayam kampung atau KUB kabupaten Muaro Jambi. Nilai strategis lokasi atau wilayah kabupaten Muaro Jambi untuk pengembangan usaha ternak ayam KUB atau ayam kampung ini tentunya merupakan salah satu faktor endowment yang begitu berharga bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya peternak ayam kampung atau ayam KUB dan bagi pengembangan
wilayah secara keseluruhan. Berdasarkan hal tersebut, pengkajian ini bertujuan untuk: (1) Memahami karakteristik ekonomi spasial dari usahaternak ayam kampung atau KUB di kabupaten Muaro Jambi; dan (2) Mengidentifikasi gambaran umum kelembagaan; struktur, perilaku dan kinerja kelembagaan usahaternak ayam kampung atau ayam KUB.
Oleh karenanya dari pengkajian ini diharapkan dapat memberikan informasi dasar mengenai keragaan usahaternak ayam kampung atau ayam KUB, khususnya yang berada di wilayah di kabupaten Muaro Jambi. Selain itu, informasi yang akan dihasilkan dari pengkajian ini dapat dijadikan sebagai sebuah input di dalam proses perencanaan dan penyusunan kebijakan pembangunan pertanian khususnya bagi pemerintah daerah. Secara lebih spesifik, pengkajian ini akan menunjukkan wilayah-wilayah yang telah menjadi basis usahaternak ayam kampung atau yam KUB di Muaro Jambi, dan wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wilayah basis lainnya.
2. TINJAUAN KONSEPTUAL
Wawasan Pembangunan Peternakan. Peternakan merupakan komponen penting dalam pembangunan pertanian. Menurut Sudardjat dan Pambudy (2005), bahwa pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan sektor pertanian. Dari pengalaman empiris menunjukan bahwa tidak ada satu negarapun yang berkelanjutan digerakan oleh sektor industri dan jasa berbasis teknologi modern tanpa didahului dengan pembangunan sektor pertanian yang tangguh. Pengembangan sub sektor peternakan harus di mulai dari cara pandang terhadap peternakan itu sendiri.
Berdasarkan pendapat Saragih (1998), menyatakan bahwa jika selama ini peternakan harus di pandang dari aspek budidaya pada tingkat budidaya peternakan saja, maka pada era industrialisasi peternakan harus dilihat secara keseluruhan sebagai suatu konsep agribisnis dan agroindustri berbasis peternakan sebagai sektor pemimpin. Menurut Soehadji (1994), pembangunan peternakan yang semula hanya menitik beratkan pada budidaya ternak harus diperluas. Peternakan harus dipandang sebagai industi biologis yang dikendalikan manusia. Komponen peternakan meliputi peternak sebagai subjek pembangunan yang harus ditingkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.
Ternak sebagai objek yang harus ditingkatkan produksi dan produktivitasnya. Lahan sebagai basis ekologi pendukung pakan lingkungan budidaya dan teknologi sebagai satu rekayasa (teknis dan sosio ekonomis) untuk mencapai tujuan.
Selanjutnya Ibrahim dan Gufroni (2005) menerangkan bahwa tujuan pembangunan peternakan adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak, terpenuhinya konsumsi pangan asal ternak, tersedianya bahan baku industri dan ekspor, menciptakan peluang kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan peran kelembagaan serta keseimbangan pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam akan terwujud dengan strategi pembangunan peternakan yang terarah. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu dilakukan pendekatan sistem agribisnis. Berdasarkan pendapat Soepadi (2005), kondisi pertanian akan tetap didominasi oleh pertanian rakyat.
Untuk dapat berdampingan dengan perusahaan besar petani perlu dibina terutama dalam penguasaan teknologi, akses terhadap sumber permodalan, sehingga dapat hidup berdampingan melalui pemilikan saham secara bersama. Ini berarti masing- masing sub sistem agribisnis dapat berkembang saling menguntungkan dan saling membutuhkan. Pembangunan pertanian harus dapat mengembangkan keseluruhan sub sistem dalam sistem agribisnis ini secara simultan dan harmonis, dengan tetap memperhatikan keunikan masing-masing sub sistem yang terlibat dalam proses modernisasi pertanian.
Kelembagaan Pertanian. Dalam industri peternakan ayam kampung sebagai suatu lembaga, struktur industrinya masih tersekat-sekat dimana pengusahaan sub sistem hulu sampai
hilir oleh pelaku yang berbeda-beda, bertindak sendiri- sendiri dan tidak ada kaitan organisasi fungsional. Menurut Anwar (2006) bahwa di dalam setiap sistem agribisnis diperkirakan terdapat kebutuhan untuk mengkoordinasikan serangkaian kegiatan antar manajemen penyediaan (supply) komoditi pertanian secara vertikal yang mendorong terciptanya potensi yang menyangkut peranan baru dari kegiatan pertanian ke arah industri yang bernilai tinggi.
Tiga komponen penting dari aspek kelembagaan usahaternak ayam kampung yang akan dijadikan kajian dalam kegiatanini, yaitu: 1) struktur industri peternakan ayam kampung; 2) perilaku dari pelaku-pelaku yang terlibat baik perilaku struktur hulu maupun struktur hilir, baik peternak besar maupun peternak skala kecil, serta hubungan-hubungan yang terjalin; dan 3) kinerja antara peternakan besar dan peternakan rakyat, yang meliputi: kinerja ekonomis serta kinerja pemasarannya (rantai pemasaran).
3. METODOLOGI/PROSEDUR PENGKAJIAN
Pengkajian dilaksanakan di Kecamatan Jambi Selatan, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi tahun 2019. Pengkajian ini adalah pengkajian deskriptif kuantitatif sehingga dapat menjelaskan aspek ekonomi yang mempengaruhi pendapatan usahatani ternak ayam kampung atau KUB secara jelas.
3.1. Tempat dan Waktu Pengkajian
Pengkajian dilakukan di Kecamatan Jambi Selatan, Kabuapten Muaro Jambi pada bulan Nopember 2019.
3.2. Teknik Pengambilan Sampel
Pengambil data yakni meliputi data primer berupa informasi dari petani ternak ayam kampung atau KUB dan informasi kunci terkait, serta data sekunder berupa data kondisi wilayah pengkajian, demografi penduduk, potensi sosial dan ekonominya, serta data sekunder lain yang mendukung pengkajian ini. Data primer diambil dengan menggunakan teknik survai yakni mewancarai langsung kepetani dan informan kunci dengan panduan daftar pertanyaan, sedangkan data sekunder diambil pada instansi terkait, baik di tingkat provinsi, kabupaten, maupun
kecamatan.Teknik pengambilan sampel ditetukan setelah melakukan diskusi dengan BPP Jambi Selatan, yang ditentukan secara acak pada populasi petani ternak ayam kampong atau KUB di lokasi pengkajian.
3.3. Teknik Analisa Data
Analisa kelayakan ekonomi usaha ternak ayam: digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan dan produksi dari usaha ternak ayam yang dihasilkan oleh petani di lokasi pengkajian, pendapatan usaha ternak ayam dapat dianalisis dengan menggunakan analisis biaya dan pendapatan dari usahatani trenak ayam (Lipsey, 1999). Penerimaan usahatani merupakan perkalian antara produksi/hasil yang diperoleh petani dengan harga jual (Soekartawi, 2006). Pengertian tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
TR = Q x Py dimana TR = total penerimaan Q = produksi dari kegiatan Py = harga Q
Sedangkan besarnya biaya untuk kegiatan usahatani dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut :
TC = FC + VC dimana : TC = total biaya
FC = biaya tetap dari usahatani
VC = biaya variable dari kegiatan usahatani.
Sementara itu untuk menganalisis pendapatan usahatani dapat dilakukan dengan menghitung selisih antara total penerimaan dan total biaya, dengan rumus sebagai berikut :
Pd = TR – TC
Pd = pendapatan usahatani TR = total penerimaan TC = total biaya (total cost)
Analisis kelayakan ekonomi akan dianalisis dengan R/C ratio yang merupakan perbandingan antara total penerimaan dan biaya, dengan rumus sebagai berikut :
A = TR/TC dimana: A = R/C ratio
TR = total penerimaan (total revenue) TC = total biaya (total cost)
Kriteria kelayakan ekonomi, jika :
R/C ratio >maka usahatani dikatakan layak/menguntungkan R/C ratio < maka usahatani dikatakan tidak layak/rugi.
R/C ratio = maka usahatani dikatakan impas (tidak untung maupun rugi). 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Kependudukan dan Kewilayahan Lokasi Pengkajian
Kecamatan Jambi Selatan merupakan wilayah yang menjadi salah satu peternak ayam kampung atau ayam KUB di Kabupaten Muaro Jambi. Wilayah ini merupakan salah satu Kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Muaro Jambi. Jarak Kecamatan bukota kabupaten sekitar 40 km ke arah barat, sedang jarak lokasi ke ibukota Provinsi sekitar 12 km, yang dapat ditempuh oleh kenderaan roda empat sekitar 50 menit. Adapun mata pencaharian utama adalah bertani. Jumlah penduduk tercatat 61.122 jwa yang terdiri dari laki-laki 30.120, perempuan 31.022 jiwa dengan jumlah kk 21.447 kk serta dengan kepadatan penduduk /Km2 5.357 jiwa. Komoditas yang diusahakan meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan. (Programa Penyuluh Pertanian Jambi Selatan, 2018).
Kecamatan Jambi Selatan terletak disisi selatan Kota Jambi dengan batas-batas Kecamatan Jambi Selatan adalah sebagai berikut :
➢ Sebelah utara berbatas dengan kecamatan Jambi Selatan
➢ Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan jambi luar kota, Kabupaten Muaro Jambi
➢ Sebelah Barat berbatasan dengan Jambi Selatan dan Kota Baru. ➢ Sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Jambi Luar Kota.
dari permukaan laut (dpl). Daerahnya bergelombang dengan kemiringan tanah berkisar aqntara 7 sampai 15 % dengan jenis tanah Podsolik Merah kuning (PMK) dan Alluvial. terletak pada daerah dengan topografi datar seluas 13.599,75 Ha, berbukit seluas 113.200,25 Ha.
4.2. Karakteristik Petani Ternak Ayam
Secara normatif, tidak ada perbedaan karakteristik petani lahan kering dengan petani di agroekosistem lainnya. Sebagai suatu rumah tangga, ia memiliki anggota keluarga yang jika dikategorikan menurut usianya dapat digolongkan pada 3 kelompok yakni berada pada usia belum produktif (dibawah 15 tahun), usia produktif (15 – 54 tahun) dan usia tidak produktif (lebih tinggi dari 55 tahun). Lebih jauh masih dipilah menurut kegiatannya yaitu bekerja dan tidak bekerja. Oleh karena itu maka anggota keluarga bagi petani dapat dilihat dari berbagai segi. Dalam hubungan dengan kegiatan usahatani anggota keluarga diposisikan sebagai sumber tenaga kerja keluarga.
Kegiatan usahatani ternak ayam merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi penduduk Kecamatan Jambi Selatan disamping usaha lainnya sebagai pedagang, bekerja di sektor industri kerajinan, buruh/karyawan, pensiunan pegawai. Data pada menunjukkan lebih dari 80 % penduduk mengandalkan hidupnya dari kegiatan pertanian, dengan profesi beragam sebagai petani pemilik, penggarap, peternak, dan nelayan. Mata pencaharian di lokasi pengkajian ini merupakan gambaran umum bagi penduduk di Kacamatan Jambi Selatan Kabupaten Muaro Jambi (Programa Penyluh Pertanian, Jambi Selatan, 2018).
Rata-rata petani responden menguasai dua persil lahan, terdiri dari lahan sawah atau kebun yang luasnya berkisar antara 1.5 sampai 2.0 ha, dengan status penguasaan lahan sebagian besar sebagai pemilik. Untuk mengerjakan usahatani, rata-rata petani responden didukung alsintan berupa; pompa air, Hand Sprayer, Hand traktor, Gerobak motor, Sabit, cangkul dan parang. Kondisi lahan berupa lahan kering.
Untuk ekonomi kewilayahan peternak ayam secara umum, jumlah populasi dan usahaternak ayam kampung di Kecamatan Jambi Selatan, Kabupaten Muaro Jambi tidak sebanyak ternak unggas lainnya. Namun begitu, kondisi ini tidak saja terjadi di wilayah pengkajian, melainkan juga di wilayah lainnya di dalam lingkupan P r ov i n s i J a m b i sebagai salah satu wilayah sentra peternakan ayam kampung ternyata memiliki pangsa populasi ayam kampung sebesar 2.868.606 ekor untuk Kabupaten Muaro Jambi (BPS, Jambi 2018). Berdasarkan populasi tersebut, Kabupaten Muaro Jambi menempati urutan ke dua setelah Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Total populasi ayam kampung ditingkat Provinsi sejumlah 15.659.604 ekor. Wilayah sentra populasi di tingkat Provinsi berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan populasi mencapai 3.976.840 ekor. Posisi Kabupaten Muaro Jambi di dalam konstelasinya terhadap Provinsi Jambi disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Populasi Unggas Menurut di Provinsi Jambi 2017 – 2018. No. Kabupaten/Kota Ayam Kampung (ekor) 1 Kerinci 256.358 2 Merangin 1.179.412 3 Sarolangun 318.589 4 Batang Hari 2.864.209 5 Muaro Jambi 2.686.606
6 Tanjung Jabung Timur 3.976.840
7 Tanjung Jabung Barat 1.197.070
8 Tebo 483.018
9 Bungo 287.984
10 Kota Jambi 2.180.120
11 Kota Sungai Penuh 229.388
J u m l a h 15.659.604 Sumber: Biro Pusat Statistik Provinsi Jambi, 2018
Dilihat dari populasi ayam kampung atau ayam KUB di wilayah pengkajian dibandingkan dengan wilayah lainnya tentunya merupakan sebuah fenomena tertentu mengingat begitu besarnya industri ayam kampung. Di Kabupaten Muaro Jambi jumlah populasi ayam kampung terlihat sebesar 2.686.606 ekor ternyata jumlah populasi ini menunjukkan nomor tiga setelah Kabupaten Batanghari, beberapa faktor yang menjadi besarnya jumlah populasi salah satunya pertumbuhan industri ayam kampung ini. Pertama, investasi yang dibutuhkan untuk membangun usahaternak ayam kampung tidak terlalu tinggi dibandingkan ayam ras. Dalam hal ini, tidak terlau besar investasi tersebut sangat berkaitan dengan siklus produksi ayam kampung yang tidak terlalu jauh lebih panjang dan kebutuhan perkandangan dengan spesifikasi yang seuai, dibandingkan perkandangan untuk ayam pedaging. Kondisi ini menyebabkan usahaternak ayam kampung menjadi lebih fisibel untuk dilakukan.
4.3. Aspek Kelayakan Sosial Ekonomi PeternakAyam KUB
Aspek kelayakan sosial ekonomi usaha ternak ayam ayam kampung KUB dipeternak ayam kampung cukup berpengaruh nyata daqn diterima dimasyarakat. Salah satu contoh sampel Pak Budi yang bertempat tinggal di Kelurahan Pasir Putih Kecamatan Jambi Selatan, untuk sementara tenaga kerja masih dilakukan oleh peternak sendiri, swehingga belum bisa dihitung berdasarkan usahanya. Namun dalam kegiatan usaha tenaga kerja tetap dihitung berdasrkan waktu kerja selama satu tahun. Usaha ternak ayam KUB ini dilakukan dengan menggunakan DOC, harga yang diperhitungan. Pada aspek pasar ternak dilokasi pengkajian cuiup baik, dan memiliki peluang pasar yang strategis. Untuk aspek teknis, usha ayam kampong KUB memiliki lokasi yang strategis, tidak jauh dari kota, tidak terkena dengan perluasan perkotaan, sarana dan prasarana sangat mendukung untuk perkembangan usaha ayam kampung KUB.
Menurut Rusdiana Dan L.Praharani, 2017. Ayam kampung KUB memiliki prospek yang lebih baik dan juga pemasarannya cdukup luas, dapat dibutuhkan setiap saat. Harga jual ternak ayam kampong KUB baik jantan, betina relative lebih tinggi, jika dibandingkan dengan jenis ayam yang lain. Masa anen ayam kampung KUB relative lebih cepat dan ramah terhadap lingkungan karena tidak menimbulkan bau yang begitu menyengat.
4.4. Input produksi usaha ternak ayam
Penggunaan input produksi merupakan faktor yang penting dalam kegiatan usahatani ternak ayam, lahan/lokasi untuk kandang, tenaga kerja, pembuatan kandang, peralatan kandang, bibit ayam DOC, pakan, obat-obatan, biaya listrik, sekam, dan penysupan, dan kegiatan kelembagaan lainnya seperti : penyuluhan, perdagangan, dan birokrasi. Wilayah Kecamatan Jambi Selatan Kabupaten Muaro Jambi merupakan salah satu sentra produksi ternak ayam di Provinsi Jambi dengan populasi yang cukup baik, karena selain daerahnya cocok untuk usaha ternak ayam kampung, juga penggunaan bibit ayam KUB yang berkualitas unggul dan sehat.
Penggunaan tenaga kerja dalam kegiatan usahaternak ayam ini sangatlah dominan, lahan kering atau lahan bukaan baru yang merupakan areal untuk pembuatan kandang yang terjaga dari kesehatan ternak itu sendiri, mulai dari pembuatan kandang, pengendalian dari serangan penyakit ayam, pembersihan, pengangkutan cukup diperlukan sebagai tenaga kerja.
Sementara itu kegiatan kelembagaan usahatani lainnya, juga sangat membantu kegiatan usahaternak ayam dalam mencapai produksi. Ketersediaan pakan yang selalu kontiniu sangat dibutuhkan mulai dari umur 1 minggu sampai 8 minggu harus tersedia dan cukup. Kegiatan kelembagaan (penyuluhan dan perdagangan) oleh penyuluh dan pelaku swasta juga berperan dalam keberhasilan usahatani ternak ayam, karena akan menjadi faktor pelancar bagi petani ternak ayam dalam merespon aspek teknis dan pasar, kapan melakukan kegiatan sahatani ternak ayam.
Berdasarkan definisi perumusannya, rentang tersebut memiliki arti bahwa usahaternak cenderung menyebar secara spasial. Kondisi ini akan memberikan implikasi terhadap derajat variabilitas output dan biaya produksi, terutama transportasi. Selanjutnya, ketersebaran lokasi produksi tersebut diduga akan memperbesar peluang terjadinya backwash effect dari sektor ekonomi lainnya, atau dengan kata lain, nilai tambah yang dihasilkan oleh kegiatan usahaternak tersebut diperkirakan tidak dapat dimanfaatkan oleh sektor lainnya yang berada di wilayah yang sama.
4.5. Analisis Ekonomi Usaha Ternak Ayam Kampung KUB
Rincian modal pada usaha ternak salah satu kepastian yang mutlak dengan modal yang besar. Namun peternak setidaknya sudah mempunyai gambaran sebelum memulai usaha. Dalam analisis ekonomi pada usaha ternak ayam kampung KUB, dapat dihitung berdasarkan asumsi produksi selama satu tahun. Menurut Hartono, (2013) secara farsial dan indefeden yang dapat berpengaruh terhadap pendapatan peternak adalah jumlah pemeliharaan ternak, biaya yang dikeluarkan selama usaha. Rincian biaya untuk pembuatan kandang 1 unit sebesar Rp. 1.200.000,-/unit, penyusutan kandang selama 5 tahun Rp. 100.000,-/tahun. Peralatan kandang sebesar Rp. 200.000,- dan penyusutan peralatan kandang sebesar Rp. 30.000,-/tahun. Pembelian bibit DOC ternak ayam kampung KUB sebesar Rp. 9.000,-/ekor x 1.00 ekor = Rp. 900.000,- Diasumsikan untuk kematian DOC sebesar 2.5% biaya pakan sebesar Rp. 400.000,-/periode dan biaya ternaga kerja peternak sebesar Rp. 800.000,-/periode.
Perkiraan keuntungan pada usaha ternak ayam kampung KUB di peternak menjadi salah satu pemikiran yang harus diperhitungkan untung dan rugi dalam analisis ekonomi. Lama waktu pemeliharaan ayam kampung KUB (DOC) sampai masa panen hingga umur 8 minggu atau 2 bulan pemeliharaan. Asumsi dalam perkiraan secara ekonomi bahwa , pendapatan peternak ayam kampong KUB dari hasil jual ayam kampung KUB umur 8 minggu sebanyak 97.5 ekor x Rp. 45.000,- yang Modal awal sebagai investasi masih sebesar Rp. 4.410.000,- dengan modal operasional dan penyusustan kandang dan lainnya sebesar Rp. 3,786.250. Perkiraan analisis ekonomi pada usaha ternak ayam kampung KUB di peternak ayam KUB, modal usaha akan kembali apabila peternak mendapatkan keuntungan lebih besar daripada modal usaha yang dikeluarkan. Pada pembelian DOC peternak tidak diasumsikan kedalam ongkos kirim baik luar
maupun dalam, karena pada saat pengambilan DOC untuk sementara waktu peternak menerima DOC ditempat dikirim oleh peternak inti. Analisis ekonomi peternak ayam kampung KUB dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2. Analisis Usaha Ternak Ayam Kampung KUB Umur 8 Minggu
No. Biaya Produksi Volume (Rp)
1 Pembuatan kandang 1 unit @ Rp.1.200.000 1.200.000,-
2 Peralatan kandang @Rp.200.000,- 200.000,-
3 Penyusustan kandang 5/tahun 100.000,-
4 Penyusustan peralatan 5/tahun 30.000,-
5 Bibit DOC ayam kampung 100 ekorxRp.9.000 900.000,-
6 Pakan (0-2 bulan) 400.000,-
7 Kesehatan ternak ayam KUB @ Rp.75.000 75.000,-
8 Biaya listrik @Rp.35.000x2 bulan 70.000,-
9 Sekam @Rp. 15 kg x Rp.750 11.250
10 Biaya tenaga kerja peternak @Rp.400.000/periode 800.000,-
11 Jumlah Biaya produksi 3,786,250,-
Keuntungan
Penjualan (100 x 2.5%) x harga jual @Rp.45.000 Keuntungan kotor Keuntungan bersih R/C 4,410,000,- 623.750,- 1.17
Dari tabel 2 menunjukkan bahwa, nilai jual pada ternak ayam kampung KUB umur 8 minggu, petani peternak ayam kampung KUB mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp. 623.750,-/periode, dengan R/C ratio sebesar 1,17. Tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian R.Rusdiana dan Praharani, 2017, dengan pemeliharaan ayam kampung KUB untuk pembibitan dan penghasil DOC.
Dikemukan juga oleh Dewanti dan Sihombing (2012) pada usaha ayam buras di Kecamatan Tangalombo Kabupaten Pacitan keuntungan peternak sebesar Rp. 1.383.358,-/tahun dengan rata-rata penjualan 89 ekor. Hasil analisis dengan pendekatan R/C ratio menunjukkan bahwa usaha ternak ayam kampung KUB dengan pemeliharaan selama 8 minggu secara ekonomi financial layak untuk dilanjutkan.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1) Usaha ternak ayam kampung KUB yang beroriantasi komersial, diperlukan perencanaan serta penanganan yang lebih detil, agar usaha mendapatkan finansialkeuntungan yang optimal.
2) Nilai jual ternak ayam kampung KUB umur 8 minggu, mendapat keuntungan bersih sebesar Rp. 623.750,-/peternak dengan pendekatan R/C 1.17. Hasil analisis dengan pendekatan R/C ratio menunjukkan bahwa usaha ternak ayam kampung KUB dengan pemeliharaan umur 8 minggu, secara ekonomi finansial layak untuk dilanjutkan kembali.
3) Pada aspek kinerja secara keseluruhan, kerentanan terhadap akses dan ketersediaan bahan baku pakan, serta perluasan (diversifikasi) pemasaran produk menjadi simpul kritis dalam koridor pembangunan usahaternak ayam kampung KUB Kecamatan Jambi Selatan Kabupaten Muaro Jambi di masa depan.
5.1. Saran
Usaha ternak ayam kampung KUB di Kecamatan Jambi Selatan Kabupaten Muaro Jambi layak diusahakan, karena dari sisi penerimaan usahatani dari peternak ayam kampung KUB menunjukkan nilai R/C ratio masih menguntungkan. Namun petani peternak ayam kampung diharapkan tetap berupaya menjaga produktivitas ayam kampung yang cukup tinggi dan tersedia terus sepanjang ada permintaan pasar.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini,A. 2016. Pendampingan koordinasi, bimbingan dan dukungan teknologi UPSUS Daging, TSP, TTP, dan Komoditas Utama Kementan, Laporan kegiatan RDHP tahun 2016. Anonim, 2018. Programa Penyuluhan Pertanian Wilayah Kerja UPTD Jambi Selatan, 2019.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kota Jambi.
Anwar, Affendi. 2006. Suatu Arah Tentang Analisis Institusi Sistem Kontrak Pertanian Wilayah
Perdesaan. Suatu Petunjuk Bagi Keperluan Penelitian Bisnis Di Wilayah Perdesaan
(Tidak Dipublikasikan). Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Arifin, Bustanul. 2003. Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia. Kompas Media Nusantara. Jakarta.
Badan Litbang Pertanian. 2015. Pedoman Umum Pengembangan Taman Sains dan Teknologi Pertanian TSTP). Badan Litbang Peternakan, Kementerian Pertanian.
Badan Pusat Statistik. 2018. Statistik Peternakan. Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. Budiharsono, Sugeng. 2001. Teknik Analisis Wilayah Pesisir dan Lautan (Cetakan Pertama).
PT. Pradnya Paramita. Jakarta.
Dewanti,R dan G. Sihombing. 2012. Analisis Penapatan Usaha Peternakan Ayam Buras.
Dinas Peternakan Provinsi Jambi, 2018. Laporan tahunan Dinas Peternakan Provinsi Jambi, 2018.
Djaenudin, D; Y. Sulaeman dan A. Abdurachman. 2002. Pendekatan Pewilayahan Komoditas
Pertanian Menurut Pedo-Agroklimat di Kawasan Timur Indonesia. Jurnal Litbang
Pertanian, 21:1.
E. Gumbira-Said, A. Harizt Intan. 2004. Manajemen Agribisnis. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta.
Fakultas Peternakan. 2006. Kajian Potensi Pengembangan Peternakan di Kabupaten Cirebon
Dan Kabupaten Indramayu Dalam Pengembangan Kawasan. Kerjasama Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran dengan Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat. Bandung.
Heti Resnawati, 2014. Bahan presentase Pakan Ayam KUB. Balai Penelitian Ternak Bogor. Ibrahim, T dan Gufroni, L. 2005. Peluang Pengembangan Ternak Kambing di Kalimantan Barat.
Disampaikan pada Lokakarya Nasional Kambing Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat. Pontianak.
Kusnadi U., Prasetyo L.H., Sinurat A.P., Hamid H., Masbulan E., Purba., Hasinah H., dan Priyanti A. 2001. Pengembangan Kelembagaan Bagi Stabilisasi Usaha ayam Ras
Rakyat serta Fasilitas Kemitraan Yang Lestari. Laporan Penelitian. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian Peternakan. Bogor.
Maijon Purba, 2014. Teknik @ Formulasi Ransum Ayam KUB. Balai Penelitian Ternak Bogor. Rasyaf, M. 1999. Memasarkan Hasil Peternakan. Penebar Swadaya. Jakarta. Singarimbun,
Masri dan Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. LP3ES. Jakarta.
Saragih, Bungaran. 1998. Agribisnis Berbasis Peternakan. Pusat Studi Pembangunan-Lembaga Penelitian IPB. Bogor.
Soehadji. 1994. Membangun Peternakan Tangguh (Proses Internalisasi Pengabdian Tugas Ke
Inovasi Instrumental Sistem Pembangunan Peternakan Tangguh). Orasi Ilmiah
Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa Bidang Ilmu Peternakan Universitas Padjadjaran 15 September 1994. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Soepadi. 2005. Pembangunan Pertanian dan Perekonomian Pedesaan Melalui Kemitraan Usaha
Berwawasan Agribisnis. ICASERD Working Paper No. 60.
Sudardjat, S & R. Pambudy. 2003. Peduli Peternak Rakyat (Menjelang Dua Abad Sejarah
Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia. Yayasan Agrindo Mandiri. Jakarta.
Soekartawi, 2006. Analisis Usahatani. Penerbit UI Press Jakarta.
S. Rusdiana dan L. Praharani, 2017. Peran TTP Cigombong pada Usaha Ternak ayam Kampung KUB sebagai Upaya Meningkatkan Pendapatan Peternak.