PENGUJIAN KETIDAKRATAAN
PENGUJIAN KETIDAKRATAAN PADA BENANG
PADA BENANG
I.
I.
TEORI DASAR
TEORI
DASAR
Ketidakrataan benang adalah suatu ukuran mutu benang yang menyatakan Ketidakrataan benang adalah suatu ukuran mutu benang yang menyatakan besarnya penyimpangan masa pada panjang tertentu, yang keberadaanya tidak besarnya penyimpangan masa pada panjang tertentu, yang keberadaanya tidak mungkin dapat dihindari, ada tiga macam ukuran yang menyatakan ketidakrataan: mungkin dapat dihindari, ada tiga macam ukuran yang menyatakan ketidakrataan:
-- Koefisien VaKoefisien Variasi (CV) riasi (CV) adalah aadalah akar rata-rata dakar rata-rata dari kuadrat ri kuadrat selisih anselisih antaratara kerapatan linier dan ratanya, dinyatakan dalam persen terdapat kerapatan linier dan ratanya, dinyatakan dalam persen terdapat rata-ratanya kerapatan linier benang yang
ratanya kerapatan linier benang yang diuji.diuji.
-- Persen Persen simpangan simpangan rata-ratrata-rata a (U) (U) adalah adalah simpangan simpangan rata-rarata-rata ta kerapatakerapatan n linier,linier, dinyatakan dalam persen terhadap linier yang diuji
dinyatakan dalam persen terhadap linier yang diuji Hubungan antara U % dengan CV adalah U = 1,25 CV Hubungan antara U % dengan CV adalah U = 1,25 CV
-- Persen Persen rentang ( rentang ( R R ) ) adalah adalah rentang rentang kerapatan linier kerapatan linier yang yang didapat dari didapat dari bagian- bagian-bagian panjang benang yang sama, dinyatakan dalam persen terhadap bagian panjang benang yang sama, dinyatakan dalam persen terhadap rata-rata kerapatan linier benang yang diuji.
rata kerapatan linier benang yang diuji. Ketidakrataan benang dipengaruhi oleh Ketidakrataan benang dipengaruhi oleh a.
a. Panjang Panjang seratserat
Serat makin panjang maka ujung serat main sedikit sehingga benang akan Serat makin panjang maka ujung serat main sedikit sehingga benang akan lebih rata.
lebih rata. b.
b. Kerataan Kerataan panjang panjang serat serat ((uniformity ratiouniformity ratio/UR)/UR)
Serat makin rata panjangnya maka seting dimesin akan lebih mudah dan Serat makin rata panjangnya maka seting dimesin akan lebih mudah dan proses akan lebih lancar sehingga benang yang dihasilkan akan lebih rata. proses akan lebih lancar sehingga benang yang dihasilkan akan lebih rata. c.
c. Kehalusan Kehalusan seratserat Makin halus serat
Makin halus serat maka makin rata benangnya. Kehalusan serat kapas maka makin rata benangnya. Kehalusan serat kapas antaraantara 2,5
2,5 – – 6,0 micronaire 6,0 micronaire d.
d. Cacat-cacat Cacat-cacat oleh oleh mesinmesin
Cacat karenCacat karena kesalaa kesalahan drahan drafting , bifting , biasanya terasanya terjadi karenjadi karena bahan a bahan baku.baku.
Cacat Cacat karena karena kesalahan kesalahan mekanik, mekanik, seperti seperti ::
-- Rol-rol Rol-rol tidak tidak bulatbulat
-- Rol-rol Rol-rol yang yang eksentrikeksentrik
-- Belt Belt yang yang kendor kendor atau atau apron apron kendorkendor
-- Beban Beban yang yang tidak tidak sesuaisesuai
-- Roda Roda gigi gigi yang yang ausaus
-- Flyer Flyer yang yang bengkokbengkok
-- Ring Ring atau atau traveler traveler yang yang ausaus
Alat uji ketidakrataan benang Alat uji ketidakrataan benang Alat uji ketida
Alat uji ketidakrataan benakrataan benang menurut prinsng menurut prinsip kerjanya ip kerjanya dibagi dua jendibagi dua jenis is ::
a. Uster berdasarkan kapasitansi (kapasitor, kemampuan pendeteksian a. Uster berdasarkan kapasitansi (kapasitor, kemampuan pendeteksian berdasarkan jumlah muatan listrik), Disini yang diukur adalah massa benang/ berdasarkan jumlah muatan listrik), Disini yang diukur adalah massa benang/ berat benang per unit panjang tertentu. Dasar pengukurannya berdasarkan berat benang per unit panjang tertentu. Dasar pengukurannya berdasarkan medan magnet. Alat system ini diproduksi oleh Uster. Alat dengan sistim ini medan magnet. Alat system ini diproduksi oleh Uster. Alat dengan sistim ini paling banyak berkembang sampai sekarang.
paling banyak berkembang sampai sekarang.
Gambar 8.1
Gambar 8.1 Skema JalaSkema Jalannya Benang Dnnya Benang Diantara Kapaiantara Kapasitorsitor b.
b. Berdasarkan Berdasarkan photocellphotocell
Kemampuan kerjanya adalah dengan mengukur diameter benang dengan Kemampuan kerjanya adalah dengan mengukur diameter benang dengan photo elektrik. Dasar pengukurannya berdasarkan diameter benang. Alat photo elektrik. Dasar pengukurannya berdasarkan diameter benang. Alat dengan system ini dikeluarkan oleh
dengan system ini dikeluarkan oleh Peyer.Peyer. Tabel 8.1
Tabel 8.1 Pengaruh DPengaruh Dari Faktor-Faktor Ketiari Faktor-Faktor Ketidakrataan Benadakrataan Benangng Terhadap Benang Jika Diuji Dengan Kedua Alat
Terhadap Benang Jika Diuji Dengan Kedua Alat No.
No. Faktor Faktor Yg Yg Berpengaruh Berpengaruh Sistem Sistem Kapasitansi Kapasitansi Sistem Sistem PhotoelectricPhotoelectric
1. 1. 2. 2. 3. 3. 4. 4. 5. 5. 6. 6. 7. 7. 8. 8. Antihan Antihan Warna(kecerahan) Warna(kecerahan) Kelembaban Kelembaban Jenis bahan Jenis bahan
Sinar yang berlebihan Sinar yang berlebihan Getaran Getaran Stabilitas Stabilitas Debu Debu Tak berpengaruh Tak berpengaruh Tidak berpengaruh Tidak berpengaruh Sangat berpengaruh Sangat berpengaruh Sangat berpengaruh Sangat berpengaruh Tak berpengaruh Tak berpengaruh Tidak peka Tidak peka
Tak perlu dicek secara Tak perlu dicek secara periodik periodik Sangat berpengaruh Sangat berpengaruh Sangat berpengaruh Sangat berpengaruh Sangat berpengaruh Sangat berpengaruh Tidak berpengaruh Tidak berpengaruh Berpengaruh Berpengaruh Sangat berpengaruh Sangat berpengaruh Sangat peka Sangat peka Sering dicek Sering dicek Lebih berpengaruh. Lebih berpengaruh. Faktor-faktor
Faktor-faktor yang Menenyang Menentukan Ketepatan tukan Ketepatan PengukuranPengukuran Faktor-faktor yang menentukan ketepatan hasil
Faktor-faktor yang menentukan ketepatan hasil pengukurapengukuran ketidakrataan benangn ketidakrataan benang dengan metoda kapasitansi adalah :
dengan metoda kapasitansi adalah :
-- Jenis Jenis dan dan kesejajaran kesejajaran pelat pelat elektroda.elektroda.
-- PerbandingPerbandingan an dimensi dimensi benang benang terhadap terhadap ruang ruang anatara anatara dua dua pelat pelat elektroda.elektroda. Diameter benang yang akan diukur maksimal 1,4 jarak antara dua pelat Diameter benang yang akan diukur maksimal 1,4 jarak antara dua pelat elektroda.
elektroda.
-- Sumber Sumber tenaga tenaga listrik.listrik.
-- Bentuk Bentuk kesilindrisan kesilindrisan benang.benang.
- Keajegan kondisi ruang pengujian. - Kandungan uap air dalam benang.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian ketidakrataan benang adalah : 1. Pemilihan Pd dan Pa
Harga ketidakrataan sangat bergantung pada Pa (panjang antara) dan Pd (panjang dalam). Apabila beberapa harga ketidakrataan diperbandingkan maka pengujian harus dilakukan dengan Pa dan Pd yang sama.
a. Pa (panjang antara)
Alat Uster Evenness Tester mempunyai 8 buah celah (slot), yang masing-masing berbeda ukurannya. Apabila pengukuran dilakukan pada “normal test” maka besarnya Pa sama dengan lempeng kondensornya. Pemakaian slot tergantung dari besar kecilnya bahan yang akan diukur, seperti terlihat pada table dibawah ini.
Tabel 8.2 Slot dan Ukuran Benang
Nomor S lot
Panjang lempeng(mm)
Nomor B enang
Jenis Benang1 2 3 4 5 6 7 8 20 12 12 12 8 8 8 8 10 – 40 k tex 2 – 12 ktex 0,9 – 3,3 ktex 0,16 – 1,7 k tex 66 – 160 tex 21 – 66 tex 8,7 – 21 tex 4,0 – 8,7 tex Sliver Sliver Sliver Roving Roving Roving Benang Benang b. Pd (panjang dalam)
Pd adalah panjang benang yang diuji. Pd dapat dihitung dengan mengalikan waktu evaluasi dengan kecepatan bahan. Pd dapat dipilih dengan memvariasikan antara waktu evaluasi dengan kecepatan bahan. 2. Pemilihan kecepatan benang dan diagram
a. Kecepatan benang
Pada prinsipnya kecepatan yang dipilih adalah kecepatan yang paling tinggi untuk mendapatkan waktu evaluasi yang lebih cepat. Kecepatan bahan dapat diatur dari mulai 4, 8, 25, 50, 100, dan 200 meter/menit. Menurut pengalaman panjang gelombang yang terpendek dari berbagai variasi penampang bahan akan tetap jelas apabila sesuai dengan kelipatan panjang serat (e) dari bahan.
b. Kecepatan diagram (grafik)
Bila ketidakrataan dievaluasi dengan grafik, perbandingan kecepatan benang dan kecepatan grafik harus cukup untuk menunjukan periode
fluktuasi yang terkecil, perbandingan yang diperkenankan dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Kecapatan diagram dapat diatur dari mulai 2,5, 5, 10, 25, 50, atau 100 meter per menit.
Tabel 8.3 Perbandingan Maksimum yang Diperkenankan Antara Kecepatan Benang dengan Kecepatan Grafik.
Macam Benang Pengukuran
CV dan U R Benang Stapel Benang Filamen 0,6 p 20 3 p 100 p : panjang serat (mm)
3. Pemilihan range of scale
Ada 4 “range of scale” yang dapat dipilih, pemilihan range of scale ini tergantung ketidakrataan bahan yang akan diuji. Yang penting adalah gerakan jarum dapat menunjuk penuh pada kertas grafik dan pada waktu pengujian U % dan CV % pada integrator jarum pada Uster Evenness Tester harus menunjuk ditengah-tengah.
Berdasarkan pengalaman range of scale dapat dipilih sebagai berikut : Benang : 100 %
Roving : 50 % kadang-kadang 25 % Sliver : 25 % kadang-kadang 12,5 % 4. Pemilihan service normal atau inert
Service selector dapat digunakan “Normal”, dalam hal ini variasi dari penampang bahan sesuai dengan variasi bahan yang panjangnya sama dengan panjang slot yang dipakai, juga dapat digunakan “inert test” apabila dikehendaki kurva dari variasi yang lebih panjang daripada menggunakan “Normal”.
Pengaruh Ketidakrataan Benang terhadap Kenampakan Kain
Benang yang tidak rata cenderung akan menghasilkan kain tenun atau rajut yang cacat berupa : cacat struktur, strip, bar, atau ketidakrataan hasil celupan (belang). Cacat benang periodik biasanya disebabkan oleh adanya bagian-bagian mesin pemintalan yang cacat.
Ketidakrataan benang yang mempunyai variasi masa tidak menentu, cenderung akan menghasilkan kain cacat dengan kategori cacat struktur. Cacat struktur kain adalah cacat yang tampak secara visual berupa perbedaan warna tua dan muda, jarang padat yang tidak beraturan. Kejadian ini biasanya akan tampak pada kain berwarna yang memiliki cover faktor rendah seperti kain rajut pakan.
II.
MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan dari dilakukannya praktikum pengujian ketidakrataan pada benang ini adalah :
1. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menjelaskan pengertian ketidakrataan benang, penyebab ketidakrataan benang serta hubungan dengan proses selanjutnya.
2. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menguji ketidakrataan benang.
3. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menganalisa hasil uji ketidakrataan benang.
III.
ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengujian ketidakrataan pada benang ini adalah :
Uster Evenness Tester terdiri dari : a. Monitor (measuring frame)
Pada monitor terdapat
- Slot, yaitu sensor yang membaca ketidakrataan benang - Tombol pengatur kecepatan pengujian
- Tombol pengatur average value - Tombol pengator range of scale - Tombol-tombol service selector
- Monitor penunjuk ketidakrataan benang b. Integrator
Pada integrator terdapat :
- Tombol pengatur range of scale - Evaluating time
- Skala nilai ketidakrataan (U %) c. Imperfection Indicator
Pada imperfection indicator terdapat :
- Evaluating time
- Tombol-tombol pengatur besarnya thin, thick place dan neps - Hasil pengujian thin, thick place dan neps
IV.
LANGKAH KERJA
Langkah-langkah dalam praktikum pengujian ketidakrataan pada benang ini adalah antara lain:
Persiapan Contoh Uji
a. Siapkan jumlah gulungan yang akan memberikan ketelitian ± 4 % dengan tingkat kepercayaan 90 %, jumlah gulungan dihitung dengan rumus :
N = 0,17 V2 Keterangan
N = jumlah gulungan V = koefisien Variasi.
b. Panjang minimum yang diuji per gulung Jenis Contoh Uji Pengukuran CV dan U % R Benang Roving, Sliver Dan Top 40 m 20 m 80 m 40 m
Kondisikan benang yang akan diuji dalam ruangan standar pengujian sampai mencapai keseimbangan lembab
Cara Uji
Kalibrasi alat
1. panaskan alat selama ½ jam (30 menit) dengan urutan : - tekan tombol “ON” (main supply) pada eveness tester - tekan tombol “ON” (main supply) pada integrator
- tekan tombol “ON” (main supply) pada imperfection indicator - tekan tombol “ON” (main supply) pada spectograph
2. setelah ½ jam (30 menit) dipanaskan lalu tekan : - tekan tombol “ON” (output) pada eveness tester - range of scale (3) pada posisi 100%
3. tekan tombol servis selector (4) pada posisi normal test menentukan ketidak rataan benang
1. tekan tombol range of scale (3) pada posisi eveness tester dan intergrator sesuai dengan ketentuan
2. pasang benang melalui penghantar benang, peraba sambungan, dan tention
3. pilih slot yang sesuai dengan no. benang (lihat tabel) dan lewatkan pada penghantar benang, rol penarik dan lilitkan pada penggulung benang. 4. atur kecepatan sesuai dengan yang ditentukan
5. lakukan penggulungan benang dengan menekan tombol “ON”
6. atur tombol average value hingga posisi jarum bergerak diantara 0% kemudian hentikan pengggulungan dengan menekan tombol “OFF”
7. putar evaluating time pada integrator diposisi “NOL” tunggu hingga jarum U% mencapai angka nol (0)
8. secara bersamaan jalankan penggulung benang dan evaluating time baca skala U% sampai pada batas waktu yang ditentukan
menentukan jumlah thin, thick, dan neps 1. tekan tombol output pada integrator
2. stel semua counter pada posisi nol dan range of scale pada eveness tester dan integrator diposisi 100%
3. putar evaluating time pada imnperfection indicator pada posisi 10 tunggu sampai lampu menyala
4. lakukan penggulungan benang
5. bila lampu indicator telah mati, hentikan penggulungan dan catat thin, thick, dan nepsnya
V.
PENGOLAHAN DATA DAN PERHITUNGAN
DATA PENGAMATAN Range of Scale = + 50 % Average Value = 28,2 Range of Scale = + 100 % Thin Place = 3 Thick Place = 0 Neps = 0 Slot = 7 Kecepatan = 100 m/menit VI. PERHITUNGAN Standar Deviasi (S) S =√
∑(−)
−
=√
,984
4
= 0,157 Koefisien Variasi (CV) CV =
x 100 % =,57
7,94
x 100 % = 1,97 % No U%( ̅)
2 1 8,5 0,3136 2 8 0,0036 3 7,7 0,0576 4 7,9 0,0016 5 7,6 0,1156 ∑ 39,7 0,429
7,94 0,0984VII.
DISKUSI DAN KESIMPULAN
DISKUSIPada praktikum kali ini mengenai pengujian ketidakrataan pada benang. Pengujian ketidakrataan pada benang diperlukan untuk kepentingan penelitian, pengendalian mutu, dan perdagangan (pemasaran) benang. Kerataan benang merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kemampuan teknis pada proses selanjutnya dan mutu kain (kenampakan) yang dihasilkan.
Ketidakrataan benang yang mempunyai variasi masa tidak menentu, cenderung akan menghasilkan kain cacat dengan kategori cacat struktur. Cacat struktur kain adalah cacat yang tampak secara visual berupa perbedaan warna tua dan muda, jarang padat yang tidak beraturan.
Pada praktikum ini, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:
- Pada saat menyimpan benang usahakan benang dapat berjalan dengan
lancar,
- Pastikan praktikan telah mengetahui no benang yang akan diuji terlebih
dahulu karna hal ini sangat berpengaruh terhadap penempatan benang pada slot-slot yang berbeda-beda.
- Sebelum menjalankan alat uji, kalibrasi terlebih dahulu sesuai yang diarahkan - Ketelitian pada saat melihat U% setiap satu menit sekali.
Semua hal di atas harus terpenuhi demi kelancaran saat pengujian maupun pada saat benang diproses ke tahap selanjutnya seperti pertenunan dan perajutan
KESIMPULAN
Setelah melaksanakan praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwasannya ketidakrataan adalah suatu ukuran (diameter) benang per satuan panjang yang berbeda-beda, hal ini tidak dapat dihindari/selalu saja ada, hal ini dikarenakan oleh beberapa factor salah satunya terjadi sedikit kendala pada proses pemintalan. Selain itu pengaruh ketidakrataan benang ini akan berdampak pada proses selanjutnya seperti, pertenunan, perajutan, dan lain-lain. Berikut data-data yang dihasilkan setelah praktikum
ketidakrataan benang
: Standar deviasi = 0,157 Koefisien variasi = 1,97 % Thick places = 0
Thin places = 3
VIII.
LAMPIRAN
Keterangan gambar 1. Evenness Tester 2. Integrator 3. Imperpection Indicator 1 2 3PENGUJIAN BULU BENANG (
HAIRINESS
)
I.
TEORI DASAR
Hairness adalah jumlah helai total serat – serat yang menonjol dalam pengukuran benang nyata sepanjang 1 cm. Contohnya hairness 4,0 dari suatu contoh berarti total jumlah panjang serat yang menonjol 4 helai setiap benang yang panjangnya 1 cm. Jadi, hairness adalah perbandingan total panjang serat-serat yang menonjol terhadap satuan panjang.
Bulu pada benang adalah serat-serat yang menonjol pada permukaan benang. Banyaknya bulu pada benang dipengaruhi oleh :
1. Panjang Serat
Makin panjang seratnya tentunya ujung-ujung seratnya dalam penampang yang sama makin sedikit sehingga bulu pada benangnya makin sedikit.
2. Kerataan panjang serat
Serat yang mempunyai variasi panjang serat yang tinggi akan mengakibatkan setting pada mesin pemintalan susah dilakukan sehingga kemungkinan menimbulkan bulu akan semakin tinggi.
3. Proses pemintalan
Adanya peralatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya makin menambah kemungkinan meningkatnya bulu pada benang. Demikian juga adanya penambahan peralatan pada pemintalan misalnya compact spinning akan meningkatkan kualitas benang dengan sangat sedikitnya bulu benang.
Bulu benang yang tinggi akan menghambat proses selanjutnya misalnya pada proses pertenunan sehingga untuk mengatasinya perlu dilakukan penganjian yang intensif. Makin intensifnya proses penganjian tentunya akan menigkatkan biaya produksi. Benang dengan bulu yang sedikit misalnya compact yarn sangat menguntungkan karena proses penganjiannya hanya sedikit saja sehingga akan menurunkan biaya produksi.
Pengujian bulu benang dilakukan untuk mengetahui jumlah bulu benang setiap panjang tertentu. Pengujian dilakukan dengan alat Hairiness Tester.
Panjang bulu yang dapat dideteksi yaitu
- bulu benang yang panjangnya diatas 0,5 mm - bulu benang yang panjangnya diatas 1,5 mm
II.
MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan dari dilakukannya praktikum pengujian bulu benang (hairiness) ini adalah :
1. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menjelaskan pengertian bulu (hairiness) pada benang dan hubungan dengan proses selanjutnya.
2. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk memiliki kemampuan menguji bulu benang (hairiness).
III.
ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengujian bulu benang (hairiness) ini adalah :
Alat yang digunakan adalah Hairiness Tester yang dilengkapi dengan a. Sensor photocell
b. Motor penggulung benang
c. Soft ware komputer yang dapat mengolah data hasil pengujian ke dalam komputer.
d. Seperangkat komputer.
IV.
LANGKAH KERJA
Langkah-langkah dalam praktikum pengujian bulu benang (hairiness) ini adalah antara lain:
Persiapan Contoh Uji
Kondisikan benang yang akan diuji dalam ruangan standar pengujian sampai mencapai keseimbangan lembab seperti pada Bab II sub bab II.2.2 Persiapan contoh uji, butir f.
Cara Uji
a. Jalankan Hairiness Tester dengan cara - Hubungkan dengan sumber arus listrik - Tekan Tombol “Power”
- Tekan saklar untuk menjalankan motor penggulung benang b. Jalankan computer dengan cara
- Hubungkan dengan sumber arus listrik - Tekan Tombol Power
c. Jalankan Software Hairiness Tester dengan cara
Untuk menjalankan program Software, pada desktop komputer klik dua kali ikon seperti sehingga ditampilkan menu Utama seperti berikut ini:
Gambat 9.1 Tampilan Monitor Uji Hairiness Tester Dalam tampilan ini, ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan : - Mulai test baru (File->Start) atau klik icon
- Mengisi Mill Name (Options->MillName) - Settings Video Format dan Video Source
- Melihat petunjuk pengoperasian (Help) dan About - Keluar dari Software (File->Exit)
d. Mulai test baru (New Test )
- Untuk mulai test baru (New Test) klik File - Start atau klik ikon seperti berikut ini :
sehingga akan muncul tampilan window seperti berikut :
- Mill Name akan terisi secara otomatis.
- Isi nama Operator yang akan mengetest sample. - Kemudian isi Sample Name yang akan di test.
- Tanggal pengetesan akan otomatis terisi sesuai tanggal pada komputer.
- Masukan Number Test dengan klik panah keatas untuk menambah atau panah ke bawah untuk mengurangi.
- Sesuaikan Number of Test dengan jumlah yang akan di test.
- Masukan lamanya waktu untuk pengetesan. Minimal 1 menit dan maksimal 10 menit.
- Checklist Auto Print untuk otomatis print setelah test sample selesai.
- klik OK kalau sudah semua terisi ( klik Cancel untuk batal ) setelah di klik OK maka akan ditampilkan window seperti berikut :
1. Pada toolbar akan aktif icon Run ( ), klik untuk memulai test. Pada tampilan windows, tabel akan otomatis terisi apabila test sudah selesai. Dan pada status bar akan muncul data sample yang sedang di test. Seperti gambar di bawah ini :
2. Apabila test sudah selesai maka icon Preview akan aktif dan untuk
melihat hasilnya klik icon Preview ( ) kemudian akan muncul seperti gambar di bawah ini :
- Untuk print manual klik icon ( ) dan untuk keluar dari Preview klik icon ( ).
- Untuk memberikan komentar klik ikon Add Note ( ) maka akan tampil windows seperti gambar di bawah
Klik OK untuk menyetujui, klik cancel untuk membatalkan, klik icon ( ) untuk menambahkan komentar.
V.
PENGOLAHAN DATA DAN PERHITUNGAN
DATA PENGAMATAN No. of test 0,5 mm 0,5 mm Result 1,5 mm 1,5 mm Result 1 356 428 784 20 37 57 2 359 409 768 38 35 73 3 387 381 768 63 31 94 4 367 361 728 45 35 80 5 337 422 759 44 39 83 Result 3807 455 Average 761 91 Max 784 99 Min 728 84 PERHITUNGAN a) Waktu pengujian :Masing-masing waktu lama pengujian 1 menit, total waktu yang dibutuhkan 5 menit.
b) Panjang benang yang diuji
- Bulu benang yang panjangnya di atas 0,5 mm - Bulu benang yang panjangnya di atas 1,5 mm c) Rata-rata (
)- Jumlah bulu di atas 0,5 mm = 761 - Jumlah bulu di atas 1,5 mm = 91 d) Standar deviasi (S) e) S 0,5 =
√
∑(
−)
−
=√
72
4
= 20,74 f) S 1,5 =√
∑(
−)
−
=√
34
4
= 5,788 g) Koefisien Variasi (CV) CV0,5 =
x 100 % =2,74
76
x 100 % = 0,027 % CV1,5 =
x 100 % =5,788
9
x 100 % = 6,36 % No(
̅)
2 0,5(
̅)
2 1,5 1 529 49 2 49 16 3 49 4 4 1089 64 5 4 1 ∑ 1720 134h) Merubah ke meter 0,5 mm =
,75
x 761 = 1014,16 meter 1,5 mm =
,75
x 91 = 121,3 meterVI.
DISKUSI DAN KESIMPULAN
DISKUSI
Pada praktikum kali ini praktikan mengetahui bahwa
peng uji an bulu benang
dilakukan untuk mengetahui jumlah bulu benang setiap panjang tertentu. Pengujian dilakukan dengan alat Hairiness Tester. Prinsip pengujiannya adalah dengan cara menghitung bulu benang menggunakan sensor photo cell dan counter panjang benang.Panjang bulu yang dapat dideteksi yaitu
- bulu benang yang panjangnya diatas 0,5 mm - bulu benang yang panjangnya diatas 1,5 mm
Bulu benang yang tinggi akan menghambat proses selanjutnya misalnya pada proses pertenunan sehingga untuk mengatasinya perlu dilakukan penganjian yang intensif. Makin intensifnya proses penganjian tentunya akan menigkatkan biaya produksi. Benang dengan bulu yang sedikit misalnya compact yarn sangat menguntungkan karena proses penganjiannya hanya sedikit saja sehingga akan menurunkan biaya produksi. Selain itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat pengujian, berikut adalah beberapa poin yang dapat praktikan sampaikan :
Sebelum menjalankan alat uji sebaiknya lakukan penempatan benang sesuai dengan standar yang telah ditentukkan, karena sering kali benang mengalami putus pada saat dijalankannya alat uji. Praktikan menanggulangi ini dengan menempatkan cones benang dengan posisi miring secara diagonal,
Usahakan benang dilewati pada perangkat-perangkat yang ada pada alat uji seperti, tension, pengantar dan penggulung sesuai prosedur yang ada, selain itu usahakan benang berada di tengah-tengah optic/sensor yang dapat dilihat melalui layar computer (tidak terlalu atas dan tidak terlalu bawah, hal ini dilakukan agar bulu-bulu yang terletak diatas dan dibawah titik tengah benang dapat di baca dengan baik.
Banyaknya bulu pada benang dipengaruhi oleh : Panjang Serat
Kerataan panjang serat
Proses pemintalan
KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini praktikum dapat menyimpulkan bahwa hairness adalah jumlah helai total serat – serat yang menonjol dalam pengukuran benang nyata sepanjang 1 cm. Contohnya hairness 4,0 dari suatu contoh berarti total jumlah panjang serat yang menonjol 4 helai setiap benang yang panjangnya 1 cm. Dan hasil pengujian yang telah dilakukan sebagai berikut :
Jumlah bulu di atas 0,5 mm = 1015 bulu/meter Jumlah bulu di atas 1,5 mm = 121 bulu/meter
Standar deviasi 0,5 = 20,74
Standar deviasi 1,5 = 5,788
Koefisien variasi 0,5 = 0,027 % Koefisien variasi 1,5 = 6,36 %
LAPORAN PRAKTIKUM PENGUJIAN DAN EVALUASI TEKSTIL 2
PENGUJIAN
CRIMP
PADA BENANG FILAMEN TEKSTUR
I.
TEORI DASAR
Suatu phase yang paling penting dalam menentukan baik tidaknya proses pembuatan serat filament buatan adalah salah satunya evaluasi crimp yang akan menentukan mutu dari benangnya. Faktor ini sangat besar pengaruhnya terhadap friksi antara serat dan karenanya berpengaruh pada gaya drafting dan variasinya.
Tidak selamanya serat - serat yang sudah berbentuk sliver itu dapat didraft dengan mudah dan dengan variasi gaya yang baik, karena diantara serat - serat ada yang lengket ( stick ) dan ada yang slip.Penomena seperti ini biasa disebut efek (stick – slip) yang amat tergantung pada koefisien friksi antara permukaan serat - serat, daya rekat antara permukaan serat - serat dan efektifitas hubungan antara permukaan serat.
Pada serat atau benang filament buatan jumlah crimp yang terdapat pada seratnya sudah tertentu, hal ini karena serat buatan tidak mempunyai crimp alam sehingga crimpnya dapat ditentukan pada waktu pembuatan seratnya.
Benang tekstur dapat diartikan benang filament yang diproses dengan cara sedemikian rupa sehingga sifat-sifat fisika dan permukaan (Physical and Surface Properties) berubah. Perubahan itu tampak antara lain benang akan rua disebabkan oleh adanya crimp pada benang dan juga tampak keras pada kain yang dibuat dari benang tekstur.
Besarnya rua pada benang tekstur dapat diperoleh dengan variasi proses misalnya:
- Kecepatan benang yang diproses atau lamanya proses berlangsung - Besarnya false twist yang diberikan pada benang
- Besarnya tegangan yang diberikan selama proses - Jumlah filament dalam benang
Crimp diberikan dalam panjang tertentu. Crimp diperlukan agar benang dapat dipilin. Ada beberapa metode dipakai orang untuk menentukan crimp benang tekstur, yaitu:
- Metode Heberbein - Metode Acelance - Metode Hatra
- Metode DIN 53 840 - Metode Tifico
Metode – metode diatas berbeda prosedur perlakuan terhadap benang, akan tetapi prinsipnya sama, yaitu menggunakan 2 macam beban penegang yang berbeda untuk mengukur crimp.
Jenis Serat Temperatur (°C)
Asetat dan Triasetat 100
Poliester 120
Poliamida 120
Poliakrilat 180
Beban Besarnya (gram)
W0 2,5
W1 247,5
W2 22,5
W3 2500
Benang tekstur adalah benang filamen dari serat sintetis yang bersifat thermoplastis yang telah diproses sedemikian rupa sehingga sifat fisik dan permukaannya berubah. Misalnya menjadi rua (bulky ), berjeratan (loops), berbentuk spiral (coils) dan berbentuk crinkle. Benang yang digunakan filamen poliamida dan filamen poliester.
Perubahan sifat yang terjadi pada benang akan memberikan sifat-sifat tertentu pada kain, yaitu
a. Permukaan kain yang tidak rata b. Memberikan regangan pada kain c. Kain tidak mengkilap
d. Daya tembus udara mekin kecil
e. Pegangan/rabaan (lembut) pada kain
Pembuatan Benang Tekstur (Texturizing)
Benang tekstur dapat dibuat dengan dua cara, yaitu : 1. Cara Mekanis
Cara 3 stage, false twist, stuffer box, knit-deknit, edge crimp, air jet, dan gear crimp.
2. Cara Kimia
Biasanya dilakukan pada waktu pembuatan serat, yaitu; dengan menggunakan dua jenis polimer yang berbeda mengkeretnya.
Pembuatan Benang Tekstur Secara Mekanis
1. Cara 3 Stage
Pemberian antihan
Pemantapan antihan (heat set ) Pembukaan antihan
2. Cara antihan palsu (False Twist )
Pada prinsipnya proses False twist ini hampir sama dengan 3 stage tadi hanya pengerjaannya dilakukan dalam waktu yang bersamaan (simultan). Terdapat beberapa tipe false twisting , dilihat dari pembentuk antihannya, yaitu:
a. Disc type/Friction type ; antihan palsu (false twist ) dengan friction unit (Ceramic/ PU Disc).
b. Spin type ; Pembentukan antihan palsu dengan menggunakan spindle. c. Belt type ; Pembentukan antihan palsu dengan menggunakan belt.
Benang yang dihasilkannya mempunyai sifat rua 3. Edge Crimp
Cara ini disebut juga knife edge. Prinsip pengerjaaanya yaitu dengan melewatkan benang filamen melalui sebuah rol panas, kemudian dilewatkan pada ujung pisau yang dipanaskan.
Benang yang terjadi dilepaskan tanpa tegangan sehingga membentuk pilinan yang melingkar seperti per. Benang yang dihasilkannya berbentuk spiral. 4. Knit deknit
Pada cara ini benang filamen dirajut terlebih dahulu, kemudian kain rajut dimantapkan dengan panas, kemudian benang dibuka kembali dan digulung pada bobin. Proses perajutan, pemantapan panas dan penggulungan dilakukan dalam sartu waktu pengerjaan.
Benang yang dihasilkan berbentuk jeratan. 5. Air Jet
Cara ini disebut juga cara air texturing .
Prinsipnya dengan menggunakan hembusan udara dengan kecepatan tinggi, yaitu ; Benang filamen dihembus dengan udara yang berkecepatan tinggi + 400 m/menit. Akibat hembuasan ini benang filamen akan terpencar menjadi individu-individu filamen yang mempunyai loop-loop kecil sehingga bennag akan mengkeret dan mempunyai sifat bulky.
Benang yang dihasilkan berbentuk loop-loop kecil. 6. Gear Crimp.
Cara ini biasa dipakai untuk membuat benang tekstur dengan denier yang tinggi.
Prinsipnya dengan melewatkan benag filamen pada sepasang roda gigi yang dipanasi sehingga benang akan berbentuk gerigi seperti roda gigi yang dilewati. Tinggi rendahnya crimp diatur dengan cara merubah dalamnya lekukan gigi dan jumlah gigi. Kecepatan benang 150 m/menit.
Benang yang dihasilkan berbentuk gerigi. 7. Stuffer Box
Prinsip cara ini adalah dengan menyuapkan benang filamen kedalam suatu ruangan (Stuffer Box ) yang dipanaskan, dimana kecepatan penyuapan lebih besar dari kecepatan penarikan sehingga pada stffer box terjadi penumpukan, seolah-olah terjadi lipatan-lipatan pada benang. Benang yang terjadfi mempynuai tekukan-tekukan.
Tabel 10.1 Gambar Bentuk Bentuk Benang Tekstur :
No. Cara Pembentukan Tekstur Gambar
1. False Twist 2. Edge Crimp 3. Knit-deknit 4. Air Jet 5. Gear Crimp 6. Stuffer Box
Hal-Hal Yang Mempengaruhi Proses Pembuatan Benang Tekstur
Hal-hal yang mempengaruhi proses texturizing dikenal dengan 4 T (antihan/twist , suhu/themperature, waktu/time dan tegangan/tension) yaitu :
a. Antihan
TPM (Twist per Meter ) dipengaruhi oleh harga dan denier benang
ngTekstur
denierbena
c
TPM
C = Konstanta Untuk Poliester C = 32500 = 0,90- 1,0Bila TPM rendah, akan menurunkan sifat rua dari benang. Bila rua rendah, sifat empuk benang rendah dan rongga udara kecil. Bila TPM terlalu tinggi kekuatan akan turun. Karena akan terjadi kerusakan pada filamen -filamen pembentuk benang
b. Suhu
Suhu akan berpengaruh pada crimp dan tenacity
Crimp = Suhu > crimp >
Kekuatan = Suhu > kekuatan <
c. Waktu
Waktu pada proses tekstur adalah lamanya waktu pada pemanasan dan pendinginan. Untuk mendapatkan benang dengan mutu yang baik diperlukan waktu pemanasan yang cukup.
d. Tegangan
Tegangan benang dipengaruhi oleh Draw Ratio. Besar kecilnya tegangan
benang berpengaruh pada sifat rua dari benang, crimp, mulur, dan kekuatan benang.
Pengendalian Mutu Benang Tekstur
Sifat fisik benang tekstur yang diuji dilaboratorium, meliputi : a. Nomor benang (denier) dan jumlah filamen (helai)
b. Mulur (elongation) c. Tenacity (g/denier) d. Crimp (%)
e. Boiling Water Shringkage ( BWS ) f. Oil Pick Up (%)
g. Jumlah Interlace
h. Snarling.
Crimp (%)
Suhu
Grafik 10.1 Hubungan Crimp Dengan Suhu
40 20 30 180 190 200 210 220 Kekuatan (g/d) Suhu
Gambar 10.2 Grafik Hubungan Antara Tenacity Dengan Suhu
4
2,5
Pengujian Crimp Pada Benang Filamen Tekstur
Metoda pengujian ini mengukur perubahan panjang pada benang filamen tekstur dalam bentuk untaian karena tegangan yang ditunjukkan oleh crimp setelah perlakuan panas basah atau panas kering. Metoda ini memberikan 3 pilihan (metoda A, B, dan C).
a. Metoda A, menggunakan pembentuk crimp kondisi 1 (kering), disarankan untuk benang tekstur poliester, nilon dan akrilik. Semua parameter crimp dapat diukur dengan cara ini.
b. Metoda B, dapat juga digunakan untuk pembentuk crimp kondisi 1 (pemanas kering) untuk benang tekstur poliester, nilon dan akrilik. Crimp contraction dapat diukur dengan cara ini.
c. Metoda C, digunakan untuk pembentuk crimp kondisi 2 (bak air suhu 82 o C dan
beban 0,13 mN/tex disarankan untuk benang tekstur nilon) dan pembentuk crimp kondisi 3 (bak air suhu 97 o C disarankan untuk benang tekstur poliester).
Dengan metoda ini hanya bulk shrinkage yang dapat diukur.
Perubahan panjang yang diukur terdiri dari beberapa prosedur yang hasilnya dinyatakan dalam skein shrinkage (SS), crimp contraction (CC), bulk shrinkage (BS) dan crimp recovery (CR).
Cara ini terbatas pada pengukuran crimp benang multifilamen tekstur dengan jangkauan 1,7 – 888,9 tex ( 15 – 8000 denier).
Parameter yang diuji
a. Bulk shrinkage adalah ukuran gaya potensial untuk meregang dari benang stretch atau ukuran mengembangnya benang tekstur dari benang set.
b. crimp contraction adalah indikator kemampuan crimp atau karakteristik kemampuan benang untuk mengkeret dibawah tegangan
c. crimp recovery adalah ukuran kemampuan benang untuk kembali ke keadaan crimp aslinya setelah mengalami tegangan
d. skein shrinkage adalah ukuran mengkeret benang sesungguhnya tidak termasuk crimp contraction
II.
MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan dari dilakukannya praktikum pengujian crimp pada benang filamen tekstur ini adalah :
1. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menjelaskan pengertian crimp pada benang filamen tekstur, kegunaan crimp dan hubungan dengan proses selanjutnya.
2. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk memiliki kemampuan menguji crimp pada benang filamen tekstur.
III.
ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengujian crimp pada benang filamen tekstur ini adalah :
- Mesin reeling (gambar tertera pada lampiran) - Oven (gambar tertera pada lampiran)
- Alat ukur crimp yang terdiri dari : Beban W0, W1, W2, danW3; dan skala
pengukur
- Benang poliester
IV.
LANGKAH KERJA
Langkah-langkah dalam praktikum pengujian crimp pada benang filamen tekstur ini adalah antara lain:
1. Mencari nomor benang dari benang contoh uji
2. Menggulung benang pada mesin reeling dengan tegangan 0,1 denier sepanjang
25
2
3. Memanaskan selama 10 menit sebesar suhu yang tergantung dari jenis serat.
4. Mendiamkan dalam keadaan lurus selama 30 menit pada kondisi standar (pada eksikator)
5. Menggantungkan untaian benang dan mengaitkan beban W0(2,5 gram)
dan W1(247,5 gram)
6. Setelah 10 detik, membaca skala dalam satuan “mm”(Lg)
7. Melepaskan beban W1, menunggu 10 menit kemudian membaca skala
(Lz)
8. Memasang beban W2 (22,5 gram) dan menunggu selama 10 detik,
kemudian membaca skala (Lf)
10. Setelah 10 detik, melepaskan beban W3, meninggu selama 30 menit, lalu
membaca skala (Lb)
: =
(−)
×100%
: =
(−)
×100%
: =
(−)
−
×100%
V.
PENGOLAHAN DATA DAN PERHITUNGAN
DATA PENGAMATAN Berat = 1,82 g Panjang = 120 yard = 109,73 m Tex =
59
35,6
= 16,59 Dtex = 16,59 x 10 = 165,9 Ʃ Gulungan =25
2 x dtex
=25
2 x 65,9
= 7,53 Lg = 47,8 cm = 478 mm Lz = 29,5 cm = 295 mm Lf = 37,8 cm = 378 mm Lb = 32 cm = 320 mm PERHITUNGAN Kontraksi Crimp Kc =(Lg−Lz)
Lg
x 100 % =47,8−29,5
47,8
x 100 % = 38 % Modulus Crimp Mc =(Lg−Lf)
Lg
x 100 % =47,8−37,8
47,8
x 100 % = 21 % Stabilitas Crimp Sc =(Lg−Lb)
(Lg−Lz)
x 100 % =47,8−32
47,8−29,5
x 100 % = 86 %VI.
DISKUSI DAN KESIMPULAN
DISKUSIPada praktikum kali ini mengenai
peng uji an cr imp pada benang filamen
tekstur
adalah mengukur perubahan panjang pada benang filamen tekstur dalam bentuk untaian karena tegangan yang ditunjukkan oleh crimp setelah perlakuan panas basah atau panas kering. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus dperhatikan dan hal-hal yang menjadi kendala selama praktikum dilaksanakan yang berpengaruh terhadap hasil yang didapatkan : Sebelum melakukan pegujian benang terlebih dahulu di cari nomer
benangnya dengan cara yang telah diarahkan,
Pada saat meng oven benang usahakan suhu dan waktu yang digunakkan
sesuai dengan prosedur yang telah ditentukkan,
Lakukan pengukuran pertambahan panjang setelah di oven dan diberi
beban dengan teiliti dan hati-hati, dikarenakan terdapat beberapa benang yang sangat sensitive saat diberi beban terutama beban terberat yang sudah disiapkan.
KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini praktikan dapat menyimpulkan bahawa benang tekstur adalah benang filamen dari serat sintetis yang bersifat thermoplastis yang telah diproses sedemikian rupa sehingga sifat fisik dan permukaannya berubah. Misalnya menjadi rua (bulky), berjeratan (loops), berbentuk spiral (coils) dan berbentuk crinkle. Perubahan sifat yang terjadi pada benang akan memberikan sifat-sifat tertentu pada kain, yaitu
- Permukaan kain yang tidak rata
- Memberikan regangan pada kain
- Kain tidak mengkilap
- Daya tembus udara mekin kecil
- Pegangan/rabaan (lembut) pada kain
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
Kontraksi Crimp = 38 %
Modulus Crimp = 21 %
VII.
LAMPIRAN
VIII.
DAFTAR PUSTAKA
Wibowo Moerdoko, Isminingsih, Wagimun dan Suripto, 1973. Evaluasi Tekstil
bagian fisika. Sekolah tinggi Teknologi Tekstil ;Bandung.
N.M. Susyami Hitariat, Totong, Siti Rohmah, Widayat, 2006. Bahan Ajar
Praktikum Evaluasi Tekstil II (Evaluasi Benang). Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil; Bandung.
PENGUJIAN CRIMP PADA FILAMEN TEKTUR, KETIDAKRATAAN BENANG,
dan BULU BENANG (
HAIRINESS
)
PRAKTIKUM EVALUASI BENANG TEKSTIL
Nama : Muhammad Rizky Aditya
NPM : 15010087 Group : 2T4 Dosen : Atin S., S.ST, M.T. Asisten Dosen : - Dodi M., S.ST. - Tjiptoji
POLITEKNIK STT TEKSTIL BANDUNG 2017