• Tidak ada hasil yang ditemukan

studi kelayakan.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "studi kelayakan.docx"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

Feasibility Study (FS) ini merupakan Laporan yang disusun dalam pekerjaan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi) di Direktorat Jendral Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Tahun Anggaran 2015.

Feasibility Study (FS) ini secara umum merupakan penjabaran dari hasil survey yang telah kami lakukan di wilayah Desa Yoyok dan Tabalema, Kecamatan Mandioli Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara serta sesuai dengan perencanaan dan metode pelaksanaan pekerjaan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi).

Demikian Feasibility Study (FS) ini kami susun dan sampaikan dengan harapan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai rencana pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan.

Jakarta, Januari 2016 CV. SAPTA BUANA JAYA

(2)

Kata Pengantar ...1

Daftar Isi ...2

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...3

1.2 Maksud dan Tujuan Kegiatan ...5

1.3 Sasaran Kegiatan ...5

1.4 Ruang Lingkup Kegiatan ...5

1.5 Waktu Pelaksanaan Kegiatan ...7

1.6 Lokasi Kegiatan ...7

1.7 Sistematika Penulisan Laporan ...8

BAB 2 PENDEKATAN TEKNIS DAN METEDOLOGI 2.1 Pemahaman Terhadap KAK...9

2.2 Pemahaman Terhadap Substansi pekerjaan...13

BAB 3 EXECUTIVE SUMMARY 3.1 Konsep Dasar PLTS ...16

3.2 PLTS Terpusat ...38 3.3 Analisa Keteknikan PLTS... 3.4 Analisa Keekonomian PLTS... BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan... 4.2 Saran...

(3)

Setelah mempelajari, memahami dan melakukan pengkajian terhadap Kerangka Acuan Kerja (KAK) pekerjaan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi) yang didukung dengan informasi tambahan pada saat mengukuti rapat penjelasan pekerjaan (aanwazjing) yang dilaksanakan oleh panitia pelelangan pekerjaan pada Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konsevasi Energi tahun anggaran 2015, berikut ini dapat kami uraikan tentang pendekatan dan metodologi yang akan digunakan dalam penyelesaian pekerjaan ini, yang akan kami uraikan dalam beberapa point bahasan berikut ini :

1.1 PEMAHAMAN TERHADAP KAK

Untuk dapat menentukan strategi pendekatan penanganan pekerjaan perlu dilakukan pemahaman kami terhadap materi yang disampaikan pada KAK tersebut yang meliputi: latar belakang permasalahan, ruang lingkup pekerjaan, maksud dan tujuan pekerjaan maupun sasaran dan hasil akhir yang akan dicapai.

a. Latar Belakang

Latar belakang pelaksanaan pekerjaan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi) ini telah dapat dipahami dengan jelas sebagai berikut :

 Indonesia merupakan negara kepulauan yang diantaranya berupa pulau-pulau kecil terluar dimana pulau-pulau tersebut sebagai kawasan perbatasan Indonesia dengan negara tetangga yang harus kita jaga keutuhannya sebagai wilayah NKRI dan sudah seharusnya kawasan tesebut menjadi perhatian kita.  Sumber potensi energi terbarukan yang terdapat di pulau-pulau kecil yang

dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik adalah energi matahari dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

 Mengingat sedikitnya informasi yang dimiliki menganai kebutuhan energi listrik (demand) di desa/kelompok permukiman yang masuk ke dalam daerah

(4)

– daerah tersebut, serta mengingat terbatasnya sumber daya manusia pada Direktorat Jendral EBTKE yang berkompeten dalam menyusun perencanaan PLTS Terpusat, maka Direktorat Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Ditjen EBTKE perlu melakukan studi kelayakan serta rancang bangun teknis pembangunan PLTS dimana dalam kegiatan ini sangat diperlukan untuk memastikan bahwa pada lokasi-lokasi yang direncanakan pembangunannya pada tahun anggaran berikutnya dapat di desain dengan baik, sehingga proses pelaksanaan pembangunannya dapat terlaksana dengan baik sehingga proses pelaksanaan pembangunannya dapat terlaksana dengan baik dan terencana.

b. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan pelaksanaan pekerjaan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi) ini telah dapat dipahami dengan jelas sebagai berikut :

1. Maksud Kegiatan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan verifikasi dan perencanaan teknis PLTS Terpusat pada lokasi-lokasi yang telah ditetapkan agar proses pelaksanaan pembangunannya pada tahun anggaran berikutnya (2016) dapat berjalan dengan baik dan sesuai peruntukannya.

2. Tujuan Kegiatan

Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran kegiatan pembangunan PLTS pada tahun anggaran berikutnya sehingga pelaksanaannya berjalan lancar dan dapat tepat waktu.

(5)

c. Keluaran Pekerjaan

Keluaran pekerjaan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi) ini telah dapat dipahami dengan jelas sebagai beikut :

Tersedianya Laporan Penyusunan FS dan DED Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua

d. Ruang Lingkup Pekerjaan

Ruang lingkup kegiatan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi) ini meliputi :

1. Koordinasi dengan instansi yang menangani bidang energi di lokasi yang telah ditetapkan dalam KAK

2. Pengumpulan data yang meliputi :

a) Penentuan Lokasi rencana (rumah pembangkit dan rangkaian modul surya) PLTS Terpusat yang dilengkapi dengan koordinat serta informasi status dan luas lahan yang tersedia

b) Pengumpulan data jumlah rumah maupun fasilitas umum yang akan menjadi calon pelanggan PLTS Terpusat

c) Pengukuran jarak dari lokasi rencana PLTS Terpusat ke masing-masing beban sehingga didapatkan perkiraan panjang jaringan

d) Pengumpulan informasi akses ke lokasi rencana PLTS Terpusat yang dapat dijadikan acuan untuk mobilisasi personil dan peralatan pada saat proses pembangunan PLTS Terpusat

3. Menyusun studi kelayakan dan perencanaan teknis (FS dan DED) dengan mempertimbangkan data yang diperoleh dan dengan memperhatikan hal-hal berikut :

a) Dalam menghitung perkiraan kebutuhan beban, ditentukan setiap rumah penduduk mendapat penerangan sebanyak 3 (tiga) titik lampu LED masing-masing 3 W dan 1 (satu) tusuk kontak.

b) Disesuaikan dengan kebutuhannya.

c) Desain kontruksi pondasi modul surya dibuat menyesuaikan kondsi tanah yang akan dijadikan lokasi untuk rangkaian modul surya.

(6)

d) Membuat gambar teknis perencanaan jaringan dengan dilengkapi denah lokasi calon pelanggan dan lay-out PLTS Terpusat dimana seluruh fasilitasnya (rumah pembangkit, modul surya dan penangkal petir) didesain masuk ke dalam pagar BRC.

e) Menentukan luas rumah pembangkit dan membuat gambar lay-out susunan baterai dan ruang kontrolnya (inverter, controller dan panel distribusi)

4. Pengumpulan data dilaksanakan di 15 desa yang masuk dalam wilayah Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (lokasi terlampir)

5. Menyusun laporan pendahuluan, laporan antara dan laporan akhir. FS dan DED dibuat terpisah dari laporan akhir.

e. Laporan

Laporan yang dihasilkan dari pekerjaan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi) ini telah dapat dipahami dengan jelas sebagai berikut :

1. Laporan Pendahuluan

 Laporan pendahuluan memuat :

1. Kegiatan konsultan mengenai pendekatan metoda/model yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan

2. Rencana kerja konsultan dan personil yang akan digunakan (Job Description)

3. Jadwal mobilisasi personil ke lapangan

4. Pengenalan lokasi (akses jalan menuju ke lokasi pembangunan)

5. Materi-materi dan bahan (data sekunder) persiapan, pelaksanaan dan laporan

 Laporan pendahuluan ini diserahkan paling lambat 14 hari setelah dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja.

2. Laporan Antara

 Laporan antara merupakan laporan yang diserahkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari, 30 (tiga puluh) hari, dan 45 (empat puluh lima) hari, sejak SPMK, berisi anatara lain :

(7)

1. Perkembangan kemajuan pelaksanaan pekerjaan (presentase) per bulan Dokumentasi/ foto progres lapangan

2. Kendala dan hambatan (jika ada)

 Laporan Antara ini diserahkan paling lambat 14 hari, 30 hari, dan 45 hari setelah dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja.

3. Laporan Akhir

 Laporan akhir berisi perkembangan akhir dan hasil perbaikan dari laporan berdasarkan masukan-masukan dari tim teknis, tim pengguna

 Buku Studi Kelayakan (FS) dan DED dibuat tersendiri.

 Laporan Akhir diserahkan paling lambat pada tanggal berakhirnya SPMK. 1.2 PEMAHAMAN TERHADAP SUSBTANSI PEKERJAAN

a. Kerangka Pikir

Kerangka pikir / konseptual yang dimaksud diatas adalah alur pikir konsultan berupa konsep kerangka kerja dalam memahami maksud, tujuan serta sasaran dari pekerjaan ini yang diharapkan nantinya dapat memperoleh output yang dapat memenuhi sasaran dari proyek dengan adanya kegiatan ini.

kerangka pikir ini berupa bagan alir yang akan menggambarkan latar belakang, permasalahan dan kajian serta rumusan yang akan disusun oleh konsultan. Dalam kerangka pikir ini terlihat instrumen input, subject dan object serta metode yang digunakan. selain itu dari hasil tinjauan lapangan akan diperoleh kondisi saat ini dan selanjutnya kondisi yang diharapkan setelah dilakukan kajian.

Selain itu parameter lain adalah subject yang dalam hal ini adalah institusi yang terlibat baik dari proyek maupun pengguna / masyarakat setempat dan pemda setempat. Sedangkan parameter berikutnya adalah metode yang akan digunakan dalam pembahasan atau pelaksanaan pekerjaan ini baik teknis maupun non teknis yang berhubungan dengan masyarakat dan institusi terkait.

(8)

INSTRUMENTAL INPUT

set setidaknya informasi yang dimiliki mengenai kebutuhan energi listrik (demand)di desa/kelompok permukiman yang masuk ke dalam pulau terluar dan kawasan perbatasan

Kondisi potensi dan kebutuhan

SUBJECT

OBJECT

METODE

Perencanaan teknis dan FS PLTS yang matang INSTANSI TERKAIT

PEMDA KECAMATAN PEMANFAAT

MASYARAKAT

DATA KEBUTUHAN LISTRIK ASPEK TEKNIK

LOKASI

AKSES LOKASI

KONDISI PENYALURAN

PERSIAPAN DAN IDENTIFIKASI LAPANGAN KRITERIA & KEBUTUHAN LISTRIK

ANALISA PERENCANAAN PLTS SKALA PRIORITAS

INPUT

Undang-undang No. 30 Tahu 2007 Tentang Energi

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional.

Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolahan Pulau-Pulau Kecil Terluar

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bomor 18 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Kegiatan fisik Pemanfaatan Energi Baru dan Energi Terbarukan

(9)

b. Monitoring dan Koordinasi Kegiatan

Dalam pelaksanaannya, monitoring dan koordinasi proyek untuk setiap item kegiatan dapat diuraikan secara matrix yang menggambarkan hubungan interaksi masing-masing yang berkaitan dengan kegiatan diatas seperti tabel dibawah ini

Tabel Monitoring dan Koordinasi dalam Pelaksanaan Pekerjaan N

O TAHAPAN KEGIATAN MONITORING KOORDINASI

A. Pekerjaan persiapan dan » PPK » Direksi Pekerjaan penyusunan RMK » Kasub Dit Terkait

» Kasi terkait B. Survey dan inventarisasi

data2 » PPK » Direksi Pekerjaan

yang dibutuhkan » Kasub Dit Terkait » Dinas Terkait » Kasi terkait » Pemda Kab & Kec C. 1

. Mengkaji studi2 terdahulu » PPK » Direksi Pekerjaan 2

.

Mengkaji Aspek teknis

dan » Kasub Dit Terkait » Dinas Terkait

lainnya » Kasi terkait » Dll nya

D. 1

. Identifikasi permasalahan » PPK » Direksi Pekerjaan 2

. Identifikasi kebutuhan » Kasub Dit Terkait» Kasi terkait » Dinas Terkait» Pemda E. Analisa data dan detail

desain » PPK» Kasub Dit Terkait » Direksi Pekerjaan » Kasi terkait

F. Penyusunan Laporan » PPK » Direksi Pekerjaan » Kasub Dit Terkait

» Kasi terkait

G. Pembahasan (Diskusi) » PPK » Direksi Pekerjaan » Kasub Dit Terkait

(10)

STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PLTS TERPUSAT MALUKU UTARA, PAPUA DAN PAPUA BARAT

2.1 MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN

Maksud dari kegiatan Studi Kelayakan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat ini adalah sebagai berikut :

a. Maksud

Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan verifikasi kelayakan lokasi PLTS Terpusat pada lokasi-lokasi yang telah ditetapkan agar proses perancangan dan pelaksanaan pembangunannya pada tahun anggaran berikutnya (2016) dapat berjalan dengan baik dan sesuai peruntukannya.

b. Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran kegiatan pembangunan PLTS Terpusat pada tahun anggaran berikutnya sehingga pelaksanaannya berjalan lancar dan dapat tepat waktu.

2.2 SASARAN KEGIATAN

Sasaran dari kegiatan Studi Kelayakan adalah untuk memudahkan dalam proses Perencanaan dan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat ini dan diharapkan dapat memberi manfaat kepada instansi/ kementerian maupun daerah terkait dalam rangka melaksanakan pemenuhan kebutuhan masyarakat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat agar pelaksanaan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dapat berjalan sesuai dengan rencana, baik dari sisi biaya, mutu, dan waktu.

2.3 RUANG LINGKUP KEGIATAN

(11)

Ruang lingkup dari kegiatan Studi Kelayakan Perencanaan dan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat ini adalah

a. Survey Lapangan

Survey Lapangan bertujuan untuk mendapatkan data tentang semua aspek yang terkait untuk kepentingan pembangunan PLTS Terpusat. Aspek-aspek yang perlu diambil dalam tahap survey meliputi :

1. Moda Transportasi Bandara ke Lokasi PLTS 2. Sistem Pengamanan Lokasi

3. Kondisi keamanan 4. Kondisi Lokasi PLTS 5. Status Lahan PLTS 6. Kondisi Lahan PLTS

7. Tanggapan Penduduk Terhadap Pembangunan PLTS 8. Tipe Rumah

9. Tenaga Kerja Lokal 10. Kontak Person 11. Fasilitas Umum

12. Keberadaan Toko Bangunan 13. Informasi Banjir

14. Curah Hujan

15. Kondisi Ekonomi Masyarakat 16. Jarak Lokasi PLTS ke Beban 17. Jarak antar Rumah

18. Temperature rata-rata 19. Koordinat Lokasi PLTS 20. Iradasi Matahari saat Survey 21. Luas Area PLTS

22. Jenis Tanah

23. Gambaran Umum Layout Desa

2.4 METODE PELAKSANAAN a. Persiapan Studi Kelayakan

1. Pembentukan Tim Survey dan Laporan Studi Kelayakan

2. Kordinasi antara tim survey dengan pusat pengkaji sistem PLTS

3. Penjelasan Teknis dan kebutuhan data yang akan diambil di lokasi PLTS 4. Mempersiapkan kelengkapan peralatan survey dan safety

5. Penyusunan Jadwal Keberangkatan Tim Survey

6. Kordinasi dengan pihak terkait yang menyangkut izin-izin, surat tugas dan persyaratan lainnya

7. Tahap akses ke lokasi PLTS 8. Tahap pengambilan data

9. Menutup kegiatan survey ditandai dengan penerbitan berita acara penyelesaian survey yang ditanda tangani oleh tim survey dan pejabat

(12)

setempat yang ditugaskan b. Pengiriman Data ke Pusat

1. Rekap hasil survey lapangan sesuai data data yang dibutuhkan 2. Laporan kendala kendala yang dihadapi ketika pengambilan data

3. Pengiriman semua data survey via email ke Jakarta dilakukan sehari setelah audit lapangan selesai.

c. Tahap Penyusunan Studi Kelayakan

1. Tahap analisa dan penentuan kelayakan apakah lokasi bersangkutan layak untuk dibangun sebuah PLTS ditinjau dari aspek aspek diatas.

2. Tahap perancangan sistem PLTS. Tahap ini dilakukan ketika dalam analisis Studi Kelayakan dinyatakan lokasi tersebut layak untuk dibangun PLTS Terpusat. Dalam tahap perancangan meliputi :

 Perhitungan beban

 Penentuan sistem dan kapasitas peralatan PLTS

 Membuat gambar layout dan detil-detil untuk sistem PLTS, bangunan sipil, penangkal petir dan grounding

 Menyusun spesifikasi teknis semua peralatan PLTS

 Menyusun RAB semua biaya yang terkait pembangunan PLTS 2.5 LOKASI KEGIATAN

Lokasi Survey dari kegiatan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi) ini adalah sebagai berikut :

No Provinsi Kab Kec Desa

1 Maluku Utara Halmahera Selatan

Mandioli Selatan Yoyok dan Tabalema 2 Maluku Utara Halmahera

Selatan

Botang Lomang Batu Taga

3 Maluku Utara Halmahera Selatan

Bacan Kaputusan

4 Papua Jayapura Muara Tami Gambut Koya Barat 5 Papua Mimika Amar Kawar 6 Papua Barat Kaimana Teluk Etna Siawotan 7 Papua Barat Fak-Fak

Kramong-mongga

Kampung Kwamkuamur, Pipik dan Bahbadan 8 Papua Barat Raja Ampat Misool Dabatan

(13)

9 Papua Barat Raja Ampat Meosman-sar Yenbekwan 10 Papua Barat Raja Ampat Kofiar Awat 11 Papua Barat Raja Ampat Supnin Kapadiri 12 Papua Barat Raja Ampat Kofiau Deer 13 Papua Barat Raja Ampat Kofiau Dibabal 14 Papua Barat Raja Ampat Kofiau Mikiran 15 Papua Barat Raja Ampat Waigeo Timur Yenbekaki

2.6 WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN

Waktu Pelaksanaan Kegiatan keluaran dari kegiatan Perencanaan Pembangunan PLTS Terpusat Maluku Utara, Papua dan Papua Barat (FS, DED dan Verifikasi) ini adalah 60 (enam puluh) hari kalender.

NO KEGIATAN

BULAN KETERAN

GAN

Nov-15 Des-15

1 2 3 4 1 2 3 4

I TAHAP PERSIAPAN DAN KOORDINASI II TAHAP PENGUMPULAN DATA III TAHAP ANALISIS DAN EVALUASI IV PENYERAHAN LAPORAN

(14)

2.7 STRUKTUR ORGANISASI DAN TENAGA KERJA PENDUKUNG

TENAGA KERJA PENDUKUNG STUDI KELAYAKAN DAN DED KORDINATOR

FS DAN DED

ADMIN

TEAM SURVEY TEAM

LAPORAN TEAM PERANCANGAN TEAM 3 TEAM 2 TEAM 3 TEAM 2 TEAM 3 TEAM 2 TEAM 1 TEAM 1 TEAM 1

(15)
(16)

INSTRUMENTAL INPUT

set setidaknya informasi yang dimiliki mengenai kebutuhan energi listrik (demand)di desa/kelompok permukiman yang masuk ke dalam pulau terluar dan kawasan perbatasan

Kondisi potensi dan kebutuhan

SUBJECT

OBJECT METODE

Perencanaan teknis dan FS PLTS yang matang INSTANSI TERKAIT

PEMDA KECAMATAN PEMANFAAT

MASYARAKAT

DATA KEBUTUHAN LISTRIK ASPEK TEKNIK

LOKASI

AKSES LOKASI

KONDISI PENYALURAN

PERSIAPAN DAN IDENTIFIKASI LAPANGAN KRITERIA & KEBUTUHAN LISTRIK

ANALISA PERENCANAAN PLTS SKALA PRIORITAS

INPUT

Undang-undang No. 30 Tahu 2007 Tentang Energi

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional.

Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolahan Pulau-Pulau Kecil Terluar

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bomor 18 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Kegiatan fisik Pemanfaatan Energi Baru dan Energi Terbarukan

Rencana Strategis Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (Renstra KESDM) 2010-2014 2.8 METODOLOGI

2.9 PERALATAN SURVEY

PERALATAN YANG DIGUNAKAN

NO NAMA ALAT GAMBAR FUNGSI

1 GPS

GPS digunakan untuk mengambil data koordinat lokasi yang

diperlukan. Data ini kemudian akan dijadikan bahan untuk perhitungan baik itu potensi matahari,

perletakan PV modul dan lainnya.

2 KOMPAS

Kompas diguunakan untuk mengambil data posisi lokasi terhadap utara. Data ini menjadi dasar penentu posisi PV modul.

(17)

3 PYRANOMETER

Pyranometer digunakan untuk mengukur profilintensitas matahari di lokasi. Namun sebagai catatan bahwa untuk memperoleh data iradiasi rata-rata di suatu lokasi perlu dilakukan pengukuran selama setidaknya 1 tahun.

Alternatif lain untuk mendapatkan data tersebut ialah mengakses data dari NASA.

4 WALKING DISTANCE

Walking distance meter digunakan untuk mengukur jarak baik jarak antara lokasi PLTS dengan beban maupun perkiraan panjang jaringan listrik kerumah-rumah

5 KAMERA

Digunakan untuk

mendokumentasikan kegiatan survey dan juga peralatan atau item yang akan menjadi dasar pembuatan design

6 THERMOMETER Digunakan untuk mengukur suhu ,

kelembaban udara dan waktu

7

KERTAS + PENSIL+ PENGHAPUS

Digunakan untuk gambar / layout sebaran rumah/ beban PLTS serta untuk gambar letak PLTS dengan rumah penduduk ,PJU dan

Fasos/Fasum 2.10 FORM SURVEY

N

o Uraian DataSurvey Data

Keberada an Keterangan Alat yang Digunaka n (cek list) 1. Moda Transportasi Bandara ke Lokasi PLTS Bus Kamera Kapal kecil/Besar Angkot Motor Informasi DISHUB Mobil

(18)

Sepeda 2. Sistem Pengamanan Lokasi Polisi Kamera Siskamling Warga Informasi Perangkat Desa Swadaya Masyarakat 3. Kondisi keamanan Sering Terjadi Kerusuhan/ Pencurian Informasi Perangkat Desa Jarang Terjadi Kerusuhan/ Pencurian Aman 4. Kondisi Lokasi PLTS Berbukit Kamera Dataran Terbuka Hutan 5. Status Lahan PLTS Sudah dibebaskan Informasi Perangkat Desa Belum Dibebaskan 6. Kondisi Lahan PLTS Berbukit Kamera Dataran Terbuka Hutan 7. Tanggapan Penduduk Terhadap Pembangunan PLTS Mendukung Interview Menolak 8. Tipe Rumah 21 Kamera 36 45 60 Informasi Perangkat Desa 70

9. Tenaga Kerja Lokal

Elektrik Informasi Perangkat Desa Sipil Kuli

(19)

0. Polsek No.Telp……… PerangkatDesa

Pihak Terkait No.Telp………

PJU Jumlah……... Kapasitas….. Kamera 1 1. Fasilitas Umum Fasilitas Umum Jumlah……… … Kapasitas….. Informasi Perangkat Desa 1

2 Keberadaan Toko Bangunan

Ada Jarak…. Kamera

Tidak Ada PerangkatInformasi

Desa 1 3. Informasi Banjir Sering Terjadi Banjir Informasi Perangkat Desa Jarang Banjir Adakemungkin an Banjir Ada Potensi Banjir 1 4. Curah Hujan Tinggi Informasi BMKG Sedang 1 5. Kondisi Ekonomi Masyarakat Menengah Informasi Perangkat Desa Sedang Rendah 1

6 Jarak Lokasi PLTS ke Beban

Jauh Jarak ... Meteran/

Walking distance meter Sedang Jarak ... Dekat Jarak ... 1 7 Jarak antar Rumah

Jauh Jarak ... Meteran/

Walking distance meter Sedang Jarak ... Dekat Jarak ... 1 8 Temperature rata-rata Tinggi Thermomet er Sedang Rendah 1 9 Koordinat Lokasi PLTS ... GPS

(20)

0 saat Survey Sedang ... er Rendah .... 2 1 Luas Area PLTS Informasi Perangkat Desa/ Kamera 2 2 Jenis Tanah Berbatu Kamera Gambut Rawa Tanah 2

3 Gambaran Umum layout Desa

Kamera dan Sketch

(21)

3.1 KONSEP SPESIFIKASI TEKNIS

1.1 PERATURAN UMUM

1.2 PERATURAN DAN ACUAN

Pemasangan instalasi ini pada dasarnya harus memenuhi peraturan-peraturan sebagai berikut:

1. Permen ESDM RI No.10 Tahun 2015 tentang petunjuk teknis pengunaan dana alokasi khusus bidang energi perdesaan tahun anggaran 2015

2. PUIL 2000 (SNI 04-0225-2000)

3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per.05/MEN/1982

4. Peraturan lainnya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang, seperti PLN, TELKOM, Dit.Jen.Bina Lindung dari Pusat maupun Daerah.

Pekerjaan instalasi ini harus dilaksanakan oleh:

1. Perusahaan yang memiliki Surat Ijin Instalasi dari Instansi yang berwenang dan telah biasa mengerjakannya.

2. Khusus untuk izin dari Instansi PLN (PAS PLN dengan kelas yang sesuai) diperkenankan bekerja sama dengan perusahaan lain yang telah memiliki PAS PLN yang dimaksud)

1.3 GAMBAR - GAMBAR

1. Gambar-gambar rencana dan persyaratan-persyaratan ini merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi dan sama mengikatnya. Jika terdapat perbedaan

BAB 3

KONSEP DED

(22)

antara gambar dan persyaratan teknik, dan tidak ada klarifikasi pada dokumen setelahnya, maka yang berlaku adalah pada ketentuan pada pesyaratan teknik. 2. Gambar-gambar sistim ini menunjukkan secara umum tata letak dari peralatan,

sedangkan pemasangan harus dikerjakan dengan memperhatikan kondisi dari bangunan yang ada dan mempertimbangkan juga kemudahan service/ maintenance jika peralatan-peralatan sudah dioperasikan.

3. Gambar-gambar Arsitek dan Struktur / Sipil harus dipakai sebagai referensi untuk pelaksanaan pekerjaan ini.

4. Sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor harus mengajukan gambar kerja dan detail kepada MK untuk dapat diperiksa dan disetujui terlebih dahulu. Dengan mengajukan gambar-gambar tersebut, Kontraktor dianggap telah mempelajari situasi dari instalasi lain yang berhubungan dengan instalasi ini.

5. Kontraktor instalasi ini harus membuat gambar-gambar instalasi terpasang (AS Built Drawing) yang disertai dengan operating dan Maintenance Instruction serta harus diserahkan kepada MK sebelum penyerahan pertama dalam rangkap 5 (lima) terdiri 1 kalkir dan 4 blue print, dijilid serta dilengkapi dengan daftar isi dan data notasi beserta 1 (satu) set CD electronic copy.

6. Kontraktor wajib mengajukan as-built drawing untuk peralatan atau instalasi yang sudah terpasang perbagian pekerjaan, kompilasi gambar as-built drawing dilakukan setelah semua system instalasi sudah terpasang dengan lengkap dan benar. Kompilasi gambar tersebut sebagai dasar acuan untuk pembuatan final as-built drawing.

1.4 KOORDINASI

1. Kontraktor instalasi ini wajib bekerja sama dengan Kontraktor instalasi lainnya, agar seluruh pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

2. Koordinasi yang baik wajib ada, agar instalasi yang satu tidak menghalangi kemajuan instalasi yang lain.

(23)

3. Apabila pelaksanaan instalasi ini menghalangi instalasi yang lain, maka semua akibatnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.

1.5 PELAKSANAAN PEMASANGAN

1. Selama memungkinkan, semua peralatan/material tetap dalam packaging asli tanpa dibuka dari pabrik. Jika tidak memungkinkan harus dibungkus dengan bahan penutup yang dapat menjaga dari kerusakan. Peralatan/material tersebut harus diangkat, dibawa, diturunkan dan disimpan dengan baik untuk menjaga agar terhindar dari kerusakan.

2. Simpan peralatan/material tersebut ditempat yang bersih dan kering dan dilindungi dari kerusakan. Jika peralatan/material rusak, jangan dipasang, tetapi harus dilakukan tahapan secepatnya untuk mendapatkan penggantian atau perbaikan. Semua perbaikan harus mendapatkan review dan persetujuan dari Pemberi Tugas.

3. Lakukan perbaikan atau penggatian secara rutin terhadap kerusakan yang disebabkan karena pemotongan dalam pekerjaan seperti. Pemotongan channel, cabinet dan pengeboran lantai, dinding dan ceiling yang diperlukan untuk pemasangan yang baik, penunjang dan angkur dari raceway, boks atau peralatan lain. Perbaiki semua kerusakan pada gedung, pemipaan, peralatan atau finishing. Jalankan perbaikan dengan material yang sesuai dengan aslinya, dan pasang sesuai dengan spesifikasi.

4. Membuat lubang core-drill melalui slab dengan alat yang sesuai untuk keperluan ini. Semua opening, sleeve dan lubang di slab antar lantai dan partisi harus ditutup kembali dengan seal, fire-proof, dan waterproof.

5. Hindarkan akumulasi kotoran, boks, serpihan, dll dari instalasi ini. Buang setiap hari semua kotoran, boks, serpihan, dll tersebut dan area instalasi dijaga tetap bersih.

(24)

7. Pastikan semua panel listrik, jalur kabel, dll sudah terpasang dengan baik dan benar, sebelum mengaktifkan peralatan.

8. Sediakan lampu penerangan dan sistem distribusi listrik sementara dengan ukuran yang cukup untuk peralatan yang ada termasuk ukuran kabel feeder yang cukup untuk mengatasi penurunan tegangan. Panel dilengkapi dengan meter untuk pembayaran kepihak lain jika diperlukan.

9. Sebelum pelaksanaan pemasangan instalasi ini dimulai, Kontraktor harus menyerahkan gambar kerja/ shop drawing dan detailnya kepada Pemberi Tugas dalam rangkap 3 (tiga) untuk disetujui.

10. Kontraktor harus mengadakan pemeriksaan ulang atas segala ukuran dan kapasitas peralatan yang akan dipasang. Apabila ada sesuatu yang diragukan, Kontraktor harus segera menghubungi Pemberi Tugas.

11. Pengambilan ukuran dan/atau pemilihan kapasitas peralatan yang salah akan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

12. Gambar pelaksanaan /shop drawing yang digunakan di lokasi proyek mutlak harus yang sudah disetujui oleh pemberi tugas / MK.

13. Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya harus berkoordinasi secara baik dengan kontraktor lain yang terkait untuk mencapai hasil pekerjaan yang sempurna bagi semua pihak. Jika terjadi resiko ketidak sempurnaan pekerjaan, bongkar pasang pekerjaan, penggantian material, pembobokan, dan sebagainya yang disebabkan oleh kurangnya koordinasi, maka resiko tersebut merupakan tanggung jawab pihak yang kurang berkoordinasi. Jika penanggung jawab di antara para kontraktor yang terkait tersebut tidak dicapai kesepakatan, maka Pemberi Tugas atau MK dengan pertimbangannya sendiri dapat menetapkan penanggung jawabnya. Penyelesaian atau perbaikan atas resiko tersebut harus dilaksanakan secepat mungkin dengan waktu yang disetujui oleh Pemberi Tugas atau MK yang mana dalam hal ini Pemberi Tugas berhak menunjuk pihak lain yang melaksanakannya dengan biaya yang ditanggung oleh penanggung jawab yang telah di tetapkan.

(25)

14. Kontraktor wajib membuat as-built drawing setiap kali suatu bagian pekerjaan selesai dipasang, kemudian secara bertahap disusun terintegrasi, sehinga pada akhir pekerjaan dicapai as built drawing keseluruhan yang lengkap, terintegrasi dan benar. Bagian-bagian as built drawing yang di buat tersebut harus diserahkan kepada Pemberi Tugas atau MK setiap bulan, atau waktu lain yang di tentukan kemudian berdasarkan kemajuan pekerjaan, dalam keadaan sudah diperiksa dan benar. Jika terjadi keterlambatan atau kelalaian dalam menyerahkan as built drawing tersebut, maka kontraktor dapat dikenakan denda kelalaian, dan atau penundaan pembayaran pekerjaan.

15. Material yang diajukan dan akan digunakan pada proyek ini harus asli atau original bukan hasil modifikasi.

16. Kontraktor wajib melakukan test lab independen terhadap material dan produk yang akan digunakan di proyek dengan mengacu standar code yang berlaku pada produk/material tersebut.

17. Semua spesifikasi peralatan yang digunakan dalam proyek ini tidak boleh diganti dengan merek atau kualitas yang lebih rendah. Bila ada penggantian merek harus dengan ijin MK/Pemberi Tugas.

1.6 TESTING DAN COMMISSIONING

1. Kontraktor instalasi ini harus melakukan semua testing dan commissioning untuk mengetahui dan membuktikan apakah keseluruhan instalasi dapat berfungsi dengan baik dan dapat memenuhi semua persyaratan yang diminta.

2. Testing dan commissioning harus benar-benar dilakukan secara lengkap sesuai dengan metoda dan prosedur yang benar, disaksikan oleh Pemberi Tugas atau pihak yang ditugaskan, MK, disaksikan dan disetujui oleh Konsultan Perencana. Sebelum melakukan testing dan commissioning, kontraktor wajib menyusun dan menyerahkan metode dan prosedur testing dan commissioning yang sudah benar dan disetujui oleh Konsultan Perencana dan MK. Kontraktor dalam rangka melakukan testing dan commissioning wajib berkoordinasi dengan kontraktor dan pihak lain yang

(26)

terkait. Semua kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh kegiatan testing dan commissioning merupakan tanggung jawab kontraktor.

3. Semua bahan dan perlengkapannya termasuk bahan bakar, tenaga listrik dan air yang diperlukan serta tenaga kerja untuk mengadakan testing tersebut merupakan tanggung jawab Kontraktor.

4. Pemberi Tugas berhak meminta kontraktor untuk melakukan pengujian terhadap material / peralatan yang diragukan kesesuaian/keasliannya ke badan independen, tanpa ada biaya tambahan.

5. Kontraktor berkewajiban mengajukan skedul testing dan commissioning, sesuai dengan item pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan dari Pemberi Tugas/MK, sebelum dilaksanakan dilapangan.

6. Bila pada keadaan tertentu sehingga pengujian dan commissioning secara keseluruhan sistem tidak mungkin dilaksanakan secara serempak, maka pada kesempatan pertama berikutnya Kontraktor wajib mengulang pekerjaan tersebut diatas.

7. Bila ada bagian pekerjaan yang telah diuji dan dicommissioning secara terpisah, maka pada saat tahap akhir penyelesaian pekerjaan Kontraktor wajib membuktikan bahwa bagian pekerjaan tersebut dapat berfungsi dengan baik secara terus menerus, dimana hal ini merupakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam kontrak. Didalam jadwal pelaksanaan secara keseluruhan bila ada bagian pekerjaan yang telah diserah terimakan dan Pemberi Tugas / MK yang ditunjuk memandang perlu untuk dilaksanakan pengujian dan commissioning ulang maka Kontraktor wajib melaksanakannya. Untuk hal ini Kontraktor wajib menaruh perhatian yang cukup sehingga pelaksanaan Pengujian dan commissioning bagian pekerjaan tersebut tidak mengganggu dan membahayakan aktivitas Pemberi Tugas bila bekerja pada lokasi tersebut.

8. Bilamana pengujian sistem gagal, padahal peralatan dan perlengkapannya yang terpasang telah berfungsi, maka Kontraktor wajib segera memeriksa apakah

(27)

bagian yang tidak berfungsi tersebut merupakan kesalahan Sub Kontraktor Pemasok peralatan sehingga pengujian ulang dapat segera dilaksanakan .

9. Semua peralatan test yang digunakan harus sudah dikalibrasi dengan masa berlaku sesuai kontrak.

10. Kalibrasi peralatan harus dilakukan oleh badan resmi yang ditunjuk oleh pemerintah.

1.7 SERAH TERIMA PERTAMA

1. Serah terima pekerjaan pertama kali dapat dilakukan setelah pekerjaan selesai 100%, setelah dilakukan testing dan commissioning, dokumen-dokumen yang benar dan lengkap telah diserahkan. Termasuk training operator dan teknisi yang ditunjuk oleh pemberi tugas.

2. Dokumen-dokumen teknis yang harus diserahkan terlebih dahulu adalah meliputi: a. Kontraktor telah menyerahkan semua Surat Izin Pemakaian dari Instansi Pemerintah yang berwenang, misalnya Instansi Keselamatan Kerja, dll, hingga instalasi yang telah terpasang dapat dipakai tanpa menyalahi peraturan instansi yang bersangkutan.

b. As Built Drawing yang benar, lengkap dan terintegrasi.

c. Berita acara testing dan commissioning yang ditandatangani bersama oleh Kontraktor, MK, Pemberi Tugas dan Konsultan Perencana.

1. Operating, instruction, technical, dan maintenance manual.

2. Surat Keaslian Barang dari Pabrikan dengan menyebutkan serial number yang sesuai dan dapat diverifikasi kebenarannya.

3. Sertifikat Country of Origin dari pabrikan (khusus untuk peralatan utama)

4. Sertifikat bahwa barang belum pernah dipakai (baru) dan teknologi terbaru serta tahun pembuatan maksimal 1 tahun sebelum peralatan tersebut atau barang tersebut dipasang. (khusus untuk peralatan utama)

(28)

5. Berita acara kesesuaian dengan spesifikasi yang ditandatangani oleh perencana, pemberi tugas, MK dan kontraktor yang bersangkutan (khusus peralatan utama). 6. Warranty asli dari pabrikan sesuai dengan ketentuan oleh pemberi tugas.

Semua diserahkan kepada MK sebanyak rangkap 5 (lima) termasuk 1 (satu) set asli dan khusus untuk point b beserta 1 (satu) set softcopy (CD) elektrikal.

1.8 MASA PEMELIHARAAN

1. Peralatan dan instalasi yang termasuk dalam lingkup tugas pekerjaan ini harus digaransi minimum selama satu tahun terhitung sejak saat penyerahan pertama. Penggunaan peralatan gedung untuk sementara dan testing tidak merupakan awal dari masa garansi.

2. Masa pemeliharaan untuk instalasi adalah selama dua belas bulan terhitung sejak saat penyerahan pertama.

3. Selama masa pemeliharaan , Kontraktor instalasi ini diwajibkan mengatasi segala kerusakan yang akan terjadi tanpa adanya tambahan biaya.

Kontraktor wajib melaksanakan perawatan rutin minimum satu kali dalam satu bulan terhadap peralatan dan instalasi yang termasuk dalam lingkup tugasnya, termasuk penyetelan-penyetelan, pemeriksaan-pemeriksaan, perbaikan-perbaikan, penggantian-penggantian material untuk memastikan seluruh sistem dari pekerjaan ini bekerja sempurna dengan pemakaian daya dan energi yang paling efisien.Kontraktor harus membuat catatan-catatan tentang penyetelan dan kondisi peralatan dan instalasi dan disampaikan secara baik dan teratur kepada Pemberi Tugas. Perawatan yang dimaksud harus bersifat preventif maintenance dan kontraktor wajib melaporkan kepada pemberi tugas mengenai hal-hal yang perlu diantisipasi untuk mencegah terjadinya permasalahan seluruh akibat yang disebabkan oleh ketidaksempurnaan pekerjaan seperti kebocoran, hubung singkat listrik, beban listrik berlebih (overload), tekanan berlebih, tekanan kurang, kebanjiran dan lain-lain merupakan tanggung jawab kontraktor pekerjaan ini. Dalam hal diperlukan tindakan perawatan maka kontraktor harus menghadirkan teknisi yang menguasai dan terampil pada bidangnya besesrta perlatan yang

(29)

memadai dan setidaknya material yang diperlukan untuk tindakan pertama dalam waktu paling lambat 2 (dua) jam sejak diberitahukan oleh pemberi tugas atau pihak yang ditugaskan untuk itu.

4. Selama masa pemeliharaan , seluruh instalasi yang telah selesai dilaksanakan masih merupakan tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya.

5. Selama masa pemeliharaan , apabila Kontraktor instalasi ini tidak melaksanakan tugas perawatan / perbaikan / penggantian / penyetelan / lain-lain yang diperlukan, maka Pemberi Tugas berhak menyerahkan pekerjaan tersebut kepada pihak lain atas biaya Kontraktor instalasi ini.

6. Selama masa pemeliharaan , Kontraktor instalasi ini harus melatih petugas-petugas yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas sehingga dapat mengenali sistim instalasi dan dapat melaksanakan pemeliharaannya.

7. Setiap kegiatan dalam masa pemeliharaan harus dibuatkan berita acaranya.

1.9 SERAH TERIMA KEDUA

Serah terima kedua atau terakhir kali dapat dilakukan setelah seluruh pekerjaan dalam masa pemeliharaan dilaksanakan dengan baik dengan melampirkan bukti-bukti pelaksanaan pekerjaan yang sah dan dapat diterima oleh Pemberi Tugas.Jika serah terima kedua belum dapat dilaksanakan karena adanya pekaerjaan atau kewajiban kontraktor yang belum terlaksana, maka masa pemeliharaan tetap berlaku sampai dengan dilakukannya serah terima kedua.

1.10 LAPORAN - LAPORAN

1. Laporan Harian dan Mingguan

Kontraktor wajib membuat laporan harian dan laporan mingguan yang memberikan gambaran mengenai:

 Kegiatan fisik

 Catatan dan perintah Pemberi Tugas yang disampaikan secara lisan maupun secara tertulis.

(30)

 Jumlah material masuk/ ditolak

 Jumlah tenaga kerja

 Keadaan cuaca, dan

 Pekerjaan tambah / kurang

Laporan mingguan merupakan ringkasan dari laporan harian dan setelah ditanda tangani oleh Project Manager harus diserahkan kepada Pemberi Tugas/MK untuk diketahui/ disetujui.

2. Laporan Pengetesan

Kontraktor instalasi ini harus menyerahkan kepada Pemberi Tugas/MK laporan tertulis mengenai hal-hal sebagai berikut:

 Hasil pengetesan semua persyaratan operasi instalasi.

 Foto-foto hasil pengetesan termasuk tanggal pengetesan.

 Hasil pengetesan peralatan

 Hasil pengetesan kabel

 dan lain-lainnya.

Semua pengetesan dan pengukuran yang akan dilaksanakan harus disaksikan oleh pihak Pemberi Tugas, MK, disaksikan dan disetujui oleh Konsultan Perencana.

1.11 PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN

Kontraktor instalasi ini harus menempatkan seorang penanggung jawab pelaksanaan yang ahli dan berpengalaman yang harus selalu berada dilapangan, yang bertindak sebagai wakil dari Kontraktor dan mempunyai kemampuan untuk memberikan keputusan teknis dan yang bertanggung jawab penuh dalam menerima segala instruksi yang akan diberikan oleh pihak MK. Penanggung jawab tersebut diatas juga harus berada ditempat pekerjaan pada saat diperlukan/dikehendaki oleh pihak MK.

(31)

1.12 PENAMBAHAN/ PENGURANGAN / PERUBAHAN INSTALASI

1. Pelaksanaan instalasi yang menyimpang dari rencana yang disesuaikan dengan kondisi lapangan, harus mendapat persetujuan tertulis dahulu dari pihak Pemberi Tugas dan MK.

2. Kontraktor instalasi ini harus menyerahkan setiap gambar perubahan yang ada kepada pihak Pemberi Tugas/MK dalam rangkap 3 (tiga).

3. Perubahan material, dan lain-lainnya, harus diajukan oleh Kontraktor kepada MK secara tertulis dan pekerjaan tambah/ kurang/ perubahan yang ada harus disetujui oleh MK secara tertulis.

1.13 IJIN - IJIN

Pengurusan ijin-ijin yang diperlukan untuk pelaksanaan instalasi ini serta seluruh biaya yang diperlukannya menjadi tanggung jawab Kontraktor meliputi :

1. Pengurusan dan biaya yang timbul untuk instalasi bangunan yang dikeluarkan oleh PLN dan Depnaker

2. Pengurusan dan biaya yang timbul untuk High-pot-test peralatan tegangan menengah yang dikeluarkan oleh PLN.

3. Biaya dan pengurusan ijin penangkal petir.

4. Biaya dan pengurusan terminasi kabel TM pada cubicle gardu PLN.

1.14 PEMBOBOKAN, PENGELASAN DAN PENGEBORAN

1. Pembobokan tembok, lantai dinding dan sebagainya yang diperlukan dalam pelaksanaan instalasi ini serta mengembalikannya kekondisi semula, menjadi lingkup pekerjaan instalasi ini.

2. Pembobokan/ pengelasan/ pengeboran hanya dapat dilaksanakan apabila ada persetujuan dari pihak MK secara tertulis.

(32)

1.15 PEMERIKSAAN RUTIN DAN KHUSUS

1. Pemeriksaan rutin harus dilaksanakan oleh Kontraktor instalasi secara periodik dan tidak kurang dari tiap dua minggu.

2. Pemeriksaan khusus harus dilaksanakan oleh Kontraktor instalasi ini, apabila ada permintaan dari pihak Pemberi Tugas dan atau bila ada gangguan dalam instalasi ini.

3. Pemberi Tugas atau pihak lain yang ditugaskan dapat melakukan audit proyek dan untuk itu kontraktor harus memberi ijin dan keleluasaan memberikan informasi dan dokumen, bersedia melakukan pengetesan dan pengukuran termasuk peralatan yang diperlukan, membantu pemeriksaan, dan sebagainya untuk kelancaran proses audit. Kontraktor berkewajiban segera memperbaiki cacat-cacat (defects), penyimpangan-penyimpangan, pengerjaan yang buruk, melakukan penyetelan, penyesuaian-penyesuaian atas temuan audit sesuai lingkup tugas dan ketentuan yang berlaku.

4. Kewajiban kontraktor melakukan test-lab indenpenden terhadap material & produk yang akan digunakan di proyek dengan mengacu state standard code seluruh material & produk.

1.16 RAPAT LAPANGAN

Wakil Kontraktor harus selalu hadir dalam setiap rapat proyek yang diatur oleh Pemberi Tugas dan MK..

2.1 LINGKUP PEKERJAAN

2.1 Umum

Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam spesifikasi ini ataupun yang tertera dalam gambar-gambar, dimana bahan-bahan dan peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan pada spesifikasi ini.Bila ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang dengan spesifikasi yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban

(33)

Kontraktor untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.

2.2 Uraian Lingkup Pekerjaan

Sebagai tertera dalam gambar-gambar rencana, Kontraktor pekerjaan instalasi listrik ini harus melakukan pengadaan dan pemasangan serta menyerahkan dalam keadaan baik dan siap untuk dipergunakan.Garis besar lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1) Pengadaan, pemasangan dan pengujian instalasi PLTS lengkap dengan peralatan bantunya.

2) Pengadaan, pemasangan dan pengujian kabel utama dari PLTS ke Rumah.

3) Pengadaan, pemasangan dan pengujian instalasi penerangan dan instalasi stop kontak dalam rumah

4) Pengadaan, pemasangan dan pengujian sistem pembumian. 5) Pembuatan as built drawing (gambar terpasang).

6) Mendapatkan pengesahan instalasi dari instansi yang berwenang. 7) Mengadakan pelatihan terhadap operator dari pihak pemberi tugas.

2.3 GAMBAR KERJA

Sebelum kontraktor melaksanakan suatu bagian pekerjaan lapangan, harus menyerahkan gambar kerja antara lain sebagai berikut:

 Denah tata ruang dan detail pemasangan dari peralatan utama, perlengkapan dan fixtures.

 Detail denah perkabelan yang terkoordinasi dengan instalasi atau pekerjaan yang lain.

(34)

 Gambar koordinasi instalasi yang terkait dengan instalasi kontraktor lain dalam bentuk gambar tumpang tindih terpadu (composite drawing) pada area-area instalasi bersama, dengan cara berkoordinasi dan bekerja sama dengan kontraktor terkait, sehingga dicapai instalasi yang rapi, benar, dan terkoordinasi secara baik. Pemberi Tugas atau MK berhak menentukan kontraktor yang mengkoordinir penggambaran tersebut.

 Detail lain yang diminta oleh MK / Pemberi Tugas.

2.4 GAMBAR INSTALASI TERPASANG

Setiap tahapan penyelesaian pekerjaan, kontraktor harus memberi tanda sesuai jalur terpasang pada Re-Kalkir gambar tender maupun gambar kerja, atau cara lain yang memadai sehingga pada akhir penyelesaian pemasangan sudah tersedia gambar terpasang yang sesuai dengan keadaan sebenarnya.

3.1. KETENTUAN BAHAN DAN PERALATAN

3.2. Panel Tegangan Rendah

1. Panel tegangan rendah harus mengikuti standard peraturan IEC dan PUIL dan mengikuti standard VDE/DIN.

2. Panel-panel harus dibuat dari plat besi tebal 2 mm dengan rangka besi dan seluruhnya harus dizinchromat dan di duco 2 kali dan harus dipakai cat dengan cat powder coating dengan cat texture, warna dan cat dikonfirmasikan kepihak Interior dan Direksi / Manajemen Konstruksi, dilengkapi dengan double cover dengan tebal plat 2 mm, memakai sepatu kabel dan handslip, kapasitor bank harus menggunakan sistem otomatik (APFR). Pintu dari panel-panel tersebut harus dilengkapi dengan master key.

3. Konstruksi dalam panel-panel serta letak dari komponen-komponen dan sebagainya harus diatur sedemikian rupa, sehingga bila perlu dilaksanakan perbaikan-perbaikan, penyambungan-penyambungan pada komponen-komponen dapat mudah dilaksanakan tanpa mengganggu komponen-komponen lainnya.

(35)

4. Setiap panel harus mempunyai 5 busbar copper terdiri dari 3 busbar phase R-S-T, 1 busbar neutral dan 1 busbar untuk grounding. Besarnya busbar harus diperhitungkan untuk besar arus yang akan mengalir dalam busbar tersebut tanpa menyebabkan suhu yang lebih dari 650C dengan dimensi busbar minimum 1,5 kali dari kemampuan lewat arus (kapasitas incoming breaker). Setiap busbar copper harus diberi warna sesuai peraturan PLN, lapisan yang dipergunakan untuk memberi warna busbar dan saluran harus dari jenis yang tahan terhadap kenaikan suhu yang diperbolehkan. Semua Cu bar harus dilapisi oleh Tin Platting (electro platting).

5. Alat ukur yang dipergunakan adalah jenis semi flush mounting dalam kotak tahan getaran. Ampermeter dan Voltmeter yang digunakan berukuran 96 x 96 mm dengan skala linear dan ketelitian 1% dan bebas dari pengaruh induksi, serta ada sertifikat tera dari LMK / PLN (minimum 1 buah untuk setiap jenis alat ukur). 6. Ukuran dari tiap-tiap unit panel harus disesuaikan dengan keadaan dan keperluan

sesuai dengan yang telah disetujui oleh Direksi / Manajemen Konstruksi lapangan.

7. Unit Box Panel haruslah dibuat sedemikian rupa sehingga mendapat ventilasi udara yang cukup. Pada lubang ventilasi udara harus diberi filter yang konstruksinya diperkuat sehingga didapatkan suatu konstruksi yang baik.

8. Unit Box Panel yang berfungsi untuk MotorControlCenter haruslah dilengkapi dengan force ventilasi.

9. Main switch breaker tipe air break 3 pole atau 4 pole yang telah direkomendasi dari NEMA serta karakteristiknya menurut standard IEC 947-2 dan kemampuan arus hubung singkat alat tersebut tidak kurang dari 50 KA pada tegangan 500 VAC.

10. Unit Box Panel Indoor mempunyai IP rating minimum 31. Panel di daerah umum dilengkapi dengan lockable double door lengkap dengan kaca.

11. Unit Box Panel Outdoor mempunyai IP rating minimum 55, lockable double door lengkap dengan kaca.

(36)

12. Panel harus dilengkapi dengan gambar Single Line Diagram, ukuran A4 atau A3 disesuaikan dengan ukuran gambar sehingga terbaca dengan jelas. Gambar Single Line Diagram harus delaminating dan ditempel dibalik pintu panel.

13. Instalasi kabel menuju panel dilengkapi dengan gland cable.

14. Main circuit breaker harus menggunakan tipe spring charged yang dapat dioperasikan secara manual atau automatic yang dikombinasikan dengan sistem motorized untuk versi fix dan drawout serta dilengkapi pengaman untuk tidak merusak switch breaker pada saat posisi ON / OFF / TRIP.

15. Sistem penutupan atau kontak breaker harus menggunakan toggle action, free type dan dilengkapi dengan indikator mekanikal untuk posisi ON atau OFF serta indikasi charged dan discharged.

16. Jika main circuit breaker dioperasikan secara otomatis maka harus dilengkapi dengan pelepas penutupan (XF) pemutus tegangan jatuh (MN) / pemutus shunt (MX), saklar alarm dan saklar bantu.

17. Kapasitas dari kontak utama harus mampu dibebani dengan beban penuh pada temperatur yang telah direkomendasikan dari pabrik serta waktu pemutusan tidak lebih dari tiga detik.

18. Panel untuk sump pump dilengkapi dengan 1 buah kotak kontak yang diletakkan di dalam panel.

19. Main circuit breaker harus dilengkapi dengan proteksi beban lebih (over current), arus hubung singkat (short circuit), proteksi hubungan pentanahan.

20. Komponen–komponen pengaman yang dapat dipakai adalah:

a. Miniatur Circuit Breaker (MCB)

 Menurut standard IEC 947 - 2  Terdiri dari 1 dan 3 kutub

(37)

 Kurva trip B & C

 Dilengkapi dengan saklar alarm, Auxiliary contact dan pemutus shunt (MX) / pelepas tegangan (MN).

 Jika digunakan untuk melindungi motor listrik maka yang digunakan adalah MMCB (Magnetic Motor Circuit Breaker).

b. Busbar Support

 Sesuai standard IEC 439, VDE 0100-520 dan BS 5486 Bus-bar support terdiri dari unipolar/multi polar.

 Isolasi support harus sesuai dengan ukuran copper (tembaga).

 Kapasitas dari Bus - bar harus sesuai dengan standard Puil dan DIN 43671  Terdiri dari 1,2,3, dan 4 pole

 Spesifikasinya :

- High Dielectric strength - High Mechanical wisthstand

- Tahan terhadap temperatur sesuai dengan rekomendasi c. Isolator Support

Bahan terdiri dari SMC/DMC spesifikasi terdiri dari :  High Dielectric Strenght

 High Mechanical Withstand  High Temperature.

d. Pilot Lamp, Push Button, Selector Switch Sesuai standard IEC 529, IEC 947

(38)

 Jenis pilot lamp yang digunakan adalah tipe transformasi.  Push Button menggunakan tipe flush dengan bahan chromium.

 Selector switch tingkat isolasinya harus 660 V dengan kapasitas thermal 12 A adalah 20 A serta dilengkapi dengan pegangan isolasi ganda.

e. Fuse Dan Fuse Link  Standard BS 88.

 Jenis Fuse yang digunakan adalah HRC class Q sedangkan Fuse Carier sebagai pengaman circuit control menggunakan type catridge & Holder. f. Panel Surya (Sel Surya)

 Maximum power (Pmax) 250 Wp  Type cell monocrystalin

 Voltage at pmax (Vmp) 30.2V  Current at pmax (Imp) 8.28 A  Short circuit current (Isc) 9.18 A  Open circuit voltage (Voc) 36.3V  Number of cells 60 cells/modul  Dimensions 1650 x 992 x 40 (mm)

 Garansi minimal 20 tahun untuk degradasi output lebih kecil 20 % g. Solar Charge Controller

 Rating Tegangan 48 V  Arus Beban 80 A

(39)

 Arus Beban per Array 80 A  I-max 320 A

 Tegangan Baterai 48V  Efisiensi : lebih besar 90 %

 Sistem Proteksi : HVD (High Voltage Disconnect), LVD (Low Voltage Disconnect), Short Sircuit Protection

h. Baterai

 Kapasitas Arus 1000 Ah  Kapasitas Energi 2000 Wh

 Type : Deep Cycle, OpzV Stationary Battery  Tegangan 2 V

 Kemampuan Cycling : Paling Sedikit 1200 Cycle pada 80 % DOD  Teknologi Valve Regulated Lead Acid (VRLA gel)

 Garansi : Paling Sedikit 1 tahun

 Umur teknis minimal 10 tahun pada suhu 200C

 Harus dilengkapi dengan sistem koneksi yang dapat mencegah korosi dan arus hubung singkat (termasuk pada waktu pemasangan).

 Wajib menggunakan produk dalam negeri, yang dibuktikan dengan melampirkan salinan tanda sah capaian tingkat komponen dalam negeri yang diterbitkan oleh kementrian perindustrian.

i. Inverter

(40)

 Kapasitas 5000 W

 Tegangan Input (Vdc) 48 V

 Tegangan Output (Vac) 220-230 V  Frekuensi : 50 Hz

 Output Voltage THD Factor : < 3 %  Efisiensi : >92%

 Sistem Proteksi : DC over/under-voltage, AC over/under voltage, over load, short circuit protection.

 Garansi 3 tahun

 Dilengkapi dengan display, data logger dan tersedia fasilitas remote monitoring system yang terintegrasi.

3.3. Kabel Tegangan Rendah

1) Kabel-kabel yang dipakai harus dapat dipergunakan untuk tegangan minimal 0,6 kV untuk NYY dan NYFGbY sedangkan untuk kabel NYM dengan tegangan minimal 0,5 kV.

2) Pada prinsipnya kabel-kabel daya yang dipergunakan adalah jenis NYFGBY, NYY dan NA2XY (untuk kabel berpenampang lebih besar atau sama dengan 50mm2), sedangkan untuk kabel penerangan dipergunakan kabel NYA, NYM dan NYFGBY.

3) Sebelum dipergunakan, kabel dan peralatan bantu lainnya harus dimintakan persetujuan terlebih dahulu pada MK.

4) Penampang kabel minimum yang dapat dipakai 1,5 mm2.

5) Khusus untuk kabel penerangan dalam unit, dapat digunakan kabel berukuran1,5mm2.

(41)

3.4. Lighting Fixtures

Lampu LED (Down Light)

1) Lighting fixtures harus dilengkapi dengan reflector aluminium, atau sesuai gambar.

2) Lamp holder menggunakan standar E-27. 3) Diameter dari kap lampu minimal lihat gambar. 4) Lampu yang dipakai dari jenis LED 7 Watt

3.5. Kotak - Kontak Dan Saklar

1) Kotak-kontak dan saklar yang akan dipasang pada dinding tembok bata adalah type pemasangan outbow dan tipe floor mounted.

2) Kotak-kontak biasa (inbow) yang dipasang mempunyai rating 3 A dan mengikuti standard VDE.

3) Inbow dus untuk tempat saklar, kotak-kontak dinding dan push button harus dipakai dari jenis bahan PVC. Bila dipasang inbow, maka inbow dus tersebut terbuat dari metal dengan ketebalan 1 mm.

4) Kotak-kontak dinding yang dipasang 30 cm dari permukaan lantai dari ruang-ruang yang basah / lembab harus jenis water tight sedang untuk saklar dipasang 150 cm dari permukaan lantai atau sesuai gambar. Sebelum pemasangan, pihak Kontraktor harus mendapat persetujuan dari Direksi / Managemen Konstruksi.

3.6. Grounding

1) Pada bak control, kawat grounding yang dipergunakan dari terminal grounding sampai ke massive copper adalah kawat tembaga BC 70 mm2. Sedangkan dari peralatan yang akan digrounding sampai ke bak kontrol menggunakan kawat aluminium isolasi XLPE (NA2XY) ukuran 120 mm2 kecuali untuk penangkal petir menggunakan kawat high voltage shielded dengan ukuran dan jenis sesuai dengan rekomendasi dari supplier penangkal petir.

(42)

2) Pada bak kontrol terdapat terminal grounding yang terbuat dari bahan tembaga untuk menghubungkan antara grounding bagian atas dan bagian bawah. Untuk terminasi kabel pada terminal grounding pada bak kontrol, kawat grounding ujungnya diberi cable shoe kemudian dibaut pada terminal grounding tersebut. 3) Untuk grounding dipergunakan kabel BC 70 mm2 dalam Pipa Galvanis diameter

1 inch dan pada ujungnya dipasang Massive Copper Rod dengan diameter minimum 5/8 ” sebagai elektrode pentanahan sepanjang ½ meter. Grounding tersebut ditanam dalam tanah minimal 6 m.

4) Nilai tahanan grounding system adalah sebagai berikut: - Instalasi listrik ≤ 2 minimal kedalaman 6 meter

- Instalasi penyalur petir ≤ 5 minimal kedalaman 6 meter - Instalasi elektronik ≤ 1 minimal kedalaman 6 meter

Nilai hambatan diukur setelah tidak turun hujan selama 3 hari berturut - turut. 5) Lihat gambar detail untuk bak kontrol dan terminal grounding.

6) Grounding untuk peralatan elektronik, grounding lift dan grounding elektrikal masing – masing dipisah antara satu dengan yang lain, dengan metoda grounding yang sama.

7) Lingkup pekerjaan grounding untuk kontraktor elektrikal adalah:

1. Instalasi grounding peralatan elektrikal (trafo,PDTM, PDTR, penyalur petir) sampai ke bak kontrol grounding masing – masing peralatan.

2. Semua instalasi grounding pada bak kontrol yang belum dikerjakan pada pekerjaan SAP 1 seperti terlihat pada gambar.

(43)

4.1 Panel-panel

1) Panel-panel harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya dan harus rata (horisontal).

2) Setiap kabel yang masuk / keluar dari panel harus dilengkapi dengan gland, dan diberi lapisan seal dari karet untuk menutupi bagian bekas lubang yang permukaannya tajam atau penutup yang rapat tanpa adanya permukaan yang tajam.

3) Untuk panel-panel yang dipasang diluar ruangan (Outdoor Panel) type Free Standing diberi kaki dengan jarak minimal 50 cm dengan permukaan tanah dilengkapi dengan pondasi cor.

4) Semua panel harus ditanahkan.

4.2 Kabel-Kabel

1) Semua kabel di kedua ujungnya harus diberi tanda dengan kabel mark yang jelas dan tidak mudah lepas untuk mengindentifikasikan arah beban.

2) Setiap kabel daya pada ujungnya harus diberi isolasi berwarna untuk mengindentifikasikan phasanya sesuai dengan PUIL 2000.

-Phasa R = Merah -Phase S = Kuning -Phase T = Hitam -Netral = Biru

-Grounding = Hijau - Kuning

3) Kabel daya yang dipasang di shaft harus dipasang pada tangga kabel, diklem dan disusun yang rapi.

(44)

4) Setiap tarikan kabel tidak diperkenankan adanya sambungan, kecuali pada kabel penerangan, dimana terminasi sambungan dilakukan pada termination / junction box.

5) Untuk kabel dengan diameter 16 mm2 atau lebih harus dilengkapi dengan sepatu kabel untuk terminasinya. Material sepatu kabel harus sesuai dengan material konduktor kabel, jika menggunakan kabel aluminium dan busbar tembaga maka sepatu kabel harus menggunakan tipe bimetal (Al-Cu lug).

6) Pemasangan sepatu kabel yang berukuran 70 mm2 atau lebih harus mempergunakan alat pres hidraulis yang kemudian disolder dengan timah pateri. 7) Semua kabel yang ditanam harus pada kedalaman 100 cm minimum, dimana

sebelum kabel ditanam ditempatkan lapisan pasir setebal 15 cm dan diatasnya diamankan dengan batu bata sebagai pelindungnya. Lebar galian minimum adalah 40 cm yang disesuaikan dengan jumlah kabel.

8) Sudut pembelokan (Bending Radius) kabel Feeder harus mengikuti ketentuan yang disyaratkan oleh pabrik untuk masing-masing diameter kabel.

9) Untuk kabel serabut, terminasi ujung kabel tersebut harus menggunakan handslip. 10) Semua kabel yang berada didalam trench kabel harus diletakkan / disusun dalam kabel ladder (Fabricated, hot deep galvanized) kabel ladder harus disupport setiap jarak 100 cm.

11) Untuk kabel feeder yang dipasang didalam trench harus mempergunakan kabel ladder.

12) Pada route kabel setiap 25 m dan disetiap belokan harus ada tanda arah jalannya kabel dan dilengkapi dengan Cable Mark.

13) Kabel yang ditanam dan menyeberangi selokan atau jalan instalasi lainnya harus ditanam lebih dalam dari 60 cm dan diberikan pelindung pipa galvanis medium dengan diameter minimum 2-1/2 kali penampang kabel.

14) Semua kabel yang dipasang diatas langit-langit harus diletakkan pada suatu trunking kabel.

(45)

15) Kabel penerangan yang terletak diatas rak kabel tidak menggunakan PVC High Impact. Setiap kabel yang keluar dari Cable Tray harus dipasang dalam PVC High Impact. Pada bagian pertemuan antara Conduit dan Cable Tray dipasang Joining Coupling.

16) Semua kabel yang akan dipasang menembus dinding atau beton harus dibuatkan sleeve dari pipa galvanis medium dengan diameter minimum 2-1/2 kali penampang kabel.

17) Penyambungan kabel untuk penerangan dan kotak – kontak harus didalam kotak terminal yang terbuat dari bahan yang sama dengan bahan konduitnya dan dilengkapi dengan skrup untuk tutupnya dimana tebal kotak terminal tersebut minimum 4 cm.

18) Setiap pemasangan kabel daya harus diberikan cadangan kurang lebih 1m disetiap ujungnya.

19) Penyusunan konduit diatas trunking kabel harus rapi dan tidak saling menyilang. 20) Penyambungan kabel untuk penerangan dan kotak - kontak harus didalam kotak

penyambungan dan memakai alat penyambungan berupa las – dop.

21) Semua kabel yang menuju / keluar dari panel - panel type outdoor harus di dalam pipa Sleeve GIP Medium / PVC Conduit diameter 2-1/2 x diameter kabel.

22) Kabel yang keluar dari trench yang menembus permukaan tanah, yang menuju kabel ladder harus dilengkapi / dilindungi dengan GIP Medium sepanjang lebih kurang 1 m dengan ketentuan ± 50 cm bagian yang berada di bawah permukaan tanah sampai 50 cm dari permukaan tanah.

23) Semua kabel instalasi motor yang berada di daerah utility harus dipasang dalam metal conduit, yang penampangnya minimum 1,5 penampang kabel dan lengkap dengan Flexible Metal Conduit.

24) Setiap kabel dalam PVC High Impact Conduit yang dipasang pada Slab harus diberi Saddle Spacers setiap jarak 150 cm.

(46)

25) Untuk instalasi kabel yang menggunakan PVC Hight Impact Conduit yang melintas diatas balok, harus menembus balok dengan jarak minimum 10 Cm dari atas balok yang ditembus, atau melintas dibawah balok.

4.3 Kotak-kontak dan Saklar

1) Kotak-kontak dan saklar yang akan dipakai adalah type pemukaan (outbow) pada dalam dinding dan dipasang pada ketinggian 300 mm dari permukaan lantai untuk kotak-kontak dan 1500 mm untuk saklar atau sesuai gambar detil. Bila tidak terdapat gambar detail, pihak Kontraktor harus meminta persetujuan dari pihak Manajemen konstruksi (MK) dan pihak Interior atau Arsitektur.

2) Kotak kontak dan saklar yang dipasang pada tempat yang lembab / tipe outdoor harus menggunakan tipe weatherproof, Industrial Type IP 56.

4.4 Lampu Penerangan

1) Pemasangan lampu penerangan harus disesuaikan dengan rencana plafond dari Arsitek dan disetujui oleh Direksi / Manajemen Konstruksi.

2) Lampu tidak diperkenankan memberikan beban kepada rangka plafond yang terbuat dari bahan aluminium.

3) Tiang lampu penerangan untuk diluar bangunan harus dipasang tegak lurus. 4) Semua lampu penerangan type Flouresscent harus digantung dengan

menggunakan adjustable hanger.

5) Flexible Conduit digunakan antara terminasi titik lampu dengan PVC High Impact Conduit.

4.5 Grounding

(47)

2) Elektrode grounding harus ditanam sedalam minimum 6 m dan mencapai permukaan air tanah.

3) Tahanan grounding maximum adalah sebagai berikut : - Instalasi listrik ≤ 2 minimal kedalaman 6 meter

- Instalasi penyalur petir ≤ 5 minimal kedalaman 6 meter - Instalasi elektronik ≤ 1 minimal kedalaman 6 meter

4) Jarak minimum dari elektrode grounding adalah 10 m dan disesuaikan dengan sifat tanahnya.

5) Metode pemasangan grounding adalah dengan terlebih dahulu mengebor sedalam + 6 meter kemudian baru dipasang grounding.

5.1. PENGUJIAN 5.2. U m u m

Sebelum semua peralatan utama dari sistim dipasang harus diadakan pengujian secara individual parsial (Partial Test). Peralatan tersebut baru dapat dipasang setelah dilengkapi dengan sertifikat pengujian yang baik dari pabrik yang bersangkutan dan LMK / PLN serta instansi lain yang berwenang untuk itu. Setelah peralatan tersebut dipasang, harus diadakan pengujian secara menyeluruh dari sistim, untuk menjamin bahwa sistem berfungsi dengan baik. Semua biaya untuk mendapatkan sertifikat lulus pengujian dan peralatan untuk pengujian yang perlu disediakan oleh Kontraktor menjadi tanggung jawab Kontraktor sendiri.

5.3. Peralatan dan Bahan

Peralatan dan Bahan Instalasi Listrik yang harus diuji.

(48)

Sebelum dilakukan pengujian pada sistem pembangkit listrik tenaga surya kapasitas 50Wp, yang harus diutamakan adalah kelengkapan instalasi. Apakah telah terpasang dengan benar dan rapih agar dapat dilakukan pengujian dan menghasilkan data yang akurat. Parameter yang diobservasi meliputi pengukuran besaran secara berkala antara pukul 08:00 – 17:00 WIB dan setiap satu jam sekali dilihat pada alat ukur yang digunakan pada pengujian dan mencatatnya, untuk mendapatkan nilai atau hasilhasil yang mendekati sebenarnya. Penggunaan alat ukur perlu diperhatikan dari jenis dan kegunaannyaseperti yang digunakan pada pengujian sistem pembangkit listrik tenaga surya kapasitas 250Wp, alat ukur yang digunakan berupa Amperemeter digital yang berfungsi untuk mengukur arus dan Voltmeter analog yang berfungsi untuk mengukur tegangan. Ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan pada pengujian sistem pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 250Wp :

1) Memeriksa dan mengamati ketelitian dan kecermatan alat ukur yang digunakan pada pengujian.

2) Untuk mengetahui data-data yang akurat dari hasil pengujian digunakan alat ukur berupa. Voltmeter analog 48 V, alat ini digunakan untuk mengetahui tegangan DC yang keluar dari panel surya dan untuk mengetahui arus AC yang keluar dari panel surya, maka alat ukur yang digunakan adalah Amperemeter digital 1000Ah.

3) Mencatan data-data hasil pengukuran dari alat ukur yang digunakan dalam pengujian, alat ukur yang digunakan berupa Voltmeter analog 48V dan Amperemeter digital 1000Ah.

4) Selama pengujian dilakukan, keadaan cuaca harus benar-benar diperhatikan karena keadaan cuaca sangat berpengaruh pada perfomansi atau unjuk kerja pada panel surya.

5) Setelah data-data dari hasil pengujian terkumpul, langkah selanjutnya adalah pembuatan tabel dan grafik hubungan antara arus terhadap waktu dan hubungan antara tegangan terhadap waktu.

5.2.2. Panel-panel Tegangan Rendah

Panel - panel tersebut harus dilengkapi dengan sertifikat lulus pengujian dari pembuat panel yang menjamin bahwa setiap peralatan dalam panel tersebut

(49)

berfungsi baik dan bekerja sempurna dalam keadaan operasional maupun gangguan berupa undervoltage, over current, overthermis, short circuit dan lain - lain serta megger antara fasa, fasa netral, fasa nol.

5.2.3. Kabel-kabel Tegangan Rendah.

Untuk kabel tegangan rendah sertifikat lulus pengujian harus dari PLN yang terutama menjamin bahan isolasi kabel baik serta tidak melanggar ketentuan-ketentuan PLN tentang isolasi kabel tegangan rendah, pengujian dengan megger tetap harus dilaksanakan, dengan nilai tahan isolasi minimum 50 mega Ohm.

5.2.4. Lighting Fixtures

Setiap lighting fixtures yang menggunakan Ballast dan kapasitor harus dilakukan pengujian / pengukuran faktor daya. Dalam hal ini faktor daya yang diperbolehkan minimal 0,85.

5.2.5. Pentanahan / Grounding

Semua grounding dari sistem harus dilakukan pengukuran tahanan dengan ketentuan nilai tahanan sebagai berikut :

- Instalasi listrik ≤ 5 minimal kedalaman 6 meter

Dan dilakukan pada keadaan cuaca tidak turun hujan selama minimal 3 hari berturut-turut.

6.1. P R O D U K

6.1 Umum

Bahan dan peralatan harus memenuhi spesifikasi. Kontraktor harus mengajukan salah satu merk yang tercantum dalam spesifikasi teknis dan akan mengikat dalam pelaksanaan. Kontraktor baru bisa mengganti bila ada persetujuan resmi dan tertulis dari Pemberi Tugas. Produk bahan dan peralatan pada dasarnya adalah seperti tercantum dalam outline specification

NO URAIAN STANDARD

(50)

ELEKTRIKAL A Panel & Instalasi

1 Panel Maker TR IEC 60439 Simetri, Panelindo, Inti Muara, Sinar Tekindo Mandiri

2 Panel Surya SNI, SPLN Sky Tech. , setara

Type cell monocrystalin

3 Baterai Charger Regulator SNI, SPLN View Star, setara

Type PWM

4 Baterai IEC,ISO3746 Rocket, setara

Type Calsium MF

5 Inverter SNI, SPLN Sente, Iwell, Belt, Setara

Type Pure sine wave

6 Komponen Panel SPLN,LMK,IEC Scheneider, ABB, GE, LG, Hager,

Type ACB, MCCB, MCB, LBS

7 Meter-meter IEC Telemecanique, GAE

8 Kabel Daya SNI,SPLN,IEC Supreme, Kabelindo,

Kabelmetal,

Type NYYHY, NYMHY, NYY,

NYA, NYM

9 Kabel Marking BS 729, ASTM

A123, JIS CABS, Legrand, 3M

10 PVC Conduit BSEN 50086, BS

4607 & IEC 433 Clipsal, EGA, Ginde

Type High Impact, Fire Retardant

11 Armature Lampu

CIE 43 & 51 Clipsal, Broco

12 Lampu LED Marcs,Lion way, Comfolite,

Powermark, Setara 13 Saklar & Stop kontak 1 phase BS EN 60669-1 Clipsal, MK, ABB, National,

Broco Premium, Berker 14 Komponen MCB box IEC,SPLN,LMK ABB, Hager, MG,Clipsal 15 Fitting E27 BS EN 60669-1 National,Clipsal,MK

tipe plastik

16 Pentanahan Lokal

Bak kontrol,copper masive

3.2 KONSEP RAB (RANCANGAN ANGGARAN BIAYA) 3.3 KONSEP GAMBAR TENDER

Gambar

Tabel Monitoring dan Koordinasi dalam Pelaksanaan Pekerjaan N
Gambar 3.1 Modul Sel surya blog.solardaya.com
Gambar 3.2 Baterai www.panelsurya.com
Gambar 3.3 Battery Charger Regulator www.panelsurya.com
+5

Referensi

Dokumen terkait

Energi surya melalui konversi di – manfaatkan menjadi energi listrik, yang diperoleh dengan sistem fotovoltaik ( Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Pembangkit Listrik Tenaga

Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga angin/bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga pikohidro (PLTPH) merupakan pengembangan dari

Kapasitas Terpasang Sewa Pembangkit Tenaga Listrik PLN Menurut Jenis Pembangkit Per Wilayah 2015 PLN’s Installed Capacity Rented By Type Of Power Plant And By Region 2015

Energi terbaharukan yang diusulkan untuk mengurangi biaya produksi adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas panel surya 320Wp.. Panel surya tersebut dapat

Energi surya melalui konversi di – manfaatkan menjadi energi listrik, yang diperoleh dengan sistem fotovoltaik ( Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Pembangkit Listrik Tenaga

Kapasitas Terpasang Sewa Pembangkit Tenaga Listrik PLN Menurut Jenis Pembangkit Per Wilayah 2017 PLN’s Installed Capacity Rented By Type Of Power Plant And By Region 2017

Pembangkit listrik yang memanfaatkan energi surya atau lebih umum dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mempunyai beberapa keuntungan yaitu: Sumber energi

Desain Media Pembelajaran Pembangkit Listrik Tenaga Surya Uji coba desian dan produk penelitian pengembangan media pembelajaran Pembangkit Listrik Tenaga Surya Pada Mata Kuliah