Bab-III-Jurnal-CA-Serviks.pdf

29 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat penyakit kanker di negara berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah bila program skrining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. Diperkirakan setiap tahun dijumpai 500.000 penderita baru di seluruh dunia dan umumnya terjadi di negara berkembang (Aziz et al., 2006).

Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan prilaku sel epitel serviks. Insidensi dan mortalitas kanker serviks di dunia menempati urutan kedua setelah kanker payudara. Sementara di negara berkembang masih menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian akibat kanker pada wanita usia reproduktif. Hampir 80% kasus berada di negara berkembang (Aziz et al., 2006).

Di Indonesia, penyakit kanker menduduki peringkat ketiga sebagai penyebab kematian, 64% penderitanya adalah perempuan yaitu menderita kanker leher rahim dan kanker payudara. Riset kesehatan dasar tahun 2007 menunjukan prevalensi kanker di Indonesia adalah 4,3 per 1000 penduduk. Setiap tahun ditemukan kurang lebih 500.000 kasus baru kanker serviks dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang. Data yang berhasil dihimpun oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukan bahwa angka kejadian kanker di Indonesia sampai saat ini diperkirakan setiap tahun muncul sekitar 200.000 kasus baru dimana jenis terbesar kanker tersebut adalah kanker serviks (Ginting, 2012)

(2)

2 B. Tujuan

Tujuan penyusuan jurnal reading ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui mekanisme yang mendasari infeksi HPV terhadap terjadinya kanker serviks.

2. Mengetahui tentang kanker serviks secara umum. 3. mengetahui pencegahan kanker serviks secara dini.

(3)

3 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kanker Serviks 1. Definisi

Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah keganasan yang terjadi pada serviks (leher rahim) yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama atau vagina (Depkes RI, 2006).

2. Etiologi

Peristiwa kanker serviks diawali dari sel serviks normal yang terinfeksi oleh HPV (Human papillomavirus). Infeksi HPV umumnya terjadi setelah wanita melakukan hubungan seksual. Sebagian infeksi HPV bersifat hilang timbul, sehingga tidak terdeteksi dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun pasca infeksi. Hanya sebagian kecil saja dari infeksi tersebut yang menetap dalam jangka lama, sehingga menimbulkan kerusakan lapisan lendir menjadi prakanker (Sinta et al., 2010).

Human papillomavirus, sampai saat ini telah diketahui memiliki lebih dari 100 tipe, dimana sebagian besar diantaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Dari 100 tipe HPV tersebut, hanya 30 diantaranya yang beresiko kanker serviks. Adapun tipe yang beresiko adalah HPV 16, 18, 31, dan 45 yang sering ditemukan pada kanker maupun lesi prakanker serviks, yaitu menimbulkan kerusakan sel lendir luar menuju keganasan. Sementara, tipe yang beresiko sedang yaitu HPV tipe 33, 35, 39, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68, dan yang beresiko rendah adalah HPV tipe 6, 11, 26, 42, 43, 44, 53, 54, 55, dan 56. Dari tipe-tipe ini, HPV tipe 16 dan 18 merupakan penyebab tersering kanker serviks yang terjadi di seluruh dunia. HPV tipe 16 mendominasikan infeksi (50-60%) pada penderita kanker serviks disusul dengan tipe 18 (10-15%) (Sinta et al., 2010).

(4)

4 Faktor lain yang berhubungan dengan kanker serviks adalah aktivitas seksual terlalu muda (<16 tahun), jumlah pasangan seksual lebih dari 1 orang, dan adanya riwayat infeksi berpapil. Karena hubungannya erat dengan infeksi HPV, wanita yang mendapat atau menggunakan penekan kekebalan (immunosuppressive) dan penderita HIV berisiko menderita kanker serviks (Aziz et al., 2006).

3. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala dini pada kanker serviks tidak spesifik seperti adanya sekret vagina yang agak lebih banyak dan kadang-kadang dengan bercak perdarahan. Umumnya tanda ini sangat minimal dan sering diabaikan oleh penderita. Tanda yang lebih klasik adalah sebagai berikut :

a. Perdarahan bercak yang berulang baik perdarahan setelah bersetubuh atau membersihkan vagina. Perdarahan menjadi lebih sering, lebih banyak dan berlangsung lebih lama.

b. Sekret vagina yang berbau terutama pada masa nekrosis lanjut. Nekrosis ini terjadi karena pertumbuhan tumor yang cepat tidak diimbangi dengan pertumbuhan pembuluh darah (angiogenesis) agar mendapat aliran darah yang cukup. Nekrosis ini menimbulkan bau yang tidak sedap dan reaksi peradangan non spesifik.

c. Pada stadium lanjut ketika tumor sudah menyebar ke luar dari serviks dan melibatkan jaringan di rongga pelvis (Aziz et al., 2006).

4. Faktor Resiko

Menurut Diananda (2007), faktor yang mempengaruhi kanker serviks yaitu:

1) Usia > 35 tahun

Pada usia tersebut mempunyai risiko tinggi terhadap kanker leher rahim. Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker laher rahim. Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan

(5)

5 bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia.

2) Usia pertama kali menikah.

Menikah pada usia kurang 20 tahun dianggap terlalu muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena kanker leher rahim 10-12 kali lebih besar daripada mereka yang menikah pada usia > 20 tahun. Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari sudah menstruasi atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa yang terdapat di sel-selaput kulit bagian dalam rongga tubuh. Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang menjalin hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan di bawah usia 16 tahun. Hal ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang. Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker selalu berubah setiap saat yaitu mati dan tumbuh lagi. Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia di atas 20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap perubahan.

3) Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti pasangan.

Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin, salah satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di permukaan mukosa hingga membelah menjadi lebih banyak sehingga tidak terkendali sehingga menjadi kanker.

(6)

6 4) Penggunaan antiseptik.

Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-obatan antiseptik maupun deodoran akan mengakibatkan iritasi di serviks yang merangsang terjadinya kanker.

5) Wanita yang merokok.

Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping meropakan ko-karsinogen infeksi virus. Nikotin, mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru maupun serviks. Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah nikotin yang dikonsumsi yang bisa menyebabkan kanker leher rahim.

6) Riwayat penyakit kelamin seperti kutil genitalia.

Wanita yang terkena penyakit akibat hubungan seksual berisiko terkena virus HPV, karena virus HPV diduga sebagai penyebab utama terjadinya kanker leher rahim sehingga wanita yang mempunyai riwayat penyakit kelamin berisiko terkena kanker leher rahim.

7) Paritas (jumlah kelahiran).

Semakin tinggi risiko pada wanita dengan banyak anak, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu pendek. Dari berbagai literatur yang ada, seorang perempuan yang sering melahirkan (banyak anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker leher rahim. Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher rahim.

(7)

7 5. Diagnosis

a. Sitologi

Pemeriksaan sitologi dikenal dengan pemeriksaan pap smear. Sitologi bermanfaat untuk mendeteksi sel-sel serviks yang tidak menunjukan adanya gejala dengan tingkat ketelitiannya mencapai 90%.

b. Kolposkopi

Kolposkopi merupakan pemeriksaan serviks dengan menggunakan alat kolposkopi yaitu alat yang disamakan dengan mikroskop bertenaga rendah pembesaran antara 6-40 kali dan terdapat sumber cahaya di dalamnya. Kolposkopi dapat meningkatkan ketepatan sitologi menjadi 95%. Alat ini pertama kali diperkenalkan di Jerman pada tahun 1925 oleh Hanz Hinselmann untuk memperbesar gambaran permukaan porsio sehingga pembuluh darah lebih jelas dilihat. Pada alat ini juga dilengkapi dengan filter hijau untuk memberikan kontras yang baik pada pembuluh darah dan jaringan. Pemeriksaan Kolposkopi dilakukan untuk konfirmasi apabila hasil test pap smear abnormal dan juga sebagai penuntun biopsi pada lesi serviks yang dicurigai.

c. Biopsi

Biopsi dilakukan di daerah yang abnormal jika sambungan skuamosa kolumnar yang terlihat seluruhnya dengan menggunakan kolposkopi. Biopsi harus dilakukan dengan tepat dan alat biopsi harus tajam dan diawetkan dalam larutan formalin 10% sehingga tidak merusak epitel.

d. Kolonisasi

Kolonisasi serviks adalah pengeluarak sebagian jaringan serviks sehingga bagian yang dikeluarkan berbentuk kerucut. Kolonisasi dilakukan apabila proses dicurigai berada di endoservik, lesi tidak tampak seluruhnya dengan permukaan kolposkopi, dan ada kesenjangan antara hasil sitologik dengan histopatologik (Fatimah, 2009).

(8)

8 6. Patofisiologi

Virus HPV menginfeksi membrana basalis pada daerah metaplasia dan zona transformasi serviks. Setelah menginfeksi sel epitel serviks sebagai upaya berkembang biak virus ini akan meninggalkan sekuensi genomnya pada sel inang. Genom HPV berupa episomal (bentuk lingkaran dan tidak terintegrasi dengan DNA inang) dijumpai pada CIN dan berintegrasi dengan DNA inang pada kanker invasif. Pada percobaan in vitro HPV terbukti mampu mengubah sel menjadi immortal (Aziz et al., 2006).

Tipe HPV paling berisiko adalah tipe 16 dan tipe 18 yang mempunyai peranan yang penting melalui sekuensi gen E6 dan E7 dengan

mengode pembentukan protein-protein penting dalam replikasi virus. Onkoprotein dari E6 akan mengikat dan menjadikan gen penekan tumor

(p53) menjadi tidak aktif, sedangkan onkoprotein E7 akan berikatan dan menjadikan produk gen retinoblastoma (pRb) menjadi tidak aktif. P53 dan pRb adalah protein penekan tumor yang berperan menghambat kelangsungan siklus sel. Dengan tidak aktifnya p53 dan pRb, sel yang telah bermutasi akibat infeksi HPV dapat meneruskan siklus sel tanpa harus memperbaiki kelainan DNA-nya. Ikatan E6 dan E7 serta adanya

mutasi DNA merupakan dasar utama terjadinya kanker (Aziz et al., 2006).

7. Klasifikasi Kanker Serviks

Klasifikasi kanker dapat di bagi menjadi tiga, yaitu klasifikasi berdasarkan histopatologi, klasifikasi berdasarkan terminologi dari sitologi serviks, dan klasifikasi berdasarkan stadium stadium klinis menurut FIGO (The International Federation of Gynekology and Obstetrics) :

a. Klasifikasi berdasarkan histopatologi :

1) CIN 1 (Cervical Intraepithelial Neoplasia), perubahan sel-sel abnormal lebih kurang setengahnya.

2) CIN 2, perubahan sel-sel abnormal lebih kurang tiga perempatnya. 3) CIN 3, perubahan sel-sel abnormal hampir seluruh sel.

(9)

9 b. Klasifikasi berdasarkan terminologi dari sitologi serviks :

1) ASCUS (Atypical Squamous Cell Changes of Undetermined Significance)

2) LSIL (Low-grade Squamous Intraepithelial Lesion) 3) HSIL (High Grade Squamous Intraepithelial Lesion) c. Klasifikasi berdasarkan stadium klinis :

1) Stadium 0, karsinoma in situ atau infeksi awal HPV. 2) Stadium I, karsinoma terbatas di serviks

3) Stadium Ia, invasi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara mikroskopik. Lesi yang dilihat secara langsung walau dengan invasi yang baik sangat superfisial

4) Stadium Ia1, invasi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3

mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm.

5) Stadium Ia2, invasi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3 mm

tetapi kurang dari 5 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm.

6) Stadium Ib, lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopis lebih dari stadium Ia.

7) Stadium Ib1, besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4 cm.

8) Stadium Ib2, besar lesi secara klinis lebih dari 4 cm.

9) Stadium II, telah melibatkan vagina namun belum sampai ke 1/3 bawah atau infiltrasi ke parametrium belum mencapai dinding panggul.

10) Stadium IIa, telah melibatkan vagina tapi belum melibatkan parametrium.

11) Stadium IIb, infiltrasi ke parametrium tetapi belum mencapai dinding panggul.

12) Stadium III, telah melibatkan 1/3 bawah vagina atau adanya perluasan sampai ke dinding panggul.

13) Stadium IIIa, keterlibatan 1/3 bawah vagina dan infiltrasi parametrium belum mencapai dinding panggul.

14) Stadium IIIb, perluasan sampai dinding panggul atau adanya hidroneprosis atau gangguan fungsi ginjal

(10)

10 15) Stadium IV, perluasan ke organ reproduktif.

16) Stadium IVa, keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa rektum.

17) Stadiun IVb, metastase jauh atau telah keluar dari rongga panggul (Aziz et al., 2006).

8. Penatalaksanaan

Setelah diagnosis kanker serviks ditegakan harus ditentukan terapi apa yang tepat untuk setiap kasus. Secara umum ada beberapa terapi yang dapat diberikan bergantung pada usia dan keadaan umum penderita, luasnya penyebaran, dan komplikasi lain yang menyertai. Pada umumnya stadium lanjut (Stadium IIb, III dan IV) dipilih pengobatan radiasi yang diberikan secara intrakaviter dan eksternal sedangkan stadium awal dapat diobati melalui pembedahan dan radiasi.

a. Mikroinvasi, stadium 1a1

Kasus-kasus stadium sangat dini ini biasanya dijumpai di negara maju dimana program skrining sudah menjadi hal rutin. Diagnosis ditetapkan dengan pemeriksaan histopatologi jaringan konisasi. Society of Gynecologic Oncologist menggolongkan lesi dengan kedalaman invasi stroma 3 mm atau kurang tanpa adanya invasi pembuluh darah atau limfe sebagai stadium 1a1. Stadium 1a1 tanpa

invasi pembuluh darah dan limfe kemungkinan penyebaran ke kelenjar getah bening regionalnya tidak lebih dari 1%. Hal ini dapat dilakukan tindakan konisasi serviks asalkan pada pemeriksaan histopatologinya tidak dijumpai sel tumor pada tepi sayatan konisasi. Tingkat kesembuhan pada stadium ini dapat diharapkan hingga 100% (Aziz et al., 2006).

b. Stadium 1a2

Kasus dengan invasi stroma lebih dari 3 mm tetapi kurang dari 5 mm kemungkinan invasi pembuluh darah atau limfe sekitar 7%. Kasus pada stadium ini harus dilakukan histerektomi radikal dengan limfadenektomi kelenjar getah bening pelvis atau radiasi bila ada kontra

(11)

11 indikasi tindakan operasi. Untuk mengurangi komplikasi operasi, tindakan pembedahan cenderung kurang radikal karena kemungkinan penyebaran ke parametrium sangat kecil. Bagi penderita yang masih menginginkan kehamilan dapat dilakukan trakhelektomi (Aziz et al., 2006).

c. Stadium Ib

Stadium Ib1 (Ukuran lesi < 4 cm) pengobatannya adalah

histerektomi radikal dengan limfadenektomi kelenjar getah bening pelvis dengan atau tanpa kelenjar getah bening paraaorta memberikan hasil yang efektif. Hasil yang sama efektifnya didapatkan bila diberikan terapi radiasi. Walaupun kedua modalitas terapi ini memberikan tingkat kelangsungan hidup yang sama, pada penderita usia muda operasi radikal lebih disukai karena masih dapat mempertahankan fungsi ovarium. Bagi penderita dengan ukuran lesi <2 cm dapat dilakukan operasi trakhelektomi radikal sehingga masih dapat mengalami kehamilan. Disamping dapat mempertahankan fungsi hormonal, keunggulan lain terapi operatif tidak terjadi stenosis vagina akibat radiasi (Aziz et al., 2006).

Stadium Ib2 (Ukuran lesi > 4 cm) atau disebut juga kanker

serviks bentuk barel karena ukuran yang besar. Kemungkinan penyebaran ke kelenjar getah bening regional sekitar 20-25%. Dengan bentuk yang besar ini secara anatomis bila diberikan terapi radiasi akan memberikan bagian tengah tumor yang lebih radioresisten karena bagian tengah ini lebih hipoksik. Setelah radiasi selesai diberikan ada kecenderungan terjadi kekambuhan sentral (Aziz et al., 2006).

d. Stadium IIa

Jenis terapinya sangat individual bergantung dengan perluasan tumor ke vagina. Keterlibatan vagina yang minimal dapat dilakukan histerektomi radikal, limfadenektomi pelvis dan vaginektomi bagian atas. Terapi yang optimal pada kebanyakan stadium IIa adalah kombinasi radiasi eksternal dan radiasi intrakaviter. Operasi radikal dengan pengangkatan kelenjar getah bening pelvis dan paraaorta serta pengangkatan vagina

(12)

12 bagian atas dapat memberikan hasil yang optimal asalkan tepi sayatan bebas dari invasi sel tumor (Aziz et al., 2006).

e. Stadium IIb, III dan IVa

Pada kasus stadium lanjut ini tidak mungkin lagi dilakukan tindakan operatif karena tumor telah menyebar jauh ke luar dari serviks. Pengobatan pada stadium ini lebih cenderung ke radiasi. Luas lapangan radiasi bergantung pada besar tumor serta jauhnya keterlibatan vagina. Bila hasil pemeriksaan dicurigai menyebar sampai ke kelenjar getah bening paraaorta, radiasi harus diperluas sampai daerah ini. Khusus stadium IVa dengan penyebaran sampai ke mukosa kandung kemih lebih disukai operasi eksenterasi dari pada radiasi tetapi eksenterasi juga menjadi pilihan terapi kuratif atau paliatif pada kasus persisten sentral setelah mendapatkan kemoradiasi ataupun bila ada komplikasi fistula rekto vagina atau vesiko-vaginal (Aziz et al., 2006).

f. Stadium IVb

Kasus stadium terminal ini prognosisnya sangat jelek, jarang bertahan hidup sampai setahun semenjak didiagnosis. Penderita stadium IVb bila keadaan umum memungkinkan dapat memberikan kemoradiasi namun hanya bersifat paliatif (Aziz et al., 2006).

9. Prognosis

Prognosis kanker serviks sangat bergantung pada seberapa dini kasus ini terdiagnosis dan dilakukan terapi yang adekuat. Terapi yang tidak adekuat berupa tindakan pembedahan maupun radiasi yang tidak sesuai dengan jadwal akan mengurangi tingkat keberhasilan dari terapi (Aziz et al., 2006).

(13)

13 BAB III

PEMBAHASAN

Human Papillomavirus

HPV adalah jenis virus yang cukup lazim. Jenis yang berbeda dapat menyebabkan tumor atau pertumbuhan sel yang tidak normal (displasia) dalam atau di sekitar leher rahim atau dubur yang dapat menyebabkan kanker leher rahim atau dubur. Tumor-tumor ini pada umumnya tumbuh di permukaan kulit yang lembab dan di daerah sekitar alat kelamin sehingga disebut tumor kulit dan tumor kelamin. Infeksi HPV pada alat kelamin dapat disebarkan melalui hubungan seks, sedangkan penularan tumor kulit pada tangan atau kaki dapat terjadi tanpa hubungan seks (penularannya dapat melalui sentuhan atau penggunaan barang secara bersama).

Untuk mencegah penyebarannya dapat dilakukan dilakukan tes Pap untuk mendeteksi pertumbuhan tidak normal dari sel pada leher rahim sejak awal atau pun dengan melakukan sekret vagina. Tes ini dapat memeriksa dubur laki-laki dan perempuan. Walaupun tes Pap tampaknya merupakan cara terbaik untuk menemukan kanker leher rahim secara dini, pemeriksaan fisik dengan hati-hati mungkin merupakan cara terbaik untuk menemukan kanker dubur. Sedangkan untuk mencegah penularannya, sebaiknya menjaga kebersihan diri dan jangan melakukan seks dengan lebih dari satu orang. Tanda infeksi HPV (tumor atau displisia) sebaiknya diobati sesegera mungkin setelah dideteksi sebelum masalah manjadi lebih besar dan mungkin kambuh setelah diobati.

Klasifikasi

Familia : Papovaviridae Genus : Papillomavirus

(14)

14 Morfologi Papillomavirus

Gambar 1. Bentuk Human Papilloma Virus

Papovavirus merupakan virus kecil ( diameter 45-55 nm ) yang mempunyai genom beruntai ganda yang sirkuler diliputi oleh kapsid (kapsid ini berperan pada tempat infeksi pada sel) yang tidak berpembungkus menunjukkan bentuk simetri ikosahedral. Berkembang biak pada inti sel menyebabkan infeksi laten dan kronis pada pejamu alamiahnya dan dapat menyebabkan tumor pada beberapa binatang (Contoh : Virus Papilloma manusia (tumor), Virus BK (diasingkan dari air kemih penderita yang mendapat obat-obat imunosupresif)).

Mekanisme infeksi virus diawali dengan protein menempel pada dinding sel dan mengekstraksi semua protein sel kemudian protein sel itu ditandai (berupa garis- garis) berdasarkan polaritasnya. Jika polaritasnya sama denagn polaritas virus maka, dapat dikatakan bahwa sel yang bersangkutan terinfeksi virus. Setelah itu, virus menginfeksikan materi genetiknya ke dalam sel yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi gen jika materi genetik virus ini bertemu dengan materi genetik sel. Setelah terjadi mutasi, DNA virus akan bertambah banyak seiring pertambahan jumlah DNA sel yang sedang bereplikasi. Ini menyebabkan displasia (pertumbuhan sel yang tidak normal) jadi bertambah banyak dan tak terkendali sehingga menyebabkan kanker. “Papova” berasal dari tiga nama yang sering dipelajari ( Papilloma, Polyoma,Vacoulating ). Yang akan dibahas termasuk virus Papilloma yaitu yang menyebabkan tumor jinak dan ganas pada banyak tipe mamalia. Virus ini merupakan salah satu dari virus DNA yang diketahui menyebabkan tumor alamiah pada tuan rumah aslinya. Virus Papilloma menyebabkan beberapa jenis tumor yang berbeda pada manusia, meliputi tumor kulit, kondiloma genital/ kondiloma akuminata(KA) atau tumor kelamin/atau

(15)

15 genital wart (di masyarakat dikenal sebagai jengger ayam dengan masa inkubasi :1-6 bulan rata-rata 3 bulan, tampak benjolan seperti jengger ayam di sekitar kemaluan dan anus serta kebanyakan tanpa keluhan ), dan papilloma larings.

Papillomavirus sangat tropik terhadap sel-sel epitel kulit dan membran mukosa. Tahap-tahap dalam siklus replikasi virus tergantung pada faktor-faktor spesifik yang terdapat dalam status diferensiasi berikutnya dari sel epitel. Ketergantungan kuat replikasi virus pada status diferensiasi sel inang ini, meyebabkan sulitnya perkembangbiakan Papillomavirus in vitro.

HPV.

Dengan mikroskop elektron virus, HPV berbentuk ikosahedral dengan ukuran 55 nm, memiliki 72 kapsomer dan 2 protein kapsid, yaitu L1 dan L2. Virus DNA ini dapat bersifat mutagen. Infeksi HPV telah dibuktikan menjadi penyebab lesi prakanker, kondiloma akuminatum, dan kanker. Terdapat 138 strain HPV yang sudah diidentifikasi, 30 di antaranya dapat ditularkan lewat hubungan seksual. Ada lebih dari seratus virus yang dikenal sebagai virus papilloma manusia (human papilloma virus/HPV). HPV dapat menyebabkan kanker leher rahim karena dapat membuat pertumbuhan sel menjadi tidak normal (dengan cara virus masuk ke dalam inti sel di leher rahim dan mengubah bentuk sel sehingga sel menjadi mudah rapuh dan pertumbuhannya menjadi tidak beraturan). Satu penelitian menemukan 11.000 perempuan terdeteksi HPV-positif di AS dan sekitar 4000 orang meninggal karenanya. HPV menular dengan mudah melalui hubungan seks. Diperkirakan 75 persen orang yang aktif secara seksual terutama berusia 15-49 tahun di AS mengalami sedikitnya satu jenis infeksi HPV. Virus ini terdiri dari puluhan genotype, dan dapat menyerang berbagai bagian tubuh seperti jari dan tangan, telapak kaki, wajah, genital. Tipe Human papillomavirus cukup beragam. Dari 100 tipe HPV, hanya 30 di antaranya yang berisiko kanker serviks. Adapun tipe yang paling berisiko adalah HPV 16, 18, 31, dan 45. Sedangkan tipe 33, 35, 39, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68 merupakan tipe berisiko sedang. Dan yang berisiko rendah adalah tipe 6,11, 26, 42, 43, 44, 53, 54, 55, dan 56. Dari tipe-tipe ini, HPV tipe 16 dan 18 merupakan penyebab 70% kanker rahim yang terjadi, sedangkan HPV tipe 6 dan 11 merupakan penyebab

(16)

16 90% kandiloma akuminata jinak dan Papilloma laring pada anak-anak. Infeksi HPV memiliki keterkaitan dengan lebih dari 99% kasus kanker serviks di seluruh dunia (Jawetz, 1995).

Penyakit Yang Ditimbulkan

Berbagai jenis HPV menyebabkan tumor umum pada tangan atau kaki. HPV juga dapat mengakibatkan masalah pada mulut atau pada lidah dan bibir. Beberapa jenis HPV dapat menyebabkan tumor kelamin pada penis, vagina dan dubur. Jenis HPV lain dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak normal yang disebut displasia. Displasia dapat berkembang menjadi kanker dubur pada laki-laki dan perempuan, dan kanker leher rahim (cervical cancer), atau kanker penis. Displasia di sekitar dubur disebut neoplasia intraepitelial anal (anal intraepithelial neoplasia/AIN). Epitel adalah lapisan sel yang meliputi organ atau menutupi permukaan tubuh yang terbuka. Neoplasia berarti perkembangan baru sel yang tidak normal. AIN adalah perkembangan sel baru yang tidak normal pada lapisan dubur. Displasia pada daerah leher rahim disebut neoplasia intraepitelial serviks (cervical intraepithelial neoplasia/CIN).

Kondiloma genital dapat ditularkan melalui sentuhan dan hubungan seksual. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, namun ada sebagian orang yang berisiko untuk terjangkit penyakit ini antara lain: orang yang sering kontak dengan air/bekerja di tempat basah (seperti tukang ikan, tukang daging, pemotong hewan), orang yang hiperhidrosis/ telapak tangan atau kakinya selalu basah, anak-anak. Penyakit ini menular baik dengan kontak langsung maupun tidak langsung seperti pemakaian handuk dan baju yang bersamaan. Pada orang-orang yang berisiko terjangkit penyakit ini dapat terjadi kekambuhan karena virus ini mudah hidup dan berkembang pada kulit yang sering terkena trauma dan selalu basah. Pada orang yang imunnocompromise atau daya tahan tubuh kurang baik atau buruk virus ini dapat berkembang cepat pada seluruh badan atau bekembang menjadi keganasan kulit seperi kanker skuamosa.

(17)

17 Gambar 2. Tumor kulit

Gambar 3. Genital warts/ tumor kelamin

Kanker serviks merupakan penyebab kematian akibat kanker yang terbesar setelah kanker payudara pada wanita di negara-negara berkembang, bahkan tiap tahunnya sekitar seperempat juta wanita meninggal karena penyakit ini. Tidak hanya itu, kanker serviks juga berdampak pada sekitar setengah juta wanita tiap tahunnya dan 80% penderita kanker serviks hidup di negara-negara dengan pendapatan penduduk yang rendah atau sedang. Menurut penelitian yang dikemukakan oleh yayasan kanker Indonesia menyatakan bahwa tiap 1 jam, seorang wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks. Peristiwa kanker serviks diawali dari normal serviks yang terinfeksi HPV dan menyebabkan timbulnya displasia sehingga menimbulkan kanker. Kanker Serviks cenderung muncul pada wanita usia 35-55 tahun (pada saat usia produktif). Namun dapat pula muncul pada perempuan berusia lebih muda. Penyebab dari kanker ini adalah Human Papilloma Virus yaitu sejenis virus yang menyerang manusia dan berpotensi menyebabkan terjadinya komplikasi dan kemandulan. Serviks normal bentuknya lurus, sedangkan serviks yang terinfeksi bentuknya membesar, keluar karena bertumor. Inilah yang menyebabkan rasa sakit pada penderita kanker serviks saat melakukan hubungan seks.

(18)

18 Beberapa faktor yang dapat mempermudah terinveksi virus HPV yaitu

 menikah atau memulai aktivitas seksual pada usia muda (kurang dari 18 tahun),

 berganti-ganti pasangan seks (pasangan wanita tersebut maupun pasangan suaminya),

 wanita melahirkan banyak anak (sering melahirkan), sering menderita infeksi di daerah rahim, dan

 wanita perokok yang mempunyai resiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.

Perlu diingat bahwa setiap perempuan beresiko untuk terinfeksi HPV walaupun setia pada satu pasangan. Pasangan yang terinfeksi akan menjadi sumber infeksi HPV bagi wanita lainnya. Ternyata walaupun kanker leher rahim adalah penyakit perempuan tetapi lelaki memiliki peran penting di dalam penyebarannya. Lelaki yang pernah menikah dengan perempuan penderita kanker leher rahim otomatis bisa menularkan penyakit tersebut kepada perempuan lain melalui hubungan seksual. Maka disarankan pada kaum lelaki yang suka ”jajan” agar berhati-hati, sebab bukan tidak mungkin ia menjadi media perantara penyakit kanker leher rahim ke istrinya sendiri. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah lesi (tumor) dapat membesar dan tumbuh bersama. Tetapi resiko terbesar dari HPV adalah kanker leher rahim atau bahkan kematian. Kanker leher rahim dapat dideteksi dengan menggunakan tes Pap sehingga pertumbuhan sel yang abnormal pada leher rahim tersebut terdeteksi lebih awal dan dapat dilakukan konisasi (mengambil bagian sel yang berubah) sebelum ia berkembang menjadi kanker. Gejala kanker serviks :

Gejala awal kondisi pra-kanker umumnya ditandai dengan ditemukannya sel-sel abnormal serviks yang dapat ditemukan melalui tes Pap Smear. Sering kali kanker serviks tidak menimbulkan gejala. Namun bila sel-sel abnormal ini berkembang menjadi kanker serviks, barulah muncul gejala-gejala sebagai berikut :

(19)

19 1. Pendarahan vagina yang tidak normal seperti :

 Pendarahan di antara periode menstruasi yang regular  Pendarahan di luar waktu haid

 Periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari biasanya  Pendarahan setelah hubungan seksual atau pemeriksaan panggul  Pendarahan sesudah menopause

 Kelainan pada vagina (keluarnya cairan kekuningan, berbau) 2. Rasa sakit saat berhubungan seksual

3. Rasa sakit/ nyeri pada pinggul dan kaki

Tips menghindarkan wanita dari kemungkinan terkena kanker mulut rahim sebagai berikut:

1) Waspadai gejalanya. Segera hubungi dokter kalau terdapat gejala-gejala yang tidak normal seperti pendarahan, terutama setelah aktivitas seksual.

2) Pemeriksaan teratur. Lakukan tes pap smear setiap tahun. Ini dilakukan sampai berusia 70 tahun.

3) Jangan merokok karena yang dikandung tembakau dapat merangsang timbulnya sel-sel kanker melalui nikotin dikandung dalam darah Anda. Risiko wanita perokok 4-13 kali lebih besar dibandingkan wanita bukan perokok. Diperkirakan nikotin memberikan efek toksik pada sel epitel, termasuk selaput lendir mulut rahim, sehingga memudahkan masuknya mutagen virus dan membuatnya rentan terhadap sel-sel kanker.

4) Hindarkan kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-obatan antiseptik maupun deodoran karena akan mengakibatkan iritasi di serviks yang merangsang terjadinya kanker.

Beberapa hal yang bisa dikerjakan untuk menghindari ancaman kanker leher rahim sbb :

1. Melakukan pap smear secara teratur (tiga tahun setelah hubungan seks pertama, tiga bulan setelah melahirkan dan secara rutin minimal setahun sekali).

2. Menghindari hal-hal yang dapat meningkatkan risiko timbulnya kanker leher rahim misalnya berganti-ganti pasangan seksual, merokok, dll.

(20)

20 3. Menjaga kebersihan organ intim.

4. Selalu waspada dan segera ke dokter bila mengalami tanda-tanda yang mencurigakan, seperti keputihan dan pengeluaran cairan yang berbau busuk dari vagina, perdarahan yang terjadi setelah melakukan hubungan intim, dan perdarahan atau haid yang abnormal.

5. “Jangan tunda lagi”, luangkan waktu Anda untuk melakukan pemeriksaan pap smear. Beberapa peneliti menganggap bahwa tes Pap/ pap smear pada dubur dan leher rahim sebaiknya dilakukan setiap tahun untuk orang yang berisiko lebih tinggi:

 Orang yang menerima seks anal (penis masuk pada duburnya)  Perempuan yang pernah mengalami CIN

 Siapa pun dengan kadar CD4 di bawah 500

Namun peneliti lain menganggap pemeriksaan fisik dengan teliti dapat menemukan semua kasus kanker dubur yang ditemukan melalui tes Pap pada dubur.

Infeksi HPV

Infeksi HPV dapat terjadi saat hubungan seksual pertama, biasanya pada masa awal remaja dan dewasa. Prevalensi tertinggi (sekitar 20%) ditemukan pada wanita usia kurang dari 25 tahun. Pada wanita usia 25-55 tahun dan masih aktif berhubungan seksual berisiko terkena kanker serviks sekitar 5-10 persen. Meski fakta memperlihatkan, terjadi pengurangan risiko infeksi HPV seiring pertambahan usia, namun sebaliknya risiko infeksi menetap/persisten malah meningkat. Hal ini diduga karena seiring pertambahan usia terjadi perubahan anatomi (retraksi) dan histologi (metaplasia). Selama serviks matang melebihi masa reproduktif seorang wanita, maka cervical ectropion digantikan melalui suatu proses squamous metaplasia, untuk membagi secara bertingkat epitel skuamosa. Epitel skuamosa bertingkat ini diperkirakan lebih protektif pada banyak orang melawan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Selain itu, hasil imunitas dari paparan infeksi sebelumnya, juga diduga sebagai biang dibalik penurunan insiden tersebut.

(21)

21 Infeksi HPV dapat mengakibatkan kanker serviks karena : Apoptosis (dari bahasa Yunani apo = "dari" dan ptosis = "jatuh") adalah mekanisme biologi yang merupakan salah satu jenis kematian sel terprogram. Apoptosis digunakan oleh organisme multisel untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Apoptosis berbeda dengan nekrosis. Apoptosis pada umumnya berlangsung seumur hidup dan bersifat menguntungkan bagi tubuh, sedangkan nekrosis adalah kematian sel yang disebabkan oleh kerusakan sel secara akut. Contoh nyata dari keuntungan apoptosis adalah pemisahan jari pada embrio. Apoptosis yang dialami oleh sel-sel yang terletak di antara jari menyebabkan masing-masing jari menjadi terpisah satu sama lain. Apoptosis dapat terjadi misalnya ketika sel mengalami kerusakan yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Keputusan untuk melakukan apoptosis berasal dari sel itu sendiri, dari jaringan yang mengelilinginya, atau dari sel yang berasal dari sistem imun. Bila sel kehilangan kemampuan untuk melakukan apoptosis (misalnya karena mutasi), atau bila inisiatif untuk melakukan apoptosis dihambat (oleh virus), sel yang rusak dapat terus membelah tanpa terbatas, yang akhirnya menjadi kanker. Sebagai contoh, salah satu hal yang dilakukan oleh virus papilloma manusia (HPV) saat melakukan pembajakan sistem genetik sel adalah menggunakan gen E6 yang mendegradasi protein p53. Padahal protein p53 berperan sangat penting pada mekanisme apoptosis. Oleh karena itu HPV dapat menyebabkan kanker serviks (Barr, 2007).

Penyebaran HPV

Penyebaran HPV dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : letak geografis, genetik, status sosial ekonomi rendah, nutrisi, sistem imun alami, banyak pasangan seks, usia, dan rokok (nikotin). Tipe yang paling umum dijumpai justru yang paling berbahaya, yakni 16 dan 18. Tipe 16 biasa ditemukan di wilayah seperti Eropa, Amerika Serikat, dan wilayah lainnya. Sementara tipe 18 lebih banyak ditemukan di Asia.

Penularan HPV

HPV tidak hanya tertular melalui pertukaran cairan tubuh (terutama malalui hubungan seks, pertukaran jarum suntik untuk digunakan bersama,dll)

(22)

22 tetapi juga lewat penggunaan barang secara bersama (handuk, sprei, dll), sentuhan (apabila ada tumor di badan), melalui ciuman (bila HPV sudah menyebabkan gangguan pada mulut), serta kurangnya kesadaran untuk menjaga kebersihan tubuh (terutama daerah sekitar organ kelamin). Oleh karenanya bukan tidak mungkin seseorang terinfeksi HPV jauh sebelum ia melakukan hubungan seks pertamakalinya. Namun pada umumnya penularan HPV terjadi melalui kontak seksual (umur 15 hingga 49 tahun), tetapi tidak seorang dokter pun dapat memperkirakan kapan infeksi itu terjadi. Kebanyakan infeksi HPV juga dapat mengalami remisi setelah beberapa tahun. Beberapa di antaranya bahkan akan menetap dengan atau tanpa menyebabkan abnormalitas pada sel. Untuk menemukan HPV, dokter mencari displasia atau tumor kelamin. Oleh karenanya jika tampak adanya tumor maka segeralah memeriksakan diri sehingga dokter dapat memeriksanya sedangkan perubahan pada leher rahim dapat diperiksa atau diketahui dengan melakukan tes Pap. Walaupun Pap smear dapat menyembuhkan kanker rahim, tidak berarti bahwa seseorang dapat terbebas begitu saja. Orang yang pernah terinfeksi HPV harus rutin melakukan Pap smear karena virus ini dapat sewaktu-waktu kembali tanpa disadari (Barr, 2007)

PATOFISIOLOGI

Penyebab kanker serviks adalah multifaktor, yang dibedakan berdasarkan atas faktor risiko mayor, faktor risiko minor (Suwiyoga,2007). Pada faktor mayor kanker serviks sekitar 90% terdapatnya virus HPV. Infeksi HPV risiko tinggi merupakan awal dari patogenesis kanker serviks, sedangkan HPV risiko tinggi merupakan karsinogen kanker serviks.

Virus HPV menginfeksi membrana basalis pada daerah metaplasia dan zona transformasi serviks. Setelah menginfeksi sel epitel serviks sebagai upaya berkembang biak virus ini akan meninggalkan sekuensi genomnya pada sel inang. Genom HPV berupa episomal (bentuk lingkaran dan tidak terintegrasi dengan DNA inang) dijumpai pada CIN dan berintegrasi dengan DNA inang pada kanker invasif. Pada percobaan in vitro HPV terbukti mampu mengubah sel menjadi immortal (Aziz et al., 2006).

(23)

23 Tipe HPV paling berisiko adalah tipe 16 dan tipe 18 yang mempunyai peranan yang penting melalui sekuensi gen E6 dan E7 dengan mengode

pembentukan protein-protein penting dalam replikasi virus. Onkoprotein dari E6

akan mengikat dan menjadikan gen penekan tumor (p53) menjadi tidak aktif, sedangkan onkoprotein E7 akan berikatan dan menjadikan produk gen retinoblastoma (pRb) menjadi tidak aktif. P53 dan pRb adalah protein penekan tumor yang berperan menghambat kelangsungan siklus sel. Dengan tidak aktifnya p53 dan pRb, sel yang telah bermutasi akibat infeksi HPV dapat meneruskan siklus sel tanpa harus memperbaiki kelainan DNA-nya. Ikatan E6 dan E7 serta

adanya mutasi DNA merupakan dasar utama terjadinya kanker (Aziz et al., 2006). SKRINING HPV

1. Pemeriksaan sitology ( pap smear)

Merupakan pemeriksaan primer untuk mendeteksi kanker pada serviks fungsinya adalah untuk melihat sel – sel dalam leher rahim dimana sampel diambil dari liang vagina.

2. Tes DNA HPV

Pemeriksaan DNA HPV, merupakan pemeriksaan molekular yang secara langsung bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya HPV pada sel – sel yang diambil dari serviks. Infeksi HPV risiko tinggi merupakan penyebab utama kanker leher rahim, ada 13 jenis yakni : 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68.

Saat ini ada 2 macam pemeriksaan HPV DNA, yaitu a. HPV DNA:

Hanya untuk mengetahui ada tidaknya infeksi HPV subtipe risiko tinggi. b. HPV DNA Genotyping: Dapat mengetahui hingga ke subtipe

HPV.Beberapa artikel reviewmenyatakan bahwa pemeriksaan HPV DNA (hingga penentuan subtipe HPV) dipandang penting untuk 2 alasan:

 Mengetahui persistensi. Faktor yang me-nyebabkan perubahan sel ke arah keganasan adalah persistensi virus. Apabila seseorang terinfeksi oleh subtipe yang sama 2 kali berturut-turut dengan jeda 1 tahun,

(24)

24 diistilahkan sebagai infeksi persis-ten. Namun, apabila terinfeksi oleh sub-tipe yang berbeda walaupun sama-sama subtipe risiko tinggi, dikenal sebagai infeksi sesaat (transient infection).

 Karena infeksi oleh subtipe 16 dan 18 merupakan 70% penyebab kanker leher rahim, berbagai artikel mengusulkan pembedaan tata laksana untuk kedua subtipe tersebut. Bila ditemukan subtipe 16 atau 18, tanpa memandang ada tidaknya abnormalitas pada pemeriksaan sitologi, tata laksananya berupa kolpo-skopi. Namun, bila ditemukan subtipe risiko tinggi lainnya (bukan subtipe 16 atau 18), tata laksana bergantung pada kelainan sitologi.Apabila ditemukan HSIL pada pemerik-saan sitologi, tata laksananya berupa kolposkopi. Apabila kelainan sitologinya a d a l a h L S I L (l o w - g r a d e s q u a m o u s intraepithelial lesion) atau lebih rendah, pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan sitology dan HPV setahun kemudian. Apabila ditemukan subtipe yang sama (infeksi persisten), tata laksananya berupa kolposkopi (American Journal of Epidemiology 2008).

Pencegahan Kanker Serviks A. Skrining

Tes yang dapat membantu mencegah kanker leher rahim yakni:

1. Tes Pap (Pap smear atau) mencari prekanker, perubahan sel pada leher rahim yang dapat menjadi kanker serviks jika tidak diobati dengan tepat. Mulai dilakukan pada usia 21.

2. Papillomavirus test (HPV) manusia mencari virus yang dapat menyebabkan perubahan sel.

Yang paling penting yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah kanker serviks adalah dengan melakukan tes skrining rutin.Jika hasil tes pap smear normal, kesempatan untuk mendapatkan kanker serviks dalam beberapa tahun ke depan sangat rendah. Untuk alasan itu, tidak perlu lagi tes Pap selama tiga tahun. Pada usia 30 tahun atau lebih tua, dapat memilih untuk memiliki tes HPV bersama dengan tes Pap. Jika kedua hasil tes normal, bisa

(25)

25 menunggu lima tahun untuk melakukan tes Pap berikutnya. Tapi pemeriksaan ke dokter secara teratur tetap harus dilakukan(Centers for Disease Control and Prevention, 2013).

Bagi wanita berusia 21-65, penting untuk terus mendapatkan tes Pap. Namun, pada usia yang lebih tua dari 65 dan memiliki hasil tes Pap normal untuk beberapa tahun, atau pada kondisi serviks yang tidak ada karena histerektomi total pada kondisi non kanker, seperti fibroid, tidak perlu dilakukan tes Pap lagi (Centers for Disease Control and Prevention, 2013). B. Mendapatkan Vaksin HPV

Dua vaksin HPV yang tersedia untuk melindungi perempuan terhadap jenis HPV yang menyebabkan kanker serviks yang paling, vagina, dan vulva. Kedua vaksin yang direkomendasikan untuk remaja perempuan usia 11-12 tahun, dan untuk wanita 13 sampai 26 tahun yang tidak mendapatkan salah satu atau semua dari vaksin ketika mereka masih muda. Vaksin ini juga dapat diberikan pada remaja perempuan usia 9 tahun. Disarankan bahwa wanita mendapatkan merek vaksin yang sama untuk tiga dosis keseluruhan, bila memungkinkan. Penting untuk dicatat bahwa bahkan wanita yang divaksinasi terhadap HPV perlu memiliki Pap Smear secara teratur untuk skrining kanker serviks.Vaksin melindungi terhadap infeksi dengan jenis HPV selama 6 sampai 8 tahun. Hal ini tidak diketahui apakah perlindungan berlangsung lebih lama. Vaksin-vaksin tidak melindungi perempuan yang sudah terinfeksi dengan HPV (Centers for Disease Control and Prevention, 2013; National Cancer Institute, 2012).

C. Menghindari faktor risiko dan meningkatkan faktor proteksi

Menghindari faktor risiko kanker dapat membantu mencegah kanker tertentu. Faktor risiko meliputi merokok, kelebihan berat badan, dan tidak cukup berolahraga. Meningkatkan faktor proteksi seperti berhenti merokok, makan makanan yang sehat, dan berolahraga juga dapat membantu mencegah beberapa jenis kanker (National Cancer Institute, 2012).

(26)

26 Faktor-faktor risiko berikut meningkatkan risiko kanker serviks:

1. Infeksi HPV

Penyebab paling umum dari kanker serviks adalah infeksi pada serviks dengan human papillomavirus (HPV). Ada lebih dari 80 jenis human papillomavirus. Sekitar 30 jenis dapat menginfeksi leher rahim dan sekitar setengah dari mereka telah dikaitkan dengan kanker serviks. Infeksi HPV umum tetapi hanya jumlah yang sangat kecil wanita terinfeksi HPV mengembangkan kanker serviks. Infeksi HPV yang menyebabkan kanker serviks menyebar terutama melalui kontak seksual. Wanita yang menjadi aktif secara seksual pada usia muda dan yang memiliki banyak pasangan seksual berada pada risiko yang lebih besar infeksi HPV dan berkembangnya kanker serviks (National Cancer Institute, 2012).

2. Merokok

Merokok rokok dan menghirup asap rokok meningkatkan risiko kanker serviks. Di antara perempuan terinfeksi HPV, displasia dan kanker invasif terjadi 2 sampai 3 kali lebih sering pada perokok dan mantan perokok. Asap rokok menyebabkan peningkatan yang lebih kecil dalam risiko (National Cancer Institute, 2012).

3. Tingginya jumlah kehamilan aterm

Wanita yang memiliki 7 atau lebih kehamilan aterm mungkin memiliki peningkatan risiko kanker serviks(National Cancer Institute, 2012).

4. Penggunaan jangka panjang dari kontrasepsi oral

Wanita yang telah menggunakan kontrasepsi oral ("pil KB") selama 5 tahun atau lebih memiliki risiko lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan wanita yang tidak pernah menggunakan kontrasepsi oral. Risiko lebih tinggi setelah 10 tahun penggunaan (National Cancer Institute, 2012).

(27)

27 Faktor-faktor proteksi berikut dapat mengurangi risiko kanker serviks:

1. Mencegah infeksi HPV

HPV dapat dicegah dengan hal-hal berikut:

a. Menghindari aktivitas seksual: infeksi HPV serviks adalah penyebab paling umum dari kanker serviks. Menghindari aktivitas seksual menurunkan risiko infeksi HPV(National Cancer Institute, 2012). b. Menggunakan perlindungan penghalang atau gel spermisida: Beberapa

metode yang digunakan untuk mencegah penyakit menular seksual (PMS) mengurangi risiko infeksi HPV. Penggunaan metode penghalang pengendalian kelahiran (seperti kondom atau gel yang membunuh sperma) membantu melindungi terhadap infeksi HPV(National Cancer Institute, 2012).

Pengaruh diet pada risiko kanker serviks tidak diketahui. Uji coba pencegahan kanker klinis digunakan untuk mempelajari cara-cara untuk menurunkan risiko terkena jenis kanker tertentu. Percobaan pencegahan kanker dilakukan dengan orang-orang sehat yang tidak menderita kanker tetapi yang memiliki peningkatan risiko untuk kanker. Uji coba pencegahan lain yang dilakukan dengan orang-orang yang telah menderita kanker dan berusaha untuk mencegah kanker lain dari jenis yang sama atau untuk menurunkan kesempatan berkembangnyakankerjenis baru. Percobaan lain yang dilakukan dengan sukarelawan sehat yang tidak diketahui memiliki faktor risiko apapun untuk kanker. Uji coba ini termasuk makan buah-buahan dan sayuran, berolahraga, berhenti merokok, atau minum obat tertentu, vitamin, mineral, atau suplemen makanan (National Cancer Institute, 2012).

(28)

28 BAB IV

KESIMPULAN

1. Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah keganasan yang terjadi pada serviks (leher rahim) yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama atau vagina.

2. Penyebab dari kanker serviks adalah Human Papillomavirus.

3. Faktor risiko kanker serviks adalah infeksi HPV, merokok, tingginya jumlah kehamilan aterm, penggunaan jangka panjang dari kontrasepsi oral.

4. Pencegahan kangker serviks adalah dengan melakukan skrining, mendapatkan vaksin HPV, dan menghindari faktor risiko.

(29)

29 DAFTAR PUSTAKA

Aziz, MF., Andrijono, Saifuddin AB, editors., 2006. Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Edisi kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Barr E, Tamms G., 2007, Quadrivalent human papillomavirus vaccine, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17682997?dopt=Ab

Centers for Disease Control and Prevention. 2013. Gynecologic Cancer: Cervical

Cancer Prevention. Diakses dari

http://www.cdc.gov/cancer/cervical/basic_info/prevention.htm pada tanggal 14 Maret 2013

Departemen Kesehatan RI. 2006. Pusat Promosi Kesehatan. Kanker Leher Rahim lebih cepat ditemukan, Lebih besar kemungkinan sembuh. Jakarta.

Diananda R. 2009. Panduan Lengkap Mengenai Kangker. Yogyakarta: Mirza Media Pustaka

Fatimah A.N. 2009. Studi kualitatif tentang perilaku keterlambatan pasien dalam melakukan pemeriksaan ulang pap smear di Klinik Keluarga Yayasan Kusuma Buana Tanjung Priok Jakarta Timur Tahun 2008. Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta. Ginting, Herlina. 2012. Hubungan antara dukungan sosial dengan optimisme pada

penderita kanker serviks. Karya Tulis Ilmiah. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

Invited commentary: Is monitoring of human papillomavirus infection for viral persistence ready for use in cervical cancer screening? American Journal of Epidemiology 2008;168(2):138 – 44.

Jawetz, Melnick, 1995, Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan, Ed. 16, EGC, Jakarta

National Cancer Institute. 2012. Cervical Cancer Prevention. Diakses dari http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/prevention/cervical/Patient/page3 pada tanggal 14 Maret 2013

Sinta, NS. 2010. Kanker Serviks dan Infeksi Human Pappilomavirus (HPV). Jakarta: Javamedia Network

Figur

Memperbarui...

Related subjects :