• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. Dapat Kita Sampaikan Nilai. dengan Mengajar Etika?

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4. Dapat Kita Sampaikan Nilai. dengan Mengajar Etika?"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 4

Dapat Kita Sampaikan Nilai

dengan Mengajar Etika?

Dalam artikel ini kita mencoba berefleksi tentang peluang dan keterbatasan yang menandai pengajaran etika. Sebagai orientasi awal, dalam bagian pertama akan diajukan beberapa catatan tentang pengertian dan hakikat nilai. Dalam bagian kedua kita akan menanyakan apa yang bisa dipahami dengan penyarnpai-an nilai. Dalam bagian ketiga kita mempelajari tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui pengajaran etika. Akhirnya, dalam bagian keempat kita mencoba membandingkan beberapa pendekatan yang berbeda dalam mengajar mata kuliah etika.

Keprihatinan Moral

1. Beberapa catatan tentang nilai

Kerap kali kita berbicara tentang nilai seolah-olah siapa saja langsung mengerti apa artinya nilai. Kita andaikan begitu saja bahwa tidak ada rnasalah tentangnya. Namun demikian, kalau kita berefleksi sedikit, tidak begitu mudah untuk me-rumuskan hakikat nilai. Jika ditodong dengan pertanyaan "apakah gerangan nilai itu", mau tidak mau kita merasa bingung. Reaksi kita kira-kira seperti Agustinus dari Hippo (354-430) ketika ditanyakan "apa itu waktu". la merasa ragu-ragu dan tidak tahu harus menjawab apa. "Jika tidak ada orang yang tanyakan, saya tahu.'Tetapi jika saya ditanyakan dan saya mencoba menjelaskan kepada orang lain, ternyata saya tidak tahu".

Jika kita berbicara tentang nilai dalam konteks etika, kita memaksudkan suatu nilai spesifik, yaitu nilai moral. Bagaimana nilai moral berbeda dari nilai-nilai lain? Salah satu perbedaan yang paling penting adalah bahwa nilai lain merupakan sesuatu yang baik menurut aspek tertentu saja, sedangkan nilai moral mewujudkan sesuatu yang baik bagi manusia sebagai manusia, bukan saja bagi manusia sebagai pembeli, peminat, atau

(2)

pemikir.

Ciri khas lain yang menandai nilai moral adalah bahwa nilai itu bersifat normatif. Nilai moral mengikat kita sebagai manusia. Nilai moral wajib direalisasikan. Terhadap nilai moral kita tidak boleh tinggal tak acuh saja. Sedangkan terhadap nilai lain kita boleh bersikap netral. Nilai intelektual, umpamanya, hanya akan dicari oleh orang terdidik. Nilai estetis yang terwujud dalam musik klasik atau seni rupa yang oleh para ahli dihargai tinggi, bagi banyak orang lain tidak menarik. Tetapi sebaliknya, kalau menghadapi suatu situasi tidak adil di mana kaum buruh dieksploitasi oleh segelintir industriawan yang kaya raya, tak seorang pun boleh tinggal tak acuh. Setiap orang harus menolak ke-adaan yang tidak bermoral itu. Jika seseorang tidak merasa perlu menentang ketidakadilan sedemikian, hal itu tidak menunjukkan sempitnya wawasan kulturalnya, melainkan kurangnya kualitas etisnya.

2. Etika dan nilai

Etika sebagai ilmu berefleksi tentang perilaku moral. Etika membahas kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk moral. Tetapi dalam usaha refleksinya, etika tidak membatasi diri pada keadaan faktual, tetapi mencoba merumuskan juga apa yang harus dilakukan. Menurut maksudnya, etika bersifat normatif. Ilrnu-ilmu sosial dapat membahas juga nilai-nilai moral, tetapi dalam perspektif empiris saja, bukan dalam konteks normatif. Jika hubungan antara nilai dan etika begitu erat, apalagi bersifat normatif, '-1 maka mudah dapat diterima bahwa kita menyampaikan nilai-nilai bila mengajar mata kuliah etika.

Namun demikian, asumsi spontan ini menimbulkan beberapa kesulitan. Marilah mulai dengan mencoba menjelaskan bagaimana nilai pasti tidak disampaikan. Jika kita mengajar etika, kita tidak menggurui; kita tidak mempraktekkan apa yang dalam bahasa Inggris disebut moralizing. Yang dimaksudkan dengannya ialah mengedepankan nilainya sendiri dengan harapan orang lain juga akan hidup menurut nilai-nilai tersebut. Hal itu tidak berarti bahwa menggurui selalu salah. Dalam konteks tertentu menggurui atau moralizing itu wajar saja. Terutama dalam suatu komunitas homogen di mana anggota-nya menganut nilai-nilai yang sama.

Jika kita mengajar etika, kita juga tidak menjalankan indoktrinasi. Dibandingkan dengan menggurui, indoktrinasi lebih erat kaitannya dengan teori. Indoktrinasi terjadi bila seseorang memaksakan teori atau pandangannya sendiri kepada orang lain. Faktor yang

(3)

menentukan adalah paksaan mental yang selalu dijalankan dalam indoktrinasi. Seperti diketahui, indoktrinasi banyak dipraktek-kan oleh rezim-rezim totaliter. Berbeda dengan menggurui, indoktrinasi selalu harus dianggap salah, karena mengandung paksaan terhadap kebebasan orang lain.

Kalau kita tidak membekalkan nilai-nilai moral yang baru kepada maha-siswa, apa yang sesungguhnya kita lakukan dalam mengajar etika? Kita memper-kenalkan mahasiswa dengan teori-teori etika dan berusaha memperlihatkan kekuatan dan kelemahan dari teori-teori tersebut. Kita mempelajari pelbagai metode untuk menganalisis suatu permasalahan etis. Kita menunjukkan cara menyusun argumentasi moral yang baik, bersama dengan kriteria untuk menilai betul tidaknya argumentasi macam itu. Kita juga membahas data-data historis yang relevan untuk menyoroti aspek-aspek moral dari sebuah masalah etika. Misalnya, jika di Indonesia yang baru beberapa dekade memasuki era industrial, kita ingin mempelajari masalah keadilan sosial dalam konteks perburuhan, maka ada baiknya kita mempelajari kondisi sosial yang sangat menyedihkan pada permulaan industrialisasi di Eropa pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.3

Seperti ditegaskan filsuf Perancis Louis Lavelle la valeur est contagieuse, "nilai itu mudah menular". Khususnya orang muda sering kali cukup sensitif terhadap nilai-nilai moral yang dikomunikasikan oleh guru-guru mereka, entah disengaja atau tidak. Inilah salah satu alasan mengapa pengajaran dan pendidikan tidak pernah dapat dipisahkan.

3. Beberapa tujuan dalam mengajar etika

Guna memperoleh suatu pandangan yang lebih jelas tentang hubungan antara etika dan nilai, kita dapat menempuh jalan lain lagi dengan menanyakan tujuan tujuan apa yang ingin kita capai bila memberi kuliah etika. Dalam usaha men jawab pertanyaan ini, kita memanfaatkan suatu buku kecil tentang pengajaran etika yang dipublikasikan oleh suatu pusat studi etika yang terkenal di Amerika Serikat, The Hastings Center.6 Kedua penulisnya, Bernard Rosen dan Arthur Caplan, menjelaskan lima tujuan yang kita usahakan dengan mengajar etika di tingkat S-1.

Sebagai tujuan pertama disebut "stimulating the moral imagination". Jika mahasiswa mengikuti kuliah etika, mereka tidak harus bertolak dari titik nol. Secara etis mereka tidak tabula rasa bila pertama kali memasuki ruang kuliah. Sebagai manusia, mereka semua memiliki kesadaran moral. Etika merupakan suatu dimensi dalam eksistensi setiap orang.

(4)

Yang pertama yang akan dilakukan dalam kuliah etika adalah membuka mata untuk dimensi etis ini dalam kehidupan kita dan berefleksi tentangnya. Saat mempelajari etika, kita ingin mendalami kesadaran moral ini dan, kalau mungkin, meningkatkan kualitasnya. Para maha-siswa diajak "to see that human beings live their lives in a web of moral rela-tions, to recognize that a consequence of moral positions and rules can be actual suffering or happiness, and to accept the fact that moral conflicts are often inevitable and difficult".7 Yang paling penting adalah mereka mengakui moralitas sebagai sesuatu yang hakiki dalam hidup setiap manusia.

Tujuan berikut adalah "recognizing ethical issues". Tujuan kedua ini sebetulnya agak dekat dengan tujuan pertama tadi, tetapi terdapat suatu perbedaan yang jelas. Imajinasi moral sering disertai perasaan dan emosi. Perlu kita akui dengan tegas bahwa hal itu tidak salah. Sebagai suatu kenyataan manusiawi yang fundamental, tidak bisa lain moralitas harus sarat dengan unsur-unsur emosional. Namun demikian, tujuan kedua ini berusaha memfokuskan secara lebih eksplisit segi sadar dan rasional dari hidup moral kita. Khususnya segi rasional ini akan dibicarakan dalam kuliah. Mahasiswa harus mampu mengenal suatu masalah moral menurut ciri-ciri khasnya.

Tujuan ketiga menyangkut "developing analytical skills". Mahasiswa harus mampu menganalisis konsep-konsep maupun argumen-argumen moral. Karena argumentasi selalu penting dalam setiap cabang ilmu pengetahuan, mahasiswa mata kuliah etika harus diperkenalkan juga dengan cara berargumentasi yang khusus dalam etika.

Tujuan keempat adalah "eliciting a sense ofmoral obligation andperso-nal responsibility". Kita berusaha mencapai tujuan ini bukan dengan berkhotbah atau berindoktrinasi melainkan dengan secara filosofis - kendatipun disesuaikan dengan daya tangkap mahasiswa yang tidak memperoleh pelatihan formal di bidang filsafat - meneliti pertanyaan "mengapa kita haras berlaku etis?" Kita mencoba memperlihatkan mengapa kewajiban moral merupakan suatu unsur substansial dalam hidup setiap manusia.

Tujuan kelima sebaiknya dirumuskan sedikit berbeda dengan penjelasan Rosen dan Caplan. Kedua penulis ini melukiskan tujuan kelima sebagai "tolerating - and resisting - disagreement and ambiguity". Rupanya perumusan ini secara khusus berlaku untuk masyarakat seperti di Amerika Serikat di mana sering ditemukan polarisasi-polarisasi dalam bidang moral. Kita ingat saja akan perdebatan penuh emosi tentang masalah aborsi antara gerakan prolife dan gerakan pro-choice. Di Indonesia

(5)

tidak (atau belum?) terlihat polarisasi-polarisasi etis yang begitu tajam. Dengan mengikuti Rosen dan Caplan pada jarak yang tertentu, kita dapat merumuskan tujuan kelima sebagai "menjadi sadar tentang kesulitan dan ambiguitas dalam argumentasi moral".

Demikianlah tujuan-tujuan umum yang ingin kita wujudkan dalam kuliah etika. Di samping itu masih ada tujuan-tujuan khusus untuk kuliah etika terapan, seperti etika bisnis, etika media massa, etika kedokteran dan lain-lain atau yang secara luas dapat disebut "etika profesi". Dalam kuliah-kuliah ini mahasiswa diperkenalkan dengan masalah-masalah etis dalam bidang profesi mereka masing-masing, dengan pemecahan-pemecahan yang sudah diusulkan, dengan berbagai kode etik yang berlaku untuk ranah mereka, dan dengan latar belakang historis dan kultural untuk profesi mereka.

4. Etika macam apa harus diajarkan?

Beberapa tahun terakhir ini banyak dosen merasa kurang puas dengan cara tradisional untuk mengajar etika. Mereka berpendapat bahwa dalam kuliah etika dulu diberi tekanan terlalu eksklusif pada teori etika, dengan memper-hatikan secara khusus ajaran seperti utilitarisme dan deontologi. Secara berat sebelah difokuskan pada prinsip-prinsip dan aturan-aturan moral. Tipe etika ini tinggal pada taraf terlalu abstrak.

Dalam setiap realitas moral, terutama ada empat unsur yang berperanan: si pelaku, perbuatan, situasi dan kondisi, dan konsekuensi. Praktis setiap perilaku moral meliputi empat unsur ini. Karena itu pendekatan etika yang komprehensif harus juga menyoroti empat segi dari perilaku moral ini. Untuk mempelajari si pelaku moral itu sendiri, teori keutamaan sangat berguna. Untuk memfokuskan perbuatan, kita banyak tertolong dengan teori deontologi yang mengedepankan peraturan tentang kewajiban dan tanggung jawab. Dalam mempertimbangkan situasi dan kondisi, kita bisa memakai jasa dari metode kasuistik. Akhirnya, untuk menilai konsekuensi perilaku moral dapat kita memakai metode teleologis dari teori utilitarisme.

5. Penutup

Jika kita menoleh ke belakang, setelah menamatkan jalur pikiran kita, perlu kita simpulkan bahwa ternyata tidak mudah juga memperoleh jawaban atas pertanyaan yang tertulis di atas artikel ini. Pertanyaan itu tidak mungkin dijawab dengan ya atau tidak.

(6)

Distingsi antara pengajaran dan pendidikan dapat mem-bantu. Dalam mengajar etika, kita tidak bermaksud secara langsung menyam-paikan nilai-nilai moral. Kita tetap tinggal pada taraf kognitif. Tetapi secara tidak langsung pengajaran kita akan memiliki juga aspek-asek edukatif, antara lain karena pengaruh kepribadian sang pengajar atau daya tarik materi yang disajikan.

Barangkali beberapa orang akan menilai kesimpulan ini sebagai agak minimalistis. Bukankah kita berharap membina mahasiswa menjadi manusia yang lebih baik dengan kuliah etika, mereka tanyakan. Bukankah kita bermaksud mengubah tingkah laku mereka dan memberi sesuatu yang dapat meningkatkan kualitas moral kehidupan dan karier mereka kelak? Tentu saja, kita mengharap-kan perilaku mereka akan tersentuh oleh kuliah etika. Tetapi selain satu mata kuliah saja tidak mudah akan mengakibatkan perubahan besar dalam perilaku orang muda yang sudah dewasa, kita tidak mempunyai metode-metode yang tepat untuk mengukur pengaruh macam itu. Kita berusaha mengembangkan pengertian lebih mendalam tentang kehidupan moral dan tuntutannya. Tetapi untuk seterusnya kita hanya dapat percaya bahwa pengertian ini akan berbekas dalam hidup mereka selanjutnya. Dan selain pengajar etika, mungkin banyak dosen lagi tneninggalkan ruang kuliah dengan harapan serupa itu.

Sumber Buku :

K Bertens, 2003, Keprihatinan Moral, Yogyakarta ,

Kanisius

Referensi

Dokumen terkait

Pada tugas akhir ini memiliki batasan masalah antara lain, menggunakan ember dengan ketinggian 32 cm, lebar atas 32 cm, dan lebar bawah 26 cm sebagai media penampung air

Dengan demikian, tujuan Tarekat Qadiriyah Wan Naqsyabandiyah adalah merupakan induk kenyakinan yang dianut oleh umat islam, yang bertujuan untuk memperteba iman

Humbang Hasundutan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 42 15071902710300 HONDA SIHOTANG Kab.. Humbang Hasundutan Guru

Dengan diketahuinya keberadaan Battra ramuan dengan ramuan tanaman obat yang digunakan, merupakan tantangan bagi para peneliti untuk melakukan penelitian dan pengembangan ramuan

Selain itu, untuk mengetahui kenaikan muka air laut di perairan PPP Sadeng berdasarkan data multi satelit altimetri maka menggunakan data satelit altimetri yang telah dikelompokan

Putusan nomor 71/PID.B/2014/PN.Crp dengan terdakwa pertama bernama Dedi Bastian alias Dedi Jongoa Bin Komarudin, terdakwa kedua bernama Rhivend Reno Rivaldo alias Reno Bib

Standar dan sasaran kebijakan, yang dimaksud dalam penelitian ini adalah yang berhak menerima kartu BPJS Subsidi tersebut sesuai dengan ukuran atau kriteria yang

Rendemenserbuk pewarna alami daun sirsak hasil interaksi penambahan maltodekstrin dan lama waktu perebusan sebesar 95,88 ± 2,67 gram dihasilkan pada lama waktu