KATA PENGANTAR. taufiq dan hidayah-nya, skripsi ini telah dapat dirampungkan. Selanjutnya

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwa dengan taufiq dan hidayah-Nya, skripsi ini telah dapat dirampungkan. Selanjutnya shalawat beserta salam penulis sampaikan kepangkuan Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya, yang telah membawa ummatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Skripsi ini merupakan suatu persyaratan akademik sebagai tugas akhir dalam penyelesaian studi pada STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa. Selesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan para dosen STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa dan dukungan berbagai pihak lainnya, sudah pantasnya penulis sampaikan terima kasih kepada mereka. Seiring memanjatkan do’a kehadirat Illahi Rabbi, semoga kebajikannya itu menjadi amal shaleh dan mendapat pahala yang setimpal dari Allah SWT. Selanjutnya ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr. H. Zulkarnaini Abdullah, MA Sebagai pembimbing pertama dan Ibu Siti Suryani, MA sebagai pembimbing kedua.

Kepada kedua orang tua penulis, dan adik tercinta yang penulis sayangi yang besar jasanya dan senantiasa mendorong dan memberikan do’a kepada penulis agar studi yang penulis jalani dapat selesai dengan baik. Atas bantuan dan jasa baik tersebut hanya kepada Allah penulis serahkan semoga mendapat imbalan pahala yang berlipat ganda dari-Nya. Sehingga skripsi ini telah dapat disusun dalam bentuk seperti ini. Sebagai manusia biasa penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangannya. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis

(4)

ii

menerima kritikan dari semua pihak, demi kesempurnaan skripsi ini serta pengetahuan di masa yang akan datang.

Amin Yaa Rabbal Alamin.

Langsa, 17 November 2014 penulis

(5)
(6)

iv ABSTRAK

Dalam melakukan transaksi di pasar terutama pada warung makanan kebanyakan antara pembeli dan penjual tidak melakukan sighat. Dalam hukum Islam hal ini dibolehkan karena termasuk dalam ‘urf. Kata ‘Urf berarti ”Sesuatu yang tidak asing lagi bagi suatu masyarakat karena telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perbuatan atau perkataan. Hanya saja ketetapan hukumnya masih dipertanyakan apakah diperbolehkan dalam hukum Islam atau tidak diperbolehkan sama sekali.

Mengenai aktifitas jual beli di warung makan Kecamatan Langsa Kota merupakan bentuk jual beli yang sudah lazim dan sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi terutama. Hal tersebut dikarenakan untuk mempermudah transaksi antara pembeli dan penjual. Dalam aktifitasnya para pembeli terkadang telah mengetahui harga makanan yang ada di warung tersebut, jadi mereka tidak susah-susah bertanya berapa harga makanan yang dijual di warung makan tersebut. Antara penjual dan pembeli pun tidak ada yang mengeluh dengan aktifitas jual beli tanpa akad antara penjual dan pembeli. Bagi penjual di warung makan melakukan aktifitas jual beli tanpa akad tersebut dilakukan bukan untuk menjauhkan diri dari hukum yang sebenarnya, namun menurut penjual mereka menginginkan kemudahan dalam bertransaksi. Dan hal tersebut dilakukan bukan dengan unsur ketidaktahuannya mereka dalam sistem jual beli, namun hal tersebut dilakukan seperti dijelaskan sebelumnya. mengenai kerelaan dalam jual beli ini tidak dipermaslahkan baik dari pembeli dan penjual, mereka tidak ada yang merasa dirugikan dalam aktifitas seperti ini. Mereka memaklumi kegiatan transaksi tanpa adanya ijab kabul tersebut.

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana aktifitas jual beli warung makanan di kecamatan Langsa Kota?, dan bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap konsep ‘urf dalam jual beli warung makanan di kecamatan Langsa Kota?. Tujuan Penelitian ini adalah: untuk mengetahui aktifitas jual beli warung makanan di Kecamatan Langsa Kota. Dan untuk mengetahui tinjauan Hukum Islam terhadap konsep urf dalam jual beli warung makanan di Kecamatan Langsa Kota. Jenis penelitian ini tergolong penelitian lapangan (field research). Penelitian ini akan dilaksanakan di warung makanan di Kecamatan Langsa Kota. Sumber Data yang digunakan ialah Sumber data primer dan sekunder. Tehnik Pengumpulan Data penelitian ini ialah Observasi, Wawancara, Dokumentasi.

Kemudian mengenai tinjauan hukum islam terhadap konsep urf dalam Jual beli tanpa menggunakan akad (bai mu’athah), yang berlaku di warung makan yang berada di Kecamatan Langsa Kota hal tersebut sudah menjadi tradisi atau adat kebiasaan, namun kebiasaan itu sesuai dengan persyaratan keabsahan adat yang dapat dijadikan hukum dan jelas tidak dilarang dalam syari’at Islam yang berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dikarenakan kebiasaan tersebut membawa kemaslahatan bagi orang lain, dan tidak membawa mudharat sehingga tidak menimbulkan unsur kekecewaan dari salah satu pihak baik penjual maupun pembeli.

(7)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Salah satu bentuk interaksi antar manusia yang paling sering dijumpai adalah jual beli. Oleh karena itulah Islam mengatur ini semua agar terwujud tatanan kehidupan yang berkeadilan. Termasuk rahmat Allah kepada segenap umat manusia adalah dihalal-kannya jual beli di kalangan mereka dalam rangka melestarikan komunitas Bani Adam hingga hari penghabisan serta melanggeng-kan hubungan antar mereka sebagai makhluk yang membutuhmelanggeng-kan orang lain.

Secara bahasa jual beli adalah pertukaran harta dengan harta. Secara syariat, makna (bai’) telah disebutkan beberapa definisinya oleh para fuqaha (ahli fiqh). Definisi terbaik adalah: Pertukaran/pemilikan harta dengan harta berdasarkan saling ridha melalui cara yang syar’i.1

Jaual beli dianggap sah secara syar’i bila memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Keridhaan kedua belah pihak penjual dan pembeli.

2. Yang melakukan akad jual beli adalah orang yang memang diperkenankan menangani urusan ini.

3. Barang yang diperjualbelikan harus halal dan ada unsur kemanfaatan yang mubah.

4. Barang yang diperjual belikan dapat diserahterimakan.

1

Said Abdul Azhim, Jual Beli (Jakarta: Qisthi Press, 2013), h. 34.

(8)

2

5. Akad jual beli dilakukan oleh pemilik barang atau yang mengantikan kedudukannya.

6. Barang yang diperjualbelikan ma’lum atau diketahui zatnya, baik dengan cara dilihat atau dengan sifat dan kriterianya.

Masing-masing syarat di atas mengandung sekian banyak permasalahan yang terkaitan dengan jual beli. Jika dirinci, akan diketahui mana mekanisme yang diperbolehkan dan mana yang terlarang secara syar’i.2 Sebagai agama yang lengkap telah memberikan petunjuk lengkap tentang perdagangan, termasuk didalamnya barang-barang yang tidak boleh diperjualbelikan. Sebagai muslim sudah sepantasnya kita mempelajari masalah ini agar terhindar dari perniagaan yang haram dan tidak di ridhai Allah SWT.

Mempelajari hukum jual beli termasuk kategori ilmu wajib, bagi orang yang ingin melakukan praktek jual beli, agar ia memahami betul urusannya sendiri dan urusan oran lain. Banyak kaum muslimin memandang remeh hal ini. Akibatnya mereka tidak saja menabrak syubhat, tetapi juga yang jelas-jelas haram.3 Namun dalam melakukan jual-beli ada ketentuan-ketentuan ataupun syarat-syarat yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar seperti jual beli yang dilarang yang akan kita bahas ini, karena telah menyelahi aturan dan ketentuan dalam jual beli, dan tentunya merugikan salah satu pihak, maka jual beli tersebut dilarang.4

2

Nur Fadhil Lubis, Hukum Islam dalam Kerangka teori Fikih dan Tata Hukum Indonesia (Medan: Pustaka Widyasarana , 1995), h . 121.

3

Said Abdul Azhim, Jual Beli (Jakarta: Qisthi Press, 2003), h. 11.

4

(9)

3

Dalam melakukan transaksi di pasar terutama pada warung makanan kebanyakan antara pembeli dan penjual tidak melakukan sighat. Dalam hukum Islam hal ini dibolehkan karena termasuk dalam ‘urf. Kata ‘Urf secara etimologi berarti “ Sesuatu yang di pandang baik dan diterima oleh akal sehat.” Sedangkan secara terminology, seperti yang dikemukakan oleh Abdul Karim Zaidan yang dikutip oleh M. Zein Efendi dalam karyanya dengan judul Ushul Fiqh dijelaskan bahwa istilah ‘Urf berarti :”Sesuatu yang tidak asing lagi bagi suatu masyarakat karena telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perbuatan atau perkataan. Hanya saja ketetapan hukumnya masih dipertanyakan apakah diperbolehkan dalam hukum Islam atau tidak diperbolehkan sama sekali”.5

Oleh sebagian ulama ushul fiqh, 'urf disebut adat (adat kebiasaan). 6 Berarti urf adalah sesuatu yang yang telah dikenal oleh masyarakat pada suatu tempat tertentu, dan mereka menjadikannya sebagai tradisi. Misalnya akad jual beli dalam fiqh Islam, akan sah jual beli tersebut bila ada kalimat ijab qabul (serah dan terima). Namun karena menurut kebiasaan, tanpa adanya serah terima penjualan dianggap telah terjadi transaksi, maka jual beli tanpa kalimat ijab kabul jual beli sudah dianggap sah.

Kedudukan ‘Urf Qauly’ (Urf perkataan) dalam hukum Islam ialah bahwa kata-kata yang diucapkan oleh seseorang harus diartikan menurut bahasa dan kebiasaannya yang berlaku pada waktu diucapkannya, meskipun berlawanan dengan arti hakiki yang semula, kerena kebiasaan yang datang kemudian telah

5

M. Zein Satria Effendi, Ushul Fiqh ( Jakarta: Kencana, 2008). h. 11.

6

(10)

4

memindahkan kata-kata tersebut kepada pengertian lain yang merupakan pengertian hakiki menurut ‘urf dan yang dituju pula sebagai imbangan dari pengertian hakiki menurut bahasa.

Ditinjau dari segi nilai atau hukumnya, Al-Urf terbagi dua macam:

1. ‘Urf Shahih yaitu ‘Urf yang baik dan dapat diterima, kerena tidak bertentangan dengan nash syara.7 Atau dapat diartikan Urf shahih adalah tradisi masyarakat yang tidak menghalalkan yang haram atau sebaliknya seperti kebiasaan masyarakat yang tidak memperbolehkan anak putrinya dibawa pindah ke rumah suaminya sebelum maharnya terbayar minimal separuh. Ini merupakan ‘urf yang bisa ditaati dan juga dirujuk oleh qadhi dalam proses pengadilan manakala muncul persoalan.8

2. ‘Urf Fasid yaitu ‘urf yang tidak dapat diterima kerena bertentangan dengan nash syara. ‘Urf Fasid adalah kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang menghalalkan perbuatan-perbuatan yang haram atau sebaliknya. Seperti melewatkan kewajiban shalat dalam pesta-pesta perkawinan atau yang sebangsanya. Mengambil keuntungan riba dalam usaha-usaha jasa keuangan dan yang sejenisnya.9

Berdasarkan latar belakang masalah diatas penulis merasa tertarik untuk meneliti dengan judul: “Konsep ‘Urf Dalam Jual Beli (Studi Kegiatan Jual Beli Pada warung Makanan di Kecamatan Langsa Kota).

7

Ahmad Hanafi. Pengantar Dan Sejarah Hukum Islam. (Jakarta: Bulan Bintang. 1991.), cek. Ke-6. h. 93.

8

Ibid, h. 94.

9

Zarkasji Abdul Salam dan Oman Fathurohman. Pengantar Ilmu Fiqh-Ushul Fiqh. (Yokyakarta: Bina Usaha. 1986.), Cek. Ke-1. h. 124.

(11)

5

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diteliti berdasarkan latar belakang penelitian adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana aktifitas jual beli warung makanan di kecamatan Langsa Kota? 2. Bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap konsep ‘urf dalam jual beli

warung makanan di Kecamatan Langsa Kota?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui aktifitas jual beli warung makanan di Kecamatan Langsa Kota.

b. Untuk mengetahui tinjauan hukum Islam terhadap konsep urf dalam jual beli warung makanan di Kecamatan Langsa Kota.

2. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang bermanfaat bagi semua pihak, terutama penulis harapkan penelitian ini memberikan kegunaan antara lain:

a. Kegunaan Pengembangan Ilmu

Kegunaan pengembangan ilmu ini diharapkan dapat berguna bagi : 1) Bagi penulis

Penelitian ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan mengenai hukum Islam mengenai konsep ‘urf.

(12)

6

2) Bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan serta informasi-informasi yang dibutuhkan bagi peneliti lain yang mempunyai bahasan yang sama, dan penulis harapkan hasil penelitian selanjutnya akan lebih baik.

b. Kegunaan Operasional

Kegunaan operasional ini di harapkan dapat berguna bagi : a) Pengusaha warung makanan

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk mengetahui tentang hukum Islam mengenai konsep ‘urf

b) Bagi pihak terkait

Hasil penelitian ini diharapkan pula dapat dijadikan masukan atau gambaran bagi pihak lainnya mengeani ketentuan hukum Islam mengenai konsep ‘urf .

D. Penjelasan Istilah

Penjelasan istilah diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman dan salah tafsir dalam pembahasan skripsi ini. Istilah-istilah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Jual Beli

Jual beli dalam bahasa arab disebut ba’i yang secara bahasa adalah tukar menukar10, sedangkan menurut istilah adalah tukar menukar atau peralihan kepemilikan dengan cara pergantian menurut bentuk yang diperbolehkan oleh

10

(13)

7

syara’11 atau menukarkan barang dengan barang atau barang dengan uang, dengan jalan melepaskan hak milik dari seseorang terhadap orang lainnya atas kerelaan kedua belah pihak.12

2. Konsep ‘urf

Kata ‘urf secara etimologi berarti “ sesuatu yang di pandang baik dan diterima oleh akal sehat” sedangkan secara terminology, seperti yang dikemukakan oleh Abdul -karim Zaidah, istilah ‘Urf berarti : “Sesuastu yang tidak asing lagi bagi suatu masyarakat karena telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perbuatan atau perkataan.”13

E. Kerangka Teori

Jual beli dalam bahasa arab disebut ba’i yang secara bahasa adalah tukar menukar,14 sedangkan menurut istilah adalah tukar menukar atau peralihan kepemilikan dengan cara pergantian menurut bentuk yang diperbolehkan oleh syara’.15

1. Perkataan jual beli sebenarnya terdiri dari dua suku kata yaitu “jual dan beli”. Sebenarnya kata “jual” dan “beli” mempunyai arti yang satu sama

11

Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2003), h. 193.

12

Ibnu Mas’ud & Zainal Abidin, Fiqih Madzhab Syafi’i, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), h. 22.

13

Satria Effendi, M. Zein, MA, Ushul fiqih, (Jakarta: kencana, 2005), h. 87.

14

Imam Ahmad bin Husain, Fathu al-Qorib al-Mujib, (Surabaya: al-Hidayah), h. 30.

15

(14)

8

lainnya bertolak belakang Kata jual menunjukkan bahwa adanya perbuatan menjual, sedangkan beli adalah adanya perbuatan membeli.16

2. Jual beli artinya menjual, mengganti dan menukar (sesuatu dengan sesuatu yang lain). Kata dalam bahasa arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yaitu kata yang artinya beli. Dengan demikian kata berarti kata “jual” dan sekaigus kata “beli”.17

Pada dasarnya, syariat Islam dari masa awal banyak menampung dan mengakui adat atau tradisi itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Kedatangan Islam bukan menghapuskan sama sekali tradisi yang telah menyatu dengan masyarakat tetapi secara selektif ada yang diakui dan dilestarikan serta ada pula yang dihapuskan. Misal adat kebiasaan yang diakui, kerja sama dagang dengan cara berbagi untung (al-mudarabah). Praktik seperti ini telah berkembang di bangsa Arab sebelum Islam. Berdasarkan kenyataan ini, para Ulama menyimpulkan bahwa adat istiadat yang baik secara sah dapat dijadikan landasan hokum bilamana memenuhi beberapa persyaratan.

F. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu pendekatan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis

16

ChairumanPasaribu, et. Al., Hukum Perjanjian dalam Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, Cet.Ke-2, 1996), h. 33.

17

M.aliHasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003), h. 113.

(15)

9

atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.18 Metode kualitatif deskriptif, merupakan metode penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, jadi ia juga menyajikan data, menganalisis, dan menginterpretasi.19

Lebih terperinci pendekatan penelitian yang penulis lakukan dalam penyusunan skripsi ini adalah dengan cara melihat dan mengamati gejala-gejala sosial yang terjadi pada masyarakat terhadap konsep ‘urf dalam jual beli (studi kegiatan jual beli pada warung makanan di Kecamatan Langsa Kota).

2. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti akan mendapat atau memperoleh suatu data. Lokasi penelitian adalah pada warung makanan di Kecamatan Langsa Kota, dengan mempertimbangkan bahwa di warung makanan di Kecamatan Langsa Kota ini banyak penjual dan pembeli melakukan transaksi tanpa menggunakan akad, sehingga warung makanan di Kecamatan Langsa Kota tersebut memenuhi karakteristik yang refsentatif untuk mendapat gambaran mengenai masalah yang akan diteliti.

3. Jenis dan Sumber Data a. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan penulis menggunakan jenis penelitian field research (penelitian lapangan), yaitu teknik pengumpulan data dimana penulis langsung turun ke

18

Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif,.. h.151.

19

Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h. 44

(16)

10

lapangan untuk memperoleh data dan informasi yang berkenaan dengan judul skripsi, yakni pada konsep ‘urf dalam jual beli (studi kegiatan jual beli pada warung makanan di Kecamatan Langsa Kota)..

Melalui pendekatan kualitatif ini diharapkan diperoleh pemahaman dan penafsiran yang mendalam mengenai makna dan fakta yang relevan. Penelitian dengan pendekatan kualitatif dimaksud untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara jelas dan rinci mengenai “Konsep ‘Urf Dalam Jual Beli (Studi Kegiatan Jual Beli Pada Warung Makanan di Kecamatan Langsa Kota).” dengan mengungkapkan gejala secara menyeluruh sesuai dengan holistic dan konstektual.

b. Sumber Data

1) Sumber data primer

Sumber data primer merupakan keterangan yang diperoleh secara langsung dari sumber pertama yaitu pihak-pihak yang dipandang mengetahui obyek yang diteliti.

2) Sumber data sekunder.

Sumber data sekunder merupakan sumber data yang sifatnya mendukung sumber data primer. Sumber data sekunder ini meliputi buku-buku, jurnal, hasil penelitian yang berhubungan dengan judul penelitian. Pada penelitian ini penulis menggunakan sumber data primer dan sekunder yang berhubungan dengan masalah yang diangkat.

4. Tekhnik Pengumpulan Data

Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, dikumpulkan melalui tiga cara yaitu:

(17)

11

a. Wawancara

Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam (in depth interview) yaitu proses untuk mendapat informasi peneliti dengan tata cara tanya jawab sambil tatap muka antara pewawancara dengan informan. Dalam penelitian ini adalah orang- orang yang berkaitan langsung serta berkompeten dengan objek penelitian untuk mendapat informasi mengenai kegiatan jual beli tanpa menggunakan akad di warung makanan di Kecamatan Langsa Kota. Pedoman wawancara pada penelitian ini adalah pedoman wawancara tidak terstruktur yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan.

Dalam hal ini penulis mewawancarai penjual dan pembeli untuk mendapat jawaban yang akurat terhadap kegiatan jual beli tanpa menggunakan akad di warung makanan di Kecamatan Langsa Kota dengan mencocokkan kedalam hukum Islam dan kenyataan yang terjadi.

Wawancara dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang disusun dalam daftar pertanyaan yang telah disiapkan terlebih dahulu.

b. Observasi

Observasi pendahuluan dilakukan penulis untuk mengetahui keadaan daerah penelitian guna penjajakan dan pengambilan data primer mengenai hal-hal yang berkaitan dengan gambaran umum lokasi penelitian.

Pengamatan dan pencatatan secara sistimatis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.20 Metode ini mengamati secara langsung terhadap hal-hal yang mendukung dalam penelitian, mengamati dan ikut terlibat langsung dalam

20

Suharsimin Arikunto, Prosedur Penulisan Suatu Pendekatan Praktis (Jakarta : Rineka Cipta,1993), h. 117

(18)

12

kegiatan masyarakat khususnya kegiatan yang bekaitan langsung dengan fokus kajian.

c. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau literatur yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.21 Adapun tujuan penggunaan metode ini adalah untuk mendapatkan data tentang dokumen-dokumen yang ada, melalui sumber-sumber yang berkaitan dengan kajian yang dibahas.

Dokumentasi yang penulis maksudkan pada penelitian ini adalah usaha pengumpulan data yang didapat dengan cara mengumpulkan dokumen yang ada seperti buku-buku atau tulisan-tulisan yang terdapat dalam agenda maupun arsip yang ada di Kecamatan Langsa Kota.

5. Panduan Penulisan

Sedangkan untuk penyeragaman penulisan, penulisan menggunakan buku pedoman penulisan skripsi yang diterbitkan oleh Jurusan Syariah STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa Tahun 2014.

G. Sistematika Pembahasan

Sebagai lazimnya, supaya tercapai sasaran dan tujuan yang ingin dicapai dengan penulisan skripsi ini, maka penulisan skripsi ini di bagi atas beberapa pembahasan sebagai berikut:

21

(19)

13

Bab satu merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan istilah, kerangka teori, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab dua merupakan gambaran umum jual beli yang meliputi pengertian jual beli dan dasar hukum jual beli, rukun dan syarat jual beli, jual beli yang dilarang dan dibolehkan, hikmah pensyariatan jual beli, dan jual beli al-mu’athah.

Bab tiga merupakan pembahasan konsep ‘urf dalam hukum Islam yang berisikan pengertian dan dasar hukum ‘urf, kedudukan ‘urf dalam sumber hukum Islam, dan syarat-syarat ‘urf, serta pembagian ‘urf.

Bab empat merupakan hasil penelitian yang berisikan gambaran umum lokasi penelitian, aktifitas jual beli di warung makan Kecamatan Langsa Kota, dan tinjauan hukum Islam terhadap konsep ‘urf dalam jual beli warung makanan di Kecamatan Langsa Kota, serta analisis penulis.

Bab lima merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan dan saran-saran.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :