• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Anggrek I. PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Anggrek I. PENDAHULUAN"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

Permintaan pasar domestik maupun international akan anggrek cenderung terus meningkat dalam beberapa tahun terkhir. Anggrek banyak dipergunakan untuk berbagai keperluan seperti upacara keagamaan, hiasan dan dekorasi ruangan, ucapan selamat serta untuk ungkapan duka cita. Hongkong, Singapura dan Amerika Serikat merupakan negara pengimpor terbesar anggrek yang berasal dari Indonesia karena anggrek Indonesia memiliki keunikan bentuk dan warna bunga yang berbeda dengan anggrek manapun di dunia, kondisi pasar di dalam dan luar negeri yang sangat cerah mendorong minat masyarakat untuk membudidayakan anggrek dengan tujuan komersial. Anggrek dapat menjadi sumber devisa potensial disamping menjadi sumber penghasilan bagi petani dan pendapatan asli daerah.

Perkembangan teknologi memungkinkan untuk menghasilkan anggrek beranekaragam, seperti bentuk dan warna bunga yang menarik, tahan lama dengan harga yang relatif terjangkau. Keragaman penampilan bunga anggrek sangat diperlukan untuk memenuhi permintaan segmen pasar khususnya masyarakat golongan tertentu yang mempunyai selera eksklusif dan fanatik. Ketidakmampuan penyediaan anggrek di dalam negeri yang tidak sesuai dengan selera konsumen menyebabkan peningkatan impor anggrek. Di pihak lain, lembaga penelitian dan nurseri dalam negeri telah mampu mengembangkan varietas-varietas baru yang dapat bersaing dengan produk impor. Aplikasi teknologi budidaya secara intensif dapat meningkatkan efisiensi produksi dan mutu dalam menghasilkan bunga anggrek yang mampu bersaing dengan produk impor. Dengan kondisi agroklimat dan sumberdaya manusia serta dukungan teknologi inovatif dan investasi yang memadai pengembangan usaha anggrek dalam negeri diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan devisa, dan penumbuhan industri sarana produksi, produk sekunder dan jasa transportasi.

Sebagai negara yang baru terbebas dari krisis multidimensi, Indonesia membutuhkan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menjadi penopang kehidupan ekonomi dengan kekayaan sumber daya

(2)

2

genetik anggrek yang melimpah, selayaknya Indonesia mengembangkan anggrek sebagai komoditas andalan dalam pembangunan ekonomi nasional. Untuk merealisasikan anggrek sebagai komoditas andalan dibutuhkan strategi dan kebijakan komprehensif yang dijabarkan menjadi program dan kegiatan yang diimplementasikan secara konsisten dan berkelanjutan dengan melibatkan kerjasama sinergis dari seluruh stakeholders terkait. Kerjasama antar stakeholder diarahkan pada pengembangan investasi di semua segmen dari hulu ke hilir dalam sistem agribisnis anggrek. Di segmen hulu investasi diarahkan kepada pengembangan infrastruktur dan sarana/prasarana produksi, perluasan area tanaman dan penciptaan teknologi inovatif, sedang investasi di tingkat on farmdiarahkan pada intensifikasi dan ekstensifikasi produksi serta penguatan mutu produk. Di segmen hilir investasi ditujukan pada peningkatan nilai tambah melalui penanganan pasca panen, perbaikan efisiensi dan perluasan pemasaran serta pengembangan industri jasa penunjang.

(3)

II. KONDISI AGRIBISNIS ANGGREK SAAT INI

A. Usaha Pertanian Primer

1. Luas panen, produksi dan produktivitas

Perkembangan usaha anggrek dapat dilihat dari luas areal panen di beberapa propinsi di Indonesia. Dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2005, luas areal panen tanaman anggrek sangat berfluktuasi. Dari tahun 2003 sampai dengan 2005 untuk beberapa daerah mengalami peningkatan luas areal panen, seperti: Sumatera Utara, DKI Jakarta, Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Gorontalo, sedangkan sebagian daerah mengalami penurunan luas panen seperti: Jambi, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Adapun daerah sentra anggrek di Indonesia meliputi Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali (Tabel 1). Peta lokasi sentra agribisnis dan produksi anggrek di Indonesia disajikan dalam Lampiran 1 dan 2.

Fluktuasi luas areal panen sangat berpengaruh terhadap produksi anggrek secara nasional. Meskipun luas panen berfluktuasi, produktivitas tanaman anggrek cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 1989 produktivitas tanaman anggrek hanya mencapai 2,39 tangkai/tanaman/tahun, tetapi pada tahun 2002 produktivitas tanaman anggrek meningkat menjadi 3,97 tangkai/tanaman/tahun (Tabel 2). Bila dibandingkan dengan produktivitas anggrek dari Thailand yang rata-rata 10 – 12 tangkai/tanaman/tahun, produktivitas anggrek di Indonesia jauh lebih rendah yaitu baru mencapai 3 – 4 tangkai/tanaman/tahun.

(4)

Tabel 1. Luas panen tanaman anggrek menurut provinsi

Luas Panen Anggrek (m2)

No Propinsi 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 1 Sumatra Utara 406.832 60.610 105,796 73.023 27.532 32.197 44.123 2 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 9.811 3 Riau*) 1.760 733 598 1.099 1.272 4.564 4.033 4 Jambi 7.132 5.139 7.988 5.032 9.036 1.437 1.097 5 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 12.873 6 Lampung 0 0 0 0 0 0 4.578

7 Kep. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 8.576

8 DKI Jakarta 172.128 126.097 77.765 150.795 84.075 181.541 188.561 9 Jawa Barat 628.945 475.967 346.597 261.284 270.807 172.443 150.554 10 Jawa Tengah 145.035 89.931 82.148 104.603 93.375 58.094 30.848 11 DI Yogyakarta 69.085 73.075 68.847 42.265 55.556 61.135 3.641 12 Jawa Timur 128.178 41.935 31.176 25.035 338.295 850.629 334.123 13 Banten 0 0 53.022 339.190 272.342 282.291 284.193 14 Bali 124.507 40.988 38.681 106.322 33.614 530.597 35.181 15 NTB 0 0 0 0 0 0 436 16 NTT 0 0 0 0 0 0 2.522 17 Kalimantan Barat 7.041 8.499 15.010 20.056 23.390 49.824 49.294 18 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 4.071 19 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 8 20 Kalimantan Timur 5.155 12.943 4.279 5.511 11.842 17.102 4.501 21 Sulawesi Utara 4.369 3.505 4.638 2.981 5.818 7.471 25.299 22 Sulawesi Selatan**) 20.530 11.317 4.964 4.000 8.817 9.010 14.644 23 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 210 24 Gorontalo 0 0 1.065 1.065 1.914 2.129 4.526 25 Papua 0 0 0 0 0 0 801

26 Irian Jaya Barat 0 0 0 0 0 0 1.609

Indonesia 1.720.697 950.739 842.574 1.142.261 1.237.685 2.260.464 1.221.524

Sumber : Direktorat Tanaman Hias, 2004; Direktorat Jenderal Hortikultura, 2002-2006

Keterangan: *) Termasuk data Provinsi Kepulauan Riau **) Termasuk data Provinsi Sulawesi Barat

(5)

2. Biaya dan penerimaan usaha tani

Anggrek dapat dipasarkan dalam bentuk kompot, tanaman individu/tanaman remaja dan tanaman dewasa. Untuk menghasilkan produk-produk tersebut diperlukan biaya produksi yang berbeda. Dari analisis usahatani (luasan 1.000 m2), untuk usaha kompot setelah

ditambahkan bunga modal dibutuhkan biaya sebesar Rp. 140.396.843,-, untuk tanaman individu/tanaman remaja dibutuhkan biaya sebesar Rp 120.566.110,-, dan untuk usaha tanaman dewasa dibutuhkan biaya sebesar Rp 208.208.167,- (Tabel 3). Dilihat dari sisi penerimaan, usahatani tanaman dewasa memberikan penerimaan terbesar yaitu Rp 252.105.000,-, diikuti oleh usahatani kompot (Rp 194.407,50,-) , dan tanaman remaja (Rp 180.075.000,-). Namun bila dilihat dari rasio R/C , pengusahaan tanaman anggrek dalam bentuk tanaman individu atau remaja lebih menguntungkan dibandingkan produk lainnya (rasio R/C sebesar 1,49 (Tabel 3). Rasio R/C sebesar 1,49 artinya bahwa setiap Rp 1,- yang dikeluarkan untuk pengusahaan anggrek dalam bentuk tanaman individu/remaja akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 1,49,-. Analisis usaha tani anggrek

Dendrobiumselengkapnya disajikan dalam Lampiran 3 dan 4. Tabel 2. Produktivitas tanaman anggrek di Indonesia, 1989-2005

Tahun Jumlah Tanaman Produksi (tangkai) (tangkai/tanaman/Produktivitas tahun) 1989 6.394.265 15.250.622 2,39 1990 7.455.456 15.474.695 2,08 1991 4.420.229 13.846.546 3,13 1992 4.126.427 11.714.457 2,84 1993 3.806.362 11.129.935 2,92 1994 4.147.122 11.576.063 2,79 1995 3.039.477 11.614.355 3,82 2000 950.739 3.260.858 3,43 2001 1.205.764 4.450.787 3,69 2002 1.257.607 4.995.735 3,97 2003 6.904.109 6,00* 2004 8.027.720 3,55* 2005 7.902.403 4,95*

Sumber : Direktorat Tanaman Hias, 2004 (diolah) Keterangan: *)Tangkai/m2

(6)

Tabel 3. Analisis usahatani anggrek Dendrobium berdasarkan jenis usaha, 2007

Parameter Analisis Usaha Tani (Rp 000)

Hulu Primer

Uraian

Benih Kompot Individu/tanremaja Tanamandewasa

Biaya tetap 1.260.000 22.654,44 16.861,11 14.766,67

Biaya tidak tetap 200.000 106.150,00 93.750,00 176.250,00

Total biaya 1.460.000 128.804,44 110.611,11 191.016,67

Total biaya + bunga 1.722.800 140.396,84 120.566,11 208.208,17

Penerimaan 2.250.000 194.407,50 180.075,00 252.105,00

Keuntungan 527.200 53.978,16 59.508,89 43.896,83

R/C ratio 1,31 1,39 1,49 1,21

3. Kalender pertanaman

Pertanaman anggrek dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

a. Protocorm like bodiessampai menjadi plantlet siap keluar dari botol membutuhkan waktu 2 tahun.

b. Kompot (Community pot) untuk mendapatkan seedling dalam bentuk kompot diperlukan waktu 6 bulan

c. Tanaman individu untuk mendapatkan seedling dalam bentuk individu membutuhkan waktu 6 bulan

d. Tanaman remaja untuk mendapatkan seedling dalam bentuk individu menjadi tanaman remaja membutuhkan waktu 6 bulan e. Tanaman dewasa untuk mendapatkan tanaman remaja menjadi

dewasa dan siap berbunga membutuhkan waktu 6 bulan.

(7)

7

Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Stadia tanaman 6 bulan

ke1 6 bulanke2 6 bulanke1 6 bulanke2 6 bulanke1 6 bulanke2 6 bulanke1 6 bulanke2 Eksplan-plb Proliferasi plb Plb-plantlet Kompot (aklimatisasi) Tanam individu Remaja Dewasa/berbunga dst

Keterangan: plb = protocorm like bodies

Gambar 1. Kalender pengusahaan anggrek dari tingkat hulu hingga ke tingkat primer

B. Usaha Agribisnis Hulu

Pengusaha/petani yang menggunakan benih yang sesuai standar mutu untuk produksi bunga masih terbatas. Kebanyakan pengusaha/petani kecil membeli benih hanya sekali, selanjutnya benih tersebut digunakan secara terus-menerus tanpa ada upaya untuk memperbaharui. Penggunaan benih tersebut akan menyebabkan penurunan kualitas genetik secara drastis (untuk jenis tertentu), dan ketahanan terhadap hama dan penyakit.

Kebutuhan bibit anggrek botolan kompot dan seedling di Indonesia masih terbatas, belum dapat dipenuhi pengusaha anggrek sehingga masih diimpor. Pengusaha benih botolan mampu menghasilkan 4.000 – 6.000 botol dalam satu bulan yang dihasilkan dari persilangan 2 (dua) tanaman induk. Media yang populer digunakan pengusaha benih anggrek adalah mediaVacin and Wentdan 3 (tiga)enkastyang mampu menghasilkan 150 – 200 botol dalam sehari. Diperkirakan harga media per botol Rp. 5.000,-dan harga jual benih anggrekDendrobiummencapai Rp. 25.000,- per botol dengan harga benih anggrek Phalaenopsis berkisar antara Rp. 50.000,-sampai dengan Rp. 100.000,- . Nama perusahaan benih anggrek botolan di Jawa Timur antara lain adalah Handoyo Harjo, Royal Orchids, Simanis Orchids, Edward & Frans, Sien Orchids, Suryanto Orchids, Lawang Orchids,

(8)

dan Indah Orchids. Pengusaha benih botolan di Jawa Barat adalah PT Melrimba, PT Dafa Teknologi Mandiri, PT Rumah Anggrek Rizal, Ayub dan lain-lain.

Persyaratan yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan usaha perbenihan adalah (1) lokasi : jarak tempat produksi dengan pasar, (2) jenis produk : produksi massal atau niche products, (3)

efisiensi produksi : daya saing yang ditentukan oleh efisiensi produksi, (4)nilai produk: nilai ekonomis dari produk.

Permasalahan utama dalam perbenihan tanaman anggrek khususnya di daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta adalah: hama dan penyakit terutama penyakit virus (Muharam dan Dyah Widiastoety, 1999). Oleh karena itu, permasalahan tersebut perlu mendapatkan penanganan serius guna mendukung pengembangan perbenihan anggrek nasional yang tangguh dan berdaya saing.

Usaha perbenihan anggrek memerlukan biaya yang sangat besar. Dari hasil analisis usahatani yang dilakukan untuk luasan 200 m2, biaya

per 2 tahun yang dibutuhkan untuk usaha perbenihan anggrek

Dendrobium setelah ditambahkan dengan bunga modal adalah sebesar Rp. 1.722.800.000,-, dengan penerimaan sebesar Rp. 2.250.000.000 dan rasio R/C 1,31 (Tabel 3)

C. Pasar dan Harga

Selera konsumen terhadap mutu bunga potong anggrek berkembang dinamis dari waktu ke waktu selaras dengan perubahan selera pasar internasional. Selera konsumen ditentukan oleh keunikan kombinasi warna, ukuran, susunan, dan bentuk bunga dan periode kesegaran bunga. Pada tahun 1983 selera konsumen terhadap anggrek

Vanda lebih tinggi (48,92%) dibandingkanDendrobium. Sedangkan pada tahun 1986 selera konsumen mulai berubah, yang semula lebih menyukaiVandatetapi kemudian proporsinya sama denganDendrobium

(Soerojo, 1991). Pada saat ini anggrek yang dominan disukai masyarakat adalah jenis Dendrobium (34%), diikuti oleh Oncidium

Golden Shower (26%), Cattleya (20%) dan Vanda (17%), serta anggrek lainnya (3%). Anggrek Dendrobium banyak digunakan dalam rangkaian karena relatif lebih tahan lama, warna bunga lebih bervariasi, tersedia cukup banyak, tangkainya lentur sehingga mudah dirangkai dan harganya relatif murah. Cattleya bunganya berukuran besar dan indah,

(9)

tetapi kurang tahan dan harganya relatif lebih mahal. Bunga ini hanya digunakan sebagai pemanis dalam rangkaian bunga anggrek. SedangkanVanda umumnya digunakan dalam rangkaian besar, karena tangkainya agak kaku. Selain itu bunga Vanda kadang-kadang digunakan pula sebagai pemanis pada gelas minum (di restoran). Dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maka para penangkar banyak mengusahakan jenis anggrek Dendrobium, Cattleya, Phalaenopsis, Cymbidium, Vanda, Oncydium, Paphiopedilum dan lain-lain.

Pemilihan warna bunga anggrek banyak dipengaruhi oleh tujuan penggunaannya. Pada hari Natal warna bunga yang disukai didominasi oleh warna putih. Pada hari raya Imlek warna merah, pink dan ungu lebih disukai; sedangkan untuk keperluan ulang tahun warna lembut, seperti putih, pink, ungu banyak digunakan. Untuk menyatakan belasungkawa umumnya masyarakat menggunakan warna kuning dan ungu (Nurmalinda dkk. 1996).

Pasar anggrek terdiri atas pasar dalam negeri dan luar negeri. Konsumen pasar dalam negeri terdiri atas penggemar dan pecinta anggrek, pedagang keliling tanaman anggrek, pedagang tanaman anggrek pada kios di tempat-tempat tertentu dalam kota, perhotelan, perkantoran, gedung-gedung pertemuan, pengusaha pertamanan dan toko bunga/florist. Jenis-jenis anggrek yang banyak diminta pasar adalah Vanda, Dendrobium dan Oncidium Golden Shower (Tabel 4). Untuk memenuhi permintaan konsumen anggrek dalam negeri, selain dipenuhi oleh produksi dalam negeri juga dari produk impor khususnya untuk jenis-jenis tertentu, sepertiPhalaenopsisdanDendrobium.

Tabel 4. Jenis dan jumlah (tangkai) anggrek yang banyak dijual di Jakarta Tahun Penjualan (tangkai)

Anggrek

1996 1997 1998 1999 2000

1.VandaDouglas 9.335.150 7.501.500 6.094.875 5.110.625 6.510.025 2.Dendrobium 2.017.700 1.812.000 1.539.500 1.443.750 1.848.334 3.OncidiumGolden Shower 763.500 687.200 1.530.000 525.400 627.500 4.Aranthera James Storie 376.500 306.550 275.600 287.650 352.644 5.ArachnisMaggie Oie 629.700 456.600 268.500 182.900 219.231

6.Cattleya 8.545 5.498 7.370 6.322 9.287

Total 13.131.095 10.769.348 9.715.845 7.556.647 9.567.021

Sumber: Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta tahun 2001

(10)

0

Harga rata-rata bunga potong anggrek Dendrobium, Oncidium

Golden Shower, PhalaenopsisdanArachnis Magie Oei dari tahun 2002 ke tahun 2003 cenderung turun. Namun untuk jenis anggrek lainnya menunjukkan peningkatan (Tabel 5).

Tabel 5. Perkembangan harga rata-rata bunga potong anggrek (Rp per tangkai) 2002 2003 Jenis Anggrek HRR HTT HRR HTT Dendrobiumhybrid A. Ukuran S 2.994,36 3.000,00 2.792,32 3.042,86 B. Ukuran M 3.408,88 3.500,00 3.318,92 3.542,86 C. Ukuran L 4.013,74 4.236,90 3.771,54 4.057,14 VandaDouglas 468,12 740,48 598,05 838,09

OncidiumGolden Shower 77,14 87,75 72,82 87,14

ArantheraJames Storie 1.607,08 2.875,00 2.286,40 3.050,00 AranchnisMagie Oie 328,26 384,10 229,92 378,58

Cattleya 6.833,00 9.018,00 7.474,00 9.283,00

Phalaenopsis 2.855,00 3.500,00 2.583,00 3.167,00

Keterangan : HRR : Harga Rata-rata HTT : Harga Tertinggi

D. Ekspor dan Impor 1. Ekspor

Perkembangan industri anggrek di Indonesia pada periode 1997 – 1999, saat krisis ekonomi berlangsung di Indonesia, menurun drastis. Dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional sekitar tahun 2000, industri anggrek mulai menunjukkan peningkatan aktivitas. Hal ini diperlihatkan oleh ekspor anggrek tahun 2000 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Bila dilihat dari perkembangan ekspor, anggrek yang diekspor Indonesia terdiri atas tiga bentuk yaitu seedling, tanaman dan bunga potong. Pada tahun 2001 ekspor anggrek Indonesia mencapai 759.378 kg atau senilai 1.435.522 US dollar. Tahun 2002 sampai dengan 2004 mengalami penurunan, tetapi tahun 2005 kembali mengalami peningkatan yang cukup besar dibandingkan tahun 2004, yaitu sebesar 426.113 kg tahun 2004 menjadi 848.649 kg tahun 2005 dengan nilai 1.593.149 US dollar (Tabel 6).

(11)

Ekspor bibit dan tanaman anggrek dilakukan melalui bandar udara dan pelabuhan laut. Ekspor seedlingdan bunga potong terbesar adalah melalui bandara Soekarno-Hatta, sedangkan ekspor tanaman terbesar melalui pelabuhan Tanjung Priok (Tabel 7). Negara tujuan ekspor anggrek Indonesia tahun 2001 meliputi 19 negara, yaitu Belanda (US$ 537.877), Inggris (US$ 316.122), Jepang (US$ 74.057), Kanada (US$ 71.468) dan Singapura (US$ 40.652). Namun tahun 2002 jumlah negara tujuan ekspor anggrek mengalami penurunan, yaitu menjadi 13 negara, dan tahun 2003 kembali mengalami peningkatan menjadi 20 negara, dengan tambahan negara China, Brunei Darussalam, Denmark, Perancis, India, Polandia dan Montserrat. Pada tahun 2005 negara tujuan ekspor kembali menurun menjadi 7 negara, tetapi

nilai ekspor mengalami

peningkatan, yaitu dari US$ 1.040.973 tahun 2004 menjadi US$ 1.535.934 tahun 2005. Negara tujuan ekspor anggrek dari Indonesia tahun 2005 adalah Jepang, Kanada dan Korea. Untuk bibit, negara tujuan ekspor tahun 2001 meliputi 14 negara dengan negara tujuan ekspor terbesar adalah Pakistan, Kanada, Taiwan, Belanda dan Amerika. Namun pada tahun 2005 negara tujuan ekspor bibit anggrek mengalami penurunan menjadi hanya lima negara, yaitu Singapura, Amerika, Kanada, Rusia dan Polandia dengan total nilai ekspor sebesar US$ 25.044 (Tabel 8). Tabel 6. Perkembangan volume dan nilai ekpor/impor anggrek 2001 – 2005

Ekspor Impor

Tahun

Volume (kg) Nilai (US$) Volume (kg) Nilai (US$)

2001 759.378 1.435.522 51.445 423.920 2002 744.732 1.189.558 78.054 182.734 2003 711.344 1.710.982 103.941 226.882 2004 426.113 1.325.954 138.781 350.047 2005 848.649 1.593.149 156.188 611.564 Sumber: BPS, 2002-2006

(12)

2

Tabel 7. Ekspor anggrek melalui bandara dan pelabuhan laut (1999)

Bibit /Seedling Tanaman /Plant Bunga /Flower

Port of Origin for Export BersihBerat Net Weight Nilai ValueUS$ Berat Bersih Net Weight Nilai ValueUS$ Berat Bersih Net Weight Nilai ValueUS$

1. Batu Ampar (Riau) 15.511 16.111 3.690 2.173

-2. Sekupang (Batam) 14.565 11.211 53.235 33.093 - -3. Kabil/Panau 547 295 - - - -4. Tanjung Priok (Jkt) 6.666 1.000 419.099 113.772 11.463 90.145 5. Sukarno Hatta (Jkt) 86.751 167.565 107.108 1.640.688 21.453 270.216 6. Tanjung Emas (Smrg) 76.176 9.435 - - - -7. Juanda (Surabaya) 345 3.193 1.143 17.838 - -8. Tanjung Perak (Sbya) - - 27.000 65.000 -

-9. Ngurah Rai (Bali) 37 434 140 8.800 -

-10. Ujung Pandang 19.278 7.366 - - -

-11. Polonia (Medan) - - 2.431 16.768 -

-12. Sepinggan (Kaltim) - - 140 490.982 -

-Total 219.876 216.610 613.986 2.389.114 32.916 36.0361

Sumber : WTO, 2002

Negara tujuan ekspor bunga potong Indonesia telah mencapai 26 negara, dimulai dengan lima negara pada tahun 1997, yaitu Singapura, Hongkong, Jepang, Belanda dan Taiwan. Tahun 1998 ekspor bunga anggrek hanya dilakukan ke negara Singapura, Belanda, Brunei dan Soviet Lama. Pada tahun 1999 ekspor bunga potong anggrek berkembang hingga mencapai 17 negara tujuan, tambahan negara tujuan ekspor tahun 1999 adalah Amerika Serikat, Italia, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Cina, Australia, Kuwait, Malaysia, Bahrain, Fiji, dan Srilangka. Tahun 2000 negara tujuan ekspor Indonesia bertambah lagi, yaitu Inggris, Kanada, Kamboja, Swiss, Senegal dan Norwegia. Negara tujuan ekspor bunga potong anggrek pada tahun 2001 adalah 14 negara dengan 3 negara yang memiliki nilai ekspor terbesar, yaitu Jepang (US$ 377 ribu), Singapura (US$ 292 ribu), Amerika Serikat (US$ 213 ribu). Untuk tahun 2002-2004 tidak tersedia data, tetapi tahun 2005 nilai ekspor anggrek mencapai US$ 321.171 (FOB), ekspor terbesar ke negara Amerika, Australia dan Singapura. Berbagai negara tujuan ekspor bunga potong anggrek disajikan pada Tabel 9.

(13)

Ta be l8 .N eg ar a tu ju an ek sp or an gg re k In do ne si a, ta hu n 20 01 -2 00 5 (U S$ -F O B) Ek sp or Ta na m an Ta hu n Ek sp or Be ni h/ bi bi t Ta hu n N eg ar a Tu ju an Ek sp or 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 1. Be la nd a 53 7. 87 7 26 7. 05 4 24 5. 17 1 35 .2 23 85 .9 16 29 .8 58 47 .9 31 12 .8 33 12 .1 67 -2. Si ng ap ur a 40 .6 52 75 .4 27 20 .5 78 6. 43 1 3. 80 9 9. 16 4 3. 45 6 2. 97 2 7. 23 8 18 .8 29 3. H on gk on g 3. 59 7 4. 98 9 1. 40 0 -4. 56 5 6. 56 2 2. 80 0 -4. Am er ik a 7. 74 1 13 7. 64 9 88 .0 31 5. 03 6 65 .2 52 23 .7 41 13 .2 14 10 1. 00 0 18 ..5 19 3. 61 4 5. It al ia 24 .7 96 -67 .0 00 1. 12 3 -6. Ko rs el 27 .1 26 2. 64 1 4. 00 0 -11 6. 40 2 17 .0 83 70 .2 70 -1. 74 0 -7. Je rm an 10 .2 00 3. 70 6 2. 39 7 1. 10 3 -96 .0 00 -20 8. 42 4 -8. In gg ris 31 6. 12 2 36 .9 52 1. 26 4 -12 0. 00 0 -23 6. 00 0 1. 23 4 -9. Ka na da 71 .4 68 14 7. 77 8 15 4. 34 8 76 .2 98 12 7. 45 6 59 .6 18 21 .7 44 2. 93 6 16 .8 64 1. 62 3 10 .T ai w an 4. 65 3 8. 87 8 11 7. 24 3 42 .6 88 43 .9 20 51 .8 35 24 .1 01 20 .8 50 69 .0 00 -11 .J ep an g 74 .0 57 27 5. 72 7 50 2. 23 8 86 9. 16 0 1. 09 2. 75 9 8. 99 0 93 3. 00 0 9. 89 2 5. 52 4 -12 .B ul ga ria -76 5. 00 0 -13 .C hi na 23 .5 20 -3. 65 2 -14 .A us tr al ia 5. 75 5 -8. 25 0 -15 .B ru ne i 41 0. 00 0 -2. 83 1 -16 .D en m ar k -1. 08 1 -1. 14 0 65 0. 00 0 -17 .P er an ci s -48 2. 98 8 -99 .0 00 30 .0 00 54 0. 00 0 3. 96 2 -18 .M au rit hi us -1. 03 5 -19 . H on ga ria -91 0. 00 0

-PD

F

cr

ea

te

d

w

ith

pd

fF

ac

to

ry

Pr

o

tri

al

ve

rs

io

n

www.pdffactory.com

(14)

Ek sp or Ta na m an Ta hu n Ek sp or Be ni h/ bi bi t Ta hu n N eg ar a Tu ju an Ek sp or 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 20 .T ha ila nd -5. 05 0 -21 .U ni Em ira t -22 .M al ay si a -4. 98 8 44 8. 00 0 -2. 23 6 6. 61 0 7. 82 5 -23 .B el gi a -16 5. 00 0 30 .0 00 -24 . R us ia -57 6. 00 0 25 . I nd ia 1. 36 6 61 5. 00 0 -13 .2 80 -26 .C os ta R ic a 1. 37 0 -27 .A us tri a 1. 75 8 -30 .0 00 -28 .S w itz er la nd 3. 18 0 -62 5. 00 0 -29 .S pa ny ol 80 0. 00 0 -65 2. 00 0 -30 .P ol an di a -1. 56 3 -93 0. 00 0 -40 2. 00 0 31 .M on ts er ra t -9. 25 0 -32 .V ie tn am -1. 84 5 -1. 14 4 -33 .K en ya -3. 71 0 -34 .C ze ch Re p. -14 4. 00 0 -11 3. 00 0 -35 .B an gl ad es -2. 00 0 -36 .S au di Ar ab . -23 5. 00 0 -37 .A fri ka Sl tn -3. 86 6 -T O T A L 1. 15 6. 44 8 98 9. 77 4 1. 64 3. 98 2 1. 04 0. 97 3 1. 53 5. 93 4 27 9. 07 4 19 9. 78 4 67 .0 00 28 4. 98 1 25 .0 44 Su m be r : BP S, 20 02 -2 00 6

PD

F

cr

ea

te

d

w

ith

pd

fF

ac

to

ry

Pr

o

tri

al

ve

rs

io

n

www.pdffactory.com

Tabel . (Lanjutan)

(15)

Tabel 9. Negara tujuan ekspor bunga potong anggrek 1997 – 2005 (US $ - cif)

Ekspor Bunga Potong Tahun Negara Tujuan

Ekspor 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005*)

1. Belanda 7.037 220 63.85.2 39.279 46.490 n.a. n.a. n.a. 6.099

2. Singapura 151.546 1449 1.923.870 666.900 292.672 n.a. n.a. n.a. 55.586

3. Hongkong 95.112 - 10.595 167.489 2.687 n.a. n.a. n.a.

-4. Amerika - - 16.229 55488 213.247 n.a. n.a. n.a. 145.345

5. Italia - - 330 16.857 - n.a. n.a. n.a.

-6. Korsel - - 21649 9.682 19.385 n.a. n.a. n.a.

-7. Un. Em. Arab - - 534 13.032 10.833 n.a. n.a. n.a. 5

8. Inggris - - - 4.052 9.578 n.a. n.a. n.a.

-9. Kanada - - - 9.360 - n.a. n.a. n.a. 2.982

10. Taiwan 260 - 11.135 1.807 13.406 n.a. n.a. n.a.

-11. Kamboja - - - 885 - n.a. n.a. n.a.

-12. Jepang 15.183 - 294.169 560.735 377.203 n.a. n.a. n.a. 26.809

13. Saudi Arabia - - 8.688 712 925 n.a. n.a. n.a.

-14. China - - 1.757 18.156 3.312 n.a. n.a. n.a.

-15. Australia - - 5.713 101.523 - n.a. n.a. n.a. 74.390

16. Brunei - 37 - - 5.875 n.a. n.a. n.a.

-17. Swiss - - - 8.999 - n.a. n.a. n.a.

-18. Kuwait - - 34.147 - - n.a. n.a. n.a.

-19. Senegal - - - 6.174 - n.a. n.a. n.a.

-20. Malaysia - - 11 2.541 3.098 n.a. n.a. n.a. 5.985

21. Bahrain - - 4.219 - - n.a. n.a. n.a.

-22. Norwegia - - - 72 - n.a. n.a. n.a.

-23. Fiji - - 6.852 - - n.a. n.a. n.a.

-24. Srilangka - - 23.507 - - n.a. n.a. n.a.

-25. Soviet lama - 35.990 - - - n.a. n.a. n.a.

-26. India - - - - 4.599 n.a. n.a. n.a.

-27. Jerman - - - 2.884

28. Perancis - - - 1

29. Thailand - - - 585

30. Afrika Selatan - - - 500

Total 269.138 37.696 2.447.710 1.683.324 1.201.882 n.a. n.a. n.a. 321.171

Sumber : WTO, 2002 dan *) BPS 2006 (FOB) 2. Impor

Impor anggrek dari negara lain berupa bibit, tanaman, dan bunga potong. Impor anggrek dari tahun 2001-2005 cenderung mengalami penurunan, yaitu dari US$ 54.994 tahun 2001 menjadi US$ 28.117 tahun 2005. Negara asal impor tanaman anggrek terutama dari Singapura, Taiwan, Belanda, Jepang dan Thailand. Impor bibit tahun 2002 juga mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, yaitu dari US$ 368.926 tahun 2001 menjadi US$ 140.140 tahun 2002. Namun,

(16)

US$ 368.926 tahun 2001 menjadi US$ 140.140 tahun 2002. Namun, tahun berikutnya impor bibit kembali mengalami peningkatan menjadi US$ 524.409 pada tahun 2005. Negara asal impor bibit yang utama adalah Taiwan, Thailand, Belanda, Jepang dan Malaysia. Tahun 2002-2005 impor bibit dari Taiwan meningkat rata-rata 38,72 % per tahun dan tertinggi tahun 2005 sebesar US$ 289.583. Sedang impor dari negara Thailand tahun 2002-2005 meningkat rata-rata 24,81 % per tahun dengan impor tertinggi tahun 2005, yaitu sebesar US$ 177.546 (Tabel 10). Impor bunga potong tahun 2005 bernilai sebesar US$ 59.038. Negara asal impor terbesar adalah Belanda (US$ 18.546), China (US$ 16.708), Equador (US$ 10.734), dan Australia (US$ 3.623).

E. Infrastruktur

Tanaman anggrek akan tumbuh baik bila kondisi lingkungan optimum, khususnya kebutuhan air tercukupi. Frekuensi dan jumlah air yang diberikan pada tanaman anggrek tergantung pada jenis, ukuran tanaman dan keadaan lingkungan pertanaman, seperti: suhu, cahaya dan kelembaban. Sistem penyiraman pada anggrek yang masih kecil (kompot dan seedling) dilakukan dengan pengkabutan (mist) menggunakan sprayer. Sedangkan untuk tanaman remaja/dewasa dilakukan penyiraman menggunakan selang. Selain itu, untuk mengatasi kelembaban yang sangat rendah pada siang hari diatasi dengan sistem pengkabutan di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan nozzle. Sistem irigasi untuk pengkabutan tersebut dibuat sendiri oleh petani di lokasi pertanaman anggrek

Di bidang transportasi, untuk menunjang kelancaran pengangkutan komoditas anggrek dari produsen ke pasar/konsumen tidak ada masalah. Untuk jarak dekat, pengangkutan dilakukan dengan menggunakan motor, sedangkan untuk pengangkutan jarak jauh dilakukan dengan menggunakan kereta api, kapal laut atau pesawat terbang. Prasarana jalan juga tidak ada hambatan dalam pengangkutan bunga anggrek ke tempat-tempat pemasaran. Namun demikian dalam rangka pengembangan kawasan agribisnis anggrek diperlukan pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana transportasi agar menjadi lebih baik. Untuk ekspor-impor komoditas tanaman hias khususnya bunga potong anggrek memerlukan penambahan dan peningkatan fasilitas ruang pendingin, karena fasilitas tersebut saat ini masih sangat terbatas.

(17)

7 Ta be l1 0. N eg ar a as al im po rt an am an da n bi bi ta ng gr ek ta hu n 20 01 -2 00 5 (U S$ -c if) Im po rT an am an Ta hu n Im po rB en ih Ta hu n Ne ga ra As al Im po r 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 1. Be la nd a 15 .6 79 1. 35 5 12 .6 58 9. 69 1 3. 93 7 7. 32 6 3. 55 6 17 .4 64 3. 04 8 14 .6 91 2. Si ng ap ur a -60 0 1. 73 9 11 .5 86 -1. 23 1 4. 77 0 72 8 3. Am er ik a 1. 39 3 14 .3 00 6. 90 9 -1. 97 0 -69 3 6. 58 1 3. 11 5 4. Je rm an 28 9 37 6 -1. 19 9 -5. In gg ris 17 4 -14 .5 84 -6. Ka na da -14 .0 19 -7. Ta iw an 3. 18 3 1. 29 8 1. 75 8 1. 61 2 9. 39 6 20 1. 28 0 58 .6 13 67 .8 72 15 7. 46 6 28 9. 58 3 8. Je pa ng 1. 89 7 1. 33 8 -1. 67 8 6. 92 7 3. 60 7 5. 71 8 11 .8 35 13 .8 91 9. Ch in a 9 -10 .4 91 -3. 86 6 5. 28 3 10 .A us tra lia 4. 81 3 -1. 26 1 19 0 -10 .3 27 90 7 -18 .4 10 -11 .P er an cis 8. 28 4 4. 19 5 1. 10 1 -6. 27 1 12 .T ha ila nd 56 9 3. 66 3 5. 16 0 17 .3 51 1. 52 0 12 8. 99 6 68 .8 90 77 .7 65 90 .2 70 17 7. 54 6 13 .M al ay sia 37 7 -4. 66 3 -45 4 4. 00 8 61 8 -12 .2 74 14 . I nd ia -2. 24 5 2. 12 9 -1. 06 3 15 . S pa ny ol -1. 50 4 -16 .V ie tn am -1. 14 3 -11 .2 35 -17 .A fri ka Sl tn 74 1 -18 .A sia La in 57 7 -19 .A rg en tin a 17 .0 99 -20 .N ew Ze al an -1. 15 5 55 9 -21 .F ili pi na -79 3 -22 .P ap ua Nu g. -1. 75 5 T O T A L 54 .9 94 42 .5 94 40 .0 86 41 .3 67 28 .1 17 36 8. 92 6 14 0. 14 0 18 7. 80 1 30 8. 68 0 52 4. 40 9 Su m be r: BP S, 20 02 -2 00 6

PD

F

cr

ea

te

d

w

ith

pd

fF

ac

to

ry

Pr

o

tri

al

ve

rs

io

n

www.pdffactory.com

(18)

Di bidang komunikasi, untuk pengembangan jejaring dan jaringan kerja pada saat ini sudah cukup memadai. Penggunaan jasa telekomunikasi (faximili, telepon, e-mail, HP dsb.) sudah sampai ke tingkat kecamatan. Akan tetapi pada lokasi tertentu seringkali mengalami kendala yang disebabkan kurang berfungsinya fasilitas komunikasi tersebut dengan alasan teknis.

F. Kebijakan Harga, Perdagangan dan Investasi

Kebijakan pemerintah di bidang perdagangan dan investasi bidang tanaman hias belum banyak membantu pelaku usaha dalam pengembangan agribisnis tanaman hias. Kebijakan penurunan tarif impor produk hortikultura menjadi 5% dan benih sebesar 0% menyebabkan produk anggrek kalah bersaing dengan produsen dari negara-negara lain. Demikian juga dengan naiknya jasa karantina lebih dari 100% per tanaman dan sulitnya pengurusan ijin usaha budidaya serta perdagangan/ekspor anggrek (CITES), semakin menambah surutnya semangat investor menginisiasi usaha budidaya komoditas florikultura umumnya dan anggrek khususnya.

Selain itu rendahnya daya saing produk florikultura Indonesia di pasaran dunia termasuk anggrek dipengaruhi juga oleh belum adanya kebijakan pemerintah dalam bidang transportasi udara. Tidak tersedianya fasilitas kargo pada maskapai penerbangan nasional menyebabkan biaya angkut produk florikultura dikenakan tarif komersial, yang berimplikasi pada tingginya harga produk florikultura di pasaran dunia.

Di bidang investasi, belum adanya dukungan kebijakan pemerintah dalam mengimpor peralatan laboratorium untuk memproduksi bibit secara in-vitro berimplikasi terhadap tingginya biaya perbenihan di dalam negeri.

(19)

III. PROSPEK, POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN

A. Prospek Pasar

Pada lima tahun terakhir kondisi perekonomian nasional mengalami pasang surut yang menyebabkan terjadinya gejolak volume kebutuhan anggrek dalam bentuk tanaman maupun bunga potong (Tabel 11). Namun omset penjualan meningkat, karena harga anggrek meningkat sejalan dengan naiknya nilai tukar dolar.

Tabel 11. Volume kebutuhan dan nilai penjualan tanaman dan bunga potong anggrek Di DKI Jakarta

Volume Kebutuhan Nilai Penjualan

Tahun Tanaman

(tanaman) Bunga Potong(tangkai) Tanaman(Rp) Bunga Potong(Rp)

1997 - 10.769.348 - 4.389.160.266

1998 71.652 9.715.845 1.368.523.000 3.470.897.290 1999 72.041 7.566.547 1.447.657.500 4.055.830.681 2000 83.017 9.567.647 1.774.307.000 5.639.757.026 2001 188.454 7.362.369 4.934.800.000 8.160.569.242

Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI, 2002

Sejalan dengan globalisasi ekonomi, usaha peningkatan dan keanekaragaman produk anggrek menjadi sangat penting, karena akan mempermudah perluasan pasar dengan meningkatnya kemampuan bersaing di pasar dalam dan luar negeri. Apabila tidak mampu melakukan hal tersebut, maka di dalam negeripun komoditas anggrek tidak akan mampu bersaing dengan produk impor.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya (Tabel 6) bahwa permintaan anggrek luar negeri tahun 2005 adalah 848.649 kg dengan nilai US$ 1.593.149. Anggrek tersebut diekspor dalam bentuk bibit, tanaman dan bunga potong dengan tujuan Belanda, Singapura, Hongkong, Amerika, Italia, dan sebagainya. Upaya peningkatan ekspor bunga potong maupun tanaman pot dan berbunga dilakukan mulai dari perbaikan varietas dan teknik budidaya, penanganan pascapanen, dan kebijakan pemerintah menyangkut penyediaan modal investasi, perbaikan sistem tata niaga, pembebasan berbagai pungutan, keringanan pajak (PPn, PPh dan pajak ekspor), kemudahan kargo dan transportasi udara, kemudahan ekspor

(20)

20

(tarif dan pengurusan dokumen), pembebasan bea masuk untuk bahan plastik dan kimia, serta penyediaan ruang pendingin di bandara.

Impor bibit, bunga potong Dendrobium dan Vanda, tanaman pot berbunga Cattleya, serta anggrek lainnya terutama dari Jepang, Taiwan, Thailand, Singapore, Philipina, Malaysia, India, Amerika, Belanda, Australia, Perancis, dan Spanyol. Volume impor bibit sebesar 53.678 kg dengan nilai US$ 187.801; bungaDendrobiumdengan volume 2.586 kg dengan nilai US$ 2.412; Vanda 1.078 kg dengan nilai US$ 1.005;

Cattleyadengan volume 258 kg dengan nilai US$ 241; danPhalaenopsis

dengan volume 372 kg bernilai US$ 1.758, serta jenis anggrek lainnya sebesar 45.969 kg dengan nilai US$ 33.665.

B. Pohon Industri dan Bidang Usaha

Usaha anggrek harus berorientasi pasar dengan penanganan profesional melalui penerapan teknologi inovatif. Oleh karena itu dalam usaha anggrek diperlukan informasi pasar yang ditindaklanjuti dengan penyusunan skema dan jadwal produksi secara akurat. Di samping itu pengusaha dan petani produsen anggrek juga harus mengikuti perkembangan pasar terbuka dengan mencari terobosan-terobosan dalam penawaran ke luar negeri diantaranya melalui kegiatan promosi. Sejalan dengan itu usaha tani anggrek harus diikuti pula dengan peningkatan produksi dan mutu, jaminan keberlanjutan pasokan dan profesionalisme manajemen usaha. Kelengkapan fasilitas pengembangan peranggrekan seperti laboratorium perbenihan, rumah lindung dan sarana-sarana penunjang lainnya dalam sistem agribisnis merupakan prasyarat yang diperlukan guna mencapai keberhasilan bisnis peranggrekan di dalam negeri. Alur industri anggrek selengkapnya disajikan pada Gambar 2.

Usaha anggrek dalam negeri dapat diklasifisikan menjadi tiga segmen usaha, yaitu segmen usaha produksi planlet, kompot/seedling/ remaja, dan pertanaman pot. Setiap segmen usaha tersebut memiliki

(21)

2 karakteristik spesifik yang berbeda satu dengan lainnya. Segmen usaha produksi planlet memerlukan teknologi kultur jaringan sebagai sarana penting perbanyakan masal anggrek. Penerapan teknologi kultur jaringan perlu didukung oleh kesiapan sumberdaya manusia (SDM) dan sarana laboratorium yang representatif. Dengan demikian pengembangan kultur jaringan membutuhkan modal investasi yang cukup besar untuk penyiapan infrastruktur dan peningkatan kompetensi SDM. Melalui investasi sarana tersebut maka teknologi dapat digunakan untuk menghasilkan planlet sesuai standar mutu yang ditetapkan. Mutu planlet yang dihasilkan dari perbanyakan kultur jaringan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan usaha produksi kompot seedling remaja dan tanaman pot.

Usaha produksi kompot/seedling/remaja dilakukan oleh pelaku usaha yang memiliki spesifikasi kompetensi berbeda dengan segmen produksi planlet maupun tanaman pot. Untuk mengoperasikan usaha produksi kompot/seedling/remaja dibutuhkan rumah lindung dengan persyaratan lingkungan mikro secara khusus. Pengaturan kondisi lingkungan diperlukan untuk menjaga kompot/seedling/remaja terhindar dari kematian akibat kepekaan tanaman terhadap kondisi lingkungan fisik yang tidak menguntungkan. Selain lingkungan fisik, kompot/seedling/remaja membutuhkan media dan air dengan spesifikasi khusus. Oleh karena itu pelaku usaha harus mampu memahami persyaratan tumbuh tanaman sebelum mengoperasikan usahanya.

Budidaya tanaman pot menggunakan seedling individu yang dihasilkan oleh pelaku usaha kompot. Dalam budidaya tanaman pot, tanaman dipelihara dengan teknologi tertentu hingga menghasilkan bunga yang siap dipasarkan. Teknologi yang digunakan terdiri atas penggunaan media tumbuh, pemupukan, aplikasi ZPT (zat pengatur tumbuh), modifikasi lingkungan mikro, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), pemanenan dan penanganan pasca panen. Bunga anggrek yang dihasilkan kemudian disortasi sesuai preferensi konsumen dan dipasarkan. Pada tahap ini, pelaku usaha dituntut untuk mempertahankan mutu hingga ke tangan konsumen. Untuk itu diperlukan teknik memperpanjang kesegaran bunga melalui penggunaan larutan pengawet.

(22)

22 Ga m ba r2 : Po ho n in du st ri an gg re k Bu ng a Poto ng Pl an tle t Ta na m an Pot A N G G R E K Te kn ol og iP er la ku an S eg ar -Te kn ol og i pe m an en an -So rta si /g ra di ng -Pr a pe nd in gi na n -La ru ta n pe ng aw et (h ol di ng & pu ls in g so lu tio n) -Pe ng em as an * -Tr an sp or ta si * -Pe ny im pa na n* Sa ra na da n pr as ar an a : -ru an g pe nd in gi n -al at pe nu nj an g Te kn ol og ib ud id ay a Te kn ol og ip as ca pa ne n -S ta nd ar m ut u -Kr ite ria ta na m an po t be rm ut u & ta ha n la m a di w is m as ar i ( in doo rs ) -G ra di ng ,s or ta si da n pe ng ep ak an -Tr an sp or ta si di st rib us id an pe m as ar an -Te kn ik m em pe rp an ja ng um ur pe ra ga an di da la m r ua ng an (a m bi en t& AC ) -Te kn ik pe m el ih ar aa n ke ra ga an di pe ng ec er & di ko ns um en Sa ra na da n pr as ar an a - ru m ah lin du ng - pe ng at ur ca ha ya , ke le m ba ba n, m ed ia -pe nd in gi n ru an ga n -Al at pe nu nj an g r ak -sp rin kl er p en ga tu rk el em ba ba n a la t-a la tp en un ja ng : g un tin g, p is au ,s pr ay er , pi ns et ,d ll. • Pe ng ad aa n/ pe ng gu na an bi bi tu ng gu l * Te kn ol og ib ud id ay a : -pe m ili ha n m ed ia tu m bu h (je ni s m ed ia ) -pe m up uk an (je ni s pu pu k) -pe ng en da lia n ha m a & pe ny ak it (p es tis id a) m od ifi ka si lin gk un ga n m ik ro * Sa ra na da n pr as ar an a ru m ah ka ca n au ng an (p ar an et )u tk ru m ah se re ra k -sp rin kl er -p en ga tu rk el em ba ba n, ca ha ya ,m ed ia -al at -a la tp en un ja ng : g un tin g, pi sa u, sp ra ye r, pi ns et ,d ll. Ko m pot/ see dl in g /r em aj a - Pe ng ad aa n la bo ra to riu m be ni h pe rb en ih an : ru an g, pe ra la ta n, ba ha n ki m ia da n pe nu nj an g -Pe m ili ha n po ho n in du k an gg re k ha si lh ib rid is as i (v ar ie ta s un gg ul te rk en da li) -J en is an gg re k (b un ga poto ng ,t an am an pot ) - Pr od uk si pl an le t: * St an da rm ut u * ju m la h pl an le t * te kn ol og i pe rb an ya ka n * pe ng gu na an m ed ia in vi tr o

PD

F

cr

ea

te

d

w

ith

pd

fF

ac

to

ry

Pr

o

tri

al

ve

rs

io

n

www.pdffactory.com

(23)

2 C. Potensi Pengembangan

Rata-rata produktivitas anggrek sampai saat ini masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan potensi genetiknya. Bila potensi genetik anggrek dapat dicapai, maka peningkatan produksi diperkirakan dapat mencapai lebih 2-3 kali lipat dari produksi yang dicapai saat ini. Proyeksi produktivitas anggrek tahun 2010 diharapkan dapat mencapai 8-10 tangkai per tanaman (Tabel 12). Peningkatan produktivitas memerlukan sumber daya genetik varietas yang novelty, superior yang dirakit secara terus menerus. Produk difokuskan pada pemenuhan konsumsi lokal maupun ekspor. Oleh karena itu, kualitas sangat menentukan kemajuan kearah kompetisi di era globalisasi.

Tabel 12. Target produktivitas anggrek sampai tahun 2010 (tangkai/ tanaman/ tahun)

Tahun (Tangkai/tan)Produktivitas Tingkat pertumbuhan(%) Keterangan 2005 2006 2007 2008 2009 2010 4 5 6 7 8 10 -25 20 17 14 25 Rata-rata tangkai pertanaman = 4 tangkai (2005)

Dalam usaha meningkatkan daya saing nasional diperlukan perakitan varietas dengan menggunakan induk terpilih sebagai tetua persilangan, di dalam persilangan anggrek selain memperhatikan target

output yang hendak dicapai dengan mengacu konsep ideotype yang

telah disusun. Hal ini untuk menghindari kesalahan program pemuliaan yang ditunjukkan dengan tidak termanfaatkannya varietas baru oleh pelaku usaha dan konsumen. Secara umum tujuan program pemuliaan anggrek adalah mendapatkan varietas unggul baru yang memiliki bunga unik dan eksotik, tahan terhadap Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT), responsif terhadap perlakuan budidaya, adaptif terhadap lingkungan tropis dan memiliki vase life yang relatif panjang. Varietas unggul baru dapat diperoleh secara konvensional melalui persilangan inter dan antar species secara non konvensional melalui penerapan bioteknologi. Hasil persilangan diperoleh populasi dasar yang perlu diseleksi dengan menggunakan metode khusus. Proses seleksi perlu melibatkan para pelaku usaha untuk menghindari subjektivitas dalam

(24)

2

pemilihan kandidat varietas unggul. Selanjutnya kandidat varietas unggul dilepas sesuai peraturan yang berlaku. Varietas anggrek yang telah dilepas akhirnya diperbanyak untuk dikembangkan secara luas kepada pelaku usaha.

Pengembangan budidaya anggrek membutuhkan teknologi produksi yang tepat guna dan efisien dalam rangka mendorong potensi genetik varietas unggul yang terekspresikan secara maksimal. Teknologi yang diperlukan dalam budidaya anggrek antara lain penggunaan media, pengendalian OPT, pemupukan, penyiraman, penggunaan ZPT, modifikasi lingkungan mikro, induksi pembungaan, panen, penanganan pasca panen dan pengemasan. Dengan menerapkan teknologi inovatif secara konsisten diharapkan berdampak terhadap peningkatan daya saing yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat menginformasikan bahwa areal pengembangan komoditas anggrek yang tersedia masing-masing adalah Sumatera Utara 20 ha, DKI Jakarta 51,8 ha, Jawa Barat 60 ha, Jawa Timur 100 ha, Kalimantan Timur 51,7 ha, Sulawesi Selatan 3,6 ha, dan Papua 99,4 ha. Walaupun areal pengembangan hanya di delapan propinsi, bukan berarti penanaman anggrek di luar propinsi tersebut tidak dapat dilakukan. Dengan pengaturan iklim mikro yang sesuai, anggrek dapat dibudidayakan dimana saja. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha anggrek antara lain: kondisi mikro klimat optimum (suhu, intensitas cahaya dan kelembaban) serta kualitas dan pH air.

Dalam upaya mencapai industri pengembangan anggrek yang diharapkan, berbagai tahapan kegiatan perlu disusun. Kegiatan dilakukan mulai dari penyusunan paket teknologi, sebagai bahan pembuatan Prosedur Operasional Standar (POS), Budidaya Tanaman Standar (BTS), standardisasi mutu produk; sosialisasi dan bimbingan POS dan BTS; bimbingan manajemen produksi dan mutu, serta pasca panen; pengembangan kawasan sentra; kelembagaan usaha dan kemitraan serta; peningkatan, penyediaan regulasi investasi dan promosi. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan di mulai dari tahun 2005 sampai tahun 2010 (Tabel 13).

(25)

2 Tabel 13. Tahapan Pengembangan Anggrek Periode 2005 - 2010

URAIAN KEGIATAN

TAHUN Penyusunanpaket Teknologi dan POS, BTS, standardisai Sosialisasi dan bimbingan POS dan BTS Bimbingan manjemen produksi dan mutu, serta pasca panen Pengembang an kawasan sentra Kelembagaan usaha dan kemitraan Peningkat an SDM Regulasi, investasi, promosi 2005 X X X X X X 2006 X X X X X X 2007 X X X X X X 2008 X X X X 2009 X X X 2010 X X D. Arah Pengembangan

1. Paket teknologi dan standarisasi

Dalam upaya pengembangan industri anggrek yang berdaya saing dibutuhkan dukungan teknologi dan infrastruktur yang memadai. Komponen teknologi yang dibutuhkan adalah varietas unggul yang dirakit di dalam negeri dengan menggunakan sumberdaya genetik nasional. Teknologi lainnya yang diperlukan adalah media tanam, teknologi pemupukan, perbenihan, pengairan, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan pemeliharaan tanaman. Komponen teknologi tersebut dirakit menjadi teknologi pengelolaan tanaman terpadu yang akan digunakan dalam pelaksanaan program pengembangan tanaman anggrek.

Penerapan POS dan BTS diujicoba dalam skala pilot di tujuh sentra produksi. Kegiatan dilakukan di lahan petani dengan melibatkan petani dan kelompok tani di bawah bimbingan. tenaga ahli dengan mengacu pada panduan yang telah disediakan.

Berkenaan dengan perdagangan Internasional dewasa ini, tentunya tidak bisa terlepas dari adanya suatu standardisasi mutu produk terhadap komoditas yang diperdagangkan. Anggrek sebagai salah satu komoditas non migas diperdagangkan dalam bentuk bibit, bunga potong, dan tanaman pot. Pada perdagangan internasional anggrek, sebenarnya tidak ada standar baku mengenai kriteria mutu yang harus dipenuhi. Standar mutu yang harus dipenuhi lebih ditentukan oleh negara pengimpor. Persyaratan yang umum yang diminta negara pengimpor adalah bahwa komoditas anggrek harus bebas dari OPT baik berupa hama, penyakit, maupun gulma. Pihak

(26)

2

importir juga menghendaki suatu standar mutu tertentu yang terkait dengan harga. Menurut PT. Bintang Delapan Hortikultura, selama ini standar mutu komoditas anggrek yang diperdagangkan ditentukan oleh

permintaan negara tujuan ekspor. Standar mutu tersebut adalah

sebagai berikut:

a. Bunga potong (Cut Flower)Oncidium

Negara tujuan bunga potong anggrekOncidiumadalah Jepang dan

Singapura. Kriteria bunga potong anggrekOncidiumseperti yang tertera

pada Tabel 14 berikut:

Tabel 14. Kriteria bunga potong Oncidium

Grade PanjangStema/b Jumlah Percabangan

4 L 50/45 cm 8 +

3 L 45/40 cm 5 – 7

2 L 40/35 cm 3 – 4

Keterangan :

a. Panjang dari percabangan terbawah sampai ujung atasstem;

b. Panjang dari ujung bawahstemutama sampai percabangan terbawah.

Sumber: PT Bintang Delapan

Adapun persyaratan yang diminta negara tujuan ekspor adalah sebagai berikut :

a. Diameterstem + 5 mm, harus lurus;

b. Percabangan membentuk sudut + 40o terhadap stem utama,

panjang cabang terbawah minimal 20 cm;

c. Tiap percabangan minimal terdapat sisa 4 kuntum/ budsyang siap

mekar;

d. Tiap percabangan minimal terdapat 2 bunga yang sudah mekar; e. Bunga tidak layu/ rontok;

f. Bebas OPT.

b. Tanaman pot Anggrek Bulan (Phalaenopsis)

Ekspor tanaman pot dimulai dari ukuran pot 4 cm, 6,5 cm; dan 9 cm. Negara tujuan ekspor tanaman pot adalah Belanda, Korea, Jepang dan Singapura. Kriteria mutu tanaman pot yang diminta negara tujuan ekspor adalah sbb:

(27)

27 a. Diameter daun: diukur dari ujung daun paling atas, tidak termasuk

tunas

 10 – 12 cm untuk ukuran pot 4 cm  16 – 18 cm untuk ukuran pot 6,5 cm  25 – 30 cm untuk ukuran pot 9 cm b. Jumlah daun

 3 untuk ukuran pot 4 cm

 3,5 untuk ukuran pot 6,5 cm (1,5 adalah tunas daun aktif)  4 untuk ukuran pot 9 cm, diameter batang + 2 cm

c. Perakaran sehat

d. Bentuk tanaman proporsional, daun tegak/ tidak lemas e. Bebas OPT

2. Pengembangan sentra produksi

Pengembangan sentra produksi membutuhkan dukungan kegiatan yang mencakup penetapan komoditas unggulan, latihan teknis dan manajerial, sistem informasi manajemen, penguatan kelembagaan usaha, penyediaan modal investasi dan regulasi yang kondusif. Pengembangan sentra produksi diawali dengan inisiasi model pengembangan inovasi agribisnis skala pilot dalam bentuk kegiatan MODEL FARM di tujuh kabupaten sentra produksi anggrek. Skala pilot model inovasi anggrek selanjutnya dikembangkan menjadi skala agribisnis aktual.

Berdasarkan roadmap pengembangan anggrek terlihat bahwa tersedianya produk harus sesuai dengan preferensi pasar. Produk bermutu dengan kualitas dan kuantitas sesuai preferensi pasar sangat terkait dengan ketersediaan pasokan secara berkelanjutan dan standar mutu berbasis SNI (Lampiran 4). Di samping itu diperlukan pula teknologi pascapanen untuk mendapatkan nilai tambah yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan petani. Di sisi lain jenis dan kualitas anggrek yang dihasilkan selayaknya ditentukan oleh informasi

market intelligentdan preferensi konsumen.

Dalam rangka mendorong investasi di bidang peranggrekan, pemerintah perlu memikirkan pemberian insentif kepada para investor yang bersedia terlibat langsung di dalam pembangunan industri anggrek nasional. Insentif dapat berupa kemudahan perizinan, pemberian kuota perdagangan, kemudahan akses informasi dan teknologi, peningkatan

(28)

2

bea tarif impor produk anggrek, pemberian bantuan, bimbingan teknis dan lainnya.

Kebijakan impor dan ekspor perlu dibangun dalam upaya meningkatkan devisa negara yang sangat diperlukan bagi pembangunan

perekonomian nasional. Kebijakan impor dan ekspor biasanya

dilakukan melalui peningkatan tarif bea masuk produk anggrek impor, penurunan pajak PPn, PPh dan pajak ekspor, pemberdayaan SDM, penurunan biaya dan fasilitasi promosi. Dengan demikian pada masa mendatang diharapkan terjadi peningkatan kemampuan dan daya saing yang bermanfaat untuk mengatasi persaingan ketat pada era global.

Pengembangan industri anggrek yang berdaya saing perlu didukung oleh sistem informasi yang handal. Sistem informasi sangat berguna dalam penentuan (1) perencanaan kebutuhan benih secara nasional, (2) penetapan strategi pemasaran, (3) pemetaan sentra produksi, (4) sarana komunikasi antar pelaku bisnis, (5) perwilayahan spesifik komoditas, (6) pemetaan negara kompetitor, dan (8) evaluasi kinerja peranggrekan masa lampau.

Pengembangan industri anggrek yang berdaya saing

membutuhkan sumberdaya manusia yang berkompeten. Hal ini dapat dimaklumi mengingat kompetensi SDM sangat menentukan mutu kinerja manajemen peranggrekan nasional ke depan. Dengan adanya SDM yang berkompeten maka perencanaan organisasi, pelaksanaan dan pengendalian sistem manajemen dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Ketersediaan SDM yang berkompeten juga diperlukan dalam pengambilan keputusan organisasi. Pembinaan SDM dapat dilaksanakan melalui pelatihan staf di dalam dan luar negeri sesuai bidang keahlian, kerja magang di instansi terpilih, pembinaan karier, kursus manajemen

dan teknis, praktek kerja lapangan,workshopdan lokakarya.

(29)

2

IV. TUJUAN DAN SASARAN

Pengembangan tanaman anggrek diarahkan untuk mendukung berkembangnya sistem dan usaha agribisnis tanaman anggrek yang berdaya saing, berkelanjutan, mendatangkan devisa, meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha.

Sasaran dari tujuan pengembangan tanaman anggrek, pada periode tahun 2005 – 2010 adalah sebagai berikut :

1. Tersedianya produk anggrek sebanyak 75.192.000 tangkai dan 16.166.628 pot pada tahun 2005 meningkat menjadi 89.692.000 tangkai dan 19.284.219 pot pada tahun 2010. Produk tersebut sesuai dengan standar mutu yang dipersyaratkan pasar domestik dan internasional.

2. Tersedianya sentra anggrek dengan luasan 187,98 ha pada tahun 2005 meningkat menjadi 224,23 ha pada tahun 2010. Lokasi produksi yang diperlukan adalah yang ramah lingkungan dan berpotensi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Lokasi pembinaan dapat dilihat dalam Lampiran 1 dan 2.

3. Tercapainya peningkatan kemampuan teknis dan manajerial sebanyak 100 anggota kelompok petani, pengusaha dan petugas anggrek pada tahun 2005 meningkat menjadi 500 orang pada tahun 2010.

4. Terbentuknya 25 kelembagaan usaha anggrek pada tahun 2005 meningkat menjadi 40 kelembagaan usaha pada tahun 2010, yang berfungsi sebagai basis pembinaan dan pengembangan usaha. 5. Terbentuknya jejaring kerja yang lebih erat dan intensitas serta

kualitas kerjasama yang lebih baik antar pelaku usaha tanaman anggrek.

6. Tersedianya sistem informasi dengan dukungan database yang mudah diakses untuk investasi dan pengembangan usaha tanaman anggrek.

7. Terangkatnya citra komoditas tanaman anggrek secara nasional dan berkembangnya jaringan pemasaran tanaman anggrek .

(30)

0

V. KEBIJAKAN, STRATEGI DAN PROGRAM

Dalam upaya mencapai kondisi agribisnis tanaman anggrek yang diharapkan perlu ditempuh peta jalan (Bagan 3) yang menguraikan tentang rangkaian langkah yang harus ditempuh oleh instansi terkait dimulai dari segmen hulu, on farm hingga off farm yang diikuti oleh pembinaan SDM dan penyediaan kebijakan yang kondusif. Pelaksanaan kegiatan direncanakan sesuai jadwal waktu yang telah disepakati. Dengan demikian dalam kurun waktu tertentu tujuan pengembangan tanaman anggrek dapat dicapai sesuai tujuan yang telah disepakati.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, program pengembangan tanaman anggrek adalah sebagai berikut:

1. Penyediaan varietas unggul spesifik lokasi berdasarkan peta kesesuaian agroklimat diikuti dengan perbanyakan benih secara massal melalui kulturin-vitrountuk mendapatkan tanaman seragam.

 Diagnosis dan pemecahan masalah pengembangan jenis tanaman anggrek unggulan komersial.

 Penetapan jenis dan varietas unggulan komersial.

 Pembinaan percontohan budidaya jenis dan varietas anggrek sebagai unggulan komersial.

 Pembinaan dan pengembangan produksi komoditas unggulan tanaman anggrek spesifik lokasi berdasarkan peta kesesuaian agroklimat.

2. Peningkatan produksi dan mutu tanaman anggrek melalui penerapan POS berbasis BTS.

 Pembinaan dan pemahaman BTS, inisiasi POS dan jaminan mutu tanaman anggrek.

 Percontohan penerapan POS berbasis BTS dalam budidaya tanaman anggrek.

3. Penyediaan, perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur.

 Pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana transportasi, listrik, air dan komunikasi.

 Pengadaan dan perbaikan irigasi.

 Pengadaan ruang pendingin.

(31)

 Pengadaan gudang.

 Penyediaan rumah lindung dan fasilitas pendukung.

 Penyediaan ruang sortasi dan grading.

4. Pengembangan kawasan sentra produksi anggrek berbasis pasar dan potensi daerah.

 Pertumbuhan sentra produksi tanaman anggrek di daerah peri-urban dan perkotaan.

 Pemantapan sentra produksi anggrek.

 Pemantapan sentra produksi di daerah gerbang ekspor.

 Pelaksanaanmodel farmtanaman anggrek.

5. Fasilitasi peningkatan kualitas SDM dalam mendukung pengembangan sistem dan usaha komoditas anggrek.

 Peningkatan penguasaan teknologi dan informasi (pelatihan, magang).

 Pembinaan kewirausahaan dan kemampuan manejerial agribisnis.

 Pembinaan perawatan taman di daerah perkotaan.

 Peningkatan kompetensi petugas.

6. Fasilitasi pengembangan kelembagaanon farm dan off farm dalam pola koperasi, korporasi manajemen dan konsorsium industri anggrek.

 Pembinaan dan fasilitasi pengembangan kelembagaan on farm tanaman anggrek.

 Fasilitasi forum komunikasi antar kelembagaan.

 Sosialisasi peraturan dan perundangan di bidang pengembangan usaha dan ekspor tanaman anggrek.

 Pembinaan kelembagaan dan fasilitasi akselerasi ekspor tanaman anggrek.

 Inisiasi pasar lelang tanaman hias.

 Identifikasi dan pengembangan model usaha tanaman anggrek. 7. Fasilitasi pengembangan jejaring dan jaringan kerja di dalam dan

luar negeri.

 Fasilitasi forum kerjasama dalam rangka pengembangan ekspor.

 Fasilitasi perbaikan iklim usaha agribisnis tanaman anggrek melalui pengusulan koreksi regulasi dan kebijakan.

(32)

2

 Inisiasi kerjasama internasional dalam pengembangan usaha tanaman anggrek.

 Identifikasisupply chain management (SCM) tanaman anggrek.

 Inisiasi pasar lelang tanaman hias di sentra produksi.

 Perluasan jaringan pemasaran di dalam negeri.

 Perluasan jaringan pemasaran di luar negeri.

8. Pengembangan sistem teknologi informasi (SITI) dan penataan

databasetanaman anggrek.

 Penyediaan bahan cetakan untuk mendukung pengembangan tanaman anggrek.

 PenyusunanWeb-sitetanaman anggrek.

 Penyebaran informasi melalui media cetak dan elektronik.

 Penyediaan bahan informasistory board.  Penyusunandatabasetanaman anggrek.

 Penyusunan peta sentra tanaman anggrek, data produksi dan luas panen.

 Buku profil anggrek.

(33)

Ga m ba r3 .R oa dm ap pe ng em ba ng an in du st ri an gg re k 20 05 – 20 10 Pe ng em ba ng an Pe la tih an te kn is & m an aj er ia l Ag en Ou tle t SD M in fra st ru kt ur Va rie ta s un gg ul Te kn ol og ib ud id ay a Pe ni ng ka ta n/ pe rb ai ka n Te kn ol og ip as ca pa nen M od el in ov as i te kn ol og i Da ta ba se an gg re k ko m er si al PO S/ BT S PT T Pe ng em b. Ka w as an ag rib is ni s an gg re k M od al ke le m ba ga an Di se m in as i SI TI Re gu la si St an da rd Na si on al In do ne si a Va ria si pr od uk Pr od uk be rd ay a sa in g Ko ns um en D N da n LN Pr om os i Le m ba ga ke ua ng an M ar ke ti nt el lig en t 20 05 Te hn ol og id an du ku ng an in fra st ru kt ur Pr od uk Pa sa r/ ko ns um en 20 08 20 07 20 06 20 09 Te rs ed ia ny a m od el te kn ol og i pe ng el ol aa n ta na m an te rp ad u Pe ng em ba ng an se nt ra pr od . Be rb as is S OP Te rs ed ia ny a pr od : ku al ita s, ku an tit as & ko nt in ui ta s Te rp en uh in ya pe rm in ta an pa sa r DN /m en in gk at ny a ek sp or SN I= St an da rd Na sio na lIn do ne sia ;S ITI = Si st em Te hn ol og iIn fo rm as i;P TT = Pe ng el ol aa n Ta na m an Te rp ad u; SO P = St an da rd Op er at io na lP ro ce du re ;G AP = Go od Ag ric ul tu re Pr ac tic e

PD

F

cr

ea

te

d

w

ith

pd

fF

ac

to

ry

Pr

o

tri

al

ve

rs

io

n

www.pdffactory.com

(34)

9. Promosi peluang usaha agribisnis tanaman anggrek.

 Partisipasi dan fasilitasi pameran dan promosi.

 Pekan anggrek nasional danflora show.

 Pemasyarakatan dan pemanfaatan tanaman hias unggulan.

 Fasilitasi kontak bisnis dan kemitraan usaha.

 Inisiasi penumbuhanoutlettanaman anggrek.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mendorong pelaku usaha tanaman anggrek adalah sebagai berikut :

1. Penyusunan program produksi dan manajemen produksi anggrek nasional.

2. Fasilitasi pertemuan komunikasi antar pelaku usaha.

Kegiatan ini bertujuan menyediakan forum bagi pelaku usaha untuk saling bertukar pikiran dalam mengatasi masalah yang dihadapi di lapangan. Pertemuan antar pelaku usaha dapat diselenggarakan secara periodik atau pada waktu yang tidak ditentukan atas permintaan para anggota. Pembahasan materi pada saat pertemuan dapat ditentukan sesuai dengan aspirasi anggota. Instansi terkait dapat memfasilitasi tersedianya nara sumber bilamana diperlukan untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapi.

3. Pembinaan teknis dan manajerial pelaku usaha tanaman anggrek. Pembinaan kepada pelaku usaha diperlukan dalam upaya peningkatan kemampuan teknis dan manajerial. Peningkatan kemampuan teknis dan manajerial berguna untuk mendorong pelaku usaha agar lebih profesional dalam pengelolaan usahanya. Profesionalisme akan menciptakan ketahanan yang prima dalam mengahadapi persaingan usaha yang semakin ketat.

4. Pembentukan kelompok usaha.

Pembentukan kelompok usaha merupakan salah satu cara efektif menuju terciptanya usaha agribisnis tanaman anggrek yang berdaya saing. Dengan berkelompok, pelaku usaha akan memiliki posisi tawar yang tinggi terutama dalam hal bernegosiasi dengan pihak lain. Selain itu, pelaku usaha memiliki keuntungan lain yaitu meningkatnya kesempatan untuk mendapatkan akses pembinaan,

(35)

informasi dan permodalan yang berguna bagi pengembangan usaha tanaman anggrek.

5. Pembangunan jejaring kerja dan kerjasama kemitraan

Inisiasi jaringan kerja dan kerjasama usaha merupakan langkah strategis dalam pengembangan usaha tanaman anggrek. Dengan memperluas jaringan kerja, para pelaku usaha akan mendapatkan peluang kerjasama untuk pemasaran produk yang dihasilkannya. Peluang baru dalam bentuk komitmen bantuan pengembangan usaha kemungkinan akan diperoleh. Instansi terkait dapat memfasilitasi terjadinya kerjasama kemitraan antar pelaku usaha tanaman anggrek.

6. Fasilitasi promosi usaha tanaman anggrek

Promosi merupakan sarana yang efektif untuk mendorong pengembangan usaha tanaman anggrek. Melalui promosi, transaksi penjualan produk tanaman anggrek dapat ditingkatkan. Hal ini akan mendorong motivasi pelaku usaha dalam pengembangan budidaya tanaman

(36)

VI. KEBUTUHAN INVESTASI

Industri anggrek mencakup budidaya anggrek bunga potong dan tanaman pot berbunga. Industri anggrek di Indonesia digolongkan ke dalam tiga skala usaha yaitu: (1) UKM anggrek potong dengan skala usaha 1000 – 2500 m2dan diperkirakan dapat menghasilkan 10.000 –

25.000 tangkai bunga; (2) usaha anggrek potong skala besar, dengan skala usaha 3000 m2hingga lebih dari 1 ha, dapat menghasilkan bunga

antara 30.000 sampai 100.000 tangkai; (3) usaha tanaman pot berbunga skala kecil menengah, dengan skala usaha 1000 – 2500 m2.

Untuk pengembangan anggrek dibutuhkan investasi dari pemerintah dan swasta. Investasi pemerintah dibutuhkan untuk mengembangkan infrastruktur, pembinaan kelompok tani, penelitian dan pengembangan. Untuk kurun waktu 5 tahun (2005 – 2010) diperkirakan dibutuhkan dana sebesar Rp. 30 miliar untuk infrastruktur, Rp. 60 miliar untuk pembinaan dan Rp. 60 miliar untuk penelitian dan pengembangan. Sedangkan investasi yang dibutuhkan untuk industri swasta besar adalah Rp. 397,233 miliar. Laboratorium perbenihan membutuhkan investasi Rp. 7,56 miliar, karena itu usaha ini biasanya dilakukan oleh pemerintah atau usaha swasta besar.

Pengembangan anggrek diprioritaskan untuk tujuan ekspor dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu diperlukan investasi oleh pemerintah maupun pihak swasta. Pengembangan di tingkat petani/komunitas untuk komoditas anggrek sebesar Rp. 1,487 miliar untuk bunga potong dan Rp. 12,456 miliar untuk tanaman pot berbunga. Tanaman pot berbunga lebih banyak dikembangkan ditingkat petani/komunitas dengan skala UKM. Dengan pengembangan tersebut, diperkirakan terdapat pertambahan nilai Rp. 960 juta per ha yang diperoleh dari pertambahan nilai ekspor anggrek.

Perkiraan kebutuhan investasi dan kebijakan pengembangan anggrek disajikan pada Tabel 15.

Industri anggrek nasional masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand dan Taiwan. Padahal Indonesia memiliki sumberdaya yang dapat dimanfaatkan untuk menandingi negara lain. Untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain dibutuhkan investasi

(37)

7 dalam jumlah besar khususnya digunakan untuk penyediaan infrastruktur pendukung dan bidang lainnya yang terkait dengan segmen-segmen dalam sistem agribisnis dari hulu hingga ke hilir. Di Bidang hulu, investasi diarahkan untuk membangun industri sarana produksi, termasuk industri benih, pupuk, pestisida, dan alsintan serta infrastruktur pendukung. Di bidangon farm, investasi dialokasikan untuk pembangunan kebun produksi, perbaikan manajemen kebun, dan pembangunan rumah lindung. Di bidang hilir, investasi difokuskan pada pembangunan fresh handling stationer dan mobile penanganan pascapanen, pelayanan informasi dan teknologi packaging service,

perbenihan dan transportasi. Pola investasi dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu investasi tunggal (single investment), joint investment, dan linked investment. Para investor dapat menentukan pilihan pola investasi tergantung pada pertimbangan ekonomi, rasio kultural serta dampaknya terhadap kepentingan bisnis jangka panjang.

(38)

Ta be l1 5. Pe rk ira an ke bu tu ha n in ve st as id an ke bi ja ka n pe ng em ba ng an an gg re k In ve st as iT ot al Ko m od ita s Sk al a Us ah a Pe m er in ta h Sw as ta K om un ita s Pe rt am ba ha n ni la i D uk un ga n Ke bi ja ka n An gg re k Bu ng a po to ng UK M 1. 00 0-2. 50 0m 2 (1 0 rib u -2 5 rib u ta ng ka i) Be sa r/ G ab un ga n UK M , I nd us tr i 3, 00 0-> 10 .0 00 (3 0. 00 0-> 10 0. 00 0 ta ng ka i) Pe ng em ba ng an un tu k bu ng a po to ng de ng an lu as an 1. 00 0-2. 50 0 m 2 R p. 9. 99 3. 94 1. 00 0 Rp .9 60 .0 00 .0 00 / ha * Ta na m an Pot be rh ub un ga n (tu ng ga ld an m al ai ) 2. 500 -10 .000m 2 21 .000 -8 4. 000 pot (50 -20 0 pot /h ar i) 1. 500 -50 .000m 2 126 -420 rib u pot (300 -1000 pot /h ar i -R & D : Rp 60 m ili ar -Pe m bi na an (Pe m bi na an se nt ra pr od uk si ;Pe la tih an kh us us un tu k ek sp or tir :Pe ny us un an SN Ib un ga p ot on g be rb ag ai je ni s an gg re k; Pe rc on to ha n pa sa rl el an g un tu k bu ng a) :R p 60 m ili ar -In fra st ru kt ur (j al an , tr an sp or ta si ,s is tim in fo rm as i, pa sa r, si st im iri ga si ,s is tim ko m un ik as i): R p 30 m ili ar -In du st ri be sa r (1 ha ) : Rp .3 97 .2 33 .0 00 .0 00 -la bo ra to riu m pe rb en ih an m er ic lo ne di 15 lo ka si , de ng an uk ur an 20 0 m 2/l ab . Rp .7 .5 60 .0 00 .0 00 Pe ng em ba ng a bu ng a pot se be sa r R p. 13 .230 .91 8. 000 un tu k lu as an 2. 500 m 2un tu k pr od uk si ,i ns en tif , pr om os i, pa m er an , ek sp os e, di st rib us id an pe m as ar an --k em ud ah an pe rij in an te rm as uk pe ng ur us an CI TE S, -k er in ga na n pa ja k -K em ud ah an ca rg o da n tr an sp or ta si ud ar a -K em ud ah an ek sp or (t ar if da n pe ng ur us an do ku m en ) -Pe m be ba sa n be a m as uk un tu k ba ha n ki m ia . -Pe ny ed ia an ru an ga n di ng in di ba nd ar a -m em ba ng un sy st em ke m itr aa n us ah a Ca ta ta n * :p er ta m ba ha n ni la ia ng gr ek da ri ek sp or an gg re k PD F cr ea te d w ith pd fF ac to ry Pr o tri al ve rs io n www.pdffactory.com

(39)

VII. DUKUNGAN KEBIJAKAN

Dukungan kebijakan pengembangan investasi sangat diperlukan dalam upaya pengembangan agribisnis anggrek di Indonesia, dengan mengintegrasikan komitmen antar Departemen terkait seperti Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Departemen Perdagangan, Departemen Perhubungan, Departemen PU, Perbankan, Departemen Keuangan, dan Pemda. Dukungan kebijakan tersebut antara lain:

A. Dukungan Kebijakan Perizinan, Perdagangan dan Transportasi

1. Pembatasan impor melalui peningkatan tarif impor dari produk florikultura.

2. Penurunan pajak dan jasa karantina guna peningkatan ekspor komoditas florikultura.

3. Kemudahan pengurusan perijinan budidaya dan perdagangan/ekspor anggrek (CITES).

4. Pemberian dispensasi tarif pengangkutan udara, melalui penyediaan fasilitas kargo yang tidak menerapkan tarif komersial pada produk florikultura.

5. Pembebasan bea masuk untuk peralatan laboratorium dan bahan-bahan kimia untuk memproduksi benih secarain-vitro. 6. Pengurangan PPn, PPh, Pajak Ekspor.

7. Kemudahan pengurusan dokumen ekspor. 8. Kebijakan tata niaga.

9. Insentif produksi dan ekspor.

10. Pengembangan sistem informasi pemasaran.

B. Dukungan Pembiayaan dan Investasi

1. Dukungan pembiayaan pengembangan anggrek untuk periode tahun 2005 – 2010 dialokasikan untuk kegiatan, yaitu :

a. Penyediaan infrastruktur, teknologi dan sarana penunjang. b. Peningkatan produksi dan mutu tanaman anggrek melalui

penerapan POS berbasis BTS.

c. Pengembangan industri perbenihan yang dapat memproduksi bibit secara klonal sebanyak 450.000.000 bibit per tahun.

(40)

0

d. Pengembangan kawasan sentra produksi anggrek berbasis pasar dan potensi daerah.

e. Fasilitasi peningkatan kualitas SDM dalam mendukung pengembangan sistem dan usaha anggrek

f. Fasilitasi pengembangan kelembagaan on farm dan off farm dalam pola koperasi, korporasi manajemen dan konsorsium industri anggrek.

g. Promosi peluang usaha agribisnis tanaman anggrek.

2. Kemudahan dalam mendapatkan dana dengan persyaratan bunga bank yang lunak.

3. Kebijakan pemberian jaminan kemudahan berinvestasi di lokasi-lokasi usaha.

Gambar

Tabel 1. Luas panen tanaman anggrek menurut provinsi
Tabel 2. Produktivitas tanaman anggrek di Indonesia, 1989-2005 Tahun Jumlah Tanaman Produksi (tangkai) Produktivitas
Tabel 3. Analisis usahatani anggrek Dendrobium berdasarkan jenis usaha, 2007
Gambar 1. Kalender pengusahaan anggrek dari tingkat hulu hingga ke tingkat primer
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dukungan kebijakan yang dibutuhkan untuk pengembangan obat bahan alami antara lain: 1) keputusan politik pemerintah untuk menetapkan penggunaan obat bahan alami yang bahan

Apabila sasaran pengembangan agribisnis komoditas ternak unggas ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan protein hewani pada 10 tahun mendatang, setara dengan 1.250 miliar ekor

Sedangkan pada aspek kebijakan, beberapa kebijakan perlu diperhatikan, khususnya kebijakan fiskal (perpajakan dan retribusi), dan perijinan investasi. Pada Bab I I I

Sasaran program meliputi: (a) tersedianya benih varietas unggul bawang merah kualitas impor sebanyak 18.200 ton ini dapat digunakan untuk luas tanam 22.750 ha; (b) meningkatnya

Kebijakan pada sub-sistem pengolahan dan industri hilir diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan tumbuh dan berkembangnya pengolahan dan industri hilir karet yang menghasilkan

Kebijakan yang diperlukan untuk percepatan investasi adalah : (a) Penciptaan iklim investasi yang makin kondusif seperti pemberian kemudahan dalam proses perijinan, pembebasan

Berdasarkan luas areal pertanaman pisang yang ada dan yang direncanakan menjadi areal pengembangan, baik untuk skala rakyat maupun skala perusahaan, dapat diperkirakan

teknologi yang dibutuhkan untuk agroindustri oleokimia harus diimpor, sedangkan industri produk kelapa lainnya sebagian sudah dapat disediakan di dalam negeri. Pengembangan