• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diskursus Teologi Feminisme Riffat Hasan: Telaah Konstruksi Menuju Relasi Gender Yang Berkeadilan. Oleh: Sofyan Hadi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Diskursus Teologi Feminisme Riffat Hasan: Telaah Konstruksi Menuju Relasi Gender Yang Berkeadilan. Oleh: Sofyan Hadi"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Telaah Konstruksi Menuju Relasi Gender Yang Berkeadilan Oleh: Sofyan Hadi

Abstrak

Pembahasan mengenai gender pada umumnya dan teologi feminisme khususnya amatlah pelik untuk dipecahkan, sebab di antara 2 (dua) makhluk ciptaan-Nya (laki-laki dan perempuan) saling mengklaim untuk diberikan proporsi dan posisi yang saling “untung” berdasarkan teks-teks ayat al-Qur’an maupun al-Hadits. Di sini kita fokuskan pada pemikiran seorang feminis Riffat Hassan, seorang feminis dari Pakistan yang menggugat sejumlah penafsiran al-Qur’an maupun al-Hadits yang dianggap menguntungkan bagi salah satu makhluk ciptaan-Nya.

Permasalahan ketimpangan gender ini akan terus bergulir, mengarah pada rekontruksi dan reformulasi sistem sosial maupun keagamaan yang lebih mendekati cita-cita Islam ideal yang sesungguhnya, yaitu keadilan. Sebab misi utama al-Qur’an adalah untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarkhi, ketimpangan dan ketidakadilan. Jika ada penafsiran yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan dan hak-hak asasi kemanusiaan, maka penafsiran tersebut harus ditinjau kembali. Allah s.w.t. Maha Adil (al-‘Adl), maka tidak mungkin di dalam kitab suci-Nya terkandung sesuatu yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut.

Perjuangan posisi Muslimat ini tidak cukup melalui pemikiran, pembuatan teori/konsep, namun juga diperlukan upaya kolektif yang merupakan paduan dari hasil studi, investigasi, analisa sosial, pendidikan serta advokasi.

Kata kunci: teologi feminis, Riffat Hassan, relasi gender dan keadilan

A.Pendahuluan

Dalam satu dekade terakhir berbagai suara teologi feminis muncul hampir di seluruh penjuru dunia, sehingga tidak heran jika teologi diperdebatkan dari berbagai sudut pandang. Konseptualisasi yang dilakukan para teolog feminis dengan aspek-aspek pembahasan yang plural mendorong untuk melihat lebih jauh corak dan ragam pemikiran teologi feminis yang berkembang juga mengetahui bagaimana perjuangan agama-agama dalam menghadapi arus feminisme yang begitu gencar perkembangannya.

Secara sosial dan kultural, perbedaan gender sering menyebabkan timbulnya relasi-relasi subordinatif antara pria dan wanita. Pada saat yang

Dosen Tetap STAIN Jember, Kandidat Doktor Penelitian dan Evaluasi

(2)

hampir bersamaan gender terbentuk melalui proses yang panjang dan disebabkan oleh berbagai faktor. Misalnya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat dan dikontruksikan secara sosial dan kultural, melalui negara bahkan juga ajaran agama.

Perbedaan gender sebenarnya tidak menjadi persoalan selama tidak menimbulkan ketidakadilan. Namun yang terjadi sebaliknya, gender justru menggiring dan melahirkan sikap praktik yang mendeskriminasikan wanita. Sikap dan praktik diskriminatif ini menyiratkan hubungan yang bersifat politis hubungan kekuasaan antara pria dan wanita.

B.Pembahasan

1. Peristilahan Gender, Seks dan Kaitannya dengan Feminisme

Sekilas tampak kedua peristilahan di atas (gender dan seks) tidak terlalu penting untuk dibedakan, bahkan dalam beberapa kamus bahasapun keduanya dianggap identik. Terdapat pula perspektif bahwa perbedaan gender sebagai akibat dari perbedaan seks. Namun akhir-akhir ini pengertian tersebut dipertimbangkan kembali.

Gender secara umum dapat didefinisikan suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasikan perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya. Jadi identifikasi laki-laki dan perempuan dari sudut biologis, sedangkan seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologinya1. Adanya perbedaan definisi tersebut di atas, memiliki implikasi yang sangat signifikan bagi relasi gender laki-laki dengan gender perempuan serta peran social mereka dalam suatu masyarakat yang pada akhirnya menghadapkan keduanya pada posisi yang tidak harmonis. Ketimpangan posisi perempuan dibanding laki-laki dalam masyarakat tersebut yang menjadi muara bagi feminisme, yaitu suatu upaya untuk mengkaji penyebab ketimpangan tersebut untuk mengeliminasi dan menemukan formula penyetaraan hak perempuan dan laki-laki dalam segala bidang sesuai dengan potensi mereka sebagai manusia.

Menurut Mansur Faqih,2 feminisme adalah suatu gerakan dan kesadaran yang berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan mengalami diskriminasi dan berusaha untuk menghentikan diskriminasi tersebut.

1Nasrudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif al-Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 1999), p. 35.

2Mansour Faqih, Analisa Gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), p. 15.

(3)

2. Feminisme dan Permasalahannya

1. Identifikasi Masalah

Perbedaan gender (gender differences) pada proses berikutnya melahirkan peran gender (gender role) dan dianggap tidak menimbulkan masalah, maka tidak pernah digugat. Yang menjadi masalah dan perlu digugat oleh mereka yang menggunakan analisis gender adalah struktur “ketidakadilan” yang ditimbulkan oleh peran gender dan perbedaan gender.

Manifestasi ketidakadilan tersebut menurut Dr. Mansour Faqih3 dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial adalah:

a. marginalisasi (pemiskinan ekonomi) terhadap kaum perempuan yang disebabkan oleh perbedaan gender;

b. terjadinya subordinasi pada salah satu jenis kelamin, umumnya kepada kaum perempuan, dalam RT, masyarakat maupun negara, banyak kebijakan yang dibuat tanpa menganggap penting kaum perempuan;

c. pelabelan negatif (stereotip) terhadap jenis kelamin tertentu, yang membatasi, menyulitkan, memiskinkan dan merugikan kaum perempuan;

d. kekerasan (violence) terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan. Kekerasan ini mencakup kekerasan fisik sampai kekerasan dalam bentuk halus seperti pelecehan seksual (sexual harassment);

e. pembebanan kerja domestik lebih banyak dan lama. 2. Macam-macam feminisme

Persoalan feminisme bukan merupakan suatu pemikiran atau aliran yang tunggal, melainkan terdiri atas berbagai ideologi, paradigma serta teori yang dipakai oleh masing-masing. Meskipun begitu umumnya mereka mempunyai kesamaan, keperdulian yakni memperjuangkan nasib kaum perempuan. Adapun macam-macam feminisme menurut Mansur Faqih adalah:

a. Feminisme Liberal

Aliran ini tidak melihat struktur dan sistem sebagai pokok persoalan. Asumsi dasar berakar pada pandangan bahwa kebebasan (freedom) dan kesamaan (equality) berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Feminisme liberal tidak pernah mempersoalkan diskriminasi akibat ideologi patriarki;

b. Feminisme Radikal

3Mansour Faqih, Posisi Kaum Perempuan dalam Islam,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), pp. 72-76.

(4)

Muncul akibat diskriminasi sosial (cultur sexisme) berdasarkan jenis kelamin di Barat, khususnya melawan kekerasan seksual dan pornografi. Aliran ini melihat bahwa tidak ada perbedaan antara tujuan personal dan politik, unsure-unsur seksual atau biologis. Patriarki adalah dasar dari ideologi penindasan laki-laki terhadap perempuan;

c. Feminisme Marxis

Menolak keyakinan kaum feminis radikal tentang biologi menjadi dasar perbedaan gender. Bagi mereka penindasan perempuan adalah bagian dari penindasan kelas dalam hubungan produksi. Persoalan perempuan selalu diletakkan dalam kerangka kritik dan kapitalisme. Penindasan perempuan merupakan kelanjutan dari sistem eksploitatif yang bersifat struktural;

d. Feminisme Sosialis

Bagi feminisme sosial penindasan perempuan terjadi di kelas manapun, bahkan revolusi sosial ternyata tidak sertamerta menaikkan posisi perempuan. Mereka menolak visi Marxis klasik yang meletakkan eksploitasi ekonomi sebagai dasar penindasan gender, tetapi feminisme tanpa kesadaran kelas juga menimbulkan masalah. Kritik terhadap eksploitasi kelas dari sistem kapitalisme harus dilakukan pada saat yang sama dengan disertai kritik ketidakadilan gender.

Berdasarkan kajian feminisme Muslim kontemporer, persoalan-persoalan yang didiskusikan adalah berbagai hukum yang oleh para ahli hukum klasik diklaim sebagai yang dilandasi ayat-ayat tertentu. Kebanyakan yang didiskusikan adalah mengenai status personal, permasalahan suami istri, anak, hukum waris, tata cara berpakaian serta akses perempuan ke ruang publik serta kantor-kantor umum.

3. Tanggapan terhadap Feminisme

Tanggapan-tanggapan terhadap berbagai persoalan di atas dapat digolongkan sebagai berikut:4

a. Tanggapan Apologis

Ada beberapa gerakan kerakyatan akar rumput (grass-roots) yang diasosiasikan dengan diilhami oleh atau berkait dengan gerakan-gerakan Islam di berbagai wilayah di dunia Muslim, yang meyakini bahwa Islam sebagaimana tersurat di dalam kitab Allah dan contoh-contoh yang diberikan oleh Nabi memberikan semua hak yang diperlukan oleh kedua jenis kelamin manusia bagi kesejahteraan dan pemenuhan pribadi masing-masing.

4 Zakiyudin Baidhowy, Ed., Wacana Teologi Feminisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), pp. 7-14.

(5)

Tanggapan ini membuat dua perbedaan. Pertama, ada perbedaan yang tidak ada bias dipungkiri antara kebutuhan dan keinginan laki-laki dengan kebutuhan dan keinginan perempuan, yang dipahami dan dilayani oleh ayat-ayat dalam al-Qur’an. Kedua, praktik umum dalam berbagai komunitas Muslim menyalahi atau tidak memenuhi seluruh hak bagi perempuan sebagaimana telah tersurat dalam teks-teks otoritas (al-Qur’an dan al-Hadits).

Metode mendasar dalam mempelajari al-Qur’an yang dipakai oleh para analogis adalah metode filologis dan kontekstual. Penekanannya bukan terutama pada usaha menafsirkan kembali ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki dampak terhadap status relatif kedua jenis kelamin, melainkan pada upaya mendidik perempuan tentang makna dan taksiran atas ayat-ayat tersebut;

b. Tanggapan Reformis

Bagi para reformis, kata-kata Allah telah disalahpahami secara tidak memadai atau disalahtafsirkan. Sebagaimana para apologis, para reformis juga menggunakan argumen-argumen filologis dan kontekstual untuk menafsirkan kembali ayat-ayat al-Qur’an, namun mereka telah sadar akan kebutuhan untuk menafsirkan kembali sekaligus sadar akan keterlibatan dari mereka dalam kegiatan semacam itu.

c. Tanggapan Transformasionis

Ada beberapa sarjana yang berminat untuk memperbaharui tradisi secara menyeluruh, selagi masih tetap berada di dalam kerangka kerja wacara islami yang dirumuskan secara tradisional. Mereka menggunakan berbagai strategi hermeneutics klasik untuk menciptakan ruang penafsiran dan untuk mempertemukan berbagai pertentangan yang muncul, hal-hal yang membingungkan, atau tekanan-tekanan di dalam teks itu.

Sebagai contoh, seorang sarjana Indonesia modern, Muhammad Koesnoe, memakai pembedaan klasik antara ayat-ayat yang muhkamat (jelas, pasti) dengan ayat-ayat yang mutasyabihat (metaforistis, sukar dipahami). Namun ia memakai pembedaan klasik ini dalam cara yang berbeda.

d. Tanggapan Rasionalis

Beberapa feminisme Muslim, seperti misalnya Riffat Hassan dari Pakistan, menyatakan bahwa karena Allah itu Maha Adil dan Maha Pengasih, maka kata-kata-Nya hanya bias ditafsirkan dalam istilah yang selaras dengan kualitas Ilahi tersebut. Pandangan ini tentu saja berarti menerapkan kriteria keadilan kepada al-Qur’an, dari pada sekadar menerima begitu saja bahwa al-Qur’an pastilah adil.

(6)

Ada segelintir umat Muslim yang menduga bahwa fisika nyawa mereka sendiri untuk menyatakan kewenangan al-Qur’an dalam mendiskriminasikan perempuan. Bagi mereka titik rujukannya adalah pengalaman perempuan, dan argumen apapun di luar itu, tak peduli dari manapun sumbernya, yang mendukung penindasan terhadap perempuan akan ditolak.

Tasieema Nasreem dari Bangladesh adalah seorang feminisme rejeksionis. Di depan umum ia telah menyatakan adanya kebutuhan untuk merevisi atau menolak sebagian ayat al-Qur’an yang dianggapnya Misaginis (membenci perempuan) atau seksis.

3. Pemikiran Feminisme Riffat Hassan

1. Sekilas Riwayat Hidup Riffat Hassan

Perjalanan hidup seseorang sangat perlu untuk diketahui guna meninjau faktor-faktor yang melatarbelakangi pemikiran seseorang. Beberapa faktor tersebut dapat berupa faktor keluarga, pendidikan, sosio kultural bahkan politik. Dalam hal ini Riffat Hassan mengatakan “Aku tak percaya kemungkinan untuk maju ke depan tanpa menoleh ke belakang, karena masa depan kita terlahir dari masa lalu”5. Seorang Riffat Hassan kecil, terlahir dari keluarga Sayyid kelas atas, tidak terbiasa dengan hidup selayaknya kaum elite. Ayahnya adalah seorang patriarkhi di daerah itu (Lahore-Pakistan), sedangkan ibunya sangat berlawanan dengan sang ayah yaitu seorang feminis radikal yang sangat antipati terhadap praktik patriarkhi yang sudah membudaya dan dianggap suatu kemajuan, di mana

make domination telah memaksa perempuan-perempuan Pakistan.

Dalam hal pendidikan formal, ia menerima pendidikan sekolah berbahasa Inggris yang paling bonafied sehingga pada usia relatif mudapun (12 tahun) prestasinya yang dituangkan melalui karya tulis (puisi) berbahasa Inggris cukup membanggakan. Pendidikan tinggi selanjutnya ditempuh di Inggris di St. Mary’s College University of Durham pada usia 17 tahun. Pada usia 24 tahun beliau sudah meraih gelar Doktor Filsafat.

Sepulang dari Inggris, ia memulai menjalani kehidupan pribadinya di Amerika menjadi isteri dan ibu walaupun pada akhirnya perkawinannya kandas. Kehidupan pribadi yang sedemikian tidak menyurutkan kariernya menjadi dosen, kemudian diangkat sebagai ketua jurusan Program Religious Studies di University Louisville Kentneky pada tahun 1980-1987 setelah sebelumnya (1976) meraih gelar Professor. Permasalahan-permasalahan keagamaan (khususnya Islam) yang bersifat akademis di

5Fatima Mernissi-Riffat Hassan, Setara di Hadapan Allah s.w.t., (Yogyakarta: LSPPA-Yayasan Prakarsa, 1995), p. 3.

(7)

jurusan yang dipimpinnya, inilah yang menjadi awal dari kesadarannya untuk mengkaji secara serius permasalahan diskriminasi dan ketidakadilan terhadap perempuan.

Persinggungannya dengan pemerintah Pakistan pada waktu itu cukup menyadarkannya dan membulatkan tekadnya untuk semakin intens dalam pembelaan hak perempuan melalui tulisan-tulisannya6.

2. Konstruksi Metodologi Riffat Hassan

Bagi Riffat Hassan, teologis feminisme dalam konteks Islam memiliki dua sasaran: membebaskan perempuan Muslim dan juga laki-laki muslim dari struktur-struktur dan undang-undang yang tidak adil yang tidak memungkinkan terjadinya hubungan hidup antara laki-laki dan perempuan7 secara harmonis tentunya.

Untuk memulai upaya tersebut, sebagai seorang Muslim tentunya penelusurannya berpangkal dari sumber pokok ajaran Islam (al-Qur’an) yang selama ini penafsiran al-Qur’an dianggapnya mengandung bias patriarkhi. Reinterpretasi al-Qur’an dipandangnya sebagai langkah awal untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif. Sebab memang tipe ayat dalam al-Qur’an beragam, ada yang muhkam (jelas) adapula yang simbolik. Maka penafsirannya tergantung cara pandang kita, apakah secara harfiah atau sebagai pralambang, adalah 2 (dua) cara pandang yang akan menghasilkan penafsiran yang berbeda pula8.

Dalam hal metode, ia mengutamakan ketepatan makna kata yang disesuaikan dengan setting sejarah dan akar kata sesuai dengan konteks waktu, lalu dihubungkan dengan analisis semantic sesuai dengan kondisi sosio cultural. Kemudian melakukan pengujian atas konsistensi filosofi dari penafsirannya. Semuanya kemudian disandarkan pada prinsip etis keadilan Tuhan.

Sedangkan dalam hal pendekatan, ia menggunakan:

a. Ideal Approach: Bagaimana al-Qur’an menggariskan prinsipnya

b. Empirical Approach: Mempertimbangkan kondisi empiris-historis yang ada9 (Riffat, 1990 : 87)

3. Beberapa Produk Pemikiran Riffat Hassan

a. Teori Penciptaan Hawa

6 Sita Delilah Susanti, "Feminisme Riffat Hassan", Makalah Kuliah Pemikiran dan Budaya Islam Dakwah Pengembangan Masyarakat Islam, 2000, p. 5.

7Riffat Hassan, Perempuan Islam dan Islam Pasca Patriarkhi, (Yogyakarta LSPPA-Yayasan Prakarsa, 1998), p. 73.

8Riffat Hassan, Feminisme dan al-Qur’an, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. II, (Jakarta, 1990), p. 86.

(8)

Riffat Hassan menganggap masalah penciptaan Hawa jauh lebih penting dilihat secara filosofis dan teologis, sebab telah menjadi akar permasalahan ketimpangan gender. Logika lain jika laki-laki dan perempuan diciptakan sama di hadapan Allah dipercaya sebagai sumber penentu nilai tertinggi, maka tidak mungkin kedua jenis makhluk tersebut menjadi tidak sejajar secara essensial, dengan demikian ketidaksejajaran mereka dalam dunia patriarkhi merupakan pelanggaran terhadap rencana Tuhan, dan juga sebaliknya10.

Proses penciptaan manusia dalam al-Qur’an terdapat pada Surat An-Nisa’, Al-A’Raf 189, Az-Zumar 6, yang didalamnya mengandung kalimat

Nafs Wahidah—Adam dan Zaujaha-Hawa—tanpa perincian, sehingga

enam hadits riwayat Bukhari dianggap sebagai penjelasaannya, salah satunya adalah:“Saling berpesanlah kamu sekalian untuk berbuat baik kepada

perempuan, karena mereka dijadikan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah di bagian paling atas, jika engkau luruskan tulang yang bengkong itu engkau akan mematahkannya tapi jika engkau biarkan, dia akan tetap bengkok” (HR. Bukhari).

Pembedaan dalam hal penciptaan (Hawa di ciptakan dari tulang rusuk Adam) ini telah menghasilkan stereotype yang hingga kini masih banyak kalangan Muslim menyakininya, bahwa Hawa secara creature membawa implikasi sosial-budaya yang menempatkan perempuan selalu di bawah dan di belakang laki-laki.

Melalui kiritik sanad (ekstrem) dan mata (intern) yang dilakukannya, Riffat Hassan menolak hadist tersebut dengan mengatakan bahwa Teologi perempuan dalam hadist itu didasarkan atas generalisasi tentang ontologi biologi dan psikologi yang bertentangan dengan tersurat maupun yang tersirat dalam al-Qur’an.

b. Konsep Poligami

Konsep Islam mengenai poligami adalah issue yang sering dilontarkan oleh kaum orientalis, dijadikan sasaran untuk menghujat Islam. Sekali lagi Riffat Hassan mengatakan penafsiran yang salah terhadap al-Qur’anlah yang menjadi penyebab utama penyimpangna pelaksanaannya. Menurutnya, fokus utama pelaksanaan poligami oleh Nabi adalah masalah penyantunan anak yatim, maksudnya perkawinan itu berarti menikahi ibu anak yatim.11 Jadi pernikahan Nabi dengan istri-istrinya tidak bermuatan hedonis. Melihat setting sejarah turunnya ayat an-Nisa’: 3 (satu-satunya ayat mengenai poligami) berhubungan dengan pasca

10Riffat Hassan, Teologi Perempuan Dalam Tradisi Islam, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. 4. No.4, Jakarta, 2000, p. 53.

(9)

perang sehingga banyak syahid meninggal dan meninggalkan banyak janda dan anak-anak yatim.

Menurut Riffat Hassan, perkawinan Rasul yang pertama merupakan perkawinan yang terpenting, ketika itu beliau berumur 25 tahun dan menjalankan monogami hingga usia 50 tahun. Jadi pernikahan monogami beliau itulah yang selayaknya jadi contoh ideal.

c. Konsep Purdah (Jilbab)

Menurut Riffat Hassan, dunia masyarakat Islam semuanya dibagi menjadi 2 (dua) wilayah12 yaitu wilayah Privat (rumah) dan wilayah umum (tempat kerja). Yang pertama menjadi wilayah perempuan dan kedua menjadi wilayah laki-laki. Segregrasi (pemisahan) wilayah berdasarkan sex ini dianggap paling tepat dan aman, sehingga jika perempuan terpaksa memasuki wilayah kerja maka harus menggunakan purdah untuk mengesankan ketidak adaannya. Padahal menurut Riffat Hassan perintah menggunakan purdah mengandung prinsip kesahajaan. Perempuan dianjurkan untuk bersahaja dalam berpakaian, bersuara dan berjalan oleh sebab penghindaran dari hal yang tidak diinginkan. Jika perempuan berbusana, bersuara dan bertingkah berlebihan. Dimaksudkan pula bahwa menghindarkan perempuan dari pandangan dan perhatian laki-laki yang menjurus ke arah menjadikan dia obyek seks. Jadi prinsipnya menurut Riffat Hassan adalah pakaian yang menurut rasa kepantasan setempat menjadi perempuan dihormati kemanusiaannya.

D. Mencari Paradigma Yang Tepat Dalam Memposisikan Wanita Dalam Kajian Islam (Sebuah Solusi)

Dalam dasawarsa terakhir ini terjadi transformasi ke arah peningkatan peran wanita dalam berbagai sektor kehidupan. Hal ini berkaitan kuat dengan gerakan-gerakan sistematis yang dilakukan oleh kalangan feminis, yang mampu mempengaruhi kebijakan publik dan membangun negara di belahan dunia. Oleh karena itu, hampir semua program yang dilakukan tidak luput mengaitkannya dengan isu WID (Women in Development) dan Gender. Demikian juga di kancah politik praktis, posisi wanita sudah semakin diperhitungkan.

Transformasi peran wanita tersebut ditandai dengan dikembangkannya cara-cara berpikir baru tentang hubungan (relasi) pria-wanita dengan melakukan kritik terhadap tatanan budaya, struktur social, politik dan ekonomi yang dianggap sebagai ciptaan kaum pria. Oleh kalangan feminis, dunia ini dianggap dunianya pria, dan segala sesuatunya

(10)

ditentukan oleh pria. Sementara wanita, sejak dari dalam keluarga, sudah berada dalam posisi tertindas dan tereksploitasi oleh kaum pria. Wanita diporsikan hanya untuk berperan domestik, sedangkan laki-laki bisa secara leluasa dan bebas. Singkat kata, wanita (seakan-akan) tidak merasa atau tidak memiliki haknya sendiri, sehingga oleh karenanya, perlu terus diperjuangkan untuk mengubahnya menjadi setara. Suatu perjuangan ide logis kearah pemberdayaan kaum wanita13.

Dalam rangka memperjuangkan kebebasan (yang positif) dan kesetaraan gender, tentunya diperlukan sebuah paradigma yang mengantarkannya kepada perjuangan gender yang tidak melanggar atau melampaui ketentuan-ketentuan syari'at.

Fiqh sebagai pengetahuan yang diproses melalui aktifitas ijtihad sebagaimana disebutkan di atas adalah bersifat dhanni, artinya masih memungkinkan dikaji ulang dan dikritisi. Karena fiqh dikontruksi oleh seorang faqih, kondisi sosial dan metodologi yang digunakan, kebenarannya adalah relatif. Hal ini sesuai dengan teori kritis (Critical

Theory) yang dicetuskan oleh pendiri Frankfurt School. Menurut teori kritis

ini, ilmu pengetahuan (termasuk fiqh) tidaklah bebas nilai, melainkan dipengaruhi oleh kepentingan, pengalaman dan konteks si pembuat ilmu pengetahuan tersebut.14

Berdasarkan argumen teori kritis, dapat diasumsikan bahwa kajian para ahli fiqh terhadap al-Qur’an dan al-Hadits yang melahirkan kesimpulan fiqh (buku fiqh), tidaklah bebas nilai, melainkan dipengaruhi oleh kepentingan, pengalaman, ketelititian, metodologi pendekatan yang dipakai dan konteks kehidupan para ahli fiqh itu sendiri.

Menurut Karl Mannheim seorang pendiri sosiologi ilmu pengetahuan, berpendapat bahwa tidak ada sistem konsep dan sistem nilai yang dapat mengklaim bahwa validitasnya tak terbatas waktu. Ini berarti bahwa sistem konsep dan sistem nilai dapat berubah karena perubahan situasi dan kondisi.

Berdasarkan argumen Mannheim, dapat diketahui bahwa fiqh yang diproses melalui kajian al-Qur’an dan al-Hadits, khususnya tentang perempuan, dipengaruhi oleh keadaan ajaran social pada masa dilakukannya pengkajian tersebut. Fiqh (baik sebagai suatu ilmu atau hukum) yang diproduk atau dikonstruksi para ahli fiqh beberapa abad yang lalu, mungkin relevan bagi orang-orang yang hidup pada saat itu. Namun mesti tidak relevan dengan Indonesia sekarang. Oleh karenanya,

13Laode Ida, "Gerakan Wanita dan Dilema Budaya Lokal",Jawa Pos, Surabaya, 21 Desember 1996, p. 13.

14Said Aqil Munawwar, Dimensi-dimensi Kehidupan Dalam Perspektif Islam,(Malang: PPs Unisma, 2000), p. 40.

(11)

kajian fiqh yang sesuai dengan konteks Indonesia diperlukan untuk memelihara relevansi ajaran Islam dengan konteks Indonesia sekarang ini15.

Bila hal itu dapat terwujud, maka Islam yang sering disalahfahami oleh sebagian orang, akan kelihatan ruh aslinya sebagai “Agama Keadilan”sesuai dengan tugas dan tujuan agama menciptakan dunia yang adil. Ini adalah sisi lain yang mendasar tentang bagaimana kita dapat memposisikan fiqh secara tepat, menjadi penafsir Islam yang demokratis, yang mengarah pada terbentuknya relasi yang adil antara laki-laki dan perempuan16.

Sehubungan dengan hal di atas, sosiologi ilmu pengetahuan feminis mencoba untuk membentuk ilmu pengetahuan dari perspektif pengalaman kaum wanita. Dorothy Smith, seorang feminis Stanpoint berpendapat bahwa sosiologi dan ilmu pengetahuan lainnya telah dibentuk berdasarkan pengalaman dan hubungan kaum pria, dan telah dianggap sebagai “wilayah” kaum pria, sehingga tidak ada ruang yang tersisa untuk memperhatikan pengalaman hidup kaum wanita. Akibatnya, ketika kaum wanita berkecimpung dalam pembuatan ilmu pengetahuan, tidak seperti kaum pria, mereka menghadapi permasalahan praktis seperti bagaimana cara mengatur karir dan anak-anak, bagaimana supaya pekerjaan rumah tangga dapat terselesaikan, juga waktu berkarir dapat dikoordinasikan dengan waktu mengurus rumah tangga. Masalah tersebut akan dianggap sepele dan tak terlihat oleh kaum pria selama yang menjadi subyek ilmu pengetahuan adalah pria17.

Untuk mengimbangi sosiologi yang bias pria, diperlukan pergantian subyek utama, ini karena kaum wanita dan pria hidup dalam situasi yang sama, yang pada saat bersamaan, menetapkan kaum pria pada posisi superior (lebih tinggi) dan wanita pada posisi inferior-subordinat (lebih rendah). Untuk menghindari hal tersebut perlu dicoba menggunakan metodologi lainnya. Pendekatan ini memberikan pendekatan pada kaum wanita dan posisi mereka dalam masyarakat serta membandingkannya dengan penekanan kaum pria pada metodologi lainnya.

Dalam metodologi ini diharapkan kaum wanita menjadi peneliti utamanya, karena hanya wanitalah yang dianggap benar-benar mengerti kaum wanita dan solusi mereka. Berdasarkan sosiologi pengetahuan feminis, dapat disampaikan bahwa reinterpretasi ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits dan pengalaman perspektif hidup wanita setidaknya akan

15 Ibid.,p. 147.

16Jurnal Pemikiran Islam Tentang Pemberdayaan Perempuan, PP. Muslimat NU, Jakarta, 2000, p. 75.

(12)

mengimbangi kajian yang dilakukan berdasarkan pengalaman hidup kaum pria, sehingga akan terbentuk fiqh yang berkeadilan gender.

Hanya saja yang perlu dicatat di sini adalah sebagai berikut:

1. orang yang akan mengkonstruksi atau merekonstruksi fiqh perempuan itu, harus betul-betul orang/sekelompok orang yang telah memiliki criteria untuk itu. Jadi tidak asal orang yang dapat merasionalisasikan sesuatu, lalu otomatis ia berhak mengklaim diri sebagai boleh untuk berijtihad;

2. harus mempunyai otoritas ilmiah fiqhiyah, sehingga tidak terjebak pada penghujatan fiqh, yang kemungkinan akan terseret kepada penghujatan syari’ah atau bahkan al-hadist;

3. berdasarkan teori kritis. Mengingat gerakan feminis itu datang dari Barat, tentunya kita harus selektif dan kritis, terutama ketika menggunakan pendekatan-pendekatan yang dijadikan dasar pemikiran gerakan feminis tersebut;

4. re-interpretasi, rekonstruksi dan konstruksi yang akan dilakukan, haruslah berangkat dari niat tidaklah bermaksud untuk menciptakan ketidakadilan baru, atau menempatkan posisi wanita lebih tinggi dibandingkan pria, melainkan untuk menciptakan kesetaraan relasi gender antara wanita dan pria.

E. Membangun Diskursus dan Fiqh Yang Berkeadilan Gender

Islam memandang bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan Allah s.w.t. dalam derajat yang sama, oleh karena itu hubungan laki-laki dan perempuan adalah hubungan kesetaraan, tidak boleh terjadi ketidakadilan dalam hubungan tersebut, dan keduanya mempunyai hal yang sama dalam menentukan masa depan bersama. Karena Islam telah menekankan spirit keadilan dan keseimbangan (tawazundalam berbagai aspek kehidupan).

Ternyata secara empirik dalam kajian fiqh (kitab-kitab fiqh), ditemukan beberapa kajian yang dipandang bias gender, yang dipandang cenderung kurang adil terhadap perempuan. Hal ini dipandang sebagai kenyataan yang menyimpang dari spirit Islam yang menekankan pada keadilan. Sejumlah kajian, diskusi, seminar digelar di mana-mana untuk menjawab mengapa terjadi ketidakadilan terhadap perempuan? Sungguh mencengangkan sekaligus menarik ketika diketahaui, bahwa “agama” telah terlibat dalam arus besar budaya yang tidak bersikap adil terhadap perempuan. Tanpa disadari pula, ternyata telah terjadi tarik menarik yang sulit dipisahkan antara sistem budaya dan “agama” yang memberikan kekuatan besar bagi terciptanya subordinasi dan ketertindasan kaum perempuan tersebut. Ketidakadilan ini, terutama berkaitan dengan

(13)

persoalan relasi laki-laki dan perempuan di tengah-tengah pergumulan hidup dan kehidupan, baik dalam ruang domistik maupun publik. Ada kesenjangan dan ketimpangan antara identitas agama memberikan peran dan aktualisasi atas dasar-dasar kaum perempuan seperti diberikannya kepada kaum laki-laki, realitas sosial justru membatasi dan membelenggunya.

Kesenjangan seperti ini tentunya perlu dihilangkan melalui upaya-upaya intelektual yang kritis dan menerobos terhadap teks-teks keagamaan yang dijadikan pedoman. Dalam istilah yang popular kita perlu melakukan

reinterpretasi dan rekonstruksi terhadap pembangunan pemikiran keagamaan dalam konteks sosial sekarang18.

Terdapat tiga bidang masalah yang menjadi halangan terciptanya “hubungan gender” yang lebih adil yaitu bidang yang berkaitan dengan teologi (pandangan agama), kebudayaan (persepsi masyarakat) dan politik.19 Berikut penjelasannya:

1. Bidang Teologi

Terdapat penafsiran keagamaan terhadap ayat atau hadist yang tidak sesuai dengan prinsip keadilan gender, sebaliknya malah bias laki-laki. Sejumlah besar ulama memandang bahwa laki-laki memang menempati posisi superioritas atas perempuan. Laki-laki lebih unggul dari perempuan. Kesimpulan ini dihubungkan dengan QS. An-Nisa ayat 34 dan Hadist

“Lam Yafliha Qaumun Wallau Amarahum Imra’atan”.

Tokoh-tokoh utama yang menjadi panutan kaum Muslimin di seluruh dunia, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Al-Mawardi, ketika membicarakan kekuasaan kehakiman sebuah kekuasaan dalam wilayah publik mereka mempersyaratkan jenis kelamin laki-laki untuk jabatan ini. Menurut mereka kekuasaan kehakiman diperlukan kecerdasan pikiran prima. Kriteria ini hanya dimiliki oleh laki-laki. Sementara tingkat kecerdasan dan intelektualitas perempuan di bawah kecerdasan laki-laki. Dan laki-laki berada di wilayah publik, sementara perempuan di wilayah domestik.

2. Bidang Kebudayaan

Terdapat apa yang disebut kebudayaan patriarkhi, yaitu kebudayaan yang menempatkan peran laki-laki melakukan apa saja dan menentukan apa saja, disadari atau tidak. Sebaliknya kaum perempuan berada pada posisi subordinat yakni tunduk pada laki-laki. Perempuan juga dianggap

18Husen Muhammad, Fiqh Perempuan,(Yogyakarta: LKiS, t.t.), p. xxiv.

19Saifuddin, Paradigma Baru Dalam Kajian Fiqh Berkeadilan Gender,Jurnal al-Adalah STAIN Jember Vol.5 No.2 Agustus 2002, pp. 13-14.

(14)

hanya layak berada di wilayah domistik, sesuai dengan pandangan perempuan sebagai teman belakang atau di balik wilayah publik. Hal ini biasanya disimpulkan dari ayat 33 surat al-Ahzab.

3. Bidang Politik

Terdapat praktik-praktik politik mendiskriminasikan perempuan. Di setiap instansi formal, kehadiran perempuan sangata marginal. Akibat ketidakterwakilan perempuan dalam pusat-pusat pengabdian keputusan itu adalah bahwa “isu-isu yang menjadi perhatian perempuan sering tidak mendapatkan perhatian di dalam perdebatan-perdebatan politik”. Perempuan hanya menjadi obyek dari sistem politik yang dibangun secara sepihak oleh kaum laki-laki20.

Dalam pandangan mayoritas ahli fiqh konservatif selama ini, peran politik dalam arti amar ma’ruf nahi mungkar, laki-laki dan perempuan memang diakui sebagai memiliki hak dan kewajiban yang sama. Akan tetapi dalam arti politik praktis yang di dalamnya diperlukan pengambilan keputusan yang mengikat (al-Wilaya al-Multazamah) menyangkut masyarakat luas, seperti pengambilan keputusan dalam pengadilan (menjadi hakim) dalam lembaga legislative dan eksekutif atau kekuasaan besar/publik (al-Wilaya al-Udzma), tugas-tugas ini menurut kebanyakan ulama tidak dapat diperlakukan secara sama.21 Ingat rekomendasi konferensi Islam Indonesia (KUII) tentang keharusan posisi presiden dan wakil presiden dijabat oleh pria dan dilarang dijabat oleh wanita.

Demikian juga fatwa yang dikeluarkan oleh Universitas Al-Azhar tahun 1992, misalnya menyebutkan: “Syariat Islam melarang kaum perempuan menduduki jabatan-jabatan yang meliputi kekuasaan-kekuasaan umum (publik). Yang dimaksud kekuasaan-kekuasaan umum dalam fatwa di atas adalah kekuasaan memutuskan/memaksa (Sultanah

al-Multazamah) dalam urusan-urusan kemasyarakatan (al-Jama’ah), seperti

kekuasaan membuat Undang-undang (legislatif), kekuasaan kehakiman (yudikatif) dan kekuasaan melaksanakan Undang-undang (eksekutif) (Lajnah Fatwa bi al-Azhar).

Untuk mengatasi tiga masalah di atas diperlukan upaya terus-menerus untuk:

1. menafsirkan ulang beberapa nuktah dalam pemahaman keagamaan;

2. untuk melihat kembali secara kritis paham-paham kebudayaan yang bias laki-laki (kebudayaan patriarkhi);

20Said Aqil Munawwar, Dimensi, p. 162. 21Husen Muhammad, Fiqh Perempuan, p. 141.

(15)

3. untuk merombak praktik-praktik politik yang mendiskriminasikan perempuan22.

F. Analisis dan Kesimpulan

Dari paparan mengenai feminisme hingga wacana feminis Riffat Hassan serta membangun diskursus yang berkeadilan gender di atas, tampak bahwa Riffat Hassan, seorang feminis asal Pakistan yang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam mengembangkan diskursus pembelaan perempuan Islam dari ketertindasannya pada tingkat internasional.

Dia adalah salah satu perempuan Muslim berprestasi yang berani mencoba menggugat pelaksanaan ajaran Islam yang dianggapnya menyimpang jauh dari konsep asal. Kekeliuran interpretasi terhadap al-Qur’an yang secara tidak sengaja maupun sengaja telah menimbulkan

polarisasi konsep budaya; seperti adanya terminologi Superioritas-Inferioritas atas 2 (dua) jenis makhluk yang kedudukannya disejajarkan di hadapan Tuhan, sebagai pencipta kedua jenis tersebut.

Dalam hal ini dia (Riffat Hassan) memfokuskan kajiannya pada masalah teologi, oleh sebab dalam lintasan sejarahnya bidang inilah yang paling ampuh digunakan untuk pengabsahan perilaku hegemonis laki-laki atas perempuan.

Beberapa item kajiannya, seperti penciptaan Hawa, poligami, purdah, juga metode yang digunakannya serta pandangan pribadinya terhadap produk-produk hadits tidak sepi dari hujatan, kritik pedas bahkan celaan. Namun kami lebih melihat sisi positif nilai kontribusinya bagi wacana feminis Islam. Bahkan di tengah hujatan-hujatan yang dilontarkan padanya, dengan rendah hati pula ia katakana: “apa yang saya

lakukan adalah upaya untuk memberikan senjata bagi kaum perempuan agar mereka bisa memberikan argumentasi keagamaan dalam berjuang mengubah realitas dirinya”. Selama ini argumentasi mereka selalu dipatahkan oleh interpretasi dan aturan yang merupakan hasil interpretasi kaum lelaki.

(16)

Daftar Pustaka

Anshori, S. Dadang (Ed)., Membincang Feminisme, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997.

Baidhawy, Zakiyuddin, Wacana Teologi Feminisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

Delilah, Sita Susanti, Feminisme Riffat Hassan, Makalah Kuliah Pemikiran dan Budaya Islam Dakwah Pengembangan Masyarakat Islam, Tidak diterbitkan, 2000.

Faqih, Mansur, Analisa Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

_______, Posisi Kaum Perempuan dalam Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Hassan, Riffat, Feminisme dan al-Qur’an Sebuah Percakapan dengan Riffat

Hassan, Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. II, 1990.

_______, Perempuan Islam dan Islam Pasca Patriarkhi, Yogyakarta: Yayasan Prakarsa, 1998.

_______, Teologi Perempuan dalam Tradisi Islam, Jurnal Ulumul Qur’an, No.4/1/2000.

Husen, Muhammad, Fiqh Perempuan,Yogyakarta: LKiS, 2001.

Mernissi, Fatima – Hassan, Riffat, Setara Dihadapan Allah, Yogyakarta: LSPPA-Yayasan Prakarsa, 1995.

Munawar, Said Aqil, Dimensi-dimensi Kehidupan Dalam Perspektif Islam, Malang: PPs Unisma, 2000.

Muslimat, PP., Pemikiran Islam Tentang Pemberdayaan Perempuan, Jakarta, 2000.

Saifuddin, Paradigma Baru Dalam Kajian Fiqh Berkeadilan Gender, Jurnal

al-Adalah STAIN Jember Vol.5 No.2 Agustus 2002.

Umar, Nasruddin, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 1999.

Referensi

Dokumen terkait

Pada hasil peramalan model 1 pada Gambar 2, Metode Normalisasi yang digunakan adalah MinMaxScaller, pembagian data uji dan data latih sebesar 70% : 30 %, total layer sebanyak

Manfaat yang diharapkan dari penelitian eksperimen tentang efektivitas penggunaan media gambar seri untukmeningkatkan keterampilan bercerita siswa pada pembelajaran Tematik

1) Jawaban untuk pertanyaan nomor satu ini berhubungan dengan dasar- dasar mikroekonomi yang diketahui memiliki fokus pembelajarn pada perilaku individu termasuk

Rekayasa perangkat lunak tidak hanya berhubungan dengan proses teknis dari pengembangan perangkat lunak tetapi juga mencakup kegiatan manajemen proyek perangkat lunak

Fusi protoplas intraspesies Pichia manshurica DUCC-015 telah memperoleh fusan dengan a menghasilkan aktivitas inulinase tinggi mencapai 0,965 IU/mL dibandingkan induk

Pengaruh komitmen organisasional terhadap motivasi dan kepuasan kerja lebih besar daripada pengaruh variabel budaya organisasi terhadap motivasi dan kepuasan kerja maupun

Penggunaan pendekatan berorientasi layanan untuk memperluas pohon pencarian ke dalam sistem terdistribusi akan memecahkan banyak masalah terdistribusi, Saran yang dapat