B
B
A
A
B
B
4
4
U
U
R
R
A
A
I
I
A
A
N
N
P
P
E
E
N
N
D
D
E
E
K
K
A
A
T
T
A
A
N
N
D
D
A
A
N
N
M
M
E
E
T
T
O
O
D
D
O
O
L
L
O
O
G
G
I
I
4
4.
.1
1.
.
PE
P
EM
M
AH
A
HA
AM
M
AN
A
N
T
T
ER
E
RH
HA
AD
DA
A
P
P
KA
K
AK
K
4
4
.
.
1
1
.
.
1
1
.
.
P
P
E
E
M
M
A
A
H
H
A
A
M
M
A
A
N
N
T
T
E
E
R
R
H
H
A
A
D
D
A
A
P
P
L
L
A
A
T
T
A
A
R
R
B
B
E
E
L
L
A
A
K
K
A
A
N
N
G
G
P
P
E
E
K
K
E
E
R
R
J
J
A
A
A
A
N
N
Provinsi Aceh memiliki daerah rawa yang cukup luas baik daerah rawa pasang surut maupun daerah rawa non pasang surut. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan, pemerintah lndonesia telah berusaha meningkatkan produk dan pengembangan lahan pertanian, diantaranya adalah pemanfaatan lahan marginal seperti lahan rawa pasang surut dan rawa non pasang surut. Pengembangan daerah rawa yang dipilih, pada umumnya adalah daerah-daerah yang masyarakatnya berbasis pertanian yang terbukti telah banyak memiliki sawah tadah hujan yang selama ini diusahakan oleh masyarakat setempat. Hal ini dipilih disamping sebagai pengembangan wilayah dan membuka mata pencaharian di pedesaan, juga untuk mempercepat lahan-lahan sehingga dapat dimanfaatkan, disamping itu memang di daerah tersebut telah tersedia para penggarap yang cukup.
Kegiatan yang dilakukan pada areal rawa pasang surut Lhueng Raya berupa rehabilitasi dengan melakukan penggalian saluran guna mengembalikan dimensi saluran yang telah mengalami pendangkalan akibat terjadinya sedimentasi kepada dimensi rencana. Dengan terjadinya pertambahan jumlah penduduk yang begitu cepat dan juga perubahan kondisi klimatologi saat ini telah mendorong terjadi beberapa perubahan lahan dilokasi tersebut. Dengan perubahan pengembangan lahan yang begitu cepat, yang mengakibatkan perubahan daya simpan air, maka desain bangunan dan dimensi saluran yang semula
berdasarkan desain terdahulu menjadi tidak sesuai lagi dan perlu dilakukan review design. Dengan pertimbangan tersebut, maka Balai Wilayah Sungai Sumatera l melalui DlPA TA.2013 merencanakan untuk melakukan Survey Investigasi dan Desain (SID) terhadap Daerah Rawa Lhueng Raya (4.000 Ha) di Kabupaten Nagan Raya, guna didapatkan gambar desain yang sesuai dengan kondisi lapangan yang ada sekarang.
4
4
.
.
1
1
.
.
2
2
.
.
P
P
E
E
M
M
A
A
H
H
A
A
M
M
A
A
N
N
T
T
E
E
R
R
H
H
A
A
D
D
A
A
P
P
M
M
A
A
K
K
S
S
U
U
D
D
D
D
A
A
N
N
T
T
U
U
J
J
U
U
A
A
N
N
P
P
E
E
K
K
E
E
R
R
J
J
A
A
A
A
N
N
Maksud pekerjaan ini untuk melakukan review terhadap desain yang ada agar dapat melayani lahan semaksimal mungkin, dengan tetap memperhatikan ketersediaan air dan luasan lahan yang memungkinkan dikembangan sebagai daerah rawa yang potensial menjadi lahan yang produktif.
Tujuannya dihasilkan review design perencanaan teknis.iaringan rawa yang meliputi saluran dan keseluruhan bangunan air yang dibutuhkan.
4
4
.
.
1
1
.
.
3
3
.
.
P
P
E
E
M
M
A
A
H
H
A
A
M
M
A
A
N
N
T
T
E
E
R
R
H
H
A
A
D
D
A
A
P
P
S
S
A
A
S
S
A
A
R
R
A
A
N
N
P
P
E
E
K
K
E
E
R
R
J
J
A
A
A
A
N
N
Kegiatan Survey Investigasi dan Desain (SID) daerah rawa pasang surut Lhueng Raya meliputi sasaran sebagai berikut:
a. Mereview desain awal yang meliputi ketersediaan air dan luas areal yang dapat dilayani (water balance), sehingga dapat memecahkan masalah dengan berbagai alternatif baik ditinjau dari aspek teknis, ekonomis, dan sosial dan menetapkan jalan pemecahan sebaiknya;
b. Mereview bangunan-bangunan dan jaringan tata air; c. Mereview sistem planning daerah rawa pasang surut;
d. Mereview dimensi saluran yang ada disesuaikan dengan kondisi muka air pasang surut saat ini.
e. Menentukan/memilih perencanaan teknis konstruksi yang tepat, ekonomis dan dapat dibangun dengan memperhatikan ketersediaan material bangunan disekitar lokasi.
4
4
.
.
1
1
.
.
4
4
.
.
P
P
E
E
M
M
A
A
H
H
A
A
M
M
A
A
N
N
T
T
E
E
R
R
H
H
A
A
D
D
A
A
P
P
L
L
O
O
K
K
A
A
S
S
I
I
P
P
E
E
K
K
E
E
R
R
J
J
A
A
A
A
N
N
Lokasi kegiatan Survey Investigasi dan Desain (SID) ini di daerah rawa pasang surut Lhueng Raya Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh.
Gambar.2
4
4
.
.
1
1
.
.
5
5
.
.
P
P
E
E
M
M
A
A
H
H
A
A
M
M
A
A
N
N
T
T
E
E
R
R
H
H
A
A
D
D
A
A
P
P
H
H
A
A
S
S
I
I
L
L
K
K
E
E
L
L
U
U
A
A
R
R
A
A
N
N
P
P
E
E
K
K
E
E
R
R
J
J
A
A
A
A
N
N
Keluaran yang dihasilkan pekerjaan ini adalah:
a. Desain bangunan, Jaringan saluran dan System Planning seluas 4.000 Ha. b. Nota Perhitungan dan manual OP
c. Peta hasil pengukuran situasi dan lahan layanan seluas 4.000 Ha. d. Gambar desain lengkap
Jenis laporan yang harus diserahkan kepada pengguna jasa adalah: 1. Rencana Mutu Kontrak (1 rangkap)
RMK dibuat oleh penyedia jasa dalam rangka pelaksanaan pekerjaan , diserahkan paling lambat 1 (satu) minggu setelah kontrak ditandatangani .
2. Laporan Pendahuluan (1 rangkap untuk bahan diskusi; 2 rangkap final laporan pendahuluan)
Laporan Pendahuluan berisi gambaran umum lokasi pekerjaan, hasil pengumpulan data, temuan-temuan awal & permasalahan yang ada dilapangan, rencana kerja penyedia jasa, mobilisasi tenaga ahli dan pendukung, jadual kegiatan & metodologi yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan. Laporan pendahuluan ini diserahkan paling lambat 1 (satu) bulan setelah kontrak ditandatangani & dibuat sebanyak 1 (satu) rangkap untuk bahan diskusi. Laporan Pendahuluan yang telah diperbaiki diserahkan 1 (satu) minggu setelah diskusi dilaksanakan dan diserahkan sebanyak 2 rangkap.
3. Laporan Bulanan (masing-masing 1 rangkap tiap bulannya)
berisi kemajuan pekerjaan, masalah yang dihadapi, langkah-langkah yang perlu diambil, rencana kerja selanjutnya, absensi seluruh personil dan kurva S. Laporan bulanan diserahkan setiap awal bulannya.
4. Laporan Lapangan (masing-masing dibuat 2 rangkap).
Laporan lapangan meliputi laporan hasil survey lapangan yang berisi data lapangan yang sudah tersusun sebelum dilakukan pengolahan data.
Laporan lapangan ini tediri dari :
· Survey pengukuran topografi, Deskripsi BM/CP dan Buku ukur. · Survey hidrometri dan hidrologi
· Survey Mekanika Tanah · Survey Tanah Pertanian
· Survey Agro SOSEK, SOSBUD dan lingkungan.
5. Laporan Antara (Konsep laporan antara untuk bahan diskusi dibuat rangkap 1 dan final laporan antara dibuat 2 rangkap).
Laporan antara merupakan laporan hasil lapangan beserta analisanya; system planning berupa alternative layout beserta konsep dasarnya; nota desain beserta metode, rumus serta perhitungan model matematik. Konsep Laporan antara ini harus didiskusikan terlebih dahulu sebelum dicetak menjadi final laporan antara.
Laporan antara ini terdiri dari : · Laporan sistem planning · Nota Desain
· Analisa laporan lapangan
6. Deskripsi BM & CP, Lap. Pengukuran Topografi dibuat 2 rangkap. 7. Buku Data Ukur dan Hitungan dibuat 2 rangkap.
8. Laporan Geologi Teknik/Mekanika Tanah (Draft laporan Geologi Teknik/Mekanika Tanah dibuat 1 rangkap; Final laporan Geologi Teknik/Mekanika Tanah dibuat 2 rangkap).
9. Laporan Hidrologi/Hidrometri (Draft laporan Hidrologi/Hidrometri dibuat 1 rangkap; Final laporan Hidrologi/Hidrometri dibuat 2 rangkap).
10.Laporan Tanah Pertanian (Konsep Laporan Tanah Pertanian dibuat 1 rangkap; Final Laporan Tanah Pertanian dibuat 2 rangkap).
11. Laporan Agro SOSEK, SOSBUD & Lingkungan dibuat 2 rangkap.
12.Laporan Design Note (Konsep Laporan Design Note dibuat 1 rangkap; Final Laporan Design Note dibuat 2 rangkap).
13.Laporan Akhir (Konsep laporan akhir dibuat 1 rangkap; Laporan akhir dibuat 2 rangkap).
Laporan akhir berisi rangkuman dari seluruh kegiatan survey yang telah dilakukan, Review desain tata air yang diusulkan beserta metode dan hasil-hasil perhitunganya, BOQ dan Rab, perhitungan analisa ekonomi serta kesimpulan dan saran-saran yang diusulkan.
14.Laporan Ringkas (Executive Sumarry) (rangkap 2)
Laporan Ringkas isinya menguraikan hasil-hasil survey secara ringkas beserta kesimpulan dan saran-saran yang diperlukan.
15.Laporan Bill of Quantity, RAB, Metode Kerja, Spektek (rangkap 2)
Biaya pelaksanaan berdasarkan harga harga satuan yang berlaku didaerah yang bersangkutan pada saat ini.
Konsultan diwajibkan membuat spesifikasi teknis pekerjaan yang akan dilaksanakan sebagai petunjuk/pedoman teknis dalam pelaksanaan konstruksi.
Konsultan diwajibkan membuat metode pelaksanaan pekerjaan yang akan digunakan sebagai petunjuk/pedoman dalam pelaksanaan konstruksi.
16.Manual O & P (rangkap 2).
Konsultan wajib membuat buku perencanaan kebutuhan oorganisasi/personil, peralatan, perlengkapan dan fasilitas O&P sertarencana pembiayaannya termasuk petunjuk pelaksanaan bagi petugas lapangan.
17.Laporan Inventarisasi Aset (Saluran & Bangunan) dibuat 2 rangkap. 18.Laporan RKL dan RPL (3 rangkap).
19.Gambar Desain/Cetak biru
Gambar desain berupa kalkir dijilid sebanyak (1) rangkap; cetak biru ukuran A1 dijilid sebanyak 2 rangkap dan Gambar ukuran A3 diperkecil (5 rangkap).
Gambar tersebut berisi antara lain : a. Peta-peta.
Peta situasi skala 1:5.000 Peta ikhtisar skala 1:20.000
Peta situasi rencana tapak bangunan 1:200
Peta situasi trace yang ditentukan dengan skala 1:5.000. Penampang memanjang Skala panjang 1:5.000.
Skala tinggi 1:100 Penampang melintang Skala panjang 1:100.
Skala tinggi 1:100
Peta penyebaran jenis tanah yang menyangkut juga keasaman, tekstur tanah dan lokasi titik pengamatan.
Peta ketebalan gambut (0-25, 25-50, 50-100 dan > 200 cm) Peta kedalaman lapisan pirit (0-25, 25-50, 50-100 dan > 100 cm) Peta kedalaman air tanah dan tinggi genangan
Peta klas kesesuaian lahan. b. Gambar.
Trace dan penampang saluran (skala panjang 1 : 50; skala tegak 1 : 100) Penampang melintang (skala panjang 1 : 100; skala tegak 1 : 100).
Situasi tapak bangunan (existing/rencana) skala 1 : 200 20. Dokumentasi / Album Foto dibuat 3 rangkap.
21. Diskusi :
· Diskusi Konsep antara · PKM
Konsultan harus mensosialisasikan melalui PKM hasil-hasil review perencanaan bangunan, jaringan saluran dan sistem planning yang berhubungan dengan masalah sosial, ekonomi dan tanggung jawab Operasi dan Pemeliharaan. Diskusi Konsep Laporan akhir
22. External Memory 1 Unit yang berisi hasil pelaksanaan pekerjaan dari Point 1 s/d 21.
4
4
.
.
2
2
.
.
P
P
E
E
N
N
D
D
E
E
K
K
A
A
T
T
A
A
N
N
T
T
E
E
R
R
H
H
A
A
D
D
A
A
P
P
P
P
E
E
K
K
E
E
R
R
J
J
A
A
A
A
N
N
Agar pelaksanaan Pekerjaan““SSIIDD DDaaeerraahh RRaawwaa LLhhuueenngg RRaayyaa ((44..000000 HHaa)) ddii K
Kaabb.. NNaaggaann RRaayyaa””, Provinsi Aceh ini dapat mencapai hasil yang optimal, Konsultan akan melakukan Pendekatan teknis berupa Evaluasi Hasil Guna Program daerah yang akan direncanakan.
Evaluasi ini merupakan peninjauan terpadu mengenai ““SSIIDD DDaaeerraahh RRaawwaa LLhhuueenngg R
Raayyaa ((44..000000 HHaa)) ddii KKaabb.. NNaaggaann RRaayyaa””, Provinsi Aceh, yang menyangkut aspek-aspek :
Teknis
Sosio Ekonomi dan Lingkungan
Konsultan akan meneliti kembali Potensi Alamiah daerah yang direncanakan beserta seluruh batasan-batasannya untuk kemudian menyusun sasaran yang dapat diterapkan dalam suatu Program Rencana Pengembangan dan menganalisa serta mengevaluasi pengaruh terhadap kondisi daerah kajian. Dengan demikian secara garis besarnya, evaluasi yang akan dilaksanakan merupakan suatu proses tinjauan kembali Kelayakan Proyek yang apabila ternyata program tersebut dapat diterima akan dituangkan dalam suatu rencana yang detail (detailed design) untuk dapat dilaksanakan.
Pada dasarnya pendekatan teknis yang akan dilakukan dapat digambarkan sebagai berikut :
Potensi Alamiah Program Pengembangan Reklamasi Rawa Peningkatan Intensitas Tanam Peningkatan Pola Tanam Peningkatan Produksi/Hektar Peningkatan Kesejahteraan Petani Peningkatan Produksi Total Program Intensifikasi Menunjang Swasembada Pangan Gambar 4-1.
Skema Pendekatan Teknis
Sesuai dengan skema di atas, program yang akan diterapkan pada Potensi Alamiah daerah tersebut terdiri dari Program Intensifikasi dan Program Pengembangan Reklamasi Rawa, namun demikian mengingat pekerjaan ini dilakukan dalam lingkup tugas Proyek Perencanaan Pembangunan Jaringan Reklamasi Rawa, maka evaluasi yang akan dilakukan dititik beratkan pada peranan Proyek Reklamasi Rawa tersebut terhadap peningkatan produksi dan batasan-batasan yang mempengaruhi keberhasilannya.
Evaluasi Hasil Guna Program terhadap peningkatan produksi akan dilaksanakan dengan melakukan 2 metoda pendekatan yang akan digunakan secara kombinasi berdasarkan data yang ada, yaitu :
4
4
.
.
2
2
.
.
1
1
.
.
M
M
E
E
T
T
O
O
D
D
E
E
D
D
E
E
D
D
U
U
K
K
S
S
I
I
(
(
P
P
E
E
M
M
B
B
U
U
K
K
T
T
I
I
A
A
N
N
S
S
E
E
C
C
A
A
R
R
A
A
L
L
A
A
N
N
G
G
S
S
U
U
N
N
G
G
)
)
Suatu metode yang menganalisa apakah memang benar terjadi peningkatan produksi total yang dicerminkan oleh adanya peningkatan Pola dan Intensitas tanam di wilayah pengembangan. Dengan meningkatnya produksi total diharapkan sasaran akhir program berupa peningkatan kesejahteraan petani dalam menunjang swasembada pangan dapat dicapai.
Dengan demikian, data pokok yang dibutuhkan untuk keperluan evaluasi adalah data tentang pola dan intensitas tanam di wilayah pengembangan, selama beberapa tahun pencatatan, guna mengetahui adanya kecenderungan peningkatannya, sehingga selanjutnya dapat dianalisa secara langsung dampak yang ditimbulkan oleh adanya Program Pengembangan yang dilakukan pada potensi alamiah.
Umumnya data yang dapat dikumpulkan di lapangan berupa data : produksi total, produksi per hektar, luas tanam dan luas panen untuk lingkup wilayah pengembangan.
4
4
.
.
2
2
.
.
2
2
.
.
M
M
E
E
T
T
O
O
D
D
E
E
I
I
N
N
D
D
U
U
K
K
S
S
I
I
(
(
P
P
E
E
M
M
B
B
U
U
K
K
T
T
I
I
A
A
N
N
S
S
E
E
C
C
A
A
R
R
A
A
T
T
I
I
D
D
A
A
K
K
L
L
A
A
N
N
G
G
S
S
U
U
N
N
G
G
)
)
Metode ini digunakan untuk membantu metode deduksi, karena pada metode deduksi yang didapat di lapangan seringkali tidak spesifik untuk wilayah pengembangan dan juga tidak menggambarkan adanya kecenderungan peningkatan pola dan intensitas tanam. Untuk itu akan dilakukan prosedur sebagai berikut :
Dilakukan analisa terhadap Potensi Alamiah daerah tersebut.
Selanjutnya dilakukan peninjauan terhadap Potensi Alamiah dan kemungkinannya untuk menghasilkan dampak sesuai dengan pendugaan.
Dari hasil peninjauan tersebut didapatkan masukan-masukan untuk peningkatan yang diinginkan.
4
4
.
.
2
2
.
.
3
3
.
.
W
W
A
A
K
K
T
T
U
U
P
P
E
E
L
L
A
A
K
K
S
S
A
A
N
N
A
A
A
A
N
N
Mengacu pada berita acara aanwijzing pelaksanaan pekerjaan ini adalah 270 (dua ratus tujuh puluh hari kelender).
3
3.
.3
3.
.
ME
M
ET
T
OD
O
DO
OL
LO
OG
GI
I
Berdasarkan pengalaman melaksanakan pekerjaan sejenis dan pendekatan teknis sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Konsultan telah menyusun program Pekerjaan ““SSIIDD D
Daaeerraahh RRaawwaa LLhhuueenngg RRaayyaa ((44..000000 HHaa)) ddii KKaabb.. NNaaggaann RRaayyaa””, Provinsi Aceh, yang menggambarkan urut-urutan logis metodologi pelaksanaan pekerjaan yang dapat diuraikan sebagai berikut :
4
4
.
.
3
3
.
.
1
1
.
.
P
P
E
E
K
K
E
E
R
R
J
J
A
A
A
A
N
N
P
P
E
E
R
R
S
S
I
I
A
A
P
P
A
A
N
N
D
D
A
A
N
N
R
R
E
E
V
V
I
I
E
E
W
W
H
H
A
A
S
S
I
I
L
L
I
I
D
D
E
E
N
N
T
T
I
I
F
F
I
I
K
K
A
A
S
S
I
I
Setelah diterimanya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), maka Konsultan akan menelaah dan menganalisa lebih detail mengenai pelaksanaan pekerjaan. Pada tahap ini, Konsultan akan menyusun rencana kerja yang lebih terinci dan mulai memberikan penugasan kepada personil-personil yang akan ditugaskan dalam proyek ini.
Rincian aktivitas di dalamnya, antara lain :
4.3.1.1.
Proses Administrasi dan Kegiatan Koordinasi Proyek
Penyiapan surat-surat tugas untuk instansi-instansi yang berwenang di daerah proyek (Kantor Proyek, Dinas PU, BAPPEDA dan lain-lain) serta surat-surat lain yang diperlukan untuk memudahkan kelancaran pekerjaan terutama didaerah proyek.Agar pelaksanaan pekerjaan Pekerjaan ““SSIIDD DDaaeerraahh RRaawwaa LLhhuueenngg RRaayyaa (
(44..000000 HHaa)) ddii KKaabb.. NNaaggaann RRaayyaa””, Provinsi Aceh dapat berjalan sesuai dengan rencana, maka untuk penyusunan perencanaan pelaksanaan pekerjaan di lapangan pada lokasi tersebut haruslah sinkron/selaras dengan rencana pengembangan pada instansi terkait di daerah, supaya hasil yang diperoleh benar-benar merupakan perencanaan teknis terpadu.
4.3.1.2.
Inventarisasi dan Pengumpulan Data
Pada tahap ini Konsultan mengumpulkan hasil studi, perencanaan, data-data maupun laporan-laporan yang berhubungan dengan pekerjaan ini yang akan digunakan sebagai data sekunder.
Data ini akan diusahakan diperoleh dari instansi atau badan yang terkait yang berhubungan dengan proyek ini misalnya :
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum. Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera I.
BINTEK Rawa dan Pantai, untuk mendapatkan data-data dan hasil study terdahulu yang berhubungan dengan proyek ini.
Direktorat Rawa dan Pantai, untuk mendapatkan data-data dan hasil study terdahulu terutama mengenai data banjir yang berhubungan dengan proyek ini. Pusat Penelitian Masalah Air, Bandung, untuk memperoleh data-data sungai di
daerah proyek.
Badan Meteorologi dan Geofisika, untuk mendapatkan data-data Curah Hujan dan Klimatologi.
Departemen Pertanian untuk mendapatkan data-data program pengembangan pertanian di daerah proyek.
Direktorat Jenderal Perikanan, untuk mendapatkan data-data dan program budidaya perikanan didaerah tersebut dan daerah lainnya.
Jawatan Oceanografi TNI Angkatan Laut, untuk mendapatkan ramalan pasang surut (Buku Hidral).
Biro Statistik Pusat dan daerah, untuk mendapatkan struktur populasi, kebudayaan dan pendapatan didaerah proyek.
Badan Pertanahan Nasional untuk mendapatkan data status lahan.
Pusat Penelitian Tanah, Bogor, untuk mendapatkan data-data peruntukan tanah.
BAPPEDA Tingkat I dan II, untuk memperoleh data-data program pengembangan daerah, populasi, pendapatan dan kebudayaan.
Kantor PU dan Kimpraswil Provinsi dan Kabupaten/Kota, untuk mendapatkan data-data dan study areal sekitar proyek serta rencana pengembangannya. Instansi-instansi lain yang diperlukan.
4.3.1.3.
Review Hasil Identifikasi
Konsultan akan melaksanakan review dari laporan yang ada dan dikombinasikan dengan data-data lainnya yang dikumpulkan, untuk menyusun dan menentukan strategi awal pelaksanaan proyek ini. Review ini hanya terbatas pada data-data sekunder saja (desk study).
4.3.1.4.
Penyusunan & Persetujuan Rencana Kerja
Konsultan akan membuat Rencana Kerja terinci yang disusun berdasarkan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan sesuai dengan rencana kerja umum yang ada untuk didiskusikan dan mendapat persetujuan Direksi.
4.3.1.5.
Persiapan Survey Lapangan
Menyiapkan peta lokasi dan menyusun peta rencana pelaksanaan survey lapangan untuk disetujui Direksi.
Menyiapkan formulir survey yang dibutuhkan untuk di konsultasikan kepada Direksi.
Menyiapkan surat-surat ijin yang diperlukan.
Menyiapkan personil dan peralatan survey untuk diperiksa dan di wawancarai oleh Direksi.
Mobilisasi personil dan peralatan ke lokasi proyek (teruntuk penyiapan base camp dan perlengkapannya).
4
4
.
.
3
3
.
.
2
2
.
.
P
P
E
E
N
N
G
G
U
U
K
K
U
U
R
R
A
A
N
N
T
T
O
O
P
P
O
O
G
G
R
R
A
A
P
P
H
H
Y
Y
D
D
A
A
N
N
P
P
E
E
M
M
E
E
T
T
A
A
A
A
N
N
S
S
I
I
T
T
U
U
A
A
S
S
I
I
D
D
E
E
T
T
A
A
I
I
L
L
Survey ini dimaksudkan untuk mendapatkan data situasi detail, detail saluran dan bangunan yang ada pada lahan/daerah yang akan dikembangkan sebagai bahan masukan untuk penyusunan perencanaan yang efisien dengan memanfaatkan keadaan/kondisi kontur tanah/daerah.
1. Orientasi Lapangan
Kegiatan dilokasi dimulai dengan persiapan pengukuran, berupa :
Koordinasi dengan instansi daerah terkait mengenai rencana areal pengukuran, dan metode kerja pengukuran yang akan dilaksanakan;
Meninjau areal yang akan diukur.
Menyiapkan base camp, tenaga lokal dan sarana transportasi lapangan;
Bersama-sama dengan pengawas/Direksi Lapangan menentukan titik awal pengukuran, batas pengukuran dan lokasi BM.
2. Survey Lapangan
Pelaksanaan pekerjaan akan dilakukan sesuai dengan persyaratan yang diminta dalam TOR. Setiap aktivitas pekerjaan akan dikonsultasikan dengan Direksi/Pengawas Lapangan untuk menjamin hasil pekerjaan sesuai dengan TOR. Pengukuran, perhitungan dan penggambaran draft situasi detail berskala 1 : 5.000 di atas kertas mm akan dilaksanakan di lapangan agar dapat bersama-sama diperiksa dan diperbaiki apabila terjadi kesalahan pengukuran.
a. Membuat Kerangka Dasar Pemetaan
Kerangka dasar merupakan jalur patok dasar pengukuran (BM) yang akan digunakan sebagai pengikatan titik awal atau akhir pengukuran selanjutnya, seperti ray situasi, trace saluran. Kerangka ini ditempatkan pada batas areal pengukuran agar dapat berfungsi sebagai batas areal pengukuran.
Pelaksanaan survey direncanakan dengan membagi areal menjadi dua saja mengingat bahwa areal pengukurannya cukup kecil.
a.1.Kerangka Dasar Horizontal
Poligon utama diukur dengan metode kring dimana harus dipenuhi syarat geometrisnya (pada batas toleransi yang diberikan), dan dikontrol dengan pengamatan matahari.
Pengukuran jarak dengan menggunakan alat ukur jarak meetband.
Alat ukur sudut yang akan digunakan adalah Theodolit T2, atau alat lainnya yang sederajat
Pengukuran sudut dibaca satu seri ganda Pemberian koreksi
Untuk mengoreksi sudut digunakan : a. Metode Dell (perataan biasa) b. Metode Bersyarat
Koreksi setiap sudut : f.(N-1), dimana : f.= salah penutup sudut
N = jumlah titik poligon
Untuk mengoreksi absis dan ordinat digunakan jarak sebanding dengan jarak yang bersangkutan atau :
Koreksi = f. x / D x (Dij), dimana : f.x. = salah penutup absis/ordinat D = jumlah jarak
Di = jarak yang ke i
Koreksi sudut antara dua kontrol azimuth 20 " Koreksi setiap titik poligon maksimum 8 " Salah penutup koordinat maksimum 1 : 5.000
Jarak tiap sisi poligon diukur dengan ketelitian 1 : 7.500
a.2.Kerangka Dasar Vertikal
Maksud pengukuran kontrol vertikal/sipat datar adalah membuat titik tetap yang mempunyai posisi vertikal/ketinggian sebagai kerangka dasar. Pengukuran sipat datar ini harus diikatkan pada titik BM.TTG BAKOSURTANAL/Titik Tringulasi terdekat atau
dari titik kontrol (BM) yang telah terpasang hasil pengukuran terdahulu yang kondisinya masih baik dan dengan persetujuan tim teknis/Direksi.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pelaksanaan pengukuran ini adalah sebagai berikut :
a. Pengukuran Leveling harus diikatkan pada minimal 2 bench mark yang telah diketahui elevasinya dan harus melalui titik-titik poligon. Metode pengukuran leveling digunakan cara pulang pergi atau double stand, dan apabila dilapangan hanya ada 1 Bench Mark maka pengukuran harus dilakukan secara close circuit (tertutup).
b. Pembacaan rambu harus dilakukan dengan pembacaan tiga benang lengkap yaitu benang atas, benang tengah dan benang bawah sebagai kontrol 2 BT = BA + BB. Pengukuran dilakukan cara double stand maka selisih setiap stand pada tiap slag tidak boleh melebihi 2 mm.
c. Alat yang digunakan adalah automatic level seperti zeiss Ni2, (Wild NAK2) atau yang sederajat ketelitiannya dan seijin tim teknis. Setiap slag diusahakan alat di tengah-tengah dari dua titik yang diukur dengan jarak maksimum 60 m sedangkan alat terdekat dari alat ke rambu tidak boleh lebih < dari 5 m ke rambu muka dan rambu belakang.
d. Saat perpindahan rambu, rambu belakang dijadikan sebagai rambu depan tetap pada posisi semula sebagai rambu belakang dengan cara hanya memutar di atas landasan rambu. Rambu landasan memakai logam yang dapat tertancap di atas tanah. Rambu ukur harus dilengkapi dengan nivo kotak yang terletak di belakang rambu untuk mengetahui bahwa rambu benar-benar vertikal pada saat pengukuran.
e. etelitian kesalahan penutup tinggi dari pengukuran pulang pergi atau doubel stand pada pengukuran Waterpas Utama tidak boleh melebihi 10√D dan waterpas cabang tidak lebih 30√D, dimana D adalah jumlah jarak dalam satuan kilometer.
b. Pengukuran Situasi Detail
Pengukuran ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran topografi daerah yang disurvey dengan sasaran tinggi dan posisi detail lapangan.
· Pengukuran situasi detail dilakukan dengan cara rincikan dan harus terikat pada kerangka dasar pemetaan.
· Ketinggian titik detail diukur dengan toleransi 10 cm dengan kerapatan sesuai dengan skala peta yang direncanakan.
· Pengukuran situasi diukur merata keseluruh daerah rencana pengukuran mencakup batas penggunaan lahan, saluran alam dan bangunan buatan.
Situasi diukur berdasarkan jaringan kerangka horizontal dan vertikal yang telah dipasang, dengan melakukan pengukuran keliling serta pengukuran didalam daerah survey.
Bila perlu jalur poligon dapat ditarik lagi dari kerangka utama dan cabang untuk mengisi detail planimetris, berikut spot height yang cukup, sehingga diperoleh penggambaran
kontur yang lebih akurat sehingga menghasilkan informasi ketinggian yang memadai. Titik-titik spot height terlihat tidak lebih dari interval 10 cm pada peta skala 1 : 2.000. Interval ini ekuivalen dengan jarak 20 m tiap penambahan satu titik spot height atau 8-10 titik spot height untuk tiap 1 hektar diatas tanah.
Beberapa titik spot height bervariasi tergantung kepada kecuraman dan ketidakteraturan terrain. Kerapatan titik-titik spot height yang dibutuhkan dalam daerah pengukuran tidak hanya daerah rawa, tetapi juga kampung, kebun, jalan setapak, tanaman sepanjang jalan,alur dan sungai dan lain-lain, akan tetapi dengan kerapatan yang berbeda.
Pengukuran situasi dilakukan dengan metode Tacheometry menggunakan theodolith T.0 atau yang sejenis. Jarak dari alat ke rambu tidak boleh lebih dari 100 meter.
Kontur digambar apa adanya dan harus teliti, dan bagian luar daerah sawah kontur diplot hanya berdasarkan titik-titikspot height- efek artistik tidak diperlukan.
Pemberian angka kontur harus jelas terlihat, dimana setiap interval kontur 2,5 m digambarkan lebih tebal.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pelaksanaan pengukuran ini adalah sebagai berikut :
a. Seluruh alur sungai (dasar sungai terendah dan lebar sungai harus jelas terlihat). b. Jalan propinsi, kabupaten, jalan desa dan jalan setapak.
c. Bangunan rawa dan drainase (exsisting), batas kampung, rumah-rumah terpencil diluar kampung, jembatan dan saluran. Diameter atau dimensi berikut ketinggian lantai semua gorong-gorong dan jembatan, sekolah, mesjid dan kantor pemerintah (camat, mushola,desa dan lain-lain) harus terlihat.
d. Pohon-pohon besar (berdiameter lebih besar dari 20 cm dengan ketinggian sekitar 12 m diatas tanah) bila pepohonan ini berada disawah.
e. Daerah rawa.
f. Batas tata guna tanah (misalnya belukar berupa rerumputan dan alang-alang, tambak, sawah, rawa, ladang, kampung, kebun, dan lain-lain).
g. Tiap detail topografi setempat (seperti misalnya tanggul curam, bukit kecil dan lain-lain).
h. Batas pemerintahan (kecamatan, desa dan lain-lain). Nama kampung, kecamatan, nama jalan dan lain-lain diperlukan.
i. Jaringan kerangka dasar.
j. Petak-petak tambak & sawah (kecuali bila luas petak kurang dari 50 x 50 m). Petak tambak & sawah diperoleh dari titik-titik spot height dan diukur dari batas pertemuan tambak & sawah (di tanah yang lapang, bukan diatas tanah tanggul). Sket
berperan penting, lihat contoh dibawah. (gambar memperlihatkan ketinggian petak-petak tambak atau sawah berikutlayouttitik-titik detail).
Tiap petak sawah digambar berdasarkan sistem koordinat yang disepakati. Peta situasi digambar setelah kerangka dasar tergambarkan.
c. Pengukuran Situasi Tapak Bangun Rencana
Situasi tapak bangunan yang ada dengan skala 1 :200
Pengukuran situasi tapak bangunan rencana dengan skala 1 : 200 Pengukuran situasi tersebut dilakukan sesuai kebutuhan.
d. Pengukuran Profil Memanjang dan Melintang Saluran
Pengukuran situasi, penampang memanjang dan penampang melintang saluran/drainase meliputi hal – hal berikut :
Pengukuran situasi dan pengukuran penampang saluran dan/atau drainase dilakukan secara bersama – sama;
Metode yang digunakan ialah metode tachimetry;
Sistem pengukuran yang digunakan ialah sistem “Raai” untuk penampang melintang; Pengukuran penampang saluran dilakukan setiap interval 50 m pada daerah saluran
/drainase yang lurus dan 25 m pada daerah saluran/drainase yang berbelok – belok; Jalur “raai” tersebut diusahakan dibuat tegak lurus aliran saluran/drainase;
Panjang penampang melintang/jalur “raai” adalah masing-masing minimum 150 m kekiri dan kanan diukur dari tepi kiri / tepi kanan saluran/drainase, ditambah lebar saluran/drainase;
Detail pengukuran penampang melintang saluran/drainase diambil pada setiap perubahan bentuk fisik saluran/drainase termasuk pada dasar saluran/drainase yang terdalam serta muka air saat pengukuran, pada jalur saluran yang merupakan saluran pasangan diukur dimensi saluran existing secara detail seperti lebar dasar (b), tinggi talud (h+w), lebar tanggul, jenis dan kemiringan talud dan lain-lain;
Pengukuran kedalaman muka air dan sedimen pada drainase dilaksanakan dengan menggunakan colokan/alat pemberat.
Semua detail yang ada dilapangan diukur dengan sistim polar dan diambil selengkap mungkin seperti jalan, bangunan-bangunan yang ada, jembatan dan lain-lain.
Pengukuran saluran cabang yang masuk ke saluran utama diadakan pengukuran situasi detail pada daerah pertemuan tersebut.
e. Inventarisasi dan Pemasangan BM Baru
Pekerjaan ini dimaksudkan untuk menginventarisasikan BM yang lama, memeriksa apakah masih memenuhi persyaratan sesuai dengan TOR (posisi, bentuk dan jarak antar BM) penggantian dengan atau pembuatan BM yang baru agar sesuai dengan TOR dan membuat descripsi setiap BM yang ada sesuai dengan format standar dalam TOR. Kerangka penyebaran BM sebanyak satu buah mewakili 2-2,5 km.
f. Inventarisasi Bangunan Air
Pelaksanaan pekerjaan ini akan dilakukan bersama-sama dengan team survey jaringan yang dipimpin oleh ahli hidraulik.
3. Pengukuran Trase
Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengukur trase saluran rencana atas petunjuk dari Chief Surveyor dan Ahli Geoteknik/Mekanika Tanah. Pengukuran trase rencana trase saluran yang akan dibuat disesuaikan dengan Spesifikasi Teknis.
4. Perhitungan/Penggambaran
Perhitungan data lapangan merupakan perhitungan sementara untuk mengetahui ketelitian ukuran.
· Perhitungan definitive.
Perhitungan yang sudah menggunakan hitungan peralatan. Hasil perhitungan ini akan digunakan dalam proses penggambaran
· Penggambaran peta situasi detail dibuat pada kertas kalkir atau kertas lain yang sama kualitasnya.
· Penggambaran propel melintang,memanjang dan situasi trace dibuat pada kalkir dengan ukuran 90/95 gram.
· Gambar dibuat dengan ukuran A1.
· Peta Ikhtisar digambar dengan skala 1 :20.000 dan interval kontur 1,0m · Peta situasi detail dibuat dengan skala 1 :5.000 dengan interval 0,5m.
· Situasi Trace dan profil memanjang digambar dengan skala horizontal 1:5.000 dan vertikal 1 : 100.
· Profil melintang digambar dengan skala horizontal 1 : 100 dan vertikal 1 : 100. · Situasi tapak bangunan air (existing dan rencana) digambar dengan skala 1 : 200.
4
4
.
.
3
3
.
.
3
3
.
.
S
S
U
U
R
R
V
V
E
E
Y
Y
H
H
I
I
D
D
R
R
O
O
L
L
O
O
G
G
I
I
D
D
A
A
N
N
S
S
U
U
R
R
V
V
E
E
Y
Y
H
H
I
I
D
D
R
R
O
O
M
M
E
E
T
T
R
R
I
I
a. Pengumpulan Data Hidrologi
Pengumpulan data hidrologi dimaksudkan untuk mendapatkan data-data hidrologi dan klimatologi sebagai masukkan di dalam menentukan besaran perencanaan seperti curah hujan maksimum dengan periode ulang tertentu, hidrograf banjir dan modul drainase serta penentuan parameter-parameter lainnya yang dapat menunjang desain hidrolik serta neraca air untuk keperluan pola tanam.
Survey hidrologi meliputi :
Pengumpulan data curah hujan diambil dari stasiun yang terdekat selama 20 tahun dengan catatan pengamatan selama 10 tahun berturut-turut merupakan data hujan minimum terbaru.
Pengumpulan data temperatur selama minimum 5 tahun berturut-turut dari stasiun iklim yang terdekat.
Pengumpulan data kelembaban relatif selama minimum 5 tahun berturut- turut dari stasiun klimatologi terdekat.
Pengumpulan data Lama Penyinaran Matahari minimum selama 5 tahun dari stasiun pengamat terdekat.
Pengumpulan data kecepatan angin minimum selama 5 tahun berturut-turut dari stasiun pengamat terdekat.
Pengumpulan data informasi banjir (tinggi, lamanya dan luas genangan serta saat terjadinya) baik dengan pengamatan langsung ataupun memperhatikan bekas-bekas dan tanda-tanda banjir di pohon maupun melalui wawancara dengan penduduk setempat.
b. Survey Hidrometri
Survey hidrometri dimaksudkan untuk mendapatkan data aktual di lapangan sebagai data masukkan untuk keperluan model matematik jaringan sungai ataupun jaringan drainase, sehingga diharapkan akan dapat diketahui tingkah laku (karakteristik) hidrolik dari daerah kajian (sistem), jaringan sungai atau jaringan drainase untuk keperluan perencanaan dan pengembangan daerah tersebut.
Data yang didapat ini akan berupa karakteristik sungai, anak sungai/cabang sungai dan saluran-saluran yang ada, yang sangat berpengaruh terhadap kondisi lahan proyek/unit pada umumnya serta sistim tata saluran pada khususnya.
Data masukan tersebut setelah dianalisa dan dievaluasi, akan digunakan untuk mengidentifikasi serta mencari alternatif banjir pada musim penghujan dan intrusi air
asin pada pada musim kemarau serta kekeringan pada lahan pertanian waktu musim kemarau. Hal ini merupakan masukan yang sangat penting dalam perencanaan jaringan pengairan nantinya.
Pengambilan Contoh Air
Pengambilan contoh air minum dan air irigasi dimaksudkan untuk keperluan analisa laboratorium khususnya ditujukan bagi keperluan air minum.
Adapun lokasi yang dipilih adalah tempat dimana penduduk biasa menggunakan air tersebut untuk sumber air minum, begitu pula pada saluran-saluran yang digunakan penduduk untuk air minum ataupun untuk keperluan pertanian. Untuk contoh air bagi kepentingan irigasi dilakukan di muara sungai, di hulu dan tengah anak sungai dan pada tempat dilakukan pengukuran kecepatan arus
2. Pekerjaan Persiapan Sebelum ke Lapangan
Mempelajari laporan dan data yang tersedia dan menyusun rencana dan jadwal kegiatan survey.
Menyiapkan peta lokasi rencana pengukuran dan penempatan titik pengukuran yang sudah disesuaikan dengan rencana skematisasi dari model matematik untuk keperluan kalibrasi model serta menetapkan jumlah volume pekerjaan.
Menyiapkan formulir pengukuran, bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan serta penyiapan team yang akan berangkat ke lapangan.
Menyiapkan team survey yang akan berangkat. Semua kegiatan di atas akan terlebih dahulu dikonsultasikan dengan Direksi atau Supervisor sebelum berangkat ke lapangan.
3. Pekerjaan Lapangan a. Orientasi Lapangan
Menyiapkan sarana seperti speedboat dan klotok (kapal pengukur) baik untuk pengukuran muka air maupun kecepatan air.
Pengenalan lapangan dan pemasangan tanda-tanda pengukuran sesuai dengan peta pengukuran.
Mendiskusikan rencana pengukuran dengan Direksi Lapangan untuk mendapat persetujuan.
Penandaan tempat-tempat pengukuran (marking inspection).
Memasang alat-alat ukur (peilschaal) di tempat-tempat yang sudah ditentukan sesuai dengan rencana pengukuran.
Pengukuran lapangan antara lain seperti bekas tinggi muka air maksimum, yang pernah terjadi, tanggul, jembatan atau pintu-pintu air/gorong-gorong yang ada dicatat di peta.
b. Pekerjaan Lapangan
b.1. Pengumpulan Data Hidrologi
Menghubungi stasiun-stasiun pengamat cuaca terdekat dan mengumpulkan data pencatatan yang diperlukan sebagaimana dijelaskan pada Proposal Teknis ini.
Menghubungi Kantor Meteorologi & Geofisika Provinsi dan Kabupaten/Kota dan mengumpulkan data-data yang diperlukan.
b.2. Pengukuran Data Hidrometri
Setelah dilakukan orientasi lapangan pada lokasi-lokasi pengamatan yang telah ditandai, dilakukan pengamatan-pengamatan sebagai berikut :
Pengukuran tinggi muka air. Pengukuran kecepatan arus.
Pengukuran pH dilakukan bersamaan dengan dilakukannya pengukuran salinitas pada sungai, saluran dan sumur penduduk.
Pengukuran penampang melintang sungai dan saluran dilakukan pada setiap lokasi pengukuran kecepatan dan di tempat-tempat lain. Sedang interval pengukuran dapat dilihat pada metode pangukuran;
Pengukuran sifat datar (levelling) untuk mengikat papan duga (peilschaal) terhadap benchmark patok terdekat pada lokasi pengukuran tinggi muka air.
Pengukuran tingkat keasaman air (pH) dilakukan di lokasi pengukuran salinitas dan di anak sungai dan di lokasi lain yang dianggap perlu.
Pengambilan contoh air dilakukan di beberapa tempat yang dianggap perlu dan mewakili kualitas air di lokasi proyek.
4. Pengolahan dan Analisis Data
Selanjutnya untuk keperluan data guna prarencana system planning, maka diperlukan suatu pengikatan 0 peilschaal terhadap titik referensi (BM). Pekerjaan ini dimaksudkan agar datum line (bidang persamaan antara) titik pengamatan muka air sama menjadi satu sistem.
Setelah masing-masing peilschaal sudah diikatkan dengan demikian data pengamatan muka air simultan dapat digunakan sebagai data kaliberasi model, sedangkan data
pengamatan muka air rata-rata, pasang tertinggi rata-rata, surut terendah rata-rata dan range (beda tinggi MAT dan MAR) serta untuk keperluan peramalan muka air.
b.Hidrologi
Analisa dan Evaluasi Data Hidrologi terdiri dari :
b.1. Analisa Hidrotopografi Wilayah Survey
Hidro topografi bertujuan untuk mengetahui level air bajir atau pasang terhadap lahan dan luasan lahan yang tergenang. Proses pembuatan hidro topografi adalah sebagai berikut :
1. Daerah lokasi kajian bisa dibagai dalam beberapa sub lokasi yang dipengaruhi oleh saluran/ sungai tempat pembuangan atau sungai yang menimbulkan banjir.
2. Masing-masing sub lokasi tersebut luasan konture dengan antara 0.25 atau 0,5 m dan dihitung luasan kumulatifnya.
3. Masing-masing kontur tersebut diprosentasikan luasannya terhadap luasan total per sub lokasi.
4. Dibuatkan grafik hubungan antara elevasi dengan prosentase luasan tersebut.
5. Untuk lokasi keseluruhan tinggal dilakukan penjumlahan luasan setiap konture dan dibuatkan prosentasenya dan dibuatkan grafiknya untuk lokasi keseluruhan.
6. Untuk daerah banjir yang dipengaruhi oleh pasang surut harus dilakukan perhitungan stokastik dari fluktuasi muka air dari hasil penelitian hidrometri selama 15 hari yaitu :
Menentukan rage level pasut dengan perbedaan 0.25 atau 0.5 m.
Dihitung jumlah kejadiannya untuk setiap batasan level serta dihitung komulatif kejadian terluapinya (perhitungan awal dari level paling tinggi).
Dihitung prosentase kejadian terhadap total kejadian (per jam).
Digambarkan grafiknya antara level air dan prosentase kejadian disamping grafik topografi.
7. Untuk daerah yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut harus dilakukan perhitungan lengkung debit pada setiap sungai/saluran dan digambarkan disamping lengkung topografi.
Gambar 4-2.
Contoh Kurva Hidrotopografi
Lengkung Debit dan Lengkung Pasut
Lengkung Topografi
Y = Evaluasi Lahan total areal e l e daerah II v lengkung debit a s i daerah I pasut
100 % % kejadian dalam 15 hari pasut 0 % 100% % Luasan areal lahan
Lengkung debit sungai m
3/d
Daerah luapan akibat banjir Daerah luapan pasang surut
b.2. Analisis Beban Drainase
Hujan Rencana
Beban air limpasan ditetapkan atas keinginan tanaman untuk bisa tetap hidup dengan baik supaya produksi tetap besar. Untuk itu kriteria hujan yang digunakan dalam perhitungan adalah seperti berikut ini :
Data hujan harian selama 10 tahun (kalau tersedia). Hujan 1,3, 6 harian maksimum setiap tahun.
Distribusi hujan harian selama 6 hari hujan maksimum. Hujan rencana dengan menggunakan periode ulang 5 tahunan.
Data curah hujan maksimum tahunan yang diperoleh sebelum dilakukan analisis distribusi harus dilakukan dulu uji abnormalitas. Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah data maksimum dan minimum dari rangkaian data yang ada layak digunakan atau tidak (Buishand, 1982). Adapun langkah perhitungannya sebagai berikut :
1. Data diurutkan dari besar ke kecil atau sebaliknya 2. Mencari harga rerata Log X
3. Menghitung harga kn
4. Menghitung harga rerata Xo 5. Menghitung harga rerata X2
6. Memperkirakan harga abnormal 7. Menghitung harga laju resiko
Sebelum data hujan ini dipakai terlebih dahulu harus melewati pengujian untuk kekonsistenan data tersebut. Metode yang digunakan adalah metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums) (Buishand, 1982).
Uji konsistensi dilakukan terhadap data curah hujan tahunan dengan tujuan untuk mengetahui adanya penyimpangan data hujan, sehingga dapat disimpulkan apakah data tersebut layak dipakai dalam analisa hidrologi atau tidak.
Pengujian konsistensi dengan menggunakan data dari stasiun itu sendiri yaitu pengujian dengan komulatif penyimpangan terhadap nilai rata-rata dibagi dengan akar komulatif rerata penyimpangan kuadrat terhadap nilai reratanya, lebih jelas lagi bisa dilihat pada rumus dibawah :
S
0
0
S
kY Y
i i 1 k
dengan k = 1,2,3,...,n y k kD
S
S
n
Y
Y
D
n 1 i 2 i 2 y
nilai statistik Q dan R :
R = maks
S
k - minS
kDengan melihat nilai statistik diatas maka dapat dicari nilai Q/n dan R/n. Hasil yang di dapat dibandingkan dengan nilai Q/n syarat dan R/n syarat, jika lebih kecil maka data masih dalam batasan konsisten.
Tabel 4-1. Nilai Q/n0.5 dan R/n0.5 N Q/n 0.5 R/n0.5 90% 95% 99% 90% 95% 99% 10 1.05 1.14 1.29 1.21 1.28 1.38 20 1.10 1.22 1.42 1.34 1.43 1.60 30 1.12 1.24 1.48 1.40 1.50 1.70 40 1.14 1.27 1.52 1.44 1.55 1.78 100 1.17 1.29 1.55 1.50 1.62 1.85 1.22 1.36 1.63 1.62 1.75 2.00
Sumber : Sri Harto, 1993 : 168
Untuk menghitung debit banjir rancangan dari data curah hujan (rainfall runoff method), harus dihitung terlebih dahulu besarnya curah hujan rancangan (RT). Karena
data curah hujan yang mewakili hanya dari satu stasiun hujan (point rainfall), maka data tersebut dapat dianggap sebagai hujan daerah (area rainfall).
Perhitungan analisis frekuensi dalam pekerjaan ini ditujukan untuk menghitung curah hujan rencana yang nantinya digunakan untuk menghitung tinggi muka air rencana. Tinggi muka air rencana ini berpengaruh dalam menentukan tinggi muka air saluran. Ada 6 metode analisis frekuensi yang dipergunakan yaitu : Normal, Log Normal 2 Parameter, Log Normal 3 Parameter, Gumbel I, Pearson III dan Log Pearson III. Metode dipilih berdasarkan penyimpangan yang terkecil (Soewarno, 1995 : 106).
Pemilihan Distribusi
Untuk memperkirakan besarnya debit banjir dengan kala ulang tertentu, terlebih dahulu data-data hujan didekatkan dengan suatu sebaran distribusi, agar dalam memperkiraan besarnya debit banjir tidak sampai jauh melenceng dari kenyataan banjir yang terjadi (Soewarno, 1995 : 98). Adapun rumus-rumus yang dipakai dalam penentuan distribusi tersebut antara lain :
1 ) X -(X = S1 n 2
C = S
X
v
C s =
n
Xi - X
(n-1) (n-2) S
3 i = 1 n 3
Ck =
n
Xi - X
(n-1) (n-2) (n-3) S
2 4 i = 1 n 4
dimana : S1 = standar deviasi Cv = koefisien keragaman Cs = koefisien kepencengan Ck = koefisien kurtosisPemilihan distribusi berdasarkan penyimpangan (cr*) yang terkecil (Soewarno, 1995 : 106).
Distribusi Normal
Distribusi ini mempunyai fungsi densitas peluang normal (normal probability density function) dari variable acak kontinyu X sebagai berikut (Soewarno, 1995 : 106) :
2 2 2 ] ) -[-(x
e
.
2
1
=
(X)
P’
dimana :P’(X) = fungsi densitas peluang normal (normal probability density function) π = 3.14156
e = 2.71828
X = variabel acak kontinyu = varian
Distribusi Log-Normal
Distribusi log normal merupakan hasil transformasi dari distribusi normal, yaitu dengan mengubah nilai varian X menjadi nilai logaritmik varian X. Distribusi ini mempunyai fungsi densitas peluang (probability density function) dari variable acak kontinyu X sebagai berikut (Soewarno, 1995 : 148) :
2(S)
)
x
-log(x
*
0,5
eksp
2π
*
(S)
*
log(x)
1
(X)
P'
dimana : P’(X) = log normalX = nilai variat pengamatan
X
= nilai rata-rata dari logaritmik variat X S = standart deviasi dari logaritmik variat XDistribusi log-normal dua parameter mempunyai persamaan transformasi (Soewarno, 1995 : 149) : X SLog * k X Log X Log dimana :
log X = nilai variat X yang diharapkan terjadi pada peluang atau periode ulang tertentu
X
log = rata-rata nilai X hasil pengamatan
Slog X = deviasi standar logaritmik nilai X hasil pengamatan k = karakteristik dari distribusi log normal
Distribusi log-normal tiga parameter mempunyai persamaan transformasi (Soewarno, 1995 : 155) :
μ
0
;
σ
μ
-lnx
*
0,5
eksp
2π
*
σ
*
x
1
(X)
P'
n 2 n n
dimana : n =
2 2 4σ
μ
μ
ln
2
1
2 2 2 2 nln
σ
μ
μ
σ
Besar asimetrinya (skewnes) adalah :
v 3 v 3η η γ dimana :
0.5 σ vμ
σ
e
1
η
2n
Kurtosis (Ck ) =
v8 6
v6 15
v4 16
v2 3Log Pearson Type III
Rumus yang digunakan dalam metode Log Pearson III adalah (Soemarto, 1987: 243) :
s . G X log X Log T dimana :
Log XT= logaritma dari curah hujan rancangan dengan kala ulang LogX = logaritma rata-rata dari data curah hujan
G = besaran dari fungsi koefisien kemencengan dari kala ulang s = simpangan baku logaritma data curah hujan
Rumus-rumus parameter :
1. Harga rata-rata (mean)
n
X
Log
X
Log
n 1 i i
(Koefisien Kemencengan (skewness))3 n 1 i 3 i
S
2).
-1).(n
-(n
)
X
Log
-X
(Log
n.
Cs
2. Simpangan baku (standard deviasi) 1 -n ) X Log -X (Log S n 1 i 2 i
3. Besarnya curah hujan rancangan
S . G X log X Log T
Pada persamaan Pearson terdapat 12 buah distribusi, tapi hanya distribusi Pearson type III dan Log-Pearson type III yang digunakan dalam analisis curah hujan maksimum (Sowarno, 1995 : 141).
Probability density functiondistribusi ini adalah :
c cx/a 0X
1
X/a
e
P
X
P
dengan parameter : c = 4/1 – 1
cμ
3c
/
2μ
2c
a
P X
0
nc
c 1/ ae r
c c 1 sedangkan :
3 2c 2 3c 1 μ / μ β Harga rata-rata (mean) = median +
μ2c
2
μ.3c
Standar deviasi = +2c Asimetri = ½ 1 Metode GumbelDistribusi ini mempunyai fungsi densitas peluang (probability density function) dari variable acak kontinyu X sebagai berikut (Soewarno, 1995 : 123) :
AB
C
X
C
e
X
P
1.281/σ A 0.45σ μ B Dalam penggambaran pada kertas milimeter dapat dituliskan sebagai berikut :
σ/σ
N
y
y
n
μ
X
Hubungan antara faktor frekwensi K dengan kala ulang T dapat disajikan dalam persamaan sebagai berikut :
0.5772 ln ln T X /T X 1
/η 6 K Secara umum frekwensi analisis dapat disederhanakan dalam bentuk :
X
T
X sK
dimana :
XT = besaran dengan kala ulang tertentu
X = besaran rata rata s = simpangan baku
Untuk mengetahui apakah data tersebut benar sesuai dengan jenis sebaran teoritis yang dipilih maka perlu dilakukan pengujian lebih lanjut. Untuk keperluan analisis uji kesesuaian dipakai dua metode statistik sebagai berikut :
Uji Smirnov Kolmogorof
Tahap-tahap pengujian Smirnov Kolmogorof adalah sebagai berikut :
1. Plot data dengan peluang agihan empiris pada kertas probabilitas, dengan menggunakan persamaan Weibull (Subarkah, 1980: 120) :
n
1
x
100%
m
P
dimana :n = banyaknya data
2. Tarik garis dengan mengikuti persamaan :
s . G X log X Log T
Dari grafik ploting diperoleh perbedaan perbedaan maksimum antara distribusi teoritis dan empiris : Pt -Pe max dimana : max
= selisih maksimum antara peluang empiris dengan teoritis Pe = peluang empirisPt = peluang teoritis
3. Taraf signifikan diambil 5% dari jumlah data (n), didapat ΔCr dari tabel.
Tabel 4-2.
Nilai Simpangan Kritis (Cr) untuk Smirnov Kolmogorof
20% 10% 5% 1% 5 0.479 0.546 0.608 0.729 10 0.338 0.386 0.430 0.515 15 0.276 0.315 0.351 0.421 20 0.239 0.273 0.304 0.364 25 0.214 0.244 0.272 0.326 30 0.195 0.223 0.248 0.298 35 0.181 0.206 0.230 0.276 40 0.169 0.193 0.215 0.258 45 0.160 0.182 0.203 0.243 50 0.151 0.173 0.192 0.231 1.07/n0.5 1.22/n0.5 1.36/n0.6 1.63/n0.7
Source : MMA. Shahin, Statistical Analysis in Hydrology
n
Uji Chi Square digunakan untuk menguji apakah distribusi pengamatan dapat disamai dengan baik oleh distribusi teoritis. Perhitungannya dengan menggunakan persamaan (Shahin, 1976 : 186) :
k 1 i 2 2 hit(EF
EF
-
OF
)
X
dimana : k = 1 + 3,22 Log n OF = nilai yang diamati EF = nilai yang diharapkanAgar distribusi frekuensi yang dipilih dapat diterima, maka harga X2 hitung < X2
Cr. Harga
X2
Cr dapat diperoleh dengan menentukan taraf signifikan α dengan derajat kebebasan.
Batas kritis X2 tergantung pada derajat kebebasan dan . Untuk kasus ini derajat
kebebasan mempunyai nilai yang di dapat dari perhitungan sebagai berikut : DK = JK - ( P + 1)
dimana :
DK = derajat kebebasan JK = jumlah kelas