Dari
Redaksi
Tahun Berdiri : Maret 2000
Pendiri : Mgr. Johannes Hadiwikarta (alm.) dan RD. Yosef Eko Budi Susilo
Pelindung : Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono
Penasihat : RD. Yosef Eko Budi Susilo. AM Errol Jonathans
Pemimpin Umum : RD. Agustinus Tri Budi Utomo
Pemimpin Redaksi : RD. Alphonsus Boedi Prasetijo
Sekretaris Redaksi : S. Vondy Kumala
Redaktur Pelaksana : G. Adrian Teja, S. Vondy Kumala, Yung Setiadi
Editor : Yung Setiadi, Amelia Clementine
Layout & Desain : M. C. Stefani D. P., Angelina Nina Arini Putri, Amelia Clementine
Distribusi : B. Adi Koesoemo Wardojo
Alamat Redaksi : Jl. Mojopahit 38-B Surabaya 60265
Telepon : (031) 5624141, (031) 5665061 ext. 21, 0812 5296 8051
Email : [email protected]
Rekening Bank : Mandiri - 140-00-1692964-9
Atas Nama : Pers Keuskupan Surabaya Gereja, Cabang Gedung Sampoerna
Penerbit : Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya
Redaksi menerima artikel yang dilengkapi foto(minimal 10 MP)dari kontributor, dilengkapi data diri, alamat dan No. Rekening.
SUSUNAN RED
AK
SI
Tanpa terasa sudah sekitar 6 bulan ini misa online atau live streaming jamak
ditayangkan oleh hampir semua paroki. Mungkin ada umat yang sudah enjoy
dengan misa online, dan ada yang tetap merindukan Perayaan Ekaristi secara ‘fisik’.
Datang ke rumah Tuhan untuk bersekutu dengan tubuh dan darahnya, adalah suatu sukacita tersendiri.
Bulan September lalu, beberapa gereja di wilayah Keuskupan Surabaya
mulai dibuka bertahap untuk misa offline. Tentunya dengan menjalankan protokol
kesehatan dan beberapa pembatasan. Adanya pembatasan tersebut tentunya dengan mempertimbangkan kondisi umat, infrastruktur gereja, dan lingkungan.
Dinamika paroki dalam memulai kembali misa offline itulah yang direkam Jubileum
edisi ini. Besar harapan kami agar umat Katolik, di Keuskupan Surabaya pada
khususnya, bersama-sama mewujudkan communio. Berkah Dalem.
D
AF
T
A
R
I
S
I
Fotographer : YOHANNES EDO WINDYATAMA Model Cover : RD YUVENTIUS FUSI NUSANTORO COVER STORY04 PERAYAAN EKARISTI DENGAN
ADAPTASI KEBIASAAN BARU
DI GEREJA KATEDRAL HATI KUDUS YESUS, SURABAYA
OBROLAN CAK KLOWOR
05 NEW NORMAL: KEMBALI KE GEREJA
MIMBAR
07 ANTARA MISA ONLINE DAN MISA
OFFLINE
KATEKESE LITURGI
10 SIKAP GEREJA MENGHADAPI
MASALAH SOSIAL
LAPORAN UTAMA
16 BAHAYA LARUT TANPA KOMITMEN
DAN TANGGUNG JAWAB
20 GEREJA MULAI DIBUKA UNTUK
UMAT DI KEVIKEPAN SURABAYA BARAT
26 PARA DOMBA AKHIRNYA KEMBALI
KE GEREJA
34 MISA ONLINE-OFFLINE-ONLINE
DAN PENYESUAIAN KREATIF PAROKI SAYUKA
37 MISA OFFLINE BAGI OMK DI
SCAN ME!
untuk unduh Jubileum edisi Oktober 2020
LINTAS PAROKI
39 RANGKAIAN KEGIATAN HUT KE-90
PAROKI KRISTUS RAJA, SURABAYA
LINTAS KOMISI
42 MENGAKARRUMPUTKAN KARYA
PASTORAL BERBASIS LINGKUNGAN DAN BERFONDASI KELUARGA
KOLOM FILSAFAT
44 VIVERE MILITARE EST - HIDUP
ADALAH BERJUANG
SERBA-SERBI
48 MEMBAWAKAN RENUNGAN
SECARA PADAT DAN MEMIKAT
52 SALURAN YOUTUBE OMK
SUROBOYO: MENUJU PASTORAL 4.0
60 TAHBISAN 2 IMAM CONGREGATIO
MISSIONIS DI PAROKI KELAHIRAN
SANTA PERAWAN MARIA, SURABAYA
64 JADI IMAM BUKAN KARENA NEKAD
67 KE MANA SETELAH MENINGGAL
DUNIA?
69 BERUBAH DAN MEMAAFKAN
SECARA TULUS
OPINI
56 PROMOSI TOLERANSI ANTAR
(SEMUA) UMAT BERAGAMA
58 LINGKUNGAN SEBAGAI KEKUATAN
STRATEGIS PASTORAL
SEMINARIUM
71 CINTA LITERASI, CINTA KEUSKUPAN
UNIVERSALIA
73 PAUS FRANSISKUS MERILIS
ENSIKLIK SEMUA SAUDARA DI ASSISI
OBITUARI
75 AVE VERUM BUAT JAKOB OETAMA
77 SELAMAT JALAN PAK SILVESTER
RATU LODO
RESENSI BUKU
79 KEMBALI MEMAKNAI KASIH BAPA
DALAM KESEHARIAN UMAT
KOMIK
Cover
Story
ADAPTASI KEBIASAAN BARU
DI GEREJA KATEDRAL
HATI KUDUS YESUS, SURABAYA
Di gereja Katedral Hati Kudus Yesus, Surabaya, Perayaan Ekaristi dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKG) mulai diadakan Minggu pagi, 13 September 2020. Sebelumnya gereja Katedral telah dua kali mengadakan simulasi -30 Agustus dan 6 September-. “Kelancaran proses katekese umat dalam persiapan dibukanya gereja didukung peran aktif 2 katekis -F.X. Danang Kiswandoko dan Lusia-,” ujar RD. Yuventius Fusi Nusantoro, Kepala Paroki Katedral Hati Kudus Yesus.
Misa offline sementara hanya Minggu jam 8 pagi -khususnya umat Wilayah
I, II, III- dan Minggu jam 5 sore -umat Wilayah IV, V, VI-. Untuk mengikuti misa, umat paroki mendaftar ke koordinator wilayah masing-masing untuk memperoleh nomer registrasi. Sedang umat di luar paroki mendaftar ke sekretariat paroki. Dalam masa pandemi, yang boleh mendaftar rentang usianya 7-65 tahun. Hal ini sesuai Ketentuan Pastoral VI dan Permenkes RI no. 9 Tahun 2020. Umat yang mendaftarkan diri harus jujur mengenai kondisi kesehatan dan bersedia mengikuti protokol kesehatan.
Protokol kesehatan AKG adalah: Turun dari kendaraan/masuk ke area gerja wajib mengenakan masker - Cuci tangan minimal 20 detik - Cek suhu tubuh,
diperkenankan masuk bila suhu ≤ 37°C - Masuk bilik sanitizer - masuk gereja sesuai
jalur arahan petugas - duduk sesuai nomer bangku - keluar gereja sesuai jalur arahan petugas.
Pada misa offline perdana, hadir misa pagi 96 umat dan misa sore 144 orang.
“Untuk misa pagi harian sementara diadakan live streaming dan ditayangkan melalui
YouTube Gereja Katedral Surabaya. Rencana misa offline harian mulai diadakan
Oktober. Tapi sekali lagi bertahap, melihat dan mempertimbangkan situasi umat dan lingkungan sekitar,” lanjut Romo Fusi.
“Untuk berbagai pelayanan pastoral dan katekese seperti persiapan pernikahan, katekumen, persiapan penerima komuni pertama, persiapan penerimaan Krisma, persiapan baptis dewasa, dan baptis bayi, selama masa Pandemi dilayani dengan berbagai cara sesuai kondisi umat dan protokol kesehatan oleh para Katekis Katedral dan tim pastoral,” jelas Romo Fusi di akhir obrolan singkat
Obrolan
Cak Klowor
NEW NORMAL
:
KEMBALI KE GEREJA
Dalam Ketentuan Pastoral Keuskupan Surabaya ke-6, Bapak Uskup
mengizinkan gereja-gereja dibuka untuk perayaan Ekaristi setelah kurang lebih
6 bulan ditutup. Tetapi kepastian diberikan kepada masing-masing Romo Kepala
Paroki. Melihat situasi dan kondisi masing-masing paroki, termasuk dalam zona
merah, oranye, atau hijau.
“Wah sudah 6 bulan ya Cak kita tidak merayakan ekaristi di gereja? Lama tidak ketemu teman-teman kelompok misa pagi, lama tidak menerima Tubuh
Kristus. Misa dengan cara live streaming di rumah menurutku tidak mantab. Kayak
nonton YouTube saja. Apalagi hanya menerima komuni batin,” ungkap Cik Lily yang setiap pagi pasti mengikuti misa di gereja. Dia selalu ikut misa jam setengah enam. Kelompok misa ini sangat akrab, meski usia mereka sudah di atas lima puluh tahun. Salah satu dari mereka mengaku ke gereja pagi itu, ia lakukan sejak masih muda ketika masih ikut misdinar. Ada yang mengaku semenjak dibaptis sangat semangat setiap pagi ke gereja.
“Harus bagaimana lagi Cik, ini semua dilakukan untuk membantu agar
mata rantai penularan Covid-19 terputus. Tapi sekarang kan sudah diizinkan lagi?
Di parokiku sudah disiapkan aplikasi untuk mendaftar misa. Tapi bagi yang tua tidak mudah untuk menggunakan aplikasi, yang tua-tua, rata-rata gaptek.”
“Makanya meskipun gereja sudah boleh dipakai misa tatap muka, tapi masih banyak yang belum bisa hadir. Mungkin karena pakai sistem aplikasi tadi mengakibatkan umat lansia atau yang sudah tua tapi rajin ke gereja tidak bisa hadir. Mereka mengatakan ribet. Mungkin juga karena mereka masih takut ke
gereja karena menganggap bahwa covid belum selesai dan penularan masih tinggi,
mungkin juga ada yang sudah kerasan misa secara live streaming, lebih praktis
bisa ikut misa di kamar, hehe,” sambung Cak Robert.
“Yang penting protokol kesehatan dijalankan dengan baik. Ke gereja pakai masker, tempat duduk di gereja diatur sedemikian rupa dengan jarak minimal
1,5 meter, bawa hand-antiseptik sendiri, misa selesai langsung pulang, tidak
bergerombol. Ya namanya adaptasi baru, mungkin juga perlu SOP untuk Misdinar, Asisten Imam (Asim), dan Koster,” usul Cak Klowor.
“Misalnya apa Cak, SOP untuk Asim?” tanya Cik Lily.
waktu ganti pakaian atau busana liturgi. Maka Asim harus pakai masker, face shield, sebelum membagi komuni harus cuci tangan pakai sabun. Busana liturgi harus membawa sendiri-sendiri dan setelah dipakai dibawa pulang sendiri dicuci di rumah masing-masing,” jelas Cak Klowor.
“Lha kalau untuk misdinar kayak apa?” tanya Cak Robert.
“Ya hampir mirip. Sebaiknya busana liturgi misdinar juga harus dibawa sendiri-sendiri. Setelah tugas dibawa pulang untuk dicuci sendiri-sendiri. Jumlah misdinar misa harian satu sudah cukup, kalau ada pendupaan bisa dua. Demikian juga untuk koster harus diberi tahu, sehabis misa piala dan sibori harus dicuci dengan sabun. Kalau bisa piala romo harus sendiri-sendiri. Tugas koster ditambah
tugasnya untuk menyiapkan cover mic. Setiap kali misa cover mic harus diganti.
Menyiapkan hand sanitizer, dan sebagainya. Itu yang ada di dalam pikiranku. Kan
namanya new normal. Maunya kita misa seperti biasa, tetapi harus dengan perilaku
baru karena pandemi Covid-19 belum selesai, maka perlu SOP (standard operating
procedure) dalam menjalankan misa. Sebisa mungkin kita mengatur dengan detil dalam menjaga keselamatan dalam masa adaptasi ini. Kita tidak tahu kapan pandemi berakhir. Kalau menunggu pengumuman dari Presiden Jokowi atau pernyataan bahwa pandemi berakhir baru bisa misa, ya itu kapan?” kata Cak Klowor.
“Cak, di paroki saya sebenarnya gereja sudah dibuka mulai tanggal 16 Agustus tahun ini. Diawali dengan sosialisasi masa adaptasi, lalu simulasi misa bersama umat. Umat yang mau hadir harus mendaftar melalui aplikasi. Hari Minggu ada tiga kali misa, di stasi satu kali misa. Setiap kali misa di paroki dibatasi untuk 250 orang. Kapasitas normal gedung bisa 1.200 orang. Tetapi yang ikut misa rata-rata 60 orang. Padahal jumlah umatnya kurang lebih 8.500 orang. Maka tiga
kali misa hanya kurang lebih 120 orang di paroki. Yang lainnya ikut misa online
di banyak channel Gereja Katolik. Ada yang ikut misa dengan cara live streaming
di channel Komsos Keuskupan Surabaya, Komsos Keuskupan Bandung, Komsos
Keuskupan Agung Semarang. Bahkan ada yang melalui channel dari luar negeri.”
“Sangat menguntungkan ya dengan adanya media sosial. Bisa misa dari rumah, bahkan bisa disesuaikan dengan jam bangunnya. Bangun tidur langsung
cari channel, dan ikut misa. Di kamar pun jadi,” singgung Cak Robert. “Karena sudah
merasa nyaman misa online, malas ke gereja walau sudah dibuka. Kembali jadi
malas. Itu pengakuan tetangga, Cak,” sambungnya.
“Padahal hakikat ekaristi itu menurut buku yang aku baca itu ya kehadiran dan partisipasi umat dan imam,” kata Cak Wicak.
“Tapi yang lucu temanku, pergi ke mall berkali-kali bisa, makan di resto
bisa. Lha aku ajak ke gereja ketika giliran wilayahku, katanya takut virus hehehe... Lucu kan?” celetuk Cik Lily sambil terkekeh.
“Memang pandemi memang belum selesai. Kita harus hati-hati, waspada, dan menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. Tetapi juga jangan terlalu parno. Bersyukur kita masih diberi kesempatan untuk merayakan misa di gereja lagi. Mari kita terus belajar dan beradaptasi dengan kebiasaan baru ketika kita merayakan ekaristi di gereja. Salam sehat selalu,” pungkas Cak Klowor. (EBS)
ANTARA MISA
ONLINE
DAN MISA
OFFLINE
Selama masa pandemi Covid-19 Keuskupan Surabaya merekomedasi
paroki-paroki untuk mengadakan misa online atau yang kita kenal dengan misa
live streaming. Setelah 5 bulan, Keuskupan Surabaya memberi kelonggaran untuk
mulai membuka gereja bagi umat untuk merayakan misa offline di paroki dengan
protokol kesehatan yang ketat. Umat wajib memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Tiap-tiap paroki mempersiapkan Tim Kesehatan dan Tim PUK (Penyambutan Umat dan Kolektan) dibantu oleh OMK. Umat diajak “Kembali ke
Gereja” masing-masing dengan mengikuti Perayaan Ekaristi secara offline. Siapkah
Anda untuk masuk Kenormalan Baru dan kembali ke gereja?
Mimbar
RD. Alphonsus Boedi Prasetijo Ketua Komisi Komsos Keuskupan Surabaya Tinggal di Pastoran Santo Yusup Karangpilang, Surabaya
Ternyata misa online atau live streaming disukai umat di masa pandemi
Covid-19 ini, kendati memang ada kerinduan bagi umat untuk bisa menyambut
Tubuh Kristus atau Komuni Kudus secara langsung. Dengan perkembangan
teknologi komunikasi digital zaman ini, kita dapat mengikuti misa live streaming yang dipersembahkan di kapel/gereja/katedral/keuskupan tertentu, pada saat yang bersamaan. Dengan tetap tinggal di rumah saja, baik sendiri atau bersama keluarga/komunitas, kita bisa mengikuti perayaan Ekaristi hari Minggu atau harian
dengan komputer atau smartphone yang kita miliki. Tinggal membuka saluran
Youtube yang disediakan oleh paroki/keuskupan tersebut.
Umat Katolik di Keuskupan Surabaya bisa mengikuti misa harian live
streaming di Kapel Keuskupan setiap pagi pukul 06.00 WIB, yang diawali dengan
Ibadat Pagi (Laudes) dilanjutkan dengan misa yang dipersembahkan oleh Bapak
Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono atau para romo kuria
keuskupan dan komunitas katedral Hati Kudus Yesus Surabaya. Untuk misa minggu
jadwalnya pagi pukul 08.00 WIB dan sore pukul 17.00 WIB melalui akun Youtube
Komsos Keuskupan Surabaya. Mulai tanggal 1 September 2020 pelayanan misa live streaming atau online berpindah di saluran Youtube: Paroki Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya atau “Gereja Katedral PHKY Surabaya”.
Pengalaman mengikuti misa online di paroki atau keuskupan lain tentu
menambah wawasan. Di pihak lain ada keterasingan dengan reksa pastoral paroki atau keuskupan tempat umat Allah berparoki dan hidup menggereja. Namun, di masa pandemi yang masih berlangsung hingga hari ini kiranya bisa dipahami. Dan memang, ada banyak kisah pengalaman suka dan duka umat Allah mengikuti misa online di berbagai paroki dan keuskupan.
Seorang ibu berkisah tentang pengalaman mengikuti misa online pagi
pukul 06.00 WIB di channelYoutube Komsos Keuskupan Bandung. Setelah homili,
pada pukul 06.30 WIB berpindah di channelYoutube Pastoran Sayuka 2020 hingga
selesai misa harian live streaming dengan Komuni Batin.
Paroki Santo Yusup Karangpilang (Sayuka) Surabaya, saat memasuki masa pandemi pada akhir bulan Maret 2020, untuk memenuhi himbauan Bapak Uskup
Surabaya, telah mengusahakan pelayanan misa live streaming atau misa online
setiap hari dari Kapel Pastoran Sayuka pukul 06.30 WIB. Kami, para romo Paroki Sayuka, bertiga membagi tugas bergantian tiap hari, entah sebagai imam yang mempersembahkan misa, atau sebagai lektor (Pelayan Sabda Allah), atau sebagai pemimpin lagu dan doa. Demi melayani umat Allah yang tidak bisa pergi ke gereja
kami siapkan misa online itu.
Saat diumumkan adanya kemungkinan pembukaan gereja paroki untuk
misa offline bersama umat pada awal Juli 2020, maka pelayanan misa live streaming
Pastoran Sayuka 2020 beralih ke Gereja Paroki Santo Yusup Karangpilang. Selain
menyiapkan Tim Komsos Paroki untuk melanjutkan pelayanan misa online atau live
streaming dari Gereja, Paroki Sayuka bersama Tim Kesehatan, PUK dan OMK mulai menyiapkan protokol untuk misa di gereja bersama umat pada hari Minggu.
Akhirnya, pada hari Minggu, 9 Juli 2020 Gereja Paroki Sayuka mulai dibuka kembali bagi umat untuk merayakan Ekaristi dengan protokol yang ketat.
Mulai dengan anggota DPP Pleno. Berikutnya dibuka bagi umat yang mendaftar
dulu lewat lingkungan dan wilayah dengan aplikasi Google Form. Kendati begitu,
pelayanan misa live streaming atau misa online lewat channel Youtube Paroki Santo
Yusup Karangpilang masih berjalan untuk umat lansia dan umat lain yang belum
bisa pergi ke gereja akibat bahaya penularan virus Covid-19 yang merajalela.
Dalam Rapat Komisi Liturgi Keuskupan Surabaya lewat Zoom pada hari
Rabu, 9 September 2020 diangkat persoalan umat di paroki-paroki berkaitan
dengan kenyamanan mengikuti misa online selama masa pandemi ini. Beberapa
anggota komlit (komisi liturgi) mengungkapkan kekhawatiran mereka bila umat Allah akhirnya enggan atau tidak mau ke gereja lagi untuk merayakan Ekaristi secara offline.
Akhirnya Romo Yosep Indra Kusuma, selaku ketua Komisi Liturgi
Keuskupan, membagikan permenungannya bertolak dari Sejarah Gereja Katolik pada masa awal mula berdirinya. “Rumah keluarga Kristiani” menjadi pusat ibadah dan pembinaan iman, tempat mendengarkan Sabda Tuhan dan ajaran para rasul, serta memecah-mecahkan roti atau perayaan Ekaristi. Bisa jadi sejarah akan berulang.
Dalam Kisah Para Rasul kita baca bahwa, “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kisah Para Rasul 2:42-42). Lebih lanjut Lukas menulis, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:46-47).
Marilah kita berdoa agar pandemi Covid-19 segera berlalu. Marilah kita
berdoa agar kerinduan umat untuk menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi bersama di gereja paroki terwujud nyata, bukan hanya puas dengan ikut misa online, sebaliknya siap ikut misa offline di gereja paroki masing-masing.
Masalah-masalah sosial adalah masalah yang menyangkut kehidupan masyarakat. Subyek masalah sosial bukan individu, melainkan kelompok. Bentuk masalah sosial bermacam-macam: ada kemiskinan, korupsi, penindasan HAM. Ada pun masalah-masalah sosial yang terjadi di Indonesia, misalnya:
• Bidang politik: korupsi pejabat pemerintah, money politics.
• Bidang ekonomi: kemiskinan, krisis Covid-19 yang belum selesai.
• Bidang sosial: pengangguran.
Masalah-masalah sosial selalu berkaitan erat dengan soal ketidakadilan sosial. Ketidakadilan sosial beda dengan ketidakadilan individual. Kalau ketidakadilan individual terkait dengan relasi pribadi dengan orang lain. Misalnya: guru wajib memberi nilai yang baik kepada murid yang dapat mengerjakan soal dengan baik.
Ketidakadilan sosial lebih disebabkan oleh struktur-struktur dalam masyarakat. Struktur-struktur itu meliputi bidang ekonomi, politik, sosial dan
Katekese
Liturgi
RD. Laurensius Rony Wakil Komisi Katekese Keuskupan Surabaya
SIKAP GEREJA
MENGHADAPI
MASALAH
SOSIAL
budaya. Misalnya: upah buruh yang tidak adil, tidak pertama-tama disebabkan oleh pimpinan perusahaan yang tidak adil. Pimpinan perusahaan mungkin ingin menaikan upah, tetapi tidak bisa karena takut bangkrut.
Ketidakadilan sosial ini menciptakan sebuah iklim yang menjerat hidup manusia. Karena situasi ini, perbuatan kita mempunyai efek ganda:
• Perbuatan kita akan jatuh atau tergelincir pada perbuatan yang tidak adil.
• Struktur-struktur itu mau tidak mau membuat kita berbuat tidak adil.
Misalnya, dunia pendidikan: ada kebiasaan bahwa sekolah swasta milik anak orang kaya saja. Guru-guru yang mengajar di situ akhirnya mau tidak mau hanya mendidik murid-murid anak orang kaya saja.
Dalam surat apostolik “Reconciliatio et Poenitentia”, masalah-masalah sosial
itu disebabkan dosa-dosa sosial. Dosa-dosa sosial itu mempunyai tiga segi:
• Dosa-dosa pribadi yang kena terhadap orang lain akibat sosialitas manusia.
• Dosa-dosa yang berlawanan dengan struktur-struktur sosial atau kehendak
Allah.
• Dosa-dosa yang berlawanan dengan sesama.
Situasi ini merupakan suatu kekuatan yang bersifat universal dan diluar kekuatan manusia.
Dalam Sollicitudo Rei Socialis 36, struktur-struktur masyarakat ini disebut
struktur-struktur dosa. Struktur-struktur dosa ini disebabkan oleh dosa-dosa pribadi. Antara struktur dosa-dosa pribadi sudah terbentuk suatu lingkaran setan yang tidak putus. Maksudnya adalah:
• Struktur-struktur dosa akan mendorong atau menyebabkan orang jatuh
pada dosa pribadi.
• Dosa-dosa pribadi akan memperkuat struktur dosa.
Untuk memecahkan masalah itu yang dituntut adalah tindakan solidaritas (Sollicitudo Rei Socialis 38). Solidaritas adalah: tindakan atau tekad yang teguh untuk membaktikan diri demi orang lain. Dan tujuan tindakan itu menciptakan suasana manusiawi atau disebut struktur rahmat (Roma 5:12-21).
Lantas apa yang mendorong Gereja untuk menjawabi kebutuhan ini? Mari kita ingat hakikat Gereja sendiri.
Hakikat Gereja
A. Gereja sebagai Sakramen: gereja merupakan simbol real dari karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Ini harus dilihat dalam kesatuan dengan Yesus Kristus. Yang menyelamatkan bukan Gereja tetapi Yesus Kristus yang hadir
dalam Gereja. Gaudium et Spes 45: gereja sebagai sakramen harus ditempatkan
pada tantangan manusia di dunia ini. Gereja harus menunjukkan pada dunia dimanakan keselamatan itu. Keselamatan dunia tidak lepas dari penegakan
martabat manusia (Gaudium et Spes 12). Ad Gentes 5: gereja sebagai sakramen
ditempatkan dalam rangka pewartaan Injil. Gereja bukan loudspeaker yang mati
dan tidak punya nilai. Gereja mewartakan Injil lewat teladan dan kegiatannya.
B. Gereja Misioner (Lumen Gentium 17): gereja bertugas untuk mewartakan
Injil. Pewartaan Injil tidak sebatas untuk mendirikan Gereja Lokal. Ensiklik Evangeli Nuntiandi: tujuan penginjilan diarahkan pada soal kemanusiaan. Usaha evangelisasi diperluas. Tujuan penebusan adalah kesatuan Allah dan manusia. Tetapi perlu diperhatikan usaha penebusan itu harus menyentuh situasi yang
sangat konkret (Evangelii Nuntiandi 31), menyangkut pengembangan pribadi
manusia. Perkembangan manusia tidak hanya dibatasi pada dimensi sosial dan
ekonomi, tetapi menyentuh dimensi kemanusiaan. Gaudium et Spes: pewartaan
Injil harus menyangkut:
• Memulihkan martabat manusia sebagai citra Allah (Gaudium et Spes 29).
• Mengusahakan situasi yang adil dan damai (Gaudium et Spes 39).
• Mengusahakan kesetiakawanan antar bangsa (Gaudium et Spes 32).
C. Gereja sebagai pelayan dunia (Diakonia).
D. Gereja mau tidak mau harus berdialog dengan dunia. Gaudium et Spes 2
menegaskan “Konsili mau menghadapi….” Dunia yang dimaksud disini adalah dunia manusia (Antropologis) bukan dunia kosmis. Dengan demikian berdialog dengan dunia berarti berdialog dengan masalah-masalah kemanusiaan.
Dalam berdialog dengan masalah kemanusiaan, Gaudium et Spes 48
menjabarkan dua panggilan Gereja yang ada disana:
• Vocatio hominis: Gereja terpanggil untuk mencari jawab atas masalah kemanusiaan yang ada.
• Gereja mewartakan keselamatan lewat Yesus Kristus, Gereja menawarkan
suatu cakrawala iman.
Iman Akan Penebusan Yesus Kristus
Pokok pewartaan Yesus adalah Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah situasi Allah meraja. Dengan kata lain, Kerajaan Allah identik dengan keselamatan. Yesus Kristus mewartakan keselamatan lewat Sabda, karya dan terutama wafat dan kebangkitan. Kebangkitan Yesus Kristus menjadi peristiwa keselamatan. Kebangkitan bukan melulu terisolir demi diri Yesus Kristus sendiri. Kebangkitan Yesus Kristus menjadi perintis kebangkitan orang mati. Yesus Kristus menjadi yang sulung dari antara orang mati (1 Korintus 15:20). Dengan bangkit, Yesus Kristus menjadi pendamai seluruh dunia (1 Yohanes 2:2). Kita diangkat menjadi anak-anak Allah yang menantikan kepenuhan Kerajaan Allah (Roma 8:18-25). Penyerahan diri Yesus dan penerimaan Bapa menjadi sumber keselamatan (1 Yohanes 4:9). Kita mendapat kepastian keselamatan karena ketaatan Yesus Kristus (Roma 5:19). Dalam Yesus Kristus kita memperoleh jalan menuju Bapa dengan jaminan Roh Kudus (2 Korintus 1:22).
Kebangkitan Yesus Kristus merupakan kehadiran Kristus. Dengan bangkit, Yesus Kristus kembali hidup tetapi hidup secara baru. Ia hadir melalui Roh Kudus (Roma 5:5; 1 Korintus 6:19). Ia tetap menyertai kita (Matius 20:20). Setelah bangkit, kehadiran-Nya bersifat universal, kapanpun dan dimanapun. Dan kehadiran Yesus Kristus ini bukanlah kehadiran yang pasif tetapi aktif. Hal ini nampak dari tugas perutusan yang dilakukan oleh para murid.
Gereja Menjadi Paguyuban Interpretasi
Masalah-masalah sosial ditafsirkan dalam terang Injil. Gereja menjadi
paguyuban interpretasi, artinya Gereja menjadi paguyuban refleksi. Kenyataan-kenyataan sosial direfleksikan oleh Gereja. Hal ini memuat pengandaian bahwa
Allah hadir dalam sejarah. Philips Bibs mengatakan “Vox temporis vox Dei”, Allah
hadir dalam tanda-tanda zaman. Namun demikian Gereja mengakui bahwa
sejarah manusia bersifat ambivalen. Artinya, satu sisi sejarah merupakan tempat
kehadiran Allah, sisi lain sejarah adalah tempat dosa manusia. Jadi sejarah manusia
merupakan locus theologicus dan itu sekarang direfleksikan oleh Gereja antara lain
lewat Ajaran Sosial Gereja.
Apa itu Ajaran Sosial Gereja (ASG)?
ASG adalah ajaran Gereja yang dikeluarkan oleh Paus. ASG bertujuan untuk mengarahkan sekaligus memberi pengertian dalam hidup menggereja khususnya tentang masalah-masalah yang menyangkut dunia.
ASG bukan bertujuan memberikan resep-resep yang mampu menyelesaikan
masalah (Sollicitudo Rei Socialis 41). Hal ini berkaitan bahwa: masalah
masing-masing negara/Gereja berbeda sehingga tidak mungkin memberikan resep jadi untuk menyelesaikan masalah.
ASG juga bukan suatu ideologi, tetapi merupakan bagian dari Teologi Sosial. Teologi Sosial adalah teologi yang memfokuskan pada keterlibatan Gereja dalam masyarakat. Kekuatan ASG adalah pada analisanya. Dan analisa ini harus dijabarkan oleh gereja-gereja lokal. Paus Yohanes Paulus II menekankan perlunya perwujudan
ASG yang berupa kesaksian-kesaksian (Centesimus Annus 57).
Metode ASG:
• Pengamatan (to see): masalah-masalah sosial diamati dan dianalisa dengan
bantuan ilmu sosiologi, budaya, ekonomi; dicari sebab masalahnya, kaitan satu dengan yang lain.
• Refleksi (to judge). Masalah itu direfleksikan berdasarkan terang iman
Yesus Kristus; ditatapkan dengan Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan
Allah. Analisa ini berpangkal misalnya dari hukum-hukum kodrat/filosofis
atau teologis.
• Bertindak (to act). Gereja mengajukan saran-saran atau solusi penyelesaian.
Contoh ASG: Centesimus Annus (CA) Paus Yohanes Paulus II. Dilatarbelakangi
runtuhnya sistem komunis di Eropa Timur dan merosotnya martabat manusia.
Gereja Menjadi Paguyuban Pembebasan
Proses interpretasi tadi tidak akan membawa perubahan jika tanpa
perubahan konkret. Hal ini ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II (Centesimus
Annus 57): “Ajaran Sosial Injil tidak dapat dipandang sebagai teori yang indah melulu, melainkan dasar yang nyata untuk bertindak”.
Tindakan pembebasan itu disebut tindakan-tindakan politik. Tindakan politik adalah tindakan yang berdimensi kemasyarakatan, artinya menyangkut nasib banyak orang.
Tindakan politik dibagi menjadi 2:
• Tindakan-tindakan sosial: tindakan yang menyangkut hidup orang banyak,
misalnya: pidato, ceramah, solidaritas.
• Tindakan politik praktis: kegiatan yang teratur untuk maksud tertentu yang
dijalankan oleh seseorang/masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan umum. Tindakan ini diatur oleh negara. Tindakan politik praktis ini adalah
kekhasan kaum awam (Lumen Gentium 31).
Contoh Gereja sebagai paguyuban pembebasan: “Gereja sebagai Gereja orang miskin”. Gereja orang miskin adalah:
• Dimensi Teologis: gereja menjadi pengikut Yesus yang mewartakan Kerajaan
Allah. Gereja mencontoh solidaritas Yesus Kristus. Tindakan Gereja adalah
meniru Yesus Kristus (Lumen Gentium 8).
• Dimensi Sosiologis: tindakan gereja sebagai pengikut Yesus diwujudkan
dalam tindakan sosial yang konkret. Misalnya: gereja hidup bersama dengan orang miskin, gereja mengadakan usaha-usaha penelitian ke komunitas-komunitas, gereja bekerjasama dengan agama-agama lain mengentaskan kemiskinan.
BAHAYA LARUT TANPA KOMITMEN
DAN TANGGUNGJAWAB
Judul tulisan ini cukup bombastis dan bernuansa negatif. Namun saya menangkap intisari kekawatiran Paus Fransiskus pada kalimat tersebut. Kalimat
tersebut saya kutip dari Instruksi Pertobatan Pastoral Komunitas Paroki kepada
Pelayanan Misi Evangelisasi Gereja yang diterbitkan oleh Konggregasi Kepausan untuk Para Imam pada tanggal 27 Juni 2020 yang lalu (pada no. 9).
Terjemahan dokumen tersebut menjadi materi yang dibagikan pada waktu rekoleksi pembaruan janji Imamat para imam Keuskupan Surabaya. Bagi Anda yang telah membaca dokumen tersebut, sungguh merasakan suatu kejutan yang meneguhkan bagi Keuskupan Surabaya. Seluruh isi dokumen, dari paragraf ke paragraf, meneguhkan hasil Musyawarah Pastoral (MUPAS II) kita. Bagi kami di
Laporan
Utama
RD. Agustinus Tri Budi Utomo Vikaris Pastoral Keuskupan Surabaya
Steering Committee (Pusat Pastoral) dokumen kepausan tersebut menjadi affirmasi
bahwa apa yang dihasilkan oleh MUPAS II sudah on the right track (di jalur yang
benar), sebagaimana di kehendaki Gereja. Betapa tidak! Judul dokumen saja sudah persis dengan tema tahunan 2020 sebagai Tahun Pertobatan Pastoral. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengambil beberapa poin inspiratif dari dokumen tersebut bagi menjawabi pertobatan pastoral kita ke depan.
Mempertanyakan Hakekat Paroki dalam Konteks Sekarang
Paroki sebagai persekutuan Umat beriman memiliki sejarah yang panjang. Dokumen ini mengingatkan apa yang diajarkan Paus Yohanes Paulus II dalam
dokumen Christifideles Laici 26. Bahwa arti kata ‘paroki’ pada dasarnya adalah
‘rumah bagi sekumpulan rumah’. Hal tersebut nampak pada surat Rasul Paulus
kepada jemaat di Roma, Korintus dan Filipi. Dari sana lahir ungkapan Ecclesia
Domestica (Gereja Rumah Tangga).
Namun dalam perjalanan sejarah, lebih lebih ketika Gereja Katolik menjadi agama resmi kekaisaran Romawi, lalu mendominasi Eropa dan hingga abad modern ini, paroki berubah menjadi suatu organisasi semi duniawi yang bersifat massal,
klerikal dan administratif. Makna ‘rumah’ dan ‘rumah tangga/ keluarga’ semakin
memudar dan terabaikan.
Betapa Paroki telah berubah menjadi ‘komunitas raksasa’, masif, anonim dan administratif. Struktur Pastoral semakin kehilangan rasa ‘rumah tangga/keluarga’
demi efisiensi, efektifitas, manageable, orderly dan control. Kegiatan-kegiatan organisatoris lebih diutamakan dibandingkan dengan penyelamatan jiwa. Paroki
tinggal menjadi suatu ‘kantor pusat’ suatu wilayah teritori tertentu yang ditandai
dengan berdiri megahnya gedung gereja pusat Paroki. Namun kehilangan makna
‘tanda kehadiran Tuhan yang bangkit, penuh kasih dan menyelamatkan’ di tengah
umatnya yang begitu banyak.
Tantangan Pandemi Covid dan Revolusi Digital
Pandemi Covid-19 telah memporakporandakan kebiasaan mapan, bentuk, ruang dan cara perjumpaan, ungkapan kedekatan relasi serta metode pelayanan. Dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi dan internet, disatu sisi Gereja diuntungkan dan difasilitasi, namun disisi lain pengelolaan pastoral secara teritorial dihadapkan pada karakter khusus dunia baru. Imunitas menjadi bahasa keselamatan dan kebenaran etis bagi perilaku sosial manusia sejak tahun 2020 ini. Entah sampai kapan hal ini akan berlalu.
Selama pra-MUPAS II, kita sama sekali tidak menduga akan datangnya pandemi Covid ini. Selama tahun 2020, sebagai masa Pusat Pastoral mendiseminasikan hasil MUPAS II, terduduk lunglai. Kita terhenyak sadar, mesti melakukan reformasi struktur dan intervensi pastoral sesuai dengan tanda-tanda
zaman yang sama sekali baru ini. Dokumen kepausan tadi pun mengajak kita untuk terbuka dan rendah hati dituntun kepada ‘reformasi struktur’, secara khusus
mengenai pengelolaan pastoral Paroki, yakni komunitas yang dihimpun disekitar meja Sabda dan Ekaristi. (no. 6)
Reformasi Struktur Pastoral
Dengan peranan jasa teknologi digital ini , semua Misa, pertemuan pastoral,
koordinasi, pewartaan, dan banyak kegiatan dilakukan secara DARING (live
streaming, zoommeeting, dan sebagainya). Budaya digital telah merambah batas-batas eksistensi: di satu sisi ruang gerak dan perjumpaan menjadi sangat terbatas-batas,
namun di lain sisi kita sekaligus sedang hidup dalam ‘kampung global dan plural’. Cara fikir dan pemahaman tentang diri sendiri, sahabat dekat, kerabat, ungkapan
cinta, solidaritas, relasi kehangatan, paguyuban, komunitas, dan banyak hal lain,
siap atau tidak harus dimodifikasi. (no. 8) Mau tidak mau kita diajak masuk pada
awal sejarah akar terbentuknya Paroki: komunitas keluarga.
Gereja Paroki sebagai komunio masuk dalam konteks baru, dimana
hubungan teritorial (perjumpaan personal secara fisik) menjadi tidak realistis
(berbahaya).
Larut versus Kreatif
Berubah memang sulit. Namun perubahan adalah bagian hakiki sifat dinamika hukum kehidupan. Perubahan (metanoia) adalah juga sifat hakiki sejarah keselamatan.
Gereja saat ini diajak oleh Roh Kudus untuk melakukan disermen (penegasan
rohani) melihat realitas baru dengan ‘mata Allah’, dalam kacamata kesatuan gerak
dan persekutuan. Seluruh Umat Allah harus segera terlibat dalam membangun komitmen untuk menerima undangan Roh mewujudkan proses pembaharuan wajah Gereja. (no. 10)
Gereja Persekutuan Umat yang dinamai Paroki, sebagai komunio, sedang masuk realitas seperti itu. Di mana relasi antar anggotanya, antar pribadi, antar keluarga, antar komunitas kecil akan berisiko larut dalam dunia virtual tanpa komitmen dan juga tanpa tanggungjawab dalam mewujudkan communio. Kita ditantang dalam mendesain program pastoral 2021 ke depan secara kreatif.
Pada Senin, 7 September 2020 para romo di Kevikepan Surabaya Barat
mengadakan rapat virtual dengan zoom, yang melaporkan pelaksanaan pembukaan
kembali Gereja paroki untuk misa bersama umat di kevikepan ini. Berikut ini rangkuman laporan dari 6 paroki.
Laporan
Utama
GEREJA MULAI DIBUKA
UNTUK UMAT DI KEVIKEPAN
SURABAYA BARAT
Sumber gambar: apkpure.com
RD. Alphonsus Boedi Prasetijo Ketua Komisi Komsos Keuskupan Surabaya Tinggal di Pastoran Santo Yusup Karangpilang, Surabaya
Paroki Sakramen Maha Kudus, Pagesangan, Surabaya
Paroki Sakramen Maha Kudus (SMK) Surabaya membuka gerejanya untuk misa harian bersama umat mulai bulan Mei 2020. Pada Agustus 2020 Paroki SMK mengadakan percobaan misa untuk 50 anggota OMK, dengan syarat harus ada ijin dari orang tua. Pelayanan Sakramen Baptis sudah mulai. Komuni Pertama juga sudah mulai, jumlah 90 orang dengan panitia. Rencana pada bulan Oktober 2020 ini sudah mulai untuk misa bersama umat, terbatas dengan cara mendaftar.
Sumber gambar: gemaeklesia.blogspot.com
Sumber gambar: web.facebook.com
Paroki Redemptor Mundi, Dukuh Kupang, Surabaya
Paroki Redemptor Mundi (RM) sudah mulai misa Minggu bersama umat pada jam 8 pagi dan 6 sore, sudah 3 kali misa hari Minggu, yang datang 60 orang, berdasar wilayah (wilayah 1, 2; wilayah 4, 5; dan wilayah 6, 7) tanpa lagu dan koor.
Misa harian masih belum. Misa bahasa Inggris bagi umat juga belum dilayani. Misa online atau live streaming sudah berjalan baik. Baptis bayi dan dewasa mulai jalan, tapi dibatasi.
Pada bulan September ini, saat Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) tidak
ada pertemuan umat, tapi ada beberapa dengan Zoom, ada Bible Study yang ikut
cukup banyak, yang membimbing Romo Bayu, OP. Pertemuan Asisten Imam dan
DPP via Zoom. Studi bersama (umat) membahas tentang Kitab Suci setiap weekend.
Pelayanan sakramental tetap berjalan.
Paroki Santo Yakobus, Citraland, Surabaya
Di Paroki Santo Yakobus romo mengajak umat untuk memulihkan diri dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Mulai membuka misa bersama umat pada hari Minggu, 12 juli 2020, khusus umat paroki Yakobus saja, sampai bulan Agustus masih terbatas untuk umat Paroki Yakobus dulu.
Pelayanan sakramen-sakramen sudah dimulai. Untuk perkawinan sudah mulai akhir Mei 2020, untuk Komuni Pertama mulai September 2020. Sakramen Perminyakan sudah mulai dari awal, untuk Sakramen Tobat sudah mulai, kebanyakan janjian dengan romonya sendiri. Yang belum Sakramen Krisma dan Baptis Bayi. Untuk Baptis Dewasa sudah terlaksana.
Bulan September 2020 Misa Harian sudah dimulai, kehadiran umat sekitar 50-100 orang yang hadir. Bulan Januari 2021 mendatang harapannya sudah mulai misa untuk semua umat, tidak terbatas paroki Yakobus saja.
Semua kegiatan umat secara virtual. Sie Keluarga Paroki mengadakan
reko-live-si mulai bulan Agustus 2020 untuk keluarga-keluarga. Kegiatan ini akan dibuat
rutin bagi umat. KPP Online (Marriage Preparation) sudah dimulai hari Minggu jam
7.30 - 10.30 pada bulan Mei. Paroki melakukan Home care virtual bagi yang sakit.
Komuni Pertama akan diadakan pada 7-15 September 2020. Rekoleksi virtual misdinar 29 0ktober 2020. Expo pendidikan bulan Oktober 2020 akan diadakan secara virtual. Bekerja sama dengan komsos kevikepan dan sie pendidikan
kevikepan. Sertifikasi pengajar sakramen dimulai kembali pada bulan November
2020. Pelajaran calon baptis virtual akan dimulai bulan November 2020.
Paroki Santo Yusup, Karangpilang, Surabaya
Misa bersama umat di Paroki Santo Yusup Karangpilang (SAYUKA) sudah dimulai pada hari Minggu, 9 Agustus 2020 dengan DPP Pleno, kapasitas 200 orang yang datang 90 orang. Pada Minggu, 23 Agustus 2020 sudah mulai misa umat
dengan pendaftaran Google Form. Selain itu juga ada undangan dalam bentuk
barcode. Tantangan: masih banyak umat yang belum berminat untuk misa offline.
Mulai bulan September 2020, undangan melalui barcode ditiadakan, hanya dengan
melalui Google Form. Sudah mulai banyak yang mendaftar, sekitar 68 orang. Mulai
Minggu depan 2 kali Misa Mingguan. Misa Harian sudah dimulai sejak tanggal 18 Agustus 2020.
Umat yang mengikuti misa dibatasi usianya, yakni : anak-anak di bawah 12 tahun dan orang dewasa di atas 56 tahun belum boleh (khusus untuk hari Minggu). Umat yang lansia diijinkan untuk mengikuti Misa Harian, tetapi untuk Misa Minggu belum, karena Misa Minggu jumlah umat yang hadir cukup banyak. Pada saat misa
umat wajib pakai masker dan face shield.
Paroki membentuk panitia untuk misa, yakni Tim Kesehatan, Tim PUK dan Tim OMK. Penerimaan Sakramen Baptis mulai September, pelayanan lain tetap berjalan. Pelayanan berkat rumah sudah mulai tetapi untuk keluarga inti.
Saat ini sedang proses perekrutan DPP/BGKP, kawil dan kaling secara daring. Rencana bulan November 2020 mereka akan dilantik. Akan diadakan Misa Syukur HUT Imamat Romo Warno tanggal 8 September 2020 yang diawali dengan Talk Show Interaktif dengan Zoom dan live Streaming Youtube malam ini, dan besok
Misa Syukur. Kabar terbaru : Ada umat yang positif Covid-19 ikut misa, pada bulan
Agustus yang lalu, maka masih dipertimbangkan untuk misa selanjutnya.
Paroki Santo Aloysius Gonzaga, Darmo Satelit, Surabaya
Paroki Algonz (Aloysius Gonzaga) sudah mulai misa bersama umat, Minggu,
6 September 2020, peserta DPP/BGKP, para ketua wilayah (kawil), dan Asisten Imam. Dari kuota 200 umat, yang register 148, hadir 105. Baptisan sudah mulai bulan Agustus lalu ada sekitar 30-an. Komuni Pertama jadwalnya masih disusun,
rencana bulan depan. Pemberkatan rumah hanya keluarga inti. Untuk Sakramen Orang Sakit paroki belum melayani.
Koordinasi dengan satgas tentang misa berjalan dengan baik. Kegiatan BIAK live streaming di pastoran tiap Minggu. Untuk pembagian komuni dalam misa, romo dan Asisten Imam yang berkeliling ke umat. Untuk registrasi menggunakan aplikasi
model m-tix. Sistem database, per-wilayah.
Paroki Santo Stefanus, Manukan-Tandes, Surabaya
Misa bersama umat pada Minggu, 16 Agustus 2020. Lalu misa 4 kali pada hari Sabtu jam 6, Minggu jam 6, 8 dan 5 sore. Model registrasi sistem kupon: kuota 150, yang hadir 120-130 per misa. Umat yang boleh hadir saat misa adalah yang sudah komuni. Khusus untuk lansia harus ada surat dokter dan daftar riwayat kesehatan. Protokol kesehatan sudah dilakukan. Sakramen Baptis sudah berjalan, perminyakan berjalan. Komuni Pertama bulan Oktober 2020, KPP (Kursus Persiapan Perkawinan) tetap ada pertemuan.
Sejak 1 Agustus 2020 Paroki Santo Stefanus mengadakan rekaman lectio
devina, untuk renungan-renungan, mengajak OMK dan komsos.
Pertemuan-pertemuan virtual Kitab Suci dengan RD. Y.C. Herman Wisandjaja. Romo Herman juga sudah mulai kunjungan ke lingkungan, saat ini membantu seorang anak yang
kesulitan finansial. Sumber gambar: jadwal-misa.info
PARA DOMBA AKHIRNYA
KEMBALI KE GEREJA
Laporan
Utama
Errol Jonathans
Umat Paroki Santo Yakobus, Surabaya
Hari Minggu, 2 Agustus 2020, pukul 6 pagi. Untuk pertama kali sejak
diputuskan lockdown tanggal 21 Maret 2020, saya dan keluarga kembali dapat
menginjakkan kaki di gereja Santo Yakobus-Citraland. Kami bersekutu lagi dengan
umat separoki dalam ‘Misa Fisik’ hari Minggu. Inilah misa fisik perdana saya di
masa pandemi Covid-19, setelah gereja Katolik se-Indonesia, termasuk gereja Santo
Yakobus mengalihkan peribadatan rutinnya ke misa online. Sepengetahuan saya,
gereja Santo Yakobus Surabaya menjadi gereja pertama di Keuskupan Surabaya
Suasana gereja memang jauh berbeda dibandingkan sebelum pandemi. Pengamanannya sangat ketat sejak di gerbang utama. Lebih ketat dibandingkan misa Paskah dan Natal. Gabungan petugas keamanan dan tim paroki mencegat setiap kendaraan sambil bertanya: “Punya tiket untuk misa?” Saya pun membuka
layar gawai dan memperlihatkan barcode tanda bukti pendaftaran. Nomor tiket
saya 734 berlaku untuk 3 orang. Juga ada catatan, jadwal misa mingguan yang boleh saya hadiri sebagai umat Wilayah Santo Yohanes Rasul, yaitu Minggu, 2 Agustus pukul 06.00 pagi.
Demi pengamanan dan keteraturan misa fisik, pengurus paroki Santo
Yakobus menetapkan dan merotasi jadwal misa untuk umat dari 11 wilayah di Paroki Santo Yakobus. Mereka merancang sistem teknologi informatika canggih
untuk pendaftaran misa, yang berbasis pada database umat. Karenanya umat tidak
bisa memilih misa di luar jadwal yang sudah ditentukan. Umat paroki lain pun sulit
menghadiri misa fisik gereja Santo Yakobus. Sebelas wilayah itu dibagi ke dalam
4 jadwal misa Ekaristi di hari Sabtu dan Minggu. Setiap misa hanya menampung umat dari 2 hingga 3 wilayah saja. Memasuki September 2020, umat dapat memilih jadwal misa Ekaristi dengan bebas. Tetapi prosedurnya tetap harus mendaftar secara daring (dalam jaringan) ke http://bit/ly/misayakobusnewnormal. Pendaftaran baru dibuka setiap Selasa. Umat berusia 60 tahun ke atas dianjurkan
tetap mengikuti misa daring melalui kanal YouTube yang dikelola Seksi Komsos
Paroki Santo Yakobus.
Sesampainya di area pintu gereja, petugas mewajibkan umat menjalani
protokol kesehatan. Pertama, umat memposisikan keningnya di hadapan thermogun.
Hanya umat dengan suhu badan di bawah 38°C yang boleh masuk gereja. Kedua,
umat wajib membasuh tangan dengan hand sanitizer, sementara air suci tidak
disediakan. Ketiga, umat bisa mempersembahkan kolekte melalui dua cara, yaitu
memasukkan amplop ke dalam kotak, atau berkolekte secara online dengan cara
scanning gawai pada barcode besar yang dipajang di pintu masuk gereja.
Selanjutnya umat dipandu petugas tata tertib memilih bangku yang boleh diduduki umat. Kebijakannya, gereja hanya diisi separuh dari kapasitasnya. Bangku gereja yang biasanya berisi 6 umat dibatasi maksimum 4 umat. Di setiap bangku diberi sekat-sekat pemisah. Selain itu deretan bangku di depan dan di belakang
bangku yang boleh ditempati dibiarkan kosong. Itulah kebijakan physical distancing
yang diterapkan gereja.
Durasi ritual misa fisik juga dibuat singkat. Rata-rata misa hanya 45-50
menit. Intinya umat dibuat tidak berlama-lama di dalam gereja. Bahkan umat diminta tidak berlama-lama berelasi sosial setelah misa. Pengurus paroki intinya
meminimalkan kerumunan umat sesuai protokol Covid-19. Demi keamanan dan
kesehatan petugas misa, jumlah penyanyi koor dibuat minimalis. Durasi nyanyian
juga dibuat singkat. Begitu pula homili romo. Sedangkan lektor dan pemazmur
dibekali wireless microphone sendiri-sendiri. Saat komuni petugas tata tertib
mengatur alur umat dengan jarak antrian hingga semeter.
Nyamankah misa fisik terbatas ala ‘the new normal’ ini? Jawabnya tentu tidak kalau memakai paradigma beribadah di masa pra-pandemi. Tetapi dibandingkan
dengan misa virtual dan live streaming, misa fisik berprotokol Covid-19 adalah
solusi yang terbaik.
Yang Hilang di Misa Virtual
Era misa virtual dimulai saat tanggal 21 Maret 2020, Uskup Surabaya Mgr.
Vicentius Sutikno Wisaksono menerbitkan Ketentuan Pastoral Keuskupan Surabaya
tentang perayaan ekaristi menghadapi pandemi Covid-19. Intinya meniadakan
perayaan Ekaristi harian dan mingguan di dalam gereja dan kapel se-Keuskupan Surabaya. Termasuk melarang kegiatan gereja yang menghimpun keluarga dan pribadi. Meski ketentuan ini berlaku hingga 3 April 2020, tetapi pandemi yang berkepanjangan menyebabkan gereja Santo Yakobus baru bisa dibuka di awal Agustus.
Maka tanggal 21 Maret itu juga, Pastor Kepala Paroki Santo Yakobus, RD. Aloysius Hans Kurniawan menandatangani surat yang membatalkan semua misa
fisik. Umat diarahkan mengikuti misa live online dari Kapel Keuskupan Surabaya. Misa perdana dipersembahkan Uskup Surabaya, Sabtu 21 Maret pukul 18.00. Sementara untuk hari Minggu, 22 Maret, misa dijadwalkan pukul 07.00, pukul 09.00 dan pukul 17.00 dengan imam lainnya.
Sejak saat itu, saya sekeluarga hanya bisa merayakan Ekaristi hari Minggu secara daring. Beruntung di minggu-minggu berikutnya semakin banyak gereja
Katolik di Indonesia yang menyelenggarakan misa Ekaristi di YouTube. Artinya
makin banyak jadwal misa Ekaristi yang bisa dipilih umat. Bahkan stasiun TVRI
Pusat juga menyiarkan misa Ekaristi hari Minggu secara live dari Katedral Jakarta.
Setidaknya saya sekeluarga pernah mengakses misa virtual dari Keuskupan Agung Palembang, Komsos Keuskupan Agung Semarang, Katedral Jakarta, dan Keuskupan Surabaya.
Setiap menjelang misa Ekaristi virtual, keluarga sibuk menata meja perayaan. Setelah taplak satin putih digelar, salib dan patung Bunda Maria ditata
sejajar dengan 2 lilin di kiri dan kanan. Semua piranti misa ini mengapit laptop yang
dilengkapi dengan speaker active, agar audio ritual misa terdengar lebih mantap.
Selembar kertas berisi teks komuni batin juga disiapkan untuk didoakan bersama. Suasana saat mengikuti misa virtualdari Kapel Keuskupan Surabaya.
Begitulah sekitar 5 bulan misa virtual hari Minggu menjadi rutinitas di hari Sabtu atau Minggu. Termasuk perayaan hari-hari besar seperti rangkaian Paskah, Kenaikan Yesus ke Surga dan lainnya. Sebelumnya otoritas Keuskupan Surabaya dan Gereja Katolik telah menguatkan nilai misa virtual di masa pandemi, dengan
mengutip ayat Matius 18:20: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam
nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”.
Meski demikian, lama-kelamaan sisi manusiawi dan kedagingan saya mulai gundah. Di benak berseliweran pertanyaan: sampai kapan misa Ekaristi jarak jauh ini berlangsung? Kapan umat dapat kembali bersekutu dalam gereja? Kapan
dapat menyantap hosti tubuh darah Kristus secara fisik? Sejujurnya hati kecil saya
merasa tidak lengkap merayakan Ekaristi tanpa santapan hosti. Oase spiritual mulai mengering. Serasa ada jiwa yang hilang di misa virtual.
Domba Kembali ke Gereja
Maka perjalanan saya kembali ke misa Ekaristi fisik di gereja Santo Yakobus,
-dengan segala persyaratan dan proses yang ketat-, akhirnya menjadi muhibah
spiritualitas. Terutama setelah pandemi Covid-19 membatasi saya sekeluarga
hanya boleh hadir di misa virtual. Misa lewat YouTube selama 5 bulan seakan-akan
menjadi alat ukur, sesetia apakah saya bersekutu dengan Ekaristi meski secara batin. Juga mengukur serindu apa saya sehingga ingin bersekutu dengan komuni
fisik. Situasinya mirip ujaran Roma 12:12: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, tekunlah dalam doa”.
Pandemi Covid-19 faktanya telah mengubah dunia. Kapan berakhirnya tidak
ada pihak yang berani memastikan. Meski vaksin penawarnya akan ditemukan entah kapan, diyakini kehidupan manusia tidak akan kembali se-normal sebelum pandemi global ini terjadi. Termasuk tata cara peribadatan di gereja Santo Yakobus. Mau tidak mau umat manusia dipaksa siap hidup dengan standar baru berlabel
‘kenormalan baru’. Sebagian orang menyebutnya ‘normal yang abnormal’. Lainnya menyebut ‘abnormal yang normal’. Entah mana yang paling tepat.
Belakangan melalui WhatsApp Komsos dan kelompok kategorial paroki
Santo Yakobus, beredar video-blogging (Vlog) Pastor Kepala Paroki Santo Yakobus
RD. Aloysius Hans Kurniawan, dan Pastor Rekan RD. Dominicus Mardiyatto Rudi. Isi vlog mereka mengundang umat untuk kembali hadir di misa fisik gereja Santo
Yakobus. Kedua romo juga menjamin gereja aman dari Covid-19, karena pengurus
menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
Semoga saja kebiasaan, kepraktisan dan kenyamanan misa virtual tidak menghalangi umat melangkahkan kaki ke hadapan altar gereja dan menerima
komuni fisik. Tuhan memang ada di mana-mana. Tetapi datang ke rumah Tuhan
untuk Bersekutu dengan Tubuh dan Darah-Nya, adalah pilihan yang terbaik dan menggembirakan. Paling tidak sukacita itulah yang kami rasakan, ketika kami para domba-Nya diijinkan kembali ke gereja.
MISA
ONLINE-OFFLINE-ONLINE
DAN PENYESUAIAN KREATIF
PAROKI SAYUKA
Laporan
Utama
Elizabeth Atik
Sekretaris II DPP Santo Yusup, Karangpilang, Surabaya
Pada awal masa pandemi Covid-19, Paroki Santo Yusup, Karangpilang (Sayuka) mulai menghentikan segala kegiatan liturgis dan pastoral di lingkup wilayah dan paroki pada 20 Maret 2020 sampai batas waktu yang belum ditentukan. Selama tidak adanya kegiatan liturgis dan pastoral, pengurus DPP-BGKP Sayuka tetap melakukan koordinasi kepada pihak terkait dan upaya untuk “siaga” seandainya situasi kembali normal, sehingga kegiatan dapat berjalan seperti biasa. Selama beberapa bulan, sebagaimana di paroki-paroki lain, Sayuka juga menyiarkan
misa melalui live streaming melalui akun YouTube Paroki Sayuka Karpil Surabaya.
Selama masa itu pula, Sayuka melakukan sosialisasi tentang bahaya virus corona,
melakukan penggalangan bantuan untuk membantu umat yang terdampak, serta mempersiapkan protokol kesehatan yang harus ditaati oleh umat.
Memasuki masa new normal pada Minggu, 9 Agustus 2020, Sayuka
menyelenggarakan ‘trial’ misa offline dengan hanya dihadiri pengurus DPP-BGKP,
Ketua Lingkungan dan Ketua Wilayah. Trial misa offline tersebut dihadiri oleh 113
orang dengan undangan digital (barcode).
Misa offline kedua pada 16 Agustus 2020 dilaksanakan terbuka bagi umat
secara terbatas dimana pendaftarannya melalui Google form. Pengumumannya
disampaikan pada ketua lingkungan, dan kemudian di-forward pada umat. Misa
offline kedua ini dihadiri 151 orang. Ada pembatasan usia bagi umat yang hadir, anak-anak dan lansia belum diperbolehkan mengikuti misa. Umat yang hadir wajib
mengenakan masker dan face shield, serta pemeriksaan suhu tubuh saat memasuki
area gereja. Pada misa 23 Agustus 2020, kuota peserta misa offline menjadi 200
orang. Dalam misa harian, tetap dilakukan pembatasan kehadiran untuk anak di bawah 12 tahun, namun bagi umat di atas usia 59 tahun sudah diperkenankan hadir. Evaluasi pelaksanaan setiap misa selalu dilakukan. Berdasarkan evaluasi tersebut,
Sayuka memutuskan untuk menghentikan misa offline sejak 8 September 2020
sehingga misa kembali hanya dapat dijangkau melalui live streaming bagi umat.
Selama masa ‘(kembali) ke
misa online’ ini, Paroki Sayuka sempat
menyelenggarakan Hari Ulang Tahun Imamat RD. Matheus Suwarno (25 tahun), RD. Alphonsus Boedi Prasetijo (26 tahun), dan RD. Yohanes Rudianada (11 tahun). HUT Imamat dirayakan dalam bentuk
Talkshow Interaktif dan pemotongan
tumpeng yang dihadiri oleh panitia, pengisi
acara dan tim live streaming. Misa Syukur
HUT Imamat hanya diikuti 10 petugas, dipimpin oleh ketiga romo, dan disiarkan melalui live streaming.
Talkshow Interaktif Ulang Tahun Imamat
(Senin, 7 September 2020, 19.30 WIB)
Paroki Sayuka Karpil Surabaya SCAN ME
Dengan adanya pandemi dan berbagai pembatasan, ada banyak ‘penyesuaian
kreatif’ dalam kehidupan menggereja. Seperti “Kuis Kitab Suci” melalui warta
paroki dengan hadiah yang dikirim ke alamat pemenang menggunakan ojek online;
pengajaran BIAK secara virtual; pendalaman iman dalam BKSN danpertemuan di
tingkat lingkungan/wilayah/paroki dengan aplikasi Zoom.
Dalam berbagai kondisi, tidaklah menghalangi kerinduan untuk mendekatkan diri pada Allah. Intensi misa yang disampaikan dengan mengucap syukur atas devosi -seperti Novena Tiga Salam Maria atau Novena Hati Kudus Yesus-, saat ini jumlahnya lebih banyak daripada masa sebelum pandemi.
MISA
OFFLINE
BAGI OMK
DI SAKRAMEN MAHA KUDUS
Setelah hampir 5 bulan umat beradaptasi dengan misa online, pada bulan
Agustus kemarin Paroki Sakramen Maha Kudus (SMK) kembali melaksanakan
misa offline bagi Orang Muda Katolik (OMK) kisaran umur 17-30 tahun. Umat lain
yang tidak tergolong OMK masih mengikuti misa online di rumah masing-masing
bersama keluarga. Hingga saat ini masih belum dipastikan kapan agar umat
secara keseluruhan dapat mengikuti perayaan ekaristi secara offline karena situasi
pandemi masih mengkhawatirkan melihat keadaan yang masih belum berkembang baik.
Gereja kembali mengadakan misa secara offline (bagi OMK) atas dasar
kerinduan umat akan penerimaan Tubuh dan Darah Kristus. Serta kelegaan untuk datang kembali ke rumah Tuhan dan berkumpul bersama saudara seiman yang lain.
Dalam mengikuti misa atau perayaan ekaristi offline, umat harus tetap
mengikuti protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh gereja sesuai dengan ketentuan
pemerintah. Kebijakan misa offline berbeda di tiap paroki, tapi sebagian besar pasti
mengikuti protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh gugus tugas Covid-19 dan
menyesuaikan dengan kondisi pada lingkungan sekitar. Di paroki SMK, umat yang
diperbolehkan mengikuti misa offline adalah yang berusia 17-30 tahun; kondisi
badan sehat dan tidak berstatus ODP; menggunakan masker dan atau face shield
begitu mulai dari masuk hingga keluar area gereja; suhu badan yang tidak lebih
dari 38°C; dan tentunya sudah terdaftar untuk mengikuti misa offline.
Laporan
Utama
Aurelia Andina Kurniawan
Anggota Seksi Komsos Paroki Sakramen Maha Kudus, Pagesangan, Surabaya
Paroki Sakramen Maha Kudus memberlakukan sistem pendaftaran bagi
umat yang ingin mengikuti perayaan misa offline. Gereja membatasi jumlah
kehadiran umat dan petugas dalam misa, tidak lebih dari 50 orang.
Para Seksi Liturgi mempersiapkan gereja sedemikian rupa agar umat tetap aman dan nyaman saat mengikuti misa. Antara lain dengan memberikan tanda jarak antar kursi umat; melakukan pengecekan suhu sebelum memasuki gereja; meniadakan air suci sebelum memasuki gereja; membatasi jumlah petugas;
memastikan mic yang digunakan petugas dan imam tetap bersih; mempersingkat
waktu misa; menyediakan handscoon dan hand sanitizer; serta menyediakan tempat
cuci tangan.
Ada banyak umat yang menyukai misa offline karena dapat menerima
komuni secara langsung; dan lebih merasakan kehadiran Kristus dalam perayaan, terlebih pada saat Doa Syukur Agung atau Konsekrasi. Namun ada juga umat
yang lebih memilih perayaan misa secara online dengan alasan lebih praktis dan
merasa tidak yakin apabila saat pemeriksaan suhu tubuh di gereja, suhunya tidak sesuai dengan ketentuan protokol kesehatan. “Kadang suhu badan dapat berubah mengikuti cuaca di luar,” kata salah satu umat SMK. Umat SMK yang mengikuti
perayaan misa online biasanya mengakses saluran YouTube dengan nama akun
KOMSOSSAMAKUTV.
Walau ada ‘perbedaan’ pendapat umat dalam hal mengikuti misa online
maupun offline, penulis berharap keadaan kembali ‘normal’, bukan sekedar ‘new
normal’, agar semua umat -tanpa kecuali- dapat mengikuti perayaan ekaristi
kembali secara fisik.
SCAN ME
Sejarah Paroki SMK di
RANGKAIAN KEGIATAN HUT KE-90
PAROKI KRISTUS RAJA, SURABAYA
Lintas
Paroki
Daniel Gesang
Anggota Seksi Komsos Paroki Hati Kudus Yesus, Surabaya
Foto bersama usai Webinar Merajut Inspirasi demi Ibu Pertiwi. Dari kiri ke kanan: RP. Ignatius Suparno, CM; Aan Anshori; Romo Pandhita Pradipta K.H.; I Gede Putu Suardana, MM; Gus Nurcholis; Pendeta Samuel Enggar Hadi; RP. Agustinus Dodik Ristanto, CM; RP. Habel Melki Makarius, CM; Ir Purnomo;
Suster Cicilia, PK. Webinar tersebut adalah salah satu dari rangkaian kegiatan HUT ke-90 Paroki Kristus Raja, Surabaya.
Dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-90, Paroki Kristus Raja (KR), Surabaya menyelenggarakan serangkaian acara. Diantaranya Misa Pembukaan; Lomba Pembuatan Logo Tema 90 Tahun Kristus Raja; Lomba Merangkai Bunga
Altar Antar Wilayah; Bakti Sosial, dan Webinar Merajut Inspirasi demi Ibu Pertiwi.
“Ulang tahun ke-90 Paroki Kristus Raja tepatnya pada 22 November 2020. Tema
yang dipilih adalah Domus Tua Haec, Domine Deus, Domus Tua Haec, yang artinya
Ini Rumah-Mu Tuhan, Ini Rumah-Mu,” jelas Lanni Irmawati Goentoro selaku ketua panitia.
Menurut, Veronica Ocky Widjasena dari Seksi Komsos Paroki Kristus Raja, Misa Pembukaan dilaksanakan jam 9 pagi, 26 Juli 2020. Hanya dihadiri Dewan Pimpinan Harian dan panitia inti. Untuk lomba logo tema 90 tahun KR. Terkumpul 51 desain dari 22 peserta. Lomba dimenangkan oleh Maria Elvia Edwina Nugroho, salah satu OMK Kristus Raja. Sedangkan lomba merangkai bunga altar antar wilayah dilaksanakan pada 1 Agustus hingga 14 November. Juga acara bakti sosial (baksos), diadakan mulai Agustus sampai Desember untuk keluarga pra sejahtera dan keluarga yang terdampak covid-19 baik. Sasaran baksos ini adalah umat KR maupun warga beragama lain yang tinggal di sekitar KR.
Baksos untuk keluarga pra sejahtera di lingkungan Paroki Kristus Raja, Surabaya.
SCAN ME
Webinar Kebangsaan Paroki Kristus Raja Surabaya: Merajut Inspirasi demi Ibu Pertiwi
Webinar Merajut Inspirasi demi Ibu Pertiwi
adalah salah satu acara yang diadakan sekaligus untuk peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI. Webinar diselenggarakan Senin malam, 17 Agustus 2020 dan menghadirkan 7 tokoh lintas agama dan kepercayaan: Aan Anshori (Islam); Romo Pandhita Pradipta K.H. (Budha); I Gede Putu Suardana, MM; (Hindu); Ir Purnomo (Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan YME); Pendeta Samuel Enggar Hardi (Kristen); RP. Ignatius Suparno, CM; dan Sr. Cicilia, PK (Katolik). Dimoderatori oleh Christine Oka, webinar ini dihadiri lebih dari 200 peserta virtual.
Hingga kini Webinar Merajut Inspirasi demi Ibu
Pertiwi yang terdapat di saluran YouTube Komsos KR telah disaksikan lebih dari 2.600 penonton.
RD. Aloysius Widya Yanuar Nugraha dari Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Surabaya saat mulai pemaparan materi Diseminasi Program Pastoral Bidang Formatio. Pertemuan di Balai Paroki Santo Aloysius Gonzaga, 10 September 2020 ini dihadiri sekitar 30 pengurus Bidang Formatio.
Lintas
Komisi
MENGAKARRUMPUTKAN KARYA PASTORAL
BERBASIS LINGKUNGAN BERFONDASI
KELUARGA
Diseminasi program pastoral menjadi fokus penting dalam pertemuan antara para romo ketua komisi dan pengurus komisi bidang formatio, yang terselenggara pada Kamis malam, 10 September 2020 lalu. Bertempat di Balai Paroki Santo
Aloysius Gonzaga, Surabaya, penjelasan
peta kerja pastoral beserta alur kerja penyusunan program dipaparkan secara menyeluruh kepada peserta pertemuan. Para undangan yang hadir, mulai dari tim Pusat Pastoral, Komisi Keluarga, Komisi BIAK, hingga
Pastoral Difabel, memperoleh paparan mengenai sasaran utama karya pastoral adalah umat Allah yang bertumbuh dalam lingkungan di aneka jenjang usia.
Vikaris Pastoral Keuskupan Surabaya, RD. Agustinus Tri Budi Utomo yang akrab disapa sebagai Romo Didik, dalam pengantarnya menyampaikan pentingnya untuk kembali memaknai sasaran mendasar, yaitu menuju persekutuan murid-murid Kristus yang dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner berakar
lingkungan. Lingkungan adalah persekutuan pribadi-pribadi dalam
keluarga (communio personarum) yang
menjadi fondasi wajah Gereja Katolik. Di dalamnya terdapat umat Allah dalam jenjang usia anak, remaja, lansia, dan difabel.
Penjabaran yang rinci dalam buku ke-2 Mupas 2019 terkait “berakar lingkungan” diingatkan kembali oleh Romo Didik kepada pengurus komisi bidang formatio, yang bertujuan untuk penguatan akar jati diri Gereja Katolik pada setiap individu (normal maupun difabel) sebagai umat Allah. Dalam kesempatan yang sama, Romo Didik juga mengutarakan bahwa “tidak ada persaingan” dalam karya pastoral yang diemban masing-masing komisi. Yang ada adalah saling keterkaitan dan kerjasama yang sinergis, bahkan saling (erat berpilin menjadi satu). Masing-masing komisi mengemban perutusannya dalam karya pastoral yang saling melengkapi, sebagai partner perutusan pastoral, bukan bersaing.
Dalam kesadaran akan pentingnya untuk ikut merangkul umat Allah yang difabel maupun yang berusia lanjut, kebijakan baru mengenai Pastoral Difabel dan Pastoral Lansia diikutsertakan dalam kompilasi peta kerja reksa pastoral Keuskupan Surabaya. Kondisi pandemi tidak boleh menjadi kendala yang berlarut-larut, melainkan menjadi tantangan untuk menemukan kembali identitas wajah Gereja Katolik yang berbasis lingkungan.
Memasuki materi utama dari Pusat Pastoral Keuskupan Surabaya, RD. Aloysius Widya Yanuar Nugraha yang akrab disapa Romo Luis,
mengawali dengan karya pastoral yang bermuara pada “yang personal”; berikutnya pada keluarga; berlanjut ke lingkungan; baru kemudian paroki; yang akhirnya menjadi wajah Gereja Katolik. Subjek Bina Pastoral pada masing-masing komisi dalam Bidang Formatio secara parsial dalam kondisi normal, dan secara parsial pula berada dalam kondisi difabel. Keadaan umat yang demikian membuat fungsi “Koordinasi, Komunikasi dan Formasi” menjadi penting untuk ada dalam tiap-tiap paroki.
Selaras dengan pengantar yang disampaikan vikaris pastoral pada awal pertemuan, Romo Luis juga menitikberatkan para pengurus komisi Bidang Formatio untuk kembali menilik ke-4 buku-buku Mupas 2019: Buku pertama berisi kerangka dasar teologis Ardas 2020-2030; buku ke-2 berisi kebijakan pastoral strategis; buku ke-3 berisi pedoman program strategis; dan buku ke-4 berisi pedoman pastoral pengurus lingkungan.
Keempat buku seri Mupas 2019 menjadi pedoman Bidang Formatio yang menjadi tulang punggung dalam pembinaan iman umat Allah. Dengan pedoman ini, pengurus komisi dibimbing untuk membuat perencanaan program kerja yang terarah dan terukur berdasarkan indikator dan tantangan yang dihadapi oleh tiap-tiap komisi, termasuk umat dalam kondisi difabel maupun lansia. Sehingga pada kelanjutannya nanti, kompilasi karya tiap-tiap komisi dapat bersinergi dalam fokus karya pastoral menuju persekutuan murid-murid Kristus yang dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner. (JUB/Amelia)
Kolom
Filsafat
VIVERE MILITARE EST
HIDUP ADALAH BERJUANG
Michael Andrew, S. Fil.
Guru PPKn SMAK Santo Hendrikus Surabaya. Alumni Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya
Sejak diumumkan pada Maret 2020 bahwa ada korban yang terkena Covid-19
di Indonesia, maka segala hal dan kebijakan telah dilakukan agar Indonesia dapat segera lepas dari pandemi itu. Memang tidak ada hal yang ideal dapat dilaksanakan untuk menghadapi pandemi ini. Di satu sisi memang kesehatan adalah hal utama yang penting untuk segera bisa dituntaskan agar jumlah pasien yang menderita Covid-19 juga tidak bertambah terus. Misalnya dengan kampanye pola hidup bersih dan sehat. Akan tetapi di sisi lain memang kebutuhan ekonomi adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang lainnya yang bukanlah menjadi
korban langsung dari penyakit ini. Oleh karenanya pemerintah kita mengambil kebijakan untuk tetap tidak menutup semua kegiatan perekonomian semuanya, melainkan mencanangkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (dikenal dengan istilah PSBB).
Kebijakan PSBB tersebut tentu juga tidaklah ideal seperti diharapkan oleh semua orang. Setidaknya masyarakat menengah ke bawah seperti penjual warung kopi dan makan, para musisi dan seniman, dan lain-lainnya termasuk masyarakat menengah ke atas seperti pemilik
tempat penginapan, mall, cafe, depot, dan
lain-lain juga merasakan dampak tidak langsung dari pandemi ini, yakni berkurangnya jumlah konsumen mereka. Belum lagi para penyedia jasa layanan
seperti tour and travel, pesawat terbang, bus,
guru les, musisi, dan lain-lain juga ikut terdampak dari pandemi ini. Hal ini sampai mengakibatkan munculnya kebijakan bantuan sosial tunai yakni pembagian uang tunai kepada beberapa orang yang dikategorikan perekonomiannya menengah ke bawah.
Kebijakan pemberian bantuan sosial langsung kepada beberapa masyarakat itu juga belum tentu ideal sebagaimana mestinya. Hingga suatu saat pemerintah pada akhirnya menghimbau masyarakat Indonesia untuk senantiasa hidup dalam pola hidup bersih dan sehat dengan senantiasa memakai masker, cuci tangan menggunakan sabun minimal 20 detik, dan
pelindung wajah (face shield), membawa penyitasi
tangan ke mana pun, dan lain-lainnya, karena Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa kita perlu untuk menerima kenyataan apabila penyakit ini adalah penyakit yang tidak bisa hilang sebelum vaksinnya ditemukan. Maksudnya adalah kita diajak untuk “berdamai” dengan penyakit ini sehingga pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan Kenormalan Baru (dikenal dengan
istilah “New Normal”).
"Kita diajak untuk “berdamai” dengan penyakit ini sehingga pemerintah Indonesia mengeluarkan
kebijakan Kenormalan Baru (dikenal dengan