• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menikmati Gema Ramadan di Nuruzzaman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Menikmati Gema Ramadan di Nuruzzaman"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Menikmati Gema Ramadan di

Nuruzzaman

UNAIR NEWS – Waktu menjelang buka puasa pun tiba. Usai menunaikan ibadah salat Asar berjemaah, para mahasiswa yang tergabung dalam susunan kepanitiaan Ramadan Mubarak Airlangga (RMA) bergegas mempersiapkan berbagai kegiatan yang akan dilangsungkan di Masjid Nuruzzaman, Kampus B Universitas Airlangga.

Beragam persiapan pun mereka lakukan, mulai dari tempat dan perlengkapan untuk kajian, hingga persiapan menu dan takjil untuk berbuka puasa.

Seperti halnya masjid-masjid lain di Kota Surabaya, ada denyut kegiatan yang tak berhenti sejak bakda Asar hingga sekitar pukul sepuluh malam, baik di aula utama hingga serambi masjid yang menjadi ruang dakwah mahasiswa muslim UNAIR. Seraya menunggu waktu berbuka di serambi masjid, para jemaah bisa mengikuti kajian dan menutupnya dengan berbuka puasa bersama. Narasumber kajian pun beragam. Sebagian besar dari mereka adalah dosen di lingkungan UNAIR. Sesuai misi yang dibawa oleh rekan-rekan panitia acara, seluruh kegiatan di masjid ini bisa diikuti oleh siapa saja, baik dosen, karyawan, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar kampus.

“Kami memberdayakan SKI di fakultas-fakultas untuk penentuan narasumber. Banyak fakultas yang menggunakan disiplin ilmunya dalam membingkai kajian islami,” ujar Ketua Ramadan Mubarak Airlangga, Muhammad Abdel Rafi.

Ramadan adalah momen yang tepat bagi siapa saja untuk berbagi, termasuk di Masjid Nuruzzaman. Setiap harinya, ada sekitar 300 hingga 400 takjil dan nasi bungkus yang diberikan secara gratis bagi siapa saja yang menghabiskan waktu menunggu berbuka di lingkungan masjid. Sebelum adzan berkumandang, para

(2)

jamaah bisa mengambil takjil yang telah disediakan oleh panitia.

“Berdasarkan pengalaman dari tahun ketahun, sepuluh hari kedua dan berikutnya jamaah berkurang. Maka kita kurangi jumlah porsi. Kita berharap jemaah tetap banyak karena kalau sisa (kudapan dan nasi, -red) kan eman (sayang),” tutur Refel, sapaan karib Muhammad Abdel Rafi.

Ragam kegiatan

Ramadan kali ini banyak dipadati kegiatan. Jika setiap Senin-Jumat kajian rutin dengan tema silih berganti, maka pada Sabtu-Minggu diisi selingan dengan tema seputar lingkungan hidup. Kajian seputar lingkungan hidup ini bekerjasama dengan LSM Tunas Hijau, Surabaya.

Selain itu, untuk menambah wawasan seputar ilmu falak (astronomi), ada kajian astronomi sekaligus observasi dengan melakukan teropong langit. Rencananya, acara yang bekerjasama dengan Himpunan Astronomi Surabaya itu diselenggarakan pada tanggal 10-11 mendatang.

“Kita ada mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) di sini. Meneropong dan observasi perbendaharaan langit,” tambah Refel. Masjid sebagai rumah kedua

Dalam mengelola seluruh kegiatan selama ramadan, ada sejumlah 86 panitia mahasiswa yang berasal dari beragam fakultas di UNAIR. Mereka tergabung dalam kepanitiaan Ramadan Mubarak Airlangga.

Dalam sehari, Rafel dan beberapa rekan panitia yang bertugas, nyaris menghabiskan lebih dari 12 jam berada di Nuruzzaman. Sebab, saat masuk waktu sahur, mereka juga menyediakan makanan bagi siapa saja yang bermalam dan melakukan iktikaf di masjid. Usai sahur dan salat subuh, ada khatmil quran yang diikuti oleh internal panitia. Setelah khatmil quran, masing-masing

(3)

panitia melakukan ‘latihan’ ceramah di mimbar masjid. Selain melatih mental dan mengasah ilmu pengetahuan keislaman, memberikan kajian di mimbar masjid menjadi momen refleksi diri melalui kajian-kajian yang disampaikan.

“Setiap hari di sini. Di sini kami punya base camp. Jadi, udah kayak rumah sendiri,” papar mahasiswa program studi Hubungan Internasional angkatan tahun 2015 ini.

Meskipun Ramadan masih berjalan di sepuluh hari pertama, namun Rafel berharap gema ramadan tahun ini dapat dirasakan oleh seluruh komponen, bukan hanya panitia, namun juga seluruh muslim di lingkungan UNAIR. “Momen Ramadan adalah milik semua muslim Airlangga,” ujarnya mantap.

Seiring dengan tema ramadan tahun ini yakni Bangkitkan Islam

Kokohkan Persaudaraan, Rafel berharap ramadan tahun ini

menjadi momentum setiap muslim untuk melakukan refleksi diri terkait apa saja yang telah diperbuat. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh Editor: Nuri Hermawan

Tinjau

Hasil

Riset,

Menristekdikti Apresiasi Para

Peneliti

UNAIR NEWS – Keunggulan riset bidang kesehatan yang dimiliki Universitas Airlangga mendorong Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Prof. Mohammad Nasir untuk meninjau hasil-hasil riset para peneliti.

(4)

Dalam kunjungan yang digelar pada Jumat (28/4), Nasir meninjau hasil-hasil riset berupa prototipe dan publikasi peneliti UNAIR yang bertempat di Aula Amerta Kantor Manajemen UNAIR, Institute of Tropical Disease (ITD), dan Rumah Sakit UNAIR. Nasir meninjau satu per satu stan penelitian dan produk UNAIR dengan dipandu oleh pengajar sekaligus staf bidang Kerjasama dan Bisnis, Andi Hamim Zaidan, Ph.D. Produk penelitian yang dipamerkan antara lain inovasi stem cell, biomaterial untuk implan tulang, produk laser untuk terapi penyakit gigi dan mulut, obat virus Flu Burung, serta kapsul rumput laut.

“Ini (kapsul rumput laut) adalah salah satu produk kami yang mendapatkan pendanaan dari Ristekdikti. Kapsul rumput laut ini merupakan produk halal yang dapat digunakan sebagai suplemen,” tutur Zaidan.

“Orang akan menghitung cost. Apakah lebih murah?” respon Nasir.

Pertanyaan Menristekdikti tersebut ditanggapi langsung oleh Wakil Rektor IV yang membidangi Kerjasama Bisnis, Junaidi Khotib, Ph.D. “Kami sudah menghitung dan harganya lebih murah,” jawab Junaidi.

Acara peninjauan itu lantas dilanjutkan dengan sambutan dari Menristekdikti. Dalam sambutannya, Nasir mengapresiasi produk-produk maupun publikasi penelitian yang telah dihasilkan oleh peneliti UNAIR. Menurutnya, peneliti perguruan tinggi harus menjadi gudang inovasi demi perekonomian yang menyejahterakan bangsa.

“Saya mengapresiasi para inventor yang menghasilkan inovasi-inovasinya untuk Indonesia, untuk ekonomi yang lebih baik. Inovasi harus terus menerus dilakukan. Kalau bicara soal pendidikan, maka kita berpikir tentang masa depan,” tutur Nasir.

(5)

UNAIR seperti stem cell, obat-obatan herbal, dan pendukung terhadap kesehatan seperti implan. Termasuk, kesehatan hewan. Inovasi-inovasi ini, kalau kita kembangkan dengan baik dan konsisten, Indonesia akan lebih maju daripada negara lain,” lanjut Guru Besar bidang Akuntansi ini.

Dalam sambutannya, Nasir juga menyinggung tentang posisi Indonesia dalam peringkat kompetitif global. Pihaknya mengatakan, peringkat inovasi di Indonesia mengalami peningkatan, namun posisi kompetitif global mengalami penurunan.

“Kurangnya tenaga kerja terampil. Lulusan-lulusan perguruan tinggi yang menghasilkan inovasi tidak mengalami penurunan, tetapi pesaing dari negara lain lari lebih cepat,” ungkapnya. Untuk itu, ia mendorong adanya kemandirian di universitas khususnya bagi yang memiliki status berbadan hukum. Selain itu, ia juga berharap agar universitas bisa memiliki industri perguruan tinggi (teaching industry).

“Saya mendukung apa yang sudah dilakukan Universitas Airlangga karena risetnya sudah mendukung kontribusi ke masyarakat. Sehingga, ke depan, mahasiswa bisa gratis (biaya pendidikan), tapi harus disiapkan regulasi dengan baik,” pungkas Nasir.

Penulis: Defrina Sukma S

FPK Tebar Sepuluh Ribu Benih

Ikan Nila di Danau Kampus

UNAIR NEWS – Sivitas akademika Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga menebar sebanyak sepuluh ribu benih ikan

(6)

nila di area danau kampus C, Kamis (9/3). Acara tebar benih nila ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan pimpinan fakultas.

Dosen FPK sekaligus penanggung jawab acara, Prayogo, S.Pi., mengatakan kegiatan tebar benih ikan merupakan bagian dari upaya untuk optimalisasi fungsi danau buatan kampus. “Ini kan termasuk salah satu aset yang bisa kita kelola, selain menjadi tempat untuk rekreasi, jadi bisa menjadi tempat edukasi dan praktikum mahasiswa kami. Yang terpenting juga bisa bermanfaat untuk semua,” jelasnya.

Prayogo juga mengatakan bahwa penebaran benih ikan merupakan agenda rutin yang sudah dilakukan oleh pihak FPK. Selain ikan nila, sebelumnya Prayogo dan tim sudah menebar benih ikan koi, ikan tombro, ikan mas, dan rencananya setelah ini akan ditabur benih ikan bandeng.

“Untuk benih yang kita tebar ini ukurannya yang cukup besar. Pengalaman kemarin saat kami tebar dengan ukuran kecil malah jadi makanan ikan lainnya,” imbuh Prayogo.

Tidak hanya menebar, untuk menunggu masa panen, Prayogo menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pantauan terkait kualitas air, kondisi ikan, dan padat tebarannya. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk hasil panen yang maksimal.

“Kami memang yang punya gawe dan kami juga bertanggung jawab untuk hal itu. Maka untuk memantau kualitas air kami juga turun tangan. Selain itu ikan ini kan juga organisme hidup yang berpotensi kena penyakit,” tandasnya.

“Jika ini sudah berjalan dengan baik danau yang kita miliki ini bisa memiliki nilai lebih, selain wahana rekreasi dan edukasi, ini juga bisa sebagai upaya peningkatan gizi masyrakat dan kita semua yang ada di sini,” imbuhnya. Kali ini, sebanyak 10.000 benih ikan nila berukuran 5-10 cm ditebar di danau yang terletak di depan Kantor Manajemen UNAIR

(7)

tersebut.

Danau buatan yang ada di area kampus C Universitas Airlangga, memang mempunyai banyak fungsi. Selain sebagai wadah resapan air hujan dan tempat untuk rekreasi, danau tersebut juga digunakan sebagai wadah edukasi dan salah satu tempat praktikum mahasiswa FPK.

Penulis: Nuri Hermawan Editor: Defrina Sukma S

FPK Tebar Sepuluh Ribu Benih

Nila di Danau Kampus

UNAIR NEWS – Sivitas akademika Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga menebar sebanyak sepuluh ribu benih nila di danau kampus C, Kamis (9/3). Acara tebar benih nila ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan pimpinan fakultas.

Dosen FPK sekaligus penanggung jawab acara, Prayogo, S.Pi., mengatakan kegiatan tebar benih ikan merupakan bagian dari upaya untuk optimalisasi fungsi danau buatan kampus. “Ini kan termasuk salah satu aset yang bisa kita kelola, selain menjadi tempat untuk rekreasi, jadi bisa menjadi tempat edukasi dan praktikum mahasiswa kami. Yang terpenting juga bisa bermanfaat untuk semua,” jelasnya.

Prayogo juga mengatakan bahwa penebaran benih ikan merupakan agenda rutin yang sudah dilakukan oleh pihak FPK. Selain ikan nila, sebelumnya Prayogo dan tim sudah menebar benih ikan koi, ikan tombro, ikan mas, dan rencananya setelah ini akan ditabur

(8)

benih ikan bandeng.

“Untuk benih yang kita tebar ini ukurannya yang cukup besar. Pengalaman kemarin saat kami tebar dengan ukuran kecil malah jadi makanan ikan lainnya,” imbuh Prayogo.

Tidak hanya menebar, untuk menunggu masa panen, Prayogo menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pantauan terkait kualitas air, kondisi ikan, dan padat tebarannya. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk hasil panen yang maksimal.

“Kami memang yang punya gawe dan kami juga bertanggung jawab untuk hal itu. Maka untuk memantau kualitas air kami juga turun tangan. Selain itu ikan ini kan juga organisme hidup yang berpotensi kena penyakit,” tandasnya.

“Jika ini sudah berjalan dengan baik danau yang kita miliki ini bisa memiliki nilai lebih, selain wahana rekreasi dan edukasi, ini juga bisa sebagai upaya peningkatan gizi masyrakat dan kita semua yang ada di sini,” imbuhnya. Untuk mengoptimalkan fungsi edukasi dan laboratorium mahasiswa, pihak FPK UNAIR secara rutin menebar benih ikan. Kali ini, sebanyak 10.000 benih nila berukuran 5-10 cm ditebar di danau yang terletak di depan Kantor Manajemen UNAIR tersebut.

Danau buatan yang ada di area kampus C Universitas Airlangga, memang mempunyai banyak fungsi. Selain sebagai wadah resapan air hujan dan tempat untuk rekreasi, danau tersebut juga digunakan sebagai wadah edukasi dan salah satu tempat praktikum mahasiswa FPK.

Kegiatan yang dilangsungkan Kamis (9/3), dihadiri Wakil Dekan I Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR dan salah satu dosen FPK UNAIR yang juga penanggung jawab pelaksanaan tebar benih ikan, Prayogo, S.Pi., MP. Ditanyai mengenai kegiatan tersebut, Prayogo menjelaskan bahwa

(9)

Penulis: Nuri Hermawan Editor: Defrina Sukma S

Optimisme Pengembangan

Bio-Optika dan Laser Harus

Digelorakan

UNAIR NEWS – Pada 2014 lalu, Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi Prof. Retna Apsari, Dr. M.Si., diberi tanggung jawab untuk ikut menggerakkan Fakultas Vokasi. Waktu itu, dia dipercaya mengemban jabatan sebagai Wakil Dekan III di fakultas yang baru terbentuk pada tanggal 4 Juni 2014. Tak sampai di sana, pada pengukuhan jajaran pimpinan Dekanat 2015-2020, akademisi dari departemen Fisika tersebut kembali disuguhi amanat. Kali ini, sebagai Wakil Dekan I.

Selama ini, Retna Apsari banyak melakukan penelitian di bidang biooptika dan aplikasi laser, yang diyakini memiliki banyak manfaat. Tidak hanya untuk aplikasi industri dan diagnosis, namun juga, sebagai media terapi yang aplikatif dan bermanfaat kongkret bagi tubuh.

Optika merupakan salah satu kajian analisis penjalaran cahaya atau foton ketika melewati sebuah medium. Kajian optika memiliki keunggulan yaitu sangat teliti karena mampu membedakan jejak lintasan optik sebesar satu kali panjang gelombang yang digunakan, non invasive, non destructive, dan non ionisasi. Keunggulan optika bermain di wilayah ketelitian pada dimensi nano dan dewasa ini telah merambah pada dimensi

(10)

f e m t o , m e m b u a t o p t i k a n i s c a y a d i k e m b a n g k a n u n t u k mengeksplorasi sifat dan struktur sebuah material, termasuk biomaterial.

Optika dan khususnya bio-optika yang dikenal dengan istilah fotonika merupakan salah satu bidang kajian yang sangat unik sebab diperlukan kerjasama terintegrasi antara bidang teoretik yang fundamental (fisika dan matematika), komputasi dan aplikasi (optik, teknologi informasi, elektro-optik), sistem cerdas dan optical imaging. Mengingat luas dan kompleksnya masalah di bidang ini, kerja sama antara berbagai bidang adalah suatu keniscayaan. Integrasi antara bidang kajian Retna dengan Fakultas Vokasi akan mengakselerasi implementasi penelitian kepada stakeholder. Untuk mengakselerasi implelentasi diperlukan laser sebagai sumber cahaya. Laser bisa difungsikan untuk melakukan pengobatan kanker yang bersifat non ionisasi, dan non “destruktif” serta minim efek samping. Sebab, sinar ini dapat memindai sel kanker secara selektif dan lebih tepat dengan beberapa mekanisme interaksi yang ada yaitu fototermal, fotokimia, fotoablasi, produksi plasma dan photodistruption.

Laser juga bisa digunakan untuk menggerus caries pada gigi. Dapat pula dipakai untuk terapi termal yang diaplikasikan pada bidang fisioterapi sebagai salah satu media biostimulasi. Bahkan, sinar ini berpotensi diaplikasikan di bidang peternakan, misalnya, memanfaatkan teknik stimulasi dengan penyinaran laser, yang dapat mengakselesari penggemukan sapi dan hewan ternak lainnya. Prinsipnya, ilmu pengetahuan di bidang laser sangat luas dan masih terus berkembang.

Tentu saja, untuk menjadi unggul, dibutuhkan banyak tahapan. Termasuk, mengambil langkah untuk bermitra dengan industri dan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Dengan demikian, asa untuk menjadi kampus yang berlevel dunia pun dapat diraih dengan lebih mudah. Beberapa mitra luar negeri yang telah ada beberapa diantaranya adalah Prof. Dr. Ahmad Harith, Prof. Dr.

(11)

Sulaiman W. Harun, dan Dr. Hamzah Arof dari Photonics Research

Center Universiti Malaya; Prof. Hiroyuki Ichikawa dari Lab. Optical Engineering, Faculty of Electrical dan Electronic Engineering, Ehime University Matsuyama Jepang; Prof. Dr.

Khosrow Mottaghi dari Aachen University Jerman, Prof. Dr. Eko dari Faculty of Biomedical Engineering Universiti Teknologi Malaysia, Prof. Dr. Marsin Sanagi dari Institut Ibnu Sina Universiti Teknologi Malaysia; Prof. Dr. Noriah Bidin dari Laer Center Universiti Teknologi Malaysia.

Sementara itu, Fakultas Vokasi memiliki tiga departemen, yakni, bisnis, teknik, dan kesehatan. Retna mengutarakan, semua disiplin ilmu di fakultas ini dapat bersinergi karena Fakultas Vokasi merupakan paket keilmuan lengkap. Sinergitas disiplin keilmuan Fakultas Vokasi dengan basis penelitian Retna Apsari akan mempercepat implenentasi hasil penelitian untuk sampai pada stakeholder. Di sisi lain, masing-masing lulusan tiap departemen mempunyai peluang sama besar di dunia kerja. Para jebolan fakultas ini dipastikan dapat berkarir dengan baik. Dengan branding UNAIR yang sudah bagus, kualitas mereka pun lebih terjaga.

“Para lulusan Fakultas Vokasi di masing-masing departemen (Bisnis, Teknik, dan Kesehatan) memiliki peluang besar masuk ke dunia kerja. Mereka dicetak sebagai tenaga terampil, kreatif, dan Visioner untuk Indonesia tercinta,” kata Prof Retna.

Dalam melakukan sejumlah penelitian, Retna mengaku banyak dibantu oleh para mahasiswanya. Khususnya, mereka yang berasal dari Departemen Teknik (D3 Otomasi Sistem Instrumentasi). Sebab, sejumlah penelitian Retna terkorelasi dengan disiplin ilmu tersebut. Aplikasinya juga dpat bekerjasama dengan D4 Radiologi, D3 dan D4 Fisioterapi, D3 dan D4 Battra, D3 Hiperkes, D3 Kesehatan Ternak.

Sebagai seorang Guru Besar, kiprah Retna di bidang penelitian tidak perlu diragukan. Tercatat dalam rentang 1993 hingga

(12)

2015, terdapat 33 penelitian unggulan yang dilakukannya. Semua dapat dirasakan manfaatnya di masyarakat. Pada 2015, misalnya, Retna menghasilkan penelitian Terapi Fotodinamik Laser Merah

Untuk Percepatan Apoptosis Sel Kanker Dengan Variasi Eksogen Fotosensitizer.

Sedangkan di tahun sebelumnya, dia menorehkan penelitian tentang Rancang Bangun Sistem Diagnosis dan Terapi Terpadu

Kanker Kulit Ekonomis Non-Invasive Berbasis Nanolaser Speckle Imaging serta Foto dinamik Laser Infra Merah Untuk Inaktivasi

Sel Kanker Invitro Dengan Eksogen Fotosensitiser. Eksplorasi kajian modulasi optik berbasis fase yang dikembangkan Apsari dan tim telah menghasilkan beberapa hal, diantaranya adalah sistem deteksi dan karakterisasi material berbasis metode interferometri dan Optical Imaging.

Retna juga berkali-kali mengikuti konferensi internasional. Antara lain, dalam gelaran The Fifth International Conference

and Workshops on Basic and Applied Sciences – ICOWOBAS 2015 on October 16th – 17th, 2015 dan 10th International Symposium on Modern Optics and Its Applications, Indonesian Optical Society (INOS) – Physics of Magnetism and Photonics Group ITB, 2015.

Penulis: Rio F. Rachman

Editor: Defrina Sukma Satiti

Belajar

Fenomena

Alam,

Instrumentasi sampai Medis di

Fisika UNAIR

UNAIR NEWS – Memahami cara alam semesta bekerja. Itulah yang mendasari ilmu Fisika lahir dan banyak dipelajari oleh sivitas

(13)

akademika hingga sekarang. Ilmu Fisika menjadi salah satu disiplin akademik yang paling tua sampai saat ini.

Nicolaus Copernicus, misalnya, ia berhasil menciptakan teori heliosentris. Sekitar dua abad kemudian, teorinya dibenarkan oleh Sir Isaac Newton yang juga penemu percepatan gravitasi bumi. Di dalam fisika modern, ada pula Albert Einstein yang mengemukakan teori relativitas khusus. Apa rumusnya yang banyak dikenal? Ya, E=mc2. Ada pula Stephen Hawking yang

dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama teori-teorinya mengenai kosmologi, lubang hitam, gravitasi kuantum, dan radiasi Hawking.

Dalam perkembangannya, Fisika tak hanya mempelajari tentang gejala alam tetapi juga sudah menyentuh ranah instrumentasi, material hingga tubuh manusia yang selama ini baru disentuh oleh bidang medis. Tanpa meninggalkan teori dasar, keduanya – baik hal dasar maupun aplikatif – sama-sama dipelajari, khususnya bila kamu melanjutkan studi di program studi S-1 Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga. “Fisika itu ada yang Fisika fundamental yang mempelajari Fisika betul, ada yang aplikasi. Yang aplikasi ini yang bisa diperlukan di industri maupun kedokteran atau medis. Sebetulnya, Fisika itu mempelajari konsep dasar gejala alam. Jadi, semua gejala alam itu dipelajari sama Fisika. Kurikulumnya mencakup sains dan aplikasi,” tutur Koordinator Prodi S-1 Fisika Prof. Dr. M. Yasin, Drs., M.Si, ketika diwawancarai.

Di Fisika UNAIR, terdapat empat kelompok peminatan. Ada minat Fotonika yang berkonsentrasi ke cahaya atau sumber radiasi, dan serat optik. Ada pula Fisika Material yang mempelajari karakteristik material, baik biomaterial maupun non-material, teori-teori partikel, dan nanoteknologi. Ada Fisika Komputasi yang membuat permodelan atas fenomena fisis. Ada pula Fisika Instrumentasi yang membuat instrumen-instrumen untuk keperluan medis seperti ECG (electrocardiography), maupun keperluan

(14)

non-medis.

Di samping mempelajari teori-teori dasar dalam mata kuliah Fisika I dan II, atau Fisika Kuantum seperti di perguruan tinggi lainnya, ada sejumlah mata kuliah pilihan yang merupakan muatan lokal. Adanya muatan lokal itulah yang menjadi ciri khas prodi S-1 Fisika UNAIR.

Ciri khas itu dipengaruhi oleh citra UNAIR yang dikenal sebagai perguruan tinggi pusat ilmu kesehatan. Ciri khas itu bisa ditemui melalui mata kuliah-mata kuliah seperti Biofisika, Fisika Kedokteran, Biomaterial, Biofisika Lanjut, serta Instrumentasi dan Sinyal Medis.

“Yang khusus, aplikasi di bidang medis, biomaterial untuk implan tulang, di prodi lain mungkin tidak ada. Fotonika dalam bidang medis, misalnya untuk OCT seperti CT Scan, ini pakai sumber cahaya optik. Itu yang spesifik di program studi Fisika. Istilahnya, life science tapi nuansanya medis,” tutur Yasin.

Lalu, bagaimana dengan non-medis? Meski tak banyak, ada pula mahasiswa-mahasiswa Fisika yang melakukan praktik kerja lapangan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) selama beberapa minggu.

Di bidang aplikasi industri, prodi S-1 Fisika UNAIR memiliki kerjasama dengan Sekolah Tinggi Energi dan Mineral Migas (STEM Akamigas), Cepu. Di sana, sivitas akademika Fisika UNAIR memiliki kerjasama suatu aplikasi di kilang minyak untuk mengukur level ketinggian tangki bahan bakar minyak, aliran, serta pengaruhnya terhadap suhu.

Dengan adanya peminatan yang beragam, diharapkan para calon mahasiswa S-1 Fisika UNAIR bisa mengetahui alternatif apa saja yang bisa ditekuni ketika menjalani studi. Masuk ke Fisika memang tak harus menjadi fisikawan seperti Copernicus, Newton, Einstein maupun Hawking. Tetapi, kamu bisa mengaplikasikan ilmu alam baik di bidang medis maupun industri.

(15)

“Dengan masuk Fisika UNAIR, maka lulusannya idealnya jadi ilmuwan. Tapi tidak semua jadi ilmuwan. Artinya, masuk Fisika bisa melanjutkan studi yang lebih tinggi karena beasiswa banyak. Serta siap masuk dunia kerja di bidang medis maupun industri,” ujar Yasin mengakhiri. (*)

Penulis: Defrina Sukma S Editor: Nuri Hermawan

Sederet hal Menarik yang Kamu

Temui Jika Kuliah di Ilmu

Sejarah UNAIR

UNAIR NEWS – Sebagian dari kita, mungkin, menganggap bahwa mempelajari sejarah adalah hal yang membosankan. Hal itu disebabkan oleh banyak hal, salah satunya yakni metode pembelajaran sejarah yang kita terima di bangku sekolah tidak cukup efektif untuk membuat siswa menyenangi ilmu yang sesungguhnya penting ini. Betapa tidak, ilmu sejarah mengajak kita mempelajari rekaman peristiwa masa lalu dari semua dimensi kehidupan yang bisa menjadi penentu langkah kebijakan di masa depan.

Kali ini, bersama Gayung Kasuma, S.S., M.Hum., selaku Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah UNAIR, tim UNAIR NEWS mengulas tentang beberapa hal menarik jika anda kuliah di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Selengkapnya sebagai berikut.

1. Dari Penulisan Kreatif, Membuat Film, Hingga Interpretasi Kebenaran

(16)

Pada Prodi Ilmu Sejarah UNAIR, ada mata kuliah Penulisan Kreatif yang mengajarkan mahasiswa untuk menulis opini,

feature, artikel, puisi, hingga menulis di media massa. Karya

tulis yang dihasilkan dalam mata kuliah ini kemudian diterbitkan ke dalam sebuah buku. Tentunya, topik Penulisan Kreatif ini tetap dengan nuansa sejarah.

Ada juga mata kuliah Visualisasi Sejarah. Karya yang dihasilkan mata kuliah ini yaitu film dokumenter yang berkaitan dengan peristiwa sejarah. Film merupakan media yang cukup efektif dalam penyampaian pesan, utamanya sebuah peristiwa sejarah.

Departemen Ilmu Sejarah UNAIR pada tahun 2011 lalu, mendapat dana dari Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI) untuk sarana prasarana untuk perlengkapan membuat video oleh mahasiswa.

“Ini mata kuliah yang saya kira mendukung. Apalagi ada wacana jangka panjang, syarat lulus tidak harus berupa skripsi yang dicetak, tapi bisa jadi seseorang yang punya kemampuan merekam masa lalu melalui sebauh film,” ujar Gayung.

Selain itu, mahasiswa diajak menginterpretasi peristiwa melalui matakuliah Metodologi dan Praktik Penelitian Sejarah yang di dalamnya terdapat kritik sumber. Seringkali, peristiwa sejarah memiliki beragam versi. Melalui kritik sumber, mahasiswa diajak untuk menafsirkan peristiwa sejarah dari beragam sumber.

“Ada ucapan di kalangan akademisi bahwa sejarah itu milik orang yang menang, milik orang yang berkuasa. Kita tidak bisa menampik itu. Bisa jadi itu benar. Karena ditonjolkan untuk kepentingan tertentu. Bisa jadi ada relasi dengan kekuasaan, politik, dan beberapa kepentingan. Oleh karena itu ada kritik sumber,” ujar Gayung.

(17)

“Perlu dicatat bahwa peristiwa sejarah itu tidak pernah titik, dia koma. Tidak akan berakhir sebuah peristiwa menjadi absolut,” ujar Gayung.

Apa artinya? Selama proses temuan sumber yang baru, akan ada klarifikasi atau pelurusan sejarah. Di dalam prinsip sejarah ada istilah subjektifitas dan objektifitas. Selama penulisan sejarah hanya ditemukan sumber sebatas itu, ya hanya sebatas itu sejarah tercatat. Seperti kata Gayung, selama ada sumber-sumber sejarah yang baru, maka sejarah akan ditulis ulang.

3. Menerima Keberagaman Versi

Melalui kritik sumber, mahasiswa diajak menelaah sebuah peristiwa sejarah yang bersumber dari beragam versi. Mahasiswa harus memperhatikan beberapa hal, seperti siapa penulis sejarah dan dari mana sumber sejarah itu ditulis.

“Oleh karena itu, dalam sejarah bangsa kita ada berbagai peristiwa-peristiwa yang menjadi kontrovesi. Akhirnya, belajar sejarah itu kita menerima beragam versi. Nanti kita akan menentukan terhadap Kritik Sumber,” kata Gayung.

Misalnya saja, materi sejarah di buku sekolah mengatakan bahwa Indonesia dijajah Belanda hingga 350 tahun lamanya. Namun, ketika masuk perguruan tinggi dan mempelajari sejarah, akan kita temukan fakta-fakta yang beragam. Sebab ternyata, Belanda membutuhkan waktu 300 tahun untuk menguasai wilayah-wilayah di Indonesia. Hal itu seperti yang dituturkan Gj Resink dalam bukunya Bukan 350 Tahun Dijajah (2012), dan Jos Wibisono dalam artikelnya di Majalah Historia berjudul Mitos 350 Tahun

Penjahan (13/09/2011).

Hal itu adalah contoh kecil betapa peristiwa sejarah di masa lalu, memiliki beragam versi sesuai kepentingan penulisnya. Pemahaman mahasiswa menjadi banyak dan beragam. Pada peristiwa G30S/PKI misalnya, kita tidak hanya mendapatkan cerita dari satu sumber saja. Namun bisa beragam sumber seperti versi pemerintah, versi tentara, versi pelaku, hingga versi korban.

(18)

4. Belajar dengan Berkunjung Langsung ke Sumber Sejarah

Semua mata kuliah yang ditawarkan pada prodi Ilmu Sejarah, mengharuskan mahasiswa untuk berkunjung di tempat-tempat bersejarah. Misalnya, pada mata kuliah Musiologi mahasiswa berkunjung ke museum. Sehingga, belajar sejarah tidak melulu duduk di bangku dan membaca buku. Tapi berkunjung langsung ke objek peristiwa sejarah tersebut.

5. Museum Sejarah dan Budaya Adalah Satu-satunya di Indonesia Sejak Desember 2016 lalu, telah resmi dibuka Museum Sejarah dan Budaya UNAIR yang dikelola oleh Departemen Ilmu Sejarah. Museum ini menjadi musem ketiga di UNAIR setelah Museum Etnografi (FISIP) dan Museum Pendidikan Dokter (FK). Museum Sejarah dan Budaya UNAIR ini menyimpan benda-benda seperti buku kuno dan arsip penting dalam penelitian sejarah, serta foto dan benda yang merepresentasikan kegiatan sehari-hari manusia pada masa lalu, seperti proyektor kuno, keris, pedang, tombak, dan wayang.

6. Ilmumu Berguna Dimanapun Kamu Bekerja

Dari beragam ilmu yang diberikan itu, mahasiswa sejarah memiliki bekal kreatifitas dan softskill yang bisa diaplikasikan di tempat ia bekerja usai lulus kuliah. Gayung mengatakan, sebaran lulusan Ilmu Sejarah bekerja pada bidang yang beragam.

“Lulus tidak harus kerja di bidang sejarah, tapi ekspresi diri berangkat dari sejarah. Di perusahaan misalnya, mahasiswa sejarah bisa menjadi orang yang melihat rekam perusahaaan di masa lalu. Mengapa mengalami kemunduran maupun kemajuan? Analisis itu untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan perusahaan,” ujarnya.

Jika bekerja di bidang yang linier dengan bidang sejarah, salah satu pilihannya yaitu bekerja di bidang museologi, bekerja di permusiuman dengan menjadi kurator. (*)

(19)

Penulis : Binti Q. Masruroh Editor : Nuri Hermawan

Sedang Dibangun, Akses Jalan

“Alternatif” di Kampus C

UNAIR

UNAIR NEWS – Sarana transportasi berupa jalan di kampus C Universitas Airlangga akan segera bertambah. Diharapkan tiga bulan kedepan sarana jalan baru ini sudah bisa dilewati. Jalan tersebut dibangun di bagian belakang gedung-gedung rektorat, yang akan menghubungkan antara samping Gedung Arsip sampai belakang gedung olah raga (GOR) basket dan futsal hingga lahan kosong tempat parkir disamping kiri Sekretariat Universitas Terbuka (UT).

”Tujuannya untuk membuat akses baru, agar kalau ada kegiatan-kegiatan besar di kampus C, misalnya acara wisuda, maka kita bisa menerapkan jalan jalur sehingga diharapkan lebih lancar,” penjelasan Karnaji, S.Sos., M.Si., Direktur Sarana dan Prasarana UNAIR ketika dikonfirmasi unair.news, Kamis (1/12). Dengan demikian kalau sarana jalan tersebut sudah jadi, dirancang untuk kegiatan besar di gedung Rektorat yang sampai harus menutup akses jalan, atau kegiatan besar di gedung ACC

(Airlangga Convention Center), maka arus kendaraan masuk bisa

melewati jalan alternatif baru ini.

Rancangannya, dari pintu gerbang masuk akses kendaraan dibelokkan kanan ke depan Gedung Arsip. Lalu belok kiri ke jalan baru melewati belakang parkiran, gedung Student Center (SC), bangunan rencana gedung baru Fakultas Farmasi, belakang

(20)

GOR/futsal. Atau bisa juga diberlakukan rute yang sebaliknya. Sedangkan alternatif lain tetap melewati depan gedung Rektorat dan selanjutnya hingga gedung ACC.

AKSES rencana jalan, nanti melewati belakang bangunan rencana gedung Fakultas Farmasi hingga GOR. (Foto: Bambang Bes)

Menurut Direktur Sarpras UNAIR itu, jalan baru nanti merupakan akses sementara, karenanya akses jalan “penolong” ini nanti hanya dibikin dengan urukan pasir dan batu (sirtu) yang dipadatkan sedemikian rupa hingga layak dilewati. Artinya jalan tersebut bukan diaspal atau dengan paving.

Dikatakan sementara, karena sesuai master-plant kampus C yang ada, nanti dari lahan UNAIR ini akan ada jalan tembus hingga ke “jalan kembar” di bagian utara yang berdampingan dengan lahan pengembang. Pertemuan jalan tersebut akan ada jalan lingkar, kemudian ada akses jalan lain ke gedung-gedung pengembangan baru di kampus C UNAIR.

”Tetapi hal tersebut belum bisa dilaksanakan sekarang, karena penukaran sertifikat tanah masih dalam pengurusan. Nanti kalau

(21)

persoalan sertifikat ini sudah sama-sama menjadi hak milik, barulah tukar guling (ruislag) lahan dengan pengembang itu bisa dilakukan,” kata dosen FISIP UNAIR itu.

Sampai berita ini diunggah, pelaksanaan rencana akses jalan baru tersebut masih terus dibuldoser untuk diratakan. Beberapa cekungan yang ada juga diuruk dengan sirtu, yang kebetulan lahan-lahan itu semula berupa perladangan dan kolam ikan. Sampai saat ini masih terus dikerjakan. (*)

Penulis: Bambang Bes

Mahasiswa Pascasarjana Pun

Bisa Berprestasi di UKM

Kampus

UNAIR NEWS – Ada yang menarik dalam gelaran Student Week yang dihelat oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Meja pada 12 November lalu. Seorang mahasiswi Sekolah Pascasarjana mengikuti pertandingan tenis meja “Rektor Cup” di kategori tunggal putri. Perempuan bernama Septin Mauludiyana itu pun berhasil meraih peringkat ketiga. Mahasiswi Prodi Imunologi itu membuktikan, para mahasiswa UNAIR dari berbagai jenjang bisa ikut dalam kegiatan UKM kampus dan berprestasi.

“Sejak kecil, saya memang suka tenis meja. Meski masih dalam tahap amatir. Beberapa waktu lalu, adik saya yang lagi kuliah di Fakultas Kedokteran memberi info tentang Student Week ini. Alhamdulillah, bisa ikut dan berprestasi,” ungkap dia.

Dia sendiri memiliki minat untuk ikut UKM Tenis Meja. Namun, selama ini dia berdomisili di Malang. Maka itu, keinginan

(22)

untuk bergabung di UKM secara aktif itu masih menjadi pertimbangan baginya. Meski demikian, dia memastikan, jika pertandingan serupa dilaksanakan kembali, alumnus Fakultas K e d o k t e r a n H e w a n U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a i n i b a k a l berpartisipasi kembali.

Di tempat terpisah, Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana UNAIR Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, M.Kes, drh mengungkapkan, mahasiswa Pascasarjana memang selalu diberi ruang berkegiatan di kampus. Yang secara esensi, tidak berbeda dengan mahasiswa S1 kebanyakan. “Kampus tidak mengkotak-kotakan. Apa yang diraih Septin adalah buktinya,” papar dia. (*)

Penulis: Rio F. Rachman Editor : Dilan Salsabila

Perpustakaan UNAIR Bakal

Dilengkapi Mini Teater

UNAIR NEWS – Perpustakaan terus berbenah. Pasalnya, pihak manajemen ingin membuat perpustakaan tidak sekadar tempat orang baca buku. Lebih dari itu, perpustakaan mesti menjadi sumber informasi yang bersifat komprehensif. Juga, sebagai sarana atau ruang berekspresi bagi para mahasiswa.

Salah satu program yang akan dijalankan untuk meraih cita-cita tadi adalah dengan melakukan perombakan lantai dasar. Di sana, akan dibuat banyak fasilitas baru. Penataannya bakal diolah sedemikian rupa sehingga nyaman dan mengasyikkan.

Bakal ada empat unit ruang kubikus untuk mereka yang ingin suasana privat dalam mengerjakan tugas sambil berkontemplasi. Ada juga pembuatan partisi agar sarana e-Lib dapat

(23)

dimanfaatkan secara lebih optimal. Yang tak kalah menarik, Perpustakaan bakal membuat mini teater. Jadi, para mahasiswa atau sivitas akademika bisa menggelar acara nonton film bersama.

American Corner lantai 3 sejatinya menyiapkan ruang nonton bareng. Namun, konsepnya bukan mini teater. Kalau yang satu ini, secara konsep, jelas lebih matang dan dikhususkan untuk menyimak film-film bermutu. Tidak hanya yang berbahasa Inggris/Amerika saja.

“Kami terbuka bagi siapa saja yang akan memanfaatkannya. Mudah-mudahan, pembangunan fisik ruangannya rampung tahun ini. Sehingga tahun depan mini teater bisa beroperasi,” kata Kepala Perpustakaan, Prof. Dr. I Made Narsa, SE., MSi., Ak.

Dia mengemukakan, siap bekerjasama atau bersinergi dengan Himpunan Mahasiswa Pecinta Film dari jurusan mana pun. Termasuk, Unit Kegiatan Mahasiswa Sinematografi dan Badan Eksekutif Mahasiswa. Secara prinsip, Perpustakaan memang dibangun untuk memaksimalkan pelayanan bagi semua warga UNAIR. Yang penting, film yang diputar di Perpustakaan nantinya bermuatan pendidikan dan memiliki nilai-nilai moral. Termasuk, film berkonten sejarah yang meningkatkan rasa nasionalisme. (*)

Penulis: Rio F. Rachman Editor : Dilan Salsabila

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis data menggunakan batuan software SPSS 16, penelitian pada kelas eksperimen menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari aktivitas siswa

Penggunaan dana non halal di bank syariah sudah diatur dalam fatwa DSN-MUI No 123 Tahun 2018, dan berdasarkan hasil penelitian semua bank umum syariah di Indonesia

a) Ruang baca berfungsi sebagai tempat kegiatan peserta didik dan pendidik memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan pustaka. c) Ruang baca dilengkapi sirkulasi

No. Berdasarkan proses terjadinya tsunami, kita seharusnya dapat belajar dengan memperkirakan kapan terjadi tsunami tersebut. Perkiraan itu dapat diketahui melalui ciri-cirinya. 2)

di dukung oleh 101 jaringan kantor yang terdiri dari kantor pusat, kantor cabang, kantor cabang pembantu, dan kantor kas, 129 atm milik sendiri yang tersebar di 31 kota di seluruh

Menginisiasi kegiatan pendampingan dalam situasi bermain dan belajar yang sangat informal secara bottom up, yang bertujuan mengembangkan kompetensi komunikasi Bahasa

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian keterangan oleh seorang saksi yang berstatus suami Terdakwa sebagai alat bukti dan kekuatannya dalam

Ketetapan MPR/MPRS sebelum perubahan UUD Tahun 1945 menjadi salah satu peraturan perundang-undangan yang terdapat dalam hierarki peraturan perundang-undangan dengan