• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketebalan Korteks dan Medula

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ketebalan Korteks dan Medula"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL

DAN PEMBAaASAN

Perubahan Histopatologi pada Organ Timus

Hasil pengukuran ketebalan korteks dan medula timus pada tiap perlakuan disajikan dalam bentuk diagram batang (Gambar ll), dan hasil uji statistiknya ditunjukkan pada Tabel 5.

1

Ketebalan Korteks dan Medula

s korteks rnedula

Kontrol SOP Daun kering

perlakuan

Gambar 11 Diagram Perbandimgan Ketebalan Korteks dan Medula.

Tabel 5 Perbandingan Ketebalan Koneks d m Medula

Perlakuan Ketebalon Koneks (ltm) Ketebalan Medula (pm)

Kontrol 13.21h4.55a 51 .45h59.7Sa SOD daun Torbangun 5%

-

12.59*4.55= 80.65h66.46"

Daun Torbangun kering 5% 14.39*5.503 66.70~66.46"

Keterangan : Iluruf superscript yang berbeda pada kolorn yang s m a rnenunjukkan perbedaan yang

Dalam diagram batang di atas baik perbandingan ketebalan korteks maupun medula terlihat perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok yang diberi perlakuan. Dalam kelompok yang diberi perlakuan sop daun Torbangun 5% mengalami penurunan ketebalan korteks dan peningkatan ketebalan medula bila dibdmgkan dengan kontrol. Sebaliknya, kelornpok yang diberi perlakuan daun Torbangun kering 5% mengalami peningkatan ketebalan baik pada korteks maupun medula. Namun setelah diuji secara statistik, dapat dilihat dari tabel di

(2)

atas bahwa dari ketiga kelompok baik kontrol, sop dam Torbangun 5% rnaupun dam Torbangun kering 5% menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0.05).

Menurut Searcy (1995), timus adalah organ limfoepitelial yang paling penting dalam perkembangan dan fimgsi dari sistem imun, terutama pada bagian korteksnya. Karena menurut Sarnuelson (2007), timosit yang berasal dari sumsum tulang menjadi immunocompetent, yaitu mampu menyusun respon imun di dalam korteks. Dari hasil tersebut, mengindikasikan bahwa t h u s mencit yang diberi daun Torbangun kering 5% memiliki kecenderungan terjadi hiperplasia. Hiperplasia adalah peningkatan ukuran dan kepadatan sel (Cheville 2006). Menurut Jubb et a1 (1993), hiperplasia timus pada hewan dewasa biasanya terpusat pada korteks.

Selanjutnya hasil penghitungan jumlah sel timosit pada tiap perlakuan disajikan dalam bentuk diagram batang (Gambar 12), dan hasil uji statistiknya ditunjukkan pada Tabel 6.

Jumlah Sel Timosit per

1000

vm2

Luas Korteks

.-

Kontrol SOP Daun kering

perlakuan

Gambar 12 Diagram Perbandingan Jumlah Sel Timosit Korteks.

Tabel 6 Perbandingan Jumlah Sel Timosit

Perlakuan Jumlah Sel Timosit per 100OPm2 Kontrol 10336.88*885.OOc

SOD daun Torbanmn

.,

5% 9450.35*833.94~ Daun Torbangun krring 5% 7872,34*75 1 .14a

Ketenngan : Huruf superscript yang berbeda pnda kolom yang snma menuniukkan perbedaan yang . . .

(3)

Dalam diagram batang di atas dapat dilihat bahwa kelompok yang diberi perlakuan baik sop daun Torbangun 5% maupun d a m Torbangun kering 5% mengalami penurunan jumlah sel tunosit bila dibandingkan dengan kontrol. Keseimbangan dari produksi dan distribusi sel timosit sangat penting dalam homeostasis imun. Penurunan jumlah timosit pada korteks kemungkinan terjadi karena adanya gertakan dari antigen. Antigen pertama kali masuk melewati epitel, masuk ke aliran limfatik, mengalir ke kelenjar getah bening regional dan bersirkulasi dalam peredaran darah (Cheville 2006). Apabila ada rangsangan antigen, sel timosit yang teraktivasi berpindah dari korteks ke jalur medula lalu keluar ke peredaran darah melalui saluran limfe eferen (Searcy 1995).

Dari tabel di atas dapat dilihat baliwa jlunlah sel timosit pada kelompok perlakuan baik sop d a m Torbangun 5% maupun daun Torbangun kering 5% menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kelo~npok kontrol (W0.05). Rataan jumlah sel timosit kelompok sop lebih tinggi dan berbeda nyata (p<0,05) dibandingkan dengan kelompok d a m kering. Dengan demikian, timus yang diberi perlakuan dalam kondisi reaktif. Pemberian daun Torbangun kering menimbulkan kondisi yang lebih reaktif daripada dalam bentuk sop. Pada pembuatan sop diberikan penambahan-penambahan bahan lain, seperti bumbu-bumbu dan antioksidan BHT (Butil Hidroksi Toluen) yang mungkin dapat menetralkan khasiat dari daun Torbangun. Selain itu proses pemasakan menjadi sop kemungkinan juga dapat menghilangkan bahan aktif yang terkandung dalam daun Torbangun. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa pemberian dam Torbangun dalam bentuk sop dan daun kering dapat menyebabkan dilepaskannya sel timosit ke peredaran darah. Dengan demikian, walaupun timus dari kedua perlakuan tidak mengalami hiperplasia namun dalam kondisi yang reaktif.

Perubahan Histopatologi pada Organ Lirnpa

Menurut Martini (1992), fungsi limpa ada dua, yaitu memfagositosis komponen darah yang abnormal dan menginisiasi respon imun melalui sel B dan sel T. Berikut disajikan hasil penghitungan jumlah folikel pada tiap perlakuan dalam bentuk diagram batang (Gambar 13), dan hasil uji statistiknya ditunjukkan pada Tabel 7.

(4)

Jumlah Folikel Limpa per 1000

pm2 Satuan Luas

-

E

a Kontrol SOP Daun kering

.-

perlakuan

Gambar 13 Diagram Perbandingan Jumlah Folikel Limpa.

Tabel 7 Perbandingan Jumlah Folikel Limpa.

Perlakuan Jumlah Folike1/1000~m~ Kontrol 1.18*0.25"

Sop dam Torbangun 5% 1.037*0.28' Daun Torbangun kering 5% 0.89*0.23"

Keterangan : Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05)

Daliun diagram batang di atas dapat dilihat bahwa kelompok yang diberi perlakuan baik sop daun Torbangun 5% maupun dam Torbangun kering 5% mengalami p e n m a n jumlah folikel bila dibandingkan dengan kontrol. Namun setelah diuji secara statistik, dapat dilihat dari tabel di atas bahwa dari ketiga kelompok baik kontrol, sop d a m Torbangun 5% maupun daun Torbangun kering 5% menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (PB0.05). P e n m a n jumlah folikel kemungkiian dapat terjadi karena adanya peningkatan diameter dari folikel tersebut, sehingga beberapa folikel bergabung menjadi satu.

Selanjutnya hasil pengukuran diameter folikel limfoid pada tiap perlakuan disajikan dalam bentuk diagram batang (Gambar 14), dan hasil uji statistiknya ditunjukkan pada Tabel 8.

(5)

- .- --

Diameter Folikel Limpa

Kontrol SOP Daun kering

perlakuan

Gambar 14 Diagram Perbandingan Diameter Folikel Limpa.

Tabel 8 Perbandingan Diameter Folikel Limpa

Sop daun Torbangun 5% 13.93i3.3sb

Daun Torbangun kering 5% 14.84k4.93~

Ketenngan : Hwuf superscript yang berbeda pada kolom yang sanla menunjukkan perbedaau yang nyata (P<0.05)

Dalam diagram batang di atas dapat diliiat bahwa kelompok yang diberi perlakuan baik sop d a m Torbangun 5% maupun daun Torbangun kering 5% mengalami peningkatan diameter folikel bila dibandingkan dengan kontrol. Dari tabel dapat dilihat bahwa diameter folikel pada kelompok perlakuan baik sop d a m Torbangun 5% maupun dam Torbangun kering 5% menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kelompok kontrol (P<0.05). Akan tetapi antar perlakuan yaitu sop d a m Torbangum 5% dan daun Torbangum kering 5% tidak berbeda nyata (Pz0.05). Menurut Tizard (2004), apabila ada antigen yang masuk, pusat germinativum akan mengalami hiperplasia yang akan menyebabkan diameter folikel meningkat. Pemberian daun Torbangun dalam bentuk sop dan daun kering dapat menginduksi te rjadinya hiperplasia folikel.

Menurut Jubb et al. (1993), pusat germinativum dari limpa memegang peranan penting dalam respon humoral, yaitu dengan produksi antibodi dan menentukan kelanjutan sel-B memori ke organ limfoid perifer. Berikut disajikan

(6)

hasil penghitungan jumlah sel limfoid pada tiap perlakuan dalam bentuk diagram batang (Gambar 15), dan hasil uji statistiknya ditunjukkan pada tabel 9.

Jumlah Sel Limfoid Limpa per

1000

vm2 satuan luas

Kontrol SOP Daun kering

perlakuan

Gambar 15 Diagram Perbandingan Jumlah Sel L i o i d Limpa.

Tabel 9 Perbandingan Jumlah Sel Limfoid Limpa

Perlakuan Jumlah Sei Limfoid per 1 0 0 0 ~ m ~ Kontrol 11493.79i1533.97~

SOD daun Torbangun 5%

-

9847.81i1724.59a

Daun Torbangon kcring 5% 10534.87~1373.66'

Keterangan : Humf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pcrbedmn yang

nyata (P<o.o~)

Dalam diagram batang di atas dapat dilihat bahwa kelompok yang diberi perlakuan baik sop daun Torbangun 5% maupun dam Torbangun kering 5% mengalami p e n m a n jumlah sel limfoid bila dibandingkan dengan kontrol. Dari tabel dapat dilihat bahwa jumlah sel limfoid pada kelompok perlakuan baik sop dam Torbangun 5% maupun d a m Torbangun kering 5% menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kelompok kontrol (W0.05). Akan tetapi antar perlakuan yaitu sop daun Torbangun 5% dan daun Torbangun kering 5% tidak berbeda nyata (E-0.05). Penurunan jumlah limfosit terjadi karena adanya rangsangan antigen. Menurut Hartono (1989), bila ada antigen, limfosit berdiferensiasi menjadi sel plasma. Selain itn, limfosit dapat pula dilepas menjadi penghasil antibodi pada korteks dan menjadi sel memori dalam aliran darah perifer. Dalam penelitian ini dapat diliiat bahwa pemberian dam Torbangun dalam bentuk sop maupun d a m

(7)

kering menyebabkan dilepaskannya sel limfosit ke sirkulasi darah. Dengan demikian secara kuantitatif dan uji statistik, pemberian daun Torbangun dalam bentuk sop clan daun kering dapat menginduksi folikel limfoid limpa mengalami hiperplasia dan dalam kondisi reaktif.

Perubahan Histopatologi pada Organ Limfonodus

Hasil penghitungan jumlah folikel pada tiap perlakuan disajikan dalan bentuk diagram batang (Gambar 16), dan hasil uji statistiknya ditunjukkan pada Tabel 10.

Jumlah Folikel Limfonodus

per1000 vmZ Satuan Luas

3

.-

Kontrol SOP Daun kering

perlakuan

Gambar 16 Diagram Perbandingan Jumlah Folikel Limfonodus.

Tabel 10 Perbandigan Jumlah Folikel L i o n o d u s

Perlakuan Ju~nlah Folike1/1000prn'

Kontrol 2.90

Son daun Torbanrmn 5%

-

1.24

Daun Torbangun kering 5% 1.12 Keterangan : Hasil tidak dapat diuji secara statistik.

Dalam diagram batang di atas dapat dilihat bahwa kelompok yang diberi perlakuan baik sop d a m Torbangun 5% maupun dam Torbangun kering 5% mengalami p e n m a n jurnlah folikel bila dibandingkan dengan kontrol. Namun data yang ada tidak memiliki pembanding sehingga tidak dapat diuji secara statistik. Hal ini terjadi karena kesulitan pengambilan organ limfonodus yang

(8)

berukwan sangat kecil pada hewan mencit, sehingga tejadi pengeliruan dengan organ tubuh serupa limfonodus. Menurut Searcy (1995), limfonodus berperan penting dalam pertahanan tubuh dan fungsi imun. Limfonodus bisa mengalami atropi maupun hipertropi, atau bisa juga menjadi tempat dari inflamasi lokal maupun mum. Penyakit inflamasi selalu berhubungan dengan perubahan pada aliran limfatik dan daerah di sekitar limfonodus (Cheville 2006).

Hasil pengukuran diameter folikel limfoid pada tiap perlakuan disajikan dalam bentuk diagram batang (Gambar 17), dan hasil uji statistiknya ditunjukkan pada Tabel 1 1.

Diameter Folikel Limfonodus

Kontrol SOP Daun kering

perlakuan

Ganibar 17 Diagram Perbandingan Diameter Folikel Limfonodus.

Tabel 11 Perbandingan Diameter Folikel Limfonodus

Perlakuan Diameter Folikel (pm)

Kontrol 9.93*1.93"

Sop daun Torbangun 5% 9.07*3.79"

Daun Torbangun kering 5% 14.88~5.84~

Keterangan : Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukknn perbedaan yang nyata (Pi0.05)

Dalam diagram batang di atas dapat dilihat bahwa kelompok yang diberi perlakuan sop daun Torbangun 5% mengalami p e n m a n diameter folikel, sedangkan kelompok yang diberi perlakuan daun Torbangun kering 5% mengalami peningkatan diameter folikel bila dibandingkan dengan kontrol. Dari

(9)

tabel dapat dilihat bahwa diameter folikel pada kelompok perlakuan sop d a m Torbangun

5%

tidak berbeda nyata bila dibandingkan dengan konrol @>0.05). Sedangkan kelompok perlakuan daun Torbangun kering

5%

menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kelompok kontrol (P<0.05). Menurut Jones et al.

(2006), stimulasi antigen bisa menyebabkan hiperplasia reaktif yang dicirikan dengan pembesaran folikel limfoid. Umumnya, pada kondisi sistem imun yang aktif akan terjadi peningkatan dari plasma sel. Pemberian daun Torbangun dalam bentuk dam kering dapat mengaktifkan sistem imun, sedangkan dalam bentuk sop tidak reaktif. Hal ini mungkin disebabkan adanya bahan yang terkandung dalam daun Torbangun hilang setelah proses pemanasan menjadi sop.

Hasil penghitungan jumlah sel limfoid pada tiap perlakuan disajikan dalam bentuk diagram batang (Gambar

IS),

dan hasil uji statistiknya ditunjukkan pada Tabel 12.

Jumlah

Sel

Limfoid Limfonodus

per

1000 pm2 satuan luas

Kontrol SOP Daun kering

perlakuan

Gambar 18 Diagram Perbandingan Jumlah Sel Limfoid Limfonodus.

Tabel 12 Perbandingan Jumlah Sel Limfoid Lifonodus

Perlakuan Jumlah Sel Limfoid per 1 0 0 0 ~ m ~ Kontrol 1061 1.7~1391.75~ Sop daun Torbangun 5% 8324.47h1379.23" Daun Torbangun kering 5% 9348.4W1591.83"

Keterangan : Huuf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang

(10)

Dalam diagram batang di atas dapat dilihat bahwa kelompok yang diberi perlakuan baik sop d a m Torbangun 5% maupun d a m Torbangun kering 5% mengalami p e n m a n jumlah sel limfoid bila dibandingkan dengan kontrol. Dari tabel dapat dilihat bahwa jumlah sel limfoid pada kelompok perlakuan baik sop daun Torbangun 5% maupun dam Torbangun kering 5% menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kelompok kontrol (P<0.05). Akan tetapi antar perlakuan yaitu sop daun Torbangun 5% dan daun Torbangun kering 5% tidak berbeda nyata (P>0.05).

Pada kejadian limfadenitis akut terjadi hiperplasia folikel limfoid terutama pada pusat ge~minativum dan terjadi aliran limfosit ke pembuluh darah perifer (Jones et al. 2006). Menurut Searcy (1995), keberhasilan pertemuan antara limfosit dan antigen dibantu oleh antigen-presenting cells yang menampakkan antigen dengan imunogenitas yang tinggi. Limfonodus mengerahkan limfosit muda folikel limfoid untuk menjadi limfosit di peredaran darah untuk melakukan fungsinya mendeteksi antigen. Kebanyakan limfosit yang terdapat dalam folikel pada superfisial korteks adalah sel-B. Sel-B ini dapat inasuk ke peredaran darah sebagai sel memori.

Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa pemberian d a m Torbangun dalam bentuk sop maupun d a m kering menyebabkan dilepaskannya sel limfosit ke sirkulasi darah sebagai sel memori. Dengan demikian walaupun hanya folikel limfoid dari kelompok yang diberi daun Torbangun kering yang mengalami hiperplasia, tapi grup daun Torbangun kering dan sop sama-sama dalam kondisi reaktif.

Differensiasi Sel Darah

Total dan jumlah diferensial leukosit dapat menjadi bagian penting dalam evaluasi patogenesa penyakit. Korelasi dari data ini dengan temual lesio organ limforetikular dapat menggambarkan kondisi imunopatologik akibat gertakan antigen. Tiga bagian penting pada respon idamasi adalah perubahan hemodinamik, perubahan permeabilitas, dan selalu melibatkan leukosit. Pada saat terjadi reaksi inflamasi yang melibatkan respon sistemik, sering terjadi peningkatan jumlah leukosit pada sistem sirkulasi (Slauson dan Cooper 1990).

(11)

Pada pemeriksaan differensiasi darah ini ditemukan adanya limfosit, monosit, dan neutrofil. Sedangkan eosinofil dan basofil tidak ditemukan. Eosinofil tidak ditemukan kemungkinan karena mencit yang diteliti mengalami stress saat pemeliharaan. Menurut Jain (1993), jumlah eosinofil cenderung rendah pada saat stress. Sedangkan basofil sendiri memang sangat jarang ditemukan dalam peredaran darah (Slauson dan Cooper 1990). Berikut disajikan hasil penghitungan jumlah leukosit dalam bentuk diagram batang (Gambar 19), dan hasil uji

statistiknya ditunjukkan pada Tabel 13.

Leukosit

rn Limfosit tm Monosit

Neutrofil

Kontrol SOP Daun kering

perlakuan

Gambar 19 Diagram Perbandingan Jumlah Leukosit.

Tabel 13 Perbandingan Jumlah Leukosit

Perlakuan Jumlah Limfosit Jumlah Monosit Jurnlah Neutrofil Kontrol 517.14+199.88" 59.10+67.718 443.26a230.33a

Sop daun Torbangun 5% 679.675204.73= 44.33*O.0Oa 369.39+92.27"

Daun Torbangun kering 5% 664.89+132.9Sa 118.2W167.82n 753.55i469.10a

Keterangan : IIuruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang

nyata (FY0.05)

Dalam diagram batang di atas dapat dilihat bahwa kelompok yang diberi perlakuan sop dam Torbangun 5% mengalami peningkatan jumlah limfosit, penurunan jumlah monosit, dan penurunan jumlah neutrofil bila dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan kelompok yang diberi perlakuan dam Torbangun kering 5% mengalami peningkatan jumlah l i i o s i t , peningkatan jumlah monosit,

(12)

dan peningkatan jumlah neutrofil bila dibandingkan dengan kontrol. Dari tabel dapat dilihat bahwa jumlah leukosit pada kelompok perlakuan baik sop d a m Torbangun 5% maupun daun Torbangun kering 5% menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata terhadap kelompok kontrol (P>0.05). Secara statistik hal ini disebabkan karena simpangan baku penghitungan leukosit cukup tinggi nilainya, akibat variasi individu. Namun demikian, secara kuantidtif terjadi perubahan jumlah leukosit pada kelompok perlakuan. Peningkatan jumlah sel darah putih dalam sirkulasi darah yang tidak signifikan dan tidak adanya sel darah putih yaig menonjol menunjukkan tidak adanya antigen lain.

Menurut Slauson dan Cooper (1990), limfosit berhubungan dengan reaksi imun dan merupakan mediator dari respon imun berperantara antibodi maupun respon hipersensitifitas yang berlangsung lambat. Menurut Searcy (1995), pada reaksi imun, peningkatan monosit terjadi karena monosit bermigrasi ke tempat terjadinya rangsangan antigen dan dapat berubah menjadi makrofag. Makrofag memainkan peranan yang penting dalam respon imun. Pada fungsi in~unomodulator yang merupakan respon imun yang tidak spesifik, sel darah putih yang paling berperan adalah monosit.

Neutrofil pada penelitian ini juga mengalami peningkatan. Menurut Slauson dan Cooper (1990), neutrofil merupakan leukosit pertama yang bereaksi pada kondisi peradangan akut. Peningkatan neutrofil mengindikasikan adanya peradangan akut pada mencit percobaan. Tetapi pada penelitian ini lokasi peradangan tidak dapat diidentifikasikan karena tidak dilakukan pengamatan histopatologi pada organ lain.

Secara histopatologi peningkatan sistem imun dapat diketahui dengan cara melihat ketebalan korteks, peningkatan diameter limpa dan limfonodus serta peningkatan jumlah sel limfosit. Pada mencit yang diberi sop dam Torbangun terjadi hiperplasia folikel limfoid limpa dan dalam kondisi reaktif, sedangkan pada timus dan limfonodus walaupun tidak terjadi hiperplasia organ, tetapi juga dalam kondisi yang reaktif. Pada mencit yang diberi dam Torbangun kering terjadi hiperplasia folikel limfoid limpa dan limfonodus serta dalam kondisi reaktif, sedangkan pada timus walaupun tidak terjadi hiperplasia organ, tetapi juga dalam

(13)

kondisi yang reaktif. Pemberian sop dan daun Torbangun kering juga meningkatkan jumlah limfosit pada peredaran darah.

Dari hasil tersebut dapat diliiat bahwa perubahan yang terjadi pada organ limforetikular mempengamhi komposisi sel leukosit dalam peredaran darah. Hal ini terjadi karena adanya antigen, sehingga sel limfosit jaringan keluar ke peredaran darah perifer dan menyebabkan peningkatan jumlah leukosit pada aliran darah. Pada penelitian ini antigen yang diberikan adalah daun Torbangun. Beberapa komponen d a m Torbangun antara lain minyak atsiri, saponin, flavonoid, dan polifenol (Anonim 2008a). Zat aktif yang dapat meningkatkan sistem imun yang terkandung dalam daun Torbangun kemungkinan adalah saponin. Saponin tidak hanya memiliki efek imunostimulan pada sistem imxm spesifik, tetapi juga terdapat pada beberapa reaksi sistem imun yang non spesifik seperti inflamasi dan proliferasi monosit (Rajput et a1 2007).

Gambar

Gambar 12 Diagram Perbandingan Jumlah Sel Timosit Korteks.
Tabel  7  Perbandingan Jumlah Folikel Limpa.
Gambar 14 Diagram Perbandingan Diameter Folikel Limpa.
Gambar 15 Diagram Perbandingan Jumlah Sel L i o i d  Limpa.
+5

Referensi

Dokumen terkait

Adanya perbedaan bermakna antara kelompok kontol negatif dan kelompok perlakuan krim ekstrak batang dan daun suruhan menujukkan bahwa kelompok perlakuan krim ekstrak batang

Diagram batang rerata laju resorpsi fetus mencit yang diberi. ekstrak etanol daun

Hasil Penelitian: Diameter zona hambat terhadap Streptococcus mutans pada kelompok yang diberi perlakuan ekstrak daun serai pada konsentrasi 25%, 50%, dan 75% sama besar

Tidak ada pengaruh interaksi maupun antar perlakuan yang nyata pada hasil pengamatan terhadap pertumbuhan diameter batang bawah, diameter batang atas dan jumlah

Pada kelompok K2 terjadi penurunan nilai rataan kreatinin clearance selama periode perlakuan karena kelompok ini mengalami pemaparan etilen glikol namun tidak diberi infusum

Kelompok MKL, yaitu tikus yang diberi perlakuan ekstrak daun murbei muda kering dengan pelarut hexane.. Kelompok TKL, yaitu tikus yang diberi perlakuan daun murbei tua kering

Tidak ada pengaruh interaksi maupun antar perlakuan yang nyata pada hasil pengamatan terhadap pertumbuhan diameter batang bawah, diameter batang atas dan jumlah

Diagram batang pertambahan diameter cm bibit balangeran Diagram nilai rata-rata pertambahan diameter bibit balangeran pada Gambar 5 diketahui bahwa perlakuan yang memberikan