• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 ANALISIS BISNIS BANK, PENGEMBANGAN INTERNET BANKING DAN SISTEM PAKAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 ANALISIS BISNIS BANK, PENGEMBANGAN INTERNET BANKING DAN SISTEM PAKAR"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

ANALISIS BISNIS BANK,

PENGEMBANGAN INTERNET BANKING DAN

SISTEM PAKAR

3.1 ANALISIS BISNIS BANK

Dalam buku karangan Jopie Jusuf yang berjudul “Kiat Jitu Memperoleh Kredit Bank”, bank sebagai lembaga keuangan memiliki filosofi bisnis yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1 : Diagram Filosofi Bisnis Bank

Penjelasan gambar :

- Sektor surplus adalah sebagian dari masyarakat yang memiliki kelebihan dana dan hendak mengivestasikannya di bank

Sektor Surplus BANK Sektor Minus Dana SS Dana + X Dana SM Dana + Y

(2)

- Dana SS merupakan investasi yang dilakukan sektor surplus yang memiliki beragam bentuk, misalnya : saham, properti, tabungan, deposito, dan sebagainya

- Dana SS + X merupakan nilai tambah yang diperoleh oleh sektor surplus dari investasinya (Dana SS); dana dapat diperoleh kembali tepat waktu dan bersifat produktif/menghasilkan

- Sektor minus adalah bagian masyarakat yang membutuhkan dana dan mencarinya lewat jalan meminjam ke bank

- Dana SM merupakan dana yang diberikan oleh bank kepada sektor minus yang membutuhkannya yaitu dalam bentuk kredit

- Dana SM + Y merupakan dana bank yang didapatkan kembali dari pinjaman yang diberikannya kepada sektor minus tadi disertai dengan nilai tambahnya yang berbentuk suku bunga pinjaman kredit

- agar bank mendapat keuntungan, besar nilai ‘Dana SM + Y’ yang bank dapatkan dari sektor minus harus lebih besar dari nilai ‘Dana SS + X’ yang harus bank bayarkan ke sektor surplus.

Jadi, bisnis bank adalah mengelola dana masyarakat dan mengambil keuntungan darinya.

Dengan demikian, secara umum dapat kita lihat bahwa bank-bank berlomba untuk menghimpun ‘Dana’ lebih banyak dari sektor surplus dan mengusahakan keuntungan berupa nilai tambah dari kegiatan memberikan kredit kepada sektor minus. Guna mencapai tujuan bisnisnya ini, masing-masing bank berusaha untuk menarik minat masyarakat luas dalam berinvestasi dengan berbagai cara. Salah

(3)

satu cara bank melakukan hal tersebut adalah dengan : promosi produk-produknya, inovasi produk baru, pemberian hadiah-hadiah menarik saat nasabah membuka rekening tabungan/aplikasi kartu kredit, hingga merambah dunia Internet Banking

(e-Banking) guna meningkatkan kemudahan dan kenyamanan bagi para nasabahnya.

Berikut adalah perbandingan antara tiga buah situs perbankan di Indonesia yang menawarkan online banking :

1. Klik BCA

• Menawarkan berbagai produk kredit baik bagi individual (Kredit Konsumen) maupun kredit bagi keperluan bisnis

• Produk Kredit Konsumen antara lain : KPR BCA (Kredit Pemilikan dan Perbaikan Rumah), KKB BCA (Kredit Kendaraan Bermotor), dan KPA BCA (Kredit Pemilikan Apartemen)

• Produk Kredit untuk keperluan Bisnis : Kredit Investasi, Kredit Modal Kerja, dan Bank Garansi

• Terdapat penjelasan produk kredit yang bersangkutan, persyaratan, dan untuk produk Kredit Konsumen terdapat Loan Simulator.

(4)

Gambar 3.2 : Simulasi Kredit - BCA

(5)

2. BII Internet Banking

• Menawarkan beberapa produk kredit, baik bagi personal use (Personal Loan) maupun kredit bagi corporate use (Corporate Loan)

• Produk-produk Personal Loan antara lain : KPMEkspres (Kredit Pemilikan Mobil) dan KPREkspress (Kredit Pemilikan Rumah)

• Produk-produk Corporate Loan antara lain : Investment Loan (Kredit Investasi), Working Capital Loan (Kredit Modal Kerja), Letter of Credit, Bank Guarantee, dan UKM Financing Facility

• Terdapat penjelasan produk kredit yang bersangkutan, persyaratan, dan untuk produk Personal Loan terdapat Loan Calculator.

(6)

3. LippoBank

• Hanya terdapat kredit untuk keperluan pribadi, yaitu : LippoBank Car Loans dan LippoBank Home Loans

• Hanya terdapat penjelasan produk kredit yang bersangkutan dan persyaratan pengajuan kredit

• Tidak terdapat Loan Calculator / Loan Simulator.

Loan calculator yang sudah diimplementasikan di website bank-bank di Indonesia hanya bersifat sebagai alat bantu penghitungan besar kredit yang dapat diajukan sesuai dengan input yang dimasukkan user, dan tidak ditujukan untuk melakukan konsultasi yang lebih personal dengan user.

3.1.1 GARIS BESAR PROSES PENGAJUAN KREDIT

Alur proses pengajuan aplikasi kredit dari calon nasabah secara umum pada sebuah bank adalah sebagai berikut :

(7)

Gambar 3.5 : Alur Proses Pengajuan Kredit

Seorang pemohon kredit datang ke seorang Relationship Officer pada suatu bank dengan mambawa seluruh dokumen-dokumen dan legalisir yang dibutuhkan (seperti: laporan keuangan, legalitas usaha, dan sebagainya). Setelah kelengkapan dokumen disetujui, Relationship Officer akan memasukkan semua data tersebut kedalam sistem yang ada dan memberikan jaminan-jaminan yang diajukan oleh pemohon kredit ke bagian Appraisal. Bila data-data analisa dari Relationship Officer dan Appraisal sudah lengkap, hasil analisa mereka akan disampaikan ke seorang Credit Analyst untuk dievaluasi lebih lanjut dan diberikan penilaian untuk pemberian rekomendasi. Pada akhirnya, seluruh data, analisa, dan rekomendasi akan disampaikan kepada pimpinan bank untuk keputusan akhir akan persetujuan maupun penolakan permohonan kredit yang diajukan.

Relationship Officer (RO)

mengumpulkan data dari pemohon yang berupa proposal

dalam bentuk laporan keuangan, legalitas usaha, dan

sebagainya

RO menginput data-data kedalam sistem

Jaminan-jaminan dinilai oleh bagian Appraisal

Credit Analyst

mengevaluasi dan melakukan scoring

Credit Analyst menyampaikan rekomendasi atas permohonan kredit kepada decision maker

(8)

3.1.2 ANALISIS PORTER

Di bawah ini adalah analisis Porter terhadap bisnis perkreditan yang dilakukan oleh bank lewat sarana e-banking-nya :

Gambar 3.6 : Porter’s Five Forces Analysis pada sistem ‘OCC’

Diagram di atas merupakan model Porter’s Five Forces Analysis untuk persaingan

online / internet banking dengan mengambil perbandingan dari produk yang kami tawarkan dengan produk-produk onlinebanking yang sudah ada di Indonesia. • New Entrants

Loan calculators maupun simulators yang merupakan mesin simulasi penghitung kredit yang relatif mudah digunakan oleh para user yang mengerti penggunaan internet secara umum. Beberapa bank di Indonesia yang sudah menggunakan jenis loan calculator maupun simulator : BCA dan BII.

New Entrants

Loan Calculators / Simulators

Sistem “Online Credit Consultant”

Customer Power

Customer dan calon customer

bank

Threat of Substitute Product • Buku karangan Yopie

Yusuf “Kiat Jitu Mem-peroleh Kredit Bank” • Berkonsultasi langsung

dengan credit analyst di bank

Supplier Power Produk-produk Bank, seperti KPR, kredit usaha, kredit

kendaraan bermotor, dsb.

(9)

(https://appl.klikbca.com/indo/scredit.html) • Customer Power

Keberadaan sebuah bank sangat tergantung dari para customer yang sudah terdaftar sebagai nasabah bank tersebut maupun calon customer dari bank lain serta calon customer yang belum terdaftar sebagai nasabah pada suatu bank tertentu.

Supplier Power

Produk-produk perbankan yang dimiliki oleh suatu bank sangat menentukan ketertarikan customer untuk tetap menjadi nasabah bank tersebut, maupun calon customer untuk menjadi nasabah bank tersebut. Dalam hal ini, produk-produk perbankan yang berkaitan dengan perancangan sistem (Online Credit Consultant) adalah produk-produk perbankan yang berupa pemberian pinjaman / kredit kepada nasabahnya, seperti : KPR (Kredit Pemilikan Rumah), kredit usaha, dan kredit kendaraan bermotor.

Threat of Substitute Product

Sebagai produk pengganti, nasabah yang kurang berkenan untuk menggunakan

Online Credit Consultant dapat memperoleh informasi mengenai kredit yang kurang lebih sama namun kurang interaktif melalui buku karangan Yopie Yusuf yang berjudul “Kiat Jitu Memperoleh Kredit Bank” atau nasabah dapat langsung datang menemui credit analyst di bank.

Rivalry

Karena produk yang ditawarkan (Online Credit Consultant) merupakan produk / ide baru, sehingga persaingan dalam hal ini belum ada.

(10)

3.2 ANALISIS PARA PAKAR TERHADAP POTENSI INTERNET BANKING

Dalam artikel yang ditulis Steve Klinkerman di www.bai.org/banking strategies/ yang berjudul “The Power of Saying No”, banyak bank yang berpendapat bahwa cara yang paling baik untuk bertumbuh dalam bisnisnya adalah dengan melakukan akuisisi dan diversifikasi produknya yang bertujuan untuk bisa bertahan dalam persaingan bisnis antar bank. Tetapi pendapat seorang pakar strategi dari Sekolah Bisnis Harvard, Michael E. Porter, mengatakan lain. Ia berpendapat bahwa hal-hal seperti akuisisi, merger, diversifikasi produk hanya akan mengalihkan perhatian perusahaan (bank) dari hal utama yang sebenarnya ingin dituju oleh bank tersebut dengan sebaik-baiknya. Hal yang ia tekankan sebagai kunci agar bisa meraih keuntungan dalam persaingan bisnis adalah dengan cara menjadi berbeda dari yang lainnya (unik). Perusahaan harus bisa menjadi unik dengan cara :

- membatasi apa yang dilakukan

- tidak selalu berusaha untuk melayani semua pelanggannya - tidak selalu berusaha untuk menawarkan semua produknya - tidak selalu berusaha untuk merambah seluruh wilayah geografis.

Hal di atas adalah pertanyaan strategis yang penting untuk perkembangan bisnis tiap perusahaan.

Michael Porter juga mengemukakan bahwa industri perbankan masa kini penuh dengan kegiatan imitasi (peniruan). Karena bank-bank tersebut tidak berkompetisi secara langsung, ada yang disebut tradisi industri dalam hal berbagi

(11)

ide, sehingga tercipta homogenisasi. Sebagai contoh : satu bank memulai Internet

Banking, bank-bank lain mengikuti; satu bank menempatkan cabang pada pusat perbelanjaan, maka bank lain juga mengikutinya. Dalam pendekatan seperti itu, inti kompetisi adalah homogenisasi (penyeragaman) dan konvergensi (penyebaran). Perusahaan akan sulit sekali untuk berkompetisi karena sedikit sekali jumlah kompetitor-kompetitornya yang tidak kompeten.

Teknologi yang semakin berkembang membuatnya menjadi alat pendukung bisnis yang penting untuk dimiliki sebuah perusahaan. Menurut Porter, semua bank yang ada harus berlomba untuk mengasimilasi perkembangan teknologi baru ke dalam usahanya masing-masing. Tantangan yang nyata secara strategis adalah untuk mengedepankan teknologi-teknologi tersebut yang baik secara universal, yang penting dalam segala aspek kompetisi, tetapi penggunaan teknologi tersebut haruslah dibuat menjadi spesifik (khas) sebisa mungkin guna memperoleh posisi tertentu dalam pasar. Kompetitor yang hendak menyediakan tingkat efisiensi dan kenyamanan yang tinggi dengan biaya yang amat rendah akan menjadikan teknologinya berbeda dengan pesaing-pesaingnya yang mengutamakan pendekatan pribadi dan pelayanan nilai tambah.

Satu hal yang juga dikatakan Porter, bagaimanapun canggihnya teknologi yang digunakan bank dalam melayani para nasabahnya untuk meniadakan halangan-halangan geografis seperti misalnya dengan : Internet Banking, ATM, dsb, pada akhirnya semua akan kembali kepada hubungan antarpersonal bank dengan nasabahnya secara geografis dalam konteks lokal.

(12)

Dari analisis-analisis beberapa pakar perbankan dan strategi di atas, diperoleh suatu gambaran dalam merancang suatu sistem pelayanan perbankan secara online

(lewat Internet) untuk perkreditan yang cukup ideal, dengan berusaha mencakup poin-poin penting seperti di bawah ini :

- unik (khas), berbeda dari sistem yang sudah ada di pasaran

- menggunakan Internet untuk memperkecil halangan geografis/tempat/lokasi yang ada antara bank dengan para nasabahnya di seluruh dunia sebagai media konsultasi perkreditan online

- meningkatkan efisiensi waktu, tenaga, dan biaya yang harus disediakan bank dalam melakukan pelayanan

- meningkatkan kenyamanan lebih-lebih terhadap para nasabahnya dengan cara mendapatkan alternatif (pilihan) pelayanan lewat Internet dengan mutu yang serupa dengan pelayanan konvensional (langsung di lokasi bank)

- sistem dirancang untuk melakukan fungsinya secara maksimal dengan mengusahakan biaya yang relatif rendah (cost effective)

- sistem digabungkan dengan pendekatan antarpersonal (lewat penggunaan bahasa sehari-hari/percakapan antar sistem dengan pengguna) dan pelayanan konvesional oleh para staf perbankan sebagai tindak lanjut atas proses yang telah dikerjakan sistem.

Dalam merancang sistem yang bertujuan untuk mendukung konsultasi perkreditan bagi para nasabahnya lewat Internet tersebut, perlu ditinjau beberapa aspek yang menjadi kekurangan Online (Internet) Banking yang sudah ada. Dalam artikel “Why Online Banking is Like A Box of Chocolate” karangan George Tubin,

(13)

seorang analis senior Tower Group di http://www.banktech.com/story/ BSTeNews/?articleID=15600860, ditemukan beberapa kekurangan tersebut seperti di bawah ini :

- nasabah bank sangat jarang mendapat kesempatan mencoba Internet Banking

yang disediakan sebelum bergabung, sehingga tidak bisa membandingkan berbagai pelayanan lain yang ditawarkan oleh kompetitior banknya

- evaluasi yang diadakan Tower Group terhadap beberapa aspek utama sebagai komponen Online Banking salah satunya adalah mengenai fungsionalitas swalayan untuk nasabah (customer self-service functionality) yang variasinya masih sedikit

- hanya sejumlah kecil bank di Amerika yang termasuk Top 10 dari hasil survey yang dilakukan yang telah menyediakan fitur dan fungsi yang lebih tinggi dari bank sesamanya, serta antarmuka pengguna yang lebih berdayaguna dan intuitif.

Dikatakan pula, bank-bank masa kini amat berhati-hati dengan implementasi

OnlineBanking yang memiliki fitur untuk menaikkan pendapatan secara langsung, mengurangi biaya, atau meningkatkan keuntungan bagi nasabahnya.

Bagaimanapun juga, dengan semakin populernya situs-situs web non-bank yang menyediakan fungsionalitas yang besar (misalnya : Yahoo, Amazon, dsb), para pengguna Internet mengharapkan bank-bank juga turut menawarkan online banking yang memiliki kelebihan dalam hal performa dan ketersediaan fitur. Hal ini memaksa penyedia layanan online banking untuk terus memperbaiki kualitas

(14)

layanannya, karena pengguna semakin menyadari kemampuan situs-situs web non-bank tadi yang jauh lebih baik.

George Tubin juga menyampaikan beberapa prinsip pengembangan fungsionalitas online banking yang senada dengan pendapat Michael Porter seperti yang telah tertulis di atas. Ada beberapa poin penting yang juga harus diperhatikan dalam pengembangan agar dapat semakin mampu memenuhi tuntutan para nasabah online banking :

- perbaikan tidak perlu memakan biaya yang tinggi, cukup dengan memperbaiki penampilan situs, meningkatkan kemudahan pemakaian, dan menjamin ketersediaan informasi yang dibutuhkan dengan lengkap

- selektif dalam melakukan penambahan fitur baru; fitur tidak selalu datang dari sesuatu yang langsung menghasilkan pendapatan, tetapi bisa dari sumber lain yaitu langgengnya hubungan antara nasabah bank dengan bank itu sendiri yang berakibat lebih tingginya keuntungan/profitabilitas yang mungkin akan didapat di masa mendatang

- teknologi yang dipakai harus dapat men-support perkembangan teknologi di masa depan, mengingat teknologi informasi akan selalu berubah dan berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman; bank harus secara terus menerus menyederhanakan arsitektur sistemnya guna dapat terus mendukung semua kebutuhan jalur pengantaran informasi bisnisnya.

Telah diketahui sebelumnya bahwa Online Internet Banking merupakan salah satu perwujudan usaha perbankan dalam memenuhi kebutuhan informasi para nasabahnya, serta mengatasi hambatan waktu dan geografis yang dialami. Dalam

(15)

praktiknya, tentu Internet Banking melibatkan suatu sistem komputer sebagai infrastruktur yang menunjang terciptanya pertukaran data dan informasi melalui internet antara pihak bank itu sendiri dengan nasabahnya. Penelitian ini menganalisis hubungan yang mungkin tercipta antara sistem komputer yang digunakan untuk Internet Banking tersebut dengan implementasi bidang ilmu sistem pakar, dimana integrasi dari kedua elemen itu bisa mendukung kemajuan usaha bank lewat peningkatan pemberdayaan sumber daya yang ada untuk pelayanan perbankan, khususnya dalam hal pemrosesan aplikasi kredit calon nasabah debitur.

Jika dilihat dari konteks pelayanan perbankan, maka orientasi penelitian sudah dapat dilihat dengan jelas, yaitu mempergunakan sistem komputer yang berbasiskan internet dengan tunjangan dari cabang ilmu sistem pakar (expert system) untuk meningkatkan bisnis bank. Adapun seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya bahwa keuntungan (benefit) utama yang dapat diperoleh dengan pemakaian knowledge system dalam suatu organisasi adalah : pengambilan keputusan yang lebih cepat, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan kualitas hasil pengambilan keputusan. Ketiga manfaat tersebut dalam hubungannya dengan rencana implementasi sistem pakar pada modul konsultasi kredit di

Internet Banking dapat muncul dalam ketiga aspek berikut ini:

1. Sistem pakar yang berbasiskan dasar pengetahuan mengenai kredit bank (knowledge-based expert system) akan membantu staff bank yang terlibat di dalamnya (khususnya Relationship Officer dan Credit Analyst) dalam menganalisis data-data calon debitur untuk selanjutnya memberikan

(16)

rekomendasi atas keseluruhan pengajuan sebuah kredit. Caranya adalah dengan menyediakan pelayanan konsultasi awal kepada calon debitur sesuai dengan kasus/keadaan yang dialami masing-masing calon, dan memberikan scoring

(penilaian) sementara terhadap beberapa aspek yang umum dijadikan panduan dalam melakukan analisis kredit. Dengan cara demikian, calon debitur yang bersangkutan juga dengan bebas dapat memperoleh pengetahuan kredit dan mengetahui berbagai persiapan dan persyaratan yang harus dipenuhinya bila ingin melanjutkan ke tahap pengajuan aplikasi secara nyata. Hasil rekomendasi sistem akan menjadi alternatif alat ‘penyaring’ aplikasi yang secara tidak langsung penting artinya bagi keamanan bank sendiri dalam pencegahan kemungkinan terjadinya kredit macet di masa mendatang.

2. Melalui hasil wawancara dan survey pada salah satu bank pemerintah terkemuka di Indonesia, diperoleh konfirmasi bahwa per-harinya, banyaknya panggilan telepon maupun kunjungan para calon debitur yang hanya ingin mendapatkan informasi dan konsultasi mendasar masalah kredit, rata-rata bisa mencapai 15 (lima belas) panggilan telepon/kunjungan, dalam satu kantor cabang. Waktu rata-rata yang diperlukan untuk melayani tiap panggilan telpon/kunjungan tersebut minimum 30 (tiga puluh) menit. Lamanya proses kelengkapan dokumen oleh tiap calon debitur bisa mencapai 1 (satu) bulan, yang rata-rata per-calon debitur melakukan kunjungan ulang/panggilan telepon ulang pada sebuah kantor cabang minimum sebanyak 2 (dua) kali. Informasi di atas memperlihatkan gambaran bahwa efisiensi waktu dan tenaga SDM bank yang seharusnya bisa ditingkatkan serta lebih difokuskan kepada pekerjaan utamanya masih memiliki kekurangan. Dengan adanya sebuah sistem pakar

(17)

konsultan kredit di internet, produktivitas SDM bank yang terlibat bisa ditingkatkan, karena sebagian besar tugas-tugas mendasar sudah bisa ditangani oleh sistem. Waktu-waktu yang tadinya banyak terbuang untuk melayani permintaan informasi umum kredit akan bisa dimanfaatkan para staf bank untuk melakukan tugas-tugasnya yang membutuhkan prioritas dan usaha yang lebih besar.

3. Dengan adanya sistem pakar konsultan kredit internet, staff bank yang berkepentingan akan mendapatkan second opinion dalam membuat keputusan/rekomendasi yang lebih akurat, karena sifat sistem pakar tersebut adalah sebagai penyedia informasi mengenai keadaan para calon debitur yang ditampilkan lewat database. Waktu sumber daya yang lebih banyak tersedia untuk melakukan berbagai analisis penting juga bisa mendukung terciptanya keputusan-keputusan yang berkualitas dari para staf.

Guus Schreiber (2000) telah mengemukakan 4 (empat) prinsip dasar proses

knowledge engineering modern yang sudah dibahas pada bab sebelumnya. Salah satu di antara prinsip-prinsip tersebut yaitu membangun model-model aspek pengetahuan manusia yang berbeda-beda. Pada konteks knowledge engineering

sistem pakar konsultant kredit bank, prinsip ini menjadi dasar dalam membuat sebuah model konsultan yang dasar pengetahuannya diambil dari panduan kredit umum, dan merupakan tugas dari Relationship Officer dan Credit Analyst. Sistem bekerja sebagai Relationship Officer dan Credit Analyst virtual, yang melakukan beberapa bagian pekerjaan mereka. Dengan pemodelan seperti ini, sistem pakar

(18)

konsultan kredit internet memfokuskan diri untuk hanya menangani beberapa aspek saja, dan mengabaikan yang lainnya.

Aspek lainnya yang juga mendasari proses knowledge engineering sistem adalah bahwa pengetahuan (knowledge) yang digunakan memiliki struktur internal yang stabil dan dapat dianalisis dengan cara menggunakan tipe dan rule yang spesifik dari pengetahuan itu sendiri. Dalam kaitannya dengan sistem pakar konsultan kredit ini, pengetahuan umum tentang kredit merupakan pengetahuan yang memiliki pola dan struktur yang sudah ditetapkan, dan dipakai berulang-ulang untuk memecahkan suatu kasus/masalah dalam perkreditan. Jadi, pengetahuan kredit ini akan dimodelkan sebagai suatu keseluruhan fungsional yang terstruktur dengan baik, dan menspesialisasikan diri dalam pemecahan masalah perkreditan yang nyata.

Ketiga pertanyaan mendasar dalam membangun pemodelan sistem pakar secara umum sudah dikemukakan sebelumnya, yaitu :

1. Mengapa sebuah sistem ilmu pengetahuan dapat berpotensi sebagai penolong/pembantu atau sebagai solusi; untuk masalah apa; keuntungan, biaya, dan pengaruh apa dalam organisasi yang akan dihasilkannya?

2. Apa yang menjadi lingkungan dan struktur pengetahuan yang terlibat; lingkungan dan struktur komunikasi yang sesuai?

3. Bagaimana seharusnya pengetahuan yang bersangkutan bisa diimplementasikan dalam sebuah sistem komputer; arsitektur software dan mekanisme komputasional ?

(19)

Jawaban dari pertanyaan di atas bisa dijabarkan sebagai berikut :

1. Pada dasarnya, calon debitur selalu membutuhkan bantuan informasi dan konsultasi yang biasanya menjadi tugas seorang Relationship Officer (RO), dan hasil analisis awal RO akan menjadi input untuk proses selanjutnya, yaitu analisis data usaha dan keuangan calon debitur yang akan dilakukan oleh

Credit Analyst (CA). Bantuan informasi dan konsultasi yang diberikan RO adalah berdasarkan pola dan struktur perkreditan yang standar, sudah ditentukan, dan sudah menjadi pegangan operasional bank sehari-harinya. Oleh karena itu, sebagian informasi dan konsultasi tersebut seharusnya bisa ditangani oleh sebuah sistem komputer yang memanfaatkan cabang ilmu sistem pakar sebagai pembantu RO dan CA dalam mengambil berbagai keputusan. Keuntungan langsung yang bisa didapatkan baik oleh pihak bank maupun pihak calon debitur sendiri adalah pengurangan beban pekerjaan petugas bank yang terlibat secara langsung, kebebasan mendapatkan informasi dan konsultasi tanpa ikatan apa-apa dengan lebih nyaman dan fleksibel (lewat internet), dan efisiensi sumber daya waktu dan tenaga dari kedua belah pihak. Keuntungan tidak langsung bagi pihak bank adalah pengurangan risiko terjadinya kredit macet di masa depan yang diakibatkan oleh berbagai kekurangan yang ada pada analisis data calon debitur, atau dengan kata lain kesimpulan yang nantinya akan diambil oleh RO dan CA terhadap masing-masing aplikasi pengajuan kredit didapat dari data yang lengkap, komprehensif, dan dengan pertimbangan yang lebih mendalam.

2. Lingkungan/alam dan struktur dari pengetahuan kredit beserta komunikasi yang akan terjadi antara pihak bank dengan calon debitur akan berasal dari

(20)

sistem komputer yang diletakkan pada website (internet) dan ditangani oleh server yang juga ada pada web (webserver). Calon debitur bisa mengakses

website bank bersangkutan lewat browser masing-masing yang disertai perangkat plugin tertentu untuk bisa mengakses website dengan baik. Selanjutnya, calon debitur akan berhadapan dengan RO dan CA virtual untuk melakukan konsultasi/memperoleh informasi yang berkaitan dengan kasusnya. Di akhir konsultasi, calon debitur yang memenuhi persyaratan tertentu akan diberikan pilihan untuk mengisi formulir pra-aplikasi. Data calon debitur ini selanjutnya akan bisa dilihat oleh petugas yang bersangkutan sebagai data input dan referensi untuk melanjutkan proses kredit.

3. Pengetahuan kredit RO dan CA akan diimplementasikan ke dalam sistem lewat proses knowledge acquisition yang diperoleh dari wawancara oleh seorang CA yang sudah berpengalaman dan studi pustaka (buku referensi/panduan) mengenai perkreditan bank umum yang ditulis oleh seorang pakar perbankan dan bisnis. Arsitektur software dan mekanisme komputasional akan dibahas pada bab berikutnya.

Para pelaku yang ada dalam proses knowledge engineering beserta peran-perannya adalah sebagai berikut :

1. Pakar perbankan dan Credit Analyst berperan sebagai Knowledge Provider/Specialist. Mereka adalah sumber akuisisi pengetahuan kredit ke dalam sistem, dan sistem akan bekerja sesuai dengan cara bernalar para pakar tersebut.

(21)

2. Peneliti berperan sebagai Knowledge Engineer/Analyst dan Knowledge system-developer yang akan membangun sistem pakar konsultan kredit dari segi teknis, implementasi, hingga penggabungan seluruh elemen yang diperlukan ke dalam

website bank yang bersangkutan agar dapat digunakan secara nyata.

3. Calon debitur dan staff kredit bank yang berkepentingan berperan sebagai

Knowledge User (pemakai sistem).

4. IT Manager bank dan timnya berfungsi sebagai Project Manager dan

Knowledge Manager, karena tugas-tugasnya sudah berkaitan dengan aspek orientasi bisnis bank itu sendiri, dan bukan melulu persoalan teknis pembangunan sistem.

3.3 PERHITUNGAN BIAYA

Biaya yang diperhitungkan terdiri dari biaya pembelian hak lisensi penggunaan program JESS secara komersial, biaya pembelian web hosting, biaya

Knowledge Engineer, dan biaya web administrator.

o Untuk memperoleh hak menggunakan Jess secara komersial, pihak Sandia National Laboratories akan meminta hak lisensi sebesar US$5,000 per server setiap tahunnya dan US$1,000 per user (minimum 5 user).

o Biaya web hosting per tahunnya + Rp. 3juta o Biaya Knowledge Engineer + Rp. 10 juta

o Biaya web administrator + Rp. 5 juta / bila bank sudah memilki web administrator, biaya ini dapat dihilangkan

(22)

Total perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk implementasi sistem pakar konsultan kredit online pada situs web bank adalah sebesar kurang lebih Rp. 120.000.000,-.

Dari jawaban ke-30 responden yang telah berpartisipasi dalam kuesioner awal (tanggapan ide sistem ‘OCC’), diketahui bahwa 74% dari keseluruhan tanggapan yang diberikan berpendapat bahwa ide ‘OCC’ merupakan ide yang baik. Jadi, ide atas adanya sistem ‘OCC’ secara online mendapat tanggapan yang “baik” dari awam (antusiasme tinggi).

Gambar

Gambar 3.1 : Diagram Filosofi Bisnis Bank
Gambar 3.2 : Simulasi Kredit - BCA
Gambar 3.4 : Simulasi Car Loan - BII
Gambar 3.5 : Alur Proses Pengajuan Kredit
+2

Referensi

Dokumen terkait

Instrumen memegang peranan penting dalam suatu penelitian. Kualitas penelitian sangat dipengaruhi oleh instrumen penelitian yang digunakan, karena kevalidan dan kesahihan

Koreksi setelah tanggal 05 tersebut tidak merubah data yang sudah dilaporkan sebelumnya dalam sistem LBU/S Server pada periode bersangkutan tetapi data tersebut di proses untuk

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelinci Rex dengan rataan kadar bobot karkas sebesar 42 % dari bobot potong dapat menghasilkan bobot daging sebesar 30 % dan bobot

Provinsi Nama Fasilitator Instansi Email

Berikut adalah regresi yang akan di analisis, yaitu : regresi antara banyaknya terjadi erupsi dengan persentase kejadian penyakit hawar daun kentang, regresi

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan sumber inulin yang berasal dari umbi dahlia, baik dalam bentuk tepung maupun ekstrak mampu

Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga hipotesis yang menyatakan ada pengaruh yang signifikan antara variabel upah/pendapatan, penghasilan suami, usia,

Dalam menyelesaikan masalah, siswa diharapkan memahami proses menyelesaikan masalah tersebut dan menjadi terampil di dalam memilih dan mengidentifikasikan kondisi dan konsep