• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PBKADILAN AGAMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PBKADILAN AGAMA"

Copied!
222
0
0

Teks penuh

(1)

BUKU

I

I

Edi

s

i

2007

MAHKAMAH AGUNG RI

2008

PEDOMAN

TEKNI

S

ADMI

NI

S

TRAS

I

DAN

(2)
(3)

PEDOMAN

TEKNIS ADMINISTRASI DAN

TEKNIS PBKADILAN AGAMA

BUKU II

Edisi 2007

I ) \ MAHKAMAH AGUNG RI

2

008

(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Penelitian yang dilakukan selama lebih dari satu tahun, untuk dapat merevisi Pedoman Pelaksanaan Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan di Lingkungan Pengadilan (Buku II), telah selesai. Revisi ini dilakukan untuk menyesuaikan buku tersebut dengan berbagai undang-undang dan ketentuan baru mengenai peradilan yang telah berlaku dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Buku ini dinamakan Buku II yaitu pedoman teknis administrasi dan teknis peradilan di peradilan tingkat pertama dan tingkat banding, serta lampiran fonnulir-fonnulir yang berlaku di setiap lingkungan peradilan.

Dengan selesainya revisi Buku II dan seiring dengan selesainya pula proses satu atap di Mahkamah Agung RI, maka saya menaruh harapan yang besar agar dalam pelaksanaan tugas sehari-hari terwujud ketentuan-ketentuan yang mantap, jelas dan tegas tentang apa dan bagaimana tata kerja administrasi peradilan yang hams dilaksanakan dengan tertib dan disiplin. Sejalan dengan itu, semoga masalah-masalah yang selama ini masih terjadi di lapangan seperti masalah transparansi peradilan dan benturan titik singgung antar lingkungan peradilan dapat teratasi.

Akbimya saya ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besamya atas kerja keras dari seluruh Tim Peneliti Revisi Buku II, untulc mewujudkan buku pedoman tersebut, yang telah memberikan bantuan teknik sekaligus menyeluruh sehingga pekerjaan yang berlangsung lebih

dari satu tahun ini dapat diselesaikan dengan baik.

Jakarta, 29 Juli 2007

KETUA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA

BAGIR MANAN

(6)
(7)

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBUK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Nomor: KMA/032/SK/IV/2006 Tentang

PEMBERLAKUAN BUKU II PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS DAN ADMINISTRASI PENGADILAN

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Menimbang a. Bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggarannya negara hukum Republik Indonesia;

b. Bahwa kekuasaan kehakiman tersebut dilakukan oleh badan-badan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara yang berpuncak pada Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap jalannya peradilan serta tingkah laku perbuatan hakim;

c. Bahwa dengan memperhatikan kedudukan dan peran Mahkamah Agung seperti tersebut

(8)

di atas, maka Mahkamah Agung menganggap perlu ditetapkannya perbaikan pengaturan lebih lanjut yang mantap, jelas dan tegas tentang Pedoman Pelaksanaan Togas dan Administrasi Pengadilan;

d. Bahwa ketentuan-ketentuansebagaimanadihimpun dalam Buku II tentang Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan dianggap memenuhi syarat dipakai oleh Mahkamah Agung;

e. Bahwa untuk itu perlu memerintahkan kepada semua pejabat struktural dan fungsional beserta segenap aparat peradilan untuk melaksanakan Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan sebagaimana tersebut dalam Buku II secara seragam, disiplin, tertib dan bertanggung jaw ab.

f. Bahwa pelaksanaan isi ketentuan dalam Buku II tentang Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan mulai berlaku sejak tanggal Keputusan ini; Mengingat

vi

I. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahon 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5

Tahon 2004 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 14 Tahon 1985tentang Mahkamah Agong;

3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2004·

'

3. Keputusan Ketua Mahkamah Republik Indonesia Nomor : KMA/076/SKNIIl/2004 Tahon 2004 tanggal 25 Agostus 2004 tentang Pembentokan

(9)

Tim Pembuatan Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Hakim dan Revisi Buku I, II, III;

MEMUTUSKAN : Menetapkan PERfAMA KEDUA KEflGA KEEMPAT

Memberlakukan Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan

Memerintahkan kepada semua pejabat struktural dan fungsional beserta aparat peradilan untuk melaksanakan Pedoman Pelaksanaan Togas dan Administrasi Pengadilan sebagaimana tersebut dalam Buku II secara seragam, disiplin, tertib dan bertanggungjawab;

Pimpinan Mahkamah Agung, Hakim Agung, semua pejabat struktural dan fungsional ditugaskan untuk mengawasi pelaksanaan Buku II tersebut serta melaporkan secara periodik kepada Ketua Mahkamah Agung;

Pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam butir kedua tersebut di atas berlaku sejak tanggal Keputusan ini ditetapkan;

Ditetapkan : JAKARTA

Pada tanggal : 4 April 2006

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA,

PROF. DR. BAGIR MANAN, SH.MCL.

(10)
(11)

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Nomor : 012/KMA/SK/II/2007 Tentang

PEMBENTUKAN TIM PENYEMPURNAAN BUKU I, BUKU II, BUKU III DAN BUKU TENTANG

PENGAWASAN (BUKU IV)

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang a. Bahwa Pasal 2 dan Pasal 10 ayat (2), Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menetapkan, Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya, merupakan salah satu Pelaku Kekuasaan Kehakiman;

b. Bahwa Kekuasaan Kehakiman tersebut dilakukan oleh badan-badan Peradilan Umurn, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara yang berpuncak pada Mahkamah Agung untuk melakukan pengawasan tertinggi terhadap jalannya peradilan;

c. Bahwa dengan memperhatikan kedudukan dan peran Mahkamah Agung perlu menyempumakan Buku I, Buku II, Buku III dan Buku tentang Pengawasan (Buku IV);

(12)

Mengingat

Menetapkan PEIUAMA

x

d. Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, dipandang perlu membentuk Tim yang ditugaskan menyempumakan dan mengkaji serta meneliti Buku I, Buku II, Buku III dan Buku tentang Pengawasan (Buku IV) tersebut;

e. Bahwa nama-nama yang tersebut dibawah inl, dipandang mampu dan untuk diserahi togas dan tanggung jawab dalam kegiatan tersebut

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahon 2004 tentang kekuasaan Kehakiman;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahon 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahon 2004;

MEMUTUSKAN :

Menbentuk Tim Penyempumaan dan Pengkajian Buku I, Buku II, Buku III dan Buku tentang Pengawasaan (Buku IV) dengan susunan sebagai berikut :

Penanggung jawab: MARIANNA SUTADI, SH.

{Wakil Ketua Mahkamab Agung

Bidang Yudisial)

Bendahara DERMA WANS. DJAMIAN, SH., MH., CN.

(Kepala Biro Keuangan MA-RI)

Sekretaris ALBERflNA HO, SH.

(Askor

nm

Bl)

I. Tim Ketua Muda Perdata :

Ketua : DR. HARIAN A. TUMPA, SH., MH.

(Ketua Muda Perdata MA-RI)

Anggota : I. Atja Sondjaja, SH.

(Hakim Agung MA-RI)

2. Andi Samsan Nganro, SH., MH.

(13)

3. Haryanto, SH.

(KPN. Jakarta Barat)

4. Supamo, SH.

(KPT. Bandung)

5. Pri Pambudi Teguh, SH., MH.

(Askor 1im F) 2. Tim Ketua Muda Pidana :

Ketua : H. PARMAN SOEPARMAN, SH., MH.

(Ketua Muda Pidana MA-RI)

Anggota : 1. Sarehwiyono M., SH., MH.

(Panitera Mahkamab Agung Rf)

2. H. Soewardi, SH.

(Wk. PT. DK/ Jakarta)

3. MD. Pasaribu, SH., MH.

(Panitera Muda Pidana)

4. Andriani Nordin, SH.,

(Ketua PN. Jakarta Pusat)

5. Torowa Daeli, SH., MH.

(Askor 1im G)

3. Tim Ketua Muda ULDILAG :

Ketua : Drs. H. ANDI SYAMSU ALAM, SH., MH.

(Ketua Muda UWJLAG MA-RI)

Anggota : 1. Dr. Abdul Manan, SH., S.IP., M.Hum.

(Hakim Agung MA-RI)

2. Ors. H. Habiburrahman, SH., M.Hum.

(Hakim Agung MA-RI)

3. Drs. H. Zainuddin Fajari, SH., MH.

(Direktur Pranata dan Tata Laksana Perkara Peradilan Agama)

4. Ors. H. Hasan Bisri, SH., M.Hum.

(Panitera Muda Perdata Agama)

5. Ors. H. Edy Riadi, SH., MH.

(Askor 1im B 2)

4. Tim Ketua Muda ULDILMIL

Ketua : GERMAN HOEDIARfO, SH

(Ketua Muda UWILMIL MA-RI)

(14)

Anggota 1. Sonson Basar, SH.

(Dirjen. Badan Peradilan Militer dan

TUN )

2. S. Elgin, SH., M.KN.

(Direktur Pembinaan Tenaga Tehnis dan Administrasi Peradilan Militer; Dirjen

Badilmiltuny

3. H. Sannan Mulyana, SH.

(Direktur Pranata dan Tata Laksana

Perakara Pidana Militer Dlrjen

Badilmiltun)

4. Hj. Reflinar Nunnan SH., M.Hum.

(Panitera Muda Pidana Militer pada MA-RI)

5. Letkol CHK. Yaya Riswaya

(Kepala Subdit Pembinaan TeknisPerdilan Militer)

5. Tim Ketua Muda ULDILTUN

Ketua PROF. DR. PAULUS E. LOTULUNG, SH.

(Ketua Muda ULDILTUN MA-Rf)

Anggota I. H. Imam Soebechi, SH., MH.

(Hakim Agung MA-Rf)

2. H. Soemaryono, SH.

(Hakim Tinggi TUN Jakarta)

3. H. Kadar Slamet, SH.

(Wakil Ketua PTUN Jakarta)

6. Tim Ketua Muda Pidana Khusus Ketua ISKANDAR KAMIL, SH.

(Ketua Muda Pidana Khusus MA-Rf)

Anggota I. M. Bahaudin Qaudry, SH.

(Hakim Agung MA-RI)

2. Djoko Sarwoko, SH., MH.

(Hakim Agung MA-RI)

3. Suhadi, SH., MH.

(Ketua PN Tanggerang)

4. Rudi Suparmono, SH., MH.

(Hakim Yustisial pada MA-RI)

(15)

5. Mulyadi, SH., MH.

(Hakim Yusdisial pada MA-RI)

6. Susilo Atmoko, SH.

(Hakim Yustisial pada MA-RI)

7. Tim Ketua Muda Perdata Niaga:

Ketua H. ABDUL KADIR MAPPONG, SH.

(Ketua Muda Perdata Niaga MA-Rf)

Anggota l. DR. Abdurrahman, SH.

(Hakim Agung MA-RI)

2. Parwoto Wignjosumarto, SH.

(Panitera Muda Perdata Khusus pada MA-RI)

3. I Gusti Agung Sumanatha, SH.

(Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Diklat Hukum dan Peradilan MA-RI)

4. Cicut Sutiarso, SH., MH.

(KPN. Jakarta pusat)

5. Budiman Sijabat, SH., MH.

(Pansek PN Jakarta Pusat)

8. Tim Ketua Muda Pembinaan :

Ketua Ors. H. AHMAD KAMIL, SH., M.Hum. (Ketua Muda Pembinaan MA-RI)

Anggota l. Sabi Rusad, SH.

(Panitera Mahkamah Agung)

3. Subagyo, SH., MM.

(Kepala Badan Urusan Admtnistrasi MA-RI)

4. Anwar Usman, SH., MH.

(Kepala Badan Litbang Diktat Hukum dan Peradilan)

5. Abidin, SH.

(Kepala Biro Umum MA-Rf)

6. Drs. H.M. Fauzan, SH., MM., MH.

(Hakim Yustisial pada MA-RI)

(16)

9. Tim Ketua Muda Pengawasan

Ketua : GUNANTO SURYONO, SH. (Ketua Muda Pengawasan MA-RI) Anggota l. Ansyahrul, SH., M.Hum.

(Kepala Badan Pengawasan MA-Rf)

2. Lilik Srihartati, SH., M.Hum.

(Sekretaris Kepala Badan Pengawasan MA-RI)

3. T. Abdurrahman Husny, SH.

(Hakim 1inggillnspektur Wilayah W Badan

Pengawasan pada MA-RI)

4. Wahyu Rahardjo, SH.

(Hakim Tinggi Pengawasan pada MA•

R[)

5.

Ors. Bahrusam Yunus, SH., MH.

(Hakim Tinggi Pengawasan pada MA•

R[) 10. Sekretariat

Koordinator TRI DIANA WIDOWATI, SH., M.Pd.

(Kepala Biro Kesekretariatan pimpinan Mahkamah Agung) Operator I. Susetiyo, SH. 2. Makmur Sulaeman 3. Rohili 4. Ahmad Athoyari, SH. 5. Lasiman Suradi

KEDUA : Melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggungjawab dan melaporkan hasilnya kepada Ketua Mahkamah Agung RI.

KETIGA : Segala biaya yang bersangkutan dengan pelaksanaan tugas tersebut dibebankan kepada DIPA Mahkamah Agung RI. KEEMPAT : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan

(17)

diperbaiki sebagaimana mestinya apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan.

SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada : 1. Para Wakil Ketua Mahkamah Agung RI. 2. Para Ketua Muda Mahkamah Agung RI. 3. Sekretaris Mahkamah Agung RI.

4. Panitera Mahkamah Agung RI.

5. Kepala Badan Urusan Administrasi MA-RI.

6. Kepala Biro Keuangan MA-RI.

7. Yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : JAKARTA. Pada tanggal 05 Februari 2007

KETUA MAHAKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA,

BAGIR MANAN

(18)
(19)

a. Pendaftaran Perkara Tingkat Pertama ... 1

b.

Pendaftaran Perkara Tingkat Banding ... 4

c. Pendaftaran Perkara Kasasi ... 7

d. Pendaftaran Permohonan Peninjauan Kembali 12 e. Administrasi Biaya Perkara ... 14

f. Register Perkara ... 19

g. Laporan ... 21

Persiapan Persidangan ... 23

a. Penetapan Majelis Hakim ... 23

b.

Penunjukan Panitera Pengganti ... 25

c. Penetapan Harl Sidang ... 25

d. Pemanggilan para Pihak ... · 26

DAFTAR ISI Kata Pengantar ………..iii

Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : KMA/032/SK/IV /2007 Tentang : Memberlakukan Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan ……….v

Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 012/KMA/SK/11/2007 Tentang : Pembentukan Tim Penyempumaan Buku I, Buku II, Buku III dan Buku Tentang Pengawasan (Buku IV) ……….vii

Daftar lsi xvii

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR'IV AH I. TEKNIS ADMINISTRASI ... 1

A. PENGADILAN AGAMA ... 1

1. Penerimaan Perkara ... 1

2.

(20)

3. Pelaksanaan Persidangan... 29

a Ketentuan Umum Persidangan 29 b.

Berita

Acara Persidangan.. .. ... .. .. . . . . 31

c. Rapat Permusyawaratan Majelis... 32

d. Putusan... 3 2 e. Pemberitahuan Isi Putusan... 33

f. Minutasi Berkas Perkara .. .. . . . .. . .. . . .. . .. . . .. .. . .. 3 3 g. Penyampaian Salinan Putusan 33 4. Bundel... 34

s.

Pengarsipan... 38

B. PENGADILANTINGGI AGAMA 40

I . Pendaftaran Perkara Banding . . . . . .. .. . . .. . . 40

a Penerimaan Berkas Perkara . .. .. .. .. .. . . ... ... . 40

b. Administrasi Biaya Perkara Banding... 41

c. Registrasi Perkara 43

2. Persiapan Persidangan... .. .. 45

3. Pemberkasan Perkara Banding... 45

4. Laporan... 47

5. Arsip Berkas Perkara Banding... 48

II. TEKNIS PERADILAN 50

A. Kedudukan dan Wewenang Pengadilan Agarna/ Mahkamah Syar'iyah 50

I. Kedudukan... 50

2. Dasar Hukum .. . . .. . . .. . . . .. .. . . . 50

3. Kewenangan Peradilan Agama/Mahkamah Syar'iyah... 51

4. Hukum Materil bagi Pengadilan Agama!Mahkamah Syar'iyah... 52

5. Hukum Acara yang berlaku pada Pengadilan Agarna/Mahkamah Syar'iyah... 53

6. Asas Personalitas Keislaman... 53

(21)

7. Pilihan Hukum... 55 8. Sengketa Hak Milik

...

55 B. Pedoman Beracara pada Pengadilan Agama 56 1. Pedoman Umum 56 a. Perm.ohonan 56 b. Gugatan 58 c. Perkara Prodeo 59 d. Wewenang Relatif... .. 60 e. Wewenang Absolut... 62 f. Kuasa/Wakil... 63 g. Perkara Gugur 65 h. Perkara Verstek... 67

1. Perlawanan Terhadap PutusanVerstek... 68

J. Pencabutan Gugatan 70

k. Perubahan Gugatan 70

I. Rekonvensi... 70

m. Kumulasi Gugatan 71

n. Masuknya Pihak Ketiga Dalam Proses

Perkara 72

o. Gugatan Perwakilan Kelompok... 74 p. Gugatan Untuk Kepentingan Umum . . . . .. . .. .. 78 q. Perdamaian... 79 r. Penggugat/f ergugat Meninggal Dunia 83 s. Pengunduran Sidang .. . . .. .. . 83 t. Hal-Hal Yg Dapat Terjadi Selama

Pemeriksaan Perkara .. . . .. . .. . . .. . .. . . 84 u. Tangkisan/Eksepsi . . .. .. . . .. . . 85 v. Pengunduran Diri Hakim... 86

w. Pembuktian 87

x. Sita Jaminan... 96 Y · Sita jaminan Terhadap Barang Milik

Tergugat 98

(22)

1) Poligami . .. . .. .. .. .. .. .. .. .. . . .. ..

2) Izin Kawin, dis pensa si Kawin da n W ali

z. Sita Terhadap Barang Milik Penggugat 100

aa. Sita Persamaan. 101

ab. Sita Harta Bersama 104

ac. Sita Eksekusi... 104 ad. Putusan Serta Merta... 105 ae. Putusan Provisi . . . . .... .. .. .. . . . .. . . .. . . . .. . .. . . 107 af. Aksekusi Grose Akte .. .. . .. .. .. .. 108 ag. Eksekusi Hak Tanggungan 109

I,.'.

ah. Eksekusi Jamioan... 113

ai. Eksekusi Putusan Yg BHT 115

aj. Lelang 118 ak. Perlawanan Terhadap Eksekusi 123

al. Perlawanan Pihak Ketiga .. .. 123

am. Penangguhan Eksekusi . . . .. . . . . . 126 an. Putusan Non Executable 127 ao. Penawaran Pembayaran Tunai Dan

Konsignasi... 127

2. Pedoman Khusus 129

a. Hukum Keluarga... 129

129

Adhal 133

3) Penolakan Perkawinan ex Pasal 21 UU No.l/1974 136 4) Pencegahan Perkawinan .. 13 8 5) Pembatalan Perkawinan .. 140 6) Itsbat Nikah. 142 7) Perkawinan Campuran . .. .. .. .. .. . . 148 8) Cerai Talak .. 150 9) Cerai Gugat 152 10) Harta Bersama 154 11) Talak Khuluk... 156 xx

(23)

12) Syiqaq ·... .. . . .. . . .. . . 156

13) Li'an 157

14) Asal Usul Anak 159

15) Pemeliharaan dan Nafkah Anak 162 16) Perwalian. .. . . 164

17) Pengangkatan Anak 165

b. Hukum Kewarisan 167

c. Wasiat clan Hibah... 180

d. Wakaf 181

e. Ekonomi Syari' ah . .. .. .. .. . . .. . . .. 183

f. Zak.at, Infaq dan Shadaqah... .. . . .. . . .. . . 184

g. Sengketa Kewenangan Mengadili 185 h. Itsbat Rukyat Hilal .. .. .. .. .. . .. .. .. .. . . .. . . 187 Lampiran I Berita Acara Tentang Pemyataan Kesediaan

Untuk Membayar 190

Lampiran II Berita Acara Pemberitahuan Akan Dilakukan Penyimpanan/Konsignasi di Kas Kepaniteraan... .. .. 192 Lampiran III Berita Acara Penyimpanan/Konsignasi . 194

(24)
(25)

PEDOMAN TEKNIS

ADMINISTRASI DAN PERADILAN

PENGADILAN AGAMA

I

MAHKAMAH SYAR'IYAH

I. TEKNIS ADMINISTRASI

A. PENGADILAN AGAMA 1. Penerimaan Perkara

a. Pendaftaran Perkara Tingkat Pertama

1) Petugas Meja I menerima gugatan, permohonan, verzet, pennohonan banding, permohonan kasasi, pennohonan peninjauan kembali, permohonan eksekusi dan perlawanan pihak ketiga (derden verzet).

2) Perlawanan atas putusan verstek (verzet) tidak didaftar sebagai perkara baru clan Pelawan dibebani biaya untuk pemanggilan clan

pemberitahuan pihak-pihak yang ditaksir oleh petugas Meja I.

3) Perlawanan pihak ketiga (derden verzet) didaftar sebagai perkara baru dalam register gugatan.

4) Dalam pendaftaran perkara, dokumen yang perlu

diserahkan kepada petugas Meja I adalah :

a) Surat gugatan atau surat permohonan yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama yang berwenang.

b) Surat kuasa khusus (dalam haI Penggugat atau pemohon menguasakan kepada pihak lain). c) Fotokopi kartu anggota advokat bagi yang

menggunakan jasa advokat.

(26)

d) Bagi kuasa insidentil, harus ada surat keterangan tentang hubungan keluarga dari

Kepala Desa/Lurah dan/atau surat izin khusus

dari atasan bagi PNS dan anggota 1NI/POLRI

(Surat Edaran TUADA ULDILTUN MARI

No. MAIKUMDIL/8810/1987).

e) Salinan putusan (untuk permohonan eksekusi). t) Salinan surat-surat yang dibuat di luar negeri harus disahkan oleh Kedutaan/Perwakilan Indonesia di negara tersebut, dan harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerjemah yang disumpah.

5) Surat gugatan/permohonan diserahkan kepada petugas Meja I sebanyak jumlah pihak, ditambah 3 (tiga) rangkap termasuk asli untuk majelis.

6) Petugas Meja I menerima dan memeriksa keleng• kapan berkas dengan menggunakan daftar periksa

(check list).

7) Petugas Meja I menaksir panjar biaya perkara atas dasar Surat Keputusan Ketua Pengadilan Agama, 8) Perincian panjar biaya perkara tersebut harus

ditempel pada papan pengumuman Pengadilan Agama.

9) Dalam penaksiran panjar biaya perkara perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a). Jumlah pihak-pihak yang berperkara.

b). Jarak tempat tinggal dan kondisi daerah para pihak.

c). Dalam perkara cerai talak harus diperhitungkan juga biaya pemanggilan para pihak untuk

sidang ikrar talak.

(27)

10) Setelah menaksir panjar biaya perkara, petugas Meja I membuat Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) dalam rangkap 3 (tiga) :

a) Lembar pertama untuk Penggugat/Pemohon. b) Lembar kedua untulc Pemegang Kas.

c) Lembar ketiga dilampirkan dalam berkas gugatan/ permohonan.

11) Petugas Meja I mengembalikan berkas kepada Penggugat/ Pemohon untuk diteruskan kepada Pemegang Kas.

12) Penggugat/Pemohon membayar uang panjar biaya perkara yang tercantum dalam SKUM ke Bank. 13) Pemegang Kas menerima bukti setor ke Bank dari

Penggugat/Pemohon clan membukukannya dalam Buku Jurnal keuangan perkara.

14) Pemegang Kas membubuhkan cap tanda lunas dan memberi nomor pada SKUM.

15) Nomor halaman Buku Jurnal adalah nomor urut perkara yang kemudian dicantumkan dalam SKUM clan lembar pertama surat gugatan/ permohonan.

16) Pemegang Kas menyerahkan berkas perkara kepada Penggugat/Pemohon agar didaftarkan kepada petugas Meja II

17) Petugas Meja Il mencatat perkara tersebut dalam Buku Register induk gugatan/pennohonan sesuai dengan nomor perkara yang tercantum pada SKUM.

18) Petugas Meja II menyerabkan satu rangkap surat gugatan/ permohonan yang telah terdaftar berikut

(28)

SKUM rangkap pertama kepada Penggugat/ Pemohon.

19) Petugas Meja II memasukkan berkas surat gugatan/ permohonan tersebut dalam map berkas

perkara clan menyerahkannya kepada Wakil Panitera untuk disampaikan kepada Ketua Pengadilan Agama melalui Panitera.

b. Pendaftaran Permohonan Banding

1) Permohonan banding didaftarkan kepada petugas Meja I.

2) Permohonan banding dapat diajukan dalam waktu

14 hari setelah putusan diucapkan atau setelah diberitahukan dalam hal putusan tersebut diucapkan di luar hadir.

3) Penghitungan waktu 14 hari dimulai pada bari

berikutnya (besoknya) setelah putusan diucapkan atau setelah putusan diberitahukan, dan apabila hari ke-14 (keempat belas) jatuh pada hari libur, maka diperpanjang sampai hari kerja berikutnya 4) Terhadap permohonan banding yang diajukan

melampaui tenggat waktu tersebut di atas tetap dapat diterima dan dicatat, kemudian Panitera membuat surat keterangan bahwa permohonan banding telah lampau waktu.

5) Petugas Meja I menentukan besarnya panjar biaya banding yang dituangkan dalam SKUM, yang terdiri dari :

a) Biaya banding yang dikirimkan ke Pengadilan Tinggi Agama.

(29)

b) Ongkos pengiriman biaya banding melalui Bank/Kantor Pos.

c) Biaya fotokopi/penggandaan dan pemberkasan. d) Ongkos pengiriman berkas perkara banding. e) Ongkos jalan petugas pengiriman.

f) Biaya-biaya pemberitahuan, yang berupa : ( 1) biaya pemberitahuan akta banding. (2) biaya pemberitahuan memori banding. (3) biaya pemberitahuan kontra memori

banding.

(4) biaya pemberitahuan memeriksa berkas

(inzage) bagi pembanding.

(5) biaya pemberitahuan memeriksa berkas

(inzage) bagi terbanding.

(6) biaya pemberitahuan amar putusan bagi pembanding.

(7) biaya pemberitahuan amar putusan bagi terbanding.

6) Berkas perkara banding yang telah lengkap dibuatkan SKUM dalam rangkap tiga :

a) lembar pertama untuk pemohon banding. b) lembar kedua untuk Pemegang Kas.

c) lembar ketiga dilampirkan dalam berkas pennohonan banding.

7) Petugas Meja I menyerahkan berkas permohonan banding yang dilengkapi dengan SKUM kepada pihak yang bersangkutan untuk membayar uang panjar yang tercantum dalam SKUM kepada Pemegang Kas.

(30)

8) Pemegang Kas setelah menerima uang panjar biaya perkara banding harus menandatangani dan membubuhkan cap lunas pada SKUM.

9) Pemegang Kas kemudian membukukan uang panjar biaya perkara banding yang tercantum pada SKUM dalam Buku Jurnal Keuangan Perkara Banding.

10) Pemyataan banding dapat diterima apabila panjar biaya perkara banding yang ditentukan dalam SKUM telah dibayar lunas.

11) Apabila panjar biaya perkara banding telah dibayar lunas, Panitera membuat akta pemyataan banding dan mencatat permohonan banding tersebut dalam Buku Register Induk Perkara Gugatan dan Buku Register Permohonan Banding.

12) Permohonan banding dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja harus telah diberitahukan kepada pihak lawan.

13) Tanggal penerimaan memori banding dan kontra memori banding harus dicatat dalam Buku Register Induk Perkara dan Buku Register Permo• honan Banding, kemudian salinannya disampaikan kepada masing-masing lawannya dengan membuat

Relaas pemberitahuan/penyerahannya.

14) Sebelum berkas perkara dikirim ke Pengadilan Tinggi Agama harus diberikan kesempatan kepada kedua belah pihak untuk memeriksa berkas perkara (inzage) dan hal itu dituangkan dalam akta.

15) Dalam waktu 30 hari sejak permohonan banding diajukan, berkas perkara banding berupa bundel A

(31)

clan bundel B harus sudah dikirim ke Pengadilan Tinggi Agama.

16) Biaya perkara banding untuk Pengadilan Tinggi Agama harus dikirim melalui Bank/Kantor Pos dan tanda bukti pengiriman uang harus dikirim bersamaan dengan berkas yang bersangkutan. 17) Ketua Pengadilan Agama harus membaca putusan

banding dengan cermat dan teliti sebelum menyampaikan kepada para pihak.

18) Fotokopi Relaas pemberitahuan amar putusan banding dikirimkan kepada Pengadilan Tinggi Agama

c. Pendaftaran Perkara Kasasi

1) Permohonan Kasasi didaftarkan kepada petugas Meja I.

2) Permohonan kasasi dapat diajukan dalam waktu 14 hari setelah putusan diucapkan atau setelah pemberitahuan amar putusan.

3) Penghitungan waktu 14 hari dimulai pada hari berikutnya (besoknya) setelah putusan diucapkan atau setelah putusan diberitahukan, clan apabila hari ke-14 (keempat belas) jatuh pada hari libur, maka diperpanjang sampai hari kerja berikutnya. 4) Petugas Meja I menentukan besarnya panjar biaya

kasasi yang dituangkan dalam SKUM, yang terdiri dari:

a) Biaya perkara kasasi yang dikirim ke Mahkamah Agung R.I.

b) Ongkos pengiriman biaya perkara kasasi. c) Biaya pemberitahuan akta kasasi.

(32)

d) Biaya pemberitahuan memori kasasi. e) Biaya pemberitahuan kontra memori kasasi.

f) Biaya pemberitahuan memeriksa berkas

(inzage) bagi Pemohon Kasasi.

g) Biaya pemberitahuan memeriksa berkas

(inzage) bagi Tennohon Kasasi.

h) Biaya fotokopi/penggandaan dan pemberkasan.

i) Ongkos pengiriman berkas perkara kasasi. j) Ongkos jalan petugas pengiriman.

k) Biaya pemberitahuan amar putusan kasasi kepada Pemohon Kasasi.

I) Biaya pemberitahuan amar putusan kasasi kepada Termohon Kasasi.

5) Berkas permohonan kasasi yang telah lengkap dibuatkan SKUM dalam rangkap tiga:

a) Lembar pertama untuk Pemohon Kasasi. b) Lembar kedua untuk Pemegang Kas.

c) Lembar ketiga dilampirkan dalam berkas permohonan kasasi.

6) Petugas Meja I menyerahkan berkas permohonan kasasi yang dilengkapi dengan SKUM kepada pihak yang bersangkutan agar membayar uang panjar biaya perkara kasasi yang tercantum dalam SKUM kepada Pemegang Kas.

7) Pemegang Kas setelah menerima pembayaran panjar biaya perkara kasasi hams menandatangani dan membubuhkan cap Iunas pada SKUM.

8) Permohonan kasasi dapat diterima apabila panjar biaya perkara kasasi yang tercantum dalam SKUM telah dibayar lunas.

(33)

9) Pemegang Kas membukukan uang panjar biaya kasasi yang tercantum dalam SKUM pada Buku Jurnal keuangan perkara kasasi.

10) Apabila panjar biaya perkara kasasi telah dibayar

lunas, maka Panitera pada hari itu juga membuat akta permohonan kasasi yang dilampirkan pada berkas perkara dan mencatat pennohonan kasasi tersebut dalam Buku Register Induk Perkara dan Buku Register Pennohonan Kasasi.

11) Permohonan kasasi yang telah terdaftar, dalam waktu 7 (tujuh) hari harus telah diberitahukan kepada pihak lawan.

12) Memori kasasi, selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sesudah permohonan kasasi terdaftar, harus sudah diterima pada kepaniteraan Pengadilan Agama, Apabila dalam waktu tersebut memori kasasi belum diterima, Pemohon Kasasi dianggap tidak menyerahkan memori kasasi. Penghitungan

14 (empat belas) hari tersebut sama dengan pada angka 3 di atas.

13) Panitera memberikan tanda terima atas penerimaan memori kasasi clan dalam waktu selambat• lambatnya 7 (tujuh) hari salinan memori kasasi harus diberitahukan kepada pihak lawan.

14) Kontra memori kasasi selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah diberitahukannya memori kasasi, harus sudah disampaikan kepada kepaniteraan Pengadilan Agama untuk diberitahukan kepada pihak lawan.

15) Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah menerima kontra memori kasasi, Pengadilan Agama membe-

(34)

ritahukan kepada pihak yang berperkara untuk memeriksa berkas perkara (inzage) dengan dibuatkan Relaas pemberitahuan.

16) Para pihak dapat memeriksa berkas perkara

(inzage) selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sejak

diterimanya pemberitahuan dengan dibuatkan alcta pemeriksaan berkas (inzage).

17) Dalam waktu 60 hari sejak permohonan kasasi diajukan, berkas permohonan kasasi berupa bundel A dan bundel B harus dikirim ke Mahkamah Agung.

18) Apabila syarat formal permohonan kasasi tidak dipenuhi oleh Pemohon Kasasi, berkas perkaranya tidak dikirimkan ke Mahkamah Agung (Pasal 45 A ayat (3) UU No. 5 Tahun 2004).

19) Yang dimaksud dengan syarat formal permohonan kasasi adalah tenggang waktu permohonan kasasi, pemyataan kasasi, panjar biaya perkara kasasi dan memori kasasi, yang ditentukan dalam Pasal 46 dan 47 UU No. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004.

20) Panitera Pengadilan Agama membuat surat keterangan bahwa permohonan kasasi tersebut tidak memenuhi syarat formal.

21) Berdasarkan surat keterangan Panitera tersebut dan

setelah meneliti kebenarannya, Ketua Pengadilan Agama membuat penetapan yang menyatakan bahwa pennohonan kasasi tersebut tidak dapat diterima.

22) Salinan penetapan Ketua Pengadilan Agama tersebut pada butir 21 di atas diberitahukan/

(35)

'

disampaikan kepada para pihak sesuai ketentuan yang berlaku.

23) Dengan dikeluarkannya penetapan Ketua Pengadilan Agama tersebut, maka putusan yang dimohonkan kasasi menjadi berkekuatan hukum

tetap dan terhadap penetapan ini tidak dapat

dilakukan upaya hukum.

24) Petugas Kepaniteraan mencatat kode "TMS" (tidak memenuhi syarat formal) dalam kolom keterangan pada Buku lnduk Register Perkara.

25) Ketua Pengadilan Agama melaporkan permo-

honan kasasi yang tidak memenuhi syarat formal dengan dilampiri penetapan tersebut ke Mahkamah Agung.

26) Biaya permohonan kasasi untuk Mahkamah Agung

dikirim oleh Pemegang Kas melalui Bank BRI

Cabang Veteran-JI. Veteran Raya No. 8 Jakarta

Pusat Rekening Nomor 31.46.0370.0 dan bukti pengirimannya dilampirkan dalam berkas perkara yang bersangkutan.

27) Tanggal penerimaan memori kasasi dan kontra

memori kasasi hams dicatat dalam Buku Register lnduk Perkara dan Buku Register Permohonan Kasasi.

28) Ketua Pengadilan Agama hams membaca putusan

kasasi dengan cermat dan teliti sebelum

menyampaikan kepada para pihak.

29) Fotokopi Relaas pemberitahuan amar putusan

kasasi dikirim ke Mahkamah Agung.

(36)

d. Pendaftaran Permohonan Peninjauan Kembali

I) Permohonan peninjauan kembali didaftarkan kepada petugas Meja I.

2) Permohonan peninjauan kembali dapat diajukan dalam waktu 180 hari setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap atau sejak ditemukannya bukti baru (novum).

3) Petugas Meja I menentukan besarnya panjar biaya peninjauan kembali yang dituangkan dalam SKUM, yang terdiri dari :

a) Biaya perkara peninjauan kembali yang dikirimkan ke Mahkamah Agung.

b) Ongkos pengiriman biaya perkara peninjauan kembali melalui Bank/Kantor Pos.

c) Biaya pemberitahuan pemyataan dan alasan peninjauan kembali.

d) Biaya pemberitahuan jawaban atas permo• honan dan alasan peninjauan kembali.

e) Biaya fotokopi/penggandaan dan pemberkasan. f) Ongkos pengiriman berkas perkara peninjauan

kembali.

g) Ongkos jalan petugas pengiriman.

h) Biaya pemberitahuan amar putusan peninjauan kembali kepada Pemohon Peninjauan Kembali. i) Biaya pemberitahuan amar putusan peninjauan kembali kepada Tennohon Peninjauan Kembali.

4) Berkas perkara yang telah lengkap dibuatkan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) dalam rangkap tiga, masing-masing:

(37)

a) Lembar Pertama untuk Pemohon Peninjauan Kembali

b) Lembar kedua untuk Pemegang Kas.

c) Lembar ketiga dilampirkan dalam berkas permohonan peninjauan kembali.

5) Petugas Meja I menyerahkan berkas permohonan peninjauan kembali yang dilengkapi dengan SKUM kepada pihak yang bersangkutan agar membayar biaya yang tercantum dalam SKUM kepada Pemegang Kas.

6) Pemegang Kas menandatangani dan membubuh•

kan cap lunas pada SKUM setelah menerima

pembayaran biaya tersebut.

7) Permohonan peniniauan kembali clapat diterima . apabila panjar biaya perkara yang ditentukan

clalam SKUM telah dibayar lunas.

8) Pemegang

Kas membukukan uang panjar biaya

perkara yang tercantum pada SKUM dalam Buku Jurnal Permohonan Peninjauan Kembali.

9) Apabila panjar biaya perkara telah dibayar lunas, Pengadilan Agama pada hari itu juga membuat akta permohonan peniniauan kembali yang dilampirkan pada berkas perkara clan mencatat permohonan peniajauan kembali tersebut dalam

Buku Register Induk Perkara dan Buku Register

Peninjauan Kembali.

10) Selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas)

hari, Panitera memberitahukan permohonan

peninjauan kembali kepada pihak lawan dengan memberikan salinan permohonan peninjauan kembali beserta alasan-alasannya.

(38)

11) Selambat-Iambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak alasan peninjauan kembali diterima, jawaban atas alasan peninjauan kembali harus sudah diserahkan di kepaniteraan Pengadilan Agama untuk disampaikan kepada pihak lawan.

12) Jawaban atas permohonan dan alasan peninjauan kembali yang diterima di kepaniteraan Pengadilan Agama harus dibubuhi hari dan tanggal penerimaan yang dinyatakan di atas surat jawaban tersebut.

13) Dalam waktu 30 hari setelah menerima jawaban tersebut, berkas permohonan peninjauan kembali berupa bundel A dan bundel B harus dikirim ke Mahkamah Agung.

14) Ketua Pengadilan Agama harus membaca putusan peninjauan kembali dengan cermat dan teliti sebelum menyampaikan kepada para pihak.

15) Fotokopi Relaas pemberitahuan amar putusan peninjauan kembali supaya dikirim ke Mahkamah Agung.

e. Administrasi Biaya Perkara

1) Pemegang Kas melaksanakan tugas-tugas adminis- trasi biaya perkara.

2) Biaya administrasi untuk perkara gugatan/ permohonan dikeluarkan pada saat telah diterimanya panjar biaya perkara.

3) Hak-hak kepaniteraan yang berupa biaya pencatatan juga dikeluarkan setelah diterimanya panjar biaya perkara.

(39)

4) Biaya meterai clan redaksi dikeluarkan pada saat perkara diputus.

5) Pengeluaran uang hak-hak kepaniteraan yang lain dilakukan menurut ketentuan yang berlaku.

6) Semua pengeluaran uang yang merupakan hak-hak kepaniteraan adalah sebagai pendapatan negara. 7) Seminggu sekali Pemegang K.as menyerahkan

uang hak-hak kepaniteraan kepada bendaharawan penerima untuk disetorkan ke kas negara. Setiap penyerahan, besarnya uang dicatat dalam kolom 19 KI-PA8 dengan dibubuhi tanggal clan tanda tangan serta nama Bendaharawan Penerima.

8) Pengeluaran uang yang diperlukan bagi penyeleng• garaan peradilan untuk ongkos-ongkos panggilan, pemberitahuan, pelaksanaan sita, pemeriksaan setempat, sumpah, penerjemah, dan eksekusi harus dicatat dengan tertib dalam masing-masing buku jurnal.

9) Ongkos-ongkos tersebut dapat dikeluarkan atas keperluan yang nyata sesuai dengan jenis kegiatan tersebut.

10) Pemegang Kas mencatat penerimaan dan

pengeluaran uang setiap hari dalam buku jurnal yang bersangkutan dan mencatat dalam buku kas bantu yang dibuat rangkap dua, lembar pertama disimpan oleh Pemegang Kas dan lembar kedua diserahkan kepada panitera sebagai laporan.

11) Panitera atau petugas yang ditunjuk dengan surat keputusan Ketua Pengadilan Agama, mencatat dalam Buku Induk Keuangan Perkara yang bersangkutan.

(40)

12) Buku Keuangan Perkara terdiri dari :

a) Buku Jurnal Perkara Gugatan (KI-PAl/G). b) Buku Jurnal Perkara Permohonan (KI-PAl/P). c) Buku Jumal Permohonan Banding (KI-PA2).

d) BukuJumal Pennohonan Kasasi (KI- PA3). e) Buku Jumal Pennohonan Peninjauan

Kembali (KI-PA4). f) Buku Jumal Permohonan Eksekusi (KI-PAS). g) Buku Induk Keuangan Perkara (KI-PA6). h) Buku Keuangan Biaya Eksekusi (KI-PA7). i) Buku Penerimaan Uang Hak-hak

Kepaniteraan (KI-PA8). j) Buku Jumal Biaya Penyitaan (KI-PA9).

k) Buku Keuangan Konsinyasi (K.1-PAlO) 13) Buku Jurnal Keuangan Perkara digunakan untuk

mencatat semua kegiatan penerimaan dan pengeluaran biaya untuk setiap perkara :

a) Untuk perkara tingkat pertama (gugatan dan permohonan) dimulai dengan penerimaan panjar clan ditutup pada tanggal perkara diputus.

b) Untuk perkara banding, kasasi, dan peninjauan kembali dimulai dengan penerimaan panjar dan ditutup pada tanggal pemberitahuan putusan pada tingkat masing-masing kepada para pihak. c) Permohonan eksekusi dimulai dengan peneri•

maan panjar dan ditutup pada tanggal selesai pelaksanaan eksekusi.

14) Bukujumal diberi nomor halaman, halaman pertama clan terakhir ditandatangani Ketua Pengadilan Agama dan halaman lainnya diparaf.

(41)

15) Banyaknya halaman pada setiap buku jurnal dinyatakan oleh Ketua Pengadilan Agama pada halaman awal dan keterangan tersebut clitanda• tangani oleh Ketua Pengadilan Agama.

16) Buku lnduk Keuangan Perkara digunakan untuk mencatat seluruh kegiatan penerimaan dan penge• luaran dari seluruh perkara (kecuali permohonan eksekusi), dan dicatat menurut urutan tanggal penerimaan dan pengeluaran dalam Buku Jumal yang terkait, yang climulai setiap awal bulan dan ditutup pada akhir bulan.

17) Buku Keuangan Biaya Eksekusi digunakan untuk mencatat seluruh kegiatan penerimaan clan

pengeluaran eksekusi menurut urutan tanggal penerimaan dan pengeluaran dalam Buku Jumal Eksekusi.

18) Buku Penerimaan Uang Hak-hak Kepaniteraan, cligunakan untuk mencatat penerimaan uang hak-hak kepaniteraan, dan dalam kolom keterangan cliisi dengan tanggal, jumlah uang yang disetor, serta tanda tangan dan nama Bendaharawan Penerima. 19) Buku Keuangan Biaya Penyitaan cligunakan untuk

mencatat kegiatan penerimaan dan pengeluaran penyitaan.

20) Buku Induk Keuangan Perkara, Buku Keuangan Biaya Eksekusi dan Buku Penerimaan Uang Hak- hak Kepaniteraan diberi nomor balaman. Halaman pertama clan terakhir ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Agama dan halaman lainnya diparaf. 21) Banyaknya halaman clan adanya tandatangan serta

paraf tersebut diterangkan pada halaman awal dari

(42)

masing-masing buku, clan keterangan tersebut ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Agama,

22) Penutupan Buku Induk Keuangan Perkara dan Buku Keuangan Biaya Eksekusi dilakukan oleh Panitera dan diketahui oleh Ketua Pengadilan Agama.

23) Pada setiap penutupan Buku lnduk Keuangan tersebut, harus dijelaskan sisa uang menurut buku kas, sisa uang dalam kas maupun yang disimpan di Bank, serta perincian dari uang tersebut.

24) Apabila terdapat selisih antara jumlah uang menurut buku kas dengan uang kas sesungguhnya, maka harus dijelaskan alasan terjadinya selisih tersebut. 25) Ketua Pengadilan Agama sebelum menandatangani

Buku Induk Keuangan Perkara, harus meneliti kebenaran keadaan uang menurut buku kas dan menurut keadaan yang nyata, baik dalam brankas maupun yang tersimpan di Bank, dengan disertai bukti penyimpanan uang di Bank,

26) Ketua Pengadilan Agama setiap saat dapat memerintahkan Panitera untuk menutup Buku Induk Keuangan Perkara dan meneliti kebenaran setiap penerimaan dan pengeluaran uang perkara, sesuai dengan Buku Jurnal yang berkaitan, dan meneliti keadaan uang menurut buku kas dan uang yang ada dalam brankas maupun yang disimpan di Bank, disertai bukti- buktinya.

27) Penutupan Buku Induk Keuangan Perkara atas dasar perintah Ketua Pengadilan Agama tersebut di atas, hendaknya dilakukan secara mendadak sekurang- kurangnya 3 (tiga) bulan sekali, dengan dibuatkan

berita

acara pemeriksaan.

(43)

28) Buku Jumal dan Buku Induk Keuangan setiap tahun

harus diganti

dan tidak boleh digabung dengan tahun

sebelumnya

f. Register perkara

1) Pendaftaran perkara dalam Buku Register hams dilakukan dengan tertib clan cermat.

2) Buku Register perkara di Pengadilan Agama tercliri dari:

(a) Register Induk Perkara Gugatan. (b) Register Induk Perkara Permohonan. (c) Register Permohonan Banding. (d) Register Permohonan Kasasi.

(e) Register Permohonan Peninjauan Kembali. (f) Register Penyitaan Barang Bergerak. (g) Register Penyitaan Barang Tidak Bergerak. (h) Register Surat Kuasa Khusus.

(i) Register Eksekusi.

G)

Register Akta Cerai.

3) Buku Register diberi nomor halaman, halaman pertama dan terakhir ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Agama dan halaman lainnya diparaf.

4) Banyaknya halaman pada setiap Buku Register dinyatakan pada halaman awal dan keterangan tersebut ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Agama

5) Buku Register lnduk Perkara memuat seluruh data perkara dalam tingkat pertama, banding, kasasi, peninjauan kembali, dan eksekusi.

6) Buku Register

harus

diganti setiap tahun dan tidak

boleh digabung dengan tahun sebelumnya.

(44)

7) Buku Register Induk Perkara Gugatan clan Buku Register lnduk Perkara Permohonan ditutup setiap bulan. Nomor urut setiap bulan dimulai dari nomor I, sedangkan nomor perkara berlanjut untuk satu tahun.

8) Penutupan Buku Register setiap akhir bulan, ditandatangani oleh petugas register, dengan perincian sebagai berikut:

a) Sisa bulan lalu b) Masuk bulan ini

c) Putus bulan ini

d) Sisa bulan ini

: perkara : perkara : perkara

: perkara

9) Penutupan Buku Register setiap akhir tahun, ditandatangani oleh Panitera dan diketahui Ketua Pengadilan Agama, dengan perincian sebagai berikut:

a) Sisa tahun lalu : perkara b) Masuk tahun ini : perkara c) Putus tahun ini : perkara d) Sisa tahun ini : perkara

10) Buku Register Permohonan Banding, Register

Permohonan Kasasi, dan Register Permohonan Peninjauan Kembali ditutup setiap akhir tahun,

dengan rekapitulasi sebagai berikut:

a) Sisa tahun lalu : perkara b) Masuk tahun ini : perkara

c) Putus tahun ini : perkara

d) Sisa akhir tahun : perkara (I) Sudah dikirim : perkara (2) Belum dikirim : perkara

(45)

6) Laporan Keadaan Perkara berisi tentang keadaan perkara sejak diterima sampai diputus dan diminutasi.

7) Laporan Perkara yang Dimohonkan Banding berisi tentang keadaan perkara yang dimohonkan banding, mulai tanggal putusan, tanggal permohonan banding, sampai tanggal pengiriman berkas perkara ke Pengadilan Tinggi Agama.

8) Laporan Perkara yang Dimohonkan Kasasi berisi tentang keadaan perkara yang dimohonkan kasasi, mulai tanggal penerimaan berkas dari Pengadilan Tinggi Agama sampai dengan tanggal pengiriman berkas perkara ke Mahkamah Agung.

9) Laporan Perkara yang Dimohonkan Peninjauan Kembali berisi tentang keadaan perkara yang dimohonkan peninjauan kembali, mulai tanggal penerimaan berkas dari Mahkamah Agung atau Pengadilan Tinggi Agama sampai dengan tanggal pengiriman berkas perkara ke Mahkamah Agung. 10) Laporan Perkara yang Dimohonkan Eksekusi berisi

tentang keadaan perkara yang dimohonkan eksekusi, mulai tanggal permohonan eksekusi sampai dengan selesainya eksekusi.

ll)Perkara yang lebih dari 6 (enam) bulan sejak diterima ternyata belum diputus, harus disebutkan alasannya dalam kolom keterangan.

12) Perkara sebagaimana tersebut pada angka 1) huruf b) sampai dengan huruf e) di atas, tetap dilaporkan dalam setiap laporan sampai perkara diputus.

13) Laporan Kegiatan Hakim berisi tentang jumlah perkara yang diterima, diputus, sisa perkara, serta

(46)

g. Laporan

1) Laporan Pengadilan Agama terdiri dari :

a) Laporan Keadaan Perkara : L.I.PA. I b) Laporan Perkara yang Dimohonkan

Banding. : L.1.PA.2 c) Laporan Perkara yang Dimohonkan

Kasasi : L.I.PA.3 d) Laporan Perkara yang Dimohonkan PK : L.I.PA.4 e) Laporan Perkara yang Dimohonkan

Eksekusi : L.I.PA.5 f) Laporan Kegiatan Hakim : L.I.PA.6 g) Laporan Keuangan Perkara : L.I.PA. 7 h) Laporan Jenis Perkara. : L.I.PA.8 2) Asli laporan clikirim kepada Ketua Pengadilan

Tinggi Agama, sedangkan lembar kedua dikirimkan kepada Mahkamah Agung cq. Direktur Jendral

Badan Peradilan Agama,

3) Laporan Keadaan Perkara, Laporan Keuangan Perkara, dan Laporan Jenis Perkara dibuat setiap

akhir bulan dan harus diterima oleh Pengadilan

Tinggi Agama dan Mahkamah Agung selambat• lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya.

4) Laporan Perkara yang Dimohonkan Banding, Laporan Perkara yang Dimohonkan Kasasi, Laporan Perkara yang Dimohonkan Peninjauan Kembali dan Laporan Perkara yang Dimohonkan Eksekusi, dibuat setiap 4 (empat) bulan, yaitu pada akhir bulan April, Agustus, dan Desember.

5) Laporan Kegiatan Hakim dibuat setiap 6 bulan yaitu pada akhir bulan Juni dan Desember.

(47)

jumlah perkara yang sudah maupun yang belum

diminutasi.

14) Laporan tentang keadaan keuangan perkara harus sesuai dengan Buku Induk Keuangan Perkara.

15)Laporan LI-PAI sampai dengan LI-PA7 adalah laporan yang bersifat evaluasi, sebingga dari

laporan-laporan tersebut dapat dipantau tentang kegiatan para pejabat peradilan secara keseluruhan, baik Hakim maupun pejabat kepaniteraan yang berhubungan dengan jalannya penyelenggaraan peradilan.

16) Laporan LI-PA8 adalah laporan yang berisi tentang: a) jumlah danjenis perkara,

b) jumlah perkara yang diputus.

c) sisa perkara yang belum diputus pada setiap

akhir bulan.

17) Cara pengisian formulir laporan berpedoman kepada Petunjuk Pelaksanaan Pola BINDALMIN.

18)Tentang ekonomi syari'ah dan Mahkamah Syar'iyah akan dirumuskan dalam pedoman tersediri.

2. Peniapan Penidangan

a. Penetapan Majelis Hakim

1) Dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah proses registrasi diselesaikan, petugas Meja Il menyampaikan berkas gugatan/permohonan kepada wakil Panitera untuk disampaikan kepada Ketua Pengadilan Agama melalui Panitera dengan dilampiri formulir Penetapan Majelis Hakim (PMH).

(48)

2) Majelis Hakim harus terdiri dari tiga orang hakim

(kecuali undang-undang menentukan lain), dengan ketentuan:

a) Ketua clan Wakil Ketua Pengadilan Agama selalu menjadi Ketua Majelis.

b) Ketua Majelis Hakim hendaknya Hakim senior pada pengadilan tersebut, Senioritas tersebut didasarkan pada Iamanya seseorang menjadi

hakim.

c) Tiga orang hakim yang menempati urutan senioritas terakhir dapat salin~ menjadi Ketua Majelis dalam perkara yang berlainan.

d) Susunan Majelis Hakim hendaknya ditetapkan secara tetap untuk jangka waktu tertentu.

e) Untuk memeriksa perkara-perkara tertentu,

Ketua Pengadilan Agama dapat membentuk

majelis khusus.

f) Majelis Hakim clibantu oleh Panitera Pengganti dan Jurusita.

3) Ketua Pengadilan Agama selambat-Iambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kerja menetapkan Majelis Hakim yang akan menyidangkan perkara. 4) Apabila Ketua Pengadilan Agama karena

kesibukannya berhalangan untuk melakukan hal

itu, maka ia clapat melimpahkan tugas tersebut untuk seluruhnya atau sebagiannya kepada Wakil Ketua Pengadilan Agama atau Hakim senior yang bertugas di Pengadilan Agama itu.

5) Penetapan Majelis Hakim dicatat oleh petugas Meja II dalam Buku Register Induk Perkara.

(49)

b. Penunjukkan Panitera Pengganti.

1) Panitera menunjuk Panitera Pengganti untulc membantu Majelis Hakim dalam menangani perkara

2) Panitera Pengganti membantu Majelis Hakim dalam persidangan.

3) Penunjukan Panitera Pengganti dicatat oleh petugas Meja II dalam Buku Register Induk

Perkara.

e, Penetapan Bari Sidang

1) Perkara yang sudah ditetapkan Majelis Hakimnya segera diserahkan kepada Ketua Majelis Hakim yang ditunjuk dengan dilengkapi formulir Penetapan Harl Sidang (PHS).

2) Ketua Majelis Hakim setelah mempelajari berkas dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja harus sudah menetapkan hari sidang. Pemeriksaan perkara

cerai dilakukan selambat-lambatnya 30 (tiga

puluh) hari sejak tanggal surat gugatan didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan Agama.

3) Dalam menetapkan hari sidang, Ketua Majelis

Hakim harus memperhatikan jauh/dekatnya tempat tinggal para pihak yang berperkara dengan tempat persidangan.

4) Dalam menetapkan hari sidang, dimusyawarahkan

dengan para Anggota Majelis Hakim.

5) Setiap Hakim harus mempunyai jadwal persidangan yang lengkap clan dicatat dalam Buku Agenda Perkara masing-masing.

(50)

6) Daftar perkara yang akan disidangkan harus sudah clitulis oleh Panitera Pengganti pada papan pengumunan Pengadilan Agama sebelum persi• dangan dimulai sesuai nomor urut perkara.

1) Panitera Pengganti harus melaporkan hari sidang

pertama, penunclaan sidang beserta alasannya kepada petugas Meja II dengan menggunakan lembar instrumen.

8) Petugas Meja II hams mencatat laporan Panitera Pengganti tersebut dalam Buku Register Perkara.

d, Pemanggilan para pihak

1) Panggilan terhadap para pihak untuk menghadiri sidang dilakukan oleh Jurusita/Jurusita Pengganti kepada para pihak atau kuasanya di tempat tinggalnya.

2) Apabila para pihak tidak dapat ditemui di tempat tinggalnya, maka surat panggilan diserahkan kepada Lurah/Kepala Desa dengan mencatat nama penerima dan ditandatangani oleh penerima, untuk diteruskan kepada yang bersangkutan.

3) Tenggat waktu antara panggilan para pihak dengan hari sidang paling sedikit 3 (tiga) hari kerja

4) Surat panggilan kepada Tergugat untuk sidang pertama harus dilampiri salinan surat gugatan. Jurusita harus memberitahukan kepada pihak Tergugat bahwa ia boleh mengajukan jawaban tertulis yang diajukan dalam sidang.

5) Penyampaian salinan gugatan dan pemberitahuan bahwa Tergugat dapat mengajukan jawaban ter• tulis tersebut harus ditulis dalam

Relaas

panggilan.

(51)

6) Apabila tempat kediaman orang yang dipanggil tidak diketahui atau tidak mempunyai tempat kediaman yang jelas di Indonesia, maka pemang- gilannya dapat dilaksanakan dengan melihat jenis perkaranya, yaitu :

a) Perkara di bidang perkawinan.

(1) Pemanggilan dilaksanakan melalui satu atau beberapa surat kabar atau media massa lainnya yang ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Agama.

(2) Pengumuman melalui surat kabar atau media massa sebagaimana tersebut di atas harus dilaksanakan sebanyak dua kali dengan tenggat waktu antara pengumuman pertama dan kedua selama satu bulan. Tenggat waktu antara panggilan terakhir dengan persidangan ditetapkan sekurang- kurangnya tiga bulan.

(3) Dalam hal pemanggilan sudah dilaksa- nakan sebagaimana tersebut dan Tergugat atau kuasa hukumnya tidak hadir, maka

gugatan diterima tanpa hadirnya Tergugat,

kecuali apabila gugatan itu tanpa hak atau

tidak

beralasan.

(4) Apabila dalam persidangan pertama per- kara belum putus maka dalam persidangan berikutnya Tergugat/termohon tidak perlu

dipanggil lagi (Pasal 27 PP No. 9 Tahun 1975 jo Pasal 139 Kill).

(5) Apabila sebelum bari persidangan yang

telah ditetapkan Tergugat/termohon hadir

(52)

dan/atau diketahui tempat tinggalnya maka Penggugat/pemohon harus memperbaiki surat gugatan/permohonan sesuai dengan tempat tinggal Tergugat/termohon dan

selanjutnya panggilan disampaikan ke tempat tinggalnya.

b) Perkara yang berkenaan dengan harta kekayaaan.

(1) Pemanggilan dalam perkara yang berke- naan dengan harta kekayaan dilaksanakan melalui Bupati/Walikota dalam wilayah yurisdiksi Pengadilan Agama setempat. (2) Surat panggilan ditempelkan pada papan

pengumuman Bupati/Walikota clan papan pengumuman Pengadilan Agama (Pasal 390 ayat (3) HIR/Pasal 718 ayat (3) RBG). (3) Dalam hal yang dipanggil meninggal

dunia, maka panggilan disampaikan kepada

ahli warisnya. Jika ahli warisnya tidak

dikenal atau tidak diketahui tempat tinggalnya, maka panggilan dilaksanakan melalui Kepala Desa/Lurah (Pasal 390 ayat (2) lHR/Pasal 718 ayat (2) RBG).

1) Pemanggilan terhadap Tergugat/termohon yang

berada di luar negeri harus dikirim melalui Departemen Luar Negeri cq. Dirjen Protokol clan

Konsuler Departemen Luar Negeri dengan tembusan disampaikan kepada Kedutaan Besar Indonesia di negara yang bersangkutan.

8) Permohonan pemanggilan sebagaimana tersebut pada angka 1 tidak perlu dilampiri surat panggilan,

(53)

tetapi permohonan tersebut dibuat tersendiri yang sekaligus berfungsi sebagai surat panggilan

(Relaas). Meskipun surat panggilan (Relaas) itu

tidak kembali atau tidak dikembalikan oleh Direktorat Jenderal Protokol clan Konsuler Departemen Luar Negeri, panggilan tersebut sudah dianggap sah, resmi clan patut (Surat KMA kepada Ketua Pengadilan Agama Batam Nomor 055/75/91/1/UMTU/Pdt./ 1991 tanggal 11 Mei 1991).

9) Tenggat waktu antara pemanggilan dengan persidangan sebagaimana tersebut dalam angka 7) dan 8) sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sejak surat permohonan pemanggilan dikirimkan.

10) Terhadap perkara yang telah ditetapkan prodeo tidak dikenakan biaya apapun.

3. Pelaksanaan Persidangan

a. Ketentuan umum persidangan

1) Perkara hams diperiksa clan diputus selambat- lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan sejak

perkara didaftarkan. Jika dalam waktu tersebut

belum putus, maka Ketua Majelis hams melaporkan keterlambatan tersebut kepada Ketua Mahkamah Agung melalui Ketua Pengadilan Agama dengan menyebutkan alasannya.

2) Sidang Pengadilan Agama dimulai pada pukul 09.00 waktu setempat, kecuali dalam hal tertentu sidang dapat dimulai beberapa saat kemudian pada hari yang sama, namun hal itu harus diumumkan terlebih dahulu.

(54)

3) Sidang Pengadilan harus dilaksanakan di ruang sidang. Dalam hal dilakukan pemeriksaan di tempat, sidang sedapat-dapatnya dibuka dan

ditutup di kantor Kelurahan/ Kepala Desa atau ditempat lain yang memungkinkan,

4) Ketua Majelis Hakim bertanggung jawab atas jalannya persidangan. Agar pemeriksaan perkara berjalan teratur, tertib clan lancar, sebelum pemeriksaan dimulai harus dipersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. 5) Majelis Hakim yang memeriksa perkara terlebih

dahulu harus mengupayakan perdamaian (Pasal 130 IIlR/154 RBG jo. Pasal 82 UU No. 7 Tahun 1989 jo. UU. 3 Tahun 2006 Jo. PERMA No. 2 Tahun 2003).

6) Apabila tercapai perdamaian maka perdamaian di bidang harta kekayaan dituangkan dalam putusan perdamaian. Sedangkan perdamaian dalam perkara perceraian tidak dibuatkan putusan perdamaian, tetapi perkara dicabut oleh para pihak dan dituangkan dalam penetapan pencabutan.

7) Dengan adanya upaya perdamaian sebagaimana yang diatur dalam PERMA No. 2 Tahun 2003, maka Majelis Hakim agar memperhatikan dan menyesuaikan tenggang waktu perdamaian dengan hari persidangan berikutnya.

8) Sidang pemeriksaan perkara cerai talak clan cerai

gugat dilalcukan secara tertutup, namun putusan

harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk

umum.

(55)

9) Apabila Ketua Majelis berhalangan, persidangan tetap dibuka oleh Hakim Anggota yang senior untuk menunda persidangan. Apabila salah seorang Hakim Anggota berhalangan, ia dapat digantikan oleh Hakim lain yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Agama. Penggantian Hakim Anggota harus dicatat dalam berita acara.

10) Dalam keadaan luar biasa di mana sidang yang telah ditentukan tidak dapat terlaksana karena semua Hakim berhalangan, maka sidang ditunda dan penundaan tersebut sesegera mungkin diumumkan.

b. Berita Acara Persidangan

1) Ketua Majelis Hakim bertanggung jawab atas pembuatan dan kebenaran berita acara persidangan dan menandatanganinya sebelum sidang berikutnya.

2) Panitera Pengganti yang ikut bersidang harus membuat berita acara sidang yang memuat segala sesuatu yang terjadi di persidangan, yaitu mengenai susunan persidangan, siapa-siapa yang hadir, serta jalannya pemeriksaan perkara tersebut dengan lengkap dan jelas. Berita acara sidang harus sudah ditandatangani sebelum sidang berikutnya.

3) Nomor halaman berita acara sidang harus dibuat secara bersambung dari sidang pertama sampai sidang yang terakhir.

4) Pada waktu musyawarah Majelis Hakim semua

berita aeara harus sudah selesai diketik dan

(56)

ditandatangani sehingga dapat dipakai sebagai bahan musyawarah oleh Majelis Hakim yang bersangkutan.

c. Rapat Pennusyawaratan Majelis Hakim

1) Rapat Pennusyawaratan Majelis Hakim bersifat rahasia (Pasal 19 ayat (3) UU No. 4 Tahun 2004). Panitera sidang dapat mengikuti rapat permusyawaratan Majelis Hakim apabila dipandang perlu dan mendapat persetujuan oleh Majelis Hakim.

2) Ketua Majelis Hakim mempersilahkan Hakim Anggota II untuk mengemukakan pendapatnya, disusul oleh Hakim Anggota I dan terakhir Ketua Majelis akan menyampaikan pendapatnya.

3) Semua pendapat harus dikemukakan secarajelas dengan menunjuk dasar hukumnya, kemudian dicatat dalam buku agenda sidang.

4) Dalam rapat permusyawaratan, setiap hakim wajib menyampaikan pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap perkara yang sedang diperiksa.

d. Putusan

1) Putusan sedapat mungkin diambil dengan suara bulat. Apabila mengenai sesuatu masalah terdapat perbedaan pendapat, maka suara terbanyak menjadi putusan Majelis.

2) Putusan serta merta hanya dapat dijatuhkan apabila memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 180 ayat (1) HIR/191

(57)

ayat (1) RBg serta Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 2000 dan No. 4 Tahun 2001. 3) Pada waktu diucapkan, putusan harus sudah siap

dan segera diserahkan kepada Panitera Pengganti untuk diselesaikan lebih lanjut.

e. Pemberitahuan isi putusan

1) Jika Penggugat/Pemohon atau Tergugat/ Termohon tidak hadir dalam sidang pembacaan putusan, maka Panitera/Jurusita Pengganti harus memberitahukan isi putusan kepada para pihak yang tidak hadir.

2) Jika Tergugatffermohon tidak hadir dalam sidang pembacaan putusan clan alamatnya tidak diketahui di seluruh wilayah RI, maka pemberitahuan isi putusan dilakukan melalui Pemerintah Daerah Tk.11 setempat untuk diumumkan pada papan pengumuman, baik dalam perkara bidang Perkawinan maupun yang lainnya

f. Minutasi berkas perkara

3) Ketua Majelis Hakim bertanggung jawab atas ketepatan batas waktu minutasi perkara,

4) Selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak putusan diucapkan berkas perkara harus sudah diminutasi. 5) Berkas perkara yang telah diminutasi, dijahit dan

disegel dengan kertas yang dibubuhi stempel Pengadilan Agama sebagai pengaman.

g. Penyampaian Salinan Putusan.

I) Petugas Meja III mengirimkan pemberitahuan tentang telah terjadinya perceraian yang telah diputus oleh Pengadilan Agama kepada Pegawai

(58)

Pencatat Nikah/Kantor Urusan Agama (KUA) di mana perkawinan dicatat, dan di tempat para pihak berdomisili.

2) Petugas Meja III juga bertugas menerima clan memberikan tanda terima:

a) memori banding. b) kontra memori banding. c) memori kasasi.

d) kontra memori kasasi.

e) jawaban/tanggapan atas alasan PK.

3) Petugas Meja III menyiapkan dan menyerahkan salinan putusan pengadilan kepada para pihak apabila diminta.

4. Bundel

a. Bundel A merupakan himpunan surat-surat yang diawali dengan surat gugatan dan semua kegiatan proses persidangan/ pemeriksaan perkara tersebut yang selalu disimpan di Pengadilan Agama yang terdiri dari :

1) Surat gugatan/permohonan. 2) Penetapan Majelis/Hakim. 3) Penetapan Harl Sidang. 4) Relaas-Relaas panggilan.

5) Berita acara sidang (jawaban/replik/duplik pihak-pihak, dimasukkan dalam kesatuan Berita Acara).

6) Surat Kuasa dari kedua belah pihak (bila ada). 7) Penetapan sita conservatoir/revindicatoir (bila

ada).

Referensi

Dokumen terkait

(3) BP penyampaian amar putusan kepada Termohon peninjauan kembali. 5) SKUM dibuat dalam rangkap tiga: a) Lembar pertama untuk pemohon.. b) Lembar kedua untuk kasir. c)

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali tersebut tidak dapat dibenarkan karena pertimbangan hukum dan Putusan Pengadilan Pajak yang mengabulkan seluruh

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu koreksi Pemohon Peninjauan Kembali terhadap Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Pajak Pertambahan

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan, karena putusan Pengadilan Pajak yang menolak permohonan banding Pemohon Banding terhadap

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu Dasar dikabulkannya gugatan Termohon Peninjauan Kembali (semula Penggugat) atas Penerbitan

Alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan, karena putusan Pengadilan Pajak yang menyatakan mengabulkan sebagian permohonan banding Pemohon

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu dasar dikabulkannya gugatan Termohon Peninjauan Kembali (semula Penggugat) atas Penerbitan

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan, karena putusan Pengadilan Pajak yang menyatakan mengabulkan sebagian Permohonan banding Pemohon