• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis Pada Nutrien Agar Sebagai Mediun Alternatif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis Pada Nutrien Agar Sebagai Mediun Alternatif"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pertumbuhan

Mycobacterium tuberculosis

Pada Nutrien Agar Sebagai Mediun

Alternatif

Sri Hartini ¹,Ocky Dwi S²., Suliati³ ¹Progam Study D-IV Analis Kesehatan Surabaya

Email: hartinis191@gmail,com ²Dosen Politehnik Kesehatan Surabaya Alamat : Jln, Karangmenjangan 18 Surabaya

³ Dosen Politehnik Kesehatan Surabaya Alamat : Jln, Karangmenjangan 18 Surabaya

Abstract

Tuberculosis (TB) is a contagious disease directly caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. TB disease to date is still a world health problem according to WHO one third of the world's population is infected with TB, 95% are in developing countries. In Indonesia SKRT (Household Health Survey) in 2011 there were 50,443 TB patients with BTA (Bacteria Resistant Acid) positive. Diagnosis is made by direct microscopic examination, a definitive diagnosis by culture examination but rarely done because it is expensive and long (4-8 weeks).

Therefore it is necessary for a research to find alternative media for Mycobacterium tuberculosis growth that is easy, cheap, faster and quality. Nutien to be chosen as an alternative medium because the medium is very cheap, easy to make and all germs can grow.The purpose of this research is to know the presence or absence of Mycobacterium tuberculosis growth in Nutrien medium so that it can always be used as an alternative medium for Mycobacterium tuberculosis.

This research uses tahnik pre experiment with descriptive data analysis technique, the sample used is 30 samples using purposive sampling technique. Based on examination conducted on 30 samples of sputum of patients with AFB Positive result obtained Mycobacterium tuberculosis that grow on medium Lowenstain Jensen (LJ) as many as 30 samples (100%), on Nutrient Agar (NA) negative (0%), and Mycobacterium Other Than Tuberculosis (MOTT) that grew in NA 3 samples (1%).

From these results it can be concluded that the nutrient agar medium can not be used as an alternative medium for the growth of Mycobacterium tuberculosis because there is no growth of Mycobacterium tuberculosis in Nutrien Agar medium. The absence of Mycobacterium tuberculosis growth in Nutrient agar medium is due to the nutrient agar medium in which there is no Protein and glycerol as nutrients and accelerates the growth of Mycobacterium tuberculosis, but has the opportunity to be an alternative medium for the growth of Mycobacterium tuberculosis when added glycerol and protein as nutrients.

Keywords: Mycobacterium tuberculosis, Nutriene Agar

Pendahuluan

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang, tahan terhadap asam pada pewarnaan oleh karena itu disebut juga Bakteri Tahan Asam (BTA), cepat mati dengan sinar matahari langsung, bertahan hidup beberapa jam pada tempat yang gelap dan lembab. Masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, menginfeksi paru dan menyebar ke organ tubuh yang lain. (Litbang Depkes R1, 2002) Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia. WHO menyatakan bahwa sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi bakteri

Tuberkulosis. Perkembangan penyakit ini menjadi tidak terkendali di sebagian besar negara, sehingga pada tahun 1993 WHO mencanangkan

bahwa masalah Tuberkulosis sebagai kedaruratan global. Pada tahun 1995, di dunia, diperkirakan terdapat 9 juta penderita baru setiap tahun dengan angka kematian ± 3 juta jiwa. Di negara-negara berkembang, 25 %dari I seluruh kematian disebabkan Tuberculosis (TB), yang seharusnya dapat dicegah. 95% penderita TB diperkirakan berada di negara-negara berkembang, dan 75% penderita adalah kelompok usia produktif. Sampai hari ini belum ada satu negarapun yang telah bebas dari penyakit TB termasuk negara maju sekalipun. Di negara maju semula angka TB telah menurun, tetapi belakangan angka ini naik lagi sehingga TB disebut sebagai salah satu reemerging dieseas. Ditambah lagi dengan munculnya epidemik HIV/AlDS didunia,

(2)

2 diperkirakan penderita TB akan meningkat lagi (Depkes 2002, Yoga Aditama, 2006).

Di Indonesia, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun1995, TB merupakan kematian ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. Pada tahun 2001 penyakit pada sistem pernafasan merupakan penyebab kematian kedua setelah sistem sirkulasi. Survey ini juga menunjukkan bahwa diantara penyakit infeksi, TB merupakan penyebab kematian nomor satu. Berdasar data Departemen Kesehatan pada tahun 2001, di Indonesia terdapat 50.443 penderita TB paru BTA (+) yang diobati. Jumlah ini merupakan 23% dari perkiraan seluruh penderita TB BTA (+) dan 75% kasus adalah usia produktif (15-50 tahun). (Pedoman penanggulangan TB Nasional 2002).

Sejak tahun 1995 Progam Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru di Indonesia telah dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed freatment, Shortcourse chemotherapy).

Dalam program ini diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Tetapi kelemahan dari pemeriksaan ini adalah bakteri baru dapat dilihat dibawah mikroskop bila jumlahnya paling sedikit 5000 per mili liter dahak. Selain itu deferensiasi antara Bakteri hidup dan mati tidak bisa dibedakan.

Diagnosis pasti melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak. Namun sampai saat ini pemeriksaan kultur tidak bisa digunakan sebagai progam nasional karena untuk melakukan kultur diperlukan sarana dan prasarana yang lengkap dan SDM yang handal. Sehingga tidak semua Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) di Indonesia bisa melakukan pemeriksaan kultur. Pemeriksaan kultur ini dikenal mahal dan lama karena medium yang selama ini digunakan adalah medium yang memang mempunyai nutrisi yang tinggi bagi pertumbuhan Mycobacterium. (Depkes RI 2002).

Medium untuk perbenihan Mycobacterium

yang sering digunakan antara lain adalah Lowenstain Jensen, Ogawa, Midlle brook, Bactec. Sebagai gold standart digunakan media Lowenstain Jensen (LJ), dimana komposisi media LJ sangat ideal bagi pertumbuhan

Mycobacterium. Tetapi media LJ ini masih dikatergorikan mahal untuk masyarakat menengah kebawah di Indonesia, dan juga waktu yang lama untuk mendapatkan hasil pemeriksaan.

Dengan adanya pengobatan TB yang menggunakan panduan Obat Anti Tuberculosis (OAT) dalam jangka waktu 6 bulan, banyak penderita TB yang tidak teratur minum obat sehingga resisten. Penderita yang resisten terhadap OAT ini hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan kultur. Oleh karena itu perlu adanya suatu penelitian pemeriksaan kultur dengan media sederhana sebagai media alternatif agar didapatkan suatu pemeriksaan kultur yang cepat,

murah, berkualitas dan dapat diterapkan diseluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) di Indonesia sehingga penderita mendapatkan diagnosis TB secepatnya dan rantai penularan dapat segera diputus.

Pada penelitian ini pemeriksaan kultur dengan menggunakan medium Lowenstain Jensen dimaksudkan sebagai kontrol, karena Lowenstain Jensen merupakan medium yang disarankan oleh WHO sebagai medium yang tepat untuk pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis, Tetapi dilapangan sulit diterapkan karena hanya laboratorium denganfasilitas lengkap yang bisa mengerjakan. Dari segi biaya juga mahal untuk ukuran masyarakat di Indonesia. Selain itu diperlukan waktu yang lama (4-8 minggu) untuk memperoleh hasil pemeriksaan. Sedangkan penanaman padaNutrien Agar dimaksudkan untuk mencari medium alternatif bagi pertumbuhan

Mycobacterium tuberculosis. Nutrien agar dipilih oleh peneliti karena merupakan medium dasar yang sangat sederhana, sehingga dari segi biaya sangat murah, mudah didapat, dan cara membuatnya tidak terlalu rumit. Seperti pada Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis (2008) dinyatakan bahwa salah satu sifat dari

Mycobacterium tuberculosis adalah dapat bertahan hidup pada tempat yang gelap dan lembab seperti pada kamar mandi schingga bisa menginfeksi orang yang sehat. Diharapkan pada, Nutrien Agar Mycobacterium tuberculosis bisa tumbuh mengingat medium ini mempunyai air pepton yang berguna sebagai nutrisi pertumbuhan bakteri.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis pada medium nutrient agar sebagai medium alternatif.

Metode

Jenis penelitian ini adalah penelitian pra eksperimen. Hasil penelitian didapatmelalui eksperimen penanaman kuman Mycobacterium tuberculosis dengan specimen dahak pada media Lowenstain Jensen sebagai media standart dan media Nutrien Agar sebagai media alternatif.

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh tersangka penderita Tbc yang ada di Balai Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Paru (BP4) Surabaya.

Sampel dari penelitian ini adalah penderita Tbc baru dengan BTA (+) yangada di BP4 Surabaya sebanyak 30 sampel.Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sample secara purposive, yaitu penderita TB dengan hasil Bakteri Tahan Asam (BTA) positif sebanyak 30 orang.Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini adalah secara observasi. Data diperoleh melalui pengamatan pertumbuhan kuman

Mycobacteriumtuberculosis pada media Nutrien Agar.Tehnik analisa yang digunakan adalah

(3)

3 diskriptif. Yaitu dengan melihat ada tidaknya pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis pada media Nutrien Agar.

Kerangka Operasional

Hasil

Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Kultur Mycobacterium tuberculosis

No. Media Positif Negatif MOTT

1 Lowenstain Jensen 30 0 0

2 Nutrien Agar 0 30 3

Sumber : Data Primer, 2014

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah Mycobacterium tuberculosis yang tumbuh pada media Lowenstain Jensen sebanyak 30 sampel sedangkan yang tumbuh pada Nutrien

agar kosong atau tidak ada. Ada pertumbuhan koloni selain Mycobacterium tuberculosis (MOTT) pada Nutien agar sebanyak 3 sampel.

Persentase Mycobacterium tuberculosis yang tumbuh pada medium Lowenstain Jensen

Persentase =

x

100%

sampel

jumlah

tumbuh

yang

sis

tuberculo

ium

Mycobacter

jumlah

100%

x

30

30

= 100%

Persentase Mycobacterium tuberculosis yang tumbuh pada medium Nutrien Agar

Persentase =

100%

x

sampel

jumlah

tumbuh

yang

sis

tuberculo

ium

Mycobacter

jumlah

=

100%

x

30

0

= 0%

Persentase Mycobacterium selain Mycobacterium tuberculosis yang tumbuh pada Nutien agar

Persentase =

100%

x

sampel

jumlah

tumbuh

yang

MOTT

jumlah

=

100%

x

30

3

= 1%

Dari analisa data tersebut dapat diketahui bahwa Mycobacterium yang tumbuh pada medium Lowenstain Jensen sebanyak 30 sampel (100%), yang tumbuh pada medium Nutrien agar negatif (0 %), sedangkan Mycobacterium F selain

Mycobacterium tuberculosisyang tumbuh pada Medium Nutiem Agar sebanyak 3 sampel (1 %).

Pada media Nutrient Agar hasil penelitian

Mycobacterium tuberculosis tidak bisa tumbuh hal ini disebabkan oleh karena pada media NA

(4)

4 tidak terdapat gliserolyang berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sjarurachman Agus (2007) pada media Lowenstain Jensen terdapat gliserol yang berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan

Mycobacterium tuberculosis. Selain itu tidak ada pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis pada medium Nutrient Agar juga dipengaruhi oleh protein yang berasal dari telur seperti yang terkandung pada media Lowenstain Jcnsen. Halini sesuai dengan pernyataan Sjarurachman Agus (2007) bahwa media Lowenstain Jensen adalah media yang berbahan dasar telur kaya akan protein sebagainutrisi untuk pertumbuhan

Mycobacterium tuberculosis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada medium nutrien agar tidak ada pertumbuhan

Mycobacterium tuberculosis. Sesuai dengan pernyataan Maryani (2009) syarat media bagi pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis adalah mudah disiapkan, murah, dapat menumbuhkan bakteri tubercle dengan baik, dapat disimpan dalam waktu yang lama, kontaminasi minimal. Dari pernyataan tersebut jelas bahwa medium Nutien Agar tidak bisa menumbuhkan bakteri

tubercle dengan baik meskipun memenuhi syarat yang lain yaitu murah dan mudah disiapkan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa medium nutrien agar tidak bisa digunakan sebagai medium alternatif bagi pertumbuhan Mycobacterium

tuberculosis.

Pada penelitian ini juga didapatkan hasil bahwa Mycobacterium tuberculosis yang tumbuh pada medium Nutrien Agar adalah 0%. Ini berarti bahwa pada medium Nutrien Agar tidak ada pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis. Tetapi didapatkan hasil pertumbuhan koloni selain

Mycobacterium tuberculosis (MOTT) meskipun persentasinya sangat kecil yaitu 1%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada Nutrien Agar kuman tubercle selain Mycobacterium tuberculosis dapat tumbuh karena memang Nutrien Agar bukan termasuk media selektif sehingga semua kuman bisa tumbuh termasuk MOTT. Dan sebagai nutrisi pertumbuhan kuman disini adalah pepton. Tetapi pepton saja tidak cukup untuk menumbuhkan Mycobacterium tuberculosis. Perlu nutrisi lain misalnyaprotein, L. Asparagin dan gliserol untuk menumbuhkan

Mycobacterium tuberculosis pada medium Nutrien Agar.

Kesimpulan

Pemeriksaan dilakukan terhadap 30 sampel dahak penderita TB paru, dengan BTA positif didapatkan hasil bahwa Mycobacterium tuberculosis yang tumbuh pada medium Lowenstain Jensen sebanyak 30 sampel (100%). Yang tumbuh dalam media Nutrien Agar negatif (0%) sedangkan koloni selain Mycobacterium tuberculosis (MOTT) yang tumbuh pada Nutrien Agar sebanyak 3 sampel (1%) dari hasil tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis pada media Nutien Agar sehingga medium Nutrien Agar tidak bisa digunakan sebagai medium alternatif bagi pertumbuhan kuman

Mycobacterium tuberculosis. Karena tidak ada pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis pada medium Nutrien

Agar maka persentase Mycobacterium tuberculosis yang tumbuh pada Nutrien Agar adalah 0%.

Sesuai dengan hasil penelitian bahwa MOTT dapat tumbuh pada Nutrien Agar makadiharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk menambahkan gliserol dan proteinyang berfungsi menumbuhkan

Mycobacterium tuberculosis serta menambahkan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan kuman lain sehingga didapatkan media alternatif bagi pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis

yang murah, mudah didapat dan dapat dilaksanakan di semua Unit Pelaksana Kesehatan (UPK) di Indonesia.

Daftar Pustaka

Aditama Yoga T, (2006). Tuberculosis, rokok dan perempuan. Balai Penerbit Universitas Kedokteran Indonesia

Anonim 1 (2002). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis Departemen Keschatan RI

Anonim 2 (2005). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis. Departemen Kesehatan RI

Anonim 3 (2008). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis. Departemen Kesehatan RI

Anonim 4 (2008). The Oxoid Manual 9 th,

Alphoprint, Alton, Han England

Jawets, Melnick & Adelberg (2008).

Mikrobiologi Kedokteran edisi 23

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (2005) Tuberkulosis. Depkes RI Dr. Maryani, M.Si (2009), Medium Perbenihan

untuk Mycobacterium Tuberculosis

Sopacua E., S. Purwani, (2004). Dasar- dasar metodologi penelitian, Dep Kes RI

Meta, (2009). Dunia Mikrobiologi, Yahoo.co.id. Notoatmojo Soekidjo (2005).Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineke Cipta Jakarta Padmideewi MM, (1998). Nilai Diagnostik Uji TB-Dot pada penyakit tuberculosis paru.

(5)

5

Laboratorium Instalasi Patologi Klinik RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Philip D'Arcy Hart, (2009). Mycobacterium tuberculosis genome sequences and related information, Oleh Yahoo.co.id

Prof. Dr. Agus Sjarurachman Phd, Sp. MK (2007), Kultur dan uji kepekaan Mycrobacrenum tuberculosis. Depkes RI

Retno (2009). Diagnosis serologis pada Tuberculosis Paru. Iklan Layanan Masyarakat oleh Goggle

Sarwo Handayani, (2002), Respon imunitas selular pada infeksi TB Paru. Litbang, Depkes RI

Gambar

Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Kultur Mycobacterium tuberculosis

Referensi

Dokumen terkait