PROSIDING
HASIL KEGIATAN LAPANGAN TAHUN 2016
PUSAT SUMBER DAYA MINERAL, BATUBARA DAN PANAS BUMI
BUKU 2
BIDANG MINERAL
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL BADAN GEOLOGI
PUSAT SUMBER DAYA MINERAL, BATUBARA DAN PANAS BUMI
Editor : Iwan Nursahan, S.T., M.T., Ir. Armin Tampubolon, M.Sc., Ir. Zulfikar, SP.1, dan Ir. Herry Rodiana Eddy, M.Si.
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi i DAFTAR ISI
1. Eksplorasi Umum Endapan Logam Dasar di daerah Salopaku, Kecamatan
Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan ... 1
2. Eksplorasi Endapan Nikel Laterit di Daerah Dosay, Kecamatan Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua ... 21
3. Eksplorasi Umum Logam Dasar di Kecamatan Tombolo, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan ... 37
4. Prospeksi Mineral Logam di Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah 5. Eksplorasi Umum Bijih Besi Dan Mangan di Kecamatan Pagelaran dan Pagelaran Utara, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung ... 73
6. Penyiapan Data dan Informasi Sumber Daya Geologi untuk Pengusulan Wilayah Keprospekan Mineral Tahun 2016 ... 83
7. Eksplorasi Umum Emas dan Logam Dasar untuk WPR Gunung Botak/Gogrea dan Sekitarnya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku ... 93
8. Eksplorasi Umum Emas dan Mineral Ikutannya di Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat ... 107
9. Prospeksi Logam Mulia dan Logam Dasar di Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara ... 121
10. Pemutakhiran Data dan Neraca Sumber Daya Mineral Indonesia Status 2016 ... 137
11. Survei Geokimia Regional Bersistem Lembar Ternate A-2 di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara ... 157
12. Prospeksi Timah dan Rare Earth Element (REE) di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau ... 177
13. Prospeksi Bijih Besi dan Mineral Ikutannya di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan ... 185
14. Eksplorasi Umum Logam Mulia dan Logam Dasar di Kecamatan Dolok Sigompulon, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara ... 197
15. Eksplorasi Umum Bijih Besi dan Mineral Ikutannya di Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan ... 211
16. Eksplorasi Umum Endapan Zirkon di Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah ... 225
17. Prospeksi Endapan BentonitDi Kabupaten Merangin,Provinsi Jambi ... 235
18. Prospeksi Batuan Pembawa Kalium, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah ... 245
19. Eksplorasi Umum Endapan Zeolit, Kabupaten Tanggamus, Kecamatan Limau, Provinsi Lampung ... 253
20. Eksplorasi Umum Batumulia, Kecamatan Amahai dan Sekitarnya, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku ... 259
21. Prospeksi Endapan Kuarsit di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh ... 269
22. Prospeksi Endapan Batumuliadi Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh ... 279
23. Pembuatan In House Standard StreamSediment untuk Cu, Pb, Zn, dan Ag ... 289
24. Penyusunan Atlas dan Metadata Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi Indonesia ... 299
25. Kegiatan Pengembangan Sistem Informasi Geografis Nasional Sumber Daya Geologi Tahun 2016 ... 313
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 1 EKSPLORASI UMUM ENDAPAN LOGAM DASAR
DI DAERAH SALOPAKU, KECAMATAN SABBANG, KABUPATEN LUWU UTARA
PROVINSI SULAWESI SELATAN
Bambang Nugroho Widi, Hartaja M. Hatta W dan Rudy Gunradi
Bidang Mineral
Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi
SARI
Secara geologi daerah penyelidikan di susun oleh 3 satuan batuan terdiri dari satuan
batuan metamorf Filit menempati wilayah bagian selatan, satuan batuan granit (granit
Kambuno) menempati bagian tengah dan utara dan satuan batuan vulkanik dasitik
menempati sebagian daerah tengah dari daerah penyelidikan. Secara umum struktur geologi
yang berkembang adalah berupa struktur sesar yang berarah hampir barat-timur dan
baratlaut-tenggara. Sesar tersebut mengenai (memotong) semua satuan batuan.
Mineralisasi di wilayah ini ditandai dengan dijumpainya butiran emas dalam
lingkungan batuan metamorf yaitu metavulkanik (metaandesit) yang di apit oleh batuan filit.
Butiran emas memiliki ukuran dari halus FC hingga sangat kasar VFC, dijumpai dibeberapa
lokasi di kawasan Salopapa yang merupakan cabang dari Salosese.
Hasil analisis kimia menunjukkan adanya 3 titik anomali Au yaitu (LU/16/MN/002SS),
dengan kadar 29 ppb (LU/16/MN/081SS), dengan kadar 116 ppb dan (LU/16/MN/046SS),
dengan kadar 147 ppb. Ketiga anomali tersebut sungai mengarah ke Bukit Salopapa.
memiliki hulunya yang sungainya diperkirakan mengarah pada satu bukit yakni bukit
Salopapa. Sementara dari hasil pengamatan mineragrafi menunjukkan munculnya mineral
sulfida seperti kalkopirit (CuFeS2), pirit (FeS2) dan bornit (Cu5FeS4) serta mineral oksida
magnetit (Fe3O4) dan hidrous okside, terdapat di lingkungan batuan dimana emas ditemukan
(LU/16/MN/044R); (LU/16/MN/045R) dan (LU/16/MN/058R).
Hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara keterdapatan emas dari dulang dan
mineralisasi dalam batuan (analisis mineragrafi) dan hasil analisis kimia sedimen sungai.
Dari hasil penyelidikan tersebut menunjukkan di wilayah ini masih dimungkinkan adanya
mineralisasi logam baik emas maupun mineralisasi logam lainnya.
Sejauh ini untuk menentukan apakah jenis mineralisasinya adalah mineralisasi
hidrotermal (epitermal) atau jenis mineralisasi lain yakni orogenic gold (epizonal) belum
dapat ditentukan. Namun demikian mineralisasi mengarah ke arah mineralisasi tipe orogenic
tersebut perlu dilakukan penyelidikan lebih rinci serta pengujian laboratorium dari
conto-contonya yang lebih spesifik.
Kata kunci: Mineralisasi logam dasar, Cu, Pb, Zn, Au, Ag.
PENDAHULUAN
Kegiatan penyelidikan mineral
logam dasar di daerah Salupaku, Desa
Tandung, Kecamatan Sabbang,
Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi
Selatan merupakan tindak lanjut dari
penyelidikan yang dilakukan oleh Tim
Inventarisasi Pusat Sumber Daya Geologi
Tahun 2009.
Dari hasil penyelidikan tersebut
diketahui ada tiga komoditi mineral
menarik yang perlu ditindak lanjuti untuk
dikembangkan yaitu emas (Au); logam
dasar terdiri dari (Cu), timah hitam (Pb)
dan seng (Zn). Penyelidikan ini
dimaksudkan untuk mengetahui adanya
indikasi dan sebaran Cu, Pb, Zn, Au dan
Ag. Tujuannya adalah untuk mengetahui
daerah prospek dan potensi sumber daya
endapan logam dasar di daerah Salupaku
dan sekitarnya guna mendapatkan data
dalam rangka pengusulan pembuatan
Wilayah Pertambangan.
Daerah penyelidikan secara
administrasi termasuk kedalam wilayah
Tandung, Kecamatan Sabbang,
Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi
Selatan. Secara geografis daerah ini
terletak pada posisi antara 120°00'0"
hingga 120°6'47" Bujur Timur, dan
9°15'00" hingga 2°23'10" Lintang Utara
(Gambar 1).
METODOLOGI
Metode yang digunakan dalam
Penyelidikan ini adalah pemetaan geologi
permukaan, geokimia (pengambilan conto
sediment sungai, pendulangan dan rock
sampling). Hasil pengamatan dilapangan
telah diperoleh conto untuk analisis
laboratorium 30 conto batuan untuk
analisis kimia, 6 conto tanah untuk analisis
kimia (Major element), 85 conto stream
sedimen, 88 conto mineralogy butir, 8
conto untuk mineragrafi, 11 conto untuk
petrografi 9 conto batuan untuk analisis
XRD.
Analisis kimia menggunakan
metoda AAS, unsur yang dianalisis Au,
Ag, Cu, Pb, Zn, Mo. Adapun di analisis
fisika mineral terdiri dari petrografi untuk
mengetahui jenis mineral penyusun
batuan dan mineragrafi untuk mengetahui
jenis mineral logam atau mineral bijih yang
membentuk endapan; Analisis di lakukan
di Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara
dan Panas Bumi, Bandung. Sedangkan
pengolahan data hasil analisis kimia dari
conto sedimen sungai dan batuan
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 3
program excel dan program ArcGis 10
untuk menggambarkan pola sebaran
geokimia unsur.
GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN
Berdasarkan hasil pengamatan
dilapangan diketahui kondisi geomorfologi
(bentang alam) daerah penyelidikan terdiri
dari daerah perbukitan dan daerah
pedataran.
Morfologi Perbukitan
Momorfologi Perbukitan di
dominasi oleh wilayah dengan elevasi
ketinggian antara 250 meter s.d. 1500
meter diatas permukaan laut. Hasil
pengamatan di lapangan morfologi
perbukitan dicirikan oleh perbukitan
dengan topografi rapat dengan kemiringan
lereng dari 30° hingga 70°. Selain dicirikan
pula oleh adanya air terjun yang cukup
banyak dan tinggi terutama di beberapa
bagian hulu anak sungai.
Morfologi Pedataran
Morfologi pedataran memiliki
penyebaran sangat terbatas tidak lebih
dari 5% dari wilayah penyelidikan,
dijumpai disekitar sungai utama Salopaku.
Morfologi pedataran menempati wilayah
tertentu terutama daerah pedataran
sungai Salopaku. Kenampakan morfologi
perbukitan maupun pedataran di wilayah
penyelidikan (Gambar 2).
Secara stratigrafi batuan daerah
penyelidikan dibagi menjadi tiga satuan
batuan satuan metamorf (Filit-gneis);
Satuan batuan intrusif (Diorit-mikrogranit);
Satuan batuan ekstrusif/vulkanik (Dasit
dan Andesit).
Batuan Metamorf, secara
megaskopis memiliki warna abu-abu
kehijauan s.d. abu-abu kecoklatan, keras,
memiliki perlapisan, terkadang terdapat
struktur semacam foliasi, butiran ukuran
halus hingga kasar. Dibeberapa tempat
memperlihatkan adanya perlapisan yang
terkadang memiliki pola perlapisan yang
hampir tegak dan dapat mencapai
kemiringan lapisan hingga 80°. Salah satu
dari batuan filit tersebut tersingkap secara
baik di Sungai Salopaku (Gambar 3).
Pengamatan mikroskopis pada
salah satu conto batuan menunjukkan
tekstur foliasi, sifat optik, kristal
uehedral-anhedral, mineral teridentifikasi adalah
kuarsa, plagioklas, biotit, klorit serisit dan
opak, secara jelas ada pada (Gambar 4).
Batuan intrusif (Diorit-mikrogranit)
Batuan intrusi teramati di daerah
penyelidikan yaitu granit, mikrogranit dan
diorit, masuk kedalam kelompok granit
Kambuno. Secara megaskopis warna
putih s.d. kecoklatan, berbutir kasar,
tekstur faneritik, mineral penyusun kuarsa,
biotit, minor garnet, epidot dan mineral
opak. Salah satu singkapan granit di anak
Pengamatan mikroskopis
menun-jukkan tekstur faneritik, anhedral, mineral
penyusun kuarsa, plagioklas, biotit, klorit
epidot dan opak (Gambar 6).
Batuan Gunungapi
Batuan gunungapi disini terdiri dari
lava andesit, breksi dan tufa bersifat
andesitik hingga dasitik. Batuan andesit
secara megaskopis memiliki warna
abu-abu kehijauan, kompak, keras, berbutir
halus hingga sedang tekstur porfiritik,
setempat mengalami foliasi, batuan
sebagian diapit diantara batuan metamorf
(filit). Pengamatan mikroskopis
menunjukkan mineral penyusun andesit;
plagioklas, feldspar, sebagai fenokris,
tertanam dalam masa dasar plagioklas
(Gambar 7).
Dasit dijumpai sepanjang Salo
Palimunang yang merupakan salah satu
anak sungai dibagian hilir Salopaku
(Gambar 8). Secara megaskopis warna
putih kecoklatan, afanitik-porfiritik, fenokris
berukuran besar, tertanam dalam masa
dasar plagioklas, Sebagian batuan ini
telah mengalami ubahan menjadi argilik
disertai mineral sulfide pada beberapa
tempat. Batuan ini tersebar di bagian
timurlaut dan baratlaut daerah
penyelidikan. Tuf terdiri dari tuf Kristal,
batupasir tuf dan tuf abu, penyebarannya
di daerah tinggian yang umumnya pada
puncak-puncak bukit breksi gunungapi,
yang disusun oleh breksi gunungapi
bersifat andesitik, lava andesit dan lava
basal. Secara regional kelompok batuan
gunungapi merupakan bagian dari
Formasi Lamasi berumur Oligo-Miosen
(T.O. Simajuntak, dkk., 2007).
Endapan Permukaan
Endapan permukaan yang terdiri
dari lumpur, pasir, kerakal dan kerikil yang
merupakan hasil rombakan batuan yang
telah ada sebelumnya.
Di wilayah penyelidikan endapan
alluvial menempati daerah dataran tinggi
Dodolo, Bangko dan Tedeboek serta di
bagian selatan daerah penyelidikan yang
merupakan dataran pantai.
Struktur Geologi
Struktur yang berkembang di
daerah penyelidikan adalah berupa kekar
dan sesar. Kekar terjadi pada batuan baik
pada intrusi maupun batuan lainnya
seperti metamorf dengan arah tidak
seragam. Sementara sesar berdasarkan
penafsiran peta rupa bumi (DEM), memiliki
arah umum baratlaut-tenggara, sebagian
mendekati arah timur-barat. Struktur sesar
intensif berkembang dengan arah
baratlaut-tenggara. Dilapangan indikasi
struktur ditunjukkan oleh adanya
slickenside atau bidang gores pada
batuan, adanya air terjun yang dijumpai
secara berpola membentuk tangga.
Gambaran kondisi geologi (startigrafi
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 5
secara keseluruhan dapat dilihat pada
Gambar 9.
Mineralisasi
Mineralisasi ditemukan pada dua
lingkungan geologi yang berbeda:
(1) Mineralisasi dijumpai dalam
lingkungan batuan metamorf
(meta-andesit) yang diapit dalam batuan
filit-slate. Pada lingkungan ini mineralisasi
dicirikan oleh munculnya sejumlah mineral
ubahan disertai hadirnya urat sulfida halus
memotong batuan dan disiminasi pirit
halus dalam batuan metaandesit. Salah
satu lokasinya dijumpai di Sungai Salo
Bangkele dimana ubahan metaandesit
terjebak dalam filit. Secara megaskopis
batuan yang terubah warna abu-abu
kecoklatan, struktur stockwork (coklat tua)
dalam batuan (Gambar 10).
Hasil pendulangan ditemukan
butiran emas diperoleh dari beberapa
lokasi seperti di Salopapa dan
Salobangkele dan Salopangarusan yang
merupakan anak sungai salopapa
dibagian hulu. Secara fisik butiran emas
dari berukuran halus (VFC), hingga kasar
(VCC), warna kuning terang (cemerlang),
berbentuk pipih dengan asosiasi
mineralnya adalah garnet, zirkon, kuarsa,
piroksin, magnetit dan oksida besi. Salah
satu hasil pendulangan yang diperoleh
dari Salo Bangkela LU/16/MN/52
memperlihatkan butiran emas yang besar
dan sebagian berbentuk lancip dan pipih
(Gambar 11).
Hasil analisis laboratorium
(pemeriksaan mineralogi butir) yang
diambil dari lokasi lain (diluar Salopapa)
juga menunjukkan adanya butiran emas
sebagaimana diperlihatkan pada conto
yang berasal dari lokasi anak Salo Sese
(LU/16/MN/003) (Gambar 12).
Sementara dari hand specimen
(LU/16/MN/58) menunjukkan sifat fisik
batuan berwarna metallic silver (perak
atau galena), bentuk tidak teratur,
tertanam dalam batuan silika (Gambar
13). dimana Pada lokasi tersebut
ditemukan adanya butiran emas.
Hasil pemeriksaan mineralogi butir
dari conto di lokasi yang sama
(LU/16/MN/058) ditemukan butiran emas
berukuran halus hingga kasar. Kondisi dan
jenis butiran yang terdapat di dalamnya
mencerminkan kondisi
Mineralisasi di bagian hulu atau
sekitarnya (Thair Al-Ani et.al, 2014)
(Gambar 14).
Sedangkan dari hasil pemeriksaan
mikroskopis bijih pada lokasi
(LU/16/MN/058) mineral teridentifikasi
adalah magnetit, kalkopirot dan pirit
(Gambar 15).
Wilayah Salopapa merupakan
wilayah dari kelompok batuan metamorf.
Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa
mineral ubahan yang teridentifikasi dari
wilayah ini terdiri dari kaolinti, albit,
montmorilonit, illite dan kuarsa. Hasil
pmeriksaan ini berasal dari conto lokasi
(2) Mineralisasi dijumpai dalam
lingkungan vulkanik (dasitik). Pada
lingkungan ini mineralisasi dicirikan oleh
munculnya sejumlah mineral ubahan
disertai mineral sulfida halus dalam batuan
bersifat dasitik. Salah satu lokasi indikasi
mineralisasi di lingkungan ini dijumpai di
Salopalimunang dimana ubahan dari
batuan vulkanik dasitik mengalami
argilitisasi di sertai dengan hadirnya
mineral sulfida halus terdalam dalam
batuan. Secara megaskopis batuan yang
terubah warna abu-abu kecoklatan,
keputihan disusun secara dominan oleh
mineral kaolin dan argilik (Gambar 16).
Sementara dari hand specimen
(LU/16/MN/113) menunjukkan sifat fisik
batuan berwarna putih keabuan, keras,
disiminasi sulfide tertanam dalam batuan
silika (Gambar 17).
Hasil pemeriksaan mikroskopis
bijih pada lokasi (LU/16/MN/113) mineral
teridentifikasi adalah magnetit, kalkopirot
dan bornit (James R. Craig and David
Vaughan, 1994) (Gambar 18).
Hal menarik lainnya di wilayah ini
adalah dijumpainya mata airpanas yang
berada bersama sama dengan zona
ubahan dan mineralisasi (Gambar 19).
Sesuai penjelasan tersebut dapat
diketahui kondisi geologi alterasi dan
mineralisasi daerah di Salopapa berbeda
dengan di Salopalimunang. Dimana di
daerah Salopapa tidak dijumpai adanya
ubahan hidrotermal argilik sementara di
daerah Salopalimunang alterasi argilik
cukup dominan disamping kondisi
batuannya yang berbeda.
Adapun dari hasil analisis kimia
diketahui kandungan masing masing
unsur diwilayah penyelidikan adalah
sebagai berikut: Ada enam unsur yang
dianalisis yaitu Cu, Pb, Zn, Au, Ag dan Mo
dengan kadar masing-masing unsur
sebagai berikut: kadar (ppm) maksimum
Cu 88 ppb; Pb 143 ppb; Ag 2,4 ppb; Zn
166 ppb; Mo 2 ppb; Au 147 ppb. Dari hasil
perhitungan statistik berdasarkan data
analisis kimia menunjukkan bahwa
confidence level masing-masing unsur
adalah sebagai berikut Cu 3,8 ppb; Pb 3,9
ppb; Zn 4,8 ppb dan Au 4,3 ppb.
Sementara Ag 0,085 ppb; dan Mo 0,090
ppb (Tabel 1).
Perhitungan statistik yang
didasarkan pada data hasil analisis
laboratorium kimia di di lakukan PSDMBP
di daerah penyelidikan maka untuk
sebaran geokimia masing masing unsur
dapat digambarkan dalam bentuk peta
sebaran Cu, Pb, Zn dan Au, Ag, masing
masing digambarkan dalam sebuah peta
sebaran geokimia unsur sebagai berikut
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 7 PEMBAHASAN
Secara geologi daerah
penyelidikan di dominasi oleh batuan
metamorfik (filit dan batu sabak), batuan
intrusi (granit) dan batuan vulkanik
(andesit hingga dasitik). Ketiga jenis
batuan tersebut memiliki peranan penting
dalam pembentukan mineralisasi di
wilayah ini. Selain litologi batuan faktor
struktur juga memberikan peranan
penting.
Ada beberapa faktor utama yang
mengontrol terjadinya mineralisasi di suatu
wilayah, diantaranya. adalah “hostrock”, intrusi (“heat sources”), struktur, ore fluids dan rentang proses mineralisasi.
Di daerah penyelidikan terdapat
dua tipe mineralisasi terjadi pada
lingkungan geologi yang berbeda.
(1). Mineralisasi di lingkungan
metamorfik. Ini dicirikan oleh beberapa
indikasi diantaranya adanya butiran emas
di beberapa lokasi pada meta-andesit
yang diapit batuan filit. Alterasi di kawasan
Salopapa adalah mineral quarzt,
albit,montmorilonit, kaolinit dan illit.
Yang menarik dari mineralisasi di
kawasan ini adalah butiran emas yang
dijumpai berbentuk gepeng, membulat
tanggung s.d runcing dari ukuran butir
FVC hingga VCC. Selai butiran emas juga
mineral lain seperti zircon, magnetit,
arsenopirit, (analisis mineralogi butir)
dengan bentuk yang sama (gepeng).
Bentuk butiran mineral yang terdapat di
dalamnya konsentrat dulang
mencerminkan dapat kondisi mineralisasi
di bagian hulu atau sekitarnya (Thair
Al-Ani et.al, 2014).
Sementara dari hasil analisis
mineragrafi, mineral teridentifikasi
magnetit, kalkopirit dan pirit (James R.
Craig et.al, 1994),. Mineralisasi
diperkirakan terbentuk sebelum terjadinya
deformasi tektonik. Ini dapat dilihat dari
kondisi geologinya dimana meta-andesit
terapit oleh batuan filit.
Hasil analisis kimia menunjukkan
anomali diwilayah sekitar bukit Salopapa
kecenderungan mengarah kesatu wilayah
(bukit) dimana pada dibeberapa lokasi
sekeliling bukit dijumpai adanya butiran
emas (LU/16/MN/003/081/43/45/46).
Jadi bukit tersebut diperkirakan
sebagai daerah prospek mineralisasi
dengan arah NE-SW.
Beberapa pendapat menyatakan
jika mineralisasi terjadi pada lingkungan
metamorfik,maka mineralisasi tersebut
bisa dikategorikan sebagai mineralisasi
tipe orogenic (D.I. Groves et.al, 1997).
(2). Lingkungan batuan vulkanik
(Lok. Salopalimunang). Indikasi
mineralisasi tandai oleh ubahan
hidrotermal dalam bentuk kelompok
mineral argilit dalam batuan vulkanik
dengan komposisi dasitik. Secara
megaskopis ubahan hidrotermal yang
dijumpai di wilayah ini berwarna abu-abu
keputihan hingga kecoklatan,
mengandung mineral kaolin dan argilik
pemunculan mineral sulfida pirit dan
markasit (kuning pucat metallik).
Berbeda dengan mineralisasi di
Salopapa, mineralisasi di Salopalimunang
memiliki karakteristik alterasi jauh berbeda
dimana mineral ubahan yang muncul
memiliki sebaran alterasi cukup luas
disepanjang sungai Salopalimunang. Hasil
XRD mineralnya adalah kuarsa, klorit,
kaolinit, illit dan monmorilonit.
Hasil analisis mineragrafi mineral
teridentifikasi adalah magnetit, kalkopirit
bornit dan pirit (LU/16/MN/114). Bentuk
mineralisasi yang terjadi karena aktifitas
hidrotermal. Hal menarik di wilayah ini
adalah bahwa alterasi dan mineralisasi
terjadi pada lingkungan batuan vulkanik
yang merupakan manifestasi geothermal.
Keberadaan mineralisasi epitermal terkait
dengan geothermal sangat memungkinkan
sebagai mana yang terjadi di wilayah
geothermal di “Southern Kamchata (Victor
Okrugin and Ivan Chernev, 2015)
Diperkirakan zona mineralisasi di batasi
oleh kontrol struktur berarah NE-SW dan
SE-NW (Gambar 25).
Dari kedua daerah tersebut,
wilayah mineralisasi yang dianggap
prospek adalah Salopapa (Au) dengan
alasan daerah tersebut (1) ditemukan
adanya butiran emas yang diperkuat
dengan (2) anomali geokimia dengan pola
yang spesifik (Gambar 26).
KESIMPULAN
1) Secara geologi daerah penyelidikan
merupakan daerah perbukitan, disusun
oleh satuan batuan metamorf
(filit-sabak), batuan intrusi granit, batuan
vulkanik andesitic-dasitik dan endapan
alluvium. Struktur geologi berupa sesar
geser berarah NW-SE dan SE-SW.
Struktur tersebut mengontrol adanya
mineralisasi di wilayah ini.
2) Indikasi mineralisasi ditandai oleh
hadirnya sejumlah mineral ubahan
dalam batuan disertai butiran emas dari
hasil pendulangan diberapa lokasi.
Berdasarkan tipenya mineralisasi di
daerah penyelidikan dibagi atas dua
tipe. (1) Tipe mineralisasi yang terjadi
pada batuan metamorf (meta-andesit)
diapit batuan filit, Lokasi Salopapa.
Mineralisasi diperkirakan terjadi
sebelum terjadinya deformasi tektonik.
Ini dapat dilihat dari sifat fisik mineral
yang teridentifikasi dengan bentuk yang
gepeng. (2). Tipe mineralsasi yang
terjadi pada batuan vulkanik bersifat
andesitik-dasitik. Lokasi
Salopalimunang. Mineralisasi ini
ditandai oleh sebaran ubahan
hodrotermal yang luas disertai
manifestasi panasbumi.
3) Dari kedua wilayah mineralisasi
tersebut, maka wilayah mineralisasi
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 9
Salopapa dengan alasan hasil survey
lapangan menunjukkan adanya butiran
emas diperkuat dengan anomali kimia
yang memiliki bentuk anomali yang
terpola.
4) Berdasarkan poin (3) diatas disarankan
untuk dilakukan penyelidikan lanjut
guna mengetahui keberadaan
mineralisasi di Bukit Salopapa (bukit
yang mengarah ke anomali geokimia)
dengan cara melaku kan studi geologi
detil, soil sampling dan paritan jika
ditemukan adanya zona bijih.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyampaikan terima
kasih kepada Kabid dan Kasie Mineral
serta tim editor yang telah memberikan
saran dan koreksinya terhadap makalah
ini sehingga dapat diterbitkan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1996. Analytical Methods for
Atomic Absorption Spectroscopy,
The Perkin-Elmer Corporation,
United States of America.
C.D.Gribble, and A.J. Hall,1985, Optical
Mineralogy, Principle & Practice
George Allen & Unwin, London,
Sydney, Boston.
D.I. Groves, et.al, 1997, Orogenic gold
deposits: A proposed classification in
the context of their crustal
distribution and relationship to other
gold deposit types, Ore Geology
Reviews 13 _pp 7-27.
James R. Craig and David Vaughan,
1994, Ore Microscopy and Ore
Petrography, John Willey & Son, Inc,
New York, Toronto, Brisbane.
James R. Craig, 2001, Ore Mineral
Texture and the tales they tell, The
Canadian Mineralogist, Vol.39.
pp.937-956.
Frank T. Dulong, 1997, X-Ray Powder
Diffraction, Eastern Energy
Resources TeamU.S. Geological
Survey, MS956 Reston, VA 20192.
Scott A Speakman, 2002, Introduction to
X-Ray Powder Diffraction Data
Analysis, Center for Materials
Science and Engineering,
Massachusset Institute of
Technology, USA.
Simandjuntak T.O., Rusmana E., Surono
dan Supandjono J.B., 2007; Peta
Geologi Lembar Malili, Sulawesi
1:250.000, Pusat Survey Geologi,
Bandung.
Thair Al-Ani & Timo, Ahtola, 2014,
Mineralogical Analysis of Heavy
Minerals from Selected Till Samples
of Häme Belt, Southern Finland.
Victor Okrugin and Ivan Chernev,2015,
Correlation of Epithermal and
Geothermal Deposits (an Example of
Mutnovsky Geothermal Area,
Southern Kamchatka) Proceedings
World Geothermal Congress,
Gambar 1. Peta lokasi daerah penyelidikan
Gambar 2. Morfologi perbukitan dan
pedataran di wilayah penyelidikan
nampak latar belakang Sungai Salopaku.
Gambar 3. Batuan metamorf (filit) di sungai
Salopaku. Tampak terlihat adanya
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 11 Gambar 4. Fotomikrograf kenampakan sayatan tipis batuan metamorf.
Gambar 5. Intrusi granit tersingkap di bagian bawah Salopapa.
Tampak terlihat warna putih keabuan, berbutir kasar, equigranular.
Gambar 6. Batuan granit pada sayatan tipis tampak mineral plagioklas dan biotit.
Batuan ini memiliki sebaran di bagian tengah.Secara regional batuan ini berumur Pliosen
Gambar 7. Andesit tersingkap di antara filit lokasi di Salo Bangkele, Salopapa.
Tampak terlihat warna abu-abu kehijauan, mengalami foliasi
Gambar 8. Singkapan dasit dijumpai di Sungai Salo Palimunang.
Gambar 9. Peta geologi daerah Salupaku, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara,
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 13 Gambar 10. Batuan andesit terubah dan terfoliasi, struktur stockwork terjebak diantara
batuan metamorf filit Lokasi Salo Bangkele
Gambar 11. Butiran emas yang berasal dari sari dulang Salobangkele
Gambar 13. Hand specimen batuan termineralisasi Salo Bangkele (Lok MN/58)
Gambar 14. Butiran emas berasosiasi dengan kuarsa, ilmenit dan zircon
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 15 Gambar 16. Batuan dasitik terubah menjadi argilik warna abu-abu kecoklatan,
setempat dijumpai mineral sulfida tersebar. Lokasi Salo Palimunang
Gambar 17. Hand specimen batuan termineralisasi Salo Palimunang (Lok MN/113).
Gambar 19. Mata air panas di Sungai Palimunang
sebagai manifestasi panas bumi (hidrothermal)
Gambar 20. Peta sebaran geokimia unsur Cu wilayah Salopaku, Desa Tandung,
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 17 Gambar 21. Peta sebaran geokimia unsur Pb wilayah Salopaku, Desa Tandung,
Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara
Gambar 22. Peta sebaran geokimia unsur Zn wilayah Salopaku, Desa Tandung,
Gambar 23. Peta sebaran geokimia unsur Au wilayah Salopaku, Desa Tandung,
Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara
Gambar 24. Peta sebaran geokimia unsur Ag wilayah Salopaku, Desa Tandung,
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 19 Gambar 25. Peta hubungan antara geologi dan daerah prospek di wilayah Salopaku,
Desa Tandung, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara
Gambar 26. Bukit Salopapa sebagai daerah prospek mineralisasi logam (Au)
di wilayah Salopaku, Desa Tandung, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara,
Tabel 1. Hasil perhitungan statistic hasil analisis kimia Cu, Pb, Zn, Au, Ag dan Mo.
Kolom terbawah adalah confidence level
Descriptive Cu_ppm Pb_ppm Zn_ppm Ag_ppm Au_ppb Mo_ppm
Mean 27,07059 55,87059 77,42353 1,116471 7,094118 0,094118 Standard Error 1,984307 2,012064 2,481775 0,043574 2,195719 0,046211
Median 23 54 76 1,1 3 0
Mode 40 61 51 1,2 0 0
Standard Deviation 18,29441 18,55031 22,88084 0,401736 20,24353 0,426043 Sample Variance 334,6854 344,114 523,5328 0,161392 409,8006 0,181513 Kurtosis 1,169553 4,788934 1,153529 0,198286 36,80153 17,37448 Skewness 1,083623 1,348541 0,456174 0,559168 5,930735 4,355011
Range 85 121 137 1,9 147 2
Minimum 3 22 23 0,5 0 0
Maximum 88 143 160 2,4 147 2
Sum 2301 4749 6581 94,9 603 8
Count 85 85 85 85 85 85
Confidence Level(95.0%) 3,889171 3,943572 4,86419 0,085404 4,303531 0,090572
Kelas Interval 3 22 23 0,5 0 0
Kls1 27,07 55,87 77,42 1,12 7,09 0,09
Kls2 45,36 74,42 100,30 1,52 27,34 0,52
Kls3 63,66 92,97 123,19 1,92 47,58 0,95
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 21 EKSPLORASI ENDAPAN NIKEL LATERIT
DI DAERAH DOSAY, KECAMATAN SENTANI BARAT
KABUPATEN JAYAPURA, PROVINSI PAPUA
Bambang Nugroho Widi, Sulaeman dan Rudy Gunradi
Bidang Mineral
Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi
SARI
Daerah penyelidikan secara tektonik termasuk ke dalam Jalur Sesar Sorong,
memanjang dari Pegunungan Cyclop, Jayapura, menerus ke Kepala Burung hingga
Banggai-Sula. Secara administrasi termasuk kedalam wilayah Desa Dosay, Kecamatan
Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Berdasarkan geologi regional
merupakan bagian dari geologi Pegunungan Cyclop, disusun oleh batuan ophiolit yang terdiri
dari batuan ultraba, basa, dan batuan metamorfik, setempat endapan alluvium. Endapan
nikel terjadi dan terbentuk dalam lingkungan batuan ultrabasa dan basa Pegunungan Cyclop
yang telah mengalami proses serpentinisasi dan lateritisasi.
Kegiatan eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran, dan geometri
endapan nikel, dengan metoda pemetaan geologi semi rinci untuk penentuan batas sebaran,
dimensi dan potensinya serta pemboran dangkal menggunakan “hand Auger”. Kegiatan
pemboran “hand Auger” dilakukan dengan interval berkisar 100 meter s.d. 150 meter
sebanyak 35 titik bor.
Hasil analisis laboratorium dari beberapa lokasi menunjukkan adanya anomali Ni, Cr,
Co, Fe yang signifikan. Ni memiliki kadar tertinggi mencapai 2.538 ppm pada kedalaman 3
meter s.d. 4 meter. Pola anomali menonjol terdapat dibagian tenggara dan barat laut,
anomali dominan muncul di level 0 meter s.d. 1 meter. Co memiliki kadar tertinggi mencapai
855 ppm pada kedalaman 1 meter s.d. 2 meter. Pola anomali menonjol terdapat di bagian
tenggara dan barat laut. Polanya memiliki kemiripan dengan Co. Fe memiliki kadar tertinggi
mencapai 55,72% pada kedalaman 1 meter s.d. 2 meter. Pola sebaran Fe menonjol dibagian
tenggara dan barat laut dengan anomali dominan muncul dekat permukaan. Sedangkan Cr
memiliki kadar tertinggi mencapai 4,7% pada kedalaman 4 meter s.d. 5 meter. pola ini agak
berbeda, yang menonjol terdapat dibagian tenggara dan barat laut, tidak hanya di level dekat
permukaan namun menerus hingga kedalaman 4 meter s.d. 5 meter.
Sesuai pola tersebut, dapat ditarik suatu gambaran krom (Cr) merupakan unsur yang
Ni, kelimpahan unsur Ni di kerak bumi meningkat antara 4 hingga 12 kali lipat lebih
tinggi dari kelimpahan unsur di kerak bumi. Untuk bauksit dari analisis nilianya tidak
memperlihat hasil yang baik. Cr jika kita bandingkan dengan kelimpahan kerak bumi maka
nilai kelimpahannya meningkat antara 37 hingga 130 kali lipat lebih tinggi.
Adapun sumber daya masing-masing komoditi yang diperoleh terdiri dari Ni memiliki
luas 23,7000 m2, tebal 3 meter, sumber daya tereka Ni adalah 1800 Ton dengan kadar pada
kisaran 1480 ppm s.d. 2900 ppm. Unsur lainnya yaitu cobalt (Co) luas sebaran 10,2000 m2,
ketebalan 3 meter, berat jenis 2,6 ton/m3 sumber daya tereka adalah 795 ton, kadar
dikisaran 384 ppm s.d. 780 ppm, namun kearah lebih dalam kadar mengalami penurunan
drastik.Cr memiliki luas sebaran 79000 m2 ketebalan 3 meter, sumber daya tereka 616 Ton
dengan kadar dari 0,7% s.d. 2,2%. Fe memiliki luas sebaran 100000 m2, jika diasumsikan
tebal 3 meter, maka sumber daya tereka Fe adalah 780 Ton dengan kadar antara 19% s.d.
27%.
Secara keseluruhan dari seluruh komoditi yang ada (Ni, Co, Fe dan Cr), Cr memiliki
kadar paling tinggi, disamping itu pola sebarannya yang lebih teratur. Dari hasil penyelidikan
ini, maka untuk penyelidikan lanjut lebih direkomendasikan untuk komoditas krom (Cr)
dilakukannya eksplorasi lanjut dengan metoda penyelidikan geofisika yaitu salah satunya
adalah dengan metoda georadar.
Kata kunci: serpentinisasi, lateritisasi, nikel, krom
PENDAHULUAN
Jalur Pegunungan Cycloop
merupakan salah satu bagian dari jalur
tektonik yang cukup komplek di Papua
dimana di dalamnya terkandung potensi
sumber daya mineral sangat potensial dan
beragam. Jalur ini dikenal dengan nama
Sesar Sorong.
Secara geologi Jalur ini memiliki
karakteristik dimana terbentuknya
kelompok batuan ofioliti sebagai host rock
mineralisasi nikel (Ni), kobalt (Co), besi
(Fe), platinum (Pt), Paladium (Pd) dan
kromit (Cr).
Penyelidikan nikel di daerah Dosay,
Kecamatan Sentani Barat, Kabupaten
Jayapura, Papua oleh Pusat Sumber Daya
Geologi, tahun 2016, adalah merupakan
tindak lanjut dari hasil penyelidikan yang
telah dilakukan oleh Pusat Sumber Daya di
wilayah ini Geologi tahun 2010. diketahui
adanya anomali nikel (Ni); kromit (Cr) dan
besi (Fe) dari lapukan batuannya
(saphrolit) di wilayah Sentani Barat.
Penyelidikan ini dimaksudkan untuk
mengetahui sebaran, dan geometri
endapan nikel dengan cara melakukan
pemetaan semi rinci dalam upaya
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 23
potensinya di daerah tersebut. Tujuannya
adalah untuk mengetahui wilayah prospek
dan sumber daya endapan nikel di daerah
ini, sebagai bahan masukan untuk
pengusulan Wilayah Ijin Usaha
Pertambangan (WIUP) di wilayah ini, yaitu
wilayah Kabupaten Jayapura, Provinsi
Papua.
Lokasi Penyelidikan
Secara administratif lokasi
penyelidikan berada di Daerah Dosay,
Kecamatan Sentani Barat, Kabupaten
Jayapura, Provinsi Papua (Gambar 1).
Lokasi ini dari Jakarta dapat ditempuh
dengan menggunakan penerbangan
komersial selama kurang lebih 7 jam s.d. 8
Jam. Selanjutnya dari ibu kota Jayapura
perjalanan dilanjutkan menuju daerah
penyelidikan melalui jalan darat dengan
waktu tempuh selama ± 1,5 jam.
Metoda Penyelidikan.
Penyelidikan Lapangan
Nikel terbentuk di alam dalam
batuan ultrabasa (peridotit-dunit) sampai
basa (gabbro). Untuk mengetahui adanya
indikasi dari mineral ini diperlukan adanya
beberapa pendekatan (metode).
Beberapa metoda pendekatan
untuk mengetahui adanya indikasi
mineralisasi khususnya nikel, umumnya
mineral lain sebagai mineral pengikutnya
pada daerah laterit, metoda yang
digunakan dalam penyelidikan ini adalah
“surface mapping” (pemetaan permukaan),
dan pemboran dangkal menggunakan
“hand Auger”, untuk mengetahui kondisi
perlapisan laterit mulai dari top soil,
saphrolit hingga batuan dasar. Selain itu
juga digunakan “stripping” atau kupasan
pada singkapan yang tersingkap lebar dan
luas (Gambar 2).
Untuk conto soil setelah di ambil
baik dari hand auger maupun stripping,
untuk keperluan laboratorium conto
dilakukan pemercontohannya dengan cara
quartering (Gambar 3).
Pengeboran hand auger dilakukan
dengan interval 100 meter hingga 150
meter, sebanyak 35 titik dan terkumpul
sebanyak 144 conto tanah laterit dan 10
conto batuan untuk dianalisis unsur nikel,
krom, kobal dan besi.
Laboratorium
Setelah pelaksanaan pemercontoan
dilapangan selesai, conto terpilih diambil
untuk analisis laboratorium.
Pemeriksaan di laboratorium
dilakukan secara kimia (geokimia), metoda
yang digunakan adalah cara AAS. Conto
yang diperiksa berupa tanah maupun
batuan, dilakukan untuk mengetahui
kandungan unsur yang ada didalamnya
yang meliputi unsur kobalt (Co), nikel (Ni),
besi (Fe) dan krom (Cr). Sementara untuk
analisis fisika mineral metoda analisis yang
digunakan yaitu pemeriksaan petrografi,
mineragrafi dan XRD
Conto yang dianalisis 144 conto
Al2O3, CaO, MgO, TiO2, P, total, S total,
H2O dan HD dan major elemen). dan 10
conto batuan dengan jenis analisis (Ni. Co,
Cr, dan Fe, Fe3O4, Fe2O3, SiO2, Al2O3,
CaO, MgO, TiO2, P, total, S total, H2O dan
major elemen). 4 conto untuk analisis XRD,
3 conto untuk petrografi dan 1 conto untuk
analisis mineragrafi. Seluruh analisis
dilakukan di Pusat Daya Mineral, Batubara
dan Panas Bumi, Badan Geologi Bandung.
Seluruh hasil pengamatan lapangan dan
analisis laboratorium kemudian dilakukan
data prosesing untuk mengetahui adanya
sebaran dan anomaly unsur agar dapat
dibuatkan peta wilayah potensi mineral di
daerah penyelidikan.
GEOLOGI
Secara tektonik wilayah
penyelidikan Dosay merupakan bagian dari
kelompok “Ofiolit Pegunungan Cycloop”,
dimana itu sendiri merupakan bagian sistim
subduksi besar yang membentang dari
arah tenggara (bagian utara Jayapura)
hingga ke arah barat laut (utara kepala
burung).
Secara geologi daerah penyelidikan
disusun oleh batuan terdiri dari batuan
ultrabasa (peridotit-dunit), dan basa
(gabbro) yang sebagian besar terubah
menjadi serpentin kemudian mengalami
lateritisasi. Peridotit-dunit maupun gabbro
memiliki sebaran cukup luas, menempati
hampir ±80% dari wilayah yang ada,
selebihnya endapan alluvium (rawa).
Hampir seluruh batuan yang telah
terserpentinkan kuat (Gambar.4a),
selanjutnya mengalami pelapukan lanjut
menjadi laterit (Gambar.4b).
Adapun sebaran litologi batuan
yang terdapat diwilayah penyelidikan dapat
dilihat pada (Gambar.5). Litologi batuan
pada gambar tersebut memperlihatkan
batuan ultrabasa-basa menempati bagian
utara timur. Sementara dibagian selatan
dan tengah secara terpisah adalah
alluvium-endapan rawa yang merupakan
endapan alluvium.
Berdasarkan hasil analisis
petrografi menunjukkan batuannya adalah
gabbro yang telah terubah dengan
sebagian mineral telah mengalami retakan
yang diisi oleh mineral sekunder silika.
Mineral penyusunnya batuan adalah
plagioklas 87%, olivine 7%, serpentin
(antigorit) 4%, klorit dan mineral opak
masing-masing 1% (Gambar 6).
Sementara dari hasil pemeriksaan
XRD terhadap beberapa conto
menunjukkan mineral ubahannya adalah
berupa kaolinit dan klinoklor (Gambar 7).
Mineralisasi
Indikasi mineralisasi ditandai oleh
adanya ubahan pada batuan ultrabasa baik
peridotit, dunit maupuan batuan basa
gabbro yang terserpentinkan dengan kuat.
Oleh gaya eksogen batuan
mengalami pelapukan dari serpentin
menjadi laterit. Proses tersebut yang
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 25
Secara megaskopis ciri-ciri fisik
yang dapat dilihat antara lain warna soil
coklat kemerahan hingga kekuningan,
peruba- han warna terjadi secara gradasi
kearah kedalaman hingga batas saphrolit,
dari kuning kecoklatan, coklat tua hingga
coklat kemerahan (Gambar 8a).
Selain dari pada itu di beberapa
tempat selain sikuen tanah laterit, terdapat
pula indikasi lainnya yakni struktur
“boxwork” dimana tanah laterit pada
kondisi saphrolit sebagian terisi urat-urat
silica, ketebalan beberapa cm hingga ada
yang mencapai 1 cm lebih ada pada
(Gambar.8b).
Daerah dengan intensitas proses
lateritisasi tinggi ada pada lokasi bagian
tengah mengarah kearah utara (barat laut
dan tenggara). Wilayah dengan kondisi
laterit tebal adalah wilayah dengan
kemiringan topografi tidak curam dan tidak
landai sekali.
Mineralisasi di wilayah Dosay,
Sentani Barat ini adalah merupakan
sebagian dari daerah mineralisasi komplek
ofiolit Peg. Cycloop yang luas,
membentang arah timur ke barat.
Hasil analisis kimia
Hasil analisis sebagian unsur dari
conto tanah dengan empat jenis unsur
logam memberikan gambaran
sebagaimana terlihat pada Tabel 1. Dari
sejumlah conto yang dianalisis, nilai unsur-
unsur nya khususnya nikel dapat dijelaskan
sebagai berikut.
Tabel 1. Sebagian dari hasil analisis
laboratorium berasal dari conto tanah
Kadar nikel tertinggi mencapai 4000
ppm atau sekitar 0,4% Ni, kadar terendah
sekitar 34 ppm, kadar rata-rata adalah
627,2 ppm Ni. Kadar kobal tertinggi
mencapai 855 ppm Co, kadar terendah
sekitar 34 ppm, kadar rata-rata adalah
134,43 ppm Co. Kadar besi tertinggi
mencapai 55,72% Fe, kadar terendah
sekitar 3,76%, kadar rata-rata adalah
24,82% Fe. Kadar krom tertinggi mencapai
4,7% Cr, kadar terendah sekitar 34 ppm,
kadar rata-rata adalah 0,1854% Cr.
Berikut adalah beberapa
perbandingan hasil analisis unsur nikel
dengan unsur lainnya (sebagian) yang
dilakukan di Pusat Laboratorium Kimia
Mineral, Pusat Sumber Daya Mineral
Batubara, dan Panas Bumi (PSDMPB),
Tabel 2. Perbandingan kandungan nikel
dan 3 unsur logam lainnya
Pada tabel tersebut tampak terlihat
jelas adanya perbedaan antara nikel dan
kobal, besi maupun krom. Nikel hasil
analisisnya berada pada kisaran paling
tinggi sekitar 4285 ppm atau 0,4%.
PEMBAHASAN
Interpretasi Model Endapan
Berdasarkan proses
pem-bentukannya, endapan laterit memiliki
beberapa zona lateritisasi dengan ketebalan
dan kadar yang bervariasi di satu daerah
dengan daerah lainnya. Daerah dengan
intensitas pengkekaran tinggi sebagai
contoh, akan memiliki ketebalan soil dan
saphrolit lebih tebal di bandingkan dengan
intensitas pengkekaran yang rendah.
Faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap proses pembentukan laterit:
a. Batuan asal
Batuan asal ultra basa misalnya
merupakan syarat utama untuk
pembentukan Co, Ni, Fe, Cr, Pt, dan Pd.
Pada batuan ultra basa memiliki
elemen tersebut paling banyak dibanding
batuan lainnya.
Batuan tersebut mineral yang paling
mudah lapuk (olivin dan piroksen),
komponen-komponennya mudah larut dan
memberikan lingkungan pengen dapan
cukup baik.
b. Struktur
Struktur yang umum dijumpai pada
zona laterit nikel adalah struktur kekar
(joint) dibandingkan struktur patahan.
Seperti diketahui, batuan beku memiliki
porositas dan permeabilitas yang sangat
kecil sekali sehingga penetrasi air sangat
sulit. Maka dengan terjadinya
rekahan-rekahan, hal tersebut akan lebih
memudahkan masuknya air sehingga
proses pelapukan lebih intensif terjadi.
c. Iklim
Adanya pergantian musim seperti
musim kemarau dan musim penghujan
akan mneningkatkan terjadi intensitas
penaikan dan penurunan permukaan air
tanah, dapat menyebabkan terjadinya
peningkatan proses pemisahan dan
akumulasi unsur-unsur.
Perbedaan temperatur yang cukup
tinggi akan membantu mempercepat
terjadinya proses pelapukan mekanis,
dimana akan rekahan-rekahan dalam
batuan yang akan mempermudah proses
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 27
d. Topografi
Pengaruh topografi memberi
dampak cukup signifikan bagi
pembentukan endapan laterit.
Pada kondisi topografi yang curam
akan sangat sulit untuk terbentuknya
akumulasi laterit dimana faktor air bawah
permukaan memiliki “run off” yang tinggi
sehingga sulit terjadinya pengendapan
yang baik.
Sementara pada daerah datar
proses pelapukan berjalan sangat lambat,
sirkulasi air bawah permukaan tidak
berjalan baik.
Hal terbaik bagi pembentukan
endapan laterit seperti nikel misalnya
adalah pada kondisi topografi menengah
tidak curam dan tidak landai sekali (datar).
Kondisi ideal adalah undulating atau
melandai dengan kemiringan lereng antara
10° hingga 20°sekitar tidak curam dan tidak
datar.
Secara genesis proses
pembentukan laterit yang terjadi karena
faktor tersebut diatas, telah membentuk
horizon lateritisasi yang menurut
(Ahmad.W, 2000) dapat dibagi menjadi
zona yaitu zona limonit terletak bagian
atas, zona saprolit berada dibagian tengah
dan batuan dasar berada pada bagian
paling bawah (Gambar 8).
Hasil analisis kimia menunjukkan Ni
memiliki asosiasi kuat dengan krom. Jika
kandungan nikel tinggi, kandungan krom
juga meningkat. Namun dengan Fe
maupun kobal tidak memiliki pola korelasi
yang baik (Tabel 3).
Adapun terkait dengan kedalaman
pola kandungan nikel di wilayah
penyelidikan tidak memiliki pola anomali
yang teratur. Di lokasi tertentu dimana
terkait dengan krom misalnya kedalaman
laterit tidak diikuti dengan adanya
peningkatan kadar yang teratur
(Gambar 9).
Adapun sebaran secara horizontal
nikel pada kedalaman 0 meter s.d. 1 meter
cukup tinggi. Namun pada kedalaman dari
1 meter s.d. 2 meter dan 2 meter s.d. 3
meter terjadi penurunan cukup dratis.
Perubahan tersebut dapat dilihat pada
(Gambar 10).
Genesis endapan nikel.
Endapan nikel terjadi pada
lingkungan batuan ultrabasa s.d. basa
(dunit hasburgit s.d gabbro) dalam
lingkungan ofiolite. Gaya endogen
menyebabkan batuan mengalami rekahan
dan ubahan serpentin. Selanjutnya gaya
eksogen membentuk proses lateritisasi
yang menyebabkan adanya pengayaan
unsur logam Ni, Co, Cr dlsb. Beberapa
faktor penyebab terjadinya proses
lateritisasi yaitu adanya sirkulasi air tanah,
kemiringan topografi. (Samama,1986)
(Gambar 11)
Secara tektonik mineralisasi nikel
didaerah Dosay terjadi dan terbentuk dari
bagian sistim subduksi besar yang
membentang dari arah tenggara (bagian
utara Jayapura) hingga ke arah barat laut
(utara Kepala Burung).
Subduksi besar tersebut adalah
“New Guinea Trench” dimana Lempeng
Laut Caroline bertumbukan dengan P.
Papua yang merupakan bagian dari
“Australian craton” di Kapur Akhir (Pigram and Davies, 1987; Davies et al., 1996
dalam Hugh L.Davies,2011), dalam peta
oleh Randall Betuela (Gambar 12).
Pada posisi tektonik yang sama di
wilayah PNG ditemukan endapan
ekonomis tepatnya di wilayah Ramu,
Kurumbukari, Madang.
Fenomena di wilayah Papua bagian
timur ini, tidak menutup kemungkinan
bahwa di wilayah timur lainnya seperti di
Kawasan Lembah Memberamo kearah
barat sangat logam seperti Co,Cr,Ni, Pt
dan Pd yang sangat potensial.
Oleh karena itu secara geologi
wilayah ini memiliki hamparan ofiolit yang
sangat luas (Gambar 13), sehingga
perburuan eksplorasi logam seperti Cr, Ni,
Co, Fe, Pt dan Pd di wilayah Indonesia
timur (Papua) sangat dimungkinkan.
Potensi Endapan Bahan Galian
Sumber daya merupakan salah
bagian penting yang harus dilakukan dalam
kegiatan eksplorasi. Salah satu target yang
di kerjakan di wilayah Dosay adalah
mendapatkan sumber daya.
Dengan menggunakan metode sederhana
perhitungan sumber daya dapat dilakukan
caranya dengan melakukan pengkalian
antara wilayah luas (daerah pengaruh yang
sudah di tentukan) di kalikan ketebalan,
diperoleh volume, kemudian di kalikan
dengan spesifik graffiti (BJ) laterit nikel).
Jika luas wilayah anomali krom 237000 m2,
ketebalan 3 meter, BJ laterit 2.6 maka
sumber daya tereka adalah sebesar
848.600.00 Ton (Tabel 4) pada kadar
dikisaran 1500 ppm s.d. 2900 ppm atau
0,15% s.d. 0,29%. Kadar ini masih belum
masuk kadar sebagaimana yang
ditambang. Gambaran sebaran daerah
anomali berkaitan dengan kadar nikel di
wilayah penyelidikan Dosay dapat dilihat
pada Gambar 14.
Jika dibandingkan dengan deposits
yang sedang di tambang di Ramu,
Kurumbukari, Madang, Papua New Guinea
maka nikel dari Dosay memiliki kesamaan
zona namun dari segi kadar masih berada
dibawah kadar nikel di Ramu, Madang,
Papua New Guinea yang secara sistem
tektonik merupakan bagian dari zona ofiolit
(Gambar 15).
Prospek Pemanfaatan Nikel
Nikel memiliki banyak kegunaan
diantaranya adalah untuk stainless steel 10
ferronickel s.d. 20 ferronickel, metal
casting-foundy grade NC, furnance walls
refractory grade, nickel plating, paint.
Kegunaan secara lebih luas ada pada
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 29
Sementara kebutuhan nikel dunia
dari tahun ke tahun mengalami perubahan
cukup signifikan sesuai market demand
(Gambar 16).
Adapun negara-negara penghasil
nikel dengan jumlah besar berdasarkan
data yang diperoleh dari sumber Mineral
Commodity Summaries United State
Geology Surveu (USGS) 2015 dapat dilihat
pada Gambar 17.
Pada gambar tersebut terlihat
produksi nikel terbesar berasal dari Negara
Philipinnes, disusul Rusia. Indonesia
berada di urutan No.3. Produksi tersebut
belum termasuk dengan potensi nikel yang
berada di Wilayah Papua dengan
hamparan ultrabasa yang sangat luas.
Kesimpulan
Nikel merupakan salah satu jenis
mineral logam yang penting bagi dunia
industri khususnyaindustri logam
Berbeda dengan logam lainnya
yang berasal dari batuan ultrabasa (ofiolit)
keterdapatan nikel di Indonesia dari segi
eksplorasinya masih masih belum
maksimal khususnya di wilayah Papua.
Dengan melihat anomali wilayah
yang diperoleh dari perhitungan analisis
laboratorium diketahui bahwa potensi nikel
diwilayah penyelidikan adalah sekitar
1.848.600.00 Ton pada kadar dikisaran
1500 ppm s.d. 2900 ppm atau 0,15% s.d.
0,29%.
Meskipun hasil eksplorasi nikel
pada wilayah ini belum memberi hasil yang
maksimal namun disisi lain memberikan
petunjuk mineral lain nya yaitu kromit. Di
kawasan ini kromit menunjukkan kadar
yang lebih baik dibanding mineral lainnya
mencapai hingga 4,7% Cr.
Adanya sebaran ofiolit yang luas di
kawasan Papua memberikan harapan baik
tentang adanya indikasi yang baik
berkaitan dengan sebaran nikel di daerah
Indonesia, khususnya bagian timur yang
belum terjamah secara geologi.
Dengan melakukan pengkajian
kembali secara lebih mendalam pada
wilayah-wilayah batuan ultrabasa (seperti
di kawasan Memberamo dan sekitarnya)
serta di daerah lain diharapkan akan
ditemukan deposit baru yang potensial
khususnya nikel dan mineral lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2003. Atlas Geologi dan Potensi
Sumber Daya Mineral-Energi
Kawasan Indonesia, Skala
1:10.000.000, Laporan Intern Pusat
Survei Geologi, Bandung.
Anonim, 2007 List of Periodic Table
Elements Sorted by Abundance in
Earth's crust". Israel Science and
Tech. Home page. Retrieved -04-15
Amin, T.C., Hadiwidjoyo, S., 2003. Peta
Batuan Induk Sumber Daya Mineral
Ediar Usman., 2011. Prospek
Pengembangan Sumber Daya Nikel
Laterit di kawasan Indonesia, Timur,
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi Kelautan, Bandung.
High Land Pacific Inc., 2014. Ramu Nickel
Project, Kurumbukari, Papua New
Guinea.
Hugh L. Davies., 2011. The geology of
New Guinea-the Cordilleran margin
of the Australian continent, Earth
Sciences, University of Papua New
Guinea, PO Box 414, University
NCD, Papua New Guinea.
Kevin Bradley 2011., Nickel Applications &
Uses, 8th Annual China Nickel
Conference Shanghai, Nickel Istitute
Ononim, 2016, Nickel price and stock,
AnInternational Nickel Study Group
Samama (1986)., Ni-Co Laterites─A
Deposit Model, Open-File Report
2011-1259 U.S. Geological Survey,
U.S. Department of the Interior
Simandjuntak, T.O., 2003. Peta Tektonik
Neogen.Dalam: Pusat Survei
Geologi, Bandung.
USGS Mineral Commodity Summaries
2015, World Nickel Mine Production
2014 (in metric tonnes of Nickel
Content) World’s Nickel Producing
Countries.
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 31 Gambar 2. “stripping” merupakan salah satu metoda pengambilan conto
di wilayah penyelidikan.
Gambar 3. Kegiatan quatering conto dari hasil hand auger.
Gambar 5. Peta geologi di daerah Penyelidikan, Kampung Dosay,
Sentani Barat, Provinsi Papua
Gambar 6. Fotomikrograf mineral penyusun batuan gabbro terubah,
terlihat olivine yang terisi oleh serpentin.
Gambar 7. Bentuk peak dari mineral kaolionit
(aluminium silicate-hydrocite) berdasarkan pemeriksaan XRD K
K
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 33 Gambar 8. Profil pola pembentukan endapan laterit (Ahmad.W ,2000)
Gambar 9. Profil pola hubungan kedalaman dan kadar (Co,Ni,Fe dan Cr)
lokasi Dosay, Sentani Barat, Provinsi Papua.
Gambar 11. Bentuk profil ideal endapan nikel (Samama, 1986)
Gambar 12. Peta Geologi dan Tektonik Pulau Papua
(Randall Betuela, 2011).
Gambar 13. Peta tektonik dan sebaran batuan ofiolit mengandung nikel
di Kawasan Timur Indonesia (dikompilasi dari Hamilton, 1979; Katili, 1980; Simandjuntak,
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 35 Gambar 14. Peta luasan prospek sumber daya Cr di daerah Dosay,
Sentani Barat, Provinsi Papua
Gambar 15. Kegunaan nikel secara umum dalam dunia industri (Kevin Bradley, 2011).
Gambar 17. Produksi tambang nikel dunia 2014
Source: USGS Mineral Commodity Summaries, 2015
Table 3. Tabel analisis kimia
Tabel 4. Potensi Sumber Daya masing-masing unsur (Ni, Co, Fe dan Cr)
di wilayah Dosay, Provinsi Papua.
Unsur luas (m
2) Tebal (m) Volume (m
3) BJ laterit (ton/m
3) Tonase (Kg)
Co
102.000
3
306.000
2,6
795.600
Fe
100.000
3
300.000
2,6
780.000
Ni-1
90.000
3
270.000
2,6
702.000
Ni-2
147.000
3
441.000
2,6
1.146.600
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 37 EKSPLORASI UMUM LOGAM DASAR
DI KECAMATAN TOMBOLO, KABUPATEN GOWA,
PROVINSI SULAWESI SELATAN
Edya Putra, Bambang Nugroho Widi dan Hartaja M. Hatta Wicaksono
Bidang Mineral
Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi
SARI
Secara umum geologi daerah penyelidikan didominasi oleh batuan vulkanik berupa
satuan lava andesit dan tufa, serta lava andesit muda. Sementara batuan pembawa
mineralisasi terjadi pada batuan lava andesit yang telah mengalami ubahan argilik hingga
argilik lanjut dan dikontrol oleh struktur yang kuat berarah relatif utara - selatan.
Indikasi mineralisasi selain adanya ubahan argilik hingga argilik lanjut, silisifikasi dan
propilit, juga ditemukannya sebaran kuarsa (vuggy dan massive).
Hasil analisis XRD dan PIMA, kehadiran mineral halloysite, jarosite, dan kaolinit
menunjukkan kisaran pembentukan mineral temperatur rendah. Sedangkan kehadiran mineral
phirophyllite, dan illit menunjukkan kisaran pembentukan mineral temperatur tinggi.
Berdasarkan pH nya, mineral ubahan menunjukkan keasaman yang tinggi seperti alunit,
halloysite, jarosite, kaolinite, dickite, dan phirophyllite. (Hedenquist, 1996). Adapun hasil
analisis mineragrafi, mineral logam yang teridentifikasi adalah pirit, hematit, kalkopirit, enargit,
tenantit, galena, kovelit, malakit, tetrahedrit, dan hydrous Iron oxide.
Berdasarkan karakteristik dari mineral ubahan, dimana banyak menghasilkan mineral
ubahan dengan keasaman yang tinggi terutama alunite, dickite, phirophyllite, dan
ditemukannya silika gerowong (vuggy quartz), serta tipe mineralisasinya dimana mineral
logam yang terbentuk di daerah penyelidikan berupa enargit, tenantit, tetrahedrit, dan, kovelit,
maka model endapan di daerah penyelidikan adalah epithermal high sulfidation. Namun
adanya kelompok anomaly Hg di daerah Bulu Lawekang mengidikasikan bahwa juga terdapat
model endapan epithermal low sulfidation.
Mineral bijih terutama logam dasar (Cu) terbentuk, umumnya berupa sebaran pada
ubahan argilik. Melihat daerah prospeknya berdasarkan zona ubahan argilik, mempunyai luas
±666 Ha. Dan zona mineralisasi berdasarkan anomali unsur dari conto soil serta ditunjang
oleh pengamatan lapangan, terdapat 2 (dua) zona yaitu: Zona mineralisasi Au - Hg, ± 46 Ha
di sepanjang punggungan Selatan Bulu Lawekang hingga Bulu Laheka, dan zona mineralisai
Hasil analisis laboratorium kimia mineral terhadap conto batuan dan tanah
menunjukkan kadar tidak begitu signifikan. Namun dari aspek geologi dinilai cukup menarik
dan masih memungkinkan memiliki potensi endapan mineral logamnya. Hal ini terutama dilihat
dari mineral ubahan, hasil mineragrafi, dan dari peta sebaran unsurnya, terutama unsur Au,
Hg, dan Cu. Anomali Au dan Hg berbanding lurus dan sebaran anomali berada di punggungan
Selatan Bulu Lawekang hingga punggungan Bulu Laheka. Dan sebaran Anomali Cu dominan
di punggungan Bulu Lanti bagian Selatan hingga punggungan Bulu Laheka.
Kata kunci: Emas, Epithermal, Bulu Lawekang - Bulu Laheka
PENDAHULUAN
Kegiatan eksplorasi mineral logam
di Kecamatan Tombolopao Kabupaten
Gowa ini dilakukan sebagai tindaklanjut
dari kegiatan inventarisasi dan evaluasi
mineral logam Kabupaten Takalar dan
Kabupaten Gowa, Pronvinsi Sulawesi
Selatan (DIM, 2002), ditemukan indikasi
mineralisasi logam dasar di daerah
Talatala dan Kecamatan Tombolopao,
Kabupaten Gowa. Selain itu Dinas
Pertambangan dan Energi Kabupaten
Gowa tahun 2007, melakukan penyelidikan
Identifikasi Potensi Geologi dan Sumber
Daya Mineral Kabupaten Gowa yang
dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten
Gowa di Kecamatan Tombolopao, yang
menemukan indikasi mineralisasi emas
dan assosiasinya di Desa Erelembang dan
Melenteng.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk
mendapatkan data primer tentang
mineralisasi logam dasar yang terdapat di
Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa.
Adapun tujuannya untuk mengetahui
potensi sumber daya mineral logam di
daerah penyelidikan, dan data tersebut
dapat digunakan dalam penyusunan WIUP
mineral logam. di Kabupaten Gowa.
Secara administratif lokasi
penyelidikan di daerah Kecamatan
Tombolopao, Kabupaten Gowa, Provinsi
Sulawesi Selatan (Gambar 1). Secara
geografis dibatasi oleh koordinat 119 51’ 33.92” - 11955’ 4.08” Bujur Timur dan 5
7’ 2.23” - 511’ 41.71” Lintang Selatan.
METODOLOGI
Kegiatan penyelidikan dilakukan
dengan cara pengamatan geologi,
dilakukan pada lintasan sungai,
punggungan dan jalan di sekitar daerah
terpilih, dimaksudkan untuk mengamati
perubahan satuan batuan, jenis batuan,
alterasi dan mineralisasi serta gejala-gejala
geologi lainnya. Pengumpulan data dan
informasi primer yang dilakukan meliputi:
1. Pemetaan geologi skala 1:25.000 -
1:10.000.
2. Pemercontoan tanah (ridge and spur)
dan batuan termineralisasi (rock chip,
Prosiding Hasil Kegiatan Tahun 2016 Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi 39
3. Pembuatan paritan/sumur uji.
. Perolehan conto dari kegiatan
pengambilan data primer berupa conto
batuan dan tanah (107 conto), ditampilkan
dalam peta lokasi conto (Gambar 2).
Uji laboratorium meliputi analisis
kimia dengan metode AAS yang terdiri dari
conto tanah dan batuan, analisis petrografi,
mineragrafi, XRD, dan PIMA. Pengolahan
hasil analisis conto tanah (soil sampling)
dengan statistik deskripsi sederhana, serta
plotting data di peta dengan menggunakan
program mapinfo 11.
GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN
Bentang alam daerah eksplorasi
dapat dibagi menjadi dua satuan morfologi
yaitu morfologi pedataran dan morfologi
perbukitan. Perbedaan kedua satuan
morfologi tersebut secara fisik ditekankan
lebih kepada karakteristik keadaan
topografi dan tingkat elevasinya.
(Gambar 3).
Litologi daerah penyelidikan dapat
dibagi menjadi tiga satuan batuan dengan
urutan yang berumur tua hingga muda
yaitu: satuan lava andesit, satuan tufa, dan
satuan lava andesit muda.
Satuan Lava Andesit ini merupakan
yang paling luas penyebarannya, sekitar
±60% dari total luas daerah penyelidikan.
Satuan ini sebagian besar sudah terubah
dan didominasi oleh lava andesit afanitik,
dan juga terdiri dari lava andesit porfiritik,
breksi andesit, dike andesit yang
memotong satuan lava andesit, serta
setempat dasit di bagian hulu Sungai
Karo-karo. Lava Andesit afanitik mumpunyai
ukuran butir halus, dan fenokris plagioklas
agak jarang, massiv, keras, berwarna
abu-abu gelap, dan bersifat basaltik.
Kenampakan di lapangan satuan ini
sebagian besar sudah mengalami ubahan,
dan nampak hampir disepanjang Sungai
Erelembang, dan disebagian besar Sungai
Lantikia, dan Sungai Karo-karo.
(Gambar 4).
Didalam sayatan tipis (analisis
petrografi) pada conto GW/16/MN/002R,
menunjukkan tekstur hipokristalin,
berukuran sangat halus hingga 0,48 mm,
bentuk kristal subhedral-anhedral, disusun
oleh kuarsa (66%), plagioklas (3%) biotit
(1%), piroksen (2%), klorit (5%), kalsit (7%),
muskovit (4%), opak (7%) dan karbonat
(5%). Sayatan sudah tidak menunjukkan
batuan asalnya. Batuan diinterpretasikan
adalah Batuan Silisifikasi.
Satuan lainnya adalah satuan tufa
yang diduga menjemari dengan satuan
andesit. Selain tufa, juga nampak breksi
tufa sebagai sisipan dalam satuan tufa
tersebut. Selain itu setempat juga nampak
tufa lapilli dengan ukuran butir sedang.
Kenampakan di lapangan, tufa
berwarna putih kecoklatan atau krem,
ukuran butir halus. kekerasan sedang,
terdiri dari material debu vulkanik, dan
setempat terdapat sisipan breksi tufa
dengan masadasar dan fragmen berupa