BUKIT SALOPAPA
KLASIFIKASI SUMBER DAYA DAN CADANGAN
Pasal 33 Ayat 3 yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar- besarnya untuk kemakmuran rakyat. Landasan hukum lainnya adalah
1. UU No. 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan energi pada Pasal 6 ayat 1 point q dan s, disebutkan bahwa penyusunan neraca sumber daya mineral pada tingkat nasional merupakan kewenangan Pemerintah dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, 2. UU No. 23 Tahun 2014 Tentang
Pemerintahan Daerah, disebutkan bahwa penyusunan neraca sumber daya dan cadangan mineral serta energi nasional merupakan salah satu urusan Pemerintah Pusat pada Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral berdasarkan pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi.
3. PP Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
4. Permen ESDM Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja KESDM, Pasal 674 Tentang Tupoksi Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi, Beberapa acuan yang digunakan dalam melakukan penyusunan neraca sumber daya mineral adalah
1. SNI 13-4726-1998/Amd-1 tentang Klasifikasi sumber daya mineral dan cadangan (serta amandemennya) 2. SNI 4726:2001 tentang pedoman,
pelaporan, sumber daya dan cadangan mineral
3. SNI 19-6728.4-2002 tentang Penyusunan neraca sumber daya - Bagian 4 : Sumber daya mineral spasial
4. SNI 6728:4 Tahun 2015 Tentang Penyusunan Neraca Spasial Sumber Daya Alam – Bagian 4 : Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara
KLASIFIKASI SUMBER DAYA DAN CADANGAN
Klasifikasi sumber daya cadangan mineral mengacu pada SNI 130-4726-1998 (Amandemen-1), dimana klasifikasi ini mengacu pada standar industri pertambangan yang telah ada di beberapa negara yaitu:
1. A Guide for Reporting Exploration Information, Resources and Reserves Working Party #79, Society of Mining,
2. Australasian Code for Reporting of Identified Mineral Resources and Ore Reserves, 1992
3. Principles of Resources/Reserce Classification for Minerals, US Bureau of Mines and US Geological Survey Circular 831, 1980
4. SEC Accounting Rules, Reglations, Annotations, Releases, Forms, FormS- 18, pp 8345-3 TO 8345-3 to 8345-19, Commerce Clearing House, Inc., 1983. 5. United Nations International Framework
Classification for Reserves/Resources- Solid Fuels and Mineral Commodities, 1996.
Pada SNI tersebut, klasifikasi sumber daya mineral dikelompokkan menjadi empat kelas berdasarkan tahapan eksplorasinya, yaitu hipotetik, tereka, tertunjuk dan terukur, tahapan eksplorasi ini mencerminkan tingkat keyakinan geologi dari tata teknis yang digunakan pada proses estimasi sumber daya. Sedangkan klasifikasi cadangan mineral dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu terkira dan terbukti. Berikut penjelasan klasifikasi tersebut (Gambar 1).
Sumber Daya Hipotetik (Hypothetical Resources)adalah sumber daya mineral dan batubara yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan perkiraan pada survei tinjau.
1. Sumber Daya Tereka (Inferred
kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap prospeksi.
2. Sumber Daya Tertunjuk (Indicated Mineral Resources) adalah sumber daya mineral dan batubara yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap eksplorasi umum.
3. Sumber Daya Terukur (Measured
Resources) adalah sumber daya mineral dan batubara yang kuantitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap eksplorasi rinci.
4. Cadangan Terkira (Probable Reserve) adalah sumber daya mineral dan batubara tertunjuk dan sebagian sumber daya terukur yang tingkat keyakinan geologinya masih lebih rendah, yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomik
5. Cadangan Terbukti (Proved Reserce) adalah sumber daya mineral dan batubara terukur yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomik
SNI tersebut telah direvisi oleh Panitia Teknik Potensi Kebumian dengan
SNI 4726-2011: Pedoman pelaporan,
Buku 2: Bidang Mineral
harus ditandatangani oleh tenaga kompeten (competent person). Seorang tenaga kompeten harus mempunyai pengalaman sekurang-kurangnya lima tahun dalam bidang yang sesuai dengan bentuk mineralisasi dan jenis cebakan yang sedang dipertimbangkan dan sesuai dengan kegiatan yang sedang dilakukan oleh Tenaga Kompeten tersebut.
Namun substansi SNI 4726-2011 tersebut lebih difokuskan bagi kepentingan para pelaku pengusahaan mineral, setiap perusahaan pertambangan mineral mempunyai kewajiban untuk melaporkan kegiatannya sesuai dengan kontrak yang ditanda tangani, SNI terbaru ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi para pengusaha dalam melaporkan kegiatannya. Dikarenakan SNI terbaru ini lebih ditujukan pada pengusaha mineral, maka klasifikasi sumber daya mineral mengalami sedikit perubahan, pada SNI Tahun 2011 dan kelas sumber daya hipotetik ditiadakan. Selanjutnya pada tahun 2015 telah terbit
SNI 6728.4:2015: Penyusunan neraca
spasial sumber daya alam Bagian 4: sumber daya dan cadangan mineral dan batubara, dalam SNI tersebut, pada halaman..terdapat catatan : sumber daya hipotetik diberlakukan kembali untuk hasil kegiatan yang dilakukan instansi pemerintah. Oleh karena itu SNI tahun 2011, hanya berlaku untuk pedoman pelaporan sumber daya mineral, bagi
Dengan asumsi sumber daya hipotetik dihasilkan dari kegiatan Pemerintah, tidak seharusnya perusahaan mineral dan batubara melakukan kegiatan survei tinjau. Perusahaan mineral seharusnya menindaklanjuti kegiatan yang telah dilakukan oleh Pemerintah dengan melakukan survei yang memiliki tingkat keyakinan geologi yang tinggi.
PSDMBP sebagai suatu instansi pemerintah memiliki tugas dan kewenangan untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan eksplorasi dalam upaya melakukan inventarisasi potensi mineral dan batubara di Indonesia. Sumber daya hipotetik yang dipublikasikan oleh Pemerintah tidak hanya berdasarkan asumsi semata, melainkan didukung oleh berbagai data hasil dari peninjauan lapangan. Sumber daya hipotetik tersebut mencerminkan potensi negara Indonesia yang belum dimanfaatkan hingga saat ini. Pemanfaatannya mungkin terkendala oleh beberapa permasalah, misalnya lokasi yang tumpang tindih dengan kawasan konservasi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka kelas sumber daya hipotetik tetap dilaporkan dalam penyusunan neraca sumber daya mineral.
METODOLOGI
Proses bisnis pengelolaan data mineral pada PSDMBP melalui tiga tahap, yaitu inventarisasi data, pengolahan data
Daya Mineral yang telah dimutakhirkan (Gambar 2).
Penyusunan neraca sumber daya mineral dilakukan berdasarkan hasil kegiatan penyelidikan yang dilakukan oleh PSDMBP, dinas-dinas pertambangan dan energi di Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten, Badan Usaha Milik Negara dan Perusahaan Swasta di bidang pertambangan.
Dalam melakukan penyusunan neraca mineral metoda pekerjaan dilakukan mencakup beberapa tahapan berikut:
1. Inventarisasi data dan informasi mengenai mineral dan energi sebagai langkah awal dalam mencari dan mengelompokkan data, baik dari laporan penyelidikan, buku, data dari instansi terkait dan perusahaan swasta serta informasi lainnya yang diperoleh dari situs-situs website terkait
2. Pengisian formulir sumber daya mineral logam dan mineral bukan logam
3. Pengolahan data tekstual dan data spasial
4. Integrasi data tekstual dan data spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG)
5. Penghitungan neraca sumber daya dan cadangan mineral
6. Verifikasi data 7. Pembuatan SIG
sumber daya geologi, updating Web GIS Sumber Daya Geologi pada Website Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi, peta sumber daya geologi dan dibagikan dalam bentuk alamat Web Map Service (WMS).
BASIS DATA MINERAL TAHUN 2016