BUKIT SALOPAPA
GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN Pengamatan di lapangan daerah
penyelidikan didominasi oleh pelapukan endapan Permukaan Tua (Qp) yang terdiri dari; lempung, lanau, kerikil lempungan, sisa-sisa tumbuhan dan pasir granit dan pelapukan endapan Permukaan Muda (Qh) terdiri dari: lempung, lanau, kerikil licin, sisa-sisa tumbuhan, rawa gambut dan terumbu koral. Sebaran endapan ini umumnya terdapat pada daerah pedataran dan pantai.
Berdasarkan data sekunder dan data pengamatan di lapangan, tidak ditemukan adanya indikasi struktur di
pengamatan lapangan tidak ditemukan indikasi mineralisasi. Butiran mineral –
mineral yang ditemukan dari pengamatan hasil stripping dan channel, seperti timah putih, zirkon, ilmenit, dan sinabar diduga merupakan hasil dari pelapukan batuan granitik yang berada pada Pulau Kundur yang terbawa arus laut, kemudian terendapkan di sekitar daerah penyelidikan dan dipastkan bukan merupakan batuan primer. Pulau Kundur berada di sebelah timur laut daerah penyelidikan (Gambar 2).
HASIL KEGIATAN & ANALISIS Kegiatan Pengambilan conto
Daerah penyelidikan merupakan lingkungan endapan aluvial tua dan aluvial muda dimana di lokasi tersebut tertutup oleh endapan lumpur muara sungai Kampar di bagian selatan daerah penyelidikan dan selat Pulau Tebing Tinggi di bagian utara daerah penyelidikan. Selat tersebut merupakan perbatasan antara Kabupaten Pelalawan dengan Kabupaten Kerinci di bagian utara.
Pengambilan conto dilakukan di sisi daratan sebelah barat daerah penyelidikan, sisi selatan daerah penyelidikan, sekeliling Pulau Mendol dan di bagian daratan pulau Mendol dengan luas wilayah total 1.000 KM2 dan jumlah pengambilan conto 54 conto (Gambar 3). Kedalaman pengambilan conto tiap titik dengan alat bor
Buku 2: Bidang Mineral
kandungan permeternya.
Analisis Fisika Mineralogi Butir
Berdasarkan data hasil laboratorium diperoleh data dimana umumnya daerah penyelidikan merupakan endapan lumpur dan hanya sedikit mengandung mineral berat. Umumnya conto mengandung mineral kuarsa dan amfibol. Di beberapa titik terdapat sedikit mika, lempung, alga, piroksen, dan fosil.
Beberapa titik pengambilan conto juga ada sedikit mengandung mineral berat seperti oksida besi, pirit, ilmenit, magnetit dan sinabar. Keberadaan mineral mineral berat tersebut juga menyebar dan kandungannya tidak begitu signifikan (Gambar 4).
Keberadaan timah hanya terdapat di empat titik dari 54 titik pengambilan conto. Dari keempat titik tersebut hanya satu titik dengan jumlah timah 8 butir, titik lainnya tiga butir dan dua titik lainnya hanya diperoleh masing masing satu butir. Tititk titik pengambilan conto lainnya tidak diperoleh keberadaan timah.
Analisis Kimia ICP
Berdasarkan data laboratorium untuk REE diperoleh beberapa titik dengan kandungan unsur utama REE seperti Cerium (Ce), Lanthanum (La), Neodimium (Nd) dan Itrium (Y) yang relatif lebih tinggi dari daerah lainnya diperoleh di beberapa
relatif jauh lebih rendah. Titik titik pengambilan conto lainnya diperoleh kandungan REE yang jauh lebih kecil dan juga penyebarannya tidak merata. Berdasarkan rata rata nilai Cerium bervariasi dari 100 - 400 gram/M3, tersebar dari bagian barat, selatan dan sekeliling pantai Pulau Mendol. Apabila dilihat dari nilai dan sebarannya maka keberadan Cerium di wilayah penyelidikan tidak menarik untuk ditindaklanjuti.
Sebaran Lantanium di lokasi penyelidikan juga tidak berbeda jauh dengan Cerium. Nilai tertinggi diperoleh di titik yang sama dengan Cerium yaitu di pulau kecil sebelah barat daerah penyelidikan dengan nilai 3.484 gram/ M3. Nilai terendah juga 0 gram/ M3 terdapat di daratan Pulau Mendol, tapi sebaran lainnya berkisar di nilai 30 - 90 gram/M3, tersebar di seluruh bagian wilayah penyelidikan. Apabila melihat dari penyebarannya maka tidak menarik untuk ditindaklanjuti juga.
Sebaran Ytrium di lokasi penyelidikan juga hanya terdapat dua titik dengan nilai yang relatif cukup tinggi dibandingkan dengan titik titik pengambilan conto lainnya, yaitu di angka 313 gram/M3 di pulau kecil bagian barat wilayah penyelidikan dan 184 gram/ M3 di bagian barat utara Pulau Mendol. Titik titik pengambilan conto lainnya bernilai jauh lebih kecil dan banyak yang bernilai 0 gram/ M3 (Gambar 5).
pengambilan conto yaitu di pulau kecil di bagian barat Pulau Mendol. Dari keempat titik tersebut hanya satu titik dengan jumlah timah 8 butir . Dilihat dari penyebarannya dan jumlah keberadaannya maka tidak menarik untuk ditindaklanjuti juga (Gambar 6).
PEMBAHASAN
Interpretasi model Keberadaan endapan Timah dan REE di daerah penyelidikan diestimasi dari adanya arus laut pada wilayah sekitar muara Sungai Kampar dimana di sebelah timur merupakan Daerah Provinsi Kepulauan Riau yang termasuk dalam jalur Granitik tipe S dan zona minelarisasi letakan (plaser) untuk mineralisasi Timah dan Rare Earth Element (REE).
Arah arus laut seperti yang
diprediksikan oleh
https://rovicky.wordpress.com tanggal 30 Desember 2014 mengenai arus laut Natuna, Laut China Selatan dan Laut Jawa selama sepanjang tahun (musim panas dan musim hujan), lapukan granit dari Kepri terbawa oleh arus laut dan tertransportasi , diendapkan sebagai endapan alluvial tua di daratan muara Kuala Kampar. Kab Pelalawan, Riau (Gambar 7).
KESIMPULAN & SARAN
1.Indikasi keberadaan Timah ditemukan
granitic dan di dua titik sebelah timur dari daratan Sumatera.
2. Timah hanya terdapat di 4 titik dari 54 titik pengambilan conto. Dari keempat titik tersebut hanya satu titik (R-06) dengan jumlah timah 8 butir, satu titik 3 butir dan dua titik lainnya 1 butir.
3. Beberapa titik , sedikit mengandung mineral berat seperti oksida besi, pirit, ilmenit, magnetit dan sinabar.
4. Berdasarkan hasil analisis ICP diketahui kandungan REE tertinggi diperoleh di titik R-17 dengan kandungan REE total 13.343 ppm. REE utamanya adalah Ce 5.360 ppm , La 3.484 ppm, Nd 1.985 ppm dan Y 313 ppm. Titik pengambilan conto yang lainnya menunjukan kandungan REE yang jauh lebih kecil dan tidak merata.
Kegiatan Prospeksi Timah dan REE di daerah penyelidikan menghasilkan data mengenai keberadaan Timah, REE dan beberapa mineral berat yang menyebar di wilayah penyelidikan, tapi dengan nilai rata rata yang relatif tidak begitu tinggi dan penyebarannya yang tidak merata, maka tidak diperlukan lagi kegiatan lanjutan di daerah penyelidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Zulfikar dan Tisna Sutisna, 2003, Inventarisasi dan Evaluasi Mineral Non Logam di Daerah Kabupaten
Buku 2: Bidang Mineral
Mineral Non Logam, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral. Kajian Inventarisasi Potensi Sumber Daya
Alam di Kabupaten Pelalawan Tahun 2009, Laporan Akhir, Pemerintah Kabupaten Pelalawan. Cameroon, N.R, Ghazali, S.A, Thompson,
S.J, Peta Geologi Bersistem , Indonesia, Lembar Siaksriindrapura
dan Tanjung Pinang, Sumatera, Skala 1:250.000.
Kabupaten Dalam Angka Tahun 2013, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Kabupaten Dalam Angka Tahun 2014, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
https://wikipedia.org
https://rovicky.wordpress.com
Buku 2: Bidang Mineral
Gambar 5. Peta sebaran REE di daerah Penyelidikan
Gambar 7. Sketsa estimasi keterdapatan timah di perairan Kuala Kampar
arah arus laut di musim panas
arah arus laut di musim hujan jalur granitik type S
daerah endapan aluvial
arah arus laut di musim panas
arah arus laut di musim hujan jalur granitik type S
Buku 2: Bidang Mineral
PROSPEKSI BIJIH BESI DAN MINERAL IKUTANNYA