• Tidak ada hasil yang ditemukan

KajianEkonomiRegionalProvinsiRiauTriwulanII20091.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KajianEkonomiRegionalProvinsiRiauTriwulanII20091."

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

TRIWULAN II

KAJIAN EKONOMI

REGIONAL

(2)

VISI BANK INDONESIA :

“Menjadi lembaga bank sentral yang dapat dipercaya secara

nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai

strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi

yang rendah dan stabil”

MISI BANK INDONESIA :

“Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui

pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas

sistem keuangan untuk pembangunan nasional jangka panjang yang

berkesinambungan”

NILAI-NILAI STRATEGIS ORGANISASI BANK INDONESIA :

“Nilai-nilai yang menjadi dasar Bank Indonesia, manajemen, dan

pegawai untuk bertindak dan atau berperilaku, yang terdiri atas

Kompetensi, Integritas, Transparansi, Akuntabilitas, dan

(3)

iii

BUKU

Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Riau ini merupakan terbitan rutin

triwulanan yang berisi analisis perkembangan ekonomi dan perbankan di Provinsi Riau. Terbitan kali ini memberikan gambaran perkembangan ekonomi dan perbankan di Provinsi Riau pada triwulan II - 2009 dengan penekanan kajian pada kondisi ekonomi makro regional (PDRB dan Keuangan Daerah), Inflasi, Moneter dan Perbankan, Sistem Pembayaran, Kependudukan dan Kesejahteraan serta Perkiraan Perkembangan Ekonomi Daerah pada triwulan III-2009. Analisis dilakukan berdasarkan data laporan bulanan bank umum dan BPR, data ekspor-impor yang diolah oleh Kantor Pusat Bank Indonesia, data PDRB dan inflasi yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Riau, serta data dari instansi/lembaga terkait lainnya.

Tujuan dari penyusunan buku KER ini adalah untuk memberikan informasi kepada stakeholders tentang perkembangan ekonomi dan perbankan di Propinsi Riau, dengan harapan kajian tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu sumber referensi bagi para pemangku kebijakan, akademisi, masyarakat, dan pihak-pihak lain yang membutuhkan.

Kami menyadari masih banyak hal yang harus dilakukan untuk menyempurnakan buku ini. Oleh karena itu kritik, saran, dukungan penyediaan data dan informasi sangat diharapkan.

Pekanbaru, 3 Agustus 2009

BANK INDONESIA PEKANBARU

ttd Wiyoto Pemimpin

(4)
(5)

iv

HALAMAN

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... iv

Daftar Tabel ... viii

Daftar Grafik ... xi

Tabel Indikator Ekonomi Terpilih... xv

RINGKASAN EKSEKUTIF ... 1

BAB 1. I KONDISI EKONOMI MAKRO REGIONAL ... Pertumbuhan PDRB... 8 8 1. 2. Kondisi Umum... PDRB Sisi Permintaan... 8 9 2.1. Konsumsi ... 10

2.2. Investasi ... 13

2.3. Ekspor dan Impor... 15

3. PDRB Sisi Penawaran... 15

3.1. Sektor Pertanian... 16

3.2. Pertambangan dan Penggalian... 19

3.3. Industri Pengolahan... 21

3.4. Listrik dan Air Bersih... 22

3.5. Perdagangan, Hotel dan Restoran... 23

3.6. Pengangkutan dan Komunikasi... 24

3.7. Keuangan, Persewaan bangunan & Jasa Keuangan... 24

3.8. Jasa-jasa... 25

4. Ekspor – Impor Non Migas... 26

(6)

v

BOKS 1. DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP KINERJA UMKM DI PROVINSI RIAU

BAB 2. PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH ... 30

1. Kondisi Umum... ... 30

2. Perkembangan Indeks Harga Konsumen... 31

2.1. Inflasi Kota Pekanbaru... 2.2. Inflasi Kota Dumai... 32 39 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH... 45

1. Kondisi Umum... 45

2. Perkembangan Moneter ... 46

3. Perkembangan Perbankan ... 47

3.1. Bank Umum ... 48

3.1.1. Jaringan Kantor... 48

3.1.2. Perkembangan Aset ... 49

3.1.3. Kredit ... 50

3.1.2.1. Perkembangan Penyaluran Kredit... 50

3.1.2.2. Konsentrasi Kredit ... 51

3.1.2.3.Undisbursed Loan dan Persetujuan Kredit Baru... 56

3.1.2.4. Kualitas Kredit ... 58

3.1.3. Intermediasi Perbankan ... 60

3.1.3.1. Perkembangan LDR ... 60

3.1.3.2. Perkembangan Penyaluran Kredit UMKM... 61

3.1.4. Kondisi Likuiditas ... 64

3.1.4.1. Perkembangan dan Struktur Dana Pihak Ketiga (DPK)... 64

3.1.4.2. Rasio Alat Liquid ... 67

3.1.5. Profitabilitas ... 69

(7)

vi

3.1.5.2. Komposisi Pendapatan Bunga dan

Beban Bunga ... 70

3.1.5.3. Perkembangan Laba Rugi ... 72

3.1.6. Bank Syariah ... 73

3.3. Bank Perkreditan Rakyat... 75

BOKS 2. DINAMIKA PEMBENTUKAN HARGA INDUSTRI MANUFAKTUR DI PROVINSI RIAU BAB 4 KONDISI KEUANGAN DAERAH... 77

1. Kondisi Umum ... 77

2. Arus Kas... 78

3. Penerimaan... 79

4. Pengeluaran... 80

5. Realisasi Pencairan Dana Semester I-2009... 82

BAB 5 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN ... 85

1. Kondisi Umum ... 85

2. Perkembangan Transaksi Pembayaran Tunai ... 86

2.1. Aliran uang masuk dan keluar (inflow – outflow)... 86

2.2. Penyediaan uang kartal layak edar ... 87

2.3. Uang Palsu ... 88

3. Perkembangan Alat Pembayaran Non Tunai ... 89

3.1. Kliring ... 89

3.2. Transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) ... 90 4. Perkembangan Kegiatan Usaha Pedagang Valuta Asing (PVA)… 91

BAB 6 KETENAGAKERJAAN & KESEJAHTERAAN DAERAH ... 1. Kondisi Umum ... 2. Ketenagakerjaan ... 3. Kesejahteraan ...

(8)

vii

3.1. Nilai Tukar Petani (NTP)... 3.2. Kemiskinan...

BAB 7 PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH ... 1. Pertumbuhan Ekonomi ... 2. Inflasi ... 3. Perbankan ...

Daftar Istilah ... 96 99

103 103 108 109

(9)

viii

HALAMAN

Tabel 1.1. Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Riau Tanpa Migas Menurut

Penggunaan (%,yoy)……….. 10

Tabel 1.2. Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Riau Dengan Migas Menurut Penggunaan (%, yoy) ... 10

Tabel 1.3. Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Riau Tanpa Migas Menurut Sektor (%,y-o-y)... 16

Tabel 1.4. Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Riau Dengan Migas Menurut Sektor (%, yoy) ... 16

Tabel 1.5. Perkembangan Nilai Ekspor-Impor Non Migas (USD Juta) Provinsi Riau Periode Januari – Mei Tahun 2008-2009 ... 26

Tabel 2.1 Inflasi Menurut Kelompok Barang dan Jasa di Kota Pekanbaru Triwulan II-2009 ……..………... 34

Tabel 2.2. Perkembangan SubKelompok yang Mengalami Inflasi dan Deflasi pada Triwulan II-2009 di Kota Pekanbaru... 39

Tabel 2.3 Perkembangan Subkelompok yang Mengalami Perubahan Harga Teringgi dan Terendah Selama Triwulan II-2009 di Kota Dumai... 43

Tabel 3.1. Perkembangan Jaringan Kantor Bank di Provinsi Riau... 48

Tabel 3.2. Jaringan Kantor Bank Umum di Provinsi Riau (Juni 2009)... 49

Tabel 3.3. Data ATM Bank Per Kabupaten/Kota di Riau... 49

(10)

ix

Tabel 3.4. Posisi Kredit Di Provinsi Riau (juta rupiah)... 51

Tabel 3.5. Pangsa Kredit Menurut Sektor Ekonomi di Provinsi Riau (juta rupiah)... 54

Tabel 3.6. Distribusi Penyaluran Kredit Per Dati II di Provinsi Riau (juta rupiah) ... 55

Tabel 3.7. Persetujuan Kredit Baru di Provinsi Riau... 58

Tabel 3.8. Sebaran Kredit UMKM menurut Sektor Ekonomi (juta rupiah) ... 59

Tabel 3.9. NPLs Berdasarkan Kota/Kabupaten di Provinsi Riau... 60

Tabel 3.10. Perkembangan Kredit UMKM di Provinsi Riau (juta rupiah)... 62

Tabel 3.11. Sebaran Kredit UMKM menurut Jenis Penggunaan ... 62

Tabel 3.12. Sebaran Kredit UMKM menurut Sektor Ekonomi (juta rupiah) ……... 63

Tabel 3.13. Sebaran NPLs UMKM Menurut Sektor Ekonomi di Provinsi Riau... 63

Tabel 3.14. Sebaran NPLs UMKM Menurut Kota/Kabupaten di Provinsi Riau………. 64

Tabel 3.15. Perkembangan Dana Pihak Ketiga di Provinsi Riau (Miliar Rp)... 65

Tabel 3.16. Sebaran DPK menurut kepemilikan di Provinsi Riau (juta rupiah)... 66

Tabel 3.17. Penghimpunan DPK berdasarkan kota/kabupatan di Provinsi Riau... 67

Tabel 3.18. Penghimpunan DPK Berdasarkan Kelompok Nominal di Provinsi Riau… 67 Tabel 3.19. Perkembangan Alat Likuid dan Non Core Deposit………. 68

Tabel 3.20. Indikator Kinerja Utama Bank Syariah di Provinsi Riau (juta)………. 74

Tabel 3.21. Perkembangan Usaha BPR/BPRS di Provinsi Riau (juta rupiah)………….. 75

Tabel 4.1. Perkembangan Arus Kas di Provinsi Riau Sampai Triwulan II-2009…... 78

Tabel 4.2. Perkembangan Komponen Penerimaan (Pendapatan) Sampai Dengan Triwulan II-2009………..…….. 79

Tabel 4.3 Perkembangan Komponen Pengeluaran (Belanja) Sampai Dengan Triwulan II-2009………. 81

Tabel 4.4. Realisasi SP2d Dalam Triwulan II-2009………... 83

Tabel 5.1. Perkembangan Transaksi RTGS di Riau ... 91

(11)

x Tabel 6.2. Perkembangan Komponen Nilai Tukar Petani di Provinsi Riau……….... 97

Tabel 6.3. Perkembangan Garis Kemiskinan di Wilayah Perkotaan dan Pedesaan

Provinsi Riau Periode Maret 2008-2009………... 100

Tabel 6.4 Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Provinsi Riau Periode

(12)

xi

(13)

xi

HALAMAN

Grafik 1.1. Pertumbuhan Ekonomi (%,y-o-y) dan Sumbangannya... 9

Grafik 1.2. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini………... 11

Grafik 1.3. Indeks Keyakinan Konsumen... 11

Grafik 1.4. Indeks Ekspektasi Rencana Konsumen Triwulan II 2009... 12

Grafik 1.5. Perkembangan Kredit Konsumsi Triwulan I-2008 – Tiwulan II-2009 2009… 13 Grafik 1.6. Perkembangan Realisasi Pengadaan Semen Provinsi Riau Triwulan I-2008 – Triwulan II-2009………... 14

Grafik 1.7. Perkembangan Kredit Investasi Triwulan I-2008 – Triwulan II-2009... 14

Grafik 1.8. Pertumbuhan (y-o-y,%) Sub Sektor Pertanian dan Pergerakan Harga CPO dan Karet Tahun 2008-2009... 16

Grafik 1.9. Proporsi Luas Tanam Tanaman Bahan Makanan Utama Menurut Kab/Kota)…………... 17

Grafik 1.10. Proporsi Produksi Tanaman Bahan Makanan Utama Menurut Kab/Kota... 17

Grafik 1.11. Perkembangan Produksi Padi dan Palawija Provinsi Riau Tahun 2007-2009………... 18

Grafik 1.12. Perkembangan Lifting, Gross Revenue dan Harga Minyak Bumi Provinsi Riau Tw I 2008 - Tw II 2009……… 20

Grafik 1.13. Perkembangan Lifting, Gross Revenue dan Harga Gas Bumi Provinsi Riau Tw I 2008 - Tw II 2009……… 20

Grafik 1.14. Perkembangan Produksi Batu Bara Provinsi Riau Triwulan I 2008 Sampai Triwulan II 2009 ... 21

Grafik 1.15. Kondisi Kelistrikan di Provinsi Riau... 22

Grafik 1.16. Tingkat Hunian Hotel di Riau... 23

(14)

xii

Grafik 1.17. Rasio Keberangkatan –Kedatangan Pesawat dan Penumpang di Bandara

SSK II………... 22

Grafik 1.18. Perkembangan Penyaluran Kredit Perbankan di Provinsi Riau ……… 25

Grafik 1.19. Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Non Migas Provinsi Riau Tahun 2007-2009………... 26

Grafik 1.20. Struktur Ekspor Non Migas Provinsi Riau Tw IV-2008 Tw II-2009... 27

Grafik 1.21. Struktur Impor Non Migas Provinsi Riau Tw IV-2008 Tw II-2009... 28

Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Pekanbaru, Dumai dan Nasional (mtm)... 32

Grafik 2.2. Perkembangan Inflasi Kota Pekanbaru... 32

Grafik 2.3. Perkembangan Indeks Kelompok Barang dan Jasa Selama Triwulan I-2009 34 Grafik 2.4. Perkembangan Harga Emas Dunia... 36

Grafik 2.5. Inflasi kelompok Barang dan Jasa Tw II-2009... 37

Grafik 2.6. Indeks Ekspektasi Konsumen terhadap Harga …...…… 38

Grafik 2.7. Perkembangan Inflasi Kota Pekanbaru Secara Triwulanan... 38

Grafik 2.8. Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Dumai ………. 40

Grafik 2.9. Perkembangan Inflasi Kota Pekanbaru dan Dumai (yoy)... 40

Grafik 2.10. Perkembangan Inflasi Kota Dumai……….. 41

Grafik 2.11. Inflasi Menurut Kelompok Barang & Jasa pada Triwulan II-2009…………... 35

Grafik 3.1. Perkembangan Uang Kuasi, Giral dan SBI di Provinsi Riau (triliun rupiah)... 37

Grafik 3.2. Perkembangan Aset Perbankan di Provinsi Riau (triliun rupiah)... 50

Grafik 3.3. Pangsa Kredit Menurut Jenis Penggunaan di Provinsi Riau... 52

Grafik 3.4. Posisi dan Pertumbuhan Kredit Menurut Jenis Penggunaan di Provinsi Riau (y-o-y)………. 53

Grafik 3.5. Jumlah Undisbursed Loan Perbankan Provinsi Riau (triliun rupiah)…………. 56

Grafik 3.6. Ratio Undisbursed Loan Terhadap Total Kredit... 57

Grafik 3.7. Perkembangan NPLs Gross di Provinsi Riau... 58

(15)

xiii

Grafik 3.9. Perkembangan Rasio Alat Likuid terhadap Non Core Deposit ... 69

Grafik 3.10. Perkembangan Suku Bunga Rata-rata Tertimbang Kredit dan Deposito…… 70

Grafik 3.11. Komposisi Pendapatan Bunga ………... 71

Grafik 3.12. Komposisi Beban Bunga... 72

Grafik 3.13. Perkembangan Laba Rugi (Triwulanan)... 73

Grafik 4.1. Pertumbuhan (y-o-y,%) Komponen Pendapatan Pajak Penghasilan (PPh) Non Migas Pada Triwulan II-2009... 80

Grafik 5.1. Perkembangan Cash Inflow dan Outflow... 79

Grafik 5.2. Perkembangan PTTB di Bank Indonesia Pekanbaru ... 88

Grafik 5.3. Perkembangan Peredaran Uang Palsu di Riau... 89

Grafik 5.4. Perkembangan Transaksi Kliring di Riau... 89

Grafik 5.5. Perkembangan Penolakan Cek/BG di Riau………... 90

Grafik 5.6. Perkembangan Transaksi RTGS di Riau... 91

Grafik 5.7. Perkembangan PVA Riau (Ribu USD)... 92

Grafik 6.1. Penduduk Usia 15+ yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha……... 95

Grafik 6.2. Penduduk Usia 15+ yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan ... 96

Grafik 6.3. Perkembangan NTP Sub Sektor di Provinsi Riau Tahun 2008-2009... 98

Grafik 6.4. Pergerakan Harga Karet dan CPO di Pasar Spot (dalam Rp/Kg) Tahun 2008-2009... 99

Grafik 6.5. Perbandingan Angka Garis Kemiskinan di Provinsi Riau Pada Bulan Maret 2008 dan 2009... 100

Grafik 6.6. Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi Riau Periode Maret 2007-2009... 101

Grafik 7.1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Riau... 104

Grafik 7.2. Indeks Rencana Konsumsi Konsumen... 106

Grafik 7.3. Indeks Ekspektasi Konsumen... 107

(16)

xiv

Grafik 7.5. Indeks Ekspektasi Harga... 109

(17)

xv

Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II

MAKRO

Indek Harga Konsumen : 108.78*) 112.23 112.85 113.39 112.78

Laju Inflasi Tahunan (yoy%) : 9.89% 11.34% 9.02% 6.99% 3.68%

PDRB - harga konstan (miliar Rp)

- Pertanian 3,866.25 3,987.40 3,869.00 3,869.00 3,987.84 - Pertambangan & Pengganlian 11,931.72 11,940.96 11,540.81 11,540.81 12,036.51 - Industri Pengolahan 2,395.35 2,529.20 2,502.43 2,502.43 2,521.65 - Listrik, gas dan Air Besih 48.45 50.47 50.65 50.65 50.81 - Bangunan 726.73 756.12 760.79 760.79 786.37 - Perdagangan, Hotel, dan restoran 1,866.74 1,924.45 1,961.39 1,961.39 2,016.44 - Pengangkutan dan Komunikasi 628.24 653.46 675.03 675.03 682.51 - Keuangan, Persewaan, dan Jasa 272.69 295.27 301.98 301.98 304.75 - Jasa 1,058.92 1,123.03 1,142.69 1,142.69 1,150.34

Pertumbuhan PDRB (yoy %, dengan migas) 6.97% 6.78% 5.37% 4.42% 3.26%

Pertumbuhan PDRB (yoy %, tanpa migas) 8.35% 8.54% 7.38% 6.55% 6.31%

Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II

PERBANKAN

Bank Umum :

Total Aset (Rp Triliun) 34.66 37.86 37.71 37.90 41.58

DPK (Rp Triliun) 30.07 32.04 31.89 31.82 33.71

- Giro (Rp Triliun) 10.15 11.46 10.39 9.98 10.93

- Tabungan (Rp Triliun) 12.81 12.69 13.26 12.57 13.17

- Deposito (Rp Triliun) 7.12 7.89 8.25 9.27 9.62

Kredit (Rp Triliun) - berdasarkan lokasi proyek 27.60 29.84 32.01 31.71 30.93

LDR 91.77% 93.13% 100.36% 99.65% 91.77%

Kredit (Rp Triliun) - berdasarkan lokasi kantor cab. 18.30 20.06 20.35 20.73 22.26 - Modal Kerja 6.51 7.40 7.05 7.32 7.89 - Investasi 5.52 5.71 6.19 5.84 6.21 - Konsumsi 6.27 6.95 7.10 7.54 8.16

- LDR 60.84% 62.59% 63.80% 65.17% 66.03%

Kredit UMKM (triliun Rp)

- Kredit Modal Kerja 4.68 5.07 14.81 15.29 16.59 - Kredit Investasi 2.70 2.67 5.12 5.17 5.68 - Kredit Konsumsi 6.26 6.94 2.60 2.59 2.77 Total kredit UMKM (triliun Rp) 13.64 14.67 7.08 7.53 8.14

NPL MKM (%) 2.63% 2.21% 1.93% 2.68% 2.51%

BPR

Total Aset (Rp miliar) 467.75 492.36 515.38 542.76 559.13 DPK (Rp Miliar) 342.05 353.04 366.16 382.02 390.02 Kredit (Rp Triliun) - berdasarkan lokasi proyek 298.02 331.94 335.12 353.33 375.33 Kredit UMKM (Triliun Rp) 298.02 331.94 335.12 353.33 375.33 Rasio NPL (%) 5.08 5.91 5.53 4.45 4.78

LDR 87.13 94.02 91.52% 92.49% 96.23%

*) SBH 2007

2009

2009

2008

2008

A. INFLASI DAN PDRB

INDIKATOR

B. PERBANKAN

INDIKATOR

(18)
(19)

1

I. GAMBARAN UMUM

• Pada triwulan II-2009, kondisi perekonomian global masih belum mengalami perbaikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kontraksi ekonomi di negara-negara mitra dagang utama yang masih berlangsung juga masih memberikan tekanan pada kinerja ekspor Indonesia, meskipun terdapat indikasi awal perekonomian dunia yang semakin membaik. Kondisi tersebut juga berdampak pada perekonomian regional yang masih mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

RINGKASAN

EKSEKUTIF

(20)

2

• Di sektor perbankan, tingkat suku bunga mulai bergerak turun mengikuti BI-Rate yang mengalami penurunan dari 7,75% menjadi 7,70%. Penyaluran kredit perbankan mengalami pertumbuhan sebesar 7,34%, dan dana pihak ketigamengalami pertumbuhan sebesar 5,95% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan ini berdampak pada peningkatan aset perbankan sebesar 9,71%.

II. ASESMEN MAKROEKONOMI REGIONAL

• Pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan II-2009 mengalami perlambatan

dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi dengan migas melambat dari 4,42% pada triwulan sebelumnya menjadi 3,26% dan pertumbuhan ekonomi tanpa migas melambat dari 6,55% menjadi 6,30%. Kondisi ini masih merupakan dampak lanjutan dari krisis keuangan global yang menyebabkan melambatnya konsumsi masyarakat dan kinerja ekspor Riau. Penurunan lifting minyak dan gas bumi juga diindikasikan sebagai faktor pendorong melambatnya pertumbuhan ekonomi Riau terutama ekspor migas.

• Konsumsi swasta mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu mencapai 20,58%, namun mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 23,86%. Pertumbuhan pada konsumsi swasta ini diperkirakan terkait dengan belanja partai politik selama triwulan laporan dalam rangka mempersiapkan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden/Wakil Presiden. Selanjutnya, komponen PMTB dan konsumsi rumah tangga mengalami pertumbuhan masing-masing menjadi 12,71% dan 7,85%. Komponen ekspor masih mengalami penurunan sebesar 2,47% yang terutama berasal dari ekspor migas, sementara ekspor non migas Riau mengalami peningkatan menjadi 5,36% setelah mengalami penurunan pada triwulan sebelumnya.

BI-Rate menunjukkan trend yang menurun, kinerja perbankan mengalami peningkatan

Perekonomian pada triwulan II-2009 mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya

(21)

3

• Dari sisi penawaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor

pertambangan dan penggalian tanpa migas (15,51%), diikuti oleh sektor keuangan, persewaan bangunan & jasa perusahaan (11,76%). Namun, kedua sektor ini mengalami sedikit perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara pertumbuhan terendah adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan migas (0,88%) dan sektor pertanian (3,14%).

• Secara umum, perkembangan Neraca perdagangan non migas Provinsi Riau sampai denngan Mei 2009 belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Kumulatif net ekspor non migas mengalami kontraksi sebesar 14,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

III. ASESMEN INFLASI

• Pada triwulan laporan, Kota Pekanbaru tercatat mengalami deflasi sebesar

0,54% (qtq), dan inflasi tahunan (yoy) sebesar 3,68%. Secara umum, menurunnya tingkat harga pada triwulan II-2009 disebabkan oleh ketersediaan stok, distribusi yang lancar dan belum pulihnya daya beli masyarakat. Peningkatan penghasilan karena meningkatnya harga komoditi unggulan Riau di pasar internasional belum dapat mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Rendahnya tingkat harga pada triwulan laporan juga tidak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemda, Bank Indonesia dan dinas/instansi yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Riau melalui rekomendasi untuk melakukan langkah-langkah dalam rangka menjaga kecukupan stok dan kelancaran jalur distribusi.

• Sementara itu, Kota Dumai juga mengalami deflasi sebesar 0,77%, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,74%. Secara tahunan, inflasi Kota Dumai cenderung mengalami perlambatan dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Inflasi Kota Dumai cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Kota

Rendahnya tingkat harga pada triwulan laporan disebabkan karena ketersediaan stok serta upaya Pemda dan TPID Riau Dari sisi sektoral sektor

pertambangan tanpa migas mengalami pertumbuhan tertinggi

Kota Dumai mengalami deflasi sebesar 0,74% Neraca

perdagangan non migas Riau belum menujukkan perkembangan yang

(22)

4

Pekanbaru, karena barang-barang di Kota Dumai umumnya berasal dari Kota Pekanbaru, sehingga terjadi peningkatan harga (biaya transportasi) di Kota Dumai. Namun demikian, selama tahun 2009 secara bulanan inflasi Kota Dumai cenderung lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Kota Pekanbaru.

IV. ASSESMEN KEUANGAN

Perbankan Riau

• Pada triwulan laporan, penyaluran kredit perbankan mengalami pertumbuhan sebesar 7,34%, dan dana pihak ketiga mengalami pertumbuhan sebesar 5,95% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Berdasarkan sektor usaha yang dibiayai, kredit masih terkonsentrasi pada sektor perdagangan, restoran dan hotel, yang mencapai 23,48% dari total kredit atau sebesar Rp5,22 triliun. Sebagian besar kredit tersebut yaitu Rp3,28 triliun (62,76%) merupakan kredit kepada subsektor perdagangan eceran. Penyerapan kredit yang tinggi pada sektor perdagangan terkait dengan peningkatan aktivitas ekonomi di Riau dan sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah untuk menjadikan Provinsi Riau sebagai pusat perdagangan pada tahun 2020.

• Sektor lain yang juga menyerap kredit cukup besar adalah pertanian yaitu

sebesar Rp4,16 triliun atau mencapai 18,69% dari total kredit. Sebagian besar kredit tersebut yaitu Rp3,50 triliun (84,24%) merupakan kredit kepada subsektor perkebunan. Tingginya pangsa kredit yang disalurkan pada subsektor perkebunan terkait dengan besarnya skala usaha di subsektor ini seperti perkebunan kelapa sawit, karet, dan kelapa baik untuk kebutuhan pembukaan kebun baru maupun peremajaan (replanting). Pengembangan subsektor perkebunan akan memberikan pengaruh besar dalam upaya peningkatan pemerataan kesempatan kerja, mengurangi angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan, karena pengembangan pada subsektor ini lebih bersifat padat karya.

Berdasarkan sektor usaha, kredit terbesar berada pada sektor perdagangan

(23)

5

• Berdasarkan jenis penggunaan, terjadi peningkatan pada semua jenis

kredit. Jumlah kredit produktif (modal kerja dan investasi) mencapai Rp14,10 triliun mengalami peningkatan 6,92% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar Rp13,19 triliun. Peningkatan kredit tersebut memberikan indikasi mulai membaiknya kondisi perekonomian di Provinsi Riau dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, kredit konsumsi juga mengalami peningkatan dari Rp7,54 triliun menjadi Rp8,16 triliun (8,09%).

• Posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam triwulan laporan tercatat sebesar

Rp33,71 triliun meningkat sebesar 5,95% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Berdasarkan kepemilikan, peningkatan dana didominasi oleh dana milik perorangan (4,41%), dana milik Pemda (28,80%), dan dana milik pemerintah pusat (11,81%). Sementara itu, dana milik perusahaan swasta, badan/lembaga pemerintah, dan BUMD masing-masing mengalami penurunan sebesar 3,19%, 28,16%, dan 5,79%.

Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu dari 65,17% menjadi 66,03%. Sementara itu, Non Performing Loans (NPLs) sedikit mengalami perbaikan kualitas dari 2,79% menjadi 2,76%.

• Kondisi profitabilitas perbankan Provinsi Riau pada triwulan laporan mulai

menunjukkan perbaikan yang berarti. Penurunan suku bunga dana yang lebih besar dari suku bunga kredit memberikan peluang bagi perbankan untuk meningktakan margin yang diterima.

LDR mencapai 66,03%, sedangkan NPLs mencapai 2,76% Peningkatan kredit produktif mengindikasikan mulai

membaiknya kondisi perekonomian.

DPK perbankan meningkat sebesar 5,95%

(24)

6

V. PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

• Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2009, diperkirakan masih akan mengalami perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan II-2009, baik dengan migas maupun tanpa migas. Faktor-faktor yang menyebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi antara lain masih rendahnya produksi migas Riau dan produksi industri pengolahan non migas Riau.

• Harga jual TBS dan CPO sebelum krisis keuangan global berada pada

tingkat yang paling tinggi yang mendorong peningkatan produksi komoditas tersebut serta permintaan dunia yang cukup tinggi pada komoditas tersebut. Sampai dengan triwulan III-2009 yang akan datang tingkat harga maupun permintaan dunia terhadap komoditas tersebut relatif lebih rendah dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

• Sementara itu, beberapa faktor yang diperkirakan akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan III-2009 adalah tingkat harga di sektor pertanian, terutama harga TBS dan CPO yang membaik. Selain itu, komponen konsumsi diperkirakan akan mulai mengalami peningkatan yang didorong oleh perayaan hari besar keagamaan yaitu memasuki bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Pembangunan beberapa fasilitas pendukung dalam rangka mensukseskan Riau sebagai tuan rumah PON pada 2012 juga akan memberikan andil yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009.

• Namun demikian, beberapa permasalahan di Riau seperti infrastruktur listrik dan air bersih, distribusi dan spekulasi harga bahan makanan, serta ketergantungan Provinsi Riau terhadap supply dari daerah lain dapat menyebabkan momentum pertumbuhan tersebut kembali melemah apabila tidak segera dibenahi.

Pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan III-2009

diperkirakan masih akan mengalami perlambatan

Permasalahan di Riau antara lain terkait dengan infrastruktur

(25)

7

• Laju inflasi pada triwulan III-2009 (qtq) diperkirakan akan lebih tinggi

dibandingkan dengan triwulan II-2009. Indikator utama yang mendukung perkiraan tersebut adalah terkait dengan memasuki bulan Ramadhan dan Perayaan Idul Fitri pada triwulan II-2009. Kondisi ini diperkirakan akan mendorong peningkatan konsumsi masyarakat di Riau khususnya Pekanbaru terutama terhadap kelompok bahan makanan, makanan jadi, sandang dan transportasi.

• Dari sisi perbankan, penyaluran kredit pada triwulan III-2009 diperkirakan masih akan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan II-2009, sebagai dampak dari trend penurunan BI-Rate. Sementara itu, penghimpunan DPK diperkirakan juga akan mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnnya. Hal ini disebabkan karena masyarakat akan melakukan peningkatan saving seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan

• Hasil survey konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia Pekanbaru juga

menunjukkan bahwa akan terjadi peningkatan ekspektasi konsumen terhadap tabungan, yang berarti bahwa masyarakat akan meningkatkan penempatan dananya di perbankan.

(26)

8

I.

Pertumbuhan PDRB

1.

Kondisi Umum

Kondisi perekonomian Riau sampai dengan pertengahan tahun 2009 secara umum menunjukkan kecenderungan melambat, khususnya pertumbuhan dengan migas yang mengalami perlambatan cukup signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan tanpa migas. Dengan memasukkan unsur migas, pertumbuhan tahunan PDRB triwulan II-2009 mencapai 3,26% atau melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2009 yang tercatat sebesar 4,42%. Sementara itu, pertumbuhan tanpa migas tercatat tumbuh (y-o-y,%) sebesar 6,30%, melambat jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,55% (Grafik 1.1).

KONDISI EKONOMI

MAKRO REGIONAL

(27)

9

Dari sisi permintaan, menurunnya lifting minyak dan gas bumi diindikasikan telah mengakibatkan ekspor migas mengalami kontraksi sebesar 6,91% pada triwulan laporan. Sementara, pada sisi penawaran, perlambatan di sektor pertambangan migas yang memiliki pangsa terbesar dalam struktur ekonomi Provinsi Riau telah menjadi pemicu utama melambatnya pertumbuhan PDRB. Berdasarkan Grafik 1.1.b, terlihat bahwa sumbangan ekspor migas dan sektor pertambangan terhadap pertumbuhan tahunan triwulan II-2009 mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Grafik 1.1. Pertumbuhan Ekonomi (y-o-y,%) dan Sumbangannya

6.97 6.78 5.37 4.42 3.26 8.35 8.54 7.38 6.55 6.30 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 -4 -2 0 2 4 6 8 10 12 14 16

Tw II '08** Tw III '08** Tw IV '08** Tw I '09*** Tw II '09*** % %

Kons. Rumah Tangga Kons. Lembaga Kons. Pemerintah PMTB Ekspor Impor Migas (RHS) Non Migas (RHS)

6.97 6.78

5.37 4.42 3.26 8.35 8.54 7.38 6.55 6.30 -1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 -1 2 3 4 5 6 7 8

Triw II'08**) Triw III'08**) Triw IV'08***)

Triw I'09***) Triw II'09***) %

Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa Migas (RHS) Non Migas (RHS)

Sumber : Diolah oleh Bank Indonesia

Keterangan : ***) angka sangat sementara; **) angka sementara

2.

PDRB Sisi Permintaan

Dalam triwulan laporan, komponen net ekspor dan konsumsi rumah tangga yang memiliki proporsi terbesar dalam struktur perekonomian Riau (dengan migas ±67% dan tanpa migas ±64% terhadap PDRB Provinsi Riau), menunjukkan kecenderungan melambat dibandingkan triwulan sebelumnya maupun triwulan II-2008.

Berdasarkan Tabel 1.1 dan 1.2, dengan maupun tanpa memasukkan unsur migas, konsumsi lembaga swasta diperkirakan mengalami pertumbuhan (y-o-y,%) tertinggi yaitu sebesar 20,58%. Adapun pertumbuhan terendah dalam PDRB migas dialami oleh

b. Sisi Penawaran

(28)

10

ekspor yang tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,47%. Sedangkan dalam PDRB tanpa migas, PMTB tercatat mengalami pertumbuhan terendah yaitu sebesar 4,55%.

Tabel 1.1. Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Riau Dengan Migas (%,y-o-y)

Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa

7.31 29.73 7.98 27.96 10.92 26.87 11.59 27.91 7.85 27.73

a. Makanan 6.11 11.61 7.82 11.04 9.34 11.27 11.16 11.28 10.48 11.20

b. Non Makanan 7.93 18.12 8.06 16.92 11.76 15.60 11.82 16.63 6.51 16.53 Konsumsi Lembaga Swasta 7.75 0.24 7.06 0.23 8.61 0.23 23.86 0.28 20.58 0.27

Konsumsi Pemerintah 7.68 6.80 8.23 6.75 7.25 6.96 0.65 6.30 5.75 6.41

PMTB 8.92 22.60 11.44 22.47 9.67 21.48 9.80 21.96 12.71 22.30

Perubahan Stock -14.19 -2.72 -40.97 -3.61 -52.56 4.65 -9.49 3.22 2.44 3.73

Ekspor 8.57 65.09 9.14 63.70 4.48 54.07 -1.57 54.71 -2.47 54.92

a. Antar Negara 8.66 59.35 8.98 57.45 4.25 49.18 -2.29 49.59 -3.34 49.60

b. Antar Daerah 7.07 5.74 11.89 6.25 8.54 4.90 10.78 5.12 12.89 5.31

Impor 9.60 21.75 8.48 17.50 7.59 14.27 2.42 14.38 4.81 15.35

a. Antar Negara 5.92 10.41 7.37 8.31 5.82 7.01 -6.71 6.58 -3.13 7.07

b. Antar Daerah 12.23 11.33 9.25 9.19 8.81 7.26 8.57 7.80 10.15 8.28

6.97 100 6.78 100 5.37 100 4.42 100 3.26 100

Tw II 09***) Komponen Tw II 08**) Tw III 08**) Tw IV 08**) Tw I 09***)

Konsumsi Rumah Tangga

PDRB Dengan Migas

Sumber : Diolah oleh Bank Indonesia

Keterangan : ***) angka sangat sementara, **) angka sementara

Tabel 1.2. Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Riau Tanpa Migas (%,y-o-y)

Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa

7.31 53.36 7.98 51.61 10.92 51.47 11.59 52.55 7.85 51.66

a. Makanan 6.11 20.84 7.82 20.38 9.34 21.58 11.16 21.24 10.48 20.86

b. Non Makanan 7.93 32.52 8.06 31.23 11.76 29.89 11.82 31.32 6.51 30.80 Konsumsi Lembaga Swasta 7.75 0.43 7.06 0.42 8.61 0.45 23.86 0.52 20.58 0.50 Konsumsi Pemerintah 7.68 12.21 8.23 12.47 7.25 13.34 0.65 11.87 5.75 11.94

PMTB 9.39 21.08 10.14 20.99 7.54 19.64 1.85 20.07 4.55 20.11

Perubahan Stock -308.90 2.42 -923.29 4.41 -169.58 4.31 5.96 2.19 34.67 2.30

Ekspor 7.17 46.99 8.15 47.65 3.44 46.33 -1.76 38.24 5.36 39.50

a. Antar Negara 6.73 44.11 7.93 44.61 3.59 43.50 -0.86 35.60 6.62 36.85

b. Antar Daerah 10.45 2.88 9.81 3.04 2.31 2.82 -8.35 2.64 -3.64 2.66

Impor 10.34 36.50 11.74 37.54 14.42 35.53 2.70 25.44 7.29 26.02

a. Antar Negara 9.49 19.99 11.92 21.24 15.79 19.86 -2.82 11.43 8.52 11.87 b. Antar Daerah 10.91 16.51 11.62 16.29 13.52 15.67 6.33 14.02 6.47 14.15

8.35 100 8.54 100 7.38 100 6.55 100 6.30 100

Tw IV 08**) Tw II 09***)

Konsumsi Rumah Tangga

Tw I 09***)

PDRB Tanpa Migas

Komponen Tw II 08**) Tw III 08**)

Sumber : Diolah oleh Bank Indonesia

Keterangan : ***) angka sangat sementara, **) angka sementara

2.1.

Konsumsi

Laju pertumbuhan (y-o-y,%) konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan mencapai 7,85%, mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 11,59%. Perlambatan ini utamanya disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga non makanan yang mencapai 6,51%.

(29)

11

kondisi keuangan dan juga adanya prioritas terhadap kebutuhan lain seperti untuk tambahan modal dan biaya pendidikan anggota rumah tangga. Meskipun demikian, sebagian besar konsumen optimis bahwa penghasilan mereka meningkat dibandingkan 6 bulan yang lalu.

Grafik 1.2. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini

0 20 40 60 80 100 120 140 160

I II III IV I II III IV I II III IV I II

2006 2007 2008 2009

Indeks Ketepatan Waktu Beli Saat Ini Penghasilan Saat Ini

Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia

Sementara itu, relatif tingginya pertumbuhan (y-o-y,%) konsumsi lembaga swasta pada triwulan II-2009 hingga sebesar 20,58% diperkirakan dipengaruhi faktor musiman berupa pemilihan legislatif dan presiden. Meningkatnya pembelian barang-barang untuk event tersebut telah mengakibatkan pertumbuhan konsumsi lembaga swasta ikut terdorong pada triwulan laporan walaupaun melambat dibandingkan dengan triwulan I-2009 yang tercatat sebesar 23,86%. Konsumsi pemerintah pada triwulan II-2009 diperkirakan tumbuh (y-o-y,%) sebesar 5,75%, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I-2009 yang tercatat sebesar 0,65%.

Grafik 1.3. Indeks Keyakinan Konsumen

50 60 70 80 90 100 110 120 130

I II III IV I II III IV I II III IV I II

2006 2007 2008 2009

Indeks Keyakinan Konsumen Indeks Ekspektasi Konsumen

(30)

12

Dalam triwulan laporan, indeks keyakinan konsumen (IKK) menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan (Grafik 1.3). Peningkatan IKK tersebut diindikasikan terjadi akibat membaiknya harga TBS dan stabilnya harga bahan kebutuhan pokok terkait masa panen raya. Peningkatkan ini juga diikuti oleh semakin optimisnya indeks ekspektasi konsumen yang pada triwulan laporan meningkat dari 102,3 menjadi 123,2. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen cukup optimis terhadap kondisi perekonomian Provinsi Riau dalam beberapa bulan mendatang.

Gambaran ekspektasi rencana konsumsi dalam 6-12 bulan mendatang disajikan pada Grafik 1.4. Pada grafik tersebut, terlihat bahwa rencana konsumsi barang sandang paling optimis. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat RIau relatif konsumtif dalam hal kebutuhan sandang dibandingkan rencana konsumsi lainnya. Selain itu, pada grafik tersebut tercermin bahwa rencana konsumsi masyarakat untuk pembelian peralatan rumah tangga dan kendaraan bermotor cenderung stagnan bahkan menurun.

Grafik 1.4. Indeks Ekspektasi Rencana Konsumen Triwulan II 2009

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200

I II III IV I II III IV I II III IV I II

2006 2007 2008 2009

Barang sandang

Pembelian/perbaikan rumah

Peralatan rumah tangga

Perabotan rumah tangga

Kendaraan bermotor

Rekreasi

Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia

(31)

13

triwulan I-2009 yang tercatat sebesar 34,46% maupun periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 35,01%.

Grafik 1.5. Perkembangan Kredit Konsumsi Triwulan I-2008 - Triwulan II-2009

-1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000

I II III IV I II III IV I II

2007 2008 2009

Rp m

ili

a

r

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

%

Kredit Konsumsi y-o-y

2.2.

Investasi

Perkembangan investasi yang diukur melalui pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menunjukkan pertumbuhan positif dalam triwulan II-2009. Secara tahunan, pertumbuhan PMTB dengan migas diperkirakan tumbuh sebesar 12,71%, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,8%. Sedangkan tanpa memasukkan unsur migas, PMTB diperkirakan tumbuh (y-o-y,%) sebesar 4,55%, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,85%.

(32)

14

Grafik 1.6. Perkembangan Realisasi Pengadaan Semen Provinsi Riau Triwulan I-2008- Triwulan II-2009

2,179.34 2,323.08 2,207.24 2,211.71

2,079.74 2,125.02

258.27 245.06 215.70 179.23 170.95 216.72

-500.00 1,000.00 1,500.00 2,000.00 2,500.00

I II III IV I II 2008 2009

Ri

bu

T

o

n

Sumatera (kiri) Riau (kanan)

Sumber : Asosiasi Semen Indonesia, diolah

Perkembangan kredit investasi sebagai salah satu aspek pendukung kegiatan investasi dalam triwulan laporan mulai menunjukkan kenaikan. Pada triwulan laporan kredit investasi secara tahunan (y-o-y,%) tumbuh sebesar 12,52% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,98%. Meskipun demikian, pertumbuhan ini masih relatif melambat jika dibandingkan dengan triwulan II-2008 yang tercatat sebesar 13,85%.

Grafik 1.7. Perkembangan Kredit Investasi Tw I-2008 – Tw II-2009

3.98 18.40

13.85

23.36 22.76

12.52

5,000 5,200 5,400 5,600 5,800 6,000 6,200 6,400

I II III IV I II

2008 2009

Rp

m

ili

a

r

-5.00 10.00 15.00 20.00 25.00

%

Kredit Investasi y-o-y

(33)

15

2.3.

Ekspor dan Impor

Dalam triwulan laporan, pertumbuhan ekspor dalam PDRB migas diperkirakan masih mengalami kontraksi sebesar 2,47% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini disebabkan karena ekspor antar negara yang memiliki pangsa terbesar (49,6%) dalam komponen ekspor mengalami kontaksi sebesar 3,34%. Menurunnya pertumbuhan ekspor migas dalam triwulan laporan diindikasikan terjadi akibat menurunnya lifting minyak dan gas bumi provinsi Riau.

Sementara itu, dengan memperhitungkan migas, impor provinsi Riau pada triwulan laporan diperkirakan tumbuh sebesar 4,81%, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,42%.

3.

PDRB Sisi Penawaran

Perlambatan ekonomi yang terjadi pada triwulan II-2009, mengakibatkan pertumbuhan sub sektor utama relatif melambat. Dalam triwulan laporan, pertumbuhan (y-o-y,%) sub sektor tertinggi diperkirakan terjadi pada sub sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yaitu sebesar 8,64% sedangkan sub sektor pertambangan migas yang menguasai pangsa terbesar dalam PDRB mengalami pertumbuhan terendah yaitu sebesar 0,65%.

Tabel 1.3. Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Riau Tanpa Migas (%,y-o-y)

Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa

1 5.88 36.27 5.74 36.98 2.09 32.74 3.10 33.38 3.14 34.66

2 Pertambangan dan Penggalian 18.97 1.90 14.05 1.94 16.18 2.29 15.84 2.38 15.51 2.30 3 Industri Pengolahan 8.61 28.82 9.54 28.87 11.04 30.61 6.78 29.11 6.64 28.27 4 Listrik dan Air Bersih 6.33 0.32 6.86 0.28 7.25 0.31 5.60 0.32 4.87 0.30

5 Bangunan 9.45 7.59 10.47 7.43 14.61 8.09 9.31 7.81 8.21 8.09

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 10.46 12.71 10.50 12.93 7.50 13.39 7.95 14.36 8.02 13.95 7 Pengangkutan dan Komunikasi 9.95 3.39 10.21 2.99 12.03 3.27 9.93 3.32 8.64 3.23

8 12.68 3.04 14.22 3.45 13.87 3.84 12.20 3.76 11.76 3.60

9 Jasa-jasa 9.14 5.95 9.30 5.12 9.34 5.45 9.26 5.57 8.63 5.60

8.35 100 8.54 100 7.38 100 6.55 100 6.31 100 PDRB Tanpa Migas

No. Sektor Tw II 08**) Tw II 09***)

Pertanian

Keuangan, Persewaan Bangunan & Jasa Perusahaan

Tw I 09***) Tw III 08**) Tw IV 08***)

Sumber : Diolah oleh Bank Indonesia

(34)

16

Tabel 1.4. Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Riau Dengan Migas (%,y-o-y)

Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa Pertumbuhan Pangsa

1 5.88 20.21 5.74 20.04 2.09 17.10 3.10 17.73 3.14 18.60

2 Pertambangan dan Penggalian 6.13 43.05 5.52 44.50 4.00 46.36 2.85 45.22 0.88 44.47 3 Industri Pengolahan 7.25 18.35 7.88 18.01 8.37 18.61 5.35 18.39 5.27 18.26 4 Listrik dan Air Bersih 6.33 0.18 6.86 0.15 7.25 0.16 5.60 0.17 4.87 0.16

5 Bangunan 9.45 4.23 10.47 4.03 14.61 4.22 9.31 4.15 8.21 4.34

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 10.46 7.08 10.50 7.01 7.50 6.99 7.95 7.63 8.02 7.49 7 Pengangkutan dan Komunikasi 9.95 1.89 10.21 1.62 12.03 1.71 9.93 1.77 8.64 1.73

8 12.68 1.70 14.22 1.87 13.87 2.01 12.20 1.99 11.76 1.93

9 Jasa-jasa 9.14 3.32 9.30 2.78 9.34 2.84 9.26 2.96 8.63 3.00

6.97 100 6.78 100 5.37 100 4.42 100 3.26 100 Tw I 09***)

PDRB Termasuk Migas

Tw II 09***)

Pertanian

Keuangan, Persewaan Bangunan & Jasa Perusahaan

No. Sektor Tw II 08**) Tw III 08**) Tw IV 08***)

Sumber : Diolah oleh Bank Indonesia

Keterangan : ***) angka sangat sementara, **) angka sementara, *) angka perbaikan

3.1.

Sektor Pertanian

Pertumbuhan (y-o-y,%) sektor pertanian dalam triwulan II-2009 diperkirakan mencapai 3,14%, sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,10% namun masih melambat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,88%. Relatif meningkatnya pertumbuhan sektor pertanian didorong oleh peningkatan produksi pada sub sektor perkebunan yang pada triwulan laporan tumbuh sebesar 5,55%. Hal ini seiring dengan meningkatnya ekspor CPO triwulan II-2009 sebesar 4,28. Meskipun demikian, ekspor CPO secara semesteran belum terlihat cukup membaik dimana mengalami kontraksi sebesar 17,65%.

Grafik 1.8. Pertumbuhan (y-o-y,%) Sub Sektor Pertanian dan Pergerakan Harga CPO dan Karet Tahun 2008-2009

3.32 1.26 1.15 8.78 5.33 5.55 7.98

6.33 6.53

3.02 (0.13) (0.17) 6.90 5.95 5.66 5.88

3.10 3.14

(1.00) -1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.00

Triw II'08***) Triw I'09***) Triw II'09***) %

Bahan Makanan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Pertanian -5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 Jan-0 8 Feb -08 Mar -08 Apr-0 8 May -08 Ju n-08 Jul-0 8 Aug-0 8 Se p-08 Oct-0 8 Nov -08 Dec-0 8 Ja n-09 Feb-0 9 Mar-0 9 Apr -09 Ma y-09 -2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 Karet CPO

(35)

17

Sementara itu, dalam triwulan laporan, diketahui bahwa pertumbuhan (y-o-y,%) sub sektor tanaman bahan makanan diperkirakan sedikit mengalami perlambatan akibat banjir yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Sebagaimana diketahui, Kabupaten Indragiri Hilir merupakan salah satu penghasil padi dan tanaman palawija terbesar di Provinsi Riau.

Grafik 1.9. Proporsi Luas Tanam Tanaman Bahan Makanan Utama Menurut Kab/Kota

-5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00

%

Padi Jagung Kedelai

-10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00

%

Padi Jagung Kedelai

Grafik 1.10. Proporsi Produksi Tanaman Bahan Makanan Utama Menurut Kab/Kota

0 5 10 15 20 25 30 35

%

Padi Jagung Kedelai

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

%

Padi Jagung Kedelai

Sumber: Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau, diolah

Tahun 2008 Tahun 2009

(36)

18

Selama tahun 2008, kontribusi luas tanam dan produksi tanaman bahan makanan seperti Padi dan Jagung di Kabupaten Indragiri Hilir sekitar 20%1

. Tentunya adanya banjir di lokasi tersebut mengakibatkan produksi tanaman bahan makanan mengalami penurunan. Pada tahun 2009, Kabupaten Indragiri Hilir dan Rokan Hilir menjadi sasaran produksi utama untuk tanaman padi dan palawija di Provinsi Riau.

Meskipun demikian, produksi dan luas lahan tanaman bahan makanan seperti padi, kedelai & jagung diperkirakan akan meningkat sebesar 16,62% menjadi 576,41 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG) pada tahun 2009. Hal ini dikarenakan akan direalisasikannya program Operasi Pangan Riau Makmur (OPRM).2

Grafik 1.11. Perkembangan Produksi Padi dan Palawija Provinsi Riau Tahun 2007-2009

490.09 494.26

576.41

40.41 47.96 48.47 2.42 4.87 4.77

-100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00

2007 2008 2009

Ri

bu T

o

n Padi

Jagung Kedelai

Sumber : BPS, diolah

Kontraksi yang terjadi pada sub sektor kehutanan sebesar 0,17% diperkirakan terjadi akibat ketatnya pengawasan pemerintah provinsi Riau terhadap peredaran kayu ilegal sehingga membatasi pasokan kayu provinsi Riau. Disamping itu, kondisi ini juga diindikasikan terjadi akibat belum membaiknya permintaan ekspor pulp dan paper, sehingga permintaan terhadap bahan baku kayu juga menurun.

1

Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau Tahun 2008, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) merupakan produsen Padi terbesar dengan jumlah mencapai 117 ribu ton/tahun dengan luas tanam sebesar 33.810 Ha atau kedua terbesar setelah Kabupaten Rokan Hilir (37.195 Ha). Kabupaten Inhil juga merupakan produsen Jagung terbesar kedua setelah Kabupaten Pelalawan (21 ribu ton/tahun) dengan angka produksi mencapai 14 ribu ton/tahun.

2

(37)

19

3.2.

Pertambangan dan Penggalian

Dalam triwulan laporan, sektor pertambangan dan penggalian dengan unsur migas diperkirakan mengalami perlambatan hingga 0,88% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,85%. Kondisi ini disebabkan oleh perlambatan sub sektor pertambangan migas yang secara tahunan (y-o-y,%) melambat cukup siginfikan hingga 0,65% dibandingkan dengan triwulan I-2009 (2,64%). Dengan kontribusi sekitar ± 40% tentunya kondisi tersebut memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan di sektor tersebut.

Salah satu faktor penyebab menurunnya angka pertumbuhan sektor pertambangan migas pada triwulan laporan diperkirakan terjadi akibat menurunnya produksi minyak dan gas bumi provinsi Riau. Pada Grafik 1.12, terlihat bahwa produksi minyak dan gas bumi Provinsi Riau menunjukkan kecenderungan menurun sejak tahun 2008.

Berdasarkan Grafik 1.12, diketahui bahwa Provinsi Riau pada triwulan laporan mengalami penurunan lifting minyak bumi sebesar 2 juta barel dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan yang signfikan di Kab. Bengkalis sebagai produsen terbesar minyak bumi di Provinsi Riau. 3 Kemudian, diikuti oleh penurunan lifting gas bumi sebesar 1,5 triliun British Thermal Unit (BTU)4

pada triwulan II-2009 atau turun 48% dibandingkan dengan triwulan II-2008. Kedua kondisi tersebut diperkirakan tidak lepas dari mulai berkurangnya cadangan migas provinsi Riau serta belum ditemukannya sumur baru yang lebih produktif.

3

Berdasarkan data Dirjen Migas, Kab. Bengkalis mengalami penurunan lifting minyak bumi sebesar 1,1 juta barel dibandingkan triwulan II-2008 atau secara tahunan turun 7%.

4

(38)

20

Grafik 1.12. Perkembangan Lifting, Gross Revenue dan Harga Minyak Bumi Provinsi Riau Tw I 2008 - Tw II 2009

35,077.59 35,775.84 35,159.69 34,829.97 33,276.78 33,067.83 -2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000 18,000 20,000

I II III IV I II

2008 2009 Ri bu Ba re l 31,500 32,000 32,500 33,000 33,500 34,000 34,500 35,000 35,500 36,000 Ri bu Ba re l

Bengkalis Siak Rokan Hilir Kampar Pelalawan Indragiri Hulu Rokan Hulu Total (kanan)

3,322.26 1,425.43 1,900.11 4,189.26 3,982.52 1,843.04 92.9 52.9 42.8 119.4 113.3 57.5 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 4,000 4,500

I II III IV I II

2008 2009 Ju ta U S $ 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 U S$/ B ar el

Gross Revenue Harga (kanan)

Sumber : Departemen ESDM , diolah

Grafik 1.13. Perkembangan Lifting, Gross Revenue dan Harga Gas Bumi Provinsi Riau Tw I 2008 - Tw II 2009

3,113.77 1,456.70 1,854.08 1,595.27 1,589.83 1,644.92 -500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000

I II III IV I II 2008 2009 M ilia r B T U -500.00 1,000.00 1,500.00 2,000.00 2,500.00 3,000.00 3,500.00 M ilia r B T U

Pelalawan Pekanbaru Total (kanan)

4,899.10 8,902.59 5,026.10 4,408.43 5,364.49 4,617.27 3.08 3.03 2.89 2.86 3.06 2.89 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000 10,000

I II III IV I II

2008 2009 Ju ta U S $ 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 U S$/ B a rel

Gross Revenue Harga (kanan)

Sumber : Departemen ESDM , diolah

Selain itu, pada triwulan laporan juga diketahui bahwa sub sektor pertambangan tanpa migas diperkirakan masih tumbuh (y-o-y,%) melambat sebesar 21,12% dibandingkan dengan triwulan II-2008 maupun periode yang sama tahun sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 21,74% dan 30,88%. Perlambatan yang terjadi pada sub sektor ini diindikasikan terjadi akibat tren produksi batubara yang menunjukkan penurunan sampai dengan triwulan II-2009.

b. Produksi a. Gross Revenue dan Harga

(39)

21

Grafik 1.14. Perkembangan Produksi Batu Bara Provinsi Riau Triwulan I 2008 Sampai TriwuIan II 2009

1000 21000 41000 61000 81000 101000 121000 141000 Jan-0 7 Fe b-07 Mar-0 7 Apr-0 7 Ma y-07 Jun-0 7 Jul-0 7 Au g-07 Se p-07 Oct-0 7 No v-07 De c-07 Jan-0 8 Fe b-08 Mar-0 8 Apr-0 8 Ma y-08 Ju n-08 Jul-0 8 Au g-08 Se p-08 Oct-0 8 No v-08 De c-08 Jan-0 9 Feb-0 9 Mar-0 9 Apr-0 9 Ma y-09

Produksi Batubara (Ton) Linear (Produksi Batubara (Ton))

Sumber : Departemen ESDM , diolah

3.3.

Industri Pengolahan

Industri pengolahan dalam triwulan II-2009 diperkirakan tumbuh (y-o-y,%) sebesar 5,27%, melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,35% maupun periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 7,18%. Perlambatan ini diindikasikan terjadi akibat melambatnya pertumbuhan sub sektor industri non migas yang memiliki porsi terbesar dalam sektor industri pengolahan.

Faktor penyebab perlambatan pada sub sektor industri non migas diakibatkan beberapa hal, diantaranya menurunnya permintaan ekspor pulp dan kertas dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya serta belum begitu membaiknya kondisi permintaan CPO secara umum. Kedua faktor tersebut terjadi akibat belum pulihnya kondisi negara mitra dagang utama sejak terjadinya krisis keuangan global.

(40)

22

a. Jumlah Pelanggan dan Pemakaian b. Pendapatan dan Daya Tersambung

olahan relatif menurun dikarenakan menurunnya tingkat penjualan otomotif dunia sehingga menurunkan permintan karet olahan yang sebagian besar ditujukan untuk industri ban kendaraan bermotor.

Penurunan volume penjualan terbesar diperkirakan terjadi pada industri kayu olahan seperti plywood dan bubur kertas (pulp). Hal ini dikarenakan berkurangnya pasokan akibat belum ada penyeragaman persepsi mengenai regulasi penebangan hutan antara Departemen Kehutanan yang mengeluarkan izin HPH dengan aparat penegak Hukum.5

3.4.

Listrik, Gas dan Air Bersih

Perkembangan sektor listrik, gas dan air bersih dalam triwulan laporan menunjukkan perlambatan yaitu sebesar 4,87%. Hal ini diakibatkan melambatnya pertumbuhan sub sektor listrik yang menjadi penopang pada sub sektor tersebut. Sebagaimana terlihat pada Grafik 1.15, jumlah pemakaian listrik di provinsi Riau menunjukkan tren penurunan sejak tahun 2009. Kondisi ini terjadi akibat terganggunya produksi listrik yang sangat bergantung kepada ketersediaan air (curah hujan). Disamping itu, pertumbuhan sub sektor air juga masih melambat dikarenakan belum optimalnya produksi air bersih dan minimnya dana investasi di sektor ini.

Grafik 1.15. Perkembangan Kondisi Listrik di Provinsi Riau

590 600 610 620 630 640 650 660

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 2008 2009 Ju ta K w h 150 155 160 165 170 175 180 185 Ri bu

Jml pelanggan (kiri) Pemakaian (Kwh/Kanan)

90 95 100 105 110 115 120 125 130

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 2008 2009 Ju ta VA 860 880 900 920 940 960 980 1,000 1,020 R p m iliar

Pendapatan PLN (kanan) Daya Tersambung (VA/Kiri)

Sumber : PT.PLN, diolah.

5

(41)

23

3.5.

Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)

Perkembangan sektor PHR pada triwulan laporan tumbuh mencapai (y-o-y,%) sebesar 8,02%, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 7,95% namun relatif melambat jika dibandingkan triwulan II-2008 yang tercatat sebesar 10,46%. Adapun faktor pendorong meningkatnya pertumbuhan sektor PHR adalah meningkatnya pertumbuhan (y-o-y,%) pada sub sektor perdagangan besar (8,01%) dan restoran (8,99%). Meningkatnya pertumbuhan di kedua sub sektor tersebut diperkirakan terjadi akibat adanya event besar seperti pemilihan presiden dan Gelar Teknologi Tepat Guna

Sementara itu, pertumbuhan sub sektor hotel pada triwulan laporan diperkirakan tumbuh 7,52%, melambat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,63% maupun triwulan II-2008 (9,51%). Salah satu penyebabnya adalah adanya penghematan yang dilakukan perusahaan besar dengan mengurangi jadwal perjalanan dinas pegawainya dan jumlah hari dinas pegawainya. Kondisi ini memicu penurunan tingkat pemesanan hotel pada triwulan laporan.

Grafik 1.16. Tingkat Hunian Hotel di Riau

40 45 50 55 60 65 70 75 80 Ja n u a ry Fe br ua ry Ma rc h Ap ri l Ma y June Ju ly A ugus t Sep tem b er Oct o b e r No ve m b e r De ce m b e r Ja n u a ry Fe br ua ry Ma rc h Ap ri l Ma y 2008 2009

Tingkat Hunian (%)

Sumber : PHRI, diolah

(42)

24

3.6.

Pengangkutan dan Komunikasi

Sektor pengangkutan dan komunikasi dalam triwulan laporan diperkirakan tumbuh sebesar 8,64% atau melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,93%. Salah satu indikator perlambatan yang terlihat dalam triwulan laporan adalah masih rendahnya arus keberangkatan penumpang dibandingkan dengan arus penumpang yang datang. Pada Grafik 1.17, terlihat bahwa rasio keberangkatan-kedatangan penumpang di Bandara SSK II pada triwulan 2009 masih relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan II-2008 walaupun mulai menunjukkan tren yang meningkat.

Grafik 1.17. Rasio Keberangkatan-Kedatangan Pesawat dan Penumpang di Bandara SSK II

0.97 0.98 0.99 1 1.01 1.02 1.03 1.04 1.05

I II III IV I II

2008 2009

Pesawat

Penumpang

Sumber : PT. Angkasa Pura, Riau, diolah

3.7.

Keuangan, Persewaan & Jasa Keuangan

(43)

25

Pada triwulan laporan nilai kredit yang disalurkan tercatat sebesar Rp 22,2 triliun atau secara tahunan tumbuh sebesar 21,65%. Pertumbuhan ini relatif melambat dibandingkan dengan triwulan II-2008 yang tercatat sebesar 23,89%. Sebagaimana diketahui, sub sektor bank memiliki pangsa cukup besar dalam sektor keuangan sehingga perkembangannya sangat mempengaruhi pertumbuhan sektor keuangan.

Grafik 1.18. Perkembangan Penyaluran Kredit Perbankan di Provinsi Riau

17.95 25.59

31.47 28.84

21.42 25.54

-5,000 10,000 15,000 20,000 25,000

I II III IV I II

2007 2008

Rp

m

ilia

r

-5 10 15 20 25 30 35

%

Kredit y-o-y

Disamping itu, pada triwulan laporan diketahui bahwa sub sektor yang tumbuh positif adalah sub sektor lembaga keuangan non bank. Terjadinya pertumbuhan positif pada sub sektor ini diperkirakan akibat tingginya suku bunga perbankan sehingga banyak nasabah yang beralih untuk melakukan pinjaman dari lembaga keuangan non bank. Sementara, sub sektor sewa bangunan dan jasa perusahaan masing-masing mengalami pertumbuhan melambat yaitu sebesar 8,31% dan 8,51%.

3.8.

Jasa-jasa

(44)

26

4.

Ekspor-Impor Non Migas

Secara kumulatif, perkembangan neraca perdagangan non migas provinsi Riau pada semester I ’09 (sampai dengan Mei) belum menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Pada triwulan laporan (lihat Tabel 1.5), nilai kumulatif net ekspor tercatat mengalami kontraksi (y-o-y,%) sebesar 14,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya atau turun USD 2,33 miliar. Penurunan ini disebabkan menurunnya nilai ekspor Riau sebesar USD 750,5 juta atau turun 21,1% walaupun impor juga turun sebesar 43,6%.

Tabel 1.5. Perkembangan Nilai Ekspor-Impor Non Migas (USD Juta) Provinsi Riau Periode Januari-Mei Tahun 2008-2009

1 Ekspor 3,556.65 2,806.13 -750.52 -21.10

2 Impor 835.83 471.64 -364.19 -43.60

3 Net Ekspor 2,720.82 2,334.49 -386.33 -14.20

7,113.30 5612.26 -1501.04 -78.90

2009 [y-o-y,%]

Total

No Kode SITC 2008

Sumber : DSM Bank Indonesia, diolah

Dalam triwulan laporan6

, pertumbuhan nilai ekspor non migas Provinsi Riau tercatat mengalami kontraksi (y-o-y,%) sebesar 6,85% atau turun USD 93,47 juta. Sedangkan volume ekspor non migas periode April-Mei 2009 mengalami kenaikan sebesar 34% (621 ribu ton) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Grafik 1.19. Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Non Migas Provinsi Riau Tahun 2007-2009 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 ja nfeb

m a r a p r m a y ju njul

a u g se p o ct n o v d e c ja n fe b m a r a p r m a y ju njul

a u g se p o ct n o v d e c ja n fe b m a r a p r m a y

2007 2008 2009 Ribu Ton Juta US$

Nilai Ekspor (LHS) Volume Ekspor (RHS)

0 50 100 150 200 250 300 0 50 100 150 200 250 300 ja nfeb

m a r a p r m a y ju njul

a u g se p o ct n o v d e c ja n fe b m a r a p r m a y ju njul

a u g se p o ct n o v d e c ja n fe b m a r a p r m a y

2007 2008 2009 Ribu Ton Juta US$

Nilai Impor Non Migas (LHS) Volume Impor Non Migas (RHS)

6Triwulan II dihitung menggunakan periode April dan Mei 09.

(45)

27

Sementara itu, nilai impor non migas provinsi Riau dalam triwulan II-2009 tercatat sebesar USD 235,5 juta atau turun 38,7% dibandingkan dengan triwulan II-2008. Begitu juga dengan volume impor non migas yang pada triwulan laporan mencapai 206,6 ribu ton atau mengalami penurunan sebesar 32,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan komoditinya (Grafik 1.20), ekspor non migas Provinsi Riau dalam triwulan laporan tidak mengalami perubahan dibandingkan triwulan-triwulan sebelumnya. Sebagian besar komoditi ekspor masih didominasi oleh CPO, kertas dan olahannya dan pulp dan kertas. Kontribusi ketiga komoditi tersebut terhadap ekspor non migas triwulan II-2009 secara berturut-turut mencapai 69%, 11,18% dan 6,37%. Akan tetapi, pangsa CPO pada triwulan II-2009 masih lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV ’08 yang tercatat sebesar 71,4%.

Grafik 1.20. Struktur Ekspor Non Migas Provinsi Riau Tw IV 2008 – Tw II 2009

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00

Tw IV '08 Tw I '09 Tw II '09

%

422 - Fixed Vegetable Fats and oils

solid, crude, refine/fract 251 - Pulp and Waste Paper

641 - Paper and Paperboard

597 - Additive for Mineral Oils

598 - Miscellaneous Chemical Products

Others

(46)

28

Sementara itu, komposisi impor non migas Provinsi Riau pada triwulan II relatif mengalami perubahan. Berdasarkan Grafik 1.21, terlihat bahwa komoditi utama impor non migas sebagian besar berasal dari kelompok kertas olahan (41%), diikuti oleh mesin indutri tertentu (9,22%), biji-bijian mengandung minyak (9%) dan pupuk kimia buatan pabrik (5,5%). Besarnya nilai impor kelompok kertas olahan (SITC 642) pada triwulan laporan dikarenakan adanya peningkatan yang signifikan pada impor kertas olahan hinga mencapai USD 94.1 juta dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar USD 171 ribu di bulan April.

Grafik 1.21. Struktur Impor Non Migas Provinsi Riau Tw IV 2008 – Tw II 2009

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00 50.00

Tw IV '08 Tw I '09 Tw II '09

%

562 - Fertilizers, manufactured x104

725 - Paper mill and pulp mill machinery,paper cutting machine x181

222 - Oil seeds use for extraction ofsoft fixed vegetable oils x43

251 - Pulp and waste paper x52

741 - Heating and cooling equipmentand parts there of,n.e.s x189

642 - Paper and paperboard cut to sizeor shape and articles of paper x129

Others

Sumber : DSM Bank Indonesia, diolah

(47)

29

Tabel 1.5. Nilai Ekspor Non Migas Utama Provinsi Riau Menurut Wilayah Tujuan Periode Januari-Mei 2009 (dalam USD Juta)

Afrika Amerika Asia Australia Eropa

1 422 CPO 61.21 51.57 1,382.17 11.21 384.10

2 251 Pulp & Paper 0.36 0.00 208.81 0.00 13.54

3 641 Kertas Olahan 13.75 46.16 223.63 16.81 51.43

75.33 97.73 1814.62 28.01 449.08

Wilayah Tujuan

Total Nilai Transaksi

No Kode SITC Komoditi

Sumber : DSM Bank Indonesia, diolah

Sementara itu, menurut negara asal, sebagian besar impor non migas Provinsi Riau berasal dari negara Asia seperti Singapura dengan nilai mencapai USD 240.7 juta (51,04%) diikuti Malaysia sebesar USD 99.07 juta (21%) dan Hongkong sebesar USD 64.88 juta (13,76%). Sisanya sekitar 13% berasal dari negara lainnya seperti Thailand, Cina dan Jerman.

Tabel 1.5. Impor Non Migas Provinsi Riau Menurut Negara Penjual (dalam USD Juta)

USD %

1 Singapura 341.78 40.89 240.70 51.04 -101.08 -29.57

2 Malaysia 46.46 5.56 99.07 21.00 52.60 113.21

3 Hongkong 211.08 25.25 64.88 13.76 -146.19 -69.26

4 Thailand 22.51 2.69 14.65 3.11 -7.86 -34.90

5 R.R.C 73.33 8.77 12.76 2.71 -60.57 -82.60

6 Jerman 13.39 1.60 7.45 1.58 -5.94 -44.35

7 Lainnya 127.28 15.23 32.12 6.81 -95.16 -74.76

835.83 100.00 471.64 100.00 -364.19 -43.57

Kenaikan

Total

No Negara Jan - Mei.

2008 %

Jan - Mei.

2009 %

(48)

30

1. Kondisi Umum

Pada

triwulan II–2009, perkembangan harga yang diukur dengan Indeks Harga

Konsumen (IHK) Kota Pekanbaru mengalami deflasi sebesar 0,54% (q-t-q), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat mengalami inflasi sebesar 0,48% (q-t-q). Sementara itu, Kota Dumai pada triwulan laporan juga mengalami deflasi sebesar 0,77% (q-t-q), juga lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,74% (q-t-q). Secara nasional, pada triwulan laporan tercatat mengalami inflasi sebesar 0,12% (q-t-q). Trend penurunan ini sudah berlangsung sejak triwulan IV-2008 yang lalu.

PERKEMBANGAN

(49)

31

Secara umum, menurunnya inflasi pada triwulan II-2009 disebabkan oleh ketersediaan stok, distribusi yang lancar dan belum pulihnya daya beli masyarakat. Peningkatan penghasilan karena meningkatnya harga komoditi unggulan Riau di pasar internasional belum dapat mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Pemilu Legislatif juga tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap konsumsi masyarakat.

2. Perkembangan Indeks Harga Konsumen

Indeks

Harga Konsumen (IHK) Kota Pekanbaru pada triwulan laporan mengalami

deflasi sebesar 0,54% (q-t-q), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu inflasi sebesar 0,48% (q-t-q), dan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu inflasi sebesar 2,64% (q-t-q). Sementara itu, Kota Dumai mengalami deflasi sebesar 0,77% (q-t-q), juga lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya dan triwulan yang sama tahun sebelumnya masing-masing mengalami deflasi sebesar 0,74% (q-t-q) dan inflasi sebesar 6,39% (q-t-q). Pada periode yang sama, inflasi nasional juga mengalami penurunan menjadi 0,12% pada triwulan II-2009 dari 0,36% (q-t-q) pada triwulan sebelumnya.

(50)

32

Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Pekanbaru, Dumai dan Nasional (mtm)

-2.00% -1.00% 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00%

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6

2007 2008 2009

Dumai Pekanbaru Nasional

Sumber : BPS Propinsi Riau, diolah

2.1.

Inflasi Kota Pekanbaru

Secara tahunan (y-o-y), inflasi pada bulan Juni tercatat sebesar 3,68%, menurun sangat signifikan dibandingkan inflasi Mei maupun April (yoy)yang masing-masing mencapai 6,27% dan 6,94%. Dalam triwulan laporan, inflasi secara bulanan menunjukkan perkembangan yang cenderung menurun. Pada bulan April dan Juni terjadi deflasi masing-masing sebesar 0,54% dan 0,04%, sementara pada bulan Mei terjadi inflasi sebesar 0,04%.

Grafik 2.2 Perkembangan Inflasi Kota Pekanbaru

-0.12 1.83

2.69

2.39 2.64

3.17

0.55 0.48

-0.54 -1.00

-0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50

2 3 4 1 2 3 4 1 2

2007 2008 2009

(2.00) -2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6

2008 2009

mtm yoy ytd

(51)

33

Deflasi yang terjadi pada bulan April 2009 didominasi oleh kelompok bahan makanan (1,64%), diikuti oleh kelompok sandang (1,92%), dan kelompok perumahan (0,32%). Komoditas yang mendominasi terjadinya deflasi antara lain adalah beras, cabe merah, emas perhiasan, batu bata, ikan serai, ikan tongkol, ikan mujair, semen, cabe hijau, telur ayam ras, cabe rawit, ikan selar, pasir, kangkung, lele, wortel, daging ayam ras, ikan kembung, dan lain-lain. Sementara itu, kelompok yang mengalami inflasi adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau (0,39%), kelompok kesehatan (0,05%), dan kelompok transport, komunikasi & jasa keuangan (0,01%). Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi antara lain minyak goreng, jeruk, sawi hijau, rokok kretek, kontrak rumah, soto, pepaya, bawang merah, teri, gula pasir, petai, bayam, ketimun, teh, mesin cuci, spray pembasmi nyamuk, dan lain-lain.

Pada bulan Mei 2009, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok kesehatan (2,18%), diikuti kelompok perumahan (1,11%), kelompok pendidikan (0,23%), kelompok transport (0,06%), dan kelompok makanan jadi (0,03%). Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar dalam pembentukan inflasi bulan Mei antara lain sewa rumah, tarif rumah sakit, upah pembantu rumah tangga, daging ayam ras, jeruk, telur ayam ras, minyak goreng, sepeda motor, wortel, buku pelajaran, serai, dan lain-lain. Selain itu, kenaikan pada kelompok perumahan (perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar) diperkirakan terjadi karena peningkatan harga jual gas elpiji yang terkait dengan rencana pemerintah untuk melakukan konversi minyak tanah ke gas, yang akan dimulai bulan Agustus 2009 yang akan datang. Kondisi ini telah mendorong peningkatan harga jual komoditas tersebut baik ditingkat distributor maupun di tingkat pengecer.

Sementara itu, kelompok bahan makanan dan kelompok sandang masing-masing mengalami deflasi sebesar 1,31% dan 0,06%, dengan sumbangan terbesar berasal dari komoditas cabe merah, kentang, beras, cabe rawit, emas perhiasan, bayam, ikan mujair, besi beton, pepaya, bawang merah, kol putih, ikan kembung, tomat buah, kelapa, semen, dan lain-lain.

(52)

34

sumbangan besar terhadap pembentukan deflasi antara lain beras, cabe merah, minyak goreng, cabe rawit, ikan tongkol, terong, sabun deterjen bubuk, teri, cabe hijau, ikan kembung, tomat buah, kentang, dan lain-lain. Sebaliknya, kelompok yang mengalami inflasi adalah kelompok sandang (0,49%), kelompok makanan jadi (0,26%) dan kelompok perumahan (0,01%). Beberapa komoditas yang berperan mendorong inflasi adalah emas perhiasan, serai, selai, jengkol, semangka, susu bayi, cat tembok, jeruk, apel, air kemasan, gula pasir, ikan lele, jeruk nipis, bawang merah, dan lain-lain.

Tabel 2.1. Inflasi Menurut Kelompok Barang & Jasa di Kota Pekanbaru Triwulan II-2009

Tw II 09

Andil Inflasi Andil Inflasi Andil Inflasi Inflasi

1. Bahan Makanan -0.41 -1.64 -0.32 -1.31 -0.14 -0.56 -3.47

4. Sandang -0.14 -1.92 0.00 -0.06 0.04 0.49 -1.50 5. Kesehatan 0.00 0.05 0.09 2.18 0.00 0.00 2.23

-0.54

-0.54 0.04 -0.04

0.23 0.00 0.01 0.01 0.06 0.00 0.00 0.07 0.00 0.00 0.01 0.23 0.00 0.00

Gambar

Grafik 1.10. Proporsi Produksi Tanaman Bahan Makanan Utama Menurut Kab/Kota
Grafik 1.16. Tingkat Hunian Hotel di Riau
Grafik 1.20. Struktur Ekspor Non Migas Provinsi Riau Tw IV 2008 – Tw II 2009
Grafik 1.21. Struktur Impor Non Migas Provinsi Riau Tw IV 2008 – Tw II 2009
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menggunakan persamaan model seperti diatas ini dan melakukan analisis menggunakan regresi data panel dengan dua uji kelayakan terhadap model tersebut, maka

Faktor pembentuk preferensi konsumen dalam memilih Armor Kopi dalam penelitian ini ada sepuluh faktor yang terdiri dari Harga, Kualitas layanan, Kualitas produk (rasa dan varian),

syndrome di atas, menunjukkan bahwa penggunaan metode glenn doman efektif untuk meningkatkan pemahaman lambang bilangan anak down syndrome. Ini terlihat

Untuk mendiagnosis pasti kelainan ini disamping gejala klinis yang ditemukan pada penderita, pemeriksaan penunjang berperan penting dalam mendiagnosis osteogenesis imperfekta,

Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan evaluasi penerapan sistem informasi manajemen Rumah Sakit Jiwa Grhasia, dengan fokus utama penelitian pada aspek manusia

Berdasarkan uraian di atas, maka Komunikasi Antarpribadi dapat di definisikan sebagai proses hubungan yang tercipta, tumbuh dan berkembang antar individu yang satu (sebagai

Padatan amorf, di mana strukturnya tidak teratur dan metastabil terhadap suhu, disadari bahwa suhunya lebih rendah dari pada suhu transisi kaca atau suhu kristalisasi ( suhu di

Sesuai dengan Standar Dirjen Perhubungan Darat SK.687/AJ.206/DRJD/2002 tentang Pedoman Teknis Penyelenggraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan Dalam Trayek