IMPLEMENTASI UNDERWRITING PADA PENERBITAN POLIS
DI AJB BUMIPUTERA 1912 DIVISI SYARIAH CABANG
SIDOARJO
SKRIPSI
Oleh:
DIAN RAHMAWATI
NIM : C94213173
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
SURABAYA
v
ABSTRAK
Skripsi ini adalah hasil penelitian yang berjudul “Implementasi
Underwriting pada Penerbitan Polis di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah
Cabang Sidoarjo”. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai
bagaimana implementasi Underwriting pada Penerbitan Polis di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo, faktor-faktor apa yang dipertimbangkan underwriter dalam Seleksi Risiko pada Penerbitan Polis asuransi AJB Bumiputera 1912 Syariah Cabang Sidoarjo dan Implementasi Penerapan Underwriting Syariah di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara secara langsung dengan informan, dalam penelitian ini yaitu pihak AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo.
Hasil penelitian menyatakan : Pertama : tahapan field underwriting, seleksi
kesehatan dan seleksi financial calon tertanggung, penentuan besarnya premi,
pengecekan berkas serta proses penerbitan dan percetakan polis. Kedua :
faktor-faktor yang dipertimbangkan underwriter yaitu usia, jenis kelamin dan jenis
pekerjaan. Ketiga : Dalam penerapan underwriting mengandung prinsip-prinsip
syariah diantaranya adil dan seimbang, transparan, serta bebas riba>, ghara>r,
maysi>r.
Kedepannya, sebaiknya AJB Bumiputera Syariah khususnya underwriter
agar lebih teliti dalam memperoleh informasi yang didapat tentang data-data peserta, dikarenakan proses underwriting yang diterapkan masih bersifat manual. Selain itu, untuk pengisian form medis yang hanya diberlakukan pada calon peserta medical dengan usia tertentu saja, kedepannya penulis juga berharap agar pengisian form medis berlaku untuk semua calon peserta, hal ini dikarenakan gangguan kesehatan (penyakit) tidak memandang usia serta penerapan prinsip syariah dalam proses operasional perusahaan khususnya proses underwriting agar dijalankan dengan istiqomah (terus-menerus), sehingga semua kegiatan asuransi syariah dapat tetap berjalan sesuai dengan syariah Islam yang berlaku. Dan AJB Bumiputera Syariah dapat menjadi inspirasi atau contoh bagi perusahaan asuransi syariah lainnya untuk masa mendatang.
viii
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 12
C. Batasan Masalah ... 13
D. Rumusan Masalah ... 13
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 14
F. Tujuan Penelitian... 18
G. Kegunaan Hasil Penelitian... 18
H. Definisi Operasional ... 19
I. Metode Penelitian... 20
J. Sistematika Pembahasan ... 26
BAB II KERANGKA TEORITIS ... 28
A. Asuransi Syariah ... 28
ix
2. Mekanisme Kinerja Asuransi Syariah ... 31
3. Prinsip Asuransi Syariah... 34
4. Akad yang Membentuk Asuransi Syariah ... 36
5. Landasan Hukum Asuransi Syariah... 39
B. Risiko ... 42
1. Pengertian Risiko... 42
2. Manajemen Risiko ... 43
3. Macam-macam Risiko ... 47
4. Risiko dalam Prespektif Islam ... 49
C. Underwriting Asuransi Syariah ... 52
1. Pengertian Underwriting dan Underwriter ... 52
2. Tujuan Underwriting ... 53
3. Tugas dan Fungsi Underwriting ... 54
4. Jenis-jenis Risiko yang Mempengarugi Underwriting ... 55
5. Proses Underwriting ... 56
6. Prinsip Underwriting Syariah ... 57
BAB III PROSES UNDERWRITING DI AJB BUMIPUTERA ... 59
A. AJB Bumiputera 1912 Syariah ... 59
1. Sejarah Singkat AJB Bumiputera 1912 Syariah ... 59
2. Falsafah, Visi dan Misi ... 60
3. Produk-produk AJB Bumiputera Syariah ... 63
4. Struktur Organisasi AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo... 69
B. Implementasi Underwriting pada penerbitan polis asuransi di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo... 70
x
D. Implementasi Penerapan Underwriting Syariah di AJB
Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo ... 94
BAB IV ANALISIS DATA ... 100
A. Implementasi Underwriting pada penerbitan polis
asuransi di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang
Sidoarjo ... 100
B. Faktor-faktor yang dipertimbangkan Underwriter
Dalam Seleksi Risiko Asuransi di 1912 Divisi Syariah
Cabang Sidoarjo ... 108
C. Implementasi Penerapan Underwriting Syariah di AJB
Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo ... 115
BAB V PENUTUP ...
A. Kesimpulan ... 124
B. Saran-saran ... 126
DAFTAR PUSTAKA ... 127
xi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.1 Pertumbuhan Usaha Asuransi dan Reasuransi Syariah... 2
1.2 Laporan Kesehatan Keuangan AJB Bumiputera Syariah ... 7
1.3 Rekapitulasi Anggaran Tahunan ... 9
1.4 Data Penjualan Tahun ... 9
3.1 Faktor Risiko Uang Pertanggungan ... 77
3.2 Uang Pertanggungan Non Medical ... 77
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara dengan populasi jumlah penduduk yang besar,
dan negara berpenduduk muslim terbesar. Di tahun 2010 tercatat sebanyak
207.176.162 atau sekitar 87,18% dari total penduduk Indonesia.1 Ditambah lagi
dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk semakin mengekspresikan
identitas kemusliman mereka merupakan pasar yang berpotensi besar. Sebagai
contoh, hadirnya lembaga-lembaga keuangan syariah, seperti pebankan syariah,
BPRS, asuransi syariah, pegadaian syariah, pasar modal syariah dan BMT.2
Dari sisi lain kebutuhan keuangan meningkat pesat, sehingga diperlukan
lebih banyak lembaga keuangan ataupun pembiayaan berbasis syariah.
Kebutuhan akan lembaga keuangan syariah bertambah kuat seiring dengan
berkembangnya sektor industri jasa keuangan bank atau nonbank. Demikian pula
dengan asuransi syariah, yang masih diperlukan lebih banyak.3 Data perusahaan
asuransi dan reasuransi dengan prinsip syariah mengalami pertumbuhan,
Pertumbuhan jumlah perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi dengan
prinsip syariah di Indonesia per 31 Desember 2016 adalah 49 perusahaan yang
terdiri dari 2 perusahaan yaitu asuransi jiwa yang memiliki unit syariah dan
1 Badan Pusat Statistik, Kependudukan berdasarkan provinsi, // www.bps.com. 2010// pada tanggal
20 Februari 2017 pukul 09.30 WIB.
2 Isnaniah, ‚Analisis Manjemen Risiko pada PT. BRIngin Life Syariah‛ (Skripsi—UIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta 2010).
2
asuransi kerugian. Tabel 1.1 berikut memperlihatkan pertumbuhan perusahaan
asuransi dan reasuransi dengan prinsip syariah.
TABEL 1.1
Pertumbuhan Usaha Asuransi dan Reasuransi Dengan Prinsip Syariah 2014-2016
No Keterangan 2014 2015 2016
1. Perusahaan asuransi jiwa yang
memiliki unit syariah
18 18 21
2. Perusahaan asuransi kerugianyang
memiliki unit syariah
23 23 24
Total 41 41 45
Sumber : Biro Perasuransian Bapepam-LK, 2016
Melihat peluang pasar yang masih besar, perusahaan asuransi asing mulai
mengincar pasar di dalam negeri, sehingga akan membuat industri asuransi
semakin kompetitif. Selain perbaikan sumber daya manusia serta kualitas
produk. Dalam mencapai kemajuan, perusahaan asuransi juga tidak boleh
melupakan penyeleksian risiko karena perusahaan asuransi mengelola
pertanggungan sebuah risiko. Sehingga perusahaan asuransi harus dapat
mengelola risiko agar perusahaan terlindungi dari risiko yang merugikan.
Semua manusia didunia ini mungkin setuju akan pendapat tiada yang pasti
selain kematian. Namun kematian merupakan suatu hal yang tidak bisa
diprediksi karena tidak ada yang tahu kapan dan dimana kematian itu datang.
Sebagai akibat dari ketidakpastian tersebut adalah munculnya risiko yang dapat
mengakibatkan kerugian fisik atau psikis. Untuk menanggulangi kerugian atas
risiko yang tidak pasti tersebut, banyak orang yang kemudian dikenal dengan
3
risiko financial yang terjadi pada seorang tertanggung yang menjadi peserta
asuransi.4
Menurut Sumanto dalam Riyanto menerangkan bahwa asuransi pada
dasarnya merupakan konsep pengelolaan risiko dengan cara mengalihkan risiko
yang mungkin timbul dari peristiwa tertentu yang tidak diharapkan kepada orang
lain yang sanggup mengganti kerugian yang diderita dengan imbalan menerima
premi.5
Dari pengertian asuransi diatas diketahui adanya tiga unsur pokok dalam
asuransi, yaitu bahaya atau kerugian yang dipertanggungkan, premi
pertanggungan, dan sejumlah uang ganti rugi pertanggungan. Bahaya atau
kerugian dipertanggungkan sifatnya tidak pasti terjadi. Jumlah premi sangat
tergantung pada faktor-faktor yang menyebabkan tinggi rendahnya tingkat risiko
dan jumlah nilai pertanggungan. Jumlah uang santunan sering atau bahkan pada
umumnya jauh lebih besar dari pada premi yang dibayarkan kepada perusahaan
asuransi. Mekanisme perlindungan asuransi sangat dibutuhkan dalam dunia
bisnis akan mempertimbangkan usaha untuk mengurangi risiko yang dihadapi.
Pada tingkat kehidupan keluarga atau rumah tangga, asuransi juga dibutuhkan
untuk mengurangi permasalahan ekonomi yang akan dihadapi apabila ada salah
satu aggota keluarga menghadapi risiko sakit, cacat, atau meninggal.6
Fungsi asuransi yaitu sebagai tempat melimpahkan risiko yang akan datang.
Hal ini sesuai dalam pasal I Undang-undang no.2 tahun 1992 tentang usaha
4 Bapak Mulyono, Wawancara, Sidoarjo, 21 Oktober 2016.
5 I Al-Arif, M. Nur Riyanto. Pemasaran Strategik Pada Asuransi Syariah (Kesehatan, Pendidikan, Jiwa). (Jakarta : Gramata Publishing. 2015), 4.
4
perasuransian, dimana asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih,
dimana pihak penanggung yang mengikat diri kepada tertanggung dengan
menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung
karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau
tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita
tertanggung, yang timbul dari suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal
atau hidupnya seseorang yang dipertanggugkan.7
Selain berfungsi sebagai pelimpah risiko, asuransi juga berfungsi sebagai
penghimpunan dana dari masyarakat yang berasal dari pembayaran premi
pemegang polis. Adanya premi dari nasabah yang dihimpun melalui lembaga
asuransi kerugian, untuk selanjutnya disalurkan, guna biaya pembangunan
berbagai sektor pembangunan dimana hal ini berarti pengadaan lapangan kerja
untuk meningkatkan penghasilan masyarakat dalam rangka terciptanya
masyarakat makmur dan sejahtera. Jadi asuransi merupakan lembaga keuangan
bukan bank.
Dari setiap masalah yang ada tentu ada risiko yang tak bisa dihindari dan hal
ini bertentangan dengan sifat manusia yang risk averse (tidak suka risiko) dan
tentunya mengharuskan untuk mengeluarkan biaya dalam mengurangi risiko
tersebut. Disinilah salah satu peran manajer dan lembaga keuangan berfungsi
sebagai tempat intermediasi, dimana dari dana-dana untuk berjaga-berjaga
tesebut dikelola untuk persiapan masa depan. Perusahaan ini siap untuk
5
menanggung setiap risiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya baik perorangan
ataupun badan usaha.8
Asuransi syariah adalah sistem saling memukul risiko antara sesama peserta,
sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas risiko yang
muncul dengan prinsip saling tolong menolong dan kebaikan dengan cara
masing-masing meghibahkan dana ta>ba>rru>’ atau dana kebajikan. Dana ta>ba>rru>’
tersebut dihibahkan oleh peserta kepada kumpulan dana peserta asuransi syariah
dan pengelolaanya yang diamanahkan kepada perusahaan asuransi dengan
membayarkan sejumlah fee atau u>jra>h yang dikenal juga sebagai dana milik
pengelola9.
Dalam hidup manusia selalu mengalami pasang surut. Artinya disamping
mengalami suka, tidak jarang manusia mengalami duka dan kemalangan silih
berganti datangnya. Kadang diatas dan terkadang dibawah seperti roda yang
berputar, adakalanya untung dan tidak jarang mengalami kerugian (risiko).10
Risiko-risiko tersebut bersifat tidak pasti, tidak diketahui apakah akan terjadi
dalam waktu dekat atau dikemudian hari, dan apabila risiko tersebut terjadi,
tidak diketahui berapa kerugiannya secara ekonomis. Sehingga manusia
dirundung oleh rasa kekhawatiran dalam menghadapi setiap kemungkinan yang
akan terjadi pada dirinya atau harta bendanya. Pada dasarnya risiko itu dapat
menimpa pada setiap orang, baik secara pribadi atau dalam kelompok. Risiko
8 Erie Hariyanto, ‛Implementasi Manajemen Resiko Pada Sistem Asuransi Jiwa Syariah Di PT.
Prudential Life Assurance Cabang Madura‛. Majalah Ilmiah Istishadia, Vol 2 No 2, diakses pada 17 Desember 2016
9 Asuransi Astra, Pengertian Asuransi Syariah. //www.asuransi.astra.co.id// pada 10 oktober 2016
pukul 23.00 WIB.
10 Bunyati, ‚Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Underwriting Pada Produk Asuransi Kebakaran
6
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan, karena segala
aktivitas pasti mengandung risiko. Bahkan ada anggapan yang mengatakan
bahwa tidak ada hidup tanpa risiko sebagaimana tak ada hidup tanpa kematian.6
Salah satu cara untuk mengatasi risiko tersebut adalah dengan cara membagi
risiko (risk sharing) kepada pihak lain di luar diri manusia. Tugas asuransi adalah
untuk menanggung beban risiko yang dipindahkan oleh tertanggung kepada
perusahaan. Bagi industri asuransi, risiko adalah klaim. Untuk itu, agar
perusahaan bisa terhindar dari kerugian besar yang diakibatkan oleh klaim, maka
seleksi atas risiko-risiko yang ada pada produk asuransi harus dilakukan dengan
teliti dan cermat. Disini para underwriter dilatih untuk bisa mengidentifikasikan
setiap potensi risiko yang ada pada calon tertanggung dengan melakukan proses
underwriting secara akurat.
Dalam asuransi jiwa syariah, pada saat peserta mengajukan permohonan,
secara tidak langsung peserta sudah membagi risikonya pada pihak perusahaan.
Sejak itu, maka perusahaan asuransilah yang memiliki risiko. Peralihan risiko ini
Sebenarnya dari beberapa manfaat asuransi jiwa yang didapatkan peserta di
perusahaan yang hampir sama dengan arisan, yaitu tolong menolong sesama
anggota, pasti mendapatkan bagian atas dana yang dikontribusikan, dan
sama-sama menanggung risiko. Perwujudan dari manfaat diatas diwakilkan oleh para
peserta kepada pihak perusahaan melalui premi yang dibayarkan setiap
bulannya.11
11 Erie Hariyanto, ‛Implementasi Manajemen Resiko Pada Sistem Asuransi Jiwa Syariah Di PT.
7
Bagi perusahaan asuransi syariah proses underwriting bertujuan untuk
memastikan bahwa calon peserta asuransi syariah memiliki tingkat risiko sesuai
dengan yang diasumsikan perusahaan, dengan demikian perusahaan dapat
menjaga kecukupan dana ta>ba>rru>’ untuk membayar klaim-klaim yang terjadi,
sehingga peserta dan pemegang polis mendapat keadilan yang sama dalam
kontribusi ta>ba>rru>’ sesuai risiko yang dimiliki.
Asuransi AJB Bumiputera 1912 merupakan pelopor perusahaan asurasi jiwa
nasional yang pertama dan tertua di Indonesia. Walaupun sudah mempuyai brand
image di masyarakat, AJB Bumiputera tetap mempertahankan mutu pelayanan
pada nasabah. AJB Bumiputera memiliki unit syariah sejak 2003 namun secara
resmi launching pada 16 Januari 2017. Komisaris utama AJSB Suranto
menjelaskan pada awalnya AJSB merupakan UUS AJB Bumiputera 1912 yang
dibentuk pada 2003 silam. UUS tersebut selama ini melayani kebutuhan asuransi
para nasabah AJB Bumiputera 1912 yang menginginkan produk asuransi berbasis
syariah.12
TABEL 1.2
LAPORAN KESEHATAN KEUANGAN 2015 AJB BUMIPUTERA 1912 SYARIAH
KESEHATAN KEUANGAN DANA TA>BA>RRU>’ PER 31 DESEMBER 2015 DAN 2014
(dalam jutaan rupiah)
12 CNN Indonesia,
8
B. Minimum tingkat solvabilitas dana ta>ba>rru>’ Kelebihan (kekurangan) BTS
a. Kekayaan 156,171.44 156,115.89
b. Kewajiban 61,215.99 69,486.42
c. Jumlah tingkat solvabilitas 94,955.46 86,629.47
B. Minimum tingkat solvabilitas dana perusahaan
a. Kekayaan yang tersedia untuk qardh 9,178.88 9,502.36
b. Modal sendiri atau modal kerja
minimum
25,000.00 25,000.00
c. Jumlah minimum solvabilitas dana perusahaan
(jumlah yang lebih besar antara a dan b)
25,000.00 25,000.00
C. Kelebihan (kekurangan) Dana Solvabilitas Perusahaan
69,955.46 61,629.47
Sumber :Laporan Keuangan 2015 AJB Bumiputera 1912 Unit Usaha Syariah
Melihat laporan keuangan diatas yang semakin meningkat, dan berdasarkan
laporan keuangan AJB Bumiputera Unit Syariah per 31 Desember dari tahun
2014 hingga tahun 2015, terlihat bahwa total kekayaan yang diperkenankan
meningkat dari tahun 2014 sebesar Rp. 15.611.589 triliun Menjadi Rp.
15.617.144 triliun Pada tahun 2015.
Dari analisa laporan keuangan diatas juga sesuai dengan PMK
No.11/PMK.010, yaitu paling rendah 30% dari jumlah dana yang dibutuhkan
untuk mengantisipasi risiko kerugian yang mungkin timbul akibat deviasi
pengelolaan kekayaan dan kewajiban. Namun yang terjadi per 31 Desember
tahun 2015 tingkat Solvabilitas dana ta>ba>rru>’ yaitu 199.93%.
AJB Bumiputera 1912 Syariah memiliki 49 kantor cabang diseluruh
Indonesia, dari seluruh kantor cabang Bumiputera Syariah memiliki anggaran
9
Sidoarjo juga memiliki anggaran tahun tersendiri dan dapat dilihat pada tabel
rekapitulasi anggaran tahun 2016 wilayah kantor cabang syariah Sidoarjo :
TABEL 1.3
1.1. Premi Pertama 2112810,952
1.2.Premi Lanjutan Tahun
Sumber : Dokumen AJB Bumiputera 1912 Syariah Sidoarjo 2015
Pada tabel 1.4 dibawah ini dapat dilihat data penjualan produk AJB Bumiputera
1912 Syariah Cabang Sidoarjo per 31 Desembe 2014-2015 mengalami penurunan
sebesar Rp. 323.505.761 dari Rp. 1.255.889.988 di tahun 2014 menjadi Rp.
932.384.227 di tahun 2015.
TABEL 1.4
DATA PENJUALAN TAHUN 2014-2015
tahun Jumlah polis Jumlah premi (RP)
2014 607 1.255.889.988
2015 243 932.384.227
Sumber : data penjualan produk per 31 Desember 2014-2015 AJB Bumiputera 1912 Syariah Cabang Sidoarjo
Melihat rekapitulasi anggaran tahunan dengan data penjualan produk per 31
10
kurang optimal dalam pencapaiannya, khususnya dalam pencapaian jumlah polis
serta income yang didapat oleh perusahaan. Ditahun 2015 rekapitulasi anggaran
Polis berjumlah 900, namun dalam pencapainnya hanya 37% yaitu 243 polis.
Melihat kondisi tersebut, menjadi penting untuk dicermati lebih lanjut, dan
menelaah berbagai kebijakan yang dijalankan dan dikembangkan oleh AJB
Bumiputera 1912 Syariah Cabang Sidoarjo lebih khusus dalam hal underwriting
pada penerbitan polis calon nasabah.
Pelaksanaan underwriting hingga penerbitan polis di AJB Bumiputera 1912
Divisi Syariah Cabang Sidoarjo melalui beberapa tahapan, namun sebelum
melakukan beberapa tahapan seorang underwriter memperoleh data dan berkas
dari seorang financial consultant atau biasa disebut dengan agen asuransi.
financial consultant ini membantu dalam pengisian SPAJ (surat pengajuan
asuransi jiwa), walaupun dalam kenyatannya masih banyak pengisian SPAJ yang
dilakukan oleh financial consultant sendiri. Dalam pengajuan SPAJ, seorang
underwriter melakukan beberapa seleksi diantaranya seleksi fisik kesehatan,
seleksi financial, pengamatan nilai ekonomis, evaluasi dan selanjutnya hasil akhir
yaitu menolak menunda atau menerima penerbitan polis. Dalam penyeleksian
tersebut keakuratan suatu data sangat diperlukan, sehingga perlu
dilaksanakannya pengecekan secara fisik. Namun masih banyak underwriter
yang tidak melakukan hal tersebut, karena nasabah tidak seluruhnya dapat
dijangkau, ada pula yang berada di luar kota ataupun pulau. kemudian
pengecekan kelengkapan data SPPA dan pendukung, ketika data lengkap maka
11
dilakukannya keputusan menerima atau menolak calon peserta asuransi,
kemudian akseptasi, dan tahap terakhir adalah penerbitan polis dan
pendistribusian polis kepada peserta asuransi.13
Dalam proses underwriting produk asuransi di AJB Bumiputera 1912 Divisi
Syariah Cabang Sidoarjo menerapkan prinsip syariah sebagai acuan dalam
menentukan premi berdasarkan risiko yang akan diterima oleh perusahaan
dikemudian hari. Underwriter sebagai bagian terpenting dalam proses analisis
resiko peserta asuransi harus benar-benar mampu menjalankan standard operation
procedure underwriting berdasar prinsip syariah yang berlaku di AJB Bumiputera
1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo .
AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo memperhatikan
kualitas pengelolaan risiko peserta asuransi dengan ketelitian dan kehati-hatian
underwriter dalam proses underwriting. Prosedur underwriting yang berjalan
sama dengan ketentuan underwriting pada umumnya menjadikan tujuan dalam
kegiatan asuransi hanya mengejar materi atau keuntungan semata. Kegiatan
asuransi yang mengejar materi saja akan bertentangan dengan tujuan lembaga
keuangan syariah yang tidak hanya mengejar materi semata, namun
diperintahkan untuk melakukan kegiatan perekonomian di dunia ini dengan
tujuan mas}lah{ah dan beribadah kepada Allah.
Terlaksana atau tidaknya suatu akad kontrak oleh perusahaan tergantung pada
proses underwriting yang mengidentifikasi kelayakan calon tertanggung.
12
Memahami sebuah konsep underwriting dengan baik merupakan hal yang amat
esensial untuk dapat melakukan identifikasi risiko secara baik, tepat dan akurat.
Dari pemaparan diatas, mengingat masih adanya peluang bagi AJB
Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo untuk melaksanakan proses
underwriting dengan tepat dalam menyeleksi risiko calon nasabah pada
penerbitan polis secara tepat sasaran, berdasarkan latar belakang diatas, saya
tertarik mengangkat judul: ‚IMPLEMENTASI UNDERWRITING PADA
PENERBITAN POLIS ASURANSI DI AJB BUMIPUTERA 1912 DIVISI
SYARIAH CABANG SIDOARJO‛
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat
diidentifikasi sebagai berikut :
1. Mulai sadarnya masyarakat Indonesia akan proteksi diri melalui program
asuransi
2. Jumlah lembaga asuransi berbasis syariah semakin meningkat
3. Asuransi sebagai pelimpahan risiko oleh tertanggung kepada penanggung,
karena didalam diri manusia memiliki manfaat ekonomis yang dapat
mengurangi risiko financial terlebih khusus adalah kesehatan.
4. perusahaan asuransi syariah dapat menjaga kecukupan dana ta>ba>rru>’ untuk
membayar klaim-klaim yang terjadi, sehingga peserta dan pemegang polis
mendapat keadilan yang sama dalam kontribusi ta>ba>rru>’ sesuai risiko yang
13
5. Setiap calon nasabah asuransi melalui proses underwriting oleh underwriter
pada perusahaan asuransi
6. Perusahaan menyeleksi risiko dalam penerbitan polis asuransi dengan
underwriting
7. Penerapan underwriting secara syariah diperlukan dalam perusahaan asuransi
syariah
8. Terdapat beberapa faktor yang dipertimbangkan oleh underwriter pada saat
proses underwriting.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, maka penelitian ini akan
dilakukan pembatasan masalah agar penelitian ini lebih terarah dan terfokus.
Penelitian ini fokus pada masalah prinsip syariah dalam proses underwriting di
AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo, sehingga output yang
diharapkan adalah penerapan prinsip syariah dalam proses underwriting lebih
terarah.
D. Rumusaan Masalah
1. Bagaimana analisis implementasi underwriting pada penerbitan polis asuransi
14
2. Faktor-faktor apa yang dipertimbangkan underwriter dalam seleksi risiko
pada penerbitan polis asuransi di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah
Cabang Sidoarjo?
3. Bagaimana implementasi penerapan underwriting Syariah di AJB Bumiputera
1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo?
E. Penelitian Terdahulu Yang Relevan
Untuk menghindari kesalahpahaman dan untuk memperjelas permasalahan
yang peneliti angkat, maka diperlukan kajian pustaka untuk membedakan
penelitian ini dengan penelitian yang telah ada. Berikut penelitian sejenis yang
telah diteliti, yaitu:
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Relita Lilis Meiliyawati yang
berjudul ‚Gambaran Penerbitan Polis Asuransi Kesehatan Kumpulan Di
Perusahaan Asuransi Jiwa Bringin Jiwa Sejahtera‛. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisa penyebab terjadinya keterlambatan dalam penerbitan polis.
Penelitian ini menggunakan studi kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
factor internal (SDM, SOP, Peralatan/mesin) dan factor eksternal (kelengkapan
data dan dokumen) sangat berpengaruh pada ketepatan dan keterlambatan
penerbitan polis asuransi kesehatan kumpulan di PT. Asuransi Jiwa Bringin Jiwa
Sejahtera Tahun 2012.14
Persamaan : membahas tentang penerbitan polis dan penggunaan metode
penelitian. Perbedaan : penelitian terdahulu membahas tentang faktor-faktor
14 Relita Lilis Meiliyawati, ‚Gambaran Penerbitan Polis Asuransi Kesehatan Kumpulan Di
15
keterlambatan penerbitan polis. Penelitian sekarang berfokus pada analisis
underwriting dalam penerbitan polis. Yang menjadikan penelitian ini sangat
penting dan berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah
bahwa dengan penelitian ini peneliti bermaksud untuk lebih esensial dalam
seleksi risiko hingga penerbitan polis serta mengimplementasikan dalam prinsip
syariah yang sebelumnya (penelitian sebelum ini) terbatas pada underwriting
konvensional.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Hilmansyah yang berjudul ‚Faktor
-faktor yang mempengruhi Underwriter dalam menyeleksi risiko guna
menentukan kontribusi pada produk asuransi mikro syariah program AJP mikro
sakinah (studi pada PT. Asyki srana sejahtera‛. Hasil penelitian ini secara singkat
yaitu, factor-faktor yang mempengaruhi underwriter dalam menyeleksi risiko
guna menentukan kontribusi yaitu factor usia, jangka waktu pembiayaan dan
jumlah pembiayaan.15
Persamaan : membahas underwriting dalam seleksi risiko. Perbedaan :
penelitian terdahulu menjelaskan analisis underwriting seleksi risiko dalam
penentuan kontribusi yang dibebankan kepada calon nasabah sedangkan
penelitian sekarang berfokus dalam analisis underwriting seleksi risiko
penerbitan polis.
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh B. Achmad K. Hadi yang berjudul
‚Faktor-Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Pilihan Kebijakan Underwriting
15 Hilmnasyah, ‚Faktor-faktor yang mempengruhi Underwriter dalam menyeleksi resiko guna
16
Pada Asuransi Mikro (Studi Pada Lembaga Keuangan Mikro Yang Menjadi
Nasabah Bringin Life Syariah )‛. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor-faktor risiko underwriting yang akan mempengaruhi pengambilan
keputusan melanjutkan atau merubah kebijakan underwriting pada nasabah
Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Data yang dianalisis adalah data peserta
asuransi jiwa pembiayaan, yakni produk asuransi syariah yang dirancang khusus
untuk melindungi LKM dari risiko kegagalan melunasi kredit/pembiayaan akibat
peserta meninggal dunia. Berdasarkan metode binomial logistic ini, faktor-faktor
tersebut sebagian besar mempengaruhi secara signifikan, kecuali letak geografis,
penerapan syariah dan LKM yang berbadan hukum BPR16.
Persamaan : mendiskripsikan factor-faktor dalam kebijakan underwriting.
Perbedaan : penelitian terdahulu menjelaskan faktor-faktor risiko underwriting
yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan melanjutkan atau merubah
kebijakan underwriting pada nasabah Lembaga Keuangan Mikro. Penelitian
sekarang menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi underwriter dalam
penerbitan polis.
Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Achmad Suhadi yang berjudul
‚Manajemen Risiko Pada Perusahaan Asuransi (Studi Kasus PT. Asuransi
Syariah Mubarakah)‛. Penelitan ini, ruang lingkup manajemen risiko Dalam
proses manjemen risiko, setiap perusahaan berbagai pilihan didalam pengendalian
risiko yaitu risiko diterima, diabaikan, dihindari atau dialihkan kepihak lain.
16 B. Achmad K. Hadi, ‚Faktor-Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Pilihan Kebijakan Underwriting
Pada Asuransi Mikro (Studi Pada Lembaga Keuangan Mikro Yang Menjadi Nasabah BRIngin Life
17
Proses pengidentifiksian risiko merupakan suatu system yang secara sistematis
dan terus menerus melakukan identifiksi dan dampak kerugian yang ditimbulkan
dari risiko tersebut. Proses evaluasi risiko meliputi dua hal : (a) severity, dampak
kerugian yang ditimbulkan dari risiko tersebut dan (b) frequency, tingkat
keseringan risiko tersebut timbul.17
Persamaan : menjelaskan manajemen risiko. Perbedan : penelitian terdahulu
mendeskripsikan manajemen risiko secara keseluruhan. Penelitian sekarang
terfokus dalam manajemen risiko penerbitan polis.
Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Isnaniah yang berjudul ‚Analisis
Manjemen Risiko pada PT. BRIngin Life Syariah‛. Penelitian ini menjelaskan
manajemen risiko yang diterapkan oleh perusahaan asuransi, khususnya
underwriting. Melalui observasi dan wawancara diketahui bahwa metode
underwriting yang digunakan oleh underwriter dalam menyeleksi risiko cukup
efektif dan optimal, sehingga tingkat klaimnyapun cukup rendah . hal ini juga
berdampak pada tingkat solvabiltas perusahaan asuransi yang cukup maksimal.18
Persamaan : menjelaskan manajemen risiko. Perbedan : penelitian terdahulu
mendeskripsikan manajemen risiko secara keseluruhan. Penelitian sekarang
terfokus dalam manajemen risiko penerbitan polis.
F. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
17 Achmad Suhadi, ‚Manajemen Risiko Pada Perusahaan Asuransi (Studi Kasus PT. Asuransi Syariah Mubarakah)‛ (Skripsi—UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 2004).
18 Isnaniah, ‚Analisis Manjemen Risiko pada PT. BRIngin Life Syariah‛ (Skripsi—UIN Syarif
18
1. Mengetahui implementsi penerapan underwriting Syariah di AJB Bumiputera
1912 Divisi Syariah Sidoarjo
2. Mengetahui Faktor-faktor yang dipertimbangkan underwriter dalam seleksi
risiko pada penerbitan polis asuransi di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah
Cabang Sidoarjo
3. Mengetahui analisis implementasi underwriting (seleksi risiko) pada
penerbitan polis asuransi di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Sidoarjo.
G. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam dua aspek:
1. Secara Teoritis
a. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan, hasil penelitian dapat
menambahkan informasi dan hasanah mengenai analisis underwriting
dalam seleksi risiko, serta memberikan informasi tentang faktor-faktor apa
saja yang mempengaruhi underwriting dalam penerbitan polis asuransi
syariah.
b. Hasil penelitian diharapkan memberikan acuan referensi dan saran
pemikiran bagi kalangan akademisi untuk menunjang perkembangan
penulisan selanjutnya.
2. Secara Praktis
a. Bagi Perusahaan, membantu memudahkan pihak–pihak terkait secara
langsung maupun tidak langsung dalam upaya mengelola risiko perusahaan
19
b. Bagi Masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah
khazanah ilmu pengetahuan yang lebih mendalam tentang dunia asuransi
syariah.
c. Bagi Penulis, hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan yang luas
dan mendalam mengenai risiko underwriting pada AJB Bumiputera 1912
Kantor Cabang Syariah Sidoarjo.
H. Definisi Operasional
Agar memudahkan dalam memahami skripsi ini, maka perlu mendefinisikan
beberapa istilah yang berhubungan dengan judul penelitian, antara lain :
1. Implementasi
Implementasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan
sebagai pelaksanaan, penerapan.19 Implementasi juga bermakna suatu tindakan
atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun dengan matang dan
terperinci, implementasi dilakukan setelah perencanaan sudah dianggan
baik.20 Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa makna
implementasi dalam konteks penelitian ini adalah penerapan manajemen
risiko dalam pembukan polis di AJB Bumiputera 1912 Cabang Sidoarjo.
2. Underwriting
Underwriting adalah pemilihan risiko yang aman agar perusahaan
mendapat keuntungan (profit). Dari risiko-risiko yang kita pilih ada yang bisa
19 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005). 20 Kumpulan artikel serbaguna,
20
diterima (acceptance of risk) dan ada pula yang tidak bisa diterima.21 Jadi
maksud underwriting disini adalah penggunaan metode dalam menyeleksi
risiko sehingga hasil risiko tersebut dapat diarahkan ke penerbitan polis.
3. Polis Asuransi
Polis Asuransi adalah suatu bukti perjanjian yang menjadi dasar perikatan
dalam asuransi antara pihak tertanggung dan pihak penanggung. Dalam polis
asuransi dimuat tentang luas jaminan pertanggungan, hal-hal atau risiko yang
tidak dapat diasuransikan, serta persyaratan umum dan persyaratan khusus.22
I. Metode penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan penulis adalah lapangan (field research)
dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah
penelitian untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan
diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam.23 Sedangkan penelitian
kualitatif adalah jenis penelitian yang temuannya tidak diperoleh dari melalui
prosedur statistic atau bentuk hitungan lainnya.24. Dalam penelitian ini yang
diteliti adalah penerapan underwriting Syariah, sedangkan data yang
diperoleh dari data-data, dan hasil wawancara di kantor AJB Bumiputera 1912
Divisi Syariah Cabang Sidoarjo.
21 Abbas Salim, Dasar-dasar Asuransi (Principles of Imsurance) (Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada. 1993), 111.
22 Ari Nugroho, Seluk-beluk Perusahaan Asuransi (Yogyakarta : PT. Intan Sejati Klaten. 2011), 20. 23 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R dan D (Bandung :Alfabeta. 2008), 209. 24 Anselm Straus dan Juliat Corbin, Dasar-dasar penelitian Kualitatif (Yogyakarta : Pustaka Belajar.
21
2. Data yang dikumpulkan
a. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tentang, prinsip-
prinsip asuransi syariah yang berlaku di AJB Bumiputera dan prosedur
underwriting penerbitan polis asuransi syariah yang terdapat pada AJB
Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo.
b. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini mencakup data-data dari
penelitian terdahulu seperti media elektronik, makalah, jurnal, artikel,
skripsi.
3. Sumber Data
Guna menambah kelengkapan data tersebut, diperlukan sumber-sumber
data sebagai berikut:
1) Data Primer
Sumber data primer, yakni subjek penelitian yang dijadikan sebagai
sumber informasi penelitian dengan menggunakan metode interview
(wawancara).25 Dalam hal ini, subjek penelitian yang dimaksud adalah
karyawan AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo, yaitu :
a) Bapak Mulyono selaku Kepala Cabang yang mengawasi serta
memberikan pengarahan segala aktivitas AJB Bumiputera.
b) Bapak Hadi Suprayitno selaku Financial Unit Manager dan juga sebagai
underwriter dalam menyeleksi proses underwriting hingga proses
penerbitan polis peserta.
25
22
c) Ibu Nanaik Riyanto selaku Financial Consultant (agen) yang berperan
sebagai underwriter pertama.
d) Ibu Era selaku Financial Consultant (agen) yang berperan sebagai
underwriter pertama.
Selain itu, sumber data primer lainnya adalah dokumentasi dari AJB
Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo tentang prosedur
underwriting AJB Bumiputera.
2) Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data kedua sesudah sumber data
primer.26 Sumber data sekunder merupakan data pendukung yang berasal
dari seminar, buku-buku maupun literatur lain meliputi:
a) Andri Soemitra, M.A. Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah.
b) Undang – undang Republik Indonesia nomer 2 tahun 1992 tentang usaha
perasuransian.
c) Soesino Djojosoedarso, Prinsip- Prinsip Manajemen Risiko dan
Asuransi.
d) Prof.Dr.H. Ismail Nawawi Uha, MPA,M.Si, Manajemen Resiko.
e) Dll.
4. Teknik Pengumpulan Data
Sumber data utama dalam penelitan kualitatif ialah kata-kata dan
tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain,
dalam penelitian data yang diperoleh dari lapagan haruslah lengakap. Untuk
26 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Kuantitatif dan Kualitatif
23
mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini penulis
menggunakan beberapa metode yaitu :
a. Observasi
Observai merupakan metode pengumpulan data atau menjaring data
dengan melakukan pengamatan terhadap subjek dan atau objek penelitian
secara seksama dan sistematis.27 Observasi yang dilakukan peneliti adalah
observasi langsung di perusahaan asuransi AJB Bumiputera 1912 Divisi
Syariah Cabang Sidoarjo dengan menekankan fokus dari observasi terlebih
dahulu yaitu kedaan fisik perusahaan AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah
Cabang Sidoarjo dengan menentukan sarana dan prasarana. Berkaitan
dengan observasi ini, peneliti telah menetapkan aspek-aspek yang hendak
diobservasi yang kemudian peneliti rinci dalam bentuk pedoman agar lebih
memudahkan peneliti dalam pengisian observasi.
b. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu
dilakukan oleh du pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang
mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas
pertanyaan itu.28
Wawancara merupakan suatu cara menghimpun data-data atau
keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab secara
sepihak, bertatap muka dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
Untuk menjaga kredibilitas hasil wawancara perlu adanya pencatatan data
24
peneliti melakukan dengan menyiakan HP dan kamera yang berfungsi
untuk merekap hasil wawancara.
b. Dokumentasi
Dokumentasi ialah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang
berupa catatan, buku, surat kabar, dan lain sebagainya.29 metode
dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang
berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda
dan sebagainya yang didapat dari observasi langsung ke objek penelitian
yaitu di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo.
1. Teknik Pengolahan Data
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik pengoahan
data sebagai berikut :
a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali dari semua data yang diperoleh
terutama dari segi kelengkapannya, kejelasan makna, keselarasan data
yang ada dan relevansi dengan penelitian. Dalam hal ini peneliti akan
mengambil data yang relevan dengan rumusan masalah untuk dianalisis.
b. Organizing, yaitu menyusun kembali data yang telah didapat dari
pemnelitian yang diperlukan dalam kerangka paparan yang sudah
direncanakan dengan rumusan masalah secara sistematis. Peneliti
melakukan pengelompokan data yang dibutuhkan untuk dianalisis dan
menyusun data tersebut dengan sistematis untuk memudahkan peneliti
dalam menganalisis data.
25
c. Penemuan hasil, yaitu dengan menganalisis data yang telah diperoleh dari
penelitian untuk memperoleh kesimpulan mengenai kebenaran fakta yang
ditemukan. Yang akhirnya merupakan sebuah jawaban dari rumusan
masalah.
2. Teknik Analisa Data
Teknik analisis yang digunakan oleh peneliti adalah analisis interaktif
(interactive analysis model) dimana komponen reduksi data dan sajian data
dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data, setelah data
terkumpul maka tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data, penarikan
simpulan atau verifikasi) berinteraksi. langka-langkah yang ditempuh adalah
sebagai berikut :
a. pengumpulan data penelitian yaitu mencari data melalui wawancara,
observasi langsung dan dokumentasi di perusahaan asuransi AJB
Bumiputera 1912 Divisi Syariah Cabang Sidoarjo. kemudian melaksanakan
pencatatan data.
b. Reduksi data setelah data tersebut terkumpul dan tercatat semua,
selanjutnya direduksi yaitu menggolongkan, mengartikan, membuang yang
tidak perlu dan mengorganisasikan sehingga nantinya mudah dilakukan
penarikan kesimpulan. Jika yang diperoleh kurang lengkap maka peneliti
mencari kembali data yang diperlukan di lapangan.30
26
c. Penyajian data-data yang telah direduksi tersebut merupakan sekumpulan
informasi yang kemudian disusun atau diajukan sehingga memberikan
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
d. Penarikan kesimpulan atau verifikasi setelah data disajikan, maka
dilakukan penarikan kesimpulan atau verifikasi, dalam penarikan
kesimpulan atau verifikasi ini didasarkan pada reduksi data yang
merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian ini.
4. Sistematika Pembahasan
Pembahasan skripsi ini terdiri dari V (lima) bab yang dijabarkan sebagai
berikut :
Bab I tentang pendahuluan. Pada Bab ini peneliti menulis beberapa hal yang
berkaitan dengan perencanaan yang akan dilakukan, atau disebut dengan
proposal penelitian. Dalam bab ini meliputi: latar belakang masalah, rumusan
masalah atau fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan
sistematika pembahasan. Dan metode penelitian
Bab II Landasan Teori. Bab ini menguraikan tentang landasan teori yang
merupakan hasil telaah dari beberapa literatur yang digunakan sebagai bahan
untuk menganalisis data, tujuan dan proses untuk membuka wawasan dan cara
berpikir dalam memahai dan menganalisis fenomena yang ada.
Bab III Deskripsi Objek Penelitian, merupakan uraian tentang data peneitian
yang meliputi gambaran umum mengenai AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah
27
produk-produk, pelaksanaan underwriting serta prosedur pelaksanaan pengajuan
anggota polis.
Bab IV Analisis Data, merupakan uraian tentang analisis pelaksanaan
underwriting pada penerbitan polis di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah
Cabang Sidarjo.
Bab V Kesimpulan. Bab ini merupakan bab akhir dalam penelitian, yang
berisi tentang kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisi rangkuman dari hasil
pembahasan dan analisis yang terdapat pada Bab IV sebagai jawaban atas
pertanyaan penelitian yang telah dikemukakan. Sedangkan saran diungkapkan
secara jelas, terinci dan operasional sehingga mudah untuk diterapkan oleh pihak
28 BAB II
UNDERWRITING ASURANSI SYARIAH
A. Asuransi Syariah
1. Pengertian Asuransi Syariah
Dalam bahasa Arab Asuransi dikenal dengan istilah at-ta’min,
untuk penanggung disebut mu’ammin, tertanggung disebut
mu’amman lahu musta’minin. Di Indonesia sendiri, Asuransi Islam
sering disebut dengan ta>ka>ful. kata Takaful berasal dari
taka>fala-yataka>fulu, yang berarti menjamin atau saling menanggung.1
Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian antara
seorang penanggung yang mengikatkan diri kepada seorang
tertanggung dengan menerima premi, untuk memberikan penggantian
kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan
keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena
suatu peristiwa yang tak tentu.2
Sedangkan menurut Djazuli dan Yadi Janwari pengertian
Asuransi yang berbasis syariah adalah sebuah pengelolaan yang
memiliki fungsi sebagai fasilitator hubungan struktural antara peserta
penyetor premi (penanggung) dengan peserta penerima premi
1 Muhammad syakir sula, Asuransi Syariah (Life and General) : Konsep dan Sistem
Operasional. cet 1 (Jakarta : Gema Insani Press, 2004), 32.
29
(tertanggung) yang prinsip operasionalnya didasarkan pada syariat
Islam dengan mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.3
Kegiatan operasional Asuransi Syariah memiliki tiga unsur yang
saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, sehingga apabila salah satu
unsur ini tidak ada, maka hilanglah keharmonisan atau bahkan
berakibat gagalnya proses pelaksanaan dari penjaminan asuransi
tersebut. Tiga unsur yang terdapat dalam pelaksanaan program
asuransi syariah meliputi pihak tertanggung (insured), pihak
penanggung (insurer), dan suatu peristiwa atau musibah (accident).
Pihak tertanggung (insured) adalah pihak yang berjanji untuk
membayar uang premi (iuran) kepada pihak penanggung secara
sekaligus atau angsuran, sedangkan yang dimaksud pihak
tertanggung adalah pihak yang berjanji akan membayar sejumlah
uang (santunan) kepada tertanggung apabila terjadi suatu risiko yang
mengandung unsur ketidak pastian, dan suatu peristiwa atau musibah
merupakan suatu kejadian yang tidak direncanakan bahkan tidak
dikehendaki atau tidak diketahui sebelumnya.
Lembaga Asuransi Syariah hadir sebagai suatu lembaga yang
mengatur pengelolaan risiko yang memenuhi ketentuan Syariah,
tolong-menolong secara mutual yang melibatkan peserta dan
pengelola. Menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Majelis
Ulama Indonesia (MUI) Asuransi Syariah adalah usaha saling
3 Dzajuli dan Yadi Janwari, Lembaga-Lembaga Perekonomian Umat (Sebuah Pengenalan).
30
menolong di antara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk
asset dan tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk
mengahadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan
Syariah.4
Asuransi syariah menjalankan kegiatan usahanya atas dasar
tolong-menolong dan premi yang dibayarkan dianggap sebagai
sedekah lalu dikumpulkan menjadi sebuah dana sosial (tabarru’) yang
nantinya diberikan kepada anggota asuransi yang terkena musibah.
Perusahaan asuransi takaful hanya bertindak sebagai fasilitator yang
saling menanggung diantara para peserta asuransi. Hal inilah yang
membedakan antara asuransi takaful dengan asuransi konvensional,
dimana pada perusahaan asuransi konvensional proses saling
menanggung terjadi antara perusahaan asuransi dengan peserta
asuransi.5
Kegiatan usaha yang terdapat dalam proses penjaminan risiko
Asuransi Syariah, merupakan sebuah bentuk kegiatan muamalah yang
saling menanggung risiko diantara sesama nasabah Asuransi Syariah,
sehingga diantara satu dengan lainnya menjadi penanggung atas
risiko masing-masing nasabah yang ikut bergabung dalam program
asuransi Syariah tersebut. Kegiatan tanggung menanggung risiko
tersebut dilakukan atas dasar saling tolong menolong dalam kebaikan
4 Herry Ramadhani, Prospek dan Tantangan Perkembangan Asuransi Syariah di Indonesia.
Jurnal (Kalimantan Timur : Universitas Mulawarman, 2015), 60.
5 Dzajuli dan Yadi Janwari, Lembaga-Lembaga Perekonomian Umat (sebuah Pengenalan)
31
dengan cara masing-masing mengeluarkan dana (premi) yang
ditujukan untuk menanggung risiko sesama nasabah asuransi syariah.
2. Mekanisme kerja Asuransi Syariah
Asuransi Syariah menjalankan kegiatan usahanya atas dasar
tolong-menolong dan premi yang dibayarkan dianggap sebagai
sedekah lalu dikumpulkan menjadi sebuah dana sosial (tabarru’) yang
nantinya diberikan kepada anggota asuransi yang terkena musibah.
Perusahaan Asuransi takaful hanya bertindak sebagai fasilitator yang
saling menanggung diantara para peserta asuransi. Hal inilah yang
membedakan antara asuransi takaful dengan asuransi konvensional,
dimana pada perusahaan asuransi konvensional proses saling
menanggung terjadi antara perusahaan asuransi dengan peserta
asuransi.6
Adapun proses yang dilalui seputar mekanisme kinerja asuransi
syariah dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Underwriting
Underwriting adalah proses penafsiran jangka hidup seorang
calon peserta yang dikaitkan dengan besarnya risiko untuk
menentukan besarnya premi. Underwriting Asuransi Syariah
bertujuan memberikan skema pembagian risiko yang proporsional
dan adil diantara para peserta yang secara relatif homogeny.7
6 Ibid
7 AM.Hasan Ali, Asuransi Dalam Perspektif Hukum Islam.. cet 1 (Jakarta: Prenada Media,
32
Proses underwriting mencakup tiga konsep penting yang
menjadi dasar bagi perusahaan Asuransi Syariah untuk menerima
dan menolak suatu penutupan risiko. Pertama, kemungkinan
menderita kerugian, kondisi ini diperkirakan berdasarkan apa
yang terjadi pada masa lalu. Kedua, tingkat risiko, yaitu
ketidakpastian akan kerugian pada masa yang akan datang.
Ketiga, hukum bilangan dimana makin banyak obyek yang
mempunyai risiko yang sama atau hampir sama, akan makin
bertambah baik bagi perusahaan karena penyebaran risiko akan
lebih luas dan kemungkinan menderita kerugian dapat secara
sistematis diramalkan.
b. Polis
Polis asuransi adalah surat perjanjian antara pihak yang
menjadi peserta asuransi dengan perusahaan asuransi. Polis
asuransi merupakan buku auntetik berupa akta mengenai adanya
perjanjian asuransi.8
c. Premi
Premi asuransi bagi peserta secara umum bermanfaat untuk
menentukan besar tabungan peserta asuransi, mendapatkan
santunan kebajikan atau dana klaim terhadap suatu kejadian yang
mengakibatkan terjadinya klaim, menambahkan investasi pada
masa yang akan datang. Sedangkan bagi peusahaan, premi
8 Wirdyaningsih, et al, Bank dan Asuransi Islam di Indonesia., Cet. II (Jakarta: Kencana
33
berguna untuk menambah investasi pada suatu usaha untuk
dikelola. Premi yang dikumpulkan dari peserta paling tidak harus
cukup untuk menutupi tiga hal, yaitu klaim risiko yang dijamin
biaya akuisisi, dan biaya pengelolaan operasional perusahaan9
Penetapan besarnya premi tidak ditentukan oleh pemerintah,
karena diserahkan kepada mekanisme pasar yang berlaku.
Perhitungan jumlah premi yang akan mempengaruhi dana klaim
tergantung pada beberapa hal, diantaranya :10
1) Penetapan tarif premi harus dilakukan dengan
memperhitungkan hal-hal sebagai berikut :
a) Premi murni dihitung berdasarkan profil kerugian untuk
jenis asuransi yang bersangkutan sekurang-kurangnya 5
tahun terakhir,
b) Biaya perolehan termasuk komisi agen,
c) Biaya administrasi dan biaya umum lainnya.
2) Tarif premi harus ditetapkan pada tingkat yang mencukupi,
tidak melebihi dan tidak ditetapkan secara deskriminatif.
Demikian pula tidak boleh terlalu berlebihan sehingga tidak
sebanding dengan manfaat yang dijanjikan.
9 M. Syakir Sula, Asuransi Syariah, Cet I, (Jakarta: Gema Insani, 2004), 193-195.
10 Wirdyaningsih, et al, Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Cet II, (Jakarta: Kencana
34
3. Prinsip Asuransi Syariah
Prinsip utama dalam asuransi syariah adalah ta’a@wanu ‘ala al
birri wa al-taqwa@ (tolong-menolonglah kamu sekalian dalam
kebaikan dan takwa) dan al-ta’min (rasa aman). Prinsip ini
menjadikan para anggota atau peserta asuransi sebagai sebuah
keluarga besar yang satu dengan lainnya saling menjamin dan
menanggung risiko. Hal ini disebabkan transaksi dalam asuransi
syariah memakai akad takaful (saling membantu) berbeda dengan
akad tadabbuli (saling menukar) yang selama ini digunakan oleh
asuransi konvensional, yaitu pertukaran pembayaran premi dengan
uang pertanggungan.11
Keberadaan perusahaan asuransi syariah pada hakikatnya adalah
sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat
untuk memberikan perlindungan kepada pemakai jasa asuransi
syariah terhadap kemungkinan timbulnya kerugian akibat suatu
peristiwa yang tidak terduga. Perusahaan asuransi syariah diberi
kepercayaan oleh para nasabahnya untuk mengelola premi,
mengembangkan dengan jalan yang halal, memberikan santunan
kepada yang mengalami musibah sesuai akta perjanjian yang telah
35
disepakati. Pelaksanaan akad penjaminan risiko asuransi syariah
memiliki beberapa prinsip, yaitu :12
a. Bekerja Sama untuk Saling Membantu.
Lembaga asuransi syariah hendaklah dijalankan dengan
mengedepankan prinsip kerjasama untuk saling membantu. Tanpa
adanya prinsip kerjasama, perusahaan asuransi syariah tentu akan
mengalami kesulitan untuk memberikan pertolongan secara
maksimal kepada pihak yang tertimpa musibah
b. Saling Melindungi dari Segala Kesusahan
Kesusahan atau penderitaan yang diakibatkan oleh musibah
yang menimpa supaya tidak dibiarkan berlarut larut, maka
diperlukan adanya kesadaran masing-masing pihak untuk saling
melindungi. Bentuk perlindungan tersebut dapat diberikan oleh
perusahaan asuransi, baik ketika yang bersangkutan dalam
kondisi sehat maupun sebaliknya. Jaminan yang mendapatkan
perlindungan inilah yang merupakan sebab kebutuhan masyarakat
untuk menjadi peserta asuransi syariah.
c. Saling Tanggung Jawab
Peserta asuransi syariah memiliki rasa tanggung jawab untuk
membantu dan memberikan pertolongan kepada peserta lain yang
kebetulan sedang mengalami musibah/kerugian. Bentuk tanggung
36
jawab tersebut akan semakin nyata, ketika masing-masing terikat
kesepakatan yang difasilitasi perusahaan asuransi syariah.
d. Terhindar dari Maisir (penipuan), Gharar (judi), dan Riba
Karnaen A. Purwataatmadja mengemukakan prinsip-prinsip
asuransi syariah yang sama, namun beliau menambahkan satu
prinsip dari prinsip yang telah ada yakni prinsip menghindari
maisir (penipuan), gharar (judi), dan riba. Asuransi syariah, dalam
pelaksanaanya premi yang dibayarkan dianggap sebagai sedekah
dan dikumpulkan menjadi sebuah dana sosial (tabarru’) yang
nantinya diberikan kepada anggota asuransi yang terkena
musibah, menjadikan asuransi syariah dapat terhindar dari prinsip
dasar operasional asuransi konvensional yaitu terdapatnya unsur
gharar, maisir, dan riba.13
4. Akad yang Membentuk Asuransi Syariah
Asuransi Syariah sebagai satu bentuk kontrak usaha Syariah
modern tidak dapat dipisahkan dengan akad yang membentuknya, hal
ini dikarenakan dalam pelaksanaanya, Ssuransi Syariah melibatkan
dua orang yang saling terikat janji satu sama lain untuk memenuhi
kewajiban, yaitu antara nasabah dengan perusahaan Asuransi
13 A.Perwataatmadja Karnaen, Membumikan Ekonomi Islam di Indonesia (Depok: Usaha
37
Syariah. Berkenaan dengan hal itu, Allah SWT berfirman dalam
Al-Qur’an surat al-Maidah (5): ayat 1 sebagai berikut :14
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad
itu ...” (Q.S al-Maidah(5) :1)
Surat al-Maidah diatas menjelaskan bahwa Allah SWT
memerintahkan umat muslim untuk selalu melaksanakan kerjasama
dengan akad yang jelas, dan dipenuhi kewajiban masing-masing
supaya terdapat keadilan dalam pelaksanaannya. Menurut
As-Syanhuri dalam kitabnya yang membahas tentang pengertian akad
dilihat dari sudut perundang-undangan adalah kesepakatan antara dua
orang untuk membangun kewajiban (seperti akad jual-beli),
memindahkan kewajiban (seperti akad hiwalah), dan mengakhiri
kewajiban (seperti akad i>bra’ dan al-wafa’).
Mengenai praktik Asuransi Syariah setidaknya terdapat tiga akad
yang membentuknya, akad tersebut adalah :
a. Wakalah bil U>jrah.
Akad wakalah bil U>jrah merupakan suatu akad yang
mewakilkan pengelolaan premi kepada perusahaan asuransi
syariah dengan pemberikan ujrah (fee), dari nasabah yang memiliki
hak tasharruf (mengelola dan membelanjakan hartanya) kepada
perusahaan Asuransi Syariah yang juga memiliki tasharruf untuk
14 Ali Hasan, Asuransi Dalam Perspektif Hukum Islam, Cet.I, (Jakarta: Prenada Media,
38
mengelola premi yang dibayarkan, yang kemudian dana atau premi
tersebut dikumpulkan menjadi satu dalam dana tabarru’ (dana
sosial) untuk nantinya diberikan kepada nasabah yang mengalami
musibah.
b. Tabarru’ (dana pertanggungan / dana sosial)
Akad tabarru’ merupakan suatu akad yang didasarkan atas
pemberian dan pertolongan dari satu pihak kepada pihak yang
lain, dengan akad tabarru’ berarti peserta Asuransi telah
melakukan persetujuan dan perjanjian dengan perusahaan
Asuransi untuk menyerahkan pembayaran sejumlah dana kepada
perusahaan agar dikelola dan dimanfaatkan untuk membantu
peserta lain yang kebetulan sedang mengalami musibah atau
kerugian. Akad tabarru’ ini terkumpul dalam rekening dana sosial
yang memiliki tujuan utama yaitu terwujudnya kondisi saling
tolong-menolong antara peserta asuransi untuk saling
menanggung bersama (takaful).
c. Mud}arabah (saling menanggung / kerjasama)
Akad mud}arabah yaitu satu bentuk akad yang didasarkan
pada prinsip profit and loss sharing (berbagi atas untung dan
rugi), dimana dana yang terkumpul dalam total rekening tabungan
(saving) dapat diinvestasikan oleh perusahaan Asuransi yang
apabila terjadi risiko kerugian dalam investasi tersebut maka akan
39
investasi mendapatkan keuntungan maka keuntungan tersebut
dibagi secara adil sesuai dengan porsi (nisbah) yang disepakati.
5. Landasan Asuransi Syariah
a. Al-Qur’an
1) Dalil yang menjadi landasan hukum Asuransi Syariah QS
Al-Hasyr ayat 18
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada allah
dan hendaklah setiap diri memperahtikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan”.15
Jelas sekali dalam ayat diatas Allah swt.dalam Al-Qur’an
memerintahkan kepada hamba-Nya untuk senantiasa
melakukan persiapan untuk menghadapi hari esok
2) QS An-Nisa ayat 9
orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah
15 Departemen Agama Republik Indonesia,, Al-Quran Terjemahnya. (Surabaya: Karya
40
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan Perkataan yang benar”.16
Allah SWT juga meminta perhatian kepada kita agar
sungguh-sungguh untuk tidak meninggalkan generasi
(anak-anak) yang lemah baik akidah, intelektualitas, ekonomi
maupun fisiknya.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah
serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu samalain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akantetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu Kerjakan. Yang dimaksud lindung melindungi Ialah: di antara muhajirin dan anshar terjalin persaudaraan yang amat teguh, untuk membentuk masyarakat yang baik. Demikianketeguhan dan keakraban persaudaraan mereka itu, sehingga pada
41
pemulaan Islam mereka waris-mewarisi seakan-akan
mereka bersaudara kandung.”17
Maksudnya adalah sebagian orang ada yang memahami
bahwa amanah itu tidak lebih dari menjaga titipan saja,
padahal yang benar adalah menjaga titipan termasuk bagian
dari amanah karena amanah mengandung makna yang luas.
b. Al-Hadits
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad
bersabda:
“Barang siapa yang menghilangkan kesulitan dunianya
seorang mu’min maka Allah SWT akan menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa mempermudah kesulitan orang mu’min, maka Allah SWT akan
mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” [H.R.
Muslim].
c. Hukum yang mengatur asuransi dan perusahaan Asuransi di
Indonesia merupakan hukum asuransi yang harus ditaati oleh
umat islam, diantaranya:
1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1992
Tentang Usaha Perasuransian
2) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor:
462/ KMK.06/2003 tentang Perizinan Usaha dan
Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan
Reasuransi. Peraturan ini dapat dijadikan sebagai landasan
dalam pendirian asuransi syariah sesuai Pasal 3 yang