ilo
203
T[ tc,
WACANA
BERNAS
JOGJA
Kamis Wage,
24
Juli
2tHALAMA
Koalisi
Permanen?
SEKETIKA
pertanyaan yangrnenjadi
judul
tulisan
ini
muncul tatkala Koalisi Merah Putih rnende-klarasikan kesepakatan koalisi per-manen untuklima
tahun ke depan. Pertanyaan ini semakin rnenguat saatmenyaksikan pengumuman pene-tapan pasangan Joko Widodo-Jusuf
Kalla
sebagai Presiden dan WakilPresiden
RI
terpilih
periode 2014-2019 oleh Kornisi Pernilihan Umum(KPU) tanggal22Juli 2014 malam,
Koalisi Merah Putih
terdiri
daritujuh
partaipolitik
pendukung pa-sangan capres-cawapres PrabowoSubianto-Hatta Rajasa. Ketujuh
partai politik itu ialahPartai Gerindra, Partai Golkar, Partai Amanat Nasio-nal, Partai Keadilan Sejahtera, Partai
Persatuan Pembangunan, Partai
Bulan Bintang, dan Partai Demokrat.
Koalisi peffnanen dideklarasikan
pada Senin sore 14 Juli 2014 di Tugu Proklamasi.
Di
tempat yang sakralsekaligus
di
bulan yang
suci
ini,Koalisi Merah Putih menyatakan diri
untuk tetap solid, terus bekerja sama,
dan saling mendukung
untuk
limatahun ke depan. Sebagai
kesepakat-an bersama yang telah
dideklarasi-kan, maka koalisi ini seyogyanyg akan
tetap utuh termasuk
ketika
capres-cawapres yang mereka jagokan kalah. Artinya mereka harus siap untuk tetapsatu suara
di
legislatif nantinya. Tentu ada banyak pertimbartgan yang tidak mudah dalam mengambilkeputusan
menjadi koalisi
yang pennanen. Apalagi sudah lama ter-siar kabar bahwa besar kemun,ekinanakan adanya anggota
koalisi
yang menyeberan-9ke kubu,Iain
apabila'
kandidatnya
kalah.
Partai-partaiyang diduga akan menyeberang di antaranya Partai Golkar, Partai
Per-satuan Pembangunan,
dan
PartaiDemokrat. Akan tetapi yang paling santer rnencuat
yaitu
men-eenai si-kap Partai Golkar. Sebenarnyaper-soalan
rnengalihkan
r dukunganseperti ini sah-sah saja karena dalarn
politik tidak ada yang tidak mungkin.
Meskipun tentunya
etika politik
rnasih perlu diperhatikan pula.
Galau menjadi oposisi Sejak Golkar (Golongan Karya) berdiri dan turut serta dalarn pemilu,
Golkar selalu menempatkan dirinya
pada kubu penguasa.
Mulai
pemilu pertama masa Orde Baru tahunl97l
hingga Pemilu 1997, Golkar selalu
tampil sebagai pemenang. Otomatis selama sekitar
tiga
dekade Golkar dengan mudah menguasai le-sislatif maupun eksekutif. Memasuki masaReformasi, dalam Pernilu 1999,
se-kalipun Golkar
mendapat tekananhingga muncul tuntutan
untuk
di-bubarkan
riamun Golkar
masihrnemiliki perrrilih den_ean ikatan batin
yang kuat.
Saat
itu
Golkar yang kemudian rnenabalkan dirinya lahir baru harusbersaing menghadapi partai-partai
politik
lainnya. yan-q bennunculan. Kenyataannya PartaiGolkar
masihbErhasil rnerailr
suara terb4nygkkedua, sehingga di era baru pun, Partai
Golkar
tetap
beradapada
posisimenentukan. Harus diakui pengalarn-an tokolt-tokoh dari partai
ini
dalampemerintahan tidak dapat disingkirkan
begitu saja. Bertahun:tahun banyak
posi3i rnenteri yang dipegang oleh
para elite dari Parlai Golkar. Dalam Pemilu 2004, Partai Golkar
tidak
berhasil
mernenangkan pa-sangan Wiranto-SholahuddinWa-hid.
Ke,eagalanini
membuat ParraiGolkar dalarn pilpres putaran kedua
mengalihkan dukungannya
pada pasangan Susilo Bambdng Yudho-yono-Jusuf Kalla (SBY-JK).Pasang-ari
ini
menan-e sehingga otomatisPartai Golkar berada dalam lingkaran koalisi pemerintahan. Dernikian pula
saat
Pemilu 2009, Partai
Golkarkembali satu atap dalam
koalisi bentukanSBY
dan
menempatkantokoh-tokohnya dalam kabinet.
Mencermati rentetall
panjan-e perjalanan ketatanegaraan Republikini,
maka sejarahtelah
mencatat bahwa Partai Golkar belurn pernahberada di luar pemerintahan. Seakan
menjadi
tradisi untuk tidak
ber-oposisi, maka'dalam pilpres kali iniketika muncul dua calon yang
sarna-sarna
kuat, Partai Golkar
sempat terombang-ambin-e. Pada akhirnyaPartai Golkar
di
bawah Aburizal Bakrie memutuskan berlabuh pada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Diduga keputusan ini bukansekedar hitun,e-hitungan
politik,
namun sarat kepentingan.
Hal
yang lantas
mgngganjal yaitu Joko Widodo temyara meng-gandeng Jusuf Kalla yang notabenejuga
pernahaktif
dalam
jajaranpengurus teras Partai Golkar,
bah-kan pernah menjadi ketua umumnya.
Selain
itu
dalam pilpres
putarankedua tahun 2004, Partai Gol karj uga mernberikan dukungan
yang
solid pada Jusuf Kalla. Tak heran apabilabeberapa fungsionaris Panai Golkar,
terutama kader rnudanya,
terang-terangan menentang
kep.trtusanAburizal Bakrie dan nlernilih untuk
mernberikan
dukungan pada
pa-sangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.Hal ini kernudian disikapi cukup I
tal oleh Aburizal Bakrieyangsenr
memberi keyakinan bahwa dl
tubuh
PartaiGolkar rnulai
terperpecahau.
Perlu
ditekankan
lagi
bapolitik
sangat fleksibel. rnaka dsaja Panai Golkar
kali ini
rnenserius
ingin
mencoba beropo Akan tetapi perlu ditilik kernbali brsalalr satu
visi
PartaiGolkar
iterwujudnya negara kesejahte
2045. Menurut keyakinan seba
fun-esionaris Partai Golkar. vis tidak akan tercapai tanpa kekuar
sehingga
jalan
satu-satunya ibergabun,e dengan kelornpoli
E
nang. Ditambah lagi muncul wa panas untuk segera menyin-eki AburizalBakrie dari kursi ketuaur
partai pasca pilpres sebagai be
kekecewaan para kadernya. Jiki initerjadi makaketua umurn baru'
terpilih boleh saja rnenganulir k tusan Aburizal Bakrie dan menga jalan lain.
Penulis sepakat dengan pe
pat pengamat yang menyebut ba
koalisi permanen sebenamya sa
temporer
dan
berpotensi, bubrtengah
jalan.
Koalisi
permi diduga hanya untuk tnengamalposisi
politik
jan-eka pendek. 1tetapi andaikata koalisi inijalan r
maka
sangat disayangkan apihanya menjadi sarana
untuk
rje-eal pemerintah
baru yang
rterpililr. Lupakan
politik
kepen,an! Bagaimanapun rTasib bangs
berada di tangan kita bersama, br
hanya aku atau kamu, koalisi
ini
itu!
4':F>FHendra
Kurniawan MPd,
D Pendidikan SejarahFKIP lln
sitas Sanata
Dlwrnm
Yogyakr