i
ANALISIS KONTRIBUSI PENAGIHAN PAJAK AKTIF TERHADAP PENCAIRAN TUNGGAKAN PAJAK STUDI KASUS DI KPP PRATAMA
BOYOLALI
TUGAS AKHIR
Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Ahli Madya
Program Studi Dip loma III Perpajakan
Oleh:
Windriatmoko Bandero Saptaji
F3409067
PROGRAM STUDI DIPLOMA III PERPAJAKAN FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
ii ABSTRACT
THE ANALYSIS OF THE CONTRIBUTION OF ACTIVE TAX COLLECTION IN TAX ARREAR DISBURSEMENT CASE STUDY IN
KPP PRATAMA BOYOLALI Windriatmoko Bandero Saptaji
F3409067
Tax Collection aims to order assessable people who have problems in fulfilling their tax obligation. The purpose of this research is to count the contribution of active tax collection compare with the target and the realization of tax arrears disbursement in KPP Pratama Boyolali.
This research employs documents method, learning and processing data containing the information of tax contribution, the development of tax receivables, the target decision, and the realization of tax arrears disbursement which are given by KPP Pratama Boyolali. Further, interview the officer of billing section to know the obstacles in tax collection with the solved problems.
From the result, it is hoped that it can be the correction objects to maximize the tax collection activity, and to increase the society’s awareness about the importance of paying tax to reach the objective of taxation.
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Penulis persembahkan kepada:
Almamater UNS
Keluarga Tercinta
vi
KATA PENGANTAR
Assa la mu’a la ikum Wa r ohmatulla hi Wa ba roka tuh.
Alha mdulilla h, puji syukur penulis senantiasa panjatkan ke hadirat Allah
SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Laporan Tugas
Akhir dengan Judul Analisis Kontribusi Penagihan Pajak Aktif Terhadap
Pencairan Tunggakan Pajak Studi Kasus di KPP Pratama Boyolali ini dapat diselesaikan dengan baik.
Tugas Akhir ini disusun untuk memenuhi syarat-syarat mencapai derajat
Ahli Madya Program Diploma 3 Perpajakan Fakultas Ekonomi Universitas
Sebelas Maret.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih jauh
dari sempurna. Penulisan Tugas Akhir ini tidak akan berhasil tanpa adanya
kerjasama serta bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu, pada kesempatan ini,
penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Rektor Un iversitas Sebelas Maret Bapak Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS.
2. Bapak Dr. W isnu Untoro, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sebelas Maret.
3. Bapak Drs. Hanung Triatmoko, M. S i., Ak selaku Ketua Program Studi
Diploma III Perpajakan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
4. Ibu Lulus Kurniasih, SE., MS., Ak selaku Pembimbing Tugas Akhir
yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing
vii
5. Ibu Titik Setyaningsih, SE., Ak selaku Pembimbing Akademik yang
telah banyak memberi nasehat dan pengarahan yang sangat bermanfaat
bagi penulis.
6. Bapak dan ibu dosen serta segenap staff dan karyawan Fakultas
Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
7. Seluruh pegawai KPP Pratama Boyolali yang telah banyak
memberikan informasi dan pembelajaran sehingga memudahkan
penulis dalam penyusunan Tugas Akhir ini.
8. Bapak, ibu, adik, dan seluruh keluarga tercinta yang senantiasa
memberikan dukungan, doa, dan semangat selama ini.
9. Teman-teman penulis dan seluruh pihak yang terkait yang tidak dapat
penulis sebutkan satu per satu.
Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini
masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang
membangun sangat diharapkan. Semoga Tugas Akhir ini bermanfaat.
Wa sssa la mu’a la ikum Wa rohmatulla hi Wa ba roka tuh.
Surakarta, 2012
viii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……… i
ABSTRAK ……….………….. ii
HALAMAN PERSETUJUAN ……… iii
HALAMAN PENGESAHAN ………... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ……… v
KATA PENGANTAR ………... vi
DAFTAR ISI ………..……… viii
DAFTAR TABEL ………... x
DAFTAR GAMBAR ………..……. xi
DAFTAR LAMPIRAN ………..………. xii
BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Umum Perusahaan ………...………. 1
B. Latar Belakang Masalah ………. 9
C. Perumusan Masalah ………... 13
D. Tujuan Penelitian ……….. 13
E. Manfaat Penelitian ………...…. 14
F. Teknik Analisis Data ……….... 15
BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Tinjauan Pustaka ………. 18
1. Tinjauan Umum Pajak ………... 18
2. Tinjauan Umum Penagihan Pajak ………... 23
ix
1. Perhitungan Presentase Kontribusi Penagihan Pajak Aktif
Terhadap Total Pencairan Tunggakan Pajak ……….... 53
2. Perhitungan Presentase Kontribusi Penagihan Pajak Aktif
Terhadap Pencapaian Target Pencairan Tunggakan Pajak …... 63
3. Hambatan-Hambatan dalam Penagihan Pajak ………..… 64
4. Upaya-Upaya Dalam Mengatasi Hambatan-Hambatan
Penagihan Pajak ………..…….. 65
BAB III TEMUAN
A. Kelebihan ………..…… 66
B. Kelemahan ………...…….. 66
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ………. 68
B. Rekomendasi ………..… 69
DAFTAR PUSTAKA
x
DAFTAR TABEL
Tabel II. 1 Laporan Perkembangan Piutang Pajak Tahun 2010 ……….. 53
Tabel II. 2 Laporan Kegiatan Penagihan Pajak Tahun 2010 ………... 55
Tabel II. 3 Laporan Perkembangan Piutang Pajak Tahun 2011 ……….. 58
Tabel II. 4 Laporan Kegiatan Penagihan Pajak Tahun 2011 ………... 60
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar I. 1 Strukur Organisasi KPP Pratama Boyolali ………...… 5
xii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Teguran
2. Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus
3. Surat Paksa
4. Berita Acara Pemberitahuan Surat Paksa
5. Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan
ABSTRAKSI
ANALISIS KONTRIBUSI PENAGIHAN PAJAK AKTIF TERHADAP PENCAIRAN TUNGGAKAN PAJAK STUDI KASUS DI KPP PRATAMA
BOYOLALI
Windriatmoko Bandero Saptaji F3409067
Penagihan pajak bertujuan untuk menertibkan Wajib Pajak yang bermasalah dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung seberapa besar kontribusi penagihan pajak aktif dibandingkan dengan target dan realisasi pencairan tunggakan pajak di KPP Pratama Boyolali.
Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dan juga mempelajari dan mengolah data-data mengenai informasi penagihan pajak, perkembangan piutang pajak, penetapan target dan realisasi pencairan tunggakan pajak yang diberikan oleh KPP Pratama Boyolali. Serta melakukan wawancara dengan seksi penagihan untuk mengetahui kendala-kendala dalam penagihan pajak beserta penyelesaiannya.
Dari hasil penelitian tersebut diharapkan dapat dijadikan bahan koreksi untuk memaksimalkan aktifitas tindakan penagihan pajak, serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membayar pajak guna mencapai tujuan perpajakan.
ABSTRACT
The Analysis of the Contribution of Active Tax Collection in Tax Arrear Disbursement: Case Study in KPP PRATAMA BOYOLALI
Windriatmoko Bandero Saptaji F3409067
Tax Collection aims to order assessable people who have problems in fulfilling their tax obligation. The purpose of this research is to count the contribution of active tax collection compare with the target and the realization of tax arrears disbursement in KPP Pratama Boyolali.
This research employs documents method, learning and processing data containing the information of tax contribution, the development of tax receivables, the target decision, and the realization of tax arrears disbursement which are given by KPP Pratama Boyolali. Further, interview the officer of billing section to know the obstacles in tax collection with the solved problems.
From the result, it is hoped that it can be the correction objects to maximize the tax collection activity, and to increase the society’s awareness about the importance of paying tax to reach the objective of taxation.
1 BAB 1
PENDAHULUAN
A. Gambaran Umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama Boyolali 1. Sejarah Berdirinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Boyolali
Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Boyolali dibentuk
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
55/PMK.01/2007 pada tanggal 31 Mei 2007 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 132/PMK.01/2006 tentang Organisasi
dan Tata Cara Instansi Vertikal Direktoral Jenderal Pajak dan mulai
beroperasi pada tanggal 30 Oktober 2007 sesuai dengan Keputusan
Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-141/PJ/2007 tanggal 03 Oktober
2007 tentang Penerapan Organisasi dan Saat Mulai Beroperasinya Kantor
Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II dan Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kantor
Pelayanan Pajak Pratama dan Kantor Penyuluhan, Pelayanan dan
Konsultasi Perpajakan di Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Pajak Jawa Tengah II dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak
Daerah Istimewa Yogyakarta. KPP Pratama Boyolali beralamat di Jalan
Solo-Boyolali Km 24 Mojosongo Boyolali.
Wilayah kerja KPP Pratama Boyolali meliputi Kabupaten Boyolali.
Bangunan (KP PBB) Boyolali yang menangani administrasi PBB dan
BPHTB yang wilayah kerjanya meliputi Kabupaten Boyolali dan
Kabupaten Sragen. Sedangkan untuk administrasi PPh, PPN, PPnBM dan
PTLL untuk wilayah Kabupaten Boyolali pada saat itu ditangani oleh KPP
Pratama Surakarta.
Sehubungan dengan modernisasi Direktorat Jenderal Pajak yang
diikuti dengan reorganisasi di lingkungan DJP Departemen Keuangan
Republik Indonesia, dimana bertujuan untuk menggabungkan fungsi kerja
instansi vertikal d i lingkungan DJP yaitu KPP, KP PBB, Karipka (Kantor
Penyuluhan dan Penyidikan Pajak) serta KP 4 (Kantor Penyuluhan dan
Pengamatan Potensi Perpajakan) menjadi KPP Pratama dan KP2KP
(Kantor Penyuluhan, Pelayanan, dan Konsultasi Perpajakan), maka
dibentuk KPP Pratama Boyolali yang merupakan pecahan dari KPP
Pratama Surakarta. Dengan dibentuknya KPP Pratama Boyolali maka
penangan administrasi Pajak Pusat yang terdiri dari PBB dan BPHTB,
PPh, PPN, PPnBM dan PTLL digabung menjadi satu kantor.
2. Wilayah Kerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Boyolali
Wilayah kerja KPP Pratama Boyolali meliputi Kabupaten Boyolali,
yang letak geografisnya antara 110022’ – 110050’ Bujur Timur dan 7036’
– 70 71’ Lintang Selatan, dengan ketinggian antara 75 s.d. 1500 meter di
atas permukaan laut. Untuk batas-batas wilayah Kabupaten Boyolali, di
Semarang. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar,
Kabupaten Sragen dan Kabupaten Sukoharjo. Di sebelah Selatan
berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Magelang dan
Kabupaten Semarang.
Luas Kabupaten Boyolali adalah 101.510,1955 Ha yang terdiri dari
tanah sawah seluas 22.946,6594 Ha dan tanah kering 78.536,5361 Ha.
Kabupaten Boyolali terdiri dari 19 kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Boyolali
2. Kecamatan Mojosongo
3. Kecamatan Teras
4. Kecamatan Banyudono
5. Kecamatan Sawit
6. Kecamatan Sambi
7. Kecamatan Ngemplak
8. Kecamatan Simo
9. Kecamatan Nogosari
10. Kecamatan Klego
11. Kecamatan Andong
12. Kecamatan Karanggede
13. Kecamatan Wonosegoro
14. Kecamatan Kemusu
16. Kecamatan Ampel
17. Kecamatan Musuk
18. Kecamatan Cepogo
19. Kecamatan Selo
3. Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Boyolali
Susunan organisasi KPP Pratama Boyolali adalah sebagai berikut :
a. Kepala Kantor
b. Subbagian Umum
c. Seksi PDI
d. Seksi Pelayanan
e. Seksi Penagihan
f. Seksi Pemeriksaan
g. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan
h. Seksi Pengawasan dan Konsultasi
Untuk lebih jelas, struktur organisasi KPP Pratama Boyolali dapat
Penila i PBB Pemeriksa Pajak
1 Tugim an 1 Sumargono 1 Zainu ddin 5 I ndaryati
2 Ri o Vabella, S.H. 2 Ati Pu rw iati 6 Sri Ha rtoyo
3 Eko Indropra setyo, S.H . 3 Miftah ur Ro iva
4 Ud i Marwoto, S.E . 4Sri W ahyun ingsi h
5 Sriyanto, S.E. 6 De nnis Arfin anda, S.E. 7 Safi'i
8 W isnu Surya di
AR AR
1 Su marsih, S.E. 1 Joko Sudaryanto, S.H. 1 Sumar no 1 Esti W ahyuning sih, S.E. 1 Karmidi 1Yu ni Suli styo Rini, S.T. 1 Jeane Rosenila, S.E.
2 Pa rdoyo 2 R . S. Hando yo Ku sumo 2 Ro sida 2 Hari S uryono 2Su kir, S.E. 2 F. Iwa n W idiyatmoko, S.Pt., M. Si.
3 Mi la Isiyana W ard ani, S.E. 3 Arteria Si ti Yu niarti 3 Eko Su priyo no 3 Sukid ah 3Reni Febrian i, S.E. 3 Bayu Hariad i
4 Wa rn o 4 W arih Sri Rom an ti 4 Tri yatno 4Isa k Purnomo, S.E., Ak. 4 Mu'aw anna h, S.E.,M .M.
5 Joko Bud ianto 5 Sudiyati 5Su biyan to, S.E. 5 Nursa nti Retno K., S.E.
6 Wi nahyu Hapsoro 6 L adiyono 6Y. Ca hyo Purnom o, S.E. 6 Wiyanto, S.E.
7 Muh. Arifin 7Dh udy Susilo Nugroho, S.E. 7 Edy R ustono, S.E.
8 Bagus Pratomo IV.b 1 Es. III 1 S2 5 8 Kukuh Adhi Waluyo, S.E.
9 D idie Yetno Setya di IV.a 1 Es. IV 7 S1 2 8 Pe laksana 9 Susanto Nugroh o, S.E.
10 Jaka W idiyana III.d 7 F. Rikpa 8 DIV 0 Ag ung N ugroho
11 Ana Sulistia ni III.c 1 0 F. Penila i 1 DIII 9 Pelak sana
12 Astri A priliana De wi III.b 1 5 AR 16 DII 0 Sri H astuti Rahajeng
13 N isa Puspita Sari III.a 1 6 Be ndaha ra 1 DI 9
14 II.d 1 1 OC 2 SMA 1 8
II.c 4 Jur u Sita 2 SMP 0
II.b 4 Pel aksa na 31 SD 0
II.a 0 69 6 9
6 9 Total Pe laks. 36
AR Acc ount Representative AR +Pela ks ana 52
OC Operator Console
1 9580 80 71 980031002
Subba g Um um Pejab at Fungsi onal
Wa ho no, S .Sos. KEPALA KAN TOR
Indra Susila, S.E ., M.M.
1201317 99
Sek si PD I Sek si Pelayanan Sek si Pena gihan Seksi Pem eriksaan Sek si Ekstensifikasi
Pe rpajakan Sek si Waskon I Sek si Waskon II
Ag ung M arha endra Ag us Salim Sri H idayati Na rtun, S.I.P. Wagiyono, S.E.,M.T. Dandun Aji Wisn u W Retno Had i Cah yani
1969060619 91031001 060 089817 1 968010219 9501 2001
197 60221 9951 1100 1 1970080 51997031 002 19710418 1995 0320 01 1 9570 31 01 978031001
4. Diskripsi Tugas Jabatan Struktural a. Kepala Kantor
Mengelo la pelaksanaan penyuluhan, pelayanan dan pengawasan
Wajib Pajak di bidang perpajakan dalam wilayah wewenangnya
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Subbagian Umum
Melaksanakan tugas pelayanan kesekretariatan dengan cara
mengatur kegiatan tata usaha dan kepegawaian, keuangan, rumah
tangga serta perlengakapan untuk menunjang kelancaran tugas Kantor
Pelayanan Pajak.
c. Seksi PDI
Melaksanakan pengumpulan, pengolahan data, dan penyajian
informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, pelayanan
dukungan teknis komputer, pematauan aplikasi e-SPT dan e-filing serta
penyiapan laporan kinerja.
d. Seksi Pelayanan
Melaksanakan penetapan dan penerbitan produk hukum
perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan,
penerimaan dan pengolahan surat pemberitahuan, serta penerimaan
surat lainnya, penyuluahan perpajakan, pelaksanaan regristrasi Wajib
e. Seksi Penagihan
Melaksanakan urusan penatausahaan piutang pajak, penundaan
dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan penghapusan
piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
f. Seksi Pemeriksaan
Melaksanakan penyusunan rencana pemeriksaan, pengawasan
pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan penyaluran Surat
Perintah Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan pajak
lainnya.
g. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan
Melaksanakan pengamatan potensi perpajakan, pencarian data
dari pihak ketiga, pendataan obyek dan subyek pajak, penilaian objek
pajak dalam rangka ekstensifikasi perpajakan sesusai dengan ketantuan
yang berlaku.
h. Seksi Pengawasan dan Konsultasi
Melaksanakan pengawasan kepatuhan kewajiban Wajib Pajak,
bimbingan/ himbauan kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis
perpajakan, penyusunan profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib
Pajak, rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan
intensifikasi, dan melakukan evaluasi hasil banding berdasarkan
5. Visi dan Misi Direktorat Jenderal Pajak a. Visi Direktorat Jenderal Pajak
“Menjadi institusi pemerintah yang menyelenggarakan sistem
administrasi perpajakan modern yang efektif, efisien, dan dipercaya
masyarakat dengan inegritas dan profesionalisme yang tinggi.”
b. Misi Direktorat Jenderal Pajak
“Menghimpun penerimaan pajak negara berdasarkan
undang-undang perpajakan yang mampu mewujudkan kemandirian
pembiayaan Anggran Pendapatan dan Belanja Negara melalui sistem
administrasi pepajakan yang efektif dan efisien.”
6. Nilai-Nilai Direktorat Jenderal Pajak a. Integritas
“Menjalankan tugas dan pekerjaan dengan selalu memegang
teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral, yang diterjemahkan dengan
bertindak jujur, konsisten, dan menepati janji.”
b. Profesionalisme
“Memiliki kompetensi di bidang profesi dan menjalankan tugas
dan pekerjaan sesuai dengan kompetensi, kewenangan, serta
c. Inovasi
“Memiliki pemikiran yang bersifat terobosan dan atau alternatif
pemecahaan masalah yang kreatif, dengan memperhatikan aturan dan
norma yang berlaku.”
d. Tea mwork
“Memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan orang atau
pihak lain, serta membangun tea mwor k untuk menunjang tugas dan
pekerjaan.”
B. Latar Belakang Masalah
Pembangunan Nasional adalah kegiatan yang berlangsung
terus-menerus dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat baik materiil maupun spiritual. Untuk dapat
merealisasikan tujuan tersebut perlu memperhatikan masalah pembiayaan
pembangunan. Dan salah satu usaha dalam pembiayaan pembangunan tersebut
yaitu dengan menggali sumber-sumber dana dari dalam negeri yang berupa
pajak.
Akan tetapi dalam upaya mewujudkan pembiayan pembangunan yang
berasal dari sektor pajak tersebut, terdapat beberapa kendala atau hambatan.
Salah satunya adanya pelawanan pasif dari masyarakat yang disebabkan
sistem perpajakan di Indonesia yang (mungkin) sulit dipahami oleh
masyarakat, dan perlawanan aktif dalam bentuk Ta x Eva sion yaitu usaha
(menggelapkan pajak) yang jelas akan sangat mengganggu tujuan perpajakan
di Indonesia.
Adanya reformasi sistem pemungutan pajak di Indonesia, dimaksudkan
untuk memberi kemudahan bagi Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban
perpajakannya. Menyadari bahwa msaih banyaknya masyarakat yang
mengalami kesulitan dalam pelaksanaan perpajakan di Indonesia, maka pada
tahun 1983 pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat melakukan
reformasi undang-undang perpajakan. Salah satunya merubah sistem
pemungutan pajak yang semula menggunakan Officia l Assessment System
menjadi Self Assessment System. Mulai dari tahun 1984 sistem tersebut mulai
diberlakukan hingga sekarang. Self a ssessment System adalah suatu sistem
yang memberikan wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri
besarnya pajak yang terutang. Sistem Self Assessment yang diatur dalam
undang Nomor 6 Tahun 1983 yang telah dirubah dengan
Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994, dan telah dirubah kembali terakhir dengan
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan, dimaksudkan dalam rangka intensifikasi penerimaan pajak
dan ekstensifikasi jumah wajib pajak dari tahun ke tahun.
Akan tetapi dalam sistem in i tidak menutup kemungkinan terjadi
kekeliruan, seperti terjadinya pelaporan pajak yang kurang bayar atau lebih
bayar dikarenakan kesalahan penghitungan, penulisan ataupun karena ada
pembetulan. Serta terjadinya pelanggaran, dimana wajib pajak secara sengaja
ini menimbulkan adanya tunggakan pajak akibat tidak dilunasinya hutang
pajak tersebut.
Agus Widodo (2007) menyebutkan, menurut studi perhitungan yang
dilakukan oleh Wardana pada tahun 1992 dan Uppal dan Reksodiprojo pada
tahun 1999, menunjukkan bahwa kepatuhan wajib pajak dalam membayar
pajak masih sangat rendah. Pe megang Nomor Pokok wajib Pajak (NPWP)
hanya berkisar 1% dari total penduduk Indonesia, padahal rata-rata untuk
Negara Sedang Berkembang (NSB) berkisar 2%. Lebih jauh lagi, pemilik
NPWP yang membayar pajak hanya berkisar 50% dari pemilik NPWP atau
kurang dari 0,5% dari total penduduk Indonesia. Serta pada tahun 2000, dari
perhitungan yang dilakukan oleh Ditjen Pajak diketahui bahwa Ta x Ra tio di
Indonesia adalah sebesar 11,1%. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan
dengan rasio yang dimiliki Malaysia (19,3%), Singapura (15,9%), Filipina
(17%), Amerika Serikat (19,8%), dan Inggris (33,4%).
Sekitar 75% pendapatan negara berasal dari sektor pajak. Mengingat
masih banyak dijumpai Wajib Pajak yang tidak melaksanakan kewajiban
perpajakannya dengan benar dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi
negara, sehingga memerlukan tindakan penagihan yang mempunyai kekuatan
hukum yang memaksa. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak
mengeluarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1997 yang telah dirubah
dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000 yang mengatur tentang
bertujuan untuk menertibkan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban
perpajakannya.
Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar penanggung pajak
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau
memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus,
memberitahukan surat paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan
penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual/ melelang barang-barang
yang telah disita.
Penagihan Pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu Penagihan
Pajak Pasif dan Penagihan Pajak Aktif. Penagihan Pajak Pasif dilakukan
melalui Surat Tagihan Pajak atau Surat Ketetapan Pajak. Sedangkan
Penagihan Pajak Aktif merupakan kelanjutan dari kegiatan Penagihan Pajak
Pasif, dimana dalam upaya penagihan ini fiskus berperan aktif dalam arti tidak
hanya mengirim Surat Tagihan Pajak atau Surat Ketetapan Pajak, akan tetapi
diikuti dengan tindakan penyitaan aset Wajib Pajak dan dilanjutkan dengan
pelaksanaan lelang.
Dikeluarkannya Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000 diharapkan
dapat meminimalkan Wajib Pajak yang tidak memenuhi kewajiban
perpajakannya, serta mengefektifkan penerimanan negara sektor pajak. Akan
tetapi dengan dikeluarkannya undang-undang tersebut, tidak serta merta
menjadikan Wajib Pajak tertib dan patuh dalam memenuhi kewajiban
Mengacu pada penjelasan di atas, maka penulis tertarik untuk membahas
“ANALISIS KONTRIBUSI PENAGIHAN PAJAK AKTIF TERHADAP
PENCAIRAN TUNGGAKAN PAJAK S TUDI KASUS DI KPP PRATAMA
BOYOLALI.”
C. Perumusan Masalah
Penagihan pajak bertujuan untuk menertibkan wajib pajak yang
bermasalah dalam hal memenuhi kewajiban perpajakannya. Berdasarkan
uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil
adalah :
1. Seberapa besar kontribusi penagihan pajak aktif jika dibandingkan dengan
total pencairan tunggakan pajak di KPP Pratama Boyolali?
2. Seberapa besar kontribusi penagihan pajak aktif terhadap pencapian target
pencairan tunggakan pajak di KPP Pratama Boyolali?
3. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi dalam tindakan penagihan pajak
aktif?
4. Upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala dalam
penagihan pajak aktif?
D. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui kasus-kasus penunggakan pajak yang diselesaikan dengan
Penagihan Pajak Aktif di KPP Pratama Boyolali.
2. Mengetahui seberapa besar kontribusi penagihan pajak aktif dibandingkan
3. Mengetahui seberapa besar kontribusi penagihan pajak aktif terhadap
pencapaian target pencairan tunggakan pajak d i KPP Pratama Boyolali.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi KPP Pratama Boyolali
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pikiran
untuk leb ih meningkatkan kesadaran wajib pajak dalam memenuhi
kewajiban perpajakannya.
2. Bagi Penulis
Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan
mengenai Penagihan Pajak secara spesifik, serta sebagai penerapan atas
ilmu-ilmu yang dipelajari terhadap pembelajaran kasus-kasus yang terjadi
di lapangan.
3. Bagi Pihak Lain
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan,
referensi, dasar penelitian selanjutnya, dan informasi tambahan dengan
pokok permasalahan yang sama.
4. Bagi Masyarakat Luas
Masyarakat dapat mengetahui tata cara dan tahapan-tahapan dalam
tentang pentingnya kesadaran dan kontribusi positif dari masyarakat untuk
mancapai keberhasilan tujuan perpajakan di Indonesia.
F. Teknik Analisis Data 1. Objek Penelitian
Objek yang dipilih oleh penulis untuk diteliti adalah Penagihan
Pajak di KPP Pratama Boyolali. Hal yang akan di kaji adalah kontribusi
penagihan pajak aktif dibandingkan dengan total pencairan tunggakan
pajak di KPP Pratama Boyolali.
2. Desain Penelitian
Metode yang digunakan oleh penulis untuk melakukan penelitian ini
adalah studi kasus. Dengan metode ini, penulis berharap dapat melakukan
penelitian secara mendalam pada kasus yang diteliti, yaitu “Analisis
Kontribusi Penagihan Pajak Aktif Terhadap Pencairan Tunggakan Pajak
Studi Kasus di KPP Pratama Boyolali.” Di samping itu, penulis juga
melakukan penelitian dengan mempelajari literature yang didapat dari
perpustakaan.
3. Data Penelitian
Data yang diambil penulis untuk penelitian ini adalah :
a. Gambaran umum KPP Pratama Boyolali.
b. Data perkembangan piutang pajak di KPP Pratama Boyolali.
4. Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis menggunakan beberapa
metode dalam pengumpulan data dan informasi, yaitu :
a. Studi Kepustakaan
Melalui metode kepustakaan, penulis dapat mengetahui tentang
Penagihan Pajak Aktif dan tehapan-tahapannya, serta penyelesaiannya
melalui membaca literatur dan buku, serta peraturan
perundang-undangan perpajakan, keputusan dan surat edaran di bidang perpajakan,
serta referensi lain yang berkaitan dengan tema penelitian.
b. Wawancara
Dengan metode wawancara, penulis dapat bertanya secara
langsung kepada pegawai pajak di KPP Pratama Boyolali yang
menangani penagihan pajak dan pelenyesaiannya
c. Dokumentasi
Penulis mengutip arsip, catatan ataupun data yang terdapat di
KPP Pratama Boyolali dan dari pihak-pihak lain yang relevan dengan
objek yang diteliti oleh penulis.
5. Teknik Pembahasan
a. Metode Kualitatif
Dengan metode ini penulis dapat menganalisis data dalam bentuk
kalimat. Yang digunakan sebagai dasar penelitian adalah landasan teori
dalam penelitian ini, penulis lebih cenderung menggunakan metode
wawancara dengan Seksi Penagihan di KPP Pratama Boyolali.
b. Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif merupakan metode yang sistematis dan
pengembangannya dengan model sistematis. Dengan metode ini,
penulis dapat menganalisis data mengenai perkembangan piutang pajak
dan kontribusi penagihan pajak aktif terhadap pencairan tunggakan
pajak di KPP Pratama Boyolali dalam bentuk presentase dengan
18 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
A. Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Umum Pajak a. Pengertian Pajak
Secara umum pengertian pajak adalah iuran wajib yang
dibayarkan ke kas negara, baik kepada pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah, yang pemungutannya diatur berdasarkan
undang-undang yang bersifat memaksa, serta tanpa mendapat kontraprestasi
yang dapat ditujukan secara langsung kepada Wajib Pajak. Sedangkan
Defin isi atau pengertian pajak berbeda-beda menurut para ahli. Dan
berikut pengertian pajak menurut beberapa ahli:
1) Prof. Dr. Rohmat Soemitro, S.H.,
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan
undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa
timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang
digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Resmi, 2009: 1).
2) Dr. Soeparman Soemahamidjaja
Pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau barang, yang
dipungut oleh Penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna
menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam
b. Fungsi Pajak
Menurut Resmi (2007: 3) fungsi pajak adalah:
1) Fungsi Budgetair (Sumber Keuangan Negara)
Fungsi budgetair artinya pajak merupakan salah satu sumber
penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin
maupun pembangunan.
2) Fungsi Regulerend (Pengatur)
Fungsi reguler end/ fungsi pengatur, artinya pajak sebagai
alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah
dalam bidang social, ekonomi, serta mencapai tujuan-tujuan
tertentu di luar bidang keuangan.
c. Pembagian Pajak
Menurut Ilyas dan Burton (2004: 17) pembagian pajak adalah
sebagai berikut:
1) Pembagian Pajak Menurut Golongannya
a) Pajak langsung
Pajak Langsung adalah pajak-pajak yang bebannya harus
dipikul sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dilimpahkan
kepada orang lain serta dikenakan secara berulang-ulang pada
b) Pajak Tidak Langsung
Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang bebannya dapat
dilimpahkan kepada orang lain dan hanya dikenakan pada
hal-hal atau peristiwa tertentu. Contoh: PPN dan PPnBM.
2) Pembagian Pajak Menurut Wewenang Pemungutannya:
a) Pajak Pusat/ Pajak Negara
Pajak pusat/ pajak negara adalah jenis pajak yang
dipungut oleh pemerintah pusat yang dalam pelaksanaannya
dilakukan oleh Departemen Keuangan melalui Direktorat
Jenderal Pajak. Contoh: PPh, PPN, PPnBM, PBB, Bea Materai,
dan BPHTB.
b) Pajak Daerah
Pajak daerah adalah jenis pajak yang dipungut oleh
pemerintah daerah dalam pelaksanaannya sehari-hari dilakukan
oleh Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda). Contoh: Pajak
Hotel dan Restoran, Pajak Reklame, dan Pajak Penerangan
Jalan.
3) Pembagian Pajak Menurut Sasarannya
a) Pajak Subyektif
Pajak Subyektif adalah jenis pajak yang dikenakan
dengan pertama-tama memperhatikan keadaan pribad i Wajib
diperhatikan keadaan obyektifnya sesuai gaya pikul. Contoh:
Pajak Penghasilan (PPh).
b) Pajak Obyektif
Pajak Obyektif adalah pajak yang pada awalnya
memperhatikan objek yang menyebabkan timbulnya kewajiban
membayar, kemudian baru dicari subyeknya baik Wajib Pajak
Orang Pribadi maupun Badan. Contoh: PPN
d. Asas Pemungutan Pajak
Menurut Suandy (2005: 27) asas pemungutan pajak terdiri dari:
1) Equa lity
Pembebanan pajak di antara subyek pajak hendaknya
seimbang dengan kemampuannya, yaitu seimbang dengan
penghasilan yang dinikmatinya di bawah perlindungan pemerintah.
2) Certa inty
Pajak yang dibayar oleh Wajib Pajak harus jelas dan tidak
mengenal kompromi. Dalam asas ini kepastian hukum yang
diutamakan adalah subyek pajak, obyek pajak, tarif pajak, dan
ketentuan mengenai pembayarannya.
3) Convenience of Pa yment
Pajak hendaknya dipungut pada saat yang paling baik bagi
Wajib Pajak, yaitu sedekat-dekatnya dengan saat diterimanya
4) Economic of Collections
Pemungutan pajak hendaknya dilakukan seefisien mungkin,
jangan sampai biaya pemungutan pajak lebih besar dari
penerimaan pajak itu sendiri.
e. Sistem Pemungutan Pajak
Menurut Waluyo (2007: 17) sistem pemungutan pajak terdiri
dari:
1) Officia l Assessment System
Merupakan sistem pemungutan pajak yang member
wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya
pajak yang terutang.
2) Self Assessment System
Sistem pemungutan pajak yang member wewenang,
kepercayaan, tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk
menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan
sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.
3) With Holding System
Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada
pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang
2. Tinjauan Umum Penagihan Pajak a. Dasar Hukum
1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga
atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan.
2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 Tentang perubahan atas
Undang-Undang Nomor19 tahun 1997 tentang Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa.
3) Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
24/PMK.03/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan
Seketika dan Sekaligus.
4) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
561/KMK04/2000 tentang Tata Cara Penagihan Pajak Seketika dan
Sekaligus dan Pelaksanaan Surat Paksa
5) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
562/KMK.04/2000 tentang Syarat-syarat dan Tata Cara
Pengangkatan dan Pemberhentian Jurusita Pajak
6) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
562/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Surat Paksa dan
Penyitaan Di Luar Wilayah Kerja Pejabat yang Menerbitkan Surat
Paksa.
7) Peraturan Pemerintah Nomor 135 tahun 2000 tentang Tata Cara
8) Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-01/PJ-045/2007 tentang
Penegasan dan Kebijakan atas Penagihan Pajak Tahun 2007
Menurut Suandy (2006: 45) penagihan pajak adalah serangkaian
tindakan agar penanggung pajak melunasi utang pajak dan biaya
penagihan pajak dengan menegur dan memperingatkan, melaksanakan
penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan surat paksa,
mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan
penyanderaan, menjual barang-barang yang telah disita. Penagihan pajak
dibagi menjadi 2 (dua), yaitu penagihan pajak pasif dan penagihan pajak
aktif.
b. Penagihan Pajak Pasif
Penagihan pajak pasif dilakukan melalui Surat Tagihan Pajak
atau Surat Ketetapan Pajak. Sesuai dengan Pasal 19 Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2007, bahwa yang menjadi dasar penagihan pajak
adalah Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
(SKPKBT), Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan,
Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang
menyebabkan pajak yang masih harus dibayar bertambah. Jika dalam
waktu 30 hari belum dilunasi, maka tujuh hari setelah jatuh tempo
akan diikuti dengan penagihan pajak aktif yang dimulai dengan
c. Penagihan Pajak Aktif
Penagihan Pajak Aktif merupakan lanjutan dari aktifitas
Penagihan Pajak Pasif. Dimana dalam upaya penagihan ini fiskus tidak
hanya mengirim Surat Teguran atau Surat Ketetapan Pajak, tetapi akan
diikuti dengan tindakan penyitaan aset Wajib Pajak dan pelaksanaan
pelelangan obyek yang disita.
1) Tahapan Penagihan Pajak
a) Surat Teguran
Apabila utang pajak yang tercantum dalam Surat Tagihan
Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB),
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT),
tidak dilunasi sampai melewati tujuh (7) hari dari batas waktu
jatuh tempo (satu bulan sejak tanggal diterbitkan).
b) Surat Paksa
Apabila utang pajak tidak melunasi setelah 21 hari dari
tanggal Surat Teguran, maka akan diterbitkan Surat Paksa yang
disampaikan oleh Juru Sita Pajak Negara dengan dibebani
biaya penagihan paksa sebesar Rp25.000,00 (Dua Puluh Lima
Ribu Rupiah), utang pajak harus dilunasi dalam waktu 2 x 24
jam.
c) Surat Sita
Apabila utang pajak belum juga dilunasi dalam waktu 2 x
Wajib Pajak, dengan dibebani biaya pelaksanaan sita sebesar
Rp75.000,00 (Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah).
d) Lelang
Dalam waktu empat belas hari setelah tindakan
penyitaan, utang pajak belum juga dilunasi maka akan
dilanjutkan dengan tindakan pelelangan melalui Kantor Lelang
Negara. Dalam hal biaya penagihan paksa dan biaya
pelaksanaan sita belum dibayar maka akan dibebankan
bersama-sama dengan biaya iklan untk pengumuman lelang
dalam surat kabar dan biaya lelang pada saat pelelangan.
Untuk lebih jelasnya mengenai alur dan jadwal pelaksanaan
2) Pejabat dan Jurusita Pajak
a) Pejabat
Sesuai Pasal 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000,
Menteri Keuangan berwenang untuk menunjuk pejabat (untuk
pajak pusat) atau Kepala Daerah (untuk pajak daerah) berwenang
menunjuk Pejabat untuk penagihan pajak yang berwenang untuk:
1) Mengangkat dan memberhentikan Jurusita Pajak
2) Menerbitkan:
a) Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis
b) Surat Perintah Penagihan Paksa Seketika dan Sekaligus
c) Surat Paksa
d) Surat Perintah Melakukan Penyitaan
e) Surat Perintah Penyanderaan
f) Surat Pencabutan Sita
g) Pengumuman Lelang
h) Surat Penentuan Harga Limit
i) Pembatalan Lelang; dan
j) Surat lain yang diperlukan untuk pelaksanaan penagihan
pajak
b) Jurusita Pajak
Dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor
562/KMK.02/2000, dijelaskan bahwa Jurusita Pajak adalah
seketika dan sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan dan
penyanderaan. Jurusita Pajak diangkat dan diberhentikan oleh
Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk penagihan
pajak pusat atau Gubernur atau Bupati/Walikota untuk penagihan
pajak daerah.
1) Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk diangkat menjadi
Jurusita Pajak:
a) Berijazah serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum
atau yang setingkat dengan itu
b) Berpangkat serendah-rendahnya Pengatur Muda/ Golongan
II/ a
c) Berbadan sehat
d) Lulus pendidikan dan latihan Jurusita Pajak
e) Jujur, bertanggung jawab dan penuh pengabdian.
2) Tugas Jurusita Pajak:
a) Melaksanakan Surat Perintah Penagihan Seketika dan
sekaligus.
b) Memberitahukan Surat Paksa.
c) Melaksanakan penyitaan barang atas barang Penanggung
Pajak berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.
d) Melaksanakan penyanderaan berdasarkan Surat Perintah
3) Jurusita Pajak dalam melaksanakan tugasnya harus dilengkapi
dengan kartu tanda pengenal Jurusita Pajak dan harus
diperlihatkan kepada Penanggung Pajak.
4) Dalam melaksanakan penyitaan, Jurusita Pajak berwenang
memasuki dan memeriksa semua ruangan termasuk membuka
lemari , laci, dan tempat lain untuk menemukan objek sita di
tempat usaha, di tempat kedudukan, atau tempat tinggal
Penanggung Pajak, atau tempat lain yang dapat diduga sebagai
tempat penyimpanan objek sita.
5) Dalam melaksanakan tugasnya, Jurusita Pajak dapat meminta
bantuan Kepolisian, Kejaksaan, Departemen yang membidangi
hukum dan perundang-undangan, Pemerintah daerah Setempat,
Badan Pertahanan Nasional, Direktorat Jenderal Perhubungan
Laut, Pengadilan Negeri, Bank atau pihak lain.
6) Jurusita Pajak dapat diberhentikan apabila:
a) Meninggal dunia
b) Pensiun
c) Karena alih tugas atau kepentingan dinas lainnnya
d) Ternyata lalai atau tidak cakap dalam menjalankan tugas
e) Melakukan perbuatan tercela
f) Melanggar sumpah atau janji Jurusita Pajak
3) Penagihan Seketika dan Sekaligus
Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
561/KMK.04/2000, Jurusita Pajak melaksanakan penagihan seketika
dan sekaligus tanpa menuggu tanggal jatuh tempo pembayaran
berdasarkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus yang
diterbitkan oleh pejabat apabila:
a) Penaggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk
selama-lamanya atau berniat untuk itu.
b) Penanggung Pajak memindahtangankan barang yang dimiliki atau
yang dikuasai dalam rangka menghentikan atau mengecilkan
kegiatan peusahaan, atau pekerjaan yang dilakukan di Indonesia.
c) Terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan
membubarkan badan usahanya, atau menggabungkan usahanya,
atau memekarkan usahanya, atau memindahtangankan perusahaan
yang dimiliki atau yang dikuasainya, atau melakukan perubahan
dalam bentuk lainnya.
d) Badan usaha akan dibubarkan oleh negara atau terjadi penyitaan
atas barang Penanggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat
tanda-tanda kepailitan.
Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus diterbitkan
oleh Pejabat sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran tanpa didahului
Surat Teguran, atau sebelum jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari
Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus
sekurang-kurangnya harus memuat nama Wajib Pajak atau nama Wajib Pajak
dan Penanggung Pajak, besarnya utang pajak, perintah untuk
membayar, dan saat pelunasan utang pajak.
4) Surat Paksa
Surat Paksa berkepala kata-kata, “Demi Keadilan Berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa,” mempunyai kekuatan eksekutoria l dan
kedudukan hokum yang sama dengan grosse a kte, yaitu putusan
pengadilan perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Surat Paksa sekurang-kurangnya harus memuat nama Wajib
Pajak atau nama Wajib Pajak dan Penanggung Pajak, dasar penagihan,
besarnya utang pajak, dan perintah untuk membayar.
Surat Paksa diterbitkan apabila:
a) Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak dan kepadanya telah
diterbitkan Surat Teguran, atau Surat Peringatan, atau surat lain
yang sejenis.
b) Terhadap Penanggung Pajak telah dilaksanakan Penagihan
Seketika dan Sekaligus.
c) Penanggung Pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
tercantum dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan
Surat Paksa diberitahukan oleh Jurusita Pajak dengan pernyataan
dan penyerahan Salinan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak.
pemberitahuan ini dituangkan dalam Berita Acara yang
sekurang-kurangnya memuat hari dan tanggal pemberitahuan Surat Paksa, nama
Jurusita Pajak, nama yang menerima, dan tempat pemberitahuan Surat
Paksa.
Surat Paksa terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi diberitahukan
oleh Jurusita Pajak kepada:
a) Penanggung Pajak di tempat tinggal, tempat usaha atau tempat lain
yang memungkinkan.
b) Orang dewasa yang bertempat tinggal bersama ataupun yang
bekerja di tempat usaha Penanggung Pajak, apabila Penanggung
Pajak yang bersangkutan tidak dapat dijumpai.
c) Salah seorang ahli waris atau pelaksana wasiat yang mengurus
harta peninggalannya, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia
dan harta warisannya belum dibagi.
d) Para ahli waris, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan
harta warisannya sudah dibagi.
Surat Paksa terhadap Wajib Pajak Badan diberitahukan oleh
Jurusita Pajak kepada:
a) Pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penangggung jawab,
bersangkutan, ditempat tinggal mereka maupun di tempat lain yang
memungkinkan.
b) Pegawai tetap di tempat tinggal kedudukan atau tempat usaha
badan yang bersangkutan apabila Jurusita Pajak tidak dapat
menjumpai salah seorang pengurus, kepala perwakilan, kepala
cabang, penanggung jawab, atau pemilik modal.
Dalam hal Wajib Pajak menunjuk seorang kuasa dengan surat
kuasa khusus untuk menjalankan hak dan kewajiban peRpajakan, Surat
Paksa dapat diberitahukan kepada penerima kuasa yang dimaksud. Jika
tidak dapat dilaksanakan, Surat Paksa disampaikan melalui Pemerintah
Daerah setempat.
Dalam hal Wajib Pajak atau Penanggung Pajak tidak diketahui
tempat tinggalnya, tempat usaha, atau tempat kedudukannya,
penyampaian Surat Paksa dilakukan dengan cara menempelkan Surat
Paksa pada papan pengumuman kantor Pejabat yang menerbitkannya,
mengumumkan melalui media massa, atau cara lain yang ditetapkan
dengan Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala Daerah.
Dalam hal Surat Paksa harus dilaksanakan di luar wilayah kerja
Pejabat, Pejabat dimaksud meminta bantuan kepada Pejabat yang
wilayah keljanya meliputi tempat pelaksanaan Surat Paksa, kecuali
ditetapkan lain dengan Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala
Pejabat yang diminta bantuan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(9) wajib membantu dan memberitahukan tindakan yang telah
dilaksanakannya kepada Pejabat yang meminta bantuan.
Dalam hal Penanggung Pajak atau pihak-pihak yang dimaksud
dalam ayat (3) dan ayat (4) menolak untuk menerima Surat paksa,
Jurusita Pajak meninggalkan Surat Paksa dimaksud dan mencatatnya
dalam Berita Acara bahwa Penanggung Pajak tidak mau menerima
Surat Paksa, dan Surat Paksa dianggap telah diberitahukan.
Pengajuan keberatan olen Wajib Pajak tidak mengakibatkan
penundaan pelaksanaan Surat Paksa. Sedangkan ketentuan penagihan
Bea Masuk, Cukai, dan Pajak dalam Rangka Impor dengan Surat
Paksa diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan tersendiri.
5) Penyitaan
Penyitaan dilakukan berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan
Penyitaan (SPMP) jika Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak
setelah lewat 2 x 24 jam setelah Surat Paksa diberitahukan.
Sesuai dengan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun
2000, dalam melaksanakan penyitaan, Jurusita Pajak harus:
a) Memperlihatkan kartu tanda pengenal Jurusita Pajak
b) Memperlihatkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan
Penyitaan dilaksanakan oleh Jurusita Pajak dengan disaksikan
oleh sekurang-kurangnya dua orang yang telah dewasa, penduduk
Indonesia, dikenal oleh Jurusita Pajak,dan dapat dipercaya. Setiap
penyitaan Jurusita Pajak membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita,
ditandatangani oleh Jurusita Pajak, Penanggung Pajak dan saksi.
Dalam hal Penanggung Pajak adalah Badan maka Berita Acara
Pelaksanaan Sita ditandatangani oleh pengurus, kepala perwakilan,
kepala cabang, penangggungjawab, pemilik modal atau pegawai tetap
perusahaan. Penyitaan dapat dilakukan meskipun Penanggung Pajak
tidak hadir asalkan ada salah seorang saksi dari Pemda. Berita Acara
Pelaksanaan Sita ditandatangani oleh Penanggung Pajak dan
saksi-saksi. Berita Acara Pelaksanaan Sita tetap sah meskipun Penanggung
Pajak menolak menandatangani. Salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita
ditempelkan pada barang yang disita atau barang yang disita ditempat
umum. Atas barang yang disita ditempel segel sita. Selain itu salinan
Berita Acara Pelaksanaan Sita d isampaikan kepada:
a) Penanggung Pajak
b) Polisi untuk barang bergerak yang kepemilikannya terdaftar
c) Pemda dan Pengadilan Negeri setempat, untuk tanah yang
kepemilikannya belum terdaftar
d) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, untuk barang yang disita
Penyitaan dilaksanakan terhadap barang milik Penanggung Pajak
yang berada ditempat tinggal, tempat usaha, tempat kedudukan, atau
tempat lain yang termasuk penguasaannya berada ditangan pihak lain
atau yang dijaminkan untuk pelunasan utang tertentu yang dapat
berupa:
a) Barang bergerak termasuk mobil, perhiasan, uang tunai, deposito
berjangka, tabungan, saldo rekening koran, atau bentuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu, obligasi saham, atau surat berharga
lainnya, piutang, dan penyertaan modal pada perusahaan lain
b) Barang tidak bergerak termasuk tanah, bangunan, dan kapal
dengan isi kotor tertentu.
Penyitaan terhadap Penanggung Pajak Badan dapat dilaksanakan
terhadap barang milik perusahaan, pengurus, kepala perwakilan,
kepala cabang, penanggung jawab, pemilk modal, baik di tempat
kedudukan yang bersangkutan, di tempat tinggal, atau di tempat lain.
Penyitaan dilaksanakan sampai dengan nilai barang yang disita
diperkirakan cukup oeh Jurusita Pajak untuk melunasi utang pajak dan
biaya penagihan pajak.
Penyitaan terhadap barang yang telah disita oleh Kejaksaan atau
Kepolisian sebagai barang bukti dalam kasus pidana, baru dapat
dilaksanakan setelah barang bukti tersebut dikembalikan kepada
Barang yang telah disita dititipkan kepada Penanggung Pajak,
kecuali apabila menurut pertimbangan Jurusita Pajak barang sitaan
tersebut perlu disimpan di kantor Pejabat atau ditempat lain. Dalam
hal penyitaan tidak dihadiri oleh Penanggung Pajak, barang yang telah
disita dititipkan kepada aparat Pemerintah Daerah setempat yang
menjadi saksi dalam pelaksanaan sita. Tempat lain yang dapat
digunakan sebagai tempat penitipan barang yang telah disita adalah
Kantor Pegadaian, Bank, Kantor Pos atau tempat lain yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan.
Terhadap barang Penanggung Pajak yang dikecualikan sebagai
obyak sita adalah:
a) Pakaian dan tempat tidur beserta perlengkapannya yang digunakan
oleh Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya.
b) Persediaan makanan dan minuman untuk keperluan satu bulan
beserta peralatan memasak yang ada di rumah.
c) Perlengkapan Penanggung Pajak yang bersifat dinas yang
diperoleh dari Negara.
d) Buku-buku yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaan
Penanggung Pajak dan alat-alat yang digunakan untuk pendidikan,
kebudayaan, dan keilmuan.
e) Peralatan yang masih dalam keadaan jalan yang masih digunakan
jumlah seluruhnya tidak lebih dari Rp20.000.000,00 (Dua Puluh
Juta Rupiah).
f) Peralatan penyandang cacat yang digunakan oleh Penanggung
Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya.
Apabila nilai barang yang telah disita tidak cukup untuk
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak, atau hasil lelang
barang yang telah disita ternyata tidak cukup untuk melunasi utang
pajak dan biaya penagihan pajak, maka dapat dilakukan Penyitaan
Tambahan sesuai dengan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 135
Tahun 2000, sampai nilai barang mencukupi untuk melunasi utang
pajak dan biaya penagihan pajak.
Pencabutan sita dilaksanakan apabila Penanggung Pajak telah
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak atau berdasarkan
putusan Pengadilan Negeri atau putusan Pengadilan Pajak atau
ditetapkan lain dengan Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala
Daerah. Dalam Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000
disebutkan bahwa, Surat Pencabutan Sita sekaligus berfungsi sebagai
pencabutan Berita Acara Pelaksanaan Sita disampaikan oleh Jurusita
Pajak kepada Penanggung Pajak dan instansi yang terkait, diikuti
dengan pengembalian penguasaan barang yang disita kepada
Terhadap barang yang telah disita, Penanggung Pajak dilarang:
a) Memindahkan hak, memindahtangankan, menyewakan,
meminjamkan, menyembunyikan, menghilangkan, atau merusak
barang yang telah disita.
b) Membebani barang tidak bergerak yang telah disita dengan hak
tanggungan untuk pelunasan utang tertentu.
c) Membebani barang bergerak yang telah disita dengan fidusia atau
digunakan untuk pelunasan utang tertentu.
d) Merusak, mencabut, atau menghilangkan segel sita atau salinan
Berita Acara Pelaksanaan Sita yang telah ditempel pada barang
sitaan.
6) Hak Mendahulu
Hak mendahulu untuk tagihan pajak melebihi segala hak
mendahulu lainnya, kecuali terhadap:
a) Biaya perkara yang semata-mata disebabkan oleh suatu
penghukuman untuk melelang suatu barang bergerak maupun
barang tidak bergerak.
b) Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang yang
dimaksud.
c) Biaya perkara yang semata-mata disebabkan oleh pelelangan atau
7) Lelang
Apabila utang pajak dan biaya penagihan pajak tidak dilunasi
setelah dilaksanakan penyitaan, Pejabat berwenang melaksanakan
penjualan secara lelang terhadap barang yang tekah disita melalui
Kantor Lelang. Pengecualian penjualan lelang dilakukan terhadap
objek sita berupa deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran,
giro, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu an barang
sitaan yang mudah rusak atau cepat busuk.
Adapun tata cara dan prosedur lelang adalah sebagai berikut:
a) Penjualan secara lelang terhadap barang yang telah disita
dilaksanakan paling singkat 14 (empat belas) hari setelah
pengumuman lelang melalui media massa.
b) Pengumuman lelang dilaksanakan paling singkat 14 (empat belas)
hari setelah penyitaan.
c) Pengumuman lelang untuk barang bergerak dilakukan satu kali dan
untuk barang tidak bergerak dilakukan dua kali.
d) Pengumuman lelang terhadap barang dengan nilai paling banyak
Rp20.000.000,00 (Dua Puluh Juta Rupiah) tidak harus diumumkan
melalui media massa.
e) Pejabat bertindak sebagai penjual atas barang yang telah disita
mengajukan permintaan lelang kepada Kantor Lelang sebelum
f) Pejabat atau yang mewakili menghadiri pelaksanaan lelang untuk
menentukan dilepas atau tidaknya barang yang dilelang dan
menandatangani asli Risalah Lelang.
g) Pejabat atau Jurusita Pajak tidak diperbolahkan membeli barang
sitaan yang dilelang. Larangan ini barlaku juga terhadap istri,
keluarga sedarah, dan semenda dalam keturunan garis lurus serta
anak angkat.
h) Pejabat dan Jurusita Pajak yang melanggar ketentuan sebagaimana
yang dimaksud dalam ayat (4) akan dikenakan sanksi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
i) Perubahan besarnya nilai barang yang tidak harus diumumkan
melalui media massa.
Dalam hal pelaksanaan lelang:
a) Lelang tetap dapat dilaksanakan walaupun keberatan yang diajukan
oleh Wajib Pajak belum memperoleh keberatan.
b) Lelang tetap dapat dilaksanakan walaupun tidak dihadiri oleh
Penanggung Pajak.
c) Lelang tidak dilaksanakan apabila Penanggung Pajak telah
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak, atau berdasarkan
putusan pengadilan, atau putusan Badan Peradilan Pajak, atau
Terhadap hasil lelang:
a) Hasil lelang dipergunakan terlebih dahulu untuk membayar biaya
penagihan pajak yang belum dibayar, dan sisanya untuk membayar
utang pajak.
b) Dalam hal penjualan secara lelang, biaya penagihan pajak dapat
ditambah 1% (satu persen) dari pokok lelang.
c) Dalam hal hasil lelang sudah mencapai jumlah yang cukup untuk
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak, pelaksanaan
lelang dihentikan walaupun barang yang akan dilelang masih ada.
d) Sisa barang beserta hasil kelebihan uang hasil lelang dikembalikan
oleh Pejabat kepada Penanggung Pajak segera setelah pelaksanaan
lelang dilaksanakan.
e) Hak Penanggung Pajak atas barang yang telah dilelang beRpindah
kepada pembeli dan kepadanya diberikan Risalah Lelang yang
merupakan bukti otentik sebagai dasar pendaftaran dan pengalihan
hak.
Penanggung Pajak dapat melunasi utang pajak dan biaya yang
timbul dalam rangka penagihan pajak selama barang yang telah disita
belum dijual, digunakan atau dipindahbukukan.
a) Besarnya biaya penagihan pajak adalah Rp50.000,00 (Lima Pu luh
Ribu Rupiah) untuk setiap pemberitahuan Surat Paksa dan
Rp100.000,00 (Seratus Ribu Rupiah) untuk setiap pelaksanaan
b) Besarnya tambahan biaya penagihan pajak yang dibayar oleh
Penanggung Pajak dalam hal barang yang telah disita dijual adalah:
1) Secara lelang adalah 1% (satu persen) dari pokok lelang.
2) Tidak secara lelang adalah 1% (satu persen) dari hasil
penjualan.
c) Biaya penagihan pajak dan biaya tambahan penagihan pajak
merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak.
d) Tata cara pengelolaan dan penggunaan biaya penagihan pajak dan
tambahan biaya penagihan pajak diatur dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
8) Pencegahan dan Penyanderaan
a) Pencegahan
1) Pencegahan hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung Pajak
yang mempunyai jumlah utang pajak sekurang-kurangnya
sebesar Rp100.000.000,00 (Seratus Juta Rupiah) dan diragukan
itikad baiknya dalam melunasi pajak.
2) Pencegahan dilakukan berdasarkan keputusan pencegahan yang
diterbitkan oleh Menteri atas permintaan Pejabat atau atasan
Pejabat yang bersangkutan.
3) Keputusan pencegahan sekurang-kurangnya memuat:
a) Identitas Penanggung Pajak yang dikenakan Pecegahan.
c) Jangka waktu pencegahan, paling lama 6 (enam) bulan dan
dapat diperpanjang paling lama 6 (enam) bulan.
4) Keputusan pencegahan disampaikan kepada Penanggung Pajak
yang dikenakan pencegahan, Menteri Kehakiman, Pejabat yang
memohon pencegahan, atasan Pejabat yang bersangkutan, dan
Kepala Daerah setempat.
5) Pencegahan dapat dilaksanakan terhadap beberapa orang
sebagai Penanggung Pajak Wajib Pajak Badan atau ahli waris.
6) Pencegahan terhadap Penanggung Pajak tidak mengakibatkan
hapusnya utang pajak dan terhentinya pelaksanaan utang pajak.
b) Penyanderaan
1) Penyanderaan hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung
Pajak yang tidak melunasi utang pajak setelah lewat jangka
waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal Surat Paksa
diberitahukan kepada Penanggung Pajak.
2) Penyanderaan hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung
Pajak yang mempunyai utang pajak sekurang-kurangnya
Rp100.000.000,00 (Seratus Juta Rupiah) dan diragukan itikad
baiknya dalam melunasi utang pajak.
3) Penyanderaan hanya dapat dilakukan berdasarkan Surat
Perintah Penyanderaan yang diterbitkan oleh Pejabat setelah
mendapat izin tertulis dari Menteri atau Gubernur Kepala
4) Pernohonan izin penyanderaan diajukan oleh Pejabat atau
atasan Pejabat kepada Menteri Keuangan untuk penagihan
pajak pusat atau kepada Gubenur untuk penagihan pajak
daerah.
5) Permohonan izin penyanderaan sekurang-kurangnya memuat:
a) Identitas Penanggung Pajak yang akan disandera.
b) Jumlah utang pajak yang belum dilunasi.
c) Tindakan penagihan pajak yang telah dilaksanakan
d) Uraian yang menunjukkan bahwa Penanggung Pajak
diragukan itikad baiknya dalam melunasi pajak.
6) Masa penyanderaan paling lama 6 (enam) bulan dan dapat
diperpanjang selama-lamanya 6 (enam) bulan.
7) Surat Perintah Penyanderaan sekurang-kurangnya memuat:
a) Identitas Penanggung Pajak.
b) Alasan penyanderaan.
c) Izin penyanderaan.
d) Lamanya penyanderaan.
e) Tempat penyanderaan.
8) Penanggung Pajak yang disandera ditempatkan ditempat
tertentu sebagai tempat penyanderaan dengan syarat sebagai
berikut:
a) Tertutup dan terasing dari masyarakat.
c) Mempunyai sistem pengamanan dan pengawasan yang
memadai.
9) Sebelum tempat penyanderaan dibentuk, Penanggung Pajak
yang disandera dititipkan di rumah tahanan negara dan terpisah
dari tahanan lain.
10) Penyanderaan tidak boleh dilaksanakan dalam hal Penanggung
Pajak sedang beribadah, atau sedang mengikuti sidang resmi,
atau sedang mengikuti Pemilihan Um um.
11) Jurusita Pajak harus menyampaikan Surat Perintah
Penyanderaan langsung kepada Penanggung Pajak dan
salinannya disampaikan kepada kepala tempat penyanderaan.
12) Dalam hal Penanggung Pajak yang akan disandera tidak dapat
ditemukan, Jurusita Pajak melalui Pejabat, atau atasan Pejabat
dapat meminta bantuan Kepolisian atau Kejaksaan untuk
menghadirkan Penanggung Pajak yang tidak dapat ditemukan
tersebut.
13) Penyanderaan mulai dilaksanakan pada saat Surat Perintah
Penyanderaan diterima oleh Penanggung Pajak yang
bersangkutan.
14) Penyanderaan dilaksanakan oleh Jurusita Pajak disaksikan oleh
2 (dua) orang penduduk Indonesia yang telah dewasa, dikenal
15) Dalam melaksanakan penyanderaan Jurusita Pajak dapat
meminta bantuan Kepolisian atau Kejaksaan.
16) Jurusita Pajak membuat Berita Acara Penyanderaan pada saat
Penanggung Pajak ditempatkan di tempat penyanderaan. Dan
Berita Acara Penyanderaan ditandatangani oleh Jurusita Pajak
kepala tempat penyanderaan, dan saksi-saksi.
17) Berita Acara Penyanderaan sekurang-kurangnya memuat:
a) Nomor dan tanggal Surat Perintah Penyanderaan.
b) Izin tertulis dari Menteri Keuangan atau Gubernur.
c) Identitas Jurusita Pajak.
d) Identitas Penanggung Pajak yang disandera.
e) Tempat penyanderaan.
f) Lamanya penyanderaan.
g) Identitas saksi-saksi penyanderaan.
18) Salinan Berita Acara Penyanderaan disampaikan kepada kepala
tempat penyanderaan, Penanggung Pajak yang disandera, dan
Bupati atau Walikota.
19) Penanggung Pajak yang disandera akan dilepaskan jika:
a) Apabila utang pajak dan biaya penagihan pajak telah
dibayar lunas.
b) Apabila jangka waktu yang ditetapkan dalam Surat
c) Berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap.
d) Berdasarkan pertimbangan tertentu dari Menteri atau
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.
20) Sebelum Penanggung Pajak yang disandera dilepaskan, Pejabat
segera memberitahukan secara tertulis kepada kepala tempat
penyanderaan sebagaiman tercantum dalam Surat Perintah
Penyanderaan.
21) Penyanderaan terhadap Penanggung Pajak tidak
mengakibatkan hapusnya utang pajak dan terhentinya
pelaksanaan penagihan pajak.
9) Gugatan
a) Gugatan Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan Surat Paksa,
Surat Perintah Melaksanakan Penyiataan, atau Pengumuman
Lelang hanya dapat diajukan kepada Pengadilan Pajak.
b) Dalam hal gugatan Penanggung Pajak dikabulkan, Penanggung
Pajak dapat memohon pemulihan nama baik dan ganti rugi kepada
Pejabat.
c) Besarnya ganti rugi paling banyak Rp5.000.000,00 (Lima Juta
Rupiah).
d) Perubahan besarnya ganti rugi d itetapkan dengan Keputusan
e) Gugatan Penanggung Pajak diajukan dalam rangka jangka waktu
14 (empat belas) hari sejak Surat Paksa, Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman Lelang dilaksanakan.
10) Sanggahan
a) Sanggahan pihak ketiga terhadap barang yang telah disita hanya
dapat diajukan kepada Pengadilan Negeri.
b) Pengadilan Negeri yang menerima Surat Sanggahan
memberitahukan secara tertulis kepada Pejabat.
c) Pejabat menangguhkan pelaksanaan penagihan pajak hanya
terhadap barang yang disanggah kepemilikannya sejak menerima
pemberitahuan.
d) Sanggahan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita
tidak dapat diajukan setelah lelang dilaksanakan.
11) Pembetulan dan Penggantian
a) Penanggung Pajak dapat mengajukan permohonan pembetulan dan
penggantian kepada Pejabat terhadap Surat Teguran atau Surat
Peringatan atau surat lain yang sejenis, Surat Perintah Penagihan
Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan
Penyitaan, Surat Perintah Penyanderaan, Pengumuman Lelang dan
Surat Penentuan Harga Limit yang dalam penerbitannya terdapat
b) Pejabat dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak
tanggal diterimanya permohonan harus member keputusan atas
permohonan yang diajukan.
c) Apabila dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari Pejabat tidak
memberikan keputusan, permohonan Penanggung Pajak dianggap
dikabulkan dan penagihan pajak ditunda untuk sementara waktu.
d) Pejabat karena jabatan dapat membetulkan Surat Teguran atau
Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis, Surat Perintah
Penagihan Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa, Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan, Surat Perintah Penyanderaan,