• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM PERDAGANGAN TRADISIONAL DALAM KOMUNITAS ORANG BUYAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SISTEM PERDAGANGAN TRADISIONAL DALAM KOMUNITAS ORANG BUYAKA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM PERDAGANGAN TRADISIONAL

DALAM KOMUNITAS ORANG BUYAKA

Elvis Kabey

(Balitbangda Kabupaten Jayapura) Abstract

The traditional trading system done by the Buyaka community who live around Sentani Lake area is by using barter. The nature products are traded with stone axes, glass beads, pottery, wooden utensils and glass bracelet. The trade is done among the Buyaka community themselves and with the people who live in coastal area.

Keywords: Buyaka community, Sentani Lake area, barter

Sejarah penempatan wilayah dan orang Buyaka belum sepenuhnya terwujud menjadi wilayah dan orang dengan peradaban yang kokoh karena saat itu masih terjadi perang suku maupun perang kelompok yang terutama disebabkan oleh perebutan wilayah kekuasaan ataupun wilayah pemukiman.

Sejalan dengan perjalanan waktu maka kehidupan orang di wilayah Buyaka atau yang dalam perkembangannya kemudian berubah dialek disebut dengan Sentani1 ini makin beradab dan kehidupan sosialnya makin kompleks. Kompleksitas kehidupan orang Buyaka terutama terlihat saat melakukan pekerjaan–pekerjaan pribadi maupun pekerjaan bersama yang membutuhkan tenaga kerja besar, kerjasama seperti ini dilakukan melalui kerjasama orang–orang di satu wilayah pemukiman terkecil yang sekarang lebih dikenal dengan kampung. Pekerjaan–pekerjaan baik yang bersifat pribadi maupun umum dilakukan hanya dengan motivasi kebersamaan dan saling membutuhkan. Dalam komunitas kecil seperti ini pada masanya tidak dikenal sistem perdagangan dengan menggunakan alat pembayaran, yang ada hanyalah saling menolong atau saling membantu diantara komunitas kampung. Sistem menyumbang untuk menimbulkan kewajiban

membalas. Prinsip seperti ini oleh Malinowski disebut principle of reciprocity atau prinsip timbal balik (Peursen, 1988).

(2)

Dalam perkembangannya sistem resiprositas ini mulai berubah memasuki sistem perdagangan tradisional. Walaupun secara perlahan kehidupan orang Buyaka mulai memasuki sistem perdagangan yang teratur, namun dalam wilayah yang masyarakatnya memiliki sumberdaya alam hayati yang sama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sistem perdagangan tradisional ini tidak sepenuhnya berlaku.

Sistem Perdagangan Tradisional yang berkembang pada fase ini dibedahkan atas tiga jenis sistem perdagangan barter menurut jenis bahan kebutuhannya:

- Bahan pangan dibarter dengan bahan pangan yang lain; jenis perdagangan barter ini dilakukan atas dasar kedua belah pihak saling membutuhkan bahan pangan. - Bahan makanan dibarter dengan peralatan produksi pangan dan peralatan pakai

seperti ikan (kha), sagu (fi ) dan pisang (era) ditukar dengan peralatan penokok sagu (femea) dan alat rumah tangga lain seperti piring kayu yang dalam bahasa lokalnya disebut hote, wada untuk memasak bahan makanan yang dalam bahasa lokal disebut olmebe.

- Pelanggaran peraturan antar kelompok atau kampung dikenakan denda berupa tanah, anak perempuan atau laki-laki sesuai tuntutan dan atau kedua duanya. Tuntutan denda berupa seorang anak perempuan dimasa ini dirasa sangat berguna untuk mempersatukan hubungan pihak laki-laki dan pihak perempuan secara turun temurun dan karena itu dalam tuntutan denda sebagian besar meminta denda serupa ini.

Hubungan barter sebagian besar hanya ada diantara kampung yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dan asal usul.

Koentjaraningrat (1972) membedakan tolong – menolong diantara warga sekampung atau komuniti kecil kampung menjadi empat macam yaitu: 1. tolong– menolong dalam aktivitas pertanian 2. tolong menolong dalam aktivitas-aktivitas sekitar rumah tangga 3. tolong menolong dalam aktifi tas persiapan pesta dan upacara 4. tolong– menolong dalam peristiwa kecelakaan, bencana dan kematian.

Alat Pembayaran

(3)

Buyaka mulai berkembang dengan dikenalnya alat pembayaran kulit kerang dan batu. Kulit kerang berbentuk bulat melingkar digunakan sebagai alat pembayaran yang bernilai tinggi dan hanya berlaku untuk pembayaran mas kawin diantara keluarga ondofolo. Alat pembayaran jenis ini didapatkan dari hasil perdagangan barter antara orang Buyakha dengan orang dari Houw2 dan Orme3.

Selain alat pembayaran yang berbahan kulit kerang dan batu, orang Buyaka juga dalam perkembangan peradabannya menilai beberapa alat pembayaran yang berasal dari kulit binatang buas seperti buaya, ular, soa-soa, kusu pohon, bulu burung cenderawasih, taring dan gigi buaya dan babi sebagai alat pembayaran yang memiliki nilai tinggi. Jenis-jenis hewan yang kulit, bulunya, gigi dan taringnya digunakan sebagai alat pembayaran dalam perdagangan barter karena hewan tersebut dalam kehidupan sehari-hari sulit didapatkan dan kalau ditemui untuk mendapatkannya orang harus berhadapan dengan resiko yang sangat besar selain karena jenis hewannya yang buas jangkauan dan wilayah untuk mendapatkan hewan jauh di gunung, di sungai, di laut mapun di atas pepohonan yang tumbuh sangat tinggi di hutan yang belum dijamah oleh aktifi tas manusia.

Untuk mendapatkan alat pembayaran bernilai tinggi yang berasal dari wilayah Houw, orang Buyaka melakukan perdagangan barter menggunakan bahan pangan yang jarang di wilayah Houw seperti sagu dan ikan danau. Bahan pangan

yang dibarter untuk medapatkan alat pembayaran bernilai tinggi, kadang kedua bela pihak melakukan kesepakatan untuk satu alat pembayaran yang dianggap bernilai

tinggi orang Buyaka harus menyerahkan bahan pangan beberapa kali kepada orang yang akan menyerahkan alat pembayaran bernilai tinggi.

Kontak dengan Luar

Perkembangan paling pesat mulai terjadi bersamaan dengan masuknya orang asing yang berasal dari Cina dan Portugis sekitar tahun 1812 sampai tahun 1900 (J. Kunst hal. 34). Penjaja ataupun para musafi r terutama mereka yang menggunakan kapal, berlayar

2 Sebutan bagi wilayah maupun orang yang bermukim di wilayah timur Danau Sentani mulai dari Kampung Nafri sampai ke bagian utara

(4)

dari satu benua ke benua lain menjajakan barang dagangannya di atas kapal. Kapal yang pada masa itu berfungsi sebagai pasar ataupun toko mempunyai tempat-tempat tujuan tertentu yang masyarakatnya telah memiliki alat pembayaran resmi untuk berbelanja di kapal apabila kapal pedagang ini sampai di tempat-tempat yang dituju.

Berbeda dengan tujuan penjajah menuju ke benua ataupun wilayah lain. Selain menuju ke wilayah Ternate untuk mencari rempah-rempah dan menjajakan dagangannya, tujuan pedagang asing menuju ke wilayah Papua hanya untuk melintasi ke bagian timur dan selatan sambil melakukan ekspedisi dan survei untuk menjadikan wilayah Papua sebagai ladang rempah–rempah.

Pada saat melakukan misi berdagang dan ekspedisi, para pedagang juga sering menemui orang pribumi dan berusaha melakukan komunikasi terbatas menggunakan gerakan isyarat. Melalui komunikasi-komunikasi terbatas inilah para penjaja melakukan pendekatan terhadap penduduk pribumi secara intensif dan dalam jangka waktu yang cukup lama secara perlahan, terjadi hubungan kerjasama diantara para pedagang dan penduduk pribumi Houw yang bermukim di pantai Teluk Youtefa.

Pendekatan yang dilakukan oleh para pedagang Cina dan Portugis membawa perkembangan yang sangat signifi kan pada tatanan kehidupan penduduk pribumi. Pendekatan yang terjadi tidak hanya terbatas pada hubungan kerjasama saling menolong seperti yang biasanya terjadi dalam lingkungan kehidupan penduduk pribumi, terutama mereka yang bermukim di pesisir Teluk Yotefa4 tetapi hubungan ini terjadi juga jauh sampai ke bagian barat di wilayah dan lingkungan Buyaka.

Pada wilayah-wilayah yang diexpedisi terjadi juga perdagangan barter antara pedagang dengan penduduk pribumi. Materi yang dibarter adalah garam, rokok, gula, alat pakai seperti parang dan kapak besi. saat barter ini para pedagang diperkenalkan dengan alat pembayaran tradisional yang biasanya dilakukan oleh penduduk lokal Buyaka. Alat pembayaran penduduk Buyaka yang bernilai tinggi seperti ebha berbahan kulit kerang dan homboni yang berbahan batu marmer ikut disurvei dan dibawa keluar ke Cina dan Portugis.

4 Istilah menyebut orang pantai Utara dari Ormu sampai Demta terhadap wilayah di bagian Timur danau Sentani kemudian dalam perubahan dialegtika menjadi Yotefa.

(5)

Alat pembayaran yang dianggap unik dan bernilai tinggi dibawa keluar oleh pedagang China dan Portugis kemudian diganti bahan dasarnya dari kaca. Alat pembayaran

ebha yang terbuat dari bahan kaca kemudian menggantikan alat pembayaran ebha yang

berbahan kerang.

Gbr. 1. Alat Pembayaran Ebha Berbahan Kulit Kerang

Gbr. 2. Alat Pembayaran Ebha Berbahan Kaca (dokumentasi van Bemmelen, 1941)

(6)

Hoboni yang berbahan dasar batu marmer hijau dan biru kehitaman juga diganti

dengan bahan kaca untuk jenis nokon dan hawa sedang alat pembayaran jenis haye dibuat dari campuran kaca dan plastik.

Gbr. 3. Manik-manik Gbr. 4. Tomako Batu

(dokumentasi Balitbangda Kab. Jayapura) (dokumentasi Balai Arkeologi Jayapura 2010)

Jenis alat pembayaran orang Buyaka berdasarkan bahan yang unik dan tidak diproduksi secara besar besaran karena itu nilainya dianggap makin tinggi baik dari segi warna dan ukuran sedangkan untuk manik-manik nilainya diukur dari jenis dan warna.

Haye berwarna hijau, nokom berwarna biru sedang tomako batu jenis mevoli

berukuran pendek dan tomako batu rela berukuran lebih panjang dari mevoli. Tingginya nilai kedua tomako batu ini tergantung pada warna dan tampilan jenis bahan batu marmer.

Jenis alat pembayaran yang disebutkan diatas biasanya tergantung pula pada strata sosial sedangkan alat pembayaran yang disebut haye berwarna kuning menjadi sangat berharga karena menembus semua strata sosial dan sekaligus menjadi pendamai dalam semua strata sosial yang terdapat dalam sistem perdagangan maupun situasi dan kondisi konfl ik.

Nilai Haye dalam Sistem Perdagangan Tradisional

Dalam hubungan sistem kekerabatan, seorang saudara yang memberikan satu ikan maka ia akan diberikan satu buah haye sebagai bayarannya sedangkan hawa memiliki

(7)

nilai yang lebih tinggi karena dalam hubungan perdagangan, seorang saudara harus memberikan dua sampai tiga malfale ikan kepada sudaranya yang membutuhkan dan setelah itu maka ia akan menerima atau mendapatkan sebuah hawa sebagai bayarannya.

Dalam hubungan saling membutuhkan maka satu kampung dengan kampung lainnya biasanya mengadakan hubungan perdagangan atas dasar saling membutuhkan barang /benda yang dimiliki masing-masing kampung.

Alat pembayaran yang menggunakan haye, hawa sampai dengan mefoli hanya berlaku di sekitar komunitas yang mempunyai hubungan kekerabatan dan yang menggunakan alat ini sebagai alat pembayaran dalam sistem perdagangan tradisional.

Kesimpulan

Sistem perdagangan tradisional yang berlangsung di lingkungan orang Buyaka boleh dikata sebagai sesuatu yang terjadi secara alamiah sesuai dengan tatanan kehidupan yang juga dipengaruhi oleh lingkungan dimana orang Buyaka hidup.

Danau Sentani sebagai lingkungan yang memberikan kehidupan bagi orang Buyaka yang hidup di sekitarnya menyediakan berbagai sumber daya alam hayati yang dipandang sebagai pendukung tatanan kehidupan sosial ekonomi yang memadai secara turun temurun.

Ketersediaan lingkungan alam yang sekaligus menyediakan sumber daya alam hayati yang melimpah menjadi daya tarik bagi orang-orang yang melakukan perjalalan dari bagian timur tanah Tabi kemudian secara berkala dan berkelompok menempati wilayah-wilayah di sekitar Danau Sentani. Kelompok-kelompok ini kemudian menempati tiga wilayah di Danau Sentani.

Tiga wilayah yang menjadi pusat penyebaran budaya maupun penduduk di Daanau Sentani adalah Pulau Asei (Ohei) di bagian timur Danau Sentani, Pulau Ajauw dengan tiga kampungnya, Hobong (Hobeibei), Ifar Besar (Kabetolouw) dan Ifale di bagian tengah Danau Sentani, Pulau Kwadeware (Yonokom) di bagian barat Danau Sentani.

Orang-orang yang menempati tiga wilayah ini kemudian menyebar karena perkembangan penduduk meningkat. Perkembangan penduduk ini menimbulkan

(8)

satu jaringan kerjasama berdasarkan hubungan asal usul, hubungan persaudaraan dan hubungan perkawinan.

Hubungan-hubungan ini kemudian menciptakan kesatuan-kesatuan sosial yang berinteraksi secara terus menerus untuk menjaga tatanan kehidupan terutama dari segi pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Interaksi sosial ini menjadi lebih kuat ketika diantara orang Buyaka di ketiga wilayah penyebaran budaya mulai melakukan kerjasama atas prinsip saling menolong ataupun saling membantu atas hubungan-hubungan yang ada.

Atas kesamaan lingkungan hidup yang ada di Danau Sentani, kelompok-kelompok ini lebih sering menggunakan hubungan dagang dengan alat pembayaran yang dalam istilah lokal disebut homboni–relaa dibanding hubungan dagang barter. Hubungan dagang barter dengan komoditi ikan, pisang dan sagu lebih sering dilakukan dengan orang di luar Danau Sentani atas dasar ketersediaan komoditi yang berbeda di lingkungan alam dan wilayahnya masing-masing.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penelitian. 2009. Cerita Rakyat Kabupaten Jayapura. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Jayapura.

Peursen, A.C. van. 1988. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hal tersebut, maka praktik pekerjaan sosial yang menggunakan pendekatan berbasis hak, secara otomatis telah mengakomodir hak-hak asasi manusia dan dapat

Terhadap penyembuhan luka pada tikus putih jantan menurut penelitian sebelumnya dengan daun yang berbeda namun senyawa yang sama dan konsentrasi yang sama 5%

Pelaksanaan kegiatan pendampingan pemahaman berwirausaha dengan mengembangkan potensi desa menjadi desa mandiri serta pembuatan laporan keuangan perlu dilakukan kepada mitra

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) permintaan beras secara nyata dipengaruhi oleh harga riil beras Indonesia, jumlah penduduk, dan permintaan beras tahun sebelumnya,

Sariayu trend warna 2013 memberikan gambaran salah satu daerah Indonesia yang terkenal akan akulturasi budayanya, yaitu Lasem yang merupakan daerah penghasil batik di pesisir

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan analisis deskriptif yang mendeskripsikan tentang obyek yang diteliti sesuai dengan hasil

Untuk memastikan kondisi tersebut, maka ditambahkan stopping rule sehingga rule yang baru hanya dipenuhi oleh kasus yang bersesuaian dan tidak oleh kasus lainnya, kecuali bila

Sistem kemudian melakukan pembacaan terhadap seluruh file untuk mengambil data huruf Katakana, menyimpan hasil pembacaan dalam struktur data, dan kemudian melakukan