• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKAD SOSIAL DAN IMPLEMENTASI DI ERA KONTEMPORER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "AKAD SOSIAL DAN IMPLEMENTASI DI ERA KONTEMPORER"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0". ISBN: 978-602- 73470-5-2

1242

AKAD SOSIAL DAN IMPLEMENTASI DI ERA KONTEMPORER

Muhammad Sholahuddin1, Muhammad Rohim2, Alvira Fitri Mawarni3, Dini Eka Stiyani4, Hativah Yunitasari5, Swara Prabu Windy Satriawi6

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Alamat Korespondensi: [email protected] ABSTRAK

Dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak pemanfaatan zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS) untuk produktif kegiatan. Tindakan ini diharapkan dapat merentangkan kesenjangan sosial antara penerima dan kontributor ZIS. Zakat, Infaq dan Shodaqoh merupakan sarana redistribusi pendapatan dan juga dapat mendukung pengembangan sumber daya manusia serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi potensi zakat, infaq dan shodaqoh dan untuk menganalisis peran ZIS dalam kehidupan di masyarakat. Sampel dalam penelitian ini memakai 3 jurnal internasional. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi zakat di Indonesia saat ini sudah mengalami peningkatan dalam penyaluran Zakat, Infaq dan Shodaqoh yang diteliti dengan menyimpulkan bahwa pemberdayaan masyarakat miskin dapat dilakukan berdasarkan potensi zakat, infaq dan shodaqoh di setiap provinsi di Indonesia, semakin besar lembaga penyaluran ZIS, semakin besar potensi zakat yang bisa didapat. Bahkan jika potensi zakatnya melebihi dari tingkat kemiskinan di kabupaten, bisa digunakan sebagai subsidi silang dengan kabupaten lain di Indonesia kebutuhan yang lebih besar.

Kata kunci : Zakat, Infaq, Shodaqoh

ABSTRACT

In recent years, zakat, infaq, and shadaqah (ZIS) have been widely used for productive activities.

This action is expected to be done socially between ZIS recipients and contributors. Zakat, Infaq and Shodaqoh are a means of income redistribution and can also support the development of human resources and increase economic growth in Indonesia. The purpose of this study is to explore the potential of zakat, infaq and shodaqoh and to analyze the role of ZIS in life in society.

The sample in this study used 3 international journals. Data analysis techniques used in this study used literature study techniques. Zakat, Infaq and Shodaqoh related to empowering the poor can be done based on the potential of zakat, infaq and shodaqoh in every province in Indonesia, the greater the ZIS distribution agency, the greater the potential for zakat that can be obtained. Even if the zakat potential is higher than the poverty level in the district, it can be used as a cross subsidy with other districts in Indonesia Greater need.

Keywords: Zakat, Infaq, Shodaqoh

PENDAHULUAN

Era Kontemporer bukan hanya terbatas di budaya namum juga sudah merasuki pada variabel ekonomi, tetapi mencakup aspek moral, sosial, material dan spiritual. Dengan kata lain, pembangunan ekonomi terkait erat dengan peningkatan kehidupan masyarakat standar. Artinya, tidak hanya harus meningkatkan pendapatan per kapita dan jumlah ekspor, itu juga harus dikaitkan dengan kualitas hidup manusia. Ini berarti pembangunan ekonomi harus ditanggulangi masalah kemiskinan, menyediakan kebutuhan dasar kehidupan,

(2)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0". ISBN: 978-602- 73470-5-2

1243 seperti makanan yang memadai, dan bahkan bertemu standar gizi masyarakat.

Pembangunan ekonomi juga harus memperhatikan hak untuk tempat tinggal, pekerjaan dan pendidikan, pelestarian lingkungan alam dan berbagai lainnya kebutuhan sosial terkait dengan kehidupan yang layak (Alaydrus, M.Z, dan Tika., 2016).

Sebagai mahkluk sosial kita tidak bisa lepas dengan yang namanya akad (perikatan, perjanjian, simpul dll), oleh karena itu Allah sebagai Sang Maha Pengatur telah membuat peraturan dalam bermuamalah secara social. Allah juga membuat peratuan untuk pengelolaan harta manusia agar harta tersebut bersih ddan bisa dipergunakan juga untuk membantu orang lain yang berkesusahan, baik itu berupa zakat, wakaf, hadiah, hibab, shadaqah.

Akad sosial di Indonesia saat ini sudah banyak dilakukan oleh perorangan bahkan Lembaga masyarakat di lingkungan sekitar, seperti LAZISMU, BAZARNAS, hingga perusahaan yang membuat hal yang serupa dalam bentuk Corporate Social Responbility (CSR). Menurut (Habib, 2016) alat utama untuk pembangunan manusia, termasuk pembangunan ekonomi, adalah ZIS (zakat (sedekah wajib), infaq (sumbangan) dan sedekah (sedekah). ZIS memerlukan donasi uang oleh Muslim untuk mereka yang berhak menerima sumbangan seperti itu. Zakatkhususnya, adalah wajib karena itu adalah salah satu rukun Islam, sementara infaq dan sedekah dipandang sebagai berbudi luhur tindakan yang dianjurkan oleh umat Islam untuk dilakukan. Dana ZIS umumnya diberikan sebagai bantuan untuk menyelesaikan masalah sosial (kesehatan, pendidikan, perumahan, dll.), serta bantuan untuk memecahkan masalah ekonomi dan keuangan (kecil bisnis, pemberdayaan ekonomi, dll.).

Urgensi akad sosial itu sendiri sudah menjadi hal yang perlu diperhatikan untuk Indonesia saat ini, hal ini dikarenakan masih adanya tingkat kesejahteraan masyarakat yang belum menyeluruh di Indonesia. Hal ini dapat kita amati dari prosentase populasi rakyat miskin di Indonesia saaat ini berkurang cukup lambat dari bulan Maret 2014 yang berkisar dari 28,28 juta penduduk miskin dari jumlah populasi masyarakat Indonesia. Namun pada bulan Maret 2017 hanya turun menjadi 27,77 juta penduduk miskin, dari perbandingan tahun ke tahun kita dapat

(3)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0". ISBN: 978-602- 73470-5-2

1244 menyimpulkan prosentase populasi masyarakat miskin hanya menyusut kurang lebih 500 ribu jiwa dan ini mengindikasikan penurunan hanya menurun 1% saja.

Gambar 1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, 1998-2017 (Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017)

Dari chart grafik diatas kita dapat membandingkan dengan capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi sudah beranjak di level 5,1% yang menandakan bahwa pemerintah sudah berpendapat sudah lebih baik dalam mensejahterahkan warga negaranya, terkhusus dalam hal ini masyarakat penduduk miskin. Namum dalam hal ini peneliti mempunyai pandangan lain dalam hal ini mengenai masalah kesenjangan sosial masih belum ada upaya perbaikan secara signifikan dari peran pemerintah dalam mengurangi atau menurunkan tingkat kemiskinan. Dengan kontribusi pertumbuhan ekonomi saat ini yang sudah lebih baik juga tidak mampu mengindikasikan penurunan tingkat kemiskinan yang lebih baik juga. Oleh karena itu peneliti menandakan kurang adanya peran akad social dalam memberikan dampak ke masyarakat kita.

Allah mengajarakan kita untuk saling tolong menolong sesama umat manusia. Banyak ayat al-quran yang menganjurkan kita untuk saling membantu sesame manusia bahkan lebih luas lagi yaitu seluruh dunia. Manusia adalah sebagai makhluk sosial, tidak mungkin manusia bisa hidup sendiri tanpa butuh bentuan dari orang lain (Al Jahri, 2017). Itulah sebabnya manusia diciptakan saling berpasang-pasangan dll. Sebagai mahkluk social kita tidak bisa lepas

(4)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0". ISBN: 978-602- 73470-5-2

1245 dengan yang namanya akad ( perikatan, perjanjian, simpul dll), oleh karena itu Allah sebagai Sang Maha Pengatur telah membuat peraturan dalam bermuamalah secara social. Allah juga membuat peratuan untuk pengelolaan harta manusia agar harta tersebut bersih dan bisa dipergunakan juga untuk membantu orang lain yang berkesusahan, baik itu berupa zakat, infaq dan, shadaqah yang Insyaallah akan

sama-sama kita bahas ditulisan ini.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka. Menurut (Sugiyono, 2010) studi pustaka adalah kajian teoritis, referensi serta literatur ilmiah lainnya yang berkaitan dengan budaya, nilai dan norma yang berkembang pada situasi social yang diteliti. Penelitian studi pustaka menekankan pada pengujian teori- teori melalui informasi lewat buku, majalah, koran dan literatur lainnya yang bertujuan membentuk sebuah landasan teori yang menyangkut dengan tema penelitian ini.

Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh tidak langsung dari sumber dimana penelitian dilakukan secara langsung(Sugiyono, 2010). Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh melalui literatur yang tersedia di berupa jurnal dan buku literatur yang mendukung pembahasan.

KERANGKA TEORI

Akad sosial dalam perspektif islam

Perjanjian (akad) adalah bertemunya ijab yang diberikan oleh salah satu pihak dengan kabul yang diberikan oleh pihak lainnya secara sah menurut hukum syar'i danmenimbulkan akibat pada obyeknya. Dalam transaksi akad social menurut persepektif islam dapat digolongkan dalam beberapa bentuk antara lainnya Zakat, Infaq dan Shodaqoh yang dikeluarkan orang untuk sekedar berbagi ataupun mengeluarkan hak dan kewajiban kepada sesama saudara yang sedah membutuhkan dalam hal ini adalah masyarakat miskin. Zakatmerupakan salah satu sarana redistribusi pendapatan dan juga dapat mendukung pengembangan

(5)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0".

1246 sumber daya manusiaserta meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia(Hayati, 2011).

Menurut (Alaydrus, M.Z, dan Tika., 2016)zakat secara terminologis berarti sejumlah properti yang diperlukanoleh Tuhan untuk diserahkan kepada orang- orang yang berhak; Selain itu, zakat juga didefinisikan sebagai pengeluaran tertentujumlah properti. (Kahf, 1997) menyatakan zakat adalah pajak tahunan tertentu (pembayaran) yang dikenakan di internet seseorangaset, yang harus dikumpulkan oleh Negara dan digunakan untuk tujuan tertentu, terutama pada Jaminan sosial. Jadi kelompok kita dapat disimpulkan bahwa Zakat merupakan jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya, dalam paper ini subyeknya adalah masyarakat miskin. Adapun orang yang berhak menerima zakat yang dinyatakan dalam Al-Qur'an yang disebut mustahiq zakat.

Mustahiq dapat bersifat pribadi atau kelembagaan (Alaydrus, M.Z, dan Tika., 2016) mereka yaitu orang miskin, orang-orang dalam perbudakan atau perbudakan, orang dibebani dengan hutang, serta di jalan allah, dan para musafir.

Sedangkan Infaq adalah pencairan untuk kepentingan manfaat. Infaq tidak memiliki nisab (jumlah minimum untuk Muslim kekayaan bersih untuk wajib memberikan zakat)(Hermien Triyowati, 2018). Karena itu, infaq bisa dikeluarkan oleh orangyang penghasilannya tinggi atau rendah, dalam hak istimewa atau dalam kesulitan. (Hermien Triyowati, 2018)mengatakan dalam Al Qur'anada beberapa kondisi yang harus dilakukan dalam memberikan infaq yang meliputi memprioritaskan infaq kepada orang-orang yang memiliki hubungan paling dekat dengan orang-orang yang memberikan infaq, misalnya orang tua, saudara dekat, dan sebagainya.

Setelah itu, berikan infaq kepada anak yatim, orang miskin, dan musafir.

Di sisi lain, shadaqah (sedekah) adalah memberikan barang bergerak atau tidak bergerak, yang akan segera habis apakah itu digunakan atau tidak, kepada orang lain atau badan hukum, seperti yayasan atau sejenisnya, tanpa kompensasi dan persyaratan, tetapi hanya untuk menyenangkan Tuhan dan mengharapkan hadiahnya pada hari Pengadilan (Habib, 2016). Menurut Shafi'i (dikutip dalam

(6)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0".

1247 (Habib, 2016)), Orang yang berhak menerima shadaqah antara lain orang yang saleh dan melakukan kebaikan, kerabat, orang yang sangat membutuhkan, serta orang kaya, keturunan Bani Hasyim, orang-orang kafir dan orang fasik. Orang kaya diizinkanmenerima shadaqah meskipun dari keluarganya, serta keturunan Bani Hasyim. Namun, merekaseharusnya tidak menerima amal.

Teori Kemiskinan

Menurut (Rufus B. Akindola, 2010)menyampaikan resolusi mengapa kemiskinan merupakan persoalan kehidupan serba kekurangan yg dialami famili atau rumah tangga sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan minimal atau yg layak untuk kehidupannya. Kebutuhan dasar minimal yg diperlukan berkaitan dengan kebutuhan pangan, pakaian, perumahan dan kebutuhan sosial yang diperlukan oleh penduduk atau tempat tinggal tangga buat memenuhi kebutuhan.

Kemiskinan adalah persoalan sosial yang senantiasa hadir pada tengah-tengah rakyat, kemiskinan merupakan konsep serta fenomena yang berwayuh wajah, bermatra multidimensi. SMERU, beberapa model lainnya, beberapa contoh- lainnya diantaranya beberapa lain-lainya, papan, sandang, makanan), ketiadaan akses terhadap kebutuhan dasar lainnya seperti kesehatan, pendidikan, pendidikan; pendidikan dan famili), menentang terhadap individu yg berperan menjadi individu, masal, rendahnya kualitas sumber daya manusia dan sumber daya alam, ketidakterbatasan pada aktivitas sosial rakyat, ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkelanjutan, ketidakmampuan buat mendukung karna cacat fisik maupun mental (S. Ramphoma, 2014).

Teori Distribusi dalam Sistem Ekonomi Islam, Kapitalisme dan Sosialisme 1. Sistem Ekonomi Sosialis

Sosialis adalah suatu sistem perekonomian yang memberikan kebebasan yang cukup besar kepada setiap orang untuk melaksanakan aktivitas ekonomi namun dengan campur tangan pemerintah(Itang & Adib, 2017). Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik, telekomunikasi, dan lain sebagainya.Sistem Sosialis ( Socialist Economy) berpandangan bahwa

(7)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0".

1248 kemakmuran individu hanya mungkin tercapai bila berfondasikan kemakmuran bersama. Sebagai konsekuensinya, penguasaan individu atas aset-aset ekonomi atau faktor-faktor produksi sebagian besar merupakan kepemilikan sosial.

Menurut (Itang & Adib, 2017) prinsip dasar ekonomi sosialis antara lain pemilikan harta oleh Negara, kesamaan ekonomi, disiplin politik. Sedangkan ciri- ciri sistem ekonomi sosialisnya antara lain lebih mengutamakan kebersamaan (kolektivisme), kiprah pemerintah sangat bertenaga, sifat manusia ditentukan oleh pola produksi(Itang & Adib, 2017).

2. Sistem Ekonomi Kapitalis

Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi barang, manjual barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya(Itang & Adib, 2017). Dalam sistem ini pemerintah bisa turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga pemerintah tidak ikut campur dalam ekonomi.Dalam perekonomian kapitalis setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. Semua orang bebas malakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas dengan berbagai cara.Menurut (Itang & Adib, 2017) ciri-ciri sistem ekonomi kapitalis antara lain pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi, perekonomian diatur oleh mekanisme pasar, manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri, paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut hedonisme).

3. Sistem Ekonomi Islam

(Al Jahri, 2017) di dalam penelitiannya yang berjudul “Teori dan Praktik Ekonomi Islam” menyatakan bahwa ekonomi islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah ekonomi rakyat yang di ilhami oleh nilai-nilai islam. Sementara itu, H. Halide berpendapat bahwa yang di maksud dengan ekonomi islam ialah kumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang dii simpulkan dari Al-Qur’an dan sunnah yang ada hubungannya dengan urusan ekonomi (dalam

(8)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0".

1249 (Mannan, 1997)).Sistem ekonomi islam adalah sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang di simpulkan dari Al-Qur’an dan sunnah, dan merupakan bangunan perekonomian yang di dirikan atas landasan dasar-dasar tersebut yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan masa. Menurut (Itang & Adib, 2017) prinsip- prinsip ekonomi islam antara lain adalah berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada manusia, islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu, kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama, ekonomi islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja, ekonomi islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang, seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti, zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab), serta islam melarang riba dalam segala bentuk(Itang & Adib, 2017). Adapun ciri-ciri ekonomi islam menurut (Itang & Adib, 2017) antara lain aqidah sebagai substansi (inti) yang menggerakkan dan mengarahhkan kegiatan ekonomi, syari’ah sebagai batasan untuk memformulasi keputusan ekonomi, akhlak berfungsi sebagai parameter dalam proses optimalisasi kegiatan ekonomi.

(9)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0"

1250 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Hermien Triyowati, Yolanda Masnita and Khomsiyah

Penelitian yang dilakukan (Hermien Triyowati, 2018) yang berjudul

“toward ‘sustainable development’ through zakat-infaq-sadaqah distributions – as inclusive activities – for the development of social welfare and micro and small enterprises” menunjukkan bahwa variable ZIS atau dapat diproksikan dengan zakat (obligatory alms), infaq (donations) dan sadaqah (alms) mampu mempengaruhi secara positif kesejahteraan masyarakat dan pengembangan UMKM.

Adanya pengaruh kegiatan inklusi melalui peningkatan distribusi ZIS kesejahteraan masyarakat dan pengembangan UMK, serta hubungannya dengan manusia pembangunan di Indonesia. Ini berarti kegiatan inklusi lembaga ZIS berkontribusi kesejahteraan masyarakat dan pengembangan UMK. Ini juga memainkan peran dan merupakan faktor dominan dalam pembangunan manusia di Indonesia.

Selanjutnya, penelitian ini memberikan bukti tren menuju mencapai beberapa SDGs pada tahun 2030, melalui kegiatan inklusi yang dilakukan oleh lembaga ZIS. Berdasarkan ini, sudah saatnya bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia, yang sebagian besar adalah Muslim (sekitar 87,18% = 207.175.708 orang), 44 untuk memperhatikan serius implementasi manajemen ZIS. Studi empiris ini menunjukkan aktivitas inklusi ZIS lembaga, di bidang sosial, ekonomi dan keuangan, melalui distribusi zakat khususnya adalah instrumen sistem fiskal yang pro-kaum miskin dan sangat andal. Jadi, perhatian serius diperlukan dari pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan terkait ke dalam kegiatan lembaga ZIS, sehingga mereka dapat menjadi lebih efektif, efisien dan profesional, dan, di masa depan, menjadi lembaga ZIS berkelanjutan, yang akan membantu mencapai pembangunan berkelanjutan untuk Indonesia.

Hasil Penelitian Siti Lailatussufiani, M. Umar Burhan, Multifiah

Penelitian sebelumnya yang dilakukan (Siti Lailatussufiani, M. Umar Burhan, 2016) yang berjudul “The Utilization of Zakat, Infaq and Shadaqah for Community Empowerment (Case Study of BAZNAS West Nusa Tenggara Province)“ menunjukkan bahwa BASNAZ Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai

(10)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0"

1251 lembaga tepercaya di bawah naungan Negara yang mengelola ZIS dapat diproksikan dengan zakat (obligatory alms), infaq (donations) dan sadaqah (alms) mampu mempengaruhi secara positif pengembangan pemberdayaan masyarakat dalam bidang pendidikan dan kesehatan, serta sektor ekonomi. Peneliti menemukan

1) Pemberdayaan bagi individu di bidang pendidikan buat membantu yang membutuhkan dan miskin buat meningkatkan standar kualitas hidup yang akan datang, dimana itu akan mempengaruhi daya produksi seseorang perasaan bahwa orang yang berpendidikan lebih produktif daripada yg tidak berpendidikan;

2) Pemberdayaan untuk grup di bidang ekonomi buat mempertahankan maqhasid syariah pada bentuk menjaga properti sebab saat mereka mampu menjagakekayaan, yang diperlukansupayamenghalangi mereka dari karunia Kufur, untuk menaikanstandar hidup mereka secara keuangan, dan melahirkan penerima manfaat menguatkan sebagai lebih produktif secara ekonomi dan independen; serta

3) Pemberdayaan bagi individu di sektor kesehatan untuk memenuhi kebutuhan primer kaum miskin serta yang membutuhkan pada bentuk akses untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pemeliharaan kesehatan, sebab kesehatan artinya keadaan eksistensi tubuh dan jiwa yang memungkinkan orang miskin serta melarat buat hidup produktif secara sosial serta ekonomi.

Hasil Penelitian Muhammad Zaid Alaydrus dan Tika Widiastuti

Penelitian sejalan juga ditemukan Alaydrus, M. dan Tika (2016) yang berjudul “the effect of productive zakah, infaq and shadaqah to the growth of micro-enterprises and welfare mustahiq in pasuruan” menunjukkan bahwa variable ZIS dapat diproksikan dengan zakat (obligatory alms), infaq (donations) dan sadaqah (alms) mampu mempengaruhi secara positif variabel mikro dan variabel kesejahteraan Bazda mustahiq di Pasuruan. Peniliti yang mengungkapkan ZIS produktif dengan pengaruh signifikan pada pertumbuhan bisnis mikro mustahiq, artinya penambahan ZIS produktif berpengaruh sangat signifikan terhadap pertumbuhan usaha mikro mustahiq di Pasuruan di Jawa

(11)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0"

1252 Timur, penambahan ZIS produktif akan meningkatkan pertumbuhan perusahaan mikro.

Distribusi Dalam Sistem Ekonomi Indonesia Sekarang Dan Seharusnya Menurut Islam

Menurut (Sholahuddin, 2007) mengungkapkan kesenjangan dan kemiskinan pada dasarnya muncul karena adanya mekanisme distribusi yang tidak berjalan dan adanya tahapan distribusi di Indonesia saat ini masih ada campur tangan pemerintah. Kesalahan di Era Kontemporer seperti saat ini menjalankan system ekonomi yang menyebabkan munculnya praktik monopoli dan individualis sekaligus rusaknya pengelolaan hak milik pribadi, milik umum dan negara (Sholahuddin, 2007). Adapun tahapan skema distribusi dalam system ekonomi Indonesia saat ini seperti dibawah ini:

Gambar 2. Mekanisme Distribusi Sistem Ekonomi Indonesia saat ini

Sumber: Diadaptasi dari Perkuliahan Ekonomi Islam dengan Dosen (Sholahuddin, 2019)

Skema diatas dapat diinterpretasikan dengan adanya campur tangan pemerintah mengakibatkan adanya masalah ekonomi yang ditimbulkan seperti adanya harga yang tinggi, adanya persepsi negative seperti adanya kesenjangan social, adanya hutang yang semakin tinggi dikarenakan adanya pemain elit yang mempunyai kewenangan dalam mengimpor bahan-bahan baku yang mengakibatkan hutang jangka panjang yang tinggi namun tidak diimbangi dengan pendapatan pemerintah, pendapatan yang sedikit/ rendah mengakibatkan kaum masyarakat bawah yang merasakan dengan adanya pembengkakan pembayaran dalam lingkup rumah tangga seperti biaya pajak, biaya BPJS.

(12)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0"

1253 Dengan demikian kondisi kesenjangan kekayaan yang lebar di tengah- tengah masyarakat harus segera diatasi dengan menerapkan keseimbangan ekonomi melalui mekanisme distribusi. Dalam islam mewajibkan terjadinya sirkulasi kekayaan pada semua anggota masyarakat dan mencegah terjadinya sirkulasi kekayaan hanya pada segelintir orang(Rufus B. Akindola, 2010). Allah swt berfirman:

Supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang- orang kaya saja di antara kamu. (QS Al-Hasyr:7). Apabila kesenjangan yang lebar antarpribadi dalam memnuhi kebutuhan-kebutuhannya, atau di dalam masyarakat terjadi kesenjangan karena mengabaikan hukum-hukum islam, maka negara harus memecahkannya dengan mewujudkan keseimbangan dalam masyarakat dengan cara memberikan harta negara kepada orang-orang yang memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhannya. Hal ini perlu dibenahi dengan merubah system distribusi system ekonomi islam yang mana dicirikandengan adanya hidup sederhana, adanya peran zakat, infaq, shodaqoh, waaf, hibah dan hadiah dalam kehidupan sehari-hari, adanya larangan menimbun harta, larangan korupsi yang akan merugikan masyarakat(Mannan, 1997).

KESIMPULAN

Pembahasan review jurnal terdahulu dapat disimpulkan akad social saat ini memerlukan perhatian yang sangat serius dan sangat diperlukan dari pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan terkait ke dalam kegiatan lembaga ZIS, sehingga mereka dapat menjadi lebih efektif, efisien dan profesional, dan, di masa depan, menjadi lembaga ZIS berkelanjutan, yang akan membantu mencapai pembangunan berkelanjutan untuk Indonesia. Seperti kita ketahui bersama pemberdayaan orang miskin bisa dilakukan berdasarkan potensi zakat, infaq dan shodaqoh di setiap daerah. Jika potensi ZIS itu melimpah dibandingkan dengan tingkat kemiskinan, ZIS dapat bertindak sebagai subsidi silang di negara lain kabupaten memiliki kebutuhan yang lebih besar untuk itu di masa era kontemporer saat ini.

Saran

(13)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0"

1254 1. Pemerintah semstinya proaktif dalam penghimpunan dana dan penyaluran dana secara professional transparan. Sehingga pemerintah menjadi kredibel atau dapat dipercaya menjadi lembaga terpercaya dalam mengurangi tingkat kemiskinan yang merata di Indonesia

2. Dapat menambahkan variable akad social seperti hibah, wakaf, hadiah DAFTAR PUSTAKA

Al Jahri, M. (2017). Gaps in the Theory and Practice of Islamic Economics.

Journal of King Abdulaziz University: Islamic Economics, 26(01).

Alaydrus, M.Z, dan Tika. (2016). The effect of productive zakah, infaq and shadaqah to the growtmicro-enterprises and welfare mustahiq in pasuruan. Journal of Islamic Economic Science, 1(1).

Badan Pusat Statistik. (2017). Jumlah dan Prosentase Penduduk Miskin 1998- 2017.

Habib, A. (2016). The principle of zakat, infaq, and shadaqah accounting based sfas 109. Journal of Accounting and Bussines, 1(1).

Hayati, K. dan I. (2011). “zakat potential as a means to overcome poverty (a study in lampung).”. Journal of Indonesian Economy and Business, 26(2), 188–

200.

Hermien Triyowati, Y. M. and K. (2018). Toward ‘Sustainable Development’

through Zakat-Infaq-Sadaqah Distributions – As Inclusive Activities – For the Development of Social Welfare and Micro and Small Enterprises.

Australian Journal of Islamic Studies, 3(1).

Itang & Adib. (2017). System Economic Kapitalisme, Sosialisme, and Islamic.

Islamic Journal, Community and Culture, 18(1).

Kahf, M. (1997). “Potential Effects Of Zakat on Government Budget. IIUM Journal of Economics and Management, 5(1), 67–85.

Mannan, A. (1997). Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf.

Rufus B. Akindola. (2010). Towards a Definition of Poverty: Poor People’s

(14)

PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL

“Tantangan Penyelenggaran Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0"

1255 Perspectives and Implications for Poverty Reduction. Journal of Developing Societies.

S. Ramphoma. (2014). Understanding poverty : causes, effects and characteristics. Interdisciplinary Journal, 1(1).

Sholahuddin, M. (2007). Asas-Asas Ekonomi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sholahuddin, M. (2019). Perkuliahan Ekonomi Islam Pada Tanggal 10 Oktober 2019. Surakarta: Program Studi Manajemen.

Siti Lailatussufiani, M. Umar Burhan, M. (2016). The Utilization of Zakat, Infaq and Shadaqah for Community Empowerment (Case Study of BAZNAS West Nusa Tenggara Province). International Journal of Business and Management Invention., 5(10).

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Namun para penderita astigmatisma pada umumnya hanya menggunakan lensa kontak spheris dan jarang menggunakan lensa kontak torik yang telah didesain khusus untuk menanggulangi

Dari hasil pengamatan diperoleh kondisi kelas yang akan diteliti sebelum diberi tindakan dengan model pembelajaran Project Based Learning, yaitu keaktifan belajar siswa

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa secara keseluruhan uji kecocokan model ini dapat diterima, dilihat dari variabel kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa melaksanakan Walimatul „Ursy dengan hiburan musik dangdut itu hukumnya boleh, selama terhindar dari unsur unsur yang di larang dalam

penggunaan metode TGT dan kelas XI IIS 2 sebagai kelas dengan menggunakan metode STAD. Sampel penelitiann diambil dengan teknik multistage cluster random

Likuiditas berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan risiko adalah sesuai dengan teori sinyal, bahwa manajer perusahaan yang memiliki tingkat likuiditas yang

Peran pemerintah daerah Kabupaten Hal- mahera Barat dalam pemberdayan masyara- kat melalui pengembangn pariwisata, khusunya Panorama Pantai Disa, Kec. Sahu dilakukan

Dari hasil analisis pada tiap variabel menunjukkan bahwa karyawan PT XYZ Surabaya sudah memiliki komitmen organisasional, kepuasan kerja, dan orga-