NASKAH PUBLIKASI
Oleh
DWI CESARIA SITORUS 147011005 / M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
NASKAH PUBLIKASI
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
DWI CESARIA SITORUS 147011005 / M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S., C.N Anggota : 1. Dr. T. Keizerina Devi Azwar. S.H., C.N., M.Hum
2. Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.A 3. Dr. Dedi Harianto, S.H., M.Hum 4. Notaris Syafnil Gani, S.H., M.Hum
Nama : Dwi Cesaria Sitorus
Nim : 147011005
Program Studi : Magister Kenotariatan
Untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dengan ini menyetujui memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non exclusive, royalty free right) untuk mempublikasikan tesisi saya yang berjudul :
KEPASTIAN HUKUM SERTIPIKAT HAK ATAS TANAH YANG
DITERBITKAN KANTOR PERTAHANAN PADA SAAT HAKNYA
MASIH DALAM PROSES PERADILAN (STUDI PUTUSAN
PENINJAUAN KEMBALI MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 506/PDT/2010 TANGGAL 31 MEI 2011)
Dengan Hak Bebas Royalti Non Ekslusif ini, Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media / memformatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data, merawat dan mempublikasikaan tesis saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian persetujuan publikasi ini saya buat dengan sebenarnya.
Medan,
Yang menyatakan
Dwi Cesaria Sitorus
dihadapan hukum. Jenis penelitian hukum normatif dengan menggunakan metode pendekatan yuridis dengan spesifikasi penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif analitis yang bertitik tolak dari sumber data sekunder. Hasil alat pengumpulan data berupa studi kepustakaan dan wawancara.
Kekuatan hukum dari kepemilikan atas tanah yang telah bersertifikat didasarkan atas pendaftaran tanah yang diselenggarakan dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan dan sistem publikasinya adalah sistem negatif yang mengandung unsur-unsur positif, karena akan menghasilkan surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat bukti yang kuat.
Faktor-faktor penyebab sengketa tanah bersertifikat berdasarkan kasus di dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011 antaranya adalah faktor ketentuan hukum peraturan perundang-undangan, faktor sumber daya manusia yang dikarenakan keterbatasan kemampuan manusia yang mengakibatkan tatanan administrasi pertanahan akan dapat mengakibatkan persengketaan, sehingga lalai dalam melakukan tugas dan pekerjaan yang semestinya sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh undang-undang, dan faktor teknis yang meliputi pengukuran, pemetaan, dan pemubukuan tanah dengan pendaftaran hak-hak atas tanah serta pemberian surat tanda bukti hak.
Berdasarkan fakta hukum di persidangan dalam perkara di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, terbukti bahwa Arifin Wijaya (Tergugat) telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad) dan dihukum untuk mengosongkan/menyerahkan tanah seluas 22.943,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) yang terletak di Propinsi Sumatera Utara, Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Perbaungan, Desa Lubuk Bayas.
Kata Kunci : Kekuatan hukum tanah bersertifikat hak milik, faktor penyebab sengketa tanah, dan kepastian hukum sertifikat hak atas tanah
descriptive analytic approach, starting of secondary data which were gathered by conducting library study and interviews.
Legal force on certified land ownership is based on land registration is intended to give the guarantee of legal certainty in land affairs, ad its publication system is negative system which contains positive elements which produce affidavit documents as evidence.
The enabling factors of dispute in certified land in the Supreme Court’s Ruling No. 506 PK/Pdt/2010 on May 31, 2011 are the factor of legal certainty of legal provisions, the factor of human resources since man’s capacity is limited which so that administrative structure can cause dispute, and they neglect their tasks according to the procedures stipulated by law. The technical factors include surveying, mapping, registering, and handing over land certificates.
Based on legal fact in the hearing in the Lubuk Pakam District Court, it was found that Arifin Wijaya (defendant) has violated against law (onrechtmatige daad) and is punished by clearing out/handing over land in the area of 22,943.73 m2 (twenty two thousand nine hundred forty five point seventy three square meters), located in North Sumatera Province, Deli Serdang, Perbaungan Sub- district, Lubuk Bayas Village.
Keywords : Legal Force on Certified Land, Enabling Factors of Land Dispute, Legal Certainty of Land Right Certificate
selama proses penulisan tesis ini sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan baik.
Penulisan tesis yang berjudul “Kepastian Hukum Sertifikat Hak Atas Tanah Yang Diterbitkan Kantor Pertanahan Pada Saat Haknya Masih Dalam Proses Peradilan (Studi Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011)” ini ditujukan untuk memberikan informasi kepada para pembaca mengenai kepastian hukum sertifikat hak atas tanah yang diterbitkan kantor pertanahan pada saat haknya masih dalam proses peradilan. Selain itu, penulisan tesis ini juga ditujukan untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar Magister Kenotariatan (M.Kn.) di Universitas Sumatera Utara.
Penulisan tesis ini tidaklah terlepas dari ketidaksempurnaan sehingga penulis berharap agar semua pihak dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi menghasilkan sebuah karya ilmiah yang lebih baik dan lebih sempurna lagi baik dari segi substansi maupun cara penulisannya.
Secara khusus, penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis, Drs. Djonny Sitorus dan Doxa Butar-Butar, yang tidak pernah berhenti memberikan dukungan, doa, dan kasih mereka kepada penulis.
Teristimewa juga penulis ucapkan terima kasih kepada suami penulis, Pangeran Rolando Gultom, S.T., yang tiada hentinya memberikan dukungan, doa, dan kasih sayang kepada penulis. Kepada anakku, Amoreiza Stephanie Gultom, yang senantiasa mendoakan penulis dalam penyelesaian tesis ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman tercinta penulis, yaitu Lamhot Henrianto Sigiro, S.H., M.Kn., Yenta Iasika Simanjuntak, S.H., M.Kn., Ellys Novita Banjarnahor, S.H., M.Kn., yang selalu mendukung dan menyemangati penulis dalam penulisan tesis. Dengan berbekal pendidikan yang penulis tempuh selama ini dapat membahagiakan dan membanggakan keluarga tercinta.
Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menjadi Mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, S.H., C.N., M.Hum, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Dosen Pembimbing II, yang menyetujui pengangkatan judul tesis ini dan telah banyak memberikan saran dan pengarahan kepada penulis selama mengikuti dan menuntut ilmu pengetahuan di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.A., selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Dosen Pembimbing III, yang juga banyak memberikan masukan dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan tesis ini.
5. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S., C.N., selaku Dosen Pembimbing I, atas segala dedikasi dan pengarahan, serta masukan kepada penulis selama mengikuti dan menuntut ilmu pengetahuan di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
6. Bapak Dr. Dedi Harianto, S.H., M.Hum., selaku Dosen Penguji yang juga banyak memberikan masukan dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan tesis ini.
7. Bapak Notaris Syafnil Gani, S.H., M.Hum., selaku Dosen Penguji yang juga banyak memberikan masukan dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan tesis ini.
8. Bapak dan Ibu Staff Pengajar Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmunya dan
Sitepu, S.H. dan Lisda Sagala, S.H., yang telah banyak memberikan motivasi kepada penulis baik berupa masukan dan dukungan dalam penulisan tesis ini.
10. Para Pegawai Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dan memberi kemudahan administrasi kepada penulis selama mengikuti Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulis berdoa atas bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari Tuhan Yesus Kristus. Akhirnya penulis berharap tesis ini bermanfaat bagi kita semua di bidang hukum demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia. Amin.
Medan, Februari 2019 Penulis
Dwi Cesaria Sitorus, S.H.
Tempat/Tanggal Lahir : Jayapura, 19-02-1990
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Perumahan Pondok Indah Jatisari
Blok K 1 No. 15 Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi
Agama : Kristen Protestan
Status Perkawinan : Kawin
Pekerjaan : Mengurus Rumah Tangga
Kewarganegaraan : WNI
Nama Suami : Pangeran Rolando Gultom
Nama Anak : Amoreiza Stephanie Gultom
Nama Ayah : Drs. Djonny Sitorus
Nama Ibu : Doxa Butar-Butar
II. PENDIDIKAN
Taman Kanak-kanak : TK Barunawati Jayapura (1994-1995) Sekolah Dasar : SD Swasta Kartika 1-5 Medan (1996-
2002)
Sekolah Menengah Pertama : SMP Swasta Santo Thomas 3 Medan (2002-2005)
Sekolah Menengah Atas : SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan (2005-2008)
Program Studi Strata-1 : Program Studi Ilmu Hukum
Universitas Sumatera Utara (2008-2012) Program Studi Strata-2 : Program Studi Magister Kenotariatan
Universitas Sumatera Utara (2014-2019)
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI... vii
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Manfaat Penelitian ... 12
E. Keaslian Penulisan ... 13
F. Kerangka Teori dan Konsepsi... 14
1. Kerangka Teori ... 14
2. Konsepsi ... 17
G. Metode Penelitian... 18
1. Metode Pendekatan ... 19
2. Spesifikasi Penelitian ... 19
3. Sumber Data ... 19
4. Alat Pengumpulan Data ... 20
5. Teknik Analisis Data ... 21
BAB II KEKUATAN HUKUM KEPEMILIKAN TANAH BERSERTIFIKAT ... 23
A. Pengaturan Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik... 23
1. Dasar Hukum Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik ... 24
2. Syarat-syarat Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik... 26
B. Kekuatan Hukum Kepemilikan Atas Tanah Yang Telah Bersertifikat... 28
1. Kepemilikan Atas Tanah Bersertifikat... 35
Hak Milik ... 53
B. Upaya Penyelesaian Sengketa Atas Tanah Hak Milik... 64
BAB IV KEPASTIAN HUKUM SERTIFIKAT HAK ATAS TANAH ... 74
A. Tugas Kantor Pertanahan Di Lingkungan Kabupaten Serdang Bedagai... 74
B. Kepastian Hukum Sertifikat Hak Atas Tanah Terhadap Putusan Pengadilan ... 80
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 95
A. Kesimpulan ... 95
B. Saran ... 96
DAFTAR PUSTAKA ... 98
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pembangunan, peranan tanah untuk pemenuhan berbagai keperluan akan meningkat baik sebagai tempat bermukim maupun untuk kegiatan usaha.
Sehubungan dengan itu akan meningkat pula kebutuhan mengenai jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan. Pendaftaran tanah, sebagai pelaksanaan Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memberikan jaminan kepastian hukum.
Jaminan kepastian hukum tersebut meliputi : jaminan kepastian hukum mengenai orang atau badan hukum yang menjadi pemegang hak (subjek hak atas tanah); jaminan kepastian hukum mengenai letak, batas, dan luas suatu bidang tanah (objek hak atas tanah); dan jaminan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanahnya.1
Jaminan kepastian hukum mengenai orang atau badan hukum yang menjadi pemegang hak, dimana harus dilakukan dengan pengumuman mengenai subjek yang menjadi pemegang hak yang dikenal dengan sebagai asas publisitas dengan maksud agar masyarakat luas dapat mengetahui tentang subjek dan objek atas satu bidang tanah. Adapun implementasi dari asas publisitas ini adalah dengan mengadakan pendaftaran tanah.
1A.P Parlindungan, Komentar Undang-Undang Pokok Agraria, (Bandung: Mandar Maju, 1993), hlm. 15.
Jaminan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan tujuan pokok diberlakukannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (selanjutnya disebut sebagai Undang-Undang Pokok Agraria). Ada 2 upaya untuk mewujudkan kepastian hukum tersebut, yaitu:
1. Menyediakan perangkat hukum yang tertulis, lengkap, dan jelas.
2. Menyelenggarakan pendaftaran tanah yang memungkinkan bagi pemegang hak atas tanah untuk membuktikan hak atas tanah yang dikuasainya dan bagi pemerintah untuk melaksanakan kebijakan pemerintah.2
Jaminan kepastian hukum mengenai objek hak atas tanah sangat erat kaitannya dengan kegiatan pengukuran dan pemetaan tanah yang menghasilkan data fisik. Data fisik yang dihasilkan dari pengukuran bidang-bidang tanah tersebut kemudian dipetakan ke dalam Peta Dasar Pendaftaran ataupun Peta Pendaftaran. Oleh karena itu, peta-peta yang dihasilkan harus dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai letak bidang-bidang tanah yang tergambar didalamnya terhadap bidang-bidang tanah yang ada dalam satu wilayah.
Selama ini, masalah pertanahan khususnya yang terkait dengan kegiatan pengukuran dan pemetaan tanah sangat mudah terjadi. Salah satu penyebab permasalahan tersebut adalah banyaknya peta yang digunakan oleh suatu kantor pertanahan untuk memetakan bidang-bidang tanah yang terdaftar sehingga kepastian letak suatu persil atau bidang tanah menjadi tidak terjamin.
Permasalahan tersebut dapat diatasi apabila ada kepastian data mengenai bidang-
2Urip Santoso, Pendaftaran dan Peralihan Hak Atas Tanah, Cet. 2, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 2.
bidang tanah yang terdaftar pada kantor pertanahan. Untuk menciptakan kepastian mengenai bidang-bidang tanah yang terdaftar tersebut harus dibangun satu sistem peta pendaftaran secara tunggal. Dengan peta tunggal, setiap bidang tanah yang terdaftar hanya akan dipetakan pada satu peta untuk satu wilayah dalam lokasi yang bersangkutan.
Berikut kepastian haknya, dalam rangka melaksanakan ketentuan Undang- Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok-Pokok Agraria atau yang lebih kita kenal dengan singkatan UUPA, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1961 direvisi dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 1997 yang dalam masyarakat lebih dikenal dengan singkatan PP 24/1997 yang mempunyai kedudukan sangat strategis dan menentukan, bukan hanya sekedar sebagai pelaksana ketentuan Pasal 19 UUPA, tetapi lebih dari itu ia menjadi tulang punggung yang mendukung berjalannya administrasi pertanahan dan hukum pertanahan.3
Ketentuan ini sebenarnya sudah cukup jauh menjabarkan berbagai prinsip politik hukum pertanahan, sehingga melalui peraturan tersebut diharapkan akan dapat terwujud adanya kepastian hukum dalam masyarakat.
Namun, semenjak ditetapkan pada tanggal 25 Maret 1961 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1961 dan direvisi dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah hingga saat ini masih belum berjalan efektif untuk seluruh wilayah Indonesia. Penetapan berlakunya yang dibuat secara bertahap untuk
3Abdurrahman, Kedudukan Hukum Adat dalam Perundang-Undangan Agraria, (Jakarta:
Akademika Presindo, 2003), hlm. 194.
berbagai daerah di Indonesia kelihatannya lebih banyak bersifat formal, sedangkan dalam realita ternyata tidak semulus yang dibayangkan orang, masih terdapat banyak persoalan problematik kepastian hukum kepemilikan atas tanah yang telah bersertifikat Hak Milik.
Walaupun sudah dilakukan berbagai upaya didalam memberikan kepastian hukum terkait pada objek pertanahan, namun masih ada saja sengketa yang terjadi, yang dalam hal ini dapat dilihat di dalam kasus-kasus pertanahan.
Kasus-kasus pertanahan ini dapat menyebabkan ketidakpastian hukum dalam haknya dan juga menimbulkan permasalahan dalam perlindungan hukum bagi pemegang haknya, sehingga ada putusan hukum yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Terhadap tanah yang masih sengketa/dalam proses hukum, seharusnya tidak bisa dilakukan/diteruskan proses penetapan haknya, sesuai ketentuan Pasal 45 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Untuk lebih fokus dalam tesis ini, akan dicermati suatu kasus pertanahan melalui studi kasus dari Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011 terkait dengan kepastian hukum atas tanah yang telah bersertifikat Hak Milik.
Bahwa Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3482 K/Pdt/2002 Tanggal 11 Juli 2005 yang telah membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Sumatera Utara di Medan Nomor 4/PDT/2002/PT-MDN. tanggal 25 Maret 2002 yang telah membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 10/PDT.G/2001/PN.LP. tanggal 18 April 2001, dibatalkan pula oleh Mahkamah
Agung Republik Indonesia dengan dikeluarkannya putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011.4
Pada tanggal 10 Agustus 1995, Arifin Wijaya menyewa lokasi tanah tersebut dari Almarhum Haji Iskak Idris, BA. (orang tua pemohon) dengan perjanjian masa sewa selama 3 (tiga) tahun yang berakhir pada tanggal 3 September 1998 dengan harga sewa sebesar Rp. 1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah)/bulan. Setelah perjanjian sewa-menyewa berakhir, pemohon meminta agar Arifin Wijaya mengosongkan/meninggalkan tanah tersebut, namun Arifin Wijaya meminta tangguh karena usahanya sedang macet sehubungan dengan krisis moneter dan berjanji secara lisan akan melakukan pembayaran uang sewa sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu)/bulan.
Pada tanggal 30 Oktober 2000, salah satu Ahli Waris Almarhum Haji Iskak Idris, BA., yang bernama Yani Fahrizal, Sarjana Hukum mendapat panggilan dari Kepolisian Ressort Deli Serdang Nomor Polisi:
S.Pgl/1114/X/2000/Serse, dalam perkara penggelapan dan penipuan dimana Yani Fahrizal, Sarjana Hukum ditetapkan sebagai tersangka sehubungan dengan pengaduan Arifin Wijaya kepada pihak Kepolisian Ressort Deli Serdang tentang dugaan penipuan dan penggelapan surat-surat hak kepemilikian tanah Arifin Wijaya sebagaimana yang diatur dalam Pasal 378 jo. 372 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, namun karena pengaduan Arifin Wijaya tersebut tidak didukung oleh bukti yang kuat, maka perkara pidana tersebut tidak dapat dilanjutkan.
4 Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011.
Kemudian Ahli Waris Almarhum Haji Iskak Idris, BA., mengajukan gugatan perdata kepada Arifin Wijaya yang didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam dan terhadap perkara perdata tersebut telah ada putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewisjde) sebagaimana Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 10/Pdt.G/2001/PN.LP. tanggal 18 April 2001 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor 04/Pdt/2002/PT-MDN. tanggal 25 Maret 2002 jo. Putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3482 K/PDT/2002 tanggal 11 Juli 2005, antara Yani Fahrizal, Sarjana Hukum, dan kawan-kawan selaku Ahli Waris dari Almarhum Haji Iskak Idris, BA. (Penggugat) melawan Arifin Wijaya (Tergugat), yang amarnya yaitu menolak Eksepsi Tergugat; menyatakan Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad); menyatakan
sah dan berharganya Sita Jaminan dengan Nomor
05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP., yang telah dilaksanakan menurut Berita Acara Sita Jaminan Nomor 05/CB/2001/10/PDT/G/2001/PN.LP.; memutuskan Sewa-Menyewa Tanggal 10 Agustus 1998 antara Haji Iskak Idris, BA. dengan Tergugat dan menyatakan tidak berlaku lagi; menghukum Tergugat mengosongkan/menyerahkan tanah seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) yang terletak di Propinsi Sumatera Utara, Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Perbaungan, Desa Lubuk Bayas; menghukum Tergugat membayar tunggakan uang sewa sejak Tanggal 03 Maret 1998 sampai dengan Bulan Januari 2001 Sebesar Rp. 500.000,- x 35 Bulan = Rp. 17.500.000,- (tujuh belas juta lima ratus
ribu rupiah) kepada Penggugat-Penggugat; menghukum Tergugat Dalam Konpensi/Penggugat Dalam Rekonpensi untuk membayar segala ongkos yang timbul dalam perkara ini yang hingga kini ditaksir sejumlah Rp. 629.000,- (enam ratus dua puluh sembilan ribu rupiah).
Terhadap putusan pengadilan tersebut, Arifin Wijaya mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan alasan adanya putusan yang saling bertentangan antara Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 10/Pdt.G/2001/PN.LP. jo. Nomor 04/Pdt/2002/PT-MDN. jo.
Nomor 3482 K/PDT/2002 dengan putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 170/Pdt.G/2000/PN.LP jo. Nomor 128/Pdt/2002/PT.MDN.
Mahkamah Agung Republik Indonesia telah memeriksa dan memutus perkara ini di tingkat Peninjauan Kembali sebagaian putusan Nomor 506 PK/PDT/2010 tanggal 31 Mei 2011 yang amarnya, yaitu: menolak permohonan Peninjauan Kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali, Arifin Wijaya tersebut.
Pertimbangan hukum Hakim Agung dalam memutus perkara ini di tingkat Peninjauan Kembali yakni alasan Peninjauan Kembali yang diajukan oleh Arifin Wijaya tidak dibenarkan.
Pada saat proses pemeriksaan perkara perdata antara Ahli Waris Almarhum Haji Iskak Idris, BA. dengan Arifin Wijaya sedang berlangsung di pengadilan dan tanah yang menjadi objek perkara seluas 22.945,73 m2(dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) masih berstatus sita jaminan (conservatoir beslag) sebagaimana yang tertuang dalam Penetapan Nomor 05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP. tanggal 05 April
2001, yang telah dilaksanakan menurut Berita Acara Sita Jaminan Nomor 05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP. tanggal 06 April 2001, sebagian bidang tanah terperkara tersebut justru dimohonkan haknya ke Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai oleh Arifin Wijaya, Ade Junius Wijaya, dan Salmah.
Berdasarkan Berita Acara Eksekusi Nomor
19/Eks/2013/10/Pdt.G/2001/PN.LP. Tanggal 11 Maret 2014 di Desa Lubuk Bayas, tanah objek perkara seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) telah dieksekusi oleh Pengadilan Lubuk Pakam, dimana penguasaan fisik bidang tanah yang semula dipegang oleh Arifin Wijaya kini telah diserahkan dan beralih kepada pemenang perkara yakni Ahli Waris Almarhum Haji Iskak Idris, BA.
Selanjutnya, Ahli Waris Almarhum Haji Iskak Idris, BA. selaku pemenang perdata Nomor 10/Pdt.G/2001/PN.Lp. jo. Nomor 04/Pdt/2002/PT-MDN. jo. 3482 K/PD/2002 jo. Nomor 506 PK/PDT/2010 mengajukan permohonan pembatalan terhadap Sertipikat Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas atas nama Arifin Wijaya kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai yang diperkirakan telah diterbitkan diatas tanah seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) yang telah dieksekusi oleh pengadilan berdasarkan Berita Acara Eksekusi Nomor 19/Eks/2013/10/Pdt.G/2001/PN.LP. tanggal 11 Maret 2014.
Untuk menindaklanjuti permohonan pembatalan dari Ahli Waris Almarhum Haji Iskak Idris, BA. dan memastikan Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas yang dimohonkan pembatalannya berada di atas tanah yang telah
dieksekusi oleh Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, maka Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai selanjutnya melakukan peninjauan lapangan untuk meneliti permohonan pembatalan tersebut.
Berdasarkan penunjukan Iskndar Yuarsa (salah satu ahli waris Almarhum Haji Iskak Idris, BA.) dan Kepala Desa Lubuk Bayas telah dilakukan penelitian lapangan terhadap objek tanah yang telah dieksekusi oleh pengadilan sebagaimana Berita Acara Eksekusi Nomor 19/Eks/2013/10/Pdt.G/2001/PN.LP. Tanggal 11 Maret 2014 yang tertuang dalam Berita Acara Peninjauan Lapangan Nomor 02/BAPL/III/2015 tanggal 11 Maret 2015, dimana dari hasil penelitian tersebut terdapat 7 (tujuh) buah sertifikat hak milik yang telah terbit diatas objek tanah yang ditinjau, masing-masing sebagai berikut:
1. Sertipikat Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas tanggal 12 Mei 2006 atas nama Arifin Wijaya, seluas 11.987 m2;
2. Sertipikat Hak Milik Nomor 419/Lubuk Bayas atas nama Ade Junius Wijaya yang telah dimatikan haknya dan dipecah menjadi 4 (empat) buah sertifikat, yakni:
a. Sertipikat Hak Milik Nomor 422/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 82 m2;
b. Sertipikat Hak Milik Nomor 423/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Sugiarto, seluas 84 m2;
c. Sertipikat Hak Milik Nomor 424/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 93 m2;
d. Sertipikat Hak Milik Nomor 425/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 84 m2;
3. Sertipikat Hak Milik Nomor 461/Lubuk Bayas tanggal 02 Agustus 2011 atas nama Salmah, seluas 5.536 m2;
4. Sebagian Hak Milik Nomor 460/Lubuk Bayas tanggal 02 Agustus 2011 atas nama Salmah seluas 1.111 m2dari luas keseluruhan yakni 3.016 m2. Pada tanggal 17 Juni 2015 dilaksanakan gelar kasus internal di Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai untuk menindaklanjuti permohonan pembatalan sertifikat hak milik yang diajukan oleh pemohon dimana pada saat itu dilakukan perbandingan dan penyesuaian terhadap bentuk peta/gambar tanah dan batas-batas antara bidang tanah yang diletakkan sita sebagaimana yang tertuang
pada lampiran Berita Acara Sita Jaminan Nomor
05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP. tanggal 06 April 2001 dengan Sket Lokasi Berita Acara Peninjauan Lapangan Nomor 02/BAPL/III/2015 tanggal 11 Maret 2015, perbandingan dan penyesuaian juga dilakukan pada dan Sket Gambar Tanah Akte Penyerahan/Ganti Rugi yang disahkan oleh Camat Perbaungan Nomor 120-/Pr/1994 tanggal 24 Maret 1994, hasilnya sebagaimana yang tertuang dalam Berita Acara Gelar Kasus Nomor 01/SKP/2015 tanggal 17 Juni 2015, di atas tanah objek perkara telah terbit 6 (enam) buah sertifikat hak milik, masing- masing sebagai berikut:
1. Sertipikat Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas tanggal 12 Mei 2006 atas nama Arifin Wijaya, seluas 11.987 m2;
2. Sertipikat Hak Milik Nomor 422/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 82 m2;
3. Sertipikat Hak Milik Nomor 423/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Sugiarto, seluas 84 m2;
4. Sertipikat Hak Milik Nomor 424/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 93 m2;
5. Sertipikat Hak Milik Nomor 425/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 84 m2;
6. Sertipikat Hak Milik Nomor 461/Lubuk Bayas tanggal 02 Agustus 2011 atas nama Salmah, seluas 5.536 m2.
Sedangkan terhadap sebagian Hak Milik Nomor 460/Lubuk Bayas tanggal 02 Agustus 2011 atas nama Salmah, seluas 1.111 m2dari luas keseluruhan yakni 3.016 m2tidak termasuk dalam peta/gambar tanah yang diletakkan sita sebagaimana yang tertuang pada lampiran Berita Acara Sita Jaminan Nomor 05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN/LP. Tanggal 06 April 2001, disamping itu terdapat perbedaan batas bidang tanah yang ditunjuk dengan objek tanah yang disita.
Berdasarkan paparan di atas, maka penulis ingin mengadakan suatu penelitian yang akan dituangkan kedalam bentuk Tesis dengan judul:
“Kepastian Hukum Sertifikat Hak Atas Tanah Yang Diterbitkan Kantor Pertanahan Pada Saat Haknya Masih Dalam Proses Peradilan (Studi Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011)”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka penulis dapat mengajukan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kekuatan hukum dari kepemilikan atas tanah yang telah bersertifikat?
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya sengketa terhadap tanah yang telah diterbitkan sertifikatnya?
3. Bagaimana kepastian hukum sertifikat hak atas tanah terhadap putusan pengadilan yang memenangkan pihak lain?
C. Tujuan Penelitian
Mengacu kepada perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini diharapkan untuk:
1. Mengetahui kekuatan hukum dari kepemilikan atas tanah yang telah bersertifikat.
2. Menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya sengketa terhadap tanah yang telah diterbitkan sertifikatnya, upaya dan perlindungan dalam menyelesaikan sengketa atas tanah.
3. Mengetahui kepastian hukum sertifikat hak atas tanah terhadap putusan pengadilan yang memenangkan pihak lain.
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapakan akan memberikan manfaat:
1. Secara teoritis
a. Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh ujian untuk meraih gelar Magister Kenotariatan pada Sekolah Pasca Sarjana, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
b. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan cakrawala berpikir dalam bidang Pertanahan.
c. Menjadi bahan informasi bagi masyarakat untuk informasi dalam pelaksanaan pendaftaran tanah.
2. Secara praktis
Hasil penelitian ini dimaksudkan dapat bermanfaat bagi para pihak yang memiliki permasalahan di bidang pertanahan, maupun para praktisi hukum, serta mahasiswa hukum.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi yang diketahui dan data yang dimiliki serta penelusuran pendahuluan yang diadakan di kepustakaan khususnya di Sekolah Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas Sumatra Utara Medan, judul yang penulis angkat ini belum ada yang melakukan penelitian sebelumnya, walaupun pernah ada penelitian yang pernah dilakukan oleh Syafruddin, (017011081), Magister Kenotariatan Unversitas Andalas Sumatera Utara, dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Sertipikat Hak Atas Tanah”.
Oleh sebab itu proposal penelitian yang penulis ajukan ini adalah asli dan aktual serta orisinil, maka oleh karena itu penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Dalam penelitian ini perlu diletakkan suatu dasar kerangka teori guna dimaksudkan untuk mengemukakan beberapa teori berdasarkan referensi yang ada kaitannya dengan permasalahan dalam penulisan penelitian ini, sehingga kerangka teori ini diharapkan dapat melahirkan suatu pemahaman yang dapat diterima sebagai suatu landasan berfikir.
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa spesifik atau proses tertentu terjadi, dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, thesis mengenai sesuatu kasus atau permaslahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.5
Kerangka teori yang akan dijadikan pisau analitis dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum, yang dikemukakan oleh Sudikno Mertokusumo:
kepastian hukum adalah jaminan bahwa hukum dijalankan, bahwa yang berhak menurut hukum dapat memperoleh haknya dan bahwa putusan dapat dilaksanakan. Walaupun kepastian hukum erat kaitannya dengan keadilan, namun hukum tidak identik dengan keadilan. Hukum bersifat umum, mengikat setiap orang, bersifat menyamaratakan, sedangkan keadilan bersifat subjektif, individualistis, dan tidak menyamaratakan.6
5M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hlm. 80.
6 Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 2007), hlm.160.
Adanya kepastian hukum merupakan harapan bagi pencari keadilan terhadap tindakan sewenang-wenang dari aparat penegak hukum yang terkadang selalu arogansi dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum. Karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan tahu kejelasan akan hak dan kewajiban menurut hukum. Tanpa ada kepastian hukum maka orang akan tidak tahu apa yang harus diperbuat, tidak mengetahui perbuatannya benar atau salah, dilarang atau tidak dilarang oleh hukum. Kepastian hukum ini dapat diwujudkan melalui penormaan yang baik dan jelas dalam suatu undang-undang dan akan jelas penerapannya.
Dimulai dengan masalah tanah di Indonesia yang telah mendapat perhatian sangat luas dan mendalam dikalangan masyarakat, maka Pasal 19 UUPA memerintahkan diselenggarakannya pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum. Pendaftaran tanah tersebut kemudian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Pada tanggal 8 Juli 1997 dengan ditetapkannya dan diundangkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Lembaran negara Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 1997) sedangkan penjelasannya dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696.
Sebelumnya telah ada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1961, yang sejak tahun 1961 mengatur pelaksanaan pendaftaran tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria.
Pendaftaran hak atas tanah yang diselenggarakan bertujuan memberikan kepastian hak, yaitu:7
1. Untuk memungkinkan orang-orang yang memegang hak atas tanah untuk dapat dengan mudah membuktikan dirinya bahwa dialah yang berhak atas tanah tersebut, apa hak dipeganngnya, letak dan luas tanah.
2. Untuk memungkinkan kepada pihak siapapun guna dapat mengetahui dengan mudah hal-hal apa saja ia ingin ketahui berkenaan dengan sebidang tanah, misalnya calon pembeli tanah, calon kreditur dan lain sebagainya.
Pendaftaran tanah jelas bertujuan untuk memberikan kepastian hukum kepada pemegang haknya dan demikian juga kepada objek (luasnya dan batasnya), sehingga pemerintah maupun pihak yang berkepentingan dapat dengan mudah untuk mengetahui, oleh karena itu data-data yang disimpan di kantor pertanahan baik tentang subjek maupun objek hak atas tanah disusun sedemikian rupa dan diteliti agar dikemudian hari dapat memudahkan siapapun yang ingin melihat data-data tersebut, apakah itu calon pembeli ataukah kreditur ataukah pemerintah sendiri dalam rangka mempelancar setiap peralihan hak atas tanah atau dalam rangka pelaksanaan pembangunan oleh Pemerintah. Atas dasar hal tersebut di atas, maka tujuan pendaftaran tanah adalah untuk penyediaan data-data penggunaan tanah bagi pemerintah maupun untuk masyarakat demi terjaminnya kepastian hukum terhadap hak-hak atas tanah.
“Secara normatif, kepastian hukum memerlukan tersediannya perangkat peraturan perundang-undangan yang secara operasional mampu mendukung pelaksanaannya. Secara empiris, peraturan perundang-
7J.C.T. Simorangkir dan Woerjono Sasropranoto, Pelajaran Hukum Indonesia, (Jakarta:
Gunung Agung, 1989), hlm. 82-83.
undangan tersebut perlu dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen oleh sumber daya manusia pendukungnya”.8
Hukum harus ditempatkan pada posisi terdepan yang harus dapat memberikan suatu kepastian, yang harus mampu untuk membentuk pola prilaku warga masyarakat. Penggunaan hukum sebagai sarana kepastian semacam itu seringkali membawa konsekuensi terjadinya pertentangan-pertentangan di dalam pelaksanaannya. Munculnya hambatan pada implementasi hukum yang bersifat nasional, disebabkan antara lain oleh adanya perbedaan nilai-nilai yang terkandung di dalam hukum tertulis yang bersifat nasional tersebut dengan nilai- nilai yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat lokal.
2. Konsepsi
Konsep adalah salah satu bagian terpeting dari teori. Konsepsi diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut dengan operasional definition.9 Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Oleh karena itu, dalam penelitian ini didefenisikan beberapa konsep dasar agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu:
a. Hak Atas Tanah yaitu hak penguasaan atas tanah yang memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk memakai suatu bidang tanah tertentu untuk memenuhi kebutuhan pribadi atau usahanya.
8Irawan Soerodjo, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah di Indonesia, (Surabaya: Arloka, 2003), hlm. 177.
9Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagoi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 1993), hlm. 10.
b. Hak Milik yaitu hak yang dimiliki oleh seseorang untuk mempergunakan benda (tanah) atas kuasa dirinya sendiri yang diakui dan/atau atas seijin negara melalui pihak yang berwenang, atau hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah, dan dapat beralih atau dialihkan kepada pihak lain.
c. Sertifikat adalah surat keterangan dari orang yang berwenang dan dapat digunakan untuk keperluan tertentu, atau merupakan tanda bukti yang kuat selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya dari data fisik dan data yuridis yang tercantum di dalamnya yang harus diterima sebagai data yang benar.
d. Sengketa Tanah yang selanjutnya disingkat Sengketa adalah perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, badan hukum, atau lembaga yang tidak berdampak luas.10
G. Metode Penelitian
Didalam suatu penelitian, Ilmu Pengetahuan pada hakekatnya timbul karena adanya hasrat ingin tahu dalam diri manusia, yang mana hasrat keingintahuan tentang hal-hal ataupun aspek-aspek kehidupan yang masih gelap bagi manusia, sehingga manusia itu sendiri ada rasa ingin tahu tentang kebenaran dari pada kegelapan tersebut sehingga diadakanlah suatu penelitian akan hal tersebut. Jadi penelitian pada intinya merupakan sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk memperkuat, membina serta mengembangkan Ilmu pengetahuan di segala bidang.
10 Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas didalam penulisan tesis ini, digunakan metodologi tulisan sebagai berikut:
1. Metode Pendekatan
Jenis penelitian yang dipergunakan adalah penelitian normatif, yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma- norma dalam hukum positif.
Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif, dimana pendekatan terhadap permasalahan dilakukan dengan mengkaji berbagai aspek hukum. Metode penelitian hukum ini dilakukan dengan meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka.11
Penelitian lebih meliputi penelitian asas-asas hukum, sumber-sumber hukum, peraturan perundang-undangan, literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan, serta ditambah dengan data lainnya yang diperoleh dari wawancara.
2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif analitis, yaitu suatu penelitian yang akan menggambarkan, menelaah, menjelaskan dan menganalisa hukum, baik dalam bentuk teori maupun praktek dari hasil penelitian di lapangan.
3. Sumber Data
Dalam melaksanakan penelitian ini, data-data yang diperoleh dengan mengumpulkan data sekunder yang merupakan data yang diperoleh dari
11 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), (Jakarta: Rajawali Pers, 2001), hlm. 13-14.
dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian dalam bentuk laporan, skripsi, tesis, disertasi, dan peraturan perundang-undangan.
Untuk mendapatkan data yang akurat dan relevan, maka dalam penelitian ini dilakukan penelusuran data hukum berupa:12
a. Bahan Hukum Primer
1) Undang-Undang Pokok Agraria;
2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;
3) Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011, antara Arifin Wijaya melawan Yani Fahrizal, S.H., Yunita Iskak, S.E., Ir. Indra Jaya, Iskandar Yuarsa, dan Hj. Intan Julaika Iskak.
b. Bahan Hukum Sekunder 1) Teori-teori para ahli;
2) Peraturan perundang-undangan terkait,
3) Pendapat-pendapat yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
c. Bahan Hukum Tersier 1) Kamus Hukum;
2) Kamus Bahasa;
3) Jurnal.
4. Alat Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan dua alat pengumpulan data yakni:
12 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 2006), hlm. 163.
a. Studi Kepustakaan
Dalam memenuhi data primer, dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder yang terkait dengan permasalahan yang diajukan, dengan cara mempelajari buku-buku, hasil penelitian dan dokumen-dokumen perundang- undangan.
b. Wawancara
Dalam memenuhi data primer, dilakukan dengan wawancara dengan narasumber yang dianggap mengetahui dan memahami tentang permasalahan yang akan diteliti. Tipe wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak berstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan tidak dibatasi oleh waktu dan daftar urutan pertanyaan, tetapi tetap berpegang pada pokok penting permasalahan yang sesuai dengan tujuan wawancara.
Wawancara tidak terstruktur ini dimaksudkan agar memperoleh jawaban spontan dan gambaran yang lugas tentang masalah yang diteliti. Sifat wawancara yang dilakukan adalah wawancara terbuka, artinya wawancara yang subjeknya mengetahui bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui maksud dan tujuan wawancara tersebut. Diharapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalan diperoleh jawaban yang akan dianalisis lebih lanjut. Adapun nara sumber tersebut yakni pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah suatu hal yang sangat penting dalam suatu penelitian dalam rangka memberi jawaban masalah yang diteliti. Sebelum analisis
dilakukan, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang ada untuk mengetahui validitasnya.13
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dari penelitian kepustakaan (library research)14 yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif.
Setelah bahan hukum dikumpulkan dan diolah, kemudian secara kualitatif ditarik kesimpulannya dengan menggunakan metode berpikir deduktif (cara berpikir dalam penarikan kesimpulan yang ditarik dari sesuatu yang sifatnya umum yang sudah dibuktikan bahwa dia benar dan kesimpulan itu ditujukan untuk sesuatu yang sifatnya khusus).15
13Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineke Cipta, 1996), hlm. 68.
14Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1968), hlm. 201.
15Sedarmayanti dan Syarifudin Hidayat, Metodologi Penelitian, (Bandung: CV. Mandar Maju, 2002), hlm. 23.
BAB II
KEKUATAN HUKUM KEPEMILIKAN TANAH BERSERTIFIKAT
A. Pengaturan Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik
Pada tanggal 8 Juli 1997 ditetapkan dan diundangkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 1997) sedangkan penjelasannya terdapat dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696. Sebelumnya telah ada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1961, yang sejak tahun 1961 mengatur pelaksanaan pendaftaran tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria.
Masalah tanah di Indonesia telah mendapat perhatian yang sangat luas dan mendalam dikalangan masyarakat. Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria memerintahkan diselenggarakannya pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum. Pendaftaran tanah tersebut kemudian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Kondisi masyarakat Indonesia hingga saat ini masih sangat tergantung pada kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha sebagian besar yang bersifat agraris sehingga tanah merupakan tumpuan harapan bagi masyarakat guna dapat melangsungkan asas dan tata kehidupan.
Asas pendaftaran tanah yang dianut dalam Undang-Undang Pokok Agraria yaitu berdasarkan asas sederhana, aman, terjangkau, mutakhir dan terbuka. Untuk objek pendaftaran tanah diatur dalam Pasal 9 Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yaitu sebagai berikut:
1. Objek Pendaftaran Tanah meliputi:
a. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai;
b. Tanah hak pengelolaan;
c. Tanah wakaf;
d. Hak milik atas satuan rumah susun;
e. Hak tanggungan;
f. Tanah Negara.
2. Dalam hal tanah Negara sebagai objek pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, pendaftarannya dilakukan dengan cara membukukan sebidang tanah yang merupakan tanah Negara dalam daftar tanah.
1. Dasar Hukum Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, pada ketentuan menimbang poin b dibunyikan bahwa pendaftaran tanah yangn penyelenggaraannya oleh Undang-Undang Pokok Agraria ditugaskan kepada Pemerintah, merupakan sarana dalam memberikan jaminan kepastian hukum yang dimaksudkan, pelaksanaan pendaftaran tanah berdasarkan Peraturan Pemerintah, meliputi kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali dan pemeliharaan data pendaftaran tanah.
Hak atas tanah mempunyai peran yang amat penting dalam kehidupan manusia oleh karenannya di dalam Undang-Undang Pokok Agraria telah ditentukan bahwa tanah-tanah di seluruh wilayah negara Republik Indonesia harus di inventarisasikan sedemikian rupa sehingga benar-benar membantu usaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam rangka mewujudkan keadilan sosial.
Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan Hak atas Tanah:16
a. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria.
b. Undang-Undang Nomor 3/Prp/1960 tentang Penguasaan Benda-benda tetap milik perseorangan Warga Negara Belanda.
c. Undang-Undang Nomor 51/1960 tantang Larangan pemakaian tanah tanpa ijin yang berhak atau kuasanya.
d. PP No.40/1996 tentang HGU, HGB dan HP atas tanah.
e. PP No.39/1973 tentang Acara penetapan ganti rugi oleh Pengadilan Tinggi f. Peraturan Presidium Kabinet No.5/Prk/1965 tentang Penegasan status rumah/tanah kepunyaan badan-badan hukum yang ditinggalkan direksi/pengurusnya (Prk.5)
g. Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 telah dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan Nomor 65 Tahun 2006 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan kepentingan umum
h. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1979 tentang Pokok kebijaksanaan dalam rangka pemberian hak baru atas tanah asal konversi hak-hak Barat
16Drs. JP. Tamtomo, B.Sc., M.Eng., Hak Atas Tanah: Sejarah, Macam Hak, Dan Cara Perolehannya, tanahkoe.tripod.com, diakses pada 19 April 2004.
i. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973 tentang Pelaksanaan pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada di atasnya
j. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993
k. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pelimpahan kewenangan pemberian dan pembatalan keputusan pemberian hak atas tanah Negara
l. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tatacara pemberian dan pembatalan hak atas tanah Negara dan hak Pengelolaan.
2. Syarat-syarat Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik
Adapun untuk syarat-syarat Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik, di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, tidak diketemukan dengan jelas tentang syarat-syarat dimaksud.
Adapun persyaratan pelaksanaan pendaftaran tanah yang lebih mudah dan sederhana ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Jo. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional yang selanjutnya atas permohonan tersebut maka Kepala Kantor Pertanahan harus:
a. Melakukan pemeriksaan data fisik (penetapan dan pemasangan tanda batas, pengukuran, pemetaan) oleh petugas yang ditunjuk.
b. Melakukan pemeriksaan data yuridis selama 60 (enam puluh) hari di kantor pertanahan dan kantor desa/kelurahan beserta pengesahannya.
c. Melakukan penegasan konversi atau pengakuan hak.
d. Membukukan hak.
e. Menerbitkan sertifikat.17
Ketentuan mengenai pemberian hak milik atas tanah (baru) yang dikuasai negara dan atas hak pengolahan diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tatacara Pemberian dan Pembatalan Hak atas Tanah Negara dan Hak Pengolahan.
Pasal 22 ditegaskan ada 3 (tiga) hal yang menjadi dasar hak atas Tanah:
a. Menurut Hukum Adat;
b. Karena Ketentuan Undang-Undang;
c. Karena Penetapan Pemerintah.
Terjadinya hak milik berdasarkan hukum adat yaitu yang diatur pada Pasal 16 Undang-Undang Pokok Agraria bahwa hak-hak tanah berasal dari hukum adat atas seijin masyarakat adat dan tanah yang telah diusahakan tersebut secara terus menerus bahkan turun temurun dapat diakui sebagai hak milik.
Terjadinya hak milik berdasarkan ketentuan undang-undang, yaitu berdasarkan konversi sebagaimana dimaksud pada ketentuan kedua (ketentuan- ketentuan konversi) Undang-Undang Pokok Agraria, yakni:
a. Konversi tanah-tanah eks hak eigendom kepunyaan warga Negara Indonesia (yang dibuktikan pada tanggal 24 September 1960), dikonversi menjadi hak milik;
17www.bpn.go.id, diakses pada Selasa 24 Agustus 2010.
b. Konversi hak milik adat (hak-hak adat atas tanah) kepunyaan warga negara Indonesia dikonversi menjadi hak milik.
B. Kekuatan Hukum Kepemilikan Atas Tanah Yang Telah Bersertifikat Pada dasarnya dalam sistem pendaftaran tanah mempermasalahkan mengenai apa yang didaftar, bentuk penyimpanan, dan penyampaian data yuridisnya serta bentuk tanda bukti haknya. Oleh karena itu ada 2 (dua) macam sistem pendaftaran tanah lazim diselenggarakan, yaitu sistem pendaftaran akta (registration of deeds) dan sistem pendaftaran hak (registration of titles).18 Baik dalam sistem pendaftaran akta maupun sistem pendaftaran hak, tiap pemberian atau menciptakan hak baru serta pemindahan dan pembebanannya dengan hak lain kemudian, harus dibuktikan dengan suatu akta. Dalam akta tersebut dengan sendirinya dimuat data yuridis tanah yang bersangkutan. Perbuatan hukumnya, hak penerimaannya, hak apa yang dibebankan. Baik dalam sistem pendaftaran akta maupun sistem pendaftaran hak, akta merupakan sumber yuridis.
Dalam sistem pendaftaran akta, akta-akta itulah yang didaftarkan oleh Pejabat Pendaftaran Tanah (PPT). Dalam sistem pendaftaran akta, Pejabat Pendaftaran Tanah bersikap pasif. Ia tidak melakukan pengujian kebenaran data yang disebut dalam akta yang didaftar.
Sedangkan dalam sistem pendaftaran hak setiap penciptaan hak baru dan perbuatan-perbuatan hukum yang menimbulkan perubahan kemudian, juga harus dibuktikan dengan suatu akta. Tetapi dalam penyelenggaraan pendaftarannya
18Hasan Wargakusumah, Hukum Agraria I, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995), hlm. 76-78.
bukan aktanya yang didaftar. Akta hanya merupakan sumber datanya untuk pendaftaran hak dan perubahan-perubahannya yang terjadi, kemudian disediakan suatu daftar isian, yang biasa disebut “register” atau di Indonesia disebut buku tanah sehingga jika terjadi perubahan, tidak dibuatkan buku tanah baru, melainkan dicatatkan pada ruang mutasi yang disediakan pada buku tanah yang bersangkutan. Sebelum dilakukan pendaftaran haknya dalam Buku Tanah dan pencatatan perubahannya kemudian, oleh Pejabat Pendaftaran Tanah dilakukan pengujian kebenaran data yang dimuat dalam akta yang bersangkutan, sehingga pejabatnya dapat dikatan bersikap aktif.
Dalam sistem ini buku-buku tanah disimpan di Kantor Pendaftaran Tanah yang merupakan salinan register, yang di Indonesia Sertifikat hak atas tanah terdiri dari salinan buku tanah dan surat ukur yang dijilid menjadi satu sampul dokumen.19
Dokumen-dokumen yang merupakan alat pembuktian yang telah digunakan sebagai dasar pendaftaran, diberi tanda pengenal dan disimpan di Kantor Pertanahan yang bersangkutan atau ditempat lain yang ditetapkan oleh Menteri/Kepala Badan Pertanahan.
Peta pendaftaran, daftar tanah, surat ukur, buku tanah, daftar nama, dan dokumen-dokumen diatas harus tetap berada di Kantor Pertanahan atau di tempat lain yang ditetapkan oleh Menteri/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Untuk mencegah hilangnya dokumen tersebut, maka apabila ada instansi yang
19Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia (Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria Isi dan Pelaksanaannya), Jilid I Hukum Tanah Nasional, (Jakarta: Djambatan, 2008), hlm. 72.
menganggap perlu untuk memeriksanya, pemeriksaan wajib dilakukan di Kantor Pertanahan.20
Pendaftaran hak atas tanah adalah pendaftaran hak untuk pertama kalinya atau pembukuan suatu hak atas tanah dalam daftar tanah. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997, maka dikenal 3 (tiga) cara pendaftaran hak, sebagai berikut:21
1. Pendaftaran hak di desa-desa lengkap, yaitu desa-desa yang telah dilakukan pengukuran desa demi desa.
2. Pendaftaran hak atas tanah pada desa-desa yang belum lengkap, yaitu desa-desa yang belum diselenggarakan pengukuran desa demi desa.
3. Pendaftaran hak atas tanah atas permohonan si pemegang hak sendiri.
Hal di atas terbukti bahwa pelaksanaan perombakan hukum agraria secara totaliter dan menyeluruh itu hanya dapat dilihat secara riil (nyata) apabila diseluruh wilayah Indonesia telah terdaftar sesuai dengan Pasal 19 Undang- Undang Pokok Agraria.
Pendaftaran tanah yang dimaksud diatas, menghasilkan tanda bukti hak atas tanah yaitu sertifikat yang harus diakui atau diterima sebagai suatu alat bukti hak yang sah dan kuat, atas bidang tanah yang dihaki oleh seseorang atau badan hukum.
Dalam rangka memberikan kepastian hukum kepada para pemegang hak atas tanah penegasan tentang sejauhmana kekuatan pembuktian sertifikat, yang
20Muhammad Arba, Hukum Agraria Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 162- 165.
21Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
dinyatakan sebagai alat pembuktian yang kuat. Untuk itu dikatakan bahwa selama dan sebelum dibuktikan sebaliknya atas data fisik dan data yuridis yang dicantumkan dalam sertifikat tersebut harus diterima sebagai data yang benar, baik dalam perbuatan hukum sehari-hari maupun dalam sengketa di Pengadilan sepanjang data tersebut sesuai dengan yang tercantum dalam surat ukur dan buku tanahnya.
Dalam proses pendaftaran tanah dengan pemberian sertifikat, diperlukan ketelitian dan ketepatan dari proses yang mendahuluinya sehingga suatu bidang tanah terdaftar, serta prosedur yang dilalui lebih efektif dan efisien, agar tidak memberatkan terhadap kepentingan rakyat banyak.
Oleh karena itu, pemerintah harus menciptakan pendaftaran tanah ini melalui suatu yang sangat teliti dan terarah, sehingga tidak mungkin asal saja.
Lebih-lebih lagi bukan tujuan pendaftaran tanah tersebut sekedar hanya diterbitkannya bukti pendaftaran tanah saja.
Dalam kegiatan pendaftaran tanah, kewajiban yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah secara terus menerus adalah dalam rangka menginventarisasikan data-data yang berkenaan dengan hak-hak atas tanah menurut Undang-Undang Pokok Agraria dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, sedangkan pendaftaran hak atas tanah adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemegang hak yang bersangkutan dan dilaksanakan secara terus menerus setiap ada peralihan hak atas tanah tersebut, dalam rangka mengiventarisasikan data-data peralihan hak atas tanah menurut
Undang-Undang Pokok Agraria dan guna mendapatkan sertifikat tanda bukti hak atas tanah yang kuat.
Boedi Harsono merumuskan pengertian pendaftaran tanah sebagai suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan secara teratur dan terus menerus untuk mengumpulkan, mengolah, menyimpan, dan menyajikan data tertentu mengenai bidang-bidang atau tanah-tanah tertentu yang ada di suatu wilayah tertentu dengan tujuan tertentu. Tujuan pendaftaran tanah menurut Boedi Harsono adalah agar kegiatan pendaftaran itu dapat diciptakan suatu keadaan, dimana:22
a. Orang-orang dan badan-badan hukum yang mempunyai tanah dengan mudah dapat membuktikan, bahwa merekalah yang berhak atas tanah itu, hak apa yang dipunyai dan tanah manakah yang dihaki. Tujuan ini dicapai dengan memberikan surat tanda bukti hak kepada pemegang hak yang bersangkutan.
b. Siapapun yang memerlukan dapat dengan mudah memperoleh keterangan yang dapat dipercaya mengenai tanah-tanah yang terletak di wilayah pendaftaran yang bersangkutan (baik calon pembeli atau calon kreditur) yang ingin memperoleh kepastian, apakah keterangan yang diberikan kepadanya oleh calon penjual atau debitur itu benar. Tujuan ini dicapai dengan memberikan sifat terbuka bagi umum pada data yang disimpan.
Untuk diketahui bahwa, sesuai dengan Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor Republik Indonesia 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, tertanggal 8 Juli 1997, maka pendaftaran tanah bertujuan:
22Hasan Wargakusumah, Op.Cit., hlm. 80-81.
a. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan Hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, Satuan Rumah Susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar denga mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan.
b. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan Satuan Rumah Susun yang tidak terdaftar.
c. Untuk terselenggaranya tertib administrasi.
Dengan diadakannya pendaftaran tanah maka pihak-pihak yang bersangkutan dengan mudah mengetahui status dan kedudukan hukum dari tanah- tanah tertentu yang dihadapinya, tempat. Luas dan batasnya, siapa yang memiliki dan beban hak atas tanah. Sehubungan dengan itu dibidang administrasi pertanahan, masalah utama yang dihadapi adalah belum tersedianya data pertanahan yang lengkap dan menyeluruh baik mengenai pemilikan, penguasaan hak maupun pendaftarannya.
Masalah-masalah pertanahan khususnya masalah sertifikasi dan mengenai alat bukti kepemilikan tanah lahir karena adanya alasan-alasan klasik saja yakni, kurangnya pengetahuan dan kesadaran hukum baik masyarakat maupun aparatur yang kadang mengabaikan ketentuan dan pengaturan hukum yang ada.
Untuk melaksanakan tugas pokok dalam melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah, maka seorang Pejabat Pembuat Akta Tanah (selanjutnya disebut sebagai PPAT) mempunyai kewenangan membuat akta PPAT yang
bersifat otentik mengenai semua perbuatan hukum yang berkaitan dengan peralihan hak atas tanah dan hak Milik Atas Satuan Rumah Susun yang terletak di dalam daerah kerjanya dan hal ini diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1988 yang telah dicabut dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2006.
PPAT sebagai pejabat umum yang atas kuasanya dalam peraturan perundang-undangan berwenang untuk membuat akta-akta peralihan hak atas tanah dan pembebanannya, dituntut agar selalu memberi kejelasan data tanah dalam setiap pembuatan akta-akta peralihan hak.
Proses penguasaan tanah terjadi melalui bermacam cara, sehingga dalam menetapkan siapa pemilik yang benar dan dimana letak batasnya terutama atas tanah-tanah bekas milik adat. Perlu diteliti bukti-bukti pemilikannya sebelum dilakukan pembuatan akta peralihan haknya.
PPAT wajib memberi penjelasan kepada pihak-pihak yang menghadap, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang melanggar dan apa yang tidak melanggar hukum, sebelum akta dibuat, Pembeli harus merasa terjamin dan aman atas kepastian hukum mengenai peralihan hak atas tanah dimaksud, hal ini sangat membantu penerima hak untuk segera mengembangkan usahanya, dan secara tidak langsung akan membantu pemerintah dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena setiap peralihan hak harus dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh dan dihadapan PPAT, maka PPAT harus dapat memenuhi keinginan para pihak yang memerlukan bantuannya.
1. Kepemilikan Atas Tanah Bersertifikat
Sertifikat tanah adalah23 dokumen formal yang memuat data yuridis dan data fisik yang dipergunakan sebagai tanda bukti dan alat pembuktian bagi seseorang atau badan hukum (privat atau publik) atas suatu bidang tanah yang dikuasai atau dimiliki dengan suatu hak atas tanah tertentu.
Sebutan "sertifikat" atau certificate (ing), certificaat/certifikaat (bld), adalah merupakan tanda pernyataan atau keterangan yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pejabat dan atau lembaga/institusi tertentu dengan tujuan tertentu.
Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa sertifikat merupakan surat keterangan (pernyataan) tertulis atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan atau kejadian. Misalnya, sertifikat kelahiran yang lazim disebut Akta kelahiran diartikan sebagai surat bukti adanya kelahiran. Sertifikat kelulusan lazim disebut ijasah. Demikian juga, jika berkaitan dengan tanah maka disebut sertifikat tanah. Sehingga makna kata sertifikat tanah seperti halnya sertifikat yang lainnya, adalah surat bukti kepemilikan tanah.
Sertifikat tersebut tidak akan mempunyai arti apa-apa apabila diterbitkan oleh pihak atau lembaga yang tidak mempunyai kewenangan yang diberikan Negara atau hukum untuk itu. Dengan kata lain bahwa sertifikat akan mempunyai kekuatan yuridis apabila memang diterbitkan oleh lembaga yang memperoleh kewenangan untuk itu. Dapat pula dikatakan bahwa sertifikat merupakan suatu dokumen formal yang dijadikan tanda dan instrument yuridis adanya hak kepemilikan atas suatu barang atau benda (thing). Dalam konsep hukum barang
23Boedi Djatmiko hadiatmodjo, Tanah dan Hukum Tanah, www.blogger.com, diakses pada Senin 20 September 2010.
atau benda ini dibedakan benda bergerak (personal property) dan benda yang tidak bergerak (real property). Hal yang sama sebagaimana disebutkan dalam kamus Black's law menyebutkan bahwa: “certificate a document in which fact is formally attested (death certificate)” (sertifikat adalah suatu dokumen di mana fakta secara formal dijadikan bukti (sertifikat kematian), dan dalam halaman lain disebutkan: “certificate of title a document indicating ownership of real or personal property” (sertifikat adalah suatu dokumen yang menandakan kepemilikan riil atau milik perorangan).24
Di Negara kita, konsepsi sertifikat sebagai suatu dokumen formal yang dipergunakan sebagai instrumen yuridis sebagai bukti kepemilikan hak atas tanah yang diterbitkan oleh lembaga Negara (pemerintah) sebagaimana yang disampaikan Boedi Harsono, sertifikat (tanah) adalah suatu surat tanda bukti hak yang dikeluarkan pemerintah dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah atau merupakan suatu tanda bukti bahwa seseorang atau suatu badan hukum mempunyai suatu hak atas tanah atau suatu bidang tanah tertentu. Dikatakan Irawan Soerodjo, bahwa sertifikat tanah merupakan surat tanda bukti yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat didalamnya sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah yang bersangkutan. Dari sini sudah dapat ditangkap bahwa makna sertifikat tanah dalam konstruksi yuridisnya merupakan suatu dokumen formal yang dipergunakan sebagai tanda dan atau instrument yuridis bukti hak kepemilikan atas tanah yang dikeluarkan oleh Badan
24Ibid.
Pertanahan Nasional Republik Indonesia sebagai lembaga/Institusi negara yang ditunjuk dan diberikan wewenang oleh negara untuk menerbitkannya. Sertifikat sebagai tanda dan atau sekaligus alat bukti hak kepemilikan atas tanah merupakan produk hukum yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia didalamnya memuat data fisik dan yuridis. Dikatakan oleh Maria S.W.
Sumardjono, sertifikat hak atas tanah sebagai hasil akhir proses pendaftaran tanah berisi data fisik (keterangan tentang letak, batas, luas bidang tanah, serta bagian bangunan atau bangunan yang ada diatasnya bila dianggap perlu) dan data yuridis (keterangan tentang status tanah dan bangunan yang didaftar, pemegang hak atas tanah dan hak-hak pihak lain, serta beban-beban lain yang berada diatasnya).
Dengan memiliki sertifikat, maka kepastian hukum berkenaan dengan jenis hak atas tanahnya, subjek hak dan objek haknya menjadi nyata.25
Bagi pemegang hak atas tanah, memiliki sertifikat mempunyai nilai lebih.
Sebab dibandingkan dengan alat bukti tertulis, sertifikat merupakan tanda bukti hak yang kuat, artinya harus dianggap benar sampai dibuktikan sebaliknya di pengadilan dengan alat bukti yang lain.26
Dengan tanah yang telah memiliki sertifikat, maka kepastian hukum berkenaan dengan jenis hak atas tanah, subjek hak dan objek haknya menjadi nyata. A.P Parlindungan menyebutkan bahwa sertifikat adalah salinan buku tanah dan surat ukur setelah dijahit menjadi satu bersama dengan suatu kertas sampul
25Ibid.
26A.P Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1999), hlm. 182.
yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri Agraria disebut sertifikat dan diberikan kepada yang berhak.27
Bahwa sertifikat (hak atas tanah) merupakan produk hukum yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang dipergunakan sebagai tanda bukti dan alat pembuktian hak seseorang atau badan hukum (privat atau publik) mempunyai hak atas suatu bidang tanah.
Selanjutnya akan diuraikan dimana diatur sertifikat itu dalam peraturan perundang-undangannya dan kekuatan yuridis sertifikat selaku dokumen dan instrument yuridis dihadapan hukum.
Konstruksi hukum, sertifikat hak atas tanah dan kekuatan pembuktiannya dapat dicermati dalam beberapa ketentuan perundangan. Didalam Undang- Undang Pokok Agraria Pasal 19 ayat (1) dan (2), disebutkan:
a. Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah;
b. Pendaftaran tersebut dalam ayat (1) pasal ini meliputi:
1) Pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah
2) Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut:
3) Pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.
Dari pasal tersebut di atas, memberikan gambaran bahwa prinsip negara akan memberikan jaminan hukum dan kepastian hak terhadap hak atas atas yang
27Ibid., hlm. 23.