BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapakan akan memberikan manfaat:
1. Secara teoritis
a. Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh ujian untuk meraih gelar Magister Kenotariatan pada Sekolah Pasca Sarjana, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
b. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan cakrawala berpikir dalam bidang Pertanahan.
c. Menjadi bahan informasi bagi masyarakat untuk informasi dalam pelaksanaan pendaftaran tanah.
2. Secara praktis
Hasil penelitian ini dimaksudkan dapat bermanfaat bagi para pihak yang memiliki permasalahan di bidang pertanahan, maupun para praktisi hukum, serta mahasiswa hukum.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi yang diketahui dan data yang dimiliki serta penelusuran pendahuluan yang diadakan di kepustakaan khususnya di Sekolah Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas Sumatra Utara Medan, judul yang penulis angkat ini belum ada yang melakukan penelitian sebelumnya, walaupun pernah ada penelitian yang pernah dilakukan oleh Syafruddin, (017011081), Magister Kenotariatan Unversitas Andalas Sumatera Utara, dengan judul “Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Sertipikat Hak Atas Tanah”.
Oleh sebab itu proposal penelitian yang penulis ajukan ini adalah asli dan aktual serta orisinil, maka oleh karena itu penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Dalam penelitian ini perlu diletakkan suatu dasar kerangka teori guna dimaksudkan untuk mengemukakan beberapa teori berdasarkan referensi yang ada kaitannya dengan permasalahan dalam penulisan penelitian ini, sehingga kerangka teori ini diharapkan dapat melahirkan suatu pemahaman yang dapat diterima sebagai suatu landasan berfikir.
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa spesifik atau proses tertentu terjadi, dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, thesis mengenai sesuatu kasus atau permaslahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.5
Kerangka teori yang akan dijadikan pisau analitis dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum, yang dikemukakan oleh Sudikno Mertokusumo:
kepastian hukum adalah jaminan bahwa hukum dijalankan, bahwa yang berhak menurut hukum dapat memperoleh haknya dan bahwa putusan dapat dilaksanakan. Walaupun kepastian hukum erat kaitannya dengan keadilan, namun hukum tidak identik dengan keadilan. Hukum bersifat umum, mengikat setiap orang, bersifat menyamaratakan, sedangkan keadilan bersifat subjektif, individualistis, dan tidak menyamaratakan.6
5M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hlm. 80.
6 Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 2007), hlm.160.
Adanya kepastian hukum merupakan harapan bagi pencari keadilan terhadap tindakan sewenang-wenang dari aparat penegak hukum yang terkadang selalu arogansi dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum. Karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan tahu kejelasan akan hak dan kewajiban menurut hukum. Tanpa ada kepastian hukum maka orang akan tidak tahu apa yang harus diperbuat, tidak mengetahui perbuatannya benar atau salah, dilarang atau tidak dilarang oleh hukum. Kepastian hukum ini dapat diwujudkan melalui penormaan yang baik dan jelas dalam suatu undang-undang dan akan jelas penerapannya.
Dimulai dengan masalah tanah di Indonesia yang telah mendapat perhatian sangat luas dan mendalam dikalangan masyarakat, maka Pasal 19 UUPA memerintahkan diselenggarakannya pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum. Pendaftaran tanah tersebut kemudian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Pada tanggal 8 Juli 1997 dengan ditetapkannya dan diundangkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Lembaran negara Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 1997) sedangkan penjelasannya dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696.
Sebelumnya telah ada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1961, yang sejak tahun 1961 mengatur pelaksanaan pendaftaran tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria.
Pendaftaran hak atas tanah yang diselenggarakan bertujuan memberikan kepastian hak, yaitu:7
1. Untuk memungkinkan orang-orang yang memegang hak atas tanah untuk dapat dengan mudah membuktikan dirinya bahwa dialah yang berhak atas tanah tersebut, apa hak dipeganngnya, letak dan luas tanah.
2. Untuk memungkinkan kepada pihak siapapun guna dapat mengetahui dengan mudah hal-hal apa saja ia ingin ketahui berkenaan dengan sebidang tanah, misalnya calon pembeli tanah, calon kreditur dan lain sebagainya.
Pendaftaran tanah jelas bertujuan untuk memberikan kepastian hukum kepada pemegang haknya dan demikian juga kepada objek (luasnya dan batasnya), sehingga pemerintah maupun pihak yang berkepentingan dapat dengan mudah untuk mengetahui, oleh karena itu data-data yang disimpan di kantor pertanahan baik tentang subjek maupun objek hak atas tanah disusun sedemikian rupa dan diteliti agar dikemudian hari dapat memudahkan siapapun yang ingin melihat data-data tersebut, apakah itu calon pembeli ataukah kreditur ataukah pemerintah sendiri dalam rangka mempelancar setiap peralihan hak atas tanah atau dalam rangka pelaksanaan pembangunan oleh Pemerintah. Atas dasar hal tersebut di atas, maka tujuan pendaftaran tanah adalah untuk penyediaan data-data penggunaan tanah bagi pemerintah maupun untuk masyarakat demi terjaminnya kepastian hukum terhadap hak-hak atas tanah.
“Secara normatif, kepastian hukum memerlukan tersediannya perangkat peraturan perundang-undangan yang secara operasional mampu mendukung pelaksanaannya. Secara empiris, peraturan
perundang-7J.C.T. Simorangkir dan Woerjono Sasropranoto, Pelajaran Hukum Indonesia, (Jakarta:
Gunung Agung, 1989), hlm. 82-83.
undangan tersebut perlu dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen oleh sumber daya manusia pendukungnya”.8
Hukum harus ditempatkan pada posisi terdepan yang harus dapat memberikan suatu kepastian, yang harus mampu untuk membentuk pola prilaku warga masyarakat. Penggunaan hukum sebagai sarana kepastian semacam itu seringkali membawa konsekuensi terjadinya pertentangan-pertentangan di dalam pelaksanaannya. Munculnya hambatan pada implementasi hukum yang bersifat nasional, disebabkan antara lain oleh adanya perbedaan nilai-nilai yang terkandung di dalam hukum tertulis yang bersifat nasional tersebut dengan nilai-nilai yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat lokal.
2. Konsepsi
Konsep adalah salah satu bagian terpeting dari teori. Konsepsi diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut dengan operasional definition.9 Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Oleh karena itu, dalam penelitian ini didefenisikan beberapa konsep dasar agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu:
a. Hak Atas Tanah yaitu hak penguasaan atas tanah yang memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk memakai suatu bidang tanah tertentu untuk memenuhi kebutuhan pribadi atau usahanya.
8Irawan Soerodjo, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah di Indonesia, (Surabaya: Arloka, 2003), hlm. 177.
9Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagoi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 1993), hlm. 10.
b. Hak Milik yaitu hak yang dimiliki oleh seseorang untuk mempergunakan benda (tanah) atas kuasa dirinya sendiri yang diakui dan/atau atas seijin negara melalui pihak yang berwenang, atau hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah, dan dapat beralih atau dialihkan kepada pihak lain.
c. Sertifikat adalah surat keterangan dari orang yang berwenang dan dapat digunakan untuk keperluan tertentu, atau merupakan tanda bukti yang kuat selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya dari data fisik dan data yuridis yang tercantum di dalamnya yang harus diterima sebagai data yang benar.
d. Sengketa Tanah yang selanjutnya disingkat Sengketa adalah perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, badan hukum, atau lembaga yang tidak berdampak luas.10
G. Metode Penelitian
Didalam suatu penelitian, Ilmu Pengetahuan pada hakekatnya timbul karena adanya hasrat ingin tahu dalam diri manusia, yang mana hasrat keingintahuan tentang hal-hal ataupun aspek-aspek kehidupan yang masih gelap bagi manusia, sehingga manusia itu sendiri ada rasa ingin tahu tentang kebenaran dari pada kegelapan tersebut sehingga diadakanlah suatu penelitian akan hal tersebut. Jadi penelitian pada intinya merupakan sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk memperkuat, membina serta mengembangkan Ilmu pengetahuan di segala bidang.
10 Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas didalam penulisan tesis ini, digunakan metodologi tulisan sebagai berikut:
1. Metode Pendekatan
Jenis penelitian yang dipergunakan adalah penelitian normatif, yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif.
Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif, dimana pendekatan terhadap permasalahan dilakukan dengan mengkaji berbagai aspek hukum. Metode penelitian hukum ini dilakukan dengan meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka.11
Penelitian lebih meliputi penelitian asas-asas hukum, sumber-sumber hukum, peraturan perundang-undangan, literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan, serta ditambah dengan data lainnya yang diperoleh dari wawancara.
2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif analitis, yaitu suatu penelitian yang akan menggambarkan, menelaah, menjelaskan dan menganalisa hukum, baik dalam bentuk teori maupun praktek dari hasil penelitian di lapangan.
3. Sumber Data
Dalam melaksanakan penelitian ini, data-data yang diperoleh dengan mengumpulkan data sekunder yang merupakan data yang diperoleh dari
11 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), (Jakarta: Rajawali Pers, 2001), hlm. 13-14.
dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian dalam bentuk laporan, skripsi, tesis, disertasi, dan peraturan perundang-undangan.
Untuk mendapatkan data yang akurat dan relevan, maka dalam penelitian ini dilakukan penelusuran data hukum berupa:12
a. Bahan Hukum Primer
1) Undang-Undang Pokok Agraria;
2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;
3) Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011, antara Arifin Wijaya melawan Yani Fahrizal, S.H., Yunita Iskak, S.E., Ir. Indra Jaya, Iskandar Yuarsa, dan Hj. Intan Julaika Iskak.
b. Bahan Hukum Sekunder 1) Teori-teori para ahli;
2) Peraturan perundang-undangan terkait,
3) Pendapat-pendapat yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
c. Bahan Hukum Tersier 1) Kamus Hukum;
2) Kamus Bahasa;
3) Jurnal.
4. Alat Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan dua alat pengumpulan data yakni:
12 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 2006), hlm. 163.
a. Studi Kepustakaan
Dalam memenuhi data primer, dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder yang terkait dengan permasalahan yang diajukan, dengan cara mempelajari buku-buku, hasil penelitian dan dokumen-dokumen perundang-undangan.
b. Wawancara
Dalam memenuhi data primer, dilakukan dengan wawancara dengan narasumber yang dianggap mengetahui dan memahami tentang permasalahan yang akan diteliti. Tipe wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak berstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan tidak dibatasi oleh waktu dan daftar urutan pertanyaan, tetapi tetap berpegang pada pokok penting permasalahan yang sesuai dengan tujuan wawancara.
Wawancara tidak terstruktur ini dimaksudkan agar memperoleh jawaban spontan dan gambaran yang lugas tentang masalah yang diteliti. Sifat wawancara yang dilakukan adalah wawancara terbuka, artinya wawancara yang subjeknya mengetahui bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui maksud dan tujuan wawancara tersebut. Diharapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalan diperoleh jawaban yang akan dianalisis lebih lanjut. Adapun nara sumber tersebut yakni pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah suatu hal yang sangat penting dalam suatu penelitian dalam rangka memberi jawaban masalah yang diteliti. Sebelum analisis
dilakukan, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang ada untuk mengetahui validitasnya.13
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dari penelitian kepustakaan (library research)14 yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif.
Setelah bahan hukum dikumpulkan dan diolah, kemudian secara kualitatif ditarik kesimpulannya dengan menggunakan metode berpikir deduktif (cara berpikir dalam penarikan kesimpulan yang ditarik dari sesuatu yang sifatnya umum yang sudah dibuktikan bahwa dia benar dan kesimpulan itu ditujukan untuk sesuatu yang sifatnya khusus).15
13Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineke Cipta, 1996), hlm. 68.
14Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1968), hlm. 201.
15Sedarmayanti dan Syarifudin Hidayat, Metodologi Penelitian, (Bandung: CV. Mandar Maju, 2002), hlm. 23.
BAB II
KEKUATAN HUKUM KEPEMILIKAN TANAH BERSERTIFIKAT
A. Pengaturan Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik
Pada tanggal 8 Juli 1997 ditetapkan dan diundangkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 1997) sedangkan penjelasannya terdapat dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696. Sebelumnya telah ada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1961, yang sejak tahun 1961 mengatur pelaksanaan pendaftaran tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria.
Masalah tanah di Indonesia telah mendapat perhatian yang sangat luas dan mendalam dikalangan masyarakat. Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria memerintahkan diselenggarakannya pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum. Pendaftaran tanah tersebut kemudian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Kondisi masyarakat Indonesia hingga saat ini masih sangat tergantung pada kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha sebagian besar yang bersifat agraris sehingga tanah merupakan tumpuan harapan bagi masyarakat guna dapat melangsungkan asas dan tata kehidupan.
Asas pendaftaran tanah yang dianut dalam Undang-Undang Pokok Agraria yaitu berdasarkan asas sederhana, aman, terjangkau, mutakhir dan terbuka. Untuk objek pendaftaran tanah diatur dalam Pasal 9 Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yaitu sebagai berikut:
1. Objek Pendaftaran Tanah meliputi:
a. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai;
b. Tanah hak pengelolaan;
c. Tanah wakaf;
d. Hak milik atas satuan rumah susun;
e. Hak tanggungan;
f. Tanah Negara.
2. Dalam hal tanah Negara sebagai objek pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, pendaftarannya dilakukan dengan cara membukukan sebidang tanah yang merupakan tanah Negara dalam daftar tanah.
1. Dasar Hukum Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, pada ketentuan menimbang poin b dibunyikan bahwa pendaftaran tanah yangn penyelenggaraannya oleh Undang-Undang Pokok Agraria ditugaskan kepada Pemerintah, merupakan sarana dalam memberikan jaminan kepastian hukum yang dimaksudkan, pelaksanaan pendaftaran tanah berdasarkan Peraturan Pemerintah, meliputi kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali dan pemeliharaan data pendaftaran tanah.
Hak atas tanah mempunyai peran yang amat penting dalam kehidupan manusia oleh karenannya di dalam Undang-Undang Pokok Agraria telah ditentukan bahwa tanah-tanah di seluruh wilayah negara Republik Indonesia harus di inventarisasikan sedemikian rupa sehingga benar-benar membantu usaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam rangka mewujudkan keadilan sosial.
Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan Hak atas Tanah:16
a. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.
b. Undang-Undang Nomor 3/Prp/1960 tentang Penguasaan Benda-benda tetap milik perseorangan Warga Negara Belanda.
c. Undang-Undang Nomor 51/1960 tantang Larangan pemakaian tanah tanpa ijin yang berhak atau kuasanya.
d. PP No.40/1996 tentang HGU, HGB dan HP atas tanah.
e. PP No.39/1973 tentang Acara penetapan ganti rugi oleh Pengadilan Tinggi f. Peraturan Presidium Kabinet No.5/Prk/1965 tentang Penegasan status rumah/tanah kepunyaan badan-badan hukum yang ditinggalkan direksi/pengurusnya (Prk.5)
g. Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 telah dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan Nomor 65 Tahun 2006 tentang Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan kepentingan umum
h. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1979 tentang Pokok kebijaksanaan dalam rangka pemberian hak baru atas tanah asal konversi hak-hak Barat
16Drs. JP. Tamtomo, B.Sc., M.Eng., Hak Atas Tanah: Sejarah, Macam Hak, Dan Cara Perolehannya, tanahkoe.tripod.com, diakses pada 19 April 2004.
i. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973 tentang Pelaksanaan pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada di atasnya
j. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 1994 tentang Ketentuan pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993
k. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pelimpahan kewenangan pemberian dan pembatalan keputusan pemberian hak atas tanah Negara
l. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tatacara pemberian dan pembatalan hak atas tanah Negara dan hak Pengelolaan.
2. Syarat-syarat Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik
Adapun untuk syarat-syarat Pendaftaran Atas Tanah Hak Milik, di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, tidak diketemukan dengan jelas tentang syarat-syarat dimaksud.
Adapun persyaratan pelaksanaan pendaftaran tanah yang lebih mudah dan sederhana ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Jo. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional yang selanjutnya atas permohonan tersebut maka Kepala Kantor Pertanahan harus:
a. Melakukan pemeriksaan data fisik (penetapan dan pemasangan tanda batas, pengukuran, pemetaan) oleh petugas yang ditunjuk.
b. Melakukan pemeriksaan data yuridis selama 60 (enam puluh) hari di kantor pertanahan dan kantor desa/kelurahan beserta pengesahannya.
c. Melakukan penegasan konversi atau pengakuan hak.
d. Membukukan hak.
e. Menerbitkan sertifikat.17
Ketentuan mengenai pemberian hak milik atas tanah (baru) yang dikuasai negara dan atas hak pengolahan diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tatacara Pemberian dan Pembatalan Hak atas Tanah Negara dan Hak Pengolahan.
Pasal 22 ditegaskan ada 3 (tiga) hal yang menjadi dasar hak atas Tanah:
a. Menurut Hukum Adat;
b. Karena Ketentuan Undang-Undang;
c. Karena Penetapan Pemerintah.
Terjadinya hak milik berdasarkan hukum adat yaitu yang diatur pada Pasal 16 Undang-Undang Pokok Agraria bahwa hak-hak tanah berasal dari hukum adat atas seijin masyarakat adat dan tanah yang telah diusahakan tersebut secara terus menerus bahkan turun temurun dapat diakui sebagai hak milik.
Terjadinya hak milik berdasarkan ketentuan undang-undang, yaitu berdasarkan konversi sebagaimana dimaksud pada ketentuan kedua (ketentuan-ketentuan konversi) Undang-Undang Pokok Agraria, yakni:
a. Konversi tanah-tanah eks hak eigendom kepunyaan warga Negara Indonesia (yang dibuktikan pada tanggal 24 September 1960), dikonversi menjadi hak milik;
17www.bpn.go.id, diakses pada Selasa 24 Agustus 2010.
b. Konversi hak milik adat (hak-hak adat atas tanah) kepunyaan warga negara Indonesia dikonversi menjadi hak milik.
B. Kekuatan Hukum Kepemilikan Atas Tanah Yang Telah Bersertifikat Pada dasarnya dalam sistem pendaftaran tanah mempermasalahkan mengenai apa yang didaftar, bentuk penyimpanan, dan penyampaian data yuridisnya serta bentuk tanda bukti haknya. Oleh karena itu ada 2 (dua) macam sistem pendaftaran tanah lazim diselenggarakan, yaitu sistem pendaftaran akta (registration of deeds) dan sistem pendaftaran hak (registration of titles).18 Baik dalam sistem pendaftaran akta maupun sistem pendaftaran hak, tiap pemberian atau menciptakan hak baru serta pemindahan dan pembebanannya dengan hak lain kemudian, harus dibuktikan dengan suatu akta. Dalam akta tersebut dengan sendirinya dimuat data yuridis tanah yang bersangkutan. Perbuatan hukumnya, hak penerimaannya, hak apa yang dibebankan. Baik dalam sistem pendaftaran akta maupun sistem pendaftaran hak, akta merupakan sumber yuridis.
Dalam sistem pendaftaran akta, akta-akta itulah yang didaftarkan oleh Pejabat Pendaftaran Tanah (PPT). Dalam sistem pendaftaran akta, Pejabat Pendaftaran Tanah bersikap pasif. Ia tidak melakukan pengujian kebenaran data yang disebut dalam akta yang didaftar.
Sedangkan dalam sistem pendaftaran hak setiap penciptaan hak baru dan perbuatan-perbuatan hukum yang menimbulkan perubahan kemudian, juga harus dibuktikan dengan suatu akta. Tetapi dalam penyelenggaraan pendaftarannya
18Hasan Wargakusumah, Hukum Agraria I, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995), hlm. 76-78.
bukan aktanya yang didaftar. Akta hanya merupakan sumber datanya untuk pendaftaran hak dan perubahan-perubahannya yang terjadi, kemudian disediakan suatu daftar isian, yang biasa disebut “register” atau di Indonesia disebut buku tanah sehingga jika terjadi perubahan, tidak dibuatkan buku tanah baru, melainkan dicatatkan pada ruang mutasi yang disediakan pada buku tanah yang bersangkutan. Sebelum dilakukan pendaftaran haknya dalam Buku Tanah dan pencatatan perubahannya kemudian, oleh Pejabat Pendaftaran Tanah dilakukan pengujian kebenaran data yang dimuat dalam akta yang bersangkutan, sehingga pejabatnya dapat dikatan bersikap aktif.
Dalam sistem ini buku-buku tanah disimpan di Kantor Pendaftaran Tanah yang merupakan salinan register, yang di Indonesia Sertifikat hak atas tanah terdiri dari salinan buku tanah dan surat ukur yang dijilid menjadi satu sampul dokumen.19
Dokumen-dokumen yang merupakan alat pembuktian yang telah digunakan sebagai dasar pendaftaran, diberi tanda pengenal dan disimpan di Kantor Pertanahan yang bersangkutan atau ditempat lain yang ditetapkan oleh Menteri/Kepala Badan Pertanahan.
Peta pendaftaran, daftar tanah, surat ukur, buku tanah, daftar nama, dan dokumen-dokumen diatas harus tetap berada di Kantor Pertanahan atau di tempat lain yang ditetapkan oleh Menteri/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Untuk mencegah hilangnya dokumen tersebut, maka apabila ada instansi yang
19Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia (Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria Isi dan Pelaksanaannya), Jilid I Hukum Tanah Nasional, (Jakarta: Djambatan, 2008), hlm. 72.
menganggap perlu untuk memeriksanya, pemeriksaan wajib dilakukan di Kantor Pertanahan.20
Pendaftaran hak atas tanah adalah pendaftaran hak untuk pertama kalinya atau pembukuan suatu hak atas tanah dalam daftar tanah. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997, maka dikenal 3 (tiga) cara pendaftaran hak, sebagai berikut:21
1. Pendaftaran hak di desa-desa lengkap, yaitu desa-desa yang telah dilakukan pengukuran desa demi desa.
1. Pendaftaran hak di desa-desa lengkap, yaitu desa-desa yang telah dilakukan pengukuran desa demi desa.