BAB IV KEPASTIAN HUKUM SERTIFIKAT HAK ATAS
B. Kepastian Hukum Sertifikat Hak Atas Tanah Terhadap
Pendaftaran tanah jelas bertujuan untuk memberikan kepastian hukum kepada pemegang haknya dan demikian juga kepada objek (luasnya dan batasnya), sehingga pemerintah maupun pihak yang berkepntingan dapat dengan mudah untuk mengetahui data-data yang disimpan di kantor pertanahan baik tentang subjek maupun objek hak atas tanah disusun sedemikian rupa dan dapat diteliti agar dikemudian hari memudahkan siapapun yang ingin melihat data-data tersebut, apakah itu calon pembeli ataukah kreditur ataukah pemerintah sendiri dalam rangka mempelancar setiap peralihan hak atas tanah atau dalam rangka pelaksanaan pembangunan oleh Pemerintah. Atas dasar hal tersebut di atas, maka tujuan pendaftaran tanah adalah untuk penyediaan data-data penggunaan tanah bagi pemerintah maupun untuk masyarakat sendiri demi terjaminnya kepastian hukum terhadap hak-hak atas tanah.
Keterangan-keterangan mengenai data-data pertanahan yang terhimpun di kantor pertanahan, dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu:69
1. Kelompok Yuridis, yang menghimpun data-data tentang nama hak atas tanah, siapa pemegang, peralihan dan pembebanannya jika ada, semua ini dihimpun dalam Buku Tanah;
69http: www.bpn.go.id, diakses pada Selasa 24 Agustus 2010.
2. Kelompok Teknis, yang menghimpun data-data tentang letak tanah dimana, panjang atau lebar tanah serta batas-batas tanah semuanya ini dihimpun dalam surat ukur.
Berdasarkan keterangan-keterangan (data-data pertanahan) di dalam kedua kelompok di atas, diterbitkanlah sertifikat tanah. Jadi dengan demikian sertifikat tanah adalah salinan dari buku tanah dan salinan dari surat ukur yang keduanya kemudian dijilid menjadi satu serta diberi sampul yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri.
Secara etimologi sertifikat berasal dari bahasa Belanda Certificaat yang artinya surat bukti atau surat keterangan yang membuktikan tentang sesuatu.
Maka sertifikat tanah adalah surat keterangan yang membuktikan hak seseorang atas sebidang tanah, atau dengan kata lain keadaan tersebut menyatakan bahwa ada seseorang yang memiliki bidang-bidang tanah tertentu dan pemilikan itu mempunyai bukti yang kuat berupa surat yang dibuat oleh instansi yang berwenang. Menurut Ali Achmad Chomzah bahwa sertifikat merupakan surat tanah yang sudah diselenggarakan pengukuran desa demi desa, karenanya ini merupakan pembuktian yang kuat, baik subjek maupun objek ilmu hak atas tanah.70
Telah dikatakan bahwa sertifikat tanah berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat atas pemegang sebidang tanah, yang dimaksud kuat di sini mengandung arti bahwa sertifikat tanah itu tidaklah merupakan alat bukti yang mutlak satu satunya, jadi sertifikat tanah tersebut menurut sitem pendaftaran tanah yang di
70Boedi Harsono, Op.Cit., 2008, hlm. 72.
anut Undang-Undang Pokok Agraria masih harus dibuktikan di Pengadilan Negeri bahwa sertifikat tanah yang dipersengketakan adalah tidak benar.
Bila melihat atau mencemarti kasus yang terdapat dalam putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011 bahwa yang menjadi pokok sengketa adalah sebidang tanah seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) dimana sebagian dari tanah tersebut telah terbit 6 (enam) buah sertifikat hak milik, masing-masing sebagai berikut:
1. Sertipikat Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas tanggal 12 Mei 2006 atas nama Arifin Wijaya, seluas 11.987 m2;
2. Sertipikat Hak Milik Nomor 422/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 82 m2;
3. Sertipikat Hak Milik Nomor 423/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Sugiarto, seluas 84 m2;
4. Sertipikat Hak Milik Nomor 424/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 93 m2;
5. Sertipikat Hak Milik Nomor 425/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 84 m2;
6. Sertipikat Hak Milik Nomor 461/Lubuk Bayas tanggal 02 Agustus 2011 atas nama Salmah, seluas 5.536 m2.
Adapun dasar perolehan hak (alas hak) sertifikat hak milik yang diajukan oleh Arifin Wijaya, Ade Junius Wijaya, dan Salmah adalah sebagai berikut:
1. Riwayat perolehan tanah Sertipikat Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas tanggal 12 Mei 2006 atas nama Arifin Wijaya, seluas 11.987 m2, yaitu:
a. Semula tanah dikuasai oleh Anwar Wijaya berdasarkan Surat Ganti Rugi Tanah tanggal 01 April 1994 antara Arifin Wijaya kepada Anwar Wijaya seluas 12.420 m2 yang merupakan sebagian dari luas tanah yang tertera dalam Akte Penyerahan/Ganti Rugi yang disahkan oleh Camat Perbaungan Nomor 120-/Pr/1994 tanggal 24 Maret 1994 bertalian dengan Surat Penguasaan Atas Tanah Dengan Cara Ganti Rugi tanggal 16 Juni 2004 yang ditandatangani oleh 4 (empat) orang saksi dan disaksikan oleh Kepala Desa Lubuk Bayas dan diketahui oleh Camat Perbaungan;
b. Berdasarkan Akta Penglepasan Hak Atas Tanah Nomor 7 tanggal 9 Desember 2004 yang dibuat oleh Irmansyah Batubara, Sarjana Hukum, Notaris di Kabupaten Deli Serdang, tanah seluas 12.420 m2 tersebut kemudian dialihkan Anwar Wijaya kepada Arifin Wijaya;
c. Selanjutnya Arifin Wijaya membuat Surat Pernyataan tanggal 27 Pebruari 2006 yang ditandatangani oleh 2 (dua) orang saksi yang pada intinya menyatakan menguasai tanah seluas 12.420 m2 yang terletak di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, dan tidak ada yang menaruh keberatan/gugatan terhadap penguasaan tanah tersebut.
2. Riwayat perolehan tanah Sertipikat Hak Milik Nomor 419/Lubuk Bayas atas nama Ade Junius Wijaya sebelum pecah menjadi 4 (empat) buah sertifikat hak milik seluas 343 m2, yaitu:
a. Semula Kamaluddin Sitepu menguasai tanah seluas ± 22.945,73 m2 sesuai dengan Surat Pernyataan tanggal 24 Maret 1994, yang diperbua dibawah tangan diketahui oleh Kepala Desa Lubuk Bayas;
b. Kemudian Arifin Wijaya memperoleh tanah seluas ± 22.945,73 m2 tersebut dari Kamaluddin Sitepu dalam hal ini bertindak selaku kuasa untuk atas nama Karim Sitepu, Buyung Sitepu, Maryam Sitepu, dan Zainab Beru Tarigan (yang kesemuanya merupakan ahli waris dari Djabolgah alias Ismail Sitepu, sesuai dengan Surat Kuasa Penuh tanggl 18 Maret 1994 yang diperbuat dibawah tangan dan diketahui Kepala Desa Lubuk Bayas), berdasarkan Akte Penyerahan/Ganti Rugi No.
120-/Pr/1994 tanggal 24 Maret 1994, yang diperbuat dihadapan Camat Perbaungan;
c. Berdasarkan Surat Penyerahan Sebidang Tanah tanggl 01 Oktober 2010 yang ditandatangani diatas materai dan 2 (dua) orang saksi serta diketahui oleh Kepala Desa Lubuk Bayas, Arifin Wijaya menyerahkan sebagian dari tanah seluas ± 22.945,73 m2tersebut yakni seluas ± 400 m2kepada Ade Junius Wijaya.
3. Riwayat perolehan Hak Milik Nomor 461/Lubuk Bayas tanggal 02 Agustus 2011 atas nama Salmah, seluas 5.536 m2diberikan dalam rangka
redistribus tanah objek landreform melalui Program Pembaharuan Agraria Nasional (PPAN) dengan tahapan sebagai berikut:
a. Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk menegaskan tanah yang dikuasai lansung oleh negara di Desa Sei Naga Lawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai menjadi tanah objek landreform berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 111-Png-XIX-2008 tanggal 13 Oktober 2008 tentang Penegasan Tanah yang Dikuasai Langsung Oleh Negara Sebagai Objek Landreform, Luas: 3.721,8982 Ha, Desa Jambur Pulau, Suka Beras, Lubuk Bayas, Pematang Sijonam, Lubuk Rotan, Suka Jadi, Lidah Tanah, Lubuk Dendang, dan Sei Naga Lawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara beserta Lampiran Peta Situasi Lokasi Objek Landreform Nomor 198/P/DIII/VIII/2008 tanggal 20 Agustus 2008;
b. Kepala Desa Sei Naga Lawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai kemudian mengajukan usul pemberian hak milik atas tanah objek landreform seluas 113.028 m2 (seratus tiga belas ribu dua puluh delapan meter persegi) dengan jumlah 70 (tujuh puluh) persil atas nama Abdul Razak Lubis, dan kawan-kawan (termasuk juga atas nama Salmah) kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai sebagaimana suratnya Nomor 18-40.12/470/115/2011 tanggal 13 April 2011 disertai dengan daftar lampiran surat yang berisi
matriks nama-nama petani yang menerima hak dan luas tanah yang diberikan;
c. Surat Kepala Desa Lubuk Bayas tersebut juga dijelaskan terhadap tanah-tanah yang diusulkan pemberian hak miliknya tersebut telah dilakukan penelitian di lapangan dimana tanah masih dikerjakan secara terus menerus sebagai tanah pertanian, petani yang menggarap bertempat tinggal di kecamatan letak tanah, tidak ada silang sengketa/permasalahan mengenai pemilikan, penguasaan tanah, luas maupun batas-batasnya sesuai ketentuan yang berlaku;
d. Usulan Kepala Desa Lubuk Bayas dimaksud kemudian ditindaklanjuti pemberian haknya oleh Kepala kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 09/HM-420-1.22.21-2011 tanggal 22 Juli 2011.
Bidang tanah seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) sebagaimana tersebut di atas menjadi objek perkara di pengadilan dan telah diputus berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewisjde) sebagaimana Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 10/Pdt.G/2001/PN.LP. tanggal 18 April 2001 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor 04/Pdt/2002/PT.MDN tanggal 25 Maret 2002 jo. Putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3482 K/PDT/2002 tanggal 11 Juli 2005 jo.
Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506
PK/PDT/2010 tanggal 31 Mei 2011, antara Yani Fahrizal, Sarjana Hukum, dan kawan-kawan selaku Ahli Waris dari Almarhum Haji Iskak Idris, BA., (Penggugat) melawan Arifin Wijaya (Tergugat), yang amarnya yaitu menolak Eksepsi Tergugat; menyatakan Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad); menyatakan sah dan berharganya Sita Jaminan dengan Nomor 05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP., yang telah dilaksanakan menurut Berita Acara Sita Jaminan Nomor 05/CB/2001/10/PDT/G/2001/PN.LP.;
memutuskan Sewa-Menyewa Tanggal 10 Agustus 1998 antara Haji Iskak Idris, BA. dengan Tergugat dan menyatakan tidak berlaku lagi; menghukum Tergugat mengosongkan/menyerahkan tanah seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) yang terletak di Propinsi Sumatera Utara, Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Perbaungan, Desa Lubuk Bayas; menghukum Tergugat membayar tunggakan uang sewa sejak Tanggal 03 Maret 1998 sampai dengan Bulan Januari 2001 Sebesar Rp. 500.000,- x 35 Bulan = Rp. 17.500.000,- (tujuh belas juta lima ratus ribu rupiah) kepada Penggugat-Penggugat; menghukum Tergugat Dalam Konpensi/Penggugat Dalam Rekonpensi untuk membayar segala ongkos yang timbul dalam perkara ini yang hingga kini ditaksir sejumlah Rp. 629.000,- (enam ratus dua puluh sembilan ribu rupiah).
Ternyata pada saat proses pemeriksaan perkara perdata antara Ahli Waris Almarhum Haji Iskak Idris dengan Arifin Wijaya sedang berlangsung di pengadilan dan tanah yang menjadi objek perkara seluas 22.945,73 m2(dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi)
masih berstatus sita jaminan (conservatoir beslag) sebagaiman yang tertuang dalam Penetapan Nomor 05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP. tanggal 05 April 2001, yang telah dilaksanakan menurut Berita Acara Sita Jaminan Nomor 05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP. tanggal 06 April 2001, sebagian bidang tanah terperkara tersebut justru dimohonkan haknya ke Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai oleh Arifin Wijaya, Ade Junius Wijaya, dan Salmah, sehingga permohonan tersebut bertentangan dengan asas kepastian hukum sebagai salah satu Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AAUPB).
Lokasi bidang tanah yang diatasnya telah diterbitkan 6 (enam) buah sertifikat hak milik sebagaimana disebutkan di atas diketahui setelah petugas dari Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai melakukan peninjauan lapangan sebagaimana yang tertuang dalam Berita Acara Peninjaun Lapangan Nomor 02/BAPL/III/2015 tanggal 11 Maret 2015 dimana semula berdasarkan hasil peninjauan lapangan diperoleh data ada 7 (tujuh) buah sertifikat hak milik yang telah terbit, namun setelah dilakukan penelitian lebih lanjut dengan membadingkannya dengan peta/gambar tanah dan batas-batas antara bidang tanah yang diletakkan sita sebagaimana yang tertuang pada lampiran Berita Acara Sita Jaminan Nomor 05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP. tanggal 06 April 2001 dan juga dengan Sket Gambar Tanah Akte Penyerahan/Ganti Rugi yang disahkan oleh Camat Perbauangan Nomor 120-/Pr/1994 tanggal 24 Maret 1994 di atas tanah objek perkara hanya terbit 6 (enam) buah sertifikat hak milik sebagaimana yang tertuang dalam Berita Acara Gelar Kasus Nomor 01/SKP/2015 tanggal 17 Juni 2015.
Ketentuan Pasal 71 ayat (2) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan yang berbunyi:
“Cacat hukum administrasi yang dapat mengakibatkan tidak sahnya suatu sertipikat hak atas tanah harus dikuatkan dengan bukti berupa:
a. Putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap; dan/atau
b. Hasil penelitian yang membuktikan adanya cacat hukum administrasi;
dan/atau
c. Keterangan dari penyidik tentang adanya tindak pidana pemalsuan surat atau keterangan yang digunakan dalam proses penerbitan, pengalihan atau pembatalan sertipikat hak atas tanah; dan/atau
d. Surat-surat lain yang menunjukkan adanya cacat administrasi.”
Putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewisjde) yakni Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 10/Pdt.G/2001/PN.LP.
tanggal 18 April 2001 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor 04/Pdt/2002/PT.MDN. tanggal 25 Maret 2002 jo. Putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3482 K/PDT/2002 tanggal 11 Juli 2005 jo.
Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/PDT/2010 tanggal 31 Mei 2011, antara Yani Fahrizal, Sarjana Hukum, dan kawan-kawan, selaku Ahli Waris dari Almarhum Haji Iskak Idris, BA., (Penggugat) melawan Arifin Wijaya (Tergugat) pada intinya menyatakan Arifin Wijaya (Tergugat) telah melakukan perbuatan melawan hukum dan dihukum untuk mengosongkan/menyerahkan tanah seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) kepada Penggugat-Penggugat selaku Ahli Waris Almarhum Haji Iskak Idris, BA. dengan tindaklanjut berupa eksekusi riil di lapangan sebagaimana yang tertuang dalam
Berita Acara Eksekusi Nomor 19/Eks/2013/10/Pdt.G/2001/PN.LP. tanggal 11 Maret 2014.
Selanjutnya terhadap permohonan pembatalan terhadap Sertipikat Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas atas nama Arifin Wijaya yang diajukan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai yang diperkirakan telah diterbitkan diatas tanah seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) yang telah dieksekusi oleh pengadilan berdasarkan Berita Acara Eksekusi Nomor 19/Eks/2013/10/Pdt.G/2001/PN.LP. tanggal 11 Maret 2014 telah ditindaklanjuti dengan penelitian lapangan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai berdasarkan penunjukan Iskandar Yuarsa (salah satu Ahli Waris Almarhum Haji Iskak Idris, BA.) dan Kepala Desa Lubuk Bayas yang tertuang dalam Berita Acara Peninjauan Lapangan Nomor 02/BAPL/III/2015 tanggal 11 Maret 2015 dan telah pula dibandingkan dengan peta/gambar tanah dan batas-batas antara bidang tanah yang diletakkan sita sebagaimana yang tertuang pada lampiran Berita Acara Sita Jaminan Nomor 05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP. tanggal 06 April 2001 dan juga dengan Sket Gambar Tanah Akte Penyerahan/Ganti Rugi yang disahkan oleh Camat Perbaungan Nomor 120-/Pr/1994, dimana dari hasil penelitian tersebut terdapat 6 (enam) buah sertifikat hak milik yang telah terbit diatas tanah objek perkara, masing-masing sebagai berikut:
1. Sertipikat Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas tanggal 12 Mei 2006 atas nama Arifin Wijaya, seluas 11.987 m2;
2. Sertipikat Hak Milik Nomor 422/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 82 m2;
3. Sertipikat Hak Milik Nomor 423/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Sugiarto, seluas 84 m2;
4. Sertipikat Hak Milik Nomor 424/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 93 m2;
5. Sertipikat Hak Milik Nomor 425/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 84 m2;
6. Sertipikat Hak Milik Nomor 461/Lubuk Bayas tanggal 02 Agustus 2011 atas nama Salmah, seluas 5.536 m2.
Ketentuan Pasal 64 ayat (1) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan, menjelaskan bahwa permohonan/usulan perbuatan hukum administrasi pertanahan terhadap sertifikat hak atas tanah yang cacat hukum administrasi dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan/pemohon atau kuasanya.
Selanjutnya ketentuan Pasal 65 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan, menyebutkan bahwa pihak yang berkepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (1) adalah:
1. Aparatur Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang mengetahui data dan/atau warkah penerbitan hak atas tanah yang tidak sah mengenai substansi dan/atau proses penerbitannya;
2. Aparatur Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia mempunyai bukti adanya kesalahan prosedur administrasi penerbitan sertifikat hak atas tanah; dan
3. Pihak yang dirugikan akibat terbitnya sertifikat hak atas tanah yang cacat hukum.
Meskipun pemohon pembatalan hanya mengajukan pembatalan terhadap satu buah sertifikat hak milik yakni Sertipikat Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas seluas 11.987 m2terdaftar atas nama Arifin Wijaya namun berdasarkan ketentuan Pasal 65 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2011 huruf a dan b, dimana aparatur Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dalam hal ini Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai dapat mengajukan pembatalan hak milik atas bidang tanah lainnya apabila mengetahui data dan/atau warkah penerbitan hak atas tanah yang tidak sah mengenai substansi dan/atau proses penerbitannya dan mempunyai bukti adanya kesalahan prosedur administrasi penerbitan sertifikat hak atas tanah.
Pada tanggal 17 Juni 2015 dilaksanakan gelar kasus internal di Kantor Pertanahan Kabupaten Serdang Bedagai untuk menindaklanjuti permohonan pembatalan sertifikat hak milik yang diajukan oleh pemohon dimana pada saat itu dilakukan perbandingan dan penyesuaian terhadap bentuk peta/gambar tanah dan batas-batas antara bidang tanah yang diletakkan sita sebagaimana yang tertuang
pada lampiran Berita Acara Sita Jaminan Nomor
05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN.LP. tanggal 06 April 2001 dengan Sket Lokasi Berita Acara Peninjauan Lapangan Nomor 02/BAPL/III/2015 tanggal 11 Maret
2015, perbandingan dan penyesuaian juga dilakukan pada dan Sket Gambar Tanah Akte Penyerahan/Ganti Rugi yang disahkan oleh Camat Perbaungan Nomor 120-/Pr/1994 tanggal 24 Maret 1994, hasilnya sebagaimana yang tertuang dalam Berita Acara Gelar Kasus Nomor 01/SKP/2015 tanggal 17 Juni 2015, di atas tanah objek perkara telah terbit 6 (enam) buah sertifikat hak milik, masing-masing sebagai berikut:
1. Sertipikat Hak Milik Nomor 10/Lubuk Bayas tanggal 12 Mei 2006 atas nama Arifin Wijaya, seluas 11.987 m2;
2. Sertipikat Hak Milik Nomor 422/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 82 m2;
3. Sertipikat Hak Milik Nomor 423/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Sugiarto, seluas 84 m2;
4. Sertipikat Hak Milik Nomor 424/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 93 m2;
5. Sertipikat Hak Milik Nomor 425/Lubuk Bayas tanggal 17 Maret 2011 atas nama Ade Junius Wijaya, seluas 84 m2;
6. Sertipikat Hak Milik Nomor 461/Lubuk Bayas tanggal 02 Agustus 2011 atas nama Salmah, seluas 5.536 m2.
Sedangkan terhadap sebagian Hak Milik Nomor 460/Lubuk Bayas tanggal 02 Agustus 2011 atas nama Salmah, seluas 1.111 m2dari luas keseluruhan yakni 3.016 m2tidak termasuk dalam peta/gambar tanah yang diletakkan sita sebagaimana yang tertuang pada lampiran Berita Acara Sita Jaminan Nomor 05/CB/2001/10/PDT.G/2001/PN/LP. Tanggal 06 April 2001,
disamping itu terdapat perbedaan batas bidang tanah yang ditunjuk dengan objek tanah yang disita.
Dengan berpedoman kepada Pasal 64 ayat (1), Pasal 65, dan pasal 71 ayat (2) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan, maka ketentuan telah cukup alasan untuk membatalkan sertifikat tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Kekuatan hukum dari kepemilikan atas tanah yang telah bersertifikat didasarkan atas pendaftaran tanah yang diselenggarakan dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan dan sistem publikasinya adalah sistem negatif yang mengandung unsur-unsur positif, karena akan menghasilkan surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat bukti yang kuat. Sertifikat tanah berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat atas pemegang sebidang tanah, yang dimaksud kuat mengandung arti bahwa sertifikat tanah itu tidaklah merupakan alat bukti yang mutlak satu-satunya, jadi sertifikat tanah menurut sistem pendaftaran tanah yang di anut Undang-Undang Pokok Agraria masih dibuktikan di Pengadilan Negeri bahwa sertifikat tanah tersebut yang dipersengketakan adalah tidak benar.
2. Faktor-faktor penyebab sengketa tanah bersertifikat berdasarkan kasus di dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 506 PK/Pdt/2010 Tanggal 31 Mei 2011 antaranya adalah (1) Faktor ketentuan hukum peraturan perundang-undangan yang menyatakan apabila ada pihak-pihak yang dapat membuktikan atas kepemilikan hak terhadap sertifikat, maka kekuatan sertifikat tersebut menjadi negatif atau tidak mempunyai kekuatan hukum. (2) Faktor sumber daya manusia yang dikarenakan keterbatasan kemampuan manusia yang mengakibatkan tatanan administrasi pertanahan akan dapat mengakibatkan persengketaan, sehingga lalai dalam
melakukan tugas dan pekerjaan yang semestinya sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh undang-undang. (3) Faktor teknis adalah meliputi pengukuran, pemetaan, dan pemubukuan tanah dengan pendaftaran hak-hak atas tanah serta pemberian surat tanda bukti hak yang merupakan rangkaian kegiatan teknis untuk memberikan jaminan kepastian hukum yang pelaksanaannya membutuhkan keahlian secara teknis namun tidak didukung dengan peralatan yang memadai, sehingga dengan demikian faktor teknis merupakan penyebab dari sengketa tanah yang telah besertifikat.
3. Sengketa permasalahan ini termasuk tipologi sengketa penguasaan dan pemilikan tanah, dimana akar masalah dari sengketa ini adalah pengajuan sertifikat hak milik atas tanah yang masih menjadi objek perkara di pengadilan dan pihak yang mengajukan sertifikat hak milik telah memberikan keterangan yang tidak benar terkait objek tanah yang dimohonkan haknya.
Berdasarkan fakta hukum di persidangan dalam perkara di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, terbukti bahwa Arifin Wijaya (Tergugat) telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad) dan dihukum untuk mengosongkan/menyerahkan tanah seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) yang terletak di Propinsi Sumatera Utara, Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan
Berdasarkan fakta hukum di persidangan dalam perkara di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, terbukti bahwa Arifin Wijaya (Tergugat) telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad) dan dihukum untuk mengosongkan/menyerahkan tanah seluas 22.945,73 m2 (dua puluh dua ribu sembilan ratus empat puluh lima koma tujuh puluh tiga meter persegi) yang terletak di Propinsi Sumatera Utara, Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan